KEMAMPUAN SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 13 BANDA ACEH MENGIDENTIFIKASI CIRI KEBAHASAAN DALAM TEKS DISKUSI. oleh

11  Download (0)

Full text

(1)

KEMAMPUAN SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 13 BANDA ACEH MENGIDENTIFIKASI CIRI KEBAHASAAN DALAM

TEKS DISKUSI

oleh

Maslun Munna * , Saifuddin Mahmud ** , & Muhammad Idham **

maslun_munna@yahoo.com, saifuddin.mahmud@fkip.unsyiah.ac.id, &

muhammad.idham@fkip.unsyiah.ac.id ABSTRAK

Penelitian tentang Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh Mengidentifikasi Ciri Kebahasaan dalam Teks Diskusi Penelitian ini mengkaji tentang kemampuan siswa Kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi berdasarkan ciri kebahasaan teks. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa yang berjumlah 144 orang dan sampel yang diambil sebanyak 35 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik nontes.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor yang diperoleh oleh siswa dari keseluruhan aspek adalah 69. Skor ini berada pada rentag nilai 59-69 yang merupakan rentang nilai kategori cukup. Dilihat dari setiap aspek yang dinilai menunjukkan bahwa aspek penggunaan kata modalitas memperoleh nilai rata-rata 95, skor ini berada pada rentang nilai 85-100 kategori sangat baik. Penggunaan kata kerja aksi memperoleh nilai rata-rata 58, skor ini berada pada rentang nilai 56-69 kategori cukup. Penggunaan konjungsi perlawanan memperoleh nilai rata-rata 39, skor ini berada pada rentang nilai <39 kategori sangat kurang, dan penggunaan kohesi leksikal memperoleh nilai rata-rata 48, skor ini berada pada rentang nilai 40-55 kategori kurang.

Kata kunci: Mengidentifikasi, ciri kebahasaan, teks diskusi ABSTRACT

Research on The Students' Ability of Grade 8 SMP Negeri 13 Banda Aceh in Identifying Linguistics Characteristics in Discussion Text. This study examines the ability of grade 8 students of SMP Negeri 13 Banda Aceh in identifying linguistics characteristics in the text discussion based on linguistic characteristics of the text.The approach used is a quantitative approach with descriptive methods. The population of this study were students totaling 144 people and samples were 35 students of grade 8 SMP Negeri 13 Banda Aceh. The data collection was done by using nontest. The results shows that the scores obtained by students from the whole aspect is 69. This score is at value range of 59-69 which is in the value range of category enough. Viewed from any aspect rated show that aspect of the use of the word modality obtains an average value of 95. This score is in the range of 85-100, which is under the category of very good. The use of action verbs scores at an average of 58, a score which is in the range of values 56 -69 categorized as enough. The use of opposition conjunctions scores at an average of 39, a score which is in the value range <39

*

Mahasiswa Jurusan PBSI FKIP Unsyiah

**

Dosen Jurusan PBSI FKIP Unsyiah

(2)

categorized as less, and the use of lexical cohesion obtains an average value of 48. This score is in the value range of 40-55categorizedas less.

Keywords: Identify, linguistics characteristics, discussion text Pendahuluan

Pengembangan kurikulum 2013 mengacu pada standar nasional pendidikan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang bermutu.Kurikulum 2013 telah digunakan dalam semua mata pelajaran di Indonesia.

Pengembangan kurikulum 2013 harus dilakukan karena tuntutan perkembangan zaman yang dirasa perlu adanya penyempurnaan pola pikir dan pengetahuan tata kelola kurikulum serta pendalaman dan perluasan materi (Rosiana,2013). Hal ini dimaksudkan agar dapat diimplementasikan dalam rencana pembelajaran. Sebagaimana disebutkan oleh Sukmadinata (2013:27) bahwa kurikulum sebagai substansi yang dipandang orang untuk rencana kegiatan belajar bagi siswa di sekolah atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai.

Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki empat aspek keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut memilki hubungan yang sangat erat dengan proses berpikir yang mendasari bahasa karena bahasa adalah cerminan pemikiran. Semakin terampil dalam berbahasa, semakin jelas pula pikiran yang dihasilkan.Oleh sebab itu, dalam perancangan pembelajaran berbasis teks dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan berbagai jenis struktur berpikir yang berbeda.Seperti yang dikemukakan oleh Mahsun (2014:95), semakin banyak jenis teks yang dikuasai maka semakin banyak struktur berpikir yang dikuasai.

Adapun tujuan pembelajaran berbasis teks yaitu pembelajaran dapat memahami ilmu pengetahuan melalui teks yang disajikan sesuai dengan tujuan

sosia tertentu. (Kemendikbud, 2013:v) menyebutkan, siswa diharapkan mampu memproduksi dan menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya. Hal ini sesuai dengan pengertian teks adalah satuan bahasa yang digunakan sebagai ungkapan suatu kegiatan sosial baik secara lisan maupun tulis dengan struktur berpikir yang lengkap (Mahsun, 2014:1).

Kridalaksana (2011:238) menyatakan bahwa teks adalah (1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran, (3) ujaran yang dihasilkan dalam interaksimanusia.

Selanjutnya, Kemendikbud (2013:203) menyebutkan, teks merupakan bahasa (baik lisan maupun tulisan) yang terdapat di dalam suatu konteks situasi dan konteks kultural. Teks membentuk suatu konstruk (bangunan) melalui sistem fungsi atau makna dan sistem bentuk linguistik/kebahasaan secara simultan (bersama-sama/pada waktu yang sama).

Berdasarkan pendapat kedua ahli diatas bahwa teks adalah satuan bahasa yang dapat berupa bahasa tulis dan juga dapat berupa bahasa lisan yang dihasilkan dari interaksi atau komunikasi manusia.

Dalam standar isi mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP kelas VIII, terdapat Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat pada 1.4 mengidentifikasi kekurangan teks diskusi berdasarkan kaidah-kaidah teks baik melalui lisan maupun tulisan (Kemendikbud, 2014:242). Dengan adanya KD tersebut,

siswa diharapkan mampu

mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi dengan baik dan benar.

Pada kurikulum 2013 sangat

ditekankan dimensi pedagogik modern

dalam pembelajaran, yaitu menggunakan

pendekatan ilmiah (scientificapproach),

pembelajarannya dengan pendekatan

(3)

ilmiah meliputi kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membangun jejaring. Untuk mengetahui hasil belajar digunakan penilaian autentik (authenticassessment), yaitu pengukuran secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 (Kemendikbud,2013).

Dalam mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi kajiannya meliputi penggunaan kata modalitas, penggunaan kata kerja aksi, penggunaan konjungsi perlawanan, dan penggunaan kohesi leksikal. Pertama, dalam kemendikbud (2011:326), kata modalitas ialah makna kemungkinan, keharusan, kenyataan, dan sebagainya yang dinyatakan dalam kalimat, dalam bahasa Indonesia dinyatakan dengan kata-kata seperti, harus, akan, ingin, dapat, dan mungkin. Kedua, kata kerja aksi adalah gerakan, tindakan, dan tingkah laku (Kemendikbud, 2011:11).Kata kerja aksi adalah kata kerja untuk menyatakan bahwa subjek sedang melakukan suatu aksi atau menyatakan bahwa sesuatu terjadi. Ketiga, konjungsi perlawanan adalah kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat, dengan menggunakan kata hubung: tetapi, namun, sedangkan, dan sebaliknya. Keempat, kohesi leksikal adalah kepaduan yang dicapai melalui pemilihan kata. Kohesi leksikal itu dapat berbentuk antara lain,pengulangan kata, sinonim, antonim, dan hiponim.

Penelitian tentang

mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi, setahu peneliti, belum diteliti oleh peneliti lain. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini.

Adapun judul penelitian ini adalah

β€œKemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh Mengidentifikasi Ciri Kebahasaan dalam Teks Diskusi”.

Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. (1) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi kata modalitas dalam teks diskusi? (2) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi kata kerja aksi dalam teks diskusi? (3) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi kata konjungsi perlawanan dalam teks diskusi? (4) Bagaimanakah kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi kata kohesi leksikal dalam teks diskusi?

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi ciri kebahasan dalam teks diskusi. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi kata modalitas dalam teks diskusi. (2) Mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi kata kerja aksi dalam teks diskusi. (3) Mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi kata konjungsi perlawanan dalam teks diskusi. (4) Mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi kata kohesi leksikal dalam teks diskusi.

Manfaat Penelitian ini sebagai

berikut. (1)Bagi SiswaPenelitian ini

bermanfaat bagi siswa karena dengan

penelitian ini mereka dapat mengetahui

kemampuan dalam mengidentifikasi ciri

kebahasaan dalam teks diskusi. (2) Bagi

GuruPenelitian ini dapat dijadikan bahan

untuk mengevaluasi kemampuan siswa

dalam pembelajaran tentang teks diskusi

serta memberi manfaat bagi guru dalam

hal keberhasilannya mengajarkan teks

diskusi pada siswa. (3) Bagi Sekolah,

(4)

hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka memotivasi para guru untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar dalam mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi, dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan mutu sekolah, khusunya dalam pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia.

Kurikulum menurut undang- undang nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 Ayat (19) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pengembangan kurikulum 2013 merupakan langkah lanjut pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu (Kemendikbud,2013:65).

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis kompentensi oleh karena itu pengembangannya dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan.

Siswa kelas VIII SMP diharapkan dapat mencapai mutu pendidikan yang lebih baik sesuai dengan kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 memiliki kompetensi inti dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa. Dari beberapa kompetensi inti yang dijabarkan ke dalam beberapa kompetensi dasar dalam berbahasa, salah satunya yaitu kompetensi menyusun dan menulis teks diskusi.Dalam silabus mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII SMP, terdapat standar kompetensi keterampilan memahami. Kompetensi inti (KI) Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,

dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Kompetensi dasar (KD) yang terdapat pada 1.4mengidentifikasi kekurangan teks diskusi berdasarkan kaidah-kaidah teks baik melalui lisan maupun tulisan.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Kurikulum 2013 bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar,

dan mengkomunikasikan

(mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran dan diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Dengan adanya KI dan KD tersebut, siswa diharapkan mampu memahami ciri kebahasaan teks diskusi dengan baik dan benar.

Teks diskusi merupakan sebuah teks yang berisi tentang sebuah wacana yang berisi tentang suatu permasalahan.Teks diskusi membahas sebuah isu permasalahan yang berisi dua argumen, yaitu argumen pendukung dan argumen penentang. Masalah yang dihadirkan dalam teks diskusi nantinya akan didiskusikan berdasarkan dua sudut pandang tersebut (Kemendikbud, 2014:89).

Menurut Barwick (1998:94), teks

diskusi adalah sebuah teks yang

membantu siswa untuk berpikir jernih

dan kritis. Hal ini mendorong siswa untuk

mendengarkan dan menanggapi pendapat

orang lain, untuk mengajukan pertanyaan

yang bersangkutan dan untuk menyajikan

argumen dengan cara yang jelas dan

koheren. Hal ini membantu siswa

menjadi sadar bahwa fakta-fakta dapat

ditafsirkan dengan cara yang berbeda dan

berbagai opini yang objektif tentang

masalah yang berlaku.

(5)

Teks diskusi adalah salah satu jenis teks yang memberikan dua pendapat mengenai suatu hal.Pendapat tersebut tentu ada yang selaras dan juga bertentangan.Ketika sedang melakukan sebuah diskusi tentang suatu hal, tidak dapat dipungkiri diskusi tersebut memiliki berbagai argumen atau pendapat yang beragam.Begitu juga dengan teks diskusi yang mempunyai dua pendapat yang berbeda yaitu pendapat yang setuju (pro) dan pendapat yang tidak setuju (kontra). Oleh karena itu, pandangan luas mengenai suatu masalah harus dimiliki jika ingin membuat teks diskusi (Suyatno,2014).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa teks diskusi adalah suatu tulisan yang membantu siswa untuk berpikir kritis.Teks diskusi membahas tentang sebuah masalah (isu) dengan disertai argumen atau pendapat baik yang mendukung maupun yang menentang.Isu tersebut diakhiri dengan simpulan atau saran dari penulis.

Struktur teks diskusi meliputi isu (masalah), argumen terdiri dari argumen pendukung (pro) dan argumen penentang (kontra) dan kesimpulan atau saran.Berikut bagan struktur teks diskusi menurut Barwick (1998:95).

(1) Isu (masalah) Sebuah diskusi dimulai dengan pengenalan singkat menggambarkan situasi.Pengenalan ini berisi berbagai sudut pandang. Isu (masalah) dalam teks diskusi berisi masalah yang akan didiskusikan atau dibahas lebih lanjut.

(2) Argumen berisikan pendapat yang akan dikemukakan. Argumen terdiri dari pendukung berisi dukungan dan penentang berisi sanggahan atau tanggapan yang bertentangan dengan masalah yang dibahas.

(3)Kesimpulan atau saran merupakan bagian akhir dari teks diskusi yang berisi

kesimpulan dan saran berupa jalan keluar dari suatu masalah.

Fitur bahasa teks diskusi, menurut Kemendikbud (2014:14) adalah sebagai berikut. (1) Penggunaan kata modalitas, misalnya: harus, dapat, ingin, mungkin.

(2)Pengunaan kata kerja aksi, subjeknya melakukan suatu aksi. Penggunaan konjungsi perlawanan, misalnya: tetapi, namun, sedangkan, dan sebaliknya.

(3)Penggunaan kohesi leksikal misalnya:pengulangan kata, sinonim, antonim, dan hiponim.

Berdasarkan beberapa ciri kebahaasan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri bahasa dalam menulis teks diskusi pada umumnya berupa penggambaran secara detail tentang topik sebuah masalah. Teks diskusi menggunakan kata-kata perbandingan dalam mengungkapkan argumen agar pembaca dapat memahami maksud dari pengarang.

Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kuantitatif. Usman (2004:4) berpendapat bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan membuat penyandaraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat tertentu.Menurut Sugiyono (2010:14), penelitian kuantitatif pada populasi atau sampel tertentu, dapat diartikan sebagai penelitian yang berlandasan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu.

Metode deskriptif digunakan

untuk memberikan gambaran secara

nyata dan objektif tentang masalah yang

diteliti. Metode ini akan mengikuti

langkah-langkah kerja seperti

mengumpulkan data, mengolah data, dan

menganalisis data. Hal ini dilakukan

untuk memecahkan permasalahan yang

dihadapi oleh siswa kelas VIII SMP 13

Banda Aceh dalam mengidentifikasi ciri

kebahasaan teks diskusi.

(6)

Objek penelitian sebagai sasaran untuk mendapatkan dan mengumpulkan data disebut populasi. Menurut Kountur (2003:137), populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu objek yang merupakan perhatian peneliti. Objek penelitian dapat berupa makhluk hidup, benda-benda, sistem dan prosedur, fenomena, dan lain-lain. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh, terdapat 6 kelas dengan total keseluruhan berjumlah 144 siswa dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 3.1 Populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh

Kelas Jumlah Siswa

VIII-1 25

VIII-2 24

VIII-3 24

VIII-4 24

VIII-5 23

VIII-6 24

Jumlah 144 orang

Sumber: Tata Usaha SMP Negeri 13 Banda Aceh

Menurut Kountur (2003:137-138), sampel adalah bagian dari populasi.

Sampel penelitian ini adalah sebagian siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh tahun pelajaran 2016/2017 yang diambil secara acak. Pengambilan sampel penelitian ini berdasarkan pendapat Kountur (2003:143) menyebutkan,

β€œApabila anggota dari populasi telah terkumpul ke dalam kelompok-kelompok yang dipastikan bahwa jika salah satu kelompok diambil sebagai sampel dapat dipresentasikan populasi.” Jadi, sampel penelitian ini sebanyak 35 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh yang diambil secara acak. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan yaitu mengambil 6 siswa dari tiap kelas secara acak. Setelah itu penulis

memperoleh data tentang kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah teks diskusi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh, yang berjumlah 35 siswa.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nontes.Siswa diberikan teks diskusi, selanjutnya siswa diminta untuk membaca teks yang diberikan peneliti.Setelah semua siswa membaca teks mereka diminta mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi meliputi penggunaan kata modalitas, penggunaan kata kerja aksi, penggunaan konjungsi perlawanan, dan penggunaan kohesi leksikal.Alokasi waktu yang digunakan adalah 2 jam pelajaran (2x40 menit).

Pada 40 menit pertama, siswa diminta mendengar penulis menerangkan pengertian, struktur, ciri kebahasaan dan memberikan contoh teks diskusi.Pada 40 menit berikutnya, siswa diminta mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi.

Teks diskusiyang telah diindentifikasi siswa diberi nilai berdasarkan aspek yang telah ditentukan.Aspek tersebut meliputi aspek ciri kebahasaan teks diskusi.Aspek ciri kebahasaan meliputi penggunaan kata modalitas, penggunaan kata kerja aksi, penggunaan konjungsi perlawanan, dan

penggunaan kohesi

leksikal.Untukmemberikan hasil yang objektif, peneliti menggunakan klasifikasi nilai dengan cara memberikan bobot nilai untuk masing-masing aspek yang diteliti. Rincian aspek yang dinilai dan bobot nilai yang diberikan tercatat dalam tabel berikut.

Tabel 3.2 Aspek Penilaian Teks Diskusi

No Aspek dan Kriteria Penilaian Skor Skor

Maksimum

1. Menggunakan Sangat baik 30 30

(7)

Kata Modalitas Mampu mengidentifikasi 20 kata modalitas

Baik

Mampu mengidentifikasi 9 kata modalitas

20

Kurang

Mampu mengidentifikasi 6 kata modalitas

15

Sangat kurang

Mampu mengidentifikasi 3 kata modalitas

10

2. Menggunakan Kata Kerja Aksi

Sangat baik

Mampu mengidentifikasi 30 kata kerja aksi

40 40

Baik

Mampu mengidentifikasi 14 kata kerja aksi

20

Kurang

Mampu mengidentifikasi 4 kata kerja aksi

15

Sangat kurang

Mampu mengidentifikasi 3kata kerja aksi 10

3. Menggunakan Konjungsi Perlawanan

Sangat baik

Mampu mengidentifikasi 4 kata konjungsi perlawanan

10 10

Baik

Mampu mengidentifikasi 3 kata konjungsi perlawanan

7

Kurang

Mampu mengidentifikasi 2 kata konjungsi perlawanan

5

Sangat kurang

Mampu mengidentifikasi 1kata konjungsi perlawanan

2

4. Menggunakan Kohesi

Leksikal

Sangat baik

Mampu mengidentifikasi 6 kata kohesi leksikal

20 20

Baik

Mampu mengidentifikasi 3 kata kohesi leksikal

15

Kurang

Mampu mengidentifikasi 2 kata kohesi leksikal

10

Sangat kurang

Mampu mengidentifikasi 1kata kohesi leksikal

5

Jumlah 100

Data penelitian ini diolah secara deskriptif-kuantitatif. Menurut Sugiyono

(2014:14), penelitian kuantitatif dapat

diartikan sebagai metode penelitian

(8)

berdasarkan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik kuantitatif, yaitu dilakukan menggunakan statistik dengan cara memberikan penilaian yang telah ditentukan. Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah mengolah data dengan mencari nilai rata-rata keseluruhan aspek yang diteliti dengan menggunakan rumus.

Arikunto (1998:245-246) menyampaikan bahwa data yang bersifat kuantitatif yang berwujud angka-angka hasil perhitungan dapat diproses dengan beberapa cara, antara lain: (a) dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh presentase, (b) dijumlahkan, diklasifikasikan sehingga merupakan suatu susunan urut data (array), untuk selanjutnya dibuat tabel, maupun yang diproses lebih lanjut menjadi perhitungan pengambilan kesimpulan atau untuk kepentingan visualisasi datanya. Analisis data dilakukan dengan cara menghitung nilai rata-rata (mean) dari hasil jawaban siswa. Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut.

(1) Menyusun nilai yang diperoleh siswa dari hasil mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi, nilai diurutkan berdasarkan nilai tertinggi hingga nilai terendah.

(2) Mencari nilai rata-rata (mean) dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut.

(3) Menentukan range (R) dengan menggunakan rumus:

R = H-L

Keterangan: R = range H = nilaitertinggi L = nilai terenda

(4) Menentukan banyak kelas interval dengan menggunakan aturan sturges seperti berikut:

Banyak kelas = 1 + (3,3) log n

(5) Menentukan panjang kelas interval dengan menggunakan rumusyang ditentukan oleh Sudjana (1996:47):

P = π‘…π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘”

π΅π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜πΎπ‘’π‘™π‘Žπ‘ 

(6) Menyusun tabel distribusi frekuensi data berkelompok berdasarkan aturan yang diperoleh dari langkah a, b, dan c.

(7) Mencari nilai rata-rata (mean) dengan berpedoman pada rumus yang ditentukan oleh Hartono (2008:34):

M= fx

n

Keterangan: M= nilai rata-rata f= frekuensi x= jumlah nilai n= banyak data

(8) Selanjutnya, mencari persentase kemampuan siswa mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi dengan menggunakan

𝑃 = 𝑓

𝑛 π‘₯ 100 % Keterangan:

𝑃 = angka persentase

𝑓 = frekuensi yang sedang dicari persentaseny

𝑛 = jumlah yang disajikan data Nilai = π‘ƒπ‘’π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’ π‘•π‘Žπ‘› π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ

π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘€π‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘šπ‘’π‘š x Skor Ideal (100) = ….

Setelah itu, untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi, peneliti memasukkan nilai rata- rata yang telah diperoleh ke dalam kategori penilaian yang bersumber pada klasifikasi skala penilaian Depdiknas (2006:57) sebagai berikut.

Tabel 3.3 Klasifikasi Penilaian Hasil Tes

No. Bentuk Kualitatif Bentuk Kuantitatif 1. Sangat Baik 85–100

2. Baik 70–84

3. Cukup 56–69

4. Kurang 40–55

5. Sangat Kurang <39

(Sumber: Depdiknas 2006:57)

(9)

Hasil Penelitian

Data penelitian ini didapatkan dari hasil kerja siswa kelas VIII SMP Negeri13 Banda Aceh dalam mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi.Jumlah sampel data dalam penelitian ini adalah 35 siswa.Penilaian data penelitian ini untuk melihat kemampuan siswa mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi.Ciri kebahasaan teks dalam penelitian ini merupakan kelengkapan ciri kebahasaan meliputi, penggunaan kata modalitas, penggunaan kata kerja aksi, penggunaan konjungsi perlawanan, dan penggunaan kohesi leksikal.Untukaspek skor maksimal, penggunaan kata modalitasadalah 30,penggunaan kata kerja aksi adalah 40, penggunaan konjungsi perlawanan adalah 10, dan penggunaan kohesi leksikal adalah 20. sehingga skor maksimal dari seluruh aspek yang diperoleh siswa adalah 100.

Berikut ini disajikan skor yang diperoleh siswa KelasVIII SMP Negeri 13 Banda Aceh dalam mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi. Kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi berdasarkan hasil penelitian ini masuk kedalam kategori cukup. Hasil ini didapatkan setelah melakukan proses penelitian, pengumpulan data, dan pengolahan data. Skor yang diperoleh siswa berdasarkan keseluruhan aspek penilaian adalah 69. Hasil ini diperoleh setelah melakukan perhitungan nilai rata- rata dengan menggunakan rumus sederhana. Menurut klasifikasi nilai (Depdiknas, 2006:57) rentang nilai 56-69 masuk ke dalam kategori cukup dan nilai 69 ada pada rentang nilai tersebut.

Dengan demikian, siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh belum mampu mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi.

Skor atau nilai rata-rata siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh ini didapat dari penjumlahan seluruh aspek penilaian dalam mengidentifikasi

ciri kebahasaan teks diskusi, yaitu penggunaan kata modalitas, kata kerja aksi, konjungsi perlawanan, dan kohesi leksikal. Selain perolehan skor secara keseluruhan, ada juga skor yang diperoleh berdasarkan masing-masing aspek tersebut yaitu skor untuk aspek penggunaan kata modalitas adalah 95, kata keja aksi adalah 58, konjungsi perlawanan adalah 39, dan kohesi leksikal adalah 48.Dengan demikian, siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh belum mampu mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi.

Setelah dilakukan pengolahan data, diketahuilah bahwa terdapat banyak kekurangan pada hasil kerja siswa.

Kekurangan-kekurangan tersebut diantaranya pada mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi. Penelitian yang

dilakukan dalam bentuk

mengidentifikasi. Maksudnya, peneliti memberikan sebuah teks yang berjudulβ€œbolehkah siswa membawa telepon seluler ke sekolah”, dan meminta siswa untuk mengidentifikasi ciri kebahasaan yang telah dijelaskan.

Adapun ciri kebahasaannya ialah penggunaan kata modalitas, kata kerja aksi, konjungsi perlawanan, dan kohesi leksikal. Setelah dilihat dari pengolahan data, Sebagian besar siswa belum mampu mengidentifikasi penggunaan kata kerja aksi, konjungsi perlawanan, dan kohesi leksikal dengan baik. Namun, dalam mengidentifikasi penggunaan kata modalitas siswa sudah mampu mengidentifikasi dengan baik dan benar.

Berdasarkan hasil pengolahan data dan penentuan teks diskusi yang ditentukan siswa, rendahnya pemerolehan skor disebabkan oleh beberapa hal, seperti banyak siswa yang belum memahami intruksi dengan baik.

Selanjutnya, pengetahuan siswa

mengenai ciri kebahasaan teks diskusi

masih sangat kurang. Hal ini terbukti dari

kesulitan yang dialami siswa. Kesulitan

yang dialami siswa-siswa tersebut

merupakan akibat dari kelalaian mereka

(10)

sendiri, seperti tidak memperhatikan pembelajaran mengenai mengidentifikasi ciri kebahasaan teks. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dilihat bahwa kemampuan siswa VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi dalam penelitian ini tergolong pada kategori cukup..

Penutup

Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan data serta analisis data pada penelitian ini, nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi dikategorikan ke dalam kategori cukup.Hal ini didasarkan pada nilai rata- rata yang diperoleh siswa yaitu 65.

Setelah disesuaikan dengan klasifikasi nilai Depdiknas (2006:57) skor 65 berada pada rentang 56-69, skor pada rentang tersebut dikategorikan ke dalam kategori cukup.

Adapun aspek penilaian dalam penelitian ini yaitu ciri kebahasan teks diskusi meliputi penggunaan kata modalitas, kata kerja aksi, konjungsi perlawanan, dan kohesi leksikal.Skor yang diperoleh siswa berdasarkan keseluruhan aspek dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Siswa yang memperoleh skor pada rentang 85–100 sebanyak empat orang, setelah itu diikuti kategori baik dengan rentang nilai 70–84 sebanyak empat belas orang siswa, kategori cukup dengan rentang nilai 56–

69 sebanyak delapan orang siswa, kategori kurang dengan rentang nilai 40–

55 sebanyak delapan orang, sedangkan untuk kategori sangat kurang dengan rentang nilai di bawah 39 (<39) diperoleh oleh satu orang siswa. Berdasarkan uraian tersebut, skor paling dominan yang diperoleh oleh siswa ada pada rentang 56–69, yaitu menempati kategori cukup.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi dikategorikan cukup, artinya siswa

kurang memahami bagaimana cara mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi.

Berdasarkan uraian di atas, dalam hal ini penulis mengemukakan beberapa saran. Adapun saran-saran yang diajukan adalah sebagai berikut.

(1) Diharapkan kepada para siswa untuk melatih diri dan mempelajari teks diskusi

(2) Diharapkan kepada para siswa agar lebih fokus dalam memperhatikan

pembelajaran mengenai

mengidentifikasi ciri kebahasaan teks diskusi

(3) Diharapkan kepada para guru pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 13 Banda Aceh agar dapat meningkatkan penyajian materi mengenai ciri kebahasaan teks diskusi, sehingga siswa menjadi lebih paham.

(4) Diharapkan kepada pihak sekolah agar dapat meningkatkan media pembelajaran seperti buku-buku di perpustakaan dan juga kegiatan- kegiatan yang dapat menunjang kemampuan siswa.

Daftar Pusataka

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta.

Barwick, John. 1998. Targeting Text:

Photocopiable Units Based on English Text: Type:Information Reports, Eksplanations,

Discussion: Upper Level Book 3.

Australia :Blake Education.

Departemen Pendidikan Nasional.2006.

Standar Isi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004.

Komposisi: Sebuah Pengantar

(11)

Kemahiran Berbahasa. Flores:

Nusa Indah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

2013. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 SMP/MTS. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kementrian Pedidikan dan Kebudayaan.2011. Kamus Besar Bahasa Indonesian Untuk Pelajar. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

2014. Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan. Jakarta:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kridalaksana, Harimurti. 2011. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Kountur, Ronny. 2003. Metode Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Jakarta: PPM.

Kurniawan, Endang dan Endah

Mutaqimah. 2009.

Penilaian.Jakarta: Depdiknas.

Mahsun. 2014. Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rosiana, Tina. 2013. Mencermati Perubahan dan Pelaksanaan Kurikulum 2013.Universitas Negeri Semarang.Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Fakultas Ilmu

Pendidikan: Diakses Tanggal 10 Februari 2017.

Sedarmayanti dan Syarifuddin Hidayat.

2002. Metodelogi Penelitian.

Bandung: Mandar Maju.

Sudjana. 1996. Metoda Statistika.

Bandung: Tarsito.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono.2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.

Bandung: Alfabeta.

Suyatno. 2014. Makalah Pelatihan Penulisan Jenis Teks. Surabaya:

Unesa.https://ml.scribd.com/doc/1

62896688/Untitle.diunduh pada

22 Desember 2016.

Figure

Tabel 3.1 Populasi siswa kelas VIII  SMP Negeri 13 Banda Aceh

Tabel 3.1

Populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Banda Aceh p.6
Tabel 3.3 Klasifikasi Penilaian Hasil  Tes

Tabel 3.3

Klasifikasi Penilaian Hasil Tes p.8

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in