TESIS. Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister

356  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

SIKAP BAHASA MAHASISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN FKIP UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA TERHADAP BAHASA INDONESIA DAN BAHASA DAERAH:

KAJIAN SOSIOLINGUISTIK TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister

Oleh:

NATALIA SULISTYANTI HARSANTI NIM: 151232004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PROGRAM MAGISTER

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA SEPTEMBER 2017

(2)

ii

SIKAP BAHASA MAHASISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN FKIP UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA TERHADAP BAHASA INDONESIA DAN BAHASA DAERAH:

(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Tesis ini saya persembahkan untuk Tuhan Yesus, Bunda Maria, Bapak dan Ibu, Yaik, dan keluarga tercinta serta semua orang yang mendukung.

(5)

v

MOTO

Waktu Tuhan bukan waktu kita Jangan sesali keadaannya Percaya ada waktunya Tuhan Tetap setia mengandalkan-Nya Semua indah pada waktunya

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

Harsanti, Natalia Sulistyanti. 2017. Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah: Kajian Sosiolinguistik. Tesis. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan sikap bahasa mahasiswa laki-laki FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah; (2) mendeskripsikan sikap bahasa mahasiswa perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah; dan (3) mendeskripsikan perbedaan sikap bahasa antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Populasi yang digunakan adalah mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 354 mahasiswa yang meliputi 101 mahasiswa laki-laki dan 253 mahasiswa perempuan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional

random sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang

dikembangkan dengan model skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik deskriptif dan uji-t dua sampel independen yang dilakukan dengan bantuan software IBM SPSS 22.

Hasil penelitian menunjukkan (1) sikap bahasa mahasiswa laki-laki terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah memiliki kategori baik. (2) Sikap bahasa mahasiswa perempuan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah memiliki kategori baik. (3) Berdasarkan pengujian hipotesis menggunakan uji-t dua sampel independen, dalam penelitian ini Ho1 ditolak, yang berarti ada

perbedaan sikap bahasa antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan terhadap bahasa Indonesia. Perbedaan ini terletak pada aspek afeksi terhadap bahasa Indonesia. Sementara itu, Ho2 diterima, yang berarti tidak ada perbedaan

sikap bahasa antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan terhadap bahasa daerah.

(9)

ix ABSTRACT

Harsanti, Natalia Sulistyanti. 2017. Language Attitude of Male and Female Students of FKIP Sanata Dharma University towards the Indonesian and Local Languages: Sociolinguistics Studies. Thesis. Yogyakarta: The Graduate School of the Indonesian Language and Literature Education Study Programme, Faculty of Teachers’ Training and Education, Sanata Dharma University.

The purpose of this research is (1) to describe the language attitude of male students of FKIP Sanata Dharma University Yogyakarta towards the Indonesian language and regional languages; (2) to describe the language attitude of female students of FKIP Sanata Dharma University Yogyakarta towards the Indonesian language and regional languages; and (3) to compare the language attitude between male and female students of FKIP University Sanata Dharma Yogyakarta.

The researcher applied quantitative method. The population of this study was male and female students of FKIP Sanata Dharma University Yogyakarta. 354 students of the faculty were taken as samples which consisted of 101 male students and 253 female students. Proportional random sampling technique was used to take the sample in this study. The instrument used in this study was a Likert scale model questionnaire. Data analysis techniques used in this study were descriptive statistical test and t-test with two independent samples. The IBM SPSS 22 software used in this step.

The results showed that (1) male students’ language attitudes toward Indonesian language and local languages were categorized as good. (2) The language attitude of female students towards Indonesian and regional languages were also categorized as good. (3) Based on the hypothesis by t-test with two independent samples, Ho1 in this research was rejected. It meant that there were

differences of the attitude towards Indonesian language between male and female students. The difference was in the affection aspects on the Indonesian language. Meanwhile, Ho2 was accepted. It was concluded that there was no difference of

the language attitude towards the local language between male and female students.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah: Kajian Sosiolinguistik”. Penyusunan tesis ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa selama penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini memberikan bantuan, bimbingan, nasihat, motivasi, dorongan, dukungan, doa, dan kerja sama yang tidak ternilai harganya dari awal hingga akhir penulisan tesis ini. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister yang telah memberikan motivasi kepada penulis selama menyelesaikan tesis.

3. Dr. B. Widharyanto, M.Pd. dan Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd., selaku dosen pembimbing yang telah banyak mengorbankan waktu, pikiran, kesabaran, tenaga dan motivasi selama membimbing penulis.

4. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan serta wawasan kepada penulis selama belajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister, sehingga penulis mempunyai bekal menjadi pengajar yang cerdas, humanis dan profesional.

(11)

xi

5. Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum., dan Dr. Sebastianus Widanarto Prijowuntato, S.Pd., M.Si, selaku ahli yang berkenan menguji validitas kisi-kisi dan kuesioner dalam penelitian ini. 6. Seluruh Kepala Program Studi di bawah naungan FKIP yang telah

mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian.

7. Karyawan sekretariat Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister yang telah membantu penulis dalam hal administratif dalam rangka menyelesaikan tesis.

8. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah menyediakan buku-buku penunjang selama penulis menyelesaikan tesis.

9. Teman-teman di S-1 FKIP Universitas Sanata Dharma yang telah membantu penulis untuk mengumpulkan data penelitian.

10. Orang tua saya tercinta, Y. Subaryanto dan Th. Sukarti yang telah memberikan semangat, doa, cinta, bantuan, dan motivasi kepada penulis. 11. Kakak-kakakku, Robertus Sulistyo Hardanto, Christina Sulistyanti

Hardiningsih, Agustinus Sulistyo Hardono, Yoshepin Sulistyanti Hardani, dan Yosse Daniel Rosha yang telah memberikan dukungan dan motivasi.

12. Keponakan-keponakanku, Silvester Andre de Rosario, Maria Christha Dianing Ratri Susetyo, Georgius Chandra Herfanda Nugraha yang telah menjadi penyemangat dalam mengerjakan tesis.

13. Sahabat-sahabatku, Sofylia Melati, S.Pd., Dina Eka Pratiwi, S.Pd., Brigita Yuni, S.Pd., dan Gusti Dinda Damarsasi, S.Pd., yang telah menjadi teman diskusi, bertukar pikiran, dan saling memotivasi.

14. Vanio Praba, yang memberikan motivasi dan dukungan.

15. Keluarga Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister angkatan pertama yang banyak memberikan informasi, motivasi serta dukungan kepada penulis.

16. Adik-adik angkatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister yang banyak memberikan motivasi serta dukungan kepada penulis.

(12)
(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTO ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xxii

DAFTAR LAMPIRAN ... xxii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 8

1.6 Sistematika Penyajian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Sosiolinguistik ... 11

2.2 Bahasa ... 13

2.2.1 Bahasa Indonesia ... 14

(14)

xiv

2.3 Sikap Bahasa ... 25

2.3.1 Indikator Sikap Bahasa ... 32

2.4 Perbedaan Berbahasa Laki-laki dan Perempuan ... 37

2.5 Pergeseran Bahasa ... 40

2.6 Pemertahanan Bahasa... 45

2.7 Kondisi Kebahasaan di Universitas Sanata Dharma ... 46

2.8 Kerangka Berpikir ... 48

2.9 Hipotesis ... 50

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 52

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian... 52

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 52

3.3 Variabel Penelitian ... 53

3.4 Populasi dan Sampel ... 54

3.5 Teknik Pengambilan Sampel... 56

3.6 Instrumen Penelitian... 61

3.7 Pengujian Instrumen Penelitian... 63

3.7.1 Validitas Instrumen ... 63

3.7.1.1 Validitas Internal ... 63

3.7.1.2 Validitas Eksternal ... 65

3.7.2 Uji Reliabilitas ... 74

3.8 Teknik Pengumpulan Data ... 76

3.9 Teknik Analisis Data ... 76

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 90

4.1 Deskripsi Data ... 90

4.1.1 Responden Penelitian ... 90

4.1.2 Data Sikap Bahasa... 100

4.2 Analisis Data ... 101

4.2.1 Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia... 101

4.2.1.1 Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia ... 102

(15)

xv

4.2.1.3 Aspek Konasi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia ... 124

4.2.2 Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia ... 132

4.2.2.1 Aspek Kognisi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia .... 133

4.2.2.2 Aspek Afeksi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia ... 145

4.2.2.3 Aspek Konasi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia ... 157

4.2.3 Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Daerah... 165

4.2.3.1 Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Daerah ... 165

4.2.3.2 Aspek Afeksi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Daerah ... 177

4.2.3.3 Aspek Konasi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Daerah ... 185

4.2.4 Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Daerah ... 192

4.2.4.1 Aspek Kognisi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Daerah ... 193

4.2.4.2 Aspek Afeksi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Daerah ... 204

4.2.4.3 Aspek Konasi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Daerah ... 214

4.2.5 Pengujian Perbedaan Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah ... 220

4.3 Pembahasan ... 233

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 260

5.1 Kesimpulan ... 260

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 262

5.3 Saran ... 263

DAFTAR PUSTAKA ... 264

LAMPIRAN ... 269

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel ... 53

Tabel 3.2 Jumlah Populasi FKIP Universitas Sanata Dharma ... 55

Tabel 3.3 Jumlah Sampel yang Diambil pada Setiap Program Studi ... 58

Tabel 3.4 Jumlah Sampel Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan ... 60

Tabel 3.5 Harga T Butir Pernyataan tentang Sikap terhadap Bahasa Indonesia ... 69

Tabel 3.6 Harga T Butir Pernyataan tentang Sikap terhadap Bahasa Daerah ... 70

Tabel 3.7 Rangkuman Hasil Uji Validitas Pernyataan tentang Sikap terhadap Bahasa Indonesia ... 72

Tabel 3.8 Rangkuman Hasil Uji Validitas Pernyataan tentang Sikap terhadap Bahasa Daerah ... 74

Tabel 3.9 Uji Normalitas Data Kelompok Mahasiswa Laki-laki ... 78

Tabel 3.10 Uji Normalitas Data Kelompok Mahasiswa Perempuan ... 79

Tabel 3.11 Skala Interval Setiap Butir Pernyataan ... 81

Tabel 3.12 Skala Interval untuk Aspek Kognisi Bahasa Indonesia ... 82

Tabel 3.13 Skala Interval untuk Aspek Afeksi Bahasa Indonesia ... 83

Tabel 3.14 Skala Interval untuk Aspek Konasi Bahasa Indonesia ... 83

Tabel 3.15 Skala Interval untuk Aspek Kognisi Bahasa Daerah ... 84

Tabel 3.16 Skala Interval untuk Aspek Afeksi Bahasa Daerah ... 85

Tabel 3.17 Skala Interval untuk Aspek Konasi Bahasa Daerah... 85

Tabel 3.18 Skala Interval untuk Bahasa Indonesia ... 86

Tabel 3.19 Skala Interval untuk Bahasa Daerah ... 86

Tabel 4.1 Distribusi Daerah Asal Responden ... 93

Tabel 4.2 Distribusi Bahasa Daerah Responden ... 95

Tabel 4.3 Distribusi B1 Responden ... 99

Tabel 4.4 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir Pernyataan Positif tentang Bahasa Indonesia Berdasarkan Aspek Kognisi ... 102

(17)

xvii

Tabel 4.5 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Kognisi ... 107 Tabel 4.6 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa

Indonesia Berdasarkan Aspek Kognisi ... 111 Tabel 4.7 Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki

terhadap Bahasa Indonesia ... 113 Tabel 4.8 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Afeksi ... 114 Tabel 4.9 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Afeksi ... 118 Tabel 4.10 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa

Indonesia Berdasarkan Aspek Afeksi ... 122 Tabel 4.11 Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa Laki-laki

terhadap Bahasa Indonesia ... 124 Tabel 4.12 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Konasi ... 125 Tabel 4.13 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Konasi ... 128 Tabel 4.14 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa

Indonesia Berdasarkan Aspek Konasi ... 129 Tabel 4.15 Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa Laki-laki

terhadap Bahasa Indonesia ... 130 Tabel 4.16 Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki

terhadap Bahasa Indonesia ... 131 Tabel 4.17 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

(18)

xviii

Berdasarkan Aspek Kognisi ... 134 Tabel 4.18 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Kognisi ... 138 Tabel 4.19 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa

Indonesia Berdasarkan Aspek Kognisi ... 143 Tabel 4.20 Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia ... 145 Tabel 4.21 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Afeksi ... 146 Tabel 4.22 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Afeksi ... 150 Tabel 4.23 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa

Indonesia Berdasarkan Aspek Afeksi ... 155 Tabel 4.24 Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia ... 156 Tabel 4.25 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Konasi ... 158 Tabel 4.26 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia

Berdasarkan Aspek Konasi ... 160 Tabel 4.27 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa

Indonesia Berdasarkan Aspek Konasi ... 161 Tabel 4.28 Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia ... 162 Tabel 4.29 Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan

(19)

xix

Tabel 4.30 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Kognisi ... 166 Tabel 4.31 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Kognisi ... 169 Tabel 4.32 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa

Daerah Berdasarkan Aspek Kognisi ... 175 Tabel 4.33 Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki

terhadap Bahasa Daerah ... 176 Tabel 4.34 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Afeksi ... 177 Tabel 4.35 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Afeksi ... 181 Tabel 4.36 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa

Daerah Berdasarkan Aspek Afeksi ... 184 Tabel 4.37 Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa Laki-laki

terhadap Bahasa Daerah ... 185 Tabel 4.38 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Konasi ... 186 Tabel 4.39 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Konasi ... 188 Tabel 4.40 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa

Daerah Berdasarkan Aspek Konasi ... 189 Tabel 4.41 Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa Laki-laki

(20)

xx

Tabel 4.42 Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki

terhadap Bahasa Daerah ... 191 Tabel 4.43 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Kognisi ... 194 Tabel 4.44 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Kognisi ... 197 Tabel 4.45 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa

Daerah Berdasarkan Aspek Kognisi ... 202 Tabel 4.46 Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Perempuan

terhadap Bahasa Daerah ... 204 Tabel 4.47 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Afeksi ... 205 Tabel 4.48 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Afeksi ... 208 Tabel 4.49 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa

Daerah Berdasarkan Aspek Afeksi ... 211 Tabel 4.50 Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa Perempuan

terhadap Bahasa Daerah ... 212 Tabel 4.51 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Konasi ... 214 Tabel 4.52 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir

Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Berdasarkan Aspek Konasi ... 216 Tabel 4.53 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa

(21)

xxi

Tabel 4.54 Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa Perempuan

terhadap Bahasa Daerah ... 218 Tabel 4.55 Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan

terhadap Bahasa daerah ... 219 Tabel 4.56 Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa

terhadap Bahasa Indonesia ... 222 Tabel 4.57 Uji T Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia ... 223 Tabel 4.58 Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa

terhadap Bahasa Indonesia ... 224 Tabel 4.59 Uji T Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia ... 225 Tabel 4.60 Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa

terhadap Bahasa Indonesia ... 226 Tabel 4.61 Uji T Aspek Afeksi Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia ... 227 Tabel 4.62 Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa

terhadap Bahasa Indonesia ... 228 Tabel 4.63 Uji T Aspek Konasi Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia ... 229 Tabel 4.64 Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa

terhadap Bahasa Daerah ... 231 Tabel 4.65 Uji T Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan

(22)

xxii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ... 49 Gambar 4.1 Komposisi Responden Mahasiswa Laki-laki

pada Setiap Angkatan Berdasarkan Program Studi ... 92 Gambar 4.2 Komposisi Responden Mahasiswa Perempuan

pada Setiap Angkatan Berdasarkan Program Studi ... 93 Gambar 4.3 Komposisi B1 Responden ... 97

(23)

xxiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1Kisi-kisi Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah ... 269 Lampiran 2 Kuesioner Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan

terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah ... 271 Lampiran 3 Surat Izin Validator ... 277 Lampiran 4 Hasil Uji Validasi oleh Ahli ... 280 Lampiran 5 Pengantar Surat Izin Penelitian dari Prodi ... 285 Lampiran 6 Surat Izin Penelitian dari Universitas ... 286 Lampiran 7 Skor Ujicoba Butir Bahasa Indonesia ... 287 Lampiran 8 Konversi Skor Ujicoba Butir Bahasa Indonesia ... 288 Lampiran 9 Harga T Butir Bahasa Indonesia ... 289 Lampiran 10 Skor Ujicoba Butir Bahasa Daerah ... 290 Lampiran 11 Konversi Skor Ujicoba Kuesioner Butir Bahasa Daerah... 291 Lampiran 12 Harga T Butir Bahasa Daerah ... 292 Lampiran 13 Deskriptif Statistik Uji Validitas Product Moment

Butir Bahasa Indonesia ... 293 Lampiran 14 Uji Reliabilitas Teknik Alpha Cronbach

Butir Bahasa Indonesia ... 294 Lampiran 15 Deskriptif Statistik Uji Validitas Product Moment

Butir Bahasa Daerah ... 296 Lampiran 16 Uji Reliabilitas Teknik Alpha Cronbach Butir Bahasa Daerah ... 297 Lampiran 17 Data Identitas Responden ... 299 Lampiran 18 Data Skor Mentah Butir-butir Pernyataan Bahasa Indonesia ... 317 Lampiran 19 Data Skor Mentah Butir-butir Pernyataan Bahasa Daerah ... 321 Lampiran 20 Data Sesudah Konversi Butir-butir Pernyataan

Bahasa Indonesia ... 325 Lampiran 21 Data Sesudah Konversi Butir-butir Pernyataan Bahasa Daerah .... 329 Lampiran 22 Artikel Jurnal ... 333

(24)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk karena memiliki berbagai suku, agama, dan bahasa. Kemajemukan yang ada di dalam bangsa Indonesia ini merupakan salah satu bentuk kekayaan Indonesia yang jarang dimiliki oleh negara-negara lain. Terlebih lagi, setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki adat istiadat dan kebudayaan tersendiri sebagai identitasnya. Jelas, hal ini semakin menambah kekayaan yang ada di Indonesia.

Secara umum, mayoritas penduduk yang ada di Indonesia masih tetap menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi sehari-hari. Hal ini sesuai dengan hasil sensus BPS yang menyatakan bahwa 79,5 persen dari seluruh populasi penduduk usia lima tahun ke atas berkomunikasi sehari-hari di rumah tangga dengan menggunakan bahasa daerah, sebesar 19,9 persen menggunakan bahasa Indonesia, dan sebesar 0,3 persen lainnya menggunakan bahasa asing (BPS, 2011).

Persentase penduduk yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari setiap provinsi berkisar antara 8,2-99,3 persen, sedangkan pemakai bahasa Indonesia pada masing-masing provinsi berkisar 0,7-90,7 persen. Sementara itu, persentase penduduk menggunakan bahasa asing sehari-hari pada setiap provinsi masih berkisar di bawah satu persen (BPS, 2011).

(25)

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik di atas, memang tidak mengherankan apabila mayoritas penduduk di Indonesia menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi sehari-hari. Hal ini karena memang hampir sebagian besar penduduk di Indonesia memiliki bahasa ibu atau bahasa pertama yang berupa bahasa daerah. Sementara itu, bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua yang diperoleh sebagian besar penduduk di Indonesia.

Adanya penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari penduduk Indonesia ini menunjukkan bahwa penduduk Indonesia merupakan penduduk yang bilingual, bahkan multilingual (Arba’i, 2015). Menurut Chaer (2004:85), bilingual adalah orang yang dapat menggunakan dua bahasa, sedangkan multilingual adalah orang yang mampu menggunakan lebih dari dua bahasa. Alasan masyarakat Indonesia disebut sebagai masyarakat yang multilingual adalah adanya kemungkinan bahwa bahasa daerah yang dikuasai lebih dari satu atau mampu juga menguasai bahasa asing.

Kondisi masyarakat yang bilingual atau multilingual umumnya menimbulkan persoalan tersendiri, antara lain kapan seorang penutur menggunakan bahasa-bahasa yang dikuasainya secara bergantian dan sejauh mana bahasa-bahasa tersebut saling mempengaruhi (Chaer dan Agustina, 2004:90). Hal semacam ini dapat terlihat dalam interaksi sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, yaitu interaksi intrakelompok etnik sendiri dan interaksi antarkelompok dengan etnik yang berbeda. Kedua jenis interaksi ini akan mempengaruhi pola penggunaan bahasa dan sikap bahasa masyarakat tersebut (Siregar, dkk, 1998:5).

(26)

Kemampuan seseorang dalam menggunakan dua bahasa atau lebih seringkali mempengaruhi sikap seseorang itu terhadap sebuah bahasa. Hal ini karena setiap penutur tentu memiliki pengetahuan, pandangan, dan kecenderungan tersendiri terhadap sebuah bahasa. Sikap seseorang terhadap sebuah bahasa dapat dinyatakan dengan sikap negatif atau sikap positif (Purwanto dalam Wawan dan Dewi, 2011). Sikap yang positif memiliki kecenderungan untuk mendekati, menyenangi, dan mengharapkan objek tertentu. Sementara itu, sikap negatif memiliki kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci dan tidak menyukai objek tertentu.

Menurut Anderson (Chaer dan Agustina, 2004:151), sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenai bahasa dan objek bahasa, yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya. Berkaitan dengan definisi sikap bahasa tersebut, kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk, terutama berkaitan dengan bahasanya, memungkinkan kelompok masyarakat atau seorang penutur memiliki sikap tertentu, baik terhadap bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Sikap bahasa yang muncul terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah juga dapat berupa sikap negatif atau sikap positif.

Menurut Sugiyono dan Sasangka (dalam Winarti, 2015), seseorang dianggap bersikap positif terhadap sebuah bahasa apabila orang itu mempunyai kemampuan yang baik terhadap bahasa itu, mempunyai impresi yang baik, masih menggunakan bahasa itu dalam berbagai ranah, dan mampu menurunkan penggunaan bahasa itu kepada generasi di bawahnya. Hal ini berarti ketika

(27)

seseorang memiliki sikap yang positif terhadap sebuah bahasa, seseorang itu memiliki kemampuan yang baik dan mau menggunakan bahasa tersebut dalam berbagai kesempatan.

Dalam masyarakat Indonesia yang bilingual atau multilingual, ada kecenderungan bahwa sikap seorang penutur terhadap bahasa daerah lebih positif apabila dibandingkan sikap penutur terhadap bahasa Indonesia atau bahkan sebaliknya. Kenyataan seperti ini dapat dilihat dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh para peneliti lainnya yang berkaitan dengan sikap bahasa. Tentu saja, kondisi yang demikian, dapat menyebabkan semakin tersingkirnya suatu bahasa dibandingkan dengan bahasa lainnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, dapat dikatakan pula bahwa sikap bahasa seorang penutur atau kelompok penutur juga berpengaruh terhadap adanya pemertahanan bahasa atau pergeseran bahasa. Berdasarkan data dari Ethnologue (2017), bahasa-bahasa yang hidup di wilayah Indonesia berjumlah 719. Namun, saat ini hanya ada 707 bahasa yang masih hidup, sedangkan 12 bahasa sudah punah. Selain itu, berdasarkan data yang diperoleh pula, sebanyak 272 mengalami masalah dan 76 bahasa terancam punah. Kondisi yang mengkhawatirkan ini tentu dapat dicegah apabila setiap penutur bahasa memiliki sikap yang positif terhadap bahasanya.

Dalam kegiatan berbahasa, tidak hanya sikap seorang penutur terhadap suatu bahasa yang berbeda, tetapi juga seringkali terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini seperti diungkapkan oleh Munjin (2008) dalam penelitiannya. Menurut Munjin, perbedaan bahasa antara laki-laki dan perempuan

(28)

tidak hanya terletak pada perbedaan suara, pemakaian gramatika, dan pemilihan kata, tetapi juga pada cara penyampaiannya. Sementara itu, dalam penelitiannya, Hidayat (2014) juga menyampaikan bahwa perempuan dan laki-laki menggunakan bahasa Indonesia secara berbeda, baik dalam pembentukan kalimat maupun dalam pilihan konjungsi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki menggunakan bahasa yang berbeda.

Kondisi penduduk Indonesia yang majemuk ternyata tidak hanya terjadi secara luas, tetapi kondisi yang demikian terjadi pula di Universitas Sanata Dharma. Setiap tahunnya, ribuan mahasiswa dari berbagai daerah yang ada di Indonesia datang ke Universitas Sanata Dharma untuk melanjutkan studi. Oleh karena itu, kondisi mahasiswa Universitas Sanata Dharma bisa dikatakan menjadi sangat majemuk. Mahasiswa dari berbagai suku dapat dijumpai dengan mudah di Universitas Sanata Dharma, seperti suku Jawa, suku Dayak, suku Batak, suku yang berasal dari daerah Papua, dan sebagainya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kondisi mahasiswa di Universitas Sanata Dharma multietnik dan multibahasa.

Kondisi yang demikian, sebenarnya memungkinkan adanya pemilihan penggunaan bahasa dalam situasi tertentu. Tentu saja, karena dalam ranah universitas, penggunaan bahasa Indonesia akan lebih dianggap penting dan paling sering dijumpai dalam kegiatan berbahasa mahasiswa. Kondisi yang demikian, dapat menyebabkan adanya perubahan sikap bahasa mahasiswa terhadap bahasa daerahnya. Namun, sayangnya, ada kecenderungan perubahan sikap lebih ke arah yang negatif dibandingkan positif (Mbete, 2003:133). Sementara itu, saat ini tidak

(29)

dipungkiri bahasa asing juga sudah banyak digunakan oleh berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Oleh karena itu, ada kemungkinan pula munculnya sikap negatif mahasiswa terhadap bahasa Indonesia.

Pembahasan mengenai bahasa sangatlah luas, termasuk pula sikap bahasa. Pertanyaan mengenai bahasa dan sikap bahasa yang hendak dikaji sangatlah lumrah. Oleh karena itu, berkaitan dengan penelitian ini, yang hendak dikaji oleh peneliti adalah sikap terhadap bahasa secara keseluruhan. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Thomas dan Wareing (2007:293), sikap terhadap bahasa secara keseluruhan mengacu pada bahasa mana yang dianggap lebih cocok digunakan untuk membicarakan topik tertentu daripada topik lain atau mana bahasa yang dianggap lebih menyenangkan secara estetik daripada bahasa lain, atau sikap-sikap lain terhadap bahasa dalam kaitannya dengan identitas sosial dan budaya mereka. Situasi yang seperti ini umumnya terjadi dalam masyarakat yang bilingual dan multilingual. Dengan demikian, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki dan Perempuan

FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah: Kajian Sosiolinguistik”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, ada tiga rumusan masalah dalam penelitian ini. Ketiga rumusan masalah itu adalah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah sikap bahasa mahasiswa laki-laki FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah?

(30)

2. Bagaimanakah sikap bahasa mahasiswa perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap bahasa Indonesia dan daerah?

3. Adakah perbedaan antara sikap bahasa mahasiswa laki-laki dan perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma terhadap bahasa Indonesia dan daerah?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, ada tiga tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini. Ketiga tujuan tersebut dirumuskan sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan sikap bahasa mahasiswa laki-laki FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap bahasa Indonesia dan daerah.

2. Mendeskripsikan sikap bahasa mahasiswa perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap bahasa Indonesia dan daerah.

3. Mendeskripsikan perbedaan antara sikap bahasa mahasiswa laki-laki dan perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap bahasa Indonesia dan daerah.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan penelitian ini, berupa manfaat teoretis dan manfaat praktis yang akan dipaparkan sebagai berikut.

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam bidang ilmu sosiolinguistik, terutama dalam penggunaan bahasa dan sikap bahasa

(31)

mahasiswa terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai referensi yang berkaitan dengan sikap bahasa.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai alat evaluasi sikap bahasa mahasiswa, baik terhadap bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Dengan mengetahui sikap bahasa mahasiswa tersebut diharapkan dapat dilakukan upaya-upaya dalam rangka pengembangan dan pembinaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitian dibatasi oleh peneliti karena adanya beberapa keterbatasan. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah adanya pembatasan fokus penelitian dan pembatasan populasi dalam penelitian. Fokus penelitian ini adalah sikap bahasa mahasiswa laki-laki dan perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Namun, pembatasan yang dilakukan berupa sikap bahasa mahasiswa laki-laki dan perempuan FKIP Universitas Sanata Dharma terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam lingkup kampus. Hal ini dilakukan agar fokus penelitian menjadi lebih jelas. Sementara itu, yang menjadi populasi adalah mahasiswa S1 FKIP di Universitas Sanata Dharma angkatan 2014-2016. Pembatasan populasi ini disebabkan oleh adanya asumsi bahwa mahasiswa dengan angkatan sebelumnya sudah mengambil mata kuliah penulisan skripsi. Oleh karena itu, populasi dibatasi

(32)

pada mahasiswa dengan angkatan yang masih mengikuti kegiatan perkuliahan di kelas.

1.6 Sistematika Penyajian

Tesis ini terdiri dari lima bab. Bab I memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, dan sistematika penyajian.

Bab II berisi kajian teori, kerangka berpikir, dan hipotesis yang akan digunakan dalam penelitian ini. Pada bagian kajian teori, akan dipaparkan berbagai teori yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Sementara itu, pada bagian kerangka berpikir, akan diuraikan alur kerangka berpikir peneliti terkait dengan penelitian sikap bahasa mahasiswa laki-laki dan perempuan di FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Bab III berisi metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Dalam bab ini, akan dipaparkan mengenai pendekatan dan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengambilan sampel, instrumen penelitian, pengujian instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data penelitian.

Bab IV berisi hasil penelitian dan pembahasan. Dalam bab ini, akan dipaparkan mengenai deskripsi data, analisis data, dan pembahasan. Pada bagian deskripsi data, peneliti akan memaparkan dua hal, yaitu responden yang digunakan dalam penelitian ini dan data mengenai sikap bahasa. Pada bagian analisis data, peneliti akan memaparkan hasil analisis sikap bahasa mahasiswa laki terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah, hasil analisis sikap bahasa

(33)

mahasiswa perempuan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah, dan analisis perbedaan sikap bahasa mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Sementara itu, pada bagian pembahasan, peneliti akan membahas hasil penelitian secara keseluruhan yang akan dikaitkan dengan teori dan hasil penelitian yang relevan.

Bab V merupakan bagian penutup. Dalam bab ini, peneliti akan memaparkan kesimpulan secara keseluruhan dan penelitian ini dan keterbatasan penelitian. Selain itu, peneliti juga akan memberikan saran kepada pihak-pihak terkait dan peneliti selanjutnya yang akan meneliti sikap bahasa.

(34)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam tinjauan pustaka ini, peneliti akan membahas mengenai sosiolinguistik, bahasa, sikap bahasa, perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan, pergeseran bahasa, pemertahanan bahasa, dan kondisi kebahasaan di Universitas Sanata Dharma. Hal-hal tersebut akan dijabarkan sebagai berikut.

2.1 Sosiolinguistik

Sosiolinguistik merupakan salah satu ilmu interdisipliner. Dalam hal ini, sosiolinguistik merupakan gabungan antara ilmu sosiologi dan linguistik (Chaer dan Agustina, 2004:1). Berkaitan dengan hal ini, ada banyak ahli yang mendefinisikan tentang sosiolinguistik. Menurut Sumarsono dan Partana (2002:1), sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan. Sementara itu, menurut Fishman (dalam Sumarsono, dan Partana, 2002:2), sosiolinguistik menyoroti keseluruhan masalah yang berhubungan dengan organisasi sosial perilaku bahasa, tidak hanya mencakup pemakaian bahasa saja, tetapi juga sikap-sikap bahasa, perilaku terhadap bahasa dan pemakai bahasa.

Menurut Padmadewi, dkk. (2014:1), sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari tentang bahasa dan orang-orang yang memakai bahasa itu. Sementara itu, menurut Chaer dan Agustina (2004:2), sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam suatu masyarakat.

(35)

Menurut Nababan (1984:2), sosiolinguistik adalah studi atau pembahasan mengenai bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Masalah-masalah utama yang dikaji dalam sosiolinguistik adalah mengkaji bahasa dalam konteks sosial dan kebudayaan; menghubungkan faktor-faktor kebahasaan, ciri-ciri, dan ragam bahasa dengan situasi serta faktor-faktor-faktor-faktor sosial dan budaya; dan mengkaji fungsi-fungsi sosial dan penggunaan bahasa dalam masyarakat. Sementara itu, topik-topik umum dalam pembahasan sosiolinguistik adalah bahasa, dialek, idiolek, dan ragam bahasa; repertoar bahasa; masyarakat bahasa; kedwibahasaan dan kegandabahasaan; fungsi kemasyarakatan bahasa dan profil sosiolinguistik; penggunaan bahasa (etnografi berbahasa); sikap bahasa; perencanaan bahasa; interaksi sosiolinguistik; dan bahasa serta kebudayaan (Nababan, 1984:3).

Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa seperti dalam bidang linguistik umum, tetapi dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat (Chaer dan Agustina, 2004:3). Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai tingkah laku sosial yang dipakai di dalam komunikasi. Hal ini karena masyarakat itu terdiri dari individu-individu, masyarakat secara keseluruhan dan individu-individu itu saling mempengaruhi dan saling bergantung. Bahasa sebagai milik masyarakat juga tersimpan dalam diri masing-masing individu. Setiap individu dapat bertingkah laku dalam wujud bahasa dan tingkah laku bahasa individual ini dapat berpengaruh luas pada anggota masyarakat bahasa yang lain (Sumarsono dan Partana, 2002:19).

(36)

Berdasarkan definisi-definisi dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari suatu bahasa yang dikaitkan dengan penutur-penutur bahasa itu sebagai masyarakat. Berkaitan dengan penelitian ini, dapat dikatakan bahwa penelitian ini termasuk ke dalam kajian ilmu sosiolinguistik. Hal ini karena penelitian ini mengkaji tentang sikap bahasa. Menurut Nababan (1984:2), sikap bahasa termasuk ke dalam salah satu kajian sosiolinguistik.

Topik tentang sikap bahasa dibahas dalam kaitannya dengan motivasi belajar suatu bahasa, terlebih dalam belajar bahasa kedua, yaitu yang dipergunakan secara umum dalam masyarakat, dan belajar bahasa asing. Sikap bahasa juga berperan kuat dalam peralihan bahasa (language shift) dan usaha mempertahankan serta membina suatu bahasa oleh penutur-penuturnya, khususnya dalam perpindahan tempat (emigrasi atau transmigrasi) (Nababan, 1984:7).

2.2 Bahasa

Bangsa Indonesia memang dikenal sebagai salah satu bangsa yang memiliki keragaman budaya dan bahasa. Selain bahasa Indonesia, bangsa Indonesia juga memiliki ratusan bahasa daerah. Kondisi yang demikian dapat membentuk masyarakat yang bilingual. Bahkan, dalam kondisi tertentu dapat membentuk masyarakat yang multilingual. Dalam kondisi masyarakat yang seperti ini, terdapat pola yang mampu menunjukkan kedudukan dan fungsi bahasa dalam repertoar bahasa masyarakat tersebut. Di Indonesia, repertoar ini biasanya terdiri dari bahasa Indonesia dan bahasa daerah, sehingga muncul adanya

(37)

penggunaan bahasa pada ranah-ranah tertentu (Siregar, dkk, 1998:1). Oleh karena itu, pada bagian ini, akan dipaparkan mengenai bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang menjadi kajian dalam penelitian ini.

2.2.1 Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia dianggap sangat membantu dalam menyatukan pikiran dan langkah seluruh masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa (Ikram, 2009:8). Bagi bangsa Indonesia, bahasa Indonesia juga berfungsi untuk mempersatukan berbagai suku yang ada di wilayah Indonesia. Setiap suku bangsa yang menjunjung nilai adat dan bahasa daerahnya disatukan dan disamakan derajatnya dalam bahasa Indonesia (Syahroni, dkk, 2013:9). Sejauh ini, bahasa Indonesia memang telah terbukti menyatukan dan merekatkan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa (Mbete, 2003:134).

Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Indonesia dapat membantu komunikasi dalam masyarakat yang memiliki latar belakang bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia menjadi solusi bagi daerah-daerah yang masyarakatnya memiliki keberagaman suku dan bahasa. Dengan adanya bahasa Indonesia tentu tak menjadi soal untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berasal dari berbagai suku di Indonesia. Hal ini tentu saja dapat membantu untuk menjaga hubungan antarsuku yang ada di Indonesia, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman (Syahroni, dkk, 2013:10).

Meskipun penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat memang menunjukkan perkembangan yang semakin pesat dan semakin meluas, nyatanya masih banyak masyarakat Indonesia memiliki mutu yang rendah dalam

(38)

hal penguasaan dan pemakaian bahasa Indonesia (Mbete, 2003:134). Tentu saja, hal ini patut menjadi perhatian untuk pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia selanjutnya.

Kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki mutu rendah dalam hal penguasaan dan pemakaian bahasa Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kecenderungan hilangnya rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Terlebih dalam perkembangan zaman yang semakin modern, muncul kecenderungan bahwa masyarakat Indonesia merasa lebih senang, lebih terhormat, dan merasa lebih intelek ketika berbicara menggunakan bahasa asing. Banyak orang lebih senang menggunakan kata-kata dalam bahasa asing, meskipun sebenarnya sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Kondisi yang demikian tentu saja menghambat perkembangan bahasa Indonesia (Marsudi, 2015:99).

Saat ini, ada kecenderungan pula bahwa para orang tua merasa lebih senang dan lebih bangga ketika anak-anaknya lancar menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Contoh lainnya adalah banyak pejabat pemerintah yang lebih suka dan bangga ketika menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk menyampaikan pendapatnya. Hal-hal semacam ini menunjukkan bahwa pengajaran, pembinaan, dan pengembangan bahasa Indonesia kurang berpengaruh terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Selain itu, kondisi yang demikian juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia masih dianggap kurang memiliki

(39)

prestise bagi masyarakat Indonesia dibandingkan dengan bahasa asing (Marsudi, 2015:95-96).

Kondisi bahasa Indonesia yang demikian juga terjadi dalam lingkup akademis di perguruan tinggi. Penggunaan bahasa Indonesia yang tidak cermat dalam berbagai aspek kebahasaan mengindikasikan adanya kecenderungan kurangnya rasa bangga dan rendahnya penguasaan dan pemakaian bahasa Indonesia (Muti’ah, 2017:485). Kondisi yang demikian juga menyebabkan kendala dalam pengembangan bahasa Indonesia. Menurut Suwardjono (dalam Muti’ah, 2017:486), ada berbagai faktor yang diduga menjadi kendala dalam pengembangan bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut.

1. Sebagian besar orang dalam dunia akademik belajar bahasa Indonesia secara alamiah dan lebih mengandalkan selera bahasa daripada penalaran bahasa. 2. Bahasa Indonesia harus bersaing dengan bahasa asing, terutama bahasa

Inggris.

3. Buku-buku referensi yang digunakan, terutama di perguruan tinggi, banyak yang ditulis dalam bahasa Inggris, sehingga peserta didik dituntut untuk menguasai bahasa Inggris.

4. Kalangan akademisi seringkali merasa tidak perlu untuk mempelajari bahasa Indonesia.

5. Beberapa kalangan masyarakat, termasuk kalangan profesional, sering bersikap sinis terhadap upaya pembinaan dan pengembangan bahasa.

6. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar belum menjadi suatu kebanggaan.

(40)

Berbagai permasalahan dalam bahasa Indonesia di atas menunjukkan bahwa memang ada indikasi bahwa sikap masyarakat terhadap bahasa Indonesia belum dapat dikatakan positif. Penutur yang memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia akan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yakni bahasa yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Selain itu juga, penutur yang memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia tentunya akan bangga dan setia terhadap bahasa Indonesia (Muti’ah, 2017:478).

Bahasa Indonesia tidak dapat dikatakan ada kemantapan kedudukan atau fungsinya selama sikap penutur bahasa Indonesia terhadap bahasa Indonesia belum positif. Kemantapan bahasa sangat bergantung pada sikap positif, sehingga usaha pemantapan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia seharusnya dirintis dari pembentukan sikap penutur bahasa Indonesia dengan menanamkan rasa bangga, setia, hormat dan kesadaran terhadap bahasanya (Adisumarto, 1992:510). Selain itu, pemeliharaan, pembinaan, dan pengembangan bahasa Indonesia pada dasarnya bersentuhan langsung dengan sikap bahasa dan menjadi tanggung jawab semua komponen bangsa. Pembinaan dan pengembangan bahasa akan berjalan dengan baik apabila dilandasi dengan sikap positif (Muti’ah, 2017:483).

2.2.2 Bahasa Daerah

Bangsa Indonesia memang dikenal sebagai bangsa yang multikultur dan multibahasa. Bangsa Indonesia memang memiliki satu bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia. Keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tidak terlepas dari adanya bahasa-bahasa daerah yang menjadi penopang dari bahasa

(41)

Indonesia itu sendiri. Namun, bahasa-bahasa daerah yang ada di seluruh Indonesia memang tidak terdistribusi secara merata. Hal ini terlihat dari jumlah bahasa yang justru semakin ke timur, semakin banyak pula jumlahnya (Ikram, dkk, 2009:49).

Seperti yang telah dipaparkan di awal, bangsa Indonesia memiliki sekitar 707 bahasa daerah yang masih hidup. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman budaya dan bahasa yang ada memang sebaiknya dianggap sebagai sebuah kekuatan bangsa. Semakin banyak bahasa yang dikuasai oleh seorang penutur, semakin luas pula cakrawala penutur tersebut dalam memahami kenyataan yang ada di dunia ini. Dengan demikian, memang dapat dikatakan bahwa kondisi bangsa Indonesia yang majemuk sebenarnya dapat membantu generasi bangsa untuk mendapatkan gambaran hidup yang lebih komprehensif (Ikram, dkk, 2009:1).

Bahasa daerah merupakan salah satu bentuk kekayaan lokal bangsa Indonesia. Bahasa daerah juga merupakan bagian dari budaya daerah yang memiliki kedudukan tinggi dan merupakan kebudayaan nasional. Bahasa daerah harus dilestarikan, dijaga, dilindungi dari kepunahan, dan difungsikan sebagai pilar kebudayaan nasional. Dalam hal ini, bahasa daerah juga turut membentuk identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultural (Santosa dan Jaruki, 2016:13). Oleh karena itu, sudah seharusnya bahasa daerah dipelihara oleh negara karena dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia (Bawa, 2003:333).

Bahasa daerah yang dipelihara oleh pemiliknya seharusnya tetap dijadikan sebagai jati diri dan sarana komunikasi utama dalam lingkup lokal oleh para pemilik asli dan penutur asli bahasa daerah tersebut. Hal ini merupakan salah satu

(42)

tuntutan budaya pada era global dengan tetap mempertahankan kepentingan nasional dan lokal (Mbete, 2003:139). Apabila pemilik dan penutur asli bahasa daerah sadar akan pentingnya fungsi bahasa daerah, memang perlu diupayakan peningkatan mutu dan pemakaian bahasa daerah yang mencakup upaya peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa daerah melalui jalur formal (pendidikan dan pengajaran di sekolah) dan jalur informal dengan memfungsikan bahasa daerah dalam kehidupan masyarakat sehari-hari (Wahab, 2003:155). Dengan demikian, memang sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk memelihara dan mempertahankan bahasa daerah untuk menjaga kekayaan bangsa Indonesia (Djamareng dan Jufriadi, 2016:80).

Pada kenyataannya, saat ini, tidak banyak bahasa daerah yang mampu bertahan pada era globalisasi. Hal ini dapat terlihat dari jumlah penutur bahasa daerah yang semakin lama semakin berkurang. Menurut Ikram, dkk. (2009:5), faktor utama yang dianggap sebagai penyebabnya adalah terhambatnya proses pewarisan bahasa ibu dari pihak orang tua ke pihak anak. Menurut Djamareng dan Jufriadi (2016:80), fenomena yang terjadi sekarang ini adalah kebanyakan anak sangat jarang yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibunya. Kondisi ini terjadi karena orang tua tidak lagi menekankan penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga. Terlebih lagi, sebagian besar anak Indonesia yang tinggal di kota-kota besar, yang berasal dari keluarga dwisuku, dan yang berpendidikan relatif tinggi sudah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu (Mbete, 2003:133).

(43)

Sejalan dengan pendapat di atas, menurut Rahmawati (2015), saat ini banyak keluarga yang tidak lagi menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi yang utama. Masyarakat cenderung lebih menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah dengan alasan bahasa Indonesia lebih berprestise dan terlihat lebih modern. Sikap bahasa yang semacam ini umumnya lebih ditunjukkan oleh generasi muda. Lunturnya rasa kebanggaan dan kesetiaan terhadap bahasa daerah menyebabkan tidak adanya kemauan dan motivasi untuk mempelajari bahasa daerah. Hal ini menyebabkan anak-anak muda tidak dapat berbicara dalam bahasa daerah, terutama yang tinggal di daerah perkotaan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Djamareng dan Jufriadi (2016:89), meskipun sikap bahasa orang tua terhadap penggunaan bahasa Luwu menunjukkan hasil yang positif, kondisi ini tidak mempengaruhi keinginan mereka untuk menggunakan bahasa tersebut ketika berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Sebaliknya, para orang tua lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anak-anaknya. Alasan para orang tua menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anak-anaknya karena dianggap lebih mudah dimengerti oleh anak dan anak sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Terlebih lagi, ketika bergaul anak-anak itu memang menggunakan bahasa Indonesia, meskipun ada dialek Palopo yang digabungkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa sikap positif orang tua tersebut tidak mendukung penggunaan bahasa daerah dalam ranah keluarganya.

(44)

Faktor selanjutnya adalah sikap bahasa masyarakat Indonesia terhadap bahasa daerah itu sendiri. Sebagian orang menganggap bahwa bahasa daerah merupakan bahasa yang kurang fleksibel atau kurang mengikuti perkembangan zaman atau dianggap sebagai suatu keterbelakangan. Saat ini, banyak orang yang kurang merasa bangga jika menggunakan bahasa daerah dengan anggapan bahwa bahasa daerah merupakan bahasa nenek moyang yang kuno. Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa lain agar terlihat modern dan berpendidikan (Rohulloh, 2017:696). Selain itu, mereka juga umumnya lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa asing dibandingkan berbicara dalam bahasa daerah, sehingga membuat bahasa daerah mereka tidak lagi tertata (Muhammad, dkk, 2015).

Menurut Mbete (2003:137), saat ini banyak generasi muda yang berpendidikan tinggi dan tingkat mobilitasnya tinggi sudah tidak mampu lagi berbicara dan berdialog dalam bahasa daerah dengan generasi yang lebih tua. Selain itu, banyak pula generasi muda yang merasa malu, tidak percaya, dan tidak mampu lagi menggunakan bahasa daerahnya. Tentu saja, hal ini merupakan berita yang tidak menggembirakan. Nyatanya, berdasarkan pemaparan tersebut, aspek sikap benar-benar berpengaruh bagi keberlangsungan hidup suatu bahasa. Yang disampaikan oleh Mbete di atas bahwa generasi muda merasa malu, tidak percaya, dan tidak mampu lagi menggunakan bahasa daerahnya merujuk pada aspek sikap, yaitu afektif, konatif, dan kognitif. Sayangnya, aspek sikap yang muncul dalam hal ini adalah aspek negatif.

(45)

Menurut Ikram, dkk. (2009:7), idealnya, seorang anak di Indonesia menguasai tiga buah bahasa sekaligus, yaitu bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Bahasa daerah merupakan pembentuk kepribadian dan penanda jati diri. Bahasa Indonesia digunakan untuk berinteraksi pada tataran nasional di segala bidang. Sementara itu, bahasa asing digunakan untuk berkiprah secara profesional pada segala bidang di kalangan internasional. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa upaya pembinaan dan pengembangan, baik bahasa daerah, bahasa Indonesia, maupun bahasa asing memang perlu dilakukan. Salah satunya adalah melalui pembinaan dan pengembangan sikap para penuturnya terhadap setiap bahasa tersebut.

Faktor lainnya adalah adanya demografi penduduk yang heterogen sehingga menyebabkan penduduk lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dengan berbagai suku yang ada (Djamareng dan Jufriadi, 2016:81). Dalam hal ini, umumnya suatu daerah yang memiliki struktur masyarakat yang multietnis cenderung akan menggunakan satu bahasa (bahasa nasional) sebagai alat interaksi di antara masyarakat yang berasal dari berbagai macam suku sehingga mengurangi tingkat penggunaan bahasa daerah masing-masing secara konstan. Dalam hal ini, bahasa Indonesia lebih banyak dipilih oleh masyarakat yang heterogen karena adanya faktor kemudahan dalam berkomunikasi (Muhammad, dkk, 2015).

Faktor migrasi juga turut mempengaruhi penggunaan bahasa daerah dalam masyarakat. Umumnya, ketika suatu etnik pindah ke daerah yang baru, mereka akan menjadi kelompok minoritas di tempat tersebut. Secara normal, mereka

(46)

dapat beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat setempat agar mereka dapat diterima menjadi bagian dari penduduk asli tersebut. Jika mereka dapat hidup berdampingan dengan penduduk asli, tidak dapat dimungkiri bahwa mereka secara tidak sadar akan mengadopsi bahasa yang dituturkan oleh penduduk lokal. Sebagai akibat, di satu sisi mereka tetap menuturkan bahasa ibunya, sedangkan di sisi lain mereka juga menuturkan bahasa lokal sebagai bahasa yang baru. Kondisi yang demikian tidak dapat dihindari sebagai pengaruh adanya migrasi dan akulturasi dua bahasa (Djamareng dan Jufriadi, 2016:81). Selain itu, karena berbagai hal, seperti mobilitas dan faktor waktu, bisa membuat seorang penutur mengalami krisis loyalitas dan menjadi lupa terhadap bahasa daerahnya sebagai identitas asal (Muslihah, 2015:302).

Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap bahasa daerah yang justru memperparah kondisi ini juga menjadi salah satu faktornya. Dari segi jalur pendidikan, hanya sedikit bahasa daerah yang diajarkan di bangku-bangku sekolah. Bahasa-bahasa daerah yang diajarkan di jenjang pendidikan formal antara lain, bahasa Aceh dan Gayo di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam; bahasa Batak (Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun, Karo); bahasa Melayu di Provinsi Sumatera Utara; bahasa Rejang di Provinsi Bengkulu; bahasa Lampung di Provinsi Lampung; bahasa Sunda di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah; dialek Cirebon dan Indramayu di Provinsi Jawa Barat; bahasa Jawa di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur; bahasa Madura di Jawa Timur; bahasa Dayak (Simpang dan Kanayatan) di Provinsi Kalimantan Barat; bahasa Banjar dan bahasa Kutai di Provinsi Kalimantan Timur;

(47)

bahasa Tombulu, Tonsawang, dan Mongondow di Provinsi Sulawesi Utara; bahasa Bugis, Makasar, Mandar, dan Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan; bahasa Tolaki, Muna, dan Walio di Provinsi Sulawesi Tenggara; dan bahasa Bali di Provinsi Bali. Sementara itu, bahasa-bahasa daerah kecil lainnya yang ada di wilayah tersebut tidak diajarkan (Mbete, 2003:135).

Pengajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah tentunya sangat membantu bahasa daerah dari ketertinggalan di tengah era globalisasi ini. Hal ini patut dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi bahasa-bahasa yang punah dan semakin terjepit oleh desakan bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Menurut Grossweiler (dalam Wahab, 2003:161), ada beberapa faktor yang menyebabkan berkurangnya penggunaan bahasa daerah, yaitu adanya upaya pemupukan rasa nasionalisme yang melupakan bahasa daerah. Selain itu, faktor-faktor lainnya adalah orang tua mempunyai anggapan bahwa pendidikan bilingual menjadi penghalang proses pendidikan anak; tidak ada lembaga daerah yang aktif menanggulangi menurunnya bahasa daerah; program penerbitan buku dan kursus bahasa daerah yang sulit didapat; belum ada usaha menyesuaikan bahasa daerah dengan kebutuhan modern; tidak ada upaya para sesepuh yang mendorong pemakaian bahasa daerah meski penggunaan bahasa daerah itu jelek; belum ada upaya memupuk budaya multibahasa yang memberi kebebasan, bahkan peranan-peranan bahasa daerah; dan belum tampak adanya jaringan kerja serta koordinasi di antara sesama forum peduli perkembangan bahasa daerah. Tentu saja, faktor-faktor di atas patut dipertimbangkan agar bahasa-bahasa daerah yang ada tetap hidup di tengah-tengah masyarakat.

(48)

Berdasarkan pemaparan di atas, memang apa yang dikatakan oleh Mbete (2003:135) bahwa pembagian ranah antara bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing memang sangat penting untuk dilakukan. Selain itu pula, pendapat dari Wahab (2003:166) juga patut dipertimbangkan bahwa memang diperlukan upaya peningkatan mutu dalam pemakaian bahasa daerah, baik sikap, pengetahuan maupun keterampilan melalui jalur formal dan informal. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya yang sinergis antara pemerintah dan kelompok penutur, agar bahasa-bahasa daerah yang ada tidak punah. Pemerintah juga perlu menyiapkan wadah untuk membantu pemeliharaan bahasa-bahasa daerah tersebut (Mbete, 2003:141).

2.3 Sikap Bahasa

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Kemajemukan masyarakat Indonesia ini dapat dilihat dari berbagai aspek. Salah satu aspek itu adalah bahasa. Kondisi bahasa yang ada di Indonesia sendiri sangat beraneka ragam. Seperti yang telah dipaparkan pada bagian latar belakang, berdasarkan data dari BPS (2011), ada sekitar 707 jenis bahasa daerah yang ada di wilayah Indonesia. Kondisi yang demikian memungkinkan penutur di Indonesia menjadi seorang bilingual, bahkan multilingual. Kondisi bahasa yang beraneka ragam ini sudah seharusnya menjadi kekuatan bagi masyarakat Indonesia. Karena dengan beranekaragamnya bahasa yang ada di Indonesia, seorang penutur memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang hidupnya (Ikram, dkk, 2009:1).

(49)

Pada masyarakat yang bilingual atau multilingual ini, permasalahan yang sering terjadi, antara lain kapan seorang penutur menggunakan bahasa yang dikuasainya secara bergantian dan sejauh mana bahasa-bahasa yang dikuasainya itu saling mempengaruhi (baik B1 ke B2 maupun sebaliknya). Permasalahan kapan seorang penutur menggunakan bahasa yang dikuasainya secara bergantian menyangkut masalah fungsi bahasa atau fungsi ragam bahasa tersebut. Hal ini menyangkut masalah pokok dalam sosiolinguistik, yaitu siapa yang berbicara, bahasa apa yang digunakan, kepada siapa, kapan, dan tujuannya apa. Sementara itu, permasalahan sejauh mana bahasa-bahasa yang dikuasai itu saling mempengaruhi menyangkut masalah kefasihan dalam menggunakan bahasa-bahasa tersebut dan kesempatan untuk menggunakan bahasa-bahasa-bahasa-bahasa tersebut (Chaer dan Agustina, 2004:90).

Kondisi masyarakat yang bilingual atau multilingual semakin terlihat bersamaan dengan adanya proses urbanisasi. Proses urbanisasi ini dapat memicu adanya bilingualisme, tetapi di sisi lain juga dapat menyebabkan kehilangan bahasa dan proses akulturasi (Siregar, dkk, 1998:3). Fenomena seperti ini memungkinkan masyarakat atau seorang penutur memiliki sikap yang berbeda terhadap suatu bahasa dan bahasa lainnya. Hal ini dapat terlihat dari perilaku berbahasa masyarakat atau seorang penutur itu. Selain itu, kondisi yang demikian menyebabkan adanya interaksi sosiolinguistik yang menonjol di tengah-tengah masyarakat, yaitu interaksi dalam kelompok etnik sendiri dan interaksi dalam kelompok etnik yang berbeda. Kedua jenis interaksi ini dengan sendirinya akan

(50)

memberi kendala terhadap pola penggunaan bahasa dan sikap bahasa masyarakat tersebut.

Anderson (dalam Chaer dan Agustina, 2004:151) membagi sikap atas dua macam, yaitu sikap kebahasaan dan sikap nonkebahasaan, seperti sikap politik, sikap sosial, sikap estetis, dan sikap keagamaan. Kedua jenis sikap ini dapat menyangkut keyakinan atau kognisi mengenai bahasa. Oleh karena itu, menurut Anderson, sikap bahasa adalah tata keyakinan atau kognisi yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenai bahasa dan objek bahasa, yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya. Namun, karena sikap itu sendiri dapat berupa sikap positif dan negatif, sikap bahasa pun demikian.

Menurut Jendra (dalam Suandi, 2014:151), sikap bahasa adalah keadaan jiwa atau perasaan seseorang terhadap bahasanya sendiri atau bahasa orang lain. Sikap bahasa merupakan sikap penutur suatu bahasa terhadap bahasanya di tempat asalnya, di lingkungan masyarakatnya sendiri, dan sikap terhadap bahasanya ketika berinteraksi dengan orang lain baik di dalam maupun di luar daerah masyarakat bahasanya. Sikap bahasa dapat diamati melalui perilaku berbahasa atau perilaku tutur.

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, telah dikatakan bahwa sikap terdiri atas dua hal, yaitu sikap negatif dan sikap positif. Kondisi ini berlaku pula bagi sikap bahasa. Dalam sikap bahasa pun kedua aspek ini muncul dalam kaitannya dengan berbagai aspek linguistik. Menurut Thomas dan Wareing (2007:292), berbagai jenis masalah linguistik yang muncul dapat berupa sikap terhadap bahasa

(51)

secara keseluruhan, sikap terhadap varian-varian bahasa, sikap terhadap praktik wacana dan pilihan kata, sikap terhadap pengucapan dan aksen, atau terhadap apa pun dalam bahasa yang dianggap berbeda, baru atau berubah.

Dalam sikap terhadap bahasa secara keseluruhan, Fasold (dalam Thomas dan Wareing, 2007:292-293) telah menyajikan secara ringkas mengenai penelitian sikap bahasa. Berkaitan dengan hal ini, sikap bahasa secara keseluruhan berupa pandangan penutur bilingual atau multilingual terhadap bahasa mana yang dianggap lebih cocok digunakan untuk membicarakan topik tertentu daripada topik lain, atau mana bahasa yang dianggap lebih menyenangkan secara estetik daripada bahasa lain, atau sikap-sikap lain terhadap bahasa dalam kaitannya dengan identitas sosial dan budaya mereka.

Sikap bahasa menjadi salah satu faktor yang menentukan perkembangan suatu bahasa (Muti’ah, 2017:478). Sikap bahasa juga berpengaruh signifikan terhadap pemertahanan bahasa karena berkaitan erat dengan simbol identitas diri atau etnis suatu kelompok masyarakat. Ketika sekelompok masyarakat sangat menjunjung tinggi rasa kesukuannya, mereka cenderung menggunakan bahasa daerahnya sebagai simbol identitas diri (Djamareng dan Jufriadi, 2016:89). Selain itu, sikap bahasa juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam mempelajari sebuah bahasa.

Berkaitan dengan penelitian sikap bahasa, peneliti menemukan tiga penelitian sejenis yang terkait dengan topik penelitian ini. Penelitian pertama dilakukan oleh Sri Winarti (2015) yang berjudul “Sikap Bahasa Masyarakat di

Figur

Tabel 4.5 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir  Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia

Tabel 4.5

Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia p.17
Tabel 4.30 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir  Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah

Tabel 4.30

Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir Pernyataan Positif tentang Bahasa Daerah p.19
Tabel 3.7 Rangkuman Hasil Uji Validitas Pernyataan tentang Sikap  terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 3.7

Rangkuman Hasil Uji Validitas Pernyataan tentang Sikap terhadap Bahasa Indonesia p.95
Tabel 3.8 Rangkuman Hasil Uji Validitas Pernyataan tentang Sikap  terhadap Bahasa Daerah

Tabel 3.8

Rangkuman Hasil Uji Validitas Pernyataan tentang Sikap terhadap Bahasa Daerah p.97
Tabel 3.9 Uji Normalitas Data Kelompok Mahasiswa Laki-laki  Tests of Normality

Tabel 3.9

Uji Normalitas Data Kelompok Mahasiswa Laki-laki Tests of Normality p.101
Tabel 3.10 Uji Normalitas Data Kelompok Mahasiswa Perempuan  Tests of Normality

Tabel 3.10

Uji Normalitas Data Kelompok Mahasiswa Perempuan Tests of Normality p.102
Tabel 3.12 Skala Interval untuk Aspek Kognisi Bahasa Indonesia

Tabel 3.12

Skala Interval untuk Aspek Kognisi Bahasa Indonesia p.105
Tabel 3.13 Skala Interval untuk Aspek Afeksi Bahasa Indonesia

Tabel 3.13

Skala Interval untuk Aspek Afeksi Bahasa Indonesia p.106
Tabel 3.18 Skala Interval untuk Bahasa Indonesia

Tabel 3.18

Skala Interval untuk Bahasa Indonesia p.109
Gambar 4.1 Komposisi Responden Mahasiswa Laki-laki   pada Setiap Angkatan berdasarkan Program Studi

Gambar 4.1

Komposisi Responden Mahasiswa Laki-laki pada Setiap Angkatan berdasarkan Program Studi p.115
Gambar 4.2 Komposisi Responden Mahasiswa Perempuan   pada Setiap Angkatan berdasarkan Program Studi

Gambar 4.2

Komposisi Responden Mahasiswa Perempuan pada Setiap Angkatan berdasarkan Program Studi p.116
Tabel 4.5 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir  Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Kognisi  Butir  Pernyataan  Skala  Total 1 2 3 4  Jml  %  Jml  %  Jml  %  Jml  %  Jml  %  P9  5  5%  35  34,7%  50  49,5%  11  10,

Tabel 4.5

Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir Pernyataan Negatif tentang Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Kognisi Butir Pernyataan Skala Total 1 2 3 4 Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % P9 5 5% 35 34,7% 50 49,5% 11 10, p.130
Tabel 4.6 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Kognisi   Butir Pernyataan  Skor Rata-rata  Kategori

Tabel 4.6

Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Kognisi Butir Pernyataan Skor Rata-rata Kategori p.134
Tabel 4.7 Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 4.7

Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia p.136
Tabel 4.10 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Afeksi   Butir Pernyataan  Skor Rata-rata  Kategori

Tabel 4.10

Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Afeksi Butir Pernyataan Skor Rata-rata Kategori p.145
Tabel 4.11 Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 4.11

Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia p.147
Tabel 4.12 Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir  Pernyataan Positif tentang Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Konasi

Tabel 4.12

Frekuensi Respons Mahasiswa Laki-laki terhadap Butir Pernyataan Positif tentang Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Konasi p.148
Tabel 4.14 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Konasi   Butir Pernyataan  Nilai Rata-rata  Kategori

Tabel 4.14

Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Konasi Butir Pernyataan Nilai Rata-rata Kategori p.152
Tabel 4.15 Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 4.15

Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia p.153
Tabel 4.16 Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 4.16

Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Indonesia p.154
Tabel 4.17 Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir  Pernyataan Positif tentang Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Kognisi  Butir  Pernyataan  Skala  Total 4 3 2 1  Jml  %  Jml  %  Jml  %  Jml  %  Jml  %  P10  134  53%  108  42,7%  10  4%  1  0

Tabel 4.17

Frekuensi Respons Mahasiswa Perempuan terhadap Butir Pernyataan Positif tentang Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Kognisi Butir Pernyataan Skala Total 4 3 2 1 Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % P10 134 53% 108 42,7% 10 4% 1 0 p.157
Tabel 4.19 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan   terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Kognisi   Butir Pernyataan  Nilai Rata-rata  Kategori

Tabel 4.19

Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Kognisi Butir Pernyataan Nilai Rata-rata Kategori p.166
Tabel 4.20 Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Perempuan   terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 4.20

Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia p.168
Tabel 4.23 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan   terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Afeksi  Butir Pernyataan  Nilai Rata-rata  Kategori

Tabel 4.23

Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Afeksi Butir Pernyataan Nilai Rata-rata Kategori p.178
Tabel 4.24 Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa Perempuan   terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 4.24

Hasil Uji Statistik Aspek Afeksi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia p.179
Tabel 4.27 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan   terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Konasi   Butir Pernyataan  Skor Rata-rata  Kategori

Tabel 4.27

Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia berdasarkan Aspek Konasi Butir Pernyataan Skor Rata-rata Kategori p.184
Tabel 4.28 Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa Perempuan   terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 4.28

Hasil Uji Statistik Aspek Konasi Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia p.185
Tabel 4.29 Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan   terhadap Bahasa Indonesia

Tabel 4.29

Hasil Uji Statistik Sikap Bahasa Mahasiswa Perempuan terhadap Bahasa Indonesia p.186
Tabel 4.32 Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Daerah berdasarkan Aspek Kognisi   Butir Pernyataan  Skor Rata-rata  Kategori

Tabel 4.32

Kategori Sikap Bahasa Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Daerah berdasarkan Aspek Kognisi Butir Pernyataan Skor Rata-rata Kategori p.198
Tabel 4.33 Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki   terhadap Bahasa Daerah

Tabel 4.33

Hasil Uji Statistik Aspek Kognisi Mahasiswa Laki-laki terhadap Bahasa Daerah p.199

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :