BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam hidup kita sangat membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Tidak

Teks penuh

(1)

7 2.1 Teori Umum

2.1.1 Komunikasi Massa

Komunikasi adalah bahasa yang paling sering kita dengar sehari-hari. Dalam hidup kita sangat membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Tidak hanya komunikasi sesama manusia, namun juga komunikasi terhadap makhluk hidup lainnya dan komunikasi terhadap sang pencipta kita. Penulis akan sedikit menjabarkan apa itu pengertian komunikasi.

Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba saling pengertian. Defenisi menurut Schramm komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang berhasil menghasilkan kebersamaan, kesepahaman antar sumber, dengan penerimanya.

Ada 2 bentuk komunikasi :

1. Komunikasi verbal (dengan kata-kata)

Komunikasi verbal (lisan) boleh didefinisikan sebagai proses komunikasi yang melibatkan maklumbalas menggunakan percakapan untuk menyampaikan maklumat lengkap kepada penerima.

2. Komunikasi non verbal (dengan gerakan tubuh)

Komunikasi non-verbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tanpa menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi non-verbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan pandangan mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan

(2)

rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualiti suara, gaya emosi, dan gaya berbicara. Macam-macam komunikasi :

1. Komunikasi massa. 2. Komunikasi organisasi. 3. Komunikasi interpersonal. 4. Komunikasi antar budaya. 1. Komunikasi massa

Komunikasi Massa adalah (ringkasan dari) komunikasi melalui media massa (communicating with media), atau komunikasi kepada banyak orang (massa) dengan menggunakan sarana media. Media massa sendiri ringkasan dari media atau sarana komunikasi massa. contohnya komunikasi massa adalah televisi memberikan banyak sekali informasi kepada khalayak seperti contohnya berita, serta hiburan-hiburan lainnya. 2. Komunikasi organisasi

Komunikasi organisasi merupakan pengiriman dan penerimaan berbagai pesan di dalam organisasi di dalam kelompok formal maupun informal organisasi. Jika organisasi semakin besar dan semakin kompleks, maka demikian juga komunikasinya. Pada organisasi yang beranggotakan tiga orang, komunikasinya relative sederhana, tetapi organisasi yang beranggotakan seribu orang komunikasinya sangat kompleks.

Menurut Goldhaber (1986) komunikasi organisasi adalah proses menciptakan dan saling menukar satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah.

(3)

3. Komunikasi interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka.

Jadi bisa dikatakan komunikasi interpersonal komunikasi yang sering terjadi dalam sehari-hari antara 2 orang atau lebih. Komunikasi ini juga dilakukan untuk interaksi sehari-hari.

4. Komunikasi antar budaya

Komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar&Porter,1994,p.19).

Definisi lain diberikan oleh Liliweri bahwa proses komunikasi antar budaya merupakan interaksi antar pribadi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003,p.13). Apapun definisi yang ada mengenai komunikasi antar budaya (intercultural communication) menyatakan bahwa komunikasi antar budaya terjadi apabila terdapat 2 (dua) budaya yang berbeda dan kedua budaya tersebut sedang melaksanakan proses komunikasi.

(4)

2.1.2 Ciri – Ciri Komunikasi Massa

Komunikasi antarpersona (interpersonal communication), proses komunikasinya berlangsung dua arah (two way traffic communication), yang berarti komunikasi dapat secara langsung terjadi, antara pesan dari komunikator dan respon komunikan atau audience dapat segera diketahui. Kondisi tersebut, menurut Effendi (1986), tidak ditemukan dalam komunikasi massa yang memiliki ciri khusus, yaitu berlangsung satu arah, komunikator melembaga, pesan bersifat umum, menimbulkan keserempakan, komunikan heterogen, serta dua hal yang ditambahkan oleh Nurudin (2009), yaitu mengandalkan peralatan teknis, dan dikontrol oleh gatekeeper.

1. Berlangsung Searah

Komunikasi massa berlangsung satu arah (one way communication), berarti komunikasi melalui media massa tidak mendapatkan arus balik langsung dari komunikan kepada komunikator. Dengan kata lain, komunikator tidak tahu tanggapan konsumen (pembaca, pendengar, atau pemirsa) terhadap pesan atau berita yang disiarkan karena dalam komunikasi massa tanggapan umumnya tidak langsung, tetapi disebut umpan balik yang tertunda (delayed feedback).

2. Komunikator Melembaga

Dalam media massa, meskipun sumber informasi atau komunikatornya perorangan, seperti wartawan, reporter atau penyiar, tetapi dalam menyampaikan sesuatu, dia bertindak atas nama lembaga, berupa media massa yang diwakilinya (institutionalized communicator atau organized communicator). Dia tidak memiliki kebebasan secara individu untuk menyampaikan sesuatu kepada

(5)

khalayak, kebebasan yang dimilikinya merupakan hanya kebebasan yang terbatas.

Guna menyampaikan informasi atau pesan, komunikator lembaga selalu dibantu banyak pihak yang terkait agar informasi yang disampaikan benar, baik, dan tampilannya menarik. Dengan kenyataan itu, komunikator pada komunikasi massa disebut komunikator kolektif (collective communicator) karena tersebarnya pesan komunikasi massa merupakan hasil kerja sama sejumlah orang yang terlibat.

3. Pesan Bersifat Umum

Pesan yang disebarkan media massa tidak ditujukan kepada perorangan atau kelompok orang tertentu, tetapi lebih bersifat umum (public) karena ditujukan kepada khalayak umum dan mengenai kepentingan umum. Kondisi demikianlah yang membedakan media massa dengan media nir-massa. Surat, telepon, telegram, faksimili merupakan media nir-massa karena ditujukan kepada orang tertentu. Hal sama juga berlaku bagi koran kampus, radio komunitas, atau televisi siaran sekitar karena hanya ditujukan pada sekelompok orang tertentu.

4. Menimbulkan Keserempakan

Media massa mampu menimbulkan keserempakan (simultaneity) terhadap khalayak dalam menerima pesan yang disampaikan. Informasi televisi atau radio yang berkantor di Jakarta akan dapat didengar khalayak di berbagai daerah pada waktu yang bersamaan,

(6)

berita surat kabar juga dapat dibaca khalayak dalam waktu yang relatif serentak.

Namun, khusus surat kabar, tentu hanya berlaku bagi daerah/negara maju yang sebaran surat kabarnya cukup luas dengan oplah yang juga besar. Keadaan itu tentu berbeda dengan poster, yang meskipun menyebar informasi untuk umum, tetapi harus dibaca bergantian di tempat itu, tidak bisa dibaca serentak atau bersamaan.

5. Komunikan Heterogen

Sasaran komunikan (pembaca, pendengar atau pemirsa) yang dituju atau menjadi sasaran media massa bersifat heterogen. Keadaan mereka juga berpencar dan tidak saling mengenal, juga tidak dapat melakukan kontak secara pribadi. Para komunikan itu juga berbeda dalam banyak hal, seperti jenis kelamin, agama, usia, pendidikan, pekerjaan, budaya, dan pandangan hidup. Heterogenitas (kemajemukan) khalayak itulah yang menimbulkan kesulitan bagi media massa dalam menyebarkan pesan karena dalam setiap individu dari khalayak itu menghendaki supaya keinginannya terpenuhi, dan adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin bagi pengelola media massa untuk memenuhi seluruh kegiatan konsumennya.

Satu-satunya cara guna mendekati keinginan tersebut adalah dengan mengelompokkan mereka berdasarkan berbagai perbedaan tersebut, seperti berdasarkan jenis kelamin, usia, kesenangan (hobi), atau hal-hal lain. Dengan adanya berbagai pengelompokkan itu, media massa berusaha menyusun rubrik atau bidang-bidang yang digemari konsumennya. (Mondry,2008:14-16)

(7)

6. Mengandalkan Peralatan Teknis

Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis. Peralatan elektronik yang dimaksud misalnya pemancar untuk media elektronik (mekanik atau elektronik). Televisi yang kita sebut media massa tidak akan lepas dari pemancar. Radio juga sangat membutuhkan stasiun pemancar atau relay. Peralatan teknis merupakan sebuah keniscayaan yang sangat dibutuhkan media massa. Tidak lain agar proses pemancaran atau penyebaran pesannya bisa lebih cepat dan serentak kepada khalayak yang tersebar.

7. Dikontrol Gatekeeper

Gatekeeper atau yang sering disebut penepis informasi/palang pintu/penjaga gawang, adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melaui media massa. Gatekeeper berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami.

Mengapa gatekeeper itu sedemikian penting sehingga menjadi ciri-ciri dalam komunikasi massa? Sebagaimana kita ketahui, bahan-bahan, peristiwa, atau data yang menjadi bahan mentah pesan yang akan disiarkan media massa beragam dan sangat banyak. Disinilah perlu pemilahan, pemilihan, dan penyesuaian dengan media massa yang bersangkutan. Keberadaan gatekeeper sama pentingnya dengan peralatan mekanis yang harus dimiliki media massa dalam

(8)

komunikasi massa. Oleh karena itu, keberadaan gatekeeper menjadi keniscayaan dalam media massa dan menjadi salah satu cirinya.

2.1.3 Fungsi – Fungsi Komunikasi Massa

Fungsi komunikasi massa tidak terlepas dengan fungsi-fungsi media massa. Karena komunikasi massa berarti komunikasi lewat media massa. Komunikasi massa tidak akan ditemukan maknanya tanpa menyertakan media massa sebagai elemen terpenting dalam komunikasi massa.

Sean Mac Bride, ketua komisi masalah-masalah komunikasi UNESCO (1980) mengemukakan bahwa komunikasi massa dapat berfungsi sebagai:

1. Informasi, yakni kegiatan untuk mengumpulkan, menyimpan data, fakta, dan pesan, opini dan komentar, sehingga orang bisa mengetahui keadaaan yang terjadi diluar dirinya.

2. Sosialisasi, yakni menyediakan dan mengajarkan ilmu pengetahuan bagaimana orang bersikap sesuai nilai-nilai yang ada, serta bertindak sebagai anggota masyarakat secara efektif.

3. Motivasi, yakni mendorong orang untuk mengikuti kemajuan orang lain melalui apa yang mereka baca, lihat dan dengar dari media massa. 4. Bahan diskusi, yakni menyediakan informasi sebagai bahan diskusi untuk mencapai persetujuan dalam hal perbedaan pendapat mengenai hal-hal yang menyangkut orang banyak.

5. Pendidikan, yakni membuka kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara luas, baik untuk pendidikan formal maupun non formal.

(9)

6. Memajukan kebudayaan, yakni menyebarluaskan hasil-hasil kebudayaan melalui pertukaran program siaran.

7. Hiburan, yakni media massa memberikan situasi yang menyenangkan atau hiburan bagi khalayaknya. Karena salah satu kebutuhan manusia adalah mendapatkan hiburan yang cukup.

8. Integrasi, yakni menjembatani perbedaan-perbedaan dari khalayak di seluruh tempat.

2.2 Teori Khusus

2.2.1 Produksi Program Televisi

Dalam produksi program televisi yang melibatkan banyak peralatan, orang dan biaya yang besar, selain memerlukan suatu organisasi yang rapi juga perlu suatu tahap pelaksanaan produksi yang jelas dan efisien. Setiap tahap harus jelas kemajuannya dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Tahapan produksi terdiri dari tiga bagian di televisi yang lazim disebut standard operation procedure (SOP), seperti berikut: (Wibowo,2009:38-44) 1. Pra Produksi (Pelaksanaan dan Persiapan)

Tahap ini sangat penting, sebab jika tahap ini dilaksanakan dengan rinci dan baik, sebagian pekerjaan dari produksi yang direncanakan sudah selesai. Tahap pra produksi meliputi tiga bagian, sebagai berikut:

a. Penemuan Ide

Tahap ini dimulai dalam suatu rapat redaksi, ketika seorang produser menemukan ide atau gagasan, membuat riset dan menuliskan naskah atau meminta penulis naskah menggambarkan gagasan menjadi naskah sesudah riset.

(10)

b. Perencanaan

Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, pemilihan crew-crew yang bertugas, lokasi dan peralatan.

c. Persiapan

Tahap ini meliputi pemberesan semua kontrak, perijinan, surat-menyurat, pembuatan setting, meneliti dan melengkapi peralatan yang diperlukan. Semua pekerjaan ini paling baik diselesaikan menurut jangka waktu kerja (time schedule) yang sudah ditentukan.

2. Produksi

Setelah perencanaan dan persiapan selesai dengan baik dan benar, maka masuk kedalam tahap produksi. Pada tahap ini produser bekerja sama dengan tim atau crew dalam merealisasikan apa yang telah direncanakan dan dipersiapkan pada tahap pra produksi sebelumnya. Produser mengarahkan tim produksi dalam menentukan pengambilan gambar (shooting). Setelah itu, barulah tim produksi melakukan eksekusi dalam pengambilan gambar. Biasanya gambar hasil shooting dikontrol setiap malam di akhir shooting untuk melihat hasil pengambilan gambar sungguh baik. Apabila tidak maka adegan itu perlu diulang pengainbilan gambarnya. Sesudah semua adegan di dalam naskah selesai diambil maka hasil gambar asli (original material/row footage) dibuat catatannya untuk kemudian masuk dalam proses post production, yaitu editing.

3. Pasca Produksi

Pasca produksi memiliki tiga langkah utama, yaitu editing offline, editing online, dan mixing.

(11)

a. Editing Offline

Proses editing ini merupakan proses memadukan antara gambar satu dengan gambar lain serta pemotongan dan memperpadukan gambar menjadi satu kesatuan gambar yang bercerita, sehingga hasilnya nanti akan dapat dimengerti dan dinikmati oleh pemirsanya.

b. Editing Online

Berdasarkan naskah editing, editor mengedit hasil shooting asli. Sambungan setiap shoot dan adegan (scene) dibuat tepat berdasarkan catatan time-code dalam naskah editing. Demikian pua sound asli dimasukkan dengan level yang seimbang dan sempurna. Setelah editing online ini siap, proses berlanjut dengan mixing.

c. Mixing

Narasi yang sudah direkam dan ilustrasi musik yang juga sudah direkam, dimasukan ke dalam pita hasil editing online sesuai dengan petunjuk atau ketentuan yang tertulis dalam naskah editing. Keseimbangan antara sound effect, suara asli dan musik harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak saling mengganggu dan terdengar jelas. Sesudah proses mixing ini boleh dikatakan bagian yang penting dalam post-production sudah selesai. Setelah produksi selesai biasanya diadakan preview. Apabila dalam preview tidak ada yang harus diperbaiki, maka program ini sudah siap untuk ditayangkan.

Dalam hal ini, terdapat dua macam teknik editing, yaitu: editing linear atau editing dengan teknik analog dan editing non linear atau editing dengan teknik digital.

(12)

a. Editing Linear (Analog)

Proses pengeditan gambar satu persatu secara berurutan dari awal hingga akhir. Materi hasil shooting langsung dipilih dan disambung-sambung dalam pita VHS. Kaset VHS hasil editng digunakan sebagai pedoman oleh editor.

b. Editing Non Linear (Digital)

Proses pengeditan gambar secara acak (tidak berurutan). Hasil shoot dimasukkan kedalam komputer melalui proses capturing atau digitizing, yaitu mengubah hasil gambar dalam pita menjadi file. Hasil dari capturing yang berupa file dapat disimpan ke dalam hardisk dan dapat diedit sesuai kebutuhan dengan menggunakan program editing seperti: Adobe Premiere, After Effect, Avid, Final Cut dan lain-lain.

2.2.2 Format Berita Televisi

Format berita televisi dapat ditetapkan sesuai dengan bahan yang diperoleh. Reporter tidak dapat menentukan format secara sembarangan. Ada batasan yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan sebuat format sesuai bahan berita yang diperoleh. Suatu berita dapat disajikan dengan beberapa bentuk format,yaitu: (Morissan,2010:34-40)

1. Reader (RDR)

Reader adalah format berita televisi ini yang paling dasar. Reporter cukup menuliskan lead in / teras berita saja untuk dibacakan oleh presenter / penyiar. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar.

(13)

2. Voice Over (VO)

Voice over adalah format berita televisi yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan penyiar seluruhnya. Sementara penyiar tengah membacakan isi tubuh berita, gambar pun menyertainya sesuai konteks naskah.

2. Reader Sound on Tape (RDR SOT)

Reader SOT adalah format berita televisi yang hanya berisi lead in dan statement (pernyataan) nara sumber. Penyiar hanya membacakan lead in berita, kemudian diikuti pernyataan nara sumber atau soundbite on tepe (SOT). SOT adalah cuplikan suara dari narasumber atau cuplikan dari wawancara panjang narasumber.

3. Voice over-Sound on Tape (VO/SOT)

Voice over SOT adalah gabungan antara VO dan SOT dimana VO mengenai peristiwa atau ada kaitannya dengan apa yang diungkapkan dalam SOT.

4. Reader-Grafis (RDR-GRF)

Reader-GRF adalah format berita yang gambar videonya digantikan dengan ilustrasi berupa grafis. Reader-GRF biasanya digunakan apabila stasiun TV belum mendapatkan akses untuk mengambil gambar dan merekamnya dalam kaset video.

5. Paket (Package/PKG)

Paket adalah format berita yang komprehensif dengan intro yang dibacakan atau dinarasikan sendiri oleh reporter atau pengisi suara. Paket merupakan laporan berita lengkap dengan narasi (voice over) yang direkam kedalam pita kaset.

(14)

6. Laporan Langsung (Live)

Laporan langsung digunakan apabila suatu peristiwa yang mengandung nilai berita masih berlangsung sementara program berita masih “on air", maka stasiun TV dapat menyampaikan berita. Laporan langsung adalah format berita televisi yang dimana pelapornya langsung dari lapangan atau tempat peristiwa berlangsung.

7. Breaking News

Breaking news adalah format berita yang tidak terjadwal karena dapat terjadi kapan saja seperti kecelakaan besar, serangan teror, bencana alam yang tidak dapat terditeksi sebelumnya. Durasi breaking news mulai dari dua menit hingga tidak terbatas.

8. Laporan Khusus

Laporan khusus adalah format berita paket, lengkap dengan narasi dan soundbite dan sejumlah nara sumber yang memberikan pendapat dan analisis. Laporan khusus merupakan laporan panjang yang komprehensif mengenai berbagai peristiwa atau isu politik, kriminal, hukum, dan bencana.

2.2.3 Unsur–Unsur Berita Televisi

Dalam jurnalistik media cetak, kita mengenal unsur-unsur berita sebagai 5 W (Who, What, When, Where, Why) + 1 H (Ho). Naskah atau narasi di media cetak harus mengandung keenam unsur berita tersebut. Namun demikian, dalam dunia jurnalistik televisi 5W + 1H tidak harus seluruhnya terkandung dalam narasi atau naskah berita. Unsur berita yang tidak selalu terdapat dalam narasi berita televisi adalah when dan how.

(15)

(UsmanKs,2009:32) When atau kapan tidak harus ada dalam narasi berita televisi, karena idealnya peristiwa yang terjadi dan itu akan diberitakan atau ditayangkan hanya itu juga. When biasanya terkandung dalam narasi atau naskah berita televisi jika rnenyangkut kejadian besar atau luar biasa seperti ledakan bom, gempa bumi, tsunami, atau kecelakaan besar. Dalam kejadian-kejadian besar seperti itu, orang biasanya akan bertanya, “Kapan terjadinya?” How atau bagaimana suatu peristiwa terjadi juga tidak harus ada dalam narasi berita televisi, karena how ditampilkan dalam gambar.

Selain unsur penulisan berita, unsur penting lainnya yang perlu diperhatikan oleh stasiun-stasiun berita televisi adalah reporter. Reporter memiliki peranan penting dalam proses pencarian berita.

Selain unsur 5W+1H perlu ditambahkan lagi suatu formula lain agar memudahkan pengertian bagi pemirsa televisi. Pendekatan tersebut disebut juga dengan easy listening formula. Formula untuk menuju easy listening tersebut bermacam-macam, namun salah satu yang mudah diingat dan diaplikasikan adalah formula yang diketengahkan oleh Soren H. Munhoff dalam “Five Star Approach To News Writing” dengan akronim ABC-SS yaitu singkatan dari Accurasy (tepat), Brevity (singkat), Clarity (jelas), Simplicity (sederhana), Sincerity (jujur).

Formula-formula penulisan berita televisi tersebut antara lain: (Muda,2008:48-55)

1. Accuracy

Penulisan berita harus tepat. Maksudnya bahwa penulisan berita harus sesuai dengan konteks permasalahan. Pemilihan atau penempatan orang-orang yang akan diwawancarai sebagai

(16)

sumber berita harus sesuai dengan alur berita yang akan disajikan.

2. Brevity

Pengertian brevity disini adalah singkat. Tujuannya agar penulisan berita media ektronik cukup singkat saja tidak perlu panjang-panjang.

3. Clarity

Menulis berita pada media elektronik juga harus jelas (clarity). Artinya, informasi tersebut jangan membingungkan pendengar atau pemirsanya.

4. Simplicity

Kesederhanaan (simplicity) merupakan saran lainnya untuk diikuti dalam teknik penulisan media elektronik. Pononton televisi memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik pendidikan, sosial, ekonomi maupun budayanya. Untuk mengatasi hal tesebut maka, pendekatan penulisan sederhana adalah yang paling baik.

5. Sincerity

Seorang penulis berita juga dituntut sifat kejujurannya (sincerity). Maksudnya agar informasi tentang peristiwa yang terjadi dapat ditulis apa adanya atau ditulis dengan objektif. Tidak boleh ditambah-tambah, apalagi dengan memasukkan opini pribadi reporter yang bersangkutan.

(17)

2.2.4 Materi Berita Televisi

Materi berita memiliki batasan yang merupakan pertimbangan bagi seorang wartawan atau reporter untuk tidak sekedar menulis apa yang dilihat, melainkan harus memperhatikan berbagai pertimbangan agar berita tersebut menjadi menarik untuk ditonton. Materi berita memiliki nilai atau bobot yang berbeda antara satu dan lainnya. Nilai berita tersebut sangat bergantung pada berbagai pertimbangan seperti berikut: (Muda,2008:29-39)

1. Timeliness

Timeliness berarti waktu yang tepat. Artinya, dalam memilih berita yang akan disajikan harus sesuai dengan waktu yang dibutuhkan oleh pemirsa.

2. Proximity

Proximity artinya kedekatan. Kedekatan disini maknanya sangat bervariasi, yakni dapat beeerarti dekat dilihat dari segi lokasi, pertalian ras, profesi, kepercayaan, kebudayaan maupun kepentingan yang terkait lainnya.

3. Prominence

Prominence artinya adalah orang yang terkemuka. Maksudnya, semakin seseorang tersebut terkenal, maka akan semakin menjadi bahan berita yang menarik pula.

4. Consequence

Consequence artinya adalah konsekuensi atau akibat. Pengertiannya yaitu, segala tindakan atau kebijakan, peraturan, perundangan dan lain-lain, dapat berakibat merugikan atau

(18)

menguntungkan orang banyak, merupakan bahan berita yang menarik.

5. Conflict

Conflict (pertikaian) memiliki nilai berita yang sangat tinggi karena konflik adalah bagian dalam kehidupan.

6. Development

Development (pembangunan) merupakan berita yang cukup menarik. Keberhasilan pembangunan atau kegagalan pembangunan memilki daya tarik tersendiri apabila diberitakan, karena keduanya melibatkan kepentingan para penguasa dan masyarakat.

7. Dissaster & Crimes

Dissaster (bencana) dan Crimes (kriminal) adalah dua peristiwa berita yang pasti akan mendapatkan tempat bagi para pemirsa, karena berita-berita tersebut menyangkut masalah keselamatan manusia.

8. Wheater

Berita mengenai Wheater (cuaca) sangat berguna bagi negara-negara yang cuaca pada negara-negara tersebut sangat mempengaruhi kegiatan hariannya.

9. Sport

Berita olah raga sudah lama memiliki daya tarik bagi kalangan pemirsa televisi.

(19)

10. Human Interest

Human Interest adalah berita-berita yang dapat menyentuh perasaan, pendapat, serta pikiran manusia.

2.2.5 Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah sebuah alat yang cukup efektif, baik dan efisien serta sebagai alat yang cepat dalam menemukan kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan perkembangan awal program-program inovasi baru. Analisis SWOT merupakan sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal strenghts (kekuatan) dan weakness (kelemahan) serta lingkungan eksternal opportunities (peluang) dan threads (ancaman). Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu:

1. Strength (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.

2. Weakness (W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dan organisasi atau program pada saat ini.

3. Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan.

4. Threat (T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dan luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi dimasa depan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :