• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Proyek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Proyek"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Proyek

Sesuai pernyataan D.I Cleland serta Wr. King pada (Hamdan, 2016:2) Proyek yakni tugas yang harus diselesaikan dalam kerangka waktu tertentu dengan melibatkan sejumlah orang serta instrumen yang diformalkan serta terbatas guna menggapai tujuan tertentu.

Manajemen proyek yakni penerapan pengetahuan, keterampilan, alat serta keterampilan guna seluruh aktifitas proyek untuk mencukupi semua proyek. Manajemen proyek dilakukan dengan implementasi serta interkoneksi tahap proses manajemen proyek: ide, perencanaan, implementasi, pemantauan, pengendalian, serta akhirnya mengakhiri seluruh tahapan proyek. Dalam pelaksanaannya di lapangan, tiap aktivitas proyek selalu saling mempengaruhi ataupun menghadapi kendala biaya, waktu, serta kualitas yang populer dinamakan dengan segitiga project constraint. Di sinilah keseimbangan ketiga konstrain memperngaruhi kualitas proyek. Perubahan dalam satu maupun lebih faktor ini memberikan pengaruhnya terhadap paling tidak satu faktor lain.

Untuk alasan ini, lokasi yang baik diperlukan agar kombinasi dari ketiga faktor ini diinginkan.. (Santosa, 2013:3).

Manajemen Proyek mempunyai tujuan tertentu yang perlu digapai serta diklasfikasikan berhasil jikalau menggapai tujuan yang sudah ditetapkan, pada tahapan penggapaian tujuan adariga konstrain yang perlu dipatuhi, yang populer dinamakan selaku trade-off Triangle atau Triple constraint, yakni:

A. Tepat biaya

Proyek perlu diselesaikan dengan anggaran yang tidak melampaui batas perkiraan biaya, entah dari anggaran tiap item pekerjaan, waktu penyelenggaraan ataupun anggaran keseluruhan hingga proyek rampung.

B. Tepat waktu

(2)

Proyek perlu diselesaikan tepat waktu berdasarkan jadwal penyelenggraan proyek (schedule) yang sudah ditentukan, yang mana diperlihatkan pada wujud presentasi pekerjaan (work progress).

C. Tepat mutu

Mutu produk ataupun dinamakan selaku kinerja, perlu mencukupi spesifikasi serta karakteristik pada tingkatan yang ditentukan oleh pemilik.

Proyek yang dipakai selaku objek penelitian pula selaku alur aktivitas yang terjadi pada kurun waktu tertentu melalui merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan serta mengawasi pada sumber daya yang ada yang mana pada penyelenggaraannya bisa menyesuaikan dengan agenda, durasi serta biaya yang sudah ditentukan.

2.2.Komponen Biaya

Biaya proyek diklasifikasikan pada dua komponen, yakni direct cost atau komponen biaya langsung serta in-direct cost atau biaya tidak langsung yang terlihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2. 1. Diagram Estimasi Biaya Konstruksi

(3)

a. Biaya Langsung ( Direct Cost)

Biaya langsung yakni keseluruhan anggaran yang dihabiskan serta berkaitan kuat dengan kegiatan proyek yang tengah beroperasi. Anggaran langsung memiliki sifat selaku anggaran normal jikalau dilaksanakan melalui metodologi yang memiliki efisiensi serta pada waktu normal proyek. Anggaran guna durasi waktu yang ditetapkan akan semakin tinggi daripada biaya bagi durasi waktu yang normal yang mana berkurangnya durasi dapat menaikkan anggaran biaya dari kegiatan proyek. Keseluruhan durasi dari seluruh paket aktivitas pada proyek melihatkan total biaya langsung guna semua proyek (Santosa, 2013:23). Komponen biaya langsung mencakup

b. Biaya Tidak Langsung (Inderect Cost)

Biaya tidak langsung yakni anggaran yang berkaitan dengan pengontrolan, pemberian arahan kerja, serta pengeluaran uang yang tidak termasuk anggaran konstruksi. Anggaran tersebut dinamakan selaku biaya overhead. Anggaran ini tidak memiliki ketergantungan terhadap volume pekerjaan, namun memiliki ketergantungan terhadap durasi penyelenggaraan pekerjaan. Anggaran tidak langsung dapat meningkat jikalau durasi penyelenggaraan makin lama sebab anggaran bagi upah karyawan, anggaran umum kantor tetap, serta anggaran lain pula tetap dibayarkan.

2.3. Penjadwalan proyek

A. Gantt Chart Method ( Metode Gannt Chart)

Gantt Dkk, menerangkan bar chart berwujud bagan balok, disertai panjang balok selaku ilustrasi dari waktu tiap-tiap kegiatan. Diagram batang mencakup sumbu y yang menerangkan kegiatan ataupun paket pekerjaan dalam suatu proyek, satuan waktu pada hari, Minggu serta bulan selaku durasi diperjelas dengan sumbu x (Husen, 2011:152]).

B. S Curve ( Kurva S)

Kurva S mampu memperlihatkan perkembangan suatu proyek sesuai aktivitas, waktu serta buat kerja yang dinyatakan selaku persentase akumulatif dari semua proyek. Kurva S yakni grafik kemajuan kumulatif (bobot %) pada sumbu vertikal terhadap waktu pada sumbu horizontal. Guna dapat

(4)

menggunakan pendekatan persentase untuk menetapkan bobot pekerjaan sesuain anggaran tiap item pekerjaan dibagi dengan nilai yang anggaran (Husen, 2011:155). Apabila dilihat dari Kurva S seatu proyek penelitian dapat menginformasikan terkait kemajuan proyek tersebut. Keterlambatan jadwal proyek dapat diketahui melalui perbandingan kurva rencana dengan kurva laksana yang dialami di lapangan. Contoh pengilustrasian kurva S rencana dengan perpaduan Barchart bisa terlihat pada Gambar 2.2

Gambar 2. 2. Kurva S atau Hannum Curve (Husen, 2011, p.155) C. Metode Networking (Jaringan Kerja)

Jaringan kerja yakni gambaran diagram alur yang mewakili rangkaian, interkoneksi, serta hubungan dari semua aktivitas yang peru dilakukan guna menyelesaikan sebuah proyek. Jaringan kerja menerangkan kegiatan proyek yang akan dilakukan, urutan logis kegiatan, serta hubungan antara kegiatan.Dalam penelitian ini, penulis memakai Microsoft Office Project 2016 guna merencanakan jaringan (network planning) serta mendistribusikan pekerjaan di sepanjang jalur aktivitas utama suatu konstruksi proyek. Dimulai dengan pengaturan kalender, memasuki durasi dan pendahulu dari setiap aktivitas pekerjaan, yang mana bisa terlihat bahwasanya tugas-tugas di jalur kritis diidentifikasi saat menghitung kenaikan biaya karena percepatan (cost slope)

(5)

2.4. Keterlambatan Proyek

Konstruksi bermakna peningkatan waktu pengerjaan untuk menyelesaikan proyek yang direncanakan serta ditentukan dalam dokumentasi kontrak.

Keterlambatan penyelesaian pekerjaan sangat merugikan produktivitas, dan tentunya semua ini akan menyebabkan pemborosan dana baik mencakup pembiayaan langsung maupun tidak langsung. Peran manajemen yang aktif yakni selaku kunci keberhasilan manajemen proyek. Jadwal proyek harus ditinjau guna mengidentifikasi langkah-langkah perubahan mendasar guna menghindari atau mengurangi penundaan penyelesaian proyek.

Sesuai pernyataan Levis dan Atherley, 1996 (dalam Suyatno, 2010:23), Ketika suatu tugas mesti dirampungkan sesuai tenggat waktu serta tidak mampu dirampungkan alasan tertentu, tugas tersebut dinyatakan tertunda. Ini mempengaruhi perencanaan awal dan masalah keuangan. Penundaan proyek konstruksi meningkatkan waktu pengerjaan, memberi peningkatan terhadap anggaran, atau kedua-duanya. Pengaruh ketelatan terhadap klien ataupun pemilik berarti menghilangnya kemampuan guna mengalokasikan sumber daya ke proyek lainnya, peningkatan biaya langsung, serta pengurangan pendapatan dan biaya tambahan guna gaji staf, penyewaan peralatan, dan lainnya.

2.4.1. Penyebab Keterlambatan

Sesuai pernyataan Kraiem dan Dickmann (dalam Praboyo, 1999:51), akibat ketelatan durasi proyek bisa diklasifikasikan pada 3 kelompok besar yaitu:

A. Ketelatan yang pantas memperoleh ganti kerugian, ialah kedaulatan yang di akibatkan oleh perbuatan, kehilapan ataupun kekeliruan dari pemilik proyek.

B. Ketelatan yang tidak bisa termaafkan, ialah ketelatan yang diakibatkan oleh perilaku, kehilapan ataupun kekeliruan pemilik proyek.

(6)

C. Keteladanan yang bisa termaafkan ialah keterlambatan yang diakibatkan oleh kasus yang tidak dapat dikendalikan oleh pemilik ataupun kontraktor.

2.4.2. Jenis-Jenis Keterlambatan (Type of Delays)

Sesuai pernyataan (Ahmed et al, 2003:105) keterlambatan diklasifikasikan pada tiga kategori berdasarkan kesepakatan kontrak, yakni:

A. Ketelatan yang tidak bisa termaafkan (non-excusable delays)

B. Ketelatan yang bisa termaafkan namun tidak pantas mendapatkan ganti rugi (excusable non-compensable delays)

C. Ketelatan yang bisa termaafkan serta memiliki kelayakan untuk memperoleh ganti rugi (excusable compensable delays)

D. Ketelatan yang dialami bersama-sama (concurrent delays)

Secara umum, ketelatan diklasifikasikan pada tiga kategori utama, yakni:

a. Ketelatan yang tidak bisa serta bisa termaafkan (excusable and non- excusable delays)

b. Ketelatan yang pantas serta tidak pantas memperoleh kompensasi (compensable and non-compensable delays), dan

c. Ketelatan yang dialami bebarengan (concurrent delays) 2.4.3. Dampak Keterlambatan

Sesuai pernyataan Levis dan Atherley, 1996 (dalam Suyatno, 2010:24), kelambatan mempengaruhi rencana awal dan persoalan finansial.

Proyek konstruksi yang terlambat akan memanjangkan waktu proyek, meningkatkan biaya maupun kedua-duanya. Akibat dari lambatnya pada ownder yakni potensi menghilangnya pendapatan dari sarana yang tidak terbangun secara tepat waktu, hilangnya kesempatan bagi kontraktor guna memperoleh sumber daya untuk proyek lain, serta peningkatan biaya tidak langsung sebab peningkatan biaya tidak langsung (indirect cost) sebab pengeluaran upah pegawai, biaya penyewaan alat dan memangkas laba.

2.5. Percepatan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi

Mempercepat waktu penyelesaian konstruksi mengacu pada upaya guna menyelesaikan konstruksi di luar jadwal yang dijadwalkan

(7)

(kegagalan). Kegagalan yakni tahapan yang terencana, sistematis serta analitis guna menguji seluruh aktivitas pada sebuah proyek dengan fokus pada aktivitas yang berjalan dengan baik. (Ervianto, 2004:21). Ada empat faktor yang bisa dioptimalkan guna mempercepat pekerjaan: mengambil lembur (lembur), menambah jumlah pekerja, memakai alat berat, serta mengubah metodologi konstruksi di lokasi. (Frederika, 2010:117).

2.6. Pelaksanaan Percepatan Waktu Kerja 2.6.1. Penambahan Waktu kerja (lembur)

Adapun perencanaan kerja yang hendak dilangsungkan untuk memendekkan durasi sebuah pekerjaan melalui metode jam kerja lembur ialah :

A. Waktu kerja normal ialah 8 jam ( 08.00 – 16.00), sementara lembur dilangsungkan pasca waktu kerja normal.

B. Keputusan Menteri Tenaga Nomor KEP. 102/MEN/VI/2004 yang menetapkan tentang “ Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur”

menjelaskan bahwasanya cara menghitung upah kerja lembur sebagaimana dibawah ini, jika kerja lembur dilangsungkan Di hari kerja:

- Bagi jam kerja lembur pertama mesti dibayarkan upah berjumlah 1,5 × upah sejam

- Bagi tiap jam kerja lembur selanjutnya mesti dibayarkan upah hingga 2

× upah sejam 2.6.2. Produktivitas Kerja Lembur

Umumnya, produktivitas ialah membandingkan output serta input. Pada bidang konstruksi, otot bisa diamati dari banyaknya pekerjaan yang sudah dilangsungkan, misalnya M3 galian maupun timbunan, atau M2 plesteran. Adapun inputnya ialah sumber daya yang dipakai misalnya tenaga kerja ialah sebuah faktor yang menentukan produktivitas. Jika dilangsungkan kerja lembur maka dapat menurunkan produktivitas yang bisa diamati di Gambar 2.3.

(8)

Gambar 2. 3. Grafik menurunya produktivitas kerja lembur

2.6.3. Analisa pertukaran biaya dan waktu ( time cost trade off)

Terminologi proses crashing iyalah melalui pereduksian Data sebuah tugas yang dapat memberikan pengaruhnya pada durasi perampungan proyek. Menurut Ervianto pada (Hamdan,2016:382) Crashing ialah sebuah tahap yang disengaja I, tersistematis, serta analitik melalui cara menguji seluruh aktivitas pada sebuah proyek yang difokuskan kepada kegiatan yang terdapat di jalur kritis. Guna mengetahui korelasi diantara waktu serta biaya sebuah kegiatan disajikan pada Gambar 2.5.

(9)

Gambar 2. 4. Grafik hubungan waktu-biaya normal dan dipersingkat untuk suatu kegiatan (Hamdan, 2016:383)

Titik A menyatakan atau menandakan keadaan normal, sedangkan titik b menandakan keadaan yang mengalami percepatan tanda titik garis yang menghubungkan antara titik itu sendiri dinamai kurva waktu biaya. Berdasarkan pandangan dari (Hamdan, 2016:383) berapa slope serta sudut kemiringan dapat diketahui apabila andaikata bentuk kurva waktu biaya sebuah kegiatan telah diketahui, hingga kemudian bisa dihitung sebesar apa biaya guna memendekan waktu 1 hari. Cost slope dinamai pula dengan pertambahan biaya langsung guna menjadikan sebuah aktivitas cepat persatuan waktu. Dibawah ini ialah rumusan cost slope (Husen, 2011:213), Penambahan biaya langsung (direct cost) guna menjadikan sebuah kegiatan cepat persatuan waktu dinamai cost slope. Dengan didasari oleh pemaparan tersebut bisa ditulis sebagaimana dibawah ini.

Korelasi biaya pada waktu-biaya total proyek ialah akumulasi dari anggaran langsung serta tidak langsung yang dipakai saat terlaksananya proyek. Besaran anggaran tersebut sangatlah tergantung kepada durasi perampungan proyek, kedua

(10)

hal tersebut berubah sebagaimana dengan waktu serta kemajuan proyek. Pada Gambar 2.6. diperlihatkan korelasi biaya langsung, biaya tidak langsung serta biaya total pada sebuah grafik dan teramati bahwasanya anggaran optimal diperoleh melalui pencarian total biaya proyek yang terendah.

Gambar 2. 5. Hubungan Antara Waktu - Biaya Total – Direct Cost – Indirect Cost 2.7. Prosedur Mempersingkat Waktu

Menurut (Hamdan,1997:386), di bawah ini ialah pemaparan prosedur menjadikan waktu semakin singkat.

A. Menghitung durasi perampungan proyek serta mengidentifikasikan float Melalui penggunaan periode normal.

B. Penentuan biaya normal dari tiap kegiatan C. Penentuan biaya disingkatkan dari tiap anggaran

D. Mengakumulasi cost slope dari tiap komponen kegiatan

E. Memendekkan durasi kegiatan, dimulai dari kegiatan kritis disertai cost slope terendah

F. Apabila pada serangkaian persingkatan waktu proyek pembentukan lintasan kritis baru, dengan demikian percepatan kegiatan kritis yang mempunyai kombinasi cost slope terendah

G. Melanjut perpendekan waktu kegiatan sampai titik proyek disingkatkan.

(11)

H. Mentabulasi waktu dihadapkan dengan biaya, penggambaran pada grafik serta dihubungkan dengan titik normal, titik yang terbentuk tiap kali meningkatkan kegiatan hingga Titik Proyek Dipersingkat.

I. Dalam grafik tersebut penggambaran akumulasi dari biaya tidak langsung dari proyek.

J. Guna memperoleh biaya total sebelum periode yang diharapkan dengan demikian akumulasi biaya langsung serta tidak langsung

K. Dalam grafik wilayah total, periksakan waktu penampungan proyek dengan anggaran paling rendah periksa guna memperoleh waktu teroptimal.

2.8. Penelitian Terdahulu

2.8.1. Peneliti menggunakan beberapa tinjauan pustaka sebelumnya untuk mendalami topik penelitian penulis, Salah satunya membahas mengenai metode yang dilakukan atau dipergunakan, salah satunya oleh Ardien Aslam Muhammad dkk ( 2015) yang berjudul “ Analisa Percepatan Dengan Metode Time Cost Trade Off Pada Pasar Sentral Gadang Malang” yaitu dengan memakai metode Time Cost Trade Off didapat berdasarkan perolehan penelitian, waktu maksimal proyek hingga 204 hari disertai anggaran keseluruhan berjumlah Rp61.288.168.724. daripada dengan agenda normal dalam jangka waktu 230 hari disertai anggaran berjumlah Rp61.443.954.427, proyek itu sendiri bisa dicepatkan 26 hari serta melakukan penghematan anggaran hingga Rp155.785.703.

2.8.2. Penelitian kedua adalah jurnal dari Andi Maddepungeng dkk ( 2015) Salah satu pelajar dari Prodi Teknik Sipil Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, yang mana penelitian ini berjudul “Analisis Optimasi Biaya Dan Waktu Dengan Metode TCTO (Time Cost Trade Off) Studi Kasus : Proyek Pembangunan Pasar Petir Serang Banten ”. Hasil dari penelitian ini menjelaskan tentang Rencana Pembangunan Pasar Petir Sebanyak 159 hari Kalender, namun diperpanjang hingga 210 hari, untuk mengatasi ketertinggalan proyek yang terjadi digunakan metode time cost trade off ( TCTO) pasca dianalisis proyek bisa dirampungkan dengan waktu optimal

(12)

hingga 182 hari, akan tetapi masih dialami kelambatan hingga 23 hari.

Banyaknya biaya percepatan disertai dengan denda yang dibayarkan hingga Rp. 6.848.751.98 namun memberikan percepatan terhadap proyek sampai maksimal yakni 159 hari dengan tidak terdapatnya kelambatan dirasa cukup baik sebab menganggarkan biaya hingga Rp.6.727.075.874.40

2.8.3. Penelitian ketiga adalah jurnal dari Setiawan Pengajar Prodi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang mana penelitian ini mengenai

“Analisis Pertukaran Waktu Dan Biaya Dengan Metode Time Cost Trade Off (TCTO) pada Proyek Pembangunan Gedung Di Jakarta ”. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang hasil penggunaan metode time cost trade off yang ini dilangsungkan pada proyek pembangunan Apartemen Tower C Seson City yang sudah rampung dikerjakan, dari aspek durasi diperoleh 3 alternatif perampungan dengan alternatif 1 berdurasi 315 hari dengan percepatan 40 hari, alternatif 2 dengan durasi 320 hari dengan percepatan 34 hari, alternatif 3 dengan durasi 302,5 hari dengan percepatan 53 hari dari waktu pengerjaan konkrit di lapangan 355,5 hari, berubahnya anggaran total proyek yang dialami dipicu oleh cepatnya pengerjaan dengan alternatif 1 berjumlah Rp.18.468.332.922, Alternatif 2 Rp.18.424.417.006, Alternatif 3 Rp.18.166.643.494 dari aspek pembiayaan meningkat dipicu oleh pengerjaan dari ketiga alternatif itu sendiri.

2.8.4. Penelitian Ke-empat adalah Jurnal dari Ida Ayu dkk Alumni Prodi Teknik Sipil Universitas Udayana Denpasar , yang mana penelitiannya mengenai “ Perbandingan Penambahan Waktu Kerja (Jam Lembur) Dengan Penambahan Tenaga Kerja Terhadap Biaya Pelaksanaan Proyek Dengan Metode Time Cost Trade Off (Studi Kasus Proyek Pembangunan Gedung Instalasi Farmasi Blahkiuh) ”. Hasil temuan dari penelitian ini menemukan bahwa pada penyelenggaraan proyek, kerap dialami ketidak selarasan diantara agenda perencanaan dengan realisasi di lapangan yang memicu terlambatnya perampungan. Hasil Analisis adalah kerja lembur yang maksimal pada anggaran proyek meningkat selama kompresi serta penyelenggaraan proyek bisa dirampungkan secepat mungkin hingga 113

(13)

hari dari rencana waktu 131 hari. Bagi penekanan waktu proyek maksimum hingga 18 hari, anggaran proyek meningkat hingga Rp 68.389.265,14, yang mana anggaran sebelumnya berjumlah Rp 2.516.526.998,81 menjadi Rp 2.584.916.263,95. Melalui pertambahan tenaga kerja anggaran keseluruhan proyek menurun selama kompresi. Bagi penekanan durasi yang serupa, anggaran proyek menurun hingga Rp 14.605.663,98 dan berubah menjadi Rp 2.501.921.334,83.

Gambar

Gambar 2. 1. Diagram Estimasi Biaya Konstruksi
Gambar 2. 2. Kurva S atau Hannum Curve (Husen, 2011, p.155)  C.  Metode Networking (Jaringan Kerja)
Gambar 2. 3. Grafik menurunya produktivitas kerja lembur
Gambar 2. 4. Grafik hubungan waktu-biaya normal dan dipersingkat untuk suatu  kegiatan (Hamdan, 2016:383)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui potensi Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia berdasarkan Sumber daya Lingkungan (KPPTR SL) mengenai

Berdasarkan hasil pembahasan penelitian yang telah diuraikan pada bab IV, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1) uji kelayakan 4 buku yang ada di pasaran

gaya-gaya yang dipakai adalah tegangan Shear τ untuk zat padat yang definisinya adalah besar dari gaya paralel di berbagai permukaan dibagi oleh daerah dari

Meningkatnya kualitas perencanaan, Sumber Daya Manusia aparatur, dan pelayanan umum di Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda;.. Meningkatnya potensi tenaga dan sumber daya pemuda

Software yang berfungsi untuk membekukan sistem konfigurasi pada komputer.. 93 Adobe Illustrator Aplikasi

Pemahaman tentang PTK juga dapat diambil dari uraian dari masing-masing kata. PTK terdiri dari tiga kata yaitu Penelitian, Tindakan, dan Kelas. Penelitian diartikan

Dalam hal pengaturan dan pembinaan pedagang kaki lima, maka Satpol PP Kota Banda Aceh selalu berkoordinasi dengan Dinas Pasar atau Dinas Perindustrian dan Perdagangan,