BAB I PENDAHULUAN. Untuk itu manusia juga dikatakan sebagai mahkluk sosial, karena pada diri manusia

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Manusia sebagai makhluk individu ternyata tidak mampu hidup sendiri, dalam menjalankan kehidupannya senantiasa akan bergantung pada orang lain. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini disebabkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat memenuhinya sendiri. Untuk itu manusia juga dikatakan sebagai mahkluk sosial, karena pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain.1

Kelompok terkecil dalam interaksi manusia dengan manusia lainnya tercermin dalam sebuah keluarga, sedangkan kelompok yang lebih besar dalam interaksi manusia dengan manusia lainnya tercermin dalam sebuah negara. Istilah kelompok dapat diartikan sebagai “masyarakat setempat”, istilah mana menunjuk pada warga sebuah desa, kota, suku atau bangsa. Apabila anggota-anggota kelompok, baik kelompok itu besar maupun kecil, hidup bersama sedemikian rupa, sehingga merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan-kepentingan hidup utama, maka kelompok tadi disebut sebagai masyarakat setempat.2

1

Elly.M.Setiadi, dkk, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hal 63-64.

2

Soerjono Soekanto, Fungsi Hukum Dan Perubahan Sosial, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991), hal 162.

(2)

Keluarga sebagai kelompok terkecil dalam interaksi antar manusia terbentuk melalui perkawinan, ikatan antara kedua orang yang berlainan jenis dengan tujuan membentuk mahligai rumah tangga. Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.3

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan bahwa “syarat untuk sahnya suatu perkawinan harus berdasarkan hukum agama dan harus dilakukan pendaftaran perkawinan di lembaga pencatatan perkawinan setempat”. Sahnya suatu perkawinan selanjutnya akan menimbulkan akibat hukum keperdataan serta hak dan kewajiban secara hukum bagi setiap individu dalam perkawinan, seperti: kewajiban untuk saling cinta-mencintai dan hormat-menghormati, kewajiban untuk setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain, kewajiban suami yang merupakan hak isteri untuk melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya, kewajiban isteri yang merupakan hak suami untuk mengatur urusan rumah-tangga sebaik-baiknya4 serta hak dan terkait harta bersama dalam perkawinan.5

Tujuan dari pengaturan hak dan kewajiban suami istri adalah agar suami istri dapat menegakkan rumah tangga yang merupakan sendi dasar dari susunan

3

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

4

Pasal 32 dan 33 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

5

(3)

masyarakat. Sehingga undang-undang memberikan hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.6

Hak dan kewajiban suami istri terkait harta benda dalam perkawinan telah diatur dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pengaturan terkait harta benda dalam perkawinan ini dirasa perlu guna mencegah adanya perselisihan antara suami dan istri terkait harta benda dalam perkawinan yang selanjutnya juga akan turut merugikan hak seorang anak dalam perkawinan. Pengaturan terkait harta benda dalam perkawinan ini juga dirasa perlu guna mencegah terjadinya perselisihan terkait harta benda dalam perkawinan jika dikemudian hari salah satu individu dalam perkawinan meninggal dunia terlebih dahulu, yang menyebabkan terbukanya harta warisan.

Hukum kewarisan sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia, karena setiap manusia pasti akan meninggal dunia.7

6

Pasal 31 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

Apabila ada peristiwa hukum, yaitu meninggalnya seseorang akan muncullah akibat hukum, yaitu tentang bagaimana caranya kelanjutan pengurusan hak-hak kewajiban seseorang yang telah meninggal dunia itu. Penyelesaian dan pengurusan hak-hak dan kewajiban seseorang sebagai akibat adanya peristiwa hukum karena meninggalnya seseorang diatur dalam hukum kewarisan.

7

M. Idris Ramulyo, Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 1994), hal 2.

(4)

Hukum waris merupakan bagian dari hukum harta benda8

Terdapat aneka hukum waris yang berlaku bagi warga negara Indonesia, dalam pengertian bahwa di bidang hukum waris dikenal adanya tiga macam hukum waris, yaitu:

, karena wafatnya seseorang maka akan ada pemindahan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya. Pemindahan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati pada dasarnya diberikan kepada keluarga tapi juga tidak menutup kemungkinan adanya pemindahan harta kekayaan tersebut kepada pihak ketiga. Karena itu hukum waris merupakan kelanjutan hukum benda, tetapi juga mempunyai segi hukum keluarga.

9

1. Hukum Waris Barat, tertuang di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2. Hukum Waris Islam, merupakan ketentuan Al-quran dan Hadist.

3. Hukum Waris Adat, beraneka ragam tergantung di lingkungan mana masalah warisan itu terbuka.

Pembagian warisan menurut hukum waris perdata dapat dilaksanakan ketika terbukanya warisan, ditandai dengan meninggalnya pewaris. Pewarisan hanya berlangsung karena kematian.10

8

H.Zainuddin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal 82.

Peristiwa kematian menurut hukum mengakibatkan terbukanya warisan dan sebagai konsekuensinya seluruh kekayaan (baik berupa

9

Tamakiran, Asas-asas Hukum Waris Menurut Tiga Sistem Hukum, (Bandung: Pionir Jaya, 1992), hal 7.

10

(5)

aktiva maupun pasiva) yang tadinya dimiliki oleh seorang peninggal harta beralih

dengan sendirinya kepada segenap ahli warisnya secara bersama-sama.11

Pembagian harta warisan atau harta peninggalan diawali dengan penentuan siapa saja yang berhak untuk mendapatkan bagian-bagian tersebut, menentukan besar bagian yang didapat oleh yang berhak tersebut serta langkah selanjutnya penyelesaian pembagian harta warisan yang dilaksanakan dengan kesepakatan para pihak yang berhak dalam pembagian harta warisan tersebut. Pihak yang berhak dalam pembagian harta warisan atau harta peninggalan adalah ahli waris, ahli waris merupakan orang-orang yang berhak menerima harta warisan (harta pusaka). Ahli waris dalam waris perdata ada dua pembagian, yaitu ahli waris karena undang-undang (ab intestato) dan ahli waris karena wasiat (testamentair).12

1. Ahli waris karena undang-undang ( ab intestato)

Ahli waris karena undang-undang atau ab intestato merupakan keluarga yang sedarah, baik sistem kekeluargaan ke atas maupun ke bawah. Prinsip yang dipegang oleh undang ialah bahwa dalam pewarisan menurut undang-undang, keluarga sedarah yang terdekat selalu mengenyampingkan atau menindih keluarga yang lebih jauh sehingga keluarga yang lebih jauh itu tidak

11

Syahril Sofyan, Beberapa Dasar Teknik Pembuatan Akta (Khusus Warisan), (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2011), hal 5.

12

R. Soetojo Prawirohamidjojo, Hukum Waris Kodifikasi, (Surabaya: Airlangga University Press, 2000), hal 4.

(6)

ikut mewaris.13

2. Ahli waris menurut wasiat ( testamentair erfrecht )

Pada pewarisan karena undang-undang adanya beberapa golongan yang ditentukan, sehingga golongan yang terdekat dari pewaris memiliki prioritas utama untuk menjadi ahli waris dari pewaris. Golongan tersebut yaitu, golongan pertama, golongan kedua, golongan ketiga dan golongan keempat. Setiap golongan adanya kategori tertentu dan pembagian yang berbeda pula.

Ahli waris ini didasarkan atas wasiat yaitu dalam Pasal 874 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, setiap orang yang diberi wasiat secara sah oleh pewaris wasiat, terdiri atas, testamentair erfgenaam yaitu ahli waris yang mendapat wasiat yang berisi suatu erfstelling (penunjukkan satu atau beberapa ahli waris untuk mendapat seluruh atau sebagian harta peninggalan); legataris yaitu ahli waris karena mendapat wasiat yang isinya menunjuk seseorang untuk mendapat berapa hak atas satu atau beberapa macam harta waris, hak atas seluruh dari satu macam benda tertentu, hak untuk memungut hasil dari seluruh atau sebagian dari harta waris.

Dalam hukum perdata, wasiat merupakan sesuatu yang penting, karena perselisihan diantara para ahli waris terkait harta warisan dapat dihindarkan dengan adanya pesan terakhir. Dengan wasiat, pewaris dapat menentukan siapa saja yang

13

M.U. Sembiring, Beberapa Bab Penting Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Medan: Program Pendidikan Notariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 1989), hal 2.

(7)

akan menjadi ahli waris. Dengan wasiat dapat juga warisan itu diperuntukan kepada seseorang tertentu, baik berupa beberapa benda tertentu atau sejumlah benda yang dapat di ganti. Wasiat atau testament yang berisi sebagian atau seluruh harta kekayaan, hanyalah janji dari pembuat testament kepada penerima testament. Janji itu baru bisa dilaksanakan setelah pembuat testament itu meninggal dunia.14

Adapun yang merupakan syarat-syarat wasiat terdiri: Pembuat testament harus mempunyai budi akal, artinya orang yang sakit ingatan dan orang yang sakitnya begitu berat, sehingga ia tidak dapat berpikir secara teratur15 dan orang yang belum dewasa dan yang belum berusia 18 tahun tidak dapat membuat testament.16

Suatu wasiat hanya boleh dinyatakan, baik dengan akta tertulis sendiri (olographis testament), baik dengan akta umum (openbaar testament), ataupun akta rahasia atau tertutup (geheim testament).17 Jadi wasiat menurut bentuknya ada tiga yaitu: wasiat yang ditulis sendiri (olographis testament), wasiat umum (openbaar

testament) dan wasiat rahasia atau wasiat tertutup (geheim testament). Mengenai

wasiat yang ditulis sendiri (olographis testament) undang-undang menjelaskan yakni suatu wasiat tertulis sendiri harus seluruhnya ditulis dan ditanda tangani oleh si yang mewariskan sendiri. Surat wasiat yang demikian oleh si yang mewariskan harus disampaikan kepada seorang notaris.18

14

Anisitus Amanat, Membagi Warisan Berdasarkan Pasal-Pasal Hukum Perdata BW, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), hal 81-82.

15

Pasal 895 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

16

Pasal 897 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

17

Pasal 931 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

18

(8)

Menurut Pasal 938-939 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata wasiat dengan akta umum harus dibuat di hadapan notaris dan dua orang saksi dan notaris harus menulis atau menyuruh menulis kehendak pewaris dalam kata-kata yang jelas menurut apa adanya yang disampaikan oleh pewaris kepadanya.

Bila pewaris hendak membuat surat wasiat tertutup atau rahasia, dia harus menandatangani penetapan-penetapannya, baik jika dia sendiri yang menulisnya ataupun jika ia menyuruh orang lain menulisnya; kertas yang memuat penetapan-penetapannya, atau kertas yang dipakai untuk sampul, bila digunakan sampul, harus tertutup dan disegel.19

Pewaris juga harus menyampaikannya dalam keadaan tertutup dan disegel kepada notaris, dihadapan empat orang saksi, atau dia harus menerangkan bahwa dalam kertas tersebut tercantum wasiatnya, dan bahwa wasiat itu ditulis dan ditandatangani sendiri, atau ditulis oleh orang lain dan ditandatangani olehnya. Notaris harus membuat akta penjelasan mengenai hal itu, yang ditulis di atas kertas atau sampulnya, akta ini harus ditandatangani baik oleh pewaris maupun oleh notaris serta para saksi, dan bila pewaris tidak dapat menandatangani akta penjelasan itu karena halangan yang timbul setelah penandatanganan wasiatnya, maka harus disebutkan sebab halangan itu.20

Notaris bertugas dan berkewajiban untuk membuat daftar akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan waktu pembuatan akta setiap bulan; mengirimkan

19

Pasal 940 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

20

(9)

daftar akta atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke Pusat Daftar Wasiat pada kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya.21

Jika notaris lalai melaksanakan tanggung jawabnya terkait wasiat, maka dapat merugikan para penerima wasiat dan akibatnya notaris tersebut dapat dituntut di muka pengadilan oleh para penerima wasiat. Notaris tersebut dapat dikenai sanksi berupa: peringatan tertulis; pemberhentian sementara; pemberhentian dengan hormat; atau pemberhentian dengan tidak hormat.22

Pada umumnya dalam proses pembuatan wasiat, pemberi wasiat sering kali tidak memberitahu kepada ahli warisnya ataupun kepada penerima wasiat akan adanya wasiat yang dibuat oleh pemberi wasiat. Tidak adanya kewajiban bagi pemberi wasiat untuk memberitahukan adanya wasiat yang akan dia buat menjadikan pemberi wasiat dapat langsung menghadap ke notaris untuk membuat atau sekedar menyimpan dan mendaftarkan akta wasiatnya. Akibatnya setelah terbukanya warisan, seringkali ahli waris dan penerima wasiat tidak mengetahui adanya wasiat itu. Kemungkinan ini menimbulkan permasalahan tersendiri dalam hukum kewarisan terutama apabila, sudah dilaksanakannya pembagian warisan secara ab intestato sedangkan dikemudian hari terdapat wasiat yang dibuat oleh pewaris atau pemberi wasiat kepada seseorang penerima wasiat.

21

Pasal 16 huruf (i) Dan (j) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.

22

Pasal 16 ayat (11) Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.

(10)

Kondisi dimana ahli waris dan penerima wasiat tidak mengetahui adanya wasiat pada saat terbukanya wasiat ini tentunya amat sangat merugikan penerima wasiat dan menimbulkan ketidaknyamanan ahli waris karena hilangnya kepastian hukum dari pembagian warisan sebelumnya. Kondisi ini juga menimbulkan ketidakpastian akan siapa yang bertanggung jawab atas masalah tidak diketahuinya adanya wasiat, apakah ahli waris yang berkewajiban memeriksa adanya wasiat ke Daftar Pusat Wasiat ataukah menjadi kewajiban setiap pelaksana hukum pembuat surat keterangan ahli waris memeriksa adanya wasiat ke Daftar Pusat Wasiat, karena tidak ada keharusan yang tegas secara normatif terkait siapa yang diwajibkan memeriksa adanya sebuah wasiat.

Berdasarkan Surat Keputusan Departemen Dalam Negeri Direktorat Pendaftaran Tanah Nomor DPT/12/63/12/69 juncto pasal 111 ayat 1 C point 4 PMNA No 3 tahun 1997, dibedakan tentang siapa saja yang berwenang untuk membuat keterangan waris. Pembagian kewenangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Untuk penduduk golongan Eropa dan WNI keturunan Tionghoa, keterangan warisnya dibuat di hadapan notaris.

2. Untuk penduduk pribumi, keterangan waris cukup dibuat di bawah tangan, yang disaksikan dan dibenarkan (disahkan) oleh lurah dan dikuatkan oleh camat setempat.

3. Untuk WNI keturunan Timur Asing (India dan Arab), yang berwenang membuat keterangan warisnya adalah Balai Harta Peninggalan (BHP). Sehingga yang seharusnya bertanggung jawab memeriksa adanya wasiat adalah pelaksana hukum pembuat surat keterangan ahli waris, karena kunci dari penentuan

(11)

siapa saja yang berhak mewarisi harta peninggalan pewaris berada di keterangan waris.

Untuk membuktikan bahwa seseorang merupakan ahli waris dari pewaris, maka berdasarkan Pasal 111 ayat 1 C point 4 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, disebutkan bahwa surat tanda bukti hak yang bentuknya terdiri dari:

1. Wasiat dari pewaris, atau 2. Putusan Pengadilan, atau

3. Penetapan notaris/Ketua Pengadilan, atau 4. Surat keterangan waris

Surat keterangan ahli waris merupakan salah satu dokumen yang menjadi referensi atau alat bukti dalam melakukan pembagian harta peninggalan untuk ahli waris. Dari keterangan ini akan dapat diketahui siapa saja yang berhak atas warisan atau harta peninggalan pewaris.23

Surat keterangan ahli waris di Indonesia sampai saat ini pengaturannya masih pluralistik karena keterangan ahli waris didasarkan pada peraturan yang berbeda berdasarkan golongan penduduk di Indonesia yang bermacam-macam. Akibatnya sampai kini keterangan ahli waris masih belum seragam sehingga tidak mencerminkan unsur kepastian hukum yang diamanatkan konsep negara hukum.

23

(12)

Pembuatan surat keterangan waris pun tidak memenuhi syarat formal maupun syarat material sebagai akta untuk pembuktian hukum. Sehingga bila dilihat dengan cermat, bisa jadi keterangan ahli waris yang dimiliki seseorang ternyata dibuat oleh pejabat yang tidak berwenang atau pejabat yang tidak mengetahui formalitas pembuatan surat keterangan ahli waris seperti untuk terlebih dahulu memeriksa adanya wasiat ke Daftar Pusat Wasiat (DPW). Dengan demikian produk keterangan ahli waris seperti ini berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum.

Berdasarkan uraian di atas maka penelitian tesis ini mengambil judul “Analisis Yuridis Terhadap Kedudukan Akta Wasiat Yang Tidak Diketahui Oleh Ahli Waris Dan Penerima Wasiat”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana kedudukan akta wasiat yang tidak diketahui keberadaan akta wasiat oleh ahli waris dan penerima wasiat bagi golongan penduduk pribumi?

2. Bagaimana akibat hukum pembagian warisan apabila pada akhirnya diketahui adanya akta wasiat?

3. Bagaimana upaya hukum ahli waris untuk mendapatkan perlindungan hukum apabila warisan telah dibagi baru kemudian diketahui adanya wasiat?

(13)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang disebut diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui kedudukan akta wasiat yang tidak diketahui adanya oleh ahli waris dan penerima wasiat bagi golongan penduduk pribumi.

2. Untuk mengetahui akibat hukum pembagian warisan tanpa diketahui adanya akta wasiat.

3. Untuk mengetahui perlindungan hukum kepada ahli waris terkait dengan pembagian warisan yang tidak didasarkan kepada akta wasiat.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis dibidang hukum perdata, dan hukum waris terkhususnya tentang akta wasiat.

1. Secara Teoritis

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa:

a. Menambah khasanah ilmu Hukum Perdata khususnya hukum waris berdasarkan wasiat (testament) dan Hukum Kenotariatan.

(14)

b. Memberi bahan masukan dan/atau dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk melahirkan berbagai konsep keilmuan yang dapat memberikan andil bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum perdata khususnya waris. 2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa:

a. Manfaat yang sebesar-besarnya bagi para praktisi hukum khususnya bagi para Notaris/Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sehubungan dengan Pewarisan dan wasiat.

b. Mengungkap masalah-masalah yang timbul dan/atau muncul dalam lapangan hukum dan masyarakat serta memberikan solusinya sehubungan dengan wasiat. c. Memperbaharui peraturan-peraturan yang menyangkut dengan pelaksanaan

pembagian warisan terhadap adanya wasiat bagi pemerintah dan pihak legislatif.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya di lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Sumatera Utara menunjukkan bahwa penelitian dengan judul ini belum pernah dilakukan. Akan tetapi ditemukan beberapa judul tesis yang berhubungan dengan topik dalam tesis ini diantara lain:

(15)

1. Maya Primasari, Nim. 017011039, dengan judul Pengalihan Hak Atas Tanah Melalui Hibah Wasiat dan Proses Balik Namanya (Suatu Kajian Hukum di Kota Medan).

Rumusan Masalah:

a. Apakah Hibah Wasiat (legaat) merupakan suatu cara untuk memperoleh Hak Milik?

b. Apakah kendala-kendala atau hambatan-hambatan yang terdapat dalam proses balik nama sertipikat hak atas tanah yang peralihannya dilakukan berdasarkan hibah wasiat?

c. Bagaimanakah proses balik nama sertipikat hak atas tanah yang peralihannya dilakukan melalui hibah wasiat?

2. Sahriani, Nim. 077011084, dengan judul Pembagian Harta Warisan Orang Yang Berbeda Agama Dalam Persfektif Hukum Islam (Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung RI No. 51 K/Ag/1999).

Rumusan Masalah:

a. Hak-hak apakah yang didapat oleh ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris ?

b. Dapatkah diberlakukan wasiat wajibah bagi orang yang berbeda agama? c. Berapakah bagian harta pewaris yang dapat diterima melalui wasiat wajibah

(16)

3. Muhammad Hekki Mikhail, Nim. 107011107, dengan judul Analisis Hukum Tentang Penetapan Hak Wasiat Wajibah Terhadap Ahli Waris Non Muslim (Studi Putusan No. 0141PDT.P/2012/PA.Sby).

Rumusan Masalah:

a. Kenapa ahli waris non muslim tidak mendapat warisan dari keluarga yang muslim?

b. Apa yang menjadi dasar pemberian wasiat wajibah kepada keluarga non muslim?

c. Bagaimanakah pandangan Pengadilan Agama terhadap Putusan PA No.0140/Pdt.P/2012/PA.Sby?

Dari judul penelitian tersebut tidak ada kesamaan dengan penelitian yang dilakukan. Dengan demikian judul ini belum ada yang membahasnya sehingga penelitian ini dijamin keasliannya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Setiap penelitian memerlukan adanya landasan teoritis, sebagaimana dikemukakan oleh M. Solly Lubis bahwa “landasan teoritis merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, asas maupun konsep yang relevan digunakan untuk mengupas suatu kasus ataupun permasalahan.”24

24

M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994) hal 80.

(17)

suatu permasalahan hukum, maka relevan apabila pembahasan dikaji menggunakan teori-teori hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum. Teori hukum dapat digunakan untuk menganalisis dan menerangkan pengertian hukum dan konsep yuridis, yang relevan untuk menjawab permasalahan yang muncul dalam penelitian hukum.25

Pada ilmu hukum kelangsungan perkembangan suatu ilmu senantiasa tergantung pada metodologi, aktivitas penelitian, imajinasi sosial dan teori.26 Teori adalah menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi. Suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.27

Untuk tercapainya suatu ketertiban dan kedamaian maka hukum berfungsi untuk memberikan jaminan bagi seseorang agar kepentingannya diperhatikan oleh orang lain. Jika kepentingan itu terganggu, maka hukum harus melindunginya dan setiap ada pelanggaran hukum, maka hukum itu harus dilaksanakan dan ditegakkan.28

25

Salim H. S, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Jakarta: RajawaliPers, 2010), hal 54.

26

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 1986), hal. 6.

27

JJ. Wuisman, Penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid I, (Jakarta: UI Press, 1996), hal 203.

28

Syafruddin Kalo, Modul Kuliah Penemuan Hukum, (Medan: Program Studi Magister Kenotariatan USU, 2005), hal 38.

(18)

Penegakkan hukum pada prinsipnya harus dapat memberi manfaat atau berdaya guna bagi masyarakat, namun disamping itu masyarakat juga mengharapkan adanya penegakan hukum untuk tercapainya suatu keadilan.29

Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk menstrukturisasikan penemuan-penemuan selama penelitian, membuat beberapa pemikiran, prediksi atas dasar penemuan dan menyajikannya dalam bentuk penjelasan-penjelasan dan pertanyaan-pertanyaan. Penelitian ini berusaha untuk memahami kepastian hukum dari kedudukan akta wasiat yang tidak diketahui oleh ahli waris dan penerima wasiat. Hal ini berarti teori yang digunakan untuk menjelaskan fakta dan peristiwa hukum yang terjadi sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum.

Pembahasan mengenai kekuatan hukum pembagian warisan pada hakekatnya tidak dapat terlepas dari hubungan dengan masalah kepastian hukum, dimana adanya kepastian hukum dalam pembagian warisan. Teori kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian yaitu:30

a. Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan,

b. Berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah di putuskan”.

29

Ibid.

30

Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2008), hal 158.

(19)

“Kepastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab secara normatif, bukan sosiologis. Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi tafsir) dan logis dalam artian ia menjadi suatu sistem norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Konflik norma yang ditimbulkan dari ketidakpastian aturan dapat berbentuk kontestasi norma, reduksi norma atau distorsi norma. Pemikiran pada umumnya beranggapan bahwa kepastian hukum merupakan keadaan dimana perilaku manusia, baik individu, kelompok, maupun organisasi, terikat dan berada dalam koridor yang sudah digariskan oleh aturan hukum. Secara etis, pandangan seperti ini lahir dari kekhawatiran yang dahulu kala pernah dilontarkan oleh Thomas Hobbes bahwa “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya (homo hominilupus)”. Perkembangan pemikiran manusia modern yang disangga oleh rasionalisme yang dikumandangkan Rene Descartes (cogito ergo sum), fundamentalisme mekanika yang dikabarkan oleh Isaac Newton serta empirisme kuantitatif yang digemakan oleh Francis Bacon menjadikan sekomponen manusia di Eropa menjadi orbit dari peradaban baru. Pengaruh pemikiran mereka terhadap hukum pada abad XIX nampak dalam pendekatan law and order (hukum dan ketertiban).31

31

Yance Arizona, Apa itu Kepastian Hukum?, http.//yancearizona.net/2008/04/13/apa-itu kepastian-hukum/, diakses tanggal 16 Januari 2015.

(20)

Salah satu pandangan dalam hukum ini mengibaratkan bahwa antara hukum yang normatif (peraturan) dapat diikuti ketertiban yang bermakna sosiologis. Sejak saat itu, manusia menjadi komponen dari hukum berbentuk mesin yang rasional dan terukur secara kuantitatif dari hukum-hukum yang terjadi karena pelanggarannya. Pandangan mekanika dalam hukum tidak hanya menghilangkan kemanusiaan di hadapan hukum dengan menggantikan manusia sebagai sekrup, mor atau gerigi, tetapi juga menjauhkan antara apa yang ada dalam idealitas aturan hukum dengan realitas yang ada dalam masyarakat. Idealitas aturan hukum tidak selalu menjadi fiksi yang berguna dan benar, demikian pula dengan realitas perilaku sosial masyarakat tidak selalu mengganggu tanpa ada aturan hukum sebelumnya. Ternyata law and

order menyisakan kesenjangan antara tertib hukum dengan ketertiban sosial. Law and order kemudian hanya cukup untuk the order of law, bukan the order by the law (law

dalam pengertian peraturan/legal). Jadi kepastian hukum adalah kepastian aturan hukum, bukan kepastian tindakan terhadap atau tindakan yang sesuai dengan aturan hukum. Karena frasa kepastian hukum tidak mampu menggambarkan kepastian perilaku terhadap hukum secara benar-benar”.32

Kepastian hukum bagi subjek hukum dapat diwujudkan dalam bentuk yang telah ditetapkan terhadap suatu perbuatan dan peristiwa hukum. Hukum yang berlaku pada prinsipnya harus ditaati dan tidak boleh menyimpang atau disimpangkan oleh subjek hukum. Ada tertulis istilah fiat justitia et pereat mundus yang diterjemahkan

32

Yance Arizona, Apa itu Kepastian Hukum?, http.//yancearizona.net/2008/04/13/apa-itu kepastian-hukum/, diakses tanggal 16 Januari 2015.

(21)

secara bebas menjadi “meskipun dunia runtuh hukum harus ditegakkan” yang menjadi dasar dari asas kepastian dianut oleh aliran positivisme. Hukum diciptakan untuk memberikan kepastian perlindungan kepada subjek hukum yang lebih lemah kedudukan hukumnya.33

Kepastian hukum bermuara pada ketertiban secara sosial. Dalam kehidupan sosial, kepastian adalah mensamaratakan kedudukan subjek hukum dalam suatu perbuatan dan peristiwa hukum. Dalam paham positivisme, kepastian diberikan oleh negara sebagai pencipta hukum dalam bentuk undang-undang. Pelaksanaan kepastian dikonkritkan dalam bentuk lembaga yudikatif yang berwenang mengadili atau menjadi wasit yang memberikan kepastian bagi setiap subjek hukum. Dalam hubungan secara perdata, setiap subjek hukum dalam melakukan hubungan hukum melalui perjanjian juga memerlukan kepastian hukum. Pembentuk undang-undang memberikan kepastiannya melalui Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perjanjian yang berlaku sah adalah undang-undang bagi para subjek hukum yang melakukannya dengan itikad baik. Subjek hukum diberikan keleluasaan dalam memberikan kepastian bagi masing-masing subjek hukum yang terlibat dalam suatu kontrak. Kedudukan yang sama rata dipresentasikan dalam bentuk itikad baik. Antar subjek hukum yang saling menghargai kedudukan masing-masing subjek hukum adalah perwujudan dari itikad baik.

33

Yance Arizona, Apa itu Kepastian Hukum?, http.//yancearizona.net/2008/04/13/apa-itu kepastian-hukum/, diakses tanggal 16 Januari 2015.

(22)

Menurut Soerjono Soekanto bagi kepastian hukum yang penting adalah peraturan dan dilaksanakan peraturan itu sebagaimana yang ditentukan. Apakah peraturan itu harus adil dan mempunyai kegunaan bagi masyarakat adalah di luar pengutamaan kepastian hukum. Dengan tersedianya perangkat hukum yang tertulis, siapa pun yang berkepentingan akan mudah mengetahui kemungkinan apa yang tersedia baginya untuk menguasai dan menggunakan tanah yang diperlukannya, bagaimana cara memperolehnya, hak-hak, kewajiban serta larangan-larangan apa yang ada didalam.34

Jika dikaitkan dengan teori kepastian hukum menurut Satjipto Rahardjo, kepastian hukum adalah “Sicherkeit Des Rechts Selbst” (kepastian mengenai hukum itu sendiri). Ada 4 (empat) hal yang erat kaitannya dengan makna kepastian hukum.35

a. Hukum itu positif, dengan maksud bahwa hukum adalah perundang-undangan (gesetzliches Recht).

b. Hukum itu didasarkan pada fakta (tatsachen), bukan pada suatu rumusan tentang penilaian yang nantinya akan diterapkan oleh hakim, seperti “kemauan baik” dan ”kesopanan”.

c. Fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga nantinya menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, di samping itu juga bertujuan agar mudah dijalankan.

d. Bahwa hukum positif itu tidak boleh sering diubah-ubah atau diganti.

Berdasarkan teori kepastian hukum menurut Satjipto Rahardjo diatas, bahwa hukum itu didasarkan pada fakta (tatsachen), fakta itu harus dirumuskan dengan cara

34

Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, (Bandung: Alumni, 1982) hal 21.

35

(23)

yang jelas sehingga nantinya menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, disamping itu juga bertujuan agar mudah dijalankan.

Jika dikaitkan dengan teori kepastian hukum tersebut bahwa kedudukan akta wasiat yang tidak diketahui keberadaannya oleh ahli waris dan penerima wasiat tidak memiliki kepastian hukum yang jelas, disebabkan karena keberadaan wasiat tersebut tidak ada yang mengetahui selain pembuat wasiat dan atau notaris sebagai pembuat atau penyimpan wasiat, dan tidak ada keharusan bagi pembuat wasiat untuk memberitahu kepada ahli waris dan atau penerima wasiat akan adanya wasiat yang dibuatnya tersebut tidak memberikan suatu kejelasan dan kepastian hukum apakah berdasarkan kewajiban penunjukan seorang pelaksana wasiat (executeur

testamentair) dalam hal kepengurusan pelaksanaan dari isi akta wasiat yang telah

ditulis oleh pewaris, dan atau apakah berdasarkan kewajiban notaris untuk menginformasikan adanya wasiat kepada ahli waris setelah pembuat wasiat meninggal, atau apakah berdasarkan kewajiban ahli waris untuk memeriksa adanya wasiat sebelum membagi harta warisan.

2. Konsepsi

Kerangka konsepsional ini penting dirumuskan agar tidak tersesat kepemahaman lain, diluar maksud yang diinginkan. Konsepsional ini merupakan alat yang dipakai oleh hukum disamping unsur lainnya seperti asas dan standar. Oleh karena itu, kebutuhan untuk membentuk konsepsional merupakan salah satu dari

(24)

hal-hal yang dirasakan penting dalam hukum. Konsepsional adalah suatu konstruksi mental yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analisis.36

Dalam bahasa Latin, kata conceptus (dalam bahasa Belanda, begrip) atau pengertian merupakan hal yang dimengerti. Pengertian bukanlah merupakan defenisi yang dalam bahasa Latin adalah defenitio. Defenisi tersebut berarti perumusan (dalam bahasa Belanda onschrijving) yang pada hakekatnya merupakan suatu bentuk ungkapan pengertian disamping aneka bentuk lain yang dikenal didalam epistimologi atau teori ilmu pengetahuan.37 Dalam kerangka konsepsional diungkapkan beberapa konsepsional atau pengetian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum.38

Di sini terlihat dengan jelas bahwa suatu konsepsional atau suatu kerangka konsepsional pada hakikatnya merupakan suatu pengarah atau pedoman yang lebih konkrit dari kerangka teoritis (tinjauan pustaka) yang sering kali masih bersifat abstrak. Namun, suatu kerangka konsepsional terkadang dirasakan masih juga abstrak sehingga diperlukan defenisi operasional yang akan menjadi pegangan konkrit didalam proses penelitian.39

36

Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996) dan Aminuddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal 48-49.

Maka konsepsional merupakan defenisi dari apa yang

37

Konsep berbeda dengan teori, dimana teori biasanya terdiri dari pernyataan yang menjelaskan hubungan kausal antara dua variable atau lebih. Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Roke Sarasni, 1996), hal. 22-23 dan 58-59, Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Ibid dan Aminuddin dan H. Zainal Asikin, Ibid.

38

Soerjono Soekanto, Op.cit, hal. 21.

39

(25)

perlu diamati, konsepsional terdiri dari variabel-variabel yang ingin menentukan adanya hubungan empiris.40

Untuk dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini perlu didefenisikan beberapa konsep dasar sehingga diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan. Konsep tersebut sebagai berikut :

a. Akta adalah surat yang diberi tanda tangan, yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar daripada suatu hak atau perikatan yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian.41

b. Wasiat adalah suatu akta yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia dan dapat dicabut kembali.42

c. Ahli waris adalah kaum keluarga, orang yang berhak menerima pusaka, peninggalan orang yang telah meninggal. 43

d. Penerima wasiat adalah orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga dengan pemberi wasiat, atau orang pribadi lain.44

e. Harta kekayaan adalah barang-barang yang menjadi kekayaan seseorang baik yang berwujud dan tidak berwujud yang bernilai dan yang menurut

40

Koentjaraningrat, et-al, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Cet 3, (Jakarta: Gramedia, 1980), hal.21.

41

Teguh Samudera, Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata, (Jakarta: Alumni, 1992), hal 37.

42

Pasal 875 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

43

Muhammad Ali, Kamus lengkap Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Amani), hal 618.

44

Penjelasan Atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1997 Tentang Pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan Karena Hibah Wasiat.

(26)

hukum.45

f. Surat keterangan waris adalah surat keterangan yang dibuat oleh notaris yang memuat ketentuan siapa yang menurut hukum merupakan ahli waris yang sah dari seseorang yang meninggal dunia.46

g. Daftar Pusat Wasiat adalah seksi yang bertugas melakukan penyusunan daftar wasiat (testament) yang dilaporkan oleh notaris baik testament terbuka, testament tertulis maupun testament tertutup atau rahasia, serta meneliti daftar formal daftar wasiat dan penyiapan bahan penyelesaian permohonan surat keterangan wasiat.47 h. Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan

kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.48

G. Metode Penelitian

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi, yang dilakukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten. Metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu; sistematis adalah berdasarkan suatu sistem, sedangkan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu.49

45

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Perum Balai Pustaka, 1995), hal 342.

46

R. Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariat Di Indonesia –Suatu Penjelasan, (Jakarta: Rajawali Pers, 1982), hal 19

47

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor:M.03-PR.07.10 tahun 2005, (Jakarta: Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, 2005).

48

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004

49

(27)

1. Jenis dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Pendekatan normatif oleh karena sasaran penelitian ini adalah hukum atau kaedah (norm). Pengertian kaedah meliputi asas hukum, kaedah dalam arti sempit (value), Peraturan hukum konkret. Penelitian yang berobjekan hukum normatif berupa asas-asas hukum, sistem hukum, taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal.50

Penelitian yuridis normatif adalah penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa hukum yang tertulis dari bahan perpustakaan atau data sekunder belaka yang lebih dikenal dengan nama bahan sekunder dan bahan acuan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang hukum.51

b. Sifat Penelitian

Metode pendekatan penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, bersifat deskriptif analisis maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.52

50

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), hal 70.

51

Ibid, hal 33.

52

Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung: Alumni, 1994), hal 101.

(28)

2. Sumber Data

Sebagai data dalam penelitian ini digunakan data sekunder sebagai data yang dapat menunjang keberadaan data primer tersebut, adapun kedua data tersebut meliputi sebagai berikut:

a. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung melalui wawancara (interview) yang dilakukan terhadap:

1) Ketua Balai Harta Peninggalan Medan 2) Notaris Kota Medan

b. Data Sekunder

Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari hasil penelaahan kepustakaan atau penelaahaan terhadap berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian yang sering disebut sebagai bahan hukum.53

1) Bahan Hukum Primer.

Data sekunder berasal dari penelitian kepustakaan (library research) yang diperoleh dari:

Yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini yaitu:

a) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. b) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

53

Fajat dan Yulianto, Dualisme Penelitan Hukum. Normatif dan Empiris, (yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010) hal 34.

(29)

c) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan

Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. 2) Bahan Hukum Sekunder.

Yaitu bahan hukum memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karangan dari kalangan hukum, dan seterusnya.54 3) Bahan Hukum Tertier.

.

Yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, contohnya adalah kamus dan seterusnya.55 3. Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui tahap-tahap penelitian antara lain:

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research).

Studi Kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil permikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.56

54

Ibid, hal 13.

55

Ibid.

56

Muis, Pedoman Penulisan Skripsi Dan Metode Penelitian Hukum, (Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 1990), hal 48.

(30)

b. Penelitian Lapangan (Field Research).

Studi lapangan ini dilakukan untuk mendapatkan atau menggali informasi-informasi dan catatan lapangan yang diperlukan untuk menginventarisir hal-hal baru yang terdapat dilapangan yang ada kaitannya dengan permasalahan penelitian, sedangkan alat pengumpulan datanya adalah:

1) Studi Kepustakaan

Mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan permasalahan yang diajukan dengan cara mempelajari buku-buku, hasil penelitian dan dokumen-dokumen perundang-undangan yang terkait selanjutnya digunakan untuk kerangka teoritis pada penelitian lapangan.

2) Pedoman Wawancara.

Pengumpulan data selain secara pengamatan dapat diperoleh dengan mengadakan wawancara informasi diperoleh langsung dari responden atau informasi dengan cara tatap muka. Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tatap muka atara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan panduan wawancara. Sehingga penelitian ini berusaha menggali informasi dari narasumber yang berkaitan dengan penelitian ini. 4. Analisis Data

Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dengan menggunakan

(31)

metode kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Padanya terdapat regulitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi (keragaman).57

Analisis data penelitian berisi uraian tentang cara-cara analisis yang menggambarkan bagaimana suatu data dianalisis dan apa manfaat data yang terkumpul untuk dipergunakan memecahkan masalah yang dijadikan objek penelitian.58

Bahwa penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif, yang artinya data diuraikan secara deskriptif, sebagaimana bentuk-bentuk penelitian ilmu sosial, bila dilakukannya sebuah penelitian atas ilmu tersebut. Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus,59

57

Burhan Bungin, Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis Kearah Penguasaan Modal Aplikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal 53.

guna menjawab permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan dalam penelitian ini.

58

Johan Nasution, Metode Penelitian Hukum, (Jambi: Mandar Maju, 2008), hal 174.

59

Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal 109.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :