Review Artikel Politik Hukum HAM Tentang

Teks penuh

(1)

Nama : Angela Irene NIM : 04011281621119 Pendidikan Kewarganegaraan

Fakultas Kedokteran, Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Sriwijaya

Review Artikel "Politik Hukum HAM Tentang Hak-Hak Politik Perempuan di Indonesia" Nurhidayatuloh, S.H.I., S.Pd

Dalam menjalani suatu kehidupan sosial tentunya terdapat kaum pria dan wanita. Kaum pria dan wanita sering kali menjadi perbincangan atau permasalahan karena kesetaraan antara kedua gender tersebut. Terdapat suatu opini bahwa pria lebih dominan daripada wanita, sehingga keberadaan wanita berada di bawah pria. Hal inilah yang memacu adanya perselisihan atau kesalahan persepsi mengenai kesertaan gender yang pada ujung-ujungnya dapat menyebabkan deskriminasi terhadap kaum wanita. Selain adanya kebanyakan mendiskreditkan wanita, terutama negara-negara yang sudah dianggap 'terkontaminasi' dengan doktrin agama, khususnya Islam meliputi negara-negara di Timur Tengah bahkan sampai Asia seperti Indonesia dan Malaysia. Adanya diskriminasi terhadap wanita karena dari imbas tersebuh memposisikan keberadaan wanita di bawah kedudukan laki-laki.

(2)

bagaimana menghargai dan mengerti akan hal tersebut, bukan mempermasalahkannya yang dapat memicu suatu perpecahan antar negara.

Melihat ada banyaknya tindakan diskriminasi yang terjadi, maka pada era modern ini PBB tidak tinggal diam saja. PBB mulai mengumumkan adanya penghapusan tindakan diskriminasi tersebut yang dilatarbelakangi dari konsep Hak Asasi Manusia (HAM). Hak Asasi Manusia atau disingkat dengan HAM merupakan hak individu yang paling mendasar dalam diri manusia yang didapat sejak manusia dilahirkan dan sifatnya yang tidak dapat diganggu gugat sebab sebagai ciptaan Tuhan. Adanya HAM tersebut sehingga muncullah konsep Bill of Rights. Beberapa abad setelah Bill of Rights, kemudian muncullah Universal Declaration of Human Rights atau disingkat dengan UDHR. Dengan adanya bentuk pengejawantahan UDHR, penjaminan politik terhadap perempuan tertulis pada konvensi mengenai Hak Politik Wanita (1953) dan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) (16 Desember 1966). Secara spesifik, PBB sendiri melakukan perlindungan terhadap wanita agar terealisasi melalui Genral Assembly telah memunculkan The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman (CEDAW) yang telah disetujui oleh negara-negara anggota PBB.

(3)

Melihat banyaknya konsep HAM yang ada, banyak literatur yang mengatakan bahwa konsep HAM awalnya berasal dari Barat yang pada saat itu diperkenalkan sebagai nilai-nilai universal oleh Barat bahkan oleh PBB. Ada juga bagi para cendekiawan muslim yang percaya bahwa konsep tersebut telah ada jauh sebelum Barat mendeklarasikannya, yaitu pada Piagam Madinah yang dijadikan sebagai Konstitusi Madinah pada saat penaklukan Kota Makkah (Fathul Makkah), oleh Rasulullah. Namun sebaliknya, sebagian kalangan orientalis tidak mengakui bahwa konsep HAM lahir dari Islam. Tidak hanya itu, banyak juga pemikiran Barat yang mengatakan bahwa Islam bertentangan dengan nilai-nilai HAM. HAM juga diharapkan dapat diterima oleh negara-negara lain secara universal. Hak Asasi Manusia tidak boleh diganggu gugat. Dalam HAM, kebebasan beragama sangat dijunjung tinggi secara internasional. Sebagai warga negara pun, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi amnusia tanpa adanya tindakan membeda-bedakan baik itu suku, ras status, kultur, golongan, keturunan, jabatan, dan lain sebagainya. Hak Asasi Manusia memiliki sebuah wadah organisasi yang mengurus permasalahan seputar hak asasi manusia yaitu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNASHAM). Kasus pelanggaran HAM di Indonesia juga masih digolongkan banyak sehingga pernanan KOMNASHAM sangat diharapkan membantu dan terlibat dalam beberapa kasus. Bahwasanya sejarah dunia telah menuliskan berbagai diskriminsi laki-laki terhadap perempuan terdapat dalam semua bidang, seperti keluarga, sosial, politik ekonomi, bahkan kepemimpinan. Melihat akan adanya tindakan tersebut, tidak jarang wanita dianggap sebagai objek saja atau manusia berkasta nomor dua dibandingkan sejajar dengan laki-laki kedudukannya.

(4)

dan bersepakat dengan segala cara yang tepat dan tanpa tunda-tunda, untuk menjalankan suatu kebijakan yang menghapus diskriminasi terhadap perempuan, dan untuk tujuannya berusaha untuk;

a) Memasukkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam undang-undang dasar mereka atau perundang-undang-undang-undangan lainnya yang layak apabila belum dimasukkan ke dalamnya, dan untuk menjamin realisasi praktis pelaksanaan dari asas ini, melalui hukum dan cara-cara lain yang tepat

b) Membuat peraturan perundang-undangan yang tepat dan upaya lainnya, dan dimana perlu termasuk sanksi-sanksi, yang melarang semua diskrimasi terhadap perempuan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...