KAJIAN METAXENIA PADA BUAH PEPAYA GENOTIPE IPB 9 NURUL FEBRIYANTI A

54 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KAJIAN METAXENIA

PADA BUAH PEPAYA GENOTIPE IPB 9

NURUL FEBRIYANTI

A24061724

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

(2)

NURUL FEBRIYANTI. Kajian Metaxenia pada Buah Pepaya Genotipe IPB 9. (Dibimbing oleh WINARSO D. WIDODO dan SRIANI SUJIPRIHATI).

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek metaxenia terhadap kualitas buah pepaya IPB 9 hasil penyerbukan sendiri (selfing) dan penyerbukan dengan pollen pepaya IPB 1, IPB 3, dan IPB 4. Pengujian efek metaxenia dilakukan dengan memperbandingkan buah hasil selfing pepaya IPB 9 dengan hasil tiga penyerbukan IPB 9 dengan IPB 1, IPB 3 dan IPB 4. Percobaan lapangan dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 hingga Maret 2010 di kebun

percobaan Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB, Tajur dengan elevasi 250-300 m dpl (di atas permukaan laut). Analisis sifat fisik dan kimia buah

pepaya dilakukan di Laboratorium Terpadu I, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Percobaan lapangan berupa percobaan faktor tunggal, dilakukan dengan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan empat kelompok sebagai ulangan. Setiap perlakuan terdiri atas enam pohon, sehingga keseluruhan percobaan terdiri atas 24 pohon. Hasil percobaan di lapangan menunjukkan hanya terdapat 13 pohon yang menghasilkan buah, karena terjadi kerontokan bunga. Buah pepaya yang diperlukan sebanyak lima buah untuk setiap perlakuanss sebagai ulangan yang diambil secara acak dari 13 pohon yang menghasilkan, sehingga total buah pepaya sebanyak 20 buah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu fisik buah pepaya dari semua perlakuan yang diuji tidak dipengaruhi oleh sumber pollen. Tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam panjang buah, diameter buah, rasio panjang/diameter buah, kekerasan kulit buah (pangkal, tengah, ujung), kekerasan daging buah (pangkal, tengah, ujung), ketebalan daging buah (maksimum, minimum), bobot buah utuh, bobot kulit buah, bagian dapat dimakan, bobot biji, bobot 100 biji, dan jumlah biji, antara buah hasil IPB 9 selfing dibandingkan dengan semua buah hasil penyerbukan IPB 9 dengan IPB 1, IPB 3, dan IPB 4.

(3)

iii Sumber pollen juga tidak mempengaruhi mutu kimia maupun preferensi

konsumen pada uji organoleptik. Tidak ada perbedaan yang nyata dalam kandungan Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Tertitrasi Total (ATT) dan vitamin C antara buah pepaya hasil IPB 9 selfing dibandingkan dengan semua buah hasil penyerbukan IPB 9 dengan IPB 1, IPB 3, dan IPB 4. Selain itu juga tidak ada perbedaan preferensi responden antara buah pepaya IPB 9 hasil selfing

dibandingkan buah hasil penyerbukan dalam hal rasa, aroma, warna, dan tekstur buah, kecuali pada rasa dan tekstur buah pepaya IPB 9 selfing dan rasa buah pepaya IPB (9 x 3), rata-rata responden menyatakan sangat suka.

(4)

PADA BUAH PEPAYA GENOTIPE IPB 9

Skripsi sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

NURUL FEBRIYANTI

A24061724

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

(5)

Judul

:

KAJIAN METAXENIA PADA BUAH PEPAYA

GENOTIPE IPB 9

Nama

:

NURUL FEBRIYANTI

NIM

: A24061724

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir. Winarso D. Widodo, MS. Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, MS. NIP. 19620831.198703.1.001 NIP. 19551028.198303.2.002

Mengetahui,

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc. Agr. NIP. 19611101.198703.1.003

(6)

Penulis dilahirkan di Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 29 Februari 1988. Penulis merupakan anak pertama Bapak Suyanta dan Ibu Junarti.

Tahun 2000 penulis lulus dari SD N Ngentak Mangir II, kemudian pada tahun 2003 penulis lulus dari SMP N I Pandak. Selanjutnya penulis lulus dari SMA N I Bantul pada tahun 2006. Tahun 2006 penulis diterima di IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan pada tahun 2007 penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian.

Selama masa perkuliahan, penulis aktif sebagai pengurus HIMAGRON (Himpunan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura) masa kepengurusan 2008-2009. Pada tahun 2010, penulis menjadi Asisten Praktikum Mata Kuliah Ilmu Tanaman Perkebunan dan Dasar-Dasar Hortikultura tahun ajaran 2009/2010.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kekuatan dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Kajian Metaxenia pada Buah Pepaya Genotipe IPB 9. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dan sebagai tugas akhir di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari peranan berbagai pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan baik langsung ataupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dr. Ir. Winarso D. Widodo, MS. danProf. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, MS. atas bimbingan dan arahan yang diberikan selama melakukan penelitian dan penyusunan skripsi.

2. Prof. Dr. Ir. Roedhy Poerwanto, M.Agr. atas bimbingan selama penulis belajar di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

3. Dr. Ir. Adiwirman, MS. atas kritik dan saran yang diberikan.

4. Pusat Kajian Buah-buahan Tropika (PKBT) yang telah memberikan fasilitas lahan percobaan dan menyediakan tanaman untuk penelitian ini.

5. Laboratorium Terpadu I dan Laboratorium RGCI, Fakuktas Pertanian atas bantuan bahan kimia dan ijin penggunaan laboratorium selama analisis kualitas buah dalam penelitian ini.

6. Bapak, Ibu, Nurvian Prasetya Ramadhan, dan Febrian Kilat Titantyo atas doa yang tulus, kasih sayang, dukungan moral dan materi.

7. Teman-teman AGH ‘43 atas persahabatan yang tulus.

Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Agustus 2010

(8)

Halaman DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 3 Hipotesis ... 3 TINJAUAN PUSTAKA Asal dan Penyebaran Geografis ... 4

Agroekologi ... 4

Sifat Botani ... 5

Pepaya Genotipe IPB 9 ... 6

Pepaya Genotipe IPB 1 ... 7

Pepaya Genotipe IPB 3 ... 8

Pepaya Genotipe IPB 4 ... 9

Metaxenia ... 9

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu ... 12

Bahan dan Alat ... 12

Metode Percobaan ... 12

Pelaksanaan Percobaan ... 13

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 19 Pertumbuhan Buah... 19 Mutu Fisik ... 21 Mutu Kimia ... 26 Uji Organoleptik ... 26 Pembahasan ... 27

Pengaruh Sumber Pollen terhadap Pertumbuhan Buah ... 27

Pengaruh Sumber Pollen terhadap Kualitas Buah ... 28

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 34

Saran ... 34

DAFTAR PUSTAKA ... 35

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Penyerbukan yang Dilakukan Selama Percobaan di Lapang ... 15 2. Bobot Buah Utuh (BBU), Bobot Kulit (BK), Bagian Dapat Dimakan (BDD)

Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 23 3. Bobot Biji (BB), Bobot Seratus Biji (BSB), Jumlah Biji (JB) Buah Pepaya IPB

9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber

Pollen ... 23 4. Ketebalan Daging (KD) Maksimum (Maks), Minimum (Min), dan Rata-rata

Ketebalan Daging Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan

Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 25 5. Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Total Tertitrasi (ATT), dan Vitamin C

Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 26

(10)

Nomor Halaman

1. Pepaya Genotipe IPB 9 ... 6

2. Pepaya Genotipe IPB 1 ... 7

3. Pepaya Genotipe IPB 3 ... 8

4. Pepaya Genotipe IPB 4 ... 9

5. Tahapan Penyerbukan Bunga Hermaprodit Pepaya IPB 9; ... 14

6. Pengukuran dengan Penetrometer; a) Kekerasan Kulit Buah ... 16

7. Pengukuran Ketebalan Daging Buah ... 16

8. Grafik Pertumbuhan Panjang Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 19

9. Grafik Pertumbuhan Diameter Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 20

10. Diagram Panjang, Diameter, dan Rasio Panjang/Diameter Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 21

11. Bentuk Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 21

12. Warna Daging Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 22

13. Diagram Kekerasan Kulit Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 24

14. Diagram Kekerasan Daging Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen ... 25

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Tabel Data Klimatologi ... 39

2. Tabel Sidik Ragam Panjang Buah... 39

3. Tabel Sidik Ragam Diameter Buah... 39

4. Tabel Sidik Ragam Bobot Buah ... 40

5. Tabel Sidik Ragam Bobot Biji dan Jumlah Biji ... 40

6. Tabel Sidik Ragam Kekerasan Kulit Buah ... 40

7. Tabel Sidik Ragam Kekerasan Daging Buah ... 41

8. Tabel Sidik Ragam Ketebalan Daging Buah ... 41

9. Tabel Sidik Ragam Mutu Kimia Buah ... 41

10. Tabel Rekapitulasi Hasil Uji Organoleptik ... 42

11. Warna Daging Buah Pepaya IPB 9, IPB 4, IPB 3, dan IPB 1 ... 42

12. Color Chart; a) Page-2 dan b) Page-4 ... 43

(12)

Latar Belakang

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu buah yang sangat digemari oleh masyarakat dalam negeri maupun luar negeri. Di dalam negeri, hal ini terlihat dari semakin meningkatnya konsumsi per kapita pepaya dari tahun ke tahun. Konsumsi pepaya tahun 2002 mencapai 2.24 kg per kapita, jumlah penduduk tahun 2002 sebesar 212 juta jiwa. Jika diperkirakan jumlah penduduk tahun 2025 sebesar 315 juta jiwa, maka konsumsi pepaya Indonesia mencapai 705 600 ton. Jika harga pepaya di pasar eceran Rp 1 800 per kg, maka nilai konsumsi pepaya tahun 2002 mencapai 854.8 milyar rupiah dan pada tahun 2025 akan menjadi 1.3 triliyun rupiah (PKBT, 2005).

Indonesia menempati urutan terbesar kelima produsen pepaya dunia, dengan produksi sebesar 621 524 juta ton (FAO, 2007). Besarnya produksi pepaya di Indonesia karena pepaya mempunyai beberapa keistimewaan dibandingkan dengan jenis buah-buahan lain, karena mudah dibudidayakan, cepat berproduksi dan tidak bermusim. Pepaya tidak memerlukan lahan luas sehingga dapat ditanam di pekarangan. Keluhan yang masih terdapat di masyarakat terhadap kualitas buah pepaya Indonesia, diantaranya ukuran buah yang terlalu besar dan tidak seragam, warna daging buah, penampilan buah dan warna kulit buah yang kurang menarik, serta kualitas fisik dan kimia daging buah masih beragam (PKBT, 2004).

Program pemuliaan untuk meningkatkan kualitas pepaya Indonesia, telah dilakukan dengan berdasarkan karakter ideal pepaya unggulan. Sifat-sifat yang dianggap ideal untuk buah yang konsumsi segar meliputi ukuran kecil sampai sedang (0.5-1.0 kg/buah), warna daging buah jingga-merah, mempunyai warna kulit hijau dengan warna merah-jingga di selanya, rongga buah kecil (edible portion tinggi), kulit buah halus, buah berbentuk lonjong (oblong), bertekstur padat (firm), rasanya manis, tidak ada rasa pahit atau rasa getah, self life tinggi, dan beraroma khas (PKBT, 2002).

Masalah utama pepaya Indonesia adalah ukurannya terlalu besar, warnanya kurang menarik, ada kesan bau burung muncul saat dimakan, dan sulit

(13)

2 penyajiannya. Perubahan selera konsumen dan kondisi sosial ekonomi di dalam maupun luar negeri menuntut penyesuaian produk. Untuk itu perlu dilakukan kajian perbaikan produk pepaya sesuai selera konsumen secara berkesinambungan. Salah satu kajian yang perlu dilakukan adalah efek metaxenia pada kualitas buah pepaya terkait dengan produksi buah.

Menurut Swingle (1928), metaxenia merupakan pengaruh langsung dari

pollen pada biji, lapisan luar embrio, dan endosperm buah. Pengaruh langsung dari bunga jantan terhadap perkembangan buah terjadi dengan sangat tepat, nyata terlihat, dan sangat bervariasi tergantung pada kesuburan dari pollen yang digunakan untuk menyerbuki bunga betina. Setiap genotipe bunga jantan yang digunakan akan menunjukkan pengaruh yang berbeda satu sama lain pada varietas tanaman yang sama dan pengaruh yang ditimbulkan akan tetap sama walaupun penyerbukan dilakukan pada tahun yang berbeda.

Kualitas pepaya seperti ukuran buah dan jumlah biji dapat dikendalikan dengan manipulasi organ bunga dan proses penyerbukan. Pengurangan tangkai sari menyebabkan ukuran buah menjadi lebih pendek. Penyerbukan silang dengan serbuk sari dari genotipe lain menyebabkan bertambahnya bobot buah tanpa menyebabkan perubahan ukuran buah. Penghalangan penyerbukan akan mereduksi ukuran buah, bobot buah dan jumlah biji tetapi meningkatkan edible portion (bagian yang dapat dimakan), terutama pada bunga betina (PKBT, 2006)

Perbaikan kualitas buah pada pepaya dapat dilakukan dengan memanfaatkan efek metaxenia pada jaringan tetua betina khususnya pada endosperm buah. Fenomena ini biasanya dapat dilihat pada ukuran, warna, bentuk serta komposisi kimia dari bagian buah. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa efek metaxenia pada pepaya hanya dapat dijumpai pada genotipe-genotipe tertentu saja, misalnya pada pepaya IPB 1 efek metaxenia ditemukan pada karakter padatan total terlarut dan tebal daging buah (Sulistyo, 2005).

Pada penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa efek metaxenia baru terlihat pada pepaya IPB 1. Untuk mengetahui fenomena metaxenia lebih lanjut, pada penelitian ini digunakan pepaya IPB 9 sebagai tetua betina dengan sumber

pollen IPB 1, IPB 3, dan IPB 4. Penyerbukan dilakukan untuk mendapatkan sifat-sifat unggul dari genotipe sumber pollen yang digunakan sehingga diharapkan

(14)

akan meningkatkan kaulitas buah pepaya hasil IPB 9 selfing dan hasil penyerbukan IPB 9 dengan IPB 1, IPB 3, dan IPB 4.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek metaxenia terhadap kualitas buah pepaya IPB 9 selfing dan hasil penyerbukan IPB 9 dengan IPB 1, IPB 3, dan IPB 4.

Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam kajian metaxenia ini adalah terdapat efek metaxenia terhadap kualitas buah pepaya IPB 9 selfing dan hasil penyerbukan IPB 9 dengan IPB 1, IPB 3, dan IPB 4.

(15)

TINJAUAN PUSTAKA

Asal dan Penyebaran Geografis

Pepaya berasal dari Amerika Tropika, merupakan hasil dari persilangan alami antara C. peltata Hook (pepaya gunung) dan C. peltata Arn (pepaya liar). Dari Amerika Tropika pepaya dibawa ke Kepulauan Karibia dan Asia Tenggara selama penjajahan Spanyol pada abad ke-16. Penyebaran pepaya kemudian dengan cepat mencapai India, Oceania, dan Afrika. Sekarang, pepaya telah

tersebar ke seluruh daerah tropika dan subtropika hangat di dunia (Villegas, 1997).

Penggolongan pepaya telah mengalami banyak perubahan. Jenis Carica

sebelumnya digolongkan ke dalam beberapa famili, mencakup Passifloraceae,

Cucurbitaceae, Bixaceae, dan Papayaceae. Pada penelitian lebih lanjut pepaya digolongkan ke dalam famili Caricaceae. Dalam famili Caricaceae terdapat 35 jenis tanaman penghasil getah yang dikelompokkan menjadi empat kelompok besar, yaitu Carica, Cylicomorpha, Jarilla dan Jacaratia (Kumar dan Srinivasan 1944). Kelompok Carica terdiri atas 22 jenis tanaman dan menjadi satu-satunya anggota Caricaceae yang dibudidayakan sebagai pohon buah-buahan, sedangkan tiga kelompok yang lain dibudidayakan sebagai tanaman hias (Burkill 1966).

Agroekologi

Tanaman pepaya dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1 000 m dpl (di atas permukaan laut) di daerah beriklim tropik. Tanaman pepaya masih mampu berbuah pada daerah yang beriklim kering dengan musim hujan 2-5 bulan dan musim kemarau 6-8 bulan, asalkan kedalaman air tanahnya 50-150 cm. Tanaman pepaya termasuk tanaman yang memerlukan cahaya matahari penuh dan tanah yang tidak tergenang air, karena tanah berdrainase buruk dapat menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit akar (Sunarjono, 1987).

Tanaman pepaya menghendaki suhu udara minimum 15oC, maksimum 43oC, dan optimum 22-26oC, curah hujan 1 000 - 2 000 mm/tahun, tanah yang

(16)

subur dan remah, drainase baik, dan pH tanah berkisar antara 6-7 (Ashari, 1995; Nakasone dan Paull, 1998).

Sifat Botani

a. Batang

Tanaman pepaya mempunyai batang lurus, bulat, berongga di dalam, lunak dan dapat mencapai ketinggian 10 m (Ashari, 1995). Batangnya berbentuk silinder, berdiameter 10 -30 cm, berongga, memiliki lampang (scar) daun yang jelas serta jaringan serat berbunga karang (Villages, 1997). Jika batang terluka maka bagian yang terluka akan mengeluarkan getah encer berwarna putih seperti susu (Nakasone dan Paull, 1998).

b. Daun

Daun pepaya tersusun spiral, berkelompok dekat dengan ujung batang. Tangkai daun mencapai panjang 1 m, berongga, dan berwarna kehijau-hijauan atau hijau lembayung. Lembaran daun berbentuk bundar, berdiameter 25-75 cm, bercuping 7-11, menjari dalam, tidak berbulu, bervena menonjol, cuping-cupingnya bergerigi dalam dan lebar ( Villegas, 1997).

c. Bunga

Tanaman pepaya mempunyai tipe bunga yang beragam. Menurut Nakasone dan Paull (1998) keragaman ekspresi seks pada bunga tanaman pepaya merupakan hasil dari interaksi antara genotipe dan lingkungan yang akan mempengaruhi proses penyerbukan, pembentukan buah, dan produksi buah tanaman pepaya.

Bunga tanaman pepaya diklasifikasikan ke dalam tiga tipe utama, yaitu bunga jantan, bunga betina, dan bunga hermaprodit. Bunga hermaprodit bersifat biseksual. Bunga ini lebih bersifat andromonocious (benang sari lebih berfungsi), mempunyai lima benang sari dengan tangkai sari panjang. Bunga hermaprodit terdiri atas tiga jenis, yaitu hermaprodit elongata, hermaprodit pentandria, dan hermaprodit intermedia (Ashari, 1995; Villegas, 1997).

(17)

6 d. Buah

Buah pepaya mengandung 4-10% gula dan 90% air (Ashari, 1995). Buah pepaya bertipe buah buni berdaging, berbentuk bulat telur-lonjong sampai hampir bulat, berbentuk silinder atau berlekuk, panjangnya 7-30 cm, beratnya mencapai 10 kg. Kulit buah tipis, halus, jika matang berwarna kekuning-kuningan atau jingga. Daging buah berwarna kekuning-kuningan sampai jingga merah, rasanya manis, rongga tengahnya bersudut lima. Biji berbentuk bulat, berdiameter 5 mm, berwarna hitam atau kehijau-hijauan, melekat di dinding dalam bakal buah, tersusun dalam 5 baris, dan terbungkus oleh sarkotesta yang berlendir (Villegas, 1997).

e. Akar

Akar tanaman pepaya merupakan akar tunggang dan akar samping yang lunak dan agak dangkal. Tumbuh panjang dan cenderung mendatar dengan jumlah yang sedikit dan lunak (Sunarjono, 1987).

Pepaya Genotipe IPB 9

Perawakan tanaman pendek dengan tinggi tanaman rata-rata 156.75 cm. Apabila telah terbentuk buah, kedudukan buah pertama berada pada ketinggian 97.35 cm dari permukaan tanah (PKBT, 2009). Umur tanaman tergolong genjah dengan masa umur petik sekitar 180 hari setelah antesis (HSA) (Sujiprihati dan Suketi, 2009).

(18)

Pepaya genotipe IPB 9 telah dilepas sebagai varietas dengan nama Callina. Karakteristik buah berukuran sedang dengan bentuk tengah buah angular (lonjong) dan bentuk pangkal buah agak ke dalam. Kekerasan rata-rata 0.823 mm/s, panjang 25-30 cm , dan diameter 10-11 cm. Kulit buah berwarna hijau terang (Rini, 2008). Bobot buah rata-rata 1236.67 kg, tebal daging buah 2.3 cm, aroma buah tidak kuat, dan warna daging buah jingga (PKBT, 2009).

Rasa daging buah pepaya genotipe IPB 9 manis, dengan tingkat kemanisan 11o Brix (Rini, 2008; Sujiprihati dan Suketi, 2009). Kandungan vitamin C 78.6 mg/100 g, kadar karoten 37.9 µmol/100 g, dan pH 5.63 (PKBT, 2009).

Pepaya Genotipe IPB 1

Tanaman pepaya genotipe IPB 1 mempunyai tinggi batang ke buah terbawah 125.67 ± 10.78 cm. Umur berbunga 4 bulan dan umur panen 8 bulan (Sujiprihati et al., 2010).

Gambar 2. Pepaya Genotipe IPB 1

Pepaya genotipe IPB 1 telah dilepas sebagai varietas dengan nama Arum Bogor. Keunggulan buah pepaya Arum Bogor terletak pada bentuk buah yang lonjong dan kecil, dengan bobot berkisar 0.50-0.63 kg. Buah mempunyai kekerasan rata-rata 21.63 mm/s, panjang 14.10 cm, diameter 10.10 cm, bobot total

(19)

8 biji 9.55 ± 3.27 g, dan bobot 100 biji 1.52 ± 0.03 g. Kulit buah berwarna hijau sedang, aroma buah harum, tekstur buah lembut, dan warna daging buah kemerahan/jingga (Sujiprihati dan Suketi, 2009; Sujiprihati et al., 2010 ).

Pepaya genotipe IPB 1 mempunyai rasa buah sangat manis, dengan tingkat kemanisan 11-13oBrix. Kandungan vitamin C 82.10 mg/100 g, ATT 1.90%, kadar karoten 30.50 µmol/100 g, dan pH 5 (Sujiprihati dan Suketi, 2009).

Pepaya Genotipe IPB 3

Umur petik tanaman pepaya genotipe IPB 1 sekitar 140 HSA. Buah pepaya genotipe IPB 3 mempunyai bentuk buah lonjong dan kecil dengan bobot rata-rata 573.30 g. Buah mempunyai rata-rata panjang 17.00 cm dan diameter 8.00 cm. Kulit buah berwarna hijau tua, daging buah tebal, berwarna jingga kemerahan, dan berongga kecil (Sujiprihati dan Suketi, 2009). Pepaya genotipe IPB 3 telah dilepas sebagai varietas dengan nama Carisya.

Gambar 3. Pepaya Genotipe IPB 3

Keistimewaan buah pepaya genotipe IPB 3 terletak pada rasa buah yang sangat manis, dengan tingkat kemanisan mencapai 14oBrix. Kandungan vitamin C 110.80 mg/100 g, ATT 1.6%, kadar karoten 59.50 µmol/100 g, dan pH 5.33 (Sujiprihati dan Suketi, 2009).

(20)

Pepaya Genotipe IPB 4

Umur petik tanaman pepaya genotipe IPB 4 sekitar 150 HSA (Sujiprihati dan Suketi, 2009). Tanaman pepaya genotipe IPB 4 mempunyai tinggi batang ke buah terbawah 96.41 ± 20.15cm (Sujiprihati et al., 2010).

Gambar 4. Pepaya Genotipe IPB 4

Pepaya genotipe IPB 4 belum dilepas sebagai varietas. Buah pepaya ini mempunyai bentuk lonjong dan berukuran kecil, dengan bobot rata-rata 513.33 g. Buah mempunyai kekerasan rata-rata 75.11 mm/s, panjang 15.50 cm, diameter 8.25 cm, bobot total biji 2.88 ± 0.77 g, dan bobot 100 biji 1.50 ± 0.19 g. Keistimewaan pepaya genotipe IPB 4 terletak pada kulit buah yang berwarna kuning, dengan tekstur kulit halus dan warna daging buah jingga (Sujiprihati dan Suketi, 2009; Sujiprihati et al., 2010).

Rasa daging buah pepaya genotipe IPB 4 manis, dengan tingkat kemanisan 10.67oBrix. Kandungan vitamin C 115.57 mg/100 g, ATT 2.37%, kadar karoten 67.07 µmol/100 g, dan pH 5.09 (Sujiprihati dan Suketi, 2009).

Metaxenia

Metaxenia adalah suatu perubahan pada jaringan tetua betina yang disebabkan oleh sumber pollen yang digunakan untuk persilangan. Perbedaan

(21)

10 penting antara persilangan dan penyerbukan sendiri terdapat pada interval pemasakan buah (mempercepat atau menunda pemasakan). Tidak ada korelasi antara umur pollen yang digunakan dan tetua betina yang digunakan pada interval pemasakan buah. Sama halnya dengan bobot buah, tidak terdapat pengaruh dari sumber pollen yang digunakan (Ehlenfeldt, 2003).

Metaxenia tidak seperti xenia, tidak dapat dijelaskan dengan elemen-elemen hereditas (kromosom) yang terbawa di dalam pollen karena tidak seperti kromosom yang terdapat pada jaringan yang menunjukkan pengaruh langsung dari pollen tetua (Bodor. et al., 2008).

Metaxenia menguraikan tentang pengaruh pollen pada jaringan buah maternal asal, seperti pericarp dan komponen buah yang lain tidak dipengaruhi oleh pollen. Sedangkan xenia menguraikan tentang pengaruh pollen pada jaringan yang berisi sedikitnya satu satuan gen dari tetua jantan, yakni embrio dan endosperm (Denney, 1992).

Xenia merupakan gejala genetik berupa pengaruh langsung pollen pada fenotipe biji dan buah yang dihasilkan tetua betina. Pada kajian pewarisan sifat, ekspresi dari gen yang dibawa tetua jantan dan tetua betina diasumsikan baru diekspresikan pada generasi berikutnya. Dengan adanya xenia, ekspresi gen yang dibawa tetua jantan secara dini sudah diekspresikan pada organ tetua betina (buah), embrio, dan/atau endosperm. Xenia yang mempengaruhi fenotipe buah juga disebut metaxenia. Contoh xenia yang paling sering dipakai adalah pengaruh serbuk sari pada warna endosperm butir jagung. Xenia juga telihat pada sawo manila, kelapa, biji kapas, bunga matahari, apel, kurma, dan pir (Denney, 1992).

Gejala xenia tidak hanya mempengaruhi warna tetapi juga bentuk, kadar gula, kadar minyak, bentuk buah, dan waktu pemasakan. Xenia bukanlah penyimpangan dari Hukum Pewarisan Mendel, melainkan konsekuensi langsung dari pembuahan berganda (double fertilisation) yang terjadi pada tumbuhan berbunga dan proses perkembangan embrio tumbuhan hingga biji masak. Pada tahap perkembangan embrio sejumlah gen pada embrio dan endosperm berekspresi dan mempengaruhi penampilan biji, bulir, atau buah (Denney, 1992).

Proses emaskulasi yang dilakukan pada bunga hermaprodit sebelum penyerbukan buatan, akan mengacaukan pengaruh dari sumber pollen yang

(22)

digunakan pada buah yang dihasilkan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan genetik yang terdapat pada bakal buah dan pollen yang akan digunakan untuk persilangan (De Jong dan Scott, 2007).

Menurut Nebel dan Iris (1932) efek metaxenia pada buah apel terlihat pada karakter pH buah dan asam total tertitrasi. Sedangkan pada karakter bobot buah, menunjukkan adanya nilai fluktuatif pada stansar deviasinya. Hal ini diyakini merupakan ekspresi metaxenia yang penting, yang dipengaruhi oleh ukuran pollen

yang digunakan pada persilangan apel.

Hasil penelitian metaxenia pada buah pepaya yang telah dilakukan sebelumnya memperlihatkan bahwa efek metaxenia pada pepaya hanya dapat dijumpai pada genotipe-genotipe tertentu saja, misalnya pada genotipe IPB 1. Pada pepaya varietas ini, efek metaxenia ditemukan pada karakter padatan total terlarut dan tebal daging buah. Sumber pollen yang berasal dari genotipe IPB 10, PB 000201, IPB 5, dan IPB 6 dapat meningkatkan rasa manis pada buah genotipe IPB 1. Sementara itu, pollen yang berasal dari genotipe IPB 10, IPB 5, Str 6-4, dan IPB 6 dapat meningkatkan tebal daging buah genotipe IPB 1 (Sulistyo, 2005).

(23)

12

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Percobaan lapangan dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 hingga Maret 2010 di kebun percobaan Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB, Tajur dengan elevasi 250-300 m dpl (di atas permukaan laut). Analisis sifat fisik dan kimia buah pepaya dilakukan di Laboratorium Terpadu I, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan tanaman yang digunakan, yaitu bunga hermaprodit pepaya IPB 9 sebagai bakal buah (induk betina) dan bunga hermaprodit pepaya IPB 1, IPB 3, dan IPB 4 sebagai sumber pollen. Bahan-bahan untuk analisis laboratorium meliputi akuades, alkohol, larutan NaOH, larutan Iodin, amilum, Asam Oksalat, dan Natrium Tiosulfat.

Alat yang digunakan, yaitu pinset untuk melakukan emaskulasi. Sungkup untuk melindungi bunga hasil penyerbukan. Label untuk memberikan identitas penyerbukan. Jangka sorong dan meteran, untuk mengukur panjang dan diameter buah. Timbangan untuk menghitung bobot buah, kulit, dan biji. Pisau untuk memotong dan mengupas buah. Penetrometer untuk mengukur tingkat kekerasan kulit dan daging buah. Blender untuk menghancurkan buah. Pemanas untuk mendidihkan air akuades dan pengaduk untuk menghomogenkan ekstrak buah dan larutan kimia. pH meter untuk mengukur pH ekstrak buah, hand refractometer

untuk mengukur tingkat kemanisan buah, buret untuk titrasi, dan kamera digital untuk keperluan dokumentasi.

Metode Percobaan

Percobaan lapangan yang berupa penyerbukan IPB 9 dengan tiga genotipe sumber pollen dilakukan dengan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak

(24)

(RKLT). Genotipe sumber pollen merupakan faktor tunggal yang diuji pengaruhnya terhadap mutu buah pepaya IPB 9 hasil selfing dan penyerbukan dengan pollen pepaya IPB 1, IPB 3, dan IPB 4. Percobaan terdiri atas empat kelompok dan setiap perlakuan terdiri atas lima buah sebagai ulangan, sehingga total percobaan diperlukan 20 buah.

Model rancangan yang digunakan yaitu: 𝑌𝑖𝑗 = 𝜇 + 𝜏𝑖 + 𝛽𝑗 + 𝜀𝑖𝑗

Keterangan:

𝑌𝑖𝑗 = Nilai pengamatan pada sumber polen ke-i dan kelompok ke-j

𝜇 = Nilai tengah umum

𝜏 𝑖 = Pengaruh sumber polen ke-i (1, 2, 3,4) 𝛽𝑗 = Pengaruh kelompok ke-j (1, 2, 3, 4, 5)

𝜀𝑖𝑗 = Pengaruh acak pada sumber polen ke-I dan kelompok ke-j

Data kualitas buah hasil selfing dan penyerbukandianalisis dengan analisis ragam (uji F) pada taraf 5% untuk mengetahui pengaruh genotipe sumber pollen terhadap mutu buah IPB 9. Jika analisis ragam menunjukkan pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nilai tengah dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Pelaksanaan Percobaan

Tanaman pepaya IPB 9 yang digunakan untuk penelitian sebagai tetua betina, diberi label pada saat muncul bunga. Pollen sebagai perlakuan dikumpulkan dari bunga hermaprodit yang sedang mekar (anthesis), dari tanaman hermaprodit pepaya IPB 1, IPB 3, dan IPB 4. Bunga-bunga pepaya IPB 9 yang akan diserbuki dengan pollen perlakuan, diemaskulasi sebelum anthesis. Penyerbukan antara pepaya IPB 9 dengan pollen dari pepaya IPB 1, IPB 3, dan IPB 4 berturut-turut diberi kode IPB (9 x 1), IPB (9 x 3), dan IPB (9 x 4). Pelaksanaan penyerbukan dilakukan pada saat anthesis. Setiap bunga yang telah diserbuki diberi label yang berisi induk betina, induk jantan, dan tanggal penyerbukan, kemudian disungkup. Tahapan penyerbukan bunga hermaprodit pepaya IPB 9 disajikan pada Gambar 5.

(25)

14

Gambar 5. Tahapan Penyerbukan Bunga Hermaprodit Pepaya IPB 9; a) emaskulasi bunga hermaprodit, b) proses penyerbukan

buatan, dan c) pelabelan dan penyungkupan

Perlakuan kontrol adalah bunga hermaprodit tanaman IPB 9 dengan penyerbukan sendiri (selfing). Bunga hermaprodit yang belum anthesis diberi label untuk identitas. Kemudian disungkup tanpa diberikan pollen dari genotipe yang lain.

Pengamatan panjang dan diameter buah (tengah) dilakukan dari saat buah berumur 2 Minggu Setelah Penyerbukan (MSP) hingga buah dipanen. Pengamatan dilakukan dengan interval 2 minggu. Buah siap dipanen jika sudah menunjukkan perubahan warna kulit sekitar 20%, dari hijau menjadi kekuning-kuningan atau jingga.

Suhu rata-rata selama percobaan 27.33oC dengan suhu minimum 23oC dan maksimum 31.67oC. Jumlah curah hujan 434.33 mm, kelembaban rata-rata 86.17%, dan lama penyinaran matahari rata-rata 47.67% (Lampiran 1).

Penyerbukan mulai dilakukan pada tanggal 3 Oktober 2009. Penyerbukan dilakukan pada pagi hari untuk menghindari kerontokan bunga akibat hujan sehingga diharapkan akan memperbesar peluang terbentuknya buah. Pada awal penelitian, kondisi cuaca sangat tidak menentu. Cuaca pada pagi hingga siang hari sangat panas, sedangkan pada sore hari curah hujan sangat tinggi. Antisipasi yang dilakukan dalam mengatasi kerontokan bunga yang telah diserbuki yaitu dengan melakukan penyerbukan setiap hari apabila terdapat bunga yang anthesis.

Selama pelaksanaan percobaan di lapang, telah dilakukan sebanyak 111 penyerbukan. Kondisi lingkungan yang tidak menentu menyebabkan banyaknya

(26)

penyerbukan yang gagal, dari seluruh penyerbukan yang dilakukan hanya terbentuk 44 buah. Rincian penyerbukan yang dilakukan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Penyerbukan yang Dilakukan Selama Percobaan di Lapang Perlakuan Penyerbukan yang

Dilakukan Penyerbukan yang Berhasil Persentase Keberhasilan (%) IPB 9 selfing 35 16 14.41 IPB (9 x 1) 21 9 8.11 IPB (9 x 3) 38 11 9.91 IPB (9 x 4) 17 8 7.21

Terdapat serangan hama pada buah selama perkembangan buah di lapangan. Hama yang menyerang buah pepaya ialah kutu putih (Paracocus marginatus). Serangan kutu putih ditandai dengan munculnya koloni kutu putih pada buah. Terdapat delapan buah dari total 44 buah hasil persilangan yang terserang kutu putih. Buah yang terserang kutu putih tidak digunakan untuk pengamatan karakter fisik, kimia, dan uji organoleptik.

Penyakit yang menyerang tanaman ialah layu bakteri. Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri Erwinia papayae, menyebabkan sebagian daun pepaya terkulai dan gugur. Pucuk tanaman akan membusuk dan menjalar ke bagian bawah tanaman, sehingga tanaman harus dibongkar. Terdapat satu tanaman penelitian yang mati karena terserang penyakit layu bakteri, sehingga harus diganti dengan tanaman sehat lain yang terdapat di lahan.

Pengamatan

a. Karakter mutu fisik yang diamati meliputi:

- Panjang buah dan diameter buah diukur setiap minggu hingga panen. Diameter buah yang diukur adalah diameter terbesar (bagian tengah buah).

- Kekerasan kulit buah (ujung, tengah, dan pangkal), diukur tiga hari setelah buah dipanen. Pengukuran kekerasan kulit buah ini dilakukan pada buah yang belum dikupas pada bagian pangkal, tengah dan ujung buah. Pengukuran pada tiap bagian buah dilakukan sebanyak tiga kali (triplo).

(27)

16

- Kekerasan daging buah (ujung, tengah, dan pangkal), diukur pada bagian buah yang telah dikupas. Pada tiap bagian dilakukan pengukuran sebanyak tiga kali (triplo).

Gambar 6. Pengukuran dengan Penetrometer; a) Kekerasan Kulit Buah dan b) Kekerasan Daging Buah

- Ketebalan daging buah (maksimum dan minimum) diukur dengan memotong buah secara melintang. Ketebalan daging buah pada lakukan cekung buah dicatat sebagai ketebalan minimum dan ketebalan daging pada bagian cembung dicatat sebagai ketebalan daging maksimum. Pengukuran ketebalan daging buah dilakukan sebanyak tiga kali (triplo).

Gambar 7. Pengukuran Ketebalan Daging Buah

- Bobot buah utuh, ditentukan dengan menimbang buah utuh yang belum dikupas; bobot kulit buah ditentukan dengan menimbang kulit buah yang telah dikupas dari daging buahnya; bobot biji diukur dengan menimbang

Ketebalan daging buah minimum Ketebalan daging buah maksimum

a b

(28)

seluruh biji. Dari data bobot utuh, bobot kulit buah dan bobot biji ditentukan persentase bagian dapat dimakan dengan rumus sebagai berikut:

BDD % =Bobot buah utuh −(Bobot kulit +Bobot biji )

Bobot buah utuh × 100%

- Bobot 100 biji, ditentukan dengan menimbang 100 biji yang telah dipisahkan dari seluruh biji yang ada pada buah yang telah dikupas.

- Jumlah biji, ditentukan dengan menghitung seluruh biji yang ada pada buah yang telah dikupas.

b. Karakter mutu kimia yang diamati meliputi:

- Padatan Terlarut Total (PTT) diukur dengan mengambil sedikit daging buah dari buah pepaya yang sudah dikupas, kemudian dihancurkan. Air tetesan dari daging buah pepaya tersebut kemudian diteteskan ke hand refractometer untuk diukur kandungan oBrix nya.

- Asam Tertitrasi Total (ATT), diukur dengan melakukan titrasi larutan NaOH 0.1 N. Sari buah yang akan dititrasi disiapkan dengan menghancurkan daging buah pepaya kemudian ditimbang 100 gram untuk dilarutkan dalam 300 ml air akuades. Suspensi daging buah tersebut kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam labu takar 500 ml dan ditambah air akuades sampai tanda tera. Filtrat diambil sebanyak 50 ml kemudian dihomogenkan dengan stirer kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0.1 N. Perubahan pH diukur dengan langsung memasukkan elektroda pH meter ke dalam larutan yang dititrasi. Titrasi dihentikan pada saat pH meter menunjukkan angka pH 7.00. Nilai ATT yang sebenarnya dapat dihitung setelah melakukan standarisasi titrasi dengan menggunakan kristal Asam Oksalat.

- Vitamin C, diukur dengan melakukan titrasi larutan Iodin 0.01 N dengan indikator amilum. Persiapan yang dilakukan sampai sebelum titrasi sama dengan persiapan pada penentuan ATT. Filtrat sebanyak 25 ml dititrasi dengan larutan Iodin 0.01 N. Indikator amilum dibuat dengan melarutkan 1 gram amilum ke dalam 100 ml akuades yang dididihkan. Sebelum titrasi, filtrat ditambah indokator amilum. Akhir titrasi ditandai dengan terjadinya

(29)

18 warna biru dari iod-amilum. Perhitungan kandungan vitamin C dengan standarisasi larutan Iodin yaitu tiap 1 ml Iodin 0.01 N ekuivalen dengan 0.88 mg Asam Askorbat (Sudarmadji et al., 1989).

Kandungan vitamin C dihitung dengan rumus:

Vitamin C (mg/100mg) = ml Iodin 0.01N × 0.88 × fk ×100

Bobot contoh (g)

N = Normalitas

fk = faktor konversi ( 500 ml

25 ml )

c. Uji organoleptik yang dilakukan oleh 30 responden untuk mengetahui tingkat penerimaan responen terhadap buah pepaya IPB 9 hasil selfing dan hasil penyerbukan IPB 9 dengan tiga genotipe sumber pollen berdasarkan rasa, aroma, warna, dan tekstur buah. Penilaian rasa, aroma, warna, dan tekstur buah dilakukan dengan menggunakan skor: 0-25 = tidak suka, 26-50 = kurang suka, 51-75 = suka, 76-100 = sangat suka.

(30)

Hasil

Pertumbuhan Buah

Pertumbuhan buah yang diamati pada penelitian ini meliputi panjang dan diameter buah. Pengukuran dilakukan mulai umur 2 Minggu Setelah Penyerbukan (MSP) hingga panen. Grafik pertumbuhan panjang dan diameter buah pepaya disajikan pada Gambar 8 dan 9.

Pada grafik terlihat bahwa pertumbuhan panjang dan diameter buah mempunyai pola yang sama pada buah hasil IPB 9 selfing maupun hasil penyerbukan dengan pollen IPB 1, IPB 3, dan IPB 4. Perbedaan hanya terlihat pada umur buah (akhir pengamatan) yang menunjukkan bahwa pollen yang digunakan memberikan pengaruh pada masa panen buah.

Gambar 8. Grafik Pertumbuhan Panjang Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

0 5 10 15 20 25 30 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 P anjang bua h (c m)

Minggu Setelah Penyerbukan (MSP)

IPB 9 Selfing

IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4)

(31)

20

Gambar 9. Grafik Pertumbuhan Diameter Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

Pengukuran panjang dan diameter buah pepaya dilakukan tiga hari setelah buah dipanen. Berdasarkan hasil uji F, sumber pollen yang digunakan tidak memberikan pengaruh yang nyata pada panjang dan diameter buah (Lampiran 2 dan 3). Rasio panjang/diameter buah dihitung setelah diperoleh data panjang dan diameter buah. Panjang buah berkisar 22.60-24.60 cm, diameter 9.00-10.23 cm, dan rasio panjang/diameter buah 2.30-2.65. Diagram panjang, diameter, dan rasio panjang/diameter buah pepaya IPB 9 hasil penyerbukan sendiri dan penyerbukan dengan beberapa sumber pollen disajikan pada Gambar 10.

0 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 Dia mete r bua h (c m)

Minggu Setelah Penyerbukan (MSP)

IPB 9 Selfing

IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4)

(32)

Mutu Fisik

Karakter mutu fisik buah pepaya yang dinilai pertama kali oleh konsumen ialah bentuk dan warna daging buah. Konsumen menghendaki bentuk buah yang mulus dan warna daging buah yang cerah dan merata. Bentuk dan warna daging buah pepaya IPB 9 hasil penyerbukan sendiri dan penyerbukan dengan beberapa sumber pollen disajikan pada Gambar 11 dan 12.

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 11. Bentuk Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

2.20 2.25 2.30 2.35 2.40 2.45 2.50 2.55 2.60 2.65 2.70 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00

IPB 9 Selfing IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4)

Cm

Panjang Diameter Rasio Panjang/Diameter

IPB 9

SELFING IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4)

Gambar 10. Diagram Panjang, Diameter, dan Rasio Panjang/Diameter Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

(33)

22

Karakter mutu fisik bobot buah utuh, bobot kulit, dan bagian dapat dimakan juga akan menentukan selera konsumen. Bobot buah utuh pepaya yang dikehendaki oleh konsumen sangat bervariasi, tergantung kepada kebutuhan. Bobot kulit dapat dilihat dari tebal/tipisnya kulit buah, yang akan menentukan porsi daging buah.

Berdasarkan hasil uji F (Lampiran 4), sumber pollen yang digunakan tidak menunjukkan adanya pengaruh yang nyata pada bobot buah utuh, bobot kulit, dan bobot daging yang digunakan untuk menentukan persentase bagian dapat dimakan. Buah pepaya hasil IPB 9 selfing dan hasil penyerbukannya mempunyai kisaran bobot buah utuh 945-1235 g, bobot kulit 64.96-88.85 g, dan bagian dapat dimakan 87.91-90.22%. Karakter bobot buah utuh, bobot kulit, dan bagian dapat dimakan buah pepaya IPB 9 hasil penyerbukan sendiri dan penyerbukan dengan beberapa sumber pollen disajikan pada Tabel 2.

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 12. Warna Daging Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

IPB 9

SELFING IPB (9 x 1)

(34)

Tabel 2. Bobot Buah Utuh (BBU), Bobot Kulit (BK), Bagian Dapat Dimakan (BDD) Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

Perlakuan BBU ± sd BK ± sd BDD (%) ……..…….………g……… IPB 9 selfing IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4) 1137 ± 58.09 1117 ± 260.97 1235 ± 400.48 945 ± 352.52 87.46 ± 15.85 69.26 ± 21.28 88.85 ± 20.55 64.96 ± 29.99 87.91 90.22 88.11 89.02

Keterangan: sd = standar deviasi

Karakter bobot biji, bobot 100 biji, dan jumlah biji digunakan untuk keperluan program pemuliaan tanaman. Bobot biji untuk mengetahui proporsi daging buah, sehingga dapat diketahui bagian yang dapat dimakan dari buah pepaya tersebut. Bobot 100 biji digunakan untuk mengetahui tingkat kebernasan dari biji. Hal inilah yang diperlukan dalam program pemuliaan tanaman, semakin tinggi bobot 100 biji maka semakin bernas biji tersebut.

Sumber pollen yang digunakan tidak menunjukkan adanya pengaruh pada bobot biji, bobot 100 biji, dan jumlah biji (Lampiran 5). Buah pepaya hasil IPB 9

selfing dan hasil penyerbukan dengan beberapa sumber pollen mempunyai kisaran bobot biji 38.80-58.01 g, bobot 100 biji 9.99-10.70 g, dan jumlah biji 441-611. Karakter bobot biji, bobot 100 biji, dan jumlah biji buah pepaya IPB 9 hasil penyerbukan sendiri dan penyerbukan dengan beberapa sumber pollen disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Bobot Biji (BB), Bobot Seratus Biji (BSB), Jumlah Biji (JB) Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

Perlakuan BB ± sd BSB ± sd JB ± sd ……..…….………g……… IPB 9 selfing IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4) 49.95 ± 5.72 39.95 ± 10.89 58.01 ± 11.30 38.80 ± 21.12 10.04 ± 1.21 10.70 ± 1.50 10.27 ± 0.79 9.99 ± 0.83 583.60 ± 110.62 439.80 ± 107.59 611.40 ± 117.91 441.20 ± 234.24

(35)

24 Karakter kekerasan kulit dan daging buah digunakan untuk mengetahui perubahan tingkat kelunakan yang terjadi pada kulit dan daging buah pepaya selama proses pematangan. Kekerasan kulit dan daging buah pepaya IPB 9 hasil

selfing dan hasil penyerbukannya mempunyai nilai yang hampir sama. Berdasarkan hasil uji F, tidak ada pengaruh yang nyata dari sumber pollen yang digunakan (Lampiran 6 dan 7).

Buah pepaya hasil IPB 9 selfing dan hasil penyerbukannya mempunyai kisaran kekerasan kulit 2.89-4.01 mm/150 g/5 detik dan kekerasan daging 5.13-6.98 mm/150 g/5 detik. Kekerasan kulit dan daging buah pepaya IPB 9 hasil penyerbukan sendiri dan penyerbukan dengan beberapa sumber pollen disajikan pada Gambar 13 dan 14.

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

IPB 9 Selfing IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4)

Ke ke ra sa n kuli t bua h (mm/ 150 g /5 detik)

Kekerasan Kulit Buah Ujung Kekerasan Kulit Buah Tengah Kekerasan Kulit Buah Pangkal

Gambar 13. Diagram Kekerasan Kulit Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

(36)

Pengukuran ketebalan daging buah dilakukan pada rongga buah. Bagian rongga yang menjorok ke dalam menunjukkan ketebalan daging maksimum, sedangkan bagian rongga yang menjorok ke arah kulit menunjukkan ketebalan daging minimum. Berdasarkan hasil uji F, tidak ada pengaruh yang nyata dari sumber pollen yang digunakan pada karakter ini (Lampiran 8).

Buah pepaya hasil IPB 9 selfing dan hasil penyerbukannya mempunyai kisaran ketebalan daging maksimum 3.07-3.40 cm dan ketebalan daging minimum 2.57-2.83 cm. Ketebalan daging buah pepaya IPB 9 hasil penyerbukan sendiri dan penyerbukan dengan beberapa sumber pollen disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Ketebalan Daging (KD) Maksimum (Maks), Minimum (Min), dan Rata-rata Ketebalan Daging Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

Perlakuan KDMaks ± sd KDMin ± sd Rata-rata

..……….………...cm……..………..…….. IPB 9 selfing IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4) 3.21 ± 0.17 3.12 ± 0.28 3.40 ± 0.10 3.07 ± 0.50 2.70 ± 0.29 2.73 ± 0.34 2.83 ± 0.28 2.57 ± 0.42 2.96 ± 0.23 2.93 ± 0.31 3.12 ± 0.19 2.82 ± 0.46

Keterangan: sd = standar deviasi 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

IPB 9 Selfing IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4)

Ke ke ra sa n da g ing bua h (mm/ 150 g /5 detik)

Kekerasan Daging Buah Ujung Kekerasan Daging Buah Tengah Kekerasan Daging Buah Pangkal

Gambar 14. Diagram Kekerasan Daging Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

(37)

26

Mutu Kimia

Mutu kimia buah pepaya yang diamati meliputi Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Total Tertitrasi (ATT), dan vitamin C. PTT menunjukkan tingkat kemanisan buah, ATT menunjukkan kandungan asam total pada buah, dan vitamin C menunjukkan kandungan asam askorbat pada buah.

Tidak terdapat pengaruh yang nyata dari sumber pollen yang digunakan pada mutu kimia (Lampiran 9). PTT berkisar 10.32-11.00oBrix, ATT 23.20-36.80 ml/100 g bahan, dan vitamin C 116.79-137.24 mg/100 g bahan. Mutu kimia buah pepaya IPB 9 hasil penyerbukan sendiri dan penyerbukan dengan beberapa sumber pollen disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Total Tertitrasi (ATT), dan Vitamin C Buah Pepaya IPB 9 Hasil Penyerbukan Sendiri dan Penyerbukan dengan Beberapa Sumber Pollen

Perlakuan PTT ± sd (oBrix) ATT ± sd (ml/100 g bahan) Vit C ± sd (mg/100 g bahan) IPB 9 selfing IPB (9 x 1) IPB (9 x 3) IPB (9 x 4) 10.56 ± 0.80 11.00 ± 0.75 10.77 ± 0.83 10.32 ± 1.51 23.20 ± 8.76 36.80 ± 15.44 24.88 ± 14.06 29.84 ± 10.62 135.94 ± 23.02 137.24 ± 15.71 119.12 ± 26.01 116.79 ± 17.82

Keterangan: sd = standar devias

Uji Organoleptik

Uji organoleptik dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen. Terdapat 30 responden yang berasal dari kalangan mahasiswa dari berbagai strata (S1, S2, dan S3) dan Fakultas yang berbeda, sehingga memiliki tingkat pengetahuan tentang pepaya mulai dari sama sekali tidak tahu hingga tahu. Uji organoleptik dilakukan empat tahap, disesuaikan dengan ketersediaan buah. Penilaian rasa, aroma, warna, dan tekstur buah dilakukan dengan menggunakan skor: 0-25 = tidak suka, 26-50 = kurang suka, 51-75 = suka, 76-100 = sangat suka. Hasil uji organoleptik disajikan pada Gambar 15.

(38)

Gambar 15. Diagram Uji Organoleptik

Pembahasan

Pengaruh Sumber Pollen terhadap Pertumbuhan Buah

Buah IPB 9 selfing dan hasil penyerbukan dengan beberapa sumber pollen

mempunyai bentuk, pola pertumbuhan, dan perkembangan yang hampir sama mulai umur 2 MSP hingga panen. Hasil uji F menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan dari seluruh buah yang diuji pada karakter fisik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh dari sumber pollen yang digunakan.

Berdasarkan hasil uji F tersebut, karakter fisik buah hasil penyerbukan cenderung ke karakter buah pepaya genotipe IPB 9. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karakter fisik buah hasil penyerbukan pada penelitian ini ditentukan oleh induk betina, yaitu pepaya genotipe IPB 9. Sumber pollen yang digunakan hanya memberikan pengaruh pada umur panen buah, yaitu buah pepaya IPB (9 x 3) mempunyai masa panen lebih cepat yaitu berkisar 16-18 MSP. Buah pepaya IPB 9 selfing, IPB (9 x 1), dan IPB (9 x 4) mempunyai masa panen rata-rata 20 MSP (Gambar 8 dan 9).

Pertumbuhan dan perkembangan buah dimulai setelah bunga mengalami fertilisasi, dimana buah muda akan terbentuk kemudian diikuti pembelahan dan

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Rasa Buah Aroma Buah Warna Buah Tekstur Buah

S

kor

(39)

28 perkembangan sel. Menurut Ryall dan Pentzer (1982) setelah periode pembelahan sel, perkembangan utama pada buah ialah pembesaran ukuran sel yang akan membentuk daging buah dimana ruang interseluler akan terbentuk sehingga sel-sel tersebut akan memperbesar ukuran buah dan penampakan buah akan memanjang.

Buah pepaya mengalami laju pertumbuhan panjang dan diameter setiap minggu hingga siap panen. Pertumbuhan panjang buah pepaya disajikan pada Gambar 8. Pada gambar terlihat bahwa terdapat dua perlakuan yang mempunyai grafik pertumbuhan yang lebih lama, yaitu pada perlakuan IPB 9 selfing dan IPB (9 x 4) karena kedua perlakuan tersebut mempunyai masa panen yang lebih lama.

Pertumbuhan diameter buah pepaya mempunyai pola yang sama dengan pertumbuhan panjang buah (Gambar 9). Pada pola pertumbuhan kedua karakter ini, terlihat bahwa terdapat hubungan yang positif antara panjang dan diameter buah dengan umur buah. Hal tersebut menunjukkan bahwa buah dapat terbentuk secara maksimal. Tidak terdapat incompatibility antara putik dengan sumber

pollen yang digunakan, dari 111 penyerbukan yang dilakukan terbentuk 44 buah (Tabel 1).

Pada karakter rasio panjang/diameter buah, seluruh perlakuan mempunyai nilai lebih dari 2.3 dan mempunyai bentuk yang lonjong. Hal tersebut sesuai dengan Rafikasari (2006) bahwa rasio panjang/diameter buah 12-1.5 maka buah cenderung mempunyai bentuk bulat, apabila rasio panjang/diameter buah 2.3-2.6 maka buah cenderung mempunyai bentuk lonjong.

Pengaruh Sumber Pollen terhadap Kualitas Buah

Bentuk buah pepaya hasil penyerbukan cenderung lonjong karena berasal dari bunga hermaprodit. Samson (1980) menyatakan bahwa buah pepaya yang berasal dari bunga hermaprodit mempunyai bentuk silindris atau bulat lonjong dan buah yang berasal dari bunga betina mempunyai bentuk buah yang lebih bulat. Beberapa buah mempunyai perbedaan pada bagian permukaan kulit.

Secara tidak langsung terdapat hubungan antara sumber pollen yang digunakan dengan bentuk dan bobot buah, walaupun tidak menunjukkan pengaruh

(40)

yang nyata. Buah dari setiap perlakuan yang terbentuk mempunyai perbedaan pada bentuk permukaan buah, dimana terdapat buah dengan permukaan yang rata dan agak bergelombang (Gambar 11). Bentuk permukaan buah yang berbeda seperti ini secara tidak langsung akan mempengaruhi bobot buah, karena terdapat perbedaan pada porsi kulit dan daging buah yang terbentuk pada buah tersebut.

Bentuk permukaan buah juga disebabkan oleh adanya perbedaan kondisi putik dan sumber pollen pada saat penyerbukan dilakukan. Bentuk permukaan buah yang rata akan terbentuk apabila putik dan sumber pollen berada pada kondisi yang sama, yaitu keduanya siap untuk melakukan penyerbukan dan tidak terdapat incompatibility sehingga dapat terjadi fertilisasi secara sempurna dan akan terbentuk zigot yang sempurna. Apabila putik dan sumber pollen berada pada kondisi yang berbeda, maka fertilisasi tidak akan terjadi secara sempurna sehingga zigot yang akan terbentuk juga tidak sempurna bahkan fertilisasi akan gagal.

Faktor lingkungan juga turut mempengaruhi bentuk buah, seperti suhu pada saat dilakukan penyerbukan dan selama proses pertumbuhan buah. Buah pepaya mempunyai kebutuhan suhu 22-26oC untuk dapat tumbuh dengan optimal Pada saat pelaksanaan percobaan di lapang, suhu berkisar 23-31oC. Suhu aktual di lapang berada di atas kebutuhan suhu untuk pepaya sehingga pertumbuhan tidak optimal.

Adanya perbedaan bentuk permukaan buah hasil penyerbukan bisa dipengaruhi pula oleh jenis bunga yang dipakai untuk persilangan. Pada percobaan lapang, digunakan bunga hermaprodit sebagai tetua betina sehingga perlu dilakukan proses emaskulasi sebelum penyerbukan. Proses emaskulasi yang dilakukan dapat mempengaruhi terjadinya proses fertilisasi karena akan terjadinya pelukaan pada bakal buah, sehingga akan mengganggu proses pertumbuhan bentuk buah. Apabila pada proses penyerbukan digunakan bunga dari tanaman betina sebagai tetua betina, maka proses akan lebih mudah. Hal ini disebabkan bentuk bunga betina cenderung lebih seragam sehingga buah yang terbentuk akan lebih seragam, tidak diperlukan proses emaskulasi, dan lebih aplikatif karena proses penyerbukan bisa dilakukan secara masal dengan penyemprotan pollen

(41)

30 Warna daging buah akan mempengaruhi selera konsumen, dimana konsumen akan lebih manyukai dan memilih buah pepaya dengan warna yang cerah. Muchtadi dan Sugiyono (1989) menyatakan bahwa warna dapat digunakan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi permintaan konsumen. Karena kebanyakan konsumen menganggap bahwa semakin cerah warna daging buah maka akan semakin manis buah tersebut. Walaupun sebenarnya tidak selalu benar anggapan tersebut.

Warna daging buah IPB 9 selfing dan hasil penyerbukan dengan beberapa sumber pollen disajikan pada Gambar 12. Daging buah IPB 9 selfing mempunyai warna oranye kemerahan, cerah, dan warnanya merata. Daging buah IPB (9 x 1), IPB (9 x 3), dan IPB (9 x 4) mempunyai warna oranye yang tidak merata. Perbedaan warna daging buah tersebut merupakan efek dari sumber pollen yang digunakan, dimana daging buah hasil selfing mempunyai warna merata. Buah hasil penyerbukan mempunyai warna yang tidak merata, seperti tercemar dan tidak menarik.

Warna daging yang tidak merata pada buah IPB 9 hasil penyerbukan dengan sumber pollen lain merupakan pengaruh dari warna buah sumber

pollen-nya. Setiap buah mempunyai karakteristik warna daging buah yang berbeda sehingga menghasilkan warna yang beragam pada buah hasil penyerbukan. Warna daging buah dari buah yang digunakan sebagai sumber pollen disajikan pada Lampiran 11. Terlihat perbedaan warna dari setiap genotipe buah.

Warna daging buah dapat digolongkan dengan menggunakan Color Chart

(Lampiran 12). Berdasarkan Color Chart tersebut, warna daging buah pepaya hasil selfing mempunyai warna CC3333 Page-4; IPB (9 x 1) mempunyai warna CC6633 Page-4; IPB (9 x 3) mempunyai warna FF6633 Page-2; dan IPB (9 x 4) mempunyai warna FF6600 Page-2.

Buah IPB 9 selfing dan hasil penyerbukan dengan beberapa sumber pollen mempunyai bobot yang tidak menunjukkan perbedaan, berkisar 0.9-1.2 kg. Menurut Samson (1980) buah pepaya mempunyai bentuk yang besar dan bobot rata-rata berkisar 0.5-2.0 kg. Berdasarkan hasil uji F tidak menunjukkan pengaruh yang nyata dari sumber pollen yang digunakan pada bobot buah. Namun pada nilai standar deviasi terdapat perbedaan yang cukup jauh dari setiap perlakuan

(42)

(Tabel 2). Secara tidak langsung nilai tersebut akan mempengaruhi bobot buah utuh secara keseluruhan, sehingga akan terjadi perbedaan bobot dari setiap buah dari perlakuan yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya efek metaxenia pada bobot buah meskipun tidak nyata, hanya pada nilai standar deviasinya.

Menurut Samson (1980) di dalam bagian rongga dalam buah pepaya akan diselimuti oleh lebih dari ribuan biji yang kecil, tetapi ada juga buah pepaya tanpa biji. Perkembangan biji di dalam buah merupakan salah satu tahapan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan buah. Ryall dan Pentzer (1982) menambahkan bahwa hal ini merupakan tahapan kedua, dimana apabila terjadi penurunan perkembangan dari daging buah maka biji akan mulai berkembang dengan cepat.

Pengamatan terhadap biji pepaya dilakukan pada kondisi biji basah sebelum diproses menjadi benih. Seluruh biji pada buah pepaya ditimbang, kemudian menimbang seratus biji dari tiap buah untuk mengetahui kebernasan dari biji tersebut. Hal ini berhubungan dengan pemuliaan tanaman pepaya, yakni untuk mengetahui biji yang bernas sehingga bagus untuk dijadikan benih. Sama halnya dengan bobot buah, terdapat perbedaan yang cukup jauh pada nilai standar deviasi bobot biji (Tabel 3).

Pengamatan mutu fisik dilakukan bersamaan dengan pengamatan ukuran buah, yakni setelah buah dipanen. Pengukuran kekerasan kulit buah dilakukan pada tiga titik, yaitu bagian ujung, tengah, dan pangkal buah (Gambar 13). Nilai kekerasan kulit buah relatif lebih besar pada bagian tengah buah berkisar 3-4 mm/150 g/5 detik dan nilai relatif lebih kecil pada bagian ujung buah berkisar 2-3 mm/150 g/5 detik. Secara umum pada pengukuran kekerasan kulit buah, semakin besar nilai pengukuran yang ditunjukkan oleh jarum penetrometer maka kulit buah akan semakin lunak.

Pengukuran kekerasan daging buah menggunakan metode yang sama dengan pengukuran kekerasan kulit buah. Yang membedakan terletak pada titik pengukuran dengan penetrometer, yaitu pada bagian buah yang sudah dikupas. Secara umum nilai kekerasan daging buah relatif lebih besar pada bagian tengah berkisar 5-7 mm/150 g/5 detik dan relatif lebih kecil pada bagian ujung berkisar 4-6 mm/150 g/5 detik (Gambar 14).

(43)

32 Selaras dengan kekerasan kulit buah, semakin besar nilai kekerasan daging maka daging buah akan semakin lunak. Menurut Ryall dan Pentzer (1982) pada proses pematangan buah akan terjadi perubahan unsur pektik yang menyebabkan daging buah lunak pada buah berdaging. Paull et al. (1999) menambahkan bahwa komposisi molekul pektin menurun dan kelarutan pektin di dalam larutan

cyclohexanediaminotetraacetic acid dan Na2CO3 meningkat selama proses

pematangan. Selama proses penurunan kekuatan dinding sel, kelarutan hemiselulosa juga akan meningkat di dalam larutan KOH.

Nilai kekerasan kulit dan daging buah secara tidak langsung dipengaruhi oleh perbedaan dari bentuk permukaan buah. Pada permukaan buah yang berbeda, maka akan terdapat ketebalan kulit dan daging buah yang berbeda pula. Dengan demikian pada saat dilakukan pengukuran, tusukan jarum penetrometer akan menunjukkan kedalaman yang berbeda. Hal ini dapat dikatakan sebegai efek sekunder dari metaxenia pada buah pepaya IPB 9 selfing dan hasil penyerbukan dengan beberapa sumber pollen.

Nilai ketebalan daging buah akan mempengaruhi selera konsumen. Semakin tebal daging buah maka konsumen akan lebih menyukai dan memilih buah pepaya tersebut, karena akan semakin banyak bagian dari buah yang dapat dikonsumsi. Selain itu, kulit yang tipis menjadi pertimbangan lain bagi konsumen.

Pengukuran ketebalan daging buah dibedakan menjadi dua, yaitu ketebalan daging maksimum dan minimum (Tabel 4). Secara umum nilai ketebalan daging maksimum dan minimum relatif lebih besar besar terdapat pada buah pepaya IPB (9 x 3), sedangkan nilai relatif lebih kecil pada buah pepaya IPB (9 x 4).

Selama masa pertumbuhan dan pematangan buah, terdapat banyak faktor kimia dan fisik lingkungan yang berubah dan mempengaruhi kualitas buah pada saat panen. Menurut Ryall dan Pentzer (1982) tahapan penting selama akhir pematangan buah ditandai dengan peningkatan kandungan gula, penurunan kandungan asam, kehilangan pigmen klorofil pada kulit dan daging buah, dan peningkatan kandungan asam askorbat (vitamin C) yang diikuti penurunan dengan semakin matangnya buah.

(44)

Hasil pengamatan mutu kimia menunjukkan bahwa nilai PTT berkisar 10.32-11.00oBrix, ATT 23.20-36.80 ml/100 g bahan, dan vitamin C 116.79-137.24 mg/100 g bahan (Tabel 5). Menurut Sujiprihati dan Suketi (2009) rasa daging buah pepaya genotipe IPB 9 manis dengan PTT sebesar 10.67±0.58oBrix. Kandungan vitamin C 78.6 mg/100 g (PKBT, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa buah telah mempunyai tingkat kemanisan dan kadar vitamin C yang cukup untuk selera konsumen. Menurut Muchtadi dan Sugiyono (1989) perbedaan kadar vitamin C kemungkinan disebabkan oleh genotipe yang berbeda, faktor budidaya, kondisi iklim sebelum panen, cara pemanenan ataupun perbedaan umur petik.

Padatan Terlarut Total menunjukkan besarnya kandungan gula dalam buah, sedangkan Asam Total Tertitrasi menunjukkan jumlah keseluruhan dari asam yang terkandung dalam buah. Kedua parameter ini sangat berhubungan erat. Menurut Sugiarto et al. (1991) yang paling penting dalam menentukan selera konsumen adalah rasio gula/asam atau keseimbangan antara rasa manis dan asam, jika semakin tinggi nilai rasio PTT/ATT maka buah menunjukkan rasa semakin manis. Selanjutnya Purwati et al. (1991) menyatakan bahwa rasio PTT/ATT menunjukkan peningkatan dengan semakin tuanya umur buah. Nilai rasio PTT/ATT pada penelitian ini berkisar 0.21-0.97.

Penerimaan masyarakat terhadap buah pepaya IPB 9 selfing dan hasil penyerbukan dengan beberapa sumber pollen dapat diketahui dengan melakukan uji organoleptik. Uji organoleptik dilakukan empat tahap, dengan 30 responden dari berbagai strata (S1, S2, dan S3) dan Fakultas yang beragam. Pada uji organoleptik ini tidak dilakukan pada responden rumah tangga karena ketersediaan buah yang terbatas.

Buah pepaya IPB 9 selfing mempunyai skor yang relatif lebih tinggi untuk semua variabel uji (Gambar 15). Hal ini menunjukkan bahwa buah pepaya IPB 9

selfing merupakan buah yang relatif lebih disukai oleh responden. Sebaliknya, buah pepaya IPB (9 x 1) mempunyai skor paling rendah pada semua variabel uji yang menunjukkan bahwa buah pepaya ini tidak disukai responden. Berdasarkan uji organoleptik yang dilakukan, responden menghendaki buah pepaya dengan rasa manis, aroma yang tidak mencolok, warna buah yang cerah (oranye kemerahan), dan tekstur buah yang tidak terlalu lembek.

(45)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil penelitian tidak menunjukkan efek metaxenia pada seluruh variabel pengamatan buah pepaya. Dengan demikian tidak terdapat adanya pengaruh dari genotipe sumber pollen yang berbeda terhadap kualitas fisik dan kimia buah pepaya IPB 9.

Saran

Berdasarkan hasil percobaan kajian metaxenia ini, genotipesumber pollen

tidak mempengaruhi mutu fisik dan kimia pepaya IPB 9. Untuk lebih mengetahui pengaruh sumber pollen terhadap kualitas buah perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan bunga dari tanaman betina dengan sumber polen dari tanaman hermaprodit dan tanaman jantan.

(46)

Ashari, S. 1995. Hortikultura: Aspek Budi Daya. UI-Press. Jakarta. 485 hal. Bodor, P., M. Gaal, and M. Toth. 2008. Metaxenia in apples cv. Rewena, Relinda,

Baujade as influenced by scab resistant pollinizers. International Journal of Horticultural Science 14(3):11-14.

Burkill I.H. 1966. A Dictionary of the Economic Products of the Malay Peninsula (2nd Edn), Malay Ministry of Agriculture and Co-operatives, Kuala Lumpur.

De Jong, T.J. and R.J. Scott. 2007. Parental conflict does not necessarily lead to the evolution of imprinting. Plant Science. 12(10):439-443.

Denney, J.O. 1992. Xenia includes metaxenia. HortScience 27:722–728.

Ehlenfeldt, M.K. 2003. Investigations of metaxenia in northern highbush blueberry (Vaccinium corymbosum L.) cultivars. Journal of the American Pomological Society. 57(1).

FAO. 2008. FAOSTAT. http://faostat.fao.org/site/339/default.aspx. [4 Juni 2010]. Gomez, K.A. dan A.A. Gomez. 1995. Prosedur Statiktik Untuk Penelitian

Pertanian Edisi Kedua. Terjemahan dari: Statistical Procedures for Agricultural Research. Penerjemah: E. Sjamsudin dan J.S. Baharsjah. UI-Press. Jakarta. 698hal.

Kumar L.S.S. and V.K. Srinivasan (1944) Chromosome number of Carica dodecaphylla Vell. Fl. Flum. Current Science 13(15).

Muchtadi, T.R. dan Sugiyono. 1989. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. IPB. 412hal.

Nakasone, H.Y. and R.E. Paull. 1998. Tropical Fruits. Biddless Ltd, Guilford and King’s Lynn. London. 634 p.

Nebel, B.R. and Iris. J.T. 1932. Xenia and Metaxenia in Apples II Vol. 18: 356-359. Geneva. New York

Paull. R.E., Ken G., and Yunxia Q. 1999. Changes in papaya cell walls during fruit ripening. Postharvest Biology and Technology (19):79-89.

Persley, D.M. and R.C. Ploetz. 2003. Diseases of Papaya, p. 373-412.

In R.C. Ploetz (Ed.). Diseases of Tropical Fruit Crops. CABI Publishing. Cambridge.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :