Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan secara berkesinambungan telah dimulai sejak dicanangkan Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama Pada tahun 1969 yang secara nyata telah mengembangkan berbagai sumber daya kesehatan, serta melaksanakan upaya kesehatan yang berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan juga merupakan hak yang fundamental bagi setiap warga. Oleh karena itu pemerintah berkewajiban untuk dapat mengatur mengenai kesehatan tersebut agar masyarakat terpenuhi hak untuk hidup sehat. Hal ini merupakan amanat dalam Undang-undang Dasar 1945, dimana dinyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Dalam UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dijelaskan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Di samping itu juga Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Manusia Tahun 1984 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas taraf hidup yang memadai bagi kesehatan dan berhak atas jaminan di saat menderita sakit.
Pembangunan Kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Untuk mewujudkan derajat kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan ( promotif ), Pencegahan penyakit ( preventif ). Penyembuhan penyakit ( rehabilitatif ) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 2
Upaya kesehatan ditingkatkan dengan tujuan agar dapat menyelenggarakan upaya kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau oleh masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah dengan peran serta aktif dari masyarakat.
Ini senada dengan tujuan pembangunan kesehatan yakni tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.
Dengan disusunnya Profil Kesehatan Kabupaten Paser ini, dapat dimanfaatkan sebagai sarana dalam memandang dan mengevaluasi sasaran guna mendukung pencapaian kota sehat dalam rangka desentralisasi kesehatan khususnya pada tahun berjalan yang akan digunakan untuk menyusun rencana tahun berikutnya.
B. T U J U A N
1. Tujuan Umum
Profil Kesehatan dibuat dengan tujuan, upaya penyediaan data/informasi yang tepat dan benar serta sesuai kebutuhan dalam rangka kebutuhan bahan evaluasi pencapaian Kabupaten/Kota sehat secara berhasil guna dan berdaya guna.
2. Tujuan Khusus
a. Diperolehnya data/informasi umum tentang kondisi kesehatan
dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna.
b. Diperolehnya data/informasi umum tentang lingkungan kab. Paser
yang meliputi data lingkungan fisik/biologi, perilaku kesehatan masyarakat, data demografi dan sosial ekonomi.
c. Diperolehnya data/informasi status kesehatan masyarakat di
Kab.Paser yang meliputi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi.
d. Dapat dilakukan pengambilan keputusan dan kebijakan bidang
kesehatan berdasarkan data dan fakta (evidence based decision
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 3
C. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penyusunan Propil Kesehatan Kabupaten Paser Tahun 2010 adalah sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan
A. Tujuan
B. Sistematika Penulisan
BAB II Gambaran Umum
A. Letak Geografis dan Batas wilayah B. Kependudukan
C. Sosial Ekonomi
BAB III Program Kesehatan
A. Program Kesehatan keluarga dan gizi masyarakat B. Program Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit C. Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat
D. Program Kesehatan Lingkungan
BAB IV Pencapaian Program
BAB V Situasi Sumber Daya Kesehatan
A. Sarana Kesehatan B. Tenaga Kesehatan C. Pembiayaan
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 4
BAB II
GAMBARAN UMUM
A. Letak Geografis dan Batas Wilayah
Kabupaten Paser sebagai salah satu kabupaten yang merupakan bagian dari Propinsi Kalimantan Timur bagian selatan memiliki kedudukan dan peran yang penting dalam lingkup nasional maupun propinsi karena lokasi geografisnya yang strategis.
Kabupaten Paser secara geografis terletak antara 0045’18,37”-2027’20,82” Lintang Selatan dan 115036’14,5”-166057’35,03” Bujur Timur.
Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Paser meliputi :
Utara : Kabupaten Kutai
Timur : Kabupaten Penajam Paser Utara dan Selat Makasar
Selatan : Kabupaten Kota Baru Propinsi Kalimantan Selatan
Barat : Kabupaten Tabalong Propinsi Kalimantan Selatan
a. Iklim , Curah Hujan dan suhu
Secara umum wilayah Kabupaten Paser beriklim tropis mempunyai musim yang hampir sama dengan wilayah Indonesia pada umumnya, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan bulan april dan musim kemarau yang terjadi pada bulan april sampai dengan bulan Oktober. Kondisi ini terus berlangsung setiap tahun yang diselingi dengan musim peralihan pada bulan-bulan tertentu.
Namun dalam tahun-tahun terakhir ini, keadaan musim di Kalimantan Timur termasuk Kabupaten Paser kadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak turun hujan sama sekali, begitu juga sebaliknya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 5
Suhu Udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Secara umum Kabupaten paser beriklim panas .
Curah hujan disuatu tempat dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan geografis dan perputaran/pertemuan arus udara. Oleh karena itu curah hujan beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Pada tahun 2009, rata-rata curah hujan di Kabuaten Paser berdasarkan laporan dari 6 pos pengamatan hujan yang ada di wilayah Kabupaten Paser adalah sebesar 153.73 mm. Kecamatan yang memiliki curah hujan cukup tinggi adalah kecamatan Tanah Grogot, Kuaro dan Longikis. Sedangkan untuk rata-rata hari hujan per bulan adalah sampai dengan 12 hari.
b. Luas Wilayah dan pembagian wilayah Administrasi
Kondisi Kabupaten Paser dengan adanya perkembangan dan pemekaran wilayah sampai tahun 2011 adalah seluas 11.603,94 km2. Yang terdiri dari 10 kecamatan , 5 kelurahan dan 130 desa . Adapun jumlah kecamatan, kelurahan dan desa dapat dilihat pada tabel berikut
TABEL 2.1
JUMLAH DESA DAN LUAS WILAYAH KECAMATAN Di KAB. PASER TAHUN 2011
No Kecamatan Luas Wilayah Jumlah Kelurahan Jumlah Desa UPT Trans Total 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Batu Sopang Muara Samu Tj. Harapan Batu Engau P.Belengkong Tanah Grogot Kuaro Long Ikis Muara Komam Longkali 1.111,38 855,25 714,05 1.507,26 990,11 335,58 747,30 1.204,22 1.753,40 2.385,39 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 8 8 6 9 15 12 11 26 11 13 0 1 0 0 0 2 0 0 1 2 8 9 6 9 15 15 12 23 13 16 Jumlah 11.603,94 5 119 6 130
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 6
B. KEPENDUDUKAN
Jumlah penduduk Kabupaten Paser menurut hasil pengolahan dari database Sistem informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) adalah 201.293 jiwa . sedangkan sembelumnya berjumlah 196.140 jiwa. Apabila dilihat dari perbandingan penduduk laki-laki lebih banyak dari pada penduduk perempuan dengan rasio 110,98 %.
Penyebaran penduduknya boleh dikatakan tidak merata antara satu kecamatan dengan kecamatan yang lainnya. Untuk ratio jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Di Kabupaten Paser Dari Tahun 2007 – 2011
Jenis Kelamin Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Laki-laki 95.043 52,67 97.476 52,68 100.662 52,66 103.307 52,67 105.886 52,60 Perempuan 85.390 47,33 87.575 47,32 90.445 47,32 92.833 43,33 95.407 47,40 Total 180.433 100 185.051 100 191.140 100 196.140 100 201.293 100
Sumber Paser dalam angka 2011
Adapun gambaran tentang kepadatan penduduk ditiap kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 7
Tabel 2.3
Jumlah Penduduk berdasarkan Kecamatan, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk di Kab. Paser Tahun 2007 – 2011
Kecamatan Luas Wilayah Banyaknya
Penduduk
Rata-rata penduduk tiap Km 2 1. Batu Sopang 1,111.38 12.719 11.44 2. Muara Samu 855.25 3.869 4.52 3. Batu Engau 1,507.26 9.794 6.50 4. Tj. Harapan 714.05 7.051 9.87 5. P. Belengkong 990.11 22.882 23.11 6. Tanah Grogot 335.58 51.378 153.10 7. Kuaro 747.30 22.885 30.62 8. Longikis 1,204.22 35.049 29.11 9. Muara Komam 1,753.40 11.476 6.54 10. Longkali 2,385.39 24.190 10.14 Jumlah 2011 11,603.94 201.293 17.35 2010 11,603.94 196,140 16.90 2009 11,603.94 191,117 16.47 2008 11,609.94 185,051 15.95 2007 11,609.94 180,433 15.55
Sumber Kab. Paser Dalam Angka 2011
Selama kurun waktu 2008/2009, jumlah penduduk Kabupaten Paser mengalami peningkatan sebesar 2,63 persen . Tahun 2010, penduduk Kabupaten Paser sebanyak 196.140 jiwa dan tahun 2011 bertambah
menjadi 201.293 jiwa. Dengan luas wilayah seluas 11.603,94 km2 ,
kepadatan penduduk kabupaten Paser sebesar 17.35 jiwa/km2 atau dengan
kata lain setiap 1 km 2 wilayah yang ada di Kabupaten Paser dihuni oleh
17-18 orang. Dilihat dari distribusi penduduk dan tingkat kepadatan penduduk perkecamatan, persebaran penduduk di Kabupaten Paser masih dikatakan belum merata. Kecamatan yang mempunyai tingkat kepadatan tertinggi
adalah kecamatan Tanah Grogot dengan kepadatan 153,10 jiwa per Km 2,
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 8
adalah kecamatan Muara Samu dengan tingkat kepadatan penduduk per km2 sebesar 4,52 jiwa. Kecamatan lain yang juga memiliki tingkatan kepadatan cukup tinggi adalah kecamatan Kuaro dan Kecamatan Longikis dengan tingkat kepadatan masing-masing adalah sebesar 30,62 dan 29,11 jiwa.
Dengan adanya perbedaan kepadatan, maka pola penyebaran penduduk yang terjadi juga mengikuti pola penduduk yang mengelompok pada tempat-tempat tertentu. Penduduk banyak dijumpai pada daerah-daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang tinggi, tersediannya sarana dan prasarana yang memadai, dan keadaan sosial ekonomi yang lebih baik. Sebaliknya kepadatan penduduk yang rendah pada umumnya terdapat daerah-daerah yang mempunyai aktifitas ekonomi yang relatif masih rendah dan keadaan sarana transportasi yang masih terbatas.. Sehingga diharapkan pada tahun-tahun mendatang penyebaran penduduk tidak lagi terfokus pada satu wilayah saja karena hal ini sangat mempengaruhi pola penyakit dan penyebarannya.
C. SOSIAL EKONOMI
1. Angka Ketergantungan
Distribusi penduduk menurut kelompok umur secara tidak langsung memberikan gambaran tentang angka beban tanggungan penduduk di
suatu wilayah. Bentuk piramyda yang membesar ke bawah
menggambarkan bahwa penduduk usia muda cukup tinggi. Tingginya jumlah penduduk pada usia muda ini mengakibatkan tingginya beban tanggungan penduduk usia produktif. Tahun 2011, angka beban tanggungan penduduk usia produktif ( 15-64) di Kabupaten Paser sebesar 50,98. Angka ini menunjukan adanya pengurangan beban tanggungan penduduk usia produktif terhadap usia yang tidak produktif jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2010 yang nilainya sebesar 51,01. Nilai 50,98 memberikan makna bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif terdapat sekitar 51 s/d 52 penduduk usia tidak produktif yang harus ditanggung oleh usia produktif.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 9
2. Tingkat Pendidikan
Ketrampilan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk dapat menuju hidup sehat dan sejahtera adalah kemapuan baca tulis karena kemapuan ini mencerminkan kemampuan masyarakat untuk menyerap berbagai informasi.
Kemajuan dunia pendidikan pada suatu wilayah tidak lepas dari campur tangan pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah. Salah satu wujud peran serta pemerintah dalam kemajuan dunia pendidikan adalah peningkatan jumlah sekolah dari tahun ke tahun. Sampai dengan tahun 2011, jumlah sekolah yang ada di Kabupaten Paser berdasarkan tingkat pendidikan adalah sekolah dasar 225 unit, SLTP 68 unit, SLTA 32 unit, PT 3 unit.
Tabel 2.4
Persentase Penduduk 10 Tahun ke atas menurut pendidikan Tertinggi yang ditamatkan dan jenis kelamin
Kab. Paser Tahun 2011
No Yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Tidak punya ijasah 19.45 22.01 20.67
2. SD 35.88 38.36 37.05
3. SLTP Umum/Kejuruan 19.97 20.64 20.29
4. SLTA Umum/Kejuruan 19.36 15.80 17.67
5. Diploma / Sarjana 5.34 3.19 4.32
Total 100.00 100.00 100.00
Sumber :BPS Kab. Paser
Indikator yang dapat digunakan untuk menggambarkan kemajuan di bidang pendidikan adalah persentase penduduk yang menamatkan sekolah pada jenjang pendidikan tertentu pada tahun 2011
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 10
3. Kondisi Ekonomi.
Nilai PDRB merupakan hasil penjumlahan nilai tambah bruto seluruh sektor ekonomi yang dihasilkan selama satu tahun. Hasil Perhitungan sementara angka nominal PDRB Kab. Paser Tahun 2011 sebesar 9.907 triliyun rupiah. Bila dilihat dari perkembangannya dari tahun ke tahun nilai PDRB ini selalu mengalami kenaikan. Kenaikan PDRB atas dasar harga berlaku ini berpengaruh langsung terhadap pendapatan perkapita masyarakat Kabupaten Paser. Hal ini dikarenakan nilai PDRB memiliki korelasi positif terhadap pendapatan perkapita penduduk.
Struktur ekonomi merupakan indikator untuk melihat peranan masing-masing sektor terhadap pembentukan PDRB. Sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor yang cukup besar memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Paser. Besaran nilai konstribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap struktur perekonomian Kabupaten Paser adalah sebesar 73,17 persen. Sedangkan sektor lain yang juga memberikan nilai konstribusi cukup besar terhadap pembentukan perekonomian Kabupaten Paser adalah sektor pertanian ( 15,21 persen ) dan sektor perdagangan, hotel dan restoran ( 3, 91 persen ).
4. Lingkungan Sosial Budaya
a. Pendidikan
Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembangunan suatu daerah. Keberhasilan pembangunan banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya dan kualitas ini ditentukan antara lain oleh pendidikan yang pada hakekatnya merupakan usaha sadar manusia untukmengembangkan kepribadian dan meningkatkan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Usaha ini sudah tentu merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 11
Pendidikan formal merupakan suatu proses yang berjenjang dari Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi ( PT ) untuk menunjang keberhasilan bidang Pendidikan formal yang umumnya
diselenggarakan di sekolah – sekolah tidak hanya dibawahi oleh
Departemen Pendidikan Nasional saja, Tetapi ada juga dibawahi oleh Departemen Agama.
Salah satu dampak positif dari pembangunan pendidikan yang dilaksankan adalah semakin menurunnya persentase penduduk yang tidak mampu membaca/menulis huruf latin. Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memperluas jangkauan dan peningkatan pendidikan di indonesia.
Adapun Banyaknya sekolah SD,SLTP, SLTA, dan Perguruan tinggi menurut kecamatan di Kab. Paser adalah sebagai berikut :
Tabel 2.5
Banyaknya sekolah dan Perguruan Tinggi Di Kabupaten Paser Tahun 2011
No Kecamatan SD/MI/ SDLB SLTA/MTS SMPLB SLTA/SMK MA Perguruan Tinggi/ Akademi 1. Batu Sopang 14 3 2 0 2. Muara Samu 8 2 1 0 3. Tj. Harapan 7 3 1 0 4. Batu Engau 11 4 2 0 5. P. Belengkong 26 7 2 0 6. Tanah Grogot 41 19 11 3 7. Kuaro 27 7 3 0 8. Longikis 40 10 4 0 9. Muara Komam 18 4 2 0 10. Longkali 33 9 4 0 Jumlah 225 68 32 3
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 12
b. Agama
Masyarakat Kab. Paser mayoritas beragama islam, sedangkan yang lainnya adalah Katholik, Kristen, Budha dan Hindu yang tersebar di beberapa kecamatan di Kab. Paser. Sarana keagamaan cukup memadai untuk memberikan fasilitas yang sebaik-baiknya bagi para pemeluknya. Disamping swadana masyarakat untuk membangun tempat-tempat ibadah dan pendidikan keagamaan, Pemerintah Kabupaten juga turut memberikan bantuan dana dan mendorong masyarakat untuk menjalankan ajaran agamanya dengan sebaik-baiknya.
c. Kesehatan
Pada dasarnya pembangunan di bidang kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Dengan meningkatnya pelayanan kesehatan , Pemerintah berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan kapada masyarakat adalah penyediaan fasilitas kesehatan terutama Puskesmas , Puskesmas perawatan dan Puskesmas Pembantu karena kedua fasilitas tersebut dapat menjangkau segala lapisan masyarakat.
Pada tahun 2011 pelayanan kesehatan di Kabupaten Paser dilaksanakan dengan memadai melalui berbagai jenis pelayanan yaitu :
Pelayanan yang dilaksanakan di 9 Puskesman non Perawatan ( PKM Mendik, PKM Kayugo, PKM Krayan, PKM Lolo, PKM Tanah Grogot, PKM Padang Pengrapat, PKM P. Belengkong, PKM Suatang Baru, dan PKM Kerang )
Pelayanan yang dilaksanakan di 8 Puskesmas Perawatan ( PKM Longkali, PKM Longikis, PKM Kuaro, PKM Muser, PKM Batu Kajang, PKM Muara Komam, PKM Suliliran Baru, dan PKM Tanjung Aru )
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 13
Pelayanan dilaksanakan di 50 Polindes
Pelayanan dilaksanakan di Rumah sakit Umum Panglima Sebaya maupun klinik pengobatan
d. Ketenagakerjaan
Ketenagaakerjaan merupakan aspek yang mendasar dalam kehidupan manusia karena mencakup dimensi sosial ekonomi. Salah satu sasaran dalam pembangunan adalah diarahkan pada perluasan kesempatan kerja dan terciptanya lapangan kerja baru dalam jumlah dan kualitas yang seimbang dan memadai untuk dapat menyerap tambahan angkatan kerja yang memasuki pasar kerja setiap tahunnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 14
BAB III
PROGRAM KESEHATAN
Pembangunan secara umum adalah upaya multidimensi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pembangunan kesehatan yang merupakan integral dari Pembangunan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia.
Sesuai dengan Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, bahwa kesehatan merupakan tanggung jawab dari Pemerintah dan masyarakat. Oleh karenanya untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan diselenggarakan pembangunan kesehatan yang berkesinambungan baik oleh Pemerintah maupun masyarakat termasuk swasta.
Sejalan dengan hal tersebut diatas bahwa dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan di Kabupaten Paser telah ditetapkan beberapa program dalam upaya pelayanan kesehatanyang secara keseluruhan adalah untuk mendukung pembangunan daerah, khususnya pembangunan kesehatan.
A. Program Kesehatan Keluarga dan gizi Masyarakat
Program kesehatan keluarga ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan status gizi keluarga, sehingga mampu mengeliminir angka kesakitan dan kematian terutama Kematian Bayi ( AKB ) dan Kematian Ibu ( AKI ) yang selama ini dianggap masih menjadi prioritas atau program utama. Program inipun sangat berperan sekali dalam upaya menciptakan kualitas hidup yang produktif dan merupakan akses dalam peningkatan sumber daya manusia. Selain memberikan pelayanan secara langsung kepada kaum hawa dan anak bayi dan balita, program ini juga memberikan pelayanan kepada usia lanjut dalam bentuk pemeriksaan dan pembinaan terhadap kelompok sasaran.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 15
Untuk mendukung program ini pelatihan serta pembinaan terhadap petugas terutama bidan desa masih perlu ditingkatkan. Pemberdayaan masyarakat melalui pembinaan kader dan kerja sama lintas sektoral pun masih diupayakan agar hasil yang dicapai benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat dan pemerintah selaku Provider.
Dalam rangka meningkatkan status gizi masyarakat serta kecamata bebas rawan gizi,melalui program gizi telah dilakukan pemantauan status gizi dan konsumsi gizi oleh masyarakat sehingga memperoleh data status gizi masyarakat yang di Kabupaten Paser. Disamping itu bagi balita yang masuk dalam Kategori BGM / Kasus gizi buruk dilakukan pemberian Makanan tambahan ( PMT ) kepada Balita . Disisi lain untuk meningkatkan kualitas sumber daya petugas pengelola program kesehatan keluarga dan gizi masyarakat ini telah dilakukan pelatihan dan pertemuan bagi petugas yang ada di kecamatan / Puskesmas.
B. Program Pengendalian dan Pemberatasan Penyakit
Tujuan program ini adalah untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular . Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit telah dilaksanakan beberapa kegiatan berupa pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Peningkatan Imunisasi, Penemuan dan tatalaksana penderita serta peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah.
Adapun kegiatan kongkritnya berupa penemuan dan pengobatan penderita baik secara aktif maupun pasif. Penanggulangan penyakit DBD serta melakukan pengasapan / foging massal di daerah endemi.
Dalam rangka eliminasi Penyakit Kaki Gajah ( Filariasis ) juga telah
dilaksanakan kegiatan Pemberantasan Penyakit Filaria secara
berkesinambungan dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Selain itu juga mengadakan pengobatan massal setelah dilakukan pengambilan darah jari penduduk sasaran.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 16
Dalam rangka upaya untuk mencapai Desa Universal child Immuzatin ( UCI ) telah dilakukan peningkatan imunisasi baik melalui swipping imunisasi, BIAS maupun Pekan Imunisasi Nasional ( PIN ) yang merupakan program Nasional.
Disisi lain untuk mamantau serta menganalisa penyakit menular yang ada di Kabupaten Paser, kegiatan Surveilans menjadi salah satu instrumen ataupun sarana informasi tentang situasi dan kondisi penyakit baik yang berada di kecamatan maupun pedesaan , sehingga dengan demikian akan terdeteksi lebih awal kecenderungan penyakit yang ada di Kabupaten Paser. Dalam program tersebut dilakukan pemantauan wilayah setempat ( PWS ), Survey peningkatan kasus dan investigasi Epidemiologi penyakit menular serta penyelidikan epidemiologi kasus terdeteksi KLB / Wabah Penyakit.
C. Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Program Pelayanan Kesehatan pada umumnya dilaksanakan oleh pihak Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Polindes serta Rumah Sakit sebagai Pelayanan Rujukan. Tujuan dari Program ini adalah untuk meningkatkan jumlah, pemerataan dan kualitas pelayanan melalui Puskesmas berserta jajarannya. Dengan kegiatan pokok adalah memberikan pelayanan dasar mencakup pelayanan keluarga miskin, pelayanan kebidanan, pelayanan daerah terpencil serta pelayanan khusus seperti kebutaan katarak, kesehatan jiwa , Bibir sumbing, pelayanan kesehatan gigi dan lainnya.
D. Program Penyehatan Lingkungan
Tujuan Program Penyehatan Lingkungan ini adalah untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan wilayah untuk menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan.
Adapun kegiatan Pokok dalam program Penyehatan lingkungan adalah : 1. Penyediaan sarana air dan sanitasi Dasar
Kegiatan konkritnya adalah berupa pemeriksaan dan pengawasan Air bersih dan air DAMIU ( Depo air minum isi ulang ) yang di konsumsi masyarakat, pendataan sarana air bersih yang digunakan masyarakat seperti PDAM, sumur bor, sumur gali, sumur pompa tangan dan mata air.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 17
2. Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan
Kegiatan konkritnya yang dilakukan adalah inspeksi Sanitasi Rumah Tangga, tempat-tempat umum serta pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat. Disamping itu untuk mencegah terjadinya resiko keracunan atau penyakit akibat lingkungan yang kurang sehat serta makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh masyarakat, juga dilakukan pemeriksaan dan penyuluhan terhadap penjual makanan dan minuman baik berskala besar maupun kecil.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 18
BAB IV
PENCAPAIAN PROGRAM KESEHATAN
Selama tahun 2011 Dinas Kesehatan Kabupaten Paser telah melakukan berbagai program kegiatan sebagai realisasi terhadapa pembangunan kesehatan dengan kerjasama secara intern di lingkungan Dinas kesehatan dan Puskesmas maupun dengan kerjasama eksternal dengan instansi lain dan masyarakat
Untuk mengukur tingkat kesejahteraan rakyat sebagai salah satu hasil pembanguna,adalah situasi derjata kesehatan yang meliputi derajat kesehatan, Perilaku masyarakat, Kesehatan Lingkungan dan Pelayanan kesehatan. Oleh karena itu derajat kesehatan merupakan keharusan guna menilai hasil pelaksanaan program kesehatan yang dijalankan .
Berikut uraian dari situasi pembangunan kesehatan yang dicapai melalui indikator-indikator kesehatan yang ada:
1. Umur Harapan Hidup
Penurunan angka kematian bayi berpengaruh pada umur harapan hidup waktu lahir. Meningkatnya umur harapan hidup secara tidak langsung memberikan gambaran adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat. Rata–rata umur harapan hidup penduduk Kabupaten Paser Tahun 2011 adalah 70 tahun (BPS Kab. Paser, 2011).
2. Angka Kematian (Mortalitas) a. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Paser dalam kurun waktu lima
tahun ini cenderung berfluktuasi. Untuk menentukan faktor yang
mempengaruhi tingkat AKB tidak mudah. Namun ketersediaan berbagai fasilitas, faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk mengubah kehidupan tradisional ke kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 19
Di samping itu juga faktor sosio kultural sangat berpengaruh terhadap tingginya angka kematian bayi. Dalam masyarakat terdapat tradisi yang melarang wanita hamil untuk makan makanan tertentu, sehingga akan mempengaruhi terhadap gizi ibu hamil. Keterlambatan pengambilan keputusan jika ada permasalahan dalam persalinan juga penyebab masih adanya kematian bayi.
AKB di Kabupaten Paser dari tahun ke tahun yaitu pada tahun 2007, 47 per 1000 kelahiran hidup, tetap 47 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2008, kemudian pada tahun 2009 turun menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup, situasi pada tahun 2010 tetap sebesar 46 per 1000 kelahiran hidup. Namun pada tahun 2011, AKB menunjukan peningkatan menjadi 50 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini masih di atas dari pencapaian secara nasional yakni 35 per 1.000 kelahiran hidup.
Kematian bayi yang terjadi di Kabupaten Paser rata-rata disebabkan oleh penyakit gangguan perinatal, Saluran Nafas, Diare, gangguan sistem syaraf, tetanus dan infeksi lainnya.
b. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Paser dalam kurun waktu lima tahun ini cenderung meningkat. Pada tahun 2008 sebanyak ... balita per 1000 kelahiran hidup, kemudian pada tahun 2009 naik menjadi 1 per kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2010 naik menjadi sebesar 3 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2011 makin meningkat sebesar 6 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini jauh di bawah pencapaian tingkat nasional sebesar 46 per 1000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian balita di Kabupaten Paser adalah ISPA dan diare.
AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan dan sosial serta tingkat kemiskinan penduduk.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 20
c. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. Untuk mengatasi masalah kematian ibu melahirkan perlu mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan. Seyogyanya bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB dan AKI.
Faktor sosio kultural yang ada di Kabupaten Paser juga sangat berpengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu. Seperti yang telah dikemukakan di depan bahwa dalam masyarakat masih terdapat larangan terhadap wanita hamil atau melahirkan untuk makan makanan tertentu sehingga akan mengakibat ibu hamil kekurangan gizi. Pengambilan keputusan oleh keluarga apabila terjadi permasalahan dalam persalinan juga merupakan faktor yang menyebabkan kematian ibu
.
Kondisi geografis yang sangat luas dan sulit serta pegunungan menyebabkan kurang atau sulitnya masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan. Kondisi ini juga diperburuk dengan kurangnya tenaga kesehatan yang ada di lapangan atau juga karena kepercayaan masyarakat yang lebih percaya terhadap dukun kampung atau dukun bayi pada saat melahirkan.
Angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Paser berfluktuasi, hal ini terlihat dari 2 per 100.000 kelahiran hidup (2007) menjadi 15 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2008 dan menurun menjadi 8 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2009 dan meningkat lagi menjadi 12 per 100.000 kelahiran hidup (2010), dan menurun lagi pada tahun 2011 menjadi 8 per kelahiran hidup. Kematian ini disebabkan oleh sebab langsung seperti perdarahan, eklamsi, terlambat dirujuk, dan keterampilan petugas yang rendah.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 21
3. Angka Kesakitan ( Morbiditas )
Sebagai salah satu indikator kesehatan, angka kesakitan yang ada di suatu wilayah menunjukan pola penyebaran penyakit dan tingkat ketanggapan petugas kesehatan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk segera melakukan penanganan terhadap kasus-kasus penyakit yang ada. Adapun catatan tentang angka kesakitan yang ada di Kabupaten Paser sampai dengan tahun 2011 dapat dilihat pada uraian berikut :
Tabel 4.1
SEPULUH BESAR PENYAKIT TAHUN 2010
No JENIS PENYAKIT TAHUN 2010
1. Nasofaringitis Akuta ( Common Cold ) 24.330
2. Dermatitis lain tidak spesifik ( eksema )
6.004
3. Hipertensi Primer ( Esensial )
5.756 4. Diare dan Gastroenteritis tidak dapat dikelompokan ke
dalam A00 – A08
4.983 5. Grastitis 4.765 6. Faringitis akuta 3.783 7. Febris 3.495 8. Myalgia 3.339
9. Penyakit pulpa dan jaringan periapikal
2.728
10. Dispepsia
2.452
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 22
Tabel 4.2
SEPULUH BESAR PENYAKIT TAHUN 2011
NO JENIS PENYAKIT TAHUN 2011
1. Nasofaringitis Akuta ( Common Cold ) 43.509
2. Hipertensi primer ( esensial )
12.255 3. Febris 9.610 4. Grastitis 9.176 5. Diare 8.589
6. Dermatitis lain tidak spesifik ( eksema )
7.780 7. Myalgia 7.534 8. Dispepsia 7.247 9. Faringitis akuta 7.137
10. Penyakit pulpa dan jaringan periapikal
4.967 Sumber : Laporan bulanan Puskesmas
4. Pencapain Indikator Standar Pelayanan Minimal dan MDGs
A. Status Gizi
Adapun pencapaian persentase balita dengan gizi buruk, persentase balita dengan gizi kurang dan persentase kecamatan bebas rawan gizi di Kabupaten Paser dari tahun 2007 – 2011 dapat dilihat pada tabel berikut:
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 23
Tabel 4.3
Perkembangan Status Gizi
NO URAIAN INDIKATOR
PELAYANAN
PENCAPAIAN
2007 2008 2009 2010 2011
1 2 3 4 5 6 7
1 Persentase balita dengan gizi
buruk
2,4% 2,4% 3,68% 3,42% 3,54%
2 Persentase balita dengan gizi
kurang
11.1% 11,6% 13,94% 13,85% 14,49%
3 Persentase kecamatan bebas
rawan gizi
90% 60% 50% 50% 40%
Status gizi Kabupaten Paser masih perlu menjadi perhatian untuk ditingkatkan, ini dapat dilihat dengan persentase balita dengan gizi buruk berada pada angka di atas yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI sebesar 1,5%. Pada tahun 2007 balita dengan gizi buruk sebesar 2,4%, meningkat menjadi 3,54% pada tahun 2011. Balita dengan gizi kurang juga terus meningkat setiap tahunnya, dari 11,1% pada tahun 2007 menjadi 14,49% pada tahun 2011. Hal ini dapat disebabkan kurangnya asupan zat gizi di tingkat rumah tangga. Keadaan ini sejalan dengan penurunan angka kecamatan bebas rawan gizi dari 90% pada tahun 2007 menjadi 40% pada tahun 2011. Angka yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI di atas 80%. Status gizi dapat dipengaruhi oleh status perekonomian daerah. Semakin baik perekonomian suatu daerah maka status gizi suatu daerah dapat meningkat. Kondisi perekonomian Kabupaten Paser, dan penurunan tingkat kemiskinan masyarakat kabupaten Paser dalam kurun waktu 2007 – 2011 menunjukkan peningkatan yang positif, namun dalam hal kualitas gizi balita terlihat tidak berbanding lurus. Dari data yang tersaji, terlihat bahwa terjadi degradasi mutu gizi terhadap balita secara individu maupun kelembagaan. Salah satu penyebab hal ini adalah sistem pendataan, pencatatan dan pelaporan dan sweeping gizi buruk oleh stakeholders terhadap hal tersebut selama ini tidak optimal, sehingga data lapangan tidak sama dengan data.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 24
sesungguhnya. didalam tahun 2006 – 2010 pencatatan, pendataan dan
pelaporan diintensifkan sampai kepelosok perdesaan dan didapat angka riil kondisi gizi balita.
Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja keras sektor kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Untuk haltersebut, harus dapat diupayakan masuknya wawasan kesehatan sebagai asas pokok program pembangunan daerah. Kesehatan sebagai salah satu unsur dari kesejahteraan rakyat juga mengandung arti terlindung, dan terlepasnya masyarakat dari segala macam gangguan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
B. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Pelayanan kesehatan ibu dan anak cenderung mengalami kenaikan. Hal ini dapat dilihat pada cakupan ibu hamil K4 mengalami kenaikan dari 71,2 persen pada tahun 2007 menjadi 76,81 persen pada tahun 2011. Artinya dari sasaran ibu hamil yang ada, sebanyak 76,81 persen ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan. Demikian pula pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menunjukan kenaikan yang siginifikan, dari 74,8 persen pada tahun 2007 menjadi 91,61 persen pada tahun 2011. Kenaikan ini telah melebihi standar yang ditetapkan Departemen Kesehatan RI yaitu 90 persen. Ini berarti bahwa masyarakat telah memiliki kesadaran akan pentingnya keselamatan ibu dan anak pada saat persalinan sehingga dapat menghindari kematian ibu dan neonatus.
Kondisi pelayanan kesehatan ibu dan anak ini dapat dilihat pada tabel
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 25
Tabel 4.4
Persentase Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
NO. URAIAN INDIKATOR
PELAYANAN
PENCAPAIAN
2008 2009 2010 2011
1 Cakupan ibu hamil K4 77.7% 76.13% 74.78% 76.61%
2 Cakupan pertolongan persalinan
oleh Nakes
78.6% 80.30% 91.9% 90.72%
3 Bumil Resti yang dirujuk 32.0% 30.35% 25.76% 60.49%
4 Kunjungan Neonatus 77.7% 74.8% 85.3% 78.57%
5 Cakupan kunjungan bayi 75.3% 80.76% 91.2% 74.98%
6 Cakupan BBLR yang ditangani 30.0% 100% 100.0% 100.0%
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukan bahwa pelayanan kesehatan ibu
dan anak meliputi : cakupan ibu hamil K4 mengalami fluktuasi dari 71,2% pada tahun 2008, 77,7% pada tahun 2009, 76,13 tahun 2010, 74,78 pada tahun 2011 dan 76,78% . Artinya dari sasaran ibu hamil yang ada, sebanyak 74,78% ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan.
Begitu juga dengan angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan juga fluktuatif. Grafik peningkatan terjadi dalam kurun waktu 2008-2009 dan bahkan pada tahun 2008-2009 telah mencapai 91,9% atau melampui target yang ditetapkan Departemen Kesehatan RI yaitu 90%. Namun cenderung mengalami pernurunan yang siginifikan pada tahun 2010, yakni menjadi 72,91% pada tahun 2011. Angka ini masih di bawah standar yang ditetapkan Departemen Kesehatan RI yaitu 90%. Ini berarti bahwa masyarakat telah memiliki kesadaran akan pentingnya keselamatan ibu dan anak pada saat persalinan sehingga dapat menghindari kematian ibu dan neonatus. Namun demikian beberapa faktor masih tetap menjadi kendala di lapangan seperti faktor sosial budaya, infrastruktur dan kurangnya tenaga kesehatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 26
Dalam memberikan pelayanan, khususnya oleh bidan di desa dan puskesmas, beberapa ibu hamil tergolong dalam kasus resiko tinggi (Resti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan maka kasus tersebut perlu mendapat rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Pelayanan untuk ibu hamil resiko tinggi yang dirujuk mengalami kenaikan yang menggembirakan dari 11,1% pada tahun 2008 menjadi 91,96% pada tahun 2011. Hal ini menunjukkan kesigapan tenaga kesehatan dalam melayani masyarakat sudah baik serta pencapaian kegiatan sweeping ibu hamil beresiko tinggi sudah cukup berhasil.
Hal yang sama pada kunjungan bayi mengalami kenaikan dari 62,2% pada tahun 2008 menjadi 91,31% pada tahun 2011. Pelayanan pada Bayi Berat Lahir Rendah yang ditangani mengalami kenaikan yang sangat menggembirakan dari 21% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2011. Ini berarti bahwa seluruh bayi dengan BBLR telah ditangani oleh petugas kesehatan.
C. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah
Untuk Pencapaian kegiatan Deteksi tumbuh kembang balita dan pra sekolah dan pemeriksaan kesehatan siswa SD oleh tenaga terlatih dari tahun 2008 – 2011 dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.5
Persentase Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah
NO. URAIAN INDIKATOR PELAYANAN PENCAPAIAN
2008 2009 2010 2011
1 Deteksi tumbuh kembang balita dan
Pra sekolah
14.2% 19.4% 31.31% 32.01%
2 Pemeriksaan kesehatan siswa SD
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 27
Pelayanan anak pra-sekolah ada yang mengalami kenaikan dan ada juga yang mengalami penurunan. Pelayanan deteksi tumbuh kembang balita dan pra-sekolah mengalami kenaikan 17,81 persen dari 14,2 persen pada tahun 2008 menjadi 32,01 persen pada tahun 2011. Namun pada pemeriksaan kesehatan siswa Sekolah Dasar oleh tenaga terlatih mengalami penurunan 13,95 persen, dari 100 persen pada tahun 2008 menjadi 86,05 persen pada tahun 2011. Hal ini dapat terjadi karena siswa yang menjadi sasaran pemeriksaan pindah sekolah atau pada saat pemeriksaan siswa yang bersangkutan tidak masuk sekolah sehingga siswa tersebut tidak terjaring pada pemeriksaan tersebut.
D. Pelayanan Imunisasi
Adapun Pencapaian Desa/Kelurahan UCI tahun 2008 – 2011 dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 4.6
Persentase Pelayanan Imunisasi
NO Indikator Pelayanan Pencapaian 2008 2009 2010 2011 1. Desa kelurahan/UCI 37,4 % 94,4 % 76,65 % 34,40 %
Pelayanan imunisasi mengalami penurunan, ini dapat dilihat dari desa/kelurahan UCI dari 37,4 persen pada tahun 2008 menjadi 34,40 persen pada tahun 2011. Hal ini dapat terjadi karena masih ada daerah yang
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 28
sulit dan jauh dari pelayanan kesehatan, tidak tersedianya fasilitas dan infrastruktur yang adekuat, kurangnya sumber daya yang memadai, kurangnya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah terhadap program imunisasi serta kurangnya pengetahuannya masyarakat tentang program imunisasi dan manfaat imunisasi. Dengan Imunisasi dapat menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Beberapa penyakit yang dapat dengan imunisasi yaitu Tuberkulosis, Difteri, pertsis ( Batuk rejan / batuk 100 hari ), hepatitis, polio dan campak.
E. Pelayanan Pengobatan / Perawatan
Adapun persentase cakupan rawat jalan puskesmas dan cakupan rawat inap puskesmas dapat dilihat pada Tabel berikut ini :
Tabel 4.5
Persentase Pelayanan Pengobatan/ Perawatan
NO. URAIAN INDIKATOR
PELAYANAN
PENCAPAIAN
2008 2009 2010 2011
1 Cakupan rawat jalan Puskesmas 8.5% 12.0% 28.2% 33.69%
2 Cakupan rawat inap Puskesmas 2.1% 2.4% 1.09% 0.94%
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa pelayanan rawat jalan di puskesmas menagalami kenaikan 25,19 persen dari 8,5 persen pada tahun 2008 menjadi 33,69 persen pada tahun 2011. Hal ini disebabkan oleh program pengobatan gratis pada puskesmas sehingga masyarakat tidak enggan untuk datang ke puskesmas. Di samping itu juga kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan telah meningkat. Namun pelayanan untuk rawat inap di puskesmas mengalami penurunan dari 2,1 persen pada tahun 2008 menjadi 0,94 persen pada tahun 2011.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 29
F. Pemantauan Pertumbuhan Balita
Berdasarkan pemantauan pertumbuhan balita persentase balita yang naik berat badannya dan balita bawah garis merah dapat terlihat pada tabel sebagaimana berikut :
Tabel 4.6
Persentase Pemantauan Pertumbuhan Balita
NO. URAIAN INDIKATOR PELAYANAN PENCAPAIAN
2007 2008 2009 2010 2011
1 2 3 4 5 6 7
1 Balita yang naik berat badannya 67.2% 64.6% 60.55% 79,8% 64,00%
2 Balita bawah garis merah 2.4% 3.6% 2.42% 2.12% 2,59%
Terlihat bahwa dari jumlah balita yang datang ke posyandu untuk menimbang berat badannya, pada tahun 2011 sebanyak 64 persen balita mengalami kenaikan berat badannya. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2007 sebanyak 67,2 persen balita yang mengalami kenaikan berat badannya. Hal ini disebabkan karena kurangnya partisipasi masyarakat untuk membawa anaknya ke posyandu dan ini sejalan dengan jumlah balita yang berada di bawah garis merah meningkat dari 2.4 persen tahun 2007 menjadi 2.59 persen pada tahun 2011.
G. Pelayanan Gizi
Untuk capaian Pelayanan gizi yang meliputi cakupan balita yang mendapatkapsul vitamin A 2 x / tahun, cakupan bumil mendapat 90 tablet FE dan cakupan pemberian MP-ASI pada bayi BGM dari gakin dari tahun 2007 – 2011 dapat dilihat pada tabel berikut :
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 30
Tabel 4.7
Persentase Pelayanan Gizi
Dalam periode 5 tahun terakhir ini terlihat bahwa capaian pelayanan gizi mengalami fluktuasi. Pada pelayanan pemberian kapsul vitamin A pada balita mengalami penurunan 3,82 persen dari 64,8 persen pada tahun 2007 menjadi 60.98 persen pada tahun 2011. Begitu pula pelayanan pemberian tablet FE pada ibu hamil mengalami kenaikan 6.21 persen, dari 52,3 persen menjadi 58.51 persen. Walaupun begitu pelayanan pemberian Makanan Pendamping ASI pada bayi BGM dari keluarga miskin selalu mencapai angka 100 persen
H. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Adapun persentase pencapaian pencegahan dan pemberantasan penyakit meliputi kesembuhan penduduk TBC/BTA positif, penemuan balita dengan ISPA, penderita DBD yang ditangani dan penemuan penderita diare dari tahun 2007 – 2011 dapat dilihat sebagai berikut :
NO. URAIAN INDIKATOR
PELAYANAN
PENCAPAIAN
2007 2008 2009 2010 2011
1 Cakupan balita mendapat
kapsul Vitamin A 2 X /tahun 64.8% 42.5% 72.78% 68.31% 60.98% 2 Cakupan bumil mendapat 90
Tablet FE 52.3% 54.4% 69.98% 64.22% 58.51% 3 Cakupan pemberian MP-ASI
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 31
Tabel 4.8
Persentase Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
NO. URAIAN INDIKATOR
PELAYANAN
PENCAPAIAN
2007 2008 2009 2010 2011
1 Kesembuhan penduduk TBC/ BTA
Positif 45,70% 44,2% 86,48% 93% 95%
2 Penemuan balita dengan ISPA 25,5% 23,6% 20,33% 15,63% 12,96% 3 Penderita DBD yang ditangani 80% 85% 100% 100% 100% 4 Penemuan Penderita Diare 11,1% 4,4% 10,75% 9,25% 8,01%
Dari tabel di atas tampak bahwa pencegahan dan pemberantasan penyakit mengalami perbaikan. Tingkat kesembuhan bagi penduduk yang menderita penyakit TBC BTA Positif mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 47,3 persen, dari 45,70 persen pada tahun 2007 menjadi 95 persen pada tahun 2011. Angka ini melebihi target yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI yaitu 85 persen. Begitu juga penanganan penderita DBD mengalami perbaikan dari 80 persen pada tahun 2007 menjadi 100 persen pada tahun 2008. Penduduk yang mengalami diare turun dari 11,1 persen pada tahun 2007 menjadi 8,01 persen pada tahun 2011.
Penyakit di atas merupakan penyakit yang berbasis lingkungan yang artinya kondisi lingkungan memiliki kontribusi terhadap kejadian diare, TBC, DBD, dan ISPA. Kondisi ini dapat dikendalikan melalui intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi. Semakin baik kondisi lingkungan maka dapat mencegah terjadinya kejadian penyakit-penyakit tersebut. Hal ini dapat di lihat pada tabel berikut yang menunjukan kondisi lingkungan yang semakin baik akan menekan angka kejadian penyakit yang terdapat pada tabel sebelumnya.
I. Pelayanan Kesehatan Lingkungan
Pencapaian Pelayanan kesehatan lingkungan yaitu institusi yang dibina, prosentase tempat-tempat umum sehat, prosentase rumah sehat, prosentase
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 32
keluarga yang memiliki pengelolan air limbah sehat, dan prosentase keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.9
Persentase Pelayanan Kesehatan Lingkungan
NO URAIAN INDIKATOR PELAYANAN PENCAPAIAN
2008 2009 2010 2011
1 Institusi yang dibina 63% 65,60% 66,07% 51,49%
2 Prosentase tempat-tempat umum sehat 33% 59,15% 85,17% 67,49%
3 Prosentase rumah sehat 9,80% 8,90% 61,46% 54,78%
4 Prosentase keluarga yang memiliki
jamban 52,54% 68,40% 86,08% 67,25%
5 Prosentase keluarga yang memiliki
pengelolaan air limbah sehat 41% 66,70% 78,55% 57,71%
6 Prosentase keluarga yg memiliki akses
terhadap air bersih 72% 70,42% 70,53% 89,60%
Tempat-tempat umum sehat mengalami penurunan sebesar 11,51 persen, dari 63 persen pada tahun 2008 menjadi 51,49 persen pada tahun 2011. Tempat-tempat umum yang diperiksa adalah hotel, restoran/rumah makan, pasar, dan tempat-tempat umum serta pengelolaan makanan lainnya. Begitu juga rumah sehat mengalami peningkatan sebesar 44,98 persen, dari 9,80 persen pada tahun 2008 menjadi 54,78 persen pada tahun 2011.
Peningkatan pelayanan kesehatan lingkungan juga dapat dilihat melalui peningkatan keluarga yang memiliki jamban, keluarga yang memiliki pengelolaan air lmbah, dan keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih. Keluarga yang memiliki jamban bertambah dari 52,54 persen pada tahun 2008 menjadi 67,25 persen pada tahun 2011. Begitu juga pada tahun 2008 keluarga yang memiliki pengelolaan air limbah hanya 41 persen, dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 89,60 persen.
Peningkatan juga terjadi pada keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih dari 72 persen pada tahun 2008 menjadi 89,60 persen pada tahun 2011.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 33
Kondisi lingkungan yang semakin baik ini yang menyebabkan menurunya angka kesakitan penyakit diare, DBD, ISPA, dan TB Paru.
J. Penyuluhan Perilaku Sehat
Pencapaian Persentase kegiatan penyuluhan perilaku sehat yang meliputi rumah tangga sehat, bayi yang mendapat ASI Ekslusif, desa dengan garam beryodium baik dan posyandu purnama dan mandiri dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.10
Persentase Penyuluhan Perilaku Sehat
Tabel berikut menunjukan bahwa penyuluhan perilaku sehat belum maksimal, hal ini dapat dilihat dari indikator pelayanan yang cenderung menurun pencapaiannya. Terdapat dua hal yang menurun pencapaiannya, yaitu pertama, bayi yang mendapat ASI ekslusif dari 51,19 persen pada tahun 2008, menurun menjadi 35,69 persen pada tahun 2011. Kedua, desa dengan garam beryodium baik menurun dari tahun ke tahun, dari 46,8 persen pada tahun 2008 menjadi 14,75 persen pada tahun 2011.
Walaupun begitu terdapat dua hal yang meningkat, yaitu rumah tangga sehat meningkat dari 55 persen pada tahun 2008 menjadi 61,04 persen pada tahun 2011.
Begitu juga pada tahun 2008 posyandu purnama dan mandiri hanya 19 persen, namun pada tahun 2011 meningkat menjadi 65,6 persen.
Berdasarkan hasil pembangunan kesehatan selama kurun waktu lima tahun dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 sebagaimana yang telah diurai di
NO. URAIAN INDIKATOR PELAYANAN PENCAPAIAN
2008 2009 2010 2011
1 Rumah tangga sehat 55.0% 58,30% 72.52% 61.04%
2 Bayi yang mendapat ASI Ekslusif 51.8% 62.0% 51.19% 35.69%
3 Desa dengan garam beryodium baik 46,80% 45% 14,29% 14,75%
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 34
atas maka penyelenggaraan pembangunan kesehatan perlu diutamakan bagi penduduk rentan, yakni ibu, bayi, anak, dan keluarga miskin yang dilaksanakan melalui peningkatan upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, Sumber Daya Manusia Kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan manajemen kesehatan.
Dengan demikian pembangunan kesehatan diprioritaskan pada pemberdayaan dan kemandirian masyarakat, serta upaya kesehatan, khususnya upaya promotif dan preventif, yang ditunjang oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan dengan memperhatikan :
Menggerakkan Pembangunan Daerah yang Berwawasan Kesehatan; Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat;
Memelihara dan meningkatkan upaya kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau;
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 35
BAB V
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Kinerja dari kegiatan sektor kesehatan sebagai indikator Dinas Kesehatan dan rumah sakit maupun sektor terkait selama kurun waktu tahun 2009 dapat dikemukakan disini adalah sebagai berikut :
A. Sarana Kesehatan
1. Puskesmas
Pada tahun 2011 Pusat kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ) yang ada di Kabupaten Paser berjumlah 17 ( Tujuh Belas ) Puskesmas yang tersebar di 10 ( sepuluh ) kecamatan adalah sebagai berikut :
Tabel 5.1
Puskesmas Di Kabupaten Paser Tahun 2011
NO Nama Puskesmas
Jenis Pelayanan
Perawatan Non Perawatan
1. Longkali * 2. Mendik * 3. Longikis * 4. Krayan * 5. Kayungo * 6. Muara Komam * 7. Batu Kajang * 8. Kuaro * 9. Lolo * 10. Muser * 11. Tanah Grogot * 12. Padang Pengrapat * 13. Pasir Belengkong * 14. Suliliran Baru * 15. Suatang Baru * 16. Kerang * 17. Tanjung Aru *
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 36
2. Puskesmas Pembantu Dan Polindes
Pada tahun 2011 jumlah sarana pusban yang dimiliki ada 95 buah dan Polindes ada 50 buah yang tersebar di 10 ( sepuluh ) kecamatan adalah sebagai berikut :
Tabel 5.2
Jumlah Puskesmas Pembantu dan Polindes di Kabupaten Paser Tahun 2011
NO Nama Puskesmas Jumlah Sarana
Pusban Polindes 1. LOngkali 8 0 2. Mendik 7 2 3. Longikis 10 6 4. Krayan 5 1 5. Kayungo 5 5 6. Muara Komam 7 4 7. Batu Kajang 3 3 8. Kuaro 10 6 9. Lolo 2 1 10. Muser 3 3 11. Tanah Grogot 9 0 12. Padang Pengrapat 2 1 13. Pasir Belengkong 4 3 14. Suliliran Baru 6 3 15. Suatang Baru 2 2 16. Kerang 8 8 17. Tanjung Aru 4 2
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 37
3. Rumah Sakit / Klinik Swasta
Tabel 5.3
Jumlah Rumah Sakit dan Klinik Swasta Di Kabupaten Paser Tahun 2011
No Nama Rumah Sakit / Klinik Jumlah Lokasi
1. RSU P. Sebaya 1 Tanah Grogot
2. Klinik Madani 1 Tanah Grogot
3. Klinik Azka Medika 1 Tanah Grogot
4. BP Permata Bunda 1 Tanah Grogot
5. BPS Muhamadiyah 1 Tanah Grogot
6. Klinik PT BIM 1 P. Belengkong
7. Klinik EKMS 1 Batu Kajang
8. Klinik Kasih Ibu 1 Batu Kajang
9. Klinik Husada 1 Batu Kajang
10. Klinik PT BUMA 1 Batu Kajang
11. Klinik Buen asta 1 Tanah Grogot
12. Klinik PT Agro 1 Kerang
Sumber : Sub. Bagian SDK Dinas Kesehatan Kab. Paser
Dinas Kesehatan melakukan kerjasama dan koordinasi dengan rumah sakit dan klinik swasta terutama masalah laporan hasil kegiatan, dan khusus untuk klinik swasta dilakukan pembinaan kegiatan pelayanan kesehatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 38
B. Tenaga Kesehatan
Persebaran Tenaga Kesehatan di Kabupaten Paser Tahun 2011
Grafik 5.1
PESEBARAN TENAGA KESEHATAN DI KABUPATEN PASER TAHUN 2011
Berdasarkan grafik 5.1 terlihat bahwa jumlah perawat dan bidan paling banyak di Kabupaten Paser ( 69 % ). Hal ini sesuai juga dengan fungsi perawat dan bidan sangat dibutuhkan dalam pelayanan pasien baik di Puskesmas maupun Rumah sakit.
10% 69% 2% 5% 3% 6% 1% 4% MEDIS
PERAWAT & BIDAN PERAWAT GIGI FARMASI GIZI TEKNISI MEDIS SANITASI KESMAS
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 39
Grafik 5.2
PESEBARAN TENAGA KESEHATAN MENURUT INSTANSI DI KABUPATEN PASER TAHUN 2011
Dari Grafik 5.2 terlihat bahwa persebaran tenaga kesehatan paling banyak terdapat di Puskesmas ( termasuk Pustu & Polindes / Poskesdes ) ( 66 % ) karena fungsi Puskesmas adalah sebagai pelayanan kesehatan level 1 yang langsung berhubungan dengan masyarakat .
C. Pembiayaan
Salah satu dari 4 (empat ) strategi utama dalam strategi Pembangunan kesehatan adalah masalah pembiayaan kesehatan. Adapun sasaran utama dari strategi ini adalah : pembangunan kesehatan memperoleh prioritas pengangggaran pemerintah pusat dan daerah, anggaran kesehatan pemerintah diutamakan untuk upaya pencegahan dan promosi kesahatan dan terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan terutama bagi rakyat miskin.
Di sisi lain secara umum anggaran kesehatan di Kabupaten Paser khususnya pada tahun 2010 mengalami penurunan. Untuk melihat
66% 30%
4%
Puskesmas (Termsk Pustu & Polindes/Poskesdes
Rumah Sakit Dinas Kab/Kota
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 40
persentase alokasi anggaran kesehatan Dinas Kesehatan di Kabupaten Paser yang berasal dari beberapa sumber sebagai berikut :
Tabel 5.4
Anggaran Kesehatan Kabupaten / Kota Kabupaten Paser Tahun 2011
NO Sumber Biaya
Alokasi Anggaran Kesehatan
Rupiah Persen
Anggaran Kesehatan Bersumber
1 APBD Kab/Kota 186.907.228.992,72 93,63 2 APBD Provinsi 11.300.000.000,00 6,05 3 APBN
- Dana Alokasi Khusus ( DAK ) - ASKESKIN - Lain-lain (sebutkan) a. Jamkesmas b. BOK 1.050.989.000,00 373.000.000,00 0,53 0,19 4 Pinjaman /Hibah Luar Negeri ( PHLN )
5. Sumber Pemerintah Lain
Total Anggaran Kesehatan 199.631.217.992,72 100,00 Total APBD Kab/Kota 1.332.646.323.000,00
% APBD Kesehatan THD APBD Kab/Kota 14,03 Anggaran Kesehatan Perkapita 6.620,43
Dinas Kesehatan Kabupaten Paser 41
BAB VI PENUTUP
Dengan disajikan ProfilKesehatan Kabupaten Paser Tahun 2011 ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang keadaan derajat kesehatan masyarakat, upaya-upaya yang sudah dilaksanakan dan situasi sumber daya.
Disadari bahwa profil Kesehatan untuk Tahun 2011 ini masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangannya mengingat Profil Kesehatan kali ini mengalami banyak perubahan-perubahan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pusat di Propinsi.
Namun untuk mencapai kesempurnaan dalam penyusunan profil tahun 2011 yang ada diharapkan dukungan dan kerjasama Lintas Sektor.
Karena didasari bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan, masih banyak yang perlu dilakukan agar tercapai tujuan seperti yang tertuang dalam sistem Kesehatan Nasional ( SKN ) dan Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2010 TAHUN 0
L P L + P Satuan
A. GAMBARAN UMUM
1 Luas Wilayah 203.269 Km2 Tabel 1
2 Jumlah Desa/Kelurahan 1.581 Desa/Kel Tabel 1
3 Jumlah Penduduk 1.868.196 1.682.390 3.550.586 Jiwa Tabel 2
4 Rata-rata jiwa/rumah tangga 4,04 Jiwa Tabel 1
5 Kepadatan Penduduk /Km2
17,47 Jiwa/Km2 Tabel 1
6 Rasio Beban Tanggungan #DIV/0! Tabel 2
7 Rasio Jenis Kelamin 111,04 Tabel 2
8 Penduduk 10 tahun ke atas melek huruf 56,17 71,31 55,30 % Tabel 4
9 Penduduk 10 tahun ke atas dengan pendidikan
tertinggi SMP+ 39,67 36,85 38,99 % Tabel 5
B. DERAJAT KESEHATAN B.1 Angka Kematian
10 Jumlah Lahir Hidup 0,00 0,00 67.679 Bayi Tabel 6
11 Angka Lahir Mati (dilaporkan) 0,00 0,00 6,58 Tabel 6
12 Jumlah Bayi Mati 0,00 0,00 606 Bayi Tabel 7
13 Angka Kematian Bayi (dilaporkan) 0,00 0,00 8,95 per 1.000 KH Tabel 7
14 Jumlah Balita Mati 0,00 0,00 97 Balita Tabel 7
15 Angka Kematian Balita (dilaporkan) 0,00 0,00 1,43 per 1.000 KH Tabel 7
16 Jumlah Kematian Ibu 90 Ibu Tabel 8
17 Angka Kematian Ibu (dilaporkan) 132,98 per 100.000 KH Tabel 8
B.2 Angka Kesakitan
18 AFP Rate (non polio) < 15 th 2,76 per 100.000 pend <15thn Tabel 9
19 Angka Insidens TB Paru 125,15 84,11 105,70 per 100.000 penduduk Tabel 10
20 Angka Prevalensi TB Paru 128,36 86,19 108,38 per 100.000 penduduk Tabel 10
RESUME PROFIL KESEHATAN
ANGKA/NILAI
L P L + P Satuan ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
21 Angka kematian akibat TB Paru 0,00 0,00 - per 100.000 penduduk Tabel 10
22 Angka Penemuan Kasus TB Paru (CDR) 0,00 0,00 2,96 % Tabel 11
23 Success Rate TB Paru 0,00 0,00 18,77 % Tabel 12
24 Pneumonia Balita ditemukan dan ditangani 0,00 0,00 1,13 % Tabel 13
25 Jumlah Kasus Baru HIV 124 335 515 Kasus Tabel 14
26 Jumlah Kasus Baru AIDS 95 63 188 Kasus Tabel 14
27 Jumlah Infeksi Menular Seksual Lainnya 366 2.441 2.807 Kasus Tabel 14
28 Jumlah Kematian karena AIDS 0 0 36 Jiwa Tabel 14
29 Donor darah diskrining positif HIV 0,00 0,00 0,26 % Tabel 15
30 Persentase Diare ditemukan dan ditangani 0,00 lpllp ` 45,04 % Tabel 16
31 Jumlah Kasus Baru Kusta (Pausi Basiler) 0 0 18 Kasus Tabel 17
32 Jumlah Kasus Baru Kusta (Multi Basiler) 0 0 39 Kasus Tabel 17
33 Angka penemuan kasus baru kusta (NCDR) 0 0 2 per 100.000 penduduk Tabel 17
34 Persentase Kasus Baru Kusta 0-14 Tahun 0,00 0,00 2,90 % Tabel 18
35 Persentase Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta 0,00 0,00 0,00 % Tabel 18
36 Angka Prevalensi Kusta 0,01 0,01 0,23 per 10.000 Penduduk Tabel 19
37 Penderita Kusta PB Selesai Berobat (RFT PB) 0,00 0,00 177,78 % Tabel 20
38 Penderita Kusta MB Selesai Berobat (RFT MB) 0,00 0,00 108,57 % Tabel 20
39 Jumlah Kasus Difteri 39 29 68 Kasus Tabel 21
40 Case Fatality Rate Difteri 7 % Tabel 21
41 Jumlah Kasus Pertusis 0 0 0 Kasus Tabel 21
42 Jumlah Kasus Tetanus (non neonatorum) 0 0 0 Kasus Tabel 21
43 Case Fatality Rate Tetanus (non neonatorum) 0,00 % Tabel 21
44 Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum 2 1 3 Kasus Tabel 21
45 Case Fatality Rate Tetanus Neonatorum 66,67 % Tabel 21
46 Jumlah Kasus Campak 269 330 605 Kasus Tabel 22
47 Case Fatality Rate Campak 0,00 % Tabel 22
48 Jumlah Kasus Polio 0 0 1 Kasus Tabel 22
49 Jumlah Kasus Hepatitis B 0 0 25 Kasus Tabel 22
50 Incidence Rate DBD 0,00 0,00 142,60 per 100.000 penduduk Tabel 23
L P L + P Satuan ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
52 Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasit Incidence ) 0,00 1,04 1,98 per 1.000 penduduk Tabel 24
53 Case Fatality Rate Malaria 0,00 0,00 0,00 % Tabel 24
54 Angka Kesakitan Filariasis 0 0 2,34 per 100.000 penduduk Tabel 25
B.3 Status Gizi
55 Bayi baru lahir ditimbang 0 0 50,46 % Tabel 26
56 Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) - - 2,51 % Tabel 26
57 Balita Gizi Baik - - 21,20 % Tabel 27
58 Balita Gizi Kurang - - 1,42 % Tabel 27
59 Balita Gizi Buruk - - 0,49 % Tabel 27
C. UPAYA KESEHATAN C.1 Pelayanan Kesehatan
60 Kunjungan Ibu Hamil (K1) 90,77 % Tabel 28
61 Kunjungan Ibu Hamil (K4) 81,13 % Tabel 28
62 Persalinan ditolong Tenaga Kesehatan 77,78 % Tabel 28
63 Pelayanan Ibu Nifas 74,41 % Tabel 28
64 Ibu hamil dengan imunisasi TT2+ 56,19 % Tabel 29
65 Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe3 76,69 % Tabel 30
66 Bumil Risti/Komplikasi ditangani 80,98 % Tabel 31
67 Neonatal Risti/Komplikasi ditangani - - 12,19 % Tabel 31
68 Bayi Mendapat Vitamin A - - 30,34 % Tabel 32
69 Anak Balita Mendapat Vitamin A - - 71,03 % Tabel 32
70 Ibu Nifas Mendapat Vitamin A 58,07 % Tabel 32
71 Peserta KB Baru 24,37 % Tabel 35
72 Peserta KB Aktif 73,30 % Tabel 35
73 Kunjungan Neonatus 1 (KN 1) - - 67,64 % Tabel 36
74 Kunjungan Neonatus 3 kali (KN Lengkap) - - 71,67 % Tabel 36
75 Kunjungan Bayi (minimal 4 kali) - - 0,05 % Tabel 37
76 Desa/Kelurahan UCI 60,69 % Tabel 38
L P L + P Satuan ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
78 Drop-Out Imunisasi DPT1-Campak 5,81 % Tabel 39
79 Bayi yang diberi ASI Eksklusif - - 62,93 % Tabel 41
80 Pemberian MP-ASI pada anak 6-23 bulan dari Gakin - - 8,86 % Tabel 42
81 Cakupan Pelayanan Anak Balita (minimal 8 kali) - - 25,50 % Tabel 43
82 Balita ditimbang - - 38,26 % Tabel 44
83 Balita berat badan naik 0 0 65,54 % Tabel 44
84 Balita berat badan di bawah garis merah (BGM) 0 0 2,45 % Tabel 44
85 Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan - - 97,39 % Tabel 45
86 Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat
83,89
82,53 79,03 % Tabel 46
87 Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat
79,39
77,86 2,98 % Tabel 47
88 Pelayanan Kesehatan Usila (60 tahun +) - - 55,08 % Tabel 48
89 Sarkes dgn kemampuan yan. gadar level 1 87,42 % Tabel 49
90 Desa/Kel. terkena KLB ditangani < 24 jam 97,18 % Tabel 51
91 Rasio Tumpatan/Pencabutan Gigi Tetap - - 0,32 Tabel 52
92 SD/MI yang melakukan sikat gigi massal 1,40 sekolah Tabel 49
93 SD/MI yang mendapat pelayanan gigi 94,44 sekolah Tabel 49
94 Murid SD/MI Diperiksa (UKGS) - - 33,74 % Tabel 53
95 Murid SD/MI Mendapat Perawatan (UKGS) - - 49,13 % Tabel 53
96 Siswa SD dan setingkat mendapat perawatan gigi dan
mulut - - 49,13 % Tabel 53
C.2 Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan
97 Peserta Jaminan Pemeliharaan Kes. Pra Bayar - - 39,23 % Tabel 55
98 Penduduk Miskin (dan hampir miskin) dicakup
Askeskin/Jamkesmas - - 89,64 % Tabel 56
99 Pasien Maskin (dan hampir miskin) Mendapat Pelayanan Rawat Jalan di Sarana Kes. Strata 1
- - %
Tabel 56
100 Pasien Maskin (dan hampir miskin) Mendapat Pelayanan Rawat Jalan di Sarana Kes. Strata 2&3
- - %
L P L + P Satuan ANGKA/NILAI
NO INDIKATOR No. Lampiran
101 Pasien Maskin (dan hampir miskin) Mendapat Pelayanan Rawat Inap di Sarana Kes. Strata 1
- 16,06 %
Tabel 57
102 Pasien Maskin (dan hampir miskin) Mendapat Pelayanan Rawat Inap di Sarana Kes. Strata 2&3
- 0,82 %
Tabel 57
103 Cakupan Kunjungan Rawat Jalan 2,23 2,26 87,50 % Tabel 58
104 Cakupan Kunjungan Rawat Inap - - 2,25 % Tabel 58
105 Gross Death Rate (GDR) di RS - - 1,82 per 100.000 pasien keluar Tabel 59
106 Nett Death Rate (NDR) di RS - - 0,95 per 100.000 pasien keluar Tabel 59
107 Bed Occupation Rate (BOR) di RS 38,58 % Tabel 60
108 Length of Stay (LOS) di RS 3,23 Hari Tabel 60
109 Turn of Interval (TOI) di RS 5,14 Hari Tabel 60
C.3 Perilaku Hidup Masyarakat
110 Rumah Tangga ber-PHBS #REF! % Tabel 61
C.4 Keadaan Lingkungan
111 Rumah Sehat 67,58 % Tabel 62
112 Rumah/bangunan bebas jentik nyamuk Aedes 65,53 % Tabel 63
113 Keluarga dengan sumber air minum terlindung 10,98 % Tabel 65
114 Keluarga memiliki Jamban Sehat 74,97 % Tabel 66
115 Keluarga memiliki Tempat Sampah Sehat 71,06 % Tabel 66
116 Keluarga memiliki Pengelolaan Air Limbah Sehat 75,88 % Tabel 66
117 TUPM Sehat 72,05 % Tabel 67
118 Institusi dibina kesehatan lingkungannya 71,11 % Tabel 68
D. SUMBERDAYA KESEHATAN D.1 Sarana Kesehatan
119 Jumlah Rumah Sakit Umum 34 Tabel 70
120 Jumlah Rumah Sakit Khusus 13 Tabel 70
121 Jumlah Puskesmas Perawatan 104 Tabel 70