13
BAB II
SIMBOL DAN REKONSILIASI
Dalam membangun hubungan sosial antar individu dengan individu maupun antar kelompok dalam suatu masyarakat, kehadiran simbol sangatlah penting. Penggunaan simbol tidak hanya berlaku pada satu atau dua masyarakat, namun dari unit terkecil dalam masyarakat sampai pada skala yang besar, tidak ada yang luput dari penggunaan bentuk-bentuk simbol. Simbol membantu manusia untuk berinteraksi sekaligus sebagai sebuah alat yang turut memiliki peranan besar mengatur tata hidup suatu masyarakat. Sebuah simbol dapat menampung berbagai makna dari si pengguna simbol itu sendiri.
Penghayatan terhadap sebuah simbol yang berfungsi memberi daya untuk menggerakan manusia membuat kehadiran sebuah simbol tidak dapat disepelehkan begitu saja. Simbol dapat menjadi sebuah pesan yang menyalakan semangat tentang perdamaian atau malah sebaliknya. Dengan demikian, kehadiran sebuah simbol dalam masyarakat harus dimaknai dengan jelas dan pasti oleh penggunanya. Pada bab ini, penulis menguraikan secara konseptual tentang simbol dan rekonsiliasi hubungan lintas agama.
2.1. Simbol: Pengertian, Fungsi dan Makna.
Kata simbol berasal dari bahasa Yunani yaitu ”symbollein” yang berarti mencocokan. Simbol diakui banyak menghubungkan dua entitas, dan kedua bagian itu disebut symbola. Kata ini lambat laun berarti tanda pengenalan, dalam pengertian yang lebih luas, misalnya untuk anggota-anggota sebuah masyarakat rahasia atau minoritas yang dikejar-kejar. Sebuah simbol pada mulanya adalah
14 sebuah benda, tanda, atau sebuah kata yang digunakan untuk saling mengenali dan dengan arti yang sudah dipahami. Sebuah simbol bertujuan untuk menghubungkan atau menggabungkan. Dalam pengertian sebagai symbollein, simbol dapat menggambarkan atau mengingatkan atau menunjuk kepada apa yang
disimbolkan tersebut.1
Beberapa orang melihat simbol dan ritual sebagai hal yang membosankan, tidak berguna, dan jauh dari sentuhan kenyataan sehari-hari yang penuh makna. Banyak sarjana dididik dalam ilmu pengetahuan Barat memberhentikan emosi, rasa, dan simbol sebagai hal yang tidak efektif atau tidak rasional untuk alat berkomunikasi. Pendukung ritual dan alat-alat simbolik lainnya biasanya adalah mereka yang aktif mengejar pengetahuan spiritual atau berasal dari bidang akademik yang “lebih lembut” seperti teologi, psikologi, antropologi, dan sosiologi. Ritual adalah fakta kehidupan. Kehidupan manusia adalah drama, ritual menambah cahaya dan tindakan untuk panggung yang penuh dengan aktor. Menjelajahi konsep dari ritual dan simbol berarti mempelajari hal yang sangat
menarik dan element yang kuat dari kehidupan manusia.2
Perkembangan selanjutnya menyatakan bahwa sebenarnya arti simbol sangatlah penting. Namun, ada ketidakpastian tentang bagaimana simbol-simbol muncul, bagaimana simbol-simbol berpengaruh, dan bagaimana simbol kerap kali memudar artinya. Sistem simbol yang teramat penting adalah bahasa-bahasa manusia berupa segala macam gerak-gerik dan kegiatan tubuh juga mempunyai arti simbolis. Penyembelihan binatang, pemberian kado, proses memasak,
1 F. W. Dilliston, Daya Kekuatan Simbol: The Power Of Symbols (Yogyakarta: Kanisius,
2006), 21.
2 Lisa Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding (United State of America: Kumarian,
15 cara makan dan minum, menari dan bersandiwara, semua itu dapat berfungsi sebagai simbol dan berhubungan dengan struktur masyarakat yang menjadi tempat panggungnya. Kebenaran asasi mengenai simbol-simbol adalah bahwa simbol berkaitan erat dengan kohesi sosial dan transformasi sosial. Benar bahwa seorang individu mungkin bertanggung jawab atas penciptaan bentuk simbolis yang baru dan pengaitannya dengan gagasan dan nilai yang baru, tetapi jika semua itu tidak memiliki hubungan dengan yang lama, tidak mungkin diterima. Setiap individu telah dibentuk dalam sistem simbolis bersama dan meskipun sumbangannya sendiri mungkin mengubahnya, sumbangan ini tidak akan menggantikan sistem simbolis itu. Simbol-simbol dan masyarakat saling memiliki
dan saling mempengaruhi.3
Selama evolusi manusia telah ada corak-corak masyarakat yang lain, tergantung pada gaya-gaya hidup khusus yang diperlukan untuk kelangsungan hidup. Di lain pihak, telah ada orang-orang yang mendiami daerah-daerah dunia yang kurang ramah, yang tidak tenang, selalu mencari, bersitegang dengan lingkungan alam mereka. Sistem komunikasi yang digunakan adalah pertama-tama sistem saling memberi sinyal dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan praktis atau menghadapi keadaan darurat praktis dan mempergunakan alat-alat simbolis, entah untuk mengenang pengalaman masa lalu, untuk meramal realisasi hubungan-hubungan yang baik dengan roh, binatang, dan sesama manusia di masa yang akan datang. Di lain pihak, ada orang-orang yang menetap, orang-orang yang mendiami daerah-daerah yang lebih ramah, alam menjadi sahabat untuk kelangsungan hidup sehari-hari yang relatif teratur. Sistem komunikasi
16 tama berupa sistem tanda penataan kehidupan yang menunjukan tugas-tugas yang harus dilakukan dan memberi peran yang sesuai kepada beberapa anggota
masyarakat dengan tujuan menjaga kelestarian sumber alam untuk
melangsungkan hidup. Simbol tetap berkaitan dengan kegiatan hubungan manusia sehari-hari, tetapi mempunyai fungsi tambahan, yaitu merayakan dan mengabadikan siklus kehidupan dari dunia alami yang teratur dan memperkuat
kesesuaian siklus. 4
A.N. Whitehead mengatakan bahwa pikiran manusia berfungsi secara simbolis apabila beberapa komponen pengalamannya mengunggah kesadaran, kepercayaan, perasaan, dan gambaran mengenai komponen-komponen lain pengalamannya. Perangkat komponen yang kemudian membentuk makna simbol. Keberfungsian organis yang menyebabkan adanya peralihan dari simbol kepada makna itu akan disebut referensi. Sebuah simbol sesungguhnya mengambil bagian dalam realitas yang membuatnya dapat dimengerti. Sebuah simbol jauh melebihi tanda lahir dan terlihat arbitrer untuk sebuah konsepsi yang abstrak, nilainya yang tinggi terletak dalam suatu substansi bersama dengan ide yang disajikan. Fungsi simbol adalah merangsang daya imaginasi, dengan menggunakan sugesti, asosiasi dan relasi. 5
Raymond Firth menulis tentang hakikat simbolisme terletak dalam pengakuan bahwa hal yang satu mengacu (mewakili) pada hal yang lain dan hubungan antara keduanya pada hakikatnya adalah hubungan hal yang konkret dengan yang abstrak, yang khusus dengan yang umum. Hubungan itu sedemikian rupa sehingga simbol dari dirinya sendiri tampak mempunyai kemampuan untuk
4 Dillistone, Daya Kekuatan Simbol ... 23.
17 menimbulkan dan menerima akibat-akibat yang dalam keadaan lain hanya diperuntukan bagi objek yang diwakili oleh simbol itu dan akibat-akibat itu kerap kali mempunyai muatan emosional yang kuat. Firth memandang simbol mempunyai peranan yang sangat penting dalam urusan-urusan manusia; manusia menata dan menafsirkan realitasnya dengan simbol-simbol dan bahkan merekonstruksi realitasnya itu dengan simbol. Simbol tidak hanya berperan untuk menciptakan tatanan, fungsi yang dapat dianggap pertama-tama bersifat intelektual. Sebuah simbol dapat berhasil memusatkan pada dirinya sendiri seluruh hal yang semestinya hanya menjadi milik realitas yang diwakili. Menurut Firth, simbol dapat menjadi sarana untuk menegakkan tatanan sosial atau untuk menggugah kepatuhan-kepatuhan sosial. Kesejahteraan seluruh masyarakat akan dapat dipelihara hanya apabila semua hubungan diatur dan digambarkan dalam
suatu sistem simbol. 6
Cliford Geertz mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk simbolis dalam suatu konteks sosial yang khusus mewujudkan suatu pola atau sistem yang dapat disebut kebudayaan. Menafsirkan suatu kebudayaan adalah menafsirkan sistem bentuk simbolnya dan dengan demikian menurunkan makna yang autentik. Cara dan pandangan hidup saling melengkapi kerap kali melalui satu bentuk simbolis. Hal ini memberikan gambaran tatanan yang komprehensif dan pada waktu yang sama mewujudkan pola sintetis perilaku sosial. Ada kongruensi dan kesesuaian antara gaya hidup dan tatanan universal dan hal ini terungkap dalam sebuah simbol yang terkait dengan keduanya. Geertz mengkonsepkan simbol sebagai setiap objek, tindakan, peristiwa, sifat atau hubungan yang dapat berperan sebagai
18 wahana suatu konsepsi, dan konsepsi ini adalah makna simbol. Penafsiran kebudayaan pada dasarnya adalah penafsiran simbol-simbol, sebab simbol bersifat
teraba, tercerap, umum, dan konkret.7
Simbol menurut Mary Douglas berkaitan dengan bahasa manusia dan tata cara yang dipengaruhi secara mendalam oleh masyarakat dan sebaliknya bahwa setiap masyarakat menemukan simbol-simbolnya yang autentik dengan menimba dari analogi-analogi yang diberikan oleh perilaku berpola tubuh manusia. Douglas menekankan pentingnya simbol-simbol untuk menata masyarakat. Selain itu, bentuk-bentuk simbolis juga diperlukan untuk pengalaman sosial dalam waktu, untuk perubahan, interaksi, yang harus dipandang sebagai simbol historis. Simbol historis yaitu simbol yang dibangun, dipolakan, dibentuk oleh peristiwa-peristiwa
penting dalam pengalaman sosial. 8
Victor Turner menambahkan hal yang penting bahwa dalam simbol ada semacam kemiripan antara hal yang ditandai dengan maknanya, sedangkan tanda tidak mempunyai kemiripan sepeti itu. Tanda hampir selalu ditata dalam sistem-sistem tertutup, sedangkan simbol-simbol (khusus simbol yang dominan) dari dirinya sendiri bersifat terbuka secara semantis. Makna simbol tidak sama sekali tetap. Makna baru dapat saja ditambahkan oleh kesepakatan kolektif pada wahana-wahana simbolis yang lama. Individu-individu dapat menambahkan makna pribadi pada makna umum sebuah simbol. Simbol-simbol yang dominan menduduki tempat yang penting dalam sistem sosial mana pun, sebab makna
7 Cliford Geertz, Antthropological Approaches to the Study of Religion (London and New
York: Routledge, 1966).
8 Mary Douglas, Natural Symbols:Explorations in Cosmology (London and New York:
19 simbol-simbol itu pada umumnya tidak berubah dari zaman ke zaman dan dapat dikatakan merupakan kristalisasi pola aliran tata cara yang dipimpinnya. Simbol-simbol yang lain membentuk satuan perilaku ritual yang lebih kecil, tetapi bukan sekadar embel-embel. Simbol-simbol itu mempengaruhi sistem-sistem sosial dan maknanya harus diturunkan dari konteks khusus berlangsungnya simbol-simbol itu. 9
2.1.1. Ciri Khas Simbol.
Paul Tillich membedakan antara simbol dan tanda. Menurutnya, masing-masing memang menunjuk pada sesuatu yang lain di luar dirinya sendiri. Namun, bila suatu tanda bersifat univok, arbiter dan dapat diganti, karena tidak mempunyai hubungan intrinsik dengan sesuatu yang ditunjuknya itu, sebuah simbol sungguh-sungguh mengambil bagian dalam realitas yang ditunjuknya dan yang sampai tingkat tertentu diwakilinya. Simbol berfungsi seperti ini tidak secara
mandiri tetapi dalam kekuatan hal yang ditunjuknya.10
Tillich memaparkan ciri khas simbol yaitu:
1. Simbol bersifat figurative. Simbol selalu menunjuk kepada sesuatu di luar dirinya sendiri, sesuatu yang tingkatannya lebih tinggi.
2. Simbol bersifat dapat dicerap, baik sebagai bentuk objektif maupun sebagai konsepsi imajinatif.
3. Simbol memiliki daya kekuatan yang melekat. Ciri ini memberi kepada simbol realitas yang hampir hilang daripadanya dalam pemakaian sehari-hari.
9 Victor Turner and Edith Turner, Image and Pilgrimage in Christian Culture:
Anthropological Perspective (New York: Columbia University Press, 1978).
20 4. Simbol mempunyai akar dalam masyarakat dan mendapat dukungan dari masyarakat. Ciri ketiga mungkin tampak bersifat individual semata-mata. Namun, Tillich kemudian menyatakan bahwa “jika sesuatu menjadi simbol baginya (yakni bagi individu itu), maka juga menjadi simbol dalam hubungannya dengan masyarakat yang pada gilirannya dapat mengenali simbol itu.
2.1.2 Hidup dan Matinya Simbol.
Dalam tulisannya The Life and Death of Symbols, Anthony Bridge
menjelaskan alasan matinya simbolisme. Dalam kesenian (dan hendak ditegaskan juga dalam teologi) suatu gaya hidup selama simbol-simbol terus digunakan sebagai simbol yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih jauh dari dirinya sendiri. Segera setelah sebuah simbol digunakan untuk kepentingannya sendiri dan diperlakukan sebagai fakta, artinya sebagai realitas yang sudah cukup dalam dirinya sendiri, simbol itu mati. Selanjutnya, Bridge menyarankan dua sarana untuk mengatasi masalah matinya simbol. Di satu pihak, ia mendesak agar diciptakannya simbol-simbol baru. Di lain pihak, (langkah yang lebih dapat ditempuh) haruslah dilakukan segala usaha untuk menunjukan hubungan antara simbol lama dan realitas yang ditunjuknya. Simbol terus hidup hanya sepanjang simbol memperkuat pengertian seseorang atau masyarakat tentang realitas ilahi yang menurut maksud semula, digambarkan atau dihadirkan oleh simbol itu. Sekali simbol digunakan untuk kepentingannya sendiri untuk mengungkapkan
21 fakta yang tidak dapat disangsikan, maka kegunaannya habis. Simbol itu menjadi
sandi yang tidak berdaya hidup.11
Alasan lain penyebab dari kematian simbol karena adanya upaya untuk
memberikan kepada simbol itu tafsiran yang sama sekali tetap, terbatas, tidak boleh berubah. Literalisme (harfiahisme), kesesuaian ketat, kaku, satu lawan satu antara simbol dan realitas, menghapuskan segala konotasi, pesan tambahan, dan sugesti imajinatif yang selalu dipunyai oleh sebuah simbol sejati. Simbolisme tidak dapat hidup dengan literalisme. Namun, juga dapat dinyatakan pendapat bahwa manusia, tanpa simbolisme, tidak dapat sungguh-sungguh hidup. Jika sebuah simbol harus tetap memiliki daya hidupnya, simbol itu harus senantiasa
diselaraskan dan ditafsirkan kembali di dalam konteks yang baru.12
2.1.3. Simbol Dalam Ritual.
Dahulu ritual merupakan kegiatan yang secara dominan bersifat keagamaan, diarahkan kepada daya-daya kuasa atau kemungkinan-kemungkinan transenden. Dewasa ini lebih besar kemungkinan bahwa ritual diungkapkan dalam pawai, protes, nyanyian-nyanyian, demo, yang ditujukan kepada tercapainya suatu keuntungan duniawi langsung. Dengan cara-cara yang berbeda, proses ritual terus berlangsung hingga kini dengan melibatkan kehadiran simbol dalam tindakan atau
aksi simbolik. 13
Ritual menggunakan tindakan simbolik untuk berkomunikasi membentuk atau mengubah pesan dalam ruang sosial yang unik. Fungsi ritual terbagi tiga. Pertama, ritual adalah tindakan simbolik. Tindakan simbolik sebagai tindakan
11 Anthony Bridge, The Life and Death of Symbols (1958). 12 Dillistone, Daya Kekuatan Simbol … 212-213.
13
22 fisik yang membutuhkan interpretasi. Pesan dari tindakan simbolik tidak secara langsung membahas orang atau peristiwa yang sementara terjadi, tetapi komunikasi melalui simbol, mitos, dan metafora yang mengizinkan beragam interpretasi. Kedua, ritual dan simbol sering berada pada ruang khusus yang beranjak dari kehidupan sehari-hari dalam cara yang berbeda-beda. Salah satu cara dari mengidentifikasi ritual adalah dengan menganalisa konteks dimana tindakan symbolic itu berada. Ketiga, ritual dan simbol bertujuan untuk membentuk (membangun) atau merubah pandangan seseorang, identitas, dan
hubungan.14
2.1.4. Tipe-tipe ritual.
1. Antara Tradisional dan Improvisasi.
Ritual sering didefinisikan sebagai suatu tindakan yang tradisional dalam arti bahwa hal itu merupakan satu set makna yang berulang dari waktu ke waktu. Beberapa ritual tradisional kehilangan popularitas saat ini. Margareth Mead mengklain bahwa banyak orang Amerika yang bosan dengan pengulangan sedang mengembangkan ritual sekuler baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kebosanan ritual. Sementara beberapa orang melihat ritual sebagai “antithesis dari kreativitas”, Bateson mengatakan bahwa orang mengimprovisasi ritual yang bermakna baru dalam hidup mereka melalui penciptaan kinerja bersama dalam banyak ritual interaksi manusia.
23 Ritual improvisasi sering berbaur dengan simbol tua dengan cara-cara baru untuk membuat ritual baru dengan nuansa akrab. Ritual mencoba untuk memberikan kesatuan melalui waktu dengan menghubungkan peristiwa masa lalu dengan keadaan sekarang. Dalam cara yang berbeda-beda, ritual improvisasi merekonstruksi dan menenun simbol akrab atau tradisional dengan yang baru, mewakili yang baru, dan konteks yang mengalami
perubahan. 15
2. Antara Formal dan Informal.
Kata ritual sering dikaitkan dengan formalitas. Mead menekankan pentingnya memiliki “kesadaran ritual”. Suatu tindakan dikatakan bukan ritual jika peserta tidak menyadari bahwa itu adalah ritual. Pada umumnya orang mengetahui, sebagai contoh, bahwa mereka berpartisipasi dalam ritual ketika mereka berada dalam persekutuan, acara pernikahan, atau menghadiri pemakaman. Jika formalitas merupakan persyaratan dari ritual, kemudian ritual informal seperti makan atau berdansa mungkin lebih baik disebut tindakan simbolik. Dengan demikian, ritual informal adalah saat peserta kurang atau bahkan tidak menyadari bahwa berpartisipasi dalam ritual.16
3. Antara Membentuk dan Mengubah.
Orang menggunakan ritual untuk dua hal yaitu memastikan dan menciptakan nilai-nilai dan struktur yang menciptakan rasa dari komunitas. Ritual membantu proses sosialisasi untuk mengajarkan aturan, nilai-nilai, dan struktur masyarakat kepada anggota baru dari masyarakat.
15 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 20-22. 16 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 22.
24 Anak-anak belajar tentang nilai-nilai dalam masyarakat melalui ritual. Ritual juga menegaskan tentang nilai-nilai yang orang dewasa ketahui saat diajarkan di masa muda mereka. Beberapa ritual membantu bentuk dan mengabadikan status quo dalam masyarakat. Mengubah ritual, di sisi lain, tantangan dan mengubah status quo. Ketika sejumlah orang dalam setiap komunitas menginginkan perubahan, mereka mungkin menggunakan ritual untuk bertindak sebagai ritus perjalanan menuju visi baru,
Bersosialisasi dan mengubah ritual, kedua hal ini diperlukan untuk perdamaian. Semua budaya memiliki ritual tradisional yang ada untuk membangun hubungan, membatasi kekerasan, dan memecahkan masalah. Meskipun ritual tradisional sering bersosialisasi dan melestarikan status quo, kadang-kadang aktivis perdamaian dapat membantu menghidupkan kembali atau menggambar di ritual yang ada dalam suatu budaya yang
dapat membantu untuk kegiatan pembangunan dan proses perdamaian. 17
4. Antara Konstruktif dan Destruktif.
Ritual dan konflik merupakan bagian dari pengalaman hidup manusia yang hadir dalam semua budaya di setiap waktu. Konflik dapat menjadi konstruktif, yang mengarah pada perubahan sosial, atau destruktif, yang berakhir dalam perang dan trauma. Seperti konflik, ritual adalah alat netral dan orang dapat menggunakan itu untuk kebaikan atau kehancuran manusia. Ritual konstruktif digunakan untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang menggunakannya, tanpa menyebabkan kerugian bagi orang lain. Ritual dapat memainkan peranan penting dalam komunikasi
25 antara kelompok yang berkonflik. Peran ritual destruktif dapat bermain dalam memperburuk dan meningkatnya konflik dan kekerasan. Ritual dapat memberikan nafas hidup dan harapan pada masyarakat atau membawa kematian, pesan dehumanisasi yang menyebabkan kerusakan
dan bahkan genosida.18
2.1.5. Simbol dan Ritual dalam Konflik.
Perdamaian bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang menegaskan martabat, memenuhi kebutuhan manusia dan melindungi hak asasi manusia yang seharusnya dikecap oleh setiap orang. Kebutuhan manusia terpenuhi melalui hubungan dengan orang lain. Jika sebuah komunitas tidak memenuhi kebutuhan anggota mereka, atau jika mereka menghalangi kebutuhan anggota di komunitas lain, maka orang akan terlibat dalam konflik. Setiap orang memiliki pilihan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan mereka. Setiap orang juga membutuhkan penghormatan, tapi setiap orang memberi dan menerima penghormatan dalam bentuk yang berbeda-beda dan terkadang perbedaanlah yang
dijadikan alasan munculnya konflik. 19
Membangun perdamaian membutuhkan peregangan dan perubahan terhadap bagaimana seseorang melihat dunia (sudut pandang). Ketika berada dalam konflik, persepsi orang tentang identitas ditanggapi secara berbeda, baik itu identitas tentang diri mereka sendiri dan identitas dari lawan atau musuh, selain
18 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 24. 19
26 itu respon terhadap isu-isu konflik yang tersebar juga ditanggapi dengan berbeda-beda. 20
Jika orang belajar melalui tubuh, emosi, dan rasa mereka, maka masuk akal untuk berpikir bahwa simbol dan ritual menawarkan jalur lain untuk penyelesaian konflik menuju perdamaian. Ketika proses persepsi membentuk bagaimana orang memahami konflik, aktivis perdamaian membutuhkan alat lain seperti simbol dan ritual yang dapat membantu orang menggeser pemahaman-pemahaman mereka. Saat kelompok budaya sudah memiliki sumber daya simbol dan ritual untuk penyelesaian konflik dalam tradisi mereka, maka masuk akal bila aktivis perdamaian membantu kelompok atau masyarakat tersebut untuk mengembangkan simbol dan ritual itu dalam komunitas mereka. Bila masyarakat yang berkonflik memiliki dasar-dasar nilai yang berbeda, maka aktivis perdamaian memerlukan simbol dan ritual untuk menolong mereka mengenali perbedaan dan menemukan persamaan antara orang-orang yang berada dalam komunitas yang sedang berkonflik. Jika identitas seseorang penting bagi persepsi mereka tentang konflik, maka tampaknya menjadi masuk akal bahwa proses perdamaian dalam penyelesaian konflik harus juga membantu dalam transformasi
identitas, dan hal ini dapat diperoleh dalam jalan simbol dan ritual. 21
2.1.6. Simbol dan Ritual Dalam Pembangunan Perdamaian (Rekonsiliasi). Ada empat pendekatan untuk pembangunan perdamaian, mulai dari jangka pendek, krisis orientasi sampai pada strategi jangka panjang. Empat pendekatan
20
Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 38.
21
27 tersebut antara lain; Upaya Konflik Tanpa Kekerasan, Mengurangi Kekerasan
Secara Langsung, Mengubah Hubungan, dan Pembangunan Kapasitas. 22
Kategori pertama dari perdamaian termasuk proses upaya konflik tanpa kekerasan. Lingkaran ini berusaha untuk menyeimbangkan kekuasaan antara kelompok yang bertikai dalam konflik, meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu konflik, dan menciptakan rasa kesiapan untuk perubahan, negosiasi, dan pemecahan masalah di antara kelompok-kelompok. Dalam jangka pendek, upaya konflik tanpa kekerasan meningkatkan konflik. Simbol dan ritual digunakan secara luas di kalangan aktivis non-kekerasan dan membentuk alat penting dalam kotak penyimpanan aktivis. Aktivis perdamaian menciptakan ruang yang unik, mengkomunikasikan pesan simbolik, dan mencari perubahan dari cara pandang, identitas, hubungan, dan struktur sosial melalui ritual
perdamaian atau rekonsiliasi. 23
Kategori kedua mencakup proses krisis orientasi dan program untuk menangani para korban dan pelaku atau pelaku kekerasan secara langsung. Di tingkat masyarakat, tempat penampungan tunawisma dan wanita, polisi masyarakat, dan program-program amal menawarkan dukungan kepada para korban kekerasan saat mencari pelaku yang berpotensi melakukan kekerasan dan mencegah kekerasan di masa depan. Ritual tradisional atau improvisasi dapat bersifat komitmen sosial untuk nilai-nilai perdamaian di masa krisis, membuat ruang dimana orang dapat melepaskan emosi yang terpendam dan trauma. Pemimpin dapat mengatur tindakan yang memiliki fungsi dan peran simbolik dalam membantu orang, menyembuhkan rasa trauma yang dialami.
22 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 57. 23 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 58.
28 Tujuannya adalah untuk mengurangi kekerasan yang dirasakan oleh seluruh
masyarakat.24
Simbol dan ritual juga memiliki aplikasi yang luas dalam kategori ketiga dari perdamaian, yaitu tahap peralihan yang mencakup proses untuk mengubah hubungan dan mengatasi akar konflik. Dalam lingkaran ini, level tertinggi negosiasi resmi dan mediasi idealnya terhubung dengan inisiatif tingkat menengah oleh para pemimpin agama dan organisasi, komunitas akademik, dan para pemimpin masyarakat akar rumput. Kemampuan simbol dan ritual adalah untuk membuat makna, hubungan, mengubah dan menyembuhkan identitas. Dalam banyak lokakarya perdamaian, ritual formal seperti merokok di lorong atau makan bersama sebagai suatu aksi simbolik adalah peristiwa penting dalam merubah cara orang atau kelompok yang berkonflik untuk berhubungan satu
dengan yang lainnya.25
Membangun kapasitas adalah lingkaran terakhir dari perdamaian. Ini mencakup strategi panjang seperti pendidikan, pembangunan, transformasi dan penciptaan struktur sosial baru untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ritual juga melengkapi verbal, bentuk komunikasi langsung yang diperlukan dalam pendidikan dan pengembangan. Membuat dan melakukan ritual adalah alat utama bagi masyarakat untuk memberdayakan diri mereka dan terlibat untuk mengubah struktur sosial yang menindas. Penggunaan simbol dan ritual bukanlah hal yang baru untuk perdamaian, masyarakat tardisional dan pemimpin lokakarya memiliki rasa yang kuat saat menggunakan ritual dan simbol-simbol. Penggunaan simbol dan ritual dibutuhkan dan berguna baik di
24 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 59. 25 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 59.
29 masa krisis dan upaya jangka panjang untuk pembangunan kapasitas. Dinamika ritual dan pentingnya penggunaan simbol-simbol, dalam berbagai cara berguna
dalam proses penyelesaian suatu konflik. 26
2.1.7. Merancang Panggung: Ruang Perdamaian.
Ruang ritual sering mengandung banyak benda- benda simbolis. Orang menggunakan elemen seperti api, tanah, air, bunga, dan makanan sebagai simbol dalam ritual untuk memberi makna. Misalnya, lilin awalnya digunakan di tempat suci untuk memberikan cahaya, sekarang lilin digunakan untuk menciptakan suasana spiritual meskipun listrik mungkin tersedia. Lilin membantu ruang ritual terpisah dari ruang non ritual. Peserta ritual dalam sebuah acara (upacara) berinteraksi dengan simbol. Simbol membantu identitas
orang-orang yang terlibat sebagai bagian dalam ruang ritual.27
Waktu, lokasi, simbol, bau, rasa, suara, dan kombinasi unik dari orang-orang yang bersama-sama menentukan dan mengatur ruang ritual terpisah dari ruang hidup sehari-hari. Menciptakan ruang yang terpisah sangat berguna dalam konflik, ketika ruang normal mungkin emosional atau berbahaya dan menyakitkan. Ritual dapat membuat oase khusus untuk perdamaian dimana orang yang terlibat dalam konflik dapat menemukan kekuatan dari kehancuran konflik. Bagi orang-orang yang ada dalam konflik, ritual menawarkan kesempatan unik untuk bergerak di luar konflik menjadi tempat dimana konflik
itu sendiri tampaknya tidak memiliki nilai.28
26
Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 59-60.
27 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 71. 28
30 Idealnya, ruang ritual memungkinkan nilai-nilai dan hubungan baru terbentuk. Ruang ritual mengubah lingkungan, membawa simbol penting atau menciptakan rasa indah dalam konteks yang mengumumkan hubungan unik yang akan terjadi. Bagi orang-orang yang terlibat konflik, ruang ritual adalah “jumping ahead to the end of the book” pengalaman dimana mereka dapat membayangkan berada dalam masa depan yang penuh dengan kedamaian. Sama seperti sebuah oase yang melegakan bagi wisatawan gurun, ritual dapat memberikan bantuan yang menyegarkan dari rasa sakit dan kecemasan
konflik.29
2.1.8. Simbol dan Ritual Dalam Identitas
Identitas dibangun, dilindungi, dan ditransformasikan melalui ritual dan
simbol. Di lingkungan yang tidak berkonflik, manusia memandang diri mereka sendiri dan orang lain memiliki sumber identitas yang berbeda berdasarkan keanggotaan mereka dalam kelompok budaya. Konflik mengancam identitas individu dan kelompok. Dalam situasi konflik, orang berdalih dari melihat diri mereka sebagai campuran kompleks dari berbagai identitas, semuanya kurang lebih sama. Daripada menggunakan beberapa kelompok untuk mendefinisikan identitas, individu mulai mendefinisikan dirinya dengan identitas kelompok
yang diancam.30
Mengakui identitas bersama memungkinkan lebih efektif membangun
perdamaian dalam sebuah komunitas. Orang-orang yang memiliki identitas dapat membentuk kelompok-kelompok yang berfungsi menghancurkan situasi atau hal-hal yang dapat melanggengkan konflik. Ritual dan simbol mengubah
29 Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 76. 30
31
identitas dengan menawarkan ruang kemanusiaan. Karena identitas
didefinisikan dalam konteks, persepsi dari identitas berubah menurut situasi fisik dan situasi relasional. Ketika orang berada di tempat kerja, mereka berhubungan dengan orang lain melalui identitas profesional mereka. Saat berada di rumah sendiri, mereka berinteraksi dengan anggota keluarga sesuai dengan peran mereka dalam keluarga. Simbol di lingkungan fisik membantu orang mengetahui bagaimana berhubungan satu dengan yang lain dan bagaimana caranya berpikir dan bertindak dalam konteks tertentu. Suatu konteks dapat membantu orang menemukan identitas umum dan mengenali identitas kompleks yang dimiliki masing-masing. Sementara konflik cenderung menciptakan identitas yang terfokus pada satu aspek, ritual mentransformasi
identitas kelompok kembali ke penekanan pada beberapa kelompok budaya.31
Ritual dan simbol mengubah fokus identitas dan lokus dari satu identitas,
seperti etnisitas ke rangkaian yang lebih inklusif, kompleks dan beragam. Individu yang terlibat dalam konflik dapat didorong untuk memperkuat sumber identitas lain dengan membawa pihak-pihak yang terlibat dalam konteks dimana mereka dapat lebih jelas melihat kesamaan mereka. Proses yang ditujukan untuk menangani persepsi identitas dalam konflik dapat mencakup penempatan kelompok antagonis dalam situasi baru dimana asumsi dan presepsi lama
mereka tentang identitas musuh ditantang dan diubah.32
31
Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding … 126
32
32
2.2. Perdamaian dan Rekonsiliasi
Perdamaian berasal dari kata damai yang diartikan sebagai suasana tidak adanya permusuhan dan hubungan yang serasi atau harmonis di antara kedua belah pihak. Oleh karena damai yang menunjuk pada sebuah suasana atau keadaan maka perdamaian merupakan proses atau usaha menuju suasana damai
itu.33 Tony Tampake menambahkan bahwa damai berarti suatu kualitas kehidupan
individu dan masyarakat yang sesuai dengan harkat, martabat dan hak-hak asasinya sebagai manusia sehingga memungkinkan mereka untuk berinteraksi
dengan adil, setara, dan rukun.34
Menurut Yusak Setyawan damai mengandung konsep keutuhan, kesentosaan, dan kesejahteraan (wholeness, intactness, well-being) baik berhubungan dengan aspek personal maupun aspek sosial. Damai dapat disebut sebagai simbol komprehensif (comprehensive symbol) karena memuat banyak unsur antara lain kualitas kehidupan, kebaikan, ketertiban, kemakmuran, dan ide-ide lain yang menjadikan manusia layak menjadi manusia. Damai yang mencakup keutuhan, kesentosaan, dan kesejahteraan personal mempunyai dua dimensi penting, yakni secara fisik dan batiniah. Kebutuhan personal secara holistik yang mencakup dimensi fisik dan batiniah bersinggungan secara langsung dengan
eksistensi manusia.35
33 N. A. Weny, “Tang Pi’u-Wang Solang, Menyambung yang Terputus, Menambal yang
Tersobek: Sebuah Kristologi Pendamaian dari Perspektif Orang Pantar Barat” dalam Sosiologi
Agama Pilihan Berteologi Di Indonesia (Salatiga: Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya
Wacana, 2016), 229.
34 Tony Tampake, “Signifikansi Pendidikan Perdamaian Dalam Masyarakat Bhineka
Tunggal Ika” dalam Buku Bacaan Pendidikan Perdamaian, Theofransus Litaay, Evalien Suryati, David Samiyono, dkk, (Salatiga: Griya Media, 2011), 23.
33 Damai yang dialami secara personal yang mencakup aspek batiniah meliputi pengalaman akan kedamaian batin, peace of soul. Dalam situasi ini orang mengalami perasaan nyaman, kebahagiaan, perasaan puas dengan kehidupan, tidak merasa terancam, kuatir dan mengalami anksietas (kecemasan). Individu manusia yang mengalami damai dengan diri sendiri, innerwordly concord. Maka gangguan-gangguan psikologis yang menghantui kehidupan seseorang merupakan pertanda ketiadaan damai atau kurang berkualitasnya damai dalam batin seseorang. Damai dalam arti keutuhan, kesentosaan, dan kesejahteraan sosial mengandalkan bahwa masyarakat manusia hidup dalam suasana aman dan rukun. Dalam hubungannya dengan kondisi aman dan rukun, damai mencakup pengertian yang berhubungan dengan relasi antar manusia. Tanpa relasi yang baik di antara warga masyarakat tidak akan pernah tercapai harmoni sosial. Konflik-konflik yang terjadi dalam masyarakat menunjukan terjadinya relasi, namun pada saat yang sama konflik bisa jadi merupakan potensi untuk tercapai damai asal konflik tersebut dikelola yang kemudian menghasilkan relasi yang lebih asli
(genuine) tanpa kepura-puraan dan kemunafikan. 36
Galtung mengartikan perdamaian dalam dua definisi yakni pertama, perdamaian adalah tidak adanya atau pengurangan kekerasan dalam bentuk apapun. Kedua, perdamaian merupakan tanpa kekerasan dan kreatif mentransformasi konflik. Kedua definisi ini berlaku kerja perdamaian yakni bekerja untuk mengurangi kekerasan dengan cara damai serta studi perdamain untuk kondisi kerja perdamaian. Definisi pertama berorientasi pada kekerasan dimana perdamaian menjadi negasinya. Sedangkan definisi kedua berorientasi
36
34 pada konflik dimana perdamaian merupakan konteks konflik yang terungkap tanpa kekerasan dan kreatif. Untuk mengetahui tentang perdamaian kita harus tahu tentang konflik dan bagaimana konflik bisa diubah, baik tanpa kekerasan dan
kreatif.37 Dengan demikian perdamaian berarti tidak adanya kekerasan dalam
segala bentuk maupun konflik yang berlangsung dengan cara yang konstruktif. Perdamaian ada di dalam interaksi masyarakat tanpa kekerasan serta dapat mengelola konflik mereka secara positif.
Galtung membagi perdamaian dalam dua tipologi yakni perdamaian negatif dan perdamaian positif. Perdamaian negatif diartikan sebagai tidak adanya
kekerasan atau tidak adanya perang.38 Perdamaian negatif memerlukan kontrol
pemerintah terhadap konflik yang terjadi yakni dengan melakukan pengamanan dan perlindungan oleh aparat keamanan di wilayah-wilayah perbatasan konflik. Strategi yang dipakai untuk menghadirkan damai negatif adalah dengan memisahkan pihak yang berkonflik, sehingga pihak-pihak yang berkonflik tidak saling bertemu satu dengan yang lain. Dengan menghadirkan damai negatif maka pihak yang sedang berkonflik tidak akan saling bertemu dan tidak akan tercipta ruang bersama untuk menghasilkan perdamaian yang diinginkan. Integrasi yang diinginkan semua pihak tidak terwujud oleh karena pemisahan yang dilakukan
pemerintah dengan menempatkan perlindungan sekuritas.39 Klasifikasi
perdamaian negatif adalah pesimistis, kuratif, dan perdamaian tidak selalu dengan cara damai. Gagasan perdamaian sebagai tidak adanya kekerasan kolektif
37
Johan Galtung, Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict, Development, and
Civilization (London and New Dehli: Sage Publication,1996), 9.
38
Temesgen Tilahun, “Johan Galtung’s Concept of Positive and Negative Peace in the Contemporary Ethiopia: an Appraisal,”International Journal of Political Sciences and Development. Vol 3 No 6, (2015): 251.
35 terorganisir antara kelompok manusia khususnya negara-negara, antar kelas, antar
ras, dan kelompok etnis merujuk pada jenis perdamaian negatif.40
Perdamaian positif menunjuk pada suasana damai di mana terdapat kesejahteraan, keadilan, dan kebebasan. Damai positif menganjurkan interaksi mendalam warga masyarakat demi menghadirkan integrasi sosial. Menghadirkan perdamaian positif diperlukan kerja sama dengan tujuan memperbaiki masa lalu dan membangun kembali masa depan. Kerja sama ini dapat dilakukan dengan memperhatikan masalah-masalah kemanusiaan yang dihadapi serta menjadi
tanggung jawab bersama.41
Menurut Galtung Perdamaian positif menghadirkan hal-hal baik dalam masyarakat, khususnya kerja sama dan integrasi antara kelompok yang ada dalam masyarakat. Klasifikasi perdamaian positif adalah integrasi struktural, optimis, preventif, perdamaian dengan cara damai. Perdamaian positif menunjuk pada kondisi sosial di mana kegiatan mengeksploitasi dapat diminimalkan atau dihilangkan dan di mana tak ada kekerasan dalam bentuk apa pun. Kehadiran damai positif untuk memberikan situasi yang merangkul, adil, serta menjaga harmoni ekosistem. Oleh karena itu, terkait dengan perdamaian positif, ada sepuluh nilai-nilai hubungan positif yakni kehadiran kerjasama, kebebasan dari rasa takut, bebas dari keinginan, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, tidak adanya eksploitasi, kesetaraan, keadilan, kebebasan bertindak, pluralisme, dinamisme. Dalam pemaknaannya, individu yang satu tidak mengeksploitasi satu
40
Galtung, Peace by Peaceful Means... 42
41
Izak Lattu, “Planting The Seed of Peace: Agama dan Pendidikan Perdamaian Dalam Masyarakat Multikultural” dalam Buku Ajar Agama, Mariska Lauterboom, Retnowati, dkk., (Salatiga: Satya Wacana University Press, 2015), 191.
36 sama lain, tentang individu yang tidak hidup dalam ketakutan dan kecemasan, tentang individu yang memiliki berbagai tindakan terbuka untuk diri mereka sendiri sehingga mereka dapat hidup. Perdamaian positif diisi dengan konten positif seperti pemulihan hubungan, penciptaan sistem sosial yang melayani
kebutuhan seluruh penduduk dan resolusi konstruktif konflik.42
Damai yang positif dimaknai dalam pemahaman Galtung mengenai rekonsiliasi. Menurut Galtung, rekonsiliasi adalah bentuk akomodasi dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik destruktif untuk saling menghargai satu dengan yang lain, menyingkirkan rasa sakit, dendam, takut, benci, dan bahaya terhadap pihak lawan. Dari pengertian ini maka dapat dikatakan bahwa rekonsiliasi merupakan bentuk akomodasi dari pihak yang bertikai untuk saling menghargai
dan tidak saling membenci terhadap pihak lawan.43 Rekonsiliasi merupakan
bagian dari resolusi konflik pada tahapan perdamaian yang dalam proses mengatasi konflik akan membutuhkan rentang waktu yang panjang. Hal ini disebabkan karena rekonsiliasi merupakan proses mengejar suatu perdamaian dengan penyelesaian masalah yang dimulai dari akar permasalahan dan keterbukaan untuk saling menerima, menghargai dan memafkan secara total seluruh keadaan atau situasi yang telah “rusak” disebabkan konflik. Pelepasan sekat-sekat inilah yang akan meruntuhkan dinding pembatas pemicu konflik, sehingga rekonsiliasi (pemulihan relasi dan situasi) dapat terwujud.
42
Tilahun, “Johan Galtung’s Concept,”... 252-253.
37
2.3. Rekonsiliasi Lintas Agama
Pengampunan dan rekonsiliasi bukanlah sesuatu yang secara otomatis bisa diperoleh, bukan sesuatu yang harganya ringan dan murah. Pengampunan dan pengakuan malah didahului oleh perbuatan yang merupakan isi pengakuan, perbuatan yang meninggalkan luka dan maut, perbuatan yang disertai kebencian,
kerusakan dan kerusuhan.44
Rekonsiliasi menempuh jalan penyembuhan. Rekonsiliasi merupakan tindakan moral dan perjalanan spiritual, bukan sekedar tugas yang dimulai dan diahiri pada saat tertentu. Tinggal di masa lampau tidak tidak membawa penyembuhan, dan berjalan menuju masa depan mebutuhkan perubahan-perubahan yang menjauhkan segala pihak dari penodaaan terhadap hak asasi manusia, termasuk kebebasan beragama. Komisi Nasional HAM, memiliki komisi “Truth and Reconciliation” tentang kebenaran dan pendamaian, kerukunan kembali, juga bisa menjadi simbol kesungguhan sosial untuk menempuh proses rekonsiliasi secara serius dan akan menumbuhkan kepercayaan serta solidaritas
satu sama lain.45
Upaya untuk rekonsiliasi lintas agama tidak akan berjalan mulus ketika suatu komunitas agama mempertahankan primodialisme yang ekslusuif. Semua usaha rekonsiliasi akan gagal selama agama, atau lebih tepat manusia yang beragama, tidak mampu untuk menemukan citra kemanusiaan juga dalam orang lain, walaupun ternyata dalam situasi seperti itu menjadi musuh dari dirinya. Saling mengakui harga dan martabat kemanusiaan yang satu terhadap yang lain
44 Olaf Schumann, Nico Kana, dkk, Agama-agama dan Rekonsiliasi, (Jakarta: Bidang
Marturia PGI, 2005), 12.
38 adalah prasyarat untuk melakukan langkah rekonsiliasi diantara mereka yang saling membenci. Selanjutnya, diperlukan kesungguhan dan ketulusan dalam usaha membuka dan mengakui segala hal yang terjadi. Rekonsiliasi bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan sesuatu yang tertuju pada kejadian dan pengalaman konkret yang pernah dilakukan. Kesulitan yang terjadi adalah karena budaya menutupi hal-hal yang tidak enak, rekonsiliasi harus dibuka dengan contritio, penyesalan terhadap apa yang terjadi, penyesalan dengan hati yang
ditujukan pada kaum korban, bukan terhadap pihak lain yang tidak disentuh.46
Sebuah gerakan rekonsiliasi lintas agama selanjutnya dimulai dengan melihat pada ajaran atau dogma dari agama itu sendiri. Ajaran agama yang mempunyai sifat universal sajalah yang dapat dikembangkan bersama dan dipakai sebagai fokus untuk rekonsiliasi bagi agama-agama. Rekonsiliasi lintas agama harus dirancang dan dilakukan oleh semua pihak, pemerintah, tokoh-tokoh agama, dan masyarakat (orang-orang beragama), yang dimulai dari rekonsiliasi intern
kelompok agama.47
Paul Knitter kemudian mengemukakan bahwa ternyata yang harus dilihat adalah mencari sesuatu yang di luar agama. Sesuatu yang dapat membangkitkan, meresahkan, dan menantang mereka, serta menyerukan respon dari masing-masing agama. Suatu hal yang dapat dilihat oleh semua agama, dan dengan itu dapat menenun benang-benang agama yang berbeda menjadi sebuah pakaian baru yaitu persatuan antar agama. Dengan demikian, semua agama harus melaksanakan tugas umum, yaitu bergerak pada keprihatinan terhadap penderitaan manusia,
46
Schumann, Agama-agama dan Rekonsiliasi... 22
39 eksploitasi (kemiskinan, kelaparan, tunawisma, dll) dan kekerasan, terutama kekerasan militer. Penderitaan manusia dan lingkungan merupakan realitas objektif dimana orang dari semua agama mengakui hal tersebut sebagai ancaman bagi kesejahteraan manusia. dengan demikian, tidak peduli apa keyakinannya mereka akan merasa dipanggil untuk melakukan sesuatu dalam rangka mengurangi atau menghilangkan penderitaan tersebut. Kunci dari langkah ini tidaklah dimulai dari agama, tapi dari etika. Hal ini memunculkan heurestik atau keprihatinan bersama untuk memahami sesuatu atau seseorang dari tindakan yang dilakukan oleh orang-orang beragama. Mereka menjadi lebih saling ingin tahu lebih banyak tentang keyakinan masing-masing. Itulah kunci atau titik temu (benang merah) untuk mencapai hubungan antar agama sekaligus menciptakan
rekonsiliasi lintas agama.48
Dalam membangun rekonlisiasi lintas agama khususnya di Ambon-Maluku dilakukan upaya-upaya yakni membangkitkan kesadaran kolektif yang dimiliki bersama. Walaupun kesadaran tentang penyebab konflik Ambon telah dimiliki oleh sebagian besar anak Ambon dan rasa penyesalan yang timbul sebagai akibat pernah terpengaruh untuk terlibat dalam konflik Ambon, namun bukan berarti hal itu sudah cukup untuk tidak perlu lagi terus menerus membangun dan memperkuat integrasi anak Ambon. Ketua MUI Maluku berpendapat bahwa yang terpenting untuk menciptakan hubungan rekonsiliasi lintas agama di Ambon, Maluku adalah dengan berwaspada terhadap issue atau tindakan yang berpotensi memecah belah, dan masyarakat harus bersatu membangun Ambon. Tidak terlalu sulit bagi orang-orang Ambon untuk
48
Paul. F. Knitter , Global Responsibility and Interreligious Dialogue:Searching for
40 melakukan hal tersebut sebab nilai-nilai budaya di Maluku (Ambon) dalam bentuk pela, gandong, duan lolat, maano dan sebagainya yang dilakukan sejak dahulu, diwariskan, dipertahankan, dan dilakukan sampai pada saat ini dan waktu mendatang. Di dalam pela-gandong, ada solidaritas dan kerelaan untuk berkorban dan telah menjadi panggilan jiwa bagi masyarakat Ambon-Maluku yang ada
dalam hubungan pela dan gandong itu.49
Demi terwujudnya rekonsiliasi lintas agama, maka perlu adanya tindakan atau upaya yang berfungsi menangkal issue-issue menyesatkan dalam masyarakat. Dengan demikian, beberapa aksi mesti dilakukan, misalnya membuka jaringan-jaringan dalam suatu struktur koordinasi yang melibatkan berbagai potensi masyarakat secara formal maupun informal. Mereka yang dilibatkan harus orang-orang yang terpercaya, yang telah menunjukan partisipasinya dalam membangun
upaya-upaya perdamaian atau rekonsiliasi dalam masyarakat.50
49 Samuel Waileruny, Membongkar Konspirasi di Balik Konflik Maluku, (Jakarta: Yayasan
Pustaka Obor Indonesia, 2010) 219.