1
Pergerakan Budaya Sosial-Politik Islam Indonesia Kontemporer
Oleh : Bambang Afriadi
ABSTRAK
Dalam tulisan ini membahas pemahaman pergerakan Islam pada tingkat Produksi, Distribusi, Politik dan Diskriminatif dalam masyarakat Indonesia kontemporer, dengan identitas budaya dan identitas agama Islam dalam kontek nasion. Konsep ini mengacu pada awal munculnya pertempuran metafisik antara kekuatan baik dan jahat yang menghidupkan imajinasi agama dan memaksa tindakan gerakan sosial dan membentuk beberapa kelompok dalam beragama , dari kekacauan yang terjadi pada konteks Indonesia kontemporer ini di sadari gerakan-gerakan agama yang meyakini agamanya memiliki visi atau gambaran yang ideal tentang kehidupan budaya serta sosial-politik Indonesia kontemporer, hal ini mendorong gerakan-gerakan untuk memperbaiki realitas tersebut agar sesuai dengan idealitas keagamaannya sebagainya sebagai tanda tantangan itu telah bermain pada level praksis, budaya serta sosial-politik. Dalam fakta sejarah juga menunjukkan bahwa pergerakan islam telah lama mengakar dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dalam kontek tulisan ini mencoba memahami sosial-politik gerakan islam dalam aspek kebudayaan Indonesia kontemporer. Untuk membicarakan ”Evolusi Agama dalam konteks budaya” sebagai fokus pembahasan ini, agaknya terlebih dahulu perlu disepakati bahwa agama merupaka n bagian dari budaya, yang membedakan budaya tanpa nilai agama dan budaya yang memiliki nilai agama. Kontek Indonesia kontemporer ini banyak gerakan yang mengatasnamakan agama dengan paham melawan yang jahat dan menegakan yang baik yang secara dokrin bahkan radikal yang di dasari fundamentalisme agama, namun kita sadari bahwa kebaikan atau dasa r kebenaran yang ada di bangsa Indonesia tidak membenarkan asas kebenaran tunggal kelompok.
Kata kunci: Produksi, Distribusi, Politik dan Diskriminatif
PENDAHULUAN
Mencermati dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara konteks Indonesia kontemporer ini mencangkup beberapa hal sebagai berikut: Penguatan budaya kekerasan yang mengatas namakan agama, menipisnya kesadaran pluralisme sehingga perbenturan demi benturan tidak terelakan. serta oknum kelompok yang sering di sebut radikalisme paham agama mengikiskan budaya suatu kelompok yang telah ada sebelumnya.
Secara Politik Indonesia kontemporer kini memasuki krisis multidimensi yang memicu kontestasi sosial-budaya. Menjadikan Indonesia kontemporer mengalami kekosongan budaya yang nasion. Menyebabkan pergerakan agama dalam Islam muncul sebagai kekuatan besar yang secara tidak langsung mengokohkan nilai dan norma budaya bersumber agama.
2 identitas budaya lokal dan nasion yang plural. Dikotomi yang dalam aspek politik nasionalis sekuler dan agama dalam kehidupan Indonesia kontemporer yang besar kian hari kian komplek. Dalam hal ini nasionsalisme ditunjukan (Ernest gellner) menyatakan bahwa ”nasionalisme adalah sebuah prinsip politik yang menegaskan bahwa kesamaan budaya adalah ikatan sosial dasar” lebih lanjutnya ia mengemukakan bahwa” prinsip-prinsip otoritas apapun yang ada diantara rakyat bergantung legistimasinya pada fakta bahwa anggota kelompok di maksud berada pada kultur yang sama”.1
Untuk megkaji pada praktek agama terkait dengan konsep penting utama dalam sosiologi (durkheim), inti fakta sosial agama merupakan fakta sosial adalah setiap cara bertindak, fiks atau tidak, yang mampu memaksa individu dari luar; atau setiap cara bertindak yang umumnya berlaku dalam suatu masyarakat tertentu, sekaligus memiliki eksistensinya sendiri dan bebas dari manifestasi individu. Bila hal ini terjadi pada kelompok agamais merupakan individu-individu yang beragama dan memiliki fanatisme tinggi terhadap nilai, norma, budaya dalam agamanya secara kolektif membingkai konsep agama dengan realitas masyarakat. Ketika Indonesia kontemporer dalam hal budaya telah mengalami kekosongan, karekteristik identitas kolektif berbangsa di pertanyakan, akan dibawa kemana kultur dengan fluralismenya.
Di saat pengglobalan ruang dan waktu sudah menggerus itu semua. Mungkinkah agama sebagai pengisi kekosongan kultur yang begitu komplek dalam politik sosial. Jika dikaji pada perpektif konstruksionalis (agensi-struktur) bahwa peran agen (keagamaan) dalam mengkontruksi indonesia kontemporer dalam ranah sosial. Pengaruh struktur sosial agamis terhadap tindakan sosial keagamaan agen, kontrol pada tatanan nilai yang terdapat dalam agama, sehingga agama merupakan konsep aturan yang secara sadar maupun tidak mempengaruhi tindakan individu. Di indonesia walaupun kesamaan dalam agama, namun apresiasi implementasinya berbeda, hal ini karena pengaruh budaya yang membuat tatacara dan persepsi mereka berbeda dalam ruang lingkup pada sesuatu yang benar dan salah, yang kita ketahui sebagai awal dari sebuah pergerakan.
PEMBAHASAN
1. Islam dalam Sosial-KebudayaanKonsep identitas kebudayaan nasional pada hakekatnya adalah manifestasi nilai-nilai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang dalam asfek kehidupan suatu bangsa (nation) dengan ciri khas, dan dengan ciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupanya.2 Dalam hal unsur identitas kebudayaan nasional, adalah pengetahuan manusia sebagai makhaluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan secara kolektif di gunakan oleh pendukung-pendukung untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang di hadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang di hadapi.3
1 Robertus Robet, Republikanisme dan Keindonesiaan, hal.128
2 Tim Dosen Kewarganegaraan UNJ, Pendidikan Kewarganegaraan, hlm. 36
3
Identitas nasional dan sosial-kebudayaan nasional dalam kontek ke-Indonesiaan kontemporer dengan kompleksitasnya maka hal ini akan menimbulkan suatu kontestasi identitas budaya yang satu sama lainnya berlainan dalam ruang lingkup masyarakat Indonesia yang majemuk dengan kepercayaan yang berbeda atas satu pengakuan status quo kebudayaan . Ketika identitas Indonesia dalam kontek ini di seragamkan (secara kolektif) pastinya kontroversi itu akan timbul menjadi konflik horizontal besar yang harus mengalahkah identitas kebudayaan lain dan memenangkan satu kebudayaan identitas unggul. Salah satu agama memang tidak dapat memasuki dalam ranah kebudayaan nasion, dalam kontek kemajemukan indonesia. Diawal 2013 sebuah kasus budaya yang menjadi pro dan kontara di wilayah Aceh dalam kaitannya dengan kebudayaan islam contoh kasus pada Pemkot Lhokseumawe yang menrencanakan Perda “larangan ngangkang saat di bonceng pada wanita”, kasus ini menjadi perhatian banyak, Lhokseumawe merupakan daerah dengan kebudayaan islam yang unggul, dalam segi pemerintahan Lhokseumawe yang merupakan bagian dari wilayah Aceh yang merupakan daerah istimewa dan berhat membuat aturan sesuai dengan keiatimewaan daerahnya. Namun di sadari Lhokseumawe merupakan bagian dari Indonesia yang ber-ideologikan kebudayaan yang bebas dalam arti tidak ada yang unggul secara pemerintahan dan peraturan dalam kebenaran tunggal, hal inilah yang harus di sadari bahwa akan timbul diskriminasi serta marjinalisasi kebudayaan yang minoritas bila kebenaran tunggal memasuki ranah publik. Identitas kebudayaan Indonesia haruslah berakar dalam konsep keberagaman dan toleran, bukan pada satu kebudayaan yang memegang kebenaran tunggal.
Merujuk dari aliran gerakan organisasi sosial dalam agama islam yaitu Nahdhatul Ulama dan Muhammadyah, dalam konsep falsafah hidup gerakan islam ini merujuk pada kontek keislaman itu namun pada kontek ideologi gerakan kedua gerakan besar islam ini saling bersebrangan. Hal ini menjadi tantangan yang utopia bagi gerakan agama islam yang secara publik ingin mengislamisasikan Indonesia. Realitas gerakan-gerakan islam, memang beragam latar belakang dan kepentingan, hal ini juga menyulitkan penyeragaman yang nasion. Namun kita menyadari islamisasi begitu kuat dan terus memperluas ideologinya dalam ranah budaya serta sosial-politik, inilah yang menjadi sebuah kajian terus menerus. Walaupun kita sadari peran agama islam dalam pembentukan karakter bangsa indonesia memiliki pengaruh kuat, dari zaman prakemerdekaan sampai era Reformasi.
Etimologi Sejarah Politik Islam
4 Ketika Orde Lama tumbang Perjalanan gerakan islam pun terhenti dalam ranah politik dan sosial, ketika Rezim Orde Baru berdiri, politik meredam gerakan islam dalam aspek politik dengan pembubaran partai Masyuni dan di tolaknya rehabilitasi partai tersebut, yang membuat tokoh-tokoh penting dalam Masyuni di perbolehkan memimpin Parmusi dengan di batasinya jumlah partai-partai islam dari empat (NU, MI PSII DAN Perti) manjadi satu partai yaitu PPP, yang menjadikan tidak bolehnya islam sebagai asas organisasi sosial dan politik. Secara kaidah gerakan islam dalam ranah politik telah kalah oleh rezim Orde Baru, sehingnga akses kebijakan politik pemerintahan melanggengkan asas tunggal pemerintahan yaitu Pancasila, dengan pembenaran asas tunggal ini maka gerakan-gerakan islam secara radikal baik budaya serta sosial-politik di kontruksi oleh rezim Orde Baru.
Melihat perjalan gerakan Islam yang panjang dengan ideologi bangsa indonesia yaitu pancasila sejak runtuhnya orde baru, bangsa indonesia seakan-akan juga runtuh nilai asas tunggal Pancasila. Kerisis multi dimensi (kepercayaan, sosial-budaya dan kepemimpinan) membuat Pancasila seakan tenggelam dalam peradaban bangsa indonesia. Sejak saat itulah bermunculan gerakan-gerakan ke agamaan yang secara konseptual dan kepemerintahan masuk kedalam kekosongan krisis multi dimensi yang berkepanjangan ini dalam hal ini gerakan yang disebut akar rumput Islam bermunculan sebagai bentuk dari proses demokratisasi, yang pada konsep ini gerakan-gerakan akar rumput seperti From Pembela Islam, Hizbut Tahrir, Himpunan Mahasiswa Islam dan gerakan yang lainnya, muncul sebagai gerakan yang eksis menasionalisasikan permahaman nilai agama melalui gerakan yang mereka masuk dalam sistem kemasyarakatan dan kepemerintahan. Kontestasi yang tidak terhindarkan dalam melihat kebenaran tunggal kelompok membuat ketidak pastian dalam menentukan arah dan tujuan bangsa ini, yang seakan akan tenggelam dalam polemik “menerapkan dan menterjamahkan” baik dan buruk untuk menuju masa depan bangsa.
Dalam konteks pancasila sebagai identitas kebudayaan barsama yang relevan dan merangkul semua kebudayaan dan agama di indonesia yang tergelam oleh eksitensi ideologi agama. Dalam kontek ini penulis ingin merefleksikan bahwa indonesia dari masa-kemasa, telah menganut pemahaman tentang kontek perbedaan yang pada hakikatnya terbingkai dalam kontek keindonesiaan, memang di sayangkan setelah runtuhnya era orde baru yang pada saatnya menafsirkan Pancasila secara konseptual yang dokrinitas dan radikalis, membuat indonesia kontemporer seakan menjauhi ideologi Pancasila. Sejak runtuhnya era orde baru, konflik seakan bagaikan bom atom yang meledak di tengah kondisi yang memprihatinkan. Kebimbangan dan keberpihakan serta kepentingan muncul di mana tidak adanya netralitas di masyarakat dan kehidupan bernegara.
5
Dalam hal ini mari kita lihat 3 wujud kebudayaan untuk mengkajinya4: 1) Wujud kebudayaan sebagai kompleks dari idea, gagasan, nilai, norma,
peraturan.
2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas secara tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Ketika pancasila di letakan pada konsep Indonesia kontemporer, dimana semua kebudayaan khususnya dalam kontek gerakan agama dan nasionalis sekuler telah bertempur memperebutkan bangku identitas bangsa indonesia dengan berbagai cara, sehingga ideologi pun kini jadi komoditi pasar persaingan budaya dan identitas bersama sehingga pancasila seolah-olah kini tenggelam dalam peradaban bangsanya. Ketika identitas dimana Indonesia kontemporer haruslah berdasarkan kebudayaan agama yang pada dasarnya relevansi keberagaman dengan Indonesia itu sendiri bertentangan.
Konsep Esensialisme kebudayaan pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu memilik identitas yang tetap, stabil dan bisa di universalkan. Dan letakan nilai Pancasila dalam konsep esensialisme kebudayaan nasional. Contoh nilai yang terdapat pada sila pertama “ketuhanan yang maha esa” kata ketuhanan merupakan identitas tetap bagi setiap makhaluk (rakyat indonesia) yang memilki kepercayaan yang dan bersifat tetap, dan dalam sila pertama tersebut memilki sifat kata yang dapat di universalkan untuk setiap mahluk beragama.
Namun ketika konsep esensialisme kebudayaan meletakan suatu ideologi budaya agama dalam bentuk kebudayaan Indonesia yang majemuk, maka hal ini tidak dapat menjadikan suatu ciri khas bagi bangsa Indonesia, yang memiliki keberagaman. Karena kebudayaan agama bersifat statis dan hanya relevan bagi pemeluk kepercayaan agama tersebut, dikarenakan setiap daerah yang ada di dalam Indonesia berbeda satu sama lain dalam hal agama, etnis, suku dan ras. Sehingga pemersatu perbedaan haruslah di pertahankan dalam konsep kebudayaan bersifat tetap namun universal bukan malah di pertentangkan.
Perjalan sejarah kebijakan politik kebudayaan, merujuk konsep “gellner”, kebudayaan adalah anak kandung atau proyek sejarah industri suatu masyarakat yang terlalu gagah dan kompleks untuk hanya sekedar di abadikan bagi kemauan individual. Ini sangat relevan dengan suatu era kekuasaan di mana sejarah menjadi bagian penting dari perkembangan budaya yang ada di Indonesia ketika nilai agama di universalkan dalam kontek kenegaraan.
2. Politik Ruang Publik
Sejak kemerdekaan, perdebatan masalah kemasyarakatan senantiasa di dominasi pertukan fikiran antara kaum elitis dan kaum populis. Tentang islam, seperti dikembangkan Bung Karno, tetapi itu hanya meramaikan situasi yang tidak menjadi isu utama. Masalah pokok yang di hadapi adalah bagai mana selanjutnya Indonesia harus di bangun, dalam hal ini mengisi kemerdekaan. Dalam perdebatan itu warga Nahdhtul Ulama (NU) memiliki peran penting dalam membangun dan negara Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, pengurus besar NU di Surabaya, mengeluarkan “resolusi Jihad” untuk mempertahankan dan memperjuangkan
4
6 Republik Indonesia dalam kewajiban agama atau disebut jihad, meski Indonesia bukan negara Agama.
Negara islam adalah sesuatu yang tidak konseptual dan tidak di ikuti mayoritas kaum muslim. Hal ini menjadi amat penting, karena mengemukakan gagasan negara islam tanpa ada kejelasan konseptualnya, berarti membiarkan gagasan itu tercabik-cabik karena perbedaan pandangan para pemimpin islam sendiri.5 Ini karena pada islam tidak memiliki sistem konsepsi suatu negara islam seperti apa akan di bentuk, dan ketika merujuk pada negara-negara yang mengakui akan bentuk negara islam (negara timur). Namun pada dasarnya hal yang dilakukan negara-negara timur tidak memilik kejelasan bagai mana islam memilih pemimpinnya. Akibatnya sistem mornarkilah yang terbentuk di negara timur.
Indonesia dalam sejarah dan Indonesia kontemporer, tidak lepas dari intervensi suatu privatisasi kelompok untuk menerapkan nilai budayanya dalam kontek nasional dengan kelompok baik secara dokrin bahkan radikal yang belakangan muncul satu-persatu kepermukaan. Dari intervensi kelompok dari agama mayoritas terhadap agama monoritas sampai pada budaya populer menindas budaya sederhana (tradisional/kepercayaan). Dan dengan adayanya intervensi dari agama, maka seakan-akan negara ini adalah milik privat satu kelompok. Pembahasan disini akan dibahas bahwa islam adalah agama mayoritas yang dominan di setiap intansi pemerintahan dan masyarakat. Dalam hal ini islam sebagai agama yang paling berpengaruh dalam setiap kebijakan dan perundang-undangan dan sistem sosial.
Mentri agama yang seharusnya milik semua agama, namun belakangan ini mentri agama yang tidak mempersatukan perbedaan agama yang ada, malah hanya mementingkan satu kelompok agama mayoritas. Sehingga penulis dapat menyatakan bahwa ini akan menimbulkan kecemburuan antar umat beragama yang merasa termarjinalisasi. Dalam hal ini secara langsung dan di sadari bahwa islamisasi indonesia akan pada suatu letak yang di perhitungkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kehidupan sosial masyarakatpun tidak lepas dari nilai yang di bawa agama islam oleh kelompok melalui media yang di sebut syiar agama baik cetak maupun elektronik, segala sesuatu hal yang baik selalu di sinyalir di ambil dari agama tersebut, segala yang menyangkut moralitas dan sistem interaksi yang di bawa kedalam ruang publik seakan akan hanya ada satu ajaran di negara ini yaitu islam contoh kebudayaan film dan media-media di intervensi oleh agamais yang membuat batas-batas, kebebasan berekfresi hilang. Intervensi dan diskriminasi agamais mayoritas terhadap budaya minoritas dengan arus globalisasi budaya dan politik yang tidak jelas arah dan tujuannya. Menimbulkan ruang publik Indonesia kontemporer sebagai ajang pertarungan budaya antar dikotomi yang berseteru. Keyakinan akan mengkonstruksi bagai mana nasion di bentuk menjadi sebuah dilimatisasi dengan perbedaan yang bangkit sebagai sebuah hal yang harus di musnakan. Dimana tantangan demi tantangan mulai banyak di hadapi indonesia kontemporer bukan hanya tingkat lokal namun tingkat global yang terus menggerus identitas kebudayaan Indonesia yang kolektif.
7
Dalam ini agama masih mempengaruhi konsepsi umum tentang kehidupan sosial dan budaya sejak prakemerdekaan dan reformasi. Politik kebudayaan seharusnya di perlukan untuk menjawab kebutuhan mengenai arah dan cita-cita Indonesia sebagai suatu komonitas politik yang masih perlu di pertahankan. Isu-isu kekuasaan dan budaya yang akan di tampilkan dari kekuasaan tersebut selalu bersifat “politis” karena secara otomatis tidak bisa terlepas dari persoalan kekuasaan. Akibatnya budaya merupankan Zona politik yang paling ideal mengkontruksi sebuah negara dalam aspek pemerintahan dan sosial.
Dalam pemberitaan di berbagai media massa, kerap terbaca bahwa doktrin dianggap sebagai penyebab utama terjadinya konflik beragama, sebuah klaim yang agak sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Dalam pembenaran contoh kasus pemerintah membuat sebuah Undang-Undang anti ponografi dan porno aksi, jika di uji kebenarannya pembuatan undang-undang tersebut tidak lain di belakangi oleh ormas agama, dalam hal ini islam sebagai agama mayoritas bukan dari sudut pandang jumlahnya saja namun pada sisi politiknya agama islam berperan dalam medokrin ideoliginya lewat kebijakan politik. Melihat kasus yang terjadi yang mendapat pro dan kontra tentunya, ketidak berpihakan pada pengesahan undang-undang ini terdapat pada kelompok luar islam, yang merasa undang-undang-undang-undang ini di anggap sebagai bentuk dari perpecahan budaya dan menghomogenitaskan semua kelompok. Namun dalam hal ini politik sebagai pertimbangan umum di musnakan. Ini secara jelas terjadi dalam berbagai kasus aspirasi perundangan belakangan ini. dalam kasus RUU Anti Ponografi dan Porno aksi serta perda-perda bermasalah, kita sebenarnya mengkhawatirkan bahaya dari makin sulinya memperkokoh akal budi manusia indonesia karena berbagai peraturan tersebut lebih bermaksud mengklaim kebenaran tunggal, mentotalisasi ruang publik, dan kehancuran perbedaan, ketimbang misalnya sungguh-sungguh melindungi perempuan dan anak-anak dari pornografi.6
Dalam kasus ini terlihat bahwa kebenaran tunggal ruang publik akan peraturan menjadi kontropersi, di karenanakan secara sistematis ponografi dan porniaksi tidak ada batasan yang jelas. Dalam peraturan ini pula guka melihat budaya yang ada di indonesia maka pertanyaan tentang RUU Anti Ponografi dan Porno aksi, bagai mana dengan budaya yang ada di masyarakat daerah timur indonesia (papua). Yang mayoritas dari mereka tidak menggunakan pakaian yang layak yang dapat dikatakan Ponografi dan Porno aksi. Dan bagai mana dengan masyarakat yang miskin yang kekuranan pakaian. Apakah dari mereka harus di usir dari indonesia ataukah mereka harus menyesuaikan dengan kondisi dimana mereka tidak menyukai hal tersebut. contoh ketika oprasi koteka pada era orde baru, dimana pemerintah berfikir dengan ekonomi yang mulai stabil dan indonesia telah memasuk babak perekonomian yang maju, tapi masih ada rakyatnya yang tidak memakai pakaian, maka terlaklaksanalah oprasi koteka(pakaian adat papua) tersebut. namun kenyataannya oprasi koteka tersebut gagal. Di karenakan masyarakat tersebut lebih nyaman dengan apa yang mereka pakai.
3. Politik Gerakan Islam
8 Zald menyatakan bahwa topik mengenai framing sebagai sebuah aktivitas strategi. Yaitu Keretakan dan kondisi budaya menyediakan konteks dan sekaligus kesempatan bagi kader-kader gerakan, yaitu pimpinan, partisipan inti, aktivis dan simpatisan, ada sebuah proses aktif faming dan pendefiniasian ideologi, simbol, peristiwa-peristiwa yang mampu menjadi akion oleh para pengusaha moral.7 Dalam kontek sosial-politik, NU dan Muhammadiyah memiliki strategi dalam mengkaderisasi masyarakatnya lewat pendidikan, politik dan media populer (televisi) dan lain sebagainya, kedua gerakan ini meluhat peluang kekosongan identitas secara tidak langsung memberikan dokrin kepada masyarakat lewat sosialisasi yang dilakukannya.
Latar belakang dan frame referensi dengan menilai motivasi agama dalam politik nasional, apa yang dapat menyebabkan kekerasan dengan akar agama menegakan kebaikan, dalam beberapa kasus gerakan agama ternyata telah masuk dalam ruang publik yang mencangkup lebih luas hal ini dapat di analisis dalam ruang politik, sebagai berikut:
1) Politik Pendidikan
Dalam dunia pendidikan gerakan organisasi agama seperti Muhammadiyah, telah merancang sedemikian rupa pendidikan sebagai proses freming atau kaderisasi Pendidikan Muhammadiyah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari gerakan Muhammadiyah. Dari pendidikan Muhammadiyah ini diharapkan akan muncul kader-kader Muhammadiyah yang mampu mengemban misi selaku khalifatullah fil ardl(pemimpin di muka bumi). Oleh karena itu, dalam upaya mewujudkan misi tersebut diperlukan suatu pendidikan yang berorientasi pada pencapaian visi keunggulan dalam kepribadian (iman dan taqwa serta akhlaq mulia), kompetensi keilmuan, dan keterampilan. Untuk melancarkan amal usaha seperti pandangan, cita-cita serta cara yang ditempuh maka sangat penting, Muhammadiyah memilki pegangan yang pasti untuk masa kini dan seterusnya, baik anggota-anggota pimpinanya. Dalam hal ini mata pelajaran kemuhammadiyahan di rumuskan sebagai kepribadian Muhammadiyah.
Pelajaran kemuhammadiyahan wajib di ajarkan di sekolah Muhammadiyah, untuk yang pertama latar belakang Muhammadiyah, yang kedua tujuan muhammadiyah dan kederisasi Muhammadiyah. Muhammadiyah mengajarkan membentuk kader-kader Muhammadiyah dengan belajar kemuhammadiyahan dengann tujuan positif dengan belajar Muhammadiyah di sekolah dengan belajar tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam mata pelajaran kemuhammadiyahan. Dalam mempelajari kemuhammadiyahan, ciri-ciri pelajar Muhammadiyah dan fungsi lembaga pendidikan muhammadiyah, maka tamatan pendidikan muhammadiyah diharapkan akan menjadi penerus, pelopor dan penyempurna amal usahas muhammadiyah. Tetapi muhammadiyah juga menyadari tidak semia pelajar muhammadiyah dari keluarga muhammadiyah sudah dapat dikatakan bahwa pendidikan muhammadiyah sudah benar-benar berhasil. Selama ini juga menunjukan tidak sedikit mereka yang tidak berasal dari keluarga Muhammadiyah
9
yang ternyata dapat menjadi kader muhammadiyah serta tujuan muhammadiyah yaitu baldatun thayyibatun warrobbun ghafur segera terwujud.
2) Politik Gerakan Partai
Partai politik merupakan sarana bagi warga negara untuk turut serta atau berpartisipasi dalam proses pengelolaan negara.8 Partai politik merupakan akses utama mengnasionalisasikan ideologi, baik secara pengelolaan kenegaraan maupun kemasyarakatan. Munculnya gerakan partai yang ber-ideologikan nilai agama, memang bukan hanya terjadi dalam konteks Indonesia kontemporer sejak era kemerdekaanpun banyak seperti partai Masyuni, yang lebih mengarah pada pembentukan Negara Islam Indonesia (NII), yang pada masa pemerintahan soekarno di bubarkan dan pemimpinnya di eksekusi dengan hukuman mati.
Pada masa pemerintahan orde pun dapat di analisis partai-partai yang ber-ideologikan agama yang di terjemahkan oleh penguasa Orde Baru kedalam partai yang nasional yang menyebabkan perang dingin persaingan politik . Namun dalam kontek indonesia kontemporer partai gerakan rakyat yang menciptakan partai politik mulai beragam, dari berbagai aliansi agama-agama yang ada di indonesia. Sejak saat partai politik seakan-akan bentuk kontestasi dan intimidasi terhadap agama-agama. Gerakan-gerakan keagamaan yang mempertahankan iman dan keyakinannya saling mernyerang dan menjatuhkan, hal ini lah yang menjadi latar belakang konflik antar umat beragama. Dalam kontek ini baik dan buruk suatu iman dan keyakinan yang masing-masing kelompok pertahankan menimbulkan gerakan-gerakan saling berprasangka dan mungkin masa depan inidonesia akan menjadi masa depan konflik berkepanjangan antar agama yang membela kepercayaan serta iman mereka dalam mengkontruksi negara ini.
Kita dapat mengambil contoh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang memilki ikantan historis dengan NU, yang terlahir melalui proses amanat demikratis yang di trasformasikan secara langsung kepada praktik demokrasi. Mengambil peran yang cukup besar bagi keputusan dan kebijakan arah negara. Hal inilah yang membuat indonesia kontemporer tidak lepas dari gerakan-gerakan partai politik keagamaan.
3) Politik Gerakan sosial kemasyarakatan
Untuk memahami tempat agama dalam rasionalisme nasional, sangat penting untuk mengakui bahwa masyarakat merupakan proyek moral, yaitu, sebuah proyek dari dunia bangunan. Kehidupan sosial merupan arena terpenting dalam proses menanamkan sebuah ideologi, dari interaksi yang dilakukan dapat mempengaruhi iman dan kepercayaan individu dalam menulai sesuatu. Ketika aktor agama terlibat modernitas, mereka selalu membangun identitas agama mereka. Pada kasus arena sosial tidak lepas dari peran media yang secara langsung maupun tidak langsung mengkontruksi sikap individu. Dalam strategi politik suatu pencapaian usaha untuk menggapai sesuatu yang diingikan haruslah di sistematiskan dalam aspek kehidupan.
Gerakan agama islam dalam hal ini telah memasuki ranah yang sangat luas dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh kasus media televisi merupakan strategi dan tempat yang strategis dalam menyiarkan ajarannya, hal inilah yang secara
8
10 langsung maupun tidak langsung gerakan politik kemasyarakatan untuk menanamkan nilai sangat sistematis. Baik berdasarkan politik kemasyarakatan dan politik bernegara, gerakan islam telah mencapai pada titik di mana masyarakat indonesia kontemporer dapat meneriama nilai yang terkandung dalam ajaran islam. Baik nahdatul ulama yang merupakan gerakan islam yang besar di indonesia, mengatur dan mempengaruhi kehidupan berbangsa. Dalam aspek budaya dan politik, nahdatul ulama merupakan gerakan yang dapat merelevankan konsep nilai islam kedalam ruang publik, walaupun secara harpiah mereka secara tidak langsung telah masuk dalam ruang publik.
Dalam berbagai gerakan kecil seperti From Pembela Islam, Hizbut Tahrir, Himpunan Mahasiswa Islam dan gerakan yang lainnya. Telah masuk keranah sosial masyarakat, pemerintahan serta pendidikan sebagai agen pengontrol, namun jika di analisa dengan begitu banyaknya gerakan agama Islam namun proses nasionalisasi dengan tujuan negara islam, hal ini mungkin hanya sebagai suatu yang utopia, ketika persepsi dalam gerakan berbeda namun pada dasarnya berlandaskan ajaran islam.
KESIMPULAN
Agama mempunyai kaitan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat, agama mempunyai fungsi dan peranan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat di pecahkan secara empiris. Pentingnya gerakan agama dalam perjalanan bangsa Indonesia, adalah dalam aspek pengontrol masyarakat dan pemerintah membawa bangsa Indonesia tidak terlalu tenggelam dalam ranah keterpurukan moral. Namun harus kita sadari gerakan agama terkadang mengarah pada dokrin yang radikalis, yang secara umum telah mendiskriminasi agama minoriyas serta kebudayaan minoritas yang ada dalam ruang publik.
Pada dasarnya kerakteristik dari suatu bangsa ada dalam konsep kebudayaan yang di bentuk melalui segi sosial-politik. Identitas kebudayaan Indonesia kontemporer kehilangan dimensi identitas yang tetap, stabil dan bisa di universalkan. Ketika rasa pancasila absen dari kehidupan berbangsa bernegara maka Indonesia yang dinamik dan plural tidaklah seperti itu lagi. Maka dari itu pula penulis berkeyakinan jika, suatu kontruksi agama-kebudayaan melalui politik yang kolektif dan tersistematisasi haruslah mereaktualisasi pancasila (menghadirkan kembali pancasila di dalam sendi berbangsa dan bernagara) sebagai identitas ideologi kebudayaan, di zaman yang penuh tantangan dan ketidak pastian. yang di dalam nilai-nilai terkandung di dalamnya merupakan cita-cita dan karakteristik bangsa Indonesia yang plural.
11
dunia politik dan kemasyarakatan, gerakan keagamaan memang tidak dapat di pungkiri merupaka wujud dari mempertahankan iman dan kerpercayaan. Hal inilah yang harus di cari jalan solusinya agar di masa mendatang gerakan-gerakan agama hanya mengurusi iman dan kepercayaan dalam agamanya dan tidak mengusik agama yang lain dalam hal iman dan kepercayaan, dengan rasa toleransi dan memahami perbedaan maka indonesia di masa mendatang merupakan bangsa yang kuat dalam bingkai perbedaan yang saling melengkapi antar geraka-gerakan keagamaan yang bertujuan untuk kepentungan dan kebersamaan memajukan, mensejahtrakan dan menegakan keadilan bangsa indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Tim SETARA Institute. Dari Radikalisme Menuju Terorisme (Studi Relasi dan Transpormasi Organisasi Islam Radikal di Jawa Tengah & D.I Yogyakarta), SETARA Institute, Jakarta, 2012.
Wahid Abdurrahman, Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat,cet.4. Kompas, 2010.
Maduro, Otto. 1989. Religion and Social Conflicts. New York. Orbis Books.
Kodri, Suratno, Hidayat Syarif, Syayid(2002). Buku Sumber Pembelajaran Kemuhammadiyahan. Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta).
Robet Robertus, Republikanisme dan Keindonesiaan Sebuah Pengantar, Marjin Kiri, 2007
Tim Dosen Kewarganegaraan UNJ, Pokok-Pokok Materi Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, Edisi Revisi, Jakarta, 2010.
Rizer George dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi : Dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Muktahir Teori Sosial Postmodern. Yogyakrta : kreasi Kencana, 2008.
Alhaj Pangeran dan Patria Surya Usmani, Materi Pokok Pendidikan Pancasila, Cet.2. Modul 1-6. Universitas Terbuka, 1994.
Alvin dan Suwarsono, Perubahan Sosial dan Pembangunan, cet.2. Jakarta, LP3ES, 1994
Awuy F Tommy, Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan,cet.1. Yogyakarta: Jatera Wacana Publik, 1995.
Budiardjo Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Edisi Revisi, Jakarta, Rineka Cipta, 2009.
Sultan Hamengku Buwono X, Merajut Kembali Keindonesiaan Kita, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2007.
12 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/bestari/article/viewFile/126/130umm_scientific
_journal.doc&rct=j&sa=U&ei=sKaxUJjCC4rirAeeh4HIDw&ved0CBIQFjA A&q=masa+kemerdekaan+nasionalisme+agama+dan+nasionalisme+sekuler +pdf&usg=AFQjCNH6W6FmvjzYqah6zaDgmQ-a3OJeQ (diakses 25-11-2012 pukul 12:30 WIB)
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,41242-lang,id-c,nasional-t,Membangun+Bangsa+dari+Papua-.phpx (diakses 15/12/2012)