• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ulil Octaliany. Morning Evening. Penerbit NulisBuku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ulil Octaliany. Morning Evening. Penerbit NulisBuku"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Ulil Octaliany

Morning

Evening

Penerbit

(2)

Morning ❤ Evening Oleh: Ulil Octaliany

Copyright © 2012 by (Ulil Octaliany)

Penerbit Nulis Buku nulisbuku.com [email protected] Desain Sampul: @uliloctaliany Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com

(3)

Sedikit Kata

Alhamdulillah. Akhirnya buku ini selesai. Terima kasih, pertama dan yang utama kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak imajinasi, menyelipkannya didalam lubang-lubang otak saya. Terima kasih, kepada orang tua saya, Ibu dan ayah, kedua adik saya, keluarga besar, teman-teman, sahabat, dan seluruh orang-orang yang banyak memberi support terlihat maupun tidak.

Terima kasih, kepada nulisbuku.com untuk sarana yang diciptakannya, sehingga saya dan juga penulis pemula lain dapat mewujudkan impiannya, yaitu memiliki bukunya sendiri. Terima kasih.

Buku ini sebuah cerita fiktif. Dari imajinasi tingkat tinggi saya, untuk anda. Selamat membaca. Selamat berimajinasi :)

@uliloctaliany xoxo

(4)

-Lily-

Pelajaran pertama selesai. Lily menyambar laptopnya dan berjalan santai menuju perpustakaan. Lama sekali ia bergeming setelah menyalakan

laptopnya sambil memutar otaknya,

melambungkan imajinasinya yang ia sangat yakin bahwa sedang dalam keadaan tidak berfungsi. Lily menghela nafas kesal. Lebih tepatnya, rasa bosan. Ia sedikit bosan dengan tumpukkan buku yang berjajar didalam barisan rak yang tersusun rapih di perpustakaan itu berikut dengan kegiatan didalamnya. Biasanya ini menjadi tempat favoritnya untuk menulis naskah atau sekedar menghabiskan waktu istirahat dengan membaca atau malah melamun. Bangku pojok menghadap jendela besar

(5)

yang dengan pemandangan langsung menuju lapangan bola dengan rumput hijau, tiang-tiang gawang dikedua sisinya, dan beberapa siswa pemain bola lengkap dengan para groupies dan para pemandu sorak yang sedang berlatih, sudah menjadi singgahsananya. Suasana disini sepi namun tetap hidup. Beberapa siswa sibuk dengan tugas harian mereka yang memusingkan dengan tidak membuat keributan, dan beberapa siswa lain hanya membaca atau sekedar berkutat dengan laptopnya, seperti yang sering dilakukan Lily.

Namun hari ini tampak berbeda. Lily seperti butuh udara segar. Udara pembawa oksigen yang dapat mengisi setiap ruangan diotaknya yang sedang buntu dan perutnya yang sedang lapar. Maka melangkahlah ia menyusuri lorong sekolah yang penuh dengan aktifitas murid-muridnya saat jam istirahat seperti ini, sambil membawa laptopnya dan sebungkus snack pengganjal kelaparannya. Lily berjalan santai tanpa arah. Melewati barisan locker disepanjang lorong yang menhantarkan ia menuju pintu utama. Lily masih berjalan, sampai ia berhenti disebuah pintu besi menuju lapangan yang sering dilihatnya dari baik jendela di perpustakaan dilantai

(6)

3. Setelah menimbang sebentar dan meyakini dirinya, Lily berjalan menaiki tangga tribun, melewati beberapa para groupies dengan teriakan histerisnya memuja permainan sang idola atau lebih tepatnya hanya ketampanan dan tubuh bidangnya saja.

Lily duduk di tribun paling atas, hampir memojok kalau saja tempat itu bisa lebih bersih. Beberapa sampah gelas plastic, kalengan coke, dan bungkus-bungkus snack berserakan disana. Hampir disetiap sudut, dan paling banyak dipojok tribun. Ia mengerutkan dahinya, lalu acuh. Lily mulai membuka laptopnya. Membuka kembali doc “naskah 2!” yang sudah hampir ditulisnya kemarin tapi terhenti disebuah tab awal dari sebuah paragraf. Miris. Ia baru saja aka memulai, dan terhenti setelah membuat format penulisannya. Tak habis fikir. Lily pernah membuat sebuah naskah drama bertema persahabatan yang diterima dengan wajah berbinar oleh gurunya beberapa waktu lalu dan menjadi drama utama pengisi acara “homecoming” sekolahnya, seharusnya hal ini menjadi mudah. Namun Lily kehabisan akal. Ia merasa belakangan ini pikirannya tidak bekerja dengan normal.

(7)

Mungkin karena masalah putusnya hubungan sang kakak sepupu dengan sang pacar, yang menjadi kisah telenovela terbaru, terbooming dan terheboh di rumahnya.

❤❤❤

Lily sedang asik menikmati roti gandum favoritnya dengan selai cokelat sambil membaca novel di ruang duduk, ketika pintu utama tiba-tiba terbuka dan Tania masuk dengan langkah berat, nafas tersenggal-senggal dan mata yang berbengkak hebat. Tania menatapnya beberapa detik, lalu berlari menuju kamarnya dilantai dua, yang tepat bersebelahan dengan kamar Lily.

Lily cemas, dengan gesit ia langsung menyusul Tania. Pintu kamarnya tertutup. Lily mengetuk dengan lembut sambil meminta izin masuk, lalu perlahan ia putar knop pintu yang ia sangat yakin tidak terkunci. Tepat! Tania memang bukan orang yang suka mengunci diri dikamar, apapun masalahnya. Mengurung diri iya, mengunci diri tidak. Tania sedang meringkuk dikasurnya dengan tangis tertahan. Lily mendekat.

(8)

“kau baik-baik saja?” Tanya Lily duduk ditepi tempat tidur. Tangannya mengusap punggung Tania pelan. Tania bangkit dan langsung memeluk adik sepupunya dengan erat, tangisnya meledak. Lily tak lagi ingin banyak bicara. Ia membiarkan Tania larut dalam air matanya yang akan menghantarkan ia pada ketenangan, baru setelah itu pasti masalahnya akan segera diceritakan.

“Bruno memutuskan hubungan kami…” kata Tania. Matanya menatap kosong. “ia bilang, ia tidak lagi mencintaiku”

“loh? Bukankah hubungan kalian serius?” “aku juga tidak mengerti Lily. Ia dengan mudah mengakhiri semuanya. Aku tidak sanggup” Tania mulai menahan air matanya. “kami seharusnya menikah bulan depan, atau bulan berikutnya…” tangisnya pecah kembali, namun lebih tenang. Lily memeluk Tania.

“apa alasannya?”

“wanita lain…” kata Tania lalu melepas pelukan Lily. “aku yakin ada wanita lain. Mengapa dia begitu jahat? Aku sudah sangat mencintainya, dan ia meninggalkanku begitu saja demi wanita

(9)

lain?” air mata mengalir deras kembali. Lily tak ingin banyak bertanya. Pertanyaan yang keluar pasti akan dijawab dengan linangan air mata.

Kejadian itu membuat Tania menjadi sedikit pendiam beberapa hari ini. Melamun dan menangis menjadi hobby barunya disetiap sudut dirumah. Lily hanya dapat menatap bingung dan kasihan melihat tingkah kakak sepupunya itu, namun ia tak bisa banyak menolong karena ia juga tak tahu apapun tentang masalah percintaan.

❤❤❤

Biasanya kejadian tersebut tidak akan menganggu Lily sama sekali. Entahlah! Padahal tugas naskah dari kelas drama yang ia ikuti ini sudah dimulai dari dua hari yang lalu. Dan tak ada satupun ide menarik yang mengilhaminya.

Lily membuka snacknya dan memakannya perlahan. Menikmati setiap remahannya mengisi rongga mulutnya lalu masuk ke tenggorokan dan kemudian menuju lambungnya. Ia sadar betul, snack kentang ini hanya akan mengotori giginya dan bukan malah mengenyangkannya. Tapi Lily tak

(10)

peduli. Ia hanya ingin makan sesuatu apapun itu. Sambil terus mengunyah, matanya mulai menyapu keadaan sekitar. Mengamati begitu riuhnya para groupies berteriak, begitu semangatnya para pemandu sorak berlatih, dan begitu letihnya para pemain bola menggiring benda keramatnya menuju gawang tim lawan. Lily menyadari sesuatu, kehidupan disini jauh lebih nyata ketimbang dilantai 3 sana. Ia berusaha mengikuti pertandingan bola dari tim inti sekolah yang tak pernah ia kenal. Bola matanya berputar mengikuti arah bola yang ditendang kesana kemari oleh pemainnya. Tangannya kadang mengepal gemas saat bola mulai mendekati gawang beriring dengan sorak-sorai para groupies, padahal entah tim mana yang ia bela.

Lily memfokuskan kembali dirinya pada laptop dan calon naskah dihadapannya. Ia mencoba keras memusatkan fikirannya. Menggali setiap lubang harapan yang mungkin terselip sebuah ide brilian. Nihil. Lily pasrah lagi hari ini. Ia menghela nafas berat dan bersandar dipunggung tribun. Matanya menatap lapangan lagi. Pertandingannya sudah selesai, dengan entah berapa skornya dan tim mana yang menang. Para pemain terlihat tengah

(11)

beristirahat di tribun bawah dikelilingi para groupies yang sepertinya –menurut lily tapi mungkin benar- sebagian dari mereka memang punya hubungan khusus dengan para pemain.

Lily menopang dagunya dilaptop yang sudah ia tutup, mengamati pemandangan dibawahnya tanpa ekspresi. Sebuah senyum terulas disana. Dari seorang pemain berambut hitam yang menutupi kening dan telinganya, berkaos abu-abu basah karena keringat, bercelana pendek, dan bersepatu bola. Dan senyum itu untuknya . Lily sempat memutar kepalanya. Berusaha menemukan seseorang disisinya namun tak ada siapa pun. Cowok itu menegak air mineralnya sambil matanya terus menatap, lalu kemudian tersenyum lagi. Lily terkesiap, kemudian bergegas pergi dari tribun dengan jalan memutar yang tentu saja karena tak ingin melewati barisan kerumunan dibawahnya, menenteng tas laptopnya dan meninggalkan snack yang baru separuh dimakan.

Referensi

Dokumen terkait

Di sisi lain, di negara berkembang, terutama di daerah pedesaan, masalah yang dialami oleh masyarakat adalah akses listrik masih kurang dari 70 persen, oleh karena itu

[r]

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan posisi bersaing adalah suatu tindakan atau langkah-langkah dari perguruan tinggi untuk mendesain citra perguruan tinggi dan penawaran

gerakan yang dimulai dengan melompatkan kaki kanan ke depan diikuti kaki kiri, posisi badan setengah jongkok, kemudian posisi tangan kanan rentang kesamping kanan lurus dan

Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas penambahan cairan isi rumen sapi pada sampah organik dalam memproduksi biogas sebagai pengembangan

17 SKK-MIGAS-01-025 Mempekerjakan Kembali Tenaga Kerja Indonesia di Atas Usia Pensiun 18 SKK-MIGAS-01-026 Melakukan Evaluasi Kinerja Pengelolaan SDM dari SKK Migas 19

Berdasarkan hasil evaluasi penawaran yang terdiri dari evalusi dokumen administrasi, evaluasi dokumen teknis, dan evaluasi dokumen harga terdapat 4 (empat) persahaan yang

IPAL pada Rumah Susun Tanah Merah 1 direncanakan menggunakan grease trap untuk mengolah greywater. Sedangkan blackwater diolah pada ABR dan aerobic biofilter bersama