STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DENGAN INQUIRY LEARNING
PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMAN 1 MUARO JAMBI Novianti, Yesi
1), Dr. Hj. Muazza, M.Si
2)Fachruddiansyah Muslim, S.Pd, M.Pd
3)1)
Alumni Prodi Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi Email: [email protected]
2)
Pembimbing Utama, Dosen Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi
3)
Pembimbing Pendamping, Dosen Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning bila dibandingkan dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning pada mata pelajaran ekonomi serta untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning akan lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Muaro Jambi pada Januari - Februari 2018.
Data penelitian diperoleh dengan memberikan tes hasil belajar kepada siswa yang sebelumnya diberikan perlakuan terlebih dahulu menggunakan model pembelajaran discovery learning dan inquiry learning. Setelah dilakukan tes, hasil tes dianalisis secara kuantitatif menggunakan rumus statistik sederhana.
Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning. Dimana pada mata pelajaran ekonomi materi perpajakan, kelompok siswa yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran inquiry learning memperoleh nilai ketuntasan sebesar 70,379, lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diberikan perlakuan dengan model pembelajaran discovery lerning sebesar 63,138. Hasil ini diperkuat dengan perhitungan hasil uji-t sebesar 2,480.
Dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh nilai t tabel 2,000. Dengan demikian t
hitung> t
tabelatau 2,480 > 2,000 berarti Ha diterima dan H0 ditolak.
Kesimpulan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada model pembelajaran discovery learning pada siswa SMA Negeri 1 Muaro Jambi. Berdasarkan kesimpulan tersebut maka disarankan kepada guru terutama guru Mata Pelajaran Ekonomi sebaiknya dalam melakukan pengajaran menggunakan model pembelajaran inquiry learning khususnya untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa.
Kata kunci: Discovery Learning, Inquiry Learning dan Hasil Belajar PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 adalah rancangan baru kurikulum pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 berupaya secara konsisten memenuhi janji dunia pendidikan terhadap bangsa ini. Janji sebagaimana dituangkan dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 Bab 2, Pasal 3 ayat 1 yaitu, pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah berupaya menyelenggarakan
1
pendidikan sebaik-baiknya, salah satunya dengan mengubah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013.
Perubahan kurikulum ini juga diikuti dengan perubahan paradigma pembelajaran, yakni dari paradigma teaching menjadi paradigma learning. Pada paradigma learning, justru siswa yang menjadi pusat dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, guru tidak lagi menjadi satu- satunya sumber belajar, peran guru telah bergeser lebih banyak kearah sebagai fasilitator belajar. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran sudah seharusnya bagi guru untuk menerapkan teknik maupun model pembelajaran yang berbasis student center yang mengarahkan siswa untuk terlibat aktif , termasuk dalam kegiatan pembelajaran ekonomi.
Salah satu SMA yang telah menerapkan kurikulum 2013 di Kabupaten Muaro jambi adalah SMA Negeri 1 Muaro jambi. Hasil observasi di SMA Negeri 1 Muaro Jambi menunjukan bahwa rata-rata nilai ulangan siswa masih berada dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Dalam kegiatan pembelajaran guru hanya menggunakan model pembelajaran konvensional di mana peran guru lebih dominan. Adapun kegiatan selama di kelas adalah guru menerangkan pelajaran di depan kelas, siswa mencatat materi dan diberikan kesempatan untuk bertanya. Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung siswa tampak bosan karena melakukan aktivitas yang sama secara terus menerus, beberapa dari siswa yang lain tampak tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru sehingga saat ujian berlangsung siswa merasa kesulitan untuk menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru.
Solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada siswa SMA Negeri 1 Muaro Jambi tersebut yaitu dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning dan inquiry learning. Discovery learning menurut Kosasih (2014:83) adalah model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk dapat menemukan sesuatu melalui proses pembelajaran yang dilakoninya. Siswa tidak hanya disodorkan oleh sejumlah teori (pendekatan deduktif), tetapi mereka pun berhadapan dengan sejumlah fakta (pendekatan induktif). Inquiry Learning menurut Fathurrohman (2015:104) adalah model pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan cara bagi peserta didik untuk membangun kecakapan intelektualnya yang terkait dengan proses berfikir reflektif. Model Inquiry learning adalah model pembelajaran menyediakan peserta didik beraneka ragam pengalaman konkret dan pembelajaran aktif yang medorong,memberikan ruang,dan peluang kepada peserta didik untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Kelebihan dari model discovery learning yaitu: 1) Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, 2) Pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran ini merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, 3) Pembelajaran Discovery membangkitkan gairah pada siswa, 4) Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri, 5) Menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus. 6) Bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melaui proses penemuan. 7) Pembelajaran berpusat pada anak, 8) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan, dan kebenaran akhir yang mutlak.
(Suryosubroto, 2009: 185–187)
Model inquiry learning memiliki beberapa kelebihan diantaranya: 1) Membantu peserta
didik untuk mengembangkan kesiapan serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif,
2) Peserta didik memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat dimengerti dan
mengendap dalam pikirannya, 3) Dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar peserta
didik untuk belajar lebih giat lagi, 4) Memberikan peluang untuk berkembang dan maju
sesuai dengan kemampuan dan minat masing–masing, 5) Memperkuat dan menambah
kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada peserta dengan peran guru yang sangat terbatas. (Sahrul, 2009:54)
Baik model pembelajaran inquiry learning maupun discovery learning medorong siswa untuk berperan kreatif dan kritis. Adapaun peran guru tidak lagi sebagi penyuplai ilmu pengetahuan. Melainkan sebagai motivator, fasilitator dan manajer pembelajaran. Kedua model ini sama-sama merupakan model pembelajaran penemuan. Adapaun perbedaannya menurut Kosasih (2014:83) adalah model pembelajaran discovery lebih menekankan pada penemuan jawaban atas masalah yang direkayasa oleh guru. Adapun pada pembelajran inquiry learning masalah bukan hasil rekayasa. Masalah itu lahir dari siswa itu sendiri berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Berdasarkan uraian diatas, melihat masih rendahnya nilai siswa dengan model pembelajaran konvensional, sudah selayaknya guru untuk menemukan model pembelajaran yang tepat, sesuai dengan paradigma pendidikan saat ini, yakni paradigma learning. Oleh karena itu, penulis mengambil judul penelitian. “STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DENGAN INQUIRY LEARNING PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMAN 1 MUARO JAMBI”.
KAJIAN PUSTAKA Hasil Belajar
Menurut Hamalik (2013:30) hasil belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, dari tidak tahu menjadi tah u dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Selanjutnya, Dimyati dan Mujiono (2013:3) Mendefinisikan hasil belajar sebagai hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Menurut Sudjana (2014:3) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Suprijono (2015:5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah siswa menerima pengalaman belajarnya baik pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa. Hasil belajar dapat dijadikan indikator keberhasilan siswa. Sejauh mana siswa memahami materi yang sudah dipelajarinya. Dalam penelitian ini peneliti meneliti hasil belajar dari ranah kognitif, hasil belajar yang diteliti diambil dari hasil tes yang diberikan kepada siswa.
Model Pembelajaran Discovery Learning
Model pembelajaran penemuan (Discovery Learning) merupakan model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk terbiasa menjadi seorang saintis (ilmuwan). Siswa tidak hanya disodori dengan sejumlah teori (pendekatan deduktif), tetapi mereka pun berhadapan dengan sejumlah fakta (pendekatan induktif). Dari teori dan fakta itulah, mereka diharapkan dapat merumuskan sejumlah penemuan. Penemuan yang dimaksud berarti pula sesuatu yang sederhana, namun memiliki makna dengan kehidupan siswa itu sendiri. (Kosasih, 2014:83).
Langkah-langkah pembelajaran Discovery menurut Kosasih (2014:85-88) adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan
1) Menentukan KD dan mengembangkanya ke dalam tujuan pembelajaran beserta
indikator-indikatornya.
2) Melakukan identifikasi masalah yang layak ditemukan jawabanya oleh para siswa.
dalam hal ini harus diperhatikan tingkat kesulitan (kompleksitas) permasalahannya sehingga siswa bisa menyelesaikanya dengan baik.
3) Menyusun kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan siswa terkait kegiatan penemuan itu beserta perangkat-perangkat pembelajaran yang dibutuhkan.
4) Kegiatan pembelajaran, misalnya dengan perorangan, diskusi kelompok, pengalaman lapangan,atau kunjungan keperpustakaan.
5) Perangkat pembelajaran, misalnya, buku-buku referensi, media pembelajaran, instrumen-instrumen penulisan.
b. Pelaksanaan
Kegiatan inti untuk model penemuan adalah sebagai berikut:
1) Merumuskan masalah
Guru menyampaikan suatu permasalahan untuk yang menggugah dan menimbulkan rasa penasaran tentang fenomena tertentu. Masalah itu mendorong siswa untuk mau melakukan suatu rangkaian pengamatan mendalam.
2) Membuat jawab sementara (hipotesis)
Siswa diajak melakukan identifikasi masalah yang kemudian diharapkan bisa bermuara pada perumusan jawaban sementara.
3) Pengumpulan data
Hipotesis merupakan jawaban sementara. Oleh karena itu, perlu ada percobaan untuk merumuskan benar tidaknya. Caranya adalah dengan serangkaian pengumpulan data baik dengan membaca berbagai dokumen, melakukan pengamatan lapangan, penelitian laboratorium, melakukan wawancara dan menyebarkan angket.
Dengan cara-cara tersebut, diharapkan siswa dapat memperoleh data yang benar-benar faktual, kuat, dan meyakinkan. Data itu pun dapat di pertanggung jawabkan kebenaranya karena meraka sendiri yang mengumpulkan. Diharapkan data itupun dapat memberikan jawaban atas permasalahan sebelumnya dan dibandingkan pula dengan hipotesis yang telah mereka rumuskan.
Data-data itu dicatat dalam instrumen yang telah mereka persiapkan sebelumnya, baik itu yang berupa jurnal, lembar observasi/pengamatan laboraturium, dan sejenisnya.
Adapun jenis sumber data yang dihubungi, diobservasi, dan dikumpulkan hendaknya disesuaikan dengan ketersediaan waktu, biaya, dan tenaga yang tersedia.
4) Merumuskan kesimpulan (generalization)
Setelah data terkumpul dan dianalisis, kemudian dikoreksi dengan rumusan masalah yang dirumuskan sebelumnya. Data-data tersebut digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut. Kesimpulan itulah yang dimaksud sebagai penemuan di dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa
5) Mengkomunikasikan
Temuan-temuan berharga para siswa jangan dibiarkan terhenti dalam bentuk catatan- catatan berserakan. Hasil kegiatan mereka perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan mengkomunikasikan. Temuan-temuan mereka perlu dihargai, yakni dengan berupa kegiatan seminar. Masing-masing siswa, baik individu ataupun kelompok, melaporkan hasil kegiatanya didepan forum diskusi untuk ditanggapi oleh siswa lain. Dalam proses ini pun memungkinkan bagi para siswa untuk saling memberikan masukan sehingga temuan yang mereka rumuskan menjadi lebih penting dan bermanfaat.
c. Sistem penilaian
Kegiatan siswa selama dan setelah mengikuti kegiatan itu harus dinilai secara komprehensif, yaitu mencakup penilaian afektif, kognitif, dan psikomotor. Aspek-aspek yang dinilai disesuaikan dengan indikator yang dirumuskan sebelumnya oleh guru.
Bentuknya bisa lisan, tertulis, ataupun melalui perbuatan.
Model Pembelajaran Inquiry Learning
Inquiry berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta atau terlibat dalam mengajukan pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Model pembelajaran inquiry bertujuan untuk memberikan cara bagi peserta didik untuk membangun kecakapan intelektual yang berkaitan dengan proses berfikir reflektif. Beberapa ahli menyamakan pembelajaran discovery, inquiry dan problem solving. Sebagiannya lagi membedakan ketiga hal tersebut. Menurut Sund dalam Fathurrahman (2015:104) inquiry meliputi pula discovery, tetapi mempunyai tingkat yang lebih tinggi. Dalam inquiry terdapat proses mental seperti merumuskan masalah, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis, dan membuat kesimpulan.
Menurut Sanjaya dalam Fathurrahman (2015:106) beberapa hal yang menjadi ciri utama model pembelajaran inquiry, yaitu: Pertama, inquiry menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya, pendekatan inquiry menempatkan peserta didik sebagai sumber belajar. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan sehingga diharapkan dapat menimbulkan sikap percaya diri. Artinya, model pembelajaran inquiry menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, melainkan fasilitator.
Ketiga, model pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Akibatnya, dalam pembelajaran inquiry peserta didik tidak dituntut hanya untuk menguasai pelajaran, tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimiliki mereka.
Adapun langkah-langkah pembelajaran inquiry menurut Syah dalam Fathurrohman (2015:109-110) adalah sebagai berikut:
1. Stimulation (simulasi/pembelajaran rangsangan) atau orientasi
Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingunganya. Kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu, guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.
2. Problem Statement (Pertanyaan/identifikasi masalah)
Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutnya adalah guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunyaa dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun peserta didik agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.
3. Data Collection (pengumpulan data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotensis. Dengan demikian, anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca litertaur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.
Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan
sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Dengan kata lain, secara
tidak disengaja peserta didik menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
4. Data Processing (pengolahan data)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya. Lalu ditafsirkan, dan semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Data processing disebut juga dengan pengkodean koding/katagorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
5. Verification (pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif lalu dihubungkan dengan hasil data processing. Berdasarkan hasil pengolahan data tafsiran, atau informasi yang ada, pertanyaan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak dan apakah dapat dibuktikan atau tidak.
6. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memerhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memerhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsi yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses penguatan dan generalisasi dari pengalaman- pengalaman itu.
METODE PENELITIAN Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi exsperimental research) dengan bentuk desain quasi experiment yang digunakan, yaitu Pre- Test and Post-Test with Noneequivalent Group. dengan rancangan sebagai berikut:
Kelompok Pretes Perlakuan Postes
Eksperimen 1 O1 X O2
Eksperimen 2 O3 X O4
O1= Nilai pretes kelompok eksperimen 1, O2 = Nilai postes kelompok eksperimen 1, X= Perlakuan, O3= Nilai pretes kelompok eksperimen 2, O4= Nilai postes kelompok eksperieme 2
Populasi dan Subjek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMAN 1 Muaro Jambi tahun ajaran 2017/2018 yang terdiri dari 5 kelas dengan jumlah siswa 163. Penentuan kelas eksperimen dilakukan dengan teknik Cluster Sampling. Menurut Furchan (2011:348-349), Karena tujuan penarikan sampel dari populasi itu adalah untuk memperoleh informasi mengenai populasi tersebut, maka penting sekali diusahakan agar individu-individu yang dimasukan ke dalam sampel itu merupakan contoh yang representatif. Untuk memperoleh sampel yang refresentatif, dilakukan uji homogenitas data sampel.
Dari uji homegenitas diketahui bahwa kelima kelas adalah homogen. Adapun yang
paling homogen kondisi kelasnya adalah kelas XI IPS 1 dan XI IPS 5 di mana dari
perhitungan uji F diperoleh fhitung < ftabel (1,010 < 1,84) dan untuk kelas yang homogen
selanjutnya adalah XI IPS2 dan XI IPS 5 di mana dari perhitungan uji F diperoleh fhitung <
ftabel (1,113 < 1,84).
Kelas XI IPS2 XI IPS 3 XI IPS 4 XI IPS 5
XI IPS 1 1,124 1,223 1,441 1,010
XI IPS 2 1,261 1,284 1,113
XI IPS 3 1,284 1,133
XI IPS 4 1,456
F tabel 1,82 1,82 1,84 1,84
Adapun kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas XI IPS 2 dan XI IPS 5.
Pengambilan kedua kelas ini sebagai sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan dari guru Ekonomi SMA Negeri 1 Muaro Jambi sebagai berikut : 1) Diajar oleh guru yang sama, 2) kegiatan pembelajaran dilakukan pada jam yang sama dalam hari yang berbeda, 3) Memiliki nilai rata-rata yang sama atau tidak jauh berbeda.
Teknik Pengumpulan Data
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes objektif berbentuk pilihan ganda. sebelum dilakukan tes, dilakukan uji coba soal untuk melihat validitas tes, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda soal. apabila soal memenuhi keempat kriteria tersebut maka soal dapat dikatakan layak untuk dijadikan sebagai instrumen penelitian.
Uji Prasyarat Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi uji prasyarat analisis yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. 1) Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data dari kedua sampel berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas ini digunakan uji chi-kuadrat. 2) Uji homogenitas adalah uji yang digunakan untuk melihat apakah data yang diteliti homogen atau tidak. Untuk menentukan homogenitas digunakan uji F (Fisher). 3) Untuk menguji hipotesis yang diajukan, Teknik statistik yang dilakukan untuk menguji hipotesis tersebut adalah teknik polled varians.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Muaro Jambi, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.
Berdasarkan data yang diperoleh pada pre-test yang dilakukan pada 33 siswa kelas XII IPS 2 (Eksperimen 1) dan 29 siswa kelas XII IPS 5 (Eksperimen 2), hasil pre-test kelas eksperimen 1 menyebar antara 10-57 sedangkan hasil pre-test kelas eksperimen 2 menyebar antara 13-53. Kedua nilai tersebut menunjukan bahwa baik kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 mendapat nilai dibawah KKM 65. Selanjutnya diberikan perlakuan sebanyak 4 kali pertemuan. di akhir pertemuan dilakukan post-test untuk melihat perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan setelah perlakuan.
Dari hasil post-test yang dilakukan pada 33 siswa kelas XII IPS 2 (Eksperimen 1) dan
29 siswa kelas XII IPS 5 (Eksperimen 2) diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas
eksperimen 1 menyebar antara 47-93 dan nilai tersebut menunjukan bahwa sebanyak 25
siswa mencapai KKM 65 dan 8 siswa yang tidak mencapai KKM 65. Sedangkan hasil post-
test yang dilakukan pada kelas eksperimen 2 menyebar antara 43-83 dan nilai tersebut
menunjukan bahwa sebanyak 16 siswa mencapai KKM 65 dan 13 siswa yang tidak mencapai KKM 65. Artinya terdapat peningkatan hasil belajar ekonomi siswa setelah diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran discovery learning dan inquiry learning.
perbedaan rata-rata pre-test dan postest dapat dilihat pada tabel berikut:
Kelas
Jumlah Siswa
(N)
Rata-rata Pretest
(𝑿 )
Simpangan Baku Pretest
( S )
Rata-rata Postest
(𝑿 )
Simpangan baku Posttest
( S )
Eksperimen 1 33 30,712 12,51 70,379 11,683
Eksperimen 2 29 30,724 10,45 63,138 11,32
Untuk melihat besarnya perbedaan nilai siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sebelum dan setelah perlakuan digunakan rumus (O
2- O
1) – (O
4-O
3) = (70,379-30,712) – (63,138 - 30,724) = (39,667 – 32,414) = 7,253. Berdasarkan perhitungan tersebut diketahui bahwa perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 adalah 7,253. Kemudian, dicari nilai perbandingannya dengan rumus
O2 – O1O4−O3
=
70,379 – 30,712 63,138−30,724=
39,667
32,414
= 1,223. Berdasarkan perhitungan tersebut diketahui bahwa besar perbandingan hasil belajar antara kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 adalah 1,223. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara statistik.
Uji Normalitas 1. Pretest
Tabel 4.17 nilai 𝝌𝟐tabel dan 𝝌𝟐0 dalam normalitas pada pretest
No Kelas 𝝌𝟐tabel 𝝌𝟐0
1 Eksperimen 1 11,07 9,0269
2 Eksperimen 2 11,07 3,0075
Berdasarkan tabel di atas bahwa untuk kelas eksperimen 1 𝜒
20= 9,0269 dengan nilai dk
= 6 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh 𝜒
2𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 11,07 Dengan demikian 𝜒
2ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝜒
2tabel atau (9,0269 < 11,07) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 1 berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%. Sedangkan untuk kelas eksperimen 2 𝜒
20= 3,0075 dengan nilai dk = 6 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh 𝜒
2𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 11,07 Dengan demikian 𝜒
2ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝜒
2tabel atau (3,0075 < 11,07) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 2 berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%.
2. Postest
Tabel 4.18 nilai 𝝌𝟐tabel dan 𝝌𝟐0 dalam normalitas pada posttes
No Kelas 𝝌𝟐tabel 𝝌𝟐0
1 Eksperimen 1 11,07 6,0024
2 Eksperimen 2 11,07 8,5776
Berdasarkan tabel di atas bahwa untuk kelas eksperimen 1 𝜒
20= 6,0024 dengan nilai dk
= 5 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh 𝜒
2𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 11,07 Dengan demikian
𝜒
2ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝜒
2tabel atau (6,0024 < 11,07) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas
eksperimen 1 berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%. Sedangkan untuk kelas
eksperimen 2 𝜒
20= 8,5776 dengan nilai dk = 5 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis
diperoleh 𝜒
2𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 11,07 Dengan demikian 𝜒
2ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝜒
2tabel atau (8,5776 < 11,07)
sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 2 berdistribusi normal pada taraf
kepercayaan 95%.
Uji Homogenitas 1. Pretest
Tabel 4.18 nilai Fhitung dan Ftabel dalam homogenitas pada pretest
No F Nilai
1 Fhitung 1,432
2 Ftabel 5,05
Berdasarkan tabel diatas bahwa dari perhitungan didapat F
hitung< F
tabelatau (1,432 <
5,05), maka dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 mempunyai varians yang homogen.
2. Posttest
Tabel 4.19 nilai Fhitung dan Ftabel dalam homogenitas pada posttest
No F Nilai
1 Fhitung 1,065
2 Ftabel 5,05
Berdasarkan tabel diatas bahwa dari perhitungan didapat F
hitung< F
tabelatau (1,065 <
5,05), maka dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 mempunyai varians yang homogen.
Uji Hipotesis
Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t-test. Hipotesis yang duji dalam penelitian ini adalah: Hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.
Setelah dilakukan pengolahan data, tampilan hasil uji t-tes pada tes akhir (post-test) sebagai berikut:
Tabel 4.15 thitung dan ttabel dalam uji t post-test