• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pendekatan Solutif untuk Mencip

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Pendekatan Solutif untuk Mencip"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Pendekatan Solutif untuk Menciptakan

Transportasi Umum Yang Layak, Aman, dan Nyaman

(Studi Kasus : Kota Medan)

Ganda Sibarani

email : [email protected]

Abstrak

Salah satu permasalahan mengapa sistem pelayanan transportasi umum di kota Medan boleh dikatakan jauh dari harapan adalah masih enggannya atau tidak menariknya sistem angkutan transportasi massal yang tersedia. Kondisi real angkutan umum sering ugal-ugalan, penumpang yang harus dikondisikan dengan posisi 8-6, tidak ada standar keamanan penumpang yang jelas, tidak ada jaminan kesehatan dan kesiapan fisik maupun mental supir, dan adanya target pendapatan (setoran) yang harus dicapai sehingga faktor kemanan dan kenyamanan sering kali terabaikan.

Alternatif yang dapat menstimulus masyarakat untuk dapat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal adalah penyediaan moda transportasi yang humanis yaitu aman, nyaman, tepat waktu, mudah dijangkau, dan aksesibilitas yang mudah. Moda transportasi darat yang humanis dapat berarti tempat duduk yang layak, tidak ada asap rokok, tepat waktu, waktu tunggu/ ngetem yang sesuai jadwal dan adanya jaminan keselamatan dalam menggunakan angkutan massal dan ada perlakuan khusus Pemerintah dalam manajemen penggunaan angkutan massal sehingga kemacetan dapat dihindarkan pada jam-jam tertentu.

Tidak adil hanya menyalahkan Regulator (Pemerintah) sebagai pengambil kebijakan. Masyarakat sebagai pengguna dan bagian dari sistem pelayanan transportasi adalah pihak yang harus lebih proaktif dalam memajukan dan membudayakan penggunaan moda angkutan transportasi massa. Peran aktif masyarakat ini juga harus bersamaan dijalankan/dieksekusi dengan inovasi Pemerintah Kota Medan dalam menata dan menciptakan sistem pelayanan transportasi ideal dan humanis.

(2)

BAB I. LATAR BELAKANG MASALAH

1.1 Kondisi Moda Angkutan Umum di kota Medan

Kota Medan merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia dengan keanekaragaman budaya, sosial, penduduk, dan ekononi. Kota Medan merupakan salah satu kota metropolitan dengan penggunaan kendaraan bermotor tertinggi dengan jumlah 420.757 setiap hari. Diperkiraan ada sekitar 2.983.868 jiwa penduduk setiap hari yang melakukan pergerakan transportasi baik dalam motif ekonomi, sosial maupun pendidikan.

Untuk memenuhi pergerakan transportasi, maka masyarakat Medan lebih memilih (prefer) menggunakan moda transportasi pribadi daripada transportasi publik. Sebagian besar memang menggunakan transportasi umum sebagai moda angkutan. Namun hal ini seolah-olah terpaksa dilakukan karena tidak adanya pilihan lain yang ditawarkan selain angkutan umum yang masih tergolong murah walaupun dari sisi keamanan dan kenyamanan masih kurang memenuhi standar.

Sumber : Dokumentasi Peneliti

Gambar 1.1

Kondisi perempatan jalan Gatot Subroto – Iskandar Muda, Medan

(3)

yang terkadang tidak sesuai dengan volume lalu lintas, dan kurangnya disiplin pengguna kenderaan lain sepeda sepeda motor, becak bermotor ikut mempengaruhi kualitas sistem pelayanan transportasi di kota Medan saat ini. Hal ini yang membuat kalangan menengah-atas penduduk kota Medan enggan menggunakan transportasi umum.

1.2 Perumusan Masalah

Kota Medan dan sistem pelayanan transportasi umum masih merupakan dua hal yang belum terpadu. Diperlukan upaya yang lebih komprehensif, partisipatif, dan humanis agar pelayanan transportasi umum yang melibatkan Pemerintah, Organisasi angkutan umum, dan Masyarakat semakin maju dan modern. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah :

1) Bagaimana kondisi pelayanan transportasi umum di kota Medan saat ini dalam melayani pergerakan transportasi baik dalam motif ekonomi, sosial, dan pendidikan ?

2) Apa penyebab masih enggannya masyarakat Medan umumnya dalam menggunakan transportasi umum jika dikaitkan dalam usaha Pemerintah mengurangi konsumsi bahan bakar minyak ?

3) Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung stimulus atau meransang agar masyarakat kembali mau menggunakan transportasi umum ?

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud

(4)

menggunakan transportasi umum sehingga penggunaan kenderaan pribadi dan sepeda motor dapat dikurangi yang berimplikasi pada pengurangan bahan bakar minyak di kota Medan.

1.3.2 Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut: 1) Mengetahui kondisi terkini penyediaan transportasi umum seperti

angkot, becak, bajaj, dan ojek di melayani masyarakat kota Medan. 2) Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab masyarakat kota Medan

enggan menggunakan transportasi umum untuk bepergian dibanding transportasi pribadi.

3) Menganalisis faktor-faktor pendukung stimulus/meransang agar masyarakat merasa nyaman, aman, dan senang menggunakan transportasi umum untuk bepergian di kota Medan.

1.4 Sasaran

Sasaran kegiatan ini adalah sebagai berikut:

1) Tersusunnya suatu konsep Penggunaan Transportasi Publik yang humanis, aman, dan nyaman di kota Medan sehingga tercipta sistem transportasi yang terintegrasi yang dilandasi oleh pendekatan perencanaan komprehensif dan partisipatif dan isu-isu strategis;

2) Terindentifikasinya faktor-faktor penstimulus agara masyarakat mau menggunakan moda transportasi baik yang bersumber dari masyarakat sendiri sebagai pengguna moda, Organisasi Jasa Angkutan umum sebagai stakeholder, dan juga Pemerintah sebagai regulator dan juga fasilitator yang ikut menentukan terciptakan sistem angkutan massal yang baik dan humanis.

1.5 Lokasi Kegiatan

(5)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Pustaka

Sistem Transportasi Perkotaan adalahi suatu sistem komponen yang terintegrasi yang saling terhubung dan bekerja bersama dalam pelayanan sistem pengangkutan transportasi pada sutau wilayah perkotaan. Sistem transportasi secara menyeluruh (makro) dapat dipecahkan menjadi beberapa sistem yang lebih kecil (mikro) yang saling terkait dan saling mempengaruhi.Sedangkan sistem transportasi mikro terdiri dari sistem kegiatan, sistem jaringan prasarana transportasi, sistem pergerakan lalu lintas dan sistem kelembagaan.

Sumber : Tamin (1997)

Gambar 2.1. Sistem Transportasi Makro (Tamin, 1997)

Sistem kelembagaan di Indonesia yang berkaitan dengan masalah transportasi perkotaan adalah sebagai berikut:

1. Sistem kegiatan oleh Bappenas, Bappeda dan Pemda.

2. Sistem jaringan ditangani oleh Departemen Perhubungan dan Bina Marga 3. Sistem pergerakan ditangani oleh DLLAJ, Organda, Polantas, dan

masyarakat.

2.2 Indikator Kinerja Sistem Transportasi

Indikator kinerja sistem transportasi secara komperehensif dapat menggunakan konsep yang dikembangkan oleh Fielding (1977). Dalam merumuskan indikator kinerja dari sistem transportasi, sistem transportasi yang ditinjau dibagi dalam empat aspek utama, yaitu:

Sistem kegiatan

Sistem pergerakan

(6)

 Aspek masukan sistem transportasi (service inputs)

 Aspek keluaran sistem transportasi (service outputs)

 Aspek tingkat pemanfaatan sistem transportasi (consumption)

 Aspek alokasi sumber daya dalam komunitas (community)

Penjelasan dari masing-masing aspek utama di atas adalah sebagai berikut:

1. Service Inputs adalah aspek sistem transportasi yang menunjukan banyak dan jenis sumber daya yang diperlukan bagi terciptanya sistem keluaran yang dihasilkan dari sistem transportasi. Contoh parameter yang merepresentasikan aspek ini adalah : jumlah kendaraan yang digunakan, jumlah kilometer platform yang digunakan angkutan umum, dan jumlah jam platform yang digunakan sistem angkutan umum.

3. Consumption adalah komponen yang menunjukan tingkat pemanfaatan yang dihasilkan oleh sistem transportasi. Beberapa contoh parameter yang menggambarkan aspek ini adalah : jumlah penumpang-km yang terlayani, jumlah penumpang yang terlayani dan jumlah penghasilan yang diperoleh. 4. Community adalah aspek yang menunjukan besarnya alokasi sumber daya yang dilayani oleh sistem transportasi. Contoh parameter dari aspek ini adalah : Jumlah penduduk yang dirancangkan untuk dapat dilayani oleh sistem transportasi, jumlah dana yang dialokasikan dalam anggaran untuk menjalankan sistem transportasi, luas daerah yang harus dilayani oleh sistem transportasi.

(7)

Sumber : Fielding (1977)

Gambar 2.2. Indikator Kinerja Transportasi (Fielding (1977)

Dari rangkaian keempat aspek sistem transportasi di atas dapat diturunkan sebanyak enam kelompok indikator kinerja, yaitu :

1. Indikator kinerja yang menunjukan efisiensi pembiayaan; 2. Indikator kinerja yang menunjukan efektifitas pembiayaan; 3. Indikator kinerja yang menunjukan efisiensi pelayanan;

4. Indikator kinerja yang menunjukan kualitas/kuantitas pelayanan; 5. Indikator kinerja yang menunjukan efektifitas pelayanan;

6. Indikator kinerja yang menunjukan afordabilitas pelayanan.

Untuk masing-masing kelompok indikator kinerja diatas selanjutnya dapat diidentifikasikan beberapa parameternya, yang jumlahnya sangat tergantung pada jumlah parameter yang ada pada masing-masing aspek sistem transportasi.

(8)

Angkutan umum merupakan salah satu media transportasi yang

1. angkutan jalan raya : angkutan jalan raya dibagi menjadi angkot, bis, ojek, bajaj, taksi dan metro mini.

2. angkutan rel : angkutan rel dibagi menjadi kereta api penumpang dan barang.

3. angkutan laut : angkutan laut dibedakan menjadi kapal feri dan kapal pesiar.

4. angkutan udara : angkutan udara dibedakan menjadi pesawat terbang dan helikopter.

Tujuan dasar dari penyediaan angkutan umum, Wells (1975) mengatakan adalah menyediakan pelayanan angkutan yang baik – andal, nyaman, aman, cepat dan murah,untuk umum. Secara umum dapat dikatakan angkutan umum selalu kalah bersaing dengan kendaraan pribadi. Dari beberapa studi mengenai angkutan umum Harries (1976) menyatakan pelayanan angkutan umum dapat diusahakan mendekati angkutan pribadi untuk membuat angkutan umum menjadi lebih menarik dan pemakai angkutan pribadi tertarik berpindah ke angkutan umum.

Hal ini dapat diukur secara relatif dari kepuasan pelayanan beberapa kriteria angkutan umum ideal antara lain adalah:

Tabel 2.1

Faktor Kepuasan Pelayanan Transportasi

No Faktor Ekspektasi

1 2 3

1 Keandalan  Setiap saat tersedia,

 Kedatangan dan sampai tujuan tepat waktu,

 Waktu total perjalanan singkat – dari rumah, menunggu, dalam kenderaan, berjalan ke tujuan,

 Waktu tunggu singkat,

(9)

 Tidak perlu berpindah kendaraan. 2 Kenyamanan.  Pelayanan yang sopan,

 Terlindung dari cuaca buruk di bus stop,

 Mudah turun naik kenderaan,

 Tersedia tempat duduk setiap saat,

 Tidak bersesak-sesak,

 Interior yang menarik,

 Tempat duduk yang enak. Keamanan,  Terhindar dari kecelakaan,

 Badan terlindung dari luka benturan,

 Bebas dari kejahatan.

Murah, Ongkos relatip murah terjangkau. Waktu perjalanan  Waktu di dalam kenderaan singkat.

Sumber : Analisis Peneliti, 2013

Kendaraan umum darat seperti angkot, bis, busway, taksi, becak bermotor, oplet, omprengan, ojek, dan lain sebagainya ada di sekitar kita melayani kebutuhan transportasi masyarakat untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Mereka sangat dibutuhkan karena tidak semua orang di indonesia memiliki kendaraan pribadi serta karena tarifnya yang relatif terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat. Tanpa kehadiran kendaraan umum akan mengakibatkan banyak orang kesulitan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya.

2.4 Karakteristik Sistem Pelayanan Transportati Angkutan

Umum di Kota Medan

(10)

menggunakan transportasi angkutan umum untuk bepergian dan melakukan aktivitasnya seperti bekerja, ke sekolah, ke pasar, dan melakukan aktivitas ekonomi sosial lainnya.

Berikut ini adalah beberapa karakteristik ciri-ciri angkutan umum masyarakat yang terjadi di kota Medan yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami kecelakaan di jalan raya :

1. Dikemudikan secara ugal-ugalan (tidak ada standar keselamatan)

Kendaraan umum dikemudikan secara ugal-ugalan ciri-cirinya adalah sering berjalan dalam kecepatan tinggi, kadang berjalan berkelok-kelok tidak stabil, sering berbelok tiba mengagetkan, dan mengerem tiba-tiba. Hal ini tentu menyebabkan ketidaknyamanan naik angkutan umum karena membahayakan peumpang dan pengguna jalan lainnya. Alasan klasik para supir tentunya adalah mengejar setoran.

2. Supir emosional, tidak disiplin dan ngantuk

Salah satu karakter unik yang bisa dilihat secara kasat mata kondisi sopir angkutan umum di kota Medan adalah mudah terpancing emosi apabila hal-hal menjengkelkan yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Sebagai contoh, di kawasan Medan Plaza jalan Iskandar Muda, Medan sering terjadi adu mulut sesama supir, supir terhadap pengguna kendaraan pribadi, dan begitu juga sebaliknya. Hal ini sangat mengganggu penumpang dan juga mempengaruhi mental supir yang sedang mengemudi. Faktor supir yang mudah marah juga dapat dilihat dari tanda-tanda mengantuk seperti sering menguap, mata sayu, mata terlihat lelah, mata merah, mata sering terpejam, suka tertidur saat sedang berhenti sebentar, kepala sering oleng, dan lain sebagainya.

3. Sopir Tidak Layak atau Tidak Punya Izin

(11)

menjadi sopir kendaraan tersebut (supir tembak / batangan) harus dihindari tapi sulit untuk dihindari karena penumpang biasanya mengabaikan hal ini dengan alasan yang penting cepat sampai ke tujuan.

4. Angkut Kapasitas Berlebihan

Tidak hanya di kota Medan, angkutan umum di Indonesia memang sangat memprihatinkan karena sering mengangkut penumpang di luar batas kapasitas penumpang yang berlaku. Polisi, Dinas terkait seperti Dinas Perhubungan sudah sering merazaia agar supir maupun agen perjalanan tidak mempraktekkan hal tersebut.

Sumber : Dokumentasi Peneliti

Gambar 2.3. Angkutan umum yang kelebihan kapasitas

Namun nyatanya masih sering terjadi karena alasan tanggung, para penumpang juga tidak keberatan bila berdesakan, dan jarak tempuh penumpang tersebut dekat sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bila berdesakan. Padahal kondisi kelebihan kapasitas penumpang bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan. Untuk kota Medan, biasanya hal ini terjadi di kawasan pasar tradisional seperti Pasar Sambu, Pasar Petisah, kawasan Pajak USU, dan Pajak Pringgan.

5. Fungsi mesin mencurigakan dan fisik kendaraan yang rusak

(12)

mogok, mengeluarkan suara/bunyi yang tidak wajar, mengeluarkan bau/aroma yang tidak wajar, keluar asap, dan lain sebagainya maka sebaiknya jangan kita lanjutkan perjalanan dengan angkutan umum tersebut. Dilihat dengan kasat mata, baik dari luar ataupun dari dalam kedaraan umum yang ringkih akan dapat diketahui. Banyak angkutan umum di kota Medan yang kondisi angkutannya cukup memprihatikan seperti kondisi bangku penumpang yang rusak, bau apek atau kondisi angkut yang bau sehingga penumpang merasa tidak nyaman.

Sumber : Dokumentasi Peneliti

Gambar 2.4. Kondisi gngkutan umum yang tidak layak digunakan

6. Tidak ada Kelengkapan Keselamatan

(13)

7. Kendaraan Tidak Memiliki Izin Beroperasi atau Izin Kadaluarsa

Untuk kota Medan, kendaraan umum tidak resmi (ilegal) atau yang izin operasionalnya tidak ada masih sering beroperasi dan dapat mengabaikan keselamatan penumpangnya. Namun untuk angkutan umum ilegal plat hitam, semua kembali lagi ke penilaian pribadi. Jika memang sudah terbiasa, bisa dipercaya, tahu persis situasi dan kondisi, tidak ada angkutan umum resmi yang lebih baik, maka tidak ada masalah menumpangi kendaraan tidak resmi tersebut. Namun hal ini tentu sangat merugikan karena kompetisi pelayanan transportasi umum menjadi tidak sehat.

Tabel 2.2

Faktor Emosional yang mempengaruhi kualitas Pelayanan No Faktor Emosional Efek yang Timbul

1 Mengejar Setoran

Tidak bertanggungjawab, tidak memahami tanda dan fungsi marka jalan, dan etika berkendaraan. Sering tidak memberikan tanda lampu sinyal ke kanan maupun ke kiri.

3 Kami selalu yang utama

Ada fenomena unik di kota Medan, bahwa angkutan umum baik angkot, becak bermotor adalah raja jalanan yang harus diutamakan sehingga “terkesan” sesuka hati mendahului, tidak perlu menyalakan lampu tanda sinyal ke kiri atau ke kanan, kaca spion kiri biasa dicabut (tidak terpasang).

Tidak ada Timing yang jelas

Mengetem atau menunggu para penumpang untuk naik ke angkutan umum yang lama akan membuat masyarakat enggan kembali untuk menggunakan angkutan massal.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

(14)

Penyediaan transportasi yang humanis bukan semata hanya tugas Pemerintah butuh peran serta stakeholder dan masyarakat dalam menciptakan sistem penyediaan transportasi yang baik. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan atau menstimulus keinginan masyarakat adalah sebagai berikut.

1. Melakukan riset atau survei bagaimana bentuk, fasilitas, moda transportasi yang masyarakat inginkan sehingga diperoleh standar moda transportasi yang modern, unik sehingga menimbulkan kesan, ramah lingkungan, dan menimbulkan keinginan untuk menaikinya.

2. Menjadikan profesi supir angkutan umum sebagai pekerjaan yang dilindungi oleh instansi pemerinah seperti jaminan sosial di hari tuanya yang diatur dalam undang-undang dan membebaskan supir dari istilah “kejar setoran”.

3. Perlu pembinaan bertahap yang harus dilakukan oleh Pemerintah dalam hal ini Dinas Perhubungan ataupu Kepolisian bahwa bagaimana etika dan perilaku yang baik memperlakukan penumpang khususnya wanita dan anak-anak.

4. Halte Bus haruslah dikembalikan kepada fungsinya semua. Tidak bisa dipungkiri bahwa halte bus di kota Medan telah berubah menjadi tempat orang berdagangan dengan kondisi yang kotor, poster-poster di dinding, dan sangat tidak aman bila digunakan pada malam hari.

5. Melarang dengan keras Pedagang asongan, pengamen, anak jalanan untuk masuk ke dalam angkutan umum untuk berjualan maupun mengemis.

6. Membiasakan budaya senyum dan mengucapkan kata terima kasih. Hal ini memang terlihat sepele. Namun, hal ini terlihat sulit dilakukan apabila berada di angkutan umum.

3.2 Kesimpulan dan Saran

3.2.1 Kesimpulan

(15)

yang layak jalan digunakan dimana bangku yang bersih, jumlah penumpang tidak berlebihan, termasuk fasilitasnya seperti kemacetan bersumber dari kurangnya kesadaran masyarakat pemakai transportasi kota mulai dari pengemudi, pengelola parkir, dan masyarakat pelanggan sendiri. Untuk itu perlu pemasyarakatan perubahan pandangan dalam penyelesaian masalah angkutan umum dari semua kalangan yang terlibat dalam proses angkutan umum, khususnya melalui pendidikan transportasi.

Untuk kalangan menengah ke atas, harga tidak menjadi kendala. Yang terpenting adalah aman, nyaman, dan tepat waktu dan juga tidak harus pindah moda angkutan. Hal ini memang masih sulit dilakukan mengingat banyaknya organisasi angkutan di kota Medan yang harus disesuaikan dengan trayeknya masing-masing.

Namun yang terpenting adalah usaha dari Pemerintah sendiri dan juga stakeholder khusus Organda dalam mengatasi permasalahan sistem angkutan transportasi umum ini. Pendekatan persuasif dan partisipatif yang baik dan benar dapat mendorong masyarakat untuk beralih menggunakn transportasi umum mengingat harga bahan bakar minyak (BBM) yang naik harusnya menjadi momentum Pemerintah dalam memperbaiki pelayanan transpotasi publik di kota Medan umumnya.

3.2.2 Saran

Ada beberapa saran yang konstruktif yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam meningkatkan pelayanan transportasi umum sebagai berikut.

1. Kapasitas angkut angkutan umum massal yang ada di kota Medan harus distandarkan atau diperdakan. Idealnya 1 (satu) angkutan umum maksimal mengangkut 14 (empat belas) orang baik itu dewasa, anak-anak, maupun pelajar.

(16)

3. Menerapkan sistem pelayanan minimal angkutan moda transportasi umum dengan mewajibkan penggunaan AC tanpa melihat kelas ekonomi maupun non AC.

4. Waktu tunggu di pemberhentian rata-rata 5–10 menit dan maksimum 10–20 menit dan penggantian rute dan moda pelayanan, jumlah pergantian rata-rata 0–1,maksimum 2.

5. Desain moda angkutan harus seunik mungkin, senyaman mungkin dengan memperhatikan efisiensi dan menggunakan teknologi ramah lingkungan sehingga menimbulkan keinginan untuk menggunakan transportasi tersebut.

(17)

Malik, Ilham. 2004. “Susahnya Mengurus Transportasi : Mengkritik Indonesia Lewat Jogja”. Yogyakarta : Dunia kata

Morlok, Edward K. 1978. "Pengantar teknik dan Perencanaan Transportasi. Alih bahasa Johan

Tamin, OZ., (1997). Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Penerbit ITB, Bandung.

http://www.pemkomedan.go.id/infodata.php, diakses tanggal 27 Agsutus 2013 )

http://theglobejournal.com/cities/32386-kendaraan-per-bulan-masuk-ke-sumut-ancaman/index.php, diakses tanggal 27 Agsutus 2013 )

http://www.hariansumutpos.com/2013/01/50066/25-juta-kendaraan-berseliweran#axzz2cWMeO02D, diakses tanggal 27 Agsutus 2013 )

Gambar

Gambar 1.1Kondisi perempatan jalan Gatot Subroto – Iskandar Muda, Medan
Gambar 2.1. Sistem Transportasi Makro (Tamin, 1997)
Tabel 2.1Faktor Kepuasan Pelayanan Transportasi
Gambar 2.3. Angkutan umum yang kelebihan kapasitas
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sarana transportasi yang mendominasi pola pergerakan lalu lintas di Kota Jayapura adalah sepeda motor, kendaraan pribadi, selain itu masyarakat juga banyak

Pertanyaan mengenai sikap responden digunakan untuk mengetahui tingkat kepentingan ( importance ) terhadap moda transportasi seperti mobil pribadi, sepeda motor, antar

Kalau dilihat dari perkembangan transportasi perkotaan yang ada, kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor) tetap merupakan moda transportasi yang dominan,

Kereta api sebagai salah satu moda transportasi publik, merupakan sarana transportasi yang belakangan ini menjadi alternatif pemilihan moda yang sangat efektif dalam

Agar penelitian ini terarah dan sesuai dengan tujuan maka, penelitian kali hanya membahas pergerakan penumpang dari Medan menuju Pematang Siantar yang menggunakan moda

Mode transportasi tradisional (becak, andong) menjadi alternatif pilihan menuju tempat wisata. Demi memenuhi kepuasan wisatawan moda alternative selain kendaraan pribadi

Kemunculan berbagai moda transportasi di kota Denpasar menyebabkan masyarakat dapat memilih alternatif pemilihan moda yang paling efektif dan efesien untuk melakukan perjalanan antar

Hasil yang didapatkan dari analisis data yaitu didapat proporsi untuk pemilihan moda transportasi adalah 64% memilih kendaraan Bus dan 36% memilih kendaraan Kereta Api dan moda yang