• Tidak ada hasil yang ditemukan

INOVASI PENDIDIKAN Bunga Rampai Kajian Pendidikan Karakter, Literasi, dan Kompetensi Pendidik dalam Menghadapi Abad 21

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INOVASI PENDIDIKAN Bunga Rampai Kajian Pendidikan Karakter, Literasi, dan Kompetensi Pendidik dalam Menghadapi Abad 21"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

123

IMPLEMENTASI LKS IPA TEMA “KECAP KEDELAI” BERBASIS PENDEKATAN STM UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN SIKAP ILMIAH

SISWA

Oky Ristya Trisnawati

Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Kebumen [email protected]

Abstrak: Berdasarkan hasil observasi menunjukan bahwa beragamnya potensi lokal yang

terdapat disekitar sekolah belum dimanfaatkan oleh guru sebagai sumber belajar. LKS yang tersedia belum digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa. Penggunaan pendekatan dalam proses pembelajaran belum disesuaikan dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui efektivitas LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan (2) mengetahui efektivitas LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM untuk meningkatkan sikap ilmiah. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design. Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 1 Petanahan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 1 Petanahan dengan menggunakan 2 kelas sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen yang masing-masing berjumlah 32 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi keterampilan proses sains, tes keterampilan proses sains, lembar observasi sikap ilmiah dan angket sikap ilmiah. Teknik analisis data menggunakan uji-t dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa: (1) LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM efektif dalam meningkatkan keterampilan proses sains dan (2) LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM efektif dalam meningkatkan sikap ilmiah.

Kata Kunci: LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM, keterampilan proses

sains, sikap ilmiah.

PENDAHULUAN

Berdasarkan hasil observasi terhadap pembelajaran IPA kelas VII di SMP N 1 Petanahan menunjukan bahwa beragamnya potensi lokal yang terdapat di lingkungan sekitar sekolah belum dimanfaatkan oleh guru secara optimal sebagai sumber belajar. Selain itu, LKS yang diberikan kepada siswa juga belum digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah yang terdapat dalam diri siswa secara optimal. Penggunaan pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran juga belum disesuaikan dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran.

Proses pembelajaran sangat berpengaruh terhadap pengembangan potensi yang ada dalam diri siswa seperti keterampilan proses sains dan sikap ilmiah yang diperlukan dalam kehidun sehari-hari terutama dalam pembelajaran IPA. Ilmu pengetahuan alam menurut Trefil & Hazen (2010, p.20) adalah cara belajar tentang alam semesta menggunakan suatu metode ilmiah melalui suatu pengamatan dan eksperimen berdasarkan pengukuran yang cermat terhadap alam. Darmodjo (1993, p.6) menjelaskan bahwa dengan membelajarkan IPA siswa

(2)

124

dapat memahami alam sekitar, memiliki keterampilan berupa keterampilan proses untuk mendapatkan ilmu, memiliki sikap ilmiah dalam mengenal dan mempelajari alam sekitar dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

Berdasarkan hasil observasi kelas VII di SMP N 1 Petanahan menunjukkan bahwa pembelajaran IPA yang diterapkan masih didominasi pada penekanan ranah produk berupa pengetahuan mengenai konsep IPA. Hal tersebut menyebabkan rendahnya keterampilan proses sains dan sikap ilmiah yang dimiliki siswa. Salah satu langkah dalam mengembangkan dan meningkatkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa dapat dilakukan dengan penggunaan sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitar.

Salah satu sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitar dan dapat digunakan untuk membantu siswa memahami konsep IPA secara lebih luas, utuh dan menyeluruh adalah beragamnya potensi lokal yang dimiliki oleh suatu daerah. Hal tersebut senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suratsih (2010) menjelaskan bahwa beragamnya potensi lokal yang terdapat di suatu daerah dapat digunakan sebagai salah satu sumber belajar. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab X Pasal 36 ayat 4 menyatakan bahwa “Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik”. Hal tersebut senada dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 14 ayat 1 yang menjelaskan bahwa “Kurikulum untuk SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat dan kurikulum untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal”.

Salah satu potensi lokal di Kabupaten Kebumen yang dapat mendukung proses pembelajaran IPA adalah kecap. Berdasarkan data laporan akhir penyusunan profil industri kabupaten Kebumen yang diperoleh dari dinas perindustrian dan perdagangan pasar menunjukkan bahwa di sekitar SMP Negeri 1 Petanahan tepatnya di desa Grogol Beningsari terdapat sentra industri kecap kedelai.

Sentra industri kecap kedelai yang terdapat di kabupaten Kebumen juga didukung dengan adanya potensi tanaman dan produksi perkebunan yang dimiliki oleh kabupaten Kebumen. Pohon kelapa (gula kelapa) dan pohon kedelai (kedelai) yang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kecap merupakan salah satu potensi tanaman dan produksi perkebunan yang terdapat di Kabupaten Kebumen. Kelapa (gula kelapa) dan kedelai yang merupakan salah satu potensi tanaman dan produksi perkebunan yang ada di Kabupaten Kebumen sangat berpotensi dalam mendukung produksi kecap kedelai.

Kecap kedelai sebagai salah satu potensi lokal dipilih dan digunakan sebagai tema dalam membelajarkan IPA dikarenakan dalam proses pembuatan kecap kedelai terkandung beberapa konsep IPA yang meliputi beberapa materi pada bidang Biologi (klasifikasi tanaman kedelai, pengolahan limbah, fermentasi), Fisika (perubahan wujud zat, perpindahan kalor) dan Kimia (teknik penyaringan atau filtrasi). Beberapa bidang kajian IPA dalam kecap kedelai yang digunakan sebagai sumber belajar dapat memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Beragamnya potensi lokal yang terdapat di lingkungan sekitar sebagai salah satu sumber belajar dalam pembelajaran IPA dapat diaplikasikan dengan menggunakan LKS.

(3)

125

Lembar Kegiatan Siswa pada hakekatnya merupakan lembar kegiatan siswa yang digunakan sebagai pedoman untuk melakukan eksperimen maupun pengamatan, selain itu LKS juga digunakan sebagai alat untuk mengukur keterampilan dan sikap yang ada dalam diri siswa. Prastowo (2015, p.203-204) menjelaskan bahwa LKS merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembar-lembar tugas yang harus dikerjakan oleh siswa yang berisi materi, ringkasan dan petunjuk atau langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas dan harus dikerjakan oleh siswa yang mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai. Selain itu, Darmodjo (1993, p.40) mengungkapkan bahwa, LKS yang digunakan selama proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas dapat digunakan untuk mengembangkan maupun meningkatkan keterampilan proses dan sikap ilmiah yang dimiliki oleh siswa.

Penggunaan LKS yang mengaitkan potensi lokal sebagai sumber belajar juga dapat membantu siswa dalam mengamati apa yang terjadi di lingkungan secara langsung. Keterkaitan antara konsep IPA dengan teknologi dan masyarakat dapat dibelajarkan melalui pendekatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, sehingga siswa mampu menggali pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengaplikasikan atau menerapkan potensi lokal di lingkungan sekolah sebagai sumber belajar IPA adalah pendekatan sains teknologi masyarakat.

Pemilihan pendekatan sains teknologi masyarakat dalam mengimplementasikan LKS IPA tema kecap kedelai dikarenakan pendekatan sains teknologi masyarakat dapat membantu siswa dalam mempelajari dan memahami hubugan antara realita sosial yang terjadi di lingkungan sekitar dengan materi pembelajaran yang dipelajari di sekolah. Selain itu, dengan penggunaan pendekatan sains teknologi masyarakat dapat membantu mengarahkan siswa untuk melakukan keterampilan proses saat mereka melakukan kegiatan pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan, sehingga dengan hal tersebut sikap ilmiah yang ada dalam diri siswa juga akan muncul.

Sains teknologi masyarakat menurut Avci, Onal & Usak (2014, p.217) dapat membantu siswa memahami bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi kehidupan seseorang. Chiapetta & Koballa (2010, p.189) menjelaskan bahwa “sains, technology, society approaches is provides many opportunists to show teenage who scientific and technological knowledge can make them better informed about themselves and the world they live in”. Proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat menurut Poedjiadi (2005, p.131-132) meliputi enam ranah yaitu konsep, proses, aplikasi, kreativitas, sikap dan keterkaitan aplikasi dengan tindakan nyata.

Penggunaan pendekatan sains teknologi masyarakat dalam membelajarkan IPA yang berkaitan dengan potensi lokal pada suatu daerah sebagai sumber belajar diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, efektif dan efisien sehingga dapat membantu siswa tidak hanya dalam penguasaan materi IPA, tetapi juga dalam mengembangkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah.

Keterampilan proses sains menurut Espinosa, Monterola & Punzalan (2013, p.214) dianggap penting dalam mencapai literasi sains. Keterampilan ini meliputi observasi, komunikasi, klasifikasi, pengukuran, inferensi dan prediksi yang dapat dikatakan sebagai dasar dalam melakukan suatu metode ilmiah”. Abungu, Okere & Wachanga (2014, p.369) menjelaskan bahwa melalui pembelajaran yang menekankan pada keterampilan proses sains dapat membentu siswa dalam mengembangkan dan mempertajam keterampilan proses, sehingga

(4)

126

siswa dapat memperoleh keterampilan ilmiah yang berdampak pada pencapaian kompetensi. Sayekti, Sarwanto & Suparmi (2012, p.149) mengemukakan bahwa sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, jujur, objektif, kritis, terbuka, disiplin, teliti dan lain sebagainya merupakan suatu sikap yang melandasi proses IPA dan dapat dianggap sebagai nilai dan norma seperti aturan, larangan, pilihan dan juga kebolehan.

Berdasarkan hal di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui efektivitas LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan (2) mengetahui efektivitas LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM untuk meningkatkan sikap ilmia

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII SMP N 1 Petanahan, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design dengan rancangan non equivalent control group design. Creswell (2014: 172) menyatakan bahwa dalam penelitian kuasi eksperimen digunakan dua kelompok yaitu kelompok A sebagai eksperimen dan kelompok B sebagai kontrol. Pretes dan postes diambil pada kedua kelompok. Hanya kelompok eksperimen yang menerima perlakuan.

Tahapan dalam penelitian ini terdiri atas tahapan persiapan dan pelaksanaan. Tahap persiapan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi: (1) observasi awal ke SMP N 1 Petanahan, (2) meminta izin untuk dapat melaksanakan penelitian di SMP N 1 Petanahan, (3) konsultasi bersama dengan guru IPA terkait dengan kegiatan pengamatan siswa termasuk keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa serta beberapa permasalahan yang terdapat dalam proses pembelajaran IPA, (4) pembuatan perangakat pembelajaran, (5) membuat instrument penelitian. Tahap pelaksanaan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi: (1) melaksanakan pretest untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa, observasi awal untuk mengetahui keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa, memberikan angket untuk mengetahui sikap ilmiah siswa sebelum diberikan treatment, (2) melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM, (3) melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi dan lembar angket untuk mengetahui keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa, (4) melaksanakan posttest untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa setelah diberikan

treatment.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2016 hingga bulan Mei 2016 Tahun Ajaran 2015/2016. Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah siswa kelas VII SMP N 1 Petanahan. Subjek penelitian yang digunakan yaitu 32 siswa kelas VII A sebagai kelas kotrol dan 32 siswa kelas VII B sebagai kelas eksperimen. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih secara acak atau rondom.

Teknik dan instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain yaitu observasi, angket dan tes. Teknik pengumpulan data berupa observasi digunakan untuk memperoleh data awal yang diperlukan untuk mengetahui keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi antara lain lembar observasi keterampilan proses sains dan lembar observasi sikap ilmiah.

(5)

127

Teknik pengumpulan data berupa angket digunakan untuk mengetahui sikap ilmiah siswa. Instrumen yang digunakan pada teknik pengumpulan data menggunakan angket yaitu lembar angket sikap ilmiah. Selain itu, teknik pengumpulan data berupa tes digunakan untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa. Instrumen yang digunakan pada teknik pengumpulan data menggunakan tes yaitu lembar soal pretest dan posttest.

Hasil penelitian untuk aspek penilaian keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen yang diambil melalui tes, observasi maupun angket selanjutnya dianalisis untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa menggunakan rumus menurut Hake (1999, p.1).

<g> = ………(3)

Keterangan:

g : gain normalized ( N - gain) of the two approaches Smaks : maximum score (ideal)

Spost : final test score Spre : initial test scores

Hasil analisis peningkatan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa baik yang diperoleh menggunakan observasi, tes dan angket selanjutnya diinterpretasikan menjadi nilai standard gain seperti pada Tabel 1.

Tabel 1.

Interpretasi Nilai Standard Gain

Std gain Interpretasi g > 0,7 Tinggi 0,7 ≥ g > 0,3 Sedang

g ≤ 0,3 Rendah

Hake (1999, p.1)

Hasil analisis peningkatan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa selanjutnya diuji untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan peningkatan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah antara siswa yang menggunakan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM dengan siswa yang tidak menggunakan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM menggunakan uji-t secara statistik dengan bantuan program IBM SPSS 20. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penggunaan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM dalam pembelajaran IPA bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM untu meningkatkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa.

Pengujian dilakukan pada siswa kelas VII SMP N 1 Petanahan yang terdiri dari 32 siswa kelas VII A sebagai kelas kotrol dan 32 siswa kelas VII B sebagai kelas eksperimen. Sampel

(6)

128

yang digunakan dalam penelitian ini dipilih secara acak atau rondom. Siswa yang berada dalam kelas eksperimen selanjutnya diberi perlakuan dengan pembelajaran menggunakan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM, sedangkan siswa dalam kelas kontrol tidak diberikan perlakuan apapun. Hasil yang diperoleh berdasarkan beberapa tahapan dijabarkan sebagai berikut.

Peningkatan keterampilan proses sains siswa dapat diketahui dengan menggunakan dua cara yaitu tes dan observasi, sedangkan peningkatan sikap ilmiah siswa dapat diketahui dengan menggunakan dua cara yaitu observasi dan angket.

Penilaian keterampilan proses sains siswa menggunakan tes dibuat dengan memenuhi kelima aspek keterampilan proses sains siswa yang juga diukur menggunakan lembar observasi, yaitu memprediksi, mengamati, mengelompokkan, mengkomunikasikan dan menyimpulkan. Hasil analisis skor pretest dan posttest untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen selanjutnya dianalisis kembali untuk mengetahui peningkatan pada setiap aspek keterampilan proses sains yang diperoleh. Hasil perbandingan peningkatan keterampilan proses sains siswa yang diperoleh melalui pretest dan posttest untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat disajikan dalam bentuk diagram seperti yang terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram Batang Perbandingan Hasil Peningkatan Skor Pretets dan Posttest

Berdasarkan Gambar 1, dapat diketahui bahwa peningkatan keterampilan proses sains kelas eksperimen untuk aspek memprediksi, mengamati dan mengkomunikasikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Sedangkan peningkatan keterampilan proses sains kelas eksperimen untuk aspek mengelompkkan dan menyimpulkan lebih rendah dibandingkan dengan kelas kontrol. Meskipun beberapa aspek keterampilan proses sains pada kelas eksperimen lebih rendah dibandingkan dengan kelas kontrol, akan tetapi hasil rata-rata peningkatan keseluruhan aspek keterampilan proses sains kelas eksperimen lebih tinggi yaitu sebesar 0,68 jika dibandingkan dengan kelas kontrol yang memperoleh hasil rata-rata peningkatan keseluruhan aspek keterampilan proses sains sebesar 0,57.

Hasil perbandingan peningkatan keterampilan proses sains siswa yang diperoleh melalui observasi untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat disajikan dalam bentuk diagram seperti yang terlihat pada Gambar 2.

(7)

129

Gambar 2. Diagram Batang Perbandingan Peningkatan Hasil Observasi Keterampilan Proses Sains

Berdasarkan Gambar 2, dapat diketahui bahwa peningkatan keterampilan proses sains yang dinilai menggunakan lembar observasi untuk kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol untuk setiap aspeknya baik pada aspek memprediksi, mengamati, mengelompokkan, mengkomunikasikan maupun menyimpulkan. Selain itu, hasil rata-rata peningkatan keseluruhan aspek keterampilan proses sains kelas eksperimen yang dinilai menggunakan lembar observasi lebih tinggi yaitu sebesar 0,77 jika dibandingkan dengan kelas kontrol yang memperoleh hasil rata-rata peningkatan keseluruhan aspek keterampilan proses sains sebesar 0,20.

Penelitian ini selain dilakukan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains, juga dilakukan untuk mengetahui peningkatan sikap ilmiah siswa dengan menggunakan dua cara yaitu angket dan observasi. Aspek sikap ilmiah siswa yang dinilai antara lain rasa ingin tahu, berpikir kritis, berpikir terbuka dan bekerjasama. Hasil perbandingan peningkatan sikap ilmiah siswa yang diperoleh melalui observasi untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat disajikan dalam bentuk diagram seperti yang terlihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Diagram Batang Perbandingan Hasil Peningkatan Observasi Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

Berdasarkan Gambar 3, dapat diketahui bahwa rata-rata peningkatan sikap ilmiah pada setiap aspeknya baik pada aspek rasa ingin tahu, berpikir kritis maupun berpikir terbuka dan bekerjasama yang dinilai menggunakan lembar observasi untuk kelas eksperimen lebih

(8)

130

tinggi jika dibandingkan dengan kelas kontrol. Selain itu, hasil rata-rata peningkatan keseluruhan aspek sikap ilmiah kelas eksperimen yang dinilai menggunakan lembar observasi lebih tinggi yaitu sebesar 0,74 jika dibandingkan dengan kelas kontrol yang memperoleh hasil rata-rata peningkatan keseluruhan aspek sikap ilmiah sebesar 0,34. Hasil perbandingan rata-rata peningkatan sikap ilmiah yang diperoleh melalui angket untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat disajikan dalam bentuk diagram seperti yang terlihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Diagram Batang Perbandingan Hasil Peningkatan Sikap Ilmiah untuk Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen menggunakan Angket

Berdasarkan Gambar 4, dapat diketahui bahwa rata-rata peningkatan sikap ilmiah pada setiap aspeknya baik pada aspek rasa ingin tahu, berpikir kritis maupun berpikir terbuka dan bekerjasama yang dinilai menggunakan lembar angket untuk kelas eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas kontrol. Selain itu, hasil rata-rata peningkatan keseluruhan aspek sikap ilmiah kelas eksperimen yang dinilai menggunakan lembar angket lebih tinggi yaitu sebesar 0,67 jika dibandingkan dengan kelas kontrol yang memperoleh hasil rata-rata peningkatan keseluruhan aspek sikap ilmiah sebesar 0,45.

Data keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa yang ada pada kelas kontrol dan kelas eksperimen selanjutnya dianalisis menggunakan program SPSS untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan peningkatan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah antara siswa yang menggunakan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM dengan siswa yang tidak menggunakan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM. Berdasarkan uji-t diperoleh nilai signifikansi kurang dari 0,05 sehingga pada taraf signifikansi 5% Ho ditolak. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah antara siswa yang menggunakan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM dengan siswa yang tidak menggunakan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM.

LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM dalam pembelajaran IPA berdampak positif terhadap peningkatan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah siswa. Hal tersebut senada dengan pendapat Chusni & Widodo (2013, p.55) yang mengemukakan bahwa hasil keterampilan proses siswa yang menggunakan LKS sains berbasis kerja laboratorium lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang menggunakan LKS sains dari sekolah. Selain itu, Rachmawati, Subiki & Nuriman (2013, p.218) mengemukakan bahwa

(9)

131

penggunaan LKS dalam pembelajaran fisika kelas VIII dapat meningkatkan sikap ilmiah. Widowati, Wibowo & Hidayati (2013, p.82) mengemukakan bahwa LKS yang dikembangkan dengan memanfaatkan potensi lokal sekolah dapat mengembangkan keterampilan proses siswa. Selain itu, Kartini, Adnyaya & Swasta (2014, p.11) mengemukakan bahwa terdapat perbedaan sikap ilmiah siswa antara siswa yang belajar dengan pendekatan pembelajaran sains teknologi masyarakat dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran langsung. Sikap ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan pembelajaran Sains-Teknologi-Masyarakat lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran langsung. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, analisis dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa: (1) penggunaan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM efektif untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa dan (2) penggunaan LKS IPA tema “kecap kedelai” berbasis pendekatan STM efektif dalam meningkatkan sikap ilmiah siswa. Untuk penelitian lebih lanjut dapat digunakan potensi lokal di suatu daerah yang lebih beragam sebagai sumber belajar bagi siswa dan diaplikasikan dengan perangkat pembelajaran serta pendekatan pembelajaran yang lebih efektif dan inovatif.

DAFTAR PUSTAKA

Abungu, H. E., Okere, M. I. O. & Wachanga, S. W. (2014). The Effect of Science Process Skills Teaching Approach on Secondary School Students‟ Achievement in Chemistry in Nyando District, Kenya. Journal of Educational and Social Research, 4, 359-372. Avci, A. E., Onal, N. S. & Usak, M. (2014). Turkism Teacher‟s Opinions About

Science-Technology-Society-Environment Acquisitions in Science and Technology Course Curriculum. Journal of Baltic Science Education, 13, 216-230.

Chiappetta, E. L. & Koballa, T. R. (2010). Science Instruction in the Middle and Secondary Schools. New York: Pearson Education, Inc.

Chusni, M. M. & Widodo. (2013). Pengembangan LKS Sains Berbasis Kerja Laboratorium untuk Meningkatkan Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Siswa SMP Muh. Muntilan.

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains VIII, Salatiga, 4 (1), 47-57. Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods

Approaches. Thousand Oaks: SAGE Publications.

Darmodjo, H. (1993). Pendidikan IPA II. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Espinosa, A. A., Monterola, A. L. C. & Punzalan, A. E. (2013). Career-Oriented Performance Tasks in Chemistry: Effects on Students‟ Integrated Science Process Skills. Cypriot Journal of Educational Sciences, 8, 211-216.

Hake, R. R. (1999). Analyzing Change/Gain Scores. Diambil pada tanggal 12 Agustus 2015, dari http://www.physics. indiana.edu/~sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf.

Kartini, N. N., Adnyana, P. B. & Swasta, I. B. K. (2014). Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan

(10)

132

Sikap Ilmiah Siswa. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 4, 1-13.

Prastowo, A. (2015). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif Menciptakan Metode Pembelajaran yang Menarik dan Menyenangkan. Yogyakarta: Diva Pres.

Poedjiadi, A. (2005). Sains Teknologi Masyarakat: Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Presiden. (2005). Peraturan Pemerintah RI Nomor 19, Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan.

Rachmawati, I. N., Subiki & Nuriman. (2013). Peningkatan Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Fisika Melalui Pembelajaran Dengan LKS Open-Ended Question Disertai Metode Eksperimen pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Maesan. Jurnal Pendidikan Fisika, 2, 214-219.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20, Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sayekti, I. C., Sarwanto & Suparmi. (2012). Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Inkuiri Terbimbing melalui Metode Eksperimen dan Demonstrasi Ditinjau dari Kemampuan Analisis dan Sikap Ilmiah Siswa. Jurnal INKUIRI, 1, 142-153.

Suratsih. (2010). Pengembangan Modul Pembelajaran Biologi Berbasis Potensi Lokal dalam Kerangka Implementasi KTSP SMA di Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Trefil. J. & Hazen, R. M. (2010). Sciences An Integreted Approach. USA: John Wiley & Sons Pte Ltd.

Widowati, A., Wibowo, Y. & Hidayati, S. (2013). Pemanfaatan Potensi Lokal Sekolah dalam Pembelajaran Biologi SMP. Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, 1, 74-82.

Gambar

Gambar 1. Diagram Batang Perbandingan Hasil Peningkatan Skor  Pretets  dan  Posttest   Berdasarkan Gambar 1, dapat diketahui bahwa peningkatan keterampilan proses sains kelas  eksperimen  untuk  aspek  memprediksi,  mengamati  dan  mengkomunikasikan  lebih
Gambar 2. Diagram Batang Perbandingan Peningkatan Hasil Observasi Keterampilan Proses  Sains
Gambar 4. Diagram Batang Perbandingan Hasil Peningkatan Sikap Ilmiah untuk Kelas  Kontrol dan Kelas Eksperimen menggunakan Angket

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian terkait SDM pada VTS pun telah dilakukan, misalnya penelitian pada Juni 2016 tentang Analisis Penggunaan SMCP (Standard Marine Communication Phrases)

meneteskan larutan pengembang etanol-air sampai bersih (warna tetesan cairan yang keluar Kemudian lakukan prosedur yang sama terhadap sampel permen warna ungu (gunakan 5 tetes

Bersama ini diumumkan daftar nama peserta yang lulus Psikotest dan akan mengikuti tes fisik Rekrutmen khusus program kerjasamaPLN dan Politeknik Negeri Sriwijaya

Pengembangan strategi bersaing ini bertujuan agar perusahaan dapat melihat secara objektif kondisi-kondisi internal dan eksternal sehingga dapat mengantisipasi

Untuk menampilkan data yang diukur oleh masing-masing sumur pantau, pengguna pengguna harus memilih salah satu dari nama sumur pantau yang ada. Setelah salah satu nama sumur pantau

Use Case Diagram digunakan untuk menjelaskan manfaat sistem jika menurut pandangan orang yang berada diluar sistem atau actor. Dalam tahapan ini, use case

Dari pengertian diatas maka dapat diartikan Logika dan Algoritma adalah ilmu yang mempelajari cara penyelesaian masalah berdasarkan langkah-langkah terbatas yang logis

Tindak tutur ekpresif adalah tindak ujar yang dihasilkan dengan maksud agar ujaran diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam ujaran