• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN PENGAWASAN PERBANKAN SEBELU. dcox

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBANDINGAN PENGAWASAN PERBANKAN SEBELU. dcox"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN PENGAWASAN

PERBANKAN SEBELUM DAN SESUDAH

ADA OJK

KELOMPOK III

BAGUS PRAYOGO (1574201164)

RYAN PRATAMA (

FAKULTAS ILMU HUKUM

UNIVERSITAS LANCANG KUNING

2017

(2)

1. Latar Belakang

Sebagai masyarakat umum yang kurang paham dalam bidang keuangan banyak yang tidak mengetahui apa perbedaan tugas Bank Indonesia (BI) dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan sebenarnya berbagi kewenangan dimana saat masa pengalihan pengawasan Bank dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan memerlukan kordinasi yang baik agar tidak saling mengambil alih tugas, perbedaaan BI dengan OJK adalah BI berperan sebagai pengawas aspek makroprudensial dan OJK berperan sebagai pengawas mikroprudensial.

Pada awal tahun 2014 oleh Agus Martowardojo selaku Gubernur BI di kantor Presiden, Jakarta menyebutkan “Pada saat OJK menerima pengalihan pengawasan perbankan dari BI, OJK akan lebih mengawasi aspek mikroprudensialnya, sedangkan umum tetap ada di BI dari segi makroprudensial, namun tidak bisa betul-betul dipisahkan karenanya perlu ada sinergi dimana implementasi pengawasan mikroprudensial dan makroprudensial itu perlu dilakukan dengan baik”. Dari sini bisa kita tangkap tugas BI berfokus menjaga stabilitas keuangan contohnya aturan batas minimal uang muka kredit kendaraan bermotor, pemilikan rumah serta aturan giro wajib minimum (GWM), sedangkan tugas OJK lebih kepada pengaturan dan pengawasan individual perbankan atau lembaga keuangan. Contoh kasus yang ditangani oleh OJK yakni kasus tindak pidana perbankan, baik dari sisi nominal, kepengurusan bank,dan kualitas sumberdaya manusianya.

2. Rumusan Masalah

1. Sejarah BI (BANK INDONESIA) dan OJK (OTORITAS JASA KEUANGAN). 2. Peran Pengawasan Perbankan oleh BI dan OJK

(3)

BI (Bank Indonesia)

A. Sejarah BI

Saat kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1950, struktur perekonomian Indonesia, masih didominasi oleh struktur kolonial. Meskipun saat itu struktur perbankan Indonesia boleh dikatakan merupakan komponen sarana moneter yang tidak banyak berperan dalam operasi perbankan, tetapi kondisi semacam ini menimbulkan keinginan kuat masyarakat untuk memasukkan lebih banyak unsur nasional dalam struktur ekonomi Indonesia.

Bank Indonesia lahir setelah berlakunya Undang-Undang (UU) Pokok Bank Indonesia pada 1 Juli 1953. Sesuai dengan UU tersebut, Bank Indonesia sebagai Bank Sentral bertugas untuk mengawasi bank-bank. Namun demikian, aturan pelaksanaan ketentuan pengawasan tersebut baru ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 1/1955 yang menyatakan bahwa Bank Indonesia, atas nama Dewan Moneter, melakukan pengawasan bank terhadap semua bank yang beroperasi di Indonesia, guna kepentingan solvabilitas dan likuiditas badan-badan kredit tersebut dan pemberian kredit secara sehat yang berdasarkan asas-asas kebijakan bank yang tepat. Dari pengawasan dan pemeriksaan BI, terungkap berbagai praktik yang tidak wajar yang dilakukan, seperti penyetoran modal fiktif atau bahkan praktik bank dalam bank. Untuk mengatasi kondisi perbankan itu, dikeluarkan Keputusan Dewan Moneter No. 25/1957 yang melarang bank-bank untuk melakukan kegiatan di luar kegiatan perbankan.

B. Tugas dan peranan Bank Indonesia

Tiga pilar yang merupakan 3 bidang tugas utama dari Bank Indonesia selaku Bank Sentral adalah:

1) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter

Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Arah kebijakan didasarkan pada sasaran laju inflasi yang ingin dicapai dengan memperhatikan berbagai sasaran ekonomi makro lainnya, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.Implementasi kebijakan moneter ini dilakukan dengan menetapkan sasaran operasional, yaitu uang primer (base money). Sebagaimana kita melakukan suatu pekerjaan, pasti kita membutuhkan alat untuk mempermudah terlaksananya pekeriaan tersebut.

Demikian pula dengan Bank Indonesia. Untuk melaksanakan tugas di bidang moneter, Bank Indonesia punya alat-alat canggih yang dikenal dengan piranti moneter, Piranti moneter tersebut adalah, Operasi Pasar Terbuka, penentuan tingkat diskonto, dan penetapan cadangan wajib minimum bagi perbankan (reserve requirements).

(4)

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai lender of the last resort, Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembiayaan kepada bank yang mengalami kesulitan likuditas jangka pendek yang disebabkan oleh terjadinya mismatch dalam pengelolaan dana dengan tetap memperhatikan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam UU No. 23 Tahun 1999.

2) Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.

Selain tugasnya di bidang moneter dan perbankan, tugas Bank Indonesia lain yang tidak kalah pentingnya adalah menyelenggarakan sistem pembayaran. Antara lain dengan jalan memperluas, memperlancar, dan mengatur lalu lintas pembayaran giral dan menyelenggarakan kliring antar bank.Program pengembangan sistem pembayaran nasional yang telah dikembangkan, antara lain, Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ), Penetapan Jadwal Kliring T + 0, Bank Indonesia Layanan Informasi dan Transaksi antar Bank secara Elektronis (BILINE), Sistem Real Time Gross Settlement (RTGS), dan Sistem Transfer Dana dalam US dollar di Indonesia.

Bank Indonesia terus berupaya meningkatkan efisiensi sistem pembayaran nasional dan memperkuat sistem pengawasan (oversight) sistem pengawasan dengan mewujudkan perlindungan konsumen sistem pembayaran di Indonesia.

Di samping itu, terkait dengan tugasnya dalam bidang sistem pembayaran, Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik uang tersebut dari peredaran. Di sini Bank Indonesia memiliki hak tunggal dalam mengeluarkan uang kertas dan uang logam. Bank Indonesia harus tetap menjaga uang selalu tersedia dalam jumlah yang cukup, dalam komposisi pecahan yang sesuai, pada waktu yang tepat, dan dalam kondisi yang baik sesuai dengan kebutuhan.

3. Mengembangkan sistem perbankan dan sistem perkreditan yang sehat dengan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap perbankan.

Hingga akhir September 2000 terdapat 153 bank umum dan 7771 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang beroperasi di Indonesia. Sebagai pembina dan pengawas perbankan, Bank Indonesia bertindak seperti layaknya seorang "bapak" kepada "anak"nya.Dalam melaksanakan tugas pembinaan dan pengawasan perbankan, tugas Bank Indonesia sebagai "Bapak" adalah mengarahkan bagaimana agar tercipta perbankan yang sehat serta bermanfaat bagi perekonomian masyarakat.

(5)

Indonesia setelah terjadinya krisis, Pemerintah dan Bank Indonesia telah menempuh langkah restrukturisasi perbankan yang komprehensif sejak tahun 1998.

Bank Indonesia selaku bank sentral berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 adalah lembaga negara yang independen. Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuannya tersebut, tentu saja kegiatan yang dilakukan Bank Indonesia tidak sama dengan yang dilakukan oleh bank pada umumnya.

Jadi, walaupun ada kata "Bank" pada Bank Indonesia, Bank Indonesia tidak melakukan kegiatan komersial seperti yang dilakukan oleh bank pada umumnya baik itu Bank Umum ataupun Bank Perkreditan Rakyat. Hal ini berarti, Bank Indonesia tidak bisa menerima tabungan, giro, dan deposito dari masyarakat umum. Selain itu masyarakat umum juga tidak bisa secara langsung meminta kredit ke Bank Indonesia.

OJK (Otoritas Jasa Keuangan)

A. Sejarah Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Secara historis, ide pembentukan OJK sebenarnya adalah hasil kompromi untuk menghindari jalan buntu pembahasan undang-undang tentang Bank Indonesia oleh DPR. Pada awal pemerintahan Presiden Habibie, pemerintah mengajukan RUU tentang Bank Indonesia yang memberikan independensi kepada Bank Sentral. RUU ini disamping memberikan independensi tetapi juga mengeluarkan fungsi pengawasan perbankan dari Bank Indonesia. Ide pemisahan fungsi pengawasan dari bank sentral ini datang dari Helmut Schlesinger, mantan Gubernur Bundesbank (bank sentral Jerman) yang pada waktu penyusunan RUU (kemudian menjadi Undang-Undang No. 23 Tahun 1999) bertindak sebagai konsultan. Mengambil pola bank sentral Jerman yang tidak mengawasi bank.

Di referensi yang lain mengemukaan secara historis, ide untuk membentuk lembaga khusus untuk melakukan pengawasan perbankan telah dimunculkan semenjak diundangkannya UU No.23/1999 tentang Bank Indonesia. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa tugas pengawasan terhadap bank akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang independen, dan dibentuk dengan undang-undang. Dengan melihat ketentuan tersebut, maka telah jelas tentang pembentukan lembaga pengawasan sektor jasa keuangan independen harus dibentuk. Dan bahkan pada ketentuan selanjutnya dinyatakan bahwa pembentukkan lembaga pengawasan akan dilaksanakan selambatnya 31 Desember 2002. Dan hal tersebutlah, yang dijadikan landasan dasar bagi pembentukkan suatu lembaga independen untuk mengawasi sektor jasa keuangan.

(6)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak dapat menjadi pengawas perkembangan perbankan yang belakangan ada banyak fenomena-fenomena negatif. Seperti Kasus Bank Centuri yang melakukan penyimpangan tanpa ada ketakutan bertindak dan dikarenakan memang tidak ada lembaga tertentu yang menjadi pengawas dari bank sentury. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini bisa menjadi penting, apabila dalam perkembangan praktek perbankan dan pengawasan perlu dilakukan dengan cara yang tepat dan sesuai dengan kepentingan.

Disisi yang lain, para pakar ekonomi mengemukakan pendapat mengenai OJK ini, bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mutlak dibentuk guna mengantisipasi kompleksitas sistem keuangan global. Namun, RUU OJK harus dibahas simultan dengan paket RUU Keuangan lain, sperti RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK), RUU Pasar Modal serta amandemen UU Bank Indonesia, Perasuransian dan Dana Pensiun. Hal tersebut terungkap dalam seminar Reformasi. Sektor Keuangan memperkuat Fondasi, Daya Saing dan Stabilitas Perekonomian Nasional. Pembentukan OJK diperlukan guna mengatasi kompleksitas keuangan global dari ancaman krisis. Di sisi lain, pembentukan OJK merupakan komitmen pemerintah dalam reformasi sektor keuangan di Indonesia. Pemerintah mempunyai komitmen tinggi dan menjalankan mandat untuk melakukan reformasi di sektor keuangan.

Dengan melihat kehadiran OJK nantinya, dapat dimaksudkan untuk menghilangkan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) yang selama ini cenderung muncul. Sebab dalam OJK, fungsi pengawasan dan pengaturan dibuat terpisah. Akan tetapi meskipun OJK memiliki fungsi pengaturan dan pengawasan dalam satu tubuh, fungsinya tidak akan tumpang tindih, sebab OJK secara organisatoris akan terdiri atas tujuh dewan komisioner. Ketua Dewan Komisioner akan membawahkan tiga anggota dewan komisioner yang masing-masing mewakili perbankan, pasar modal dan lembaga keuangan nonbank (LKNB). Kewenangan pengawasan perbankan oleh Bank Indonesia akan dikurangi, namun Bank Indonesia masih mendampingi pengawasan. Kalau selama ini mikro dan makro prudensialnya di Bank Indonesia, nanti OJK akan fokus menangani mikro prudensialnya.

B. Fungsi dan Tujuan OJK

Otoritas Jasa Keuangan adalah sebuah lembaga pengawasan jasa keuangan seperti industri perbankan, pasar modal, reksadana, perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan asuransi sudah harus terbentuk pada tahun 2010. Keberadaan Otoritas Jasa Keuangan (Otoritas Jasa Keuangan) sebagai suatu lembaga pengawasan sektor keuangan di Indonesia yg perlu diperhatikan, karena ini harus dipersiapkan dgn baik segala hal untuk mendukung keberadaan Otoritas Jasa Keuangan tersebut.

a) Fungsi Otoritas Jasa Keuangan, yaitu:

1) Mengawasi aturan main yg sudah dijalankan dari forum stabilitas keuangan.  Menjaga stabilitas sistem keuangan.

(7)

 Pengawasan bank keluar dari otoritas BI sebagai bank sentral dan dipegang oleh lembaga baru.

b) Tujuan dalam pembentukan OJK (UU NO.21 TAHUN 2011 pasal 4)

2) Terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel.

 Mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil.  Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

C. Tugas dan Wewenang OJK

a) Tugas Otoritas Jasa Keuangan

Berdasarkan UU NO.21 tahun 2011 Pasal 6 tentang OJK adalah sebagai berikut :

 OJK bertugas untuk mengatur dan mengawasi semua kegiatan yang berhubungan dengan jasa keuangan di sektor perbankan. Diharapkan dengan adanya pengawasan yang serius dari OJK tersebut,tidak ada lagi penyelewengan di sektor perbankan.

 Selain bertugas untuk mengawasi jasa keuangan disektor perbankan,tugas lain yang tidak kalah penting yang harus diemban oleh OJK ialah melakukan pengawasan pada kegiatan jasa keuangan disektor pasar modal.

 Perusahaan lain yang merupakan tanggung jawab OJK adalah pengawasan pada lembaga perasuransian, lembaga pembiayaan,lembaga dana pensiun,dan jasa keuangan lain.

b) Wewenang Otoritas Jasa Keuangan.

Berdasarkan UU NO.21 tahun 2011 pasal 9, OJK dalam melaksanakan tugas pengawasan, memiliki berbagai macam wewenang,diantaranya sebagai berikut:

 OJK memilik wewenang untuk menetapkan sebuah kebijakan opersional pengawasan terhadap setiap kegiatan jasa keuangan. Harapannya dengan adanya penetapan tersebut, kegiatan jasa keuangan dapat berjalan dengan lancar.

 OJK berwenang untuk melakukan pemeriksaan, pengawasan, penyidikan, perlindungan terhadap konsumen serta tindakan lain terhadap lembaga keuangan sesuai dengan Undang-Undang.

(8)

akan meningkatkan kehati-hatian pada sektor jasa keuangan sehingga sektor jasa keuangan bisa semakin professional.

 Melakukan pengawasan terhadap setiap tugas yang dilakukan oleh kepala eksekutif. Pengawasan tersebut penting untuk dilakukan agar terjadi sebuah professional kerja,sehingga dapat berjalan sesuai dengan tujuan awal.

 Berwenang untuk melakukan perintah tertulis yang berhubungan dengan lembaga jasa keuangan maupun pihak-pihak lain. Dengan adanya wewenang tersebut diharapkan OJK akan berkembang secara independen tanpa dicampuri oleh berbagai macam pihak.

Dalam melaksanakan tugas pengaturan, OJK juga memiliki wewenang, diantaranya sebagai berikut:

 Menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini.

 Menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.  Menetapkan peraturan dan keputusan OJK.

 Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan.  Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK.

 Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapanperintah tertulis terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu.

 Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter pada Lembaga Jasa Keuangan.

 Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban.

 Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

1. Peran BI Pasca Terbentuknya OJK

Sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 8 UU No. 3 Tahun 2004, Bank Indonesia selaku bank sentral memiliki tiga kewajiban dalam menjaga kestabilan rupiah yakni menetapkan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi perbankan. Namun, sejak terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tugas BI pun berkurang dengan diserahkannya kewenangan pengaturan dan pengawasan perbankan ke OJK.

(9)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah diundangkan dan diatur dalam Undang-undang (UU) nomor 21 tahun 2011 yang disahkan pada tanggal 27 Oktober 2011 oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), setelah melalui masa 8 tahun Rancangan Undang-undang (RUU) sebelum disahkan.

Dengan disahkannya RUU OJK, maka per tanggal 31 Desember 2012, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) otomatis akan melebur ke dalam OJK. Sementara untuk pengawasan perbankan, Bank Indonesia (BI) dipersilahkan masuk ke OJK pada awal 2013, atau paling lambat Desember 2013.

2. Pengawasan Perbankan Sesudah Terbentuk OJK

Perbankan perlu diawasi dalam rangka untuk menciptakan sistem perbankan yang sehat. Ciri-ciri sistem perbankan yang sehat adalah pertama, sanggup menjaga kepentingan masyarakat. Hal ini penting mengingat besarnya dana masyarakat yang terakumulasi pada perbankan, sehingga gagalnya perbankan akan berdampak terhadap kepentingan masyarakat luas. Kedua, perbankan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengendalian moneter. Sebagai lembaga intermediasi, perbankan dituntut mampu mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Perbankan berperan menyalurkan dana masyarakat dari pihak yang kelebihan dana kepada pihak yang membutuhkan dana, untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Laju inflasi dan daya beli masyarakat juga perlu dikendalikan, sehingga tidak membebani masyarakat. Ketiga, perbankan mampu mengembangkan usahanya secara efisien dan wajar. Tingginya tingkat persaingan dapat menyebabkan inovasi yang tidak wajar dan memunculkan kegiatan perbankan yang berpotensi merugikan masyarakat. Oleh karena itu perbankan perlu di atur dan diawasi agar dapat tercapai praktik perbankan yang baik.

Sebelum terbentuk Otoritas Jasa Keuangan, perbankan diatur dan diawasi oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral. Sedangkan lembaga keuangan lainnya seperti Pasar modal, lembaga pensiun, pegadaian dan pembiayaan diatur dan diawasi oleh BAPEPAM-LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan). Masing-masing lembaga fokus pada lembaga keuangan yang di awasi. Akan tetapi hal ini mengandung kelemahan, karena praktik lembaga keuangan sekarang sudah semakin komplek. Teknologi informasi dan inovasi keuangan menghasilkan sistem keuangan yang semakin rumit, dinamis dan saling terintegrasi antar lembaga keuangan. Demikian pula dari aspek kepemilikan, konglomerasi pada lembaga keuangan menyebabkan keterkaitan antar pemilik dan pihak-pihak yang memiliki kepentingan khusus pada lembaga keuangan.

3. Tugas BI Pasca Terbentuknya OJK

(10)

bank sentral bukan hanya mengawasi bank, tetapi juga dapat mengawasi pasar modal dan lembaga keuangan non bank. Hal ini yang selama ini tidak pernah dilakukan oleh Bank Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk meyakinkan ada atau tidaknya resiko terganggunya stabilitas sistem keuangan.

Sebagai bank sentral, Bank Indonesia juga berperan sebagai lender of the last resort. Dalam hal ini apabila terdapat bank yang mengalami kesulitan keuangan dan membutuhkan pinjaman, maka Bank Indonesia bertugas memberikan bantuan pinjaman dalam bentuk Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP). Akan tetapi setelah pengaturan dan pengawasan perbankan dilakukan oleh OJK maka yang mengetahui dan menguasai informasi kondisi perbankan adalah OJK. Selanjutnya OJK akan melaporkan pada BI tentang kondisi bank yang memerlukan bantuan. Tentu saja BI tidak dapat secara cepat memutuskan untuk memberikan FPJP, akan tetapi terlebih dahulu akan melakukan konfirmasi dan peninjauan ulang. Hal ini berpotensi kurang efektifnya peran BI sebagai lender of the last resort.

Sebagai lembaga yang bertugas menjaga sistem pembayaran dan mengatur kebijakan moneter, maka Bank Indonesia menjaga kestabilan nilai rupiah. Salah satu intrumen yang dapat digunakan oleh BI adalah menentukan tingkat suku bunga acuan (BI Rate), giro wajib minimum, ketentuan devisa dan ketentuan kredit.

Pasal 39 UU No. 21 Tahun 2011 tentang OJK, mengatur bahwa OJK berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam menyusun pengaturan tertentu terkait dengan pengawasan di bidang perbankan. Kemudian, Pasal 40 UU No. 21 Tahun 2011 lebih lanjut mengatur bahwa untuk melaksanakan fungsi, tugas dan wewenangnya, misalnya dalam rangka penyusunan peraturan pengawasan, Bank Indonesia tetap berwenang untuk melakukan pemeriksaan terhadap bank dengan menyampaikan secara tertulis terlebih dahulu kepada OJK.

Berdasarkan hal tersebut, maka apabila bank mengalami kesulitan likuiditas atau memburuknya kesehatan bank, maka Bank Indonesia dapat memberikan kredit kepada bank dengan jaminan agunan berkualitas tinggi dan mudah dicairkan. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Bank Indonesia sebagai LoLR masih sangat diperlukan disektor perbankan dan OJK nantinya masih akan bergantung kepada Bank Indonesia khususnya yang terkait dengan penyelamatan bank.

PERAN BANK INDONESIA DAN OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK)

(11)

Pengawasan macroprudential, yakni pengaturan dan pengawasan selain hal yang diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang OJK merupakan tugas dan wewenang Bank Indonesia.

Pengawasan macro prudential yaitu mengatur stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan dan secara komprehensif mempersiapkan terjadinya risiko sistemik di sektor keuangan dengan upaya membatasi dampak berantai terhadap keseluruhan ekonomi negara

Tujuan dari macro-prudential supervision adalah untuk meminimalkan dampak krisis keuangan pada perekonomian suatu negara, antara lain dengan cara menginformasikan kepada otoritas publik dan industri keuangan apabila terdapat potensi ketidakseimbangan di sejumlah institusi keuangan serta melakukan penilaian mengenai potensi dampak kegagalan institusi keuangan terhadap stabilitas sistem keuangan suatu negara.

Macro-prudential supervision terfokus pada aktivitas lembaga-lembaga keuangan yang memiliki pengaruh signifikan pada pasar maupun sistem keuangan. Macroprudential

surveillance menyediakan sarana untuk memonitor dan mengatasi berbagai risiko yang akan mengancam stabilitas sistem keuangan dan ekonomi riil secara keseluruhan. Selain itu, macro-prudential surveillance juga dapat menyajikan penjelasan mengenai risiko sistemik dan mitigasi dampak rembetan dari guncangan yang terjadi pada institusi keuangan yang dapat menggangu siklus bisnis. Informasi dari Macro-prudential supervision akan membantu para pembuat kebijakan mengenai perlunya bail-out (atau tidak) terhadap suatu institusi keuangan yang tengah mengalami kesulitan likuiditas.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dalam prakteknya otoritas yang melaksanakan macro-prudential surveillance membutuhkan akses yang cepat dan mudah terhadap data-data micro-prudential dan kewenangan resmi tanpa hambatan untuk memperoleh data-data tambahan lainnya jika diperlukan. Krisis keuangan global yang terjadi saat ini telah memberikan pelajaran bahwa sangat diperlukan hubungan yang erat antara pengawas bank (micro-prudential) dan bank sentral selaku otoritas macro-prudential dalam merumuskan kebijakan yang tepat dan cepat pada saat-saat genting. Selain itu, untuk menjamin efektivitas pengawasan diperlukan independensi dari otoritas pengawas makro prudensial.

Di Indonesia, upaya memonitor dan menjaga stabilitas sistem keuangan telah dilakukan oleh Bank Indonesia sejak pertengahan tahun 2003 dengan mengembangkan berbagai metode analisa macro prudential yang mengevaluasi tingkat kesehatan, kekuatan dan kelemahan sistem keuangan nasional. Analisa macro prudential yang dilakukan selama ini dipublikasikan dalam suatu Kajian Stabilitas Keuangan secara berkala, telah membantu dalam menganalisis dan menyajikan informasi mengenai ketahanan sistem perbankan dan dampak terhadap sistem keuangan bila terjadi guncangan.Analisa dilakukan antara lain melalui pelaksanaan stress test dengan berbagai alternatif skenario untuk membantu menentukan tingkat sensitivitas atau daya tahan sistem keuangan nasional terhadap berbagai guncangan ekonomi. Disamping itu,

(12)

OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK)

Pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan, kesehatan, aspek kehati-hatian, dan pemeriksaan bank merupakan lingkup pengaturan dan pengawasan microprudential yang menjadi tugas dan wewenang OJK.

Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor Perbankan OJK mempunyai wewenang:

 pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank yang meliputi:

 perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran dasar, rencana kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia, merger, konsolidasi

dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha bank; dan

 kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana, produk hibridasi, dan aktivitas di bidang jasa;

 pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang meliputi:

 likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset, rasio kecukupan modal minimum, batas maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap simpanan, dan

pencadangan bank;

 laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank;  sistem informasi debitur;

 pengujian kredit (credit testing); dan

 standar akuntansi bank;

 pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, meliputi:

 manajemen risiko;  tata kelola bank;

 prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang; dan

(13)

Dalam melaksanakan tugasnya, OJK berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam membuat peraturan pengawasan di bidang Perbankan antara lain:

 kewajiban pemenuhan modal minimum bank;

 sistem informasi perbankan yang terpadu;

 kebijakan penerimaan dana dari luar negeri, penerimaan dana valuta asing, dan pinjaman komersial luar negeri;

 produk perbankan, transaksi derivatif, kegiatan usaha bank lainnya;

 penentuan institusi bank yang masuk kategori systemically important bank; dan

 data lain yang dikecualikan dari ketentuan tentang kerahasiaan informasi.

Micro prudential supervision

Tujuan micro-prudential supervision adalah untuk menjaga tingkat kesehatan lembaga keuangan secara individual. Untuk itu, otoritas pengawas lembaga keuangan menetapkan regulasi yang berlandaskan pada prinsip kehati-hatian yang mencakup berbagai aspek yakni permodalan, kualitas asset, manajemen, rentabilitas dan likuiditas serta sensitivitas terhadap risiko. Disamping itu OJK juga melakukan pengawasan melalui dua pendekatan yakni: (i) analisis laporan bank (off-site analysis) dan pemeriksaan setempat (on-site visit) untuk menilai kinerja dan profil risiko serta kepatuhan lembaga keuangan terhadap peraturan yang berlaku.

Pengawasan micro prudential yang akan melakukan pengaturan dan pengawasan prudential (pengawasan dan pengaturan ketentuan kehati-hatian) yang fokus pada keamanan dan kesehatan individual lembaga keuangan, termasuk bank dan lembaga keuangan non bank lainnya, dan

Kewenangan Pengaturan dan Pengawasan Bank OJK

 Kewenangan memberikan izin (right to license), yaitu kewenangan untuk menetapkan tata cara perizinan dan pendirian suatu bank, meliputi pemberian izin dan pencabutan

izin usaha bank, pemberian izin pembukaan, penutupan dan pemindahan kantor bank,

pemberian persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank, pemberian izin

(14)

 Kewenangan untuk mengatur (right to regulate), yaitu untuk menetapkan ketentuan yang menyangkut aspek usaha dan kegiatan perbankan dalam rangka menciptakan

perbankan sehat guna memenuhi jasa perbankan yang diinginkan masyarakat;

 Kewenangan untuk mengawasi (right to control), yaitu :

 Pengawasan bank secara langsung (on-site supervision) terdiri dari pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran keadaan

keuangan bank dan untuk memantau tingkat kepatuhan bank terhadap peraturan yang

berlaku, serta untuk mengetahui apakah terdapat praktik-praktik tidak sehat yang

membahayakan kelangsungan usaha bank;

 Pengawasan tidak langsung (off-site supervision) yaitu pengawasan melalui alat

pemantauan seperti laporan berkala yang disampaikan bank, laporan hasil pemeriksaan

dan informasi lainnya.

 Kewenangan untuk mengenakan sanksi (right to impose sanction), yaitu untuk menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan terhadap bank

apabila suatu bank kurang atau tidak memenuhi ketentuan. Tindakan ini mengandung

unsur pembinaan agar bank beroperasi sesuai dengan asas perbankan yang sehat;

 Kewenangan untuk melakukan penyidikan (right to investigate) Sesuai dengan UU, OJK mempunyai kewenangan untuk melakukan penyidikan di sektor jasa keuangan, termasuk

perbankan. Penyidikan dilakukan oleh penyidik kepolisian Negara RI dan pejabat Pegawai

Negeri Sipil di lingkungan OJK. Hasil penyidikan disampaikan kepada Jaksa untuk

dilakukan penuntutan.

Dalam menjalankan tugas pengawasan bank, saat ini OJK melaksanakan sistem pengawasannya dengan menggunakan 2 pendekatan yaitu:

(15)

operasi dan pengelolaan bank di masa lalu dengan tujuan untuk memastikan bahwa

bank telah beroperasi dan dikelola secara baik dan benar menurut prinsip-prinsip

kehati-hatian. Pengawasan terhadap pemenuhan aspek kepatuhan merupakan bagian yang

tidak terpisahkan dari pelaksanaan Pengawasan Bank berdasarkan Risiko;

 Pengawasan Berdasarkan Risiko (Risk Based Supervision/ RBS), yaitu pengawasan bank yang menggunakan strategi dan metodologi berdasarkan risiko yang memungkinkan

pengawas bank dapat mendeteksi risiko yang signifikan secara dini dan mengambil

tindakan pengawasan yang sesuai dan tepat waktu.

Pengawasan/pemeriksaan bank berdasarkan risiko dilakukan terhadap jenis-jenis risiko sebagai berikut :

 Risiko Kredit

 Risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan counterparty memenuhi kewajibannya.

 Risiko Pasarsiko Pasar

 Risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar (adverse movement) dari portofolio yang dimiliki oleh bank yang dapat merugikan bank. Variabel pasar antara lain suku bunga dan nilai tukar.

 Risiko Likuiditas

 Risiko yang antara lain disebabkan bank tidak mampu memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo.

 Resiko Operasional

 Risiko yang antara lain disebabkan adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank.

 Risiko Hukum

(16)

 Risiko reputasi

 Risiko yang antara lain disebabkan adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank.

 Risiko strategi

 Risiko yang antara lain disebabkan penetapan dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurangnya responsifnya bank terhadap perubahan eksternal.

 Risiko Kepatuhan

(17)

BAB III

PENUTUP 1. Kesimpulan

Sebelum adanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), fungsi regulator industri keuangan dijalankan oleh beberapa institusi. Pengawasan dan pengaturan perbankan dijalankan oleh Bank Indonesia (BI), sementara pasar modal dan industri keuangan non bank menjadi tanggung jawab Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang sekarang melebur menjadi OJK

Dalam Naskah Akademik Rancangan Udang-Undang OJK, pemerintah menilai hal tersebut perlu diubah. Ini karena globalisasi menyebabkan kemajuan dan inovasi yang berujung pada sistem keuangan yang kompleks serta saling terkait. Kemudian, adanya lembaga keuangan yang memiliki hubungan kepemilikan di berbagai sub-sektor keuangan (konglomerasi) telah menambah kompleksitas di sistem keuangan.

Perlu dilakukan penataan kembali struktur organisasi dari lembaga-lembaga yang melakukan fungsi pengaturan dan pengawasan industri jasa keuangan yang mencakup perbankan, pasar modal, dan jasa keuangan non-bank. Penataan tersebut dilakukan agar dapat dicapai

mekanisme koordinasi yang lebih efektif. Pengaturan dan pengawasan terhadap keseluruhan jasa keuangan tersebut harus dilakukan secara lebih terintegrasi,” demikian disebut dalam naskah akademik itu

Selain supaya lebih efektif, pengawasan perbankan oleh bank sentral (yang merupakan otoritas moneter) juga dinilai mengandung benturan kepentingan. Berdasarkan pengalaman di beberapa negara, penggunaan instrumen moneter berupa bantuan likuiditas cenderung lebih dipilih oleh bank sentral daripada mengedepankan asas kehati-hatian (prudential)

Hal ini dilakukan karena bank sentral ingin menutupi potensi kegagalannya dalam melakukan fungsi pengawasan dan memilih menggunakan instrumen moneter yang pada dasarnya tidak menyelesaikan inti kelemahan bank sebagai akibat pelanggaran terhadap prudential regulation. Adanya benturan kepentingan antara otoritas moneter dan bank sentral sebagai pengawas perbankan inilah yang perlu dihindari dengan cara memisahkan fungsi pengawasan dari bank sentral, yang utamanya adalah otoritas moneter,” begitu disebut dalam naskah akademik. Indonesia sudah pernah mengalami krisis keuangan dahsyat pada 1997-1998, yang disebabkan guncangan di sektor perbankan. Berdasarkan studi dan pengalaman krisis tersebut, pemerintah menilai sistem pengawasan yang tepat bagi Indonesia adalah terintegrasi, atau unified

supervisory model.

(18)

Dalam Hal ini Bank Indonesia melaksanakan Pengawasan macroprudential, yakni pengaturan dan pengawasan selain hal yang diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang OJK merupakan tugas dan wewenang Bank Indonesia. Pengawasan macro prudential yaitu mengatur stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan dan secara komprehensif mempersiapkan terjadinya risiko sistemik di sektor keuangan dengan upaya membatasi dampak berantai terhadap keseluruhan ekonomi negara

Tujuan dari macro-prudential supervision adalah untuk meminimalkan dampak krisis keuangan pada perekonomian suatu negara, antara lain dengan cara menginformasikan kepada otoritas publik dan industri keuangan apabila terdapat potensi ketidakseimbangan di sejumlah institusi keuangan serta melakukan penilaian mengenai potensi dampak kegagalan institusi keuangan terhadap stabilitas sistem keuangan suatu negara.

Macro-prudential supervision terfokus pada aktivitas lembaga-lembaga keuangan yang memiliki pengaruh signifikan pada pasar maupun sistem keuangan. Macroprudential

surveillance menyediakan sarana untuk memonitor dan mengatasi berbagai risiko yang akan mengancam stabilitas sistem keuangan dan ekonomi riil secara keseluruhan. Selain itu, macro-prudential surveillance juga dapat menyajikan penjelasan mengenai risiko sistemik dan mitigasi dampak rembetan dari guncangan yang terjadi pada institusi keuangan yang dapat menggangu siklus bisnis. Informasi dari Macro-prudential supervision akan membantu para pembuat kebijakan mengenai perlunya bail-out (atau tidak) terhadap suatu institusi keuangan yang tengah mengalami kesulitan likuiditas.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dalam prakteknya otoritas yang melaksanakan macro-prudential surveillance membutuhkan akses yang cepat dan mudah terhadap data-data micro-prudential dan kewenangan resmi tanpa hambatan untuk memperoleh data-data tambahan lainnya jika diperlukan. Krisis keuangan global yang terjadi saat ini telah memberikan pelajaran bahwa sangat diperlukan hubungan yang erat antara pengawas bank (micro-prudential) dan bank sentral selaku otoritas macro-prudential dalam merumuskan kebijakan yang tepat dan cepat pada saat-saat genting. Selain itu, untuk menjamin efektivitas pengawasan diperlukan independensi dari otoritas pengawas makro prudensial.

Sedangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaksanakan Pengawasan macroprudential, yakni pengaturan dan pengawasan selain hal yang diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang OJK

merupakan tugas dan wewenang Bank Indonesia. Pengawasan macro prudential yaitu mengatur stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan dan secara komprehensif mempersiapkan

terjadinya risiko sistemik di sektor keuangan dengan upaya membatasi dampak berantai terhadap keseluruhan ekonomi negara

Tujuan dari macro-prudential supervision adalah untuk meminimalkan dampak krisis keuangan pada perekonomian suatu negara, antara lain dengan cara menginformasikan kepada otoritas publik dan industri keuangan apabila terdapat potensi ketidakseimbangan di sejumlah institusi keuangan serta melakukan penilaian mengenai potensi dampak kegagalan institusi keuangan terhadap stabilitas sistem keuangan suatu negara.

(19)

surveillance menyediakan sarana untuk memonitor dan mengatasi berbagai risiko yang akan mengancam stabilitas sistem keuangan dan ekonomi riil secara keseluruhan. Selain itu, macro-prudential surveillance juga dapat menyajikan penjelasan mengenai risiko sistemik dan mitigasi dampak rembetan dari guncangan yang terjadi pada institusi keuangan yang dapat menggangu siklus bisnis. Informasi dari Macro-prudential supervision akan membantu para pembuat kebijakan mengenai perlunya bail-out (atau tidak) terhadap suatu institusi keuangan yang tengah mengalami kesulitan likuiditas.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

http://bunda-bisa.blogspot.com/2013/02/otoritas-jasa-keuangan.html

http://cwts.ugm.ac.id/2013/04/implikasi-pembentukan-otoritas-jasa-keuangan-terhadap-pengaturan-dan-pengawasan-perbankan-indonesia/

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/11/08/awal-2013-tampil-lembaga-super-otoritas-jasa-keuangan-ojk-506792.html

http://faqihnabhan.blogspot.com/2012/12/peran-bi-pasca-ojk.html

http://kiatdantips.blogspot.com/2011/03/tujuan-pembentukan-otoritas-jasa.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Otoritas_Jasa_Keuangan

http://otoritas-jasa-keuangan.htm

http://www.jmtlawhouse.com/?q=content/pakar-pertanyakan-status-hukum-keuangan-ojk

http://softskill-rudy.blogspot.com/2011/01/otoritas-jasa-keuangan.html http://radiansystem.com/artikel/sejarah-otoritas-jasa-keuangan-ojk/

http://zulfidianezaini.blogspot.com/2012/12/hubungan-hukum-bank-indonesia-dengan.html Iklan

Referensi

Dokumen terkait

Batasan penelitian ini adalah masalah Strategi Komunikasi Pemasaran PadaProgram Community Marketing di5 Cabang Bank Danamon yang ada di Jawa Barat. Dengan

Berdasarkan pembahasan semua parameter tesebut di atas, dapat disimpulkan bahwa produk kompos yang dihasilkan dari lokasi Timika dan Kuala Kencana sudah memenuhi kriteria

Ruang terbuka yang berada di Kampoeng Batik Laweyan terbagi menjadi ruang terbuka privat dan publik, ruang terbuka privat ini merupakan area ruang terbuka yang berada di dalam

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dipahami bahwa etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan perbutan manusia. Cara memandangnya dari sudut baik dan tidak baik,

Menimbang, bawa Pembanding meskipun oleh Pengadilan Tinggi Agama dengan putusan sela telah diberi kesempatan untuk menghadirkan saksi-saksi yang berasal dari

Pendapatan Nasional Menurut Harga yang Berlaku dan Pendapatan Nasional Riil Dengan adanya perubahan harga yang berlaku dari satu tahun ke tahun lainnya, maka nilai pendapatan

pada estimasi ketika meter pelanggan rusak) tetapi akan menjadi komponen konsumsi yang terpenting pada PDAM yang tidak menerapkan meter pelanggan.. Komponen ini mencakup juga air

Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui bukti yang lebih empiris dengan adanya ketidakonsistenan dari hasil penelitian-penelitian terdahulu pada pengaruh