ANALISIS YURIDIS KEPEMILIKAN TANAH SECARA PARULOSAN DENGAN PEMBERIAN BATU SULANG PADA
MASYARAKAT BATAK TOBA (PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3293 K/PDT/2017)
TESIS
Oleh
BERNADETTE AGUSTINA SAGALA 167011182 / M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
ANALISIS YURIDIS KEPEMILIKAN TANAH SECARA PARULOSAN DENGAN PEMBERIAN BATU SULANG PADA
MASYARAKAT BATAK TOBA (PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3293 K/PDT/2017)
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
BERNADETTE AGUSTINA SAGALA 167011182 / M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Edy Ikhsan, SH., MA
Anggota : 1. Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH., M.Hum 2. Prof. Dr. Rosnidar Sembiring, SH., M.Hum 3. Dr. Yefrizawati, SH., M.Hum
4. Dr. Utary Maharany Barus, SH., M.Hum
i
dan berkembang hingga saat ini. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat adat Batak Toba yang ada di Sumatera Utara. Dalam masyarakat adat Batak Toba masih dikenal penyerahan tanah secara Parulosan dengan pemberian Batu SulangPenyerahan tanah secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang ini juga menimbulkan akibat hukum yang berkaitan dengan kepastian hukum atas kepemilikan tanah yang diselenggarakan pemberiannya melalui ritual adat Batak Toba.
Berdasarkan latar belakang tersebut, beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana mekanisme penyerahan tanah secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang, bagaimana keabsahan kepemilikan tanah secara Parulosan dan bagaimana putusan hakim atas perkara nomor 3463 K/Pdt/2017 terkait dengan kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu SulangPenelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis yang bertujuan untuk menggambarkan bagaimana mekanisme dan keabsahan tanah yang didapat melalui Parulosan.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penyerahan tanah yang dilakukan secara Parulosan ini merupakan hukum yang masih hidup di masyarakat adat Batak Toba dan kepemilikan tanah yang telah didapat melalui Parulosan ini tidak dapat di ganggu gugat. Hal ini juga sejalan dengan putusan hakim atas perkara nomor 3463 K/Pdt/2017, pertimbangan hakim dalam perkara nomor 3463 K/Pdt/2017 menyatakan penyerahan tanah yang dilakukan secara parulosan ini diakui dan dinyatakan ada keberadaannya sehingga kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat.Hakim dalam memutuskan perkara ini masih mengakui bahwa hukum adat yang berkembang dalam masyarakat Batak Toba masih dilaksanakan dan dipertahankan hingga sekarang.
Kata kunci: Penyerahan tanah, Parulosan, Batu Sulang, Batak Toba
ii
well to Bata Tobanese people in North Sumatera Province. Batak Toba ethnic recognizes the terminology for land transfer using Parulosan way by giving Batu Sulang. Land transfer using Parulosan way by giving Batu Sulang also causes legal consequences related to the legal certainty for the land ownership which is carried out by traditional ritual of Bata Toba ethnic.
The research problems are how about the mechanism of land transfer using Parulosan way by giving Batu Sulang, how about validity of the land ownership that is obtained through Parulosan way, and how about the judge’s ruling for the case number 3463 K/Pdt/2017 concerning customary land ownership that is obtained through Parulosan way by giving Batu Sulang. This research employs analytical descriptive method. The objective of this research is to describe how the mechanism and validity of land ownership that is obtained through Parulosan way.
The results demonstrate that land transfer that is carried out using Parulosan way is a legal action that still exists in Bata Toba community and the land ownership that is obtained through Parulosan way is inviolable. It is in line with the judge’s ruling for the case number 3463 K/Pdt/2017 which states that the land transfer that is carried out using Parulosan way is acknowledged and is stated to still exists so that its ownership is inviolable. The judges in pronouncing their ruling acknowledge that the customary law living in Batak Toba community is still implemented and maintained until present time.
Keywords: Land Transfer, Parulosan, Batu Sulang, Batak Toba
iii
pertolongan melimpah yang telah diberikanNya sehingga tesis ini dapat disusun dan diselesaikan. Penulisan tesis ini tidak luput dari kekurangan sehingga penulis berharap agar semua pihak dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi menghasilkan sebuah karya ilmiah yang lebih baik dan lebih sempurna lagi baik dari segi substansi maupun cara penulisannya.
Selama menempuh pendidikan dan penulisan serta penyelesaian tesis ini penulis banyak menerima dukungan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak.:
1. Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. T. Keizerina Devi A. SH., CN., M.Hum, selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Kenotariatan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan masukan pada penulis.
4. Dr. Edy Ikhsan, SH, MA, selaku sekretaris Program Studi Magister Ilmu Kenotariatan Universitas Sumatera Utara juga selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan semangat dan motivasi kepada penulis 5. Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, M.Hum, selaku Anggota Komisi
Pembimbing yang telah banyak membantu dan memberikan arahan , saran
dan dengan sabar membimbing penulis dalam penulisan tesis ini.
iv
7. Bapak dan Ibu Dosen Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu pengetahuan, bimbingan serta arahan yang sangat bermanfaat selama penulis mengikuti proses kegiatan perkuliahan
8. Rekan-rekan Kelas Reguler Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Angkatan 2016 dan sahabat-sahabat saya khususnya Jeffriandy Rio Lestari Milala, Berlina Situmorang, Ella Yulla Ella Wati Simamora, Tessalonika Aurelia Tampubolon dan Jessica Rulina Sinaga yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta doa kepada penulis selama penyusunan tesis ini.
9. Para Pegawai Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dan memberi kemudahan administrasi kepada penulis selama mengikuti Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Secara khusus, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga penulis, ayahanda Drs. Hasudungan Sagala dan Ibunda Rosdiana Mariati Sinagadan adik Iman Christian Sagala yang tidak pernah berhenti memberikan dukungan, doa, dan kasih mereka kepada penulis.
Penulis juga berterimakasih kepada teman, kerabat dan pihak-pihak lain
yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah mendukung
v
tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua.
Amin.
Medan, 29 Februari 2020 Penulis,
Bernadette Agustina Sagala
vi
Nama : Bernadette Agustina Sagala
Tempat Tanggal Lahir : Medan, 25 Agustus 1994 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Katolik
Kewarganegaraan : Indonesia
Email : [email protected]
Alamat : Jalan Tuar Indah 8 Nomor 93 Blok 9 Medan Nama Ayah : Drs. Hasudungan Sagala
Nama Ibu : Rosdiana Mariati Sinaga
II. PENDIDIKAN
1. SD Santo Paulus Medan (2000- 2006)
2. SMP Santo Thomas 1 Medan (2006-2009)
3. SMA Santo Thomas 1 Medan (2009-2012)
4. S-1 ILMU HUKUM FH USU (2012-2016)
vii
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR ISTILAH ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 9
E. Keaslian Penelitian ... 10
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 12
1. Kerangka Teori ... 12
2. Kerangka Konsepsi ... 20
G. Metode Penelitian ... 23
1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 23
2. Lokasi Penelitian ... 25
4. Sumber Data ... 25
5. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 26
6. Analisis Data ... 27
BAB II MEKANISME PENYERAHAN KEPEMILIKAN TANAH SECARA PARULOSAN DENGAN PEMBERIAN BATU SULANG PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR ... 28
A. Konsep Kepemilihan Tanah dalam Hukum Adat ... 28
B. Keberadan Tanah adat di Kabupaten Toba Samosir ... 41
1. Asal Usul dan Sejarah Masyarakat Batak Toba ... 41
2. Arti dan Fungsi Tanah Masyarakat Batak Toba ... 46
viii
PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KABUPATEN
TOBA SAMOSIR ... 69
A. Status Hak Tanah Masyarakat Batak Toba di Kabupaten Toba Samosir ... 69
1. Fungsi Tanah pada Masyarakat Batak Toba dari sudut Hukum ... 69
2. Pendaftaran hak atas tanah (hak milik) yang berasal dari tanah adat di Kabupaten Toba Samosir ... 75
B. Keabsahan Status Kepemilikan Tanah Secara Parulosan Dengan Pemberian Batu Sulang Pada Masyarakat Batak Toba 84 BAB IV PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PERKARA NOMOR 3293K/Pdt/2017 TERKAIT DENGAN KEPEMILIKAN TANAH ADAT SECARA PARULOSAN DENGAN PEMBERIAN BATU SULANG KABUPATEN TOBA SAMOSIR ... 88
A. Deskripsi kasus kepemilikan tanah adat secara parulosan dengan pemberian batu sulang dalam perkara Nomor 3293 K/Pdt/2017 ... 88
B. Pertimbangan Hukum Hakim dalam Menjatuhkan Putusan Atas Kepemilikan Tanah Secara Parulosan Dengan Pemberian Batu Sulang ... 91
C. Analisa Pertimbangan Hukum Hakim dalam Menjatuhkan Putusan Atas Perkara No.3293 K/Pdt/2017 ... 96
D. Penyelesaian Sengketa Atas Tanah Secara Adat Pada Masyarakat Batak Toba ... 98
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 104
A. Kesimpulan ... 104
B. Saran ... 105
DAFTAR PUSTAKA ... 107
ix
Agrarische eigendom : Hak atas tanah yang diakui dan didaftarkan yang berlaku pada pemerintahan kolonial Belanda
Anslibling : Lidah tanah
Batu sulang : Sejumlah uang yang diletakkan dalam piring dan ditaburi beras
Bona Pasogit : Tanah kelahiran atau tanah asal
Boru : pihak yang mengambil istri dari suatu marga Dalihan na tolu : Ikatan kekerabatan pada masyarakat Batak Toba Dongan tubu : Orang yang semarga atau saudara semarga Droit inviolable et sacre : Tidak dapat diganggu gugat
Dwangsom : Uang paksa
Genotrecht : hak untuk menikmati hasil-hasil dari tanah Hagabeon : Cita- cita utama
Hamoraon : Kekayaan
Harajaon : Kerajaan
Hasangapon : Kedudukan atau jabatan
Hauma : Sawah
Harangan : Hutan asli yang belum pernah diolah
Hula-hula : Adalah pihak keluarga dari istri yang menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan danadat istiadat Batak
Huta : Kampung atau desa
Inlandsch bezitrecht : Hak milik menurut hukum adat
Jalangan : Tanah-tanah penggembalaan yang luas, tempat orang dapat membiarkan ternaknya merumput tanpa harus dijaga
Jampalan : Tanah-tanah penggembalaan dengan ternak harus
dijagadan umumnya terletak di antara ladang dan
persawahan
x
Onrechtmatige daad : Perbuatan melawan hukum
Padan : Janji yang diucapkan antara satu pihak kepada pihak lain yang harus ditepati
Pahompu : Cucu
Paradaton : Adalah tata cara pelaksanaan Adat Batak yangdisepakati dan berlaku atau dianut oleh masyarakat Adat Batak
Parulosan : Peristiwa pemberian ulos dari pihak satu ke pihak lain melalui upacara adat
Pasangapon natua-tua : Menghormati orang tua
Piso-piso : Tanda syukuran pada umumnya dalam bentuk uang atas terselenggaranya suatu acara adat, yang diberikan kepada ketua adat setempat
Raja Hata : Orang yang dituakan dan cukup disegani karena wibawanya di masyarakat biasanya ditunjuk sebagai pembicara dalam acara adat
Saba : Ladang
Silehon-lehon : Pemberian
Sipanganon : Makanan atau jamuan yang disediakan disetiap upacara adat
Simin : Kuburan
Tano purhutaan : Tanah perkampungan atau tempt permukiman penduduk
Tua-tua : Orang yang dituakan atau pengetua adat Ulos : selembar kain tenunan, yang digunakan dalam
Upacara adat
Voor kersrecht : Hak terdahulu
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Balakang
Tanah merupakan sumber daya alam yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Selain kebutuhan manusia secara umum, tanah juga memiliki kedudukan yang sangat penting dalam hukum adat. Secara tegas Van Vollenhoven memberikan keterangan hukum adat dalam arti sempit adalah hukum asli yang tidak tertulis, yang bersadarkan kebudayaan dan pandangan hidup bangsa Indonesia, yang memberi pedoman kepada sebagian besar orang-orang Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, dalam hubungan antara yang satu dengan yang lain, baik dikota terlebih di desa.
1Ada 2 (dua) hal yang menyebabkan tanah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam hukum adat, yaitu:
21. Karena sifatnya, yakni meru pakan satu-satunya benda kekayaan yang meskipun mengalami keadaan yang bagaimanapun juga, toh masih bersifat tetap dalam keadannya, bahkan kadang-kadang malah menjadi menguntungkan.
2. Karena faktanya, yakni bahwa tanah itu merupakan tempat tinggal persekutuan, memberi penghidupan kepada persekutuan, merupakan tempat di mana para warga persekutuan yang meninggal dunia di kebumikan, dan merupakan tempat tinggal dayang-dayang pelindung persekutuan roh para leluhur persekutuan.
Keadaan tanah yang terjadi dari waktu ke waktu terus berkelanjutan, demikian juga dalam hal kepemilikannya. Tanah yang dimiliki oleh masyarakat adat terus dimiliki secara turun temurun sehingga membentuk sebuah ikatan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ter Haar:
1Bushar Muhammad, Asas-Asas Hukum Adat, (Jakarta, PT. Pradnya Paramita, 2003), hal. 7.
2Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, (Jakarta, PT. Toko Gunung Agung, 1995), hal. 197.
1
masyarakat hukum adalah kesatuan manusia yang teratur, menetap disuatu tempat tertentu, mempunyai penguasa-penguasa dan mempunyai kekayaan yang berwujud ataupun tidak berwujud, dimana para anggota keluarga masing-masing mengalami kehidupan dalam masyarakat sebagai hal yang wajar menurut kodrat alam dan tidak seorangpun di antara para anggota itu mempunyi pikiran atau kecenderungan untuk membubarkan ikatan yang telah tumbuh itu atau meninggalkannnya dalam arti melepaskan diri dari ikatan itu untuk selama-lamanya.
3Masyarakat hukum adat yang ada di lingkungan adatnya umumnya meneruskan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku turun temurun dari sejak dahulu dan berkembang hingga saat ini. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat adat Batak Toba yang ada di Sumatera Utara. Masyarakat adat Batak Toba merupakan masyarakat hukum geneologis yaitu satu kesatuan masyarakat yang teratur, di mana para anggotanya terikat pada suatu garis keturunan yang sama dari satu leluhur, baik secara langsung karena hubungan darah (keturunan) atau secara tidak langsung karena pertalian perkawinan atau pertalian adat.
4Dalam melakukan kebiasaan yang ada dalam masyarakat adat Batak Toba, di kenal suatu lembaga adat yaitu dalihan natolu. Dalihan Na Tolu merupakan ikatan kekerabatan pada masyarakat Batak Toba. Sistem ini terdiri dari tiga unsur yang komposisinya terdiri dari dongan tubu atau dongan sabutuha yakni orang- orang yang semarga (saudara semarga), hula-hula yakni pihak pemberi istri (pihak orang tua istri), dan boru yaitu pihak penerima istri atau pihak yang mengambil istri dari suatu kelompok marga.
5Dalam masyarakat adat Batak Toba dikenal pula istilah Parulosan. Ulos adalah selembar kain tenunan, yang sangat mungkin telah ada sejak dahulu dalam kehidupan orang Batak khususnya Batak Toba. Di samping itu istilah yang
3Ibid, hal. 21-22.
4Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, (Bandung, Mandar Maju, 2014), hal. 105.
5Bungaran Antonius Simanjuntak, Arti Fungsi Tanah Bagi Masyarakat Batak Toba, Karo, Simalungun, (Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), hal. 13.
tersedia dalam bahasa Batak Toba pada ulos itu mengandung makna kata tentang tenun-menenun. “Ulos adalah sama tua dalam kurun waktu dengan peradaban Batak Toba, sehingga menyertai kehidupan orang Batak Toba.”
6Cara pemberian ulos itu juga memberi deskripsi tentang tata cara pola pranata sistem sosial Batak Toba. “Dalam adat Batak Toba ada ketentuan bahwa tidak semua orang punya hak memberi ulos dan tidak semua orang pula menerima ulos. Orang yang memberi ulos menurut adat adalah hula-hula/tulang. Hal itu didasarkan pada adat Batak Dalihan Na Tolu tersebut.”
7Aturan utama ialah seseorang hanya boleh memberi ulos orang menurut pertalian keluarga berada di bawah. Sebagai contoh, anak adalah dibawah bapak, adik dibawah kakak, boru dibawah hula-hula. Memberikan ulos orang di atas kita adalah dilarang. Boru sekali-kali tidak boleh memberikan ulos pada hula-hula.
8Dalam hal itu memberi gambaran tentang tatacara memberi ulos. “Tatacara memberi ulos dengan membentangkan ulos ke bagian atas bahu dan menyelimutkan tubuh si penerima ulos.”
9“Tatacara memberi ulos yakni, pada saat si pemberi ulos dalam posisi berdiri dan si penerima ulos dalam posisi duduk.
Si pemberi ulos membuka ulos dan mengenakan kepada bahu si penerimanya melalui punggung sampai ke depan, sehingga menyatukan kedua ujung ulos.”
10Ulos biasa digunakan dalam kebudayaan adat adat istiadat Batak. Wujud gagasan kebudayaan yang ada dalam masyarakat Adat Batak yang terdiri atas
6Sugiarto Dakung, Ulos (Jakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981/1982), hal. 39.
7Ibid, hal. 45.
8T. M. Sihombing, Filsafat Batak tentang Kebiasaan-kebiasaan Adat Istiadat (Jakarta:
Balai Pustaka, 1986), hal.46.
9Richard Sinaga, Kamus Batak Toba-Indonesia (Jakarta, Dian Utama dan Kerabat, 2008), hal. 398.
10Ibid, hal. 18
nilai-nilai budaya, norma hukum dan aturan-aturan di dalam masyarakat yang turun temurun yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi sistem Paradaton.
Pengertian Paradaton adalah tata cara pelaksanaan Adat Batak yang disepakati dan berlaku atau dianut oleh satu huta atau luat. Setiap masyarakat Adat Batak harus menjaga aturan-aturan yang berlaku, karena apabila dilanggar maka dapat dikeluarkan dari paradatan.
Setelah menerima ulos, maka pihak yang memberi ulos akan menerima uang. Istilah ini disebut batu ni sulang, atau didefenisikan sebagai sejumlah uang yang diterima di acara pesta adat.
11Biasanya uang digunakan sebagai pengganti ulos yang telah diserahkan. Adat tradisi Parulosan dapat dilakukan hampir disetiap adat-istiadat Batak Toba, termasuk dalam hal pemberian tanah-tanah adat.
Proses pemberian ulos pada masyarakat Batak Toba ini akan dilakukan sesuai dengan sistem Dalihan Natolu yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap upacara adat baik didalam upacara adat seperti Perkawinan, upacara adat Kematian, Tujuh Bulanan, Memasuki Rumah Baru. Ulos pada masyarakat Batak Toba ini memiliki makna dan fungsi yang sangat penting, Apapun acara adatnya masyarakat Batak Toba pasti akan menggunakan Ulos.
Ulos pada masyarakat Batak Toba ini memiliki Makna yang berbeda-beda pada setiap kondisi atau dalam pesta adat apa Ulos tersebut akan digunakan. Pemberian atau penerimaan ulos sesuai dengan aturan yang telah ada sesuai dengan sistem Dalihan Na Tolu, agar adat yang sedang diadakan dapat berjalan sesuai dengan
11M. Simandalahi, Arti Kata Batu Ni Sulang, http://www.kamus batak.com/arti/kata/ batu- ni-sulang.html, di akses tanggal 25 Maret 2019, pukul 16.30 WIB.
apa yang diinginkan atau apa yang menjadi tujuan masyarakat Batak tersebut dapat terlaksana (sah) dimata adat.
Tatacara yang dilakukan dalam pemberian Batu Sulang yaitu Batu Sulang diletakkan dalam bentuk berupa uang lalu diletakkan di dalam piring yang ditaburi beras. Besarnya uang sebagai batu sulang ini merupakan kesediaan atau keiklhasan dari pemberi batu sulan tersebut. Namun ada kalanya batu sulang ini di diskusikan terlebih dahulu besarannya.
Pemberian batu sulang dengan proses Parulosan dalam adat Batak Toba ini tidak hanya terjadi saat acara adat perkawinan, melainkan saat acara adat pemberian tanah. Pemberian tanah secara Parulosan masih dikenal dalam adat Batak Toba. Tanah dianggap sebagai sarana pemersatu kekerabatan antar keluarga dalam masyarakat adat Batak Toba. Sehingga penyerahan tanah tidak dilakukan seperti halnya peristiwa hukum biasa, namun juga disertai dengan proses-proses adat. Baik tanah melalui jual-beli, hibah, maupun secara warisan dapat dilakukan dengan cara Parulosan.
12Penjelasan tersebut menyeluruh dan terintegrasi tentang kejadian dalam masyarakat adat Batak Toba dalam hal menjelaskan pengertian-pengertian yang bersifat lokal dalam kebudayaan Batak yang bersumber dari daerah Toba Samosir-Sumatera Utara. Setiap hal yang terjadi dalam masyarakat adat memang tidak luput dari masalah. Setiap masalah yang terjadi dalam masyarakat adat umumnya diselesaikan melalui peradilan adat terlebih dahulu. Peradilan adat dapat dilaksanakan oleh anggota masyarakat secara perorangan, oleh
12 Wawancara dengan ketua adat P. Sinaga
keluarga/tetangga, kepala kerabat atau kepala adat (Hakim Adat), kepala desa (Hakim Desa) atau oleh pengurus perkumpulan organisasi, sebagaimana telah dikemukakan di atas dalam penyelesaian delik adat secara damai untuk mengembalikan keseimbangan masyarakat yang terganggu.
13Hal ini sejalan dengan kasus yang akan diteliti, bahwa pada tanggal 25 November 1989, JG selaku Penggugat telah menerima sebidang tanah darat secara Parulosan dari FS yang di buat hadapan saksi-saksi dan diketahui Kepala Desa Harian Boho, yang terletak di Desa Harian Boho, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir dengan luas 10.000 m² (sepuluh ribu meter persegi).
Pemberian tersebut dilakukan dengan proses adat Parulosan dengan Parulosan dalam bentuk uang sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) yang diberikan JG dan diterima langsung oleh FS. Pada tahun 1991, JG menyerahkan tanah tersebut kepada ES seluas 4.000 m² (empat ribu meter persegi). Sisa tanah milik JG menjadi seluas 6.000 m² (enam ribu meter persegi).
Sejak tahun 1990 hingga sampai tahun 2000, tanah tersebut telah diusahai JG dengan bertanam jahe dan tidak ada halangan ataupun keberatan dari pihak manapun. Sejak istri JG meninggal tahun 2000, JG kurang sehat dan berhenti mengelola tanah terperkara dan menjadi kosong. Setelah kesehatan JG pulih, maka pada tahun 2006, JG kembali lagi mengusahai tanah terperkara dengan mentraktor akan tetapi PS Alias AR selaku Tergugat I melarang dan melempari orang yang mentraktor tanah terperkara padahal penyerahan tanah terperkara kepada JG pada waktu itu di saksikan orang tua Tergugat-I kakek Tergugat-II
13Hilma Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, (Bandung, Mandar Maju, 2014), hal. 237.
yaitu Op SS dan juga bapa uda, abang dan adik kandung Tergugat-I sebagaimana tertera dalam Surat Parulosan tanggal 25 November 1989;
Atas tindakan Tergugat-Tergugat melarang JG mengusahai tanah perkara, membuat JG melaporkan ke Kepala Desa dan juga kepada Pengetua-Pengetua Adat tetap tidak ditanggapi Tergugat-Tergugat malah pada tahun 2007 Tergugat- Tergugat membangun rumah di atas tanah terperkara dengan ukuran 6 x 8 meter yang terbuat dari setengah beton atap seng lantai semen. Tahun 2016 Para Tergugat kembali membangun rumah lagi di atas tanah terperkara dengan ukuran 6 meter x 10 meter, dengan permanen Penggugat melarang akan tetapi di teruskan Tergugat-Tergugat. Atas perbuatan Tergugat-I dan Tergugat-II yang menguasai serta membangun rumah serta menanami kopi di atas tanah terperkara maka Penggugat mengalami kerugian dan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Balige.
Pengadilan Negeri Balige mengeluarkan Putusan Nomor
32/Pdt.G/2016/PN Blg. tanggal 1 November 2016 dengan amar mengabulkan
gugatan Penggugat untuk sebagian, menyatakan sah dan berharga surat Parulosan
menjadi Hak Milik tertanggal 25 November 1989, menyatakan tanah terperkara
seluas 6.000 m² (enam ribu meter persegi) yang terletak di Desa Harian Boho,
Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir adalah sah milik JG. Atas putusan
tersebut, Pihak Tergugat I dan Tergugat II melakukan upaya hukum Banding di
Pengadilan Tinggi Medan, dan Pengadilan Tinggi Medan melalui Putusannya
Nomor 03/PDT/2017/PT MDN. tanggal 23 Maret 2017, menguatkan putusan
Pengadilan Negeri Balige, Demikian Juga di Tingkat Kasasi, Hakim menolak
permohonan kasasi Tergugat I dan Tergugat II dan menguatkan putusan ditingkat Pengadilan Tinggi Medan yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Tarutung.
Putusan perkara tersebut menarik untuk dibahas dari sisi hukum adat dan praktek yang berlaku saat ini di masyarakat Adat Batak Toba karena kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang sangat jarang didengar dan ditemukan saat ini, dan dengan melakukan penelitian tentang praktek jual beli secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang pada masyarakat adat Batak Toba, dapat diketahui bagaimana prosedur hukum dan keabsahan kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang belaku di Masyarakat Adat Batak Toba. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka akan dilakukan penelitian tesis dengan judul Kepemilikan Tanah Adat Secara Parulosan Dengan Pemberian Batu Sulang Pada Masyarakat Batak Toba
(Studi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3293 K/Pdt/2017.
B. Perumusan Masalah
Guna mempermudah proses pelaksanaan penelitian dan agar terarah serta dapat memberikan pembatasan sehingga terbentuk hubungan dengan masalah yang dibahas serta mencapai hasil yang dikehendaki maka perlu adanya perumusan masalah-masalah yang akan dibahas secara sistematis. Beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam tesis ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana mekanisme penyerahan kepemilikan tanah adat secara Parulosan
dengan pemberian Batu Sulang pada Masyarakat Batak Toba di Kabupaten
Toba Samosir?
2. Bagaimana keabsahan status kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang pada Masyarakat Batak Toba di Kabupaten Toba Samosir?
3. Bagaimana pertimbangan hakim dalam perkara nomor 3463 K/Pdt/2017 terkait dengan kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis mengenai mekanisme penyerahan kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang pada Masyarakat Batak Toba di Kabupaten Toba Samosir.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis mengenai keabsahan status kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang pada Masyarakat Batak Toba di Kabupaten Toba Samosir.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis mengenai pertimbangan hukum hakim dalam perkara nomor 3463 K/Pdt/2017 terkait dengan kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang.
D. Manfaat Penelitian
Tujuan dan manfaat penelitian merupakan suatu rangkaian yang hendak
dicapai bersama, dengan demikian dari penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa pengetahuan terkait kepemilikan tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang dalam hukum adat masyarakat Batak Toba yang terjadi saat ini, sehingga penelitian ini dapat dijadikan sumber bacaan atau tambahan atas referensi buku-buku yang berkaitan dengan tanah adat.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini memiliki 2 kepentingan yaitu:
a) Bagi kalangan akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi ilmiah dalam kaitannya dengan penelitian penyelesaian konflik tanah adat secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang.
b) Bagi kalangan masyarakat adat, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi untuk mengetahui penyelesaian konflik tanah adat khususnya secara Parulosan dengan pemberian Batu Sulang.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi yang ada dan sepanjang penelusuran kepustakaan
yang ada di lingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya di lingkungan
Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan, belum ada penelitian
sebelumnya yang berjudul “Kepemilikan Tanah Adat Secara Parulosan Dengan
Pemberian Batu Sulang Pada Masyarakat Batak Toba (Studi Putusan Mahkamah
Agung Republik Indonesia Nomor 3293 K/Pdt/2017.” Akan tetapi ada beberapa
penelitian-penelitian yang menyangkut dengan topik ini antara lain penelitian
yang dilakukan oleh :
1. Bernadin Soaduan, NIM : 097011109, Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Perlindungan Hukum Bagi Pemilik Sertifikat Hak Milik Yang di Klaim Sebagai Milik Masyarakat Adat di Kabupaten Dairi,” masalah yang diteliti adalah:
a. Faktor-faktor apakah yang menjadi dasar masyarakat adat di Kabupaten Dairi mengklaim tanah yang sudah bersertifikat hak milik sebagai milik masyarakat adat?
b. Bagaimana perlindungan hukum terhadap pemilik sertifikat hak milik yang diklaim sebagai milik masyarakat adat di Kabupaten Dairi?
c. Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan Badan Pertanahan Nasional dan Peran Lembaga Adat Sulang Silima dalam mengatasi sengketa pertanahan yang terjadi pada masyarakat adat di Kabupaten Dairi?
2. Muhammad Heikal, NIM : 097011109, Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Analisis Yuridis Peralihan Hak Tanah Milik Adat Dengan Akta Jual Beli Yang Dibuat Oleh PPAT (Studi Kabupaten Aceh Besar),” masalah yang diteliti adalah:
a. Bagaimana peralihan hak atas tanah adat di Kabupaten Aceh Besar?
b. Bagaimana kedudukan hukum peralihan tanah hak milik adat yang belum bersertifikat dengan menggunakan akta jual beli yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) di Kabupaten Aceh Besar?
3. Novira Br. Sembiring, NIM : 1370111152, Mahasiswa Magister Kenotariatan
Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Upaya Penyelesaian
Sengketa Waris Tanah Adat Pada Masyarakat Karo (Studi di PN Kabanjahe),” masalah yang diteliti adalah:
a. Mengapa sengketa waris tanah adat pada Masyarakat Karo di selesaikan di Pengadilan Negeri Kabanjahe?
b. Bagaimana upaya penyelesaian sengketa waris tanah adat Masyarakat Karo di Pengadilan Negeri Kabanjahe?
c. Hambatan-hambatan apa yang di hadapi di Pengadilan Negeri Kabanjahe dalam penyelesaian sengeketa waris tanah adat pada Masyarakat Karo?
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi, dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya dengan fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya.
14Dalam hal ini teori akan berfungsi memberikan petunjuk atas gejala-gejala yang timbul dalam penelitian proposal ini. Teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkan, tetapi harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.
15Sedangkan kerangka teori menurut Hadari Nawawi adalah;
“Berisi uraian-uraian tentang pemahaman teori dari hasil penelitian terdahulu yang terkait. Pemahaman ini bisa dalam arti meletakkan kedudukan masing-masing dalam masalah yang sedang diteliti, dan pada akhirnya menyatakan posisi atau pendirian penelitian disertai dengan
14JJJ M. Wuisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, (Jakarta, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), hal. 203.
15M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung, Mandar Maju, 1994), hal. 27.
alasan-alasan dan bukan bermaksud untuk memamerkan teori dan hasil- hasil penelitian ilmiah pakar terdahulu sehingga pembaca diberitahu mengenai sumber tertulis yang telah dipilih oleh peneliti, hal ini juga dimaksudkan untuk memberitahukan mengapa dan bagaimana teori hasil penelitian para peneliti terdahulu dalam melakukan penelitiannya”.
16Selain memberikan pemahaman, teori juga diharapkan memberikan landasan filosofis, sebagaimana diungkapkan Gustav Radbruch yang menyatakan bahwa, teori huvkum menjadikan nilai-nilai dan postulat-postulat hukum, maka tugas teori hukum adalah membuat jelas nilai-nilai serta postulat-postulat hukum sampai pada landasan filosofisnya.
17Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.
18Sedangkan tujuan dari kerangka teori menyajikan cara-cara untuk bagaimana mengorganisasikan dan menginterprestasi hasil-hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian yang terdahulu.
19Setiap masyarakat harus mengikuti aturan hukum. Hukum sebagai aturan akan selalu dijadikan acuan bagi manusia untuk menjalankan kegiatannya sehari- hari. Hukum bertugas menciptakan keamanan dan ketertiban. Hukum yang menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak, apa yang dianggap sebagai kejahatan dan apa yang bukan, dan sanksi apa yang dikenakan bila terjadi pelanggaran. Oleh karena itu, hukum harus stabil, suatu aliran positifisme
16Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta, Gajah Mada University Press, 1995), hal. 39-40.
17Satjipto Raharjo, Membedah Hukum Progresif, (Jakarta, Buku Kompas, 2006), hal. 159.
18 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung, CV. Mandar Maju, 1994), hal.80.
19Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta, Rineka Cipta, 1996). hal.19.
fungsional atau pragmatis menganggap bahwa faktor sosial yang menentukan hukum, hal ini berarti hukum harus mengikuti perkembangan masyarakat.
20Hal ini disebabkan masyarakat akan semakin berkembang dari hari kehari.
Mochtar Kusumaatmaja menyatakan,
“pengembangan ilmu hukum yang bercirikan Indonesia tidak saja dilakukan dengan mengoper begitu saja ilmu-ilmu hukum yang berasal dari luar dan yang dianggap modern, tetapi juga tidak secara membabi buta mempertahankan yang asli. Keduanya harus berjalan secara selaras”.
21Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a) Teori Perlindungan Hukum
Istilah perlindungan hukum berasal dari bahasa Inggris, yaitu legal protection theory, sedangkan dalam bahasa Belanda, disebut dengan theorie van de wettelijke bescherming, dan dalam habasa Jerman disebut dengan theorie der erchtliche schutz.
22Teori perlindungan hukum merupakan teori yang mengkaji dan menganalisis tentang wujud atau bentuk atau tujuan perlindungan, subjek hukum yang dilindungi serta objek perlindungan yang diberikan oleh hukum kepada subjeknya. Teori ini dikembangkan oleh Roscou Pound, Sudikno Mertokusumo, dan Antonio Fortin.
2320Soetikno, Filsafat Hukum I, (Jakarta, Pradya Paramita, 1997), hal. 42.
21Lili Rasjidi dan Bernard Arief Sidharta, Filsafat Hukum: Madzhab dan Refleksinya, (Bandung, Rosdakarya, 1994), hal. 111.
22Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis Dan Disertasi, (Jakarta, PT, Raja Grafindo Persada, 2013), hal. 259.
23 Ibid
Pada dasarnya, teori perlindungan hukum merupakan teori yang berkaitan dengan pemberian pelayanan kepada masyarakat. Kepentingan manusia adalah suatu tuntutan yang dilindungi dan dipenuhi dalam bidang hukum.
24Hukum berfungsi sebagai pelindung kepentingan dari berbagai kegiatan manusia, dimana hukum itu harus dilaksanakan. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara normal, damai, tetapi dapat juga terjadi berbagai pelanggaran terhadap hukum.
Dalam hal ini hukum harus ditegakkan. Penegakan hukum atau yang dikenal dengan law enforcement merupakan suatu keharusan untuk mewujudkan suatu perlindungan dan kepastian hukum. Melalui penegak hukum itu menjadi suatu kenyataan yang hidup di dalam masyarakat.
25Menurut Sudikno Mertokusomo mengemukakan tidak hanya tentang tujuan hukum, tetapi juga tentang fungsi hukum dan perlindungan hukum. Ia berpendapat bahwa:
“Dalam fungsinya sebagai pelindungan kepentingan manusia hukum mempunyai tujuan. Hukum mempunyai sasaran yang hendak dicapai.
Adapun tujuan pokok hukum adalah menciptakan tatanan masyarakat yang tertib, menciptakan ketertiban dan keseimbangan. Dengan tercapainya ketertiban di dalam masyarakat diharapkan kepentingan manusia akan terlindungi. Dalam mencapai tujuannya itu hukum bertugas membagi hak dan kewajiban antar perorangan di dalam masyarakat, membagi wewenang dan mengatur cara memecahkan masalah hukum serta memelihara kepastian hukum.
26Hal mengenai perlindungan hukum yang telah dikemukakan Sudikno Mertokusomo diatas menimbulkan adanya substansi hukum yang diawali dengan memahami kata “recht”. Dengan memahami kata “recht” maka akan
24 Ibid, hal. 266
25Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Cetakan Pertama, (Yogyakarta, Liberty, 1995), hal. 14.
26Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Cetakan Kedua, (Yogyakarta, Liberty, 1995), hal.71.
menimbulkan subjectief recht dan objectief recht yang berarti adanya hak dan kewajiban.
27Hak dan kewajiban setiap orang sifatnya adalah individual yang melekat pada individu orang tersebut. Hak dan kewajiban bukanlah merupakan kumpulan peraturan atau kaidah, melainkan merupakan perimbangan kekuasaan dalam bentuk hak individual di satu pihak yang tercermin pada kewajiban pada pihak lain.
Menurut pendapat Phillipus M. Hadjon bahwa “perlindungan hukum bagi rakyat sebagai tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan represif”.
28Tujuan perlindungan hukum di dalam perjanjian adalah mengatur hak-hak dan kewajiban para pihak harus diatur secara lengkap dan konkret. Dan tidak ada yang dirugikan antara satu dan lain.
Berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti, bahwa JG selaku pemilik yang sah atas tanah adat haruslah dilindungi hak nya secara hukum. Hak tersebut telah sah diterima sejak tanggal 25 November 1989 secara Parulosan dengan cara menyerahkan Parulosan dalam bentuk uang sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dari FS yang di buat hadapan saksi-saksi dan diketahui Kepala Desa Harian Boho. Tanah tersebut terletak di Desa Harian Boho, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir dengan luas 10.000 m² (sepuluh ribu meter persegi).
JG selaku pemilik yang sah atas tanah perkara harus dilindungi haknya secara hukum. Sekalipun hukum yang berlaku dalam masyarakat adat tersebut adalah hukum kebiasaan atau hukum tidak tertulis sepanjang dapat dibuktikan
27Ibid, hal. 50.
28Phillipus M. Hadjon, Perlindunagn Hukum Bagi Rakyat Indonesia, (Surabaya, PT. Bina Ilmu, 1987), hal. 2.
kepemilikannnya, maka JG selaku pemilik tanah harus dilindungi haknya secara hukum. Hal ini demi mencapai tujuan hukum itu sendiri yaitu untuk memperoleh keadilan, kepastian dan kemanfaatan. JG merupakan pemilik tanah yang sah yang memperoleh tanah tersebut secara Parulosan dengan pemberian Parulosan.
Aparat pemerintah harus memberi pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik- baiknya serta melindungi kepentingan masyarakat tidak terkecuali masyarakat adat. Hal ini dikarenakan kepentingan masyarakat adalah suatu tuntutan yang harus dilindungi dan dipenuhi dalam bidang hukum guna tercapainya tujuan hukum.
b) Teori Kepastian Hukum
Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu yang pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.
29Kepastian hukum memberikan rasa tenang bagi masyarakat yang mengharapkan hukum itu ditegakkan. Menurut Gustav Radbruch, keadilan dan kepastian hukum merupakan bagian-bagian yang tetap dari hukum yang harus dijaga demi keamanan dan ketertiban suatu negara.
30Keadilan dan kepastian yang tercipta dalam kehidupan masyarakat akan memberikan kemanfaatan.
Selain itu, teori kepastian hukum berguna untuk menjamin adanya aturan yang bersifat umum yang membuat manusia tahu mana yang benar dan salah,
29Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung, Citra Aditya Bakti, 1999), hal. 23.
30Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), (Jakarta, Toko Gunung Agung, 2002), hal. 95.
yang dapat memberikan jaminan kepada manusia akan adanya kepastian terhadap pelaksanaan hukum itu sendiri.
31Sehingga masyarakat tidak merasa sibodohi dengan aturan hukum yang simpang siur.
Peter Mahmud Marzuki, mengemukakan berkaitan dengan pengertian kepastian hukum dapat dijelaskan bahwa:
321) Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan.
2) Keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang- undang, melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan yang satu dengan putusan hakim yang lain untuk kasus serupa yang telah diputus.
Berkaitan dengan yang akan diteliti sesuai dengan penjelasan diatas bahwa setiap individu dalam masyarakat hukum adat haruslah mengetahui perbuatan apa yang dapat dan tidak dapat di perbuat. Terhadap tanah yang telah dialihkan sekalipun hal tersebut terjadi atas tanah adat dimana hukum adat merupakan hukum tidak tertulis, setiap individu masyarakat hukum adat haruslah mentaati aturan hukum yang lahir dari norma-norma yang terjadi sejak zaman nenek moyang.
Dalam hal ini hakim memiliki peranan yang sangan penting dalam memutus perkara yang ada. Seperti halnya kasus yang sedang diteliti dimana peranan hakim di pengadilan tingkat pertama, banding dan kasasi harus lah sesuai dengan undang-undang dalam memutus perkara. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan
31Peter Mahmud Marzuki, 1, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta, Kencana Pradana Media Grup, 2008), hal. 158.
32 Ibid.
Kehakiman juncto Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 juncto Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, khususnya Pasal 14 ayat (1), yang menyatakan:
“hakim sebagai organ pengadilan dianggap memahami hukum. Pencari keadilan datang padanya untuk memohon keadilan. Andai kata ia tidak menemukan hukum tertulis, maka ia wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasarkan hukum sebagai seorang yang bijaksana dan bertanggung jawab penuh pada Tuahn yang Maha Esa, diri sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara”.
33Dalam hal ini hakim juga harus bersifat aktif dan tidak boleh pasif.
Terhadap permasalahan hukum yang terjadi agar tidak merugikan salah satu pihak, maka hakim harus mengambil keputusan yang tidak bertentangan dengan undang-undang. Menurut R. Soepomo, bahwa:
“Hakim menurut fungsinya berwenang bahkan wajib mempertimbangkan apakah aturan hukum adat yang telah ada yang mengenai soal yang dihadapi masih selaras atau sudah bertentangan dengan kenyataan sosial (sociale werkelijkheid) baru berhubungan dengan pertumbuhan situasi baru di dalam masyarakat”.
34Putusan hakim di Pengadilan Negeri Balige yang dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Tinggi Medan dan Putusan Hakim di Mahkamah Agung telah memberikan kepastian terhadap JG selaku pemilik tanah yang sah atas tanah adat yang telah diterima sejak tanggal 25 November 1989 secara Parulosan dengan cara menyerahkan Parulosan dalam bentuk uang sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dari FS yang di buat hadapan saksi-saksi dan diketahui Kepala Desa Harian Boho.
Hakim dalam memutus perkara jual beli tanah adat harus peka dalam menerapkan hukum yang berlaku. Sekalipun hukum yang hidup dalam
33Ibid. hal. 70.
34Tolib Setiady, Op Cit, hal. 341.
masyarakat adat tidak tertulis, hakim dalam menerapkan penemuan hukum harus dapat memberikan kepastian hukum. Dalam hal ini hakim baik di tingkat pertama, banding dan kasasi telah menjalankan proses hukum sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dan memberi kepastian atas kepemilikan tanah tersebut kepada pihak yang berhak atas tanah tersebut. Kepastian hukum memberikan rasa tenang bagi JG selaku pemilik tanah yang mengharapkan hukum itu ditegakkan. Jika hakim tidak dapat menegakkan hukum bagi JG selaku pemilik tanah tentu akan memberikan keragu-raguan terhadap tujuan hukum yang sebenarnya.
2. Kerangka Konsepsi
Kerangka konsepsi adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus, yang ingin atau akan diteliti.
35Selain itu, kerangka konsepsi juga dapat juga diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut sebagai defenisi operasional, kerangka konsepsi pada hakekatnya merupakan suatu pengarah, atau pedoman yang lebih konkrit dari kerangka teoritis yang seringkali bersifat abstrak, sehingga diperlukan defenisi-defenisi operasional yang menjadi pegangan konkrit dalam proses penelitian.
36Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefinisikan beberapa konsep dasar, agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sebagai berikut:
1) Tanah adalah bagian permukaan bumi yang merupakan satuan bidang terbatas juga merupapan objek dari pendaftaran tanah di Indonesia. Tanah adalah
35Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta, UI Press, 1986), hal.132.
36Ibid, hal. 133.
tidak bergerak, sehingga secara fisik tidak dapat diserahkan/dipindah/dibawa dan tanah merupakan sifat abadi.
372) Masyarakat hukum adat menurut Ter Haar adalah kesatuan manusia yang teratur dan menetap di suatu daerah tertentu, mempunyai pengurus-pengurus dan kekayaan yang berwujud ataupun tidak berwujud, yang para anggota kesatuannya masing-masing mengalami kehidupan dalam masyarakat sebagai hal yang wajar menurut kodrat alam dan tidak seorang pun di antara anggota itu mempunyai pikiran atau kecenderungan untuk membubarkan ikatan yang telah tumbuh dan meninggalkan dalam arti melepaskan diri dari ikatan itu untuk selama-lamanya.
383) Hukum adat adalah hukum asli yang tidak tertulis, yang berdasarkan kebudayaan dan pandangan hidup Bangsa Indonesia, yang memberi pedoman kepada sebagian besar orang-orang Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, dalam hubungan antara yang satu dengan yang lain, baik di kota maupun lebih-lebih di desa.
394) Parulosan adalah proses memberikan ulos kepada pihak yang mengadakan pesta dengan cara meletakkannya dipundak yang bertujuan memberikan kehangatan dan berkat.
4037A.P.Parlindungan, Menjawab Masalah Pertanahan Secara Tepat Dan Tuntas, (Bandung, Mandar Maju, 1984), hal. 20.
38Irene Mariane, Kearifan Lokal Pengetahuan Hutan Adat, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2014), hal. 83.
39Bushar Muhammad, Asas-Asas Hukum Adat, Cetakan Kedua belas, (Jakarta, PT.
Pradnya Paramita, 2003), hal. 7
40Gunawan, Mangulosi dan Upa-Upa, Tradisi Adat Batak Penuh Makna, https://www.kompasiana.com/gunawan/mangulosi-dan-upa-upa-tradisi-adat-batak-penuh-makna, diakses pada tanggal 08 Mei 2019, pukul 18.30 Wib
5) Batu Sulang atau disebut juga pemberian. Batu Sulang biasanya sudah dalam bentuk uang yang diletak dalam sebuah piring yang sudah diisi dengan beras dan uang tersebut di dijepit oleh satu buah daun sirih. Hal ini juga dilakukan jika dalan suatu konflik tercapai suatu penyelesaian yang bersahabat, dan disetujui bahwa suatu pihak akan memberi kepuasan kepada yang lain dengan menghidangkan makanan dan memberikan sejumlah uang sebagai tambahan.
416) Batak Toba merupakan sub atau bagian dari suku bangsa Batak. Suku Batak Toba meliputi Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, sebagian Kabupaten Dairi, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga dan sekitarnya.
427) Dalihan Na Tolu merupakan ikatan kekerabatan adat istiadat pada suku Batak Toba. disebut juga “Tungku Nan Tiga”, yang artinya adalah ungkapan yang menyatakan kesatuan hubungan kekeluargaan pada suku Batak. Falsafah Batak Toba sebagai dasar untuk bersikap terhadap kerabat yaitu Dalihan Na Tolu adalah "Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru".
Dengan pengertian bahwa kita harus menaruh hormat terhadap Hula-hula, bersikap hati-hati terhadap kerabat Semarga dan berlaku hormat terhadap Boru.
41Sampe Sitorus, Ise Do Napasahathon Sulang-Sulang Pahompu, https://sitorusdori- wordpress-com.cdn.ampproject,org/v/s/sitorusdori.wordpress.com/2012/04/01, di akses tanggal 19 Maret 2019, pukul 13,20 WIB.
42Wikipedia, Masyarakat Batak Toba, https://id.m.wikipedia.org, diakses pada tanggal 20 Februari 2019, pukul 16.40 Wib
G. Metode Penelitian
Metode merupakan titik awal menuju proposisi-proposisi akhir dalam bidang pengetahuan tertentu. Secara khusus bagi ilmu-ilmu yang bersifat spekulatif, metode merupakan jalan menuju atau untuk memahami mengenai apa yang ada atau yang harus ada, sedang bagi ilmu-ilmu normatif metode merupakan jalan menuju norma-norma yang mengatur perbuatan atau tingkah laku masyarakat melalui pembentukan atau perumusan suatu norma/aturan sebagai pedoman hidup bermasyarakat.
43Dari pengertian di atas maka dapat diambil kesimpulan metode penelitian dijelaskan bertujuan untuk memberikan pedoman tentang cara-cara seorang ilmuwan mempelajari, menganalisa, dan memahami lingkungan-lingkungan yang dihadapinya. Untuk melengkapi penulisan tesis ini dengan tujuan agar dapat lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka metode penelitian yang digunakan antara lain:
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya. Untuk itu diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.
4443 Bahder Johan Nasution, Op Cit, hal. 13.
44Soerjono Soekanto, Op. Cit., hal. 3.
Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis empiris. Pendekatan yuridis (hukum dilihat sebagai norma atau das sollen), karena dalam membahas permasalahan penelitian ini menggunakan bahan-bahan hukum (baik hukum yang tertulis
45maupun hukum yang tidak tertulis
46atau baik bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder). Pendekatan empiris (hukum sebagai kenyataan sosial, kultural dan das sein), karena dalam penelitian ini digunakan data primer yang diperoleh dari lapangan. Dengan kata lain suatu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan sebenarnya atau keadaan nyata yang terjadi di masyarakat dengan maksud untuk mengetahui dan menemukan fakta-fakta dan data yang dibutuhkan, setelah data yang dibutuhkan terkumpul kemudian menuju kepada identifikasi masalah yang pada akhirnya menuju pada penyelesaian masalah.
47Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis, bersifat deskriptif karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara cermat karakteristik dari fakta-fakta (individu, kelompok atau keadaan), dan untuk menentukan frekuensi sesuatu yang terjadi.
48Metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis empiris, yang merupakan suatu pendekatan dengan membahas kaedah- kaedah hukum positif dan hukum yang berlaku dalam masyarakat yang diperoleh di lapangan secara langsung dari responden.
4945Hukum yang tertulis adalah hukum yang dibuat oleh pejabat yang berwenang yang berlaku umum dengan ancaman sanksi yang tegas.
46Hukum yang tidak tertulis adalah hukum yang berlaku dalam masyarakat, yang ditaati dan diikuti sebagai pedoman hidup bermasyarakat.
47Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta, Sinar Grafika, 2002), hal. 15.
48Rianto Adi, Metode Penelitian Sosial dan Hukum, (Jakarta, Garanit, 2004), hal. 58.
49Cut Ida Khairani, Analisis Pelaksanaan Jual-Beli Tanah Milik Adat Pada Masyarakat Aceh, (Medan, Universitas Sumatera Utara, 2008), hal. 60.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian yang dilakukan berada di Desa Harian Boho, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir. Alasan pemilihan lokasi penelitian di Desa Harian Boho, Kecamatan Ajibata, karena ada ditemukan pemberian tanah adat yang dilakukan dengan Parulosan dengan memberikan Batu Sulang yang dilakukan pada masyarakat adat Batak Toba di daerah Tobasa dan sekitarnya.
3. Sumber Data
Jenis data penelitian ini adalah menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder.
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari masyarakat yang tinggal di Desa Harian Boho, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari penelitian kepustakaan yaitu dengan pengambilan data dari bahan pustaka yang bersumber dari :
1. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari Putusan Mahkanah Agusng Republik Indonesia..
2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan
bahan primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan
hukum primer seperti hasil-hasil penelitian, hasil seminar, hasil karya dari
kalangan hukum, serta dokumen-dokumen dan buku-buku yang berkaitan
dengan masalah-masalah perkawinan dan warisan, khususnya yang
dilakukan oleh masyarakat adat Batak Toba yang ada di Desa Harian Boho, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir.
3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
50Bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kamus hukum dan ensiklopedia.
4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Data yang telah dikumpul melalui proses kegiatan pengumpulan data belum sepenuhnya dapat dipergunakan dan dapat memberikan arti pada tujuan penelitian. Penelitian belum dapat ditarik kesimpulan untuk mendapatkan tujuan dari penelitian sebab data itu masih merupakan bahan mentah, sehingga diperlukan usaha untuk mengolahnya.
51Berkaitan dengan penelitian yuridis empiris maka metode pengumpulan data dilakukan dengan cara:
a) Data sekunder yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan (Library Research), studi kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.
52b) Data primer yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara studi lapangan (Field Research), data tersebut diperoleh dengan cara wawancara dan
50Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri, (Jakarta, Ghalia Indonesia, 1990), hal. 53.
51Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta, Bumi Aksara, 2001), hal. 64.
52Muis, Pedoman Penulisan Skripsi dan Metode Penelitian Hukum, (Medan, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 1990), hal. 48.
kuesioner, yaitu melakukan tanya jawab kepada para responden dan informan seputar permasalahan yang diteliti.
5. Analisis Data
Analisis data adalah sebagai tindak lanjut proses pengolahan data merupakan kerja seorang peneliti yang memerlukan penelitian, dan pencurahan daya pikir secara optimal.
53Dan analisis data juga merupakan sebuah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan.
Selanjutnya data tersebut baik data primer dan sekunder, ditarik kumpulkan dengan menggunakan metode deduktifsehingga dapat diperoleh kumpulan akhir yang tepat setidak–tidaknya mendekati kebenaran ilmiah yang penulis harapkan dalam tulisan ini.
53Bambang waluyo, Penelitian Hukum Dalam Peraktek, (Jakarta, Sinar Grafika,1996), hal. 77 .
BAB II
MEKANISME PENYERAHAN KEPEMILIKAN TANAH SECARA PARULOSAN DENGAN PEMBERIAN BATU SULANG PADA
MASYARAKAT BATAK TOBA DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR
A. Konsep Kepemilihan Tanah dalam Hukum Adat
Tanah dengan kedudukan hak milik sudah sejak dulu dikenal oleh masyarakat sehingga bukan merupakan suatu hal yang baru/asing di Indonesia.
Landasa ideal dari hak milik ini dlah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Hak milik dapat pula diartikan hal yang dapat diwariskan secara turun-menurun, terus-menerus dengan tidak harus memohonkan haknya kembali apabila terjadi perpindahan hak.
54Menurut hukum Adat yang berlaku dalam masyarakat adat Toba, hubungan antara manusia dengan tanah sangat erat. Tanah sebagai tempat manusia untuk menjalani dan melanjutkan kehidupannya, tempat mereka berdiam, tanah yang memberi makan mereka, tanah dimana mereka dimakamkan dan menjadi tempat kediaman orang-orang halus pelindungnya beserta arwah leluhurnya, tanah dimana meresap daya-daya hidup, termasuk juga hidupnya masyarakat dan karenanya tergantung dari padanya.
Menurut Wantijk Saleh tanah dalam arti hukum memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dapat menentukan keberadaan dan kelangsungan hubungan dan perbuatan hukum, baik dari segi individu maupun dampak bagi orang lain.
55Untuk mencegah masalah tanah tidak sampai menimbulkan konflik kepentingan dalam masyarakat, diperlukan pengaturan, penguasaan dan penggunaan tanah atau dengan kata lain disebut dengan hukum
54Wirahadi Prasetyono, Cara Mudah Mengurus Surat Tanah dan Rumah, Penerbit FlashBooks, Jogyakarta, 2013, hal 13
55Achmad Rubaie, 2000, Hukum pengadaaan tanah untuk kepentingan umum, Bayumedia,Malang.Hal.1
28
tanah. Strategisnya fungsi tanah diatas, karena tanah pada dasarnya memiliki dua (2) arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia yaitu:
1. Tanah sebagai social asset adalah sebagai sarana pengikat kesatuan di kalangan lingkungan sosial untuk kehidupan dan hidup, sedangkan, 2. Tanah sebagai capital asset adalah sebagai modal dalam pembangunan dan
telah tumbuh sebagai benda ekonomi yang sangat penting sekaligus sebagai bahan perniagaan dan objek spekulasi.
Hubungan tanah dengan manusia mengandung karakter spesifik. Karakter spesifik inilah menjadi basis lahirnya hubungan hukum antara manusia dengan tanah, seperti yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat yang masih mengakui dan melaksanakan hukum adat. Boedi Harsono mengatakan hukum adat adalah merupakan suatu rangkaian norma-norma hukum yang menjadi pegangan bersama dalam kehidupan masyarakat. Berbeda dengan norma-norma hukum tertulis yang dituangkan dalam kehidupan bermasyarakat yang secara tegas dibuat oleh penguasa legislatifdalam bentuk perundang-undangan, dimana norma-norma hukum adat tidak tertulis.
56Oleh Karena itu, adat atau kebiasaan dalam masyarakat tersebut menjadi pedoman dan mengikat dalam kehidupan masyarakat, yang jika ada yang melanggarnya, maka akan dikenakan sanksi atau hukuman. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, menurut Soerjono Soekanto seperti yang dikutip oleh Bushar Muhammad, mengatakan bahwa hukum adat itu merupakan keseluruhan adat (yang tidak tertulis) dan hidup di dalam masyarakat berupa kesusilaan, kebiasaan
56 Boedi Harsono,1999, Sejarah pembentukan UUPA,(Isi dan pelaksanaannya), Djambatan,Jakarta.Hal.179