1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut Word Health Organization (WHO) pada tahun 2015, menjelaskan bahwa masalah besar yang dihadapi mahasiswa dalam dunia perkuliahan adalah stres. Sebanyak 27,9 % dari total 43.964 mahasiswa mengakui bahwa stres menjadi penghalang bagi perfoma akademik mereka. Prevalensi stres pada mahasiswa tahun pertama sebanya 77,5 %. Hasil ini merupakan angka tertinggi dibandingkan dengan angkatan tahun sebelumnya. Data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan bahwa sebagian besar 68% perempuan di Indonesia yang berusia 10 – 59 tahun melaporkan menstruasi teratur dan 13,7% mengalami masalah siklus menstruasi yang tidak teratur dalam satu tahun terakhir. Persentase tertinggi haid tidak teratur adalah Gorontalo (23,3%) dan terendah di Sulawesi Tenggara 8,7%. Masalah haid tidak teratur sudah mulai banyak terjadi pada usia 45 - 49 tahun 17,4% dan 50-54 tahun 17,1% kemungkinan terkait dengan usia menopause. Masalah haid tidak teratur pada usia 17 - 29 tahun serta 30 - 34 tahun cukup banyak yaitu sebesar 16,4%. Adapun alasan yang dikemukakan perempuan 10 - 59 tahun yang mempunyai siklus menstruasi tidak teratur di karenakan stres dan banyak pikiran sebesar 5,1% (Tudoho, 2014).
Hasil prevalensi gangguan menstruasi di jawa tengah dengan presentase nyeri menstruasi 89,5%, ketidakteraturan menstruasi sebanyak sebesar 31,2%, dan durasi menstruasi yang panjang sebesar 5,3%. Hasil study di daerah klaten menyatakan bahwa dari 90% responden yang mengalami gangguan menstruasi, keluhan yang dirasakan mengganggu adalah hipermenorea sebanyak 45% dan oligomenorea sebanyak 35% dan desminorea 20% (Dinas Kesehatan JATENG, 2016).
Stres terjadi pada berbagai tingkat usia dan pekerjaan, termasuk mahasiswi. Sumber stres atau stresor adalah suatu kondisi atau situasi individu yang dapat menimbulkan stres. Stresor mahasiswa bersumber dari kehidupan akademiknya, terutama tuntutan eksternal dan tuntutan dari harapannya sendiri. Faktor pencetus stres yang dihadapi para mahasiswa dapat berhubungan dengan faktor personal seperti jauh dari orang tua dan sanak saudara, ekonomi/ finansial (pengelolaan keuangan, uang saku), problem interaksi dengan teman dan lingkungan baru, serta problem personal lainya. Faktor akademik juga menyumbang potensi stres misalnya tentang perubahan gaya belajar dari sekolah menengah ke perguruan tinggi, tugas-tugas perkuliahan, target pencapaian nilai, prestasi akademik, dan problem akademik dan gangguan siklus menstruasi.
Siklus menstruasi yang teratur adalah 21 - 35 hari antara dalam periode menstruasi. Siklus menstruasi 21- 35 hari secara fisiologis menggambarkan organ reproduksi sehat dan tidak bermasalah. Sistem hormon yang baik, ditunjukkan dengan sel telur diproduksi dan siklus
menstruasi teratur sehingga dengan siklus menstruasi akan normal dan seorang wanita ebih mudah mendapatkan keturunan, mengatur rutinitas, dan menghitung masa subur (Pudiastuti, 2012 dalam Nurlaila, dkk, 2015).
Gangguan menstruasi adalah masalah yang cukup sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer dan merupakan masalah yang sering ditemukan dengan prevalensi 75% pada remaja akhir. Gangguan menstruasi merupakan indikator penting untuk menunjukan adanya gangguan sistem reproduksi yang dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit seperti kanker rahim, kanker payudara dan infertilitas (Sianipar et al, 2009). Penyebab gangguan menstruasi pada wanita adalah faktor stres, yang merupakan fenomena universal yang setiap orang bisa mengalami yang berdampak pada fisik, sosial, emosi, intelektual, dan spiritual. Pada mahasiswa dalam menghadapi atau menjalani perkuliahan yang terlalu padat, praktek klinik yang menguras tenaga dan pikiran, tugas yang banyak dan proses pembuatan KTI / skripsi merupakan faktor pemicu stres sehingga menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur (Kusyani, 2012).
Gangguan siklus menstruasi yang dialami wanita, adalah siklus memanjang lebih dari 35 hari (oligomenore), siklus menstruasi yang pendek kurang dari 21 hari (polimenore) bahkan tidak menstruasi selama 3 bulan (amenore) berturut-turut. Siklus menstruasi yang tidak teratur menunjukkan gangguan pada sistem metabolisme dan hormonal. Dampaknya mejadi lebih sulit hamil (infertilitas). Siklus menstruasi yang memendek dapat menyebabkan wanita mengalami unovulasi karena sel telur tidak terlalu
matang sehingga sulit unuk dibuahi. Perbedaan siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya stres yang menjadi penyebab terjadinya gangguan menstruasi. Selain itu fungsi hormon terganggu, kelainan sistemik, kelenjar gondok, hormon prolaktin dan hormon berlebih juga merupakan penyebab terjadinya gangguan siklus menstruasi (Nurlaila, dkk, 2015).
Setiap semester mahasiswa yang mengalami stres akademik terus mengalami peningkatan. Stres yang paling umum dialami mahasiswa merupakan stres akademik. Stres akademik diartikan suatu keadaan individu mengalami tekanan hasil persepsi dan penilaian tentang stessor akademik, yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan di perguruan tinggi (Govarest and Gregoire, 2004 dalam Masturi, 2017).
Berdasarkan hasil observasi dan interaksi yang dilakukan terhadap 10 mahasiswi STIKES Duta Gama Klaten, Peneliti menemukan sebanyak 5 orang mahasiswi mengalami stres tingkat ringan, 4 mahasiswi mengalami stres tingkat sedang dan 1 mahasiswi tidak mengalami stres. Berdasarkan hasil obeservasi dengan pengisian kuesioner tingkat stres dan interaksi dengan mahasiswi ditemukan 8 orang dari 10 mahasiswi diantaranya mengalami gangguan siklus menstruasi. 2 mahasiswi mengalami gangguan siklus menstruasi kurang dari 21 hari (polimenorea), 3 mahasiswi mengalami gangguan siklus menstruasi lebih dari 35 hari (oligomenorea), 2 mahasiswi mengalami gangguan menstruasi yang perdarahan saat menstruasinya lebih dari 8 hari (hipermenorea) dan 1 mahasiswi mengalami gangguan menstruasi yang perdarahan saat menstruasinya sedikit (hipomenorea). Berdasarkan studi
pendahuluan tersebut dapat dilihat 9 mahasiswi yang mengalami stres. Diantaranya yang membuat stres mahasiswi adalah stressor sosial, stressor fisik dan stressor psikologis. Oleh karena itu, Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Hubungan Tingkat Stres dengan Gangguan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi STIKES Duta Gama Klaten”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Ada hubungan tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi STIKES Duta Gama Klaten”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya hubungan tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi STIKES Duta Gama Klaten.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat stres pada mahasiswi STIKES Duta Gama Klaten.
b. Untuk mengetahui gangguan siklus menstruasi pada mahasiswi STIKES Duta Gama Klaten.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan tambahan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa, dan sebagai pengembangan teori dalam hubungan tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi.
2. Bagi Responden
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan responden tentang hubungan tingkat stres dengan gangguan siklus menstruasi. 3. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan bagi peneliti, mengenai tingkat stres dan gangguan siklus menstruasi serta menambah wawasan pengetahuan dalam membuat karya tulis yang dapat dijadikan dasar penelitian selanjutnya.
4. Bagi Profesi Keperawatan
Hasil penelitian dapat digunakan bagi tenaga kesehatan profesi keperawatan dalam memberikan informasi dan penyuluhan terhadap tingkat stres dan gangguan siklus menstrusasi pada mahasiswi.
5. Bagi IPTEK
Penelitian ini dapat menjadi bahan kajian bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai tingkat stres dan gangguan siklus menstruasi.
E. Keaslian Penelitian
1. Prathita Y, dkk. 2017 dengan judul penelitian “Hubungan Status Gizi dengan Siklus Menstruasi pada mahasiswi fakultas kedokteran universitas Andalas”. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional study dan pengambilan sampel dengan metode simple random sampling. Variabel independent tentang status gizi dan variabel dependent tentang siklus menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang berarti antara siklus menstruasi dengan IMT dan persentase lemak tubuh, ρ=0,77 untuk hubungan siklus menstruasi dengan IMT, dan ρ=0,31 untuk hubungan siklus menstruasi dengan persentase lemak tubuh. Simpulan studi ini adalah tidak terdapat hubungan berarti antara persentase lemak tubuh dan IMT dengan keteraturan siklus menstruasi. Persamaan dari penelitian ini adalah variabel dependent tentang siklus menstruasi, pengambilan data dengan kuesioner, dan desain penelitian menggunakn metode cross sectional study. Perbedaaan dari penelitian ini adalah variabel independent tentang status gizi dan pengambilan sampel dengan metode simple random sampling.
2. Indria Astuti dan Siska Asti, 2015 dengan judul penelitian “Hubungan Lama Pengguanan Kontrasepsi Implan dengan Siklus Menstruasi”. Metode penelitian menggunakan analitik dengan pendekatan cross sectional dan sampel penelitian menggunakan teknik total sampling. Variabel independent tentang lama penggunaan kontrasepsi implan dan
variabel dependent tentang siklus menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan lama penggunaan kontrasepsi implan dengan siklus menstruasi pada akseptor KB implan. Persamaan dari penelitian ini adalah variabel dependent tentang siklus menstruasi dan pendekatan cross sectional. Perbedaan dari penelitian ini adalah variabel independent tentang lama penggunaan kontrasepsi implan dan populasi penelitian ini teknik total sampling.
3. Liana Asnita, Arneliwati dan Jumaini, 2015 dengan judul penelitian “Hubungan Tingat Stres dengan Harga Diri Remaja Di Lembaga Kemasyarkatan” Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan sample menggunakn teknik total sampling. Variabel independent tentang tingkat stres dan variabel dependent tentang harga diri remaja. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara tingkat stres dengan harga diri remaja di LP. Persamaan dari penelitian ini adalah variabel independent tentang tingkat stres, desain penelitian deskriptif korelasi, dan pendekatan cross sectional. Perbedaan dari penelitian ini adalah variabel dependent tentang harga diri remaja dan metode pengambilan sampel dengan total sampling.
4. Ismail F, dkk. 2015 dengan judul penelitian “Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Dismenore pada mahasiwi semester VIII program study Ilmu keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi Manado”. Desain penelitian yang digunakan dalam penlitian ini adalah
diskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, sampel diambil dengan teknik total sampling. Hasil penelitian tidak ada hubungan yang signifikan anatara tingkat stres dengan kejadian dismenorea pada mahisiwi semester VIII Program study Ilmu Keperawatan Fakultas kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Persamaan dari penelitian ini adalah variabel independent tentantang tingkat stres dan pendekatan cross sectional. Perbedaan dari penelitian ini adalah variabel dependent tentang dismenorea dan pengambilan sampel dengan total sampling.
5. Rozalia, dkk. 2017 dengan judul penelitian “Hubungan Tingkat Stres dengan Indeks Massa Tubuh Mahasiswa PSPD FK UNTAN”. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Variabel independent tentang tingkat stres dan variabel dependent tentang indeks massa tubuh. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat stres dengan indeks massa tubuh mahasiswa PSPD. Persamaan dari penelitian ini adalah variabel independent tentang tingkat stres dan pendekatan cross sectional. Perbedaan dari penelitian ini adalah variabel dependent tentang indeks massa tubuh dan sampel.