PENERAPAN METODE DRILL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN LEMPAR TANGKAP BOLA LAMBUNG DALAM
PERMAINAN ROUNDERS PADA SISWA KELAS V TAHUN PELAJARAN 2014/2015 DI SDN 2 GEMAHARJO KECAMATAN
WATULIMO TRENGGALEK
Oleh:
Parmi Lestari
SDN 2 Gemaharjo Kecamatan Watulimo, Trenggalek
Abstrak. Penerapan model pembelajaran lebih banyak dilakukan pada mata pelajaran selain penjasorkes, padahal dalam mata pelajaran penjasorkes juga dapat menggunakan model pembelajaran seperti model drill. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, banyak didapatkan keluhan dari para guru penjasorkes tentang fasilitas kurang mencukupi dibanding jumlah murid dan lapangan olahraga. Namun penambahan kelengkapan dan fasilitas belum pasti bisa menjamin peningkatan hasil belajar tanpa dibarengi dengan profesionalisme dari kinerja guru itu sendiri.
Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penerapan model drill terhadap perubahan paradigma dari kinerja seorang guru penjasorkes dalam menyampaikan materi pembelajaran, dan bisa mengembangkan potensi yang ada pada diri anak khususnya pada keterampilan lempar tangkap bola lambung dalam permainan Rounders. Hasil penelitian terhadap siswa kelas V SDN 2 Gemaharjo menunjukkan bahwa dengan penerapan model drill berdampak positif pada pembelajaran materi lempar tangkap bola lambung dalam permainan rounders, didasari pada hasil observasi pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan siklus II.
Kata Kunci: Metode Drill, Keterampilan Lempar Tangkap bola lambung, Permainan Rounders
Permainan Rounders berasal dari Negara Inggris. Rounders pertama kali dimainkan di Tudor. Rounders mulai populer di Indonesia pada tahun 1950 yang dikembangkan oleh seorang berkebangsaan Belanda.
Dalam Pendidikan jasmani kesehatan dan Olahraga juga terdapat materi per- mainan bola kecil termasuk permainan rounders. Dalam permainan itu sangat dibutuhkan ketangkasan untuk menangkap dan melempar bola antar pemain, selain memukul bola. Jika lemparan dan tangkapan bola sangat mahir, maka permainan akan menjadi lebih seru jika kedua team mempunyai kecakapan yang sama (Dimas, 2009).
Permainan rounders adalah salah satu permainan bola kecil yang paling disukai anak-anak, demikian Edi mence- ritakan (Wawancara tgl.15 Agustus 2014).
Tetapi, biasanya anak-anak melakukan hanya untuk kesenangan saja tanpa ada keterampilan lemparan dan cara menangkap bola dengan benar, sehingga dalam per- mainan banyak sekali lemparan dan tang- kapan yang tidak bisa terselesaikan dengan baik, sehingga sering terjadi salah sasaran sehingga bola tidak bisa tertangkap dengan baik dikarenakan teknik lemparan yang tidak baik.
Dalam permainan Rounders sangat dibutuhkan keterampilan melempar dan me- nangkap bola dengan wajar, sehinga dalam
permainan itu bisa berlangsung dengan baik dan permainan ini bisa dinikmati bagi yang melihat /penonton dan pemain itu sendiri.
Apalagi jika para pemain dapat memper- lihatkan keterampilan optimalnya, sehingga permainan menjadi hidup tanpa ada pemain yang merasa tidak mendapatkan lempar- an/tangkapan bola dalam permainan (Laurens, 2005).
Fenomena yang terjadi di sekolah yang sebagaimana diungkapkan oleh Edi bahwa siswa kurang latihan dalam per- mainan rounders serta kurang suka meng- ikuti pelajaran olah raga (Wawancara tgl.15 Agustus 2014). Kondisi tersebut menim- bulkan persoalan sendiri diantaranya, kapa- sitas latihan kurang terpenuhi, pembentukan kebiasaan untuk terampil bermain rounders tidak terbentuk. Hal itu dikuatkan oleh Edi yang menyatakan bahwa keterampilan siswa di sekolah ini dalam bermain rounders sangat rendah (Wawancara .15 Agustus 2014).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin memilih judul penelitian, “Penerapan Metode Drill untuk meningkatkan keteram- pilan lempar tangkap bola lambung dalam permaianan Rounders di Siswa Kelas V semester I SDN 2 Gemaharjo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek Tahun Pelajaran 2014/2015 ”.
METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. penelitian ini juga termasuk penelitian diskriptif, sebab meng- gambarkan bagaimana suatu metode pem- belajaran diterapkan dan bagaimana hasil
yang akan diinginkan dapat tercapai penelitian tindakan bisa dipahami dari dua sisi ,yaitu dari sisi guru dan kepala sekolah dari sisi guru lazim dikenal dengan pene- litian tindakan kelas .untuk melakukan pene- litian tindakan kelas, Oja dan Sumarjan da- lam Titik Sugiarti (1997:8), menyatakan ada 4 macam bentuk penelitian tindakan kelas, yaitu (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaboratif, (3) penelitian tindakan simulatife terinteratif, dan (4) penelitian tindakan social eksperimental.
Gambar 1 Diagram alur PTK Kemmis dan Mc.Taggat (Sumber: Suharsini Arikunto, 2007)
Dalam penelitian tindakan ini meng- gunakan bentuk penelitian kolaboratif de- ngan guru Dikjasorkes dan di dalam proses belajar mengajar di lapangan yang bertindak sebagai pengajar adalah guru Dikjasorkes sedang kan peneliti bertindak sebagai pengamat, penanggung jawab penuh pene- litian tindakan adalah pengamat (peneliti).
Refleksi Observasi
Pelaksana tindakan Rencana tindakan Refleksi Observasi
Pelaksana tindakan Rencana tindakan Refleksi
Awal
Tidak berhasil
Berhasil
Tidak berhasil
Berhasil, dst.
Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas yang mana peneliti secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari peren- canaan, tindakan, pengamatan dan refleksi untuk lebih memberikan gambaran kongkrit pelaksanaan siklus dalam PTK ini digam- barkan pada Gambar 1.
1. Refleksi Awal
Refleksi awal dimaksudkan sebagai kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Peneliti bersama timnya melaku- kan pengamatan pendahuluan untuk menge- nali dan mengetahui situasi yang sebenar- nya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan dengan memfokuskan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi ma- salah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian.
2. Penyusunan perencanaan
Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, me- ningkatkan atau mengubah perilaku dan si- kap yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perlu disadari bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada.
3. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya
perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empiric agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.
4. Observasi (pengamatan)
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.
5. Refleksi
Pada dasarnya kegiatan refleksi meru- pakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan memper- timbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan.
Melalui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam.
Refleksi merupakan bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Pada hakekatnya model Kemmis dan Taggart berupa perangkat-perangkat atau untaian dengan setiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dipandang sebagai suatu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung dari permasalahan- permasalahan yang perlu dipecahkan, yang
pada umumnya lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah pada umumnya berdasar pada model (2) ini yaitu merupakan siklus-siklus yang berulang.
Dalam penelitian ini peneliti bekerja sama dengan guru Dikjas, kehadiran peneliti sebagai guru di tengah-tengah proses belajar mengajar sebagai pengamat diberitahukan kepada siswa. Dengan cara ini diharapkan adanya kerja sama dari seluruh siswa dan bisa mendapatkan data seobyektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.
B. Sasaran Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 2 Gemaharjo Kecamatan Watulimo Kabupa- ten Trenggalek pada materi pembelajaran rounders khususnya pada keterampilan lempar tangkap bola lambung. Dengan jumlah siswa kelas V sebanyak 17 orang.
C. Subyek penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 2 Gemaharjo Kecamatan Watulimo-Treng- galek.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Semester ganjil pada bulan Agustus-September 2014/
2015.
D. Instrumen Penelitian
1. Lembar Observasi Kegiatan Belajar Me- ngajar. (a) Lembar observasi pengelolaan Metode Drill, untuk mengamati kemam- puan guru dalam mengelola pembela- jaran. (b) Lembar observasi aktivitas sis- wa dan guru untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pem- belajaran.
2. Pedoman Tes praktek
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman materi yang diajarkan. Tes praktek ini diberikan setiap akhir putaran (Sanjaya, 2009).
E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara obser- vasi, tes dan wawancara (Moleong, 2007).
Observasi dimaksudkan untuk me- ngumpulkan data pembelajaran tentang pe- nerapan Metode Drill dalam mengajarkan lempar tangkap bola lambung dalam per- mainan rounders.
Wawancara dimaksudkan mengum- pulkan data pembelajaran tentang fenomena perilaku guru maupun siswa yang tidak da- pat ditangkap melalui pengamatan.
Tes dimaksudkan untuk mengumpul- kan data keterampilan siswa dalam melaku- kan lempar tangkap bola lambung pada permainan rounders.
F. Teknik Pengolahan data
Dalam penelitian ini data yang ter- kumpul diolah dengan tahapan berikut.
1. Klasifikasi data. Mengelompokkan data yang sejenis maupun yang berbeda.
2. Reduksi data. Menyisihkan data yang terkumpul tetapi tidak diperlukan dalam penelitian ini.
3. Analisis data. Data yang terkumpul dari penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif dan dipaparkan secara naratif.
4. Kesimpulan. Menarik kesimpulan dari semua kesimpulan penelitian berdasarkan analisis data. (Kriswanto. 2008).
G. Kriteria keberhasilan penelitian Penelitian ini dinyatakan berhasil, jika: (1) Seluruh perlakuan pelaksanaan me- tode drill telah dilakukan secara sistematis dan utuh. (2) Terdapat 75 % dari jumlah sis- wa telah mencapai nilai keterampilan lem- par tangkap bola lambung dalam permainan rounders minimal sama dengan ketentuan KKM yang diberlakukan, yaitu 75.
HASIL PENELITIAN 1. Penerapan metode drill
Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa penerapan metode drill dilaksanakan dengan tahapan-tahapan: a) Memberi model/
contoh melempar dan menangkap bola lambung, b) Melatih setiap siswa untuk melempar bola. c) Melatih setiap siswa untuk menangkap bola, d) Mengoreksi gerakan menangkap dan melempar bola lambung, e) Melatih siswa melempar dan menangkap bola sesuai hasil koreksi, dan f) Membiasakan gerakan lempar dan tangkap bola secara berulang terus menerus.
Hal itu, sesuai dengan yang dinyatakan oleh Winarno (1994), melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran metode drill memiliki dampak positif dalam meningkatkan keterampilan lempar tangkap bola lambung pada siswa.
Hal ini dapat dilihat dari peningkatan keterampilan siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, dan II) untuk ranah psikomotor yaitu 71 pada siklus I dan 78 Siklus II, sedangkan untuk ranah afektif yaitu 71,8 dan 78,2 pada siklus II. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Hasil tersebut dapat dibenarkan, karena penggunaan metode drill memiliki kelebihan-kelebihan, diantaranya:
a. Bahan yang diberikan secara teratur, tidak loncat-loncat dan step by step akan lebih melekat pada diri anak dan benar- benar menjadi miliknya.
b. Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera diberikan oleh guru memungkinkan murid untuk segera melakukan perbaikan terhadap kesalah- an-kesalahannya.
Dengan demikian juga akan meng- hemat waktu latihan.
a. Pengetahuan atau keterampilan siap yang telah terbentuk sewaktu-waktu dapat dipergunakan dalam keperluan sehari-ha- ri, baik untuk keperluan studi maupun untuk bekal hidup di masyarakat kelak.
b. Untuk memperoleh kecakapan motorik, atau terampil menggunakan peralatan olah raga.
c. Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
d. Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya.
e. Pembentukan kebiasaan-kebiasaan mem- buat gerakan yang kompleks, rumit, men- jadi lebih otomatis.
f. Metode ini memungkinkan kesempatan untuk lebih memperdalam kemampuan secara spesifik.
g. Dapat menambah minat siswa terhadap pelajaran mereka.
h. Metode difokuskan kepada satu kom- ponen yang spesifik sehingga siswa dapat konsentrasi pada suatu kemampuan dalam waktu singkat.
i. Dapat menambah kesiapan siswa dan me- ningkatkan kemampuan respon yang cepat. Misalnya, dapat menangkap bola dengan reflek/gerak cepat) Dapat mem- bangkitkan perasaan sukses bagi siswa
yang dapat menguasai lebih dari satu kemampuan yang spesifik.
j. Memungkinkan tiap individu untuk me- ngaplikasikan, mengembangkan, dan me- ngkaitkan beberapa situasi atau problema yang ada.
k. Berbagai macam strategi dapat me- nambah dan meningkatkan kemampuan.
l. Kedua unsur guru dan siswa dapat me- ngena lebih jauh kegunaan dari kete- rampilan yang sedang dikembangkan itu.
m. Berlatih sudah merupakan teknik yang tidak asing lagi dan digunakan di ber- bagai lingkungan masyarakat sebagai strategi pembelajaran yang valid
2. Hasil belajar
a. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan metode drill dalam setiap siklus mengalami peningkatan.
Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
b. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran metode drill paling dominan adalah belajar dengan dilakukan secara berulang-ulang akibatnya keterampilan siswa tentang lempar tangkap bola semakin meningkat.
Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah meto- de drill dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya
aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mempraktikkan hasil pembelajaran, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik dalam prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
c. Tanggapan siswa terhadap model pembelajaran metode drill
Berdasarkan tanya jawab dengan siswa dapat diketahui bahwa tanggapan siswa termasuk positif. Ini ditunjukkan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan model pembelajaran meto- de drill. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap model pembelajaran metode drill, sehingga siswa menjadi termotivasi untuk belajar lebih giat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya metode drill dapat mening- katkan keterampilan siswa.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan Kelas bagaimana dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Penerapan metode drill dilakukan dengan tahapan-tahapan: (a) Memberi model/
contoh melempar dan menangkap bola lambung, (b) Melatih setiap siswa untuk melempar bola, (c) Melatih setiap siswa untuk menangkap bola, (d) Mengoreksi gerakan menangkap dan melempar bola lambung, (e) Melatih siswa melempar dan menangkap bola sesuai hasil koreksi, dan f) Membiasakan gerakan-gerakan lempar dan tangkap bola secara berulang terus menerus.
2. Melalui penerapan metode drill, hasil belajar yang dicapai siswa mengalami peningkatan dilukiskan dengan hasil capaian nilai pada refleksi awal = 67, siklus I = 70, dan siklus II = 78.
Saran
Berdasarkan simpulan hasil di atas, dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut: (1) Bagi pengajar yang sedang membelajarkan lempar tangkap bola dalam permainan rounders, hendaknya dalam me- lakukan pembentukan kelompok dilakukan dengan pengaturan tertentu, misalnya: anak yang tinggi dipasangkan dengan anak yang
posturnya tinggi. (2) Untuk menanggulangi pasifnya sebagian besar siswa hendaknya disediakan jumlah bola yang cukup jika dimungkinkan disediakan bola sejumlah anak. (3) Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat digunakan pijakan untuk penelitian lebih lanjut dengan mengembangkan wilayah populasinya desain penelitiannya maupun penerapan metode dan atau model pembelajaran yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2007. Penelitian Tindakan Ke- las. Jakarta: Bumi Aksara.
Ginanjar, Dimas A. 2009. Proses Pembela- jaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar. Skripsi.
Laurens, S. dan Hendrayana, Y. 2005. Pe- rencanaan Pengajaran Pendidikan Jasmani. Bandung: FOPK UPI.
Moleong, Lexy J. 2007 Metodologi Peneliti- an Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidi- kan. Jakarta: Prenada.
Sugiarti, Titik. 1997. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disampaikan pada Pe- latihan Peningkatan Kualifikasi Guru S1 PGSD. Universitas Jember.
Surakhmad, Winarno, 1982. Pengantar Pe- nelitian Ilmiah Dasar. Bandung: Tek- nik Tarsito.