• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Leopold Von Ranke

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Leopold Von Ranke"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Perkembangan studi sejarah semakin tampak bergairah ketika Leopold Von Ranke bereaksi terhadap aliran romantisme dalam penulisan sejarah dan selanjutnya memperkenalkan studi sejarah kritis yang hendak berpijak kuat pada empiris, meskipun tetap bersifat ideografis. Perkembangan penulisan sejarah semakin beragam dengan konsep-konsep dan pendapat-pendapat baru. Hal ini dapat dibuktikan dari karya-karya besar sejarawan dunia.

Ucapan Ranke yang terkenal ialah “Wie as eigentlich gewesen ist” yang artinya “bagaimana sesungguhnya sesuatu terjadi” mempunyai pengaruh kuat bagi perkembangan studi sejarah kritis beserta metode historis dari murid-muridnya antara lain Bernheim dan Bauer. Karya-karyanya tentang metode sejarah juga mendapat pengaruh kuat dari penggunaan diplomatik yang dirintis oleh Mabillon.

Tradisi penulisan sejarah di Indonesia pun mengalami perkembangan sesuai dengan jiwa jamannya. Paling tidak, perkembangan historiografi di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, dan historiografi modern. Kemudian pada masa sekarang ini juga berkembang berbagai visi baru dalam penulisan sejarah khususnya menyangkut masalah pendekatan dan metodologi. Pada masa perkembangan historiografi tradisional, yaitu corak penulisan sejarah yang banyak ditulis oleh para pujangga kraton, karya-karya mereka bertujuan untuk melegitimasi kedudukan raja. Dengan demikian, historiografi pada masa ini mempunyai ciri-ciri magis, religius, bersifat sakral, menekankan kultus, dewa raja dan mitologi, bersifat anakronisme, etnosentrisme, dan berfungsi sosial psikologis untuk memberi kohesi pada suatu masyarakat tentang kebenaran-kebenaran kedudukan suatu dinasti.

(2)

Pada tanggal 8 Maret 1942, bertempet dalam sebuah gedung di lapangan udara Kalijati, Subang, jawa barat, Jendral Hitochi Imamamura dengan paskannya berhasil memaksa Gubernur dengan pasukannya berhasil memaksa Gubernur Hindia Belanda Tjarda Van Startkeh Stachouwer serta pimpinan tertinggi Angkatan perang Hindia Belanda Letnan Jendral H Terpoorten agar menyerah tanpa syarat pada hari itu sudah menguasai sebagian besar wilayah Indonesia.

Memaksa, demikian di katakan di atas. Benar, Immamura memang memaksa keduanya untuk segera menyatakan menyerah, menyerah tanpa syarat, sebab awal dialog yang di kemukakan oleh Gubernur Jendral didalam pertemuan kecil tersebut nadanya hendak mengajak pihak jepang untuk melakukan sesuatu pertandingan, Tetapi Immamura cukup waspada menghadapi jebakan semacam itu.

Dengan tegas ia mengatakan kepada kedua tokoh penting Hindia belanda itu (melalui penterjemahnya), bahwa ia tidak di perintah untuk berunding, yang harus ia lakukan adalah menurut pernyataan menyerah. Kewajiban pemerintah hindia belanda setelah usianya pertemuan itu adalah mengumumkan melalui radio tentang penyerahan yang telah terjadi, dan memerintah kepada anggota angkatan perang Hindia Belanda di manapun, agar segera meletakan senjata dan menyerah kepada pasukan Jepang.

Sesuai dengan keputusan Kabinet perang dilondon, Gubernur Jendral Tjarda Van Startkenborgh Stachauwer tidak punya wewenang atas angkatan perang di wilayah Hindia. oleh karena itu ia mengumumkan bahwa, Bandung adalah kota terbuka. Kota itu sekarang penuh dengan pengungsi dengan demikian telah terjadi perubahan susunan ketatanegaraan di hindia belanda sejak pemerintah kerajaan belanda melakukan pengungsian ke inggris. Kabinet dalam pengungsian itulah yang sering disebut sebagai kabinet perang.

Kondisi saat ini ada kecenderungan bahwa sejarah sebagai pengetahuan yang dipandang tidak penting, hal ini ditandai dengan sedikitnya alokasi waktu yang disediakan bagi pelajaran sejarah diberbagai strata pendidikan. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang

(3)

apa yang menjadi penyebab pemerintah Jepang melakukan invasi ke wilayah selatan Asia Tenggara dan bagaimana sejarah awal pendudukan tentara Jepang di Indonesia.

B. Rumusan Masalah

Agar dalam penelitian ini tidak terlalu luas, maka perlu dibuat suatu batasan masalah yang dituangkan dalam bentuk kalimat tanya berupa rumusan masalah yaitu:

1. Apa yang mendorong pemerintah Jepang melakukan invasi ke wilayah selatan Asia Tenggara?

2. Bagaimana awal pendudukan bala tentara Jepang di Indonesia? C. Tujuan Penelitian

Tujuan dapat diartikan sebagai suatu hal yang dapat diarahkan untuk mencari sasaran yang diinginkan. Pada penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apa yang mendorong pemerintah Jepang melakukan invasi ke wilayah selatan Asia Tenggara.

2. Untuk mengetahui bagaimana awal pendudukan bala tentara Jepang di Indonesia.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu gambaran cerita masa lalu berkenaan dengan serbuan tentara Jepang ke Negara Indonesia, sehingga gambaran cerita itu dapat menggugah rasa bangga Indonesia betapa serbuan tersebut yang menjelma menjadi bentuk penjajahan yang tidak sedikit menyengsarakan rakyat. Hikmah dari kejadian ini dapat mendorong bangsa dan negara Indonesia sadar akan sejarahnya.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A. Tinjauan Pustaka

1. Asal-usul Kata Sejarah

Istilah sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata syajara dan syajarah. Syajara berarti terjadi dan syajarah berarti pohon yang kemudian diartikan silsilah. Syajarah dalam arti silsilah berkaitan dengan babad, tarikh, mitos, dan legenda. Istilah syajarah diserap oleh bahasa-bahasa lain menjadi historia (Latin), history (Inggris), histoire (Perancis), geschiedenis (Belanda), dan lain-lain. Kata syajarah yang telah berubah menjadi sejarah masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia melalui bahasa Melayu.

2. Pengertian Sejarah

Arti harfiah syajarah melahirkan sejarah dalam pengertian sempit, yaitu silsilah, asal-usul atau riwayat. Pada awal perkembangan pengetahuan, sejarah dalam pengertian sempit itulah yang dipahami secara umum oleh masyarakat. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian sejarah pun mengalami perkembangan. Berdasarkan bentuk dan sifatnya, sejarah terbagi atas dua pengertian, yaitu :

a. Sejarah Sebagai Peristiwa

Sejarah sebagai peristiwa adalah peristiwa yang terjadi di masa lampau, dalam arti peristiwa sebagaimana terjadinya. Dengan kata lain, sejarah sebagai peristiwa adalah proses sejarah dalam aktualitasnya (history as past actuality atau histoire-realité). Hal itu berarti sejarah sebagai peristiwa bersifat obyektif, karena peristiwa itu murni sebagaimana terjadinya.

b. Sejarah Sebagai Kisah

Sejarah sebagai kisah adalah sejarah sebagaimana dikisahkan secara tertulis (history as written/histoire recité) berdasarkan hasil

(5)

penelitian. Dengan kata lain, sejarah sebagai kisah adalah rekonstruksi peristiwa sejarah berdasarkan fakta sejarah. Peristiwa sejarah yang dimaksud terutama peristiwa-peristiwa penting yang menyangkut kehidupan manusia secara umum. Proses rekonstruksi sejarah tentu terkait dengan subyek, yaitu sejarawan. Dalam proses rekonstruksi itu sejarawan melakukan kritik sumber, seleksi dan interpretasi data (cakupan metode sejarah) dan analisis permasalahan. Dalam menganalisa suatu peristiwa, sejarawan tentu memiliki pemikiran atau pandangan, baik berlandaskan suatu teori ataupun tidak. Oleh karena itu, sejarah sebagai kisah cenderung bersifat subyektif. Namun sifat subyektif itu harus menujukkan subyektif-rasional, dalam arti subyektif itu dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, sesuai dengan kaidah dan etika ilmiah. Proses sejarah sebagai peristiwa menjadi sejarah sebagai kisah itulah yang melahirkan ilmu sejarah.

3. Ciri-ciri Sejarah Sebagai Ilmu

Sejarah sebagai ilmu ditunjukkan oleh unsur-unsur yang merupakan ciri-ciri keilmuannya, yaitu;

a. Bersendi Pada Pengetahuan

Syarat utama ilmu adalah bersendi pada pengetahuan. Tidak mungkin ada ilmu tanpa pengetahuan. Berarti pengetahuan adalah ciri pertama yang menjadi landasan ilmu untuk mencari keterangan atau penjelasan lebih lanjut tentang sesuatu. Suatu pengetahuan menjadi ilmu harus memiliki syarat-syarat yang mencakup subyek, obyek, dan hubungan subyek dengan obyek.

- Subyek adalah orang yang disengaja ataupun tidak mengetahui sesuatu (peristiwa).

(6)

- Hubungan subyek dengan obyek itulah yang menyebabkan suatu obyek menjadi pengetahuan.

Pengetahuan yang menjadi landasan ilmu sejarah sudah tentu peristiwa, sejarah sebagai obyek, yang diketahui oleh sejarawan sebagai subyek. Sejarawan tidak mungkin dapat merekonstruksi sejarah tanpa mengetahui dan memahami suatu peristiwa sejarah dan permasalahannya.

Peristiwa sejarah berisi pengalaman manusia di masa lampau. Dengan demikian, ilmu sejarah termasuk ilmu empiris (Yunani: empeiria berarti pengalaman), karena sejarah berlandaskan pengalaman manusia di masa lampau yang menjadi pengetahuan sejarawan. Pengalaman itu direkam dalam dokumen. Dokumen itulah yang diteliti oleh sejarawan. b. Memiliki Metode

Metode adalah salah satu unsur yang harus dimiliki oleh ilmu. Proses rekonstruksi sejarah, mulai heuristik (mencari dan menemukan sumber), kritik sumber, interpretasi data sampai dengan penulisan hasil penelitian (historiografi), harus berdasarkan metode, khususnya metode sejarah. Dengan metode itu, rekonstruksi sejarah akan menghasilkan tulisan sejarah ilmiah.

Penulisan sejarah tanpa dilandasi oleh metode sejarah hanya akan menghasilkan tulisan populer. Uraiannya hanya bersifat deskriptif-naratif dan tidak menunjukkan ciri-ciri karya ilmiah sejarah.

c. Sistematis

Dengan landasan metode, sejarah sebagai kisah ditulis secara sistematis. Hubungan antar bab dan hubungan antar subbab pada setiap bab disusun secara kronologis, sehingga uraian secara keseluruhan bersifat diakronis (memanjang menurut alur waktu). Uraian sistematis akan menunjukkan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain yang bersifat kausalitas (hubungan sebab-akibat), karena sejarah merupakan suatu proses. Hal itu berarti kausalitas adalah hukum sejarah.

(7)

d. Pendekatan Ilmiah

Sejarah sebagai ilmu juga memiliki teori, yaitu teori sejarah. Selain menggunakan metode dan teori sejarah, penulisan sejarah ilmiah dituntut untuk menggunakan pendekatan multidimensional (interdisipliner), yaitu penerapan konsep dan teori ilmu-ilmu sosial (antropologi, sosiologi, ekonomi, politik, dll.) yang relevan dengan masalah sejarah yang dibahas. Pendekatan ilmiah itu perlu dilakukan, karena tulisan sejarah ilmiah harus bersifat deskriptif-analisis. Teori digunakan untuk mempertajam daya analisis, sehingga diperoleh eksplanasi (kejelasan) mengenai berbagai hal, termasuk makna peristiwa.

4. Karakteristik Sejarah

Selain memiliki ciri-ciri sebagai ilmu, sejarah (sebagai kisah) juga memiliki karakter tersendiri. Karakteristik sejarah yang paling mendasar adalah:

a. Sifat Peristiwa

Sifat peristiwa sejarah menyangkut hakekat dan makna peristiwa serta keunikan peristiwa.

1) Hakekat dan Makna Peristiwa

Seperti telah disebutkan, obyek sejarah sebagai ilmu adalah peristiwa. Akan tetapi, tidak segala peristiwa termasuk ke dalam lingkup sejarah (sebagai kisah). Peristiwa yang menjadi obyek kajian ilmu sejarah hanya peristiwa yang menyangkut kehidupan manusia secara langsung, dan memiliki signifikansi (arti/makna penting) serta besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia secara luas.

Hal itu berarti, sejarah adalah ilmu tentang manusia, tepatnya ilmu tentang pengalaman dan kiprah manusia di masa lampau.

2) Keunikan Peristiwa

Selain hakekat dan makna peristiwa, studi sejarah juga ditujukan pada keunikan peristiwa. Keunikan itu mungkin menyangkut individu, isnstitusi, situasi, bahkan mungkin juga ide. Keunikan unsur-unsur

(8)

peristiwa itu menjadi bahan pertanyaan, mengapa? (why?). Oleh karena itu, keunikan peristiwa merupakan salah satu alasan bagi pemilihan topik penelitian sejarah.

b. Perspektif Waktu

Penelitian dan penulisan sejarah mengacu pada periodisasi (pembabakan waktu). Peristiwa yang dikaji harus jelas ruang-lingkup temporalnya.

c. Sifat Fakta

Penulisan sejarah harus berdasarkan fakta. Fakta sejarah adalah hasil seleksi atas sifat fakta (kuat atau lemah). Berarti tidak setiap fakta adalah fakta sejarah.

5. Fungsi Sejarah a. Fungsi Umum

Fungsi umum sejarah adalah sebagai sumber pengetahuan. Sejarah (sebagai kisah) merupakan media untuk mengetahui masa lampau, yaitu mengetahui peristiwa-peristiwa penting dengan berbagai pemasalahannya. Peristiwa-peristiwa yang menjadi obyek sejarah syarat dengan pengalaman penting manusia yang penting artinya sebagai pelajaran. Atas dasar itulah lahirnya motto atau slogan mengenai sejarah, seperti "Sejarah adalah obor kebenaran", "Sejarah pedoman untuk membangun masa depan", "Belajarlah dari sejarah", dll. Bung Karno (alm.) berpesan "Jangan sekali-kali melupakan sejarah" ("JASMERAH").

b. Fungsi Khusus

Dalam fungsi umum itu terkandung fungsi khusus sejarah, yaitu fungsi sejarah secara lebih luas. Fungsi khusus sejarah terbagi atas fungsi intrinsik (fungsi hakiki, fungsi yang melekat pada dirinya) dan fungsi ekstrinsik (fungsi ke luar dirinya).

1) Fungsi Intrinsik

Ada beberapa fungsi intrinsik sejarah. Akan tetapi, fungsi intrinsik sejarah yang paling utama adalah sebagai media untuk mengetahui masa lampau dan sebagai ilmu.

(9)

2) Fungsi Ekstrinsik

Sama halnya dengan ilmu-ilmu lain, sejarah sebagai ilmu memiliki fungsi ekstrinsik. Fungsi sejarah yang penting untuk dipahami adalah fungsi edukatif. Fungsi edukatif sejarah mencakup : pendidikan nalar (penalaran), pendidikan moral, kebijakan/kebijaksanaan, pendidikan politik, perubahan, pendidikan masa depan, sebagai ilmu bantu.

a) Pendidikan nalar (penalaran)

Mempelajari sejarah secara kritis, atau menulis sejarah secara ilmiah, akan mendorong meningkatkan daya nalar orang yang bersangkutan. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: Pertama, sejarah sebagai ilmu menjelaskan latar belakang terjadinya suatu peristiwa. Ternyata penyebab terjadinya suatu peristiwa tidak hanya satu faktor, melainkan beberapa faktor yang saling berkaitan (kekuatan sejarah).

Kedua, sejarah sangat memperhatikan waktu (kronologis-diakronis). Berarti sejarah mendidik kita memiliki daya nalar untuk memperhatikan waktu dalam menjalani kehidupan (wal ashri). Ketiga, sejarah harus ditulis berdasarkan fakta. Akan tetapi tidak setiap sumber memuat fakta, dan tidak setiap fakta adalah fakta sejarah. Berarti sejarah mendidik kita untuk memiliki daya nalar yang dilandasi oleh sikap kritis.

b) Pendidikan moral

Sejarah syarat dengan pendidikan moral, karena sejarah mengungkap peristiwa yang pada dasarnya memuat dua sifat, yaitu baik dan buruk, benar dan salah, berhak dan tidak berhak, cinta dan benci, dan lain-lain.

c) Pendidikan kebijakan/kebijaksanaan

Peristiwa atau masalah tertentu, baik secara tersurat maupun tersirat menunjukkan adanya kebijakan atau kebijaksanaan. Kebijakan/kebijaksanaan di masa lampau sangat mungkin dapat

(10)

dijadikan bahan acuan dalam menghadapi kehidupan di masa kini. Berarti sejarah memiliki fungsi pragmatis.

d) Pendidikan politik

Sejarah mengandung pendidikan politik, karena peristiwa tertentu menyangkut tindakan politik atau kegiatan bersifat politik.

e) Pendidikan mengenai perubahan

Sejarah adalah proses yang menyangkut perubahan. Pada dasarnya kehidupan manusia terus berubah, walaupun kadar perubahan dari waktu ke waktu tidak sama. Perubahan itu terjadi karena disengaja atau tidak disengaja.

f) Pendidikan mengenai masa depan

Dengan mempelajari sejarah secara baik dilandasi oleh sikap kritis, akan dapat memprediksi, bagaimana kira-kira kehidupan di masa depan. ("Sejarah pedoman untuk membangun masa depan"). g) Sejarah sebagai ilmu bantu

Fungsi edukatif sejarah juga ditunjukkan oleh sejarah sebagai ilmu bantu. Sejarah sebagai pengetahuan dan ilmu dapat membantu menjelaskan permasalahan yang dikaji oleh ilmu-ilmu lain (antropologi, sosiologi, ekonomi, politik, hukum, dll.). B. Kerangka Pemikiran Gambar 2.1 Kerangka Pe mikiran SUMBER SEJARAH Pelaku Sejarah WAKTU Dokumentasi

Masyarakat Saat ini

Hilang/Musnah

(11)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian 1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Yaitu penulis mencoba menggambarkan secara rinci kejadian dan peristiwa yang terjadi dari berbagai sumber untuk menggambarkan bagimana awal pemerintahan Jepang di Indonesia dan apa yang menjadi dorongan pemerintah Jepang melakukan Invasi ke wilayah selatan Asia Tenggara.

2. Variabel Penelitian

Adapun variabel dari penelitian ini adalah:

a. Dorongan Pemerintah Jepang melakukan Invasi ke wilayah Selatan Asia Tenggara.

b. Kondisi Indonesia awal pendudukan Bala Tentara Jepang.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Studi Literarur

Studi Literatur digunakan terutama untuk memperoleh teori-teori dan konsep yang diperlukan untuk menunjang penelitian. Dengan studi literatur diharapkan dapat meperlancar penelitian. Cara yang ditempuh dalam studi literatur ini dengan mempelajari buku, dan dokumen yang ada hubungannya dengan permasalahan yang akan ditemukan.

b. Studi Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian,

(12)

sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, sketsa. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, dan film. c. Wawancara

Merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan berkomunikasi secara verbal dengan objek penelitian atau responden. Cara ini diharapkan timbul saing silang pendapat yang kondusif, dapat member masukan-masukan pendapat yang dianggap kurang lengkap, menyimpang, atau bahkann terlalu melebih-lebihkan keterangan.

B. Jadwal Pelaksanaan

Tabel 3.1

Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

No Kegiatan Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Penyusunan proposal Pelaksanaan Penelitian 2 Pembentukan Team Work 3 Pengumpulan data 4 Pengolahan

5 Penyusunan Laporan 6 Penggandaan 7 Penyerhan Laporan

(13)

BAB V KESIMPULAN

Gerombolan Di/TII bermula dari peristiwa ditandatanganinya perjanjian Renville, dimana salah satu ketentuannya ialah bahwa daerah Jawa Barat harus dikosongkan dari pasuka TNI yang akibatnya TNI harus hijrah ke Yogyakarta.

Munculnya sejumlah 4.000 orang Hizbullah dan Sabilillah yang tidak mematuhi perjanjian tersebut, menyebabkan mereka dapat berkuasa di daerah yang telah dikosongkan itu. Sehingga Kartosuwiryo berhasil membentuk Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949 dengan beranggotakan pasukan Hizbullah dan Sabilillah sebagai modal utamnya. Negara Islam Indonesia mengalami perkembangan yang meningkat di wilayah Jawa Barat dan mencapai kejayaan pada tahun 1957.

Eksistensi Negara Islam Indonesia telah berpengaruh terhadap keamanan masyarakat Jawa Barat, dengan adanya aktivitas gerombolan DI/TII yang melakukan pengrusakan, pembakaran, penggarongan, penculikan dan pembantaian terhadap warga masyarakat setempat. Seperti yang dialami oleh warga masyarakat Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya.

Cara mempengaruhi rakyat untuk mengikuti dan merestui gerakan DI/TII ialah melalui penyusupan dengan cara menanamkan pemahaman lewat pengajian-pengajian dan menyebarkan isu-isu yang menimbulkan rasa curiga-mencurigai antara sesame warga masyarakat.

Berkat kesiapan Organisasi Keamanan Desa (OKD) TNI dan warga masyarakat, seluruh aktivitas gerombolan Darul Islam (DI) yang banyak menyengsarakan rakyat baik lahir maupun batin berhasil ditumpas. Perlu dikemukakan bahwa penumpasan yang paling berhasil adalah dengan adanya Pagar Betis yang setelah berhasil di lumpuhkan maka terjadi peningkatan di bidang sosial dan ekonomi masyarakat Desa Sukapura mengalami kemajuan pesat.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

A. H. Nasution, (1963). Menuju Tentara Rakjat. Jakarta: Yayasan Penerbit Minang. A. H. Nasution, (1966). Sejarah Perjuangan Nasional di Bidang Bersenjata. Djakarta:

Mega Bookstre.

Ariwiadi, (1965). Gerakan Operasi Militer V. Jakarta: Disjarah.

Disjarah, (1965). Peranan TNI AD dalam Perang Kemerdekaan. Bandung: Pussemad. Disjarah, (161 - 1972). Bahan-Bahan Dokumentasi Disjarah AD. Bandung: Pussemad. Disjarah, (1994). Siliwangi dari Masa ke Masa. Bandung: Disjarah.

Disjarah, (1972) Cuplikan sejarah TNI AD.Bandung – Jakarta: Fa Mahjuma. Disjarah, (1982). Sekitar TNI Hijrah. Bandung: Dhiwantara.

Djen Amar, (1963). Bandung Lautan Api. Bandung: Dhiwantara.

Kelompok Kerja Sab, (1964). Sejarah Singkat Perjuangan Bersenjata Indonesia. Jakarta: Kelompok Kerja Sab.

Koentjaraningrat, (1977). Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia. Suharsimi Arikunto, (1988). Prosedur Penelitian, SuatuPendekatan Praktik. Yogyakarta:

Rineka Cipta.

T.B. Simatupang, (1959). Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai. Djakarta: Jajasan Pustaka Militer.

Nasution, S. (2009). Metode Research (penelitian ilmiah). Jakarta : Bumi Aksara Supartono.W,Drs,dkk. 2004. Ilmu Alamiah Dasar . Ghalia Indonesia. Bogor

Wikipedia. Sejarah Indonesia. [online] terdapat di : id.wikipedia.org/wiki/Geografi-Indonesia, update: 06 Mei 2012.

A.G.Pringgoigdo.(1952) Tata Negara di jawa pada waktu pendudukan jepang.yayasan Fonds UN, Gadjah Mada: Jogiakarta.

Djen Amar.(1963) Bandung lautan api. Dhewantara.tp.,t. tp.

Depdikud.(1978). Sejarah daerah jawa barat . PDK:Jakarta.

Moh, Ali.(1972). Sejarah jawa barat, Suatu Tanggapan Daerah Jawa Barat.

Margono.(1971). Ichtisar Sejarah Nasional (1908-1945). Dephankam. Pendidikan dan Kebudayan. Balai Pusaka: Jakarta.

Simpay Siliwangi. Amanda Belanda Dibantai Jepang di laut Jawa, Simpay Siliwangi, NO 50/1995.

Referensi

Dokumen terkait

Keberhasilan menemukan makna hidup selanjutnya akan menyebabkan kehidupan ini terasa berarti dan berharga (Bastaman, 1996). Makna hidup juga mengandung tujuan hidup,

Menurut Yusuf (2014:328) “Penelitian kualitatif mencari makna, pemahaman, pengertian, verstehen tentang suatu fenomena, kejadian, maupun kehidupan manusia dengan terlibat langsung

Komunikasi dan kehidupan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Maka dari itu, komunikasi memegang peranan penting dalam perkembangan peradaban

Hasil penelitian menunjukkan depresi pada remaja lebih banyak terjadi pada keluarga dengan peristiwa kehidupan yang negatif, tingkat yang lebih rendah dari keterampilan

menginspirasi dan memberikan informasi yang sangat penting mengenai kehidupan manusia. Informasi yang kompleks namun sering dianggap sepele. Misalnya informasi tentang

dengan Tuhan, sebaliknya Islam adalah suatu agama yang sempurna dan yang lengkap dengan pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan

Bagi al-Attas, pendidikan dalam arti Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusia, maka pengenalan dan pengakuan mesti diterapkan pada manusia, lebih lanjut ia mengatakan:

Oleh karena itu, manajemen sumber daya manusia mempunyai arti penting sebagai salah satu fungsi manajemen selain fungsi pemasaran, keuangan, dan produksi, di mana