BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Longsorlahan
Longsorlahan adalah salah satu bentuk dari gerak masa tanah, batuan dan runtuhan batu/tanah yang terjadi seketika bergerak menuju lereng bawah yang dikendalikan oleh gaya gravitasi dan meluncur di atas suatu lapisan kedap yang jenuh air atau bidang luncur. (Paimin, dkk. 2009)
Sutikno, dkk. (2002) dalam Rudiyanto (2010) mengatakan bahwa longsorlahan adalah proses perpindahan massa tanah atau batuan dengan arah miring dari kedudukan semula akibat adanya gaya gravitasi. Beberapa wilayah di Indonesia mempunyai tingkat kejadian longsor yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah negara-negara di Asia Tenggara, dengan upaya pencegahan dan penanggulangannya yang relatif masih rendah.
aspek tanah yang berpengaruh terhadap stabilitas lereng adalah indeks plastis, tekanan pori, kohesi, tekanan normal, serta sudut gesek.
2.2. Jenis-Jenis Longsorlahan
Longsorlahan merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng. Faktor-faktor yang mengontrol terjadinya proses pelongsoran itu sendiri ada yang berasal dari faktor-faktor pengontrol gangguan kestabilan lereng, dan ada yang berasal dari proses pemicu longsoran (Subagio, 2008 dalam Anwar 2012).
Menurut Subowo, (2003) dalam Anwar (2012) Ada 5 jenis tanah longsor di Indonesia
diantaranya :
A. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.
B. Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir bentuk rata. Longsoran ini disebut longsoran translasi blok batu.
C. Runtuhan Batu
hingga menggantung terutama di daerah pantai. Batu‐batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.
D. Rayapan Tanah
Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang‐tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.
E. Aliran Bahan Rombakan
Jenis longsorlahan ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.
2.3. Kerawanan Longsorlahan
Disiplin ilmu yang dapat digunakan untuk mengkaji kerawanan longsorlahan adalah Geografi dan Geomorfologi. Geografi mempunyai tiga macam pendekatan untuk mengkaji fenomena yang ada di lingkungan, yaitu pendekatan spasial, ekologikal, dan kompleks wilayah. Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuklahan pembentuk muka bumi, baik di daratan maupun di dasar lautan dan menekankan pada proses pembentukan dan perkembangan pada masa yang akan datang, serta konteksnya dengan lingkungan (Verstappen, 1983 dalam Suranto 2008). Analisis longsor di dasarkan pada lima faktor yang menyebabkan terjadinya kelongsoran (Sugalang dan Siagian, 1991 dalam Indracahya 2015) :
1. Geologi : meliputi sifat fisik batuan, sifat keteknikan batuan, batu/tanah pelapukan, susunan dan kedudukan batuan (stratigrafi), dan struktur geologi
2. Morfologi : aspek yang di perhatikan adalah kemiringan lereng dan permukaan lahan
3. Curah hujan : meliputi intensitas dan lama hujan
4. Penggunaan lahan : meliputi pengelolaan lahan dan vegetasi penutup 5. Kegempaan : meliputi intensitas gempa
2.4. Lahan
penggunaan lahan. Lahan mempunyai sifat keruangan, unsur estetis dan merupakan lokasi aktivitas ekonomi manusia. Keberadaannya sangat terbatas, oleh karena itu diperlukan pertimbangan dalam pemanfaatannya agar memberikan hasil yang optimal bagi perikehidupan. Lahan yang berkualitas dapat dimanfaatkan untuk banyak kegiatan dan banyak jenis tanaman (Mather, 1986 dalam Ishak 2008).
Lahan merupakan kesatuan berbagai sumberdaya daratan yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem struktural dan fungsional. Sifat dan perilaku lahan ditentukan macam sumberdaya yang merajai dan macam serta intensitas interaksi yang berlangsung antar sumberdaya (Notohadiprawiro, 2006).
2.5. Penggunaan Lahan
Karnawati (2003) dalam Suranto (2008) menyatakan bahwa penggunaan lahan dapat menjadi faktor pengontrol gerakan tanah dan meningkatkan resiko gerakan tanah karena penggunaan lahan akan berpengaruh pada tutupan lahan (land cover) yang ada. Tutupan lahan dalam bentuk tanaman-tanaman hutan akan mengurangi erosi. Adapun tutupan lahan dalam bentuk permukiman, sawah dan kolam akan rawan terhadap erosi, lebih-lebih lahan tanpa penutup akan sangat rawan terhadap erosi yang akan mengakibatkan gerakan tanah.
Penggunaan lahan dibedakan dalam garis besar, yaitu penggunaan lahan berdasar atas penyediaan air dan komoditi yang diusahakan, dimanfaatkan atau yang terdapat diatas lahan tersebut. Berdasarkan hal ini dapat dikenal macam-macam penggunaan lahan seperti tegalan, sawah, kebun, hutan produksi, hutan lindung, dan lain-lain. Sedangkan penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan menjadi lahan permukiman, industri, dan lain-lain (Anonim, tt dalam Indracahya 2015).
2.6. Lahan Kebun
Kebun dalam pengertian di Indonesia adalah sebidang lahan, biasanya di tempat terbuka, yang mendapat perlakuan tertentu oleh manusia, khususnya sebagai tempat tumbuh tanaman.(Anonim,tt)
kepadatan tumbuhannya. Dalam ungkapan sehari-hari, kebun sering kali digunakan untuk menyebut perkebunan (seperti "kebun karet" atau "kebun kelapa") terutama bila ukurannya tidak terlalu luas dan tidak diusahakan secara intensif komersial. Kata kebun juga dipakai untuk menyebut pekarangan dan taman. Kebun dapat merupakan suatu pekarangan, namun tidak selalu demikian. Keseluruhan atau sebagian kebun dapat ditata menjadi taman(Anonim,tt).
2.7. Risiko Bencana
Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.(UURI No 24 th 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Pasal 1 ayat 17). Adapun pengurangan risiko bencana dapat di definisikan sebagai macam-macam aktivitas yang dilakukan dalam rangka mengurangi dampak buruk yang mungkin timbul, terutama dalam situasi sedang tidak terjadi bencana.Tim PBSA UGM (2010)
2.8. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Nugroho Hari Purnomo (2012) melakukan penelitian Risiko Bencana Longsorlahan Pada Lahan Pertanian di Wilayah Kompleks Gunungapi Strato Kuarter Arjuno Jawa Timur, menggunakan metode Survey, observasi lapangan dan laboraturium hasil yang di peroleh adalah Peta Bahaya Longsorlahan, peta kerentanan terhadap longsorlahan, peta kapasitas terhadap longsorlahan
Tabel 2.1. Perbedaan Penelitian dengan Penelitian terdahulu
PENELITI JUDUL TUJUAN METODE HASIL
Nugroho Hari Purnomo, 2012 Risiko Bencana Longsorlahan Pada Lahan Pertanian di Wilayah Kompleks Gunungapi Strato Kuarter Arjuno Jawa Timur Menyusun model konseptual risiko bencana longsorlahan pada lahan pertanian tanaman semusim di wilayah gunungapi strato Survey, observasi lapangan dan laboraturium Peta Bahaya Longsorlahan, Peta Kerentanan Longsorlahan. Suwarno, 2003 Bahaya dan Risiko Longsorlahan di Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Mempelajari dan mengklasifikasika n agihan tingkat bahaya longsorlahan dan risiko yang diakibatkan longsorlahan di daerah penelitian Metode survey dengan pendeketan satuan medan Kelas bahaya longsorlahan dan kelas risiko longsorlahan Anggit Purwoto, 2016 Risiko Longsorlahan pada Penggunaan Lahan Kebun di
Sub Daerah
Aliran Sungai Logawa Kabupaten Banyumas. Mengetahui Risiko Longsorlahan pada penggunaan lahan kebun di Sub Daerah Aliran Sungai Logawa Kabupaten Banyumas Metode Survey deksriptif Peta Risiko Longsorlahan pada Penggunaan Lahan Kebun
2.9. Landasan Teori
Berdasarkan tinjauan pustaka tersebut maka dapat disusun landasan teori berikut ini.
Longsorlahan adalah salah satu bentuk dari gerak masa tanah, batuan dan runtuhan batu/tanah yang terjadi seketika bergerak menuju lereng bawah yang dikendalikan oleh gaya gravitasi dan meluncur di atas suatu lapisan kedap yang jenuh air atau bidang luncur.
Kerawanan longsorlahan adalah keadaan atau ciri-ciri khusus geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, mereda, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.
Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, hidrologi dan bahkan keadaan vegetasi alami yang secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan.
Penggunaan lahan atau tata guna lahan (land use) adalah pengaturan penggunaan lahan.
Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.
2.10. Kerangka Pikir
Gambar 2.1. Diagram Alur Kerangka Pikir
2.10. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikir di atas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Risiko longsorlahan pada penggunaan lahan kebun di Sub DAS Logawa Kabupaten Banyumas <20% Kategori tinggi.”
Lahan
Penggunaan Lahan
Longsorlahan
Peta Risiko Longsorlahan Pada Penggunaan Lahan Kebun
Kerawanan Longsorlahan
Lahan Kebun