PEMBANGUNAN NEGARA JEPANG SEBAGAI NEGARA

25 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PEMBANGUNAN NEGARA JEPANG SEBAGAI NEGARA MAJU

1.1 Latar Belakang

Negara maju adalah negara yang memiliki standar hidup tinggi yang disebabkan oleh negara tersebut memiliki kemajuan teknologi, industri, dan ekonomi; sehingga penduduknya memiliki kesejahteraan yang tinggi. Negara maju memiliki perkembangan pesat dalam banyak bidang dengan kualitas sumber daya manusia yang bagus. Bahkan pendapatan perkapita dari penduduk negara maju tergolong tinggi. Adapun ciri-ciri negara maju adalah sebagai berikut :

 Pertumbuhan penduduk rendah

 Pendapatan per kapita penduduk tinggi

 Kegiatan ekonomi utama adalah industri dan jasa  Angka harapan hidup tinggi

 Tingkat pendidikan dan kesehatan tinggi  Angka kematian bayi kecil

 Mendominasi kondisi sosial-ekonomi negara berkembang dalam hal modal dan ilmu pengetahuan teknologi

 Kebanyakan penduduk tinggal di daerah perkotaan  Kualitas dari hasil-hasil produksi bermutu tinggi

Misalnya Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, dan masih banyak lagi. Dalam makalah ini, kelompok kami akan membahas negara Jepang.

(2)

di Jepang masih menitikberatkan pada perencanaan dan pengendalian fisik. Perencanaan pembangunan di Jepang pada umumnya diorientasikan pada pengendalian fisik di kawasan urban. Pengembangan daerah pedesaan berada dalam cakupan perencanaan statuter (statutory planning) dan dipengaruhi oleh berbagai hukum dan kebijakan menyangkut proteksi terhadap agrikultur.

Program pembangunan fisik Jepang ini dilakukan dengan tahapan-tahapan terpadu, dengan tujuan akhirnya penghapusan kesenjangan sosial ekonomi (rectification of disparities) demi tercapainya keseimbangan pembangunan (balanced development of national land). Keberhasilan-keberhasilan pembangunan ekonomi di Jepang sangat dipengaruhi oleh andil masyarakatnya. Dalam perencanaan pembangunannya, Jepang terkenal dengan zenso (otonomi daerah) dan machizukuri (community participation). Perencanaan pembangunan nasional Jepang terangkum dalam Integrated National Physical Development Plan/INPD plan. Perencanaan tersebut mencakup perencanaan di tingkat nasional, regional, dan lokal.

Sistem perencanaan pembangunan di Jepang adalah sistem yang kompleks yang diantaranya mencakup pengendalian legal dan legislatif, rencana pembuatan (plan-making), rencana pemanfaatan lahan (land use planning), zonasi (zonning), pengendalian kepadatan penduduk, dll. Pembangunan di Jepang dalam hal ini modernisasi di Jepang, sudah terjadi pada Masa Meiji (1868-1912). Di bawah kaisar Meiji Jepang bergerak maju dalam pembentukan suatu bangsa yang modern yang memiliki perindustrian yang modern, lembaga-lembaga politik yang modern dan pola masyarakat yang modern. Pada tahun pertama pemerintahannya kaisar Meiji memindahkan ibukota kekaisaran dari Kyoto ke Edo, tempat kedudukan pemerintah feodal. Edo diberi nama Tokyo (ibukota timur).

(3)

Pemerintahan Meiji membawa pencerahan dan imajinatif membantu membimbing bangsanya melalui peralihan yang penuh dinamika puluhan tahunnya. Setelah zaman Meiji industrialisasi berarti pembentukan kota-kota industri baru dan ini juga ikut menyebabkan terjadinya konsentrasi penduduk di kota-kota. Di sisi lain banyak kota di Jepang yang pada mulanya merupakan kota puri milik pangeran-pangeran feudal, tetap mempertahankan ciri feodalistiknya dengan penyesuaian modern.

Dengan demikian meskipun aspek fisik dan material pertumbuhan itu menimbulkan terjadinya masyarakat perkotaan, namun ciri komunal yang mendalam itu tetap hidup dalam struktur sosial kota-kota Jepang. Dalam pembangunan di Jepang setelah perang dunia ke 2, perekonomian Jepang hampir seluruhnya lumpuh akibat kerusakan perang, diantaranya diakibatkan karena kekurangan pangan yang parah, inflasi yang tak terbendung dan pasar gelap dimana-mana. Rakyat Jepang mulai membangun ekonominya melalui tiga cara; Pertama, Demiliterisasi pasca perang dan larangan persenjataan kembali yang tertera dalam undang-undang dasar yang baru meniadakan beban berat pada sumber ekonomi bangsa dari pengeluaran di sektor militer. Kedua, pemecahan zaibatsu (gabungan bisnis atau trust yang besar) melepaskan kekuatan persaingan bebas. Dalam hal ini pertanian disalurkan kembali berdasarkan skala besar khususnya dalam sewa tanah pertanian. Ketiga, sistem prioritas produksi batu bara merupakan suatu usaha pemusatan utama dari usaha industri bangsa.

(4)

namun nilai-nilai tradisional positif mampu menumbuhkan sikap mentalitas masyarakat dalam pembangunan tersebut. Tradisi zaman Meiji menekankan tujuan untuk memiliki pengetahuan teknik barat sambil sementara itu tetap memelihara semangat Jepang (wakonyosai), sekaligus menitikberatkan pentingnya kesalehan-kesalehan timur,serta ilmu pengetahuan dan teknologi barat mengacaukan modernisasi, sehingga orang lebih mementingkan perkembangan ekonomi dan perluasan kekuatan militer. Pada zaman Meiji seperti yang telah dibahas sebelumnya terjadi urbanisasi kedaerah perkotaan, uniknya penduduk yang mengalir kedalam kota-kota besar itu tidaklah berubah menjadi warga negara modern, tetapi mempertahankan ikatan-ikatan mereka dengan daerah-daerah pedesaan asal usul mereka.

Bangsa Jepang telah mengetahui peran pendidikan dalam aspek kehidupan itu sangat penting khususnya dalam pembangunan. Karena melalui pendidikan, nilai-nilai budaya diberikan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan melalui pendidikan, merupakan salah satu pembentukan kepribadian modern (mentalitas). Seperti telah diketahui, saat ini Jepang merupakan negara yang tidak bisa disangsikan kepesatan pembangunannya. Jepang masuk dalam 5 besar negara pemberi pengaruh dalam perekonomian dunia. Jepang merupakan negara yang kalah perang dalam perang dunia II.

Namun, bangsa Jepang dapat bangkit dengan cepat. Di perang dunia II, Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941 yang akhirya membawa Amerika pada perang dunia II. Pearl Harbor adalah pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di pulau Oahu, Hawaii, barat Honolulu. Banyak dari pelabuhan dan daerah sekeliling merupakan pangkalan Angkatan Laut bawah laut Amerika Serikat: Mabes Armada Pasifik Amerika Serikat. Penyerangan itu membawa luka yang cukup dalam untuk Amerika.

(5)

pesawat terbang musnah dan 159 rusak, orang-orang Amerika yang tewas berjumlah 2.403. Jumlah itu termasuk 68 orang sipil, dan ada 1.178 anggota militan dan orang-orang sipil terluka. Kemarahan Amerika direalisasikan pada tanggal 6 Agustus 1945 dan 9 agustus 1945. Pada kedua tanggal tersebut, secara berurutan, Amerika menyerang Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom. Kerusakan yang ditimbulkan oleh pengeboman tersebut sangat di luar dugaan. Jepang segera lumpuh seketika, menyerah tanpa syarat pada sekutu tanggal 14 Agustus 1945.

Bom atom ini membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945. Sejak itu, ribuan telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom tersebut. Yang membuat seluruh dunia kagum adalah ketangkasan Jepang dalam penanganan setelah penyerangan. Jepang tidak butuh waktu lama untuk segera bangkit dan menguasai keadaan. Hanya dalam kurun waktu 30 tahun, jepang segera menjadi salah satu jantung perekonomian dunia. Pemerintahan Jepang identik dengan bagaimana pemerintahan (khususnya pemerintahan lokal) dalam mengidentifikasi dan proses pengambilan kebijakan dalam rangka penyikapan atas dinamika politik dan administratif pemerintahan.

(6)

namun menjadi ironis jika mereka dalam melaksanakan pemerintahannya tidak memiliki pengaruh dan kewenangan yang cukup luas dalam menyelenggarakan pemerintahannya. Sisi pengaturan hubungan kelembagaan antara pemerintahan pusat dan daerah dapat dikatakan menjadi vital untuk menjelaskan pengalaman inisiatif kebijakan yang dilakukan pemerintahan lokal di Jepang.

Pemerintahan daerah yang memiliki jangkauan luas dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakatnya dan berbagai inovasi yang dilakukan dalam mengatasi berbagai macam hambatan (khususnya hambatan birokrasi dan hukum). Sistem pengaturan kelembagaan yang dilakukan dengan mengkombinasikan berbagai macam unsur ataupun elemen dari pemerintahan asing yang diwariskan oleh pemerintahan Meiji, yang pada dasarnya merangsang pemerintahan untuk melakukan berbagai macam inovasi dan inisiatif atas penyelenggaraan pemerintahan lokal. Undang-undang pemerintahan daerah memberikan ruang yang cukup luas dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, dalam melakukan berbagai fungsi pelayanan publik secara sempit dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan nasional, dimana kepala daerah hanya memiliki kewenangan untuk mengajukan (sekaligus menuntut) draft proposal anggaran kepada anggota DPRD. Hal ini menjadi menarik manakala kita bisa melihat tindakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam konteks relasi penyelenggaraan pemerintahan pusat-daerah, dimana pemerintah daerah memberikan perhatiaannya secara khusus dalam mengatasi berbagai macam permasalahan yang mereka hadapi.

(7)

kebutuhan daerah. Kedua, pemerintah daerah melakukan berbagai kerjasama untuk bernegosiasi dengan pemerintah pusat, dimana mereka memfokuskan diri pada penyelesaian permasalahan lokal secara bersama-sama. Disamping itu inisitaif yang dilakukan pemerintah daerah juga diharapkan mampu merubah struktur kewenangan secara umum, dimana tuntutan masyarakat terhadap pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan mereka terhambat oleh otoritas pemerintah daerah yang diprioritaskan untuk mengajukan draft proposal pencairan dana (wujud pembatasan kewenangan pemerintahan daerah). Ketiga pemerintah daerah menyusun sebuah kebijakan sebagai kesatuan kebijakan dengan pemerintah daerah lainnya yang disusun secara berkesinambungan dan terintegrasi dengan kebijakan pemerintah pusat. Intelektual politik di Jepang pada dasarnya kurang mendapatkan perannya didalam penyelenggaraan pemerintahan lokal oleh pemerintah daerah. Hal ini sebagai efek dari pengkritisan yang mereka lakukan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah, dimana mereka menyatakan bahwa telah terjadi ketidakmandirian pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah yang pada dasarnya diberikan kewenangan atas pembangunan didaerah dan memungkinkan pemerintah daerah untuk membuat kebijakan secara otonom (tanpa peranan pemerintah pusat). Pada dasarnya hal ini mereka mungkinkan untuk mengoptimalkan peran pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal di daerah.

1.2 Perumusan Masalah

Adapun beberapa permasalahan yang akan diteliti, yaitu: 1. Apa faktor pendukung kepesatan pembangunan Jepang?

2. Bagaimana cara bangsa Jepang mencapai kemajuan pembangunan tersebut?

(8)

Tujuan makalah ini yaitu :

1. Untuk mengetahui apa faktor pendukung kepesatan pembangunan di Jepang.

2. Untuk mengetahui Bagaimana cara Bangsa Jepang mencapai kemajuan pembangunan tersebut.

1.4 Manfaat Makalah

Manfaat makalah ini adalah :

1. Untuk menambah referensi pengetahuan bagi penulis mengenai kemajuan pembangunan di negara Jepang.

2. Untuk memberikan informasi kepada pembaca, mengenai perencanaan pembangunan di negara Jepang.

1.5 Hipotesa

Bangsa Jepang dapat berkembang dengan cepat karena semangat untuk bangkit yang luar biasa dan didukung oleh budaya Bangsa Jepang yang tidak mudah menyerah serta mau belajar dari pengalaman. Ditambah strategi rekonstruksi pasca konflik yang tepat.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah Kebangkitan Jepang

(9)

pada tahun 1870. Selama PD II, Mitsubishi membuat pesawat terbang, termasuk pesawat terbang legendaris “Zero” yang menyerang Pearl Harbour 7 Des 1941. Saat itu industri yang menyokong teknologi PD II bukan hanya Mitsubishi tetapi juga banyak industri lainnya, seperti Nakajima Corporation yang juga memproduksi pesawat terbang. Setelah Jepang menyerah kalah ke sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, sekutu menguasai Jepang dan memberlakukan hukumnya di Jepang, diantaranya pelucutan senjata, liberalisasi, unifikasi wilayah dan desentralisasi ekonomi.

Sekutu yang dimotori oleh AS, menginginkan kemakmuran dan kekuatan ekonomi di Jepang yang saat itu tidak terkonsentrasi, tetapi harus lebih disebarluaskan (desentralisasi) dan dijadikan perusahaan publik dalam kerangka demokrasi. Saat itu di Jepang ada 4 konglomerat-keluarga (zaibatsu) yang dikenal dengan “the big four”, dan 14 yang lebih kecil. Mitsubishi yg merupakan “the big four” pada saat itu harus tunduk pula pada aturan sekutu. Kemudian aset Mitsubishi dibagikan ke seluruh pekerja dan penduduk lokal dalam bentuk saham, sehingga tahun 1946, Mitsubishi berubah menjadi perusahaan independent. Pada kenyataannya perusahaan yang terdesentralisasi mengalami banyak kesulitan dalam permodalan, produksi, dan pendistribusian hasil produksinya, sehingga akhirnya mereka saling menggabungkan saham mereka dan membentuk group (keiretsu), menjadi Mitsubishi Keiretsu atau Mitsubishi group.

(10)

telah menyebabkan Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan mencapai puncaknya di tahun 1980. Setelah perang dingin selesai akibat runtuhnya Uni Soviet ditahun 1991, hubungan Jepang dan AS masih tetap erat sampai sekarang baik dalam bidang ekonomi maupun militer. Kaisar Jepang saat ini bernama Kaisar Akihito, yaitu kaisar Jepang ke-125, yang bertahta sejak tahun 1989 menggantikan ayahnya yang bernama kaisar Hirohito yang meninggal dunia. Era pemerintahan kaisar Akihito ini bernama Pemerintahan Heisei.

2.2 Karakteristik Bangsa Jepang

Bangsa Jepang merupakan bangsa yang tidak mudah menyerah. Dari segi budaya, mereka menerapkan sistem kerja kolektif dan bukan merupakan bangsa yang senang meniru. Mereka selalu berusaha belajar dari kemajuan dan kesalahan bangsa lain tanpa harus mencontoh seutuhnya. Seorang ilmuan di Jepang benar – benar memiliki andil yang sangat besar dalam proses pembangunan bangsa. Ketika para ilmuan Jepang belajar teknologi maupun perekonomian di Amerika maupun negara Eropa, saat studi tersebut selesai, mereka akan dengan bangga kembali ke tanah airnya dan menerapkan apa yang didapat dengan beberapa modifikasi keunikan sistem sosial dan sistem budaya yang mereka miliki.

Bangsa Jepang memiliki rakyat yang cukup nasionalis. Ekonomi modern berkembang secara simultan dengan identitas budaya nasionalnya. Banyak pengamat Barat menyebut bahwa identitas kebudayaan dan institusi sosial adalah embrio kapitalisme Jepang. Ilmuwan barat menjuluki kebangkitan perekonomian Jepang sebagai sebuah pengecualian menyimpang (anomaly) dan paradoksal. Bagi ilmuwan Jepang teori ekonomi barat hanya dianggap sebagai “bahan baku” dan bukan alat yang langsung bisa dipakai.

(11)

Timur yang khas. Life-time employment, seniority based system, dan traditional family system adalah contoh-contoh nilai dan institusi tradisionil Jepang yang masih terpelihara hingga sekarang.

2.3 Strategi Pembangunan Ekonomi Jepang

(12)

Ada beberapa alasan yang menyebabkan Jepang enggan menggunakan fasilitas utang luar negeri, yaitu :

a. Investor asing tidak tertarik berinvestasi karena Jepang bukan Negara yang kaya sumberdaya alam sehingga “capital-inflow” dalam bentuk “Foreign Direct Investment (FDI)” tidak terjadi.

b. Pemerintah Jepang pada saat itu benar-benar belajar dari pengalaman Negara-negara lain yang mengalami kesalahan dalam mengelola foreign capital seperti yang terjadi di Negara Mesir dan Turki yang menyebabkan “kekacauan ekonomi” di kedua negara tersebut. Belajar dari kegagalan Negara lain, pemerintah Jepang giat mengkonsolidasikan sumberdaya domestik dan mendorong perusahaan-perusahaan lokal untuk menjadi mitra pemerintah dalam membangun dan memajukan perekonomian nasional serta membantu dan memfasilitasi masyarakatnya menjadi pengusaha-pengusaha baru. Dengan mengefektifkan sumberdaya-sumberdaya baru tersebut, Jepang memulai revolusi industrinya sebagai kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam sejarah Jepang, sebelum tahun 900, pinjaman luar negeri yang terbesar tercatat 5 juta yen yang dipinjam pada tahun 1870 ketika membangun ruas jalan kereta api antara Tokyo dan Yokohama. Prosentase pinjaman tersebut masih sangat kecil dibandingkan dengan total dana yang dipakai untuk membangun ruas jalan kereta api pada saat itu.

(13)

dibangun dan pada akhirnya menjadi landasan yang kuat dalam pertumbuhan ekonomi moderen di Jepang dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini mencerminkan bahwa “Sumber Daya Manusia” merupakan hal sangat penting sebagai bagian dari “infrastruktur sosial” dalam proses pembangunan. Dimasa lalu dalam sistem pemerintahan yang otokratis feodalisme, dimana Jepang masih menutup diri dari pergaulan internasional dan sistem perekonomian moderen tidak dapat dilaksanakan, peranan sekolah yang diprakarsai oleh kuil-kuil budha cukup mendorong iklim dan tradisi bisnis, sehingga masyarakatnya dapat bertahan secara berswadaya dan mandiri. Pertanian terutama hasil-hasil pertanian dilakukan dengan sistem cooperation and joint-undertaking.

2.4 Perencanaan Anggaran

Pemerintah Jepang menggunakan 3 jenis anggaran dalam mengelola keuangan Negara yaitu General Account Budget, Special Account Budget dan Government-affiliated Agencies Budget. General Budget Account mencatat penerimaan dan pengeluaran pemerintah secara umum. Sisi pengeluaran dalam general account budget dikategorikan berdasarkan bidang atau kegiatan pokok yang dilakukan pemerintah misalnya bidang pekerjaan umum, social, pendidikan dan ilmu pengetahuan, pertahanan nasional, dan lain¬lain. Sementara itu, penerimaan pajak dan hasil penjualan obligasi pemerintah merupakan bagian dari sisi penerimaan dalam General Account. Secara umum, general account memperlihatkan ringkasan dari keseluruhan kebijakan fiskal yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam tahun berjalan.

(14)

Jumlah special account ini disesuaikan kebutuhan tiap tahunnya. Namun, pemerintah Jepang tengah berupaya mengurangi jumlah special account tersebut secara bertahap karena mendapat kritikan dari masyarakat yang menganggap SAB tidak efisien dan kurang transparan.

Jenis akun lainnya adalah akun untuk mencatat kegiatan-kegiatan dari government-affiliated agencies. Agensi-agensi tersebut dibuat pemerintah berdasarkan undang-undang khusus dan dipisah dari manajemen pemerintahan, tetapi kepemilikannya sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Proses pengajuan anggaran pemerintah Jepang diawali dengan pembuatan kerangka dasar kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dan manajemen kebijakan fiskal. Rerangka dasar ini dibuat setelah mendapat masukan dari Fiscal System Council (FSC) dan Council on Economics and Fiscal Policy (CEFP). Tahap berikutnya adalah proses penyusunan anggaran yang meliputi beberapa tahap,antara lain pembuatan proposal, pengajuan dan penjelasan anggaran oleh masing-masing kementerian.

Setelah itu dilakukan negosiasi kemudian dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Dari proses itu dihasilkanlah draft pertama. Draft pertama itu kemudian dipresentasikan oleh departemen keuangan di sidang kabinet dan dilanjutkan dengan negosiasi tingkat menteri. Tahap tersebut menghasilkan keputusan kabinet tentang draft anggaran. Draft anggaran kabinet kemudian diajukan ke parlemen. Proses negosiasi dengan parlemen biasanya relatif cepat karena pada tahap penyusunan anggaran pemerintah telah melibatkan berbagai kalangan, termasuk politisi. Oleh karena itu, draft anggaran yang disampaikan ke parlemen sudah mengakomodir keinginan dan pendapat dari partai-partai politik.

Fiscal Invesment and Loan Program (FILP)

(15)

dihimpun dari masyarakat. FILP memberikan pinjaman atau investai pada FILP-agency, yaitu government-affiliated agencies, government financial institution, korporasi publik dan pemerintah daerah. Sebelum tahun 2001, sumber pembiayaan FILP bersumber dari tabungan pos, dana pension, dan surplus dari special account dan agensi pemerintah. Sejak 1 April 2001,sumber pembiayaan FILP berubah, yakni meliputi (1) dana yang dihimpun pemerintah dari penerbitan obligasi FILP, (2) dividen dari Electric Power Development Company Limited, Japan Tobacco Inc., Nippon Telegraph and Telephone Corp., dan surplus dari Japan Bank for International Cooperation, serta (3) dari obligasi yang diterbitkan FILP agency dengan jaminan dari pemerintah. Dana tersebut digunakan untuk membiayai proyek yang sifatnya jangka panjang dan umumnya sulit dilakukan atau tidak menarik bagi swasta, seperti infrastruktur social, pelayanan kesehatan, pembangunan daerah, dsb.

2.5 Perencanaan Pembangunan Komprehensif

Rencana Pembangunan Nasional Komprehensif (RPNK) Jepang didasarkan pada Comprehensive National Land Development Act tahun 1950. RPNK tersebut ditetapkan oleh perdana menteri dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan menteri terkait. Rencana Pertama telah disetujui pada tahun 1962. Pertumbuhan yang tinggi dari kegiatan industri setelah Perang Dunia II menyebabkan konsentrasi penduduk dan industri yang berlebihan di daerah-daerah metropolitan dan menyebabkan penurunan sosial ekonomi di pedesaan. Pada tahap perencanaan tersebut pemerintah mengadopsi konsep Growth Pole atau kutub pertumbuhan untuk mendorong perkembangan kota-kota industri jauh dari kota-kota metropolis yang telah ada.

(16)

diumumkan pada tahun 1969 dan dirancang untuk melanjutkan Rencana Pertama dengan membangun jaringan transportasi bermotor dan sistem Shinkansen (kereta cepat) di seluruh wilayah Jepang, serta melanjutkan proyek pengembangan industri, termasuk upaya relokasi industri dari daerah padat (removal areas) ke daerah yang kurang berkembang atau disebut “promotion areas”. Rencana Ketiga diluncurkan tahun 1979 dengan menetapkan suatu skema penciptaan kualitas lingkungan huni yang mandiri.

Skema tersebut dilaksanakan dalam bentuk proyek-proyek pembangunan yang komprehensif untuk tempat tinggal manusia atau “comprehensive development projects for human habitation”. Strategi pada periode ini merupakan strategi pendukung bagi rencana pembangunan dan pengembangan industri pada periode sebelumnya. Rencana Keempat dijalankan dari tahun 1989 hingga tahun 2000 (15 tahun). Rencana tahap keempat sangat berbeda dari periode-periode sebelumnya, karena lebih mengedepankan pada National Capital Region (NCR) dan peran positifnya dalam pengembangan Jepang secara keseluruhan. Pertumbuhan penduduk, industri yang kuat ditambah adanya globalisasi ekonomi dan informasi,serta investasi besar dalam infrastruktur sosial menandai periode hingga tahun 1989.

Sedangkan mulai periode ini, Jepang dibagi dalam 2 daerah NCR,yakni Area Tokyo Metropolitan dan “Daerah Luar” atau “Outer Areas”. Strategi ini bermaksud agar pengembangan NCR berfungsi sebagai pusat nasional dan internasional, kegiatan politik, ekonomi dan budaya. Rencana Kelima diumumkan pada bulan Maret 1998 dan mulai dilaksanakan awal tahun 2001 hingga sekarang yang diwujudkan dalam sebuah “Grand Design For the 21st Century” dengan menekankan pada keseimbangan pembangunan untuk mencapai kemandirian daerah dan penciptaan Tanah Nasional Indah (Promotion of Regional Independence and Creation of Beautiful National Land).

(17)

Jepang secara umum dibagi menjadi 8 region. Ada tiga daerah metropolitan terbesar – Ibukota Nasional (Tokyo), Kinki (Osaka-Kobe-Kyoto), dan Chubu (Nagoya) Kawasan. Selain itu, ada Kawasan Hokkaido, Shikoku, Kyushu, Tohoku dan Chugoku. Rencana NCR dan Daerah Kinki berisi kebijakan strategis dan proyek yang penting, khususnya kontrol lokasi industri di wilayah pusat pembangunan, pengembangan situs industri di daerah pinggiran kota, rencana kota baru dalam skala besar, dan pembangunan jaringan jalan motor metropolitan. Kebanyakan pelaksanaan pembangunan daerah diberlakukan pada tahun 1960 dengan ketentuan area khusus untuk industri dan infrastruktur di seluruh negeri. Industrial Relocation Promotion Act of 1972, misalnya, menentukan daerah mana industri yang harus direlokasi dan memberikan bantuan keuangan khusus dan insentif pajak.

b. Perencanaan Pembangunan Kota

UU Perencanaan Kota tahun 1968 menjadi dasar untuk perencanaan kota di Jepang. Fitur utama dari Undang-undang ini mencakup :

- Effective land-use control

- Functional city planning areas

- Delegation of power to local governments

Wewenang untuk perencanaan efek kota awalnya merupakan hak Menteri Konstruksi (di bawah Undang-Undang 1919). Namun kemudian diserahkan kepada Gubernur Prefektur di bawah Undang-Undang tahun 1968. Rencana kota yang melibatkan lebih dari satu kota dibuat oleh Gubernur, sedangkan rencana lain dibuat oleh pemerintah kabupaten.

(18)

kepada publik. Draft Rencana ini kemudian dibuka untuk opini publik kota yang bersangkutan. Hal ini menghasilkan Usulan Rencana Kota. Sebuah pemberitahuan publik dikeluarkan, dan pengajuan pendapat tertulis dari masyarakat dibuka selama dua minggu.

Dewan Perencanaan Daerah ini dibentuk untuk implementasi. Persetujuan dari Menteri Konstruksi diperoleh dalam koordinasi dengan Kementerian terkait. Rencana Kota Final kemudian diimplementasikan. Proses perencanaan tersebut menjadi bagian dari demokrasi di Jepang. Pelibatan masyarakat (dalam bahsa Jepang hal ini disebut machizukuri yang bisa diterjemahkan sebagai community participation), dalam perencanaan pembangunan telah meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap hasil pembangunan, menghindarkan konflik, dan memperkuat efek positif pembanguanan, meskipun harus diakui bahwa teknik bottom-up membutuhkan waktu yang lebih lama daripada teknik top-down.

(19)

Kota Nagoya

Perencanaan pembangunan di Jepang, meskipun masih berada dalam kontrol pemerintah pusat, namun pemerintah daerah juga diberi keleluasaan untuk mengembangkan daerahnya. Hal ini diwujudkan dalam skema desentralisasi yang disebut Zenkoku Sogo Kaihatsu Kaikaku atau lebih dikenal dengan zenso. Zenso merupakan perwujudan dari otonomi daerah di Jepang. Sasaran utama program Zenso berupa upaya pembangunan merata lewat pemberdayaan dan pengembangan potensi daerah masing-masing untuk pembangunan ekonomi daerah yang semuanya terjalin dalam satu konsep wide-area life zones.

Zenso diwujudkan dalam 4 (empat) tahapan program pembangunan, yaitu:

(20)

• Zenso II (1969-1975), pembangunan difokuskan pada pengembangan new nationwide networks seperti telekomunikasi, transportasi udara, kereta ekspres (shinkansen), highways, pelabuhan laut dan sebagainya, serta pembangunan industri-industri berskala besar, khususnya di kota-kota industri.

• Zenso III (1977-1985) yang semula menekankan pada industri dan pertumbuhan ekonomi tinggi menjadi bergeser kepada pentingnya memperhatikan dan memperjuangkan kualitas hidup masyarakat. Yang tak kalah penting juga adalah penyebaran kegiatan-kegiatan industri (industrial dispersion) ke tingkat-tingkat daerah guna menekan konsentrasi kegiatan industri pada kota-kota besar tertentu saja, seperti Osaka dan Nagoya.

(21)

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

(22)

Rencana pembangunan tidak selalu ditetapkan untuk jangka waktu yang sama, tetapi lebih menekankan pada kebutuhan. Rencana pembangunan juga dijabarkan dalam rencana lingkup nasional, regional, dan lokal. Dalam perencanaan pembangunan tersebut, masyarakat berpartisipasi aktif sehingga tercipta keadaan “dari Jepang, oleh Jepang, untuk Jepang”.

3.2 SARAN

(23)

DAFTAR PUSTAKA

http://kampekique.wordpress.com diakses 20 Maret 2014

http://id.wikipedia.org diakses pada 25 Maret 2014

http://www.antaranews.com/berita/1281882466/zenso-otonomi-daerah-jepang-sebagai-referensi diakses pada 01 April 2014

http://www.mlit.go.jp/kokudokeikaku/zs5-e/index.html diakses pada 01 April 2014

(24)
(25)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...