Petunjuk Teknis 2014 Program Penilaian P

140 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Petunjuk Teknis 2014

Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam

Pengelolaan Lingkungan Hidup

(

PROPER)

SEKRETARIAT PROPER

(2)
(3)

DAFTAR ISI

Daftar Isi

BAB I Pendahuluan ...

4

A. Latar Belakang ...

4

B. Tujuan ...

5

C. Ruang Lingkup ...

5

BAB II Mekanisme Pelaksanaan Proper Dekonsentrasi 2014...

6

BAB III Tahap Persiapan ...

9

A. Penyusunan Tim Pelaksana PROPER ...

9

B. Penguatan Kapasitas ...

9

C. Sosialisasi ...

10

BAB IV Inspeksi Lapangan dan Supervisi ...

12

A. Pengumpulan Data Awal ...

12

B. Pelaksanaan Inspeksi ...

C. Penyusunan Berita Acara...

12

13

D. Penyusunan Laporan Inspeksi ...

13

E. Supervisi ...

15

BAB V Pemeringkatan ...

17

A. Penyusunan Hasil Evaluasi Kinerja Penaatan PROPER

(Rapor) Sementara ...

17

B. Pemberitahuan Hasil Peringkat Sementara ...

18

C. Sanggahan/Klarifikasi ...

18

D.

Review

hasil sanggahan oleh Dewan PROPER ...

19

BAB VI Peningkatan KapasitasKabupaten/Kota ...

20

BAB VII Jadwal Kegiatan Proper 2014 ...

21

BAB VIII Evaluasi dan Pelaporan ...

(4)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadiran ALLAH SWT, Petunjuk Teknis

Kegiatan Dekonsentrasi Pengawasan Pelaksanaan Pengelolaan Limbah B3,

Pengelolaan Kualitas Air dan Udara Skala Nasional melalui Program PROPER,

Tahun 2014 dapat kami susun tepat pada waktunya.

Dalam rangka menjawab pengelolaan lingkungan yang lebih baik, Deputi

Pengendalian Pencemaran Lingkungan mengupayakan perencanaan program dan

kegiatan Pengawasan Pelaksanaan Pengelolaan Limbah B3, Pengelolaan Kualitas

Air dan Udara Skala Nasional melalui Program PROPER, dapat dilaksanakan

secara terarah dan terukur oleh Pemerintah Provinsi sesuai sasaran kinerja

Kementerian Lingkungan Hidup.

Petunjuk teknis ini diharapkan dapat digunakan oleh Pemerintah Provinsi dalam

melaksanakan kegiatan dekonsentrasi di daerah dalam upaya meningkatkan

ketaatan perusahaan terhadap lingkungan hidup dan menjaga agar pencemaran

lingkungan hidup dapat dicegah sejak dini.

Akhir kata kami berharap Petunjuk Teknis ini bermanfaat bagi para pihak dalam

mengupayakan perbaikan kualitas lingkungan demi terwujudnya pembangunan

yang berkelanjutan. Saran dan masukan terhadap Petunjuk Teknis ini akan sangat

bermanfaat dalam meningkatkan kinerja PROPER.

Jakarta,

Februari 2014

Deputi MENLH Bidang

Pengendalian Pencemaran

Lingkungan

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan sebagai bagian dari sistem penyelenggaraan

Pemerintahan di Indonesia, pada hakekatnya dimaknai sebagai bentuk kepedulian

Pemerintah Pusat terhadap Daerah melalui pendelegasian kewenangan yang

dimiliki dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antar daerah agar

terpeliharanya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan utama penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas perbantuan adalah untuk

mempercepat kesejahteraan masyarakat di daerah, sebagaimana dimaksud dalam

konsideran Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah,

serta penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi

dan Tugas Pembantuan.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan

Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan

Daerah Provinsi, dan

Pemerintahan

Daerah Kabupaten/Kota, telah menetapkan urusan bidang

lingkungan hidup yang menjadi Kewenangan Pemerintah, Pemerintah Provinsi

dan Pemerintah Kabupaten/Kota berdasarkan kriteria eksternal, akuntabilitas dan

efisiensi.

Dalam pelaksanaan urusan pemerintah di bidang lingkungan hidup, Menteri

memandang perlu untuk menyelenggarakan dekonsentrasi bidang lingkungan

hidup kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah.

Dekonsentrasi bidang lingkungan hidup tersebut diharapkan dapat meningkatkan

kapasitas daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup dan menjunjung

pencapaian sasaran prioritas nasional yang termuat dalam Program Pengelolaan

Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup yang diukur berdasarkan indikator

kinerja utama meningkatnya pengawasan ketaatan pengendalian pencemaran air

limbah dan emisi; menurunnya pencemaran lingkungan pada air, udara, sampah,

dan limbah B3; memastikan penghentian kerusakan lingkungan di daerah aliran

sungai (DAS); tersedianya kebijakan di bidang perlindungan atmosfir dan

pengendalian dampak perubahan iklim; dan meningkatnya kapasitas pengelolaan

sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

(6)

B. Tujuan

Tujuan petunjuk teknis ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi institusi

pengelola lingkungan hidup tingkat Provinsi dalam melaksanakan tugas

dekonsentrasi PROPER.

C. Ruang Lingkup

(7)

BAB II

MEKANISME PELAKSANAAN DEKONSENTRASI PROPER 2014

Pada periode penilaian PROPER tahun 2013-2014, Kementerian Lingkungan Hidup

menargetkan akan melakukan evaluasi kinerja lingkungan terhadap 1911

perusahaan dengan ketentuan:

a.

1087 perusahaan pengawasan penaatan dilakukan oleh 30 provinsi;

b. 239

perusahaan pengawasan penaatan dilakukan oleh Kementerian

Lingkungan Hidup;

c.

585 perusahaan yang memperoleh peringkat taat dalam 3 periode PROPER

terakhir, atau memperoleh peringkat lebih dari yang dipersyaratkan dalam 1

periode PROPER terakhir pengawasan penaatan dilakukan oleh Kementerian

Lingkungan Hidup melalui mekanisme

self assesment

;

d. Pengawasan dan usulan peringkat Biru, Merah dan Hitam dilakukan oleh 30

Provinsi dan Tim Teknis PROPER Kementerian Lingkungan Hidup;

e.

Penilaian Hijau dan Emas dilakukan oleh Tim Teknis PROPER Kementerian

Lingkungan Hidup;

f.

Penetapan peringkat dilakukan oleh Menteri Lingkungan Hidup.

Penetapan provinsi yang berperan serta pada pelaksanaan Dekonsentrasi PROPER

2014 telah ditentukan melalui Rapat Pertemuan dengan Kepala Badan Lingkungan

Hidup Provinsi atau yang melawakili. Pada pertemuan tersebut telah disetujui

jumlah dan nama perusahaan yang akan dilakukan pengawasan penaatan oleh 30

Provinsi. Untuk memperbaharui data perusahaan yang mutakhir, Deputi Bidang

Pengendalian Pencemaran Lingkungan telah mengirimkan surat No. B-566

/Dep.II/LH/PDAL/01/ 2014 Perihal usulan peserta proper 2014. Seluruh provinsi

telah memberikan respon dengan rekapitulasi jumlah industri yang diusulkan

sebagai berikut:

Tabel 1. Distribusi perusahaan peserta PROPER melalui mekanisme dekonsentrasi.

No. PROVINSI JUMLAH

1 Aceh

14

2 Bali

25

3 Banten

80

4 Bengkulu

25

5 D.I. Yogyakarta

25

6 DKI Jakarta

58

7 Gorontalo

6

8 Jambi

35

9 Jawa Barat

80

10 Jawa Tengah

75

11 Jawa Timur

50

12 Kalimantan Barat

34

13 Kalimantan Selatan

26

14 Kalimantan Tengah

19

(8)

No. PROVINSI JUMLAH

16 Kep. Bangka Belitung

41

17 Kepulauan Riau

15

18 Lampung

72

19 Maluku

27

20 NTB

30

21 Papua Barat

8

22 Riau

52

23 Sulawesi Barat

6

24 Sulawesi Selatan

49

25 Sulawesi Tengah

24

26 Sulawesi Tenggara

15

27 Sulawesi Utara

40

28 Sumatera Barat

28

29 Sumatera Selatan

55

30 Sumatera Utara

57

TOTAL

1087

Keterangan : MPJ = Sektor Manufaktur Prasarana Jasa; PEM = Sektor Pertambangan Energi Migas; AGRO = Sektor Agroindustri

Dekonsentrasi PROPER dilaksanakan dengan melaksanakan 4 tahapan

pelaksanaan PROPER sebagai berikut :

1. Persiapan;

2. Inspeksi Lapangan dan Supervisi;

3. Pemeringkatan Penaatan;

4. Peningkatan Kapasitas.

(9)

Dalam melaksanakan dekonsentrasi PROPER terdapat beberapa prinsip dasar yang

digunakan sebagai pedoman pelaksanaannya. Salah satu prinsip dasar adalah

pelaksanaan PROPER yang didekonsentrasikan kepada 31 Provinsi tersebut di atas,

Kriteria Penilaian PROPER dan Mekanisme Pelaksanaan PROPER wajib mengikuti

ketentuan PROPER Kementerian Lingkungan Hidup.

Untuk menjamin kredibilitas dan akuntabilitas pelaksanaan PROPER, semua

aparat yang terlibat dalam pelaksanaan PROPER

wajib melaksanakan etika

Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup, yakni:

1. Menaati semua ketentuan disiplin dan sumpah pegawai negeri;

2. Menghindari setiap pertentangan kepentingan karena faktor finansial atau

kepentingan lainnya yang berkaitan dengan hasil pengawasan;

3. Berkomunikasi secara sopan dan profesional dengan petugas dari penanggung

jawab usaha dan/atau kegiatan;

4. Menguasai dan menerapkan konsep K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

selama melaksanakan pengawasan;

5. Melaporkan fakta-fakta hasil pengawasan secara lengkap, akurat, dan obyektif;

6. Selalu berupaya meningkatkan pengetahuan profesional dan keterampilan

teknis;

7. Berpenampilan pantas termasuk mengenakan pakaian dan peralatan pelindung

untuk keselamatan kerja;

(10)

BAB III

TAHAP PERSIAPAN

Tahap persiapan pada dasarnya adalah persiapan untuk melaksanakan kegiatan

PROPER selanjutnya. Perangkat lunak seperti Kriteria Penilaian, perusahaan yang

akan di PROPER, Sumberdaya manusia yang akan melaksanakan PROPER perlu

disiapkan agar pelaksanaan PROPER sesuai dengan target dan jadwal yang

ditetapkan. Adapun langkah-langkah tahap persiapan antara lain adalah:

A. Penyusunan Tim Pelaksana PROPER

Tahap pertama dalam persiapan pelaksanaan dekonsentrasi PROPER 2014 adalah

melakukan penyusunan Tim Pelaksana PROPER Provinsi. Langkah-langkah

penyusunan tim adalah sebagai berikut :

1. Kepala Institusi Lingkungan Hidup Provinsi menetapkan susunan Tim

Pelaksana PROPER Provinsi dalam suatu surat keputusan dengan susunan

sebagai berikut:

a. Ketua Tim Pelaksana PROPER, adalah Kepala Bidang yang menangani

pengawasan.

b. Sekretariat Tim Pelaksana PROPER Provinsi:

1) Staf administrasi yang bertugas menyelesaikan urusan administrasi dan

keuangan.

2) Tim Pengolah Data yang bertugas mengelola data hasil pengawasan

lapangan dan menyiapkan Rapor, Tim Pengolah Data harus menguasai

komputer terutama aplikasi Ms Word dan Ms Excel.

c. Tim Inspeksi PROPER Provinsi, adalah pejabat pengawas lingkungan hidup

daerah atau staf teknis yang memperoleh pelatihan pengawasan PROPER.

d. Khusus

untuk

penilaian

aspek

kerusakan

lingkungan

kegiatan

pertambangan dapat dilakukan bekerjasama dengan inspektur tambang

pada instansi pertambangan Provinsi.

2.

Kepala Intitusi Lingkungan Hidup Provinsi menyampaikan Surat Keputusan

Tim Pelaksana PROPER Provinsi kepada Ketua Tim Teknis PROPER melalui

Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan Hidup.

B. Penguatan Kapasitas

(11)

Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Maluku, NTB, Riau, Sulawesi Selatan,

Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera

Utara dan Papua.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan penguatan kapasitas dan

penyegaran dengan ketentuan:

Penguatan Kapasitas Petugas Inspeksi PROPER Provinsi

Sekretariat PROPER Provinsi menyelenggarakan penguatan kapasitas sumberdaya

manusia kepada Petugas Inspeksi PROPER Provinsi atau Petugas Inspeksi

Kabupaten/Kota dengan ketentuan :

1. Melibatkan Tim teknis PROPER Kementerian Lingkungan Hidup dalam

pelaksanaan penguatan kapasitas PROPER.

2. Sekretariat PROPER Provinsi mengkoordinasikan pelaksanaan penguatan

kapasitas dan menerbitkan sertifikat kelulusan penguatan kapasitas bagi Petugas

Inspeksi PROPER Provinsi.

3. Sertifikat Petugas Inspeksi PROPER didasarkan atas uji kompetensi dan tingkat

kehadiran peserta dalam kegiatan peningkatan kapasitas.

4. Petugas Inspeksi PROPER Provinsi yang telah memperoleh sertifikat dapat

melakukan peningkatan kapasitas kepada Petugas Inspeksi PROPER

Kabupaten/Kota dengan menggunakan muatan materi yang ditetapkan oleh

Tim Teknis PROPER KLH.

Output kegiatan:

1.

Jumlah orang yang mengikuti penyegaran PROPER dan penguatan kapasitas;

2.

Jumlah orang yang mendapat sertifikat penguatan kapasitas PROPER;

3.

Laporan pelaksanaan kegiatan penguatan kapasitas PROPER;

C. Sosialisasi

Petugas Inspeksi PROPER Provinsi mengadakan sosialisasi PROPER kepada

perusahaan dalam rangka menginformasikan keikutsertaan dan kriteria serta

mekanisme PROPER dengan ketentuan :

1. Petugas Inspeksi PROPER Provinsi mengundang perusahaan peserta PROPER

tahun 2013-2014 di wilayahnya.

2. Pelaksanaan Sosialisasi menggunakan narasumber dari Petugas Inspeksi

PROPER Provinsi yang telah memiliki sertifikat penguatan kapasitas/PPLHD.

3. Tidak diperkenankan memungut anggaran dari perusahaan atau peserta untuk

pelaksanaan sosialisasi.

4. Sekretariat

PROPER

Provinsi

mendokumentasikan

jumlah

dan

kehadiran/absensi perusahaan yang memperoleh sosialisasi, peserta sosialisasi

dan menyelesaikan laporan pelaksanaan kegiatan sosialisasi.

(12)

melalui berbagai metode seperti pencetakan dan penyebaran

leaflet

dan

booklet,

seminar dan

workshop

, dan kegiatan dengan media massa.

Output:

1. Jumlah perusahaan yang memperoleh sosialisasi;

2. Jumlah peserta sosialisasi;

(13)

BAB IV

INSPEKSI LAPANGAN DAN SUPERVISI

A. Pengumpulan Data Awal

Pengumpulan data awal bertujuan mengumpulkan informasi awal, yang

digunakan untuk menyusun strategi inspeksi lapangan. Persiapan yang baik

dengan informasi awal yang lengkap merupakan faktor penentu utama

pelaksanaan inspeksi yang efektif dan efisien.

Pengumpulan data awal dilaksanakan dengan ketentuan :

1.

Petugas Inspeksi PROPER Provinsi mengumpulkan data awal berupa :

a.

Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER dan Hasil Evaluasi Kinerja

Penaatan PROPER bagi perusahaan yang telah diperingkat periode penilaian

sebelumnya.

b.

Laporan Pelaksanaan RKL/RPL atau UKL/UPL.

c.

Laporan Pelaksanaan Izin.

d.

Profil Perusahaan yang memuat informasi dasar seperti nama dan alamat

perusahaan, kapasitas produksi atau jasa, proses produksi atau jasa, upaya

pengendalian penemaran yang dilakukan dan upaya penanganan limbah B3.

2. Petugas Inspeksi PROPER Provinsi dapat mengumpulkan data dengan

kuisioner untuk perusahaan baru dan menyampaikan hasil kuesioner kepada

Sekretariat PROPER.

Output:

Data kuesioner yang telah diisi oleh perusahaan.

B. Pelaksanaan inspeksi

Dalam rangka pengambilan data sekunder dan primer Petugas Inspeksi PROPER

Provinsi melakukan inspeksi lapangan dengan ketentuan:

1. Setiap Tim Inspeksi terdiri atas:

a.

Petugas Inspeksi PROPER Provinsi : 2 (dua) orang

yang telah memperoleh

sertifikat pelatihan PROPER dan/atau PPLHD;

b.

Petugas Inspeksi PROPER Kabupaten/Kota : 1 (satu) orang

yang telah

memperoleh sertifikat pelatihan PROPER dan/atau PPLHD.

Untuk

melakukan

pengawasan

Aspek

Pengendalian Pencemaran

Air,

Pengendalian Pencemaran

Udara

dan Pengelolaan Limbah B3 serta

pengendalian kerusakan lingkungan (khusus kegiatan pertambangan);

(14)

3. Tim Inspeksi lapangan harus dilengkapi dengan surat tugas dengan ketentuan:

a.

Nama petugas tim inspeksi lapangan harus sesuai dengan yang tercantum

dalam SK Tim Inspeksi PROPER Provinsi.

b.

Nama petugas yang menandatangani Berita Acara Hasil Pengawasan

PROPER harus sesuai dengan nama yang tercantum dalam surat tugas.

4. Pelaksanaan inspeksi yang dilakukan harus mengacu pada panduan inspeksi

PROPER.

5. Pelaksanaan inspeksi dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut:

a. Tahap I : April - Mei;

b. Tahap II : Mei - Juli.

6. Pada setiap akhir tahap inspeksi, Petugas Inspeksi PROPER Provinsi sudah

harus menyelesaikan inspeksi dengan target sebagai berikut :

Tabel 2. Tahapan Inspeksi

TAHAP

INSPEKSI

TARGET

INSPEKSI

KETERANGAN

I

30 %

II

100 %

7. Tim Pelaksana PROPER Provinsi wajib melaporkan kemajuan pelaksanaan

inspeksi kepada Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan Hidup setiap

bulan.

8. Pengujian sampel air limbah wajib dilakukan oleh laboratorium yang

terakreditasi atau laboratorium yang ditunjuk oleh Gubernur.

9. Lokasi pengambilan sampel air limbah wajib dilakukan pada titik penaatan.

10. Seluruh biaya pelaksanaan inspeksi ditanggung oleh biaya APBN Kementerian

Lingkungan Hidup melalui dana dekonsentrasi.

C. Penyusunan Berita Acara

1. Pada akhir pengawasan harus disusun Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER,

yang didalamnya paling tidak memuat informasi :

a. Halaman Berita Acara Pengawasan;

b. Informasi umum usaha dan atau kegiatan yang dinilai;

c. Bagian 1 memuat :

1) Kinerja penaatan dalam pengendalian pencemaran air dan data

perhitungan beban pencemaran air;

2) Kinerja penaatan dalam pengendalian pencemaran udara dan data

perhitungan beban pencemaran udara;

3) Kinerja penaatan pengendalian pencemaran air dan udara dihitung

berdasarkan matriks penaatan;

4) Kinerja penaatan pengelolaan limbah B3;

(15)

6) Kinerja penaatan dalam pengendalian kerusakan lingkungan (khusus

untuk kegiatan pertambangan);

d. Bagian 2 memuat :

1) Foto-foto hasil pengawasan lapangan;

2) Lampiran data Swa Pantau yang dilaporkan usaha dan atau kegiatan

yang dinilai;

3) Lampiran hasil Pengisian Daftar Isian penilaian Pengelolaan Limbah B3;

4) Lampiran hasil Pengisian Daftar Isian Penilaian Kriteria Potensi

Kerusakan Lahan (khusus untuk kegiatan pertambangan).

2. Format Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER

sesuai lampiran I

.

3. Kinerja penaatan pengendalian pencemaran air dan udara dihitung berdasarkan

matriks penaatan

sesuai lampiran II

;

4. Jika perusahaan menolak untuk dilakukan pengawasan, Tim Inspeksi Lapangan

wajib membuat Berita Acara Penolakan Pengawasan PROPER

sesuai lampiran

III

.

5. Sekretariat PROPER Provinsi wajib mendokumentasikan secara sistematis

Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER dan Berita Acara Penolakan

Pengawasan PROPER. Sekretariat PROPER Provinsi wajib mendokumentasikan

Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER dan Berita Acara Penolakan

Pengawasan PROPER dalam bentuk data elektronik (

scan

) selain tetap

mendokumentasikan berkas dalam bentuk manual

(hard copy)

.

6. Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER wajib disampaikan kepada Sekretariat

PROPER Kementerian Lingkungan Hidup dapat berupa data elektronik (

soft

copy

) maupun manual

(hard copy)

.

7. Tim Teknis PROPER Kementerian Lingkungan Hidup mempunyai hak penuh

untuk mengakses dokumentasi Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER dan

Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER dan Berita Acara Penolakan

Pengawasan PROPER.

Output kegiatan:

1.

Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER atau Berita Acara Penolakan

Pengawasan PROPER;

2.

Foto-foto hasil pengawasan lapangan;

3.

Data Swa Pantau (dalam form berita acara) yang dilaporkan usaha dan atau

kegiatan yang dinilai;

4.

Data hasil pengambilan sampel oleh instansi lingkungan hidup daerah;

5.

Hasil Pengisian Daftar Isian penilaian Pengelolaan Limbah B3 (dalam form

berita acara);

(16)

D. Penyusunan Laporan Inspeksi

Laporan inspeksi adalah laporan Tim Inspeksi lapangan kepada atasan

masing-masing untuk melaporkan hasil pengawasannya sehingga atasan dapat segera

mengambil tindakan jika ditemukan hasil pengawasan yang berpotensi atau telah

melanggar peraturan lingkungan hidup dan berpotensi atau telah menyebabkan

terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Pada setiap akhir kunjungan inspeksi lapangan, petugas inspeksi wajib

menyelesaikan laporan inspeksi berupa ringkasan ketaatan perusahaan dalam

aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan

limbah B3, dan pengendalian kerusakan lingkungan (khusus kegiatan

pertambangan) serta hal-hal yang perlu mendapat perhatian kepada atasan

masing-masing dengan dilampiri oleh:

a.

Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER.

b.

Foto-foto hasil pengawasan lapangan.

c.

Data Swapantau (dalam form berita acara) yang dilaporkan usaha dan atau

kegiatan yang dinilai.

d.

Data hasil pengambilan sampel oleh Tim Pelaksana PROPER Provinsi

1

.

e.

Hasil Pengisian Daftar Isian penilaian Pengelolaan Limbah B3 (dalam form berita

acara).

f.

Hasil Pengisian Daftar Isian Penilaian Kriteria Potensi Kerusakan Lahan.

g.

Data Perhitungan Beban Pencemaran.

Laporan inspeksi wajib didokumentasikan oleh Sekretariat Tim Pelaksana PROPER

Provinsi secara sistematis sehingga mudah ditelusuri. Tim Teknis PROPER

Kementerian Lingkungan Hidup memiliki hak penuh untuk mengakses laporan

inspeksi ini.

Output Kegiatan:

Dokumentasi laporan inspeksi lapangan

E. Supervisi

Kegiatan Supervisi dilakukan untuk merekapitulasi hasil inspeksi dan menyusun

Draft Hasil Evaluasi Kinerja Penaatan PROPER Sementara. Supervisi dilaksanakan

secara bertahap pada setiap akhir tahapan inspeksi lapangan dengan jadwal

pelaksanaan sebagai berikut:

Tabel 3. Tahapan Supervisi

SUPERVISI

TANGGAL

Tahap I

Mei

Tahap II

Juni dan Juli

Pelaksanaan Supervisi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

(17)

1. Tim Pelaksana PROPER Provinsi menyiapkan materi supervisi sebagai berikut :

a. Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER dan Berita Acara Penolakan

Pengawasan PROPER beserta lampirannya.

b. Laporan hasil inspeksi.

c. Data-data kualitas air limbah, emisi dan pengelolaan limbah B3.

d. Draft Hasil Evaluasi Kinerja Penaatan PROPER Sementara. Format dan

ketentuan tentang Draft Hasil Evaluasi Kinerja Penaatan PROPER Sementara

mengacu kepada Sub Bab Penyusunan Hasil Evaluasi Kinerja Penaatan

PROPER (Rapor) Sementara pada bagian selanjutnya petunjuk teknis ini.

2. Tim Teknis PROPER Kementerian Lingkungan Hidup melakukan supervisi

terhadap proses penyusunan Draft Hasil Evaluasi Kinerja Penaatan PROPER

Sementara.

3. Tim Pelaksana PROPER Provinsi bersama dengan Tim Teknis PROPER

Kementerian Lingkungan Hidup menyusun Rekapitulasi Status Penaatan Awal

Perusahaan (

Lampiran V

) dan Berita Acara Supervisi.

4. Tim Pelaksana PROPER Provinsi melaporkan hasil supervisi kepada Kepala

Instansi Lingkungan Hidup Provinsi, sedangkan Tim Teknis PROPER

Kementerian Lingkungan Hidup melaporkan hasil supervisi kepada Ketua Tim

Teknis PROPER melalui Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan Hidup.

5. Sekretariat PROPER Provinsi dan Kementerian Lingkungan Hidup wajib

mendokumentasikan Laporan Hasil Supervisi.

Output kegiatan:

1. Kumpulan Hasil Inspeksi.

2. Draft Hasil Evaluasi Kinerja PenaatanPROPER Sementara.

3. Rekapitulasi Status Penaatan Awal Perusahaan

(18)

BAB V

PEMERINGKATAN

A.

Penyusunan Hasil Evaluasi Kinerja Penaatan PROPER (Rapor) Sementara

Langkah pertama untuk pemeringkatan adalah penyusunan Rapor sementara. Pada

tahapan ini sebenarnya adalah tahapan untuk memutakhirkan Draft Hasil Evaluasi

Kinerja Penaatan PROPER Sementara yang telah disusun pada saat supervisi

dengan memasukkan data-data pemantauan dan neraca limbah B3 yang terbaru.

Adapun pelaksanaan penyusunan Rapor Sementara dilakukan dengan ketentuan :

1.

Petugas inspeksi PROPER wajib menyelesaikan Rapor Sementara berdasarkan

Berita Acara Hasil Pengawasan PROPER, foto-foto hasil pengawasan lapangan,

Data Swa Pantau yang dilaporkan perusahaan, Data hasil pengambilan sampel

oleh instansi lingkungan hidup, Hasil Pengisian Daftar Isian penilaian

Pengelolaan Limbah B3, Hasil Pengisian Daftar Isian Penilaian Kriteria Potensi

Kerusakan Lahan dan perbaikan yang telah dilakukan perusahaan

dalam

bentuk form Isian umum, Pengendalian Pencemaran Air, udara,

dokumen/izin lingkungan dan Pengelolaan Limbah B3.

2. Rapor Sementara adalah penilaian sementara kinerja pengelolaan lingkungan

aspek Pengendalian Pencemaran Air, Pengendalian Pencemaran Udara,

Dokumen/izin lingkungan, Pengelolaan limbah B3 dan pengendalian kerusakan

lahan (khusus kegiatan pertambangan) sesuai dengan kriteria penilaian

PROPER.

3. Format Rapor Sementara yang memuat kinerja perusahaan dalam pengendalian

pencemaran air, udara dan limbah B3 serta pengendalian kerusakan

lingkungan (khusus kegiatan pertambangan) mengacu pada :

a. Format Rapor Sementara yang ditetapkan oleh Tim Teknis;

b. Dihitung dengan menggunakan

matrik pengendalian pencemaran air dan

udara sesuai lampiran II

.,

dan pengelolaan limbah B3

4. Tim

Pelaksana

PROPER

Provin

si

kemudian

menyusun

status

penaatan/peringkat awal perusahaan sesuai lampiran V, yang merup

akan

hasil rekapitulasi dari Rapor Sementara.

5. Tim Pelaksana PROPER Provinsi selanjutnya melaporkan secara tertulis hasil

status penaatan / peringkat awal perusahaan kepada Kepala instansi

lingkungan hidup Provinsi, untuk kemudian disampaikan kepada Sekretariat

PROPER.

(19)

7. Tim Teknis PROPER Kementerian Lingkungan Hidup melakukan supervisi

kepada Tim Pelaksana PROPER Provinsi untuk memastikan kesesuaian Rapor

Sementara dengan kriteria penilaian PROPER, validitas data dan menjamin

kredibilitas pelaksanaan PROPER serta kesesuaian dengan jadwal pelaksanaan

PROPER yang telah ditetapkan.

8. Tim Pelaksana PROPER Provinsi bersama dengan Tim Teknis PROPER

Kementerian Lingkungan Hidup menyusun status penaatan/peringkat awal

perusahaan, yang merupakan hasil rekapitulasi dari rapor sementara dan Berita

Acara Penyusunan Peringkat Sementara.

Output kegiatan:

1.

Rapor Sementara hasil evaluasi pengawasan kinerja penaatan PROPER;

2.

Rekapitulasi status penaatan;

3.

Berita Acara Penyusunan Peringkat Sementara atau Berita Acara Supervisi;

4.

Surat penyampaian status penaatan usaha dan atau kegiatan yang dinilai dan

peringkat awal usaha dan atau kegiatan.

B. Pemberitahuan hasil peringkat sementara

Setelah Rapor Sementara diselesaikan, langkah selanjutnya adalah menyampaikan

Rapor tersebut kepada perusahaan untuk memperoleh tanggapan. Langkah

langkah untuk memberitahukan hasil peringkat sementara adalah sebagai berikut :

1.

Kepala institusi lingkungan hidup Provinsi menyampaikan secara tertulis hasil

status sementara penaatan Perusahaan beserta Rapor Sementara kepada Ketua

Tim Teknis melalui Sekretariat PROPER bulan September.

2.

Rapor Sementara disampaikan kepada Perusahaan pada bulan September

3.

Pemberitahuan peringkat sementara secara tertulis ke Perusahaan dilakukan

melalui surat Ketua Tim Teknis PROPER.

4.

Tim Pelaksana PROPER Provinsi wajib memiliki sistem untuk memastikan

Peringkat Kinerja Sementara dan Rapor Kinerja Sementara dapat diterima oleh

Perusahaan yang dinilai.

Output kegiatan:

1.

Berita acara penerimaan Rapor Sementara;

2.

Tanda terima pengiriman dokumen.

C. Sanggahan/Klarifikasi

Untuk menciptakan keadilan dalam pelaksanaan PROPER, Perusahaan yang dinilai

diberi kesempatan untuk menyampaikan sanggahan terhadap hasil penilaian

peringkat kinerja sementara.

Langkah-langkah untuk menampung dan

menanggapi sanggahan perusahaan adalah sebagai berikut :

(20)

2. Sanggahan ini harus dalam bentuk tertulis yang diantar langsung ataupun

dikirim melalui fax dan pos untuk selanjutnya mendapat bukti tanda terima

dokumen sanggah. Apabila tidak ada sanggahan dalam jangka waktu 2 minggu

setelah pemberitahuan hasil peringkat sementara maka Perusahaan dianggap

menerima hasil Peringkat Kinerja Sementara dan Rapor Kinerja Sementara.

3. Tim Pelaksana PROPER Provinsi melakukan evaluasi terhadap dokumen

sanggahan pada

bulan Oktober. Hasil evaluasi dokumen sanggahan

didiskusikan dengan Tim Teknis PROPER untuk menyepakati usulan peringkat

akhir pada bulan Oktober.

4. Sanggahan tertulis dapat dilakukan setelah dilakukan kesepakatan dengan Tim

Teknis PROPER KLH.

5. Perbaikan peringkat perusahaan hanya dapat dilakukan jika :

a. Terdapat kesalahan data yang dimasukkan kedalam Rapor sementara oleh

Tim Pelaksana PROPER Provinsi,

b. Melengkapi data yang masih belum dimasukkan oleh Tim Pelaksana

PROPER Provinsi.

6. Jika terdapat sanggahan yang tidak berkaitan dengan ketentuan angka 5, maka

wajib didiskusikan dengan Tim Teknis PROPER Kementerian Lingkungan

Hidup untuk menentukan perlu atau tidaknya perubahan peringkat

perusahaan.

Output kegiatan:

Tanda terima dokumen sanggahan;

D.

Review

hasil sanggahan oleh Dewan PROPER

Berdasarkan hasil verifikasi sanggahan yang dilakukan oleh Tim Pelaksana

PROPER Provinsi bersama dengan Tim Teknis PROPER. Adapun langkah-langkah

review hasil sanggahan adalah sebagai berikut :

1.

Dewan pertimbangan akan melakukan review terhadap usulan peringkat akhir

Perusahaan.

2.

Dalam melakukan review terhadap usulan peringkat akhir Perusahaan, Dewan

Pertimbangan

dapat

melakukan

verifikasi langsung

ke Perusahaan yang

bersangkutan.

(21)

BAB VI

PENINGKATAN KAPASITAS KABUPATEN/KOTA

Tim Pelaksana PROPER Provinsi

dapat

melakukan peningkatan kapasitas kepada

Tim Pelaksana PROPER Kabupaten/Kota dengan menggunakan muatan materi

yang ditetapkan oleh Ketua Tim Teknis PROPER.

Lingkup peningkatan kapasitas mencakup :

a.

Kriteria dan mekanisme pelaksanaan PROPER;

b. Tata cara pengawasan penaatan lingkungan hidup (pengendalian pencemaran

air, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah B3, serta

pengendalian kerusakan lingkungan, khusus kegiatan pertambangan);

c.

Cara penyusunan Berita Acara Hasil Pengawasan;

d. Cara pengolahan data hasil pengawasan;

e.

Cara penyusunan Rapor Sementara dan,

f.

Cara penyusunan Rapor final.

Kepala instansi lingkungan hidup Provinsi memberikan sertifikat kepada para

peserta penguatan kapasitas yang lulus.

Kepala instansi lingkungan hidup Provinsi menyampaikan laporan hasil

pelaksanaan penguatan kapasitas kepada Ketua Tim Teknis PROPER.

Output kegiatan:

1.

Jumlah orang yang dilatih;

2.

Jumlah orang yang mendapat sertifikat;

(22)

BAB VII

JADWAL KEGIATAN PROPER

Pelaksanaan kegiatan PROPER dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut :

Kegiatan Waktu (bulan)

Peningkatan Kapasitas dan Sosialisasi Mekanisme

dan Kriteria PROPER kepada Perusahaan Maret - April

Kunjungan Lapangan Tahap I Mei - Juni

Supervisi Tahap I

Mei

Kunjungan Lapangan Tahap II

Mei Juli

Supervisi Tahap II

Juni dan Juli

Pengiriman Raport Sementara Provinsi dan KLH

September

Sanggahan

September

Evaluasi Sanggahan

Oktober

Usulan Pemeringkatan

Oktober

(23)

BAB VIII

EVALUASI DAN PELAPORAN

Laporan dekonsentrasi

Pengawasan Pelaksanaan Pengelolaan Limbah B3,

Pengelolaan Kualitas Air dan Udara Skala Nasional melalui PROPER mengacu

kepada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 10 Tahun 2013 tentang

Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Dekonsentrasi Bidang Lingkungan Hidup dan

struktur laporan dekonsentrasi PROPER.

Tim Pelaksana PROPER Provinsi wajib mendokumentasikan secara sistematis

semua output tahapan kegiatan dan Tim PROPER Kementerian Lingkungan Hidup

berhak secara penuh untuk mengakses dokumentasi pelaksanaan PROPER.

Pelaporan dekonsentrasi Proper terdiri beberapa bab dan lampiran dengan susunan

sebagai berikut:

I. Pendahuluan

II. Pelaksanaan Proper

III. Hasil Evaluasi Proper

IV. Peningkatan Kapasitas

V. Penutup

VI. Lampiran-Lampiran

Struktur pelaporan dapat dilihat pada gambar 8.1

(24)

Isian lampiran laporan dekonsentrasi PROPER mengacu pada Lampiran VIII.

A.

Pendahuluan

Pada bab pendahuluan disampaikan latar belakang, tujuan, ruang lingkup kegiatan

Proper serta sistematika pelaporan dekon PROPER. Dalam ruang lingkup kegiatan

PROPER disampaikan deskripsi mengenai tahapan persiapan proper yang terdiri

dari persiapan, pelaksanaan serta evaluasi hasil pelaksanaan PROPER

B.

Pelaksanaan PROPER

Dalam Bab pelaksanaan Proper disampaikan serangkaian kegiatan yang

dilaksanakan oleh Pemda mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan PROPER

yaitu :

Penetapan usulan peserta PROPER kepada KLH

Pertemuan teknis dengan KLH membahas peserta, rencana pemantauan serta

peningkatan kapasitas

Penyusunan rencana kerja pelaksanaan PROPER di Provinsi

Peningkatan kapasitas kepada Tim Pelaksana PROPER Provinsi

Sosialisasi PROPER kepada Perusahaan peserta PROPER

Dalam Bab ini disampaikan juga daftar peserta PROPER periode penilaian. Data

lengkap mengenai peserta PROPER disampaikan dalam Lampiran 1 Laporan

Dekonsentrasi PROPER. Setelah dilaksanakan pengawasan, salah satu bukti

pengawasan adalah Berita Acara. Kumpulan Berita Acara peserta PROPER

disampaikan dalam Lampiran 2 Laporan Dekonsentrasi PROPER .

C.

Hasil Pelaksanaan PROPER

Dalam Bab ini disampaikan hasil pelaksanaan PROPER yang terdiri dari jumlah

industri peserta PROPER dan hasil peringkatnya, data penghitungan beban

pencemar, Raport perusahaan serta rekapitulasi Berita Acara.

C.3.1 Peringkat PROPER pada periode Penilaian serta periode Penilaian

sebelumnya sehingga dapat dianalisis trend tingkat penaatan dari setiap

industri dan secara umum

C.3.2 Inventarisasi beban pencemaran

Inventarisasi beban pencemaran dilakukan untuk beban pencemaran air,

udara, serta gas rumah kaca. Inventarisasi dilakukan untuk setiap sektor

dalam PROPER yaitu sektor Manufaktur, Prasarana dan Jasa (MPJ),

Pertambangan, Enrgi dan Migas (PEM) serta Agroindustri. Data beban

pencemaran diperoleh dari form/blangko pengawasan lapangan serta hasil

perhitungan.

(25)

No. Sektor

Parameter (ton/Periode)

BOD COD TSS Minyak

& Lemak dst dst

1 MPJ

2 PEM

3 Agro

Detail inventarisasi beban pencemaran air dari setiap perusahaan

disampaikan dalam Lampiran 3 a.

Inventarisasi beban pencemar udara dilakukan untuk pencemar kriteria

yaitu SO2, NO2, PArtikulat, serta pencemar GRK yaitu CO2, CH4, N2O serta

SF6 dimana semua nilainya dikonversi dengan CO2e. Contoh tabel untuk

beban pencemar udara dan GRK adalah sebagai berikut:

Tabel Beban Pencemar Udara

No. Sektor Parameter (ton/Periode)

SO2 NO2 Partikulat dst dst

1 MPJ

2 PEM

3 Agro

Tabel Pencemar GRK

No. Sektor Parameter (ton/Periode)

CO2 CH4 N2O CH4 CO2e

1 MPJ

2 PEM

3 Agro

Detail perhitungan beban pencemar udara kriteria dan gas rumah kaca dari

setiap perusahaan dapat dilihat pada Lampiran 3 b.

Untuk limbah B3 maka informasi yang disampaikan dapat dilihat pada table

berikut:

No. Sektor

Beban Limbah B3 (ton/Periode) Dihasilkan Disimpan

di TPS

Diserahkan

Pihak ke-3 Dimanfaatkan Landfill Dumping

1 MPJ

2 PEM

3 Agro

(26)

8.3.3 Kinerja Perusahaan Peserta PROPER

Kinerja Laporan kinerja perusahaan disampaikan dalam bentuk Rapor yang

akan disampaikan kepada setiap peserta PROPER. Kumpulan Rapor peserta

akan disampaikan dalam Lampiran 4 Laporan Dekonsentrasi PROPER.

D.

Penguatan Kapasitas

Dalam bab ini disampaikan hasil penguatan kapasitas yang sudah dilakukan baik

untuk lingkup internal, ataupun kabupaten/kota, serta sosialisasi

kepada

perusahaan perusahaan PROPER.

Jumlah SDM yang terlibat, kompetensi,

pendidikan, pelatihan serta status kepegawaian ataupun jabatan fungsional

disampaikan dalam Lampiran 5 Laporan Dekonsentrasi PROPER.

E.

Penutup

(27)

Sekretariat PROPER

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Dekonsentrasi Pengawasan Pelaksanaan

Pengelolaan Limbah B3, Pengelolaan Kualitas Air dan Udara Skala Nasional melalui

PROPER, dapat menghubungi:

Sekretariat PROPER

Telp./Fax. : (021) 8520-886

Email:

dekonproper@gmail.com

dan

sekretariatproper@gmail.com

(28)
(29)

LAMPIRAN I.

FORMAT BERITA ACARA HASIL PENGAWASAN PROPER

Pada hari ini, ... tanggal .... Bulan ... tahun ..., pukul ..., di Kab/Kota... Provinsi ..., kami yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : ... secara bersama-sama telah melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap:

Perusahaan : ... Pengawasan dan pemantauan tersebut dilakukan berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER), yang terdiri dari pemantauan, pemeriksaan dan verifikasi teknis terhadap pelaksanaan kegiatan Pengendalian Pencemaran Air, Pengendalian Pencemaran Udara dan Pengelolaan Padat/Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Catatan temuan-temuan lapangan selama pengawasan dan pemantauan tersebut disajikan dalam Lampiran Berita Acara ini dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Berita Acara ini.

Demikian Berita Acara Pengawasan Penaatan Lingkungan Hidup ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan disaksikan oleh yang bertanda tangan di bawah ini.

Pejabat Pengawas Lingkungan

(30)

Lampiran1. Berita Acara Pengawasan Penaatan Lingkungan Hidup

PROFIL PERUSAHAAN

Nama Perusahaan :

Alamat lokasi kegiatan :

Telp./Fax. :

Alamat Kantor Pusat/Perwakilan :

Telp./Fax. :

Nama Holding Company :

Alamat Kantor Holding Company

Telp./Fax. :

Tahun Berdiri Perusahaan/ Beroperasi Perusahaan :

Jenis Industri :

Status Permodalan

Luas Area Pabrik/Lokasi Kegatan :

Pengelolaan Air Limbah : Pembuangan Ke sumber air/

Pembuangan ke laut/ Pemanfaatan ke tanah/ Reinjeksi

Jumlah Karyawan :

Kapasitas Produksi :

· Terpasang :

· Senyatanya :

Bahan Baku Utama :

Bahan Penolong :

Proses Produksi :

Prosentase Pemasaran Eksport :

Prosentase Pemasaran Domestik/Lokal :

Bahan Bakar yang digunakan :

Satuan Bahan Bakar :

Jumlah Konsumsi Bahan bakar/tahun :

Dokumen Lingkungan yang dimiliki :

Nama Personal Kontak :

Nomor HP :

Jabatan :

e-mail Personal Kontak :

(31)

HASIL EVALUASI PENGAWASAN KINERJA PENAATAN Periode 1 Juli 20xx – 30 Juni 20xx

Nama Perusahaan : PT. Xxx Jenis Industri : Xxx

Lokasi Kegiatan : Kabupaten Xxx, Provinsi Xxx

I. DOKUMEN LINGKUNGAN/IZIN LINGKUNGAN

No. Kewajiban penanggungjawab usaha sesuai PP 27/2012

Penaatan Temuan

1. Memiliki dokumen lingkungan/Izin

Lingkungan. Taat Dokumen UKL-UPL Nomor :117/UKL-UPL/2008 disetujui oleh Kepala Dinas Lingkunga Hidup, Pertambangan dan Energi Kabupaten xxx

2. Melaksanakan ketentuan dalam dokumen lingkungan/izin lingkungan:

A. Deskripsi kegiatan (luas area dan kapasitas produksi)

B. Pengelolaan lingkungan terutama terutama aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan Pengelolaan LB3

Tidak Taat Belum melaksanakan ketentuan secara rutin pelaksanaan UKL-UPL

3. Melaporkan pelaksanaan dokumen lingkungan/izin lingkungan (terutama aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan Pengelolaan LB3)

Tidak Taat Belum melaporkan secara rutin pelaksanaan UKL-UPL

II. PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

A. Kewajiban Pengendalian Pencemaran Air

No. Pengelolaan Limbah Cair Penaatan Temuan

1. Ketaatan terhadap Izin Tidak Taat Izin pembuangan No 660.31/2875/203.2/2010 namun sudah habis masa berlakunya pada tanggal 29 Maret 2012 dan belum memperpanjang 2. Ketaatan terhadap titik

penaatan pemantauan

100% Perusahaan mempunyai 10 (sepulu) titik outlet IPAL dan seluruhnya sudah dilakukan pemantauan 3. Ketaatan terhadap parameter

Baku Mutu 100% Parameter yang dipantau sudah lengkap sesuaidengan Permen LH No 04 Tahun 2010 4. Ketaatan terhadap pelaporan 83% Sepanjang masa evaluasi parameter TSS dua

bulan tidak dilaporkan 5. a. Ketaatan terhadap

pemenuhan Baku Mutu 80% b. Pemenuhan Baku Mutu

berdasarkan Pemantauan Tim PROPER

--- - Dilakukan/Tidak dilakukan pengambilan sampel air limbah.

- Parameter yang diuji ... - Menunggu hasil laboratorium. 6. Ketaatan terhadap Ketentuan

(32)

B. Tindak Lanjut Yang Harus Dilakukan

1. Perusahaan wajib segera menutup saluran bypassdari saluran sebelum masuk ke kolam IPAL

2. Perusahaan wajib segera mengurus izin pembuangan air limbah kepada Bupati Kabupaten

xxxxxxxxxxxx

3. Perusahaan wajib menjagaKualitas air limbahmelalui optimalisasi kinerja IPAL agar memenuhi

BMAL yang ditetapkan dan memenuhi persyaratan sebagaimana yang diatur dalam Peraturan xxxxxxxxxxxx tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan xxxxxxxxxxxxxxx

4. Perusahaan wajib melakukan pengujian air limbah setiap bulan untuk setiap parameter yang dipersyaratkan dalam baku mutu air limbah Industri xxxxxxxxxxx ,dan memeriksakannya

kepada laboratoriumterakreditasi.

5. Perusahaan wajib memasang alat ukur debit dan melakukan pencatatan debit, /kuantitas limbah harian, pH harian, serta produksi senyatanya bulanan.

6. Perusahaan wajib menyampaikan laporan tentang pH harian, debit/kuantitas air limbah harian,

kadar parameter mutu limbah cair dan produksi harian senyatanya, sekurang-kurangnyatiga bulan sekalikepada BLH Kabupaten Xxx, BLH Provinsi Xxx dan Kementerian Lingkungan Hidup.

C. Perhitungan Beban Pencemaran Air (Ton/periode)

No Parameter Beban Inlet Beban Outlet

III. PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA

A. Kewajiban Pengendalian Pencemaran Udara

No. Pengendalian Pencemaran Udara Penaatan Temuan

1. Ketaatan terhadap titik penaatan

pemantauan 100% •Sumber Emisi : 3 unit boiler, 1 unitheather, 2 Unit dryer, 3 unit deporasi gliserin, 2 unit genset

•Seluruh sumber emisi sudah dipantau 2. Ketaatan terhadap pelaporan 100% Semua parameter dari hasil

pemantauan semua sumber emisi sudah dilaporkan sesuai peraturan 3. Ketaatan terhadap parameter Baku

Mutu Emisi 100% Parameter yang dipantau dari semuasumber emisi sudah sesuai peraturan 4. Ketaatan terhadap pemenuhan Baku

Mutu Emisi 100% Hasil pemantauan emisi seluruh sumberemisi telah memenuhi baku mutu emisi 5. Ketaatan terhadap ketentuan Teknis

yang dipersyaratkan Taat Semua cerobong sudah dilengkapidengan sarana dan prasarana sampling

B. Tindak Lanjut Yang Harus Dilakukan

1. Perusahaan wajib tetap melakukanpemantauan emisi Boiler, Heather yang aktifdengan parameter dan

frekuensi minimal 6 bulan sekali sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor 07 tahun 2007. 2. Perusahaan wajib tetap melakukanpemantauan emisi genset dan dryer yang aktifdengan parameter

dan frekuensi sesuai peraturan yang berlaku.

3. Perusahaan wajib menjaga kualitas emisinya sehinggamemenuhi Baku Mutusesuai dengan peraturan

yang berlaku.

4. Perusahaan wajib tetap melakukan pengukuran kualitas udara ambien sekurang-kurangnya 6 bulan sekalisesuai dengan PP Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

(33)

pengujian kualitas udara ambien sekurang-kurangnya enam bulan sekali kepada BLH Kabupaten xxx,

BLH Provinsi xxx dan Kementerian Lingkungan Hidup.

C. Perhitungan Beban Pencemaran Udara (Ton/periode) No Parameter Beban Emisi

IV. PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (LIMBAH B3) A. Perizinan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Pengelolaan Limbah B3

Status

Perizinan No. SK/ No. Surat Masa Berlaku Keterangan

Penyimpanan Sementara

√ Surat Keputusan Kepala BLH Kabupaten

XXX nomor:

XXX//SK/TPS-LB3/2011 pada tanggal 27 Desember 2011

2 (dua) tahun Izin tempat penyimpanan sementara limbah B3 untuk sludge hasil kegiatan sendiri

--- --- --- Belum memiliki TPS Limbah

B3 untuk penyimpanan abu batubara

--- --- --- Belum memiliki izin

penyimpanan sementara untuk limbah B3 lainnya (oli bekas, bekas kemasan bahan kimia, aki bekas, majun terkontaminasi limbah B3, drum bekas oli bekas, limbah elektronik)

B. Sumber Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

No. Sumber Jenis Limbah Estimasi

Timbulan Kemasan

Konversi ke ton 1. Boiler Abu batubara 0.20 ton/ hari Karung plastik ---2. IPAL Sludge IPAL 0.02 ton/ hari Karung plastik ---3. Proses produksi Bekas kemasan

bahan kimia 0.09 ton/ 8 bulan(30 pieces) --- ---4. Genset, forklift Oli bekas 0.45 ton/ 10

bulan Drum

---5. Workshop Drum bekas oli

bekas --- ---

---6. Workshop Kain majun terkontaminasi limbah B3

Belum dihasilkan ---

---7. Genset, forklift Aki bekas Belum dihasilkan --- ---8. Kantor Limbah elektronik Belum dihasilkan ---

---Catatan:

- Sejak bulan September 2012 perusahaan menggunakan batubara sebagai bahan bakar boiler dikarenakan kesulitan untuk mendapatkan cangkang.

(34)

C. Neraca Limbah B3 Periode 1 Juli 20xx – 30 Juni 20xx

Jenis Limbah Satuan Limbah Dihasilkan

A. Sumber Dari Proses Produksi

--- --- --- --- ---

---B. Sumber Dari Luar Proses Produksi

Abu batubara Ton 30.00 0 30.00 Ditempatkan dalam karung plastik di lokasi terbuka di lingkungan pabrik

Sludge IPAL Ton 7.54 2.00

5.54 0 - Disimpan di TPS- Diserahkan ke xxx (pengangkut/ AAT), PT. xxx Oli bekas Ton 0.45 0 0.45 Disimpan di gudang workshop Drum bekas oli bekas Ton 0.03 0 0.03 Disimpan di gudang workshop Bekas kemasan bahan

kimia Ton 0.09 0 0.09 Disimpan di gudang workshop

Majun terkontaminasi

limbah B3 Ton 0 0 0 Belum dihasilkan

Aki bekas Ton 0 0 0 Belum dihasilkan

Limbah elektronik Ton 0 0 0 Belum dihasilkan

TOTAL Ton 38.11 7.54 30.57

Persentase % 19.79 80.21

Ket : 14.54% limbah B3 yang diserahkan ke pihak ke tiga yang memiliki izin, 5.25% limbah B3 masih tersimpan di TPS dan 80,21% limbah B3 belum dikelola sesuai ketentuan. Secara umum 80.21% limbah B3 belum dikelola sesuai dengan peraturan yang berlaku dan persyaratan dalam izin.

D. Temuan dan Rekomendasi

No Aspek Penilaian Temuan Lapangan Rencana Tindak Lanjut 1 a. Pendataan Jenis dan Volume

Limbah yang dihasilkan

Identifikasi jenis limbah B3 - Telah melakukan identifikasi terhadap limbah B3 sludge, oli bekas, kemasan bekas bahan kimia, drum bekas oli bekas, aki bekas, abu batubara

- Belum melakukan identifikasi terhadap limbah elektronik dan majun terkontaminasi limbah B3

Wajib melakukan identifikasi terhadap seluruh limbah B3 yang dihasilkan

Pencatatan Jenis dan Volume

limbah B3 yang dihasilkan Belum melakukan pencatatanterhadap seluruh jenis dan volume limbah B3 yang dihasilkan.

Wajib melakukan pencatatan terhadap seluruh jenis dan volume limbah B3 yang dihasilkan.

Pendataan pengelolaan lanjutan

limbah B3 Belum melakukan pengelolaanlanjutan terhadap seluruh limbah B3 selain limbah B3 sludge.

Wajib melakukan pengelolaan lanjutan terhadap seluruh limbah B3 yang dihasilkan sesuai ketentuan.

b. Pelaporan Belum melakukan pelaporan

realisasi pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya, termasuk untuk sludge IPAL

(35)

yang sudah memiliki izin TPS

LB3. B3, logbook, dan manifestsalinan #2 per triwulan kepada BLH XXX dengan tembusan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan BLH ProvinsiXXX.

2. Perizinan Pengelolaan Limbah B3

Kepemilikan izin PLB3 yang

dipersyaratkan - Sudah Penyimpanan memiliki SementaraIzin Limbah B3 untuk sludge IPAL sesuai Surat Keputusan Kepala BLH Kabupaten XXX nomor: XXX//SK/TPS-LB3/2011 pada tanggal 27 Desember 2011

- Belum memiliki Izin Penyimpanan Sementara untuk limbah abu batubara - Belum memiliki Izin

Penyimpanan Sementara untuk limbah B3 oli bekas, aki bekas, majun terkontaminasi, bekas kemasan bahan kimia, drum bekas oli bekas dan limbah elektronik

- Wajib membangun TPS Limbah B3 untuk limbah B3 abu batubara, oli bekas, aki bekas, majun terkontaminasi, bekas kemasan bahan kimia, drum bekas oli bekas dan limbah elektronik sesuai KEP-01/BAPEDAL/09/1995 dan mengajukan permohonan Izin Penyimpanan Sementara Limbah B3 kepada BLH KabupatenXXX.

- Tidak menyimpan limbah B3 melebihi jangka waktu 90 hari kecuali jika limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg per hari maka dapat disimpan selama 180 hari

Masa berlaku izin 2 (dua) tahun untuk Izin Penyimpanan Sementara Limbah B3 untuk sludge IPAL

3. Pelaksanaan ketentuan izin:

a. Pemenuhan terhadap ketentuan

teknis dalam izin selain Baku Mutu Emisi, Effluent dan Standard Mutu (check list)

- TPS Sludge memenuhi 57.70% ketentuan teknis - Belum memiliki TPS Limbah

B3 untuk penyimpanan abu batubara, oli bekas, aki bekas, majun terkontaminasi, bekas kemasan bahan kimia, drum bekas oli bekas dan limbah elektronik

Wajib membangun TPS Limbah B3 yang memenuhi ketentuan teknis di TPS Limbah B3 sesuai KEP-01/BAPEDAL/09/1995.

b. Emisi dari kegiatan pengolahan

dan/atau pemanfaatan limbah B3:

--- Apabila perusahaan ingin

melakukan kegiatan pengolahan dan/ atau pemanfaatan limbah B3, maka wajib mengajukan permohonan izin kepada Kementerian Lingkungan Hidup

- Pemenuhan terhadap BME ---

---- Jumlah parameter yang diukur

dan dianalisa ---

(36)

---c. Effluent dari kegiatan pengolahan dan/atau penimbunan dan/atau pengelolaan limbah B3 lainnya :

---

---d. Standar Mutu Produk dan/atau kualitas limbah B3 untuk pemanfaatan

---

---4. Open dumping, pengelolaan tumpahan, dan penanganan media/tanah terkontaminasi limbah B3 :

Menyimpan limbah B3 abu batubara dalam kemasan karung plastik di lokasi terbuka di lingkungan pabrik

- Menghentikan kegiatan menyimpan limbah abu batubara di tempat terbuka - Segera memindahkan limbah

abu batubara yang disimpan di lokasi terbuka ke dalam TPS yang berizin

- Menyampaikan progress pemindahan limbah B3 abu batubara ke dalam TPS berizin kepada Kementerian Lingkungan Hidup dengan tembusan ke BLH Kabupaten

XXX

- Menyampaikan rencana penyelesaian pemindahan limbah B3 abu batubara ke dalam TPS berizin kepada Kementerian Lingkungan Hidup dengan tembusan ke BLH KabupatenXXX

Jenis limbah dan jumlah limbah

yang di open dumping Limbah abu batubara sebanyak30 ton Rencana pengelolaan lahan

terkontaminasi

---Kesesuaian rencana dengan pelaksanaa pengelolaan lahan terkontaminasi

---

---Jumlah total limbah dan tanah terkontaminasi yang dilakukan pengelolaan

---

---Perlakuan pengelolaan limbah dan tanah terkontaminasi yang diangkat sesuai perencanaan

---

---SSPLT (surat status pemulihan

lahan terkontaminasi) ---

---Ketentuan dalam SSPLT ---

---5. Jumlah limbah B3 yang dikelola (Neraca Limbah B3)

19.79% limbah B3 dikelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Perusahaan wajib melakukan pengelolaan terhadap limbah B3 yang dihasilkan sesuai dengan ketentuan.

6. Pengelolaan limbah B3 oleh pihak ke-3

a. Pengelolaan melalui pengumpul limbah B3

---

(37)

---Kesesuaian jenis limbah B3 yang dikumpul dengan izin yang berlaku

---

---Kontrak kerjasama penghasil

limbah dan pengumpul limbah --- ---Kontrak kerjasama antara

b. Pihak ke-3 pengelola lanjut limbah B3 (pemanfaat/ pengolah/ penimbun)

PT. Bata Kuo Shin

---Masa berlaku izin Perusahaan tidak memiliki salinan izin pihak ketiga pengelola lanjut

Wajib memiliki salinan izin pihak ketiga pengelola lanjut dan menyampaikan salinan izin tersebut ke Kementerian Lingkungan Hidup

Kesesuaian jenis limbah B3

yang dikelola ---

---Kontrak kerjasama penghasil dan pengolah/ pemanfaat/ penimbun

---

---Ada/tidak masalah pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh pengelola limbah B3

---

---Pihak ke-3 Jasa Pengangkutan

CV. Gema Putra Buana

---Ada/tidak izin dari Kementerian

Perhubungan Memiliki izin pengangkutan dariKementerian Perhubungan ---Ada/tidak rekomendasi dari KLH Memiliki rekomendasi dari

Kementerian Lingkungan Hidup ---Kesesuaian jenis limbah yang

diangkut dengan izin Sesuai dengan izin danrekomendasi ---Kesesuaian alat angkut dengan

yang tercantum dalam izin (No polisi, no rangka, no mesin)

Sesuai dengan izin dan

rekomendasi

---Rute pengangkutan sesuai

dengan izin Sesuai dengan izin danrekomendasi ---Penggunaan dokumen/manifest

yang sah Penggunaan manifest tidak sesuai dengandokumen Kep-02/BAPEDAL/09/1995 dimana dokumen manifest #2 dan #3 sudah terisi penuh dan dicap oleh perusahaan pengelola akhir limbah B3

Wajib memenuhi ketentuan

sesuai

Kep-02/BAPEDAL/09/1995 dalam penggunaan dokumen manifest.

7. Dumping, injeksi dan

pengelolaan limbah B3 dengan cara tertentu:

---

(38)

---limbah B3 dengan cara tertentu Jumlah/volume limbah B3 yang

di dumping ---

---8. Pengelolaan Limbah B3 lainnya

---

---E. Penaatan

No. Aspek Pelaksanaan Pengelolaan Limbah B3 Taat Belum

Taat Keterangan

1. a. Pendataan jenis dan volume limbah yang dihasilkan

--- √

- Belum melakukan identifikasi limbah elektronik dan majun terkontaminasi limbah B3 - Belum melakukan pencatatan

seluruh limbah B3 yang dihasilkan

b. Pelaporan

--- √ Belum melakukan pelaporanrealisasi pengelolaan limbah B3 sludge IPAL sesuai dengan izin 2. Status perizinan pengelolaan limbah B3 --- Untuk TPS Limbah B3 Sludge

IPAL 3. Pelaksanaan ketentuan dalam Izin

a. Pemenuhan Ketentuan Teknis

--- √

- TPS Sludge memenuhi 57.70% ketentuan teknis - Belum memiliki TPS Limbah B3

untuk penyimpanan abu batubara dan limbah B3 lainnya b. Pemenuhan Baku Mutu Emisi ---

---c. Pemenuhan Baku Mutu Air Limbah --- ---d. Pemenuhan Pemanfaatan --- ---4. Penanganan open dumping, pengelolaan

tumpahan, dan penanganan media

terkontaminasi LB3 --- √

Menyimpan limbah B3 abu batubara dalam kemasan karung plastik di lokasi terbuka di lingkungan pabrik

a. Rencana pengelolaan --- ---b. Pelaksanaan pengelolaan --- ---c. Jumlah tanah terkontaminasi yang

dikelola ---

---d. Pelaksanaan ketentuan SSPLT --- ---5. Jumlah limbah B3 yang dikelola sesuai dengan

peraturan --- √ 19.79% limbah B3 dikelola sesuaidengan ketentuan yang berlaku. 6. Pengelolaan limbah B3 oleh pihak ke-3 dan

pengangkutan limbah B3 √

---7. Pengelolaan limbah B3 dengan cara tertentu

(antara lain : Dumping, Re-injeksi, dll) ---

---F. Kesimpulan

Segera melakukan perbaikan sesuai dengan rencana tindak lanjut pada tabel D. dan menyampaikan hasil perbaikan Tindak lanjut dari berita acara beserta data-data pendukung dan foto perbaikan tersebut kepada

(39)

LAMPIRAN

1. Check list pengelolaan limbah B3 (TPS Limbah B3) yang telah ditandatangani oleh pengawas dan perusahaan.

2. Foto temuan lapangan.

FOTO TEMUAN LAPANGAN

Kondisi TPS Limbah B3 Keterangan Tindak Lanjut

- Membuang air limbah hasil pengolahan IPAL (drying bed) ke lingkungan tanpa ada izin pembuangan limbah cair

- Dilakukan analisa pH pada air limbah yang dibuang ke lingkungan menggunakan kertas lakmus dengan hasil pH 7

- Tidak melakukan pembuangan air limbah dari proses IPAL secara langsung ke lingkungan tanpa ada izin pembuangan limbah cair

- Menutup saluran air limbah dari proses drying bed ke lingkungan selama izin pembuangan limbah cair belum ada dan mengalirkan kembali ke IPAL.

TPS Sludge tidak sesuai dengan ketentuan teknis dalam Kep-01/BAPEDAL/09/1995

Wajib memenuhi ketentuan teknis di TPS sesuai Kep-01/BAPEDAL/09/1995

Terdapat tumpahan/ ceceran sludge IPAL di sekitar TPS Sludge.

Melakukan pembersihan sludge IPAL yang tercecer di lokasi TPS Sludge.

House keeping di sekitar TPS

(40)

Menyimpan limbah oli bekas, drum bekas oli bekas, kemasan bekas bahan kimia di gudang workshop dan bercampur dengan limbah non B3.

Wajib membangun TPS Limbah B3 untuk menyimpan oli bekas, drum bekas oli bekas, kemasan bekas bahan kimia, majun terkontaminasi limbah B3, aki bekas, dan limbah elektronik.

- House keeping di lokasi boiler kurang terawat - Banyak batubara yang

disimpan di luar lokasi boiler - Menyimpan limbah abu

batubara di lokasi boiler - Banyak limbah abu

batubara yang tercecer di sekitar lokasi boiler

- Menjaga house keeping di lokasi boiler agar terawat, rapi dan bersih sehingga tidak ada ceceran batubara dan limbah abu batubara ke lingkungan

(41)

- Menyimpan limbah B3 abu batubara dalam kemasan karung plastik di lokasi terbuka di lingkungan pabrik, di antaranya dekat lokasi boiler dan di samping bangunan pabrik

- Menyimpan limbah B3 abu batubara dalam kemasan karung plastik di lokasi terbuka di lingkungan pabrik - Menyimpan limbah B3 abu

batubara dalam kemasan karung plastik di lokasi terbuka di lingkungan pabrik - Menyimpan limbah B3 abu

batubara dalam kemasan karung plastik di lokasi terbuka di lingkungan pabrik

- Menghentikan kegiatan menyinpan limbah abu batubara di lokasi terbuka. - Segera memindahkan limbah

abu batubara ke dalam TPS yang berizin.

- Menyampaikan progress pemindahan limbah B3 abu batubara ke dalam TPS berizin kepada Kementerian Lingkungan Hidup dengan tembusan ke BLH KabupatenXXX

(42)

V. PENGENDALIAN KERUSAKAN LINGKUNGAN (KHUSUS KEGIATAN PERTAMBANGAN) A. Rekapitulasi Penilaian

No. Tahapan Lokasi Nilai Total

X ≥ 80 55 < x < 80 X ≤ 55 Keterangan

1. Pembersihan

Lahan Lokasi 1 98 1 Taat

2. Penggalian

Tanah Penutup Lokasi 1 81 1 Taat

3. Penambangan Lokasi 1 88 1 Taat

4. Penimbunan Lokasi 1 78 1 Tidak Taat

5. Pengupasan

Tanah Pucuk Lokasi 1 98 1 Taat

6. Reklamasi Lokasi 1 88 1 Taat

7. Pembersihan

Lahan Lokasi 2 100 1 Taat

8. Pengupasan

Tanah Pucuk Lokasi 2 100 1 Taat

9. Penggalian

Tanah Penutup Lokasi 2 81 1 Taat

10. Penambangan Lokasi 2 90 1 Taat

11. Penimbunan Lokasi 2 53 1 Taat

12. Reklamasi Lokasi 2 86 1 Taat

13. Pembersihan

Lahan Lokasi 3 100 1 Taat

14. Pengupasan

Tanah Pucuk Lokasi 3 100 1 Taat

15. Penggalian

Tanah Penutup Lokasi 3 81 1 Taat

16. Penambangan Lokasi 3 73 1 Taat

17. Penimbunan Lokasi 3 83 1 Taat

18. Reklamasi Lokasi 3 86 1 Taat

19. Pembersihan

Lahan Lokasi 4 98 1 Taat

20. Penimbunan Lokasi 4 91 1 Taat

21. Reklamasi Lokasi 4 100 1 Taat

22. Pengupasan

(43)

23. Penggalian

Tanah Penutup Lokasi 5 91 1 Taat

24. Penambangan Lokasi 5 98 1 Taat

25. Pembersihan

Lahan Lokasi 6 100 1 Taat

26. Pengupasan

Tanah Pucuk Lokasi 6 100 1 Taat

27. Penggalian

Tanah Penutup Lokasi 6 83 1 Taat

28. Penambangan Lokasi 6 88 1 Taat

29. Penimbunan Lokasi 6 83 1 Taat

30. Reklamasi Lokasi 6 88 1 Taat

JUMLAH DATA 30 27 2 1 Tidak Taat

Persentase 90% 6,67% 3,3% Tidak Taat

B. Ringkasan Penaatan Pengendalian Kerusakan Lahan

1. Pada aspek manajemen telah memenuhi semua ketentuan kriteria pengendalian kerusakan lingkungan

2. Untuk aspek Teknis:

a) Kriteria K3 (Potensi Longsor) terlihat longsoran batuan pada dinding yang ditinggal

b) Kriteria K4 (Potensi Pencemaran AAT) tidak mendapatkan nilai karena belum dilakukan upaya penanganan batuan yang berpotensi membentuk air asam tambang.

c) Kriteria K5 (Erosi): terdapat indikasi adanya erosi didinding lereng penggalian tanah penutup

d) Kriteria K6 (Kebencanan); jauh dari pemukiman penduduk dan sarana vital lain/memiliki sistem tanggap darurat (sarana, personil, SOP, dll)

c. Tindaklanjut yang harus dilakukan

1. Mempertahankan kinerja terkait aspek manajemen

2. Melakukan pembenahan pada lereng-lereng yang tinggi atau sudutnya melebihi rekomendasi FS dan terlihat adanya longsoran batuan didaerah tersebut.

3. Melakukan upaya penanganan batuan yang berpotensi pencemar dengan mengikuti langkah langkah sebagai berikut ;

 Identifikasi semua batuan limbah yang dihasilkan dari penambangan

 Melakukan karakteristik batuan penutup tersebut, batuan potensi pembentuk AAT dan batuan tidak berpotensi membentuk AAT

 Memilih teknologi penanganan batuan potensi pembentuk AAT tersebut, untuk menghindari terbentuknya AAT

4. Upaya Pengolahan AAT :

Melakukan pengumpulan AAT yang ada

(44)

LAMPIRAN 2. BERITA ACARA PENGAWASAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP A. LEMBAR ISIAN PENILAIAN DOKUMEN LINGKUNGAN/IZIN LINGKUNGAN

1. Pengesahan Dokumen

No. Nama DokumenLingkungan Dokumen LingkunganInstitusi Pengesahan Dokumen LingkunganTanggal Pengesahan Batasan KapasitasProduksi Realisasi KapasitasProduksi Dampak Pentingyang dikelola

1. … … … …

2. … … … …

dst.

2. Pelaporan Triwulanan*

Instansi Triwulan III-(TahunN-1) Triwulan IV-(Tahun N-1) Triwulan I-(Tahun N) Triwulan II-(Tahun N) Keterangan

Kabupaten … … … … …

Provinsi … … … … …

Kementerian Lingkungan Hidup … … … … …

* Triwulanan : berupa nomor dan tanggal surat pengiriman laporan 3. Pelaporan Semester**

Instansi Semester 2-(TahunN-1) Semester 1-(Tahun N)

Kabupaten … …

Provinsi … …

Kementerian Lingkungan Hidup … …

** Semester : berupa nomor dan tanggal surat pengiriman laporan

(45)

B. LEMBAR ISIAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR 1. Titik Penaatan dan Izin

No. SumberAir

Status Izin Nomor Sertifikat Hasil Uji

Nomor

Berakhir Jul Ags Sep Okt Nop Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun dr2 LU

1. ……… ……….. … … ……….. …… …. …. …. ... … …. …. …. …. …. …. …. …. …. ….

2. ……… ……….. … … ……….. …… …. …. …. … … …. …. …. …. …. …. …. …. …. ….

dst.

a. Titik Penaatan dan Izin (Industri yang menerapkanLand Aplikasi) No Nama Titik

Penaatan Jenis Titik Penaatan Status Izin Nomor Sertifikat Hasil

Uji Tanggal Pemantauan Nomor

Izin Penerbit IzinInstansi Tanggal IzinTerbit TanggalBerakhir 1 ……… Tanah (Rorak)

2 ……… Tanah (Antar Rorak)

3 ……… Tanah (LahanKontrol/Non LA)

b. Parameter dan Pelaporan Baku Mutu

No. Titik Penaatan(outlet) yang dipantauParameter

Konsentrasi

Titik Penaatan/ outlet KonsentrasiBaku Mutu SatuanBaku Mutu

Jul Agust Jul Agust

1. … … … …

Figur

Tabel 1. Distribusi perusahaan peserta PROPER melalui mekanisme dekonsentrasi.
Tabel 1 Distribusi perusahaan peserta PROPER melalui mekanisme dekonsentrasi . View in document p.7
Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Dekonsentrasi PROPER 2014
Gambar 1 Tahapan Pelaksanaan Dekonsentrasi PROPER 2014. View in document p.8
Tabel 3. Tahapan Supervisi
Tabel 3 Tahapan Supervisi. View in document p.16
Gambar 8.1  Struktur Pelaporan Dekonsentrasi PROPER
Gambar 8 1 Struktur Pelaporan Dekonsentrasi PROPER. View in document p.23
Tabel Beban Pencemar Udara
Tabel Beban Pencemar Udara. View in document p.25
Tabel Pencemar GRK
Tabel Pencemar GRK. View in document p.25
Gambar teknik danfoto sarana sistem
Gambar teknik danfoto sarana sistem. View in document p.84

Referensi

Memperbarui...