• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : Eka Anggita Yuliati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh : Eka Anggita Yuliati"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA PERUBAHAN EKOSISTEM

ANALISA PERUBAHAN EKOSISTEM

DI PANTAI SURABAYA

DI PANTAI SURABAYA--SIDOARJO PASCA

SIDOARJO PASCA

PEMBANGUNAN JEMBATAN SURAMADU

PEMBANGUNAN JEMBATAN SURAMADU

DAN PERISTIWA LAPINDO

DAN PERISTIWA LAPINDO

DENGAN CITRA MULTITEMPORAL

DENGAN CITRA MULTITEMPORAL

Oleh :

Eka Anggita Yuliati

3506 100 030

Dosen Pembimbing :

1. Prof. Dr. Ir. Bangun Muljo Sukojo, DEA, DESS.

2. Dra. Dian Saptarini, MSc.

(2)

Latar Belakang

Pantai dan pesisir merupakan dua istilah yang

berbeda akan tetapi keduanya saling berkaitan dan

tidak

dapat

dipisahkan

karena

sama-sama

berhubungan dengan laut. Kedua kawasan ini masih

berhubungan dengan laut. Kedua kawasan ini masih

dipengaruhi adanya aktivitas di darat maupun di laut.

Sehingga, kawasan ini merupakan kawasan yang

dinamis dan cepat mengalami perubahan, terutama

berkaitan dengan ekosistem hutan mangrove.

(3)

L

A

T

A

R

B

JEMBATAN SURAMADU LUMPUR LAPINDO

E

L

A

K

A

N

G

EKOSISTEM MANGROVE

(4)

Latar Belakang

SPOT

4

Landsat 7

ETM+

(5)

RUMUSAN mASALAH

Bagaimana memperoleh informasi mengenai

perubahan

luasan

hutan

mangrove

dan

penutup lahan pantai Surabaya-Sidoarjo pasca

pembangunan

Jembatan

Suramadu

&

pembangunan

Jembatan

Suramadu

&

Peristiwa Lapindo (Lumpur Sidoarjo) dengan

menggunakan

formula NDVI

(6)

BATASAN mASALAH

 Wilayah studi adalah pantai Surabaya-Sidoarjo sesuai

dengan Peta LPI lembar 1608-01 (Gresik), 1608-02 (Kwanyar), dan 1608-03 (Pasuruan) terbitan Bakosurtanal.

 Penelitian yang dilakukan mengenai perubahan luasan

mangrove dan penutup lahan serta parameter fisik mangrove dan penutup lahan serta parameter fisik kimia daerah pantai Surabaya-Sidoarjo.

 Analisis perubahan luasan mangrove dan penutup

lahan adalah dengan cara membandingkan hasil tahun 2003, 2006, dan 2009 berdasar pada citra satelit yang menggunakan metode NDVI dan klasifikasi tak terbimbing (unsupervised).

 Hasil penelitian adalah peta penutup lahan dan peta

(7)

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Daerah penelitianterletak pada

7010’20” – 7036’00” LS & 112034’52” -112054’36” BT Lokasi Penelitian Dengan Batas-batas administrasi:

Utara : Selat Madura & Kab. Bangkalan

Selatan: Kab. Pasuruan

Timur : Selat Madura Barat : Kab. Gresik

(8)

Flowchart

Tahapan

Pengolahan Data

METODOLOGI

PENELITIAN

(9)

DATA & PERALATAN

SPOT 4 28 JUNI 2006 LANDSAT 7 ETM+ 22 MEI 2003 SPOT 4 21 JULI 2009

(10)

DATA & PERALATAN

DATA

Personal komputer (PC).

Printer Canon Pixma iP 1900

Software ER Mapper 7.0. Software Matlab R2007b. Software ArcView 3.3.

PERALATAN

Citra Orthorektifikasi path 118 row 065 Tanggal 17 Agustus 2000 Software ArcView 3.3. Software Autodesk Land Desktop 2004. Software MS.Word 2007. Software MS.Excel 2007. Software MS.Visio 2007 GPS Hand Held . Rollmeter, pHmeter, salinometer, dan thermometer.

(11)

Hasil dan ANALISA

((Koreksi

Koreksi Geometrik

Geometrik))

No Citra Satelit Nilai Tertinggi RMS Error Nilai Terendah RMS Error Nilai rata-rata RMS Error

1 Landsat 7 ETM+ tahun 2003 0.05 0.92 0.364 SPOT4 dgn K/J 297/364 2 SPOT4 dgn K/J 297/364 tahun 2006 0.40 0.02 0.158 3 SPOT4 dgn K/J 297/365 tahun 2006 0.82 0.11 0.379 4 SPOT4 dgn K/J 297/364 tahun 2009 0.6 0.08 0.313 5 SPOT4 dgn K/J 297/365 tahun 2009 0.83 0.07 0.48

(12)

Hasil dan ANALISA

(SoF)

Titik

Baseline

N ukuran : Jumlah Baseline x 3

N parameter : Jumlah titik x 3

N parameter : Jumlah titik x 3

(13)

Hasil dan ANALISA

(SoF)

Jumlah Titik : 24 Jumlah Baseline : 59 N ukuran : Jumlah Baseline x 3 = 177 177 N parameter: Jumlah Titik x 3 = 72 U: N ukuran – N parameter = 177 – 72 = 105 Besar SoF = 0.000081 Landsat 7 ETM+ tahun 2003

(14)

Hasil dan ANALISA

(SoF)

No Jenis Citra Perhitungan SoF

1 Landsat 7 ETM+ tahun 2003 0.000081 2 SPOT4 K/J 297/364 thn 2006 0.000597 3 SPOT4 K/J 297/365 thn 2006 0.000513 3 SPOT4 K/J 297/365 thn 2006 0.000513 4 SPOT4 K/J 297/364 thn 2009 0.000194 5 SPOT4 K/J 297/365 thn 2009 0.000493 Dari hasil perhitungan, nilai SoF yang didapatkan mendekati angka nol. Hal ini memenuhi nilai diberikan

yaitu mendekati angka nol, sehingga desain jaring SoF dianggap kuat (Abidin, 2000 dalam Masita, 2008).

(15)

Hasil dan ANALISA

Perubahan Penutup Lahan dan Luas Hutan Mangrove di Pantai Surabaya Sidoarjo

(16)

Tahun 2006-2009

Hasil dan ANALISA

Perubahan Penutup Lahan dan Luas Hutan Mangrove di Pantai Surabaya Sidoarjo

(17)

Hasil dan ANALISA

Komposisi Vegetasi Mangrove

Komposisi vegetasi mangrove pada daerah

penelitian ditemukan 12 jenis dari 6 family, yaitu

No Family Jenis (Nama Latin)

Jenis (Nama Lokal) 1 Sonneratiaceae

Sonneratia alba Pedada,Perepat, Bogem Sonneratia casiolaris Bogem, Perepat, Wahat

Merah

2 Meliaceae Xylocarpus muluccensis Nyiri Batu, Jombok 3 Myrsinaceae Aegiceras floridium Mange-kasihan

Aegiceras cornicullatum Teruntun,Gigi Gajah

4 Avicenniaceae,

Avicennia alba Api-api, Mangi-mangi Putih Avicennia marina Api-api putih, Sie-sie,

Pejapi

Avicennia oficinalis Api-api, Sia-sia Putih

5 Rhizophoraceae

Rhizopora apicullata Bakau Minyak, Bakau Puteh

Rhizopora mucronata Bangka itam, Bakau Korap, Lenggayong

Rhizopora stylosa Bako-kurap, Slindur, Tongke Besar 6 Euphorbiaceae Exoecaria agallocha Buta-Buta, Madengan,

(18)

Hasil dan ANALISA

Kondisi Fisik Kimia Lingkungan Mangrove Pantai Surabaya-Sidoarjo Stasiun Plot No Tipe Substrat pH

Air pH Tanah Salinitas (‰) Temperatur (°C) I (Tambak Wedi) 1 Liat 8 6.2 15 29.5 2 Liat 7 6.4 17 29.5 3 Liat 7 6.2 16 29 4 Liat 7 6.4 15 27.5 5 Lempung Liat Berpasir 8 6.3 25 30 6 Lempung Liat Berpasir 7 6.2 24 29.5 7 Lempung Liat Berdebu 8 4.5 15 34 8 Liat 8 4.5 9 35 II (Wonorejo) 8 Liat 8 4.5 9 35 9 Lempung Berpasir 7 4.7 11 35 10 Liat 7 4.9 10 35 11 Liat 7 4.9 5 33 12 Liat 7 4.9 5 31 13 Liat 8 4.8 20 33 14 Lempung Berliat 8 4.7 20 32 15 Liat 7 4.6 20 34 III (Porong) 16 Liat 7 5.5 5 32 17 Liat 7 5.7 5 33 18 Liat 7 5.8 20 34 19 Liat Berdebu 6 4.9 5 30 20 Liat Berdebu 6 4.9 5 33 21 Liat 6 4.9 5 32 22 Liat Berdebu 6 4.8 5 33 23 Lempung Liat Berdebu 6 4.7 5 32 24 Lempung Liat Berdebu 6 4.8 5 32

(19)

Hasil dan ANALISA

Kondisi Fisik Kimia Lingkungan Mangrove Pantai Surabaya-Sidoarjo

 Suhu

Suhu berperan penting dalam proses fisiologis (fotosintesis dan respirasi). Suhu kisaran normal untuk kehidupan mangrove yaitu 25-350C. Dari

sampel lapangan, suhu ± 27,5-350C

Ph

 Ph

Tingginya nilai derajat keasaman (pH) berkaitan dengan kandungan oksigen terlarut, dimana kandungan oksigen terlarut berkaitan dengan proses fotosintesis dari tumbuhan autotrop.

 pH perairan antara 7 - 8,18

(Sampel lapangan ± 6-8)

 pH sedimen antara 3.2 – 6.8

(20)

 Salinitas

Salinitas dapat mempengaruhi laju pertumbuhan dan zonasi mangrove. Nilai salinitas untuk pertumbuhan mangrove antara 5-35‰ (Bengen, 2004).

Dari sampel lapangan didapat salinitas

Hasil dan ANALISA

Kondisi Fisik Kimia Lingkungan Mangrove Pantai Surabaya-Sidoarjo

Dari sampel lapangan didapat salinitas ± 5-25 ‰

 Substrat

Substrat merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan mangrove. Dari sampel lapangan didapat tipe substrat yaitu liat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat, dan lempung berpasir.

(21)

 Pasang Surut

 Berdasarkan analisis pasang surut oleh

Dinas Hidro Oseanografi TNI AL, diperoleh tipe pasang surut Pantai selatan Jawa Timur pada umumnya termasuk tipe pasang surut ganda, karena terdapat dua

Hasil dan ANALISA

Kondisi Fisik Kimia Lingkungan Mangrove Pantai Surabaya-Sidoarjo

pasang surut ganda, karena terdapat dua kali pasang dan dua kali air surut dalam sehari.

 Durasi pasang surut berpengaruh besar

terhadap perubahan salinitas pada areal mangrove. Perubahan tingkat salinitas pada saat pasang merupakan salah satu faktor yang membatasi distribusi spesies mangrove

(22)

Hasil

Hasil dan

dan ANALISA

ANALISA

Kerapatan

Kerapatan Jenis

Jenis Mangrove

Mangrove

Kerapatan jenis adalah jumlah tegakan

satu jenis dalam suatu unit area.

Bengen (2000), kerapatan jenis mangrove

dapat dirumuskan :

dapat dirumuskan :

Dimana :

Di: Kerapatan Jenis

ni: Jumlah total tegakan dari jenis i

A: Luas total area pengambilan sampel (kelas)

(23)

Kelas Mangrove No Koordinat Kerapatan Jenis/Di (Ind/m2) X Y Jarang 1 695792 9203295 0.045 2 695776 9203348 0.06 3 695663 9203430 0.0625 4 695896 9203156 0.065 5 703556 9192004 0.0675 6 695630 9203272 0.075 7 703592 9192004 0.08 8 695625 9203258 0.0825 9 706509 9166446 0.085 10 706490 9166436 0.0875 11 706516 9166450 0.115 Sedang 11 706516 9166450 0.115 12 706543 9166450 0.1175 13 706581 9166406 0.12 14 706531 9166454 0.1225 15 706559 9166338 0.125 16 703617 9192018 0.1275 Rapat 17 706560 9166454 0.1525 18 706588 9166436 0.1575 19 703483 9191940 0.175 20 703477 9191932 0.1875 21 703447 9191910 0.2275 22 703573 9191924 0.3775 23 703563 9191942 0.505 24 703554 9191970 0.5125

Kerapatan

Jenis

Mangrove

(24)

Hasil

Hasil dan

dan ANALISA

ANALISA

Kerapatan

Kerapatan Jenis

Jenis Mangrove

Mangrove

Kriteria Penutupan (%) Kerapatan (pohon/ha)

Kriteria Baku Kerusakan Mangrove (Sumber Kepmen LH no 201 th 2004)

Kriteria Penutupan (%)

(pohon/ha)

Baik

Sangat Padat (Rapat) ≥75 ≥ 1500

Sedang ≥50 - <75 ≥1000-<1500 Rusak Jarang <50 <1000

(25)

Hasil dan ANALISA

NDVI

Transformasi NDVI dilakukan dengan

menggunakan formula sebagai berikut:

Dimana :

R nir : Kanal inframerah dekat

R red : Kanal merah

(26)

Hasil dan ANALISA

Kelas Mangro

ve

No Koordinat Nilai kisaran NDVI tahun X Y 2009 2006 2003 Jarang 1 695792 9203295 0.02 0.07 0.3 2 695776 9203348 0.05 0.06 0.12 3 695663 9203430 0.045 0.08 0.2 4 695896 9203156 0.035 0.1 0.1 5 703556 9192004 0.2 0.09 0.12 6 695630 9203272 0.049 0.12 0.14 7 703592 9192004 0.06 0.1 0.2 8 695625 9203258 0.052 0.11 0.17

Kisaran NDVI

8 695625 9203258 0.052 0.11 0.17 Sedang 9 706509 9166460 0.08 0.12 0.15 10 706490 9166436 0.07 0.19 0.17 11 706516 9166450 0.07 0.17 0.19 12 706543 9166450 0.2 0.18 0.32 13 706581 9166406 0.08 0.19 0.3 14 706531 9166454 0.15 0.2 0.29 15 706559 9166338 0.1 0.22 0.25 16 703617 9192018 0.11 0.24 0.27 Rapat 17 706560 9166454 0.12 0.23 0.32 18 706588 9166436 0.15 0.2 0.3 19 703483 9191940 0.17 0.29 0.31 20 703477 9191932 0.02 0.33 0.27 21 703447 9191910 0.26 0.35 0.3 22 703573 9191924 0.3 0.3 0.4 23 703563 9191942 0.45 0.38 0.45 24 703554 9191970 0.5 0.4 0.47

Kisaran NDVI

(27)

Hasil dan ANALISA

Uji Ketelitian Klasifikasi

No Hasil Interpre tasi 1 2 3 4 5 6 7 Total Baris UA (%) 1 Tambak 65 1 3 0 0 2 0 71 91.55 2 Pemuki man 1 40 0 1 1 0 5 48 83.33 3 Mangro ve 4 0 54 2 0 0 2 62 87.10 3 ve 4 0 54 2 0 0 2 62 87.10 4 Kebun 0 1 0 45 4 1 0 51 88.24 5 Sawah 0 3 1 2 62 3 0 71 87.32 6 Semak Belukar 0 0 2 0 3 50 0 55 90.91 7 Badan Air 1 0 0 0 2 0 48 51 94.12 Total Kolom 71 45 60 50 72 56 55 409 PA (%) 91.55 88.89 90.00 90.00 86.11 89.29 87.27 Overall Accuracy (%) 89.00 Koefisien Kappa 0.89

(28)

Hasil dan ANALISA

Uji Ketelitian Klasifikasi

Ketelitian seluruh hasil klasifikasi (KH) sebesar

89%.

Klasifikasi

citra

dianggap

benar

jika

hasil

perhitungan confusion matrix ≥ 80% ((Short, 1982)

perhitungan confusion matrix ≥ 80% ((Short, 1982)

dalam Adry, 2009).

(29)

KESIMPULAN

Terjadinya pengurangan luas hutan mangrove

pada tahun 2003-2006

sebesar 22.336 Ha

dan

pada tahun 2006-2009 terjadi penambahan

luas hutan mangrove

sebesar 32.865 Ha

.

Berdasarkan standar kriteria kerapatan dan

Berdasarkan standar kriteria kerapatan dan

penutup

mangrove

menurut

Keputusan

Menteri Lingkungan Hidup No.201 tahun

2004, disimpulkan bahwa pada stasiun

Tambak

Wedi

berada

dalam

Kategori

Jarang, stasiun Wonorejo berada dalam

kategori Rapat (Sangat Padat), dan stasiun

Porong berada dalam kategori Sedang.

(30)

KESIMPULAN

Terdapat 12 jenis mangrove dari 6 famili yang

berada di pantai Surabaya-Sidoarjo. Jenis

Avicennia marina yang paling sering dijumpai

pada daerah ini.

Pasca pembangunan Jembatan Suramadu dan

Peristiwa Lapindo terlihat adanya penambahan

luasan hutan mangrove yang dikarenakan pada

kawasan

pesisir

Surabaya-Sidoarjo

selalu

(31)

KESIMPULAN

Penambahan

terjadi karena adanya

proses sedimentasi yang selalu terjadi

pada kawasan pesisir Surabaya-Sidoarjo

dan adanya rehabilitasi hutan mangrove.

dan adanya rehabilitasi hutan mangrove.

(32)

SARAN

 Untuk mendapatkan tingkat ketelitian

klasifikasi citra yang lebih baik, sebaiknya jangka waktu antara citra dengan hasil groundtruth tidak terlampau jauh mengingat kawasan pantai khususnya pantai Surabaya – Sidoarjo relatif cepat mengalami perubahan.

 Karena keterbatasan peneliti, maka perlu

adanya penelitian studi lanjut mengenai ekosistem hutan mangrove yang berada di pantai Surabaya-Sidoarjo berupa analisa kesesuaian guna pengembangan dan pemanfaatan dengan memasukkan aspek aksesibilitas, kebijakan wilayah, maupun aspek konservasi hutan mangrove.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu dibentuklah Gabungan Petani Pemakai Pupuk (GP3) , Gabungan Petani Pemakai Pupuk (GP3) adalah suatu kelompok atau gabungan yang terdiri dari beberapa

Pada penelitian ini peneliti memilih SMA Negeri 1 Banyudono sebagai lokasi penelitian karena di sekolah ini belum dilakukan penelitian terkait anemia remaja putri dan

Buku Tugas Akhir dengan judul “Protokol Pemilihan Elektronik Dengan Menggunakan Pasangan Bilinear” ini disusun sebagai laporan tugas akhir sarjana yang saya kerjakan untuk

Unit penangkapan ikan yang ada di Desa Tanjung Pura yaitu nelayan terdiri dari nelayan asli dan nelayan sambilan utama, kapal terdiri dari kapal motor dan

Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu bisa berupa batu kolesterol, batu pigmen yaitu coklat atau pigmen hitam, atau batu campuran.. Lokasi batu empedu bisa bermacam –

Kondisi infrastruktur jalan yang tidak memadai berpengaruh buruk pada sektor industri dan sektor ekonomi.Untuk itu dibutuhkan manajemen yang baik pada proyek

Pedoman umum yang perlu diperhatikan dalam seleksi koleksi, antara lain disesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan ( needs and demands ) dari masyarakat yang

Faktor Predisposing perilaku safety riding pada warga kampung safety Kelurahan Pandean Lamper yaitu pengetahuan tentang safety riding dan kampung safety yang