• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

SEMINAR INTERNASIONAL

Dalam Format RDP

PENTINGNYA REVISI UU NO. 39 TAHUN 2004

BAGI

PERLINDUNGAN TENAGA

KERJA INDONESIA DI LUAR

NEGERI”

Disampaikan Oleh:

(2)

A.

LATAR BELAKANG

1) TKI di luar negeri telah menjadi pemasok devisa terbesar kedua setelah migas, yang mencapai Rp 60 triliun (US$ 6,615 miliar) hingga akhir tahun 2009. Bandingkan TK Pilipina 2008, memasok devisa

US$15,9 milyar, 2009, US$ 17.348 milyar.

2) Penempatan TKI di luar negeri sudah menjadi

alternatif utama untuk memberi pekerjaan kepada WNI.

3) Penempatan TKi di luar negeri telah menjadi sarana perdagangan manusia (human trafficking),

perbudakan moderen (modern slavery) dan pelacuran (prostitusion).

(3)

B.

PERMASALAHAN

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 masih

memiliki berbagai kelemahan, sehingga perlu

direvisi. Kelemahannya dalam pelaksanaan di

lapangan antara lain:

1. Dualisme pelayanan.

2. TKI di jadikan Komoditas Pemerasan.

3. Perekrutan dan Seleksi Calon Tenaga Kerja

4. Kualitas Tenaga Kerja Indonesia.

5. Perlindungan Hukum dan Jaminan

Asuransi.

(4)

C. ALASAN YANG MELANDASI PERUBAHAN UU NOMOR 39 TAHUN 2004

1. Landasan Filosofis

Tujuan filosofis bangsa Indonesia merdeka, antara lain untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia” dan “mewujudkan kesejahteraan umum”. Maka setiap WNI di luar negeri, harus dibela dan dilindungi jika mendapat masalah. Selain itu, setiap WNI harus memiliki pekerjaan sebagai sarana mewujudkan

kesejahteraan. Oleh karena, kita belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan di dalam negeri, maka peluang pekerjaan di luar negeri didorong dan difasilitasi untuk diisi oleh TKI kita.

Akan tetapi, perlindungan TKI di luar negeri, masih

memprihatinkan, sehingga perlu segera perubahan UU Nomor 39 Tahun 2004 untuk lebih memerinci pengaturan perlindungan

TKI.

(5)

2.

Landasan Sosiologis

Animo TKI untuk bekerja di luar negeri, sebagai solusi dari terbatasnya lapangan kerja di dalam negeri, terus meningkat dari tahun ke tahun. Meningkatnya jumlah TKI untuk bekerja di luar

negeri, berkait erat pula dengan keberhasilan para TKI dalam bekerja di luar negeri, sehingga

mendorong masyarakat memberi dukungan untuk bekerja di luar negeri. Akan tetapi, besarnya

jumlah TKI yang bekerja di LN dan banyaknya dukungan publik, belum diimbangi dengan

peningkatan pelayanan dan perlindungan TKI sejak pra penempatan, penempatan, dan purna penempatan. Oleh karena itu, masyarakat

memandang penting adanya penyempurnaan UU No. 39 Tahun 2004 supaya ke depan kita bisa

memberi pengayoman, pemberdayaan dan perlindungan yang optimal kepada TKI kita.

(6)

8/21/2010 6

3. Landasan Yuridis

Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja

Indonesia di Luar Negeri, telah memiliki

landasan yuridis yang kukuh. Undang-Undang

Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan

dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di

Luar Negeri merupakan amanat dari

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan yang mencabut Ordonansi

tentang Pengerahan Orang Indonesia untuk

melakukan pekerjaan di luar negeri.

(7)

Akan tetapi, pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 dan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2006 tentang Pembentukan Badan Nasional

Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) sebagai satu-satunya pemegang otoritas pelaksana kebijakan dalam penempatan dan

perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, sehingga menimbulkan banyak masalah dalam pelaksanaann TKI di luar negeri. Ini terjadi antara lain karena UU tersebut masih mengandung berbagai kekurangan.

Oleh karena itu, penyempurnaan UU No. 39 Tahun 2004, amat mendesak untuk dilaksanakan.

(8)

D. PERUBAHAN YANG DIUSULKAN DALAM UU 39 TAHUN 2004

Perlu pasal baru (pasal 4) “kewajiban pemerintah” Yang memerinci tugas dan tanggung jawab supaya terhindar dari tumpang tindih yaitu:

(1) Menteri (Membuat kebijakan, pembinaan dan pengawasan)

(2) BNP2TKI (Pelaksana kebijakan operasional)

Penyebab timbulnya masalah dari UU 39 Tahun 2004 ialah pasal 5:

(1) Pemerintah bertugas mengatur, membina,

melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri (Bab II)

(9)

Tanggung Jawab Pemerintah

(pasal 5)

Pemerintah bertanggungjawab untuk meningkatkan perlindungan

TKI di luar negeri.

a. Menjamin terpenuhinya hak-hak calon TKI/TKI.

b. Mengawasi pelaksanaan penempatan calon TKI/TKI.

c. Membentuk dan mengembangkan sistem informasi penempatan calon TKI/TKI di LN.

d. Memberikan perlindungan kepada calon TKI/TKI pada masa pra penempatan, penempatan, dan purna penempatan.

e. Melakukan upaya diplomatik untuk menjamin pemenuhan hak dan perlindungan TKI secara optimal di negara tujuan,

f. Melakukan promosi penempatan dan perlindungan TKI di dalam dan luar negeri.

g. Menyediakan anggaran pelatihan bagi calon TKI/TKI.

(10)

HAK DAN KEWAJIBAN CALON TKI/TKI

Pasal 6

Hak Calon TKI/TKI

Mendapat pendidikan dan pelatihan kerja

sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.

Pasal 7

Kewajiban Calon TKI/TKI

Mengikuti pendidikan dan pelatihan kerja

sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.

10

(11)

Pasal 12

Tata Cara Pemberian izin

Izin untuk melaksanakan penempatan

TKI di luar negeri diberikan untuk jangka

waktu tidak terbatas

, kecuali ada

pelanggaran hukum dan tidak lagi beroperasi

karena berbagai sebab.

(12)

Pasal 17

Larangan PPTKIS

(1) PPTKIS dilarang mengalihkan atau

memindah-tangankan SIPPTKI kepada pihak lain untuk melakukan perekrutan calon TKI dan penempatan TKI di LN.

(2) PPTKIS dilarang melakukan monopoli usaha penempatan dan perlindunga TKI di LN dari hulu sampai hilir, yang pelaksanaannya diatur oleh Mennakertrans.

(3) PPTKIS dilarang merekrut calon TKI/TKI melalui calo,

merekrut calon TKI yang masih di bawah umur, dan melakukan pemalsuan dokumen calon TKI.

(4) PPTKIS dilarang menempatkan TKI yang tidak berkualitas/ berketrampilan.

(13)

Pasal 25

(1)

Penempatan TKI pada pekerjaan dan

jabatan profesional tertentu seperti

pelaut

, dilaksanakan sesuai UU ini dan

ketentuan internasional, yang diatur lebih

lanjut dengan Peraturan Kepala BNP2TKI.

(2) Penempatan TKI di embarkasi wilayah

Perbatasan RI-Malaysia diatur lebih lanjut

oleh Kepala BNP2TKI.

(14)

Pasal 27

Larangan Penempatan Calon TKI/TKI (1) Setiap orang dilarang menempatkan calon TKI/TKI

pada jabatan dan tempat pekerjaan yang

bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma kesusilaan serta peraturan

perundang-undangan, baik di Indonesia maupun di negara tujuan atau di negara tujuan yang telah dinyatakan tertutup. (2) Calon TKI yang sedang mengikuti pendidikan dan

pelatihan dilarang untuk dipekerjakan di negara tujuan.

(3) PPTKIS dilarang menempatkan calon TKI/TKI yang tidak lulus dalam uji kompetensi kerja.

(4) Orang-perorang dilarang menempatkan calon TKI/TKI untuk bekerja di luar negeri.

(5) PPTKIS dilarang menempatkan calon TKI/TKI yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan psikologi.

(15)

Pasal 39

(2) BNP2TKI dan PPTKIS, berkewajiban mengakomodir dan melatih para sarjana dari berbagai bidang studi menjadi TKI trampil

untuk ditempatkan di LN.

(3) Biaya pelatihan kerja untuk mendapatkan sertifikat kompetensi kerja disediakan oleh negara.

(4) Dalam hal belum tersedia lembaga uji kompetensi, dapat menggunakan sertifikat ketrampilan yang dikeluarkan oleh lembaga pelatihan.

(5) Bagi TKI yang belum memiliki kualitas/ketrampilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti pelatihan kerja yang

diselenggarakan oleh instansi/lembaga pelatihan kerja.

(6) Dalam hal TKI telah memiliki kualitas yang dibuktikan dengan ijazah pendidikan sebagaimana dipersyaratkan oleh pengguna, maka calon TKI tidak wajib mengikuti pelatihan.

(7) Setiap daerah kabupaten/kota, wajib memiliki Balai Latihan Kerja (BLK), yang pelaksanaannya diatur oleh Mennakertrans.

(16)

Pasal 46

(1) Pemeriksaan Kesehatan wajib dilaksanakan oleh Sarana Kesehatan yang telah ditetapkan oleh

Kementerian Kesehatan.

(2) Sarana Kesehatan harus terkoneksi dalam Sistem Pelayanan Penempatan Calon TKI ke luar negeri

melalui online system yang dilengkapi dengan sistem biometrik (finger print dan pas foto).

(3) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan dan penetapan sarana kesehatan, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Kesehatan.

(17)

Pasal 45

Pemeriksaan Kesehatan

(1) Setiap calon TKI yang akan bekerja ke

luar negeri, wajib melakukan pemeriksaan

kesehatan.

(2) Pemeriksaan kesehatan bagi calon TKI

dimaksudkan untuk mengetahui derajat

kesehatan calon TKI.

(3) Pemeriksaan kesehatan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dan ayat (20

harus mengacu pada kaidah dan peraturan

perundang-undangan yang berlaku di

bidang kedokteran

(18)

Pasal 43

Kewajiban Pemeriksaan Psikologi

(1) Setiap Calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri, wajib melakukan

Pemeriksaan Psikologi.

(2) Pemeriksaan Psikologi bagi Calon TKI dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan psikis serta kesesuaian kepribadian Calon TKI dengan pekerjaan yang akan dilakukan di Negara tujuan.

(3) Pemeriksaan psikologi harus mengacu pada kaidah dan peraturan perundangan yang berlaku.

Pasal 44

(1) Pemeriksaan Psikologi wajib dilaksanakan oleh Lembaga yang

menyelenggarakan pemeriksaan psikologi yang telah ditetapkan oleh Kepala BNP2TKI.

(2) Lembaga yang menyelenggarakan pemeriksaan psikologi, telah

mendapatkan pertimbangan dari Asosiasi yang membidangi psikologi.

(3) Lembaga yang menyelenggarakan pemeriksaan psikologi harus terkoneksi dalam Sistem Pelayanan Penempatan Calon TKI ke luar negeri melalui

online system yang dilengkapi dengan sistem biometrik (finger print dan pasfoto).

(19)

Pasal 60

Pembentukan Asuransi TKI Luar Negeri

(1)

Setiap TKI yang akan bekerja di Luar

Negeri wajib mengikuti program asuransi

TKI yang dibentuk oleh pemerintah

(2)

Pemerintah membentuk badan hukum

asuransi TKI Luar negeri, yang diatur

dengan Peraturan Menteri Keuangan.

(20)

Pasal 63

Pembinaan dan Pemberdayaan TKI Purna penempatan (1) Pembinaan TKI Purna Penempatan dilakukan melalui:

a. Reintegrasi sosial

b. Rehabilitasi sosial dan budaya c. Pemberdayaan usaha produktif.

(2) Pemberdayaan TKI purna penempatan dilakukan

melalui bombingan, motivasi, semangat dan dorongan supaya memanfaatkan pendapatan yang diperoleh

selama bekerja di luar negeri untuk membangun usaha baru.

(3) Bagi TKI yang mendapat masalah ditempat

penempatan wajib mendapat bantuan, perlindungan, program reintegrasi sosial, bimbingan, pemberdayaan, dan dukungan modal sosial dari kementerian terkait.

(21)

PERLINDUNGAN calon TKI/TKI Pasal 64

Setiap Calon TKI/TKI mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 65

Perlindungan calon TKI / TKI dilaksanakan mulai dari pra penempatan, masa penempatan, sampai dengan purna penempatan.

Pasal 66

Perlindungan calon TKI/TKI menjadi tanggungjawab Pemerintah, Perwakilan RI, Pemerintah, dan PPTKIS.

Pasal 67

Jenis-jenis Perlindungan calon TKI/TKI Perlindungan calon TKI/TKI dilakukan melalui:

a. Pembinaan b. Pengawasan

c. Penegakan hukum

Pasal 68

(1) Dalam rangka perlindungan TKI di luar negeri, Pemerintah dapat menetapkan jabatan Atase Ketenagakerjaan pada Perwakilan Republik Indonesia.

(2) Atase Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari Kementerian Tenaga Kerja dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang membidangi ketenagakerjaan.

(3) Penugasan Atase Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (20 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(22)

Paragraf 2

Perlindungan Pra Penempatan

Pasal 69

Perlindungan calon TKI pada pra penempatan dilakukan melalui pembinaan,

pengawasan dan penegakan hukum terhadap seluruh proses pra penempatan yang meliputi pengesahan perjanjian kerjasama penempatan, surat permintaan TKI,

perjanjian penempatan, perjanjian kerja, perekrutan di Dinas Kab/Kota, di

penampungan, pemeriksaan kesehatan dan psikologi, pelatihan dan uji kompetensi, asuransi, PAP, KTKLN, dan pengurusan dokumen sampai dengan TKI berangkat ke luar negeri.

Pembinaan, Pengawasan dan Sanksi Pra Penempatan

Pasal 70

(1) Pembinaan calon TKI dalam masa pra penempatan dilakukan dengan memberi bekal keterampilan berupa pelatihan, semangat kerja, keamanan pribadi (self security), nasionalisme dan cinta tanah air, kemampuan berbahasa asing, kerohanian, dan akhlak mulia.

(2) Pembinaan dalam masa penempatan dilakukan melalui orientasi (welcoming program), proram kepulangan (exit program).

(3) Pengawasan calon TKI dalam masa pra penempatan dilakukan dengan melakukan pemeriksaan danpenilaian kesesuaian antara pelaksanaan atas seluruh kegiatan pra penempatan dengan peraturan yang berlaku, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberadaan dan kegiatan calon TKI, Pengguna dan Mitra Usaha.

(4) Penegakan hukum dalam pra penempatan dilakukan dengan pemberian sanksi terhadap pelanggaran proses pra penempatan.

(23)

Pasal 71

(1) Perlindungan pada masa pra penempatan dilakukan oleh Pemerintah, Perwakilan RI, Pemerintah Daerah, PPTKIS sesuai dengan lingkup tugas dan tanggungjawab masing-masing.

(2) Perwakilan Republik Indonesia dan instansi pemerintah

terkait memberikan perlindungan terhadap TKI di luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku secara hukum dan kebiasaan internasional.

(3)

Pelaksana penempatan TKI swasta bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan kepada calon TKI/TKI sesuai

dengan perjanjian penempatan. Pasal 72

Perlindungan Masa Penempatan

1)

Dilakukan pembinaan melalui orientasi kedatangan (welcoming program), kepulangan (exit program),

kerohanian, peningkatan karakter, dan ketahanan pribadi (self security).

2)

Dilakukan pengawasan melalui monitoring dan evaluasi

terhadap keberadaan dan kegiatan TkI, pengguna dan mitra usaha.

(24)

Pasal 74

Perlindungan Purna Penempatan

(1) Pembinaan TKI dalam masa purna penempatan dilakukan melalui:

a. reintegrasi;

b. rehabilitasi sosial dan budaya TKI purna; c. pemberdayaan usaha produktif TKI purna.

(2) Pengawasan TKI dalam masa purna penempatan dilakukan melaui pengamanan kepulangan TKI sampai ke daerah asal.

(3) Penegakan hukum TKI dalam masa purna penempatan dilakukan melalui advokasi/pendampingan, fasilitasi klaim asuransi,

pemenuhan hak-hak TKI lainnya dan penjatuhann sanksi terhadap PPTKIS dan mitra usaha dalam negeri.

Pasal 74

Pemerintah, Pemerintah Daerah dan PPTKIS memberikan

perlindungan terhadap TKI pada masa purna penempatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

(25)

Penutup

Demikianlah beberapa usulan perubahan dan tambahan dalam rangka revisi UU

Nomor 39 Tahun 2004 tentang

Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri, semoga dapat

disempurnakan dan dikurangi jika dipandang kurang tepat dan tidak sempurna.

Jakarta, 19 Agustus 2010

Disampaikan dalam Seminar Internasional tentang “PERLINDUNGAN TKI DI LUAR NEGERI”, di ruang rapat Badan Legislasi DPR RI, 19 Agustus 2010, Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran hukum dalam penempatan TKI di malaysia meliputi prapenempatan yaitu maraknya praktik percaloan dalam proses perekrutan

Dengan membandingkan antara peraturan perundang- undangan yang berlaku, perjanjian kerja serta pelaksanaan penempatan TKI, maka dapat dikatahui apakah proses

39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja ke Luar Negeri, di mana di dalamnya memandatkan pembentukan Badan khusus yang mengatur perlindungan

(1) Penempatan TKI di luar negeri oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a, hanya dapat dilakukan atas dasar perjanjian secara tertulis antara Pemerintah

Penempatan dan perlindungan calon TKI/TKI berasaskan keterpaduan, persamaan hak, demokrasi, keadilan sosial, kesetaraan dan keadilan gender, anti diskriminasi serta anti

39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja ke Luar Negeri, di mana di dalamnya memandatkan pembentukan Badan khusus yang mengatur perlindungan

39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja di Luar Negeri (PPTKILN), dimana tidak adanya ketentuan mengenai mekanisme penanganan kasus buruh migran Indonesia menjadi

Kuota permintaan dari Negara pengguna jasa TKI tersebut harus mengajukan job order kepada yang berwenang dalam hal ini ditanggani oleh Badan Nasional Penempatan