• Tidak ada hasil yang ditemukan

P R O G R A M U N G G U L A N K O T A S U R A K A R T A Statistik Keuangan Kota Surakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "P R O G R A M U N G G U L A N K O T A S U R A K A R T A Statistik Keuangan Kota Surakarta"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Background of Surakarta (Resources of Innovation)

- Natural resources terbatas, hanya diuntungkan

secara faktor lokasi sebagai jalur lalu lintas perdagangan dan jasa yang penting di kawasan Subosukawonosraten (7 kab/kota dimana Kota Surakarta sebagai hub bagi daerah hinterland-nya) - Strong Leadership of mayor

- Kental sebagai kota budaya (intangible resources)

- 26% GDP disumbang oleh sektor perdagangan,

sebagai sektor basis

- Warisan jiwa/semangat kewirausahaan dari para

pedagang pendahulu (Pengusaha Batik Laweyan dan Serikat Dagang Islam

- Tersedianya fasilitas pendidikan tinggi yang baik dan sumber daya SDM bidang vokasi/kejuruan yang baik

Innovation Public Policy Based on a. Public Service

1. One Stop Service Perijinan (melalui pembentukan KPPT yang ditingkatkan menjadi BPMPT)

2. Pembangunan kantor kelurahan dalam menunjang layanan publik (KTP, KK)

3. PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta)  jaminan asusransi kesehatan bagi masyarakat miskin Kota Surakarta dan masyarakat umum Kota Surakarta pada umumnya)

4. BPMKS (Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta)  mendukung program Wajar 9 Tahun dan peningkatan akses pendidikan bagi warga miskin

5. Pemberdayaan UMKM (PKL dan Pasar Tradisional)

PROGRAM UNGGULAN PEMERINTAH KOTA SURAKARTA

1. Bidang pelayanan Perijinan

Sentralisasi pelayanan perijinan yang sebelumnya berada di masing-masing dinas teknis, sehingga membikin rantai proses yang berbelit dan makan waktu, disentralisasi melalui pendirian Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) pada tahun 2006 dan pada tahun 2011 dalam rangka menjawab efesiensi, efektivitas dan kinerja bidang investasi kedua lembaga tersebut di merger menjadi Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu (BPMPT)

Sampai dengan tahun 2011 terdapat 21 perijinan yang ditangani seperti IMB, izin HO, TDP, TDG, izin bidang perindustrian dan perdagangan, izin reklame, pendiirian tempat usaha dll.

Lama proses perijian dari selesai dalam 1 hari (reklame) sampai dengan paling lama dalam 6 hari (IMB dan HO)

2. Pembangunan Kantor Kelurahan dan kecamatan beraksentuasi khas Jawa dalam konteks peningkatan layanan langsung kepada masyarakat

Dari sebelumnya kantor kelurahan dan kecamatan yang langsung berhubungan dengan pelayanan langsung kepada masyarakat dicitrakan dengan kesan sarpras, proses layanan dan kesan berbelit secara pelan-pelan dibenahi melalui penataan sarpras yang mendukung bagi optimalisasi layanan langsung kepada masyarakat.

Sampai dengan tahun 2012, seluruh kantor kecamatan telah terbangun baru dan dari 51 kelurahan telah terbangun sebanyak 22 gedung kantor kelurahan baru (Rumah dinas, kantor

kelurahan dan pendopo). Anggaran yang

dialokasikan untuk pembangunan 1 kantor

(2)

Alokasi Anggaran dan Realisasi Pembangunan Kantor Kelurahan 2007 - 2012

No Kelurahan Anggaran 2007 Anggaran 2008 Anggaran 2009 Anggaran 2010 Anggaran 2011 Anggaran 2012 1 Mangkubumen 862.933.000 2 Tegalharjo 1.151.070.000 397.840.000 3 Kampungbaru 923.833.000 800.000.000 4 Kadipiro 1.192.380.000 1.159.257.111 5 Joyotakan 1.046.936.000 1.500.000.000 6 Sondakan 996.721.000 500.000.000 7 Joyosuran 1.500.000.000 366.425.000 8 Serengan 1.500.000.000 9 Panularan 1.438.590.000 606.500.000 10 Sumber 1.500.000.000 11 Pucangsawit 1.500.000.000 12 Gandekan 1.626.285.000 13 Kedunglumbu 1.652.665.000 14 Keprabon 1.473.240.000 15 Danukusuman 1.159.455.000 538.000.000 16 Pajang 1.700.000.000 17 Mojosongo 2.001.050.000 18 Semanggi 2.000.000.000 19 Kestalan 2.029.555.000 20 Banyuanyar 2.000.000.000 21 Kemlayan 1.471.860.000 22 Laweyan 2.000.000.000

No Kelurahan Realisasi 2007 Realisasi 2008 Realisasi 2009 Realisasi 2010 Realisasi 2011 Realisasi 2012 1 Mangkubumen 839.253.725 2 Tegalharjo 1.085.375.850 365.878.450 3 Kampungbaru 872.153.700 775.172.100 4 Kadipiro 1.057.579.000 1.085.844.282 5 Joyotakan 994.741.900 1.389.690.000 6 Sondakan 960.485.880 479.698.250 7 Joyosuran 1.428.470.590 342.127.750 8 Serengan 1.421.942.834 9 Panularan 1.435.551.400 599.409.600 10 Sumber 1.417.886.875 11 Pucangsawit 1.495.149.075 12 Gandekan 1.612.854.500 13 Kedunglumbu 1.640.447.750 14 Keprabon 1.473.095.000 15 Danukusuman 1.143.817.000 519.033.000 16 Pajang 1.686.105.200 17 Mojosongo 1.938.455.500 18 Semanggi 1.915.424.725 19 Kestalan 1.936.867.598 20 Banyuanyar 1.892.037.500 21 Kemlayan 1.370.063.500 22 Laweyan 1.939.660.000

(3)

3. Bidang Kesehatan

Pemerintah Kota Surakarta mengeluarkan perlindungan asuransi kesehatan bagi masyarakat yang belum tercover oleh asuransi kesehatan Jamkesmas, Askes bagi PNS ataupun asuransi kesehatan lainnya, melalui program PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta). Penerima layanan PKMS, diklasifikasikan ke dalam pemegang kartu Gold dan kartu Silver. Pemegang kartu Gold ditujukan bagi warga miskin yang tidak tercover oleh layanan Jamkesmas, sedangkan pemegang kartu Silver adalah seluruh masyarakat Kota Surakarta yang belum memiliki asuransi kesehatan, diluar pemegang kartu Gold, Jamkesmas, Askes PNS ataupun asuransi lain.

Dalam implementasinya Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan RS Mitra untuk layanan kesehatan ini. Seiring dengan meningkatnya alokasi anggaran APBD bagi program PKMS, maka sejak tahun 2011 Pemerintah Kota Surakarta memutuskan untuk memperluas layanan PKMS ini, dengan mendirikan RSUD tipe C yang ditujukan bagi pasien PKMS. Langkah ini ditempuh sebagai salah satu upaya di dalam peningkatan layanan PKMS.

Sejak dilaunching tahun 2008, telah teralokasikan anggaran sebesar 88 milyar, dengan rata rata alokasi anggaran per tahun sebesar 20 milyar

DATA ANGGARAN DAN REALISASI KLAIM PKMS

NO URAIAN TAHUN

2008 2009 2010 2011 2012

1 Anggaran Klaim 12.118.161.346 11.814.340.000 19.858.430.000 17.829.315.000 20.872.110.000

2 Realisasi Klaim 8.101.681.300 11.814.274.523 19.858.427.061 21.583.279.806 9.271.597.096

DATA JUMLAH PESERTA KLAIM PKMS BERDASARKAN JENIS KARTU

NO KARTU JENIS TAHUN

2008 2009 2010 2011 2012 1 Silver 133.387 163.788 194.823 213.461 226.372 2 Gold 9.675 11.535 13.048 12.782 13.871

(4)

4. Bidang Pendidikan

Mengacu dari riset SMERU intitute yang melakukan riset kemiskinan di Kota surakarta yang mengkategorikan kemiskinan di Kota Surakarta sebagai urban poverty, salah satu hasil risetnya adalah dimana angka kemiskinan naik, pada saat terjadi penerimaan siswa baru, orang tua terbebani dalam menyekolahkan anak mereka.

Jauh sebelum riset ini pada tahun 2009 Pemkot Surakarta mengeluarkan program BPMKS (Bantuan Pendidikan Masyarakat Surakarta) yang ditujukan bagi peserta didik keluarga tidak mampu diberikan bantuan operasional pendidikan ke dalam 3 klaifikasi atas pemegang kartu platinum, kartu gold dan silver. Sasaran kartu platinum dan gold adalah peserta didik dari keluarga miskin Kota Surakarta. Peserta didik pada Sekolah Plus pemegang Kartu platinum difasilitasi sepenuhnya kebutuhan biaya pendididikannya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (biaya operasional dan biaya personal), sedangkan pemegang kartu gold dibebaskan dari biaya operasional pendidikan mereka dan silver diberikan bantuan sebagian. BPMKS diberikan pada peserta didik untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.

NO URAIAN

TAHUN

2010 2011 2012

1 Anggaran BPMKS 15,958,516,000 21,474,485,000 29,431,044,000

2 Realisasi BPMKS 15,799,250,000 17,830,884,000 26,254,009,500

Dalam mendukung Deklarasi Kota Surakarta sebagai kota vokasi (lulusan SMK sesuai dengan tuntutan pasar tenaga kerja bidang industri), maka Dinas pendidikan Kota Surakarta mengintegrasikan pengembangan vokasi ke dalam kawasan Solo Technopark, melalui pengembangan teaching factory yang mendekatkan pendidikan pada praktek industri melalui perakitan laktop, TV LCD, Mesin bubut CNC, perakitan sepeda motor dan mobil (mobil Rajawali)

(5)

5. Bidang ekonomi Kerakyatan melalui Optimalisasi UMKM (PKL dan Pasar Tradisional)

Revitalisasi Pasar Tradisional  Sampai dengan tahun 2011 telah terbangun/terehab 9 pasar tradisional dari 45 pasar tradisional di Kota Surakarta. Dari komposisi PAD Kota Surakarta, kontibusi pajak dan retribusi pasar tradisional memberikan pendapatan terbesar per tahun sebesar 20 milyar rupiah. Diharapkan dengan revitaliasi pasar tradisional ini, menjawab 2 permasalahan : pertama mempertahankan eksistensi pasar tradisional di tengah gempuran pasar tradisional dan kedua investasi jangka panjang dalam usaha kemandirian otonomi daerah melalui kontribusinya dalam peningkatan PAD

Penataan PKL dalam rangka pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan penguatan sektor informal  mengubah paradigma PKL identik dengan kesemrawutan wajah kota menjadi PKL sebagai kekuatan ekonomi informal) Capaian terbesar dalam issue penataaan PKL yang dilakukan oleh Walikota adalah relokasi 1.500 PKL di sekitar Monomen Banjarsari ke lokasi pasar baru yang dibangun oleh Pemkot Surakarta di Pasar Klitikan Semanggi tanpa adanya konflik.

Disamping melakukan relokasi PKL, strategi lain yang ditempuh oleh Pemkot Surakarta adalah melalui pembangunan shelter PKL di beberapa kawasan supaya tertata rapi (PKL kuliner di Kawasan Manahan) dan pemberian gerobak dan payung (di kawasasn kuliner Galabo dan Night market di Pasar Ngarsopuro)

Before After

Before (Monumen Banjarsari Area) Proses (Uji Publik dan Rembug Warga)

Proses (54 kali rapat, makan siang dan makan malam)

After

(6)

NO TAHUN NAMA PASAR SUMBER DANA

APBD KOTA APBD PROV APBN

1 2007 Sidodadi ( Kleco )

1.971.575.000

2 2008 Windujenar (Triwindu) Tahap I

3.271.703.000 Gading 1.260.221.000 500.000.000 6.000.000.000 Ngarsopuro 6.000.000.000

Panggung Rejo Tahap I

2.500.000.000

3 2009 Windujenar Tahap II dan Blok Timur

2.005.068.000 Pucangsawit Tahap I 3.302.722.500 666.000.000

Panggung Rejo Tahap II

2.369.000.000

4 2010 Pasar Ayu Tahap I

2.708.520.000

Pucangsawit Tahap II

1.447.860.000

5 2011 Pasar Ayu Tahap II

1.146.414.000 6 2012 Pasar Kliwon 4.000.000.000 Depok 10.200.000.000

Pasar Ayu Tahap III

1.610.675.000 Turisari 1.200.000.000 5.000.000.000

(7)

Innovation Product Management Based on b. Respon of current Issues

1. Eco Cultural City

Pembangunan Kota yang berwawasan lingkungan

2. RTLH (Rumah Tidak Layak Huni)  respon terhadap issue percepatan penanggulangan kemiskinan melalui program fisik.

3. Car Free Day & City Walk

4. Railbus (mass transportaion) 5. Suporting for MICE City

3. Bidang Sarana Prasana Kota

Car Free Day & City Walk

2. Bidang Penataan Kawasan Kumuh

Mewujudkan “ Kota Surakarta Bebas Slum Area “. Dari data tahun 2006, terdapat 6.612 rumah tidak layak huni, untuk meujudkannya setiap tahun telah didsalurakan bantuan dari rumah tidak layak huni, diharapkan menjadi layak huni, namun demikian implementasinya masih menghadapi kendala, karena meskipun sudah diintervensi dengan bantuan rehab 2 juta per rumah, rumah tidak layak huni, secara langsung tidak berubah menjadil ayak huni.

Strategi lain dalam penaataan kawasan kumuh adalahrel okasi warga yang mendiami bantaran sungai Bengawan Solo/daerah rawan bencana banjir dengan menyediakan tempat relokasi (hampir sama dengan modelrelokasi PKL)

1. Bidang lingkungan Hidup

Eco Logical Friendly City : Kota yang kebijakan pemerintah dan

aktivitas penduduknya mengutamakan perlindungan dan pelestarian ekosistem/lingkungan alamnya serta estetika. Implementasi kebijakan ini ditempuh dengan : peningkatan luas ruang terbuka hijau dari 16% menjadi 21% sampai dengan tahun 2011, dari target nasional sebesar 30%, pemanfaatan ruang dan bangunan yang ramah lingkungan (melalui kendali IMB dan evaluasi alih fungsi lahan dari RTH).

Program/kegiatan yang mendukung seperti : pembuatan taman kota, penataan vegetasi bangunan pemerintah dengan pagar tanaman,penataan koridor jalan, sungai dan bantaran rel bertema go green dan pembuatan urban forest.

Balekambang Royal Park (awal)

Before (bangunan dengan pagar beton)

After (bangunan tanpa pagar, pagar dengan vegetasi)

Balekambang Royal Park (go green)

Before

(8)

4. Bidang Trasnportasi Massal

Meski kemacetan belum menjadi masalah krusial di Surakarta, Pemkot melalui Dishub sudah mengarahkan moda transportasi darat ke moda transportasi umum, melalui pengoperasian Batik Solo Trans (bantuan dari Kemenhub) dan operasionalisasi Railbus yang melayani trayek Solo – Jogjakarta, meskipun masih belum ada kesepahaman dengan PT KAI, terkait dengan besaran tarif dan rute yang akan dilayani.

5. Surakarta Menuju MICE city

Dalam rangka Penguatan city branding Kota Surakarta ditempuh dan diarahkan untuk menuju Kota Surakarta sebagai MICE (meeting incentive

conference and exhibition). Implementasi dari

strategi ini ditempuh melalui :

a. Penyelenggaraan event-event budaya, yang mendukung Kota Surakarta sebagai Kota budaya dalam skala regional, nasional dan internasional (Penyelenggaraan calender event Budaya setiap Tahun melalui : Solo Batik Carnival, SIPA, SiEM, Festifal Kuliner, etc.)

b. Penyelenggaran sebagai tuan rumah konferensi tingkat regional, nasional dan internasional c. Manjaga kondusivitas daerah dalam rangka

peningkatan investasi di Kota Surakarta

3. Penataan Ruang Publik

Untuk menjaga dinamika Kota, terlebih Kota Surakarta sangat kuat dengan unsur budaya dengan tag line-nya “ Solo Past is Solo Future” penghargaan terhadap ruang publik yang merespon pergerakan dan interaksi warga masyarakat dalam dinamika tata ruang, ditempuh beberapa program inovasi sebagai berikut :

a. Sayembara kawasan untuk meningkatkan kualitas penataan tata ruang kawasan (kawasan Jl_Sudirman – RE Martadinata dan Jl. Bhayangkara). Hasil dari desain kawasan selanjutnya akan dioperasionalkan oleh SKPD teknis.

b. Pembangunan City Walk di jalan Slamet Riyadi  penghargaaan terhadap sarpras pedestrian .

c. Car Free Day di Jl. Slamet Riyadi setiap hari minggu pagi, sebagai ajang ruang publik

masyarakat Surakarta bagi aktivitas

(9)

c. Longterm Strategy

Pembangunan Solo Technopark, yang diharapkan dengan Solo Technopark ini, Kota Surakarta memiliki sumber daya buatan (bidang Iptek), yang mampu menggerakkan sektor riil yang

berimbas pada pertumbuhan ekonomi wilayah dan penurunan tingkat kemiskinan kota.

History of Solo Technopark

Pada tahun 2002 Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) dan atas dukungan Indonesia German Instute (IGI) membentuk Surakarta

Competency and Technology Center (SCTC), sebuah lembaga diklat dibidang mekanik untuk mendidik para pemuda dan guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan dalam meningkatkan

kompetensinya di bidang mekanik. Lembaga SCTC inilah yang menjadi embrio dari lahirnya Solo Technopark (STP).

SOLO TECHNOPARK (STP) adalah pusat vokasi dan inovasi teknologi di Kota Surakarta, yang di bangun dari sinergi dan hubungan yang kokoh antara dunia pendidikan, bisnis dan pemerintah (the triple helix). STP memberikan layanan pendidikan dan pelatihan bidang industri, inkubator bisnis, jasa produksi serta penelitian dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan

kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), meningkatkan daya saing dan kinerja dunia usaha dan dunia industri, meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, dan memperluas lapangan pekerjaan melalui pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Referensi

Dokumen terkait

adalah Maimun (Kasi Pemerintahan) dan dilanjutkan dengan penyerahan stempel kampung pemekaran yang bernama Blang mancung Timur kepada kepala kampung yang bernama Tukiran. Kasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada KSP Utama Karya di Jepara, sehingga semakin tinggi

Hasil dari simulasi penggunaan Kamus Intermediate accounting dalam kelompok kecil mahasiswa menghasilkan bahwa secara garis besar draft kamus yang dihasikan sangat

Teori yang digunakan adalah teori dari ilmu sosiologi, yaitu Sosial Istitution (lebamga kemasyarakatan) dan teori Continuity and Change (kesinambungan dan

7 bahaya kesehatan lingkungan yang teridentifikasi adalah perilaku rumah tangga yaitu perilaku tidak sehat, yang mencakup perilaku tidak cuci tangan pakai sabun (CTPS), perilaku

Pemicu konflik Poso, bahwa dari gambaran tersebut dapat diketahui, salah satu penyebab utama terjadi konflik Poso, karena persaingan antara elite politik lokal, dipicu

Jenis sedimen medium sand mendominasi pada stasiun ini, jenis sedimen coarse sand yang merupakan sedimen dasar dari permukaan perairan pantai daerah.. penelitian yang

Jabatan Kesihatan Negeri Sarawak telah mengisytiharkan satu (1) kluster tamat iaitu Kluster Selumit, Tanjung Manis setelah tiada kes baharu dikesan atau dilaporkan dalam tempoh