• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

Sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan, atas dasar Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 maka Presiden berhak membentuk beberapa lembaga-lembaga pemerintahan untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu. Pasal 17 ayat (1) UUD Tahun 1945 menyatakan, Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara. Meskipun demikian, dalam perkembangan yang terjadi, di samping lembaga dengan kualifikasi kementerian, juga terdapat lembaga-lembaga pemerintahan bukan kementerian seperti badan, komisi, dan dewan. Lembaga-lembaga ini menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan yang membutuhkan koordinasi dan supervisi lintas bidang dengan jangkauan yang semakin khusus. Demikian, untuk memberikan layanan dan dukungan kepada Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan, dibentuk unit-unit kerja yang berada dalam lingkup dan tanggung jawab langsung kepada kepala pemerintahan dan kepala negara.

Salah satu unit kerja tersebut adalah Sekretariat Kabinet dan Kantor Staf Presiden. Sekretariat Kabinet dengan dasar hukumnya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, dan Kantor Staf Presiden dengan dasar hukumnya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2015 tentang Kantor Staf Presiden. Pada intinya, Sekretariat Kabinet adalah lembaga di lingkungan pemerintahan yang memberikan layanan dan dukungan administrasi serta kelancaran tugas-tugas kabinet terhadap Presiden selaku kepala pemerintahan. Sekretariat Kabinet dipimpin oleh seorang Sekretaris Kabinet yang diberi kedudukan administratif dan protokoler setingkat menteri.

(2)

dihilangkan sejak Presiden Soeharto memegang kendali pemerintahan melalui pembentukan Kabinet Ampera. Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 177 Tahun 1966 tentang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional, Presiden Soeharto membentuk Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional sebagai suatu badan yang membantu pemerintah dalam menetapkan kebijaksanaan dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan dalam bidang ekonomi dalam rangka meningkatkan dan memelihara stabilitas ekonomi. Dalam pelaksanaan tugasnya, Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional dibantu oleh sekretaris, yang dijabat oleh Sudharmono. Pada tahun 1968, Sudharmono diberikan jabatan rangkap sebagai Sekretaris Kabinet. Dengan demikian, sejak 1968 untuk pertama jabatan tersebut dihidupkan kembali.

Sejak 1972, Sudharmono diberi kepercayaan menjadi Sekretaris Negara dan sejak 8 April 1972, posisi Sekretaris Negara menjadi menteri, sehingga penyebutannya menjadi Menteri/Sekretaris Negara. Dengan jabatan itu, Sudharmono merangkap sebagai Sekretaris Kabinet. Melalui Kabinet Pembangunan IV (22 Maret 1983-29 Maret 1988), jabatan Sekretaris Kabinet diintegrasikan kabinet dengan menjadi menteri muda, sehingga penyebutan resmi menjadi Menteri Muda Sekretaris Kabinet. Dalam Kabinet Pembangunan V (29 Maret 1988-17 Maret 1993), jabatan menteri muda ini dipertahankan, akan tetapi dalam Kabinet Pembangunan VI (17 Maret 1993-14 Maret 1998) dihapus dan diubah menjadi Menteri Negara Sekretaris Kabinet. Dalam kabinet terakhir Presiden Soeharto, Kabinet Pembangunan VII (14 Maret 1998-21 Mei 1998), jabatan Sekretaris Kabinet dilepaskan dari struktur kabinet dan kembali dirangkap oleh Menteri Sekretaris Negara.

(3)

Menteri Sekretaris Negara diperkenalkan kembali dan Sekretaris Kabinet diberi kedudukan setingkat menteri dan merupakan bagian dari kabinet. Keadaan berlanjut dalam Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo.

Sebuah fenomena baru dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2005 dan diubah dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 43A Tahun 2009 memperkenalkan jabatan staf khusus. Dalam hal ini, Staf Khusus Presiden adalah lembaga non struktural yang dibentuk untuk memperlancar pelaksanaan tugas Presiden Republik Indonesia, yang melaksanakan tugas tertentu di luar tugas-tugas yang sudah dicakup dalam susunan kementerian dan instansi pemerintah lainnya. Staf Khusus Presiden dapat berasal dari Pegawai Negeri Sipil (anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Polisi Republik Indonesia) atau bukan Pegawai Negeri Sipil. Masa bakti Staf Khusus Presiden paling lama sama dengan masa jabatan Presiden yang bersangkutan.

Dalam perkembangan selanjutnya, Presiden Joko Widodo mempertahankan staf khusus. Para staf yang pada awalnya dikoordinasikan oleh Sekretariat Kabinet, kemudian disatukan dalam kendali satu lingkungan jabatan baru, yaitu Kantor Staf Presiden yang dipimpin oleh seorang Kepala Staf Kepresidenan dengan kedudukan setingkat menteri dan menjadi bagian dari struktur kabinet.

(4)

Posisi Sekretaris Kabinet dan Kepala Staf Kepresidenan menarik untuk dicermati. Keduanya berada dalam lingkungan jabatan dengan karakteristik yang serupa dan menandakan kekuasaan dengan fungsi-fungsi yang melekat kepada kedudukan Presiden. Oleh sebab itu, perlu untuk dilakukan penelitian diferensiasi dan analisis kewenangan masing-masing lingkungan jabatan tersebut dalam sistem ketatanegaraan.

Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, penulis ingin mengkaji lebih dalam terkait keberadaan Sekretariat Kabinet dan Kantor Staf Presiden, khususnya terkait kedudukan dan wewenang yang dimiliki kedua lembaga tersebut dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Oleh karena itu penulis merumuskan penelitian dengan judul “TINJAUAN TERHADAP KEDUDUKAN DAN WEWENANG SEKRETARIAT KABINET DAN KANTOR STAF PRESDIEN DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka penulis mengemukakan pokok permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana kedudukan dan wewenang Sekretariat Kabinet dan Kantor Staf Presiden dalam sistem ketatanegaraan Indonesia ?

2. Apakah terjadi duplikasi wewenang antara Sekretariat Kabinet dan Kantor Staf Presiden ?

C. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian memiliki tujuan yang jelas sehingga dapat memberikan arah dalam pelaksanaan penelitian. Terdapat dua macam tujuan dalam penelitian, yaitu tujuan objektif dan tujuan subjektif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tujuan Objektif

(5)

ketatanegaraan Indonesia, serta untuk menganalisis duplikasi wewenang antara Sekretariat Kabinet dan Kantor Staf Presiden.

2. Tujuan Subjektif

a. Untuk memperoleh data dan informasi sebagai bahan penulisan hukum guna memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

b. Untuk menambah, memperluas, dan mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan dalam bidang Hukum Tata Negara

c. Untuk menerapkan ilmu dan teori hukum yang telah penulis peroleh dan pelajari selama masa perkuliahan disertai cara berpikir yang kritis, agar dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri dan masyarakat.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi pengetahuan terutama ilmu hukum baik secara teoritis maupun praktis.Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan sumbangan pemikiran sebagai kontribusi pengetahuan yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu hukum pada umumnya dan Hukum Tata Negara pada khususnya.

b. Memperkaya referensi dan literatur dalam kepustakaan Hukum Tata Negara tentang kedudukan dan wewenang lembaga negara di Indonesia. 2. Manfaat Praktis

a. Menjadi sarana penulis untuk mengembangkan penalaran dan pola pikir ilmiah sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.

(6)

E. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian hukum ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Penulis menggunakan penelitian hukum doktrinal. Penelitian hukum doktrinal merupakan suatu prosedural penelitian ilmiah untuk menemukan fakta berdasarkan keilmuan hukum dari sisi normatifnya (Peter Mahmud Marzuki, 2014:41). Penelitian hukum ini mengkaji mengenai kedudukan lembaga pemerintah, khususnya Sekretariat Kabinet dan Kantor Staf Presiden dengan norma hukum yang ada, baik dalam konstitusi maupun peraturan perundang-undangan yang ada. Selain itu juga mengkaji mengenai kewenangan kedua lembaga tersebut apakah terjadi duplikasi dalam menjalankan tugas pemerintahan. Kemudian dilakukan analisis dan deskripsi terkait permasalahan dalam norma hukum yang berkaitan dengan kedudukan dan kewenangan lembaga pemerintahan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

2. Sifat Penelitian

Penelitian hukum ini bersifat preskriptif. Penelitian hukum preskiptif bertujuan memberikan preskipsi mengenai apa yang harus dilakukan, bukan membuktikan kebenaran hipotesis (Peter Mahmud Marzuki, 2014:41). Sifat preskriptif dari penelitian ini yaitu penulis menganalisis pengaturan, konsep, dan problematika hukum dari kedudukan dan wewenang yang dimiliki oleh Sekretariat Kabinet dan Kantor Staf Presiden dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

3. Pendekatan Penelitian

(7)

lembaga tersebut. Pendekatan konseptual dilakukan untuk mengkaji penelitian yang tidak beranjak dari aturan hukum yang berlaku. Dalam hal ini mengkaji doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum.

4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum

Bahan hukum yang penulis gunakan adalah jenis bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

a. Bahan hukum primer

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang

Sekretariat Kabinet;

3) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2015 tentang Kantor Staf Presiden;

4) Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional;

5) Peraturan Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Organisasi dan tata Kerja Sekretariat Kabinet;

6) Peraturan Kepala Staf Kepresidenan Nomor 1 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Staf Presiden.

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder, yaitu semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi, yang meliputi :

1) Buku-buku teks; 2) Kamus-kamus hukum; 3) Jurnal-jurnal hukum;

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

(8)

jurnal, dan artikel hukum terkait kedudukan dan kewenangan lembaga pemerintahan tersebut.

F. Sistematika Penulisan Hukum

Sistematika penulisan hukum ini memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai bahasan yang dikaji oleh penulis. Dalam sistematika penulisan hukum ini terdiri dari 4 (empat) bab. Selain itu, sistematika penulisan ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan pembahasan, menganalisa, serta penjabaran isi dari penelitian yang dimaksud. Sistematika penulisan hukum tersebut diuraikan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis memaparkan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika pemulisan hukum.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini penulis memberikan penjelasan secara teoritik yang bersumber dari bahan hukum yang digunakan penulis dan doktrin ilmu hukum yang dianut secara universal mengenai persoalan yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti penulis. Kerangka teori tersebut meliputi teori tentang tinjauan sistem ketatanegaraan Indonesia, dan tinjauan lembaga negara. Selain itu, untuk mempermudah pemahaman alur berpikir penulis, pada bab ini juga disertakan kerangka pemikiran penulis dala penelitian ini.

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

(9)

mengenai kedudukan dan wewenang Sekretariat Kabinet dan Kantor Staf Kabinet serta permasalahan yang terjadi terkait kedudukan dan wewenang kedua lembaga tersebut. Kemudian dari jawaban tersebut, penulis memberikan suatu gagasan konseptual sebagai solusi konkrit dari permasalahan guna mewujudkan efektifitas fungsi lembaga negara kepresidenan.

BAB IV : PENUTUP

Pada bab ini penulis menguraikan kesimpulan yang diperoleh berdasarkan keseluruhan hasil pembahasan selama proses penelitian dilaksanakan, dan saran atau rekomendasi yang penulis kemukakan kepada para pihak yang terkait dengan penulisan hukum.

Referensi

Dokumen terkait

9 Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 4891.. يزوتلا غ ةلملجا بُ رصانعلا ليدبت ناكمإ وى عيزوتلا نم ضرغلا

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

informasi tentang jenis dan berbagai motif batik store nusantara, dapat melakukan pemesanan batik secara online dengan mendaftarkan data diri pelanggan dan mengisi form

Penelitian Muh Muslim (2002) berjudul “Penggunaan Diksi dalam Rubrik Konsultasi Masalah Seks di Majalah Aneka Yess! Asuhan dr. Keunikan penilitian ini disimpulkan bahwa

Dengan demikian adanya beban pembuktian terbalik ini, maka masalah beban pembuktian tidak merupakan hala- ngan bagi penderita atau pencinta lingku- ngan

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk