• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

15

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Konsep Belajar

a. Definisi belajar

Belajar merupakan salah satu faktor yang memengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu (Rusman, 2013: 85). Perubahan sikap individu dalam bentuk perilaku dan kepribadian individu berlangsung dalam kegiatan belajar. Hal ini senada juga dengan yang disampaikan oleh Trianto (2009: 19), bahwa belajar diartikan sebagai proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri.

Belajar merupakan proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku (Sanjaya, 2008: 112). Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari oleh individu. Hal ini juga senada dengan yang diungkapkan oleh Hamalik (2004: 28), bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungan di antaranya antara siswa, guru, sumber belajar dan lingkungan yang memengaruhi proses pembelajaran. Irham dan Wiyani (2013: 116), mendefinisikan belajar merupakan sebuah proses yang dilakukan individu untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang diwujudkan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang relatif permanen dan menetap disebabkan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajarnya. Belajar sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia sebagai hasil dari pengalaman atau interaksi antara individu dengan lingkungannya (Karwati dan Priansa, 2014: 188). Hal ini senada dengan

(2)

pendapat Rohman dan Sutikno (2009: 6) bahwa belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Proses belajar yang dialami oleh siswa merupakan pengalaman dalam hal memperoleh pengetahuan baru. Pengalaman hasil aktivitas belajar siswa ini yang akan memberikan perubahan perilaku siswa dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah lakunya seperti kecakapan, pengetahuan, kemampuan, daya pikir dan sikap. Perubahan perilaku ini menjadi tolak ukur dalam keberhasilan proses belajar yang dialami siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat dimaknai bahwa belajar merupakan perubahan perilaku seseorang akibat aktivitas tertentu di antaranya berupa aktivitas interaksi seseorang dengan lingkungannya. Perubahan perilaku ini sebagai akibat dari bertambahnya pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang didapatkan oleh siswa dalam kegiatan belajar. Selain itu, adanya interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan sumber belajar yang dapat memberikan pengaruh dalam membentuk kepribadian siswa tentunya berakibat pada perkembangan kepribadian siswa. Perubahan perilaku siswa tidak lain sebagai wujud dari keberhasilan akan tujuan dari pembelajaran. seperti halnya yang dikatakan oleh Sanjaya (2008: 86) bahwa tujuan pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu.

b. Aktivitas belajar

Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam upaya mengembangkan pengetahuan serta potensi yang dimilikinya. Aktivitas pembelajaran yang dilakukan saat ini berorientasi pada siswa, dimana siswa diberikan kesempatan secara aktif untuk mempelajari materi dalam kegiatan pembelajaran. Sanjaya (2008: 99) menyatakan bahwa siswa sebagai subjek belajar, siswa tidak dianggap sebagai organisme yang pasif yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi dipandang sebagai organisme yang aktif, yang memiliki potensi untuk berkembang.

(3)

Belajar yang aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan peserta didik, baik secara fisik, mental intelektual, maupun emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Karwati dan Priansa, 2014: 152). Keaktifan belajar siswa berhubungan dengan segala aktivitas yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik secara fisik maupun non fisik. Guru harus memperhatikan aktivitas yang dialami oleh siswa agar tujuan pembelajaran bisa berjalan secara maksimal sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Proses pembelajaran merupakan kegiatan dalam belajar siswa sebagai hasil dari interaksi. Kegiatan interaksi ini yang akan merubah perilaku siswa yang berupa aktivitas belajar. Aktivitas dalam pembelajaran dilakukan siswa secara sadar, bersifat positif dan aktif, bersifat berkelanjutan, memiliki tujuan berupa hasil belajar yang mencakup seluruh aspek tingkah laku siswa. Kegiatan belajar merujuk pada sebuah perubahan perilaku siswa dalam meningkatkan pembelajaran. Untuk mendapatkan perubahan dalam diri siswa perlu diperhatikan ciri-ciri kegiatan siswa dalam belajar yang mengarah pada jenis aktivitas belajar.

Beberapa aktivitas belajar menurut Soemanto dalam Irham dan Wiyani (2013: 122-124) yaitu 1) mendengarkan, 2) memandang, memperhatikan atau memahami, 3) meraba, mencium dan mencecap, 4) menulis dan mencatat, 5) membaca, 6) membuat ringkasan atau ikhtisar dan menggaris bawahi, 7) menyusun paper atau kertas kerja, 8) mengingat, dan 9) latihan atau praktik. Jenis-jenis aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran di antaranya sebagai berikut:

1) Belajar arti kata, yaitu menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan. Seorang anak mengenal suatu kata, belum tentu mengetahui arti kata tersebut.

2) Belajar kognitif, yaitu proses bagaimana menghayati, mengorganisasi, dan mengulangi informasi tentang suatu masalah, peristiwa, objek serta upaya untuk menghadirkan kembali hal tersebut melalui tanggapan, gagasan atau lambang dalam bentuk kata-kata atau kalimat.

(4)

3) Belajar menghafal, adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal melalui proses mental dan menyimpannya dalam ingatan, sehingga dapat diproduksi kembali ke alam sadar ketika diperlukan.

4) Belajar teori, yaitu menyusun kerangka fikiran yang menjelaskan fenomena alam atau fenomena sosial tertentu. 5) Belajar konsep, adalah merumuskan melalui proses mental

tentang lambang, benda, serta peristiwa dengan mengamati ciri-cirinya.

6) Belajar kaidah, adalah menghubungkan dua konsep atau lebih sehingga terbentuk suatu kesatuan yang mempresentasikan suatu keteraturan.

7) Belajar berfikir, adalah aktivitas kognitif yang dilakukan secara mental untuk memecahkan suatu masalah melalui proses yang abstrak.

8) Belajar keterampilan motorik, adalah belajar melakukan rangkaian gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu. 9) Belajar estetis, yaitu proses mencipta melalui penghayatan

yang berdasarkan pada nilai-nilai seni (Rusman, 2013: 97-99) Berdasarkan beberapa pengertian di atas bahwa aktivitas belajar siswa menentukan keberhasilan dalam perubahan perilaku siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Siswa memiliki variasi dalam melakukan belajar di antaranya belajar dari arti kata, kognitif, menghafal, teoritis, belajar konsep, belajar kaidah, belajar berfikir, belajar keterampilan motorik, dan belajar estetis. Berbagai jenis aktivitas dalam belajar yang dimiliki siswa tentunya dapat memberikan dampak bagi perilaku siswa. Oleh sebab itu, guru harus lebih terampil dalam mengelola kegiatan belajar siswa sebagai upaya dalam mencapai tujuan belajar.

2. Teori-Teori Belajar a. Teori behaviorisme

Teori behaviorisme memandang bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh berbagai kejadian yang ada dilingkungannya, dimana lingkungan tersebut memberikan berbagai pengalaman (Karwati dan Priansa, 2014: 206). Teori ini menekankan pada apa yang dapat dilihat, yaitu tingkah laku, dan kurang memperhatikan apa yang terjadi di dalam pikiran karena tidak dapat dilihat. Pemikiran dalam teori ini terletak pada perubahan tingkah

(5)

laku manusia yang tentunya dapat dilihat dengan nyata bukan hasil pikiran yang tidak dapat dilihat.

Aliran behavioristik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon (S-R) (Sanjaya, 2008: 114). Hal ini senada dengan pendapat Karwati dan Priansa (2014: 207) bahwa ciri yang paling mendasar dari aliran behaviorisme adalah bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigma S-R (stimulus respon), yaitu suatu proses yang memberikan respon tertentu terhadap sesuatu yang datang dari luar.

Aliran Behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam suatu belajar (Yudhawati dan Haryanto, 2011: 41). Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Teori belajar behaviorisme memberikan penekanan pada pelatihan individu sebagai akibat dari fenomena jasmaniah dan mengabaikan aspek mental. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, di antaranya:

1) Connectionisme (Stimulus-Respon) menurut Thorndike

Eksperimen yang dilakukan Thorndike menghasilkan hukum-hukum belajar, di antaranya law of effect, artinya bahwa jika sebuah respon menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan stimulus-respon akan semakin kuat, dan begitu juga sebaliknya.

2) Classical conditioning menurut Ivan Pavlo

Eksperimen Pavlov menghasilkan hukum-hukum belajar di antaranya hukum pembiasaan yang dituntut (law of respondent conditioning) dan hukum pemusnahan yang dituntut (law of respondent Extinction).

3) Operant conditioning menurut B.F Skinner

Eksperimen yang dilakukan oleh B.F Skinner menghasilkan hukum-hukum belajar yaitu law of operant conditioning (jika timbulnya perilaku diiringai dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat) dan law of operant extinction (jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah).

(6)

4) Social learning menurut Albert Bandura

Berbeda dengan penganut behaviorisme lainnya, Bandura memandang perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antar lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri (Yudhawati dan Haryanto, 2011: 42-43).

Terdapat unsur dorongan (drive) yang terdapat dalam proses S-R, di antaranya:

1) Kebutuhan, seseorang yang merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 2) Rangsangan atau stimulus, kepada seseorang diberikan

stimulus yang akan menyebabkannya memberikan respon. 3) Respons, seseorang memberikan reaksi atau respon terhadap

stimulus yang diterimanya dengan melakukan suatu tindakan yang dapat diamati.

4) Penguatan, perlu diberikan kepada seseorang agar ia merasakan adanya kebutuhan untuk memberikan respon lagi. (Karwati dan Priansa, 2014: 207)

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat dimaknai bahwa teori behavioristik merupakan perubahan tingkah laku manusia sebagai akibat adanya kebiasaan serta dorongan berupa stimulus yang akan menghasilkan respon. Belajar merupakan suatu kegiatan yang membentuk hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya agar terjalin komunikasi yang aktif dalam proses pembelajaran.

b. Teori kognitivisme

Kognitivisme merupakan salah satu teori belajar yang sering disebut dengan model kognitif (cognitive model) atau model perseptual (perceptual model) (Karwati dan Priansa, 2014: 210). Berdasarkan pendapat Sanjaya (2008: 120), teori Gestalt yang merupakan bagian dari teori belajar kognitif mendefinisikan bahwa belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Perbedaaan dengan teori behavioristik bahwa pada teori ini justru menganggap bahwa insight adalah inti dari perubahan tingkah laku.

(7)

Piaget dalam Karwati dan Priansa (2014: 210) menyatakan bahwa perkembangan intelektual individu melalui empat tahap, yaitu:

1) Tahap Sensori Motor (0,0-2,0 tahun), pada tahap ini anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Anak mengenal lingkungan dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan menggerak-geraknya. 2) Tahap Pra-Operasional (2,0-7,0 tahun), pada tahap ini, anak

mengandalkan diri atas persepsi tentang realitas. Ia telah mampu menggunakan simbol, bahasa, konsep sederhana, berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. 3) Tahap Operasional kongkrit (7,0-11,0 tahun), pada tahap ini

anak dapat mengembangkan pikiran logis. Ia dapat mengikuti penalaran logis, walau kadang-kadang memecahkan masalah secara “trial and error”.

4) Tahap Operasional (11,0-ke atas), pada tahap ini anak dapat berpikir abstrak seperti pada orang dewasa.

Perkembangan intelektual individu memiliki perkembangan yang berbeda-beda dalam proses belajar. Hal ini menimbulkan implikasi dari teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran yaitu:

1) Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2) Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3) Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

4) Di dalam kelas, anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya (Yudhawati dan Haryanto, 2011: 44-45).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa teori kognitivisme lebih menekankan adanya kebermaknaan atau pemahaman. Teori ini tidak selalu dapat dilihat sebagaimana perubahan tingkah laku dalam teori behavioristik. Oleh karena itu, pemikiran kognitivisme belajar diartikan sebagai perubahan persepsi dan pemahaman individu.

c. Teori belajar psikologi sosial

Pada dasarnya setiap individu memiliki keinginan akan pengetahuan baru untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam

(8)

hidupnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Karwati dan Priansa (2014: 212) yang menyatakan bahwa setiap individu pada dasarnya mempunyai keinginan untuk belajar tanpa dibendung oleh orang lain karena setiap individu memiliki rasa keingintahuan, keinginan menyerap informasi, keinginan mengambil keputusan, keinginan memecahkan masalah, serta berbagai keinginan lainnya yang berhubungan dengan pengembangan dirinya.

Teori belajar psikologi sosial memandang bahwa proses belajar tidak dapat dipisahkan dari interaksi-interaksi. Interaksi tersebut dapat berupa:

1) Searah (one direction), interaksi searah jika stimulus dari luar menyebabkan timbulnya respon.

2) Dua arah (two direction), interaksi dua arah terjadi jika tingkah laku yang terjadi merupakan hasil interaksi antara individu yang belajar dengan lingkungannya, atau sebaliknya (Karwati dan Priansa, 2014: 212).

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa teori belajar psikologi sosial memberikan penekanan bahwa keingintahuan dari seorang individu dalam kegiatan belajar. Keingintahuan ini muncul secara alamiah karena individu memiliki naluri untuk mengetahui lingkungan sekelilingnya. Setiap individu mempunyai kebutuhan dan tujuan yang menjadi motivator penting untuk proses belajarnya. Kebutuhan inilah yang akan membawa individu untuk memiliki keingintahuan dalam hal keputusan maupun pemecahan akan kebutuhan individu tersebut.

d. Teori belajar Gagne

Teori yang disusun oleh Gagne merupakan teori yang memadukan antara behaviorisme dan kognitivisme yang berpangkal pada teori pengolahan informasi. Gagne dalam Karwati dan Priansa (2014: 213) menyatakan bahwa cara individu tergantung pada keterampilan apa yang telah dimilikinya dan keterampilan serta hierarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas.

Berdasarkan hasil penelitian dari Gagne dalam Karwati dan Priansa (2014: 213) menyimpulkan bahwa terdapat lima macam hasil belajar, yaitu:

(9)

1) Keterampilan intelektual, adalah pengetahuan prosedural yang mencakup belajar konsep, prinsip, serta pemecahan masalah yang diperoleh melalui penyajian materi di sekolah.

2) Strategi kognitif, adalah kemampuan untuk memecahkan masalah baru dengan jalan mengatur proses internal individu dalam memperhatikan, belajar, mengingat, dan berpikir.

3) Informasi verbal, adalah kemampuan untuk mendeskripsikan suatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi-informasi yang relevan.

4) Keterampilan motorik, adalah kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot.

5) Sikap, adalah kemampuan internal yang memengaruhi tingkah laku seseorang yang didasari oleh emosi, kepercayaan-kepercayaan serta faktor intelektual.

Tahapan dalam proses pembelajaran meliputi delapan fase di antaranya motivasi, pemahaman, pemerolehan, penyimpanan, ingatan kembali, generalisasi, perlakuan dan umpan balik (Gagne dalam Yudhawati dan Haryanto, 2011: 45). Gagne berpendapat bahwa pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat dimaknai bahwa teori belajar Gagne menekankan adanya keterampilan dasar yang telah dimilikinya dan pengetahuan apa yang diperlukan untuk mempelajari tugas. Teori ini memadukan antara pengembangan pemahaman terhadap perilaku yang harus dilakukan dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, belajar akan lebih cepat apabila strategi kognitif dapat dipakai dalam memecahkan masalah secara efisien.

3. Hasil Belajar dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya a. Hasil belajar

Hasil belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran. Tujuan dari kegiatan belajar dan mengajar merupakan peningkatan hasil belajar yang akan diperoleh siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Hasil belajar dari sisi guru sebagai bahan evaluasi dalam kegiatan mengajarnya agar untuk kedepannya menjadi lebih baik sebagai

(10)

peningkatan hasil belajar siswa. Hasil belajar dari siswa merupakan perolehan nilai dari kegiatan akhir belajar siswa dalam proses pembelajaran.

Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Rusman, 2013: 123). Hal tersebut juga senada dengan pendapat Syah dalam Karwati dan Priansa (2014: 214), mengungkapkan bahwa hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar peserta didik. Belajar tidak hanya penguasaan konsep teori mata pelajaran saja, tetapi juga penguasaan kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat bakat, penyesuaian sosial, macam-macam keterampilan, cita-cita, keinginan, dan harapan. Hasil belajar merupakan satu kesatuan penilaian dari kegiatan belajar siswa, baik dari ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik. Hal ini seperti yang diungkapkan Bloom dalam Sudjana (2009: 22) sebagai berikut ini.

1) Ranah afektif, yaitu berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan, ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi;

2) Ranah psikomotorik yaitu, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek psikomotor yakni gerakan refleks, keterampilan gerak dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan/ketepatan, gerakan ekspresif dan interpretatif.

3) Ranah afektif, yaitu berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban/realistis, penilaian organisasi, dan internalisasi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:

a) Receiving atau attending ( menerima atau memperhatikan) b) Responding (menanggapi) berarti “adanya partisipasi aktif” c) Valuing (menilai atau menghargai)

d) Organization (mengatur atau mengorganisasikan)

e) Characterization by value (karakterisasi dengan suatu nilai) Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh peserta didik berkat adanya usaha atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak perubahan perilaku pada

(11)

diri individu (Karwati dan Priansa, 2014: 216). Sedangkan menurut Dimyati dan Mujiono (2006: 13), hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Tindak mengajar yang dilakukan oleh guru diakhri dengan proses evaluasi hasil belajar sedangkan hasil belajar yang diperoleh merupakan berakhirnya puncak proses belajar.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat dimaknai bahwa hasil belajar merupakan hasil kegiatan proses pembelajaran yang diperoleh dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dalam pengalamannya di dalam kegiatan belajar. Penguasaan materi yang telah dipelajari siswa menjadi tolak ukur sampai mana pemahamaan siswa dalam menerima pengetahuan dalam kegiatan belajar. Proses pembelajaran memberikan dampak terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu, komponen dalam pembelajaran harus digunakan secara maksimal sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran.

b. Faktor-faktor yang memengaruhi belajar

Faktor-faktor yang memengaruhi belajar ada beberapa jenis, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu sebagai berikut:

1) Faktor Interen

a) faktor jasmaniah yaitu faktor kesehatan dan cacat tubuh. b) faktor psikologis yaitu meliputi intelegensi, perhatian,

minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan.

c) faktor kelelahan yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.

2) Faktor Eksteren

a) faktor keluarga yaitu meliputi cara orang tua mendidik moral anak, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.

b) faktor sekolah yaitu meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi siswa dengan guru, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, metode belajar, dan tugas rumah.

c) faktor masyarakat yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, media masa, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat. (Slameto, 2003: 54-60)

(12)

Faktor-faktor yang memengaruhi belajar yaitu terdiri dari faktor internal berkaitan dengan kondisi internal yang muncul dari dalam diri peserta didik seperti jasmaniah, psikologis, dan kelelahan, sedangkan faktor eksternal terdiri dari kondisi keluarganya di rumah, keadaan sekolah, dan kondisi masyarakat sekitar rumah (Karwati dan Priansa, 2014: 218-219). Selain itu, faktor-faktor yang memengaruhi prestasi belajar peserta didik dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:

1) Faktor internal (faktor dari dalam peserta didik)

Meliputi aspek fisiologis dan psikologis. Aspek fisiologis berkaitan dengan jasmani peserta didik, sedangkan aspek psikologis berhubungan dengan rohaniah peserta didik.

2) Faktor eksternal (faktor dari luar peserta didik)

Faktor eksternal berarti kondisi lingkungan di sekitar peserta didik yang terdiri dari dua aspek yaitu lingkungan sosial (lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga) dan lingkungan non sosial.

3) Faktor pendekatan belajar (Approach to Learning).

Jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran (Karwati dan Priansa, 2014: 218-219).

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi belajar siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Faktor faktor tersebut berasal dari diri siswa, berasal dari luar diri siswa, dan faktor dari pendekatan belajar. Faktor dari dalam diri siswa berhubungan dengan jasmani, psikologi, dan kelelahan, sedangkan faktor dari luar siswa yang memengaruhi berasal dari lingkungan belajar dalam rumah, sekolah, dan masyarakat.

4. Pembelajaran

a. Definisi pembelajaran

Istilah pembelajaran hampir sama dengan istilah teaching dan instruction. Istilah pembelajaran dikaitkan dengan proses dan usaha yang dilakukan oleh guru atau pendidik untuk melakukan proses penyampaian materi kepada siswa melalui proses pengorganisasian materi, siswa, dan lingkungan yang umumnya terjadi di dalam kelas (Irham dan Wiyani, 2013:

(13)

130). Pembelajaran merupakan suatu sistem yang saling terintegrasi dalam kegiatan belajar dan mengajar untuk memaksimalkan tujuan dari pembelajaran yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran. Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Sanjaya, 2008: 49). Sistem pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri dari guru, siswa, dan sumber belajar yang saling berinteraksi satu sama lain. Rusman (2013: 93) mengungkapkan bahwa pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut antara lain tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Hal tersebut senada dengan Sanjaya (2008: 58) yang menyatakan bahwa proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lain saling berinteraksi dan berinterelasi, komponen tersebut di antaranya tujuan, materi pembelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media, dan evaluasi.

Komponen-komponen dari sistem pembelajaran saling berinterfungsi, yaitu suatu komponen menjadi input dari komponen lainnya yang bersinergi untuk mencapai tujuan (Pribadi, 2011: 31). Komponen-komponen yang berinterfungsi tersebut terdiri dari tujuh macam yaitu siswa, tujuan, metode pembelajaran, media, strategi pembelajaran, evaluasi, dan umpan balik. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1) Siswa, merupakan subjek dari aktivitas pembelajaran sehingga menjadi komponen yang sangat penting dalam sistem pembelajaran. Oleh karena itu, perancang program pembelajaran perlu memahami terlebih dahulu tentang karakteristik siswa dari berbagai segi.

2) Tujuan, merupakan komponen yang berfungsi untuk mengerahkan aktivitas pembelajaran agar lebih terkendali, terfokus dan mudah dievaluasi.

3) Metode pembelajaran, merupakan rangkaian proses atau langkah-langkah sistematis dan prosedural dalam mencapai tujuan pembelajaran.

4) Media pembelajaran, merupakan sarana pembelajaran yang menjadi perantara atau menghubungkan antara pemberi pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa).

(14)

5) Strategi pembelajaran, merupakan keahlian khusus dan unik yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. 6) Evaluasi, merupakan ragam penilaian yang menggambarkan

serta mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran.

7) Umpan balik, merupakan informasi yang dibutuhkan untuk tujuan peningkatan keefektifan program pembelajaran.

Banyak faktor yang dapat memengaruhi sistem pembelajaran di dalam kelas. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi proses sistem pembelajaran di antaranya guru, faktor siswa, sarana, alat, dan media yang tersedia, serta faktor lingkungan. Berikut penjelasan dari faktor-faktor tersebut :

1) Faktor guru, guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, teknik, dan taktik pembelajaran.

2) Faktor siswa, siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Oleh karena itu, dalam sistem pembelajaran penting untuk memperhatikan beberapa aspek perkembangan yang dimiliki masing-masing siswa.

3) Faktor sarana dan prasarana, sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pembelajaran, perlengkapan sekolah, dan lain sebagainya. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya.

4) Faktor lingkungan, ada dua faktor lingkungan yang memengaruhi proses pembelajaran, yaitu faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosial psikologis. Faktor organisasi kelas merupakan jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang bisa memengaruhi proses pembelajaran. sedangkam iklim sosial-psikologis secara internal yaitu hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan guru, bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah. Iklim sosial-psikologis secara eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak

(15)

sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat dan lain sebagainya (Sanjaya, 2008: 52-56).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat dimaknai bahwa pembelajaran merupakan suatu kesatuan komponen-komponen dalam pembelajaran yang tidak bisa terpisahkan dan saling memiliki keterkaitan untuk menunjang keberhasilan dalam belajar. Proses pembelajaran dirancang sedemikian untuk memberikan pengalaman kepada siswa dalam pembelajaran yang berupa interaksi dari siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan siswa dengan sumber belajar.

b. Pendekatan pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu interaksi antara pendidik, siswa, dan sumber belajar. Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan siswa merupakan suatu proses interaksi edukatif, dimana terjalin komunikasi timbal balik yang memiliki tujuan dalam menyalurkan dan menerima suatu ilmu pengetahuan dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Pendekatan pembelajaran sekarang tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered approaches), berkembangnya kebutuhan siswa dalam membangun pengetahuannya proses pembelajaran sudah berubah menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approaches). Hal ini sejalan dengan pendapat Hosnan (2014: 193) yang mendefinisikan student centered learning (SCL) adalah proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), yang diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap, dan perilaku.

Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru yaitu pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai objek dalam belajar dan kegiatan belajar bersifat klasik atau konvensional (Rusman, 2013: 122). Pembelajaran dalam pendektan ini didominasi oleh guru sebagai orang yang serba bisa dan sebagai orang yang satu-satunya sebagai sumber belajar. Pendekatan pembelajaran sistem ini dalam pengelolaan pembelajarannya

(16)

ditentukan oleh guru sebagai sumber utama pemberi pengetahuan. Pendekatan pembelajaran yang didominasi oleh guru dapat membuat siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran karena segala aktivitas belajar sesuai dengan petunjuk guru.

Pendekatan pembelajaran berorientasi pada siswa (student centered approaches) merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek belajar dan kegiatan belajar secara modern (Rusman, 2013: 123). Feng dalam Santrock (2014: 142) menyatakan bahwa instruksi berpusat pada peserta didik bekerja lebih baik dibeberapa pelajaran daripada orang lain. Pendekatan pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kreativitas dalam mengembangkan potensinya melalui aktivitas belajar. Pendekatan pembelajaran ini, siswa menjadi pusat perhatian dalam proses kegiatan belajar mengajar serta untuk manajemen dan pengelolaannya ditentukan sendiri oleh siswa. Guru dalam pembelajaran student centered approaches hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing dalam proses kegiatan pembelajaran sehingga pembelajarannya lebih terarah.

Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiry serta strategi pembelajaran induktif, yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa (Rusman, 2013: 123). Dalam hal ini, strategi pembelajaran inquiry sangat cocok jika digunakan dalam pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berperan aktif dalam melakukan aktivitas belajar. Pendekatan pembelajaran ini menuntun siswa untuk secara mandiri mengembangkan pengetahuan agar siswa mampu berfikir secara kritis dan terampil dalam menekuni pembelajaran.

5. Model Pembelajaran

Model adalah prosedur yang sistematis tentang pola belajar untuk mencapai tujuan belajar serta sebagai pedoman bagi pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran (Hosnan, 2014: 337).

(17)

Sedangkan menurut pendapat Karwati dan Priansa (2014: 247), model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Guru harus kreatif dalam memilih model yang sesuai dengan materi pembelajaran agar kegiatan belajar di dalam kelas lebih menarik dan memotivasi siswa untuk tekun mengikuti kegiatan belajar. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual/operasional, yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para pengajar dalam merencanakan, dan melaksanakan aktivitas pembelajaran (Hosnan, 2014: 337).

Model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli, di antaranya terdapat model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran konteksual, model pembelajaran inquiry, model pembelajaran quantum, model pembelajaran terpadu, dan model Problem Based Learning (PBL). Banyaknya model pembelajaran tidak berarti semua pengajar bisa menerapkan untuk setiap mata pelajaran karena tidak semua model cocok untuk setiap topik atau mata pelajaran. Pengajar harus mempertimbangkan dalam memilih model pembelajaran yang cocok dan sesuai dengan topik mata pelajaran yang akan diberikan. Menurut Karwati dan Priansa (2014: 248) yang menyatakan bahwa terdapat beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan model pembelajaran di antaranya hasil (outcome), isi materi (content), dan proses (process).Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih model/strategi pembelajaran yaitu: 1) tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, 2) sifat bahan/materi ajar, 3) kondisi siswa, dan 4) ketersediaan sarana-prasarana belajar (Sugiyanto, 2009: 4).

Terdapat beberapa fungsi secara khusus dari sebuah model mengajar seperti yang diutarakan oleh Chauhan yaitu pedoman, pengembangan kurikulum, menetapkan bahan-bahan pengajaran, dan membantu perbaikan dalam mengajar (Wahap, 2008: 55). Berikut penjelasan masing-masing fungsi tersebut :

a. Pedoman. Model mengajar dapat berfungsi sebagai pedoman yang dapat menjelaskan apa yang harus dilakukan guru.

b. Pengembangan kurikulum. Model mengajar dapat membantu dalam pengembangan kurikulum untuk satuan dan kelas yang berbeda dalam pendidikan.

(18)

c. Menetapkan bahan-bahan pengajaran. Model mengajar menetapkan secara rinci bentuk-bentuk bahan pengajaran yang berbeda yang akan digunakan guru dalam membantu perubahan yang baik dari kepribadian siswa.

d. Membantu perbaikan dalam mengajar. Model mengajar dapat membantu proses mengajar-belajar dan meningkatkan keefektifan mengajar.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, bahwa penerapan modul pembelajaran dalam pembelajaran ini menggunakan pendekatan model pembelajaran guided inquiry. Model pembelajaran guided inquiry (metode penyelidikan dengan bimbingan guru) ini dinilai lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan kegiatan belajar sehingga dapat tercapainya tujuan belajar. Penggunan model pembelajaran ini diharapkan dapat membuat pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan rasa ingin tahu siswa dengan metode penyelidikan suatu persoalan atau pernyataan yang diajukan kepada siswa.

6. Modul Pembelajaran

a. Pengertian dan tujuan modul

Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang spesifik (Daryanto, 2013: 9). Berdasarkan pendapat Surahman dalam Prastowo (2012: 105), modul adalah satuan program pembelajaran terkecil yang dapat dipelajari oleh peserta didik secara perseorangan (self instructional).

Modul merupakan suatu paket dalam program pengajaran yang terdiri dari beberapa komponen yang berisi tujuan belajar, metode belajar, alat atau media serta sistem evaluasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamdani (2011: 219-220) bahwa modul adalah sarana pembelajaran dalam bentuk tertulis, atau cetak yang disusun secara sistematis, memuat materi pembelajaran, metode, tujuan pembelajaran berdasarkan kompetensi, petunjuk kegiatan belajar mandiri (self instructional), dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguji diri sendiri melalui latihan yang

(19)

disajikan dalam modul tersebut. Modul adalah salah satu bentuk bahan ajar berbasis cetakan yang dirancang untuk belajar secara mandiri oleh peserta pembelajaran karena itu modul dilengkapi dengan petunjuk untuk belajar sendiri (Asyhar, 2012: 155).

Modul dapat digunakan tanpa kehadiran guru di dalam kelas. Modul berfungsi sebagai pengganti guru, yaitu modul sebagai media pengajaran jika tanpa kehadiran guru dalam kelas. Hal ini sejalan dengan pendapat Smaldino, Lowther, dan Russel (2014: 279) yang menyatakan bahwa modul pengajaran merupakan unit pengajaran yang lengkap yang dirancang untuk digunakan oleh seorang pemelajar atau sekelompok kecil pemelajar tanpa kehadiran guru. Tujuan penyusunan modul adalah menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik materi ajar dan karakteristik siswa, serta setting atau latar belakang lingkungan sosialnya (Hamdani, 2011: 220). Terdapat beberapa tujuan penulisan modul di antaranya:

1) Membantu siswa belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan pendidik,

2) Mengurangi peran pendidik agar tidak terlalu dominan dengan otoriter dalam kegiatan pembelajaran,

3) Melatih kejujuran siswa,

4) Mengakomodasi berbagai tingkat dan kecepatan belajar siswa. bagi siswa yang kecepatannya belajarnya tinggi, maka mereka dapat belajar lebih cepat serta menyelesaikan modul dengan lebih cepat. Bagi yang lambat, maka mereka dipersilahkan untuk mengulanginya kembali,

5) Memfasilitasi siswa untuk dapat mengukur sendiri tingkat penguasaan materi yang telah dipelajari (Prastowo, 2012: 108). Smaldino, Lowther, dan Russel (2014: 280) menjelaskan keuntungan dan keterbatasan modul yang diuraikan sebagai berikut:

1) Keuntungan modul

(a) Menentukan kecepatan sendiri. Para siswa dapat menyelesaikan materi berdasarkan kecepatan mereka sendiri, dengan diuji dan berkembang dalam interval yang teratur.

(20)

(b) Kemasan total. Keuntungan terbesar adalah bahwa sebuah modul merupakan pengajaran terpadu, tidak ada keharusan untuk berusaha menyatukan seluruh materi agar memenuhi tujuan-tujuan belajar. Ini menghemat waktu mengajar yang berharga dan sering kali lebih murah dari pada materi individual.

(c) Tervalidasi. Modul-modul diuji dan divalidasi sebelum disebarkan, dengan jumlah klien yang begitu besar, para vendor bisa berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan kurikulum.

2) Keterbatasan modul

(a) Kualitas modul. Kualitas modul bervariasi, beberapa di antaranya merupakan modul latihan dan praktik yang tidak menginspirasi dan berkualitas rendah.

(b) Kehilangan fleksibilitas. Salah satu persoalan yang terjadi dalam pengadopsian sebuah modul atau sebuah sistem belajar terpadu adalah masalah fleksibilitas.

(c) Integrasi kurikuler. Mungkin resiko yang paling serius dari ILS, ironisnya adalah kurangnya integrasi dengan kurikulum.

b. Karakteristik dan unsur-unsur modul

Beberapa karakteristik dari modul pembelajaran perlu diperhatikan agara dapat menghasilkan modul yang mampu meningkatkan motivasi belajar, pengembangan modul harus memperhatikan karakteristik yang diperlukan sebagai modul yaitu sebagai berikut:

1) Self Intruction, karakteristik ini memungkinkan seseorang belajar secara mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakteristik Self Intruction, maka modul harus:

(a) Memuat tujuan pembelajaran yang jelas.

(b) Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit kegiatan yang kecil/spesifik, sehingga memudahkan dipelajari secara tuntas.

(c) Tersedia contoh dan ilustrasi yang medukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran.

(d) Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan untuk mengukur penguasaan peserta didik. (e) Konstekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau konteks kegiatan dan lingkungan peserta didik.

(f) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif. (g) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.

(21)

(h) Terdapat instrumen penilaian, yang memungkinkan peserta didik melakukan penilaian mandiri (self assessment).

(i) Terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik sehingga peserta didik mengetahui tingkat penguasaan materi.

(j) Terdapat informasi tentang rujukan/pengayaan/referensi yang mendukung materi pembelajaran dimaksud.

2) Self Contained, modul dikatakan self contained bila seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam modul tersebut. Tujuan dari konsep ini adalah agar peserta didik mempelajari materi pembelajaran secara tuntas, karena materi belajar dikemas kedalam satu kesatuan yang utuh.

3) Berdiri sendiri (Stand Alone), merupakan karakteristik modul yang tidak tergantung pada bahan ajar/media lain, atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar/media lain. 4) Adaptif, modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi

terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta fleksibel digunakan di berbagai perangkat keras (hardware).

5) Bersahabat (user friendly), modul hendaknya juga memenuhi kaidah user friendly dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan. Pengunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti serta istilah yang umum digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly (Daryanto, 2013: 9-11).

Vembriarto dalam Prastowo (2012: 18), juga menjelaskan beberapa karakteristik dari modul, yaitu sebagai berikut:

1) Modul merupakan paket atau unit pengajaran terkecil dan lengkap,

2) Modul memuat rangkaian kegiatan belajar yang direncanakan dan sistematis,

3) Modul memuat tujuan belajar (pengajaran) yang dirumuskan secara eksplisit dan spesifik,

4) Modul memungkinkan siswa belajar sendiri (independent) karena modul memuat bahan yang bersifat self instructional, 5) Modul adalah realisasi pengakuan perbedaan individu, yakni

salah satu perwujudan pengajaran individual. c. Prinsip penyusunan modul

Penyusunan modul yang baik hendaknya memperhatikan berbagai prinsip yang membuat modul tersebut dapat memenuhi tujuan

(22)

penyusunannya. Hamdani (2011: 221) menyatakan bahwa prinsip yang harus dikembangkan, antara lain:

1) Disusun dari materi yang mudah untuk memahami yang lebih sulit, dan dari yang konkret untuk memahami yang semi konkret dan abstrak,

2) Menekankan pengulangan untuk memperkuat pemahaman, 3) Umpan balik yang positif akan memberikan penguatan

terhadap siswa,

4) Memotivasi adalah salah satu upaya yang dapat menentukan keberhasilan belajar,

5) Latihan dan tugas untuk menguji diri sendiri.

Modul merupakan media pembelajaran yang dapat berfungsi sama dengan pengajar atau pelatih pada pembelajaran tatap muka. Oleh karena itu, penulisan modul perlu didasarkan pada prinsip-prinsip belajar dan bagaimana pengajar atau pelatih mengajar dan siswa menerima pelajaran. Atas dasar inilah menurut Asyhar (2012: 156) bahwa dalam penulisan modul dilakukan menggunakan prinsip-prinsip antara lain sebagai berikut:

1) Peserta belajar perlu diberikan secara jelas hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran sehingga mereka dapat menyiapkan harapan dan dapat menimbang untuk diri sendiri apakah mereka telah mencapai tujuan tersebut atau belum mencapainya pada saat melakukan pembelajaran menggunakan modul.

2) Peserta belajar perlu diuji untuk dapat menentukan apakah mereka telah mencapai tujuan pembelajaran. untuk itu dalam penulisan modul, tes perlu dipadukan ke dalam pembelajaran supaya dapat memeriksa ketercapaian tujuan pembelajaran dan memberikan umpan balik yang sesuai.

3) Bahan ajar perlu diurutkan sedemikian rupa sehingga memudahkan peserta didik untuk mempelajarinya. Urutan bahan ajar tersebut adalah dari mudah ke sulit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari pengetahuan ke penerapan.

4) Peserta didik perlu disediakan umpan balik sehingga mereka dapat memantau proses belajar dan mendapatkan perbaikan bilamana diperlukan. Misalnya dengan memberikan kriteria atas hasil tes yang dilakukan secara mandiri.

Penyusunan modul dilakukan agar pembelajaran lebih efesien dan efektif dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam penyusunan modul yang baik harus memperhatikan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

(23)

Prosedur pembuatan modul harus dilakukan secara sistematis, melalui tahapan yang benar dan sesuai dengan kaidah yang baik. Beberapa kaidah umum atau langkah-langkah kegiatan dalam proses penyusunan modul yaitu analisis kebutuhan modul, penyusunan naskah/draf modul, uji coba modul, validasi, dan yang terakhir revisi dan produksi (Widodo dan Jasmadi dalam Asyhar, 2012: 159-161).

d. Modul sebagai media pembelajaran

Media, bentuk jamak dari perantara (medium), merupakan sarana komunikasi. Berasal dari bahasa latin medium (antara), istilah ini merujuk pada apa saja yang membawa informasi antara sebuah sumber dan sebuah penerima (Smaldino, Lowther, dan Russel, 2014: 7). Karwati dan Priansa (2014: 223), mengistilahkan media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah media dapat dipahami sebagai tengah, perantara atau pengantar, dalam hal ini media merupakan perantara untuk menyampaikan pesan. Media adalah setiap orang, bahan alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pembelajar untuk menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Anitah, 2009: 6). Setiap media merupakan sarana untuk menuju kesuatu tujuan, di dalamnya terkandung informasi yang dapat dikomunikasikan kepada orang lain.

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta kemauan peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi dalam mencapai tujuan pembelajaran secara efektif (Sukiman, 2012: 29). Media pembelajaran dapat dipahami juga sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke peserta didik (ataupun sebaliknya) sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, serta perhatian peserta didik agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif (Karwati dan Priansa, 2014: 224).

(24)

Arsyad dalam Sukiman (2012: 28), menyatakan bahwa media pembelajaran memiliki ciri-ciri umum yaitu sebagai berikut:

1) Media pembelajaran memiliki pengertian fisik yang dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu suatu benda yang dapat dilihat, didengar, diraba oleh panca indera.

2) Media pembelajaran memiliki pengertian non fisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada peserta didik.

3) Media pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.

4) Media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dengan peserta didik dalam proses pembelajaran.

5) Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya radio, televisi), kelompok besar atau kelompok kecil (film, slide, video), atau perorangan (misalnya modul).

Peran media di dalam proses pembelajaran cukup penting dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran terutama membantu siswa untuk belajar dan membantu guru dalam memudahkan menyampaikan pesan. Rusman (2013: 164) menyatakan bahwa manfaat media pembelajaran dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:

1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

2) Materi pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih baik.

3) Metode pembelajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru harus mengajar untuk setiap jam pelajaran 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak

hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.

Media pembelajaran yang efektif akan memberikan kemudahan bagi siswa dalam menerima pengetahuan dalam proses pembelajaran. Guru harus mampu memanfaatkan media pembelajaran dalam mendukung kegiatan pembelajaran di kelas. Selain itu, perlunya model pembelajaran yang

(25)

diintegrasikan dengan media pembelajaran untuk memaksimalkan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Pembelajaran yang menarik akan membuat siswa menyukai kegiatan pembelajarannya dan membuat siswa termotivasi untuk menekuni pembelajaran yang berakibat pada peningkatan hasil belajar siswa.

e. Perbandingan pembelajaran konvensional dan pembelajaran menggunakan modul

Berikut ini terdapat perbandingan antara pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan pembelajaran konvensional tanpa menggunakan modul dengan pembelajaran yang menggunakan modul, dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.1. Perbandingan Pembelajaran Konvensional dan Pembelajaran Modul

Aspek

Pembanding Pembelajaran konvensional Pembelajaran modul Tujuan Tidak disampaikan kepada

siswa sebelum pembelajaran kegiatan yang diamati dan dilakukan.

Disampaikan kepada siswa sebelum pembelajaran, sehingga setiap siswa mengetahui apa yang dipelajari

Penyajian bahan ajar

Disajikan kepada kelas secara keseluruhan tanpa

memperhatikan siswa secara individual.

Disajikan secara individual

Kegiatan Instruksional

Bahan pembelajaran

kebanyakan guru berceramah.

Menggunakan bermacam kegiatan yang meningkatkan belajar siswa. Pengalaman Belajar

Berorientasi pada kegiatan guru.

Berorientasi pada kegiatan siswa.

Partisipasi Siswa cenderung pasif Siswa menjadi lebih aktif. Kecepatan Kecepatan belajar ditentukan

oleh guru.

Menurut kecepatan masing-masing siswa.

Keberhasilan belajar

Dinilai guru secara subjektif. Dinilai secara objektif berdasarkan hasil belajar siswa.

Peranan guru Sebagai penyalur pengetahuan.

Sebagai motivator dan pembimbing belajar siswa. Sumber : Nasution (2011: 209-211)

(26)

f. Pengembangan modul

Hal pertama yang perlu dilakukan dalam pengembangan suatu modul adalah dengan menetapkan desain modul atau rancangan modul pembelajaran tersebut. Kedudukan desain dalam pengembangan modul adalah sebagai salah satu komponen prinsip pengembangan yang mendasari dan memberi arah teknik dan tahapan penyusunan modul. Oemar dalam Daryanto (2013: 11), mendefinisikan desain adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan, dan teknik yang ditempuh dalam memulai dan melaksanakan suatu kegiatan.

Pengembangan modul pembelajaran dilakukan atas dasar analisis kebutuhan dan kondisi lingkungan tempat modul diterapkan. Penerapan analisis kebutuhan dan kondisi lingkungan digunakan untuk mendapatkan data dan informasi yang objektif dari siswa, guru maupun lingkungan penerapan modul tersebut. setelah mengetahui data dan informasi yang objektif kemudian mengembangkan desain modul yang sesuai agar pengembangan modul dapat memberikan sumbangsih dalam peningkatan proses pembelajaran.

Berdasarkan desain modul yang telah dikembangkan, selanjutnya dilakukan penyusunan modul. Proses penyusunan modul terdiri dari tiga tahapan pokok yaitu:

1) Menetapkan strategi pembelajaran dan media pembelajaran yang sesuai yaitu perlu memperhatikan berbagai karakteristik dari kompetensi yang akan dipelajari, karakteristik peserta didik, dan karakteristik konteks dan situasi dimana modul akan digunakan.

2) Memproduksi atau mewujudkan fisik modul. Komponen isi modul antara lain meliputi: tujuan belajar, prasyarat pembelajar yang diperlukan, substansi atau materi belajar, bentuk-bentuk kegiatan belajar dan komponen pendukungnya. 3) Mengembangkan perangkat penilaian yaitu perlu

memperhatikan aspek kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap terkait) dapat dinilai berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan (Daryanto, 2013: 11-12).

Penyusunan modul pembelajaran diperlukan untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik dan meningkatkan kegiatan belajar agar lebih

(27)

efisien dan efektif. Sebelum menyusun modul, guru harus mengidentifikasi kompetensi dasar yang akan diajarkan ke siswa. Selain itu, guru juga harus mengidentifikasi indikator-indikator yang harus dicapai oleh siswa sehingga penyususunan modul dapat sesuai dengan silabus yang telah disusun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Hamdani (2011: 221) menyatakan bahwa penyusunan modul pembelajaran diawali dengan urutan sebagai berikut:

1) menetapkan judul modul yang akan disusun, 2) menyiapkan buku-buku sumber dan buku referensi lainnya, 3) melakukan identifikasi terhadap kompetensi dasar, melakukan kajian terhadap materi pembelajarannya, serta merancang bentuk kegiatan pembelajaran yang sesuai, 4) mengidentifikasi indikator pencapaian kompetensi dan merancang bentuk dan jenis penilaiaan yang akan disajikan, 5) merancang format penulisan modul, 6) penyusunan draf modul.

Daryanto (2013: 31) yang menyatakan bahwa pengembangan bahan ajar mandiri atau bisa disebut modul, langkah-langkah yang ditempuh adalah perencanaan, penulisan, review dan revisi, dan yang terakhir finalisasi. Selain itu, sebuah modul dapat dikatakan sebagai bahan ajar dimana pembacanya dapat belajar mandiri. Pengembangan modul harus diperhatikan prinsip serta analisis kebutuhan dan kondisi lingkungannya supaya modul dapat benar-benar bermanfaat bagi siswa. Pengembangan modul harus menarik sehingga mampu meningkat motivasi siswa dan efektif dalam mencapai kompetensi yang diharapkan.

7. Pembelajaran Guided Inquiry

Belajar merupakan suatu kebiasaan yang memberikan perubahan perilaku siswa sebagai akibat adanya pengalaman dalam pembelajaran. Guru harus mampu memberikan pengalaman yang variatif dalam setiap pembelajaran supaya memberikan pengalaman baru serta membuat kegiatan belajar lebih menarik dan menantang. Guru harus mampu mengelola dan memaksimalkan komponen-komponen yang dibutuhkan dalam menunjang kualitas pembalajaran. Oleh karena itu, guru harus mampu menerapkan strategi dan metode belajar agar pembelajaran menjadi lebih kreatif dan tidak membosankan. Strategi merupakan usaha untuk

(28)

memperoleh kesuksesasn dan keberhasilan dalam mencapai tujuan (Sujarwo, 2011: 81).

Strategi pembelajaran merupakan pendekatan dalam mengelola kegiatan, dengan mengintegrasikan urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran (Hosnan, 2014: 183). Sedangkan menurut Sujarwo (2011: 81) mendefinisikan strategi pembelajaran adalah suatu strategi dalam mengelola secara sistematis kegiatan pembelajaran sehingga sasaran didik dapat mencapai isi pelajaran atau mencapai tujuan seperti yang diharapkan. Guru dituntut untuk memiliki kemampuan memilih strategi pembelajaran yang tepat.

Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk membuat siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran adalah dengan strategi pembelajaran guided inquiry. Pendekatan guided inquiry yaitu pendekatan inquiry dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi (Jauhar, 2011: 69). Pembelajaran dengan pendekatan ini memposisikan guru sebagai fasilitator dalam membimbing siswa untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung dalam kelas. Tujuan utama pembelajaran berbasis inquiry menurut National Research Council adalah:

a. Mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan konsep sains,

b. Mengembangkan keterampilan ilmiah siswa sehingga mampu bekerja seperti layaknya seorang ilmuan,

c. Membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan (Jauhar, 2011: 75).

Pembelajaran guided inquiry merupakan satu diantara bentuk-bentuk strategi pembelajaran inquiry. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Sujarwo (2011: 87), pembelajaran inquiry secara garis besar terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu:

a. Inkuiri penuh, pengelolaan pembelajaran yang dilakukan secara penuh berpusat pada peserta didik. Persiapan, pelaksanaan dan model evaluasi didesain dengan melibatkan secara penuh peserta didik.

(29)

b. Inkuiri terbimbing, pengelolaan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, namun masih membutuhkan bimbingan pendidik dalam mengarahkan proses pembelajaran. Bentuk bimbingan yang diberikan meliputi persiapan pembelajaran, pengelolaan pembelajaran, penyampaian pesan.

c. Inkuiri yang dimodifikasi, pengelolaan pembelajaran dipersiapkan oleh pendidik dalam proses pembelajaran, namun dalam pelaksanaannya diserahkan pada peserta didik.

Santrock (2014: 141), menyatakan bahwa pembelajaran saat siswa didorong untuk membangun pemahaman mereka dengan bantuan pertanyaan dan arah yang dipandu guru. Pembelajaran dengan bimbingan guru dapat lebih terencana dan efektif sehingga arah pembelajaran lebih jelas untuk ketercapaian tujuan pembelajaran. Guru membimbing siswa dengan memberikan pertanyaan atau pernyataan tentang masalah dan siswa dibimbing untuk menyelesaikan atau memecahkan permasalahan tersebut dan siswa nantinya yang akan menyimpulkan pengetahuan sendiri dibantu dengan guru. Oleh karena itu, strategi pembelajaran guided inquiry bukan pada penanaman tentang penghafalan tentang suatu konsep melainkan siswa dituntut untuk lebih semangat memahami, mendalami dan menemukan pengetahuan sendiri.

Pembelajaran inquiry memiliki tiga tingkatan yaitu: 1) guided inquiry, 2) modified inquiry, dan 3) open inquiry (Moore dalam Sujarwo, 2011: 87). Masing-masing strategi tersebut diuraikan sebagai berikut:

a. Guided inquiry adalah suatu kegiatan pembelajaran yang mana dalam pemilihan masalahnya masih ditentukan oleh pendidik. Aktivitas dalam strategi pembelajaran inquiry dilakukan melalui proses tanya jawab antara pendidik dan peserta didik, sehingga kemampuan pendidik dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama. Dalam guided inquiry merupakan proses dimana peran pendidik menyediakan bimbingan dan petunjuk yang luas, penentuan masalah dilontarkan oleh pendidik dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan yang mengarah pada tujuan pembelajaran.

b. Inquiry bebas adalah suatu proses pembelajaran yang memberi kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan masalah sendiri, mencari konsep merancang eksperimen sampai mencari kesimpulan. Peran pendidik disini hanya sebagai teman belajar hanya diperlukan sebagai tempat bertanya.

(30)

c. Inquiry dimodifikasi merupakan suatu proses pembelajaran seperti inquiry bebas tetapi topik permasalahan masih ditentukan oleh pendidik.

Berdasarkan beberapa pemaparan di atas, bentuk-betuk pembelajaran inquiry terdapat tiga tingkatan yaitu inkuiri terbimbing, inkuiri bebas, dan inkuiri dimodivikasi. Strategi pembelajaran yang sering digunakan oleh guru dalam pembelajaran di dalam lembaga pendidikan adalah menggunakan strategi pembelajaran guided inquiry (inkuiri terbimbing), karena dalam pelaksanaannya guru memberikan bimbingan dan petunjuk umum. Strategi pembelajaran guided inquiry memberikan peran guru sebagai seorang fasilitator, motivator sehingga pendekatan belajar yang berorientasi siswa dapat secara maksimal membuat siswa secara aktif terlibat dalam pembelajaran di kelas. Guru menyediakan petunjuk yang luas serta bimbingan, penentuan masalah yang diberikan ke siswa dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan yang diwujudkan dalam lembar kegiatan siswa.

Pembelajaran inquiry merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Hosnan, 2014: 341). Exlin dalam Sujarwo (2011: 82), mendefinisikan pembelajaran inquiry adalah cara mencari kebenaran informasi atau pengetahuan melalui pertanyaan. Pembelajaran yang berupa hafalan pada fakta dan informasi bukan cara utama dalam pembelajaran inquiry. Pembelajaran ini mengubah paradigma siswa dalam pembelajaran dari apa yang harus diketahui menjadi bagaimana cara mengetahui. Pembelajaran inquiry mengembangkan keingintahuan siswa dalam mencari kebenaran yang belum meyakinkan siswa. Terdapat beberapa ciri-ciri pembelajaran inquiry di antaranya:

a. Pembelajaran inquiry menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya, pembelajaran inquiry menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan pendidik secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.

(31)

b. Seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).

c. Tujuan dari penggunaan pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental (Hosnan, 2014: 341).

Inquiry adalah salah satu cara belajar atau penelahan yang bersifat mencari pemecahan permasalahan dengan cara kritis, analisis, dan ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan karena didukung oleh data dan kenyataan (Hamdani, 2011: 182). Pembelajaran dengan inquiry merupakan salah satu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas. Pelaksanaan pembelajaran inquiry adalah dengan guru membagi tugas kepada siswa untuk meneliti suatu masalah di kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan tiap-tiap kelompok mendapat tugas tertentu, mereka membahas dan mendiskusikan tugasnya di dalam kelompok dan kemudian mereka membuat laporan. Mereka harus mengungkapkan pendapatnya bersama kelompok dan merumuskan kesimpulan. Tujuan guru menggunakan strategi ini agar siswa terdorong untuk melaksanakan tugas dan aktif mencari sendiri serta menyelesaikan permasalahan yang diajukan kepadanya.

Pembelajaran inquiry memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengekspresikan diri dalam pembelajaran sehingga siswa dapat berlatih secara mandiri. Peran pendidik dalam pembelajaran inquiry hanya sebagai pembimbing dan fasilitator belajar, baik secara individu maupun dalam kelompok. Pembelajaran inquiry sangat penting dalam meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan mengubah paradigma baru dari penerimaan informasi dari guru menjadi pencarian informasi secara mandiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Lynn dalam Sujarwo (2011: 85) menyatakan bahwa penerapan strategi inquiry diarahkan pada pembelajaran aktif tidak hanya mencapai prestasi belajar.

Suryadharma dan Beyer dalam Sujarwo (2011: 85) yang menyatakan bahwa penerapan strategi pembelajaran inquiry dilakukan dengan prinsip-prinsip

(32)

yaitu berorientasi pada pengembangan intelektual, prinsip interaksi, prinsip bertanya, prinsip belajar untuk berpikir dan prinsip keterbukaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Hosnan (2014: 342) yang mengungkapkan bahwa terdapat beberapa prinsip pembelajaran inquiry di antaranya:

a. Berorientasi pada pengembangan intelektual, Tujuan utama dari pembelajaran inquiry adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar, juga berorientasi pada proses belajar.

b. Prinsip interaksi, Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara peserta didik maupun interaksi peserta didik dengan pendidik, bahkan interaksi antara peserta didik dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan pendidik bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.

c. Prinsip bertanya, Peran pendidik yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi ini adalah pendidik sebagai penanya, sebab kemampuan peserta didik untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir, karena itu, kemampuan pendidik untuk bertanya dalam setiap langkah inquiry sangat diperlukan.

d. Prinsip belajar untuk berpikir, Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, melainkan belajar adalah proses berpikir (learning how to think),yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.

e. Prinsip keterbukaan, Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas pendidik adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.

Pembelajaran inquiry dapat diimplementasikan pada semua disiplin ilmu dalam perspektif yang lebih luas melalui pengamatan dunia yang lebih luas, bisa pada disiplin seni, eksak, ilmiah, sejarah, ekonomi, sosial dan disiplin lainnya (Exlin dalam Sujarwo, 2011: 85). Sasaran utama strategi pembelajaran inquiry adalah mengembangkan penguasaan pengetahuan, yang merupakan hasil dari pengolahan data atau informasi. Siswa dituntut untuk secara aktif dalam proses mencari tahu untuk mampu menginterpretasikan informasi. Siswa akan terbiasa dengan situasi baru karena dengan inquiry akan memberikan siswa lebih kritis dan

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Form input data absensi berfungsi untuk melihat data absensi guru dan dapat.. mengetahui data guru

peroleh dari analisis dengan teknik tertentu, dalam hal ini teknik yang digunakan. adalah Cronbach

Berdasarkan observasi, objek kajian belum memiliki sertifikasi dari Lembaga Ekolabel Indonesia, sehingga hasil yang dicapai dari kriteria kayu bersertifikat adalah

yang dibentuk khusus untuk menerbitkan sukuk (SBSN). Sering pula disebut sebagai paper atau one dollar company , karena dalam praktiknya SPV tidak memiliki

Telah dipaparkan di atas bahwa terdapat hubungan yang cukup baik dan juga signifikan antara variabel sistem drainase terhadap umur jalan, untuk mengetahui seberapa besar

Garis tengah, berat segar dan berat kering jamur kuping yang tumbuh pada kayu sengon juga lebih besar dibandingkan media serbuk kayu keras. Hal ini perlu diperhatikan

(2006), “Analisis faktor psikologis konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian roti merek Citarasa di Surabaya”, skripsi S1 di jurusan Manajemen Perhotelan, Universitas

Perencanaan publikasi kegiatan tersebut dilakukan oleh bidang Humas secara komunikatif dan apik serta telah memenuhi standar perencaan yang baik berdasarkan konsep