MAKALAH KARAKTERISKTIK
PERKEMBANGANKEPRIBADIAN MASA REMAJA SERTA
IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas
Mata kuliah Perkembangan Peserta Didik
Disusun oleh :
Della Putri Kandilla 162122076 Irham Insani M 162122106 Irma Estri Purwasih 162122031 Sinta Sri Meliana 162122060
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya hatyurkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
“karakter perkembangan kepribadian masa remaja serta implikasinya dalam pendidikan”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Perkembangan Peserta Didik.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat saya harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Permasalahan1
1.2Rumusan dan Pertanyaan 2
1.3Tujuan dan Manfaat Pembahasan 2 1.4Metode Pembahasan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1Pengertian Kepribadian 3
2.2Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian 5 2.3Perubahan Kepribadian 6
2.4Karakteristik Kepribadian 6
2.5Implikasi Perkembangan Kepribadian Pada Remaja Dalam Pendidikan 9
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Remaja yang berkembang baik kepribadiannya, salah satu tugas
perkembangan yang harus dikuasainya adalah membina hubungan sosial dengan teman sebaya maupun dengan orang dewasa selain dari guru dan orang tua. Remaja dapat berprestasi maksimal dalam belajar jika ia diterima dan dikagumi dalam kelompok sebayanya dan mampu memecahkan masalah sosial secara baik dengan orang dewasa terutama orang tua dan orang-orang dewasa lainnya. Perlu disadari bahwa perkembangan kepribadian remaja perlu dipahami oleh para guru maupun orang-orang yang bertugas mendidik remaja, karena perkembangan kepribadian sangat penting untuk mengembangkan prestasi belajar remaja.
Dalam makalah ini kami melakukan studi kasus mengenai perkembangan kepribadian yang menyimpang. Penyimpangan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk faktor diri, keluarga, dan lingkungan. Studi kasus tersebut
didasarkan kepada perkembangan kepribadian dan implikasi perkembangan kepribadian masa remaja dalam pendidikan.
Karena latar belakang masalah di ataslah kami mengangkat judul makalah kami “ Karakteristik Perkembangan Kepribadian Masa Remaja serta Implikasinya dalam Pendidikan. “
1. Bagaimanakah karakteristik perkembangan kepribadian masa remaja? 2. Apakah implikasi perkembangan kepribadian masa remaja dalam
pendidikan ?
1.3. TUJUAN DAN MANFAAT PEMBAHASAN
1. Untuk mengetahui karakteristik perkembangan kepribadian pada remaja. 2. Untuk mengetahui implikasi perkembangan kepribadian masa remaja
dalam pendidikan.
1.4. METODE PEMBAHASAN
BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
2.1 PENGERTIAN KEPRIBADIAN
a. Pengertian secara etimologis
Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris
‘’personality’’ sedangkan istilah personality secara etimologis berasal dari bahasa latin ‘’person’’ (kedok) dan ‘’personare’’ (menembus). Persona biasanya dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman kuno untuk memerankan satu bentuk tingkah laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan personare adalah bahwa para pemain sandiwara itu dengan melalui kedoknya berusaha menembus keluar untuk mengekspresikan satu bentuk gambaran manusia tertentu. Misalnya; seorang pemurung, pendiam, periang, peramahm, pemarah dan sebagainya. Jadi, persona itu buka pribadi pemain itu sendiri, tetapi gambaran pribadi dari tipe manusia tertentu dengan melalui kedok yang dipakainya.
b. Pengertian secara terminologis
1) MAY mengartikan kepribadian sebagai ‘’a sosial stimus value’’. Jadi menurutnya cara orang lain mereaksi, itulah kepribadian individu. Dalam kata lain, pendapat orang lainlah yang menentukan kepribadian individu itu.
2) McDougal dan kawan-kawannya berpendapat, bahwa kepribadian adalah ‘’tingkatan sifat-sifat dimana biasanya sifat yang tinggi tingkatannya mempunyai pengaruh yang menentukan’’.
3) Gordon W. Allport mengemukakan, ‘’personality is dynamic organization within the individual of those psychophysycal system, then determines his unique adjusment this environment’’ . (kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan).
Dari definisi tersebut ada beberapa unsur yang perlu dijelaskan, yaitu sebagai berikut.
2) Psikofisis, ini menunjukan bahwa kepribadian bukanlah semata-mata neural (fisik), tetapi merupakan perpaduan kerja antara aspek psikis dan fisik dalam kesatuan kepribadian.
3) Istilah menentukan, berati bahwa kepribadian mengandung kecenderungan-kecenderungan menentukan (determinasi) yang memainkan peranan aktif dalam tingkah laku individu. Kepribadian adalah sesuatu dan melakukan sesuatu. Kepribadian terletak di belakang perbuatan-perbuatan khusus dan di dalam individu. Dalam arti kepribadian itu bukan hanya ada selama ada orang lain bereaksi terhadapnya, tetapi lebih jauh dari itu mempunyai eksistensi real (keadaan nyata), yang termasuk juga segi-segi neural da fisiologis. 4) Unique (khas), ini menunjukan bahwa tidak ada dua orang yang
mempunyai kepribadian yang sama.
5) Menyesuaikan diri terhadap lingkungan, ini menunjukan bahwa kepribadian mengantarai individu dengan lingkungan fisik dan lingkungan psikologinya, kadang-kadang menguasainya. Jadi
kepribadian adalah sesuatu yang mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan menentukan.
Kepribadian dapat juga diartikan sebagai ‘’kualitas perilaku individu yang tampak dala melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik’’ (Abin Syamsuddin Makmun, 1996). Keunikan penyesuaian tersebut sangat berkaitan dengan aspek-aspek kepribadia itu sendiri, yaitu meliputi hal-hal berikut.
1) Karakter, yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku konsisten atau teguh tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
2) Temperamen, yaitu disposisis reaktif seseorang, atau cepat/lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari
lingkungan.
3) Sikap, sambutan terhadap objek (orang, benda, peristiwa, norma dan sebagainya) yang bersifat positif, negatif atau ambivalen (ragu-ragu). 4) Stabilitas emosional, yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap
rangsangan dari lingkungan. Seperti: mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih atau putus asa.
5) Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima risiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima risiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari risiko yang dihadapi.
tertutup atau terbuka dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
2.2 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPRIBADIAN
Kepribadian dipengaruhi oleh berbagai faktor , baik hereditas (pembawaan) maupun lingkungan (seperti: fisik, sosial, kebudayaan, spiritual).
a) Fisik. Faktor fisik yang dipandang mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah postur tubuh (langsing, gemuk, pendek atau tinggi), kecantikan (cantik atau tidak cantik), kesehatan (sehat atau sakit-sakitan), keutuhan tubuh (utuh atau cacat), dan keberfungsian organ tubuh.
b) Inteligensi. Tingkat inteligensi individu dapat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Individu yang inteligensinya tinggi atau normal biasa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara wajar, sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan atau kendala dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
c) Keluarga. Suasana atau iklim keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis; dalam arti, orangtua memberikan curahat kasih sayang, perhatian serta bimbingan dalam kehidupan berkeluarga, maka perkembangan kepribadian anak tersebut cenderung positif. Adapun anak yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang broken home, kurang harmonis, orangtua bersikap keras terhadap anak atau tidak memperhatikan nilai-nilai agama dalam keluarga, maka perkembangan kepribadian anak cenderung akan mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam penyesuaian dirinya (maladjusment).
d) Teman sebaya (peer group). Setelah masuk sekolah, anak mulai bergaul dengan teman sebayanya dan menjadi anggota dari
terpengaruh oleh sifat dan perilaku kelompoknya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, peminum minuman keras atau bergaul bebas, karena pengaruh perilaku teman sebaya.
e) Kebudayaan. Setiap kelompok masyarakat (bangsa, ras, atau suku bangsa) memiliki tradisi, adat, atau kebudayaan yang khas. Tradisi atau kebudayaan suatu masyarakat memberikan pengaruh terhadap kepribadian setiap anggotanya, baik yang menyangkut cara berpikir (seperti cara memandang sesuatu), bersikap atau cara berperilaku. Pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian itu, dapat dilihat dari adanya perbedaan antara masyarakat modern yang budayanya relatif maju (khususnya IPTEK) dengan masyarakat primitif yang budayanya masih relatif sederhana seperti dalam cara makan, berpakaian,
hubungan interpersonal atau cara memandang waktu.
2.3 PERUBAHAN KEPRIBADIAN
Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataan sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian itu dapat dan mungkin terjadi. Perubahan itu terjadi pada umumnya lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan daripada faktor fisik. Disamping itu, perubahan ini lebih sering dialami oleh anak daripada orang dewasa.
Fenton (E. Hurlock, 1956) mengklasifikasikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kepribadian ke dalam tiga kategori, yaitu:
a. Faktor organik, seperti: makanan, obat, infeksi, dan gangguan oraganik.
b. Faktor lingkungan sosial budaya, seperti: pendidikan, rekreasi dan partisipasi sosial.
c. Faktor dari dalam individu itu sendiri, seperti: tekanan emosional, identifikasi terhadap orang lain, dan imitasi.
2.4 KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN
keharmonisan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (normal) lingkungan’’.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah yang dihadapi, ternyata tidak semua individu mampu menampilkannya secara wajar, normal atau sehat (well adjusment); diantara mereka banyak juga yang mengalami tidak sehat (maladjusment).
E.B. Hurlock (1986) mengemukakan bahwa penyesuaian yang sehat atau kepribadian yang sehat (healthy personality) ditandai dengan karakteristik sebagai berikut.
a. Mampu menilai diri secara realistik. Individu yang kepribadiannya sehat mampu menilai dirinya sebagaimana apa adany, baik kelebihan maupun kekurangan/kelemahannya, yang menyangkut fisik (postur tubuh, wajah, keutuhan dan kesehatan) dan kemampuan.
b. Mampu menilai situasi secara realistik. Individu dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dihadapi secara realistik dan mau menerimanya secara wajar. Dia tidak mengharapkan kondisi
kehidupan itu sebagai sesuatu yang harus sempurna.
c. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik. Individu dapat menilai prestasinya (keberhasilan yang diperolehnya) secara realistik dan mereaksinya secara rasional. Dia tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami “superiority complex”, apabila memperoleh prestasi yang tinggi, atau kesuksesan dalam hidupnya. Apabila mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustasi, tetapi dengan sikap optimistik (penuh harapan).
d. Menerima tanggung jawab. Individu yang sehat adalah individu yang bertanggung jawab. Dia mempunyai keyakinan terhadap
kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
e. Kemandirian (autonomi). Individu memiliki sikap mandiri dalam cara berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri secara konstruktif dengan norma yang berlaku dilingkungannya.
f. Dapat mengontrol emosi. Individu merasa nyaman dengan emosinya. Dia dapat menghadapi situasi frustasi, depresi atau stres secara positif atau konstruktif, tidak destruktif (merusak).
mencapai tujuan tersebut dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan) dan keterampilan.
h. Berorientasi keluar. Individu yang sehat memiliki orientasi keluar (ekstrovert). Dia bersikap respek, empati terhadap orang lain mempunyai kepedulian terhadap situasi, atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berpikirnya. Barret Leonard mengemukakan sifat-sifat individu yang berorientasi keluar, yaitu (a) menghargai dan menilai orang lain seperti sendirinya (b) merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain (c) tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan orang lain dan tidak mengorbankan orang lain karena kekecewaan dirinya
i. Penerimaan sosial. Individu dinilai positif oleh orang lain, mau bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
j. Memiliki filsafat hidup. Dia mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidupnya yang berakar dari keyakinan agama.
k. Berbahagia. Individu yang sehat,situasi kehidupannya diwarnai achievement (pencapaian prestasi), acceptance (penerimaan dari orang lain), dan affection (perasaan dicintai atau disayangi orang lain) Adapun kepribadian yang tidak sehat itu ditandai dengan karakteristik seperti berikut.
a. Mudah marah (tersinggung).
b. Menunjukan kekhawatiran dan kecemasan. c. Sering merasa tertekan (stress atau depresi).
d. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang (hewan).
e. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau di hukum.
f. Mempunyai kebiasaan berbohong. g. Hyperactive.
h. Bersikap memusuhi semua otoritas.
i. Senang mengkritik/mencemooh orang lain. j. Sulit tidur.
k. Kurang memiliki rasa tanggung jawab.
l. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebab bukan bersifat organis).
m. Kurang memiliki kesadaran untuk menaati ajaran agama. n. Bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan.
lingkungan keluarga yang tidak berfungsi (dysfuction family) yang bercirikan “broken home”, berhubungan antar anggota keluarga kurang harmonis, kurang memperlihakan nilai-nilai agam dan orangtua bersikap keras atau kurang memberikan curahan kasih sayang terhadap anak.
Oleh karena kelainan kepribadian itu berkembang pada umumnya disebabkan oleh Faktor lingkungannya yang kurang baik, maka sebagai upaya pencegahan (preventif), seyogianya pihak keluarga (orang tua), sekolah (guru dan staf sekolah lainnya) dan pemerintah perlu senantiasa bekerja sama untuk menciptakan iklim lingkungan yang memfasilitasi atayu memberi kemudahan kepada anak untuk mengembangkan potensi atau tugas-tugas perkembangan secara optimal.
2.5 Implikasi Perkembangan Kepribadian Pada Remaja Dalam Pendidikan
Kenyataan psikologi yang selalu dipegang oleh Kurt Lewin ialah bahwa pribadi itu selalu ada dalam lingkungannya, pribadi tak dapat dipikirkan lepas dari lingkungannya. Oleh karena itu, implikasi
perkembangan kepribadian masa remaja dalam pendidikan pun tidak dapat terlepas dari lingkungan remaja tersebut. Dimulai dari lingkungan
keluarga sampai lingkungan masyarakat sangat memberikan andil besar dalam implikasi perkembangan kepribadian masa remaja dalam
pendidikan. Jadi, apabila dalam kenyataannya terdapat ketidak selarasan dalam perkembangan kepribadian remaja yang akhirnya menjadi suatu permasalahan lingkungan pun memberikan pengaruhnya pada saat itu.
Conger (dalam Abin, 1975: 11) menegaskan bahwa pemahaman dan pemecahan masalah yang timbul pada masa remaja harus dilakukan secara interdisipliner dan antar lembaga. Meskipun demikian, pendekatan dan pemecahannya dari pendidikan merupakan salah satu jalan yang paling efektif dan strategis, karena bagi sebagian besar remaja bersekolah dengan para pendidik, khususnya para guru, banyak mempunyai kesempatan berkomunikasi dan bergaul.
Diantara usaha-usaha pembinaan yang perlu di perhatikan, sekurang-kurangnya untuk mengurangi kemungkinan tumbuhnya permasalahan yang timbul pada masa remaja, dalam rangka kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para pendidik umumnya dan para guru khususnya:
olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat me-nyelenggarakan penjelasannya dengan penuh dignity. Tujuan dari usaha tersebut ada-lah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fisik dan psikomotorik remaja.
2. Memperhitungkan segala aspek selengkap mungkin dengan data atau informasi secermat mungkin yang menyangkut kemampuan dasar intelektual (IQ), bakat khusus (aptitudes), disamping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa yang bersang-kutan.
Terutama pada masa penjurusan atau pemilihan dan penentuan program studi. Upaya tersebut bertujuan untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan bahasa dan perilaku kognitif.
3. Seharusnya seorang guru bisa mengaktifkan dan mengkaitkan hubungan rumah dengan sekolah (parent teacher association) untuk saling mendekatkan dan menyela-raskan system nilai yang
dikembangkan dan cara pendekatan terhadap siswa remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang diberikan dalam pembinaannya. Tujuannya adalah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan perilaku social, moralitas dan kesadaran hidup atau penghayatan keagamaan.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut.
1. Perkembangan social adalah berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kenutuhan hidup manusia.
2. Perhatian remaja mulai tertuju pada pergaulan di dalam masyarakat dan mereka membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk
kehidupan kelompok terutama kelompok sebaya.
3. Perkembangan anak remaja dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : kondisi keluarga, kematangan anak, status social ekonomi keluarga, pendidikan, dan kapasitas mental terutama intelek dan emosi.
4. Hubungan sosial remaja terutama yang berkaitan dengan proses penyesuaian diri berpengaruh terhadap tingkah laku, seperti remaja keras, remaja yang mengisolasi diri, remaja yang bersifat egois dan sebagainya.
5. Pertumbuhan dan perkembangan manusia dimulai sejak terjadinya konsepsi yaitu pertemuan antara ovum dan sperma, pertumbuhan dan perkembangan berlangsung terus dalam kandungan kemudian lahir sampai usia tua dan akhirnya berjhenti pada kematian.