*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ** Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWI DI SMP NEGERI 2 MANADO

Meilina A. Madjid*, Nita R. Momongan**, Nancy S. H. Malonda* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ** Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Manado

ABSTRAK

Anemia adalah suatu keadaan kadar hemoglobin di dalam darah kurang dari nilai normal. Anemia pada remaja dapat menyebabkan dampak keterlambatan pertumbuhan fisik, gangguan perilaku serta emosional. Anemia juga dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan sel otak sehingga dapat menimbulkan dampak daya tahan tubuh menurun, mudah lemas dan lapar, konsentrasi belajar terganggu, serta prestasi belajar menurun.. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan kadar hemoglobin dengan prestasi belajar siswi di SMP Negeri 2 Manado.

Jenis penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional study. Populasi adalah semua (318) siswi kelas VIII dan IX. Besar sampel 178 siswi diambil secara proportionate stratifield random sampling, dengan kriteria tidak sedang menstruasi dan tidak sedang sakit. Pengumpulan data melalui pengisian kuesioner karakteristik responden, pemeriksaan kadar hemoglobin dan nilai hasil ujian tengah semester. Analisis data dilakukan dua tahap yaitu analisis univariat dan bivariat. Untuk melihat hubungan antara kadar hemoglobin dengan prestasi belajar menggunakan uji Fisher Exact.

Hasil penelitian menunjukkan responden dengan kadar hemoglobin rendah 7,9% dan kadar hemoglobin normal 92,1%. Responden yang memiliki prestasi belajar baik 94,4% dan prestasi belajar kurang 5,6%. Hasil analisis diperoleh nilai p=0,025 yakni lebih kecil dibandingkan a=0,05 maka terdapat hubungan antara kadar hemoglobin dengan prestasi belajar pada siswi. Saran dari penelitian ini, bagi siswi yang memiliki kadar hemoglobin rendah pemilihan makanan sebaiknya yang mengandung zat besi dalam jumlah cukup dan bagi pihak sekolah dapat memantau kondisi gizi para peserta didik melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Kata Kunci: kadar hemoglobin (Hb), prestasi belajar

ABSTRACT

Anemia is a condition hemoglobin level in the blood is less than normal value. Anemia in adolescents can cause growth retardation effects of physical, behavioral and emotional disorders. Anemia can affect the growth and development of brain cells that can lead to decreased immune system effects, easy fatigue and hunger, learning impaired concentration, and decreasedlearning achievement. This research is done to analyze the relationship between hemoglobin levels and learning achievement SMP Negeri 2 Manado.

Type of analytic observational study with cross sectional study design. Population is all (318) student class VIII and IX. A large sample of 178 students taken proportionate stratified random sampling, the criterion is not menstruating and not being sick. Collecting data through questionnaires respondent characteristics, examination hemoglobin levels and the results of midterm. Data analysis was done two stages, univariate and bivariate analysis. To examine the relationship between hemoglobin levels and learning achievement using the fisher exact test.

Research result shows respondents with low hemoglobin levels of 7,9% and a normal hemoglobin levels of 92,1%. Respondents who have a good learning achievement of 94,4% and 5,6% less learning achievement. The results of the analysis obtained by value p=0,025 which is smaller than a=0,05 then there is the relationship between hemoglobin levels with learning achievement in students. Advice from this research, for the girls who had higher levels of hemoglobin in the selection of food should that contain iron in sufficient quantities and for the school can monitor the nutrition of the learners through the course of business school infirmary.

(2)

PENDAHULUAN

Berdasarkan data internasional, mutu pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120 negeri di semua dunia dalam laporan tahunan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dalam Education For All Global Monitoring Report 2012. Sedangkan berdasarkan Indeks Perkembangan Pendidikan (Education Development Index, EDI), Indonesia berada kepada peringkat ke-69 dari 127 negeri terhadap 2011 (Potret Dunia Pendidikan di Indonesia, 2015). Pendidikan merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan daya saing bangsa (BAPPENAS, 2011). Daya saing pelajar bisa dilihat dari kegiatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang menjadi agenda rutin yang penting bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. OSN yang telah menjadi olimpiade yang meningkatkan pengetahuan sains di tingkat pelajar. Perkembangan prestasi siswa SMP Provinsi Sulawesi Utara, khususnya kota Manado ditunjukkan dengan perolehan medali perunggu pada OSN tahun 2010 dan medali perak pada OSN tahun 2011 yang diadakan di Kota Manado. Tetapi pada OSN tahun 2015 untuk tingkat SMP, Provinsi Sulawesi Utara tidak memperoleh medali. Sehingga dapat diasumsikan semangat para pelajar dalam meraih prestasi di OSN menurun.

Anemia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi pada remaja putri 13-18 tahun dan wanita usia subur 15-49 tahun masing-masing sebesar 22,7% (Depkes, 2013). Prevalensi anemia untuk Provinsi Sulawesi Utara adalah 8,7% pada perempuan dan 2,5 % pada anak (Depkes, 2007). Anemia gizi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi ≥ 20% pada kelompok usia <12 tahun baik pada anak laki-laki maupun perempuan, remaja putri, wanita usia subur, serta ibu hamil (Depkes, 2013).

Anemia pada remaja dapat menyebab dampak keterlambatan pertumbuhan fisik, gangguan perilaku serta emosional. Hal ini dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan sel otak sehingga dapat menimbulkan dampak daya tahan tubuh menurun, mudah lemas dan lapar, konsentrasi belajar terganggu, prestasi belajar menurun serta dapat mengakibatkan produktifitas kerja yang rendah (Almatsier, dkk, 2011).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional study.

Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu bulan September – Desember 2015 di SMP Negeri 2 Manado yang terletak di Jalan Manguni No. 10 Kelurahan Perkamil Kecamatan Tikala Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara.

Sampel penelitian yang dipergunakan adalah sebagian siswi SMP Negeri 2 Manado kelas VIII dan kelas IX, masing-masing terbagi dalam 10 kelas.

Sebelum penentuan besar sampel dilakukan maka peneliti menerapkan sejumlah kriteria antara lain:

1. Kriteria inklusi

a. Siswi yang bersedia menjadi responden

2. Kriteria eksklusi

a. Siswi yang tidak hadir pada saat penelitian

b. Siswi yang sedang menstruasi c. Siswi yang sedang sakit

Penentuan besar sampel pada penelitian ini menggunakan Rumus Slovin: 𝒏 = 𝑵 𝑵(𝒅)𝟐+ 𝟏 Keterangan: n : sampel; N : populasi; d : nilai presisi

(3)

Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan proportionate stratified random sampling sampel diambil proporsional menurut besarnya unit yang ada di dalam masing kelas. Di dalam masing-masing kelas unit sampel diambil secara acak. Rumus n = (Populasi Kelas / Jumlah Populasi Keseluruhan ) x Jumlah Sampel. Setelah didapatkan jumlah sampel dalam tiap kelas, maka pengambilan sampel dengan menggunakan Simple Random Sampling.

Dalam penelitian ini instrument yang dipakai adalah: Kuesioner Identitas Responden, Alat Ukur Kadar Hemoglobin (Quick Test Hemoglobin) dan Daftar nilai siswa.

Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu: data primer (data yang didapat melalui pengukuran kadar hemoglobin darah), dan data sekunder (data jumlah siswi, data nilai hasil belajar siswa dan profil SMP Negeri 2 Manado).

Pengolahan data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: Editing, Coding, memasukan data (data entry), dan Cleaning. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dua tahap yaitu analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji statistik Chi-Square Test (X2) dengan taraf signifikan 95% (α = 0,05).

Jika tidak memenuhi uji syarat Chi-Square Test maka digunakan uji alternatifnya yaitu Fisher Exact Test.

Etika dalam penelitian ini sebagai berikut: Informed Consent, Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi. Jika subjek menolak, peneliti tetap menghormati hak-hak mereka.

HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Kadar Hemoglobin

Kadar Hemoglobin n %

Normal 164 92,1

Rendah 14 7,9

Total 178 100

Tabel 1 menunjukan responden dengan kadar hemoglobin normal sebanyak 164 responden (92,1%) dan responden dengan kadar hemoglobin rendah sebanyak 14 responden (7,9%).

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Hasil Prestasi Belajar

Prestasi Belajar n %

Baik 169 94,9

Kurang 9 5,1

Total 178 100

Tabel 2 menunjukan sebanyak 169 responden (94,9%) dengan prestasi belajar baik dan sebanyak 10 responden (5,1%) dengan prestasi belajar kurang.

Tabel 3. Hubungan antara Kadar Hemoglobin (Hb) dengan Prestasi Belajar

Kadar Hemoglo bin (Hb) Prestasi Belajar Total p* Kurang Baik n % n % n % Rendah 11 6,2 3 1, 7 14 7,9 0,0 25 Normal 15 8 88, 8 6 3, 4 16 4 92, 1 Total 16 9 94, 9 9 5, 1 17 8 10 0 *Fisher Exact Test

Berdasarkan pada Tabel 3, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 14 responden (7,9%) dengan kadar hemoglobin rendah terdapat 11 responden (6,2%) memiliki prestasi belajar baik dan 3 responden (1,7%) memiliki prestasi belajar kurang. Sedangkan sebanyak 164 responden (92,1%) dengan kadar hemoglobin normal terdapat 158 responden (88,8%) memiliki prestasi belajar baik dan 6 responden (3,4%) memiliki prestasi belajarnya kurang. Berdasarkan hasil uji hubungan dengan menggunakan Fisher Exact Test menunjukkan nilai p = 0,025. Berdasarkan data tersebut

(4)

diketahui nilai pvalue < 0,05, maka hipotesisHo

ditolak dan hipotesis Ha diterima yang berarti ada

hubungan antara kadar hemoglobin dengan prestasi belajar.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari pemeriksaan kadar hemoglobin dalam darah pada responden didapatkan bahwa 92,1% memiliki kadar hemoglobin normal. Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia (Supariasa, dkk, 2012). Jumlah hemoglobin dalam darah normal ialah kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah, dalam berbagai bentuk anemia, jumlah hemoglobin dalam darah berkurang (Pearce, 2011). World Health Organization (WHO) merekomendasikan nilai cut off point untuk menentukan anemia pada kelompok usia 12-15 tahun adalah 12 g/dl (Gibney, 2008). Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dalam darah kurang dari normal. Kadar hemoglobin normal dipengaruhi oleh konsumsi zat besi dalam tubuh. Hemoglobin merupakan protein yang kaya akan zat besi (Pearce, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari pemeriksaan kadar hemoglobin dalam darah pada responden didapatkan bahwa sebanyak 7,9% memiliki kadar hemoglobin kurang. Anemia ditandai dengan rendahnya konsentrasi hemoglobin atau hematokrit nilai ambang batas yang disebabkan oleh rendahnya produksi sel darah merah dan Hb, meningkatnya kerusakan eritrosit, atau kehilangan darah yang berlebih (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2012). Gangguan defisiensi besi sering terjadi karena susunan makanan yang salah baik jumlah maupun kualitasnya yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan, distribusi makanan yang kurang baik, kebiasaan makan yang salah, kemiskinan dan ketidaktahuan (Masrizal, 2007). Penelitian yang dilakukan oleh

Tandirerung dkk (2013) pada murid SD Negeri 3 Manado menunjukkan bahwa kadar hemoglobin juga dipengaruhi oleh kebiasaan makan pagi. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit (cacing). Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurjanah (2003) bahwa kejadian anemia dipengaruhi oleh cacing tambang.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden memiliki prestasi belajar baik (94,9%). Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang baik yaitu mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah (Slameto, 2010). Hal ini sesuai dengan keadaan yang mendukung proses belajar yang baik pada siswi SMP Negeri 2 Manado, yaitu tidak ada kondisi siswi yang sakit, sehingga siswi dapat mengikuti proses belajar mengajar secara maksimal. Dalam penelitian ini, hasil pengamatan peneliti bahwa fasilitas sekolah sudah dapat disebut baik. Fasilitas seperti kelengkapan belajar dimana tiap kelas terdapat beberapa alat peraga sebagai penunjang proses belajar mengajar. Guru dengan gelar sarjana pendidikan juga menunjang penerapan proses mengajar sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebagian kecil responden memiliki prestasi belajar kurang (5,1%). Prestasi belajar adalah usaha yang dilakukan siswa untuk dapat memperoleh suatu perubahan tingkah laku, nilai, dan sikap (Slameto, 2010). Prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan (Syah,

(5)

2010). Ahmadi berpendapat, bahwa remaja yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah lelah, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, pikiran terganggu, karena hal-hal ini maka penerimaan dan respon pelajaran berkurang, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal memproses, mengolah, menginterpretasikan dan mengorganisasi bahan pelajaran melalui indranya. Perintah dari otak yang langsung kepada saraf motorik yang berupa ucapan, tulisan hasil pemikiran atau lukisan menjadi lemah juga, maka seorang guru atau petugas diagnostik harus meneliti kadar gizi makanan dari anak (Ahmadi & Supriyono, 2010).

Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara kadar hemoglobin dengan prestasi belajar siswi. Hal ini sesuai dengan teori-teori yang didapat yang menunjukan bukti bahwa defisiensi besi berpengaruh luas terhadap kemampuan belajar dan produktivitas kerja (Almatsier, 2009). Anemia juga mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan sel otak sehingga dapat menimbulkan dampak daya tahan tubuh menurun, mudah lemas dan lapar, konsentrasi belajar terganggu, prestasi belajar menurun serta dapat mengakibatkan produktifitas kerja yang rendah (Sayogo, 2006). Hal ini juga sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa status hemoglobin dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Apabila siswa mengalami anemia maka konsentrasi belajar akan berkurang. Penurunan konsentrasi belajar ini disebabkan karena penderita anemia biasanya mengalami keadaan lemah, letih, lesu, mudah mengantuk, nafsu makan berkurang, bibir tampak pucat, susah buang air besar, denyut jantung meningkat, kadang-kadang pusing, sehingga pada akhirnya tidak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran dan pada akhirnya prestasi belajar berkurang (Supariasa, 2012). Hasil penelitian selaras dengan penelitian sebelumnya, ada hubungan positif antara IMT dan kadar hemoglobin

terhadap nilai rata-rata tengah semester pada siswa di SMP Negeri 22 Bandar Lampung (Anggraeni dkk, 2013), ada hubungan antara kadar Hb dengan prestasi belajar siswa SMP Negeri 2 Mangetan yang ditunjukkan dengan tingkat hubungan rendah (Saadah, 2008). Anemia berpengaruh terhadap perkembangan otak, kemampuan berpikir, kognitif terganggu, konsentrasi dan gairah beraktifitas menurun, sehingga prestasi belajar juga menurun (Rachmawati, 2007).

Berdasarkan hasil penelitian 88,8% responden yang memiliki kadar hemoglobin normal memiliki prestasi belajar yang baik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinaga (2005) yang menunjukkan bahwa kadar hemoglobin mempengaruhi prestasi belajar. Selain kadar hemoglobin, prestasi belajar juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan nonsosial, sarana dan prasana yang cukup serta tenaga pengajar yang kompeten dapat menunjang keberhasilan proses belajar itu sendiri (Syah, 2010).

Berdasarkan hasil penelitian 3,4% responden yang memiliki kadar hemoglobin normal memiliki prestasi belajar yang kurang. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tidak hanya ditentukan dari kadar hemoglobin. Faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar adalah tingkat kecerdasan, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, dan motivasi siswa. Tingkat kecerdasan menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Hal ini bermakna, semakin tinggi kemampuan inteligensi seorang siswa makan semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya semakin rendah kemampuan inteligensi seorang siswa, maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses (Islamuddin, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian 6,2% responden yang memiliki kadar hemoglobin rendah memiliki prestasi belajar baik. Defisiensi zat besi berperan besar dalam kejadian anemia, namun defisiensi zat gizi lainnya, kondisi

(6)

nongizi, dan kelainan genetik juga memainkan peran terhadap anemia. Defisiensi zat besi terjadi saat jumlah zat besi yang diabsorbsi tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Hal ini disebabkan oleh karena rendahnya intake zat besi, peningkatan kebutuhan zat besi karena perubahan fisiologis dan proses pertumbuhan (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2012). Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori-teori yang menunjukkan bahwa defisiensi besi berpengaruh terhadap kemampuan belajar (Almatsier, 2009). Dikatakan bahwa pada kondisi anemia daya konsentrasi daya konsentrasi belajar tampak menurun (Sediaoetama, 2010). Hal ini sesuai dengan penelitian Faizah (2013) yang dilakukan pada remaja asrama putri di Surakarta menunjukkan tidak ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan prestasi belajar.

Berdasarkan hasil penelitian 1,7 % responden dengan kadar hemoglobin rendah memiliki prestasi belajar yang rendah. Kadar hemoglobin darah yang kurang atau anemia dapat menyebabkan konsentrasi menurun. Pada anak sekolah menunjukkan adanya korelasi erat antara kadar hemoglobin dan kesanggupan anak untuk belajar. Apabila kadar hemoglobin darah kurang atau seseorang siswa mengalami anemia, maka hal ini akan mempengaruhi hasil belajar atau prestasi belajar anak tersebut (Maarial dkk, 2011). Anak-anak yang menderita anemia ditemukan memiliki fungsi kognitif dan perkembangan motorik yang lebih buruk dibandingkan dengan anak-anak yang tidak anemia (Gibney dkk, 2008). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktaviana (2012) pada siswa SD di Desa Mudal yang menunjukkan ada hubungan antara kejadian anemia gizi besi dengan prestasi belajar siswa. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin pada siswi SMP Negeri 2 Manado yang

memiliki kadar hemoglobin normal sebanyak 164 orang (92,1%) dan yang memiliki kadar hemoglobin rendah sebanyak 14 orang (7,9%).

2. Hasil dari prestasi belajar pada siswi SMP Negeri 2 Manado dengan kategori baik sebanyak 168 orang (94,9%) dan pada kategori kurang sebanyak 10 orang (5,1%). 3. Terdapat hubungan antara kadar hemoglobin dengan prestasi belajar pada siswi SMP Negeri 2 Manado

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dan kesimpulan dari hasil penelitian dan analisis data, maka penulis menajukan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi siswi yang memiliki kadar hemoglobin rendah pemilihan makanan sebaiknya yang mengandung zat besi dalam jumlah cukup. Berikut makanan yang mengandung zat besi dari hewani (Zat Besi Heme) seperti hati sapi, bebek, daging sapi, dan telur. Sayuran (Zat Besi Non Heme) seperti bayam, tomat, kentang, dan labu serta buah jeruk, pepaya dan nenas. 2. Bagi Pihak Sekolah disarankan untuk

mensosialisasikan tentang cara hidup sehat agar terhindar dari anemia serta memantau kondisi gizi para peserta didik melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang melibatkan siswi, guru, orangtua hingga penjual makanan.

3. Bagi siswi disarankan untuk budayakan sarapan pagi agar tersedia zat gizi bermanfaat untuk berfungsinya proses fisiologis dalam tubuh, sehingga konsentrasi belajar menjadi lebih baik. 4. Bagi peneliti yang ingin melakukan

penelitian yang sama dengan penelitian ini, sebaiknya menambah variabel lain yang mempengaruhi prestasi belajar yang tidak diteliti oleh penelitian ini.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi dan Supriyono. (2010). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Almatsier, S (2011). Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Arisman. (2010). Gizi dalam Daur Kehidupan : Buku Ajar Ilmu Gizi (2 ed.). Jakarta: EGC. Anggraeni. D. I, Agusuriyani. N. M, Soleha. T, Saftarina F. (2013). Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Kadar Hemoglobin terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMP Negeri 22 Bandar Lampung. Majority, Vol. 3, No. 1.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2011). Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. (2012). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Departemen Kesehatan RI. (2008). RISKESDAS.

Jakarta: Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI. (2013). RISKESDAS. Jakarta: Depkes RI.

Gibney, M, Margetts B. M, Kearney J. M, Arab L. (2009). Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Islamuddin, H. (2012). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Maarial, N. (2012). Hubungan Antara Kejadian Anemia dengan Hasil Belajar Siswi SMP Negeri 11 Manado. Buletin IDI Manado, ISSN: 9772301608001, Vol. I, No. 1, hlm. 39-46.

Masrizal. (2007). Studi Literatur: Anemia Gizi Besi. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 2. No. 1.

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Oktaviana. (2013). Hubungan Kejadian Gizi Kurang, Anemia Gizi Besi, dan GAKY dengan Prestasi Belajar. Unnes Journal of Public Health. Vol. 2. No. 1.

Pearce, E. C. (2011). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Potret Dunia Pendidikan di Indonesia. (2015, Januari 12). Dipetik September 8, 2015, dari Pendidikan Indonesia: http://www.pendidikanindonesia.com/ Saadah, N, Santosa, B, J. (2010). Hubungan

Kadar Hemoglobin dengan Prestasi Belajar SIswa Kelas VII di SMP Negeri 2 Mangetan. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. Vol. 1, No. 4, hlm. 306-310. Sayogo, S. (2006). Gizi Remaja Putri. Jakarta:

EGC.

Sediaoetama, AD. (2010). Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi (Jilid II). Jakarta: Dian Rakyat.

Sinaga, E. (2005). Hubungan Antara Kadar Hemoglobin Hb dengan Prestasi Belajar pada Murid SD Negeri No. 173728 Lobutua Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir. Jurnal Mutiara Kesehatan Indonesia. Vol. 1. No. 2

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta. Supariasa, I. D. (2012). Penilaian Status Gizi.

Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Syah, M. (2013). Psikologi Belajar (Edisi Revisi ed.). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Tandirerung, E.U. (2013). Hubungan Antara Kebiasaan Makan Pagi dengan Kejadian Anemia pada Murid SD Negeri 3 Manado. Jurnal e-Biomedik. Vol.1. No. 1. hlm. 53-58.

Figur

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Hasil  Prestasi Belajar

Tabel 2.

Distribusi Responden Berdasarkan Hasil Prestasi Belajar p.3
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Hasil  Pemeriksaan Kadar Hemoglobin

Tabel 1.

Distribusi Responden Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Kadar Hemoglobin p.3
Tabel  1  menunjukan  responden  dengan  kadar  hemoglobin  normal  sebanyak  164  responden  (92,1%) dan responden dengan kadar hemoglobin  rendah sebanyak 14 responden (7,9%)

Tabel 1

menunjukan responden dengan kadar hemoglobin normal sebanyak 164 responden (92,1%) dan responden dengan kadar hemoglobin rendah sebanyak 14 responden (7,9%) p.3

Referensi

Memperbarui...