• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA PEGAWAI SEKRETARIAT DPRD KOTA TEBING TINGGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KINERJA PEGAWAI SEKRETARIAT DPRD KOTA TEBING TINGGI"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

KOTA TEBING TINGGI

TESIS

Oleh

FARIZ HANDIKA PUTRA 157024030/SP

PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan (MSP) Program Studi Magister Studi Pembangunan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Oleh

FARIZ HANDIKA PUTRA 157024030/SP

PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(3)
(4)

PANITIA PENGUJI :

Ketua : Prof. Subhilhar, Ph.D

Anggota : 1. Husni Thamrin, S.Sos, MSP 2. Prof. Dr. Badaruddin, M.Si 3. Dr. Humaizi, MA

4. Drs. Agus Suriadi, M.Si

(5)
(6)
(7)
(8)

ABSTRAK

Kinerja Organisasi Sekretariat DPRD Kota Tebing Tiinggi masih belum optiml dimana para staf dalam menyelesaikan pekeerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu singkat tapi masih mengalami keterlambatan dalam berbagai kegiatan lainnya. Dengan demikian penulis merumuskan pertanyaan permasalahan yaitu “Bagaimana Kinerja Pegawai di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja di Sekretariat DPRD dan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat kinerja pegawai serta usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut. Ruang lingkup pengamatan ini lebih difokuskan pada indikator yang meliputi: Pengetahuan pegawai, keahlian pegawai, motivasi pegawai, dan peran pegawai. Berdasarkan hasil pengamatan diatas dalam hal peningkatan kinerja diharapkan adanya penambahan fasilitas yang lengkap untuk mempermudah dan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas pegawai, serta perlu adanya tindakan yang tegas dari Sekretaris DPRD bagi pegawai-pegawai yang melakukan pelanggaran ringan untuk memberi efek jera sehingga pegawai negeri sipil di Sekretariat DPRD dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Kinerja yang dihasilkan oleh pegawai negeri sipil di Sekretariat DPRD sudah cukup baik meskipun belum maksimal.

Faktor yang dapat menghambat Kinerja pegawai Sekretariat DPRD yaitu Disiplin kerja yang kurang, motivasi pegawai yang rendah, tingkat rata-rata pendidikan pegawai, serta kurangnya fasilitas yang memadai sehingga dapat menghambat kelancaran kinerja pegawai. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah perlu adanya peningkatan kesadaran terhadap pegawai di Sekretariat DPRD untuk meningkatkan kedisiplinan dan motivasi kerja, adanya pengawasan serta tindakan yang tegas dari Sekretaris DPRD untuk pegawai yang melakukan pelanggaran-pelanggaran, dan adanya penambahan fasilitas untuk pelaksanaan kerja pegawai.

Kata Kunci : Kinerja, Pegawai, DPRD

(9)
(10)

Penulis mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada:

1. Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara dan selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan tesis ini.

2. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si., selaku Ketua Program Magister Studi Pembangunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si., selaku Sekretaris Program Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Prof. Subhilhar, Ph.D Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.

6. Bapak Husni Thamrin, S.Sos., MSP., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.

7. Segenap aparatur Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi atas kerja samanya dalam penulisan tesis ini.

8. Ayahanda Fachri,S.Sos dan Ibunda Azizah Lubis, S.Sos serta seluruh keluarga yang telah mendukung…

9. Seluruh sahabat-sahabat angkatan 32 Program Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.

10. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Program Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan wawasan akademik

(11)

Universitas Sumatera Utara atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

12. Dan semua pihak yang telah membantu penyelesaian tesis ini.

Penulis menyadari tesis ini masih banyak memilik kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Allah SWT memberkati kita semua. Amin.

Medan, Agustus 2018 Penulis

Fariz

(12)

Nama : Fariz Handika Putra

Tempat/Tgl, Lahir : Tebing Tinggi, 28 Oktober 1993 Alamat : Jl.Gatot Subroto Lk.V Kel.Lubuk Raya

Kec.Padang Hulu Kota Tebing Tinggi Jenis Kelamin : Laki-Laki

Status : Belum Kawin

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia

Hoby : Olahraga

Pekerjaan : PNS Kota Tebing Tinggi

No. HP : -

email : [email protected]

1999 – 2005 : Sekolah Dasar (SD) Ir.H.Djuanda Kota Tebing Tinggi

2005 – 2008 : Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kota Tebing Tinggi

2008 – 2011 : Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Tebing Tinggi

2011– 2015 : IPDN Jatinangor

2016 – 2018 : Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara Medan

DATA PRIBADI

PENDIDIKAN FORMAL

(13)

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I : P E N D A H U L U A N ... .... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ... ... 10

2.1. Teori Kinerja ... 10

2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja ... 15

2.3. Teori Pegawai ... 16

2.4. Sekretariat DPRD ... 17

2.5. Penelitian Terdahulu ... 18

BAB III : METODELOGI PENELITIAN ... ... 30

3.1. Jenis Penelitian ... 30

3.2. Lokasi Penelitian ... 31

3.3. Unit Informan dan Informan ... 31

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.5. Interprestasi Data ... 33

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN ... ... 34

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 34

4.2. Gambaran Umum Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi ... 35

4.3. Analisis Kinerja Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi ... 59

4.4. Faktor-faktor Menghambat Pegawai Kinerja Pegawai ... 62

4.5. Upaya yang Dilakukan dalam Menigkat Kinera Pegawai... 65

4.6. Pembahasan ... 68

(14)

5.2. Saran ... 134

DAFTAR PUSTAKA ... 79

(15)

No Judul Halaman

4.1 Kelompok Sdm Sekretariat Dprd Kota Tebing Tinggi Berdasarkan

Jenjang Pendidikan Formal ... 64 4.2 Komposisi SDM Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi Berdasarkan

Golongan... 64 .

(16)

1.1 Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan usaha untuk meningkatkan kualitas manusia yang dilaksanakan masyarakat dengan pemerintah.Agenda reformasi yang dilakukan secara bertahap oleh pemerintah sejak beberapa waktu lalu, telah dan akan terus menghasilkan perubahan dalam berbangsa dan bernegara. Seiring dengan perubahan tersebut, otonomi daerah merupakan kewenangan, kewajiban dan hak daerah untuk mengatur serta mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, sehingga pembentukan otonomi daerah juga berlaku pada masyarakat (publik), badan atau lembaga swasta dalam berbagai bidang.

Semenjak demokrasi menjadi atribut utama negara modern, maka lembaga perwakilan merupakan mekanisme utama untuk merealisasikan gagasan normative bahwa pemerintahan harus dijalankan dengan kehendak rakyat.

Kewenangan suatu pemerintahan akan tergantung pada kemampuannya untuk mentransformasikan kehendak dan aspirasi rakyat sebagai nilai tertinggi diatas kehendak Negara, lembaga legislatif memiliki posisi sentral yang tercermin dalam doktrin tentang kedaulatan rakyat serta kedaulatan lembaga perwakilan. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa hanya lembaga legislatif saja sebagai wakil rakyat yang memiliki kompetensi untuk mengungkapkan kehendak (aspirasi) rakyat dalam bentuk undang-undang, sementara pihak eksekutif hanya

(17)

melaksanakan atau mengimplementasikan hukum dan peraturan yang ditetapkan oleh lembaga legislatif.

Mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi sebagaiinstansi dan unsur Penyelenggara Pemerintah Daerah diwajibkan menetapkan target kinerja dan melakukan pengukuran kinerja yang telah dicapai serta menyampaikan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah juga merupakan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, dan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.

Laporan Kinerja merupakan wujud akuntabilitas instansi pemerintah yang pedomanpenyusunannya ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Adapun petunjuk teknis pelaporannya mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Review atas Laporan Kinerja. Penyusunan Laporan Kinerja Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi dimaksudkan sebagai bentuk kewajiban untuk mempertanggungjawabkan atas keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan visi dan misi, tujuan dan sasaran yang dituangkan dalam bentuk program dan kegiatan dan telah ditetapkan dalam Rencana Kinerja Tahunan serta sebagai kegiatan kontrol untuk perbaikan kinerja Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi di

(18)

tahun mendatang. Pelaporan kinerja juga dimaksudkan sebagai media untuk menyampaikan pencapaian kinerja Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi dalam satu tahun anggaran kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya secara transparan.

Lahirnya Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa pemerintah daerah berkewajiban salah satunya adalah

“meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat”. Namun demikian sejalan dengan kebijakan otonomi daerah masih terjadi beberapa kendala didaerah, seperti halnya pembagian kewenangan, penataan dokumen dan Arsip, serta tata cara pemilihan dan pertanggungjawaban kepala daerah. Serta masih banyak masalah-masalah lainnya terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah yang pada dasarnya sebenarnya dapat diatasi melalui kinerja sumber daya aparatur yang baik.

Undang-Undang 23 Tahun 2014 dinyatakan “bahwa dalam penyelenggaraan kinerja Pemerintahan Daerah, menyebutkan bahwa DPRD sebagai unsur penyelenggaraan daerah dan dilengkapi dengan alat kelengkapan DPRD yaitu Badan Kehormatan atau Sekretariat DPRD (selanjutnya disingkat Setwan) yang bertanggungjawab langsung secara administrasi kepada Pemerintah Daerah”. Untuk dapat menjalankan peran dan fungsinya secara optimal, DPRD perlu didukung oleh Sekretariat DPRD. Sekretariat DPRD perlu menjadi staf paripurna yang professional seiring dengan menguatnya peran dan kedudukan DPRD dalam sistem pemerintahan daerah. Pembahasannya dikaitkan dengan kehadiran PP Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Pemerintah Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Sekretariat DPRD, pada Pasal 4 disebutkan bahwa sekretariat dewan merupakan faktor penting dalam

(19)

pemberdayaan DPRD, dimana ia berperan dalam membantu serta memfasilitasi anggota DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Sebagai perangkat daerah, Sekretariat DPRD bertanggung jawab untuk menyusun laporan akuntabilitas instansi pemerintah dalam rangka ikut serta mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good Governance) dan merupakan ujung tombak terselennggarannya kegiatan- kegiatan DPRD di Pemerintahan Daerah.

Perlunya birokrasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini tidak terlepas dari kebutuhan untuk membenahi organisasi Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi yang sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 bila dihubungkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah. Untuk mengadakan perubahan tersebut, Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi terlebih dahulu mengadakan analisis faktor penunjang, pendukung dan pelaksananya berupa jumlah dan kualitasnya.

Langkah-langkah perubahan organisasi menurut LAN dan Sekretariat DPRD (2000: 13) adalah sebagai berikut :

a. Menetapkan makna urgensi perubahan b. Menciptakan kolaisi pengarah yang kuat

c. Mengembangkan dan Mengkomunikasikan visi dan strategi

d. Memberdayakan orang/ organisasi/ masyarakat untuk melakukan tindakan e. Menghasilkan sukses jangka pendek

f. Konsolidasi capaian kinerja dan menghasilkan lebih banyak lagi perubahan

g. Melembagakan rancangan baru dalam budaya organisasi.

(20)

Keberhasilan atau kesuksesan kinerja suatu organisasi ditentukan oleh sumber daya manusianya, pimpinan, dan bawahan sehingga pemahaman dan kemampuan dalam mengoperasikan manajemen kinerja merupakan suatu kebutuhan. Kinerja yang lebih intensif dan optimal sangat diperlukan dari tiap bagian organisasi demi optimalisasi bidang tugas yang diembannya dan tingkat pencapaian hasil akan terlihat sehingga akan dapat diketahui seberapa jauh pula tugas yang telah dipikul melalui tugas dan wewenang yang diberikan dapat dilaksanakan secara nyata dan maksimal.

Peningkatan pendayagunaan aparatur pemerintah pada hakekatnya adalah peningkatan dalam memberi pelayanan kepada masyarakat melalui tugas dan fungsinya sesuai dengan tuntutan pembangunan, sehubungan dengan hal tersebut diatas maka Pegawai Negeri Sipil sebagai bagian dari aparatur pemerintah dan abdi masyarakat senantiasa dituntut mempunyai pengetahuan, ketrampilan, kecakapan dan abdi masyarakat, kemauan bekerja, disiplin kerja, etos kerja, berkualitas tinggi, motivasi kerja, bahkan menjadi teladan atau panutan bagi lingkungan masyarakat.

Dalam konteks inilah, maka dukungan yang disediakan oleh dan melalui Sekretariat DPRD sangat besar dan karenanya mencerminkan peran penting.

Sekretariat DPRD sebagai organisasi pendukung kinerja DPRD dan anggotanya dalam kedudukannya sebagai unsur pelayanan terhadap DPRD, berdasarkan tugas dan fungsi yang diembannya membutuhkan perhatian sangat besar pada pentingnya peningkatan kapasitas Staf Teknis dan kemampuan pelayanan untuk mewujudkan kinerja Sekretariat yang optimal.Mengingat sangat kompleksnya tugas dan fungsi DPRD Walikota Tebing Tinggi, maka hubungan kerja

(21)

Sekretariat DPRD dan Anggota DPRD harus terpelihara dengan baik, agar pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD dan Sekretariat DPRD dapat berjalan lancar, karena Sekretariat DPRD merupakan sarana agar DPRD dapat menunjukkan kinerja yang baik.Pelayanan memang cukup menentukan kinerja pegawai secretariat DPRD Kota Tebing Tinggi, terutama terkait dengan tingkat produktivitas dan akuntabilitas maka dari itu diperlukan peran Sekretaris Dewan yang memiliki kemampuan dan niat yang kuat guna menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan optimal.

Sebagai daerah otonom, kinerja pegawai pemerintahan Kota Tebing Tinggi dibutuhkan aparatur pemerintahan yang berdedikasi tinggi dan memiliki disiplin tinggi serta kinerja yang baik, seperti Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi yang memiliki tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan administrasi kesekretariatan, menyelenggarakan administrasi keuangan serta mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD.

Mengenai mekanisme kerja Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi diatur oleh Peraturan Daerah Kota Tebing Tinggi Nomor 28 Tahun 2016, dimana Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu struktur besar Pemerintahan Daerah, yang terdiri dari Kepala Bagian (selanjutnya disingkat kabag) Kabag Umum, Kabag Persidangan dan Perundang-Undangan serta Kabag Keuangan, dengan jumlah pegawai Setwan berjumlah 22 orang, mengenai Fungsi dan Tugas Pokok Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi telah diatur pada Peraturan Walikota Tebing Tinggi Nomor 3 Tahun 2017 yang terbagi dalam bagian-bagian tertentu sesuai dengan tugas yang telah ditetapkan. Salah satu contoh tugas dan kewajiban dari Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi Bagian

(22)

Umum dipimpin oleh seorang Kepala Bagian yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Sekretariat DPRD dibidang umum.

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya kinerja di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari hasil penjajaan penelitian dan wawancara dengan Kabag Persidangan dan Perudang- Undangan.Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi melakukan tugas dan fungsinya dalam rangka menyelenggarakan kepentingan publik belum efektif dan efisien serta transparan dan saling mendukung dengan adanya hubungan kerja yang saling menunjang antar unit kerja lainnya, antar atasan dengan bawahan, antar sesama bawahan, maupun antar sesama atasan, seperti yang dijelaskan oleh Utomo (2001), bahwa : “Fungsi pokok dan tugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat di dalam implementasinya oleh komponen-komponen Pemerintah Daerah menjadi terintegrated tidak terfokus secara parsial”.

Diperlukan kinerja yang lebih intensif dan optimal dari Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi demi optimalisasi bidang tugas yang diembanya. Kinerja suatu organisasi sangat penting, oleh karena itu dengan adanya kinerja maka tingkat pencapaian hasil akan terlihat sehingga akan dapat diketahui seberapa jauh pula tugas yang telah dipikul melalui tugas dan wewenang yang diberikan dapat dilaksanakan secara nyata dan maksimal.Dalam pengelolaan penggunaan dana untuk penyelenggaraan kegiatan oleh Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi relatife mengalami keterlambatan karena keterlambatan pengesahan APBD Kota Tebing Tinggi oleh pihak Legislatif Kota Tebing Tinggi. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya perbedaan dimensi responsivitas antara Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi lebih mengutamakan aspek administrasi sedangkan Legislatif Kota

(23)

Tebing Tinggi cenderung menempatkan aspek politis lebih menonjol.Kinerja organisasi yang telah dilaksanakan dengan tingkat pencapain tertentu tersebut belum sesuai dengan misi yang telah ditetapkan sebagai landasan untuk melakukan tugas yang diemban. Dengan demikian kinerja (performance) merupakan tingkat pencapaian hasil atau the degress of accomplishment (Keban,1995).

1.2 Perumusan Masalah

Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 2007, maka Pemerintah Kota Tebing Tinggi melaksanakan analisis kebutuhan serta volume cakupan beban kerja. Peneliti berusaha melihat tugas pokok dan fungsi Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi yang tertuang dalam peraturan Walikota Tebing TInggi Nomor 3 Tahun 2017Tentang Tugas dan Fungsi Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi.

Adapun tugas pokok dan fungsi Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi adalah membantu dan memfasilitasi Anggota DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya serta menjembatani urusan Daerah antara pihak Legislatif dengan Birokrasi yang berdasarkan azas otonomi.

Kinerja organisasi yang ada dalam lingkup Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi masih belum optimal dimana para staf dalam menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu singkat tapi masih juga mengalami keterlambatan yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam berbagai kegiatan. Dengan demikian Peneliti merumuskan pertanyaan permasalahan yaitu:

“Bagaimana kinerja dan faktor penghambat serta upaya yang dilakukan untuk

(24)

mengatasi masalah-masalah terkait kinerja pegawai di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi?”

1.3Tujuan Penelitian

Penelitian ini diadakan bertujuan untuk memperoleh data dan informasi mengenai yang terkait dengan judul yang diangkat, yang kemudian bagaimana Kinerja Pegawai Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis:

Hasil penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan kajian ilmiah bagi mahasiswa, khususnya mahasisswa studi pembangunan dalam melihat dan menganalisis kinerja Pegawai Sekretariat DPRD di Kota Tebing Tinggi.

2. Manfaat praktis 1) Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi penelitiberikutnya yang ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang hal ini sebelumnya. Serta dapat menambah wawasan peneliti tentang analisis kinerja Pegawai Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi.

2) Bagi Pemerintah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan input agar adanya zona yang jelas yang dapat dilakukan pemerintah dalam melakukan pengembangan dan perbaikan dalam hal pelayanan publik bagi masyarakat.

(25)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Kinerja

Diberbagai media masa istilah kinerja telah populer digunakan, namun seyogianya definisi atau pengertian kinerja belum dicantumkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia, sehingga menyulitkan masyarakat untuk mengetahuinya.

Namun demikian, media masa Indonesia memberi padanaan kata dalam bahasa Inggris untuk istilah kinerja yaitu “performance”. Performance atau kinerja adalah suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing- masing, dalam rangka upaya mencaapai tujuan orgnisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika (Prawirosentono 1999).

Kinerja adalah kemampuan kerja, prestasi yang diperlihatkan dan hasil yang dicapai.Menurut Indra Bastian dalam Irham Fahmi (2011:2) mengemukakan bahwa “kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis (strategic planning) suatu organisasi”.

Sementara itu, Atmosudirdjo (1997) mengatakan bahwa kinerja juga dapat berarti prestasi kerja, prestasi penyelenggaraan sesuatu (performance, howwell you do a piece of work or activity). Faustino (1995) memberi batasan mengenai performasi adalah suatu cara mengukur kontribusi-kontribusi dari individu- inndividu anggota organisasi kepada organisasinya.

(26)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996:503) kinerja didefinisikan sabagai, “Sesuatu yang akan dicapai, prestasi yang dapat diperlihatkan, kemampuan kerja”. Sedangkan menurut Rue dan Byars diterjemahkan oleh, Kaban (1995:1) “Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil dari tujuan organisasi”.

Sedangkan menurut Wibowo (2013:4) menyatakan bahwa:

Kinerja adalah merupakan implementasi dari rencana yang telah disusun tersebut.Implementasi kinerja dilakukan oleh sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, kompetensi, motivasi, dan kepentingan. Bagaimana organisasi menghargai dan memperlakukan sumber daya manusianya akan memengaruhi sikap dan perilakunya dalam menjalankan kinerja.

Bagi setiap organisasi, penelitian terhadap kinerja merupakan hal yang penting karena penilaian tersebut digunakan sebagai indikator keberhasilan suatu organisasi dalam pencapaian tujuan serta sebagai input bagi perbaikan/peningkatan kinerja organisasi, sedangkan bagi pemerintah merupakan salah satu unsur pendorong agar lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat yang dilayani, dan menuntun perbaikan dalam pelayanan publik. Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya atas kecakapan, usaha dan kesempatan. Berdasarkan paparan diatas kinerja adalah suatu hasil yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu menurut standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya Hasibuan (2002: 160).

Bagi setiap organisasi, penilaian terhadap kinerja merupakan suatu hal yang penting untuk dapat mengetahui sejauh mana tujuan organisasi tersebut berhasil diwujudkan dalam jangka waktu atau periode tertentu. Secara umum kinerja adalah padanan kata dari “performance”. Konsep kinerja menurut Rue dan Byars (1981) dalam Keban, (1995:1) dapat didefinisikan sebagai pencapai hasil

(27)

atau the degree of accomplishment. Dengan kata lain, kinerja merupakan tingkat pencapaian tujuan organisasi. Dengan demikian bahwa kinerja merupakan suatu tingkatan sejauhmana proses kegiatan organisasi itu memberikan hasil atau mencapai tujuan.

Berdasarkan pendapat diatas, dapat dijelaskan bahwa kinerja berhubungan dengan bagaimana melakukan suatu pekerjaan dan menyempurnakan hasil pekerjaan berdasarkan tanggungjawab namun tetap mentaati segala peraturan- peraturan, moral maupun etika. Sejalan dengan pengertian diatas, Bernadin and Rusell (1993:379) menyebutkan bahwa:

“Performance is defined as the record of out comes product on a specified job function or activity during a specified time period (Kinerja merupakan tingkat pencapaian/rekor produksi akhir pada suatu aktivitas organisasi atau fungsi kerja khusus selama periode tertentu)”.

Dari beberapa pendapat pakar diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya atau sebagai gambaran mengenai tentang besar kecilnya hasil yang dicapai dari suatu kegiatan baik dilihat secara kualitas maupun kuantitas sesuai dengan visi, misi suatu organisasi yang bersangkutan. Arti penting dari kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika Sedarmayanti (2007: 260) Unit sumber daya manusia dalam suatu organisasi seharusnya berperan untuk menganalisis dan membantu memperbaiki masalah- masalah dalam pencapaian kinerja.

(28)

Apa yang sesungguhnya menjadi peranan unit sumber daya manusia dalam suatu organisasi ini seharusnya tergantung pada apa yang diharapkan manajemen tingkat atas, seperti fungsi manajemen manapun, kegiatan manajemen sumber daya manusia harus dievaluasi dan direkayasa sedemikian sehingga mereka dapat memberikan kontribusi untuk kinerja yang kompetitif dari organisasi dan individu pada pekerjaan. Robbins (2003;82).

Tika (2006:121) mendenisikan kinerja sebagai hasil-hasil fungsi pekerjaan seseorang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu. Selain itu kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dari usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Sehingga kinerja tersebut merupakan hasil keterkaitan antar usaha, kemampuan dan persepsi tugas.

Menurut Mangkunegara (2001:67) “hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yanng diberikan kepadanya”. Kualitas yang dimaksud disini adalah dilihat dari kehalusan, kebersihan dan ketelitian dalam pekerjaan sedangkan kuantitas dilihat dari jumlah atau banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan karyawan. Kinerja merupakan hal yang paling penting dijadikan landasan untuk mengetahui tentang perfomance dari karyawan tersebut. Dengan melakukan penilaian demikian, seorang pimpinan akan menggunakan uraian pekerjaan sebagai tolak ukur, bila pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan atau melebihi uraian pekerjaan, berarti pekerjaan itu berhasil dilaksanakan dengan baik. Akan tetapi, kalau pelaksanaan pekerjaan berada dibawah uraian pekerjaan, maka pelaksanaan tersebut kurang berhasil.

(29)

Hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan juga haruslah dapat memberikan kontribusi yang penting bagi perusahaan yang dilihat dari segi kualitas yang dirasakan oleh perusahaan dan sangat besar manfaatnya dimasa yang akan datang. Jenis–jenis Kriteria Kinerja Menurut Robbins (2002: 155) mengatakan hampir semua cara pengukuran kinerja mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1) Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan. Ini berkaitan dengan jumlah keluaran yang dihasilkan.

2) Kualitas, yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). Pengukuran kualitatif keluaran mencerminkan pengukuran ”tingkat kepuasan”, yaitu seberapa baik penyelesaiannya. Ini berkaitan dengan bentuk keluaran.

3) Ketepatan waktu, yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan.

Pengukuran ketepatan waktu merupakan jenis khusus dari pengukuran kuantitatif yang menentukan ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.

Selain itu (Pamungkas: 2000) menjelaskan bahwa kinerja adalah penampilan cara-cara untuk menghasilkan sesuatu hasil yang diperoleh dengan aktivitas yang dicapai dengan suatu unjuk kerja. Pengertian kinerja bukan hanya pada tataran keluaran (output) melainkan termasuk pula tataran nilai guna (outcame) dan dampak (impact) hal ini sejalan dengan pandangan Wasistiono (2003:51), dari definisi definisi definisi tersebut diatas dapat diketahui dengan jelas bahwa pengertian kinerja atau performance merupakan hasil atau apa yang keluar (output), guna (outcame), dan dampak (impact) dari sebuah pekerjaan baik secara kuantitas maupun kualitasnya setelah melalui proses.

(30)

2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Menurut Mahmudi (2013:20) kinerja merupakan suatu konstruk multidimensional yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah faktor personal/individual yang meliputi “pengetahuan, keterampilan (skill), kemampuan kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu”.

Berdasarkan faktor-faktor personal tersebut, Mahmudi (2013:20) mengemukakan 4 (empat) indikator kinerja individu sebagai berikut.

1. pengetahuan (knowledge), yang mengacu pada pengetahuan yang dimiliki oleh pegawai (knowing what to do);

2. keahlian/keterampilan (skill), yang mengacu pada kemampuan untuk melakukan pekerjaan (the ability to do well);

3. motivasi (motivation), yaitu dorongan dan semangat untuk melakukan pekerjaan; dan

4. peran (role perception), yang mengacu pada komitmen pegawai terhadap peran yang melekat pada dirinya sebagai bagian dari organisasi.

Dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sikap dan produk kelembagaan Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi yang dihasilkan harus dapat merefleksikan dinamika dan aspirasi yang berkembang di publik (resposif dan aspiratif). Artinya dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan public, memberi pelayanan dan kupuasan kepada publik serta mampu memecahkan masalah yang dihadapi.

(31)

2.3. Teori Pegawai

Berbicara soal kinerja tidak lepas dari siapa yang bekerja yaitu pegawai maupun kinerja pegawai tersebut. Menurut Dharma Soerwono Handayanigrat dalam Tumar Sumihardjo (2012:17) menyatakan bahwa:

“Aparatur/Pegawai ialah aspek-aspekadministrasiyang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan atau negara, sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi.Aspek-aspek administrasi itu terutama ialah kelembagaan atau organisasi dan kepegawaian”.

Sedangkan menurut Harsono dalam Tjahya Supriatna dan ArjonoSukiasa (2010:137) mengemukakan bahwa “Setiap Pegawai berkedudukan sebagai aparatur Negara yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan”.

Menurut Lijan Poltak Sinambela, dkk (2012: 05) menyatakan bahwa:

Kinerja pegawai didefinisikan sebagai kemampuan pegawai dalam melakukan sesuatu keahlian tertentu. Kinerja pegawai sangatlah perlu, sebab dengan kinerja ini akan diketahui seberapa jauh kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Untuk itu diperlukan penentuan kriteria yang jelas dan terukur ditetapkan secara bersama-sama yang dijadikan sebagai acuan.

Kinerja pegawai haruslah terencana secara berkesinambungan, sebab peningkatan kinerja pegawai bukan merupakan peristiwa seketika tetapi memerlukan suatu perencanaan dan tindakan yang tertata dengan baik untuk kurun waktu tertentu. (Engkoswara dalam Sinambela, 2012: 10).

Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 Pasal 1 ayat (2) Tentang Pokok-pokok Kepegawaian diterapkan bahwa Pegawai adalah pegawai (ASN) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh

(32)

pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi secara moral dan faktual ikut bertanggungjawab atas kelancarn berjalannya roda pemerintahan di daerah demi pelayanan kepada publik. Dalam mengatur dan mengurus Pemerintahan di daerahnya, harus benar-benar sesuai dengan kepentingan publik dan berdasarkan aspirasi publik. Oleh karena itu, Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi harus memperhatikan apakah pelaksanaan fungsinya telah sesuai dengan apa yang menjadi harapan publik, menguntungkan publik dan memperdulikan rasa keadilan. Maka harus ada pertanggungjawaban secara moral kepada publik, dengan kata lain menunjukkan bahwa dalam konsep akuntabilitas mengandung adanya pertanggungjawaban kepada publik. Sehingga dapat dirumuskan bahwa organisasi memiliki akuntabilitas yang tinggi jika kegiatan dan pelaksanaan fungsinya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

2.4. Sekretariat DPRD

Dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas DPRD, dibentuk sekretariat DPRD yang personelnya terdiri atas Pegawai Negeri Sipil. Sekretariat DPRD adalah penyelenggara administrasi kesekretariatan, administrasi keuangan, pendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD, dan bertugas menyediakan serta mengoordinasikan tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. Sekretariat DPRD dipimpin seorang sekretaris DPRD yang diangkat oleh kepala daerah atas usul pimpinan DPRD. Sekretaris

(33)

pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggungjawab kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Fungsi sekretariat DPRD adalah sebagai berikut:

1. Penyelenggaraan administrasi kesekretariatan DPRD 2. Penyelenggaraan administrasi keuangan DPRD 3. Penyelenggaraan rapat-rapat DPRD

4. Penyediaan dan pengoordinasian tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD.

Untuk meningkatkan kinerja lembaga dan membantu pelaksanaan fungsi dan tugasDPRD secara profesional, dapat diangkat sejumlah pakar/ahli sesuai dengan kebutuhan.Para pakar/ahli tersebut berada di bawah koordinasi sekretariat DPRD.Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan, badan musyawarah, komisi, badanlegislasi daerah, badan anggaran, badan kehormatan, dan alat kelengkapan lain yangdiperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna.

2.5. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan Bakri tahun 2015 dari Universitas Mulawarwan dengan judul penelitian Analisis Kinerja Pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini dilakukan berlokasi di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk menganalisis kinerja pegawai di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur. Fokus penelitian yang diangkat mengenai Produktivitas, Responsibilitas, Akuntabilitas dan Disiplin pegawai dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan yang terdiri dari observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi, sedangkan informan diambil secara purposive sampling. Jenis

(34)

penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan akan di analisis secara kualitatif.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa Kinerja Pegawai di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur sudah dijalankan berdasarkan konsep-konsep kinerja yang baik yaitu produktivitas, responsibilitas, akuntabilitas dan disiplin yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Penerapan prinsip-prinsip kinerja pegawai yang baik telah benar-benar terlaksana di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Timur. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu:

1. Kondisi produktivitas pegawai di Sekretariat DPRD Kutim di tiap-tiap bidang kerjanya sudah berjalan berdasarkan standar yang telah ditentukan di Rencana Strategi (Renstra) Sekretariat DPRD Kutim. Pelaksanaan program atau kegiatan dilingkup Sekretariat DPRD Kutim tahun anggaran 2014 sebagian besar telah sesuai dengan apa yang direncanakan dalam Rencana Strategis tahun 2011-2015 dengan tingkat pencapaian 9551 %.

Hal tersebut terlihat dari25 kegiatan di tahun anggaran 2014 yang telah terlaksana. Pemberian motivasi, pengawasan, bimbingan diklat, workshop, Bimtek dan kursus pun telah dilakukan untuk menunjang produktivitas pegawai agar kedepannya dapat lebih baik lagi.

2. Konsep responsibilitas pegawai sudah berjalan sesuai dengan rencana organisasi ataupun visi misi organisasi sebagai unsur pelayanan terhadap DPRD yang tercantum dalam Standar Operasional Prosedur atau SOP di Sekretariat DPRD Kutim. SOP Sekretariat DPRD Kutim menggambarkan setiap jenis keluaran pekerjaan secara komprehensif, menjamin adanya kepastian alur pekerjaan dan hubungan kerja antara unit kerja dan sesama

(35)

pegawai, dan hubungan antara pegawai dengan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) atau para Anggota Dewan serta hubungan dengan masyarakat.

Selain itu SOP juga bermanfaat sebagai standarisasi cara yang dilakukan pegawai Sekretariat DPRD Kutim dalam menyelesaikan pekerjaan khusus serta mengurangi kesalahan dan kelalaian.

3. Penerapan prinsip akuntabilitas di lingkungan pegawai Sekretariat DPRD Kutim sudah berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntabilitas yang baik, yaitu pegawai mampu mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan wewenang yang telah diberikan sebelumnya baik yang berkaitan dengan Analisis Kinerja Pegawai di Sekretariat DPRD Kab. Kutai Timur (Bakri) anggaran maupun tidak.

Selanjutnya hal yang sama juga dilakukan oleh A.Tenriarni Rahman dkk, penelitian ini berjudul Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja (studi kasus pada Sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai pada sekretariat DPRD kabupaten Polewali Mandar. Data penelitian ini diperoleh dari kuesioner, observasi, serta wawancara lansung dengan pihak yang terkait dengan Sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pelatihan berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada tingkat signifikan lebih kecil dari 5 persen. Begitupun dengan variabel kompensasi berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada tingkat signifikan lebih kecil dari 5 persen juga. Sehingga pelatihan yang dilakukan dan didukung oleh kompensasi yang memuaskan akan mampu meningkatkan kinerja pegawai dalam lingkup sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar.

(36)

Suwondo Anwar WS. Juga melakukan penelitian terkait hal yang sama yakni dengan judul Analisis Kinerja DPRD Kabupaten Tulang Bawang. Dalam konteks DPRD Kabupaten Tulang Bawang maka kinerja merupakanpelaksanaan peran Fungsi DPR baik fungsi legislasi, anggaran dan pengawasanpada pelaksanakan otonomi daerah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisis kinerja DPRD Kabupaten Tulang Bawangserta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja tersebut, baik faktor pendukung dan faktor penghambat. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja dimaksud yaitu: indikator, Produksivitas, Responsivitas dan Akuntabilitas.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan anailisis deskriptif.

Adapun pengumpulan data-data dilakukan melalui observasi dilapangan, wawancara dan pendokumentasian. Berdasarkan penelitian yang ditunjang oleh data-data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan pengunaan indikator-indikator sebagai mana tersebut diatas maka; didapatkan kesimpulan bahwa: kinerja DPRD Kabupaten Tulang Bawang dalam melaksanakan fungsi legislasi dan pengawasan masih terbilang lemah, sedangkan pelaksanaan fungsi anggaran telah berjalan baik. Namun secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa kinerja DPRD Kabupaten Tulang Bawang dalam melaksanakan fungsinya belum berjalan secara optimal. Dalam upaya meningkatkan pelaksanaan Fungsi DPRD penulis memberi saran: Pada fungsi legislasi; Agar anggota DPRD pro-aktif turun kelapangan untuk menyerap dan memperjuangkan aspirasi mayarakat yang dapat diakomodir dalam perda usul inisiatif DPRD.

Pada fungsi anggaran; agar DPRD dapat memberi motivasi dan inovasi kepada pihak eksekutif untuk meningkatkan sumber Pendapatan Asli Daerah

(37)

(PAD) dan mempertahankan belanja tidak langsung selalu lebih kecil nilainya dari belanja langsung, sehingga terwujud APBD pro-Rakyat. Sedangkan pada fungsi pengawasan; DPRD tidak hanya melakukan pengawasan secara politis, tetapi konkrit dan realistis dapat melaporkan penemuan pelanggaran hukum Pidana/perdata atas pelaksanaan pemerintahan kepada penegak hukum.

Selanjutnya dapat digunakan hak interpelasi, hak angket dan hak menyatakan pendapat berkenaan dengan persoalan penting dan strategis yang menyangkut masyarakat luas dan berdampak pada kepentingan bangsa dan negara.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Aris Joko Susilo dkk, mereka meneliti tentang Analisis kinerja legislasi DPRD 2009-2014 Studi Kasus di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Beberapan simpulan yang dapatditarik dari analisis penelitian ini adalah,kinerja legislasi DPRD Kabupaten Tolitoli Periode Tahun 2009-2014 dalam mewujudkan Perda yang berkualitas dan dapat disesuaikandenga kondisi lokalistiknya belum dapat berjalan baik sebagaimana mestinya. Polayang terbangun dalam kinerja legislasi DPRD Kabupaten Tolitoli harus diperbaiki berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak adanya target legislasi yang tertuang dalam Program Legislasi Daerah atau Prolegda menyulitkan DPRD Kabupaten Tolitoli bekerja maksimal dalam menjalankan fungsinya untuk membentuk Perda.

Inovasi yang dilakukan oleh DPRD Kabupaten Tolitoli masih sangat rendah atau hanya mampu membuat dua Perda yang berasal dari inisiatif DPRD Kabupaten Tolitoli, sedangkan eksekutif mendominasi dengan mengusulkan perda sebanyak 113 dan juga hanya mampu disahkan menjadi 72 Perda, sehingga selama periode 2009-2014 DPRD Kabupaten Tolitoli menyelesaikan 74 Raperda

(38)

yang disahkan menjadi Perda dari 115 usulan Raperda. Dibalik permasalahan kinerja DPRD Kabupaten Tolitoli ini, ada beberapa indicator yang mempengaruhi, diantanya adalah.

Pertama, kualitas para anggota DPRD Kabupaten Tolitoli yang berkaitan dengan keterampilan dan pengetahuan (pendidikan) dalam menjalankan kinerja legislasi di DPRD Kabupaten Tolitoli sangat diperlukan dan sangat mempengaruhi disamping perlunya pengalaman atau pendidikan non formal.Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan anggota DPRD Kabupaten Tolitoli berbanding lurus dengan tingkat pencapaian kinerja legislasi DPRD KabupatenTolitoli. Kurangnya pemahaman akan legislasi menjadi permasalahan tersendiri dan membuat anggota DPRD Kabupaten Tolitoli kurang produktif dalam menjalankan fungsinya.

Kedua, kuantitas produk legislasi yang menunjukan kinerja DPRD Kabupaten Tolitoli secara jelas bahwa lembaga legislatif di Kabupaten Tolitoli ini tidak menunjukan kinerja yang baik sebab hanya mampu menyelesaikan 74 Perda dari 115 Raperda selama Tahun 2009-2014, sedangkan dari 74 Perda yang disahkan, hanya dua Perda yang merupakan Perda inisiatif DPRD. Ketiga, ketepatan waktu. Ketepatan waktu DPRD Kabupaten Tolitoli dalam menyelesaikan Raperda menjadi Perda pada setiap pembahasan Raperda setiap masa sidang. Waktu di DPRD ditentukan oleh target legislasi atau Prolegda, namun pembahasan prolegda tidak berjalan sebagaimana mestinya menurut Undang-Undang. Pembahasan Raperda yang terjadi selama periode 2009-2014 tidak berdasarkan mekanisme Prolegda, tetapi hanya membahas seluruh usulan eksekutif yang biasanya dibahas bersama-sama dengan Perda RAPBD. Hal ini

(39)

dibuktikan dengan kinerja DPRD Kabupaten Tolitoli yang sudah terbiasa dengan pola kerja menunggu draf Raperda dari eksekutif. Hal inilah yang mengakibatkan tidak adanaya inovasi dalam pembuatan peraturan daerah yang berkualitas.

Keempat, efektivitas. Sumber daya DPRD Kabupaten Tolitoli dalam menjalankan fungsi legislasi telah diatur berdasarkan Undang-Undang bahwa tugas serta wewenang yang dimiliki oleh DPRD Kabupaten/Kota berdasarkan struktur (AKD) yang dibentuk. Struktural sangat berpengaruh dalam kinerja legislasi DPRD Kabupaten Tolitoli. Para pimpinan disemua tingkatan di DPRD Kabupaten Tolitoli mengambil peran strategis dalam menggiring kepentingan untuk menjadi keputusan bersama pada tingkat paripurna

Kelima, kemandirian. Pola yang terbentuk atau kebiasaan cara kerja DPRD Kabupaten Tolitoli dalam menjalankan fungsi legislasi akan mempengaruhi kinerja DPRD Kabupaten Tolitoli sehingga dapat membentuk sebuah budaya organisasi ataukultur organisasi. Kebiasaan DPRD Kabupaten Tolitoli yang menunggu membuat lembaga perwakilan tersebut menjadi tidak proaktif untuk meningkatkan kinerja legislasi DPRD Kabupaten Tolitoli. DPRD KabupatenTolitoli dalam membuat Perda sesuai Undang-Undang sesungguhnya memiliki kewenangan yang lebih besar dari pada eksekutif, karena DPRD Kabupaten Tolitoli merupakan representasi dari rakyat itu sendiri, dimana legislasi dibuat juga dengan asas demokrasi, yaitu dari, oleh dan untuk Rakyat sebagai obyek peraturan daerah.

Penelitian juga dilakukan oleh Brian Felliciano Manansal pada tahun 2014 dengan judul kinerja pegawai di Sekretariat DPRD Kota Bitung, Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana kinerja pegawai di sekretariat

(40)

DPRD Kota Bitung. Metode Penelitian ini Merupakan Penelitian Kualitatif, yaitu dengan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistic (utuh), (Bodgan dan Taylor dalam Moloeng, 1996:3).

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa penelitian kualitatif setelah data yang dicari oleh peneliti sudah diperoleh lewat hasil penelitian, maka data yang sudah diperoleh tersebut diolah dengan cara kita menjelaskan atau menggambarkan sesuai dengan hasil yang kita peroleh ketika melaksanakan penelitian tersebut. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu dengan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Hasil Penelitian kinerja pegawai di Sekretariat DPRD sebagai perangkat daerah Kota Bitung merupakan salah satu pelaku pembangunan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pencapaian harapan masyarakat Bitung yang maju dan mandiri. Ukuran keberhasilan yang harus dicapai oleh Sekretariat DPRD Kota Bitung selain dijiwai oleh harapan terwujudnya Bitung maju dan mandiri. Terkait dengan kualitas kerja dari pegawai Sekretariat DPRD Kota Bitung, Tercermin bahwa memang kualitas kerja pegawai Sekretariat DPRD masih perlu ditingkatkan, di Sekretariat DPRD Kota Bitung, masih banyak pegawai yang penempatan pekerjaanya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

(41)

Penelitian terdahulu juga pernah dilakukan oleh Alwi dari Universitas Tadulako Tahun 2016 dengan judul Analisi Kinerja Pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif . Yang bertujuan untuk memberikan gambaran utuh dan menyeluruh tentang strategi peningkatan kinerja pelayanan publik pada Sekretariat DPRD Kabupaten Kabupaten Mamuju Utara.

Lokasi penelitian adalah Lembaga Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara dan penelitian di lakukan pada bulan Agustus sampai bulan Desember 2015.

Bentuk data utama yang diperoleh dalam penelitian ini yakni data kualitatif berupa wawancara pada 5 orang informan yang telah ditentukan oleh peneliti.

Adapun data sekunder penelitian ini adalah data data bersumber dari Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara, dan data sekunder lainnya berupa pedoman- pedoman kerja referensi-referensi yang memiliki keterkaitan dengan objek penelitian. Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai.

Aktivitas dalam analisis data berupa a). editing data, b). Klasifikasi data, c). Interpretasi data, dan d). Menyimpulkan Data.Kinerja Organisasi Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara yang dimaksud adalah hasil kerja dari pegawai Aparatur Pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Indikator yang digunakan untuk menilai Kinerja Organisasi Pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara dalam penelitian ini Adalah:

1. Produktivitas

Konsep produktivitas tidak hanya mengukur tingkat efisiensi, tetapi juga efektivitas pelayanan. Produktivitas pada umumnya dipahami sebagai rasio antara

(42)

input dengan output. Konsep produktivitas ini dirasa terlalu sempit dan kemudian General Accounting Office (GAO) mencoba mengembangkan satu ukuran produktivitas yang lebih luas dengan memasukkan seberapa besar pelayanan publik itu memiliki hasil yang diharapkan sebagai salah satu indikator kinerja yang penting, dari tingkat pemahaman aparat pelaksana terhadap uraian pekerjaan, jumlah permasalahan yang berhasil diselesaikan dan tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap pelayanan yang diberikan.

2. Kualitas Layanan

Salah satu fungsi pemerintahan yang kini semakin disorot masyarakat adalah pelayanan publik yang diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintah yang menyelenggarakan pelayanan publik. Peningkatan kualitas pelayanan publik yang diselenggarakan instansi pemerintahan kini semakin mengemukakan bahkan menjadi tuntutan masyarakat. Persoalan yang sering dikritisi masyarakat atau para penerima layanan adalah persepsi terhadap “kualitas” yang melekat pada selurus aspek pelayanan.

3. Responsivitas

Responsivitas dalam konteks penelitian ini adalah kemampuan aparat pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara untuk mengenali kebutuhan pengguna jasa dalam hal ini Anggota DPRD Kabupaten Mamuju Utara, menyusun agenda dan prioritas pelayanan serta mengembangkan program- program pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi pengguna jasa. Untuk itu, aspek responsivitas akan dilihat melalui keterkaitan antar program kegiatan dengan kebutuhan organisasi, daya tanggap aparat dalam menghadapi dan menyelesaikan keluhan-keluhan yang disampaikan pengguna jasa dan tersedianya

(43)

wadah serta kesempatan bagi pengguna jasa untuk menyampaikan saran atau keluhan. Secara singkat, responsivitas mengukur daya tanggap aparat pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara terhadap harapan, keinginan dan aspirasi serta tuntutan Anggota DPRD Kabupaten Mamuju Utara.

Responsivitas memerlukan kesiapan sumber daya dari seluruh aparatur yang sebagai pembuat kebijakan, penyedia/pelaksana layanan publik, sikap cepat tanggap yang dimiliki oleh para pembuat kebijakan, senantiasa dipelihara sehingga pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, efektif dan efisien. Responsivitas Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara dalam menyikapi kendala-kendala yang terjadi sangat diperlukan dalam pelayanan karena hal tersebut merupakan bukti kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan anggota DPRD, menyusun agenda dan prioritas pada pelayanan serta mengembangkan seluruh program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan.

4. Responsibilitas

Suatu organisasi dikatakan melaksanakan kegiatan dengan responsibilitas yang tinggi apabila dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar/sesuai dengan kebijaksanaan organisasi, oleh karenanya responsibilitas bisa saja pada suatu ketika berbenturan dengan responsivitas.

Dalam hal ini responsibilitas dari pegawai Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara akan dilihat dari proses kecepatan dan ketepatan dalam penyelesaian pekerjaan yang ada di Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara.

(44)

Selanjutnya akan dibahas satu persatu tahapan – tahapan dalam kegiatan pegawai pada Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara.

5. Akuntabilitas

Pada dasarnya Laporan Akuntabilitas Kinerja ini mengkomunikasikan pencapaian kinerja SKPD Sekretariat DPRD Kabupaten Mamuju Utara selama tahun 2014. Capaian kinerja (performance results) tahun 2014 tersebut diperbandingkan dengan Rencana Kinerja (Performance Plan) tahun 2013 sabagai tolak ukur keberhasilan tahunan organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi perbaikan kinerja dimasa datang.

(45)

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dipakai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi deskriptif. Penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata (baik tertulis maupun lisan). Metode penelitian kualitatif ini dipilih karena dapat menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden serta lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan pola-pola nilai yang dihadapi (Moleong, 2000).

Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengumpulan data untuk memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala, juga menjawab pertanyaan sehubungan dengan status subyek penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada didalam kehidupan masyarakat yang menjadi objek dalam penelitian ini dan berupaya untuk menarik realitas itu ke permukaan sehingga terlihat bagaimana realitas sosial yang sebenarnya ada dan sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat (Bungin, 2007).

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Tebing Tinggi di Kantor DPRD yang dimana di Kantor tersebut tempat pelaksanaan pelayanan publik yang dilakukan sekretariat DPRD kepada para Anggota Dewan.

(46)

3.3 Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Salah satu ciri atau karakteristik dari penelitian sosial adalah menggunakan apa yang disebut dengan “Unit Of Analisis”. Ada dua jumlah unit yang lazim digunakan pada kebanyakan penelitian sosial yaitu individu, kelompok dan sosial. Adapun yang menjadi unit analisis dan objek kajian dalam penelitian ini adalah para anggota dewan di Kantor DPRD Kota Tebing Tinggi.

3.3.2 Informan

Informan adalah orang-orang yang menjadi sumber informasi dalam penelitian. Informan dianggap sebagai orang yang menguasai dan memahami data, informasi ataupun fakta dari suatu objek penelitian (Bungin, 2008).

Pemilihan informan peneliti menggunakan teknik purposive Sampling untuk menentukan subjek penelitian. Teknik purposive Sampling digunakan dalam pemilihan informan peneliti karena menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Sehingga peneliti menentukan beberapa kriteria informan (Idrus, 2009).

Adapun yang menjadi sumber informasi untuk memperoleh data dari penelitian ini adalah:

1. Sekretaris DPRD Kota Tebing Tinggi

2. Kabag Persidangan dan Perundangan-undangan di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi

3. Kabag Umum di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi 4. Staf di Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi

(47)

3.4 Teknik Pengumpulan Data

3.4.1. Teknik pengumpulan data primer

Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah:

a. Observasi yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, dimana data penelitian itu dapat diamati peneliti. Dalam arti data tersebut dihimpun melalui pengamatan peneliti melalui penggunaan pancaindra (Bungin, 2001). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan langsung ke Kantor DPRD Tebing Tinggi.

b. Wawancara mendalam yaitu proses Tanya jawab yang dilakukan secara langsung dan mendalam ditujukan terhadap informan di lokasi penelitian dengan draf pertanyaan yang sudah siapkan dan disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ada, serta menggunakan panduan atau pedoman wawancara dan alat bantu wawancara seperti tape recorder, catatan kecil dan lain-lain untuk memperoleh data dan informasi tentang Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi.

3.4.2. Teknik pengumpulan data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian dan data yang dapat diambil dari sumber lain atau instansi lain yang berkaitan dengan penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan penelitian perpustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu

(48)

menghimpun berbagai informasi dari buku referensi, jurnal, majalah dan internet yang dianggap relevan dengan penelitian ini.

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan proses pengolahan data dimulai dari tahap mengedit data sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti kemudian diolah secara deskriptif berdasarkan apa yang terjadi dilapangan. Menganalisis data menunjuk pada kegiatan mengorganisasikan data ke dalam susunan-susunan tertentu dalam rangka penginterpretasikan data (Faisal 2007). Analisis data ditandai dengan pengolahan dan penafsiran data yang diperoleh dari setiap informasi baik melalui pengamatan, wawancara atau catatan lapangan lainnya yang telah ada melalui penelitian terdahulu yang kemudian dipelajari dan ditelaah.Pada tahap selanjutnya adalah penyusunan data dalam satuan-satuan yang kemudian dikategorikan. Kategori tersebut berkaitan satu sama lain dan diinterpretasikan secara kualitatif.

(49)

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Kota Tebing Tinggi

Gambaran umum lokasi penelitian adalah gambaran tentang kondisi yang ada di wilayah peneliti pilih yaitu Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi. Kota Tebing Tinggi merupakan satu dari 7 (tujuh) kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara dengan luas wilayah 38,438 km2. Berjarak sekitar 79 km dari Kota Medan (Ibukota Provinsi Sumatera Utara) serta terletak pada lintas utama Sumatera, yaitu yang menghubungkan Lintas Timur dan Lintas Tengah Sumatera melalui Lintas Diagonal pada ruas Tebing Tinggi – Pematangsiantar – Parapat – Balige – Siborong-borong.

Kota Tebing Tinggi terletak diantara 3017’-30 24’ LU dan 980 07’- 980 08’- 990 12’ BT dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

1. Sebelah Utara dengan PTPN III Kebun Rambutan Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai.

2. Sebelah Selatan berbatasandengan PTPN III KebunPabatudan Perkebunan Paya Pinang, KabupatenSerdangBedagai.

3. Sebelah Barat berbatasandengan PTPN III kebunGunung Pamela, KabupatenSerdangBedagai.

4. Sebelah Timur dengan PT. Socfindo Tanah Bersih dan PTPN III Kebun Rambutan Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten serdang Bedagai

(50)

Kota Tebing Tinggi terdiri dari 5 Kecamatan dan 35 Kelurahan dengan luas wilayah 38,438 Km2. Luas Kota Tebing Tinggi yang Luasnya hanya 38,438 Km2, tingkat kepadatan penduduk Kota Tebing Tinggi mencapai 3,84 Jiwa/Km2. Jumlah penduduknya sebanyak 147.771 Jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 35.764 rumah tangga.

4.1.2 Visi dan Misi Kota Tebing Tinggi

Perencanaan Pembangunan Kota Tebing Tinggi yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang mencakup rentang waktu lima tahun kedepan hanya dapat disusun apabila visi yang dicapai dalam rentan waktu tersebut telah dirumuskan dengan jelas. Visi yang ingin dicapai haruslah benar- benar mampu menjawab permasalahan strategis masyarakat Kota Tebing Tinggi sehubung dengan perubahan dan perkembangan lingkungan eksternal baik dalam lingkup lokal maupun domestik dan global.

Dengan potensi, karakteristik, peluang, tantangan, sikap, dan pandangan hidup bersama, modal dasar pembanguunan kota lebih dari lima tahun kedepan, dan tujuan pokok pembangunan kota yang ingin diwujudkan, serta kemutlakkan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Visi pembangunan Kota Tebing Tinggi sebagai berikut :

“Mewujudakan Masyarakat Kota Tebing Tinggi Yang Beriman, Bertaqwa, Maju, Sejahtera, Mandiri, Berkeadilan Dalam Kebhinekaan”.

Guna mencapai visi sebagaimana yang telah ditetapkan di atas, maka dirumuskanlah Misi Kota Tebing Tinggi sebagai berikut :

(51)

1. Menyelenggarakan pembinaan mental spiritual masyarakat, sumberdaya aparatur untuk mewujudkan insan yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Menyelenggarakan pendidikan yang lebih berkualitas, secara terpadu, merata, terjangkau, dan memiliki wawasan kebangsaan;

3. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup untuk mewujudkan masyarakat sehat, cerdas,dan berkualitas;

4. Melanjutkan pembagunan Kota Tebing Tinggi sebagai Kota jasa yang memiliki produktivitas, inovasi, kreatifitas, dengan berorientasi pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan;

5. Menyelenggarakan pembangunan infrastruktur, sarana, dan prasarana secara terkoordinasi dengan titik berat pada penanggulangan banjir;

6. Melaksanakan pembinaan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) secara terpadu menyeluruh dan mensejahterakan masyarakat melalui pemanfaatan usaha yang memiliki prospek;

7. Menyelenggarakan peningkatan kualitas sumber daya aparatur dan sumber daya masyarakat untuk meningkatkan daya saing dan kesempatan kerja;

8. Menyelenggarakan pembangunan, pembinaan sosial dan kemasyarakatan secara berkeadilan, taat azas, taat prosedur dengan menjunjung tinggi tertib hukum.

(52)

4.2. Gambaran Umum Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi 4.2.1 Visi dan Misi Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi

Berdasarkan Peraturan Walikota Kota Tebing Tinggi Nomor 28 tahun 2016 Tentang susunan Organisasi Perangakat daerah Kota Tebing Tinggi, Sekretariat DPRD merupakan unsur pelayanan administrasi dan pemberian dukungan terhadap tugas dan fungsi DPRD, dipimpin oleh Sekretaris DPRD yang dalam melaksanakan tugasnya secara teknis operasional berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi menyelenggarakan fungsi sebagai administrasi Kesekretariatan berikut:

a. Penyelenggaraan DPRD;

b. Penyelenggaraan administrasi keuangan DPRD;

c. Fasilitasi penyelenggaraan rapat DPRD;

d. Penyediaan dan pengoordinasian tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD.

Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi merupakan bagian integral dari Pemerintah Kota Tebing Tinggi, secara logis visinya merupakan turunan dari dan mendukung visi Kota Tebing Tinggi. Visi Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi adalah “Mewujudkan optimalisasi tugas DPRD melalui pelayanan prima yang didukung oleh sarana dan prasarana”. Untuk mewujudkan visi Sekretariat DPRD Kota Tebing Tinggi tersebut telah dirumuskan sejumlah misi yang menggambarkan amanah apa yang harus dituntaskan oleh organisasi, agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil sesuai dengan visi yang ditetapkan.

Gambar

Gambar 4.1 Mekanisme Kerja DPRD Kota Tebing Tinggi Dalam  Penampungan Aspirasi Masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

Melalui metode penelitian deskriptif kuantitatif yang menggambarkan keadaan atau gejala sosial 

Lingkup pekerjaan : Pengadaan Jasa Asuransi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan dan Anggota DPRD beserta Keluarganya dan General Check-Up

Demikian pemberian penjelasan (aanwizjing) ini dibuat pada hari dan tanggal tersebut diatas dan telah ditandatangani oleh Panitia Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Badan

Hal ini diperkuat dengan fakta: pegawai jarang menangani pekerjaan berat, sebagian kecil pegawai kurang mampu bekerja sesuai target, ada beberapa pegawai yang kurang

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan dan pendapat beberapa ahli diatas seperti Bernardian dan Russell dalam Sedarmawati (2008 :260), Veithzal dan Ella (2009

Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). 8 Kirk & Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam

Berdasarkan uraian bukti-bukti penelitian terdahulu dan permasalahan pada latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul:

Motivasi dalam pengertian yang berkembang di masyarakat sering kali disamakan dengan 'semangat', dan hasil belajar adalah suatu hasil yang dicapai oleh seorang individu dalam