17
dasarnya merupakan perhitungan untuk menentukan nilai tinggi matahari dan nilai sudut waktu matahari dalam perjalanan semu dari arah Timur ke Barat. Dalam penerapannya yaitu menghitung berapa jarak busur tinggi matahari sepanjang lingkaran vertikal mulai dari ufuk sampai ke matahari dan berapa nilai sudut waktu matahari yang dihitung mulai dari titik kulminasi atas sampai matahari berada.1
Secara historis, cara perhitungan awal waktu salat di Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan sesuai dengan majunya ilmu pengetahuan dan sains teknologi yang dimiliki oleh masyarakat Islam Indonesia itu sendiri. Perkembangan tersebut terlihat pada peralatan yang digunakan untuk penentuannya, seperti adanya jam bencet atau miqyas, tongkat istiwa’, rubu’ al -mujayyab, jadwal salat abadi secara manual dan jadwal salat abadi secara digital. Selain itu, data yang digunakan untuk perhitungan juga mengalami perkembangan dari segi akurasi titik koordinat maupun sistem teori perhitungannya.2
Dari perkembangan ini, metode perhitungan awal waktu salat dapat diklasifikasikan menjadi metode klasik dan metode kontemporer. Di samping itu juga dapat diklasifikasikan menjadi metode hisab dan metode rukyah. Metode rukyah disimbolkan bagi penentuan awal waktu salat dengan menggunakan miqyas, tongkat istiwa’ dan rubu’ al mujayyab. Sedangkan hisab disimbolkan bagi yang menentukan awal waktu salat dengan teori trigonometri bola.3
Dalam perkembangannya, untuk penentuan awal waktu salat, apakah data yang selama ini digunakan sudah memadai untuk mendapatkan nilai tinggi
1Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktik, Cet. II, (Yogyakarta: Buana
Pustaka, t.t), hlm. 80-82.
2Ahmad Izzuddin, Akurasi Metode-metode Penentuan Arah Kiblat, Cet. I, (Jakarta:
Kementerian Agama RI, 2012), hlm. 25.
3
Matahari dan sudut waktu Matahari dengan pendekatan teori trigonometri bola? Apakah ada data lain yang harus diperhatikan yang ikut mempengaruhi nilai tinggi Matahari dan sudut waktu Matahari, seperti tinggi tempat dan kecemerlangan langit? Untuk itu, penulis memandang perlu adanya penjelasan mengenai peran ilmu falak dalam perhitungan awal waktu salat yang ada selama ini.
A.Pengertian dan Objek Kajian Ilmu Falak 1. Pengertian Ilmu Falak
Ilmu falak merupakan ilmu pengetahuan eksak yang objeknya berkaitan dengan benda-benda langit seperti Bumi, Bulan dan Matahari.4 Secara etimologi, kata falak berasal dari bahasa Arab yaitu كلف yang mempunyai arti lintasan benda-benda langit atau bermakna orbit dalam bahasa Inggris.5
Adapun secara terminologi, dapat dikemukakan beberapa definisi yang ada dalam tulisan individu dan lembaga, antara lain sebagai berikut:
1. Kementerian Agama RI, ilmu falak adalah ilmu yang mempelajari tentang lintasan benda-benda langit, di antaranya Bumi, Bulan dan Matahari.6 2. Muhammadiyah, ilmu falak sepadan maknanya dengan ilmu haiah dan
ilmu astronomi, yaitu ilmu pengetahuan yang mengkaji posisi-posisi geometris benda-benda langit guna menentukan penjadwalan waktu di muka Bumi.7
4Nur Hidayatullah Al-Banjary, Penemu Ilmu Falak: Pandangan Kitab Suci dan
Peradaban Dunia, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013), hlm. 1.
5Kementerian Agama RI, Ilmu Falak Praktik, Cet. I, (Jakarta: Sub. Direktorat Pembina
Syariah dan Hisab Rukyat Direktorat Urusan Agama Islam & Pembina Syariah, 2013), hlm. 1.
6
Kementerian Agama RI, Ilmu Falak Praktik…, hlm. 1.
7Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Pedoman Hisab Muhammadiyah,
3. Nur Hidayatullah Al-Banjari, ilmu falak adalah ilmu pengetahuan eksak yang objeknya berkaitan dengan Bumi, Bulan, Matahari dan benda-benda langit lainnya.8
4. Susiknan Azhari, ilmu falak adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit, seperti Matahari, Bulan, bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya, dengan tujuan untuk mengetahui posisi dari benda-benda langit itu serta kedudukannya dari benda-benda langit yang lain.9
5. Muhyiddin Khazin, ilmu falak adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit, khususnya Bumi, Bulan dan Matahari pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk diketahui posisi benda langit antara satu dengan yang lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan Bumi.10
Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa ada yang sudah membatasi objek kajian ilmu falak pada lintasan Bumi, Bulan dan Matahari saja, ada juga yang masih memperluas cakupannya hingga ke planet-planet lain. Bila dilihat dalam literatur modern, materi ilmu falak khusus mengkaji tentang orbit benda-benda langit seperti, Bumi, Bulan, Matahari dan bintang-bintang yang berkaitan dengan penentuan arah dan waktu di Bumi untuk keperluan ibadah saja, seperti penentuan arah kiblat, awal waktu salat, awal bulan dan perhitungan gerhana. Oleh karena itu, definisi ilmu falak yang relevan dengan kajian ilmu falak selama ini adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang lintasan benda-benda langit seperti, Bumi, Bulan, Matahari dan bintang-bintang agar dapat diketahui arah dan waktu di permukaan Bumi untuk keperluan ibadah.
8
Nur Hidayatullah Al-Banjary, Penemu Ilmu Falak…,hlm. 1.
9Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Cet. II, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2008), hlm. 66.
10Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktik, Cet. III, (Yogyakarta: Buana
Dalam masyarakat Aceh, ilmu falak sering disamakan dengan ilmu nujum (astrologi). Menurut mereka, ilmu falak adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta, tidak dibedakan antara ilmu falak dalam pengertian sains dan ilmu falak dalam pengertian mitos (astrologi).11 Ini mungkin salah satu penyebab kurangnya minat masyarakat Aceh dalam mempelajari dan mendalami ilmu falak di masa-masa awal pasca kemerdekaan, karena ada penggabungan asumsi antara makna ilmu falak sains dan ilmu falak mitos (ilmu nujum) dalam masyarakat. Aktivitas kajian ilmu falak saat itu dapat dihentikan oleh pemahaman pelarangan dalam mempelajari ilmu nujum.12 Peristiwa ini suatu hal yang wajar, karena bila dilihat objek formal dan material antara ilmu falak dengan ilmu nujum sama. Objek material ilmu falak dan ilmu nujum adalah benda-benda langit, begitu pula objek formal kedua ilmu ini juga sama, yaitu lintasan (orbit) benda-benda langit. Perbedaan yang mendasar antara ilmu falak dengan ilmu nujum adalah, ilmu falak mempelajari lintasan benda-benda langit untuk penentuan arah dan waktu di permukaan Bumi, sedangkan ilmu nujum mempelajari lintasan benda-benda langit untuk penentuan peristiwa-peristiwa baik dan buruk di Bumi, seperti bencana dan nasib baik buruk seseorang.13
Ilmu ini juga memiliki beberapa sebutan, disebut dengan “ilmu falak”, sebab mempelajari lintasan benda-benda langit. Disebut “ilmu hisab”, karena ilmu ini menggunakan perhitungan.14 Disebut “ilmu rashd دصرلا)”, sebab ilmu ini memerlukan pengamatan.15 Bila dilihat dari segi penamaan dan pengertian, ilmu falak perlu penelitian khusus untuk menemukan format yang tegas, mengingat
11Husna Tuddar Putri, Tesis: Pemikiran Syekh Abbas Kuta Kara ng Tentang Hisab
Penentuan Awal Bulan Hijriah, (Semarang: IAIN Walisongo, 2013), hlm. 14.
12
Abdullah Ibrahim, Peranan Ilmu Falak Dengan Ibadah, 2011, hlm. 3.
13Abdullah Ibrahim, Peranan Ilmu Falak…, 2011, hlm. 3.
14
Untuk katagori sekarang, ada beberapa buku yang langsung diberi nama dengan ilmu hisab, seperti buku Muchtar Yusuf, Ilmu Hisab dan Rukyah, 2010. Encup Supriatna, Hisab Rukyat dan Aplikasinya, 2007.
15
banyak literatur ilmu falak selama ini belum ada perbedaan yang signifikan dalam memberi pengertian dan penamaan ilmu falak dengan ilmu astronomi.
2. Objek Kajian Ilmu Falak
Setiap disiplin ilmu pengetahuan harus memiliki objek material dan formal. Objek formal dan material menjadi syarat keilmuan untuk dapat disebut ilmu pengetahuan.16 Dengan demikian, setiap ilmu pengetahuan harus memiliki objek material dan objek formal, termasuk ilmu falak.
Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran kajian, penyelidikan atau sesuatu yang diteliti, baik sesuatu yang konkrit atau yang abstrak. Sementara objek formal adalah cara pandang dan perspektif yang digunakan oleh seorang peneliti dalam mempelajari atau mengkaji objek material. Objek formal inilah yang membedakan cabang ilmu yang satu dengan lainnya. Objek material suatu ilmu bisa sama, misalnya manusia, namun perspektif yang digunakan untuk mengkaji dan memahami manusia bisa berbeda, misalnya bisa psikologi, sosiologi, politik, ekonomi maupun antropologi.17 Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa objek material ilmu falak adalah benda-benda langit, seperti Bumi, Bulan, Matahari dan bintang-bintang, karena benda-benda langitlah yang dijadikan sasaran kajian atau penyelidikan atau penelitian dalam ilmu falak. Sedangkan objek formalnya adalah lintasan atau orbit benda-benda langit, karena lintasan benda-benda langitlah yang dijadikan cara pandang ilmu falak.18
Bila dilihat dari sisi objek material, maka ilmu falak memiliki kesamaan dengan ilmu lain, seperti astrofisika, astromekanik, kosmografi dan kosmologi, karena sama-sama menjadikan benda-benda langit sebagai sasaran penyelidikan atau penelitian, tetapi objek formalnya yang berbeda. Astrofisika melihat benda-benda langit dari segi ilmu alam dan kimia. Astromekanik, dari segi ukuran dan
16Danial, Seri Buku Daras Filsafat Ilmu, Cet. I. (Yogyakarta: Kaukaba, 2014), hlm. 5-6.
17Danial, Seri Buku Daras Filsafat…, hlm. 5-6.
18Kesimpulan penulis tentang objek material dan objek formal ilmu falak berbeda dengan
jarak antara satu benda langit dengan lainnya. Kosmografi, dari segi susunan dan gambaran umum terhadap benda-benda langit. Kosmologi, dari segi asal-usul struktur dan hubungan ruang waktu dari alam semesta.19
B.Sejarah Perkembangan dan Ruang Lingkup Kajian Ilmu Falak. 1. Sejarah Perkembangan Ilmu Falak.
Ilmu falak termasuk cabang studi yang tua dan telah berkembang sejak zaman Babilonia. Ilmu ini ditemukan dalam kurun waktu ±3000 tahun sebelum Masehi di kerajaan Babilonia yang terletak di antara sungai Tighris dan sungai Eufrat dengan peletak dasar-dasarnya adalah Nabi Idris As.20
Dalam usia yang tidak senja, bisa dipastikan banyak hal yang dapat dikaji dalam sejarah perkembangan ilmu falak ini, seperti teori apa yang pertama kali digunakan dalam ilmu falak, ruang lingkup kajian ilmu falak, dan lain-lain. Namun penulis dalam hal ini hanya ingin melihat dalam sejarah perkembangan ilmu falak tentang teori perhitungan awal waktu salat yang berkembang di Indonesia hari ini berasal dari teori siapa.
Sejumlah pemikir Yunani kuno telah menaruh perhatian dan dianggap mempunyai jasa kepada ilmu falak, walau mereka hanya mencoba menerangkan melalui pendekatan naturalistik, belum secara ilmiah, sehingga kesimpulan dari sebuah pemikiran saat itu disebut dengan ramalan, bukan perhitungan, namun penemuan mereka dianggap cikal bakal lahirnya teori ilmu falak yang sempurna. Anaximandros (611-546 SM) murid Thales, dianggap berjasa dalam ilmu falak dan juga dalam bidang geografi, karena dialah orang pertama yang membuat peta Bumi. Menurut Anaximandros, Bumi berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya, Bumi tidak bersandar di atas sesuatu, Bumi tidak jatuh karena posisinya dalam jagat raya sama jauh terhadap kedudukan semua benda lainnya.21
19Kementerian Agama RI, Ilmu Falak Praktik…, hlm. 2
20A, Kadir, Formila Baru Ilmu Falak, Cet. I, (Jakarta: Amzah, 2012), hlm. 5.
21
Sementara Pythagoras (580-500 SM) yang mempunyai gagasan bahwa segala-galanya adalah bilangan, merupakan orang pertama yang berpendapat Bumi bukan pusat jagat raya. Menurut Pythagoras, pusat jagat raya adalah perapian (Hestia). Semua benda-benda langit beredar di sekelilingi perapian tersebut, akhirnya langit selalu terlihat ada bintang. Kemudian mazhab ini berkembang dengan sebutan Heliosentris dengan asumsi Matahari merupakan perapian yang dimaksud oleh Pythagoras.22
Di zaman Nabi Muhammad saw, masyarakat muslim tidak banyak menguasai ilmu ini. Sebagaimana digambarkan oleh Nabi saw. mereka merupakan umat yang ummi, dalam pengertian tidak banyak menguasai baca tulis dan perhitungan astronomis.23 Sebagaimana dalam sebuah hadis Rasulullah saw.
اََ ثَدَح
Artinya: Adam telah memberitahukan kepada kami, Syu’bah telah memberitahukan kami, Aswad bin Kais telah memberitahukan kami, Sa’id bin
‘Amrin telah diberitaukan kami bahwa ia telah mendengarkan Ibnu ‘Umar ra. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari. (HR. Bukhari).
Sejalan dengan perkembangan peradaban Islam kemudian, pada abad ke-9 hingga abad ke-13 M, kajian ilmu falak mengalami perkembangan pesat dalam
22A, Kadir, Formila Baru Ilmu…, hlm. 6
23
Syamsul Anwar, Diskusi dan Korespodensi Kalender Hijriah Global, Cet. I, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2014), hlm. 155.
24Al Bukhari, Sahih al Bukhari, Juz. VII, (Bairut: Dar Ibnu Kasir al Yamamah, 1987),
dunia Islam.25 Pada masa ini, ilmu falak sudah dikaji dalam sekala yang luas, bahkan melebihi dari kajian ilmu astronomi pada masa kini. Objek kajian ilmu falak pada masa itu semua yang berkaitan dengan benda-benda langit, tidak terpaku pada Bumi, Bulan dan Matahari saja, tetapi benda-benda langit lain seperti bintang, meteor dan semua planet yang ada dalam tata surya juga dikaji dengan pendekatan matematika dan fisika.26
Tanda-tanda kemajuan ilmu falak telah dimulai pada abad ke-8, hal ini dibuktikan dengan adanya tokoh ilmu falak Islam yang mewarisi penemuan yang gemilang, seperti al-Khawarizmi (780-847 M) yang telah berhasil menyusun tabel trigonometri, menemukan zodiak atau ekliptika berbentuk miring sebesar 23.5 derajat terhadap equator. Ahli falak lain yaitu Ibnu Jabr al-Battani (858-929 M) yang telah berhasil membuktikan kemungkinan terjadi gerhana matahari cincin, menetapkan panjang tahun sideris dan tahun tropis, adanya bulan mati dan fungsi sinus.27 Selain itu ada juga tokoh yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu falak yaitu Ulugh Beik (1344-1449 M), nama lengkapnya adalah Muhammad Taragai Ulugh Beik, di Barat dikenal dengan sebutan Tamerlane. Ulugh Beik merupakan orang Turki yang menjadi matematikawan dan ahli falak, dikenal sebagai pendiri observatorium terbesar di dunia saat itu. Data Matahari dan Bulan yang dihasilkan oleh Ulugh Beik menjadi cikal bakal perkembangan ilmu falak di Indonesia, data Ulugh Beik pada tahun 1650 diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh J. Greaves dan Thyde.28 Simon New Comb (1835-1909 M) seorang astronom yang berhasil menyusun data astronomi baru ketika ia berkantor di Nautical Almanac Amerika pada tahun 1857-1861 yang sekarang jadwal ini dikenal dengan nama Almanac Nautica.29
25
Syamsul Anwar, Diskusi dan Korespodensi Kalender…, hlm. 155.
26Nur Hidayatullah Al-Banjari, Penemu Ilmu Falak…, hlm. 1.
27
Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam…, hlm. 23-24.
28Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat…, hlm. 223.
29
Setelah abad ke-13, kajian ilmu falak dalam Islam mengalami stagnasi dan kemunduran hingga abad ke-20 M. Pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada tahun 1910, bangkit seorang astronom Barat bernama Fotheringham menghidupkan kembali studi falak Islam, khususnya mengenai rukyah hilal. Setelah itu muncul banyak nama yang ikut memperkaya studi ilmu falak, di antaranya, Mauder, Danjon, Frans Bruin dan lain-lain.30 Ketertarikan Fotheringham dalam memilih kajian ilmu falak mengenai rukyah hilal memang sangat beralasan, karena ini menyangkut dengan kalender umat Islam yang belum mapan. Diskusi tentang rukyah hilal sampai sekarang masih mendominasi ketimbang tema lain, seperti gerhana Bulan atau Matahari, awal waktu salat dan arah kiblat.
Di Indonesia pada tahun 1992 berhasil mengklasifikasi sistem hisab kepada hisab hakiki taqribi, hisab hakiki tahkiki dan hisab hakiki kontemporer. Sistem hisab hakiki taqribi dan hisab hakiki tahkiki menggunakan data yang dihasilkan oleh Ulugh Beik, seperti yang terdapat dalam kitab Sullamun Nayyirain dan dikenal sebagai tipologi ilmu falak klasik. Sedangkan tipologi ilmu falak modern (hakiki kontemporer) semua sistem hisab yang menggunakan data Almanac Nautica yang dihasilkan oleh Simon New Comb.31
2. Ruang Lingkup Kajian Ilmu Falak
Setelah melihat sejarah pasang surut pengkajian ilmu falak, para pakar ilmu falak menyimpulkan bahwa ruang lingkup kajian ilmu falak terbagi dalam dua macam, yaitu ilmu falak ilmy (theoretical astronomy) dan ilmu falak amaly (practical astronomy).32 Ilmu falak ilmy adalah ilmu yang membahas teori dan konsep benda-benda langit yang meliputi:
a. Cosmogoni, yaitu teori tentang asal usul benda-benda langit dan alam semesta.
30
Syamsul Anwar, Diskusi dan Korespodensi Kalender…, hlm. 155.
31Kementerian Agama RI, Ilmu Falak Praktik, hlm. 10.
32
b. Cosmologi, yaitu cabang astrologi yang menyelidiki asal-usul struktur dan hubungan ruang waktu dari alam semesta.
c. Cosmografy, yaitu pengetahuan tentang seluruh susunan alam, penggambaran umum tentang jagat raya termasuk Bumi.
d. Astrometrik, yaitu cabang astronomi yang kegiatannya melakukan pengukuran terhadap benda-benda langit dengan tujuan mengetahui ukuran dan jarak antara satu benda langit dengan benda langit lainnya. e. Astromekanik, yaitu cabang astronomi yang mempelajari gerak dan
gaya tarik benda-benda langit dengan cara dan hukum mekanik.
f. Astrofisika, yaitu bagian astronomi tentang benda-benda angkasa dari sudut ilmu alam dan ilmu kimia.33
Ruang lingkup kajian ilmu falak ini sangatlah luas, bahkan melebihi ruang lingkup kajian ilmu astronomi hari ini. Kajian ilmu falak dalam ruang lingkup ini masih dikaji pada masa kejayaan Islam yaitu abad ke 8-13 M.
Ilmu falak amaly adalah ilmu yang melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi dan kedudukan benda-benda langit antara satu dengan yang lain, yang memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan ibadah umat Islam seperti:
1. Penentuan arah kiblat. 2. Penentuan awal waktu salat. 3. Penentuan awal bulan. 4. Penentuan gerhana.34
Ruang lingkup kajian ilmu falak dalam kategori ini (ilmu falak ilmy) terlihat pada era kebangkitan kajian ilmu falak, yaitu mulai dari abad ke 20 M sampai hari ini. Dalam sejarah perkembangan ilmu falak, kajian ilmu falak ilmy hanya tinggal sebutan saja dalam pembahagian ilmu falak, sedangkan dalam kajian pengembangan ilmu falak hari ini, disiplin ilmu tersebut sudah dinamai dengan ilmu lain, sepert astronomi, astrofisik, astromekanik, dan lain-lain . Ilmu falak hari ini identik dengan ruang lingkup kajian ilmu falak amaly. Untuk mempercepat pengembangan aplikatif ilmu falak di era modern, penulis merasa
33Kementerian Agama RI, Ilmu Falak Praktik, hlm. 2.
34
lebih cocok ruang lingkup kajian ilmu falak hanya pada penentuan arah dan waktu di permukaan Bumi untuk berbagai macam keperluan.
C.Dasar Hukum Penentuan Awal Waktu Salat
Secara syar‘i, salat yang diwajibkan itu mempunyai waktu yang telah ditentukan, sehingga terdefinisi sebagai ibadah mawqutan. Walaupun tidak dijelaskan secara detail waktunya, namun secara umum, Alquran telah menentukannya. Sedangkan penjelasan waktu salat yang terperinci diterangkan dalam hadis-hadis Nabi. Dari hadis-hadis waktu salat itulah, para ulama fiqh memberikan batasan-batasan waktu salat dengan berbagai cara atau metode yang mereka asumsikan cocok untuk menentukan waktu salat tersebut.
1. Dasar Alquran
Dalam Alquran terdapat beberapa ayat yang menyebutkan secara umum tentang waktu salat.
Artinya: Maka apabila kamu Telah menyelesaikan salat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu. Sesungguhnya salat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
Ayat ini menunjuki bahwa salat ada waktu tertentu dalam pelaksanaannya. Ahmad Mustafa al-Maragi menjelaskan dalam kitab tafsirya, salat adalah suatu kewajiban yang mempunyai waktu-waktu tertentu dan sebisa mungkin harus dilaksanakan di dalam waktu-waktu itu.35
b. urat d ayat 114
35Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Terj. Bahrul Abubakar, Dkk. Cet. II,
Artinya: Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan-perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
Menurut Ibnu Abbas dalam tafsirnya, ayat ini menjelaskan tiga waktu salat yaitu Subuh dan Magrib difahami pada kalimat dan waktu salat
Artinya: Dirikanlah salat dari sesudah Matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
Dari uraian di atas dapat difahami bahwa waktu-waktu salat telah dijelaskan dalam Alquran, hanya saja metode untuk mengetahui masuk waktu salat yang belum dirincikan secara sempurna yang mudah dipedomani oleh manusia.
2. Dasar Hadis
36Ibnu Abbas, Tafsir Ibnu Abbas, Terj. Muhyiddin Mas Rida, dkk. (Jakarta: Pustaka
Dalam hadis Nabi saw. terdapat rincian yang menyebutkan secara jelas
‘Abdu al-Shamadi telah memberitahukan kepada kami, Hammamun telah memberitahukan kepada kami, Katadah telah memberitahukan kepada kami dari
لإ
Artinya: al-Hasan Ibnu Sufyan telah menceritakan kepada kami ia berkata,
Hibban Ibnu Musa telah men eritakan kepada kami ia berkata, ‘Abdullah telah men eritakan kepada kami ia berkata, Husen Ibnu ‘Ali Ibnu Husen telah men eritakan kepada kami dari ahab ibnu Kais n dari abir ia berkata, Jibril A.S telah datang kepada Nabi SA . lalu berkata kepadanya: “Bangunlah lalu
salatlah!”. Kemudian Nabi salat Zuhur di kala Matahari tergelin ir. Kemudian ia datang lagi kepadanya di waktu Asar lalu berkata, “Bangunlah lalu salatlah!”.
Kemudian Nabi salat Asar di kala bayang-bayang sesuatu sama dengannya.
38Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, Cet. II, Juz. IV, (Bairud: Musasah Risalah, 1993),
Kemudian ia datang lagi kepadanya di waktu Magrib lalu berkata:
“Bangunlah!”. Kemudian Nabi salat Magrib di kala Matahari terbenam. Kemudian datang lagi kepadanya di waktu Isya’ lalu berkata : “Bangunlah dan salatlah!”. Kemudian Nabi salat Isya’ di kala mega merah telah terbenam.
Kemudian ia datang lagi kepadanya di waktu Fajar lalu berkata : “Bangun dan salatlah!”. Kemudian Nabi salat Fajar di kala Fajar menyingsing, dan berkata bahwa laut telah terang. Kemudian ia datang pula esok harinya pada waktu
Zuhur kemudian ia berkata padanya: “Bangunlah lalu salatlah!”. Kemudian
Nabi salat Zuhur di kala bayang-bayang suatu sama dengannya. Kemudian
datang lagi kepadanya di waktu Asar dan ia berkata: “Bangunlah dan salatlah!”.
Kemudian Nabi salat Asar di kala bayang-bayang Matahari dua kali sesuatu itu. Kemudian ia datang lagi kepadanya di waktu Magrib dalam waktu yang sama,
tidak bergeser dari waktu yang sudah. Kemudian ia datang lagi di waktu Isya’ di
kala separuh malam telah berlalu atau telah hilang sepertiga malam, lalu Nabi
salat Isya’. Kemudian ia datang lagi kepadanya di kala telah ber ahaya benar dan ia berkata: “Bangunlah lalu salatlah!”. Kemudian Nabi salat Fajar, kemudian Jibril berkata saat dua waktu itu adalah waktu salat. (HR. Muhammad Ibnu Hibban).
. adis dari Ibnu ‘Abbas
ةعيبر يأ نب ناف نب نْرلا دبع يثدح لاق نايفس نع ىَ ا ث ددسم ا ثدح
.
لاق
نع ميكح نب ميكح نع ةعيبر يأ نب شايع نب ثراحا نب نْرلا دبع وه دواد وبأ
لاق سابع نبا نع معطم نب ربج نب عفان
:
ملس و هيلع ها ىلص ها لوسر لاق
"
يبلا د ع ماسلا هيلع ليرج يمأ
ت ناكو سمشلا تلاز يح رهظلا ي ىلصف يترم ت
رصعلا ي ىلصو هلثم هلظ ناك يح رهظلا ي ىلص دغلا ناك املف مئاصلا ىلع
يح
ليللا ثلث لإ ءاشعلا ي ىلصو مئاصلا رطفأ يح برغما ي ىلصو هيلثم هلظ ناك
تقولاو كلبق نم ءايبنأا تقو اذه دمح اي لاقف يإ تفتلا م رفسأف رجفلا ي ىلصو
يتقولا نيذه يب ام
"(
اور
دواد وبأ
)
39
Artinya: Musaddan telah memberitahukan kepada kami, ahya Ibnu Sufy n telah
men eritakan kepada kami ia berkata, “Abdurrahman Ibnu Fulan Ibnu Ab Rab ’ah telan menceritakan kepada kami, Abu Daud berkata (ia adalah
‘Abdurrahman Ibnu Haris Ibnu ‘Iyas Ibnu Abi Rab ’ah) dari Hakim Ibnu Hakim
dari Nafi’k Ibnu ab r Ibnu Mud’in dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw pernah bersabda. Jibril as. pernah mengimami saya untuk salat di Baitullah dua kali. Ia salat Zuhur mengimami saya ketika Matahari tergelincir dan membentuk bayang sepanjang tali sepatu, dan salat Asar mengimami saya pada saat bayang-bayang sama panjang dengan bendanya. Ia salat mengimami saya –maksudnya salat Magrib- ketika orang puasa berbuka. Ia sa lat Isya mengimami saya ketika Syafak menghilang. Ia salat Fajar (Subuh) mengimami saya ketika makanan dan minuman tidak boleh lagi disantap oleh orang yang berpuasa. Kemudian keesokan harinya ia salat Zuhur mengimami saya ketika bayang-bayang sama panjang dengan bendanya, ia salat Asar mengimami saya ketika bayang-bayang dua kali panjang bendanya, ia salat Magrib mengimami saya ketika orang berpuasa berbuka, ia salat Isya mengimami saya ketika menjelang berakhir sepertiga malam, dan ia salat Subuh mengimami saya ketika Subuh sangat
terang. Kemudian beliau berpaling kepada saya dan berkata ” ahai
Muhammad, ini adalah waktu salat para Nabi sebelum engkau. Waktu salat itu
adalah antara kedua waktu ini”. (HR. Abu Daud).
39
Dari beberapa hadis di atas dapat dipastikan awal dan akhir waktu salat dengan menandai sesuatu yang dibias oleh Matahari. Dengan memperhatikan ayat dan hadis di atas, dapat dipahami bahwa batas-batas waktu salat berpatokan pada cahaya Matahari atau keadaan alam yang terlihat di Bumi (rukyah), bukan pada titik pusat Matahari dalam pergerakan semu dari Timur ke Barat (hisab). Batas-batas waktu salat tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Salat Zuhur sejak Matahari tergelincir sampai bayang-bayang sesuatu sama panjangnya.
2. Salat Ashar dimulai sejak bayang-bayang sesuatu sama panjangnya sampai sempurna terbenam Matahari.
3. Salat Magrib dimulai ketika sempurna terbenam Matahari sampai hilang mega merah.
4. Salat Isya dimulai semenjak hilang mega merah sampai terbit Fajar kedua atau Fajar Shadiq.
Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa kehadiran ilmu falak dalam penentuan awal waktu salat hanya untuk memudahkan umat dalam menandai masuk waktu salat tanpa harus melihat lagi kepada bias cahaya Matahari di setiap melaksanakan salat.
D.Awal Waktu Salat Menurut Ilmu Falak.
Proses pelaksanaan ibadah rukun Islam kaum muslimin selalu terikat dengan waktu-waktu tertentu, kecuali membaca kalimat syahadah. Prosesi ibadah puasa, zakat dan haji, perhitungannya berdasarkan pada perjalanan revolusi Bulan terhadap Bumi. Sedangkan salat yang merupakan kewajiban rutinitas harian kaum muslimin, perhitungannya mengacu pada waktu Bumi melakukan rotasi dan revolusi terhadap Matahari.40
Menghitung awal waktu salat merupakan salah satu ruang lingkup kajian ilmu falak, dimana umat Islam dalam mengerjakan salat harus dalam waktu yang telah ditentukan. Persoalan penentuan waktu dalam melaksanakan salat harus
40Tono Saksono, Mengungkap Rahasia Simfoni Zikir Dzikir Jagat Raya , Cet. I, (Bekasi:
menggunakan pendekatan ilmu falak, karena ilmu falak merupakan sebuah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit untuk penentuan arah dan waktu di permukaan Bumi.
Istilah awal waktu salat tidak ditemukan dalam Alquran dan hadis. Masalah ini murni hasil ijtihad para ulama ketika menafsirkan ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis yang berkaitan dengan waktu salat.41 Adapun yang dimaksud dengan waktu salat di sini adalah sebagaimana yang biasa diketahui oleh masyarakat, yaitu waktu salat lima waktu, yakni Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh.
Ilmu falak dalam menentukan awal waktu salat berangkat dari apa yang difahami dalam ayat dan hadis. Ayat dan hadis memberi penjelasan bahwa patokan awal waktu salat pada Matahari, yaitu tergelincir Matahari, panjang pendek bayang-bayang suatu benda, terbenam Matahari, hilangnya mega merah dan terbitnya Fajar. Peristiwa ini secara rutin akan terjadi karena apa yang dikenal dengan rotasi Bumi dan revolusi Bumi yang relatif tetap, kemudian ilmu falak menerjemahkan posisi Matahari pada saat-saat terjadi kejadian-kejadian yang merupakan pertanda bagi awal atau akhir waktu salat dalam ayat dan hadis ke dalam bentuk rumus dengan menggunakan ilmu ukur bola (trigonometri bola).42
Awal waktu salat menurut ilmu falak adalah:
1. Awal waktu salat Zuhur dimulai sesaat Matahari terlepas dari titik garis meridian langit setelah mencapai titik kulminasi dalam peredaran hariannya.43
2. Awal waktu salat Asar dimulai saat Matahari berada pada posisi yang menghasilkan bayang-bayang suatu benda tegak lurus di permukaan Bumi dua kali panjangnya. Posisi Matahari seperti ini diketahui dengan cara
41Susiknan Azhari, Ilmu Falak: Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, Cet. II,
(Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007), hlm. 63-64
42Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah, Pedoman Hisab
Muahammadiyah.., hlm. 50-54.
43Ismail, Posisi Matahari Pada Awal aktu Salat Dalam Perspektif Fiqh Syafi’iyah dan
menentukan nilai jarak enit Matahari m), tinggi Matahari hₒ) dan nilai sudut waktu Matahari tₒ).44
3. Awal waktu salat Magrib dimulai saat Matahari sempurna terbenam (sunset) di suatu tempat, dalam artian seluruh piringan Matahari sempurna melawati garis ufuk mar’i (horizon kodrat).45
4. Awal waktu salat Isya dimulai saat gelap malam sudah sempurna (astronomical twilight), hal ini terjadi di saat posisi Matahari berada sekitar 18 derajat di bawah ufuk Barat.46
5. Awal waktu salat Subuh dimulai saat Matahari berada pada posisi yang menghasilkan cahaya fajar, cahaya ini terjadi saat Matahari berada sekitar 20 derajat di bawah ufuk Timur.47
Untuk menelusuri sejauh mana sudah perkembangan ilmu falak dalam menjawab problematika perhitungan penentuan awal waktu salat, penulis mencoba mengutip beberapa rumus perhitungan awal waktu salat beserta dengan contohnya, guna untuk mendeteksi hal apa yang menjadi tolak ukur dalam perhitungan awal waktu salat dan apa saja data penting dalam penyelesaian perhitungan rumus awal waktu salat agar hasil perhitungannya sesuai dengan apa yang dihasilkan oleh ayat Alquran dan hadis dalam persoalan awal waktu salat. Dalam hal ini penulis mengambil tiga buku sebagai data pokok untuk menganalisa terhadap persoalan di atas, yang menurut penulis ketiga buku ini mewakili cerminan perkembangan ilmu falak di Indonesia karena ketiga buku ini ditulis oleh tim yang dipercaya oleh masing-masing lembaga di mana buku ini diterbitkan. Ketiga buku yang penulis maksud adalah:
a. Kementerian Agama RI.48
44M.Yusuf Harun, Pengantar Ilmu Falak, Cet. I, (Banda Aceh: Yayasan PeNA, 2008),
hlm. 20-22.
45A.Jamil, Ilmu Falak: Teori dan Aplikasi, Cet. I, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 36.
46A.Jamil, Ilmu Falak: Teori…, hlm. 44-46.
47Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam…, hlm. 92.
48Data penyelesaian rumus perhitungan awal waktu salat beserta contoh sepenuhnya
Untuk menyelesaikan perhitungan awal waktu salat, ada beberapa data yang harus dipersiapkan:
a. Lintang tempat (φ). b. Bujur tempat (λ)
c. Tinggi tempat dari permukaan laut. d. Deklinasi matahari (δₒ).
e. Sudut waktu matahari tₒ).
f. Perata waktu (equation of time) (e). g. Ikhtiyat.
h. Tinggi matahari (high of sun) hₒ). Contoh I.
Hitung dan tentukan awal waktu salat untuk kota Semarang pada tanggal 29 Desember 2011 M, dengan ketinggian tempat kurang lebih 200 Meter di atas permukaan laut.
Jawaban:
Data yang diperlukan:
a. Lintang tempat φ) = -7ᵒ00 L . b. ujur tempat λ) = 110ᵒ24 T.
c. Tinggi tempat dari permukaan laut = 200 meter.
d. Deklinasi matahari δₒ) = tanggal 29 Desember 2014 pukul 12 WIB -23° 14 44 .
e. Perata waktu (equation of time) (e) = tanggal 29 Desember 2014 -0. 1. 44.
f. Ikhtiyat = 2 menit. 1) Awal waktu Zuhur
Rumus : WH – e + (λʷ - λ) : 15 Ket. WH = waktu hakiki (pukul 12).
λʷ = waktu daerah, WIB 105°, WITA 120°, WIT 135°.
= 12 – (-0. 1. 44.) + (105° - 110ᵒ24 ) 15 = (105° - 110ᵒ24) = -5° 24 00
= (-5° 24 00 ) : 15 = 00.21.36 = (00.1.44 – 00.21.36) = 00.19.52 = 12 – 00.19.52 = 11.40.8
= 11.43 Wib. 2) Awal waktu Asar
a) arak enit. m = δₒ - φ. zm = -23° 14 44 - (-7°). = -23° 14 44 + 7. = -16° 14 44 . = 16° 14 44 .
b) Tinggi Matahari hₒ). Cotan ha = tan zm + 1 = tan 16° 14 44 + 149
. = 37° 45 09.95
c) udut waktu Matahari tₒ).
Cos tₒ = sin hₒ os φ os δₒ - tan φ x tan δₒ.
= sin 37° 45 09.95 os -7° 00 os -23° 14 44 - tan -7° 00 x tan -23° 14 44 .50
tₒ = 51° 47 06.71 : 15 = 03.27.08.45
d) Awal waktu Asar Rumus = 12 + tₒ)
= 12 + (03.27.08,45) = 15.27.08,45
= 15.27.08,45 (waktu hakiki) – (waktu setempat) 00.19.52 = 15.07.16,45
= 15.10 Wib.
49Cara pejet kalkulator Casio fx-350 M . hift Tan 1 Tan 16° 14 44 + 1)) = derajat°
50Cara pejet kalkulator Casio fx-350 M . hift os sin 37° 45 09.95 os -7° 00 os
3) Awal waktu Magrib. a) Tinggi Matahari hₒ) hₒ = -(ref + sd + ku) ku = 0° 1,76 x √200m = 0° 24 53,41 . d = 0° 16 Ref = 0° 34
hₒ = - 0° 34 + 0° 16 + 0° 24 53,41 ) = -1° 14 53,41 .
b) Sudut waktu Matahari tₒ)
tₒ = os tₒ = sin hₒ os φ os δₒ - tan φ x tan δₒ
= sin -1° 14 53,41 os -7° 00 os -23°14 44 - tan -7° 00 x tan -23° 14 44 .51
= 94° 23 40,89 15 tₒ = 6.17.34,73
c) Awal waktu Magrib Rumus = 12 + tₒ)
= 12 + (6.17.34,73) = 18.17.34,73
= 18.17.34,73 (waktu hakiki) – (waktu setempat) 00.19.52 = 17.57.42,73
= 18.00 Wib. 4) Awal waktu Isya
a) Tinggi Matahari hₒ) hₒ = -17° + (hₒ Magrib) = -17° + (-1° 14 53,41 ) = -17° - 1° 14 53,41 = -18° 14 53,41
b) Sudut waktu Matahari tₒ)
Cos tₒ = sin hₒ os φ os δₒ - tan φ x tan δₒ
51Cara pejet kalkulator Casio fx-350 MS. Shift cos (sin-1° 14 53,41 os -7° 00 os
= sin -18° 14 53,41 os -7° 00 os -23° 14 44 - tan -7° 00 x tan -23° 14 44 .52
= 113° 20 4,4 15 tₒ = 7.33.20,29 c) Awal waktu Isya Rumus = 12 + tₒ) = 12 + (7.33.20,29).
= 19.33.20,29 (waktu hakiki) – (waktu setempat) 00.19.52 = 19.13.28,29
= 19.16 Wib. 5) Awal waktu Subuh
a) Tinggi Matahari hₒ) hₒ = -19° + hₒ Magrib). = -19° + (-1° 14 53,41 ) = -19° - 1° 14 53,41 = -20° 14 53,41
b) udut waktu Matahari tₒ)
Cot tₒ = sin hₒ os φ os δₒ - tan φ x tan δₒ
= sin -20° 14 53,41 os -7° 00 os -23° 14 44 - tan -7° 00 x tan -23° 14 44 53
=115° 36 33,8 15 tₒ = -7.42.26,26
c) Awal waktu Subuh Rumus = 12 + tₒ) = 12 + (-7.42.26,26)
= 4.17.33,74 (waktu hakiki) – (waktu setempat) 00.19.52 = 3.57.41,74
52
Cara pejet kalkulator Casio fx-350 MS. Shift cos (sin -18° 14 53,41 os -7° 00 os
-23° 14 44 - tan -7° 00 x tan -23° 14 44 ) = derajat°.
53Cara pejet kalkulator Casio fx-350 MS. Shift cos (sin -20° 14 53,41 os -7° 00 os
= 04.00 Wib.
Dari penyelesaian rumus awal waktu salat di atas dapat diambil kesimpulan terhadap beberapa hal:
a. Tinggi Matahari hₒ) untuk kota emarang adalah 1) Awal waktu Zuhur = 0°
2) Awal waktu Asar = +37° 45 09.95 3) Awal waktu Magrib = -1° 14 53,41 4) Awal waktu Isya = -18° 14 53,41 5) Awal waktu Subuh = -20° 14 53,41 .
b. Data ketinggian tempat digunakan dalam mencari nilai ketinggian Matahari untuk waktu salat Magrib, Isya dan Subuh, dalam hal ini bisa dipastikan bahwa nilai tinggi Matahari untuk waktu Magrib, Isya dan Subuh akan berpariasi seiring tinggi rendah suatu tempat, tidak terpaku pada -01° untuk waktu Magrib, -81° untuk waktu Isya, dan -20° untuk waktu Subuh.
c. Data deklinasi Matahari dan nilai Equation of Time diambil satu kali untuk sehari perhitungan waktu salat, yaitu data pukul 12.00 Wib.
d. Nilai ihtiyat 2 menit ditambah penggabungan nilai detik ke satu menit, jadi nilai ihtiyat rata-rata lebih 2 menit.
e. Perbedaan awal waktu salat masih berpijak pada perbedaan nilai Bujur saja, belum memperhatikan selisih nilai Lintang.
Contoh II.
Sebagai perbandingan dalam penyelesaian rumus awal waktu salat, penulis mengambil sampel kota Lhokseumawe. Perhitungan dilakukan pada tanggal 29 Desember 2014 M dengan mengambil tempat masjid Islamic Center Lhokseumawe, koordinat tempat 05° 10 48,36 LU, 97° 08 30,33 BT dan tinggi tempat 1 (satu) meter di atas permukaan laut.54
Data yang diperlukan:
a. Lintang tempat φ) = 05° 10 48,36 LU. b. ujur tempat λ)= 97° 08 30,33 BT.
54
c. Tinggi tempat dari permukaan laut = 1 meter.
d. Deklinasi matahari δₒ) = tanggal 29 Desember 2014 pukul 12 WIB -23° 12 43 .
e. Perata waktu (equation of time) (e) = tanggal 29 Desember 2014 -0. 1. 59.
f. Ikhtiyat = 2 menit. 1) Awal waktu Zuhur
Rumus : WH –e + λʷ - λ) 15 Ket. WH = waktu hakiki (pukul 12).
λʷ = waktu daerah, WI 105°, WITA 120°, WIT 135°.
= 12 – (-00.01.59) + (105° - 97° 08 30,33 ) : 15 = (105° - 97° 08 30,33 ) = 7° 51 29,67 = 7° 51 29,67 : 15 = 00.31.25,98. = 00.01.59 + 00.31.25,98 = 00.33.24,98 = 12 + 00.33.24,98 = 12.33.24,98 = 12.36 Wib.
2) Awal waktu Asar
a) arak enit. m = δₒ - φ.
zm = -23° 12 43 - 05° 10 48,36 = -28° 23 31,36 = -28° 23 31,36
= 28° 23 31,36 .
b) Tinggi Matahari hₒ). Cotan ha = tan zm + 1 = tan 28° 23 31,36 + 155. = 32° 59 20.02
c) udut waktu Matahari tₒ).
Cos tₒ = sin hₒ os φ os δₒ - tan φ x tan δₒ.
= sin 32° 59 20.02 : cos 05° 10 48,36 : cos-23° 12 43 - tan 05° 10 48,36 x tan -23° 12 43 .56
55Cara pejet kalkulator Casio fx-350 M . hift Tan 1 Tan 28° 23 31,36 + 1)) =
tₒ = 50° 40 24.04 : 15 = 03.22.41,63
d) Awal waktu Asar Rumus = 12 - e + tₒ)
= 12 + (03.22.41,63) = 15.22.41,63
= 15.22.41,63 (waktu hakiki) + (waktu setempat) 00.33.24,98 = 15.56.06,61
= 15.59 Wib.
3) Awal waktu Magrib. a) Tinggi Matahari hₒ) hₒ = -(ref + sd + ku) ku = 0° 1,76 x √01m = 0° 01 45,06 . d = 0° 16 Ref = 0° 34
hₒ = - 0° 34 +0° 16 + 0° 01 45,06 ) = -00° 51 45,06 .
b) udut wakt Matahari tₒ)
tₒ = os tₒ = sin hₒ os φ os δₒ - tan φ x tan δₒ
= sin -00° 51 45,06 : cos 05° 10 48,36 : cos -23° 12 43 - tan 05° 10 48,36 x tan -23° 12 43 .57
= 88° 42 52,72 : 15 tₒ = 05.54.51,51
c) Awal waktu Magrib Rumus = 12 + tₒ)
= 12 + (5.54.51,51) = 17.54.51,51
= 17.54.51,51 (waktu hakiki) + (waktu setempat) 00.33.24,98
56
Cara pejet kalkulator Casio fx-350 M . hift os sin 32° 59 20.02 os 05° 10 48,36 : cos-23° 12 43 - tan 05° 10 48,36 x tan -23° 12 43 ) = derajat °.
57Cara pejet kalkulator Casio fx-350 MS. Shift cos (sin -00° 51 45,06 os 05° 10
= 18.28.16,49 = 18.31 Wib. 4) Awal waktu Isya
a) Tinggi Matahari hₒ) hₒ = -17° + hₒ Magrib) = -17° + (-00° 51 45,06 ) = -17° - 00° 51 45,06 = -17° 51 45,06
b) Sudut waktu Matahari tₒ)
Cos tₒ = sin hₒ os φ os δₒ - tan φ x tan δₒ
= sin -17° 51 45,06 : cos 05° 10 48,36 : cos -23° 12 43 - tan 05° 10 48,36 x tan -23° 12 43 .58
= 107° 13 55 : 15 tₒ = 7.08.55,67 c) Awal waktu Isya Rumus = 12 + tₒ)
= 12 + (7.08.55,67) = 19.08.55,67
= 19.08.55,67 (waktu hakiki) + (waktu setempat) 00.33.24,98 = 19.42.20,65
= 19.45 Wib. 5) Awal waktu Subuh
a) Tinggi Matahari hₒ) hₒ = -19° + (hₒ Magrib). = -19° + (-00° 51 45,06 ) = -19° - 00° 51 45,06 = -19° 51 45,06
b) udut waktu Matahari tₒ)
Cot tₒ = sin hₒ os φ os δₒ - tan φ x tan δₒ
58Cara pejet kalkulator Casio fx-350 MS. Shift cos (sin -17° 51 45,06 os 05° 10
= sin -19° 51 45,06 : cos 05° 10 48,36 : cos -23° 12 43 - tan 05° 10 48,36 x tan -23° 12 43 .59
=109° 24 36,04 : 15 tₒ = -7.17.38,43
c) Awal waktu Subuh Rumus = 12 + tₒ)
= 12 + (-7.17.38,43)= 04.42.21,57
= 04.42.21,57 (waktu hakiki) – (waktu setempat) 00.33.24,98 = 05.15.46,55
= 05.18 Wib.
Dari penyelesaian perhitungan rumus awal waktu salat untuk kota Lhokseumawe dapat dipastikan tinggi Matahari hₒ) untuk kota Lhokseumawe adalah:
a. Awal waktu Zuhur = 0°
b. Awal waktu Asar = +32° 59 20.02 c. Awal waktu Magrib = -00° 51 45,06 d. Awal waktu Isya = -17° 51 45,06 e. Awal waktu Subuh = -19° 51 45,06 b. Pedoman Hisab Muhammadiyah.60
Contoh I.
Perhitungan awal waktu salat untuk kota Yogyakarta pada tanggal 6 Desember 2008 M.
a. Awal waktu Zuhur 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = -07° 48 L b) ujur tempat λ)= 110° 21 T
59Cara pejet kalkulator Casio fx-350 MS. Shift cos (sin -19° 51 45,06 os 05° 10
48,36 os -23° 12 43 - tan 05° 10 48,36 x tan -23° 12 43 ) = derajat°.
60
c) Perata waktu (equation of time) (e) = 00.08.54 2) Rumus awal waktu Zuhur
Zuhur = e.t. -/+ swλ) + i e.t. = 12 – e
3) Proses perhitungan
Ephemeris Transit (e.t.) = 12 – e
= 12 – 00.08.54
= 11.51.06 (waktu daerah) Selisih waktu bujur (swλ) = 110° 21 - 105°) : 15
= 110° 21 - 105°) = 05° 21 00 15 = 00.21.24
e.t. –swλ = 11.51.06 – 00.21.24 = 11.29.42
Ihtiyat = 00.01.18
Awal waktu Zuhur = 11.29.42 + 00.01.18 = 11.31 Wib.
b. Awal waktu Asar 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = -07° 48 L b) ujur tempat λ)= 110° 21 T
c) Perata waktu (equation of time) (e) = 00.08.54 d) Deklinasi Matahari δ) = -22° 32 53
2) Rumus awal waktu Asar Asar = ((e.t. + t) -/+ swλ) + i e.t. = 12 – e
t = osˉ¹ -tan φ tan δ + sin h os φ os δ) h = otanˉ¹ tan ᵐ + 1)
zᵐ= φ –δ)
swλ = λtp –λdh) 15 3) Proses perhitungan
zᵐ= φ –δ)
zᵐ = (-07° 48 - (-22° 32 53 )) = 14° 44 53
Cotan h = tan zᵐ + 1 = tan 14° 44 53 + 1 = 0,263241739 + 1 = 1,263241739
= 1 : 1,263241739 = 0,791614121 shift tan ans = 38° 21 56,28
Sudut waktu Matahari (t): cos t = -tan φ tan δ + sin h os φ os δ. = -tan -07° 48 tan -22° 32 53 + sin 38° 21 56,28 os -07° 48 os -22° 32 53
= 0,13698296 x (-0,415196534) + 0,6206776 : 0,99074784 x 0,92355824
= 0,13698296 x (-0,415196534) = -0,05687485 = 0,99074784 x 0,92355824 = 0,915013331 = 0,6206776 : 0,915013331 = 0,678326292 = -0,05687485 + 0,678326292 = 0,621451442.61 t = 51° 34 40,07 15 = 03.26.18,67
e.t. = 12 – e + t = 12 – 00.08.54 + 03.26.18,67 = 15.17.24,67 –swλ
= 15.17.24,67 - 00.21.24 = 14.56.00,67
Ihtiyat = 00.01.59,33
Awal waktu Asar = 14.56.00,67 + 00.01.59,33 = 14.58 Wib.
c. Awal waktu Magrib 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = -07° 48 L b) ujur tempat λ)= 110° 21 T
61Untuk mendapatkan hasil seperti ini, boleh juga dengan cara, ((0,13698296 x
(-0,415196534) + 0,6206776 : (0,99074784 x 0,92355824))= 0,621451441. Lalu tekan shift cos ans
c) Tinggi tempat (m) = 90 meter
d) Perata waktu (equation of time) (e) = 00.08.54 e) Deklinasi Matahari δ) = -22° 33 53
f) emi diameter Matahari s.d) = 00° 16 14,03 g) Refraksi Matahari R) = 00° 34 30
2) Rumus awal waktu Magrib Magrib = ((e.t. + t) -/+ swλ) + i e.t. = 12 – e
t = osˉ¹ -tan φ tan δ + sin h os φ os δ) h = -(s.d. + R + Dip)
Dip = 1,76 √m
wλ = λtp –λdh) 15 3) Proses perhitungan
Dip = 1,76 √m = 1,76 √90
Dip = 00° 16 41,81
Tinggi Matahari (h): h = -(s.d. + R + Dip) = - 16 14,03 + 34 30 + 16 41,81 ) h = -01° 07 25,84
Sudut waktu Matahari (t): t = cos t = -tan φ tan δ + sin h os φ os δ = -tan -07° 48 tan -22° 33 45 + sin -01° 07 25,84 os -07° 48 os -22° 33 45
= 0,13698296 x (-0,415492128) + -0,019613528 : 0,99074784 x 0,92346154
= 0,13698296 x (-0,415492128) = -0,056915341 = 0,99074784 x 0,92346154 = 0,914917526 = -0,019613528 : 0,914917526 = -0,021437482 = -0,056915341 + (-0,021437482)
= -0,078352823 shift os ans = 94° 29 38,01 t = 94° 29 38,01 15 = 06.17.58,53
= 18.09.04,53 –swλ
= 18.09.04,53 - 00.21.24 = 17.47.40,53
Ihtiyat = 00.01.19,47
Awal waktu Magrib = 17.47.40,53 + 00.01.19,47 = 17.49 Wib.
d. Awal waktu Isya 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = -07° 48 L b) ujur tempat λ)= 110° 21 T c) Tinggi Matahari (h) = -18°
d) Perata waktu (equation of time) (e) = 00.08.47 e) Deklinasi Matahari δ) = -22° 34 02
2) Rumus awal salat Isya Isya = ((e.t. + t) -/+ swλ) + i = e.t. = 12 – e
t = osˉ¹ -tan φ tan δ + sin h os φ os δ) swλ= λtp –λdh) 15
3) Proses perhitungan
Sudut waktu Matahari (t): cos t = -tan φ tan δ + sin h os φ os δ = -tan -07° 48 tan -22° 34 02 + sin -18° : cos -07° 48 os -22° 34 02
= 0,13698296 x (-0,415588778) + -0,309016994 : 0,99074784 x 0,923429913
= 0,13698296 x (-0,415588778) = -0,05692858 = 0,99074784 x 0,923429913 = 0,914886191 = -0,309016994 : 0,914886191 = -0,337765502 = -0,05692858 + (-0,337765502)
= -0,394694082 shift o sans = 113° 14 48,08 t = 113° 14 48,08 15 = 07.32.59.26
= 19.24.12,26 - 00.21.24 = 19.02.48,26
Ihtiyat = 00.01.11,74
Awal waktu Insya = 19.02.48,26 + 00.01.11,74 = 19.04 Wib.
e. Awal waktu Subuh 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = -07° 48 L b) Bujur tempat λ)= 110° 21 T c) Tinggi Matahari (h) = -20°
d) Perata waktu (equation of time) (e) = 00.09.03 e) Deklinasi Matahari δ) = -22° 29 39
2) Rumus awal salat Subuh Subuh = ((e.t. - t) -/+ swλ) + i = e.t. = 12 – e
t = osˉ¹ -tan φ tan δ + sin h os φ os δ) swλ = λtp –λdh) 15
3) Proses perhitungan
Sudut waktu Matahari (t): cos t = -tan φ tan δ + sin h os φ os δ = -tan -07° 48 tan -22° 29 39 + sin -20° : cos -07° 48 os -22° 29 39
= 0,13698296 x (-0,414094288) + -0,342020143 : 0,99074784 x 0,923918489
= 0,13698296 x (-0,414094288) = -0,056723861 = 0,99074784 x 0,923918489 = 0,915370247 = -0,342020143 : 0,915370247 = -0,373641315 = -0,056723861 + (-0,373641315)
= -0,430365176 shift cos ans = 115° 29 26,06 t = 115° 29 26,06 : 15 = 07.41.57.78
e.t. = 12 – e - t = 12 – 00.09.03 - 07.41.57.78 = 04.08.59,22 –swλ
Ihtiyat = 00.01.24,78
Awal waktu Subuh = 03.47.35,22 + 00.01.24,78 = 03.49 Wib.
Dari penyelesaian rumus awal waktu salat di atas dapat diambil kesimpulan terhadap beberapa hal:
a. Tinggi Matahari hₒ) untuk kota emarang adalah 1) Awal waktu Zuhur = 0°
2) Awal waktu Asar = +38° 21 56,28 3) Awal waktu Magrib = -01° 07 25,84 4) Awal waktu Isya = -18°.
5) Awal waktu Subuh = -20°.
b. Data ketinggian tempat digunakan dalam mencari nilai ketinggian Matahari hanya untuk awal waktu salat Magrib saja, sedangkan untuk awal waktu salat Asar, Isya dan Subuh tidak digunakan, nilai tinggi Matahari telah ditetapkan untuk waktu Isya = -18° dan Subuh = -20°
c. Data deklinasi Matahari dan nilai Equation of Time diambil setiap awal waktu salat dalam perkiraan semetara.
d. Nilai ihtiyat 1 menit ditambah penggabungan nilai detik ke satu menit, jadi nilai ihtiyat rata-rat lebih 1 menit.
e. Perbedaan awal waktu salat masih berpijak pada perbedaan nilai Bujur saja, belum memperhatikan selisih nilai Lintang.
Contoh II.
Contoh perhitungan awal waktu salat untuk kota Lhokseumawe pada tanggal 29 Desember 2014 M.
a. Awal waktu Zuhur 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = 05° 10 48,36 LU. b) ujur tempat λ) = 97° 08 30,33 BT.
c) Perata waktu (equation of time) (e) = -00.01.59 2) Rumus awal waktu Zuhur
e.t. = 12 – e
3) Proses perhirungan
Ephemeris Transit (e.t.) = 12 – e
= 12 – -00.01.59 = 12 + 00.01.59
= 12.01.59 (waktu daerah) Selisih waktu bujur swλ) = 97° 08 30,33 - 105°) : 15
= 97° 08 30,33 - 105°) = 07° 51 29,67 : 15
= 00.31.25,98
e.t. –swλ = 12.01.59 + 00.31.25,98 = 12.33.24,98
Ihtiyat = 00.01.35,02
Awal waktu Zuhur = 12.33.24,98 + 00.01.35,02 = 12.35 Wib.
b. Awal waktu Asar 1) Data:
e) Lintang tempat φ) = 05° 10 48,36 LU. f) ujur tempat λ) = 97° 08 30,33 BT.
g) Perata waktu (equation of time) (e) = -00.01.59 h) Deklinasi Matahari δ) = -23° 12 43
2) Rumus awal waktu Asar Asar = ((e.t. + t) -/+ swλ) + i e.t. = 12 – e
t = osˉ¹ -tan φ tan δ + sin h os φ os δ) h = otanˉ¹ tan ᵐ + 1)
zᵐ= φ –δ)
swλ = λtp –λdh) 15 3) Proses perhitungan
zᵐ = 05° 10 48,36 - (-23° 12 43 )) = 28° 23 31,36
Cotan h = tan zᵐ + 1 = tan 28° 23 31,36 + 1 = 0,540518552 + 1 = 1,540518552
= 1 : 1,540518552 = 0,791614121 shift tan ans = 32° 59 20,02
Sudut waktu Matahari (t): cos t = -tan φ tan δ + sin h os φ os δ. = (-tan 05° 10 48,36 x (tan -23° 12 43 ) + sin 32° 59 20,02 : (cos 05° 10 48,36 x cos -23° 12 43 ))
= 0,633739451 shift cos ans = 50° 40 24,04
t = 50° 40 24,04 15 = 03.22.41,63
e.t. = 12 – e + t = 12 + 00.01.59 + 03.22.41,63 = 15.17.24,67 –swλ
= 15.24.40,63 + 00.31.25,98 = 15.56.06,61
Ihtiyat = 00.01.53,39
Awal waktu Asar = 14.56.00,67 + 00.01.53,39 = 15.58 Wib.
c. Awal waktu Magrib 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = 05° 10 48,36 LU. b) ujur tempat λ)= 97° 08 30,33 BT c) Tinggi tempat (m) = 01 meter
d) Perata waktu (equation of time) (e) = -00.02.07 e) Deklinasi Matahari δ) = -23° 11 49
f) emi diameter Matahari s.d) = 00° 16 14,03 g) Refraksi Matahari R) = 00° 34 30
e.t. = 12 – e
t = osˉ¹ -tan φ tan δ + sin h os φ os δ) h = -(s.d. + R + Dip)
Dip = 1,76 √m
wλ = λtp –λdh) 15 3) Proses perhitungan
Dip = 1,76 √m = 1,76 √01
Dip = 00° 01 45,06
Tinggi Matahari (h): h = -(s.d. + R + Dip) = -(00° 16 14,03 + 34 30 + 00° 01 45,06 ) h = -00° 52 29,09
Sudut waktu Matahari (t): t = cos t = -tan φ tan δ + sin h os φ os δ = (-tan 05° 10 48,36 x (tan -23° 11 49 ) + sin -00° 52 29,09 : (cos 05° 10 48,36 x cos -23° 11 49 ))
= 0,022172389 shift os ans = 94° 29 38,01 t = 88° 43 46,24 : 15 = 05.54.55,08 e.t. = 12 – e + t
= 12 + 00.02.07 + 05.54.55,08 = 17.57.02,08 –swλ
= 17.57.02,08 + 00.31.25,98 = 18.28.28,06
Ihtiyat = 00.01.31,94
Awal waktu Magrib = 18.28.28,06 + 00.01.31,94 = 18.30 Wib.
d. Awal waktu Isya 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = 05° 10 48,36 LU. b) ujur tempat λ)= 97° 08 30,33 BT c) Tinggi Matahari (h) = -18°
2) Rumus awal salat Isya Isya = ((e.t. + t) -/+ swλ) + i = e.t. = 12 – e
t = osˉ¹ -tan φ tan δ + sin h os φ os δ) swλ = λtp –λdh) 15
3) Proses perhitungan
Sudut waktu Matahari (t): cos t = -tan φ tan δ + sin h os φ os δ = (-tan 05° 10 48,36 x (tan -23° 11 31 ) + sin -18° os 05° 10 48,36 x os -23° 11 31 ))
= -0,298721901 shift cos ans = 113° 14 48,08 t = 107° 22 51 : 15 = 07.09.31,04
e.t. = 12 – e + t = 12 + 00.02.09 + 07.09.31,04 = 19.11.40,04 + swλ
= 19.11.40,04 + 00.31.25,98 = 19.43.06,02
Ihtiyat = 00.01.53,98
Awal waktu Insya = 19.43.06,02 + 00.01.53,98 = 19.45 Wib.
e. Awal waktu Subuh 1) Data:
a) Lintang tempat φ) = 05° 10 48,36 LU b) ujur tempat λ) = 97° 08 30,33 BT c) Tinggi Matahari (h) = -20°
d) Perata waktu (equation of time) (e) = -00.02.20 e) Deklinasi Matahari δ) = -23° 10 05
2) Rumus awal salat Subuh Subuh = ((e.t. - t) -/+ swλ) + i = e.t. = 12 – e
t = osˉ¹ -tan φ tan δ + sin h os φ os δ) swλ = λtp –λdh) 15
3) Proses perhitungan
= (-tan 05° 10 48,36 x tan -23° 10 05 ) + sin -20° os 05° 10 48,36 x os -23° 10 05 ))
= -0,334751748 shift cos ans = 109° 33 26,07 t = 109° 33 26,07 15 = 07.18.13,79
e.t. = 12 – e - t = 12 + 00.02.20 - 07.18.13,79 = 04.44.06,21 –swλ
= 04.44.06,21 + 00.31.25,98 = 05.15.32,19
Ihtiyat = 00.01.27,81
Awal waktu Subuh = 05.15.32,19 + 00.01.27,81 = 05.17 Wib.
Dari penyelesaian perhitungan rumus awal waktu salat untuk kota Lhokseumawe dapat dipastikan tinggi Matahari hₒ) untuk kota Lhokseumawe adalah:
a. Awal waktu Zuhur = 0°
b. Awal waktu Asar = +32° 59 20.02
c. Awal waktu Magrib = -00° 52 29,09 d. Awal waktu Isya = -18°
e. Awal waktu Subuh = -20°
3. Badan Hisab dan Rukyah (BHR) Provinsi Aceh.62
Untuk menyelesaikan perhitungan rumus awal waktu salat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:
a.Data yang harus diketahui 1) Lintang tempat φ) 2) ujur tempat λ) 3) Deklinasi Matahari δₒ) 4) Equation of time (e) 5) Tinggi Matahari hₒ)
6) Koreksi waktu daerah (kwd) 7) Ikhtiyat.
62Team Tehnis Badan Penelitian dan Pengembangan Hisab dan Rukyah Provinsi NAD,
b. Rumus yang dipergunakan
1) Rumus sudut waktu Matahari (t)
Cos t = -tan φ tan δₒ + sin hₒ os φ os δ 2) Rumus awal waktu
12 – e + t + kwd + i
3) Rumus tinggi Matahari hₒ)
Asar = cotan h = tan zm + 1 Magrib = -01°
Isya = -18°
Subuh = -20° Zuhur = 00°
4) Rumus koreksi waktu daerah (kwd) Kwd = λʷ - λt) 15
Contoh I.
Tentukan awal waktu salat di Banda Aceh tanggal 5 Pebruari 2007? a. Awal waktu Zuhur
1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat = 05° 33 LU b) ujur tempat = 95° 19 BT c) Equation of time = -00.13.59
d) kwd = (105° - 95° 19 ) 15 = 00.38.44 2) Rumus yang digunakan
Awal waktu Zuhur: 12 – e + kwd + i 3) Proses perhitungan
12 – e + kwd + i
= 12 + 00.13.59 + 00.38.44 = 12.52.43
Ihktiyat = 00.01.17
= 12.52.43 + 00.01.17 = 12.54 Wib
1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat = 05° 33 LU b) Bujur tempat = 95° 19 T c) Equation of time = -00.14.00
d) kwd = (105° - 95° 19 ) 15 = 00.38.44 e) Deklinasi Matahari = -16° 00 14 2) Rumus yang digunakan
Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i Cos t = -tan φ tan δₒ + sin hₒ os φ x os δ Cotan h = tan φ - δₒ) + 1
3) Proses perhitungan
otah h = tan 05° 33 - -16° 00 14 ) + 1 = 21° 33 14 + 1
= tan 21° 33 14 + 1 = 0,394997356 + 1 = 1,394997356
= 1 : 1,394997356 = 0,716847236 shift tan ans hₒ = 35° 38 05,07
cos t = (-tan 05° 33 x tan -16° 00 14 ) + sin 35° 38 05,07 os 05° 33 x os -16° 00 14 ))
= 0,636831636 shift cos ans = 50° 26 38,52
t = 50° 26 38,52 15 = 03.21.46,57 Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i 12 + 00.14.00 + 03.21.46,57 + 00.38.44 = 16.14.30,57
Ikhtiyat = 00.01.29,43
= 16.14.30,57 + 00.01.29,43 = 16.16 Wib
a) Lintang tempat = 05° 33 LU b) ujur tempat = 95° 19 T c) Equation of time = -00.14.00
d) kwd = (105° - 95° 19 ) 15 = 00.38.44 e) Deklinasi Matahari = -15° 57 58 2) Rumus yang digunakan
Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i Cos t = -tan φ tan δₒ + sin hₒ os φ x os δ Cotan hₒ = -01°
3) Proses perhitungan
cos t = (-tan 05° 33 x tan -15° 57 58 ) + sin -01° os 05° 33 x cos-15° 57 58 ))
= 9,562675531 shift cos ans = 89° 27 07,53
t = 89° 27 07,53 15 = 05.57.48,05 Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i 12 + 00.14.00 + 05.57.48,05 + 00.38.44 = 18.50.32,05
Ikhtiyat = 00.01.27,95
= 18.50.32,05 + 00.01.27,95 = 18.52 Wib
d. Awal waktu Isya
1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat = 05° 33 LU b) ujur tempat = 95° 19 T c) Equation of time = -00.14.01
d) kwd = (105° - 95° 19 ) 15 = 00.38.44 e) Deklinasi Matahari = -15° 57 13 2) Rumus yang digunakan
Cotan hₒ = -18° 3) Proses perhitungan
cos t = (-tan 05° 33 x tan -15° 57 13 ) + sin -18° os 05° 33 x cos-15° 57 13 ))
= -0,295131544 shift cos ans = 107° 09 55,53
t = 107° 09 55,53 15 = 07.08.39,07 Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i 12 + 00.14.01 + 07.08.39,07 + 00.38.44 = 20.01.24,07
Ikhtiyat = 00.01.35,93
= 20.01.24,07 + 00.01.35,93 = 20.03 Wib
e. Awal waktu Subuh 1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat = 05° 33 LU b) ujur tempat = 95° 19 T c) Equation of time = -00.13.58
d) kwd = (105° - 95° 19 ) 15 = 00.38.44 e) Deklinasi Matahari = -16° 07 46 2) Rumus yang digunakan
Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i Cos t = -tan φ tan δₒ + sin hₒ os φ x os δ Cotan hₒ = -20°
3) Proses perhitungan
cos t = (-tan 05° 33 x tan -16° 07 46 ) + sin -20° os 05° 33 x cos-16° 07 46 ))
= -0,329611059 shift cos ans = 109° 14 42,06
12 + 00.13.58 - 07.16.58,84 + 00.38.44 = 05.35.43,16
Ikhtiyat = 00.01.16,84
= 05.35.43,16 + 00.01.16,84 = 05.37 Wib
Dari penyelesaian rumus awal waktu salat di atas dapat diambil kesimpulan terhadap beberapa hal:
a. Tinggi Matahari hₒ) untuk kota emarang adalah 1) Awal waktu Zuhur = 0°
2) Awal waktu Asar = +35° 38 05,07 3) Awal waktu Magrib = -01°
4) Awal waktu Isya = -18°. 5) Awal waktu Subuh = -20°.
b. Data ketinggian tempat digunakan tidak digunakan dalam mencari tinggi Matahari untuk awal waktu salat.
c. Data deklinasi Matahari dan nilai Equation of Time diambil setiap awal waktu salat dalam perkiraan semetara.
d. Nilai ihtiyat 1 menit ditambah penggabungan nilai detik ke satu menit, jadi nilai ihtiyat rata-rat lebih 1 menit.
e. Perbedaan awal waktu salat masih berpijak pada perbedaan nilai Bujur saja, belum memperhatikan selisih nilai Lintang.
Contoh II.
Contoh perhitungan awal waktu salat untuk kota Lhokseumawe pada tanggal 29 Desember 2014 M.
a. Awal waktu Zuhur 1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat φ) = 05° 10 48,36 LU b) ujur tempat λ) = 97° 08 30,33 T c) Equation of time = -00.01.59
Awal waktu Zuhur: 12 – e + kwd + i 3) Proses perhitungan
12 – e + kwd + i
= 12 + 00.01.59 + 00.31.25,98 = 12.33.24,98
Ihktiyat = 00.01.35,02
= 12.33.24,98+ 00.01.35,02 = 12.35 Wib
b. Awal waktu Asar 1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat = 05° 10 48,36 LU b) Bujur tempat = 97° 08 30,33 BT c) Equation of time = -00.02.04
d) kwd = (105° - 97° 08 30,33 ) : 15 = 00.31.25,98 e) Deklinasi Matahari = -23° 12 07
2) Rumus yang digunakan
Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i Cos t = -tan φ tan δₒ + sin hₒ os φ x os δ Cotan h = tan φ - δₒ) + 1
3) Proses perhitungan
cotah h = tan (05° 10 48,36 + 23° 12 07 ) + 1 = 28° 22 55,36 + 1
= tan 28° 22 55,36 + 1 = 0,540293049 + 1 = 1,540293049
= 1 : 1,540293049 = 0,649227106 shift tan ans hₒ = 32° 59 33,81
cos t = (-tan 05° 10 48,36 x (tan -23° 12 07 ) + sin 32° 59 33,81 : (cos 05° 10 48,36 x cos -23° 12 07 ))
t = 50° 40 24,93 15 = 03.22.41,66 Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i 12 + 00.02.04 + 03.22.41,66 + 00.31.25,98 = 15.56.11,64
Ikhtiyat = 00.01.48,36
= 15.56.11,64 + 00.01.48,36 = 15.58 Wib
c. Awal waktu Magrib 1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat = 05° 10 48,36 LU b) Bujur tempat = 97° 08 30,33 BT c) Equation of time = -00.02.08
d) kwd = (105° - 97° 08 30,33) : 15 = 00.31.25,98 e) Deklinasi Matahari = -23° 11 40
2) Rumus yang digunakan
Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i Cos t = -tan φ tan δₒ + sin hₒ os φ x os δ Cotan hₒ = -01°
3) Proses perhitungan
cos t = (-tan 05° 10 48,36 x (tan -23° 11 40 ) + sin -01° : (cos 05° 10 48,36 x cos -23° 11 40 ))
= 0,019780282 shift cos ans = 88° 51 59,76
t = 88° 51 59,76 : 15 = 05.55.27,98 Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i 12 + 00.02.08 + 05.55.27,98 + 00.31.25,98 = 18.29.01,96
Ikhtiyat = 00.01.58,04
= 18.29.01,96 + 00.01.58,04 = 18.31 Wib
1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat = 05° 10 48,36 LU b) Bujur tempat = 97° 08 30,33 BT c) Equation of time = -00.02.08
d) kwd = (105° - 97° 08 30,33) : 15 = 00.31.25,98 e) Deklinasi Matahari = -23° 11 40
2) Rumus yang digunakan
Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i Cos t = -tan φ tan δₒ + sin hₒ os φ x os δ Cotan hₒ = -18°
3) Proses perhitungan
cos t = (-tan 05° 10 48,36 x (tan -23° 11 40 ) + sin -18° : (cos 05° 10 48,36 x cos -23° 11 40 ))
= -0,29872353 shift cos ans = 107° 22 51,04
t = 107° 22 51,04 : 15 = 07.09.31,43 Awal waktu Asar: 12 – e + t + kwd + i 12 + 00.02.08 + 07.09.31,43 + 00.31.25,98 = 19.43.05,41
Ikhtiyat = 00.01.54,59
= 19.43.05,41 + 00.01.54,59 = 19.45 Wib
e. Awal waktu Subuh 1) Data yang diketahui
a) Lintang tempat = 05° 10 48,36 LU b) Bujur tempat = 97° 08 30,33 BT c) Equation of time = -00.02.20
d) kwd = (105° - 95° 19 ) : 15 = 00.31.25,98 e) Deklinasi Matahari = -23° 10 05
2) Rumus yang digunakan
Cos t = -tan φ tan δₒ + sin hₒ os φ x os δ Cotan hₒ = -20°
3) Proses perhitungan
cos t = (-tan 05° 10 48,36 x (tan -23° 10 05 ) + sin -20° : (cos 05° 10 48,36 x cos -23° 10 05 ))
= -0,334751748 shift cos ans = 109° 33 26,07
t = 109° 33 26,07 15 = 07.18.13,79 Awal waktu Asar: 12 – e - t + kwd + i 12 + 00.02.20 - 07.18.13,79 + 00.31.25,98 = 05.15.32,19
Ikhtiyat = 00.01.27,81
= 05.15.32,19 + 00.01.27,81 = 05.17 Wib
Dari hasil uraian di atas dapat dipahami bahwa metode penentuan waktu salat ada dua macam yaitu:
1. Metode Rukyah
Metode rukyah adalah suatu cara dalam menetukan waktu salat dengan berpedoman langsung kepada Matahari atau bayangan Matahari. Metode ini tidak menggunakan rumus matematik dan data astronomis. Di Indonesia metode rukyah ini terlihat pada peralatan yang digunakan untuk penentuan waktu salat, seperti adanya jam bencet atau miqyas, tongkat istiwa’, dan rubu’ al-mujayyab. Bila dilihat dari segi alat yang digunakan, metode ini kian berkembang, tetapi keakuratan dan manfaat dari semua alat tetap sama.
2. Metode Hisab.
Matahari saat masuk dan akhir waktu salat. Di Indonesia metode hisab dalam penentuan waktu salat terus berkembang dalam mencari titik kesempurnaan. Sejauh analisa penulis setidaknya ada tiga tingkatan dalam perkembangan metode hisab waktu salat di Indonesia.
a. Tingkatan pertama
Tingkatan pertama ini penulis ambil sampel sebagai contoh dalam perhitungan adalah buku metode hisab waktu salat yang disusun oleh tim Badah Hisab Rukyah provinsi Aceh. Ciri-ciri metode tingkat pertama ini yaitu:
1) Dalam proses perhitungan sudah menggunakan ilmu matematik dan data astronomis.
2) Dalam mencari nilai tinggi Matahari, ketinggian tempat hanya diambil 10 meter saja dari ketinggian permukaan laut.
3) Dalam proses pengambilan data astronomis, seperti data deklinasi dan equatior of time diambil satu kali pada pukul 12:00 untuk satu hari perhitungan waktu salat.
4) Dalam perhitungan, nilai ihktiyat 1 menit ditambah sisa nilai detik, sehingga nilai ihktiyat satu menit lebih beberapa detik.
5) Dalam pemberlakuan hasil perhitungan waktu salat hanya memperhatikan beda nilai bujur saja, tidak pada nilai lintang.
b. Tingkatan kedua
oleh tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah. Ciri-ciri metode tingkat kedua ini yaitu:
1) Dalam proses perhitungan sudah menggunakan ilmu matematik dan data astronomis.
2) Dalam mencari nilai tinggi Matahari, ketinggian tempat sudah disesuaikan dengan kondisi daratan, tetapi hanya pada waktu Magrib saja.
3) Dalam proses pengambilan data astronomis, seperti data deklinasi dan equatior of time diambil lima kali dalam satu hari untuk lima waktu salat, yaitu pada saat perkiraan kasar bagi awal waktu salat.
4) Dalam perhitungan, nilai ihktiyat 1 menit ditambah sisa nilai detik, sehingga nilai ihktiyat satu menit lebih beberapa detik.
5) Dalam pemberlakuan hasil perhitungan waktu salat hanya memperhatikan beda nilai bujur saja, tidak pada nilai lintang.
c. Tingkatan ketiga.
Tingkatan ketiga ini penulis ambil sampel sebagai contoh dalam perhitungan adalah buku Ilmu Falak Praktik yang disusun oelh Kementerian Agama Republik Indonesia. Ciri-ciri metode tingkat pertama ini yaitu:
2) Dalam mencari nilai tinggi Matahari, ketinggian tempat sudah disesuaikan dengan kondisi daratan untuk waktu salat Magrib, Isya dan Subuh.
3) Dalam proses pengambilan data astronomis, seperti data deklinasi dan equatior of time diambil satu kali pada pukul 12:00 untuk satu hari perhitungan waktu salat.
4) Dalam perhitungan, nilai ihktiyat 2 menit ditambah sisa nilai detik, sehingga nilai ihktiyat dua menit lebih beberapa detik.