• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DENGAN INQUIRY LEARNING

PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMAN 1 MUARO JAMBI Novianti, Yesi

1)

, Dr. Hj. Muazza, M.Si

2)

Fachruddiansyah Muslim, S.Pd, M.Pd

3)

1)

Alumni Prodi Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi Email: [email protected]

2)

Pembimbing Utama, Dosen Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi

3)

Pembimbing Pendamping, Dosen Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning bila dibandingkan dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning pada mata pelajaran ekonomi serta untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning akan lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Muaro Jambi pada Januari - Februari 2018.

Data penelitian diperoleh dengan memberikan tes hasil belajar kepada siswa yang sebelumnya diberikan perlakuan terlebih dahulu menggunakan model pembelajaran discovery learning dan inquiry learning. Setelah dilakukan tes, hasil tes dianalisis secara kuantitatif menggunakan rumus statistik sederhana.

Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning. Dimana pada mata pelajaran ekonomi materi perpajakan, kelompok siswa yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran inquiry learning memperoleh nilai ketuntasan sebesar 70,379, lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diberikan perlakuan dengan model pembelajaran discovery lerning sebesar 63,138. Hasil ini diperkuat dengan perhitungan hasil uji-t sebesar 2,480.

Dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh nilai t tabel 2,000. Dengan demikian t

hitung

> t

tabel

atau 2,480 > 2,000 berarti Ha diterima dan H0 ditolak.

Kesimpulan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada model pembelajaran discovery learning pada siswa SMA Negeri 1 Muaro Jambi. Berdasarkan kesimpulan tersebut maka disarankan kepada guru terutama guru Mata Pelajaran Ekonomi sebaiknya dalam melakukan pengajaran menggunakan model pembelajaran inquiry learning khususnya untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa.

Kata kunci: Discovery Learning, Inquiry Learning dan Hasil Belajar PENDAHULUAN

Kurikulum 2013 adalah rancangan baru kurikulum pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 berupaya secara konsisten memenuhi janji dunia pendidikan terhadap bangsa ini. Janji sebagaimana dituangkan dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 Bab 2, Pasal 3 ayat 1 yaitu, pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah berupaya menyelenggarakan

1

(2)

pendidikan sebaik-baiknya, salah satunya dengan mengubah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013.

Perubahan kurikulum ini juga diikuti dengan perubahan paradigma pembelajaran, yakni dari paradigma teaching menjadi paradigma learning. Pada paradigma learning, justru siswa yang menjadi pusat dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, guru tidak lagi menjadi satu- satunya sumber belajar, peran guru telah bergeser lebih banyak kearah sebagai fasilitator belajar. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran sudah seharusnya bagi guru untuk menerapkan teknik maupun model pembelajaran yang berbasis student center yang mengarahkan siswa untuk terlibat aktif , termasuk dalam kegiatan pembelajaran ekonomi.

Salah satu SMA yang telah menerapkan kurikulum 2013 di Kabupaten Muaro jambi adalah SMA Negeri 1 Muaro jambi. Hasil observasi di SMA Negeri 1 Muaro Jambi menunjukan bahwa rata-rata nilai ulangan siswa masih berada dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Dalam kegiatan pembelajaran guru hanya menggunakan model pembelajaran konvensional di mana peran guru lebih dominan. Adapun kegiatan selama di kelas adalah guru menerangkan pelajaran di depan kelas, siswa mencatat materi dan diberikan kesempatan untuk bertanya. Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung siswa tampak bosan karena melakukan aktivitas yang sama secara terus menerus, beberapa dari siswa yang lain tampak tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru sehingga saat ujian berlangsung siswa merasa kesulitan untuk menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru.

Solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada siswa SMA Negeri 1 Muaro Jambi tersebut yaitu dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning dan inquiry learning. Discovery learning menurut Kosasih (2014:83) adalah model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk dapat menemukan sesuatu melalui proses pembelajaran yang dilakoninya. Siswa tidak hanya disodorkan oleh sejumlah teori (pendekatan deduktif), tetapi mereka pun berhadapan dengan sejumlah fakta (pendekatan induktif). Inquiry Learning menurut Fathurrohman (2015:104) adalah model pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan cara bagi peserta didik untuk membangun kecakapan intelektualnya yang terkait dengan proses berfikir reflektif. Model Inquiry learning adalah model pembelajaran menyediakan peserta didik beraneka ragam pengalaman konkret dan pembelajaran aktif yang medorong,memberikan ruang,dan peluang kepada peserta didik untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Kelebihan dari model discovery learning yaitu: 1) Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, 2) Pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran ini merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, 3) Pembelajaran Discovery membangkitkan gairah pada siswa, 4) Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri, 5) Menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus. 6) Bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melaui proses penemuan. 7) Pembelajaran berpusat pada anak, 8) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan, dan kebenaran akhir yang mutlak.

(Suryosubroto, 2009: 185–187)

Model inquiry learning memiliki beberapa kelebihan diantaranya: 1) Membantu peserta

didik untuk mengembangkan kesiapan serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif,

2) Peserta didik memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat dimengerti dan

mengendap dalam pikirannya, 3) Dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar peserta

didik untuk belajar lebih giat lagi, 4) Memberikan peluang untuk berkembang dan maju

sesuai dengan kemampuan dan minat masing–masing, 5) Memperkuat dan menambah

(3)

kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada peserta dengan peran guru yang sangat terbatas. (Sahrul, 2009:54)

Baik model pembelajaran inquiry learning maupun discovery learning medorong siswa untuk berperan kreatif dan kritis. Adapaun peran guru tidak lagi sebagi penyuplai ilmu pengetahuan. Melainkan sebagai motivator, fasilitator dan manajer pembelajaran. Kedua model ini sama-sama merupakan model pembelajaran penemuan. Adapaun perbedaannya menurut Kosasih (2014:83) adalah model pembelajaran discovery lebih menekankan pada penemuan jawaban atas masalah yang direkayasa oleh guru. Adapun pada pembelajran inquiry learning masalah bukan hasil rekayasa. Masalah itu lahir dari siswa itu sendiri berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Berdasarkan uraian diatas, melihat masih rendahnya nilai siswa dengan model pembelajaran konvensional, sudah selayaknya guru untuk menemukan model pembelajaran yang tepat, sesuai dengan paradigma pendidikan saat ini, yakni paradigma learning. Oleh karena itu, penulis mengambil judul penelitian. “STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA YANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DENGAN INQUIRY LEARNING PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMAN 1 MUARO JAMBI”.

KAJIAN PUSTAKA Hasil Belajar

Menurut Hamalik (2013:30) hasil belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, dari tidak tahu menjadi tah u dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Selanjutnya, Dimyati dan Mujiono (2013:3) Mendefinisikan hasil belajar sebagai hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Menurut Sudjana (2014:3) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Suprijono (2015:5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah siswa menerima pengalaman belajarnya baik pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa. Hasil belajar dapat dijadikan indikator keberhasilan siswa. Sejauh mana siswa memahami materi yang sudah dipelajarinya. Dalam penelitian ini peneliti meneliti hasil belajar dari ranah kognitif, hasil belajar yang diteliti diambil dari hasil tes yang diberikan kepada siswa.

Model Pembelajaran Discovery Learning

Model pembelajaran penemuan (Discovery Learning) merupakan model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk terbiasa menjadi seorang saintis (ilmuwan). Siswa tidak hanya disodori dengan sejumlah teori (pendekatan deduktif), tetapi mereka pun berhadapan dengan sejumlah fakta (pendekatan induktif). Dari teori dan fakta itulah, mereka diharapkan dapat merumuskan sejumlah penemuan. Penemuan yang dimaksud berarti pula sesuatu yang sederhana, namun memiliki makna dengan kehidupan siswa itu sendiri. (Kosasih, 2014:83).

Langkah-langkah pembelajaran Discovery menurut Kosasih (2014:85-88) adalah sebagai berikut:

a. Perencanaan

1) Menentukan KD dan mengembangkanya ke dalam tujuan pembelajaran beserta

indikator-indikatornya.

(4)

2) Melakukan identifikasi masalah yang layak ditemukan jawabanya oleh para siswa.

dalam hal ini harus diperhatikan tingkat kesulitan (kompleksitas) permasalahannya sehingga siswa bisa menyelesaikanya dengan baik.

3) Menyusun kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan siswa terkait kegiatan penemuan itu beserta perangkat-perangkat pembelajaran yang dibutuhkan.

4) Kegiatan pembelajaran, misalnya dengan perorangan, diskusi kelompok, pengalaman lapangan,atau kunjungan keperpustakaan.

5) Perangkat pembelajaran, misalnya, buku-buku referensi, media pembelajaran, instrumen-instrumen penulisan.

b. Pelaksanaan

Kegiatan inti untuk model penemuan adalah sebagai berikut:

1) Merumuskan masalah

Guru menyampaikan suatu permasalahan untuk yang menggugah dan menimbulkan rasa penasaran tentang fenomena tertentu. Masalah itu mendorong siswa untuk mau melakukan suatu rangkaian pengamatan mendalam.

2) Membuat jawab sementara (hipotesis)

Siswa diajak melakukan identifikasi masalah yang kemudian diharapkan bisa bermuara pada perumusan jawaban sementara.

3) Pengumpulan data

Hipotesis merupakan jawaban sementara. Oleh karena itu, perlu ada percobaan untuk merumuskan benar tidaknya. Caranya adalah dengan serangkaian pengumpulan data baik dengan membaca berbagai dokumen, melakukan pengamatan lapangan, penelitian laboratorium, melakukan wawancara dan menyebarkan angket.

Dengan cara-cara tersebut, diharapkan siswa dapat memperoleh data yang benar-benar faktual, kuat, dan meyakinkan. Data itu pun dapat di pertanggung jawabkan kebenaranya karena meraka sendiri yang mengumpulkan. Diharapkan data itupun dapat memberikan jawaban atas permasalahan sebelumnya dan dibandingkan pula dengan hipotesis yang telah mereka rumuskan.

Data-data itu dicatat dalam instrumen yang telah mereka persiapkan sebelumnya, baik itu yang berupa jurnal, lembar observasi/pengamatan laboraturium, dan sejenisnya.

Adapun jenis sumber data yang dihubungi, diobservasi, dan dikumpulkan hendaknya disesuaikan dengan ketersediaan waktu, biaya, dan tenaga yang tersedia.

4) Merumuskan kesimpulan (generalization)

Setelah data terkumpul dan dianalisis, kemudian dikoreksi dengan rumusan masalah yang dirumuskan sebelumnya. Data-data tersebut digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut. Kesimpulan itulah yang dimaksud sebagai penemuan di dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa

5) Mengkomunikasikan

Temuan-temuan berharga para siswa jangan dibiarkan terhenti dalam bentuk catatan- catatan berserakan. Hasil kegiatan mereka perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan mengkomunikasikan. Temuan-temuan mereka perlu dihargai, yakni dengan berupa kegiatan seminar. Masing-masing siswa, baik individu ataupun kelompok, melaporkan hasil kegiatanya didepan forum diskusi untuk ditanggapi oleh siswa lain. Dalam proses ini pun memungkinkan bagi para siswa untuk saling memberikan masukan sehingga temuan yang mereka rumuskan menjadi lebih penting dan bermanfaat.

c. Sistem penilaian

Kegiatan siswa selama dan setelah mengikuti kegiatan itu harus dinilai secara komprehensif, yaitu mencakup penilaian afektif, kognitif, dan psikomotor. Aspek-aspek yang dinilai disesuaikan dengan indikator yang dirumuskan sebelumnya oleh guru.

Bentuknya bisa lisan, tertulis, ataupun melalui perbuatan.

(5)

Model Pembelajaran Inquiry Learning

Inquiry berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta atau terlibat dalam mengajukan pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Model pembelajaran inquiry bertujuan untuk memberikan cara bagi peserta didik untuk membangun kecakapan intelektual yang berkaitan dengan proses berfikir reflektif. Beberapa ahli menyamakan pembelajaran discovery, inquiry dan problem solving. Sebagiannya lagi membedakan ketiga hal tersebut. Menurut Sund dalam Fathurrahman (2015:104) inquiry meliputi pula discovery, tetapi mempunyai tingkat yang lebih tinggi. Dalam inquiry terdapat proses mental seperti merumuskan masalah, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis, dan membuat kesimpulan.

Menurut Sanjaya dalam Fathurrahman (2015:106) beberapa hal yang menjadi ciri utama model pembelajaran inquiry, yaitu: Pertama, inquiry menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya, pendekatan inquiry menempatkan peserta didik sebagai sumber belajar. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan sehingga diharapkan dapat menimbulkan sikap percaya diri. Artinya, model pembelajaran inquiry menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, melainkan fasilitator.

Ketiga, model pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Akibatnya, dalam pembelajaran inquiry peserta didik tidak dituntut hanya untuk menguasai pelajaran, tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimiliki mereka.

Adapun langkah-langkah pembelajaran inquiry menurut Syah dalam Fathurrohman (2015:109-110) adalah sebagai berikut:

1. Stimulation (simulasi/pembelajaran rangsangan) atau orientasi

Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingunganya. Kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu, guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.

2. Problem Statement (Pertanyaan/identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutnya adalah guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunyaa dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun peserta didik agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.

3. Data Collection (pengumpulan data)

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotensis. Dengan demikian, anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca litertaur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.

Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan

sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Dengan kata lain, secara

(6)

tidak disengaja peserta didik menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

4. Data Processing (pengolahan data)

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya. Lalu ditafsirkan, dan semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Data processing disebut juga dengan pengkodean koding/katagorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

5. Verification (pembuktian)

Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif lalu dihubungkan dengan hasil data processing. Berdasarkan hasil pengolahan data tafsiran, atau informasi yang ada, pertanyaan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak dan apakah dapat dibuktikan atau tidak.

6. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memerhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memerhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsi yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses penguatan dan generalisasi dari pengalaman- pengalaman itu.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi exsperimental research) dengan bentuk desain quasi experiment yang digunakan, yaitu Pre- Test and Post-Test with Noneequivalent Group. dengan rancangan sebagai berikut:

Kelompok Pretes Perlakuan Postes

Eksperimen 1 O1 X O2

Eksperimen 2 O3 X O4

O1= Nilai pretes kelompok eksperimen 1, O2 = Nilai postes kelompok eksperimen 1, X= Perlakuan, O3= Nilai pretes kelompok eksperimen 2, O4= Nilai postes kelompok eksperieme 2

Populasi dan Subjek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMAN 1 Muaro Jambi tahun ajaran 2017/2018 yang terdiri dari 5 kelas dengan jumlah siswa 163. Penentuan kelas eksperimen dilakukan dengan teknik Cluster Sampling. Menurut Furchan (2011:348-349), Karena tujuan penarikan sampel dari populasi itu adalah untuk memperoleh informasi mengenai populasi tersebut, maka penting sekali diusahakan agar individu-individu yang dimasukan ke dalam sampel itu merupakan contoh yang representatif. Untuk memperoleh sampel yang refresentatif, dilakukan uji homogenitas data sampel.

Dari uji homegenitas diketahui bahwa kelima kelas adalah homogen. Adapun yang

paling homogen kondisi kelasnya adalah kelas XI IPS 1 dan XI IPS 5 di mana dari

perhitungan uji F diperoleh fhitung < ftabel (1,010 < 1,84) dan untuk kelas yang homogen

(7)

selanjutnya adalah XI IPS2 dan XI IPS 5 di mana dari perhitungan uji F diperoleh fhitung <

ftabel (1,113 < 1,84).

Kelas XI IPS2 XI IPS 3 XI IPS 4 XI IPS 5

XI IPS 1 1,124 1,223 1,441 1,010

XI IPS 2 1,261 1,284 1,113

XI IPS 3 1,284 1,133

XI IPS 4 1,456

F tabel 1,82 1,82 1,84 1,84

Adapun kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas XI IPS 2 dan XI IPS 5.

Pengambilan kedua kelas ini sebagai sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan dari guru Ekonomi SMA Negeri 1 Muaro Jambi sebagai berikut : 1) Diajar oleh guru yang sama, 2) kegiatan pembelajaran dilakukan pada jam yang sama dalam hari yang berbeda, 3) Memiliki nilai rata-rata yang sama atau tidak jauh berbeda.

Teknik Pengumpulan Data

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes objektif berbentuk pilihan ganda. sebelum dilakukan tes, dilakukan uji coba soal untuk melihat validitas tes, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda soal. apabila soal memenuhi keempat kriteria tersebut maka soal dapat dikatakan layak untuk dijadikan sebagai instrumen penelitian.

Uji Prasyarat Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi uji prasyarat analisis yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. 1) Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data dari kedua sampel berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas ini digunakan uji chi-kuadrat. 2) Uji homogenitas adalah uji yang digunakan untuk melihat apakah data yang diteliti homogen atau tidak. Untuk menentukan homogenitas digunakan uji F (Fisher). 3) Untuk menguji hipotesis yang diajukan, Teknik statistik yang dilakukan untuk menguji hipotesis tersebut adalah teknik polled varians.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Muaro Jambi, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.

Berdasarkan data yang diperoleh pada pre-test yang dilakukan pada 33 siswa kelas XII IPS 2 (Eksperimen 1) dan 29 siswa kelas XII IPS 5 (Eksperimen 2), hasil pre-test kelas eksperimen 1 menyebar antara 10-57 sedangkan hasil pre-test kelas eksperimen 2 menyebar antara 13-53. Kedua nilai tersebut menunjukan bahwa baik kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 mendapat nilai dibawah KKM 65. Selanjutnya diberikan perlakuan sebanyak 4 kali pertemuan. di akhir pertemuan dilakukan post-test untuk melihat perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan setelah perlakuan.

Dari hasil post-test yang dilakukan pada 33 siswa kelas XII IPS 2 (Eksperimen 1) dan

29 siswa kelas XII IPS 5 (Eksperimen 2) diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas

eksperimen 1 menyebar antara 47-93 dan nilai tersebut menunjukan bahwa sebanyak 25

siswa mencapai KKM 65 dan 8 siswa yang tidak mencapai KKM 65. Sedangkan hasil post-

test yang dilakukan pada kelas eksperimen 2 menyebar antara 43-83 dan nilai tersebut

(8)

menunjukan bahwa sebanyak 16 siswa mencapai KKM 65 dan 13 siswa yang tidak mencapai KKM 65. Artinya terdapat peningkatan hasil belajar ekonomi siswa setelah diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran discovery learning dan inquiry learning.

perbedaan rata-rata pre-test dan postest dapat dilihat pada tabel berikut:

Kelas

Jumlah Siswa

(N)

Rata-rata Pretest

(𝑿 )

Simpangan Baku Pretest

( S )

Rata-rata Postest

(𝑿 )

Simpangan baku Posttest

( S )

Eksperimen 1 33 30,712 12,51 70,379 11,683

Eksperimen 2 29 30,724 10,45 63,138 11,32

Untuk melihat besarnya perbedaan nilai siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sebelum dan setelah perlakuan digunakan rumus (O

2

- O

1

) – (O

4

-O

3

) = (70,379-30,712) – (63,138 - 30,724) = (39,667 – 32,414) = 7,253. Berdasarkan perhitungan tersebut diketahui bahwa perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 adalah 7,253. Kemudian, dicari nilai perbandingannya dengan rumus

O2 – O1

O4−O3

=

70,379 – 30,712 63,138−30,724

=

39,667

32,414

= 1,223. Berdasarkan perhitungan tersebut diketahui bahwa besar perbandingan hasil belajar antara kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 adalah 1,223. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara statistik.

Uji Normalitas 1. Pretest

Tabel 4.17 nilai 𝝌𝟐tabel dan 𝝌𝟐0 dalam normalitas pada pretest

No Kelas 𝝌𝟐tabel 𝝌𝟐0

1 Eksperimen 1 11,07 9,0269

2 Eksperimen 2 11,07 3,0075

Berdasarkan tabel di atas bahwa untuk kelas eksperimen 1 𝜒

20

= 9,0269 dengan nilai dk

= 6 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh 𝜒

2

𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 11,07 Dengan demikian 𝜒

2

ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝜒

2

tabel atau (9,0269 < 11,07) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 1 berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%. Sedangkan untuk kelas eksperimen 2 𝜒

20

= 3,0075 dengan nilai dk = 6 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh 𝜒

2

𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 11,07 Dengan demikian 𝜒

2

ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝜒

2

tabel atau (3,0075 < 11,07) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 2 berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%.

2. Postest

Tabel 4.18 nilai 𝝌𝟐tabel dan 𝝌𝟐0 dalam normalitas pada posttes

No Kelas 𝝌𝟐tabel 𝝌𝟐0

1 Eksperimen 1 11,07 6,0024

2 Eksperimen 2 11,07 8,5776

Berdasarkan tabel di atas bahwa untuk kelas eksperimen 1 𝜒

20

= 6,0024 dengan nilai dk

= 5 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh 𝜒

2

𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 11,07 Dengan demikian

𝜒

2

ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝜒

2

tabel atau (6,0024 < 11,07) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas

eksperimen 1 berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%. Sedangkan untuk kelas

eksperimen 2 𝜒

20

= 8,5776 dengan nilai dk = 5 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis

diperoleh 𝜒

2

𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 11,07 Dengan demikian 𝜒

2

ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝜒

2

tabel atau (8,5776 < 11,07)

sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 2 berdistribusi normal pada taraf

kepercayaan 95%.

(9)

Uji Homogenitas 1. Pretest

Tabel 4.18 nilai Fhitung dan Ftabel dalam homogenitas pada pretest

No F Nilai

1 Fhitung 1,432

2 Ftabel 5,05

Berdasarkan tabel diatas bahwa dari perhitungan didapat F

hitung

< F

tabel

atau (1,432 <

5,05), maka dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 mempunyai varians yang homogen.

2. Posttest

Tabel 4.19 nilai Fhitung dan Ftabel dalam homogenitas pada posttest

No F Nilai

1 Fhitung 1,065

2 Ftabel 5,05

Berdasarkan tabel diatas bahwa dari perhitungan didapat F

hitung

< F

tabel

atau (1,065 <

5,05), maka dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 mempunyai varians yang homogen.

Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t-test. Hipotesis yang duji dalam penelitian ini adalah: Hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.

Setelah dilakukan pengolahan data, tampilan hasil uji t-tes pada tes akhir (post-test) sebagai berikut:

Tabel 4.15 thitung dan ttabel dalam uji t post-test

No T Nilai

1 t

hitung

2,480

2 t

tabel

2,000

Dari perhitungan hasil uji-t diperoleh t hitung = 2,480,. Kriteria pengujiannya adalah dengan dk = n1 + n2 - 2. Maka diketahui dk = 33 + 29 – 2 = 60 dan dapat dilihat pada tabel t dk = 60 dengan taraf signifikan 0,05 adalah 2,000. Dengan demikian t

hitung

> t

tabel

atau 2,480 >

2,000 Jadi kesimpulannya hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Kegiatan penelitian dilakukan di kelas XI SMA Negeri 1 Muaro Jambi pada materi perpajakan. Dalam penelitian ini terdapat kelas eksperimen 1 yang belajar dengan menggunakan model inquiry learning dan kelas eksperimen 2 yang belajar dengan menggunakan model discovery learning. Pelaksanaan penelitian sesuai dengan jadwal pelajaran yang ditetapkan. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sebanyak 6 kali pertemuan, dimana pada pertemuan pertama untuk pelaksanaan tes awal, pertemuan kedua sampai kelima (4 pertemuan) untuk perlakuan, dan pertemuan keenam untuk tes akhir.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang

menggunakan model pembelajaran inquiry learning akan lebih tinggi dari pada hasil belajar

siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.. Hasil penelitian diperoleh

melalui tes akhir berbentuk pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban (a, b, c, d, dan e) dari 35

(10)

butir soal yang direncanakan, setelah diuji cobakan ternyata setelah dianalisis hanya 30 soal yang bisa dipakai kemudian dilakukan untuk menguji kemampuan pada kedua subjek penelitan.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan eksperimen semu (quasi eksperimen) dengan bentuk desain pre-test (test awal) dan post-test (test akhir) dengan kelompok pengendalian tidak diacak. Dalam desain ini subjek tidak diacak karena dalam situasi sekolah tidak memungkinkan untuk mengubah kelas atau siswa, maka peneliti menggunakan kelas yang ada.

Dari perhitungan statistik data awal pada saat pelaksanaan pre-test, diperoleh nilai rata- rata tes awal kelas eksperimen 1 (X)=30,712, dengan simpangan baku (S)=12,509, sedangkan untuk data pre-test pada kelas eksperimen 2 (X)=30,724 dengan simpangan baku (S)=10,45.

Dari data tes awal tersebut diketahui bahwa kemampuan rata-rata kelas masih rendah dan belum ada siswa yang memperoleh nilai di atas KKM. Kedua kelas penelitian belum mendapatkan materi pembelajaran sehingga belum ada siswa yang berhasil mencapai KKM.

Hal ini membuktikan bahwa kemampuan awal siswa adalah sama dan siap untuk mendapatkan perlakuan.

Setelah diketahui kelas tersebut berangkat dari kondisi awal sama, kemudian kedua kelompok diberi perlakuan yang berbeda, pada kelas eksperimen 1 menggunakan model inquiry learning, pada kelas eksperimen 2 menggunakan model pembelajaran discovery learning. Setelah pembelajaran pada kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 selesai, dilanjutkan dengan pemberian post-test pada kedua kelas.

Berdasarkan hasil tes dari soal post-test yang dilakukan diperoleh rata-rata hasil belajar eksperimen 1 (X)=70,379, dengan simpangan baku (S)=11,683, sedangkan untuk data post- test eksperimen 2 diperoleh rata-rata hasil belajar eksperimen 2 (X)=63,138 dengan simpangan baku (S)=11,32. Berdasarkan nilai rata-rata pre-test dan post-test kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 diketahui bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara kedua kelas yaitu sebesar (O

2 –

O

1

) – (O

4

-O

3

) = (39,667 – 32,414) = 7,253 dengan perbandingan sebesar 1,223. Perbedaan ini disebabkan dari perlakuan kelas eksperimen 1 yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning sementara dikelas eksperimen 2 menggunakan model pembelajaran discovery learning.

Hasil uji hipotesis menggunakan uji-t. Uji t-test digunakan untuk menguji hipotesis yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning. Dari hasil uji-t diperoleh t

hitung

= 2,480 dan t

tabel

2,000. Karena t

hitung

>

t

tabel

atau 2,480 > 2,000 berarti Ha diterima dan H0 ditolak. Jadi hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.

Perbedaan hasil belajar yang diperoleh siswa antara kelas eksperimen 1 dengan kelas eksperimen 2 disebabkan karena adanya perbedaan dalam cara pembelajarannya. Dalam penelitian ini hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran discovery learning.

Melalui penagamatan peneliti selama penelitian terlihat suasana belajar pada kelas

eksperimen 1 yang diberikan dengan perlakuan model pembelajaran inquiry learning lebih

aktif dan bersemangat. Siswa merasa tertantang ketika diminta untuk mengajukan

pertanyaan-pertanyaan dan menemukan permasalahan sendiri. Dengan menentukan

permasalahan sendiri, selain siswa dapat menemukan sesuatu yang berkaitan dengan

permasalahan, siswa juga dapat memahami penyebab dan dampak yang terjadi dalam

permasalahan tersebut. Dalam pembelajaran dengan model inquiry learning ini siswa diajak

melakukan investigasi atau pembuktian atas jawaban-jawaban sementara yang telah dibuat

(11)

sehingga konsep-konsep matematika tentang perpajakan dapat diserap dengan baik. Hal ini sesuai dengan Fathurrohman (2015) yang mengatakan bahwa “investigasi merupakan tulang punggung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri”. kegiatan investigasi difokuskan untuk memahami konsep-konsep matematika dan meningkatkan keterampilan proses berfikir ilmiah peserta didik.

Berbeda halnya dengan model pembelajaran discovery lerning yang hanya menekankan pada siswa untuk melakukan penemuan tanpa disertai dengan penyelidikan suatu permasalahan. Hal ini kurang cocok diterapkan pada materi perpajakan yang mengandung konsep-konsep matematika. Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung sebagain siswa terlihat bingung dan kurang paham dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Akibatnya, masih banyak siswa yang bergantung pada teman sekelompoknya, sehingga hanya beberapa anak yang bekerja dan yang lainnya hanya menerima hasilnya. Hal ini didukung oleh beberapa penelitian terdahulu diantaranya adalah dari Putrie (2015:110) penggunaan model pembelajaran Guided Inquiry lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran Guided Discovery Learning dalam meningkatkan hasil belajar aspek kognitif dan afektif siswa.

Berdasarkan uji t diketahui bahwa kedua kelas sampel memiliki rata-rata skor post-test yang berbeda karena sudah di beri perlakuan terhadap kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada model pembelajaran discovery learning pada siswa SMA Negeri 1 Muaro Jambi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diuraikan pada bab sebelumnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil belajar siswa kelas 11 SMA Negeri 1 Muaro jambi yang diajar dengan model pembelajaran inquiry learning (kelas eksperimen 1) dan discovery learning (kelas eksperimen 2) memperoleh hasil yang cukup baik. Berdasarkan hasil pretest kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 diperoleh rata-rata hasil belajar siswa yaitu 30,712 dan 30,724. Hasil tersebut cukup rendah dikarenakan siswa sama sekali belum mempelajari materi yang diajarkan. Setelah diberikan perlakuan, diperoleh hasil postest kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 diperoleh rata-rata hasil belajar siswa yaitu 70,379 dan 63,138. Dari hasil pre-test dan pos-test diketahui bahwa kedua kelas memiliki rata-rata yang berbeda.

2. Dari hasil pengujian hipotesis dengan uji t data posttes kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 diperoleh thitung > ttabel yaitu 2,480 > 2,000 berarti Ha diterima dan H0 ditolak. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry learning lebih tinggi dari pada model pembelajaran discovery learning pada siswa SMA Negeri 1 Muaro Jambi.

SARAN

Dari hasil penelitian yang penulis peroleh, maka penulis mengemukakan beberapa saran yang sekiranya dapat memberikan masukan untuk peningkatan hasil belajar ekonomi yaitu sebagai berikut:

1. Kepada guru, terutama guru Mata Pelajaran Ekonomi sebaiknya dalam melakukan pengajaran menggunakan model pembelajaran inquiry learning khususnya untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada materi perpajakan.

2. Kepada peneliti lain yang tertarik dan berminat melakukan penelitian ini, diharapkan

dapat mengembangkan pada aspek hasil belajar afektif dan psikomotorik serta pada

materi pelajaran yang lain.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zaenal. 2016. Model-Model, Media, dan Strategi Pembelajaran.Konteksual (inovatif).

Bandung:Yrama Widya

Arikunto,Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan (metode dan paradigma baru). Bandung: PT Remaja Rosdakarya

. 2014. Evaluasi Pembelajaran (Prinsip, Teknik, Prosedur). Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Aururrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: ALFABETA

Baharuddin & Wahyuni, E.N. 2015. Teori Belajar & Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Dimyati dan Mudjiono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Fathurrohman,M. 2015. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Furchan, Arief. 2011. Pengantar penelitian dalam pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Gani, Irwan dan Amalia, Siti. 2015. Alat Analisis Data: Aplikasi Statistik untuk. Penelitian

Bidang Ekonomi dan Sosial. Yogyakarta: PT. Andi Offset

Geminastiti.,Kinanti & Nurlita N.2013.Buku Siswa Ekonomi Peminatan Kelas X. Yogyakarta:

Bandung: Yrama Widya

Hamalik, Oemar. 2013. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hasan.,M.2012.Pokok-pokok materi statistik 2 (statistik inferensif).Jakarta:PT Bumi Aksara Http://Puspendik.kemendikbud.2017/Hasil_Un Diakses tanggal 24 Oktober 2017

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor:Ghalia Indonesia

Kosasih, E. 2014. Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013.Bandung: Yrama Widya

Lestiani, Yeti,2015, Studi komparasi hasil belajar sejarah Antara model pembelajaran inquiry dan discovery pada Siswa kelas xi ips di sma islam sultan agung 1 semarang Tahun ajaran 2014/2015, Skripsi, Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Nyonita,Tyas., dkk. 2014. Study Komparasi Hasil Belajar Biologi dengan Penerapan Model

Pembelajaran Inquiry Based Learning (IBL) dan Problem Based Learning (PBL) pada

Siswa Kelas X SMA Negeri 5 Surakarta Tahun Pelajaran 2013/2014. Jurnal BIO-

PEDAGOGI. Vol. 3. No. 02. Hal 21-30

(13)

Putrie, i. R., dkk,2015.Perbandingan model guided discovery learning dengan guided inquiry terhadap hasil belajar siswa. Jurnal Online:Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lampung, Hal: 101

Prambudi.2010. Kelemahan Pembelajaran Inkuiri (online): http:// zifararaca .blogspot. co .id /2012/07/ inkuiri – terbimbing . html (diakses pada 16 November 2017)

Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sahrul, Runika. 2009.Macam-Macam Model Pembelajaran Inkuiri. (Online).

(http://sahrulgmail.blogspot.com. Diakses 16 November 2017)

Sagala, S. 2013. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV. Alfabeta

Slameto. 2015. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta Siregar.,Syofian.2013.Metode Penelitian Kuantitatif.Jakarta:Kencana Prenada Media Group Siregar.,Yulia.,I & Listiadi.,A. 2015. Studi komparasi hasil belajar siswa yang menggunakan

model pembelajaran problem based learning dengan discovery learning pada mata pelajaran akuntansi di smk negeri 2 nganjuk. Jurnal Pendidikan Akuntansi. Vol 03. No 03: Hal 1-6

Sudjana, Nana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito

.2014. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Renaja Rosdakarya.

Sukardi. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Supardi.2014.Aplikasi Statistika dalam Penelitian (Konsep Statistika yang Lebih Komprehensif). Jakarta:Change Publication

Suprihatiningrum, Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: AR- RUZZ MEDIA

Suprijono, Agus. 2015.Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Suyitno. 2009. Pembelajaran inovatif. Musmedia Buana Pustaka: Sidoarjo

Suyono dan Hariyanto. 2016. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Syah, Muhibbin. 2013. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajagravindo Persada.

(14)

Tambunan, Bulan,2016, Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas XI di SMA Negeri 10 Medan Tahun Pembelajran 2015/2016, Skripsi, Universitas Negeri Medan, Medan.

Trianto.2011.Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta.Bumi Aksara

Uno, Hamzah dan Nurdin Mohamad. 2014. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta:

Bumi Aksara

Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Nasional Wulandari,2015, Implementasi model discovery learning dengan pendekatan saintifik untuk

meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar siswa mata pelajaran

ekonomi kelas XI IIS 1 SMA Negeri 6 Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal

Online: Pendidikan Ekonomi, FKIP, Univesitas Sebelas Maret, Hal:1

Gambar

Tabel 4.17 nilai

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu model pembelajaran inovatif yang dipercaya menjadi salah satu model ideal untuk mengembangkan kecerdasan spiritual dan emosional adalah model siklus

Farmakope Herbal Indonesia Edisi I, Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. ‘Pengaruh ekstrak beberapa tanaman antidisentri dan antidiare terhadap

Sediaan B adalah tablet yang mengandung jumlah koloni bakteri &gt; 50 juta CFU atau 5 x 10 7 CFU/tablet dengan berat tiap tablet adalah 250 mg karena tablet yang

Pada penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh signifikan ekstrak buah jambu biji merah ( Psidium guajava ) terhadap morfologi spermatozoa mencit ( Mus musculus )

Based on the results of a study of 18 patients with diabetes mellitus and the use of oral hypoglycemic drugs, showed that of the 8 domains tested, provision of drug information does

Hasil perhitungan RAB saluran tanah berbentuk trapesium dapat dilihat pada Tabel 6 dan hasil gambar teknik saluran tanah berbentuk trapesium yang telah

Serangkaian kinerja sistem yang dilakukan di dalam form Kecamatan dapat di lihat pada state berikut, dimulai dari admin mengklik menu kecamatan kemudian admin

o SBK Riset Terapan Bidang Fokus Sosial Humaniora, Seni Budaya, Pendidikan Penelitian Lapangan Luar Negeri. 1