• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

Dalam Bab Pendahuluan diuraikan mengenai latar belakang pemilihan topik, perumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian serta sistematika penelitian.

I.1 Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 55 Tahun 2016, tentang Tugas Pokok dan Fungsi, Rincian Tugas Unit dan Tata Kerja Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, bahwa Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat mempunyai tugas pokok menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang sosial, meliputi perlindungan dan jaminan sosial, penanganan fakir miskin, rehabilitasi Sosial dan pemberdayaan sosial yang menjadi kewenangan Daerah Provinsi, melaksanakan tugas dekonsentrasi dan melaksanakan tugas pembantuan sesuai bidang tugasnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi ke depan, Dinas Sosial masih menghadapi beberapa permasalahan, antara lain: 1. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi Kesejahteraan Sosial (PSKS) belum terintegrasi secara optimal baik dengan pusat (Kementerian Sosial RI maupun dengan Dinas Sosial Kabupaten/Kota 2. Kecenderungan peningkatan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial baik kualitas maupun kuantitas 3. Belum optimalnya pemanfaatan dan pendayagunaan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) 4.

Belum optimalnya penanganan bencana alam dan dampak sosial 5. Belum optimalnya penanganan penduduk miskin 6. Belum optimalnya pembinaan dan pemberdayaan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) sebagai mitra kerja pemerintah yang strategis dalam penanganan PMKS dalam panti. (Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat memiliki beberapa kendala, salah satu permasalahan pada pelayaanan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, yaitu penanganan PMKS kurang Optimal. Belum optimalnya koordinasi anatara instansi pemerintah pemerintah pusat, pemerintah dilingkungan pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah kabupaten/ kota serta koordinasi

(2)

2

dengan PSKS dalam penanganan PMKS. Hal ini berdasarkan meningkatnya jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat sebesar kurang lebih 3% dari tahun sebelumnya, tahun 2018. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi permasalahan penanganan PMKS kurang Optimal, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dari segi faktor internal yaitu terbatasnya jumlah tenaga kesejahteraan sosial (Tidak proporsional dengan jumlah PMKS) sedangkan faktor ekternal terbatasnya Anggaran untuk peningkatan SDM (Tidak proporsional dengan beban biaya Penanganan PMKS) serta Peran Dinas Sosial Kabupaten/Kota belum optimal. (Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

Berdasarkan Telaahan Visi, misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang terpilih memiliki visi “ Terwujudnya Jabar Juara Lahir Batin, dengan Inovasi dan Kolaborasi”. Dalam rangka pencapaian visi yang telah ditetapkan dengan tetap memperhatikan kondisi dan permasalahan yang ada serta tantangan ke depan, dan memperhitungkan peluang yang dimiliki, maka salah satu misi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu “meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi umat yang sejahtera dan adil melalui pemanfaatan teknologi digital dan kolaborasi dengan pusat pusat inovasi serta pelaku pembangunan”. Teknologi Informasi (TI) dewasa ini menjanjikan efisiensi, efektivitas, transparansi, jangkauan global dan kecepatan informasi. Efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan memperhatikan aspek-aspek hubungan antar lembaga, potensi dan keragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan menyelenggarakan otonomi daerah. Peranan TI begitu signifikan dalam rangka mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah, bahkan sudah dimulai tahun 2003 dengan keluarnya Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2003 tentang Strategi dan Kebijakan Nasional Pengembangan e-Government. Penerapan e-Government merupakan keniscayaan dalam birokrasi pemerintahan dan layanan publik untuk mewujudkan pemerintahan yang transparan, responsif dan berkelanjutan. Dampak positif diterapkannya sistem e-Government di Indonesia adalah masyarakat dapat mengakses dan menerima laporan kinerja pemerintah secara aktual dan transparan.

Dengan TI, sistem pemerintahan menjadi lebih efektif dan efisien. (Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

(3)

3

Semakin pentingnya peran TIK dalam mendukung proses kerja dan layanan dalam pencapaian visi dan misi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, memicu perlunya evaluasi pemanfaatan dan implementasi solusi TIK untuk perbaikan yang berkesinambungan pada Perangkat Daerah dilingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dari data rekapitulasi kematangan TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat tahun 2018, nilai rekapitulasi kematangan TIK bidang sosial di Provinsi Jawa Barat dengan nilai indeks 1,21 dengan predikat kurang sebagaimana dirincikan dengan 4 domain yaitu tata kelola dan manajemen TI (A), Infrastruktur (B), Aplikasi (C), dan Keamanan Informasi (D).

(Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

Tabel I.1 Indeks Kematangan TIK

Urutan

Indeks Tingkat Kematangan TIK Pelayanan Dasar Tahun 2018

Pelayanan Dasar Indeks

A B C D

1. Pendidikan 1,28 1,30 1,52 0,00

2. Kesehatan 0,90 1,80 1,46 0,50

3. Pekerjaan Umum (PUPR) 0,58 1,80 0,61 0,00 4. Perumahan Rakyat dan

Kawasan Pemukiman

0,53 1,80 0,63 0,00

5. Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat.

0,70 1,90 1,20 0,00

6. Sosial 0,55 1,60 1,57 0,00

(Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

Berdasarkan nilai Indeks pada table I.1 menunjukkan bahwa masih banyak item perbaikan yang harus dilakukan untuk keseluruhan domain pengelolaan TIK.

Berdasarkan hasil penilaian kematangan pada table I.1 dapat disimpulkan bahwa untuk keseluruhan domain: tata kelola, infrastruktur, aplikasi dan keamanan informasi masih

(4)

4

banyak perlu dilakukan perbaikan dan pengembangan kedepan untuk mendapatkan kondisi tingkat kematangan yang lebih baik dalam mendukung sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) dilingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, khususnya di bidang sosial. Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, ditujukan untuk mewujudkan proses kerja yang efisien, efektif, dan transparan, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Untuk melihat sejauh mana penerapan SPBE tersebut, pada tahun 2018 pemerintah telah melakukan evaluasi SPBE di seluruh instansi pusat dan pemerintah daerah. Secara umum, indeks SPBE belum memenuhi target yang diharapkan. Evaluasi sistem pemerintahan berbasis elektronik merupakan proses penilaian terhadap pelaksanaan sistem pemerintahan berbasis elektronik di instansi pusat dan pemerintah daerah untuk menghasilkan suatu indeks sistem pemerintahan berbasis elektronik yang menggambarkan tingkat kematangan dari pelaksanaan sistem pemerintahan berbasis elektronik di instansi pusat dan pemerintah daerah. (Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

Kementerian PANRB selaku instansi pemerintah yang mengawal pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintah, harus merumuskan dan melaksanakan inisiatif dan inovasi terhadap percepatan reformasi birokrasi. Disisi lain, kita mengetahui bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangat cepat dan dinamis. Mau tidak mau, cepat atau lambat Pemerintah pun harus mampu adaptif, menyesuaikan diri, dan mengikuti perkembangan zaman agar dapat mewujudkan pemerintahan yang efektif, efisien, serta dapat memberikan pelayanan yang berkualitas sebagaimana tujuan dari reformasi birokrasi itu sendiri. Berdasarkan hal-hal tersebut maka SPBE bukan lagi menjadi sebuah pilihan, namun sudah menjadi keniscayaan atau keharusan dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintah. Reformasi birokrasi merupakan prioritas utama pelaksanaan pembangunan nasional yang bertujuan untuk melakukan perubahan sistematik dan terencana menuju tatanan administrasi pemerintahan yang lebih baik. Reformasi birokrasi bertujuan untuk menjadikan aparatur sipil negara yang lebih profesional, efektif, efisien, dalam rangka mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Reformasi birokrasi merupakan suatu upaya yang terencana dan sistematis untuk mengubah struktur, sistem, dan nilai-nilai dalam

(5)

5

pemerintahan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Proses bisnis yang berbelit-belit dan tumpang-tindih antara satu unit organisasi dengan unit organisasi yang lain akan membuat organisasi menjadi lambat untuk bekerja. Oleh karena itu, setiap unit organisasi memerlukan peta proses bisnis yang mampu menggambarkan proses bisnis yang dilakukan oleh organisasi dalam mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi.

(Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

Enterprise Architecture merupakan suatu kumpulan prinsip, metode, dan model yang bersifat masuk akal yang digunakan untuk mendesain dan merancang kemudian merealisasi sebuah struktur organisasi enterprise, proses bisnis, sistem informasi dan infrastruktur (Surendro, 2009). Dengan adanya perancangan Enterprise Architecture, dapat membantu mengarahkan organisasi atau instansi memiliki sistem informasi terintegrasi antara bisnis dan teknologi untuk mendukung tujuan organisasi, khususnya di bidang sosial. Pada perancangan Enterprise Architecture akan dilakukan analisis kondisi eksisting, kemudian dilanjutkan analisis target atau kondisi yang ingin dicapai kedepannya sesuai tujuan instansi. Enterprise Architecture sangat penting untuk meningkatkan sistem informasi dan mengembangkan sistem baru yang dapat mengoptimalkan nilai misi instansi. Enterprise Architecture adalah penetapan peta jalan untuk mencapai misi dari suatu organisasi melalui optimalnya proses bisnis dengan melibatkan teknologi informasi. EA merupakan blueprint sistematis yang secara utuh mendefinisikan organisasi saat ini atau organisasi yang diinginkan dalam satu ruang lingkup (Council, 2001). Bagaimana suatu implementasi dari arsitektur enterprise bisa digunakan oleh instansi, sebaiknya mengadopsi sebuah metode kerangka kerja atau framework yang bisa digunakan dalam melakukan pengembangan arsitektur enterprise tersebut.

TOGAF ADM merupakan framework open source dari The Open Group dapat memberikan metode yang rinci dalam membangun EA pada domain integrasi proses bisnis, aplikasi, data dan informasi, infrastruktur, dan kemanan TI untuk menghasilkan layanan pemerintahan yang lebih optimal. Penerapan framework TOGAF ADM pada Instansi Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat diharapkan mampu mendukung visi Kepala

(6)

6

Daerah Provinsi Jawa Barat “ Terwujudnya Jabar Juara Lahir Batin, dengan Inovasi dan Kolaborasi” (Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

Berdasarkan masalah yang ada, diperlukan adanya perancangan enterprise architecture pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat menggunakan kerangka kerja Togaf ADM dengan melakukan analisis kondisi eksisting, kemudian dilanjutkan analisis target atau kondisi yang ingin dicapai kedepannya sesuai tujuan instansi. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian yang berjudul “Analisis dan Perancangan Enterprise Architecture pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat menggunakan Kerangka Kerja Togaf ADM pada Fungsi Perlindungan dan Jaminan Sosial” (Renstra Dinsos Jabar 2018-2023).

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana rancangan Enterprise Architecture pada fungsi Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat?

2. Bagaimana hasil IT Roadmap menggunakan kerangka kerja TOGAF ADM dalam pengembangan teknologi digunakan sebagai acuan dalam melakukan implementasi perancangan enterprise pada fungsi Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat?

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menghasilkan rancangan rancangan Enterprise Architecture pada fungsi Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat

2. Menghasilkan blueprint architecture rancangan arsitektur integrasi aplikasi pada fungsi Perlindungan dan Jaminan Sosial

I.4 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini, manfaat yang bisa didapatkan yaitu:

(7)

7

1. Dengan adanya inovasi pemanfaatan teknologi sistem pemerintahan berbasis elektronik dapat mendukung “Terwujudnya Jabar Juara Lahir Batin, dengan Inovasi dan Kolaborasi”.

I.5 Batasan Masalah

Tugas akhir ini mempunyai ruang lingkup yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Perancangan Enterprise Architecture dengan menggunakan framework TOGAF ADM dengan membatasi hanya pada fase Preliminary Phase, Phase A:

Architecture Vision, Phase B: Business Architecture, Phase C: Information System Architecture (Data Architecture and Application Architecture), Phase D:

Technology Architecture.

2. Output artefak yang dihasilkan hanya mencakup catalog, matrices, dan core diagram.

I.6 Sistematika Penelitian

Pada sistematika penulisan ini menjelaskan uraian dan urutan dalam menulis laporan tugas akhir beserta isi dari bagian-bagiannya.

Pada Bab I Pendahuluan ini berisi uraian mengenai latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Dalam penulisan latar belakang ini menjelaskan latar belakang dari permasalahan penelitian yang akan dilakukan. Dalam menuliskan rumusan masalah di sini yaitu terdapat masalah apa saja yang akan diteliti pada penelitian ini.

Tujuan penelitian ini merupakan tujuan yang dilakukan saat melakukan penelitian tugas akhir, ingin mendapatkan pencapaian yang seperti apa dan bagaimana. Batasan penelitian di sini merupakan batasan dalam menyusun penelitian tugas akhir ini (seperti ruang lingkup) agar yang dibahas tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit). Manfaat penelitian merupakan manfaat yang didapatkan dari hasil penelitian tugas akhir.

Sistematika penulisan merupakan pembahasan apa saja yang akan dibahas dalam penelitian tugas akhir ini.

(8)

8

Pada Bab II Tinjauan Pustaka ini membahas mengenai landasan teori yang mendukung penulisan tugas akhir. Teori-teori yang diambil dari referensi yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Dalam bab ini juga menjelaskan mengenai teori yang berkaitan dengan Tugas Akhirnya.

Pada Bab III Metodologi Penelitian ini membahas model konseptual atau cara berpikir peneliti dalam melakukan penelitian tersebut serta sistematika pemecahan masalah dari penyusunan tugas akhir ini. Selain itu, membahas mengenai tahapan kerja dari tugas akhir ini. Dan yang terakhir membahas metode penelitian yang paling cocok digunakan dalam penelitian tugas akhir ini.

Pada Bab IV Persiapan dan Identifikasi ini terdiri dari dua fase, yaitu fase persiapan dan fase identifikasi. Fase persiapan menjelaskan tentang kebutuhan data penelitian dan teknik pengumpulan data tersebut. Fase identifikasi menjelaskan tentang deskripsi objek penelitian, gambaran umum organisasi, visi misi organisasi, struktur organisasi, identifikasi bisnis, identifikasi data, aplikasi, dan teknologi.

Pada Bab V Analisis dan Perancangan ini menjelaskan mengenai analisis dan perancangan enterprise architecture existing serta perancangan untuk arsitektur target yang akan diajukan untuk Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Analisis di sini, penulis menganalisis semua permasalahan yang ada di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Dan Perancangan di sini, penulis melakukan perancangan yang dapat direalisasikan di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Pada Bab IV Kesimpulan dan Saran ini dijelaskan mengenai kesimpulan dan saran dari penulis untuk tugas akhir yang dibuat di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Kesimpulan yang diambil dari penelitian yang sudah dilakukan di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Serta saran yang diberikan untuk Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat yang lebih baik lagi.

Gambar

Tabel I.1 Indeks Kematangan TIK

Referensi

Dokumen terkait

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

Hasil penelitian yang menunjukan nilai ekonomi air total resapan hutan lindung Gunung Sinabung dan hutan lindung TWA Deleng Lancuk di Desa Kuta Gugung dan Desa Sigarang

Gambar 4.4 Kurva hubungan antara kadar kumulatif β -carotene melewati mukosa palatum secara ex-vivo sebagai fungsi waktu yang ditetapkan pada λ = 461

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Berdasarkan hasil seleksi Panitia Rekrutmen Tenaga Pendamping LKK Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Koperasi dan Usaha Mikro Kota Madiun Tahun