Faktor faktor yang mempengaruhi prestasi akademik pada siswi fatherless yang berprestasi

217  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI

AKADEMIK PADA SISWI FATHERLESS YANG

BERPRESTASI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh:

Theodora Galih Sekkar Anjarsari

NIM: 129114102

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN MOTTO

‗However bad life may seem,

There is something you can do, and succeed at, There is life, there is hope‘

(Stephen Hawking – Theory of Everything)

(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Saya persembahkan karya ini untuk,

Tuhan yang Maha Kasih, Ayah dan ibu yang selalu memberikan kekuatan, Tetta dan Yayik yang selalu menerima kekurangan saya, Para sahabat yang selalu memberikan tawa dan keceriaan,

(6)
(7)

vii

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI AKADEMIK

PADA SISWI FATHERLESS YANG BERPRESTASI

Theodora Galih Sekkar Anjarsari

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik pada siswi fatherless yang berprestasi. Studi ini dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dengan 3 siswi yang memiliki prestasi akademik di Sekolah Menengah Atas, yang terdiri dari 2 siswi yang berusia 16 tahun, dan seorang siswi yang berusia 17 tahun. Seluruh partisipan memiliki latar belakang tidak memperoleh pengasuhan ayah di rumah dalam jangka waktu yang lama. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis isi kualitatif (AIK) dengan pendekatan deduktif, yakni analisis terarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswi fatherless dapat berprestasi karena dipengaruhi oleh faktor eksternal (dukungan ibu, dorongan dari keluarga, dan guru), faktor internal (kemampuan, minat, suka pada tugasnya, suasana hati baik, motivasi intrinsik, dan motivasi ekstrinsik), dan faktor pendekatan belajarnya (pendekatan surface & deep, dan pendekatan deep & achieving).

(8)

viii

THE FACTORS THAT INFLUENCE THE ACADEMIC ACHIEVEMENT TOWARD FATHERLESS WOMEN STUDENTS WHO HAVE GREAT

ACADEMIC

Theodora Galih Sekkar Anjarsari

ABSTRACT

This research aimed to know the factors that influence the academic achievement toward fatherless women students who have great academic. This research was conducted by way of semi-structured interview with three women students who have good academic achievement in high school. They were two students at 16 years old and one student at 17 years old. All of them have similar background who live without father‘s control in the long period of time. This data analysis was done by using qualitative content analysis, with deductive approach. The result showed that fatherless women students could have great achievement because of the influence of external factors (mother, family, and teacher‘s support), internal factors (ability, interest, loving the task, mood, intrinsic motivation, and extrinsic motivation), and learning approach factors (surface and deep approach & deep and achieving approach).

(9)
(10)

x

KATA PENGANTAR

‘Fatherless’, sebuah kata yang menggerakkan hati saya untuk mengenal kata itu lebih dalam lagi. Bahkan, begitu banyak kisah film yang mengangkat tentang pentingnya sosok ayah. Namun, bagaimana dengan ketidakhadiran itu sendiri? Apakah akan selalu ada kesedihan yang menyelimuti? Hal tersebutlah yang mendorong saya untuk mengenal lebih jauh tentang fatherless children. Saya ingin melihat kisah mereka dari sudut pandang lain, selain kesedihan.

Oleh karena itu, saya menuliskan kisah fatherless dalam penulisan skripsi ini. Dalam menyusun skripsi ini, tentunya saya haturkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena saya yakin, Tuhan memberikan perjalanan panjang yang penuh liku agar saya belajar untuk dewasa dan tekun.

Selain itu, skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S. Psi.). Kelancaran dan kesuksesan dalam menyusun skripsi ini tidak terlepas dari peran banyak pihak yang telah membantu dalam menghadapi kesulitan yang saya temui. Dengan kerendahan hati, saya ingin mengucapkan rasa terimakasih saya yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Eddy Suhartanto, M.Si., selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

(11)

xi

memberikan saran, pencerahan, dan mendengarkan keluh-kesah saya dalam menyusun skripsi.

4. Bapak Edward Theodorus, M.App.Psy., yang bersedia meluangkan waktunya untuk berdiskusi tentang penelitian ini.

5. Bapak Drs H. Wahyudi, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik saya yang selalu memberikan pengarahan dan masukan selama saya kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

6. Orangtua tercinta, ayah dan ibu yang selalu saya ingat dan menjadi motivator saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

7. Kedua adik, Tetta dan Yayik yang selalu memberi bantuan, menemani saya menyelesaikan skripsi dan mendengarkan keluh kesah saya.

8. Segenap Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terimakasih bapak dan ibu atas ilmu yang pernah dibagikan kepada saya selama saya menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi USD ini.

9. Sahabat yang tak lekang oleh waktu, Cesa dan Lia.

10.Sahabat-sahabat saya, Bazelaak gurls. Terima kasih untuk kak Gue, Gege, Gektri, Rini, Nikur Monyet, Pipi, Karin, Oci, Maureen, Mbak Dep, BM. 11.Reka dan Raras yang sudah banyak membantu penelitian ini.

12.Teman-teman Mitra Perpustakaan Paingan. Terima kasih karena selalu memberikan dukungan walaupun drama korea selalu memisahkan saya dengan skripsi.

(12)

xii

14.Seluruh teman-teman Bimbingan Skripsi Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si. Terima kasih atas saran, bantuan, informasi, keluh kesah yang sudah kita bagi bersama.

15.Teman-teman Psikologi Kelas C, angkatan 2012, Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

(13)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Penelitian ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 9

1. Manfaat Teoritis ... 9

2. Manfaat Praktis ... 9

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA... 10

A. Prestasi Akademik ... 10

1. Pengertian Prestasi Akademik ... 10

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Akademik ... 11

(14)

xiv

1) Inteligensi atau Kemampuan ... 11

2) Sikap ... 11

3) Bakat ... 12

4) Minat ... 12

5) Motivasi ... 12

b. Faktor Eksternal ... 13

1) Keluarga ... 14

2) Guru ... 14

3) Teman dan Masyarakat ... 15

4) Letak Rumah ... 15

5) Waktu Belajar ... 15

c. Faktor Pendekatan Belajar... 15

1) Pendekatan Surface ... 16

2) Pendekatan Deep ... 16

3) Pendekatan Achieving... 17

3. Karakteristik Siswa yang Berprestasi... 19

B. Anak Perempuan Fatherless ... 20

C. Kerangka Konseptual ... 22

BAB III : METODE PENELITIAN ... 25

A. Jenis dan Desain Penelitian ... 25

B. Partisipan ... 26

C. Peran Peneliti ... 28

D. Metode Pengumpulan Data ... 30

1) Protokol Wawancara ... 31

2) Dokumentasi... 32

E. Metode Perekaman Data ... 32

(15)

xv

1. Definisi Faktor Internal ... 34

2. Definisi Faktor Eksternal ... 34

a. Faktor Lingkungan Sosial ... 34

b. Faktor Lingkungan NonSosial ... 35

3. Definisi Faktor Pendekatan Belajar ... 35

G. Validitas dan Reliabilitas Penelitian ... 37

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN ... 39

A. Pelaksanaan Penelitian ... 39

B. Latar Belakang ... 40

1. Latar Belakang AD ... 40

2. Latar Belakang VN ... 41

3. Latar Belakang DT ... 42

C. Hasil Penelitian ... 43

1. Faktor Internal ... 43

a. Kemampuan... 43

b. Sikap ... 45

c. Minat ... 47

d. Motivasi Intrinsik ... 47

e. Motivasi Ekstrinsik ... 49

2. Faktor Eksternal ... 57

a. Faktor Lingkungan Sosial ... 57

1) Faktor Keluarga Besar ... 57

2) Faktor Ibu ... 59

3) Faktor Guru ... 62

b. Faktor Lingkungan NonSosial... 64

1) Waktu Belajar ... 64

(16)

xvi

a. Pendekatan Surface ... 65

b. Pendekatan Deep ... 67

c. Pendekatan Achieving... 69

D. Pembahasan ... 75

1. Faktor Internal ... 75

2. Faktor Eksternal ... 77

3. Pendekatan Belajar ... 79

4. Faktor Internal, Eksternal, dan Pendekatan Belajar ... 82

5. Faktor-faktor Lain ... 85

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 87

A. Kesimpulan ... 87

B. Keterbatasan Penelitian ... 90

C. Saran ... 90

1. Bagi anak fatherless yang ingin meraih prestasi ... 90

2. Orangtua tunggal, khususnya ibu dan Keluarga ... 91

3. Guru ... 91

4. Bagi Penelitian Selanjutnya ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 93

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pendekatan Belajar ... 17

Tabel 2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Siswa ... 19

Tabel 3.1 Data Partisipan ... 27

Tabel 3.2 Catatan Rapor Terakhir ... 28

Tabel 3.3 Kategori Koding ... 36

Tabel 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 39

Tabel 4.2 Ringkasan Hasil Penelitian ... 73

(18)

xviii

DAFTAR GAMBAR

(19)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Interview Protokol ... 97

Lembar Informed Consent Partisipan 1 ... 99

Lembar Informed Consent Partisipan 2 ... 100

Lembar Informed Consent Partisipan 3 ... 101

Lembar Member Checking Partisipan 1 ... 102

Lembar Member Checking Partisipan 2 ... 103

Lembar Member Checking Partisipan 3 ... 104

Verbatim Partisipan 1 ... 105

Koding/Pengkategorian Partisipan 1 ... 125

Verbatim Partisipan 2 ... 134

Koding/Pengkategorian Partisipan 2 ... 158

Verbatim Partisipan 3 ... 167

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Orang tua memiliki kepekaan dalam mempengaruhi perkembangan hidup anaknya. Dalam perkembangan kognitif, sosok ayah dan ibu memiliki cara yang berbeda dalam mempengaruhi anaknya (Dagun, 1990). Ibu sebagai sosok yang penyayang dan mengayomi pada anaknya, sedangkan seorang ayah memberikan rasa aman dan menyokong kepercayaan diri anaknya untuk menjadi sukses, melalui nasehat dan perlindungan (Schunk, Pintrich, & Meece, 2008). Bahkan, kehadiran dan perhatian dari figur ayah, dapat membantu merealisasikan potensi anaknya (Dagun, 1990).

Pada kenyataannya, tidak semua anak di dunia ini dapat merasakan kehadiran ayah dalam hidupnya. Ada berbagai keadaan yang menyebabkan anak tidak merasakan kehadiran figur ayah dalam perkembangan hidupnya. Keadaan tersebut sering disebut sebagai fatherless atau father absence. Fatherless adalah ketiadaan peran atau figur seorang ayah, yang dapat berupa ketidakhadiran secara fisik maupun psikologis dalam perkembangan hidup anak, yang disebabkan oleh permasalahan orangtua, perceraian, atau kematian (Sundari & Herdajani, 2013).

(21)

di Indonesia terletak di NTT dengan jumlah mencapai 492.519 anak, kemudian disusul Papua yang jumlahnya mencapai 399.462 anak (dalam nasional.republika.co.id).

Fatherless tentunya berpengaruh pada perkembangan mental-intelektual

dan akademik seorang anak, baik anak laki-laki maupun perempuan (Dagun, 1990). Kondisi fatherless sangat mempengaruhi prestasi akademik anak laki-laki karena sosok ayah cenderung lebih perhatian dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak laki-laki daripada dengan anak perempuan (Dagun, 1990). Bahkan ayah cenderung lebih mendorong prestasi akademik anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. (Parke, 1981 dalam Murray & Sandqvist, 1990). Hal tersebut menunjukkan bahwa faktor peran ayah sangat mempengaruhi akademik anak laki-laki. Sehingga, ketika isu fatherless terjadi, banyak penelitian fatherless yang hanya berpusat pada anak laki-laki (Murray & Sandqvist, 1990).

(22)

mereka. Hal tersebut terjadi karena ketika anak perempuan tidak memiliki keterlibatan ayah dalam hidupnya, ia cenderung enggan masuk perguruan tinggi yang baik atau enggan berusaha mencapai standar prestasi tertinggi, karena mereka kehilangan usaha untuk mendapatkan persetujuan ayahnya dalam berdiskusi mengenai perguruan tinggi. Berdasarkan paparan di atas, terlihat bahwa hubungan anak perempuan dengan ayah sangatlah penting untuk keberhasilan anak di ranah akademis dan karier. Anak perempuan tanpa bimbingan dari ayah cenderung lebih mudah menyerah dan tidak melaksanakan perkuliahan (Zia, Malik & Ali, 2015). Sehingga, dapat disimpulkan bahwa anak perempuan fatherless juga membutuhkan kehadiran ayah dalam perkembangan akademisnya, karena ayah akan memberikan dukungan sebagai sosok teladan di ranah akademis bagi anak perempuan. Akan tetapi, pembahasan tentang anak perempuan fatherless masih sedikit dilakukan di berbagai penelitian (Dagun, 1990).

Berbagai hasil penelitian ternyata menunjukkan bahwa anak-anak fatherless bisa memiliki prestasi akademik yang baik di sekolahnya, walaupun

tidak memperoleh pengasuhan ayah. Hal tersebut tercermin pada hasil penelitian Wadsby & Svedin (1996) yang menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami mengalami perceraian cenderung tidak menunjukkan prestasi sekolah yang rendah dibandingkan anak-anak dari keluarga utuh. Situasi tersebut dapat terjadi karena dilatarbelakangi oleh faktor dari lingkungan anak fatherless, yakni socioeconomic status (SES) keluarga (Svanum, Bringle, dan McLaughlin, 1982). Ketika SES di

(23)

fungsi akademik pada anak yang tidak memiliki figur ayah. Selain itu, ketika ibu-tunggal memiliki pendidikan yang lebih tinggi, maka kinerja sekolah anak-anaknya pun cenderung lebih besar (Kinard dan Reinherz, 1986). Penelitian Kriesberg (1967) pun mengatakan bahwa ibu-tunggal cenderung tidak mengendurkan tekanan pada anaknya dalam prestasi akademik dibandingkan ibu yang menikah. Bahkan, para ibu-tunggal menyatakan bahwa anak-anak father-absence cenderung lebih bertanggung jawab dalam melibatkan diri di aktivitas

rekreasi di sekitar rumah mereka dibandingkan anak dari keluarga utuh. Selain itu, Watts & Watts (1992) pun menyatakan bahwa ternyata status ibu-tunggal (female single-parent family) cenderung tidak mempengaruhi pencapaian prestasi

akademik anaknya. Hal tersebut dapat terjadi karena ketidakhadiran ayah cenderung tidak melemahkan kemajuan akademik seorang anak. Kemajuan akademik tersebut tercermin pada faktor kemampuan dan aspirasi akademik anak, yakni adanya motivasi intrinsik dan keberagaman respon individual dalam menghadapi stimulus lingkungan. Bahkan, motivasi berprestasi anak-anak fatherless cenderung lebih besar dibandingkan anak-anak dari keluarga utuh

(Vandamme & Schwartz, 1985). Sehingga Watts & Watts (1992) menyatakan bahwa faktor-faktor internal tersebut memiliki efek yang besar pada prestasi akademik anak fatherless.

(24)

anak-anak dari keluarga utuh, karena anak-anak laki-laki father-absence cenderung lebih banyak memperoleh tuntutan tugas di sekitar rumahnya dibandingkan anak dari keluarga utuh. Penemuan tersebut menjelaskan bahwa adanya faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku anak laki-laki fatherless di sekolah. Pada anak perempuan, Murray & Sandqvist (1990) memberi gagasan bahwa faktor internal yang mendorong anak perempuan fatherless adalah aspirasi edukasi anak perempuan yang hidup dengan ibu-tunggal cenderung lebih tinggi. Gagasan tersebut masuk akal, karena seorang anak perempuan akan belajar mengenai pentingnya memiliki pekerjaan yang baik jika ibunya adalah orangtua tunggal dan harus mencari nafkah sendiri.

Berdasarkan pemaparan penelitian-penelitian di atas, dapat terlihat bahwa ada faktor eksternal (berasal dari luar) dan faktor internal (berasal dari dalam diri) yang mempengaruhi prestasi akademik anak fatherless. Faktor-faktor tersebut cukup penting dalam mempengaruhi prestasi akademik anak fatherless, karena faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa efek negatif fatherless tidak selalu terjadi pada perkembangan akademik anak fatherless, baik laki-laki maupun perempuan.

Selain faktor internal dan eksternal, Syah (2008) mengungkapkan bahwa faktor pendekatan belajar juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi belajar siswa dalam mencapai prestasi akademik. Pendekatan belajar (approach to learning) dipahami sebagai strategi, cara, atau metode yang digunakan siswa

(25)

memiliki kecenderungan tidak bekerja keras dan gaya belajarnya santai), deep (siswa yang cenderung memahami materi secara mendalam), dan achieving (siswa yang cenderung memiliki ambisi pribadi dengan cara bersaing untuk meraih prestasi tertinggi).

Faktor pendekatan belajar juga penting dibahas dalam penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, karena faktor-faktor internal, eksternal, dan pendekatan belajar cenderung saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Hal tersebut tercermin ketika seorang siswa yang memiliki inteligens tinggi (faktor internal) dan memperoleh dukungan positif dari keluarga besarnya (faktor eksternal), maka ia akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar. Sehingga, ketika seorang siswa terdorong untuk mementingkan kualitas hasil belajar, maka ia akan memiliki prestasi yang tinggi (high-achievers) (Syah, 2008).

Jika dikaitkan dengan penelitian-penelitian fatherless, pembahasan mengenai faktor pendekatan belajar masih belum terlihat pada penelitian anak fatherless. Biasanya penelitian tentang faktor pendekatan belajar dikaitkan dengan

(26)

pendekatan surface. Meski demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan belajar merupakan faktor yang mempengaruhi pencapaian belajar seorang siswa.

(27)

Berdasarkan defisiensi penelitian-penelitian terdahulu, maka peneliti memutuskan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik siswi fatherless yang berprestasi. Faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor internal, eksternal, dan pendekatan belajar, karena ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi. Prestasi akademik dapat ditinjau dari hasil rapor dan peringkat akademik di kelas. Adapun kriteria dari partisipan pada penelitian ini, yaitu anak perempuan yang berusia 16-17 tahun, peneliti juga memilih usia partisipan seperti pada penelitian terdahulu karena adanya pertimbangan yakni pada usia ini, remaja mulai melihat kesuksesan atau kegagalan di masa kini digunakan memprediksi kesuksesan di masa depan (Santrock, 2003). Selain itu, pemilihan kriteria anak perempuan dilakukan agar dapat memberikan sumbangan baru pada isu anak perempuan di konteks penelitian fatherless. Kriteria lainnya adalah keadaan tidak memperoleh pengasuhan ayah dalam jangka waktu yang panjang, seperti kematian, perceraian, berpisah dan lain-lain. Pengambilan data pada penelitian ini akan menggunakan wawancara, karena wawancara bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi untuk suatu tujuan tertentu (Herdiansyah, 2010). Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan analisis isi kualitatif (AIK) dengan pendekatan deduktif, yakni analisis terarah.

B. Rumusan Masalah

(28)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik siswi fatherless yang berprestasi.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian ilmu psikologi perkembangan dan pendidikan, khususnya mengenai anak perempuan yang fatherless dalam mencapai prestasi akademik.

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran baru pada siswi fatherless yang kurang berprestasi untuk meraih prestasi, dengan

menyadari dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar dan prestasi di dalam dirinya maupun dari luar dirinya.

b. Diharapkan orangtua tunggal, khususnya ibu dapat memperoleh pengetahuan dalam menghadapi anak yang tidak mendapatkan figur orang tua secara lengkap, sehingga dapat memberikan arahan yang tepat pada anaknya untuk berprestasi di akademik.

(29)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, peneliti akan memaparkan tinjauan teoritis mengenai apa yang dimaksud dengan prestasi akademik, beserta faktor-faktor yang mempengaruhi dan karakteristik siswa yang berprestasi. Selanjutnya akan dijelaskan pula mengenai anak perempuan yatim yang ditinjau dari ranah akademik. Pada bagian akhir, peneliti akan menjelaskan kerangka konseptual penelitian ini.

A. Prestasi Akademik

1. Pengertian Prestasi Akademik

Kamus Psikologi (Reber & Reber, 2010) menjelaskan bahwa prestasi adalah keberhasilan dalam meraih tujuan. Prestasi belajar adalah suatu bukti bahwa siswa berhasil belajar atau berhasil karena kemampuannya dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang telah dicapainya (Winkel, 2004).

Suryabrata (1993) pun menjelaskan bahwa prestasi akademik merupakan hasil evaluasi kegiatan belajar yang dilihat dari bentuk angka (kuantitatif), seperti nilai ujian, nilai pelajaran, atau mata kuliah.

(30)

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Akademik

Menurut Slameto (2010), Sobur (2003), dan Syah (2008) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi belajar seorang siswa untuk meraih prestasi akademiknya. Faktor-faktor tersebut dibedakan menjadi tiga macam, yaitu; (a) faktor internal (faktor dari dalam diri), (b) faktor eksternal (kondisi lingkungan di sekitar siswa), (c) faktor pendekatan belajar (jenis usaha belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk mempelajari materi pelajarannya) (Syah, 2008).

a. Faktor internal, merupakan kondisi dari dalam diri siswa yang dapat

mempengaruhi kuantitas dan kualitas pembelajaran siswa (Syah, 2008; Slameto, 2010; Sobur, 2003). Pada umumnya, faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:

1) Inteligensi atau Kemampuan. Inteligensi atau kemampuan adalah

kecakapan. Kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif. Seorang siswa yang memiliki inteligensi cenderung mampu untuk mengetahui atau menggunakan konsep-konsep abstrak dengan efektif (Slameto, 2010). Selain itu, seorang siswa yang memiliki inteligensi atau kemampuan yang tinggi akan lebih mudah menangkap dan memahami pelajarannya. Ia akan lebih mudah berpikir kreatif dan cepat dalam mengambil keputusan (Sobur, 2003).

2) Sikap. Sikap adalah gejala internal berupa kecenderungan untuk mereaksi

(31)

mata pelajaran tertentu, maka ia akan lebih mudah mempelajari pelajarannya tersebut, sehingga prestasi yang dicapai siswa akan lebih memuaskan (Syah, 2008).

3) Bakat. Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk

mencapai keberhasilannya di masa depan (Syah, 2008). Bakat juga akan mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar di bidang studi tertentu (Syah, 2008). Karena bakat akan mempengaruhi belajar seorang siswa. Jika materi pelajaran siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya akan jauh lebih baik karena ia lebih senang belajar dan menjadi lebih giat belajar. Sehingga, sangat penting bagi seorang siswa untuk mengetahui bakatnya (Slameto, 2010).

4) Minat. Minat adalah kecenderungan dan keinginan yang tinggi pada sesuatu.

Minat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu. Sebagai contoh, seorang siswa memiliki minat pada pelajaran biologi, ia akan memusatkan perhatiannya pada pelajaran tersebut dibandingkan siswa-siswa lain (Syah, 2008). Bahkan, ia akan memperhatikan materi tersebut dengan perasaan senang (Slameto, 2010). Selanjutnya, karena pusat perhatiannya tersebut tertuju pada mata pelajaran yang diminatinya, memungkinkan siswa tersebut menjadi giat belajar, pelajaran mudah dipelajari, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan (Syah, 2008; Slameto, 2010).

5) Motivasi. Motivasi memiliki peranan dalam proses belajar, karena motivasi

(32)

sesuatu dan belajar merupakan proses yang muncul dari dalam diri individu (Sobur, 2003).

Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsic adalah keadaan yang berasal dari dalam diri siswa yang mendorongnya untuk melakukan perilaku belajar. Motivasi intrinsik tercermin pada perasaan menyenangi materi dan kebutuhan pada materi tersebut, misalnya materi tersebut membantu siswa untuk mempelajari hal-hal di masa depannya kelak (Syah, 2008).

Sedangkan, motivasi ekstrinsik itu sendiri adalah keadaan yang datang dari luar diri siswa yang mendorongnya untuk melakukan perilaku belajar. Motivasi ekstrinsik tercermin pada pujian, hadiah, tata tertib sekolah, orang tua, guru, dan lain-lain (Syah, 2008).

b. Faktor Eksternal, juga mempengaruhi prestasi akademik seorang siswa.

Faktor eksternal merupakan kondisi lingkungan di sekitar siswa yang mempengaruhi belajar siswa untuk memperoleh keberhasilan.

(33)

belajar siswa (Syah, 2008). Berikut ini penjelasan faktor lingkungan sosial dan nonsosial secara lengkap:

1) Keluarga. Keluarga merupakan pihak di luar diri siswa yang paling mempengaruhi aspek akademik siswa dari usia belia. Kondisi dan suasana keluarga mempengaruhi pandangan anak dalam mencapai pembelajarannya. Salah satunya adalah kondisi ekonomi keluarga. Keluarga yang memiliki kondisi ekonomi kurang baik, berkemungkinan membuat suasana rumah menjadi suram sehingga semangat belajar menjadi turun. Namun, adanya kemungkinan keadaan ekonomi yang rendah justru membuat anak menjadi terdorong untuk berhasil.

Selain itu, hubungan emosional antara orang tua dan anak dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar. Jika keadaan rumah selalu penuh dengan pertengkaran, maka anak akan kesulitan belajar. Jika orangtua cenderung tidak peduli pada anaknya, maka akan menimbulkan reaksi frustasi. Begitu pula jika orangtua terlalu keras pada anaknya, maka hubungan dengan anaknya akan semakin menjauh, sehingga proses belajar menjadi terhambat. 2) Di sisi lain, faktor eksternal juga dipengaruhi oleh adanya Guru. Faktor

(34)

siswa senang/kagum dengan gurunya, maka siswa akan lebih mudah mendengarkan dan menangkap pelajaran (Sobur, 2003).

3) Kemudian, Teman dan Masyarakat juga mempengaruhi faktor lingkungan sosial siswa. Faktor teman bergaul dan aktivitas dalam masyarakat juga dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Aktivitas di luar sekolah bisa membantu perkembangan anak. Namun, jika anak tidak bisa membagi waktu aktivitas masyarakatnya dengan belajarnya, maka kegiatan belajar pun menjadi terganggu (Sobur, 2003).

4) Selanjutnya, faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah Letak Rumah tempat tinggal keluarga siswa. Rumah yang sempit dan berantakan,

perkampungan yang terlalu padat dan tidak memiliki fasilitas umum cenderung mengganggu proses belajar siswa untuk meraih prestasinya (Syah, 2008).

5) Faktor lingkungan nonsosial lainnya adalah Waktu Belajar yang siswa lakukan. Seorang siswa cenderung memilih waktu yang ia senangi untuk belajar. Ia bisa belajar di sore hari, pagi, atau saat malam hari.

c. Faktor Pendekatan Belajar, juga merupakan salah satu faktor-faktor

(35)

Menurut hasil penelitian Biggs (dalam Syah, 2008), pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan ke dalam 3 bentuk dasar, yaitu pendekatan surface, pendekatan deep, dan pendekatan achieving. Biggs menyimpulkan bahwa ketiga bentuk dasar tersebut digunakan untuk melihat motif siswa dalam belajar, tidak hanya sikapnya terhadap pengetahuan. Berikut ini penjelasan mengenai ketiga bentuk dasar pendekatan belajar secara lebih dalam:

1) Pendekatan Surface (permukaan), yakni pendekatan belajar pada siswa yang memiliki motif terdorong untuk belajar karena dorongan ekstrinsik untuk menghindari kegagalan/takut tidak lulus. Oleh karena itu, karakteristik siswa tersebut adalah memiliki kecenderungan tidak bekerja keras, gaya belajarnya santai, asal hafal, dan tidak mementingkan pemahaman yang mendalam. Strategi belajarnya adalah ia memusatkan pada rincian materi dan hanya mereproduksi materinya secara persis.

(36)

3) Pendekatan Achieving (pencapaian prestasi tinggi), yakni pendekatan belajar pada siswa yang dilandasi oleh motif ekstrinsik, yang memiliki ciri khusus yaitu sering disebut sebagai ego-enchancement, yaitu ambisi pribadi yang besar untuk meningkatkan prestasinya agar dapat diakui dengan cara meraih indeks prestasi setinggi-tingginya. Siswa ini memiliki karakteristik ingin bersaing untuk meraih prestasi tertinggi. Berkompetisi untuk meraih nilai tertinggi merupakan hal yang penting baginya, sehingga ia sangat disiplin, rapi, sistematis, dan memiliki rencana untuk maju ke depan. Strategi belajarnya adalah memiliki keterampilan belajar, yakni memiliki usaha belajar dan mampu mengoptimalkan pengaturan waktu dengan efisien.

Tabel 2.1 Pendekatan Belajar

Bentuk Pendekatan

Belajar Motif Strategi

Pendekatan Surface Motif ekstrinsik, dengan ciri untuk menghindari kegagalan

Memusatkan pada rincian-rincian materi dan semata-mata mereproduksi secara persis.

Pendekatan Deep Motif intrinsik, memiliki ciri berusaha memuaskan

keingintahuan dan

mengembangkan kemampuan

Memaksimalkan

pemahaman dengan berpikir, banyak membaca dan berdiskusi. Pendekatan

Achieving

Ego-enchancement, bersaing untuk mencapai nilai tertinggi

Mengoptimalkan

pengaturan waktu, memiliki jadwal, usaha belajar

Dikutip : Syah (2008)

(37)

deep, memiliki kemungkinan besar berpeluang untuk meraih prestasi akademik

yang bermutu daripada siswa yang menggunakan pendekatan belajar surface, karena siswa yang menggunakan pendekatan belajar deep cenderung lebih serius dan memaksimalkan pemahamannya terhadap materi yang dipelajari, dibandingkan siswa yang menggunakan pendekatan belajar surface (Syah, 2008).

Khusus pada pendekatan belajar deep dan achieving, kedua pendekatan belajar ini paling efektif dilakukan ketika siswa secara sadar menyadari proses pembelajarannya dan ia berusaha merencanakan pembelajarannya untuk mengontrol belajarnya. Ketika siswa penasaran, ia akan berusaha untuk mencari tahu dan memahami semampunya. Ketika siswa ingin meraih hasil yang baik, ia akan mengorganisasikan seluruh kegiatan belajarnya, dengan membuat jadwal, mengerjakan tugas dengan tepat waktu, dll (Biggs, 1987). Sehingga, Biggs (1987) menjelaskan bahwa gabungan pendekatan belajar deep dan achieving mendorong performansi yang baik saat ujian, konsep diri akademik yang baik, dan perasaan puas.

(38)

Sehingga, ketika seorang siswa terdorong untuk belajar karena dipengaruhi faktor-faktor di atas, maka memunculkan tipe-tipe siswa yang memiliki prestasi tinggi (high-achievers), siswa yang memiliki prestasi rendah (under-achievers) atau

gagal sama sekali.

Tabel 2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Siswa

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Siswa

Internal Eksternal Pendekatan

1. Inteligensi 2. Sikap 3. Minat 4. Bakat 5. Motivasi

1. Lingkungan Sosial: Keluarga Guru Masyarakat Teman

2. Lingkungan Nonsosial: Rumah

Waktu

Achieving-Deep (Bigg, 1987) Deep

Surface

Diadaptasi dari Syah (2008)

3. Karakteristik Siswa yang Berprestasi

(39)

Dapat disimpulkan bahwa karakteristik siswa yang berprestasi adalah siswa yang cenderung berusaha untuk memperoleh taraf prestasi yang baik dan mengejar hasil yang baik.

Untuk melihat karakteristik siswa yang berusaha mengejar hasil yang baik, dapat tercermin dari berbagai cara, seperti melalui nilai-nilai individual yang tertulis di buku rapor, ulangan harian, (Azwar, 1996), nilai ujian/self report, GPA (Grade Point Average) (Trudeau & Shepard, 2009), atau hasil tes terstandar (tes prestasi) (Woolfolk, 2009). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan nilai rapor untuk melihat prestasi akademik siswi fatherless yang berprestasi.

B. Anak Perempuan Fatherless

Ketidakhadiran figur ayah itu sendiri sering disebut sebagai fatherless atau father absence. Fatherless adalah ketiadaan peran dan figur ayah dalam kehidupan seorang anak. Seorang anak dikatakan mengalami kondisi fatherless ketika anak tidak memiliki ayah, tidak memiliki hubungan atau berkomunikasi dengan ayahnya, yang disebabkan oleh permasalahan orangtua, perceraian, atau kematian. Kondisi ketiadaan sosok ayah juga dapat terjadi jika anak merupakan hasil dari hubungan di luar pernikahan (Sundari & Herdajani, 2013).

(40)

Sehingga, ketidakhadiran ayah mempengaruhi berbagai aspek perkembangan hidup anak.

Pada aspek perkembangan di ranah akademik, berbagai penelitian terdahulu menyatakan bahwa ketidakhadiran ayah tidak terlalu mempengaruhi perkembangan prestasi akademik anak. Penelitian Vandamme & Schwartz (1985) menunjukkan bahwa motivasi berprestasi anak-anak tanpa ayah cenderung lebih besar dibandingkan anak-anak dari keluarga utuh. Bahkan, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ibu tunggal merasa kurang stres dibandingkan ibu dari rumah tangga yang utuh. Keadaan tersebut bisa terjadi karena ditemukannya berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik dan kehidupan anak fatherless.

(41)

pendidikan yang lebih tinggi (Kinard dan Reinherz, 1986) juga mendorong dan mempengaruhi anak fatherless untuk tetap berprestasi seperti anak dari keluarga utuh.

Anak fatherless pada penelitian ini adalah anak perempuan yang memiliki prestasi akademik. Anak perempuan fatherless tentunya juga mampu berprestasi karena dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Menurut Murray & Sandqvist (1990), sebagian besar anak-anak yang hidup dengan ibu tunggal adalah perempuan, yang bisa menjadi faktor bahwa kinerja sekolah mereka baik. Hal tersebut terjadi karena terkadang aspirasi edukasi lebih tinggi ditemukan pada anak perempuan yang hidup dengan ibu tunggal. Gagasan tersebut masuk akal, karena seorang anak perempuan akan belajar tentang pentingnya memiliki pekerjaan yang baik jika ibunya adalah orangtua tunggal dan harus mencari nafkah sendiri (Murray & Sandqvist, 1990).

C. Kerangka Konseptual

Prestasi akademik merupakan hasil belajar yang penting bagi seorang siswa yang sedang mengenyam pendidikan. Sehingga untuk mencapai prestasi, seorang siswa memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi proses belajarnya. Faktor-faktor tersebut adalah faktor internal (dari dalam dirinya), faktor eksternal (dari luar dirinya), dan faktor pendekatan belajar (strategi dan metode yang digunakan siswa untuk mempelajari materinya).

(42)

ingin dilihat oleh penelitian ini adalah faktor internal, eksternal, dan pendekatan atau strategi belajar pada siswi fatherless. Meski banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak fatherless mampu berprestasi karena dipengaruhi faktor internal dan eksternalnya, namun asumsinya ketika seorang siswa mencapai prestasi, ia juga akan melakukan strategi untuk mempelajari materi pelajarannya. Diharapkan pendekatan atau strategi belajar siswi fatherless dapat terlihat pada penelitian ini, karena ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Misalnya, ketika siswi fatherless yang memiliki kemampuan, minat (faktor internal) dan memperoleh dukungan positif dari ibunya (faktor eksternal), maka ia akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar. Ketika siswi fatherless memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil dan perfomansi yang baik di akademik, maka ia akan memiliki prestasi yang baik. Sehingga, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pengaruh dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran mengenai bagaimana mereka dapat memiliki prestasi yang tinggi (high-achievers).

(43)

Gambar 1. Kerangka Konseptual

SISWI FATHERLESS

Faktor Internal

Faktor Eksternal

Pendekatan Belajar

PRESTASI TINGGI

(HIGH ACHIEVERS) Faktor-faktor yang Mempengaruhi

(44)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dimana metode ini sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bodgan dan Taylor, 1975 dalam Basrowi & Suwandi, 2008). Penelitian kualitatif ini berfokus pada proses pemaknaan yang disampaikan oleh para partisipan mengenai isu penelitian (Creswell, 2014). Sehingga, penelitian kualitatif melibatkan penggunaan dan pengumpulan berbagai bahan empiris (studi kasus, pengalaman pribadi, introspeksi, riwayat hidup, wawancara, pengamatan, teks sejarah, interaksi, dan visual) yang menggambarkan momen rutin dan problematis, serta maknanya dalam kehidupan individual dan kolektif (Salim, 2001 dalam Prastowo, 2014).

Desain penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif (AIK), yaitu sebagai metode penelitian untuk menafsirkan secara informantif isi data berupa teks melalui proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengkodean dan pengidentifikasian aneka tema atau pola (Hsieh & Shannon, 2005 dalam Supratiknya, 2015).

(45)

pengamatan di lapangan sampai dengan menguji data (Bungin, 2008). Sehingga, pendekatan ini cocok diterapkan manakala sudah ada teori atau hasil-hasil penelitian tertentu tentang suatu fenomen (Supratiknya, 2015). Oleh karena itu, peneliti menggunakan analisis isi kualitatif pendekatan deduktif untuk menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik dengan memvalidasikan atau mengujinya kembali di dalam konteks baru, antara lain dengan menggunakan partisipan baru, yakni anak perempuan yang fatherless.

B. Partisipan

Partisipan pada penelitian ini adalah 3 siswi yang memiliki prestasi akademik di Sekolah Menengah Atas, yang terdiri dari 2 siswi yang berusia 16 tahun, dan seorang

siswi yang berusia 17 tahun. Ketiga siswi tersebut memiliki latar belakang

fatherless. Seseorang dikatakan mengalami kondisi fatherless ketika ia tidak

memperoleh figur ayah atau jarang berinteraksi dengan ayah dalam periode waktu yang lama. Dapat disebabkan oleh kematian, perceraian, berpisah, dipenjara, berada di militer, bepergian untuk urusan bisnis, yang lebih banyak tidak hadir di rumah (Mancini, 2010). Ketiga siswi yang terlibat pada penelitian ini mengalami fatherless sejak usia belia karena berbagai kondisi, seperti ayahnya meninggal

dunia, orang tuanya berpisah sejak ia lahir, dan ayahnya yang bekerja di luar kota namun tidak pernah pulang ke rumah sedari ia berusia 2 tahun.

Kriteria lainnya adalah ketiga partisipan memiliki prestasi akademik yang bagus di Sekolah Menengah Atas. Prestasi akademik yang dimaksud adalah memperoleh

(46)

kelasnya. Penelitian ini menggunakan catatan prestasi akademik (nilai rapor) di Sekolah Menengah Atas untuk menilai prestasi akademik ketiga partisipan. Nilai rapor yang mencerminkan prestasi akademik adalah nilai individual yang memiliki angka/hasil yang tinggi dan berada di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Nilai yang dilihat adalah nilai yang dipelajari partisipan di bidang yang mengandung pemahaman bacaan, penggunaan bahasa, berhitung, sains, matematika, dan penalaran logis.

Pemilihan partisipan dilakukan atas rekomendasi dari adik peneliti yang mengenal dua partisipan yang hidup tanpa pengasuhan ayah. Selain itu, pemilihan partisipan juga dilakukan atas rekomendasi dari guru BK partisipan. Berikut ini gambaran umum mengenai para partisipan:

Tabel 3.1 Data Partisipan

No. Keterangan Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3

1. Nama Inisial AD VN DT

2. Usia 16 tahun 16 tahun 17 tahun

3. Jenis Kelamin Perempuan Perempuan Perempuan 4. Alasan Tidak Memiliki

Ayah

Ayah bekerja di luar kota

Ayah meninggal (sakit komplikasi pencernaan dan ginjal)

Belum pernah bertemu ayah

5. Kapan Ayah Pergi Umur 2 tahun Kelas 5 SD (12 tahun)

Dari partisipan lahir

6. Anggota keluarga di rumah

Ibu Ibu, adik,

kakek, dan dua bibi

Ibu

7. Riwayat Sekolah SMP Pangudi Luhur

SMP Pangudi Luhur

(47)

Yogyakarta Yogyakarta Temanggung SMA Stella

Duce 2

Yogyakarta

SMA Negeri 9 Yogyakarta

SMA Pangudi Luhur

Yogyakarta 8. Riwayat peringkat yang

diraih di sekolah

Pada kelas 10, peringkat 1.

Di kelas 7, peringkat 2

Di kelas 10, peringkat 1 Di kelas 8,

peringkat 3.

Di kelas 11, peringkat 1 Di kelas 9,

peringkat 2.

Tabel 3.2 Catatan Rapor Terakhir

No.

Mata Pelajaran

Rapor SMA Kelas X

Rapor SMP Kelas X

Rapor SMA Kelas XII

AD VN DT

KKM Nilai KKM Nilai KKM Nilai

1. Bahasa Inggris

70 89 77 83 75 87

2. Matematika 70 79 77 82 75 90

3. Fisika 70 79 77 81 75 89

4. Kimia 70 87 77 81 75 88

C. Peran Peneliti

(48)

utuh. Padahal, peneliti beranggapan bahwa dukungan orang tua secara utuh, terutama ayah sangat berpengaruh pada motivasi dan aspirasi akademik anak. Hal tersebutlah yang mendorong peneliti untuk ingin memahami topik penelitian ini.

Peneliti berperan sebagai instrumen kunci, yang langsung turun sendiri ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data dengan melakukan wawancara kepada para partisipan (Creswell, 2009 dalam Supratiknya, 2015).

(49)

menjelaskan topik dan tujuan penelitian, dan kemudian partisipan menyetujui untuk mengikuti penelitian ini.

Ketika penelitian dilakukan, lokasi penelitian dilakukan di tempat makan yang tidak banyak pengunjung sehingga proses pengambilan data tidak mengganggu lingkungan sekitar dan partisipan pun bisa merasa lebih relaks dengan suasana tempat tersebut. Selain itu, adanya kemungkinan para partisipan merasa sedih, tidak nyaman, atau enggan bercerita tentang topik ayah yang sensitif. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti menjelaskan kembali informed consent yang sudah disetujui tersebut, dan menghentikan sementara proses

wawancara agar para partisipan dapat tenang.

Selain itu, masalah etis yang muncul adalah identitas partisipan menjadi terbongkar. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti merahasiakan nama para partisipan dengan inisial AD, VN, dan DT.

D. Metode Pengumpulan Data

(50)

(open-ended) yang dirancang untuk memunculkan pandangan dan opini dari para partisipan (Creswell, 2014). Berikut ini protokol wawancara pada penelitian ini:

1. Protokol Wawancara

Pertanyaan pembuka:

1. Menurutmu, apa itu keluarga? Pertanyaan pendahuluan:

1. Selama ini, kamu tinggal dengan siapa?

2. Coba ceritakan orang-orang yang ada di rumahmu? Pertanyaan transisi:

1. Kalau tentang ayah, coba ceritakan kapan terakhir ketemu ayah? 2. Coba ceritakan apa yang biasanya kamu lakukan bersama ayahmu?

3. Bagaimana perasaanmu saat tidak tinggal atau jarang bertemu dengan ayah?

4. Apa yang berubah semenjak tidak tinggal dengan ayah? terutama di ranah akademik? (pengaruh fatherless pada akademik partisipan)

5. Dengan kondisi hanya tinggal dengan ibu, bagaimana proses belajarmu di rumah? (pengaruh fatherless pada akademik partisipan)

Pertanyaan kunci:

1. Dengan tidak adanya ayah dalam proses belajarmu, apa yang mendorongmu untuk berprestasi di akademik? Mengapa? (faktor internal atau eksternal)

(51)

3. Bagaimana pendapatmu ketika kamu mendapatkan tugas yang banyak untuk mata pelajaran yang sulit? (pendekatan belajar)

4. Apa yang kamu lakukan pada tugas tersebut? Caranya? (pendekatan belajar)

5. Cara atau kebiasaan belajarmu seperti apa? Mengapa? (pendekatan belajar) 6. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya saat kamu sudah berhasil?

(pendekatan belajar) Pertanyaan penutup:

Apakah masih ada yang ingin diceritakan?

2. Dokumentasi

Selain itu, metode pengambilan data lain pada penelitian ini adalah peneliti mengumpulkan dokumen-dokumen para partisipan. Dokumen ini berupa dokumen privat, seperti catatan akademik (rapor) para partisipan (Creswell, 2014). Dokumen tersebut menyajikan data berbobot dan sebagai bukti tertulis yang menunjukkan bahwa para partisipan memiliki prestasi akademik.

E. Metode Perekaman Data

(52)

Selain itu, untuk perekaman data di dokumen, dapat dicatat sesuai dengan keinginan peneliti. Peneliti dapat menganalisis dan mendokumentasikan catatan resmi atau arsip-arsip partisipan (Creswell, 2014). Sehingga, peneliti memutuskan untuk mencatat nilai rata para partisipan yang dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas. Hal tersebut sebagai gambaran prestasi akademik para partisipan di lingkungan kelasnya.

F. Analisis dan Interpretasi Data

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif (AIK), yaitu metode untuk menganalisis pesan-pesan komunikasi baik yang bersifat tertulis, lisan, atau visual. AIK mengupas komunikasi dengan media bahasa secara mendalam dengan tujuan mengklasifikasikan sebuah teks yang berjumlah besar ke dalam sejumlah kecil kategori yang mengungkapkan makna yang serupa. Tujuan akhir AIK adalah mendapatkan pengetahuan dan pemahaman berupa konsep-konsep atau kategori-kategori tentang fenomena yang sedang diteliti (Hsieh & Shannon, 2005; Elo & Kyngas, 2008 dalam Supratiknya, 2015).

(53)

ditandai dengan menggunakan kode-kode yang sudah ada, yakni mana yang menunjukkan faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar. Namun, jika ada bagian dari teks tidak cocok dimasukkan ke dalam salah satu dari kode-kode yang sudah ada, maka diberi kode baru atau kode tambahan (Hsieh & Shannon 2005, dalam Supratiknya, 2015). Beberapa kriteria yang digunakan untuk koding:

1. Definisi faktor internal: kondisi dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas pembelajaran dalam meraih prestasi. Dalam penelitian ini, faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa dibagi menjadi 5 macam, yaitu: (1) Kemampuan, yakni siswa yang lebih mudah menangkap dan memahami pelajarannya. (2) Sikap, yang mencakup reaksi positif atau negatif pada guru atau pelajaran tertentu. (3) Bakat, yakni kemampuan potensial yang dimiliki siswa untuk mencapai keberhasilannya di masa depan tanpa banyak tergantung pada usaha latihan. (4) Minat, yakni kecenderungan dan keinginan yang tinggi pada sesuatu. (5) Motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik, merupakan keadaan internal yang mendorong siswa untuk melakukan sesuatu.

2. Definisi faktor eksternal: kondisi lingkungan di sekitar siswa yang mempengaruhi belajar siswa untuk memperoleh keberhasilan. Faktor eksternal terdiri dari dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.

(54)

kondisi/suasana di dalam keluarga, seperti kondisi ekonomi dan hubungan emosional. (2) Guru, yakni guru yang mempengaruhi semangat siswanya dengan memperlihatkan sikap simpatik dan menunjukkan sikap teladan (3) Teman dan masyarakat, yakni teman bergaul dan aktivitas dalam masyarakat yang membantu perkembangan belajar siswa.

b. Faktor lingkungan nonsosial terdiri dari (1) Letak rumah, yaitu gambaran kondisi rumah dan perkampungan siswa yang mempengaruhi proses belajar siswa. (2) Waktu belajar, yakni gambaran waktu yang biasanya siswa lakukan dan senangi untuk belajar.

(55)

memiliki usaha belajar dan mampu mengoptimalkan pengaturan waktu dengan efisien.

Tabel 3.3 Kategori Koding

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswi Fatherless

Internal Eksternal Pendekatan

Faktor internal: Contoh : ‗ibu selalu membayar seluruh biaya sekolah saya karena ayah saya sudah lama meninggal dunia‘ (keluarga)

Lingkungan Nonsosial:

Kondisi situasi sekitar yang mempengaruhi belajar siswi fatherless dalam memperoleh keberhasilan Contoh : ‗saya selalu belajar di dini hari agar lebih konsentrasi Contoh: ‗saat belajar untuk ujian, saya lebih suka menghafalkan isi materi mata pelajaran ini, sehingga saya berusaha untuk

(56)

Pendekatan Achieving Dilandasi oleh motif ekstrinsik (achieving motive), memiliki

karakteristik ingin bersaing untuk meraih prestasi tertinggi.

Strategi : sangat disiplin, rapi, sistematis, dan memiliki rencana untuk maju ke depan. Memiliki usaha belajar dan mampu mengoptimalkan

pengaturan waktu. Contoh: ‗saya memiliki kebiasaan belajar setiap hari walaupun tidak ada ujian dan saya berusaha untuk mengorganisasi jadwal belajar saya‘

G. Validitas dan Reliabilitas Penelitian

(57)
(58)

39

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama bulan September sampai Oktober 2016. Sebelum wawancara, peneliti melakukan rapport pada setiap partisipan agar partisipan lebih nyaman dan terbuka. Proses wawancara dilakukan sebanyak dua kali. Berikut ini, waktu dan tempat pelaksanaan penelitian :

Tabel 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian

No. Keterangan Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3

(59)

B. Latar Belakang

Pada latar belakang ini, peneliti akan mengungkapkan latar belakang para partisipan dengan ayahnya, peristiwa partisipan tidak memperoleh pengasuhan ayahnya, dan pengaruh ketidakhadiran ayah di akademik para partisipan.

1. Latar Belakang AD

AD tidak terlalu dekat dengan ayahnya karena terakhir kali AD bertemu ayahnya saat AD masih berumur 2 tahun. AD tidak terlalu ingat apa yang terjadi saat itu. Tetapi yang AD ingat adalah pada saat itu keluarga AD tinggal di Jakarta. AD masih tinggal dengan kakaknya. Ayah AD datang dari bandara dan AD menjemput ayahnya. Setelah itu, keluarga AD pulang ke rumah. Keesokan harinya, AD bangun tidur dan menanyakan keberadaan ayahnya pada ibunya. Ternyata ayahnya pergi. Ayah AD tidak pernah menghubungi ibu dan AD selama beberapa tahun. AD tidak tahu alasan ayahnya pergi dari dirinya dan ibunya. Namun, akhirnya sekarang AD sudah mendapatkan kontak ayahnya dan ibu AD menjalin kontak lagi dengan ayahnya. AD jarang menjalin komunikasi dengan ayahnya setelah mendapatkan kontak ayahnya. AD mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa dari kecil untuk tidak berhubungan dengan ayahnya. Sehingga ia merasa biasa saja jika tidak pernah bertemu ayahnya.

(60)

2. Latar Belakang VN

Ayah VN meninggal pada saat VN masih kelas lima SD karena penyakit komplikasi yang disebabkan terlalu banyak mengkonsumsi obat.

VN dekat dengan ayahnya sewaktu ayahnya masih hidup. Pada saat itu, keluarga VN masih tinggal di Kalasan. VN sering keliling kompleks menggunakan motor bersama ayahnya. Ayahnya sering mengajak VN mengikuti kegiatan outbond bersama. VN dan ayahnya pun sering menonton film kartun ataupun acara televisi yang berbau petualangan. Ayah VN dulunya bekerja di Erlangga, sehingga ayah VN selalu membawakan banyak buku untuk VN. Bahkan dalam waktu seminggu, ayahnya bisa memberikan buku lebih dari sekali. Tidak hanya memberikan buku pelajaran, ayah VN juga memberikan buku cerita, agama, ataupun buku gambar. VN merasa terbantu untuk belajar dan tidak merasa bosan untuk belajar. Dulu VN sangat gemar membaca karena pemberian ayahnya tersebut. Tetapi sekarang VN tidak terlalu suka membaca. Selain itu, VN juga mengatakan bahwa ayahnya selalu memantau nilai dan rangking VN. Ayah VN selalu menanyakan apa yang sulit dari pelajaran VN. Sehingga VN selalu bertanya dan minta tolong pada ayahnya. Pada suatu saat VN pernah diajarin ayahnya tentang pelajaran matematika. VN sangat mempercayai ayahnya. Namun, ternyata keesokkan harinya VN malah mendapat nilai nol. VN menganggap hal tersebut lucu karena VN benar-benar yakin bahwa ia akan memperoleh nilai 100. Menurutnya, mungkin ayahnya sudah lupa mengerjakan pelajaran matematika.

(61)

waktu untuk VN. Terkadang VN bertanya pada ibunya mengenai PRnya. Tetapi, ibunya juga tidak terlalu mengerti mengenai mata pelajaran anaknya. VN pun menjadi berusaha untuk belajar sendiri. Kemudian, adik VN lahir. Ayah VN sibuk bekerja dan ibunya menjadi sibuk mengurus adiknya. Sehingga VN menjadi terbiasa untuk belajar sendiri dari kelas 4 SD. Tetapi, jika benar-benar bingung, VN tetap bertanya pada orangtuanya. Setelah ayahnya meninggal, VN berusaha belajar secara mandiri.

3. Latar Belakang DT

DT menceritakan bahwa dirinya sudah broken home dari kecil. Informasi yang DT ketahui mengenai ayahnya adalah ayahnya masih hidup sampai saat ini, namun DT tidak pernah bertemu dengan ayahnya. DT tidak mengerti sama sekali tentang ayahnya sedari DT masih sangat kecil. DT sama sekali tidak mengingat apa pun tentang ayahnya. Ibu DT mengatakan bahwa ibunya akan menceritakan segalanya kelak saat DT sudah siap. DT tidak memaksa ibunya untuk cerita tentang ayahnya. Menurut ibunya, di saat waktu sudah tepat, ibunya akan terbuka tentang masa lalu keluarganya. DT berpikir mungkin ada hal yang tidak bisa DT terima jika DT mengetahui cerita ibunya. Namun, dari hal tersebut DT memutuskan untuk tidak akan berbuat hal-hal bodoh jika ia sudah mengetahuinya.

(62)

karena dapat disimpulkan bahwa ketiga partisipan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, selain faktor dukungan ayah dalam berprestasi.

C. Hasil Penelitian

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah kondisi dari dalam diri yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas pembelajaran seorang siswa dalam mencapai prestasi akademiknya.

Dari hasil penelitian, para partisipan menjelaskan faktor dari dalam dirinya yang mempengaruhi prestasi akademiknya, berikut ini penjelasannya:

a. Kemampuan

(63)

―...tapi kalo terdukungnya Dita tuh lebih suka kalo Dita mudeng karena Dita sendiri tuh lho.‖ (Line 220-221)

―Kalo ngerasa ini kok gini sih? Ini kok bisa gini? Penasaran tu lho. Nanti kalo udah selesei tu mbak, kayak ada sensasi, kayak kepuasan batin, enggak, pokoknya kayak seneng aja tu lho, ya ampun ternyata aku bisa ngelesein.‖ (Line 59-62)

Begitu pula dengan AD, ia memang menganggap ibu dan guru lesnya adalah sosok pendamping dalam belajar, namun yang AD yakini dalam belajar adalah dirinya sendiri. Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa AD yakin pada kecakapannya dan lebih mempercayai dirinya sendiri dalam memahami pelajaran.

―Jadi guru les ato mama tu sebagai pendamping aku belajar, tapi yang aku yakinin ya aku sendiri.‖ (Line 27-28)

Selain itu, ada kalanya AD cenderung stress ketika memperoleh banyak tugas. AD selalu memikirkan tugas-tugas yang belum ia kerjakan atau ulangan yang akan dilaksanakan minggu depan. Tetapi, AD memiliki pemikiran bahwa ia tetap bisa mengatasi tugas-tugasnya tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa AD memiliki kemampuan untuk mengatasi beban tugas yang banyak. Namun, ternyata AD memiliki pemikiran bahwa dirinya kurang mampu jika membandingkan kemampuannya dengan kepintaran yang dimiliki oleh keluarga besarnya.

(64)

―…tapi kalo keluarga besar aku pernah, apa ya, keluargaku tu termasuk, keluarga yang isinya pinter semua. Cuma kayak aku tu lho yang kurang.‖ (Line 6-7)

b. Sikap

Sedangkan pada VN, faktor dari dalam diri yang mendorongnya untuk memperoleh nilai akademik yang baik adalah VN memiliki sikap positif pada setiap mata pelajarannya. Sikap tersebut tercermin ketika VN menyukai pekerjaannya. Menurut VN, jika ia menyukai pekerjaan yang ia lakukan, maka moodnya akan bagus dan VN menjadi mau mengerjakan pekerjaan tersebut. Selain itu, salah satu kunci kesuksesan yang VN pegang adalah menyukai pekerjaannya terlebih dahulu. VN merasa tidak ada pelajaran yang ia benci, sehingga ia berusaha untuk belajar semua mata pelajarannya.

Tugas seperti apa yang ingin kamu lakukan di sekolahmu? Apa yaa.. Tugas yang aku sukai. Kenapa? Ya karna aku suka. Kalo aku udah suka, moodku bagus. Kalo moodku udah bagus, aku kerjain. Walaupun kimia itu sebenernya aku ga suka-suka banget, tapi benci juga enggak tu lho. Jadi, emang aku berusaha untuk suka itu.‖ (Line 249-253; 262; 267)

―Masalahnya ga ada pelajaran yang ga aku suka. Jadi, semuanya tu serba biasa aja. Dan ga ada yang ga suka, jadi semuanya kayak aku berusaha.‖ (Line 255-257) (267)

(65)

mengerjakannya dan hasilnya VN bisa mengerjakan ujiannya. Sedangkan, jika VN tidak mood, maka ia tidak bisa berkonsentrasi. Ketika mengalami kegagalan, VN akan berusaha membangun moodnya agar menjadi baik. Cara VN membangun mood adalah dengan mendengarkan musik, menonton film, atau bercengkrama dengan orang lain. Terkadang VN bingung karena VN sering mengalami suasana hati yang buruk, namun ia tetap memperoleh nilai yang baik. Sehingga, VN beranggapan bahwa ia memperoleh nilai bagus karena moodnya sedang dalam keadaan baik.

“Menurutmu, kamu merasa bisa dapet nilai lebih bagus dari dia tu kenapa? Karena mood, moodku bagus.‖ (183)

“Tugas seperti apa yang ingin kamu lakukan di sekolahmu? Apa yaa.. Tugas yang aku sukai. Kenapa? Ya karna aku suka. Kalo aku udah suka, moodku bagus. Kalo moodku udah bagus, aku kerjain. Walaupun kimia itu sebenernya aku ga suka-suka banget, tapi benci juga enggak tu lho. Jadi, emang aku berusaha untuk suka itu.‖ (249-253)

―Karena aku mood, aku usaha. Bener-bener aku belajar, konsentrasi tu lho. Kalo ga mood pikirannya kemana-mana kan.‖ (232-234)

―...aku tu matematika hari pertama tu aku mood banget. Pokoknya aku harus bisa dan iya aku bisa tu lho.‖ (Line 199-200)

“Terus apa yang akan kamu lakukan setelah gagal? Ya usaha lagi. Ya udahlah berusaha membangun mood yang baik. Seneng-seneng gitu. Cara kamu membangun mood yang baik tu kayak gimana? Ndengerin lagu, nonton, sering cerita-cerita.‖ (Line 297-300) (Line 305-308)

(66)

c. Minat

Selain menyukai pelajarannya, ternyata VN menyatakan bahwa ia mulai tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan medis. VN menjadi tertarik untuk menonton drama atau mencari informasi mengenai kedokteran. Muncul ketertarikan entah dari mana, namun VN tidak tertarik untuk mempelajarinya. VN berpendapat, jika ia sudah menyukai atau tertarik pada sesuatu, maka ia akan mengejar ketertarikannya tersebut.

―…..aku nonton-nonton drama kan, nontonnya yang doctor stranger, emergency couple, lihat di istagram yang bedah-bedahan. Tapi ga tau, aku suka. Aku emang suka liat itu. Cuma aku ga tertarik belajar haha.‖ (Line 109-112)

Caranya suka sama sesuatu tu gimana? Ya kan ga tau, tiap orang kan beda-beda to. Kayak ketertarikan masing-masing gitu ya. Kejar aja apa yang kamu sukain.‖ (Line 269-270)

d. Motivasi Intrinsik

Faktor internal lainnya yang mempengaruhi para partisipan dalam mencapai prestasi mereka adalah motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang timbul dari dalam diri siswa untuk melakukan perilaku belajar yang berguna untuk mencapai prestasinya.

(67)

mencari soal, DT pun menjadi terbiasa mengerjakan berbagai soal. Hal tersebut akan membantunya menguasai soal-soal yang ia hadapi.

―Misalnya kalo gagal dalam soal gitu, ga bisa, trus nyari soal laen gitu, memperkaya diri sendiri gitu lho. Makin banyak, makin sering, makin biasa dan makin bisa kan, kayak gitu.‖ (Line 95-98)

Dorongan dari dalam diri DT untuk mencapai prestasi juga bisa dipengaruhi oleh berbagai keadaan. Hal tersebut tercermin ketika DT mengerjakan soal yang sulit, ia merasa bahwa ia tetap harus mengerjakan soal tersebut, karena soal yang sulit dapat membantu DT untuk selalu berlatih. DT berpendapat bahwa tujuan diberikannya tugas adalah agar siswa dapat mengerjakan tugas secara mandiri, melatih ketepatan waktu dan melatih kemampuannya. DT menyukai tugas menantang karena tugas menantang dapat melatih dirinya sendiri dan mengukur kemampuan yang DT miliki. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa DT berusaha berlatih karena dilatarbelakangi oleh motif untuk menambah pengetahuan dan adanya kebutuhan untuk melatih dan mengukur skillnya.

―Tugas yang banyak.. untuk mata pelajaran sulit.. tetep harus dikerjain mbak. Gimana pun itu tu latian buat kita kan. Tujuannya dikasih kan buat kita bisa ngerjain sendiri, trus bisa selesei itu kan, selain kita nglatih tepat waktu itu lho mbak, terus bisa ngelatih kemampuan kita sendiri kan.‖ (Line 30-34)

―... Karena kalo menantang tu kita juga nglatih diri sendiri tu lho kak, kita bisa mengukur kemampuan kita sampe mana dan seberapa.‖ (Line 55-57)

(68)

yang ia kerjakan. Jika masalah di soal-soal tersebut belum tuntas diselesaikan, maka DT akan terus mengerjakan soal tersebut sampai tuntas. Sehingga saat DT bisa mengerjakan soal tersebut, ia merasakan sensasi dan kepuasan. DT merasa bahagia dan bangga pada diri sendiri karena bisa keluar dari soal yang sulit.

―Kalo ngerasa ini kok gini sih? Ini kok bisa gini? Penasaran tu lho. Nanti kalo udah selesei tu mbak, kayak ada sensasi, kayak kepuasan batin, enggak, pokoknya kayak seneng aja tu lho, ya ampun ternyata aku bisa ngelesein.‖ (Line 59-62)

―Aku itu orangnya penasaran, kalo masalah ini belum selesai ya, ngutek ngutek disitu‖ (Line 193-194)

Selain itu, DT termotivasi untuk berprestasi karena adanya keinginan untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik dari sekarang, dari segi pendidikan.

―impian aku.. Kualitas hidupnya, lebih baik dari sekarang. Kualitas lebih baik dari sekarang itu nggak Cuma dari segi pendidikan....‘‘ (Line 157)

e. Motivasi Ekstrinsik

Sedangkan motivasi lainnya yang mempengaruhi para partisipan dalam mencapai prestasi mereka adalah motivasi ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah siswa terdorong untuk melakukan perilaku belajar karena dipengaruhi rangsangan dari situasi atau pihak luar dirinya.

(69)

Karna aku melihat Mimo yang nyekolahin aku. Cari uang itu nggak gampang. Apalagi cari uang untuk aku seko- lihat usaha Mimo lihat kerjanya Mimo selama ini untuk nyekolahin aku tuh nggak gampang tuh lho mbak. (Line 3-6; 20) (DT)

Sehingga DT berusaha untuk memberikan prestasi yang baik di sekolah. Hal tersebut didorong oleh rasa tanggungjawab untuk membalas perjuangan ibunya yang sudah mencari uang dengan susah payah. Walaupun ibu DT tidak meminta balas budi dari usaha DT, DT merasa harus tetap memberikan yang terbaik untuk ibunya. DT merasa tidak nyaman jika tidak memberikan yang terbaik untuk ibunya. DT membentuk tekad untuk membalas budi kepada ibunya.

―Tanggung jawabku apa? Ya tanggung jawabku ya aku bisa ngasih dengan hasil nilai, Hasilnya aku, aku tanggung jawab. Kamu sudah milih. Kan mimo nggak minta, yang Tanggung jawab gitu Mimo nggak pernah minta. Tapi beban dimana Dita nggak bisa kasih yang terbaik buat Mimo. Dita kayak nggak, nggak enak gitu lho, tanggung jawabku tu mana?‖ (Line 7-12)

―...kalo untuk orang lain sih yang jelas Dita sudah berhasil, menunjukkan tanggung jawabnya Dita. Itu. Balas budi itu tadi.‖ (Line 142-144)

Selain itu, setelah mencapai keberhasilan, DT ingin memiliki kualitas hidup yang lebih baik dari sekarang, baik dari segi pendidikan maupun sosial. Dari segi material, DT ingin berkecukupan dan bisa memberi kepada orang lain. DT juga ingin mempunyai banyak relasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya dorongan untuk maju di dunia sosial dan ekonomi.

(70)

temen aku, temen-temen juga, aku pengen punya relasi banyak. Aku pengen. Terus aku juga kalo dari segi material yha, itu, aku juga pengen maksudnya, nggak terus aku pengen kaya raya tuh nggak, setidaknya aku tuh pengen yang bercu—berkecukupan yang bahkan aku bisa ngasih ke orang lain.‖ (Line 157-164) DT

Sedangkan pada VN, ia terdorong untuk berprestasi karena sugesti dari guru SMPnya. Ketika VN mengambil rapor sewaktu SMP, guru SMPnya tiba-tiba memberikan semangat kepada VN dan memanggil VN dengan sebutan dokter. Gurunya juga memuji nilai VN. Julukan dari guru tersebutlah yang memberikan rangsangan pada VN untuk belajar dan meraih prestasi.

―Karena guru SMP. Jadi Bu wid tiba-tiba pas ambil rapot tu bilang ke aku, ‗semangat ya bu dokter, pasti nilainya bagus-bagus ya‘. Ke aku dan mamaku denger. Dan emang sekalinya guru ini ngomong ke murid, itu tu terjadi sama muridnya.‖ (Line 3-7)

Selain itu, VN memperoleh bantuan secara financial dari bibinya pada saat VN duduk di bangku SMP. VN bersekolah di sekolah swasta dengan biaya SPP yang cukup mahal. Sehingga, VN merasa harus balas budi pada bibinya yang telah membiayai sekolahnya. Dapat terlihat bahwa motivasi ekstrinsik yang muncul pada situasi ini adalah perasaan untuk membalas budi. VN terdorong untuk berprestasi karena adanya rangsangan dari bibinya yang membuat VN merasa berhutang budi.

Figur

Tabel 3.1 Data Partisipan .......................................................................

Tabel 3.1

Data Partisipan ....................................................................... p.17
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual .........................................................

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual ......................................................... p.18
Tabel 2.1 Pendekatan Belajar

Tabel 2.1

Pendekatan Belajar p.36
Tabel 2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Siswa

Tabel 2.2

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Siswa p.38
Gambar 1. Kerangka Konseptual

Gambar 1.

Kerangka Konseptual p.43
gambaran umum mengenai para partisipan:

gambaran umum

mengenai para partisipan: p.46
Tabel 3.2 Catatan Rapor Terakhir

Tabel 3.2

Catatan Rapor Terakhir p.47
Tabel 3.3 Kategori Koding

Tabel 3.3

Kategori Koding p.55
Tabel 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Tabel 4.1

Waktu dan Tempat Penelitian p.58
Tabel 4.2 Ringkasan Hasil Penelitian

Tabel 4.2

Ringkasan Hasil Penelitian p.92
Tabel 4.3 Kategori Pendekatan Belajar yang Muncul pada Ketiga Partisipan

Tabel 4.3

Kategori Pendekatan Belajar yang Muncul pada Ketiga Partisipan p.98
gambar dan warna-warni.

gambar dan

warna-warni. p.200

Referensi

Memperbarui...