EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PENINGKATAN PENGHIDUPAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (PPMK) DALAM PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN DI KELURAHAN KARANG BEROMBAK KECAMATAN MEDAN BARAT
TESIS
OLEH:
MAYA PUTRI KIRANA 127024031/SP
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PENINGKATAN PENGHIDUPAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (PPMK) DALAM PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN DI KELURAHAN KARANG BEROMBAK KECAMATAN MEDAN BARAT
TESIS
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan (MSP) Program Studi Magister Studi Pembangunan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh
MAYA PUTRI KIRANA 127024031/SP
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
Judul Tesis : Efektivitas Pelaksanaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat
Nama Mahasiswa : Maya Putri Kirana Nomor Pokok : 127024031
Program Studi : Studi Pembangunan Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Subhilhar, MA.Ph.D) Ketua
(Drs. Bengkel Ginting, Msi) Anggota
Ketua Program Studi Dekan
(Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA (Prof. Dr. Badaruddin, M.Si)
Tanggal Lulus : 14 Agustus 2015
Telah diuji pada
Tanggal 14 Agustus 2015
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Subhilhar, MA. Ph.D Anggota : 1. Drs. Bengkel Ginting, M.Si
2. Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA 3. Hatta Ridho, S.Sos, MSP
4. Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si
PERNYATAAN
EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PENINGKATAN PENGHIDUPAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (PPMK) DALAM PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN DI KELURAHAN KARANG BEROMBAK KECAMATAN MEDAN BARAT
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Oktober 2015
Penulis
Maya Putri Kirana
EKTIVITAS PELAKSANAAN PENINGKATAN PENGHIDUPAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (PPMK) PADA PROGRAM
NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN DI KELURAHAN KARANG BEROMBAK
KECAMATAN MEDAN BARAT
ABSTRAK
Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) merupakan salah satu pengembangan konsep tridaya yang bertujuan untuk mengatasi persoalan kemiskinan melalui pemberian pinjaman mikro kepada masyarakat yang memiliki usaha produktif atau usaha yang mempunyai potensi untuk berkembang. Pemberian pinjaman ini diharapkan dapat meningkatkan penghidupan masyarakat miskin dan serta menumbuhkan partisipasi dan modal sosial di masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan kegiatan PPMK, serta faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan PPMK di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat. Efektivitas pelaksanaan PPMK ditentukan dari pencapaian aspek kualitas, kuantitas, dampak, dan waktu. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ini yaitu di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang menerima dana PPMK, Unit Pengelola Keuangan (UPK), Badan Keswadayaan Mayarakat (BKM), dan fasilitator. sedangkan informan pendukungnya adalah masyarakat sekitar. Hasil dari penelitian yang dilakukan tentang Efektivitas Pelaksanaan PPMK di Kelurahan Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat dapat dikatakan cukup efektif, meskipun dalam pelaksanaannya masih terdapat kekurangan. Kekurangan tersebut yaitu dari segi kualitas dimana pelaksanaan sosialisasi berjalan kurang maksimal; dan dari segi kuantitas dimana pemberian modal yang tidak sesuai dengan aturan pelaksanaan kegiatan dimana seharusnya modal yang diberikan harus berdasarakan kebutuhan dan kemampuan anggota KSM dalam mengembalikan pinjaman. Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan kegiatan PPMK yaitu sumber daya manusia, komunikasi, kesadaran masyarakat, dan monitoring.
Kata Kunci : Efektivitas, Modal Sosial dan PPMK
THE EFFECTIVENESS SOCIETY LIVELIHOOD IMPROVEMENT BASED COMMUNITY (PPMK) IN THE NATIONAL PROGRAM OF URBAN SELF
EMPOWERMENT (PNPM MANDIRI PERKOTAAN) IN THE KARANG BEROMBAK VILLAGE SUBDISTRICT MEDAN BARAT
ABSTRACT
Society Livelihood Improvement Based Community (PPMK) is one of the Tridaya concept development which aim to overcome the poverty through the giving of micro-loans to the people who have the productive business or the business that has the potential to develop. This lending is expected to improve the livelihood of the poor societyand to foster participation and social capital in the community. Because the existing program has been less attention to the factors of social capital in the community such as collaboration, honest and transparency.
Therefore this research aims to know the effectiveness and the factors that influence of the implementation of PPMK in Karang Berombak village subdistrict Medan Barat. The effectiveness of the implementation of PPMK is determined from the achievement of the aspects: quality, impact, and time.This research conducted by the descriptive qualitative approach. The location of this research is in Karang Berombak village subdistrict Medan Barat. The techniques of data are self-help groups (KSM) who receives the fund of PPMK, financial management unit (UPK), community self-supproting body (BKM), and facilitator. While the informant supporters are the local communities. The results of the research conducted on the Effectiveness of the Implementation of PPMK in Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat can be quite effective, although in practice there is still the deficiency. The deficiencies are in terms of the socialization quality which runs less than the maximum; and in terms of quantity, where the giving of the fund which is not in accordance with the rules of the activity implementation where the fund must be given based on the needs and abilities of KSM members to refund the loan. Some of the factors that influence the effectiveness of the implementation of PPMK are human resources, communication, public awareness, and monitoring. Human resources are the important factor in the activity implementation, where the resources here can be divided into the resources of the activity implementation that is BKM and human resources who involved in the activity that is KSM. Furthermore, communication and public awareness are also become the factor to create the public participation in a program. And every activity can’t be separated from monitoring (supervision). This is done to minimize the occurrence of deviations so that all activities can be accomplished according to the plan and the objective of the activity.
Key Words: Effectiveness, Social Capital and PPMK
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, Penulis banyak memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Subhilhar, MA, Ph.D selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara dan sekaligus ketua komisi pembimbing yang telah bersedia menyediakan waktu untuk membimbing penulis serta memberi dukungan dalam menyelesaikan tesis ini.
2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA selaku Ketua Program Studi Pembangunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Bengkel Ginting, M.Si yang juga merupakan komisi pembimbing juga telah bersedia menyediakan waktu dan tenaga untuk membimbing penulis serta memberi dukungan dalam menyelesaikan tesis ini.
5. Seluruh Bapak/Ibu Dosen dan Pegawai Program Studi Pembangunan untuk segala ilmu pengetahuan, bimbingan, motivasi, informasi yang diberikan, dan jasa-jasanya sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan ini dengan baik.
6. Bapak Harun selaku Koordinator BKM Rose di Kelurahan Karang Berombak yang telah memberikan saya izin penelitian di Kelurahan tersebut.
7. Kak Nora selaku UPK di BKM Rose yang telah memberikan saya penjelasan tentang kegiatan PPMK di Kelurahan tersebut.
8. Teristimewa untuk Almarhum Ayahanda Drs. Azwir dan mama tercinta Wilvarina yang telah mendidik, memberikan motivasi, bantuan moril maupun materil selama perkuliahan hingga sampai tahap penyelesaian tesis ini. Semua usaha yang kalian lakukan untuk Maya sampai saat ini insyaallah tidak akan Maya sia-siakan. Terima kasih untuk semua do’a yang papa dan mama panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa mengiringi langkah anakmu ini. Maafkanlah anakmu ini yang tidak mampu untuk membalas semua kebaikan yang mama dan papa berikan kepada Maya.
9. Untuk adik-adikku M. Isvan dan M. Rafiq Akbar terima kasih buat dukungan dan semangat dan selalu memberikan keceriaan di saat Kakak jenuh untuk mengerjakan tesis ini...dan tak lupa untuk nenek juga yang selalu mendoakan cucumu ini.
10. Buat kakak-kakak dan abang-abang di tempat kerjaku Koorkot I Medan PNPM Mandiri Perkotaan, buat Korkot Bapak M. Ridho yang telah
memberikan saya dispensasi untuk bisa tetap melanjutkan kuliah walaupun sambil bekerja, buat Kak Dila yang memberikan saran-saran dalam pengerjaan tesis Maya, buat Kak Nimi, Pak Arsal, dan semuanya yang ga bisa Maya sebutin satu-satu. Makasih ya buat dukungannya selama ini.
11. Untuk sahabat-sahabatku di MSP Vina, Kak Tiwi, Grace, Kak Halimah terima kasih selalu ada buat Maya....Dan untuk teman-teman seperjuangan MSP angkatan 26 yang selalu memotivasi satu sama lain untuk bisa menyelesaikan tesis ini, sukses untuk kita semua. Amin...
12. Seluruh responden yang telah menyediakan waktunya dan membantu Penulis menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaatkepadaseluruh pembaca. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Medan, Juli 2015 Penulis
Maya Putri Kirana
RIWAYAT HIDUP
I. Identitas Pribadi
Nama : Maya Putri Kirana Tempat/Tgl Lahir : Medan/ 11 Maret 1990
Alamat : Jl. Bilal Ujung Gg Srikandi 1 No 255 c Agama : Islam
II. Orang Tua
Ayah : Drs Azwir Ibu : Wilvarina
Saudara Kandung : Muhammad Isvan M. Rafiq Akbar
III. Riwayat Pendidikan
SDN Center 060870 Medan (1996-2002) SMP Negeri 11 Medan (2002-2005) SMA Negeri 3 Medan (2005-2008)
Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial (2008-2012)
IV. Riwayat Pekerjaan :
Fasilitator Kelurahan Community Development PNPM Mandiri Perkotaan (2014s/d sekarang)
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 11
1.3 Tujuan Penelitian ... 12
1.4 Manfaat Penelitian ... 12
1.5 Sistematika Penulisan... 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 14
2.1 Hasil Penelitian Terdahulu ... 14
2.2 Efektivitas ... 16
2.2.1 Pengertian Efektivitas ... 16
2.1.2 Kriteria Efektivitas Organisasi ... 19
2.3 Pengembangan Komunitas (Community Development) ... 20
2.4 Pemberdayaan Masyarakat... 23
2.5 Partisipasi Masyarakat... ... 28
2.6 Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan... 30
2.7 Pemberdayaan Ekonomi Rakyat ... 37
2.8 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan ………40
2.8.1 Pengertian PNPM Mandiri Perkotaan ... 40
2.8.2 Dasar Hukum ... 42
2.8.3 Tujuan PNPM ... 42
2.8.4 Sasaran PNPM ... 42
2.8.5 Prinsip PNPM ... 43
2.9 Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas .... 45
2.9.1 Pengertian PPMK ... 45
2.9.2 Tujuan PPMK ... 47
2.9.3 Prinsip Dasar ... 47
2.9.4 Keluaran yang Diharapkan dari PPMK ... 48
2.9.5 Strategi PPMK ... 48
2.10 Defenisi Konsep ... 50
BAB III METODE PENELITIAN ... 53
3.1 Jenis Penelitian ... 53
3.2 Lokasi Penelitian ... 53
3.3 Informan Penelitian ... 54
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 54
3.5 Teknik Analisis Data ... 55
BAB IV Hasil dan Pembahasan ... 56
4.1 Kondisi Geografis Kelurahan Karang Berombak ... 56
4.2 Kondisi Demografis Kelurahan Karang Berombak ... 57
4.3 Permasalahan Kemiskinan dan Potensi ... 60
4.4 PPMK di Kelurahan Karang Berombak ... 64
4.5 Efektivitas Pelaksanaan PPMK PNPM Mandiri Perkotaan ... 68
4.5.1 Tingkat Kualitas Pelaksanaan PPMK ... 68
4.5.2 Tingkat Kuantitas Pelaksanaan PPMK... ... 80
4.5.3 Dampak Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas.... ... 86
4.5.4 Efektivitas PPMK dari Segi Waktu... 92
4.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pelaksanaan PPMK pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan ... 93
BAB V PENUTUP ... 100
5.1 Kesimpulan ... 100
5.2 Saran ... 102
DAFTAR PUSTAKA ... 104
DAFTAR TABEL
No Judul Hal
4.1 Komposisi Warga Kelurahan Karang Berombak Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kewarganegaraan ... 57 4.2 Komposisi Warga Kelurahan Karang Berombak Berdasarkan Usia 58 4.3 Komposisi Warga Kelurahan Karang Berombak Berdasarkan
Agama………59 4.4 Sarana dan Prasarana di Kelurahan Karang Berombak ... 60 4.5 Daftar KSM, Nama Anggota KSM, Usaha yang Dikelola, Jumlah
Pinjaman yang Diperoleh, serta Tahun Menerima Dana PPMK ... 66
LAMPIRAN
1. Pedoman wawancara terhadap KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) 2. Pedoman wawancara terhadap BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) 3. Pedoman wawancara terhadap UPK (Unit Pengelola Keuangan)
4. Pedoman wawancara terhadap Fasilitator 5. Dokumentasi
6. Surat Balasan Persetujuan Riset dari Koordinator Kota-1 PNPM Mandiri Perkotaan
7. Surat Balasan dari Lurah Karang Berombak Kecamatan Medan Barat
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu masalah yang sering dihadapi negara-negara maju maupun berkembang adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan biasanya disebabkan karena sulitnya masyarakat untuk mendapatkan akses kepada sumber penghidupannya.
Kemiskinan juga dipahami sebagian besar masyarakat sebagai rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat, padahal kemiskinan merupakan hal yang sangat kompleks dan multidimensi. Tingkat pendapatan masyarakat seringkali dijadikan indikator kemiskinan. Biasanya yang sering menanggung beban kemiskinan paling besar terdapat pada kelompok-kelompok tertentu. Kelompok perempuan biasanya merupakan pihak yang dirugikan, hal ini karena para perempuanlah yang menanggung beban hidup dibandingkan laki-laki. Di Indonesia sendiri kemiskinan masih merupakan masalah terberat yang harus dihadapi. Pada pasal 27 ayat 2 UUD 1945 disebutkan ’’Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak”. Hal ini menunjukkan bahwa negara bertanggung jawab atas atas segala bentuk kemiskinan yang membelit kehidupan rakyat. Tetapi mengubah kemiskinan bukan lah semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses untuk dapat mengurangi angka kemiskinan salah satunya adalah dengan memberi “umpan”.
Upaya untuk mengatasi masalah kemiskinan haruslah memberikan kesempatan bagi masyarakat miskin untuk dapat bangkit dari masalah yang
dihadapinya. Seringkali upaya untuk mengatasi kemiskinan hanya menguntungkan beberapa
pihak saja, tidak secara menyeluruh. Terkadang pembangunan yang dilakukan justru membuat bertambahnya penduduk miskin. Hubungan lain antara pembangunan dengan gejala kemiskinan adalah terciptanya orang miskin baru oleh implementasi pembangunan proyek-proyek besar. Lapisan masyarakat dan kelompok masyarakat yang tergusur oleh realisasi pembangunan proyek-proyek besar dapat jatuh miskin secara berangsur-angsur ataupun secara langsung jika kompensasi yang diberikan tidak memadai atau tidak mengembangkan mata pencaharian. Pembangunan saat ini kurang memperhatikan aspek kemasyarakatan dan kemanusiaan, selain itu pembangunan yang terjadi pada saat ini hanya memberikan prioritas pada pemenuhan fisik dan ekonomis. Distribusi pembangunan yang tidak adil juga merupakan salah satu penyebab terjadinya kemiskinan. Menurut Susanto, pembangunan masyarakat dapat dilihat dari perubahan dalam masyarakat yang dapat berdampak kemajuan (progres) maupun kemunduruan (regress), maka perubahan dalam pembangunan diharapkan berdampak kemajuan. Salah satu yang dapat kita jadikan indikator dalam melihat pembangunan tersebut, apabila terjadi peningkatan dalam taraf hidup atau kesejahteraan masyarakat (Soetomo, 2008:14).
Indikator yang sering menjadi ukuran dalam menilai suatu kesejahteraan masyarakat adalah apakah perubahan tersebut berdampak pada terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Hal itu dapat dinilai dari tingkat pendapatan yang mereka terima atau tidak dimilikinya mata pencaharian yang cukup untuk tempat bergantung hidup. Hal ini dilihat dari sisi ekonominya saja. Pendapat seperti ini
untuk sebagian mungkin benar, tetapi kurang mencerminkan kondisi riil yang sebenarnya dihadapi keluarga miskin. Padahal kemiskinan adalah lebih dari itu tidak hanya menyangkut tentang pendapatan yang diperoleh oleh keluarga miskin, tetapi lebih menyangkut kepada bagaimana keluarga miskin untuk melangsungkan dan mengembangkan kegiatan perekonomian dalam upaya meningkatkan taraf hidupanya.
Salah satu faktor penyebab kemiskinan adalah mereka lemah dalam berusaha dan juga karena terbatasnya akses kepada kegiatan ekonomi, akibatnya mereka semakin tertinggal jauh dari masyarakat lain yang memiliki potensi lebih tinggi. Rumah tangga miskin umumnya tidak banyak berdaya, ruang geraknya terbatas, dan cenderung kesulitan untuk terserap dalam sektor-sektor yang memungkinkan mereka dapat mengembangkan usahanya. Untuk itu perlu dilakukan upaya pemberdayaan dengan cara mengembangkan jaringan dan pranata sosial di lingkungannya. Salah satunya adalah dengan pemerintah membuat suatu program-program pembangunan yang pro-rakyat.
Program-program pembangunan dibuat untuk dapat mengurangi angka kemiskinan di masyarakat. Namun, program pembangunan yang telah dibuat belum menunjukkan hasil yang optimal. Berbagai program kemiskinan yang terdahulu bersifat parsial yang artinya adalah program yang dibuat oleh pemerintah tidak secara keseluruhan memberantas kemiskinan, selain itu program kemiskinan tersebut bersifat sektoral, dan charity. Dalam kenyataannya program yang dibuat oleh pemerintah sering kali menghasilkan kondisi yang kurang menguntungkan bagi masyarakat misalnya, hal yang sering terjadi adalah salah sasaran, terciptanya benih-benih fragmentasi sosial, dan melemahkan kapital
sosial yang ada di masyarakat seperti gotong-royong, kepedulian, musyawarah, keswadayaan dll.(Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan,2010 : 4)
Rendahnya social capital (modal sosial) pada gilirannya juga akan mendorong pergeseran perilaku masyarakat yang semakin jauh dari semangat kemandirian kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalan kemiskinan mereka. Kondisi modal sosial masyarakat yang melemah serta mundur tersebut salah satunya disebabkan oleh keputusan, kebijakan dan tindakan dari para pemangku kepentingan yang selama ini cenderung tidak adil, tidak transparan dan tidak memiliki tanggung jawab Oleh karena itu dibutuhkan suatu program pembangunan yang dapat meningkatkan modal sosial di masyarakat. Berbagai program ataupun proyek pembangunan dibuat diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Seperti di Pakistan, terdapat sebuah lembaga yang dinamakan Pakistan Poverty Alleviation Fund (PPAF), dimana lembaga tersebut didanai Bank Dunia melalui International Development Agency (IDA) pada tahun 2000 sampai akhir Desember 2013, telah menyalurkan dana sekitar US$885.000.000 untuk 120 Organisasi Mitra di seluruh Negara. Tujuan pembangunan PPAF adalah untuk memberdayakan masyarakat miskin yang ditargetkan dapat meningkatkan pendapatan, meningkatnya kapasitas produksi, dan adanya akses layanan untuk mencapai kehidupan yang berkelanjutan. Sejak dimulainya Pakistan Poverty Alleviation Fund Ketiga (PPAF III) pada bulan Juli 2009 sekitar 10 juta orang yang rentan dan terpinggirkan mendapat manfaat dari intervensi program ini, dengan lebih dari setengah dari mereka adalah perempuan.
(http://www.worldbank.org/en/results/2014/04/11/pakistan-empowering-the- vulnerable-and-marginalized, diakses tgl 8/10/2014 pukul 19:35 wib)
Lain halnya di India, Bihar Rural Livelihoods Project (BRLP) atau masyarakat India menyebutnya dengan Jeevika yang didukung oleh Bank Dunia, merupakan sebuah proyek yang bertujuan untuk memobilisasi petani menjadi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan untuk memberdayakan mereka untuk mengambil aset, kredit, dan pelayanan sosial seperti makanan dan jaminan kesehatan. Mereka diberikan pinjaman untuk membebaskan tanah mereka dari rentenir lokal.
Pada saat mereka mengembalikan pinjaman mereka tidak dikenakan bunga yang tinggi. Setelah mereka mempunyai tanah sendiri mereka membuat lahan pertanian mereka, Berkat metode pertanian yang diperkenalkan dalam proyek ini, produktivitas dari tanah mereka sudah naik empat kali lipat dan menambah penghasilan mereka.
(http://www.worldbank.org/en/news/feature/2010/06/22/bihar-rural-livehoods- project-liberating-poor-debt-trap, diakses tanggal 10/10/2014 pukul 16.30 wib)
Tidak hanya di dua negara tersebut, di Indonesia juga mempunyai program yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sesuai Instruksi Presiden No. 3/2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan yaitu meliputi: (1) Program Pro Rakyat, (2) Keadilan untuk semua (Justice for All), (3) Pencapaian Tujuan Pembangunan Millennium (Millennium Development Goals/MDGs). Strategi yang ditetapkan Pemerintah dalam melakukan percepatan penanggulangan kemiskinan, yaitu dengan cara penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat, yang dikenal dengan P2KP. Program penanggulangan
Kemiskinian Perkotaan atau sering disebut P2KP dilaksanakan sejak tahun 1999 sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan.
Sejak tahun 2007 P2KP menjadi bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, hal ini dikarenakan perkembangan yang positif dari P2KP. Tahun 2008 secara penuh P2KP menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan), tujuan dari PNPM Mandiri Perkotaan ini adalah untuk mendukung upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan pencapaian sasaran Millenium Development Goals (MDGs) sehingga tercapai pengurangan penduduk miskin.
Adanya PNPM Mandiri Perkotaan sampai saat ini dapat memberikan stimulan pada masyarakat miskin khsususnya, untuk dapat berpartisipasi dalam menentukan kegiatan apa yang mereka butuhkan sehingga hal ini dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif dan membuat mayarakat lebih inovatif dalam mengusulkan kegiatan. Sehingga pada akhirnya program PNPM mampu mengangkat derajat daerah miskin berkat pengembangan infrastruktur, ekonomi dan sosial yang mampu menstimulasi pola pikir rakyat menjadi kreatif. Mereka sendiri yang berinisiatif mencari jalan ke luar pemecahan masalah (botom up participation). Banyak dari warga yang dulunya pengangguran menjadi mempunyai ketrampilan dan pekerjaan, tidak hanya bermanfaat untuk warga itu sendiri tetapi nantinya ketrampilan itu juga akan ditularkan kepada sesama warga.
Pada dasarnya PNPM Mandiri Perkotaan dilaksanakan dengan tujuan mencapai keberlanjutan perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin melalui pemberdayaan
masyarakat, yang dilaksanakan dengan menerapkan pendekatan pengokohan kelembagaan masyarakat di tingkat basis yang disebut dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).
BKM diharapkan mampu menjadi wadah bagi masyarakat miskin dalam menyuarakan aspirasi dan kebutuhannya, sekaligus menjadi penggerak upaya penanggulangan kemiskinan yang dijalankan oleh masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan. Intervensi PNPM Perkotaan yang dilakukan terdiri dari transformasi sosial masyarakat dari miskin menjadi berdaya, kemudian menuju mandiri dan pada akhirnya tercapai tatanan masyarakat Madani. Saat ini, PNPM Mandiri Perkotaan mampu membangun pondasi masyarakat berdaya melalui perubahan sikap/perilaku/cara pandang masyarakat yang bertumpu pada nilai-nilai universal.
Salah satu upaya yang dilakukan PNPM Mandiri Perkotaan untuk dapat mengurangi angka kemiskinan dimasyarakat adalah melalui pengembangan usaha ekonomi mikro. Dengan mengembangkan usaha, masyarakat memperoleh penghasilan yang mampu mendorong pemenuhan kebutuhan hidup bagi dirinya dan keluarga. Kendala yang terjadi dalam mengembangkan usaha mereka adalah kurangnya pengetahuan tentang kewirausahaan serta kendala mendapatkan modal.
Sebenarnya terdapat badan usaha permodalan yang dikelola negara maupun pihak swasta yang berbadan hukum, seperti bank dan koperasi, yang memberi peluang modal bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat, namun fakta menunjukkan bahwa masyarakat tetap mengalami kesulitan dalam memperoleh modal tersebut, khususnya bagi warga miskin. Kesulitan
memperoleh modal itu disebabkan kurangnya akses dan potensi yang dimiliki masyarakat, sehingga kelengkapan dan persyaratan yang mutlak tidak dapat terpenuhi, seperti agunan berupa dokumen, surat kepemilikan tanah, barang berharga dan lain-lain.
Kesulitan untuk memperoleh akses tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa tingkat kesejahteraan atau pendapatan masyarakat miskin tetap rendah. Oleh karena itu sebuah program dalam pelaksanaannya harus lebih memfokuskan pada penguatan kelembagaan dan pengembangan usaha dari masyarakat miskin. Selain penguatan kelembagaan, swakelola juga perlu dilakukan agar masyarakat lokal mendapat peluang yang seluas-luasnya untuk mengelola kegiatan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhannya, sehingga mereka dapat mengakses fasilitas yang dibuat untuk mereka.
Sejalan dengan kebijakan Tim Pengendali PNPM Mandiri Perkotaan, tahun 2012-2014 merupakan fase kemandirian, yang difokuskan pada upaya membangun kemandirian masyarakat. Salah satu strategi pada fase kemandirian adalah melaksanakan Peningkatan Penghidupan Masyarakat berbasis Komunitas (PPMK). Kegiatan PPMK merupakan salah satu pengembangan konsep Tridaya khususnya melalui peningkatan penghidupan warga miskin dan perempuan yang terhimpun dalam KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Intervensi program ini lebih ditekankan kepada pengembangan kegiatan-kegiatan produktif masyarakat yang secara langsung dapat meningkatkan penghidupan masyarakat miskin dengan pendekatan pendampingan pada (KSM). Oleh karena itu, pendampingan difokuskan pada penguatan kelembagaan dan pengembagan usaha KSM.
Strategi pendampingan penguatan kelembagaan dan pengembangan usaha KSM diharapkan dapat menciptakan KSM-KSM mandiri yang dapat menumbuhkembangkan kegiatan usaha produktif dan kreatif yang berkelanjutan (sustainability), sehingga secara langsung KSM benar-benar berperan dalam peningkatan penghidupan masyarakat miskin yang tergabung dalam kelompok.
Hal ini tentu sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena banyak masyarakat yang mempunyai usaha, namun karena tidak memiliki modal yang cukup dan tidak mempunyai akses untuk mengembangkan usahanya akhirnya pendapatan yang mereka dapat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Oleh karena itu keefektivan program ini dapat dilihat dari segi kualitas, kuantitas, dampak dan waktu. Dari segi kualitas dilihat bagaimana pelayanan yang diberikan BKM kepada KSM sudah memenuhi syarat seperti dalam proses pendampingan dan penguatan yang dilakukan BKM kepada KSM. Dari segi kuantitas dilihat bagaimana modal yang diberikan mampu untuk mengembangkan usaha KSM.
Dari segi dampak dilihat bagaimana program PPMK mempengaruhi pendapatatan KSM menjadi lebih baik. Dari segi waktu dilihat apakah KSM mampu mengembalikan pinjaman secara tepat waktu.
Kota Medan merupakan merupakan salah satu yang menjadi sasaran dari PNPM Mandiri Perkotaan. Di kota Medan terdapat 149 kelurahan yang menerima program ini, dan dibagi ke dalam 4 kategori kelurahan yaitu, kelurahan 2006 yang terdiri dari 38 kelurahan, kelurahan 2007 terdiri dari 57 kelurahan, kelurahan 2008 terdiri dari 28 kelurahan, dan kelurahan 2009 yang terdiri dari 26 kelurahan. Salah satu dari 149 kelurahan tersebut adalah kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat.
Kelurahan Karang Berombak termasuk kelurahan dalam kategori kelurahan 2007 yang menerima program PNPM Mandiri Perkotaan dan juga merupakan salah satu kelurahan yang menerima program PPMK. Dana BLM PPMK (Bantuan Langsung Masyarakat) yang diterima oleh masyarakat kelurahan Karang Berombak diberikan sebagai stimulan dan disediakan agar masyarakat miskin yang tergabung dalam KSM dapat mengaksesnya untuk mengembangkan usahanya dengan tujuan pengentasan kemiskinan.
Setiap kelurahan akan dialokasikan dana BLM sebesar Rp. 100 juta begitu juga dengan kelurahan Karang Berombak yang yang mendapat alokasi BLM sebesar Rp. 100 juta. Dana BLM PPMK dibagi menjadi 2 tahap pencairan yaitu tahap I 60% dan tahap II 40%. Pertama kali pencairan ke KSM di kelurahan Karang Berombak itu pada bulan November 2012 dan diserahkan kepada 2 KSM, dan selanjutnya pada pencairan kedua di bulan Februari 2013 dan diserahkan lagi kepada 2 KSM. Proses pinjaman PPMK sama dengan pinjaman dana bergulir, karena tingkat pengembalian dari 4 KSM sebelumnya itu lancar dan bagus dan masih ada sisa dana BLM PPMK maka diserahkan kepada 1 KSM lagi melalui dana yang digulirkan oleh KSM PPMK pada bulan Juli 2013. Sehingga ada 5 KSM yang menerima dana program PPMK. Peminjam dana PPMK di kelurahan Karang Berombak adalah peminjam reguler yang sudah terbukti baik dan bagus dalam mengembalikan pinjaman bergulir. Pinjaman yang diberikan kepada mereka dipergunakan untuk mengembangkan usaha mereka seperti usaha pembuatan coklat, keripik, kue, dan lain-lain.
Jika dilihat dari kegiatan simpan pinjam yang ada selama ini maka masalah yang sering timbul adalah dalam hal pengembalian pinjaman. Anggota
tidak mau membayar atau tidak dapat membayar pengembalian pinjaman sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat diawal perjanjian, namun tidak semua kelurahan memiliki masalah tersebut. Pada tahun 2012 Kelurahan Karang Berombak memiliki tingkat pengembalian pinjaman 100% yang artinya bahwa pengembalian yang dilakukan oleh angggota selalu tepat waktu dan dispilin dalam pengembaliannya. Karena anggota lancar dalam pengembalian pinjaman bergulir, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan usahanya melalui program PPMK. Berdasarkan kasus yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai masalah tersebut melalui penelitian yang hasilnya dituangkan ke dalam proposal tesis dengan judul “Efektivitas Pelaksanaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) Pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat.
1.2 Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimana Efektivitas Pelaksanaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) Pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat.”
2. Apa Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat.”
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui Efektivitas Pelaksanaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) Pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat.”
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat.”
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi dan menambah teori dalam rangka perbaikan model dan sistem dalam pelaksanaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan di Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam 5 (lima) bab, dengan urutan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat pnelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini berisikan tentang teori-teori yang mendukung dalam penelitian ini, yaitu efektivitas, PPMK, dan PNPM Mandiri Perkotaan, dan defenisi konsep
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini berisikan tentang metode penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan dan analisis data.
BAB IV : HASIL PENELITIAN
Pada bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari hasil penelitian beserta dengan analisisnya.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Merupakan bab terakhir dari penulisan ini yang berisikan kesimpulan dan saran-saran yang bermanfaat sehubungan dengan penelitian yang telah dilakukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
• Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Smeru
Pada tahun 2010 dalam studi yang dilakukan oleh peneliti Smeru (Muhammad Syukri, Sulton Mawardi, Akhmadi, Sirojudin Arif, Kartawijaya, Asep Kurniawan) menyebutkan bahwa program simpan pinjam perempuan (SPP-PNPM) telah berjalan dengan baik dan dianggap efektif oleh masyarakat, karena kegiatan Simpan Pinjam Perempuan- PNPM mampu menggeser peran bank titil (bank harian/rentenir) yang cukup kuat pengaruhnya di beberapa desa seperti di Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara. Selain itu, SPP dianggap dapat memberikan kontribusi untuk mengembangkan usaha warga yang sudah ada, dan dalam beberapa kasus SPP juga bisa menstimulasi warga untuk mencipatakan usaha baru.
• Hasil penelitian oleh Journal Of Indonesian Applied Economics
1. Hasil dari Journal of indonesian applied economics mengenai “Telaah Kritis Kebijakan Penanggulan Kemiskinan Dalam Tinjauan Konstitusi” bahwa program IDT (Inpres Desa Tertinggal) merupakan gerakan nasional penanggulangan kemiskinan, strategi pemerataan pembangunan, dan upaya peningkatan ekonomi rakyat. Program ini berlangsung dari tahun 1988-1998, dimana program IDT ini memberikan dana kepada 20 ribu desa tertinggal dengan dana sebesar
20 juta pertahun. Pelaksanaan IDT adalah memberdayakan potensi desa tersebut agar desa dapat berkembang dan mendapatkan manfaat
sekaligus yang paling utama adalah menanggulangi kemiskinan yang ada. Program-progaram penanggulangan kemiskinan tersebut semuanya seakan-akan tidak berhasil setelah Indonesia dilanda krisis tahun 1997/1998 kemiskinan yang semula diharapkan mampu diturunkan dengan program-program pemerintah tersebut justru mengalami peningkatan yang sangat drastis.
2. Selanjutnya dari hasil penelitian yang sama, yaitu pada periode 1998- 2007 salah satu programnya adalah Jaring Pengaman Sosial (JPS).
Program ini merupakan upaya pemerintah untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat dalam wadah pengelolaan keuangan yang lebih terpadu, transparan, dapat dipertanggungjawabkan, dan memberikan akses langsung kepada masyarakat secara cepat serta berkesinambungan. JPS tercipta karena adanya kesadaran kisis yang beralih dengan cepat sekali dari suatu krisis moneter menjadi krisis ekonomi, krisis keamanan dan akhirnya jadi suatu krisis politik sosial dan krisis moral. Namun pada kenyataan program JPS mengalami dua kendala utama yaitu : (1) data yang kurat dan lengkap mengenai penduduk miskin di suatu daerah terbatas; (2) sistem pemantauan dan pengendalian pelaksanaan JPS di lapangan masih belum memadai.
• Hasil studi yang dilakukan oleh Rarun Virginia Heidy, Warnes Kakansing, Wilson Bogar
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa penerapan kebijakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Tomohon Barat Kota Tomohon berada pada kategori cukup. Dilihat dari perspektif teoritik, penerapan kebijakan dari pemerintah tersebut cukup membantu warga masyarakat untuk hidup lebih layak dan keluar dari garis kemiskinan, karena pembangunan yang dilaksanakan oleh pihak PNPM langsung dialokasikan pada rumah-rumah penduduk yang dianggap kurang mampu
2.2 Efektivitas
2.2.1 Pengertian Efektivitas
Suatu organisasi secara keseluruhannya dalam kaitannya dengan efektivitas adalah mencapai tujuan organisasi. Jika tiap-tiap individu berperilaku atau bekerja efektif dalam mencapai tujuannya, maka kelompok dimana ia menjadi anggota juga efektif dalam mencapai tujuan, organisasi itu juga efektif mencapai tujuan.
Efektivitas berbeda dengan efesiensi. Efesiensi adalah pengorbanan untuk mencapai tujuan. Dimana semakin kecil pengorbanannya dalam mencapai tujuan, maka dikatakan semakin efesiensi. Sedangkan Efektivitas adalah ukuran sejauh mana tujuan (organisasi) dapat dicapai. Efektivitas adalah suatu kontinum yang merentang dari efektif, kurang efektif, sedang-sedang, sangat kurang, sampai tidak efektif. ( Sigit, 2003: 2 ).
Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektivitas merupakan suatu ukuran yang dapat menunjukkan suatu program tersebut berhasil atau tidak.
Efektivitas menunjukan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan ( Siagian, 2001)
Dalam teori sistem, suatu organisasi dipandang sebagai satu dari sejumlah elemen yang saling tergantung. Aliran input dan output merupakan titik awal dalam menggambarkan suatu organisasi. Dengan istilah yang sederhana, organisasi merupakan sumber daya (input) dari sistem yang lebih besar (lingkungan), memproses input dan mengembalikannya dalam bentuk yang telah diubah atau output (Ivancevich dkk, 2006 :23)
Efektivitas organisasi merupakan suatu konsep menyeluruh yang menyertakan sejumlah konsep komponen. Konsep efektivitas organisasi tergantung pada teori sistem yaitu dimensi waktu yang juga penting. Dua kesimpulan utama dari teori sistem adalah : (1) kriteria efektivitas harus merefleksikan keseluruhan siklus input-proses-output, bukan hanya output, dan (2) kriteria efektivitas harus merefleksikan hubungan antara organisasi dan lingkungan luarnya
Berdasarkan teori sistem, suatu organisasi merupakan elemen sebuah sistem yang lebih besar yaitu lingkungan. Dengan berlalunya waktu, setiap organisasi mengambil, memproses, dan mengembalikan sumber daya ke lingkungan. Kriteria utama dari efektivitas organisasi adalah apakah organisasi tersebut bertahan dengan lingkungannya.
Menurut pendapat Mahmudi dalam bukunya “Manajemen Kinerja Sektor Publik” mendefinisikan efektivitas, sebagai berikut: “Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap pencapaian tujuan (kualitas, kuantitas, dampak, dan waktu), maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan” (Mahmudi, 2005:92).
Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa efektivitas mempunyai hubungan timbal balik antara output dengan tujuan. Semakin besar kontribusi output, maka semakin efektif suatu program atau kegiatan.
Hubungan Efektivitas
Sumber: Mahmudi, 2005:92.
Suatu efektivitas dilihat berdasarkan pencapain hasil atau pencapaian dari suatu tujuan. Efektivitas berfokus kepada outcome (hasil) dari suatu program atau kegiatan, yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat memenuhi tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan efektivitas adalah menggambarkan seluruh siklus input, proses dan output yang mengacu pada hasil guna daripada suatu organisasi, program atau kegiatan yang menyatakan sejauhmana tujuan telah dicapai, serta ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya dan mencapai target-targetnya. Dan ukuran efektivitas suatu program atau kegiatan dilihat dari tujuan yang ingin dicapai yaitu berdasarkan segi kualitas, kuantitas, dampak dan waktu .
OUTCOME Efektivitas =
OUTPUT
2.2.2 Kriteria Efektivitas Organisasi
Konsep mengenai efektivitas organisasi selain disandarkan pada teori sistem, tetapi perlu ditambahkan dengan sesuatu yang baru yaitu pada dimensi waktu. Hubungan antara kriteria efektivitas dan dimensi waktu dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Produksi
Produksi menggambarkan kemampuan organisasi untuk memproduksi jumlah dan mutu output yang sesuai dengan permintaan lingkungan
2. Efesiensi
Konsep efesiensi didefenisikan sebagai angka perbandingan antara output dan input. Ukuran efesiensi harus dinyatakan dalam perbandingan, antara keuntungan dan biaya atau dengan waktu atau output yang merupakan bentuk umum dari ukuran ini.
3. Kepuasan
Konsep kepuasan mendefenisikan penekanan pada perhatian yang menguntungkan bagi anggota organisasi maupun pelanggannya. Artinya bahwa organisasi harus mampu memberikan kepuasan kepada kebutuhan para anggota.
4. Adaptasi
Kemampuan beradaptasi diartikan dengan sampai seberapa organisasi mampu menanggapi perubahan intern dan ekstern. Jika organisasi tidak dapat menyesuaikan diri , maka kelangsungan hidupnya akan terancam, namun adaptasi tidak memiliki ukuran yang pasti dan nyata. Dapat dijelaskan, apabila tiba waktunya untuk mengadakan penyesuaian dikarenakan adanya fenomena- fenomena tertentu, maka organisasi harus dapat menyesuaikan diri.
5. Perkembangan
Organisasi harus mengembangkan diri agar tetap hidup atau berjaya untuk jangka panjang. Efektivitas dengan pertimbangannya, maka efektivitas dapat dibagi menjadi efektivitas jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
Keseimbangan optimal adalah keseimbangan dari pencapaian hubungan yang wajar antara kriteria-kriteria itu dalam periode waktu tertentu
( Tampubolon, 2008: 177).
2.3 Pengembangan Komunitas (Community Development)
Pengembangan komunitas (community Development) menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah suatu proses yang merupakan usaha masyarakat sendiri yang diintegrasikan dengan otoritas pemerintah guna memperbaiki kondisi sosial ekonomi dan kultural komunitas, mengintegrasikan komunitas ke dalam kehidupan nasional dan mendorong kontribusi komunitas yang lebih optimal bagi kemajuan nasional. Dari pengertian tersebut ada makna tesirat bahwa adanya orientasi yang lebih mengarah pada kepentingan masyarakat makro daripada kepentingan komunitas. Selain itu terdapat makna strategi community development diperuntukkan bagi usaha membantu pengembangan masyarakat yang masih terbelakang bahkan primitif. Pemikiran seperti ini memunculkan anggapan bahwa ada jarak antara komunitas yang hendak dibantu dengan badan–badan pembangunan di luar komunitas.
Lain lagi menurut ilmuwan politik, bahwa community development dapat memunculkan kekhawatiran, dimana strategi community development dapat
dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat penetrasi negara melalui berbagai lembaga dan intansi yang mempunyai program pembangunan sampai pada level komunitas terhadap masyarakat. Menurut Christenson dan Robinson (dalam Soetomo, 2008: 81) bahwa Community Development sebagai suatu proses dimana masyarakat yang tinggal pada lokasi tertentu mengembangkan prakarsa untuk melaksanakan suatu tindakan sosial (dengan atau tanpa intervensi) untuk mengubah situasi ekonomi, sosial, kultural dan atau lingkungan mereka.
Dari defenisi tersebut mereka mecoba menyatakan bahwa intervensi dalam community development bukanlah hal yang mutlak untuk dilaksanakan, tetapi hal yang lebih penting adalah prakarsa dan partisipasi masyarakat dalam proses yang berlangsung. Walaupun terkesan adanya beberapa variasi dalam defenisi yang ada, namun dapat ditarik prinsip-prisip mengenai komunitas, yaitu : (1) fokus perhatian ditujukan pada komunitas sebagai suatu kebulatan, (2) berorientasi pada kebutuhan dan permasalahan komunitas, (3) mengutamakan prakarsa , partisipasi, dan swadaya masyarakat.
Davies (dalam Soetomo, 2008: 82) berpendapat bahwa elemen-elemen yang ada dalam komunitas adalah lokalitas, hubungan emosional, keterlibatan sosial, hubungan sosial dan kepentingan bersama. dalam kehidupan bersama, elemen-elemen tersebut menjadi pendorong tumbuhnya jaringan sosial dalam komunitas yang dibangun baik melalui interaksi dan relasi sosial. Dalam hal komunitas hal yang terpenting adalah adanya kesadaran kolektif dan solidaritas sosial di antara para warga. Kesadaran kolektif dan solidaritas sosial merupakan modal sosial untuk peningkatan kehidupan bersama baik sosial, ekonomi, maupun kultural.
Dengan adanya community development diharapkan berbagai proses untuk meningkatkan kondisi kehidupan yang memberikan fokus perhatian pada suatu komunitas sebagai suatu kesatuan masyarakat, guna merealisasikan tujuan yang diharapkan. Sebagaimana dalam kehidupan komunitas terdapat beberapa karakteristik yang penting, yaitu asas tanggung jawab dan ikatan lokalitas serta adanya kehidupan sosial yang terorganisasi. Berbasis asas tersebut, dalam suatu komunitas terdapat jaringan interaksi dan relasi sosial yang cukup baik, serta masing-masing warga memiliki perasaan dan kesadaran sebagai bagian dari kehidupan bersama, sehingga mempunyai ikatan yang kuat terhadap komunitasnya. Sebagai suatu strategi pembangunan masyarakat perkembangan community development lebih menekankan pada swadaya atau self help.
Dalam community development hal yang perlu dikembangkan adalah modal sosial. Modal sosial secara sederhana dapat didefenisikan sebagai serangkaian nilai dan norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka (Fukuyama dalam Soetomo, 2008: 86). Jika para anggota kelompok itu masing-masing mengahrapkan bahwa anggota-anggota yang lain akan berperilaku jujur dan terpercaya, maka mereka akan saling mempercayai. Dengan demikian, kepercayaan atau trust adalah unsur utama dalam pengertian atau konsep modal sosial. Selain modal sosial, interaksi sosial juga menjadi hal yang penting dalam suatu komunitas. Interaksi yang semakin luas akan menjadi suatu jaringan sosial yang lebih memungkinkan semakin meluasnya lingkup kepercayaan dan lingkup hubungan timbal balik. Human Capital juga hal yang penting dalam suatu komunitas selain modal sosial dan modal fisik. Menurut Coleman (dalam
Soetomo, 2008: 89) bahwa human capital tidak terbatas pada pengetahuan dan keterampilan tetapi juga berasal dari kemampuan untuk bekerjasama guna mencapai tujuan bersama yang kemudian disebut sebagai modal.
Pengembangan masyarakat merupakan salah satu model intervensi yang dikemukakan oleh Glen terkait dengan praktik komunitas (community practice).
Pendekatan ini pada dasarnya memandang penting adanya partisipasi masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam proses pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu kunci terciptanya kesejahteraan sosial. Keterlibatan masyarakat baik secara fisik, pemikiran materiil maupun finansial, diharapkan akan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa memiliki proses dan hasil pembangunan di komunitas tersebut (Glen dalam Rukminto, 2008: 202).
Pengembangan masyarakat sebagai berbagai upaya yanng terorganisasi yang dilakukan guna meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat, terutama melalui usaha yang kooperatif dan mengembangkan kemandirian dari masyarakat pedesaan, tetapi hal tersebut dilakukan dengan bantuan teknis dari pemerintah ataupun lembaga-lembaga sukarela (Dunham dalam Rukminto, 2008: 219)
2.4 Pemberdayaan Masyarakat
Pelaksanaan pembangunan di banyak negara, termasuk negara yang sedang berkembang pada umummnya, termasuk di Indonesia kerap kali lebih meletakkan masyarakat sebagai sasaran atau objek dibandingkan sebagai subjek.
Dalam berbagai kebijakan sekaligus rencana pembangunan sering disebutkan bahwa masyarakat sebagai subjek pembangunan, tetapi kenyataannya pada
umunya masyarakat sering dijadikan sebagai sasaran dari pembangunan. Dalam hal ini peranan masyarakat dalam proses pembangunan itu pun tidak diharapkan, bahkan masyarakat kerap tersingkirkan dari aktivitas pembangunan. Untuk itu dibutuhkan suatu strategi pembangunan yang lebih meletakkan masyarakat sebagai subjek pembangunan. Masyarakat diupayakan berperan secara optimal dalam semua aktivitas pembangunan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi pembangunan (Siagian, 2010: 102).
Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu proses pengupayaan masyarakat yang di dalamnya terkandung gagasan dan maksud kesadaran tentang martabat dan harga diri, hak-hak masyarakat mengambil sikap, membuat keputusan dan selanjutnya secara aktif melibatkan diri dalam menangani perubahan (Bahari dalam Siagian, 2010: 1020). Pemberdayaan masyarakat sekaligus menjadi upaya mengembalikan status dan peranan masyarakat dalam prose pembangunan dan perubahan. Konsep pemberdayaan masyarakat harus menempatkan masyarakat secara sentral, dan kepentingan masyarakat senantiasa menjadi variabel penyusunan unit-unit aktivitas yang akan dilaksanakan.
Menurut Mary Lane (dalam Siagian, 2010: 103) dari bukunya yang berjudul Community Development and a Postmodernism of Resistance bahwa konsep pemberdayaan masyarakat harus meletakkan manusia sebagai subjek bukan hanya sekedar objek dari serangkaian aktivitas pembangunan. Dalam proses implementasi, pemberdayaan masyarakat sebagai suatu strategi dan pendekatan intervensi sosial, maka masyarakat harus dilibatkan secara aktif. Kesempatan yang diberikan kepada masyarakat untuk mengemukakan keinginan dan harapan mengakibatkan seluruh aktivitas yang dilakukan sesuai dengan keperluan
masyarakat. Selanjutnya, keterlibatan masyarakat dalam implementasi program menjadikan mereka tidak tergantung selamanya kepada pihak yang pada awalnya merancang program pemberdayaan masyarakat tersebut.
Efektivitas suatu pemberdayaan masyarakat akan tercapai jika dirancang dalam masa yang panjang, melalui rancangan yang tepat, menyeluruh dan akurat, mengembangkan ikhtiar dan dukungan anggota masyarakat sebagai kelompok sasaran, menguntungkan masyarakat, dan berakhir pada pengalaman yang berkesan (Smith dalam Siagian,2010; 103). Efektivitas program pemberdayaan masyarakat hanya akan tercapai jika masyarakatnya dapat tanggap terhadap program. Selanjutnya masyarakat sadar atas kemampuan dan keterbatasannya dan mau bertindak bersama untuk mencapai keuntungan bersama, dan semua perubahan yang terjadi ditanggapi secara positif. Konsep dari suatu pemberdayaan masyarakat yaitu harus melibatkan masyarakat demi terciptanya masyarakat yang mampu menolong diri sendiri.
Ginanjar Kartasasmita mengemukakan bahwa konsep pemberdayaan masyarakat mencakup pengertian pengembangan masyarakat dan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat (community-based development). Menurutnya, pemberdayaan masyarakat adalah suatu aktivitas memampukan dan memandirikan masyarakat, dengan demikian masyarakat akan meningkat derajatnya. Dari defenisi tersebut ada dua hal yang utama yang ingin dijelaskan oleh Kartasasmita yaitu pertama pemberdayaan masyarakat bertumpu pada masyarakat yang artinya bahwa fokus dan pusat pembangunan yaitu manusia.
Kedua, indikator keberhasilan pemberdayaan masyarakat adalah peningkatan
kemampuan masyarakat dalam memenuhi keperluan hidupnya sehingga mampu hidup secara mandiri. (Kartasasmita dalam Siagian, 2010: 106)
Upaya untuk menanggulangi kemiskinan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan secara langsung pada masyarakat miskin karena penyebab kemiskinan tidak hanya disebabkan oleh aspek-aspek yang bersifat materialistik semata, akan tetapi juga karena kerentanan dan minimnya akses untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat miskin. Pendekatan pemberdayaan dimaksudkan agar masyarakat miskin dapat keluar dari kemiskinan dengan menggunakan potensi dan sumberdaya yang dimilikinya. Shardlow (dalam Rukminto, 2008: 78) bahwa pemberdayaan pada intinya adalah membahas bagaimana individu, kelompok, ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.
Dalam hal pemberdayaan masyarakat target dan tujuannya akan berbeda sesuai dengan bidang pembangunan yang ingin dicapai. Misalnya tujuan pemberdayaan di bidang ekonomi yaitu agar kelompok sasaran dapat mengelola usahanya kemudian dapat memasarkan dan membentuk siklus pemasaran yang relatif. Sedangkan pemberdayaan pada bidang sosial, misalnya agar kelompok sasaran dapat menjalankan fungsi sosialnya kembali sesuai dengan peran dan tugas sosialnya. Dengan adanya tahapan pemberdayaan ini diharapkan masyarakat miskin mulai menyadari kemampuan dan potensi yang dimilikinya untuk keluar dari kemiskinan. Pendekatan pemberdayaan sebagai instrumen dimaksudkan tidak hanya melakukan penyadaran terhadap masyarakat miskin tentang potensi dan sumberdaya yang dimiliki, akan tetapi juga mendorong masyarakat miskin untuk
berpartisipasi dalam skala yang lebih luas terutama dalam proses pembangunan di daerah.
Pemberdayaan masyarakat dapat dilihat sebagai suatu program dan sebagai suatu proses. Sebagai suatu program pemberdayaan masyarakat menggunakan tahapan-tahapan kegiatan guna mencapai tujuan yang biasanya sudah ditentukan jangka waktunya. Sehingga karena ada jangka waktu dalam sebuah program maka jika program berakhir maka dianggap pemberdayaan sudah dilakukan. Sedangkan pemberdayaan sebagai suatu proses melihat pemberdayaan sebagai proses yang berkesinambungan sepanjang komunitas itu masih ingin melakukan perubahan dan perbaikan, dan tidak hanya terpaku pada suatu program saja. Menurut Hogan (dalam Rukminto, 2003: 85) menggambarkan proses pemberdayaan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus terdiri dari lima tahapan utama, yaitu:
1. Menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan dan tidak memberdayakan
2. Mendiskusikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan penidakberdayaan
3. Mengidentifikasi suatu masalah ataupun proyek
4. Mengidentifikasi basis daya yang bermakna untuk melakukan perubahan 5. Mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementasikannya.
Upaya pemberdayaan dalam konteks kesejahteraan sosial digambarkan oleh Hogan akan terkait terhadap upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat dari suatu tingkat ke tingkat yang lebih baik. Walaupun demikian pemberdayaan sebagai suatu program harus tetap direncanakan secara serius dan harus lebih
memfokuskan pada upaya-upaya yang membuat masyarakat agar dapat lebih pandai dan mampu mengembangkan komunikasi antar mereka sehingga pada akhirnya mereka dapat saling berdiskusi secara konstruktif dan mengatasi masalah yang ada.
2.5 Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Menurut Mikkelsen (dalam Rukminto, 2008: 108) bahwa partisipasi yang sesungguhnya berasal dari masyarakat dan dikelola oleh masyarakat itu sendiri, ia adalah tujuan dalam suatu proses demokrasi. Oleh karena itu, Mikkelsen mengutip dari Chambers melihat istilah partisipasi seringkali digunakan dalam tiga bentuk, yaitu:
1. Partisipasi digunakan sebagai label kosmetik. Artinya partisipasi seringkali digunakan agar proyek yang diusulkan terlihat lebih cantik sehingga lembaga donor maupun pihak pemerintah akan mau membiayai proyek tersebut.
2. Partisipasi digunakan untuk memobilisasi tenaga-tenaga tingkat lokal dan mengurangi pembiayaan proyek. Misalnya komunitas memberikan sumbangan waktu, dana, tenaga, dan materiil untuk menyukseskan suatu proyek yang dibantu oleh pihak luar. Ini seringkali digambarkan sebagai
“mereka berpartisipasi dalam proyek” kita.
3. Partisipasi digunakan untuk menggambarkan proses pemberdayaan (empowering process). Dalam hal ini partisipasi dimaknai sebagai suatu
proses yang memampukan masyarakat lokal untuk melakukan analisi masalah mereka, memikirkan bagaimana cara mengatasinya, mendapatkan rasa percaya diri untuk mengatasi masalah, mengambil keputusan sendiri tentang alternatif pemecahan masalah apa yang ingin mereka pilih.
Conyers (dalam Soetomo, 2008: 438) mengemukakan partisipasi masyarakat adalah keikutsertaaan masyarakat secara sukarela yang didasari oleh determinan dan kesadaran diri masyarakat itu sendiri dalam program pembangunan. apabila yang muncul hanya unsure keterlibatan dan tidak didorong oleh kesadaran, hal tersebut tidak masuk dalam kategori partisipasi melainkan lebih tepat disebut sebagai mobilisasi. Oleh karena itu, dengan melihat partisipasi sebagai suatu kesatuan dari proses pemberdayaan masyarakat maka akan diketahui bahwa pendekatan partisipatif muncul dari suatu proses yang cukup panjang sehingga suatu komunitas telah mencapai pada taraf dimana dia berada pada saat ini. Hampir setiap komintas telah mempunyai kearifan lokal tersendiri.
Setiap komunitas telah mengembangkan metode adaptasi yang relatif canggih dalam rangka mengelola lingkungannya. Hal ini menandakan bahwa masyarakat bukanlah makhluk yang bodoh, mereka juga berusaha dengan segala upayanya untuk dapat hidup nyaman di lingkungan dimana mereka berada. Intinya adalah partisipasi masyarakat harus mengikutsertakan atau melibatkan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah, pengidentifikasian potensi yang ada dimasyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan alternatif solusi penanganan masalah, dan juga keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi. Keterlibatan masyarakat dalam setiap prosesnya akan membuat
masyarakat menjadi lebih berdaya dan dapat semakin memiliki ketahanan dalam menghadapi perubahan.
Sebaliknya jika masyarakat tidak banyak dilibatkan dalam setiap proses tahapan perubahan yang terjadi dan hanya bersikap pasif dalam setiap perubahan yang direncanakan oleh pelaku perubahan baik dari pemerintah maupun pihak swasta maka hal ini cenderung akan membuat masyarakat menjadi lebih tergantung kepada pelaku perubahan. Bila hal ini terjadi secara terus-menerus, maka ketergantungan masyarakat terhadap pelaku perubahan akan menjadi semakin meningkat.
2.6 Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan
Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan dalam hal kesenjangan ekonomi dan tingkat kemiskinan merupakan dua masalah besar di semua negara, tidak terkecuali di Indonesia. Besarnya kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan. Konsep yang mengacu pada garis kemiskinan disebut kemiskinan relatif, sedangkan konsep yang pengukurannya tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolut. Kemiskinan relatif adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan di dalam distribusi pendapatanyang biasanya didefenisikan di dalam kaitannya dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang dimaksud.
Negara-negara maju, kemiskinan relatif diukur sebagai suatu proporsi dari tingkat pendapatan rata-rata perkapita. Sebagai suatu ukuran relatif, kemiskinan relatif dapat berbeda disetiap negara. Sedangkan kemiskinan absolut adalah
derajat dari kemiskinan di bawah, dimana kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak terpenuhi. Ini adalah suatu ukuran tetap (tidak berubah) di dalam bentuk suatu kebutuhan kalori minimum ditambah komponen-komponen non makan yang juga sangat diperlukan untuk bertahan hidup. Garis kemiskinan yang sering dikenal adalah garis kemiskinan Sajogyo. Sajogyo mendefenisikan batas kemiskinan sebagai tingkat konsumsi per kapita setahun yang sama dengan beras. Dengan kata lain, garis kemiskinan versi Sajogyo adalah nilai Rupiah setara dengan 240 kg beras untuk daerah pedesaan dan 320 kg beras untuk perkotaan.
(http://2frameit.blogspot.com/2012/03/ukuran-atau-batasan-kemiskinan.html, diakses tgl 12/10/2014 pukul 22:25 wib)
Terdapat banyak sekali teori dan pendekatan dalam memahami kemiskinan. Namun bila disederhanakan, setidaknya terdapat dua paradigma atau teori besar (grand theory) mengenai kemiskinan: yaitu paradigma neo-liberal dan sosial demokrat yang memandang kemiskinan dari sudut pandang struktural dan individual. Teori neo-liberal berakar pada karya politik klasik yang ditulis oleh Thomas Hobbes, John Lock dan John Stuart Mill yang intinya menyerukan bahwa komponen penting dari sebuah masyarakat adalah kebebasan individu. Secara garis besar, para pendukung neo-liberal berargumen bahwa kemiskinan merupakan persoalan individual yang disebabkan oleh kelemahan-kelemahan dan/atau pilihan-pilihan individu yang bersangkutan. Kemiskinan akan hilang dengan sendirinya jika kekuatan-kekuatan pasar diperluas sebesar-besarnya dan prtumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya. Secara langsung, strategi penaggulangan kemiskinan harus bersifat “residual”, sementara, dan hanya melibatkan keluarga, kelompok-kelompok swadaya atau lembaga-lembaga
keagamaan. Peran negara hanyalah sebagai “penjaga malam” yang baru boleh ikut campur jika lembaga-lembaga di atas tidak mampu lagi menjalankan tugasnya.
Sedangkan menurut teori demokrasi sosial bahwa kemiskinan bukanlah persoalan individual, melainkan struktural. Kemiskinan disebabkan oleh adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam masyarakat akibat tersumbatnya akses- akses kelompok tertentu terhadap berbagai sumber-sumber kemasyarakatan.
Pendukung sosial demokrat berpendapat bahwa kesetaraan merupakan prasyarat penting dalam memperoleh kemandirian dan kebebasan. Pencapaian kebebasan hanya dimungkinkan jika setiap orang memiliki atau mampu menjangkau sumber- sumber, seperti pendidikian, kesehatan yang baik dan pendapatan yang cukup.
Kemiskinan yang saat ini terjadi tidak hanya menyangkut hak untuk pemenuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Tetapi, kemiskinan juga berarti akses yang rendah dalam sumber daya dan aset produktif untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup, antara lain: ilmu pengetahuan, informasi, teknologi, dan modal. Selain itu, kondisi kelembagaan pimpinan masyarakat yang tidak mengakar dan tidak dapat dipercaya tersebut pada umumnya tumbuh subur dalam situasi masyarakat secara umum memang belum berdaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemiskinan akan tumbuh subur dalam situasi dimana prilaku/sikap dan cara pandang (paradigma) masyarakat yang belum berdaya (Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan, 2010: 5)
Sharp (dalam Kuncoro, 2004: 157) , mencoba mengidentifikasikan penyebab kemiskinan dipandang dari sisi ekonomi. Pertama, secara mikro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya