BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi di suatu negara tentunya tidak bisa terlepas dari

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pembangunan ekonomi di suatu negara tentunya tidak bisa terlepas dari keikutsertaan seluruh komponen masyarakat, tidak terkecuali peranan wanita didalamnya. Populasi wanita di dunia yang kini hampir mencapai setengah dari populasi dunia secara keseluruhan dengan perbandingan rasio 976 : 1000 terhadap laki-laki (World Bank, 2015), memberikan peranan penting bagi wanita untuk kegiatan ekonomi yang selama sepertiga terakhir abad ke-20 ini juga memasukkan jutaan kaum wanita ke dalam angkatan kerja. Hasil pembangunan yang telah dicapai suatu negara antara lain dapat dilihat dari peningkatan peran wanita di lingkungan masyarakat, khususnya dalam kegiatan ekonomi. Bila sebelumnya wanita hanya berperan sebagai pengurus rumah tangga, sedangan laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama di dalam keluarga, maka saat ini semakin banyak wanita yang masuk ke dalam pasar tenaga kerja. Namun partisipasi wanita dalam dunia angkatan kerja masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan jumlah wanita secara keseluruhan yang menandakan bahwa sumber daya manusia masih belum dimanfaatkan dengan baik. Jika kesetaraan gender antara pekerja wanita dengan laki-laki dapat lebih dikembangkan, maka pembangunan ekonomi suatu negara dapat meningkat dan memberikan lebih banyak kesejahteraan untuk penduduknya.

Negara Indonesia sebagai sebuah negara yang masih berkembang setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah penduduk. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010 yang dilaksanakan pada Mei 2010, Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak 237.641.326

(2)

2 juta jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 119.630.913 dan penduduk wanita sebanyak 118.010.4131 juta jiwa atau 49 persen dari jumlah total penduduk.. Data tersebut menunjukkan bahwa potensi sumber daya manusia di Indonesia sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai tenaga kerja guna meningkatkan pembangunan ekonomi, tak terkecuali kaum wanita Indonesia jika dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baik. Namun tidak semua penduduk Indonesia bisa dikatakan penduduk yang dapat ikut serta dan aktif dalam perekonomian.atau economically active population. Menurut Badan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), penduduk yang dapat dikatakan aktif secara ekonomi adalah penduduk usia 15-64 tahun yang aktif atau berusaha aktif memproduksi barang atau jasa. Kelompok penduduk ini sering disebut dengan Gainfully employed.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai gambaran penduduk yang aktif secara ekonomi terdapat suatu indicator yang bisa menjelaskannya, indikator ini disebut dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK ialah rasio perbandingan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori angkatan kerja dengan jumlah penduduk dalam kategori usia kerja (15 tahun keatas). Ukuran ini merupakan indikasi relatif dari pasokan tenaga kerja tersedia yang terlibat dalam produksi barang dan jasa. Semakin tinggi TPAK menunjukkan bahwa semakin tinggi pula pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian (Sistem Informasi Rujukan Statistik (SIRUSA), Badan Pusat Statistik 2015).

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) wanita di beberapa negara maju menunjukkan angka yang tinggi. TPAK wanita tahun 1998 di negara Kanada sebesar 77 persen, di Perancis sebesar 95 persen, di Jerman sebesar 74 persen, di Swedia sebesar 88 persen, dan di Amerika Serikat sebesar 77 persen (Ehrenberg dan Smith, 2000: 181). Sebaliknya, pada beberapa negara berkembang, TPAK wanita menunjukkan

(3)

3 kecenderungan yang menurun. Contohnya di negara Turki, TPAK wanita menurun dari 72 persen pada tahun 1995 menjadi 26 persen pada tahun 2000 (Aysit Tansel, 2001).

Dengan gambaran yang terjadi beberapa negara maju dan berkembang yang ada di dunia, pada Gambar 1.1 menunjukkan perbandingan jumlah penduduk dengan angkatan kerja di Indonesia dari tahun 1980 hingga 2013. Angkatan kerja bertambah dari 53,5 juta pada tahun 1980, menjadi 75 juta pada tahun 1990, 95,65 juta pada tahun 2000, hingga 118,19 juta pada tahun 2013. Angkatan kerja bertambah dengan lebih cepat daripada penduduk, terutama karena pertambahan tingkat partisipasi kerja perempuan.

Gambar 1.1

Jumlah Penduduk dan Angkatan Kerja di Indonesia, 1980-2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah (2015)

Peningkatan peran wanita dalam pembangunan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional secara keseluruhan, termasuk peran wanita dalam pembangunan ekonomi. Keterlibatan wanita dalam pembangunan ekonomi cukup meningkat. Selama kurun waktu 50 tahun terakhir, TPAK wanita di Indonesia mengalami peningkatan secara

0 50 100 150 200 250 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2013 Ju ta Tahun

Jumlah Angkatan Kerja Jumlah Penduduk

(4)

4 terus-menerus. Berdasarkan laporan “Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Tahun 1961 -1980” yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), persentase TPAK wanita di Indonesia tahun 1961 baru mencapai angka 29,35 persen, sedangkan TPAK laki-laki di tahun yang sama mencapai angka 79,79 persen. Melihat perbandingan persentase antara TPAK wanita dengan laki-laki pada 50 tahun yang lalu, partisipasi wanita pada saat itu jelas terlihat jauh lebih rendah. Namun, seiring dengan berkembangnya proses pembangunan serta modernisasi, partisipasi angkatan kerja wanita pada masa sekarang menunjukkan peningkatan hampir mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 1961. Tahun 2013, TPAK wanita mencapai angka 50,28 persen, sedangkan TPAK laki-laki hanya naik sedikit menjadi 83,58 persen.

Berdasarkan Gambar 1.2, dapat dilihat perbandingan antara TPAK wanita dengan TPAK laki-laki di Indonesia dari tahun 1961 hingga 2013. Mulanya TPAK wanita berada pada posisi jauh lebih rendah dibandingkan dengan TPAK laki-laki. Namun pada tahun-tahun berikutnya partisipasi angkatan kerja wanita mengalami peningkatan dengan pertumbuhan mencapai 12,88 persen pada periode 1961-1971 dan 13,76 persen pada periode 1993-2013. Kesenjangan antara TPAK wanita dengan TPAK laki-laki mulai mengalami penurunan yang jelas sejak tahun 1993.

(5)

5 Gambar 1.2

Perbandingan TPAK Wanita dengan TPAK Laki-laki di Indonesia, 1961-2013

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah (2015)

Pasar tenaga kerja, seperti pasar lainnya dalam perekonomian dikendalikan oleh kekuatan penawaran dan permintaan, namun pasar tenaga kerja berbeda dari sebagian besar pasar lainnya karena permintaan tenaga kerja merupakan tenaga kerja turunan (derived demand) dimana permintaan akan tenaga kerja sangat tergantung dari permintaan akan output yang dihasilkannya (Borjas, 2010: 88; Mankiw, 2006: 487). Dalam suatu proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa, tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi tersebut. Dengan menelaah hubungan antara produksi barang-barang dan permintaan tenaga kerja, akan dapat diketahui faktor yang menentukan upah keseimbangan.

Kebijakan upah minimum merupakan sistem pengupahan yang telah banyak diterapkan di beberapa negara, yang pada dasarnya bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, upah minimum merupakan alat proteksi bagi pekerja untuk mempertahankan agar nilai upah

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1961 1971 1980 1986 1993 2001 2013 Pe rsen Tahun TPAK wanita TPAK laki-laki

(6)

6 yang diterima tidak menurun dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kedua, sebagai alat proteksi bagi perusahaan untuk mempertahankan produktivitas pekerja (Simanjuntak, 1992 dalam Gianie, 2009:1). Di Indonesia, pemerintah mengatur pengupahan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei 1989 tentang Upah Minimum. Perkembangan tingkat upah minimum rata-rata nasional pada Tabel 1.1 menunjukkan dari tahun 2009 sampai tahun 2013 upah minimum mengalami kenaikan yang terus menerus dengan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2013 yang besarnya mencapai 19,10 persen. Krisis global pada tahun 2008 hingga tahun 2009 mengakibatkan perekonomian lesu sehingga perusahaan tidak berani menaikkan upah terlalu tinggi, hal ini berakibat menurunnya pertumbuhan upah minimum dari tahun 2009 hingga 2010. Baru pada tahun 2013, upah minimum menunjukkan kenaikan paling tinggi dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya yang berkisar antara 7 hingga 10 persen, yaitu menjadi sebesar 19,10 persen

Tabel 1.1

Perkembangan Upah Minimum Rata-Rata Nasional Tahun 2009 - 2013 Tahun Upah Minimum Rata-rata Nasional

(Rupiah) Pertumbuhan (%) 2009 841.529 10,23 2010 908.824 7,99 2011 988.829 8,80 2012 1.088.903 10,12 2013 1.296.908 19,10

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2015 (diolah)

Dari segi kondisi yang sudah dijabarkan sebelumnya, timbul pertanyaan yang mungkin dapat dijadikan rumusan masalah dan perhatian penulis untuk meneliti perilaku angkatan kerja wanita serta faktor-faktor yang mempengaruhi nya, mengingat terjadi peningkatan TPAK wanita yang cukup tinggi selama beberapa dekade terakhir di

(7)

7 Indonesia. Selain itu, International Labour Organization (ILO) mencatat perubahan motor pertumbuhan perekonomian Indonesia yang bergeser sedikit demi sedikit dari pertanian dan industri pengolahan menjadi jasa. Sektor pertanian dan industri mencatat tingkat pertumbuhan di bawah rata-rata dari semua sektor, sebesar 5,6 persen per tahun antara 2005 dan 2009, sedangkan pertumbuhan tertinggi dicapai sektor jasa. Pergeseran pekerjaan ke sektor jasa mengakibatkan dua hal penting dalam pasar tenaga kerja Indonesia. Pertama, hal tersebut telah mengubah tuntutan keterampilan perekonomian karena keterampilan yang lebih tinggi diperlukan untuk mendukung pengembangan sektor jasa. Kedua, akibat lainnya dari pertumbuhan pekerjaan di sektor jasa adalah cepatnya pertumbuhan pekerjaan bagi kalangan perempuan, yang mempersempit kesenjangan gender di pasar tenaga kerja

Teori mengenai pola partisipasi angkatan kerja wanita yang sudah banyak diteliti oleh peneliti-peneliti sebelumnya yang dikenal sebagai U-Shaped Female Participation Curve, berawal dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sinha (1967). Temuannya tersebut memiliki kesimpulan bahwa negara yang berpenghasilan rendah memiliki TPAK wanita yang tinggi, dan cenderung menurun selama tahap awal proses pembangunan ekonomi. Sedangkan negara berpenghasilan menengah memiliki TPAK wanita yang relatif rendah dan ngara maju memiliki TPAK wanita yang tinggi, sehingga menciptakan kuva yang berbentuk U. kurva U tersebut menggambarkan hubungan antara pembangunan ekonomi di negara tersebut dengan TPAK wanita1. Setelah penelitian yang dilakukan oleh Sinha pada tahun 1967, penelitian-penelitian selanjutnya pun terus dilakukan. Boserup (1970), Duran (1975), Pampel dan Tanaka (1986), Psacharopoulus dan Tzannatos (1989), Goldin (1994), Lincove (2008) merupakan beberapa peneliti yang melakukan penelitian

1

Dalam Jane A Lincove, “Growth, Girl’s Education, and Female Labor: A Longitudinal Analysis”, The Journal of Developing Areas, Vol 41, No.2 (Spring, 2008), hlm. 46.

(8)

8 dengan tujuan utama untuk membuktikan adanya hubungan antara pembangunan ekonomi dengan TPAK wanita yang membentuk kurva U.

Mengacu pada penelitian-penelitian tersebut, penulis mencoba untuk menerapkan penelitian serupa di Indonesia dengan memakai variabel dependen yaitu TPAK wanita di Indonesia dan dua variabel independen yaitu pendapatan yang diwakili oleh PDRB riil per kapita, serta tingkat pendidikan yang diwakili oleh tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Diduga bahwa pendapatan memiliki pengaruh yang kuat terhadap keputusan individu untuk masuk ke dalam pasar tenaga kerja menjadikan variabel pendapatan sebagai variabel independen pertama. Sedangkan tingkat pendidikan diduga juga memiliki peran dalam pembentukan sumberdaya manusia yang akan mempengaruhi kualitas angkatan kerja di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data 30 provinsi di Indonesia selama periode 2009-2013. Pemilihan rentang tahun tersebut didasarkan pada undang-undang dan peraturan pemerintah yang dikeluarkan selama masa sebelum periode tersebut maupun setelahnya terkait masalah ketenagakerjaan di Indonesia, antara lain sepuluh undang-undang serta peraturan yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang pada intinya mempersiapkan kelembagaan sistem dan tenaga kerja dalam menghadapi pasar kerja yang fleksibel terutama dalam era perdagangan bebas. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada tahun 2010 juga turut menjalankan 10 program guna memperbaiki kualitas ketenagakerjaan Indonesia, program-program tersebut antara lain peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja, pengembangan lembaga, perluasan dan pengembangan tenaga kerja, dan pembangunan daerah melalui program transmigrasi. Selain itu, sekitar 80 federasi serikat pekerja didaftarkan di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menjelang akhir tahun 2004 (ILO dalam “Perkembangan Ketenagakerjaan

(9)

9

di Indonesia”, 2011) sehingga memungkinkan terjadinya peningkatan tenaga kerja di Indonesia secara kualitas maupun kuantitas pada periode tersebut.

Pemilihan data cross-section 30 provinsi bertujuan untuk mendapatkan objek penelitian yang mampu mewakili daerah maju, berkembang, dan miskin agar dapat menggambarkan terjadinya proses pembangunan untuk dapat digunakan sebagai informasi dan dapat dijadikan pertimbangan dan prioritas dalam perencanaan pembangunan wilayah-wilayah di Indonesia terutama yang berkaitan dengan angkatan kerja wanita. Empat provinsi yang mengalami pemekaran (Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, dan Papua Barat) memiliki data sekunder yang belum cukup memadai sehingga tidak dimasukkan ke dalam model penelitian, namun data yang digunakan sudah menggunakan data setelah pemekaran empat provinsi yang tidak dimasukkan dalam penelitian untuk menghindari bias ukuran geografis terhadap data yg digunakan.

Berikut adalah tabel PDRB Riil per kapita dan TPAK wanita untuk daerah-daerah yang dianggap mampu mewakili daerah maju, berkembang, dan miskin di Indonesia dilihat dari besarnya PDRB riil per kapita provinsi-provinsi tersebut.

(10)

10 Tabel 1.2

PDRB riil per Kapita dan TPAK Wanita Tahun 2009-2013

Tahun Provinsi PDRB riil per

Kapita (Rp) TPAK Wanita (%) 2009 DKI Jakarta 39.104.803 51,21 Riau 17.367.654 37,22 NTT 2.590.804 60,46 2010 DKI Jakarta 41.192.095 53,05 Riau 17.647.007 42,34 NTT 2.678.754 62,61 2011 DKI Jakarta 43.297.568 53,87 Riau 17.929.033 45,97 NTT 2.767.461 61,25 2012 DKI Jakarta 45.609.552 59,82 Riau 18.080.755 40,41 NTT 2.867.815 59,78 2013 DKI Jakarta 47.872.391 51,72 Riau 18.078.616 42,73 NTT 2.976.616 57,35

Sumber: Diolah dari BPS (2015)

Keterangan: DKI Jakarta mewakili daerah maju, Riau mewakili daerah berkembang, dan NTT mewakili daerah miskin

Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pendapatan per kapita tertinggi di Indonesia sehingga provinsi ini dipilih untuk mewakili daerah yang dianggap sudah maju, Provinsi Riau dipilih untuk mewakili daerah yang sedang berkembang dengan pendapatan per kapita menengah, sedangkan NTT dipilih untuk mewakili daerah miskin karena memiliki pendapatan per kapita yang cukup rendah. Dari ketiga provinsi tersebut serta dengan melihat perkembangannya dari tahun 2009 hingga 2013 secara sederhana dapat dikatakan bahwa di Indonesia, hubungan antara pembangunan ekonomi dengan TPAK wanita mengikuti kurva U. Hal ini ditunjukkan dengan:

(11)

11 PDRB riil per kapita yang besar yang diikuti dengan tingginya TPAK wanita yang terjadi di Provinsi DKI Jakarta,

PDRB riil per kapita menengah diikuti dengan rendahnya TPAK wanita yang terjadi di Provinsi Riau,

PDRB riil per kapita yang relatif rendah diikuti dengan tingginya TPAK wanita yang terjadi di provinsi NTT.

Namun, pernyataan yang didasarkan hanya pada data kasaran tanpa memperhitungkan kemungkinan kesalahan atau faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi hubungan ini tentunya dapat dianggap kurang valid. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggunakan alat ekonometri guna mendapatkan hasil yang lebih valid tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi angkatan kerja wanita di Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah

Perubahan naik turunnya TPAK wanita di Indonesia diduga utamanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan tingkat pendidikan. Besar kecilnya pendapatan diduga mempengaruhi keputusan wanita untuk memasuki pasar tenaga kerja. Tingkat pendidikan juga diperkirakan menjadi faktor utama seorang wanita memutuskan untuk berperan penting dalam pasar tenaga kerja. Apabila TPAK di Indonesia terbukti membentuk pola kurva U, maka hal ini berarti pada periode tertentu jumlah TPAK wanita di Indonesia akan mengalami penurunan yaitu pada saat Indonesia memasuki periode transisi dari sektor pertanian ke sektor industri, maupun kenaikan setelah melewati fase transisi tersebut.

Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apakah pertumbuhan ekonomi mempengaruhi TPAK wanita di Indonesia secara signifikan?

(12)

12 2. Apakah tingkat pendidikan mempengaruhi TPAK wanita di Indonesia secara

signifikan?

3. Apakah Upah Minimum Provinsi (UMP) mempengaruhi TPAK wanita di Indonesia secara signifikan?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap TPAK wanita di Indonesia 2. Mengetahui pengaruh tingkat pendidikan wanita terhadap TPAK wanita di

Indonesia

3. Mengetahui pengaruh tingkat UMP terhadap TPAK wanita di Indonesia

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang sekiranya dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. Memiliki gambaran dan pandangan baru secara jelas mengenai hubungan dan pengaruh dari pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan, dan upah minimum provinsi terhadap tingkat partisipasi angkatan kerja wanita di Indonesia.

2. Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya yang juga memfokuskan penelitian pada bidang partisipasi angkatan kerja, khususnya angkatan kerja wanita di Indonesia.

3. Sebagai bahan referensi bagi pembuat kebijakan dalam menetapkan kebijakan untuk lebih berkonsentrasi pada peningkatan tingkat pendidikan bagi kaum wanita untuk meningkatkan tingkat partisipasi angkatan kerja wanita di Indonesia.

(13)

13 1.5. Sistematika Penulisan

Penelitian ini terdiri dari empat bab, yaitu, pendahuluan, tinjauan pustaka, analisis data dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran.

BAB I: PENDAHULUAN

Membahas uraian mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II: STUDI LITERATUR

Membahas uraian tinjauan pustaka mengenai Pengertian dan Konsep Ketenagakerjaan, Penawaran tenaga kerja (Keputusan untuk bekerja, Teori Labor/Leisure Choice atau Toeri Pengambilan Kputusan untuk Bekerja/Tidak Bekerja), Pola Partisipasi Angkatan Kerja Wanita yang Berbentuk Kurva U, Pendidikan dan Partisipasi Angkatan Kerja Wanita, Teori Pertumbuhan Ekonomi (Teori Pembangunan Walt Whitman Rostow, Teori Pembangunan Lewis), Teori Upah Minimum, tinjauan empiris, kerangka pemikiran teoritis, dan hipotesis penelitian.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian menjelaskan deskripsi variabel serta sumber data, spesifikasi model penelitian, serta alat analisis yang digunakan dalam penelitian.

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas hasil temuan penelitian. Hasil penelitian diperoleh dari olah data penelitian dan merupakan jawaban atas seluruh pertanyaan penelitian yang telah disebutkan dalam bagian rumusan permasalahan.

(14)

14 BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Membahas bagian akhir dari penelitian yang berisi penjelasan kesimpulan hasil analisis penelitian, saran untuk penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang dan pengambil kebijakan, serta keterbatasan penelitian ini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :