• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA DIBARAT (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA DIBARAT (1)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA

DIBARAT DAN DUNIA ISLAM

Disusun sebagai Salah SatuSyaratuntuk Memenuhi Tugas Terstruktur PadaMata Kuliah Materi Ilmu Alamiah Dasar

Dosen Pengampu: Chandra Warsito, S.TP., M.Si. Disusun Oleh:

1. Fandi Dhuga Prayoga (1323203041) 2. Ilham Agung Sanjaya (1323203019)

3. Endah Rokhimah (1323203070)

4. Lina Fitrotus Zakiyah (1323203011) 5. Lutfiatul Aulia (1323203010) 6. Shintia Mayasari (1323203063)

7. Umami Rif’ah (1323203043)

Syariah/ 1 EI 2

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PURWOKERTO

(2)

PENDAHULUAN

Manusia dewasa ini telah banyak merasakan kenikmatan hidup, baik berupa nikmat jasmani maupun nikmat rohani. Kenikmatan jasmani dapat dilihat dari terpenuhinya berbagai macam kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan sandang, pangan, maupun papan sampai dengan kebutuhan sarana pendidikan, sosial, budaya dan lain-lain. Sedangkan kenikmatan rohani dapat dilihat dengan terpenuhinya berbagai jenis keperluan sosial keagamaan, penyegaran jiwa misalnya adanya tempat-tempat wisata, pagelaran kesenian musik, lukis, maupun drama serta banyaknya berdiri tempat-tempat ibadah keagamaan dan lain-lain.

Pemenuhan berbagai macam kenikmatan ini merupakan hasil dari kemudahan-kemudahan yang diperoleh manusia berkat kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi atau iptek. Dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit sekalipun telah dapat ditundukkan oleh manusia dan sekaligus dapat dimanfaatkan.

(3)
(4)

PEMBAHASAN

A. SIFAT UNIK MANUSIA

Dibanding dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah lemah, sedangkan rohaninya atau akal budinya dan kemauannya sangat kuat. Manusia tidak dapat terbang seperti elang, tidak dapat berenang secepat buaya, tidak mempunyai belali seperti gajah, tidak mempunyai gigi berbisa seperti ular, tidak dapat mengubah warna kulitnya seperti bunglon. Manusia juga tidak mempunyai tanduk, taji, ataupun sengat, maka untuk membela diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan manusia harus memanfaatkan akal budinya yang cermerlang. Kemauannya yang keras menyebabkan manusia dapat mengendalikan jasmaninya. Hal ini dapat menimbulkan efek yang negatif, misal manusia dapat mogok makan, dapat minum minuman keras sampai mabuk, dan bahkan dapat bunuh diri, ketika tubuh mendapat pengaruh negatif dari lingkungan, maka timbul reaksi yang mendorong tubuh supaya melepaskan diri dari lingkungan yang merugikan tersebut. Tetapi kemauan keras dapat memaksa tubuh supaya tetap menerima pengaruh yang negatif itu. Hal semacam ini jarang kita jumpai pada hewan . jadi sifat unik manusia itu ialah akal budi dan kemauannya menaklukan1

jasmaninya

(5)

B. RASA INGIN TAHU

Telah disebutkan di atas bahwa semua makhluk hidup termasuk manusia . memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari lingkungan, misalnya tumbuhan yang berhijau daun memberikan reaksi terhadap sinar matahari. cabang dan tumbuhan itu berusaha memperoleh sinar matahari karena perlu untuk mengadakan fotosintesis. Hewan tingkat tinggi memberikan reaksi terhadap lingkungan dengan mengadakan penjelajahan, ingin tau daerah lain, misalnya harimau atau burung ingin tahu tempat lain untuk memperoleh makanan dan sebagainya. Rasa ingin tahu atau kuriositas pada hewan tersebut didorong oleh naluri dan oleh Asimov (1972) disebut idle curiosity, keinginan tahu yang terbatas atau masih bermalas malasan2.

naluri itu bertitik pusat pada mempertahankan kelestarian hidup dan sifatnya tetap sepanjang zaman.

Manusia mempunyai naluri seperti tumbuhan dan hewan, tetapi juga mempunyai akal budi sehingga rasa ingin tahu itu tidak tetap sepanjang zaman. Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang. Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Apabila suatu masalah dapat dipecahkan, akan timbul masalah lain yang menunggu pemecahannya. Manusia bertanya terus setelah tahu apa, maka ingin tahu bagaimana dan mengapa. Manusia mampu menggunakan pengetahuan yang telah lama diperoleh untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru menjadi pengetahuan yang lebih baru lagi. Hal yang demikian berlangsung

(6)

abad sehingga menjadi akumulasi pengetahuan. Manusia purba hidup dalam gua-gua, tetapi berkat pengetahuan yang bertambah terus, manusia modern bertempat tinggal dalam gedung-gedung yang kokoh dan indah seperti saat ini. Kecuali untuk memenuhi kepuasan manusia , ilmu pengetahuan juga berkembang untuk keperluan praktis agar hidupnya lebih mudah dan3

menyenangkan.

C. PERKEMBANGAN ALAM PIKIR MANUSIA

Sebagaimana telah dikemukakan, manusia mempunyai rasa ingin tahu

terhadap rahasia alam dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan

pengalaman, tetapi seiring tidak dapat menjawab masalah dan tidak

memuaskan. Pada manusia kuno, untuk memuaskan diri, mereka mencoba

membuat jawaban sendiri. Misal, apakah pelangi itu?Mereka tidak dapat

menjawabnya. Maka, mereka mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa

pelangi adalah selendang bidadari. Lalu timbullah pengetahuan baru, yaitu

bidadari. Selanjutnya, tentang mengapa gunung meletus, mereka juga

mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa yang berkuasa marah. Dan

dari jawaban itu, muncul pengetahuan yang disebut yang berkuasa. Dengan

menggunakan logika, muncullah pengetahuan baru yang merupakan

kombinasi antara pengalaman-pengalaman dan kepercayaan disebut mitos.

Cerita –cerita mitos itu disebut legenda. Mitos dapat diterima orang pada saat

itu karena keterbatasan penginderaan dan penalaran serta hasratingin tahu

(7)

yang perlu segera dipenuhi. Sehubungan dengan kemajuan zaman. Lahirlah

ilmu pengetahuan dan metode pemecahan masalah secara ilmiah yang

selanjutnya tekenal dengan metode ilmiah (scientific method).4

MenurutAuguste Comte (1798-1857), dalam sejarah perkembangan

jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan,berlangsung

dalam 3 tahap ;

1. Tahap teologi atau fiktif

2. Tahap filsafat atau metafisika atau abstrak

3. Tahap positif atau ilmiah rill

Pada tahap teologi, manusia berusaha untuk mencari dan menemukan

sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu, dan selalu

dihubungkan dengan kekuatan ghaib.

Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap dimana manusia

masih tetap mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi

menyadarkan diri pada kepercayaan akan adanya kekuatan ghaib ,melainkan

pada akalnya sendiri. Akal yang telah mampu melakukan abstraksi guna

menemukan hakikat segalas esuatu.

Tahap positif atau rill merupakan tahap dimana manusia telah mampu

berpikir secara positif atau rill, atas dasar pengetahuan yang telah dicapainya

yang dikembangkan secara positif melalui pengamatan, percobaan dan

perbandingan.5

4Ibid.

(8)

D. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan berawal dari zaman purba, yaitu

zaman batu yang dipandang oleh para sejarawan sebagai zaman pengetahuan

ilmiah. Kira kira 400.000 tahun yang lalu, manusia mulai membuat alat-alat

dan senjata tertentu. Manusia berhasil membuat benda-benda itu setelah

melalui pengalaman mencoba-coba sebagai hasilnya, manusia mampu

menemukan pengetahuan ilmiah. Kira-kira 30.000 tahun yang lalu, manusia

primitif (sederhana) telah mempelajari cara mengembangkan kehidupan

mereka. Kira-kira 15.000 tahun yang lalu, mereka menemukan pertanian.

Pada mulanya, mereka hidup dari mengumpulkan biji-bijian dan

buah-buahan. Sejak itu, manusia menemukan pengetahuan untuk menghasilkan

makanan sehingga manusia memiliki persediaan makanan. Manusia juga

mulai mengatur waktu kerja dan istirahat sesuai dengan waktu malam dan

siang. Perkembangan kehidupan manusia sederhana yang penting lainnya,

yaitu mulai berkelompok serta mengukur waktu dan perhitungan hari. Lalu,

manusia sampai ke zaman logam6 (metal age).

Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi sejak 2000 tahun sampa 300

tahun sebelum masehi, diantaranya (1) matematika (ilmu hitung, geometri,

dan logika), (2) astronomi (kosmologi dan astronomi posisional), (3) geologi

(aksplorasi), (4) biologi (ilmu obat-obatan), dan (5) sosial (pemerintahan,

sejarah, dan filsafat).

(9)

Revolusi ilmu pengetaahuan yang dihasilkan oleh para ilmuwan dan

para filsuf barat modern terus berkembang dan semakin memperlihatkan hasil

maksimal, terutama ketika Einstein merombak kerangka filsafat Newton yang

sudah mapan melalui teori quantumnya. Ia lalu mengubah persepsi dunia ilmu

tentang sifat-sifat dasar dan prilaku materi sedemikian rupa, sehingga para

pakar dapat melanjutkan penelitiannya. Melalui karya Einstein ini, manusia

modern dapat mengembangkan ilmu dasar, seperti astronomi, fisika, kimia,

biologi, dan molekuler yang pada tahap tertentu telah dibangun di yunani dan

dunia islam, menjadi ilmu pengetahuan yang demikian luas dan mendalam,

dan tidak hanya mengglobalkan dunia, tetapi juga telah melahirkan revolusi

besar dalam berbagai tatanan sistem kehidupan.

Kini pemikiran ilmiah telah menjadikan manusia memperoleh

kejayaan, dan para ilmuwan telah melepas ambisinya untuk menjelajahi ruang

angkasa. Penemuan baru tak henti-hentinya bermunculan sehingga sekarang

ilmuwan dipaksa untuk menjadi spesialis dalam satu cabang ilmu tanpa

memahami lebih dalam cabang-cabang ilmu7 lainnya

E. PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA DI DUNIA BARAT

Sekalipun ada kontak yang intensif antara muslim dengan dunia barat yang masih berlanjut hingga kini sejak abad yang lalu, hanya sedikit yang telah dilakukan oleh mereka tentang agama di barat, hanya sedikit sarjana

(10)

muslim yang menguasai bahasa-bahasa klasik dengan cukup baik untuk mempelajari sejarah agama utama di barat, yaitu kristen dan juga sangat sedikit yang mendalami teologi dan pemikiran keagamaan kristen.

Setidak-tidaknya, tidak ada keseimbangan antara pengetahuan barat tentang Islam, walaupun pandangannya menyudutkan kaum muslim, dengan pemahaman Islam tentang agama di Barat menurut sudut pandang Islam.

Dua pertentangan sudut pandang diametris tentang agama di Barat muncul di kalangan muslim. Sebagian menganggap seluruh orang barat adalah penganut Kristen, dengan minoritas Yahudi sebagai kecualian dan sering merujuk orang barat sebagai “orang-orang Nasrani” seolah olah Barat adalah Barat abad pertengahan ketika terjadi perang salib dan peradaban barat yang hidup saat itu disebut abad keimanan. Tentu saja kristen menjadi dominan di Barat sejak kebangkitan peradaban Barat Abad8 Pertengahan.

Agama Kristen dalam bentuk Katoliknyalah yang bertanggung jawab terhadap apa yang kemudian dikenal sebagai abad pertengahan ketika beberapa lembaga paling penting di Barat termasuk juga pola-pola pemikirannya dirumuskan dan dikristalisasikan, juga menjadi periode yang menandai masa keemasan seni suci di Barat.

Protestanisme dan katolikisme tidak harus dibandingkan dengan mahzab Sunni dan Syi’ah dalam konteks Islam seperti yang dilakukan oleh para sarjana tertentu. Berbeda dengan katolikisme yang mempertahankan struktur terpadu dan monolitknya melalui kepausan dan hierarki yang menjadi dasar gereja, Protestanisme segera terjadi menjadi beberapa aliran.

(11)

Katolikisme terus menekan pada aspek ritual agama dan mempunyai dimensi tertentu yang berdekatan dengan penekanan ritual dalam Islam, sementara Protestanisme biasanya memberi penekanan lebih besar kepada aksi sosial dan juga tanggung jawab individu, gambaran yang juga mempunyai persamaan tertentu dengan ajaran sosial islam dan penekanan Islam terhadap hubumgan langsung setiap individu dengan Tuhan.

Sejak renaisans hingga hari ini, agama Kristen dan juga dalam beberapa hal agama Yahudi di Barat, telah terlibat dalam pertempuran terus-menerus melawan berbagai ideologi, filsafat, lembaga dan praktek yang bersifat sekuler dan yang menentang otoritas agama dan kenyataan hal itu sangat valid serta terlegitimasi.

Pertama-tama, secara bertahap sekulerisme memisahkan filsafat dan kemudian sanis dari pengaruh agama dan kemudian pula bergerak memisahkan gagasan politik, ekonomi dan sosial serta lembaga-lembaga yang mempertimbangkan pentingnya agama pada periode abad pertengahan di Barat dari alam makna9 agama.

Agar memahami situasi agama di Barat modern, juga penting membahas modernisasi dan sekulerisasi agama bersamaan dengan kemunculan gerakan-gerakan agama modern di luar konteks gereja-gereja kristen tradisional. Fenomena religius lain yang penting dipahami bersamaan dengan yang disebut, “agama-agama baru10”, dan kebangkitan kembali

agama-agama kuno itu adalah banyak orangdi Barat yang menengok agama-agama-agama-agama di

(12)

Timur sebagai bimbingan dan pertolongan. Sebagian menengok pada agama Hindu, yang lain pada Budha dan beberapa pada Islam khususnya ajaran sufi dalam Islam.

Saat ini peran agama di Barat sangat berbeda dibandingkan perannya dalam dunia Islam. Seluruh masyarakat Barat mengklaim dirinya sekuler dan memberlakukan hukum bukan dari agama tetapi dari pemungutan suara setidaknya di negara-negara demokrasi.

Dalam matriks kekuatan serta pola yang rumit inilah peran agama di Barat harus dipahami saat ini. Dan juga kita harus memahami peran Islam di Barat saat ini dalam cahaya sekulerisasi agama tradisonal sekaligus pencarian terhadap makna dan penemuan kembali agama sebagai fondasi kehidupan manusia di Barat. Saat ini Islam merupakan agama yang perkembangannya sangat cepat di Barat seperti halnya juga di Afrika dan beberapa wilayah tertentu belahan dunia lainnya. Islam adalah agama terbesar kedua di Eropa dan menjelamg tahun 2000 mungkin akan menyamai agama yahudi sebagai agama kedua dalam jumlah penganutnya di11 Amerika.

F. PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA DI DUNIA ISLAM

(13)

Islam bukan hanya sebuah agama, tetapi juga basis peradaban yang sangat luas menyebar dari Atlantik ke Pasifik dan mencakup banyak kelompok etnis termasuk Arab, Persia, Indo-Pakistan, Malaysia Cina, Afrika, dan lain-lain. Peradaban yang luar biasa ini telah menghasilkan sejumlah gerakan spiritual. Aliran, teologi, filsafat dan sains ; yang berada di antara peradaban besar terkaya lainnya dalam wilayah kegiatan intelektual.

a. Spiritualitas Islam

Persoalan spiritualitas Islam tentu saja berhubungan langsung dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Dalam sejarah Islam aspek tradisi Islam ini dikenal sebagai althariqah ila’llahlah, yang makna literalnya berarti12 jalan menuju

Tuhan, dan kemudian pada suatu waktu dalam kurun kedua abad Islam, dikenal dengan nama tasawuf.

Pentingnya thuruq (bentuk jamak dari thariqah) dalam sejarah Islam tidak dapat dilebih-lebihkan. Denyut masyarakat Islam dalam selama berabad-abad biasanya dicapai oleh orang-orang yang mengikuti jalan spiritual, oleh para sufi besar seperti Syekh ‘Abd Al-Qadir Al-Jailani atau Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali atau yang menyusul kemudian Syekh Ahmad Sirhindi di India dan masih banyak yang lainnya. Para pengikut jalan spiritual juga memainkan peran penting dalam penyebaran Islam. Islam menyebar ke Persia, melintasi Afrika Utara dan masuk ke Spanyol melalui angkatan bersenjata Arab. Lebih jauh lagi, thuruq memainkan peran sangat pentingdalam berbagai aspek kehidupan selama periode ‘Ustmaniyyah.

(14)

Para pengikut jalan ini juga memberi sumbangan penting dalam pertahanan intelektual Islam, karena mereka mempunyai akses terhadap kebenaran metafisika tertinggi tradisi Islam.

Hingga abad kedua sejarah Islam, para pengikut tarekat yang berangsur-angsur dikenal sebutan sufi itu menampilkan tokoh-tokoh individu tertentu sebagai guru spiritual. Secara bertahap perkumpulan ajaran tarekat menjadi lebih terorganisasi dan pada abad ketiga islam, di kota Baghdad yang dipimpin wali Al-Junayd, seorang sufi terkenal waktu itu, perkumpulan sufi menjadi lebih diformalkan. Dua abad kemudian perkumpulan-perkumpulan ini ditransformasikan menjadi paguyuban-paguyuban sufi atau thuruq, biasanya berdasarkan nama pendirinya seperti ‘Abd Al-Qadir Al-Jailani yang namanya dipakai tarekat Qadiriyyah, yang pengikutnya masih eksis sampai hari ini mulai dari selatan Filiphina sampai Maroko, atau Syekh Ahmad Al-Rifa’i, pendiri tarekat13Rifa’iyyah.

Beberapa abad kemudian banyak tarekat sufi tumbuh di Negara-negara Islam. Termasuk yang terkenal adalah tarekat Syadziliyyah yang didirikan oleh Syekh Abul-Hasan Al-Syadzili. Tarekat naqsabandiyyah, asli persia, yang pusatnya, ada di Afganistan; dan tarekat mawlawiyyah yang namanya diambil Mawlana Jalal Al-Din Rumi. Tarekat terbesar lainnya antara lain Tarekat Tijaniyyah di Afrika Utara; Tarekat Ni’matullahi yang menjadi Tarekat paling populer di Iran.

Para tarekat sufi selama berabad-abad dianggap mampu memelihara perintah Nabi sebagaimana aslinya. Namun saat ini, tidak diragukan lagi ada

(15)

beberapa praktek palsu yang mencemari beberapa tarekat sufi yang menjadikannya dekade khususnya dalam dua ratus tahun terakhir ini, namun kehidupan tarekat sufi sendiri senantiyasa mampu menggelotakan kembali diri mereka dan sampai hari ini mereka terus memainkan peran penting dalam kehidupan intelektual Islam.

b. Teologi Islam (Kalam)

Istilah ini mengacu kepada pemahaman tentang firman Tuhan (Kalam Allah) atau Al-Qur’an dan pembangun bentuk Islam ini adalah Ali bin Abi Thalib yang juga sekaligus mutakallim pertama atau ulama kalam.

Setelah nabi Islam wafat, masyarakat saat itu menghadapi berbagai masalah tertentu yang menuntut pemikiran manusia terutama yang muncul saat dikonfrontasikan dengan kehidupan beragama. Perdebatan pun diwarnai oleh kehadiran agama lain di tengah-tengah kaum muslim, agama-agama yang penganutnya juga memiliki pertanyaan serupa selama berabad-abad, seperti masyarakat Kristen, Yahudi, Majusi, Manichaean dan bahkan14 Sabaean.

c. Mu’tazilah

Tokoh utama yang mula-mula mengajarkan kalam adalah Hasan Al-Basri. Selama hidupnya, beliau mengajarkan hadis, dan tafsir Al-Qur’an kepada generasi kaum muslim. Hasan Al-Basri juga mengajarkan ilmu yang kemudian dikenal sebagai kalam, yakni doktrin yang berkenaan dengan

(16)

permasalahan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Ada salah seorang murid beliau, Washil bin ‘Atha yang “memisahkan” diri (I’tazala) dari ajaran Hasan dan mendirikan mahzab yang disebut Mu’tazilah, berasala dari kata Arab Al-Mu’tazilah. Mahzab ini terkenal dengan lima prinsip yang berkaitan dengan berbagai bidang ;

- pertama : Keesaan Ilahi (Al-Tauhid), - kedua : Keadilan Ilahi (Al-‘Adl),

- ketiga : Pahaladanpembalasan (Al-Wa’dwalWa’id),

- keempat : Perhentian di antara dua perhentian (Al-Manzil baina manzilatain), dan

- kelima : Mengajak pada kebaikan dan melarang kemungkaran Amr bil ma’ruf wal nahy’an Al-munkar).

Selama kekuasaan khalifah Al-Ma’mun, Mu’tazilah berada pada puncak kekuatan mereka di Baghdad. Namun secara berangsur-angsur, kekuatan Mu’tazilah kemudian mulai surut15. Mereka kehilangan dukungan

dari Khalifah dan pada tahun tiga ratus hijrah salah seorang anggotanya yang bernama Abul Hasan Al-Asy’ari bangkit melawan mereka, dan mendirikan mahzab yang baru kalam yang disebut Asy’ari (Al-Asy’ariyyah). Abul Hasan Al-Asy’ari adalah pengikut Syafi’i dan dengan cepat beliau mendapat pengikut dari kalangan mahzab Syafi’i. Hingga abad Islam kelima, pengaruh paham Asy’ari hanya terbatas di antara kaum Syafi’i. Pada masa ini di Khurasan berkembang aliran baru kalam (kalam Muta’akhirin)yang dibangun

(17)

oleh imam Al-Haramayn Al-Juwayni. Setelah beliau, kalam Al-Muta’akhirin (kalam baru) dikembangkan secara mendalam hingga abad islam16 kedelapan.

Selain pengaruh paham Asy’ari, ada juga bentuk-bentuk perkembangan kalam hanafi tertentu yang dihubungkan dengan Al-Maturidi dan Al-Thahawi yang populer di beberapa wilayah khususnya di Khurusan dan Mesir. Pada abad Islam ketiga belas di Mesir, sejumlah pemikir keagamaan muncul, yang paling penting di antaranya adalah Jamal Din Al-Afghani dan Muhammad ‘Abduh, yang berusaha kembali menghidupkan kalam dan menambahkan ketertinggalannya dengan menampilkan beberapa tesis baru tertentu, serta berusaha menyelesaikan beberapa masalah yang muncul dikalangan umat Islam yang diakibatkan oleh peradaban modern.

d. Kalam Syi’ah

Mengenai kalam Syi’ah, mahzab Syi’ah Isma’illiyyah mengembangkan kalam pada awal sejarah Islam. Setelah berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir, kairo menjadi pusat kegiatan teologi Isma’iliyyah sementara khurasan di Persia menjadi pusat lain yang cukup besar juga.

Pada abad Islam ketujuh sebuah kalam Syi’ah yang sistematis dikembangkan oleh Nashir Al-Din Al-Thusi. Kenyataan ini agak aneh karena Nashir Al-Din adalah salah seorang astronom dan ahli matematika yang juga seorang teolog.

e. Filsafat

(18)

Nabi menganjurkan kaum muslim untuk mencari ilmu di mana pun mereka dapat menemukannya bahkan sampai jauh ke negeri Cina seperti yang dinyatakan oleh hadis terkenal “ Carilah ilmu walaupun sampai ke ngeri Cina”.

Kaum muslim tidak mempunyai alasan eksternal untuk menerjemahkan karya-karya luar ke dalam bahasa Arab. Alasannya justru berasal dari dalam struktur agama islam itu sendiri, yaitu, islam sangat mementingkan ilmu pengetahuan dan kekayaan bahwa islam menyebutkan dirinya sebagai umat islam yang terakhir, dan mewariskan setiap wahyu serta ilmu pengetahuan yang sesuai dengan prinsip Al-Tauhid (keesaan Ilahi). Dengan ajaran Islam ini dihadapan mereka, kaum muslim pernah memapankan fondasi masyarakat Islam dengan merujuk pada penerjemahan karya-karya luar yang berisi berbagai bentuk17 pengetahuan.

Periode pucak penerjemahan itu terjadi di Baghdad pada masa pemerintahan Al-Ma’mum. Pada saat itu Bayt Al-Hikmah (Gedung Kebijaksanaan) yang terkenal dibentuk oleh para penerjemah terbaik diundang dari berbagai pelosok untuk menerjemahkan karya-karya ke dalam bahasa Arab. Hasil usaha para penerjemah ini adalah kaum muslim dapat mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat purbakala dan memberi tantangan yang harus ditanggapi oleh kaum muslim.

f. Peripatesis Awal (Masyasya’un)

(19)

Dalam iklim intelektual di Baghdad, beberapa pemikiran muslim tertintu mulai berpikir tentang hubungan antara wahyu dengan akal dan berusaha mengharmoniskan ajaran islam dengan filsafat yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Yang pertama dan terdepan di antaranya adalah Abu Ya’qub Al-Kindi. Beliau mencoba untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan watak agama dan filsafat seperti hubungan antara filsafat dengan wahyu dan penalaran, makna akal, hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan dan banyak persoalan kunci18 lainnya.

Al-Kindi hidup pada abad Islam ketiga dan sesudah kejatuhan Mu’tazilah di Baghdad beliau mengasingkan diri lalu meninggal dunia dalam kesunyian. Beliau diteruskan oleh sejumlah muridnya yang kebanyakan adalah ilmuwan tetapi juga diteruskan secara tidak langsung oleh Abu Nashr Al-Farabi. Al-Farabi, salah seorang jenius terbesar yang pernah dilahirkan peradaban islam. Beliau merupakan bapak filsafat politik Islam yang menulis buku terkenal Ara’ Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah (Pendapat-pendapat warga negara utama). Beliau mencoba menyelaraskan filsafat Plato dan Aristoteles dalam konteks pandangan keesaan19 Islam.

Baghdad berlanjut menjadi pusat filsafat yang penting pada abad Islam keempat dan tokoh-tokoh seperti Abu Sulayman Al-Sijistani, terus mengajarkan filsafat di Baghdad tetapi lambat laun kegiatan filsafat islam beralih ke Khurasan. Di sinilah Abul-Hasan Al-‘Amri berusaha meneruskan

18Ibid...

(20)

karya Al-Farabidan Al-Kindi dalam mengembangkan filsafat Islam pada masa-masa awal.,dan kemudian dikenal sebagai filsafat Islam Peripatesis.

Namun karya Al-‘Amri dan filosuf-filosuf lain setelah Al-Farabi, tertupi oleh kemunculan Abu ‘Ali Ibn Sina yang tidak diragukan lagi menjadi filosuf-ilmuwan Islam terkemuka dan salah seorang jenius dunia yang pernah dilahirkan peradaban ini. Masyarakat barat memberinya gelar “Pangeran Para Dokter”, dan bukunya Al-Qur’an Fil-Thibb (Peraturan-peraturan Kedokteran)” bukan hanya menjadi buku kedokteran paling terkenal yang pernah ditulis, tetapi juga sangat penting sebagai filsafat kedokteran.

g. Serangan Terhadap Filsafat Peripatesis

Setelah Ibn Sina, perkembangan filsafat islam di wilayah Timur redup untuk beberapa waktu karena serangan kalam terhadapnya. Serangan terbesar terhadap filsafat islam datang dari Al-Ghazali yang mengejar para filosuf islam agar menentang filsafat tersebut terutama dalam tiga hal. Yaitu penciptaan dunia dari tidak ada apa-apa sama sekali, pengetahuan Tuhan tentang hal-hal yang khusus dan kebangkitan jasad. Kemudian Al-Ghazali mengkritik mereka dalam bukunya yang terkenal Tahagut Al-Falasiyah

(21)

h. Filsafat Islam di Magrib

Ketika filsafat meredup di Timur, pada saat yang sama merupakan periode yang penting meluasnya filsafat islam di wilayah Barat, di Spanyol dan Maroko. Pada saat, itu muncul sejumlah filsuf antara lain Ibn Bajjah dan Ibn Thufayl . serta Ibn Rusyd yang menjadi filosuf Peripatesis paling terkenal di20 Magrib.

Ibn Rusyd, seorang qadi Cordova, adalah seorang hakim agung dan penafsir syari’ah tetapi pada saat yang sama juga seorang filosuf besar yang tertarik pada hubungan antara agama dan filsafat; dia menulis karya tentang hal ini, di antaranya Fashl Al-Maqaal (risalah yang meyakinkan). Setelah Ibn Rusyd , beberapa tokoh filosu penting lainnya muncul di wilayah Barat dunia Islam seperti Ibn Khaldun dan Ibn Sabin. Setelah para tokoh ini, filsafat Islam di Barat dan kebanyakan Negara Arab mencampuradukannya dengan kalam pada satu sisi, dan makrifat teoritis atau Mahzab Tasawuf Ibn ‘Arabi di sisi lain yang sekaligus menandai kematiannya sebagai mahzab yang berdiri sendiri.

i. Kebangkitan Kembali Filsafat Islam di Timur

Di wilayah Timur Islam, khususnya di Persia, situasinya agak berbeda. Di tempat ini pada abad Islam keenam, muncul aliran filsafat baru yang dibangun oleh Syekh Al-Isyraq Syihab Al-Din Al-Suhrawardi, sehingga nama mahzabnya menjadi Al-Isyraq (pencerahan). Suhrawardi menulis sejumlah karya penting dan paling terkenal adalah hikmah Al-Isyraq (filsafat

(22)

pencerahan), sebuah buku yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam berikutnya. Tetapi dia juga menganggap ajaran Ibn Sina sebagai syarat mutlak yang diperlukan untuk memahami mahzab pencerahan.

Satu generasi setelah Suhrawardi, pada awal abad ketujuh, Nahir Al-Din Al-Thusi, ahli matematika, astronom dan teolog terkenal yang juga filosuf besar, berusaha menghidupkan kembali mahzah Ibn Sina. Sejak saat itu, mahxab ini sekali lagi berkembang di wilayah Timur21 Islam.

j. Mahzab Isfahan

Mahzab Isfahan dibangunoleh Mir Damad, seorang penyair, teolog sekaligus filosuf, yang mencoba mengkombinasikan ajaran Ibn Sina dan Suhrawardi.Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Qabasat (para penghasut) yang mendiskusikan panjang lebar buah pikirannya tentang waktu dan penciptaan22dunia.

Angoota mahzab Isfahan yang paling penting dan berpengaruh adalah murid Mir Damad sendiri, Shadra Al-Din Syirazi atau Mulla Shadra. Mulla Shadra menulis sejumlah penafsiran Al-Qur’an yang penting tetapi karyanya yang paling penting adalah Asfar ‘Arabi’ah fil-Hikmah Al-Muta’aliyyah (empat perjalanan) yang menyerupai “karya terakhir” filsafat islam dan dipelajari sampai hari ini oleh para terpelajar dibidangnya. Dia melakukan transformasi besar-besaran dalam pemikiran Islam dan pendirir Mahzab intelektual penting terakhir yang sangat berpengaruh bukan hanya di

(23)

Persia tetapi juga dikalangan muslin India maupun Irak, dan masih bertahan hingga hari ini.

PENUTUP

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwadibanding dengan makhluk lain,jasmani manusia adalah lemah, sedangkan rohaninya atau akal budinya dan kemauannya sangat kuat.Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang. Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Dari situlah timbul berbagai masalah yang coba diselesaikan manusia dengan logika mereka berdasarkan pengalaman dan kepercayaan yang disebut mitos.Sehubungan dengan kemajuan zaman. Lahirlah ilmu pengetahuan dan metode pemecahan masalah

(24)

Perkembangan ilmu pengetahuan yang berawal dari zaman purba hingga

pemikiran ilmiah zaman modern yang serba canggih ini telah menjadikan manusia

memperoleh kejayaan.

Perkembangan pola pikir manusia di Barat sejak renaisans hingga hari ini, agama Kristen dan juga dalam beberapa hal agama Yahudi di Barat, setelah terlibat dalam pertempuran terus-menerus melawan berbagai ideologi, filsafat, lembaga dan praktek yang bersifat sekuler dan yang menentang otoritas agama dan kenyataan hal itu sangat valid serta terlegitimasi.Saat ini peran agama di Barat sangat berbeda dibandingkan perannya dalam dunia Islam. Seluruh masyarakat Barat mengklaim dirinya sekuler dan memberlakukan hukum bukan dari agama tetapi dari pemungutan suara setidaknya di negara-negara demokrasi.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Jasin, Maskoeri. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Raja Grafindo Persada,1989.

(26)

Referensi

Dokumen terkait