• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan di Kairo Mesir tahun 1994 menekankan bahwa kondisi kesehatan tidak sekedar terbebas dari penyakit atau kelemahan fisik, tetapi meliputi aspek mental dan sosial yang berhubungan dengan bekerjanya fungsi, sistem serta proses reproduksi. Oleh karena itu, kesehatan reproduksi berarti bahwa setiap orang dapat mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman, termasuk hak pria dan wanita untuk memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap cara-cara keluarga berencana yang aman, efektif dan terjangkau, pengaturan fertilitas yang tidak melawan hukum, hak memperoleh pelayanan pemeliharaan kesehatan yang memungkinkan para wanita dengan selamat menjalani kehamilan, melahirkan anak dan memberikan kesempatan untuk memiliki bayi yang sehat. Salah satu bukti bahwa hak reproduksi pada wanita terpenuhi ditunjukkan dengan adanya peningkatan penggunaan pelayanan kesehatan yang merupakan suatu wujud nyata dari peningkatan tindakan wanita dalam pencarian pelayanan kesehatan reproduksi. Tindakan pencarian pelayanan kesehatan reproduksi adalah tindakan yang dilakukan oleh wanita untuk mencari dan menentukan tempat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi (Wado, 2013). Sasaran kesehatan reproduksi difokuskan pada wanita sepanjang masa reproduksinya, yaitu sejak wanita mendapatkan menstruasi pertama sampai dengan masa menopause (BKKBN, 2010a).

Angka kematian ibu sudah mengalami penurunan, namun masih jauh dari target MDGs tahun 2015. Berakhirnya agenda Millennium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015, kelanjutan program ini disebut Sustainable Development Goals (SDGs), meliputi 17 goals bidang kesehatan. Dalam bidang kesehatan, fakta menunjukkan bahwa individu yang sehat memiliki kemampuan fisik dan daya pikir yang lebih kuat, sehingga dapat berkontribusi secara produktif dalam pembangunan masyarakatnya. Peningkatan status kesehatan masyarakat,

(2)

commit to user

khususnya ibu dilakukan dengan indikator menurunnya angka kematian ibu serta meningkatnya upaya peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, pembiayaan kegiatan promotif dan preventif. Kualitas SDM wanita harus tetap ditingkatkan. Wanita turut mempengaruhi kualitas generasi penerus karena fungsi reproduksi wanita berperan dalam mengembangkan SDM di masa mendatang. Kesehatan reproduksi menjadi cukup serius sepanjang hidup, terutama bagi wanita (Manuaba, 2002).

Permasalahan kesehatan reproduksi remaja, antara lain: (1) Angka kelahiran pada wanita remaja usia 15-19 tahun masih tinggi, yaitu 48 per 1000 wanita usia 15-19 dan remaja wanita 15-19 tahun yang telah menjadi ibu dan atau sedang hamil anak pertama meningkat dari 8,5% menjadi 9,5%; (2) Masih banyaknya perkawinan usia muda, ditandai dengan median usia kawin pertama wanita yang rendah, yaitu 20,1 tahun (usia ideal perkawinan menurut kesehatan reproduksi adalah 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria); (3) terdapat kesenjangan dalam pembinaan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi remaja (KRR) yang tergambar pada tingkat kelahiran remaja (angka kelahiran remaja kelompok usia 15-19 tahun); (4) Tingginya perilaku seks pranikah di sebagian kalangan remaja yang berakibat pada kehamilan yang tidak diinginkan masih tinggi; (5) Pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku berisiko masih rendah; serta (6) Cakupan dan peran pusat informasi dan konseling remaja (PIKR) belum optimal. Promosi kesehatan sebagai upaya promotif dan preventif berperan penting untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah (BKKBN, 2010b).

Kesehatan remaja yang sudah menikah, terutama remaja wanita, merupakan salah satu prioritas masalah yang memerlukan solusi tepat. Lebih dari 50% dari penduduk Indonesia adalah wanita, mereka tinggal di pedesaan. Sebagian besar di antaranya ada dalam status ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah. Jumlah penduduk yang tinggi tersebut harus diimbangi dengan upaya peningkatan kualitas penduduk. Kesehatan remaja wanita yang telah menikah merupakan salah satu solusi pengendalian AKI (angka kematian ibu) di Indonesia.

(3)

commit to user

AKI adalah salah satu indikator kesejahteraan suatu negara yang telah diakui secara internasional. Faktor penyebab langsung AKI adalah perdarahan 28%, eklampsi 24%, infeksi 11%, dan lain-lain sebesar 11%. Faktor penyebab tidak langsung meliputi faktor terlambat dan empat terlalu. Faktor empat terlalu meliputi terlalu tua hamil (hamil di atas usia 35 tahun), terlalu muda untuk hamil (hamil di bawah usia 20 tahun), terlalu banyak (jumlah anak lebih dari 4), dan terlalu dekat (jarak antar kelahiran kurang dari dua tahun). Ini semua terkait dengan faktor pemberdayaan wanita, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat, nilai, budaya, perekonomian serta rendahnya perhatian pria terhadap ibu. Di banyak negara berkembang, masih disebabkan hambatan akses, yaitu berupa ketidakberdayaan wanita dalam pengambilan keputusan, sementara peran suami, ibu atau mertua sangat dominan dan banyak faktor lain yang menyebabkan keterlambatan dalam rujukan (DepKes RI, 2010).

Masih tingginya AKI merupakan indikator kurang berhasilnya program kesehatan reproduksi. Menurut Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY) pada tahun 2012, jumlah kematian ibu di Yogyakarta 87.3/100.000 kelahiran hidup. Di Kabupaten Sleman jumlah kematian ibu tertinggi, yaitu 87.6 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu upaya menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan kesehatan reproduksi (Bappenas, 2010). Salah satu upaya peningkatan kualitas hidup manusia dapat dilakukan melalui upaya peningkatan kesehatan reproduksi, khususnya bagi remaja dan generasi muda, yang akan meningkatkan indeks sumber daya manusia di masa yang akan datang.

Kesehatan reproduksi pada masa perkawinan meliputi perawatan kehamilan, pertolongan persalinan, perawatan nifas. Remaja sebagian besar belum menyadari dampak kesehatan reproduksi pada usia perkawinan kurang dari 20 tahun (UNICEF, 2000). Menikah di usia kurang dari 20 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Meskipun deklarasi hak asasi manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang perkawinan anak, namun ironisnya, praktik perkawinan usia muda masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi kelompok usia muda masih terabaikan. Implementasi undang-undang

(4)

commit to user

seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, di antara wanita usia 10-54 tahun, 2,6% menikah pertama kali pada umur kurang dari 15 tahun dan 23,9% menikah pada umur 15-19 tahun. Data World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa 140 juta anak wanita menikah sebelum berusia 18 dan 50 juta wanita menikah di bawah usia 15 tahun (WHO, 2013). Data tersebut menunjukkan angka kejadian perkawinan usia muda yang dilakukan oleh kalangan remaja di Indonesia masih tinggi. Perkawinan merupakan awal kehidupan besar bagi wanita, tinggal bersama suami, keluarga baru, perlu adaptasi dengan lingkungan baru, segera memiliki anak dan berbagai masalah kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, pola asuh demokratis orang tua, penyuluhan, dukungan teman sebaya, tingkat kedewasaan perkawinan. Pada perkawinan usia muda, diibaratkan remaja yang sedang tumbuh harus mengandung janin yang perlu diberi makan, sehingga terjadi perebutan dalam perkembangan. Walaupun kemungkinan dapat selamat, namun kualitas anak yang dilahirkan remaja tentu akan berbeda dengan yang dilahirkan wanita dewasa yang memang sudah siap untuk melahirkan.

Usia 11-19 tahun merupakan masa remaja, yaitu suatu periode perubahan atau masa transisi antara masa anak-anak menuju dewasa. Masa remaja adalah masa pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial-ekonomi yang pesat. Satu dari sekitar enam orang di Indonesia berada dalam rentang usia remaja (WHO, 2013). Pada tahun 2012, terdapat 1,2 miliar (18%) remaja dari populasi dunia. Di Indonesia, dari 237,6 juta jiwa penduduk pada tahun 2010, di antaranya terdapat 43,6 juta jiwa (18,3%) penduduk dalam kelompok usia 10-19 tahun. Besarnya populasi remaja ini dapat bertransformasi menjadi kesempatan dan tantangan bagi individu maupun pemerintah. Besarnya penduduk remaja akan berpengaruh pada pembangunan dari aspek sosial, ekonomi maupun demografi, baik saat ini maupun di masa yang akan datang.

Pada masa ini, remaja mengalami perubahan, baik emosi, tubuh, minat maupun pola perilaku. Oleh karena itu, remaja sangat rentan mengalami

(5)

commit to user

masalah yang timbul akibat terjadinya perubahan dalam dirinya dan lingkungan sosialnya. Ada empat ciri utama yang harus diperhatikan dalam perkembangan perubahan remaja, yaitu: (1) Adanya kesadaran dalam dirinya sebagai makhluk biologis; (2) Adanya ketertarikan kepada teman kelompok sebaya dalam lingkup heteroseksualitas; (3) Timbulnya dorongan untuk mencapai kebebasan pribadi; dan (4) Keinginan untuk menetapkan norma kehidupan yang dianutnya. Fase remaja sering dianggap sebagai fase yang sangat tidak stabil dalam perkembangan manusia.

Pada masa ini, remaja tidak hanya dituntut untuk sekedar lebih meningkatkan kualitas pengetahuannya saja, tetapi juga keterampilan dan kualitas pribadi sebagai bekal untuk hidup secara mandiri. Dalam pencapaian pendidikan pada jenjang ini, remaja diharapkan memiliki kemampuan dan wawasan yang lebih luas serta berpeluang untuk memasuki dunia kerja dan hidup di masyarakat, sekaligus memiliki kesiapan untuk hidup berkeluarga yang merupakan salah satu bagian dari tugas perkembangannya (WHO, 2002).

Program Keluarga Berencana Nasional menganjurkan usia perkawinan bagi wanita 20 tahun dan bagi pria 25 tahun, karena remaja pada usia lebih dari sama dengan 20 tahun sudah matang dalam mengambil keputusan serta kemampuan produktivitas sudah memadai (Maramis, 2005; BKKBN, 2010a). Keluarga yang sehat merupakan dasar penting dalam melahirkan individu dan keluarga sejahtera dengan mempersiapkan perkawinan sejak awal, karena keluarga adalah unit produksi ekonomi, status sosial dan keamanan bagi para anggotanya, sehingga diperlukan seorang pria-wanita untuk dapat menjalankan rumah tangga dan mempertahankan status keluarga (UNICEF, 2000; Hidayati, 2008; dan Hassan et al., 2012). Untuk memperoleh keturunan yang baik secara biologi, psikologi dan sosial, penting diketahui reproduksi sehat sejak usia muda. Apabila alat reproduksi tidak dijaga dengan baik, kemungkinan untuk memperoleh keturunan yang sehat secara biologi, psikologi dan sosial akan menjadi dilema yang besar. Persiapan dini dapat dimulai sejak usia remaja.

Peraturan perundang-undangan dan/atau regulasi yang ada belum mendukung peningkatan usia kawin pertama wanita menjadi 21 tahun. Menurut

(6)

commit to user

data yang diperoleh dari Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (2013), perkawinan usia muda di Kabupaten Sleman dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sebagai berikut: tahun 2007 sejumlah 2 orang, tahun 2008 sejumlah 13 orang, tahun 2009 sejumlah 37 orang, tahun 2010 sejumlah 64 orang, tahun 2011 sejumlah 110 orang dan tahun 2012 sejumlah 128 orang. Penanganan perkawinan usia muda sudah lama dilakukan oleh pemerintah melalui pembatasan usia perkawinan. Penanganan lain yang telah dilakukan adalah melalui program generasi berencana, yaitu promosi penundaan usia kawin, menyediakan informasi tentang kesehatan reproduksi, dan promosi kesehatan yang merencanakan kehidupan berkeluarga sebaik-baiknya melalui PIKR (Indriyani dan Asmuji, 2014).

Beberapa penelitian membuktikan bahwa banyak wanita yang menikah pada usia muda yang tidak mengetahui fungsi organ tubuh dan kesehatan reproduksi (Shrestha, 2011). Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang baik dapat mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, komplikasi persalinan dan nifas (Rafael et al., 2015). Jalinan komunikasi orang tua dan remaja wanita dapat meningkatkan kesehatan reproduksi. Orang tua perlu diajarkan tentang kesehatan reproduksi agar dapat menyampaikan pengetahuan penting untuk anak-anak mereka (Hindin dan Adesegun, 2009). Sementara itu, Rajesh et al. (2013) menemukan bahwa kebutuhan informasi kesehatan remaja wanita yang baru menikah dapat diatasi secara efektif melalui penyuluh kesehatan. Dukungan teman sebaya berkontribusi terhadap tingkat kesehatan reproduksi remaja (Azri et al., 2015). Semakin dewasa suatu pasangan, semakin besar kemungkinan pasangan tersebut akan hidup bahagia selamanya (Declaire, 2001). Persentase remaja wanita yang melakukan kunjungan perawatan antenatal minimal empat kali selama kehamilan meningkat dari 29% menjadi 50% dan kunjungan perawatan pasca-natal meningkat (Sigurdson et al., 2013). Bukti-bukti empirik dan teoritis ini melandasi asumsi penelitian ini.

Peran pemerintah, orang tua dan juga masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah. Para remaja diharapkan dapat merencanakan masa depan mereka dengan baik sebelum

(7)

commit to user

melangsungkan perkawinan. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai model determinan kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah dalam upaya promosi kesehatan reproduksi di Kabupaten Sleman.

B. Rumusan Masalah

Keluarga yang sehat merupakan dasar penting dalam melahirkan individu dan keluarga sejahtera. Keluarga yang sehat dapat direncanakan dengan mempersiapkan perkawinan sejak awal, karena keluarga adalah unit produksi ekonomi, status sosial dan keamanan bagi para anggotanya, sehingga diperlukan seorang pria atau wanita untuk dapat menjalankan rumah tangga dan mempertahankan status keluarga.

Masa remaja merupakan masa peralihan. Remaja tidak terlepas dari dampak globalisasi, antara lain pergaulan bebas, longgarnya norma sosial, serta arus informasi yang semakin meningkat. Banyak remaja yang sudah melakukan perkawinan. Semestinya remaja berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Dalam Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin dari kedua orang tua. Seperti pria yang telah mencapai umur 19 tahun dan bagi wanita yang telah mencapai umur 16 tahun (Undang-Undang No.1 tahun 1974). Di bawah umur tersebut berarti belum boleh melakukan perkawinan sekalipun diizinkan oleh orang tua.

Batas umur yang tercantum dalam undang-undang perkawinan lebih menitikberatkan pada pertimbangan segi kesehatan. Hal tersebut dapat terlihat jelas dalam penjelasan undang-undang tersebut, bahwa untuk menjaga kesehatan suami-istri dan keturunan, perlu ditetapkan batas-batas umur untuk perkawinan. Padahal, dalam melangsungkan perkawinan tidak hanya segi kesehatan saja yang perlu dipertimbangkan, karena dalam kehidupan rumah tangga banyak faktor yang berpengaruh, di antaranya psikologi. Faktor psikologi dibutuhkan karena dalam perkawinan timbul banyak hal yang membutuhkan pemecahan dari segi kedewasaan psikologi. Usia perkawinan yang terlalu muda dapat mengakibatkan

(8)

commit to user

meningkatnya permasalahan karena kurangnya kesadaran untuk bertanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga.

Berdasarkan fenomena yang diuraikan, dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Apakah tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi, pola asuh demokratis orang tua, penyuluhan PIKR, dan dukungan teman sebaya berpengaruh terhadap tingkat kedewasaan perkawinan pada remaja yang sudah menikah di Kabupaten Sleman?

2. Apakah tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi, pola asuh demokratis orang tua, penyuluhan PIKR, dan dukungan teman sebaya melalui tingkat kedewasaan perkawinan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung melalui tingkat kedewasaan perkawinan terhadap tingkat kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah di Kabupaten Sleman?

3. Apakah model pengaruh tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi, pola asuh demokratis orang tua, penyuluhan PIKR, dan dukungan teman sebaya melalui tingkat kedewasaan perkawinan terhadap kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah di Kabupaten Sleman fit dengan datanya?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Mengetahui model determinan kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah di Kabupaten Sleman.

2. Tujuan khusus

a. Menganalisis benar tidaknya tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi, pola asuh demokratis orang tua, penyuluhan PIKR, dukungan teman sebaya berpengaruh terhadap tingkat kedewasaan perkawinan pada remaja yang sudah menikah di Kabupaten Sleman.

b. Menganalisis benar tidaknya tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi, pola asuh demokratis orang tua, penyuluhan PIKR, dukungan teman sebaya melalui tingkat kedewasaan perkawinan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung melalui tingkat kedewasaan perkawinan

(9)

commit to user

terhadap tingkat kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah di Kabupaten Sleman.

D. Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu masukan Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman dan BKKBN untuk perencanaan dan pelaksanaan program promosi kesehatan dalam meningkatkan kesehatan reproduksi, terutama bagi remaja yang telah menikah melalui pendewasaan perkawinan.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi remaja untuk terus berusaha memperbaiki pengetahuan dengan aktif mengikuti kegiatan penyuluhan PIKR untuk meningkatkan kedewasaan perkawinan dalam upaya meningkatkan kesehatan reproduksi.

3. Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi orang tua, tokoh masyarakat, kader, dan masyarakat, serta meningkatkan kerja sama lintas sektor dalam upaya pengembangan promosi kesehatan terhadap kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah.

E. Kebaruan Penelitian

Beberapa aspek sebagai kebaharuan pada penelitian ini, dijelaskan pada beberapa hasil penelitian sebelumnya yang menjadikan rujukan dan sekaligus memperlihatkan perbedaan penelitian ini. Beberapa hasil penelitian tersebut, antara lain sebagai berikut :

1. Penelitian berjudul “Evaluation of A Sexual and Reproductive Health Education Programe: Students’ Knowledge, Attitude and Behaviour in Bolgatanga Municipality, Northern Ghana”, yang merupakan penelitian dari Jolien et al. (2015). Fokus kajian kesehatan reproduksi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap siswa. Siswa wanita berusia 18-20 lebih positif terhadap perubahan perilaku setelah program SRH, sedangkan siswa pria tetap sama.

(10)

commit to user

2. Penelitian berjudul “A Review of Teenage Pregnancy Research in Malaysia”, yang merupakan penelitian dari Azri et al., (2015). Fokus kajian perkawinan usia muda dan kesehatan reproduksi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 19.000 kelahiran dari ibu remaja berasal dari hamil sebelum menikah 1,99%. Hal ini berpengaruh pada kesehatan ibu dan bayi. Ibu remaja hamil mengabaikan perawatan antenatal dan pelayanan kesehatan.

3. Penelitian berjudul “Minimum Marriage Age Laws and the Prevalence of Child Marriage and Adolescent Birth: Evidence from Sub-Saharan Africa”, yang merupakan penelitian dari Belinda et al. (2015). Fokus kajian perkawinan usia muda. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dari 12 negara memiliki undang-undang yang menetapkan usia minimum untuk menikah pada 18 tahun atau lebih. Prevalensi perkawinan anak 40% lebih rendah di negara-negara dengan hukum yang konsisten terhadap perkawinan anak dibandingkan dengan negara tanpa hukum yang konsisten terhadap praktik (rasio prevalensi, 0.6). Prevalensi melahirkan remaja 25% lebih rendah di negara-negara dengan hukum usia perkawinan minimal daripada di negara tanpa hukum yang konsisten (0,8). Hukum usia perkawinan minimal konsisten melindungi terhadap eksploitasi wanita.

4. Penelitian berjudul “Socio-Economic in Adolescent Sexual and Reproductive Health: Marriage”, yang merupakan penelitian dari Rafael et al. (2015). Fokus kajian kesehatan reproduksi dan perkawinan usia muda yang merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan usia muda terkait dengan kemiskinan, pencapaian pendidikan rendah, dan tinggal di pedesaan. Meningkatnya pengetahuan di kalangan keluarga dan masyarakat tentang manfaat menunda perkawinan usia muda berkontribusi pada prestasi pendidikan lebih besar, kesuburan rendah, harapan hidup meningkat bagi wanita, dan manfaat untuk kesehatan dan pendidikan.

(11)

commit to user

5. Penelitian berjudul “A Comparison of Propensity for Marriage and Emotional Maturity between Men and Women”, yang merupakan penelitian dari Mojtaba et al. (2014). Fokus kajian kedewasaan emosi, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kecenderungan untuk menikah dan kedewasaan emosi pada pria dan wanita menikah. Dalam kehidupan modern kesempatan yang sama menyebabkan perubahan dalam sikap wanita menjadi mandiri dan meningkatkan kedewasaan emosional. Penelitian ini menunjukkan perubahan sikap wanita dan gaya hidup. Proses dimensi perkawinan dan kriteria seleksi pasangan merupakan hal penting yang dipertimbangkan.

6. Penelitian berjudul “Adolescents’ Sexual and Reproductive Health Challenges in Northern Nigeria: Road Map to Effective Interventions”, Godswill. (2014). Fokus kajian kesehatan reproduksi, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak dari remaja tidak dapat bernegosiasi perilaku reproduksi; kemampuan untuk bernegosiasi perilaku reproduksi bervariasi menurut status pendidikan, strategi intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah berkaitan dengan pemberdayaan, dan akses sumber daya, peningkatan informasi dan jasa.

7. Penelitian berjudul “Prevention of Child Marriage and Teenage Pregnancy in Africa: Need for more Research and Innovation”, yang merupakan penelitian dari Onokofua, (2013). Fokus kajian perkawinan usia muda. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menikah usia muda diketahui mengalami keterbatasan pada pendidikan, sosial, dan pribadi dibandingkan dengan mereka yang menunda pernikahan. Remaja yang menikah usia muda mengalami masalah sosial. Perkawinan usia muda menghambat wanita untuk mencapai prestasi pendidikan, menikmati pekerjaan dan kesehatan, ikatan dengan rekan-rekan mereka, kemampuan untuk memilih pasangan hidup yang mereka inginkan. 8. Penelitian berjudul “Early Marriage, Marital Relations and Intimate Partner

Violence in Ethiopia”, yang merupakan penelitian dari Erulkar (2013). Fokus kajian karakteristik pernikahan di kalangan wanita menikah sebelum 19

(12)

commit to user

tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 17% responden menikah sebelum usia 15 tahun dan 30% menikah pada usia 15-17 tahun. Mayoritas wanita menikah sebelum usia 18 tahun belum selesai sekolah dibandingkan dengan yang menikah di usia 18-19 tahun.

9. Penelitian berjudul “Early Marriage in Africa – Trends, Harmful. Effects and Intervention”, yang merupakan penelitian dari Walker (2012). Fokus kajian usia awal perkawinan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita menikah muda sudah umum di Nigeria. Pendidikan dan daerah tempat tinggal merupakan faktor fundamental yang mempengaruhi usia kawin.

10. Penelitian berjudul “Determinants of Maternity Care Services Utilization among Married Adolescents in Rural India”, yang merupakan penelitian dari Prashant et al. (2012). Fokus kajian perkawinan usia muda. Jenis penelitian survey dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan pelayanan kesehatan maternal yang dipilih berdasarkan tingkat pendidikan, status ekonomi dan wilayah tempat tinggal.

11. Penelitian berjudul “Preventing Child Marriages: First International Day of

The Girl Child “My Life, My Right, and Child Marriage”, yang merupakan

penelitian dari Svanemyr et al. (2012). Fokus kajian perkawinan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan anak merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), dapat mempengaruhi aspek kehidupan wanita : mengganggu pendidikan, membatasi peluang, meningkatkan risiko kekerasan dan pelecehan, membahayakan kesehatan.

12. Penelitian berjudul “Marriage and Motherhood: A Study of the Reproductive Health Status and Needs of Married Adolescent Girls in Nsukka, Nigeria”, yang merupakan penelitian dari Peter (2012). Fokus kajian perkawinan usia muda dan kesehatan reproduksi. Penelitian ini merupakan penelitian mixed method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Remaja yang menikah

(13)

commit to user

menghadapi banyak kendala dalam pengambilan keputusan kesehatan reproduksi, akses layanan kesehatan dan menjalani kehidupan sosial perkawinan.

13. Penelitian berjudul “Knowledge and Perceptions of Reproductive Health Services Adolescents in School Ile-Ife, Osun State, Nigeria”, yang merupakan penelitian dari Omobuwa et al. (2012). Fokus kajian kesehatan reproduksi remaja, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja hanya memiliki sedikit bahkan tidak memiliki akses terhadap pelayanan remaja.

14. Penelitian berjudul “Analisis faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi ibu menikah di usia remaja”, yang merupakan penelitian dari Junios dan Aldianita (2012). Fokus kajian kesehatan reproduksi wanita yang sudah menikah, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi perkawinan usia muda terhadap kesehatan reproduksi wanita yaitu pengetahuan yang kurang tentang risiko ibu hamil, bahaya persalinan, serta jarak kehamilan yang baik.

15. Penelitian berjudul “Factors Affecting Early Marriage and Early Conseption of Women: A Case of Slum Areas in Rajashahi City Bangladesh”, yang merupakan penelitian dari Nasrin dan Rahman (2012). Fokus kajian perkawinan usia muda, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tinggi berhubungan dengan usia yang lebih tinggi pada perkawinan pertama. Ayah dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan perkawinan dini pada anak wanita mereka. Ayah dengan pendidikan tinggi dan pendidikan menengah, cenderung memilih menikah pada usia 18 tahun ke atas dibandingkan dengan ayah dengan pendidikan dasar.

16. Penelitian berjudul “Role of Family Environment on Sociemotional Adjustment of Adolescent Girls in Rural Areas of Eastern Uttar Pradesh”, yang merupakan penelitian dari Shrestha (2011). Fokus kajian perkawinan usia muda dan kesehatan reproduksi, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat ancaman kesehatan, kehidupan sosial

(14)

commit to user

dan ekonomi terhadap ibu dan anak yang lahir. Faktor utamanya adalah intrapersonal, interpersonal, institusional, struktural dan kebijakan publik. Kerentanan remaja hamil terkait dengan determinan sosial yang mengarah pada awal kehamilan.

17. Penelitian berjudul “Teenage Pregnancy in Nepal: Consequences, Causes and Policy Recommendations”, yang merupakan penelitian dari Deepshikha dan Suman (2011). Fokus kajian kesehatan reproduksi remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan keluarga, menunjukkan program kesehatan reproduksi dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku tentang seksualitas dan pengambilan keputusan.

18. Penelitian berjudul “Evaluation of A Reproductive Health Awareness Program for Adolescence in Urban Tanzania-A Quasi-Experimental Pre-Test Post-Test Research”, yang merupakan penelitian dari Madeni et al. (2011). Fokus kajian lingkungan keluarga, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan keluarga, menunjukkan dalam penyesuaian sosial-emosional dan pendidikan remaja

19. Penelitian berjudul “Associations between Early Marriage and Young Women's Marital and Reproductive Health Outcomes: Evidence from India”, yang merupakan penelitian dari Santhya et al. (2010). Fokus kajian perkawinan dan kesehatan reproduksi, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menikah usia 18 tahun atau lebih telah merencanakan perkawinannya, menggunakan kontrasepsi dan melahirkan anak pertama di fasilitas kesehatan dibandingkan dengan wanita yang menikah sebelum usia 18 tahun. Perlu membangun dukungan di kalangan kaum muda dan keluarga untuk menunda menikah, perlu adanya pelayanan kesehatan untuk mendukung wanita muda dalam bernegosiasi dengan orang tua untuk menunda perkawinan.

20. Penelitian berjudul “Geographical Variations And Contextual Effect On Child Marriage In Bangladesh”, yang merupakan penelitian dari Kamal (2010). Fokus kajian perkawinan usia muda, jenis penelitian survei. Hasil

(15)

commit to user

penelitian menunjukkan bahwa faktor individu dan kontekstual merupakan penentu perkawinan. Pendidikan merupakan cara untuk meningkatkan status wanita dan meningkatkan usia saat menikah.

21. Penelitian berjudul “Adolescent Sexual and Reproductive Health in Developing Countries: An Overview of Trends and Interventions”, yang merupakan penelitian dari Hindin dan Adesegun (2009). Fokus kajian kesehatan reproduksi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan intervensi program pendidikan seks komprehensif memiliki pengetahuan lebih besar daripada siswa lainnya, dan lebih cenderung menolak seks dan mengurangi frekuensi seks. Intervensi berbasis sekolah berkontribusi pada sikap positif . Remaja dengan pendiddikan seks memiliki tingkat pengetahuan lebih tinggi dan norma lebih positif dibandingkan dengan yang tidak diintervensi.

22. Penelitian berjudul “Knowledge about The Man and the Reproductive Health Problems Factors Influence in Several Districts in Bangladesh”, yang merupakan penelitian dari Kabir dan Shahjahan, (2008). Fokus kajian kesehatan reproduksi, merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media massa dan komunikasi interpersonal merupakan sumber utama pengetahuan kesehatan reproduksi. Ada hubungan antara pendidikan dan diskusi suami istri tentang kesehatan reproduksi. Keterlibatan suami dalam kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa pendidikan, pekerjaan, jumlah anak dan pendapatan bulanan menjadi faktor penentu penting dalam keterlibatan suami dalam kesehatan reproduksi.

23. Penelitian berjudul “Study on Early Marriages, Reproductive Health and Human Rights”, yang merupakan penelitian dari Cissé dan Iknane (2008). Fokus kajian perkawinan dini, kehamilan dini dan kesehatan reproduksi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang wanita melahirkan rata-rata tujuh anak, tiga di antaranya bertahan, tiga meninggal pada usia muda serta rata-rata setiap wanita mengalami kematian satu anak. Kejadian perkawinan dini cukup tinggi (58%). Menikah usia 15-17 tahun 39%, sebelum usia 15 tahun 19%. Tidak

(16)

commit to user

satupun dari perkawinan berdasarkan pilihan remaja. 39% dari perkawinan diatur oleh orang tua.

24. Penelitian berjudul “Early Marriage and Sexual and Reproductive Health Risks: Experiences of Young Women and Men in Andhra Pradesh and Madhya Pradesh, India”, yang merupakan penelitian dari Santhya et al., (2008). Fokus kajian perkawinan perkawinan usia muda, kehamilan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian kecil wanita menunda merencanakan kehamilan pertama. Wanita muda rentan terhadap pengalaman kehamilan yang buruk dan tenaga penolong persalinan yang kurang terampil serta terbatasnya akses mencari pelayanan kehamilan. Wanita yang menikah muda terbatas dalam pengambilan keputusan rumah tangga, sumber daya dan kekerasan fisik dan emosional oleh suami. Sebagian besar pasangan berkomunikasi pada topik umum, sedikit yang mendiskusikan kesehatan reproduksi.

25. Penelitian berjudul “Early Sexual Maturity among Pumé Foragers of Venezuela: Fitness Implications of Teen Motherhood”, yang merupakan penelitian dari Kramer, (2008). Fokus kajian kesehatan reproduksi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak bungsu dari ibu menarche kurang 14 tahun empat kali lebih mungkin kehilangan anak pertama daripada ibu menarche lebih 17 tahun. Strategi yang optimal untuk meminimalkan kematian bayi dan memaksimalkan rentang reproduksi dengan menunda melahirkan anak sampai akhir remaja.

26. Penelitian berjudul “Counselling against Early Marriage of The Girls-Child in Anambra State”, yang merupakan penelitian dari Kramer (2008a). Fokus kajian perkawinan, konseling dan penyuluhan merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan apabila orang tua bekerja sama dengan konselor, konseling akan berkontribusi banyak dalam memerangi perkawinan dini.

27. Penelitian berjudul “Consequences of Early Marriage for Women in Bangladesh”, yang merupakan penelitian dari Nwoloko, (2008). Fokus kajian perkawinan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian

(17)

commit to user

menunjukkan bahwa setiap tahun penundaan perkawinan dapat mengurangi kehamilan dengan estimasi 0,27. Hal ini dicapai terutama melalui peningkatan usia kehamilan pertama yang dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan dalam bentuk rendahnya risiko saat melahirkan dan keguguran pada wanita muda. Penundaan berhubungan dengan pendidikan wanita, keaksaraan orang dewasa, dan kualitas hidup perkawinan.

28. Penelitian berjudul “Teenage Pregnancy and Adverse Birth Outcomes: A Large Population Based Retrospective Cohort Study”, yang merupakan penelitian dari Chen et al. (2006). Fokus kajian kehamilan remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari ibu remaja berusia 17 tahun atau lebih muda memiliki risiko lebih tinggi untuk mendapatkan skor apgar rendah pada 5 menit. Kehamilan remaja meningkatkan risiko kelahiran, status sosial ekonomi rendah, tidak memadai perawatan prenatal dan berat badan yang tidak memadai.

29. Penelitian berjudul “Teenage Pregnancy and Adverse Birth Outcomes: a Large Population Based Retrospective Cohort Study”, yang merupakan penelitian dari Chen et al. (2007). Fokus kajian kehamilan remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehamilan remaja meningkatkan risiko kelahiran disebabkan status sosial ekonomi rendah, perawatan prenatal yang tidak memadai dan berat badan yang tidak memadai selama hamil.

30. Penelitian berjudul “Youth and Reproduction: Demographics and Behavior, Reproductive Profiles in PND”, yang merupakan penelitian dari Five (2006). Fokus kajian kesehatan reproduksi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kehamilan sebelum usia 20 dengan kemiskinan yang lebih tinggi dan tingkat pendidikan lebih rendah.

Selain 30 penelitian di atas, beberapa penelitian lainnya juga digunakan dalam penelitian ini, seperti yang terdapat pada daftar pustaka sebagai pendukung dalam membangun konsep dan model. Penelitian ini diharapkan dapat diperoleh

(18)

commit to user

temuan baru di lapangan guna merancang model determinan kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah di Kabupaten Sleman. Perbedaan penelitian ini dibagi atas empat hal, yaitu berdasarkan tujuan, lingkup penelitian, metode yang digunakan dan hasil penelitian.

1. Tujuan penelitian. Penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti pada umumnya memberikan intervensi untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pada remaja yang telah menikah dengan melihat kedewasaan biologis. Penelitian ini berbeda karena penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh determinan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi, pola asuh demokratis orang tua, penyuluhan PIKR, dukungan teman sebaya melalui tingkat kedewasaan perkawinan terhadap kesehatan reproduksi pada remaja wanita yang sudah menikah di Kabupaten Sleman. Kemudian, akan memformulasi semua data yang telah dieksplorasi menjadi suatu model promosi kesehatan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah.

2. Lingkup penelitian. Penelitian ini dilakukan di PIKR di Kabupaten Sleman. Penelitian ini difokuskan pada teori precede procede green kauter dan teori determinan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah dari unicef dan satya.

3. Metode penelitian. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan multistage proportional random sampling dengan pertimbangan populasi yang tersebar secara geografis. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Model (SEM) dengan program AMOS 20.

4. Hasil penelitian. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang telah ada. Penelitian ini menghasilkan suatu rumusan model determinan kesehatan reproduksi pada remaja yang sudah menikah.

Referensi

Dokumen terkait

Akhir ini diperoleh dari BPS berupa data jumlah penduduk tiap – tiap zona, serta peta wilayah studi dengan batas kecamatan dan jaringan jalan yang terdapat dalam daerah studi

UMUM- PERS MR ISO KADEPT LOGISTIK KADEPT PPC, MICS GUDANG.. EKSPORT

Wilayah ini disebut wilayah jelajah (home range), sedangkan daerah teritori adalah suatu tempat dimana beberapa spesies mempunyai tempat yang khas dan selalu dipertahankan

Hasil interaksi wilayah kabupaten/kota untuk pusat pertumbuhan Kabupaten Aceh Tenggara didukung oleh Kabupaten Gayo Lues, Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh

Jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan dan positif terhadap ketimpangan pembangunan, hal ini dikarenakan jumlah tenaga kerja yang ada di Kawasan timur Indonesia

Penentuan batas wilayah Desa Babalan Kidul dapat dilakukan secara kartometrik dengan partisipasi masyarakat dan perangkat desa serta operator dalam membantu

Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dengan memberikan dorongan, saran, serta kritik yang membangun dalam penyusunan skripsi ini. Akhir

Hasil penelitian ini adalah sebagian masyarakat Lampung Sai Batin yang ada di Desa Umbul Buah masih melakukan pernikahan adat Lampung Saibatin dan paham mengenai nilai dan