Tnjauan Yuridis Tentang Peran Dan Kedudukan Komisi Aparatur Sipil Negara Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara

Teks penuh

(1)

Tnjauan Yuridis Tentang Peran Dan Kedudukan Komisi Aparatur Sipil Negara

Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil

Negara

Muklis

Fakultas Hukum, Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara, E-mail: mukhlis@umsu.ac.id

Abstrak

Terbitnya UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) hampir empat tahun lalu menjadi episode baru dalam menatakelola birokrasi pemerintah. Sebagai produk kebijakan publik, UU ASN ini lahir karena dorongan lingkungan kebijakan (policy environment) berupa masih rendahnya kinerja aparatur birokrasi dan tingginya politisasi birokrasi sehingga makin tingginya tuntutan publik terhadap dirinya. Selama lima dasawarsa lebih sejak kemerdekaan 1945, eksistensi dan kiprahnya ibarat sparepart kecil dari sebuah mesin raksasa negara yang arah perkembangannya sangat dependen kepada penguasa politik kala itu. Berkaca dari pernyataan diatas maka dibentuklah Komisi Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut KASN yang secara umum bertugas untuk mengawasi pegawai ASN. Dalam UU ASN, KASN merupakan lembaga nonstruktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik untuk menciptakan Pegawai ASN yang profesional dan berkinerja, memberikan pelayanan secara adil dan netral, serta menjadi perekat dan pemersatu bangsa. Penulisan ini menggunakan metode penelitian hukum yuridis normatif (normatif research). Sifat penelitian ini adalah deskriptif, yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang peran Komisi Aparatur Sipil Negara. Sumber data penelitian berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunderdan bahan hukum tersier. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik studi dokumen, yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif. Terkait dengan fungsi KASN terdapat pada Pasal 30 UU No.5 Tahun 2014 bahwa “KASN berfungsi mengawasi pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN, serta penerapan Sistem Merit dalam kebijakan dan Manajemen ASN pada Instansi Pemerintah”. KASN bertugas untuk menjaga netralitas Pegawai ASN, melakukan pengawasan atas pembinaan profesi ASN dan, melaporkan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan Manajemen ASN kepada Presiden. Komisi Aparatur Sipil Negara dapat merekomendasikan kepada presiden untuk menjatuhkan sanksi terhadap pejabat pembina kepegawaian dan pejabat yang melanggar prinsip sesuai ketentuan perundang-undangan. Bentuk-bentuk sanksi yang dimaksud di atas terletak pada Pasal 33 ayat (2) yaitu Peringatan, Teguran, Perbaikan, pencabutan, pembatalan, penerbitan keputusan, dan/atau pengembalian pembayaran, Hukuman disiplin untuk Pejabat yang Berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan, Sanksi untuk Pejabat Pembina Kepegawaian, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kata Kunci: Peran dan Kedudukan, Komisi Aparatur Sipil Negara. Abstract

The issuance of Law no. 5 of 2014 concerning the State Civil Apparatus (ASN) almost four years ago became a new episode in managing the government bureaucracy. As a product of public policy, the ASN Law was born due to the encouragement of a policy environment in the form of the still low performance of the bureaucratic apparatus and the high politicization of the bureaucracy so that the public's demands on him were increasing. For more than five decades since independence in 1945, its existence and work were like the small spare parts of a giant state machine whose direction of development was highly dependent on the political rulers at that time. Reflecting on the above statement, the State Civil Apparatus Commission was formed, hereinafter referred to as KASN, which in general has the task of supervising ASN employees. In the ASN Law, KASN is a non-structural institution that is independent and free from political intervention to create professional and performing ASN employees, provide fair and neutral services, and become the glue and unifier of the nation. This writing uses normative juridical legal research methods (normative research). The nature

http://jurnal.bundamediagrup.co.id/index.php/iuris

ISSN ONLINE: 2745-8369

(2)

of this research is descriptive, which aims to provide an overview of the role of the State Civil Service Commission. Sources of research data are in the form of primary legal materials, secondary legal materials and tertiary legal materials. The data collection method was carried out using document study techniques, which were analyzed using qualitative analysis techniques. Related to the function of KASN, it is contained in Article 30 of Law No.5 of 2014 that "KASN has the function of supervising the implementation of basic norms, code of ethics and code of conduct of ASN, as well as the implementation of the Merit System in ASN policies and Management in Government Agencies". KASN is tasked with maintaining the neutrality of ASN employees, supervising the ASN professional development and, reporting the supervision and evaluation of the implementation of ASN Management policies to the President. The State Civil Apparatus Commission can recommend the president to impose sanctions on civil service officials and officials who violate the principles according to the provisions of the law. The forms of sanctions referred to above lie in Article 33 paragraph (2), namely Warning, Warning, Correction, revocation, cancellation, issuance of decisions, and / or refunds, Disciplinary penalties for Competent Officers in accordance with the provisions of laws and regulations, Sanctions for Civil Service Officer, in accordance with the provisions of laws and regulations.

Keywords:

Role and Position, State Civil Apparatus Commission. Cara Sitasi:

Muklis. (2021). “Tinjauan Yuridis Tentang Peran dan Kedudukan Komisis Aparatur Sipil Negara Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara”. IURIS STUDIA: Jurnal Kajian Hukum Vol. 2 No. 1. Pages 17-25

A. Pendahuluan

Berbicara mengenai organ pemerintahan tentu saja tidak terlepas dari Aparatur Sipil Negara yang menjalankan roda pemerintahan dari daerah sampai pusat.Aparatur Sipil Negara atau yang selanjutnya disebut (ASN) merupakan pegawai yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan pemerintahan yang segala aturan terkait dengannya telah diatur dalam Undang-Undang No 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara.Dalam ketentuan umum UU ASN tersebut menjelaskan bahwa Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah. Selanjutnya ketentuan umum UU ASN juga mengemukakan bahwa Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pada zaman sekarang ini pekerjaan ASN sangat digemari oleh masyarakat Indonesia karena jaminan hari tua yang baik dan mapan.Oleh karena itu banyak masyarakat yang bekerja menjadi pegawai ASN.Tetapi tidak sedikit pula pegawai ASN yang melanggar ketentuan etik atau melakukan pelanggaran etik yang seharusnya dijaga karena mereka merupakan pegawai pemerintah dan pegawai negeri sipil yang menjalankan roda pemerintahan di Indonesia. Berkaca dari pernyataan diatas maka dibentuklah Komisi Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut KASN yang secara umum bertugas untuk mengawasi pegawai ASN. Dalam UU ASN, KASN merupakan lembaga nonstruktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik untuk menciptakan Pegawai ASN yang profesional dan berkinerja, memberikan pelayanan secara adil dan netral, serta menjadi perekat dan pemersatu bangsa.

Reformasi birokrasi agar tercapai, maka dibentuklah Lembaga Nonstruktural yang bernama Komisi Aparatur Sipil Negara atau disingkat dengan KASN. Pembentukan KASN diamanatkan oleh Undang-Undang Nomo 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. KASN bertujuan melakukan pengawasan kode etik Aparatur Sipil Negara, mendukung dan menerapkan sistem merit dalam manajemen Aparatur Sipil Negara(ASN), sehingga bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Melihat manajemen ASN di daerah tentang sistem pengisian jabatan dan promosi jabatan atau yang biasa disebut dengan “lelang jabatan”, KASN mengatakan masih menemukan praktik jual beli jabatan dalam sistem lelang jabatan di beberapa daerah di

(3)

Indonesia, meskipun pihaknya telah mendorong dilakukannya seleksi terbuka di seluruh instansi pemerintah untuk pengisian jabatan tinggi. Hal ini juga dikarenakan belum dibentuknya perwakilan KASN di daerah sebagai lembaga yang mengawasi penerapan sistem merit dalam kebijakan dan Manajemen ASN pada Instansi Pemerintah, maka masih banyak terjadi praktik jual beli jabatan. Selain itu Ketua KASN beranggapan kinerja KASN kurang maksimal dengan kurangnya sumber daya manusia (SDM), dimana saat ini hanya ada 18 orang pegawai KASN termasuk 7 komisioner, oleh karena itu KASN merasa kesulitan menghadapi pengaduan yang masuk. Oleh karena itu, semakin kompleksnya permasalahan dalam manajemen ASN dan penerapan sistem merit tersebut, maka diperlukan penguatan kedudukandan peran KASNs aat ini dalam mewujudkan reformasi birokrasi.1

Terbitnya UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) hampir empat tahun lalu menjadi episode baru dalam menatakelola birokrasi pemerintah. Sebagai produk kebijakan publik, UU ASN ini lahir karena dorongan lingkungan kebijakan (policy environment) berupa masih rendahnya kinerja aparatur birokrasi dan tingginya politisasi birokrasi sehingga makin tingginya tuntutan publik terhadap dirinya. Selama lima dasawarsa lebih sejak kemerdekaan 1945, eksistensi dan kiprahnya ibarat sparepart kecil dari sebuah mesin raksasa negara yang arah perkembangannya sangat dependen kepada penguasa politik kala itu. Hal ini makin menjauhkan peran dan posisinya sebagai pelayan publik yang sejatinya harus mengabdikan diri sepenuhnya bagi publik sebagai pemegang sah kedaulatan di negeri ini. Sebagai momentum yang dapat memperbaiki keadaan keaparaturnegaraan, maka kehadiran KASN disambut optimis. Saat ini selain ada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Badan Kepegawaian Negara dan Lembaga Administrasi Negara, hadir pula KASN yang makin memperkokoh langkah pemerintah dalam penatakelolaan birokrasi ini. Namun, ternyata perjalanan lembaga baru ini ibarat melalui jalan terjal berliku dengan segala rintangannya. Diantaranya beberapa waktu lalu muncul wacana pembubaran KASN yang disuarakan kalangan legislator di DPR RI. Ini salah satunya terkait dengan penilaian terhadap kinerjanya yang dianggap belum memadai sebagaimana dititahkan UU ASN. Selain itu belum lengkapnya regulasi turunan dari UU ASN, ketersediaan dukungan sumberdaya manusia serta perangkat organisasi juga menjadi permasalahan tersendiri bagi dirinya. Salah satu aspek yang akan menentukan efektivitas organisasi publik adalah kejelasan tentang fungsi, tugas dan wewenangnya dalam peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Kejelasan ini akan menentukan keleluasaan organisasi untuk mencapai visi dan misinya. Tampak bahwa fungsi, tugas dan wewenang KASN pada Pasal 30, Pasal 31 dan Pasal 32 belum memadai untuk tampil membenahi benang kusut permasalahan ke-ASN-an. Karena itu, perlu telaah akademik berupa analisis kebijakan untuk mengevaluasi isi/substansi kebijakan berupa ketentuan dalam UU ASN yang mengatur ketiga aspek tersebut.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diketahui fokus permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana fungsi dan tugas Komisi Aparatur Sipil Negara? dan bagaimana bentuk-bentuk sanksi yang dapat dikeluarkan oleh Komisis Aparatur Sipil Negara? Penulisan ini menggunakan metode penelitian hukum yuridis normatif (normatif research).2 Sifat penelitian ini adalah deskriptif, yang bertujuan

untuk memberikan gambaran tentang peran komisis aparatur sipil negara. Sumber data penelitian berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik studi dokumen, yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif.3

1 Nurmalita Ayuningtyas, “Penguatan Kedudukan dan Peran Komisi Aparatur Sipil Negara Dalam Mewujudkan Reformasi Birokrasi” Jurnal Panorama Hukum 1, No. 2, (2016): p. 84.

2 Rahmat Ramadhani dan Ramlan, “Perjanjian Build Operate And Transfer (BOT) Lapangan Merdeka Medan dalam Pandangan Hukum Administrasi Negara dan Hukum Bisnis” De Lega Lata: Jurnal Ilmu Hukum 4, No. 2, (2019): p. 257. 3 Erwin Asmadi, “Peran Psikiater dalam Pembuktian Kekerasan Psikis Pada Korban Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga” De Lega Lata: Jurnal Ilmu Hukum 3, No. 1, (2018): p. 41.

(4)

B. Pembahasan

1. Fungsi dan Tugas Komisis Aparatur Sipil Negara

Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia pada masa mendatang memerlukan aparatur negara yang profesional, visioner, mampu menggalang kemitraan dengan pihak swasta, berkinerja tinggi, akuntabel, bersih dari praktik KKN, independen dari struktur politik pemerintahan negara dan berorientasi pada pelayanan publik. Untukmenciptakan ASN seperti tersebut perlu diadakan adjustment dalam format ASN dengan memisahkan secara tegas antara jabatan politik (political positions) pada 3 cabang pemerintahan dengan jabatan ASN yang harus netral dari intervensi politik. Administrasi kepegawaian RI perlu mengatur pemisahan dua jabatan tersebut yaitu antara jabatan negara (politik) dengan jabatan profesi pada tiga cabang pemerintahan, serta pelarangan pegawai negeri sipil (PNS) menjadi pengurus dan anggota partai politik.4

Lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan milestone dalam tahap reformasi birokrasi Indonesia. Tujuan dari reformasi birokrasi Indonesia disebutkan antara lain untuk mewujudkan ASN yang profesional, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai penjaga persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara tepatnya pada ketentuan umum menjelaskan tentang pengertian atau definisi mengenai Komisi Aparatur Sipil Negara, yaitu Komisi ASN yang selanjutnya disingkat KASN adalahlembaga nonstruktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politik.Presiden yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pemerintahan dapat memberikan wewenang kepada KASN untuk menjalankan tugasnya. Hal tersebut selanjutnya tertera pada Pasal 25 ayat (2) huruf a dan b bahwa “Untuk menyelenggarakan kekuasaan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) Presiden mendelegasikan sebagian kekuasaannya kepada Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendayagunaan aparatur negara, berkaitan dengan kewenangan perumusan dan penetapan kebijakan, koordinasi dan sinkronisasi kebijakan, serta pengawasan atas pelaksanaan kebijakan ASN dan KASN, berkaitan dengan kewenangan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan Manajemen ASN untuk menjamin perwuju dan Sistem Merit serta pengawasan terhadap penerapan asas serta kode etik dan kode perilaku ASN”.

Layaknya yang telah dijelaskan diatas mengenai latar belakang lahirnya KASN sebenarnya merupakan cerminan dari tujuannya juga. Tetapi Pasal 28 UU ASN menjelaskan secara lebih terperinci apa saja yang menjadi tujuan dibentuknya KASN, yaitu:

a. menjamin terwujudnya Sistem Merit dalam kebijakan dan Manajemen ASN;

b. mewujudkan ASN yang profesional, berkinerja tinggi, sejahtera, dan berfungsi sebagai perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia;

c. mendukung penyelenggaraan pemerintahan negara yang efektif, efisien dan terbuka, serta bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme;

d. mewujudkan Pegawai ASN yang netral dan tidak membedakan masyarakat yang dilayani berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan;

e. menjamin terbentuknya profesi ASN yang dihormati pegawainya dan masyarakat; dan f. mewujudkan ASN yang dinamis dan berbudaya pencapaian kinerja.

Selanjutnya Pasal 30 UU ASN juga telah mengemukakan fungsidari KASN adalah mengawasi pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN, serta penerapan Sistem Merit dalam kebijakan dan Manajemen ASN pada Instansi Pemerintah.Setelah memiliki fungsi yang

4Riris Khatarina, “Reformasi Manajemen Aparatur Sipil Negara Evaluasi Peran Pejabat Pembina Kepegawaian dan Komisi Aparatur Sipil Negara”.Dalam Jurnal Spirit Publik 13, No.2 (2018), p: 7.

(5)

diperintahkan oleh Undang-Undang maka KASN dapat menjalankan tugas-tugasnya. Berikut merupakan tugas-tugas KASN yang tertera pada Pasal 31 ayat (1) dan (2):

(1) KASN bertugas:

a. menjaga netralitas Pegawai ASN;

b. melakukan pengawasan atas pembinaan profesi ASN; dan

c. melaporkan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan Manajemen ASN kepada Presiden.

(2) Dalam melakukan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) KASN dapat:

a. melakukan penelusuran data dan informasi terhadap pelaksanaan Sistem Merit dalam kebijakan dan Manajemen ASN pada Instansi Pemerintah;

b. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan fungsi Pegawai ASN sebagai pemersatu bangsa;

c. menerima laporan terhadap pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN;

d. melakukan penelusuran data dan informasi atas prakarsa sendiri terhadap dugaan pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN; dan

e. melakukan upaya pencegahan pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN.

Agenda prioritas pemerintah tersebut, telah dirumuskan penjabarannya dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Sedangkan arah kebijakan yang ditempuh untuk mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara adalah penerapan manajemen ASN yang transparan, kompetitif, dan berbasis merit untuk mewujudkan ASN yang profesional dan bermartabat. Arah kebijakan tersebut dielaborasi melalui berbagai strategi, sebagai berikut: (a) penyelesaian peraturan perundang-undangan sebagai implementasi UndangUndang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN; (b) peningkatan kualitas perencanaan kebutuhan ASN; (c) penguatan kebijakan dan implementasi sistemrekrutmen dan seleksi secara transparan dan berbasis kompetensi; (d) penguatan kebijakan dan implementasi sistem promosi terbuka, termasuk pemanfaatan assesment center; (e) penguatan kebijakan dan implementasi manajemen kinerja pegawai, termasuk pengembangan kebijakan dan berbasis kinerja; (f) pengembangan sistem pengkaderan pejabat tinggi ASN; (g) penguatan supervisi, monitoring, dan evaluasi implementasi manajemen ASN pada K/L/pemda; (h) penguatan system dan kelembagaan perlindungan sistem merit dalam manajemen ASN; dan (i) penguatan kebijakan dan implementasi/ internalisasi asas, prinsip, nilai dasar, kode etik, dan kode perilaku ASN.5

Lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU No.5 Tahun 2014 tentang ASN) merupakan harapan bagi pemerintahan yang lebih baik, namun masih banyak persoalan yang mesti segera mendapat perhatian dan tindakan serius untuk mempercepat proses yang diharapkan. Terdapat dalam UU tersebut kontradiksi dengan asas efektif dan efisien yang mengamanatkan lahirnya sebuah lembaga baru yaitu Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sesuai Pasal 27 UU No.5 Tahun 2014 tentang ASN menyebutkan bahwa KASN merupakan lembaga nonstruktural yang mandiri bebas dari intervensi politik untuk menciptakan pegawai ASN yang profesional dan berkinerja, memberikan pelayanan secara adil dan netral, serta menjadi perekat dan pemersatu bangsa. Komisi ini beranggotakan 7 (tujuh) orang yang terdiri dari seorang ketua merangkap anggota, seorang wakil ketua merangkap anggota, dan 5 (lima) orang anggota. KASN dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dibantu oleh Asisten dan Pejabat Fungsional keahlian yang dibutuhkan. Selain itu KASN dibantu oleh sekretariat yang dipimpin oleh seorang kepala sekretariat. Ketua, wakil ketua, dan anggota KASN ditetapkan dan diangkat oleh Presiden selaku

5Adrie, “Kedudukan Dan Kewenangan Komisi Aparatur Sipil Negara (Kasn) Pada Penyelenggaraan Pemerintahan Dalam Perspektif Hukum Kepegawaian”, Jurnal Yustitia, 12, No. 2, (2018), p: 23.

(6)

kepala pemerintahan untuk masa jabatan selama 5 (lima) tahun dan hanya dapat diperpanjang untuk 1 (satu) kali masa jabatan.6

2. Bentuk-Bentuk Sanksi yang Diberikan Komisi Aparatur Sipil Negara

Menurut Wicipto Setia Adi dalam jurnalnya bahwa pencantuman sanksi harus disesuaikan dengan substansi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut. Dalam beberapa peraturan perundang-undangan dijumpai pengenaan sanksi, terutama sanksi pidana terlihat sangat dipaksakan. Sanksi yang tidak sesuai akan mengakibatkan peraturan perundang-undangan yang dibentuk menjadi tidak efektif atau tidak ada daya/hasil gunanya. Hal ini sesuai dengan salah satu asas yang harus dipenuhi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, yaitu asas kedayagunaan dan kehasilgunaan. Artinya, setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Akibat lainnya, dalam praktik sanksi yang diatur dalam peraturan perundangundangan tersebut karena tidak sesuai dengan lingkup substansinya menjadi sangat sulit untuk diterapkan. Ada kalanya sanksi perdata atau sanksi administratif dalam penegakan hukum suatu peraturan perundang-undangan merupakan pilihan yang lebih tepat dan efektif dibandingkan dengan sanksi pidana.7

Apabila substansi peraturan perundang-undangan merupakan lingkup hukum administrasi, maka tidak tepat apabila dipaksakan untuk diterapkan sanksi pidana. Tidaklah tepat pendapat yang menyatakan bahwa agarperaturan perundang-undangan dapat berlaku secara efektif selalu disertai dengan sanksi pidana. Untuk substansi yang berkaitan dengan masalah administratif, sanksi adminisratiflah yang paling efektif. Sanksi perdata diterapkan apabila penegakan peraturan perundang-undangan tersebut menimbulkan kerugian bagi orang yang terkena ketentuan dalam peraturan perundangundangan tersebut. Pada prinsipnya, siapa pun yang menimbulkan kerugian akan mengganti kerugian tersebut sesuai dengan kerugian yang dideritanya. Kerugian yang timbul sebagai akibat pelaksanaan peraturan perundangundangan dapat diselesaikan baik melalui jalur pengadilan maupun non-pengadilan. Sedangkan sanksi administratif dapat diterapkan baik melalui jalur pengadilan maupun jalur non pengadilan, yakni oleh pejabat administrasi. Sanksi administratif yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan kebanyakan terkait dengan masalah perizinan dan dilaksanakan oleh pejabat (badan) administrasi yang berwenang mengeluarkan perizinan tersebut. Sanksi administratif yang dijatuhkan oleh pejabat administrasi sering dikaitkan dengan pelanggaran terhadap persyaratan perizinan.8

Komisi Aparatur Sipil Negara dapat merekomendasikan kepada presiden untuk menjatuhkan sanksi terhadap pejabat pembina kepegawaian dan pejabat yang melanggar prinsip sesuai ketentuan perundang-undangan. Hal ini tertuang dalam dalam Pasal 33 ayat (1) UU No. 5 Tahun 2014 “Berdasarkan hasil pengawasan yang tidak ditindaklanjuti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3), KASN merekomendasikan kepada Presiden untuk menjatuhkan sanksi terhadap Pejabat Pembina Kepegawaian dan Pejabat yang Berwenang yang melanggar prinsip Sistem Merit dan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Bentuk-bentuk sanksi yang dimaksud di atas terletak pada Pasal 33 ayat (2) yaitu: a. Peringatan;

b. Teguran;

c. Perbaikan, pencabutan, pembatalan, penerbitan keputusan, dan/atau pengembalian pembayaran;

6Herdiansyah Putra, dkk, “Keberadaan Komisi Aparatur Sipil Negara Kaitannya Dengan Asas Efektif Dan Efisien Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara”, Jurnal Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Syiah

Kuala 3, No. 4, (2015), p: 9.

7Wicipto Setiaadi, “Sanksi Administratif Sebagai Salah Satu Instrumen Penegakan Hukum Dalam Peraturan Perundang-Undangan”, Jurnal Legislasi Indonesia 6, No. 4, (2009), p: 10.

8Wicipto Setiaadi, “Sanksi Administratif Sebagai Salah Satu Instrumen Penegakan Hukum Dalam Peraturan Perundang-Undangan”, Jurnal Legislasi Indonesia 6, No. 4, (2009), p: 11.

(7)

d. Hukuman disiplin untuk Pejabat yang Berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; dan

e. Sanksi untuk Pejabat Pembina Kepegawaian, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bentuk-bentuk sanksi seperti yang tertera di atas pada Undang-Undang No 5 Tahun 2014 dilakukan oleh:

Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh:

a. Presiden selaku pemegang kekuasan tertinggi pembinaan ASN, terhadap keputusan yang ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian; dan

b. Menteri terhadap keputusan yang ditetapkan oleh Pejabat yang Berwenang, dan terhadap Pejabat Pembina Kepegawaian di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Selanjutnya akan dibahas mengenai struktur kelembagaan dari KASN secara garis besar tertera pada Pasal 35 ayat (1):

KASN terdiri atas:

a. 1 (satu) orang ketua merangkap anggota;

b. 1 (satu) orang wakil ketua merangkap anggota, dan c. 5 (lima) orang anggota.

Pada Pasal 36 ayat (1) sampai dengan (6) diterangkan sejara terstruktur mengenai asisten KASN yang berperan membantu KASN dalam melaksanakan tugasnya, bunyi pasal tersebut sebagai berikut:

a. KASN dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dibantu oleh asisten dan Pejabat Fungsional keahlian yang dibutuhkan.

b. Asisten KASN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh ketua KASN berdasarkan persetujuan rapat anggota KASN.

c. Asisten KASN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari PNS maupun non-PNS yang memiliki kualifikasi akademik paling rendah strata dua (S2) di bidang administrasi negara, manajemen publik, manajemen sumber daya manusia, psikologi, kebijakan publik, ilmu hukum, ilmu pemerintahan, dan/atau strata dua (S2) di bidang lain yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia.

d. Asisten KASN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak sedang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik, tidak merangkap jabatan, serta diseleksi secara terbuka dan kompetitif dengan memperhatikan rekam jejak, kompetensi, netralitas, dan integritas moral. e. Asisten KASN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki dan melaksanakan nilai dasar,

kode etik dan kode perilaku serta diawasi oleh anggota KASN.

f. Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat, tata cara pengangkatan dan pemberhentian, kode etik dan kode perilaku, dan pengawasan terhadap tugas dan tanggung jawab asisten KASN diatur dengan Peraturan KASN.

Setelah asisten, KASN dibantu oleh sekretariat yang dipimpin oleh seorang kepala sekretariat.Kepala sekretariat berasal dari PNS. Kepala sekretariat diangkat dan diberhentikan oleh ketua KASN. KASN dibiayai oleh anggaran pendapatan dan belanja negara.

Secara lengkap keanggotaan KASN terdapat pada Pasal 38 Undang-Undang No 5 Tahun 2014, yaitu:

(1) Anggota KASN terdiri dari unsur pemerintah dan/atau nonpemerintah. (2) Anggota KASN harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Warga negara Indonesia;

b. Setia dan taat kepada Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

(8)

c. Berusia paling rendah 50 (lima puluh) tahun pada saat mendaftarkan diri sebagai calon anggota KASN;

d. Tidak sedang menjadi anggota partai politik dan/atau tidak sedang menduduki jabatan politik;

e. Mampu secara jasmani dan rohani untuk melaksanakan tugas;

f. Memiliki kemampuan, pengalaman, dan/atau pengetahuan di bidang manajemen sumber daya manusia;

g. Berpendidikan paling rendah strata dua (S2) di bidang administrasi negara, manajemen sumber daya manusia, kebijakan publik, ilmu hukum, ilmu pemerintahan, dan/atau strata dua (S2) di bidang lain yang memiliki pengalaman di bidang manajemen sumber daya manusia;

h. Tidak merangkap jabatan pemerintahan dan/atau badan hukum lainnya; dan

i. Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.

C. Penutup

Terkait dengan fungsi KASN terdapat pada Pasal 30 UU No.5 Tahun 2014 bahwa “KASN berfungsi mengawasi pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN, serta penerapan Sistem Merit dalam kebijakan dan Manajemen ASN pada Instansi Pemerintah”. KASN bertugas untuk menjaga netralitas Pegawai ASN, melakukan pengawasan atas pembinaan profesi ASN dan, melaporkan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan Manajemen ASN kepada Presiden. Komisi Aparatur Sipil Negara dapat merekomendasikan kepada presiden untuk menjatuhkan sanksi terhadap pejabat pembina kepegawaian dan pejabat yang melanggar prinsip sesuai ketentuan perundang-undangan. Hal ini tertuang dalam dalam Pasal 33 ayat (1) UU No. 5 Tahun 2014 “Berdasarkan hasil pengawasan yang tidak ditindaklanjuti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3), KASN merekomendasikan kepada Presiden untuk menjatuhkan sanksi terhadap Pejabat Pembina Kepegawaian dan Pejabat yang Berwenang yang melanggar prinsip Sistem Merit dan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Bentuk-bentuk sanksi yang dimaksud di atas terletak pada Pasal 33 ayat (2) yaitu Peringatan, Teguran, Perbaikan, pencabutan, pembatalan, penerbitan keputusan, dan/atau pengembalian pembayaran, Hukuman disiplin untuk Pejabat yang Berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan, Sanksi untuk Pejabat Pembina Kepegawaian, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Saran dari penulis bahwa fungsi dan tugas yang dimiliki oleh KASN sudah tertera pada peraturan perundang-undangan. Tetapi alangkah lebih baik jika fungsi dan tugas itu diperluas agar lebih efektif untuk mengurangi pelanggaran kode etik ASN. Bentuk sanksi yang diberikan untuk ASN yang melakukan pelanggaran etik adalah sanksi administratif. Seharusnya dikenakan saja sanksi perdata yaitu dengan cara ganti rugi atas pelanggaran yang ia lakukan.

Daftar Pustaka

Adrie. (2018). “Kedudukan Dan Kewenangan Komisi Aparatur Sipil Negara (Kasn) Pada Penyelenggaraan Pemerintahan Dalam Perspektif Hukum Kepegawaian”, Jurnal Yustitia, 12, No. 2.

Asmadi Erwin. (2018). “Peran Psikiater dalam Pembuktian Kekerasan Psikis Pada Korban Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga” De Lega Lata: Jurnal Ilmu Hukum 3, No. 1.

Ayuningtyas Nurmalita. (2016). “Penguatan Kedudukan dan Peran Komisi Aparatur Sipil Negara Dalam Mewujudkan Reformasi Birokrasi” Jurnal Panorama Hukum 1, No. 2.

(9)

Khatarina Riris. (2018). “Reformasi Manajemen Aparatur Sipil NegaraEvaluasi PeranPejabat Pembina Kepegawaian dan Komisi Aparatur Sipil Negara”.Dalam Jurnal Spirit Publik 13, No.2.

Putra Herdiansyah, dkk. (2015). “Keberadaan Komisi Aparatur Sipil Negara Kaitannya Dengan Asas Efektif Dan Efisien Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara”, Jurnal Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala 3, No. 4.

Rahmadhani Rahmat dan Ramlan. (2019). “Perjanjian Build Operate And Transfer (BOT) Lapangan Merdeka Medan dalam Pandangan Hukum Administrasi Negara dan Hukum Bisnis” De Lega Lata: Jurnal Ilmu Hukum 4, No. 2.

Setiaadi Wicipto. (2009). “Sanksi Administratif Sebagai Salah Satu Instrumen Penegakan Hukum Dalam Peraturan Perundang-Undangan”, Jurnal Legislasi Indonesia 6, No. 4.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :