• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Sawit Indonesia beserta Penangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Potensi Sawit Indonesia beserta Penangan"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Potensi Sawit Indonesia beserta Penanganan Isu Dumping dan ISPO

dalam Menghadapi ASEAN Economic Community 2015

Oleh :

Rizky Prayogo Ramadhan H34110048, Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (2013)

Produksi sawit Indonesia dari tahun ke tahunnya cenderung mengalami peningkatan. Terhitung sejak tahun 2006, Indonesia telah menjadi produsen utama kelapa sawit (CPO) di dunia. Ketersediaan lahan yang cukup memadai, kesuaian iklim, biaya pembangunan dan perawatan per hektar yang lebih murah, serta ketersediaan tenaga kerja relatif murah yang melimpah, menjadi pendukung terbesar dalam peningkatan produksi sawit Indonesia. Bahkan jika melihat data grafik yang disajikan dalam Data dan Informasi Kinerja Pembangunan 2004-2012, yang dirilis Pemerintah Republik Indonesia pada bulan April 2013, produksi kelapa sawit selalu meningkat setiap tahunnya.

Pada tahun

2004, produksi kelapa sawit Indonesia berada di kisaran 10.830 (ribu

ton). Kemudian

produksi kelapa sawit Indonesia mengalami pertumbuhan mencapai 46,28% di tahun 2006

dengan produksi

mencapai 17.350

(dalam ribu ton). Pada tahun 2007, produksi

sawit Indonesia

mencapai 17.664 (ribu ton). Sedangkan pada tahun 2008, kemampuan produksi kita mengalami penurunan sebesar 0,71%, tetapi kembali meningkat pada tahun 2009 menjadi 19.324 (ribu ton) dan pada tahun 2010 menjadi 21.958 (ribu ton). Dan pada tahun 2011 produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 23.096 (ribu ton). Produksi yang mengalami tren yang meningkat setiap tahunnya, dan

tentu akan tetap meningkat kedepannya, menjadi keunggulan tersendiri bagi Indonesia untuk memenangkan persaingan produksi sawit dunia. Hal ini juga menandakan bahwa produksi sawit Indonesia memiliki konsistensi yang positif setiap tahunnya.

(2)

Bahkan menurut data yang disampaikan oleh PTPN IV, pada tahun 2011 luas areal perkebunan sawit 8,91 juta Ha dan meningkat menjadi 9,27 Ha pada tahun 2012. Luas lahan ini tentunya dapat meingkatkan produksi sawit nasional. Saat ini Indonesia dengan produksi dan luas lahan yang begitu melimpah, telah menjadi eksportir sawit terbesar dunia. Data dari kementerian Pertanian menyebutkan bahwa Indonesia menguasai 44,5% pasar sawit dunia dengan volume produksi mencapai lebih dari 19 juta ton pada 2010. Disusul oleh Malaysia yang menguasai 41,3% pasar sawit dunia.

Dengan posisi Indonesia yang menguasai hampir setengahnya dari pasar dunia, tentunya banyak sekali persaingan yang akan terjadi dalam perdagangan sawit dunia. Permintaan akan kelapa sawit Indonesia yang masih cukup tinggi di dunia ditambah lagi dengan prospek kelapa sawit yang masih cerah, menyebabkan kemungkinan persaingan usaha kelapa sawit menjadi sangat kompetitif. Bahkan data dari kementerian Perdagangan menyebutkan bahwa konsumsi dunia rata-rata tumbuh sekitar 8 persen per tahun. Hal ini tentunya memungkinkan terjadinya banyak gesekan kepentingan diantara para pebisnis. Sehingga hal ini menyebabkan persaingan yang tidak sehat bahkan hingga menjatuhkan produk lawan.

Hal ini pun dirasakan oleh produk kelapa sawit Indonesia. Posisi Indonesia sebagai eksportir utama sawit dunia, menyebabkan banyak isu miring terkait produk kelapa sawit Indonesia. Isu yang paling gencar dikampanyekan adalah tumbuhan kelapa sawit sebagai penyebab perubahan iklim dunia. Padahal Indonesia adalah satu-satunya Negara yang berjanji akan mengurangi kadar emisi karbon hingga 26%. Penerapan konsesnsus moratorium ini tentunya akan berdampak domino bagi perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang ditengarai sebagai salah satu penyebab tingginya kadar emisi karbon. Untuk mengatasi permasalahan ini, Pemerintah sebaiknya memberikan klarifikasi dan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Pemerintah sudah seharusnya lebih mengintensifkan kampanye ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) dengan diimbangi dengan kebijakan serta komitmen untuk menyediakan program penyuluhan dan pendampingan implementasi dari ISPO sendiri bagi para petani sawit, khususnya para petani mandiri. Optimalisasi program kemitraan dengan prusahaan dan industri-industri besar sudah seharusnya digalakkan kembali agar proses pendampingan bagi para petani terkait Indonesia Sustainable Palm Oil dapat dilakukan. Akselerasi kemampuan Sumber Daya Manusia, baik di level petani ataupun keahlian teknis dan manajerial perlu dilakukan secepatnya agar Indonesia yang menjadi eksportir kelapa sawit dunia, dapat menjadi acuan dan barometer pengelolaan perkebunan sawit dunia. Hal ini tentunya dapat meningkatkan perdagangan sawit Indonesia di dunia. Peran akademisi dalam melakukan berbagai penelitian terkait dengan sawit pun dibutuhkan untuk menepis anggapan tersebut. Sinergi dari setiap lini dalam penguatan sawit nasional tentunya sangat dibutuhkan bagi kemajuan produksi dan kualitas sawit nasional.

(3)

Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan biofuel sawit dari Indonesia. Hal ini dituduhkan oleh European Biodiesel Board yang mewakili 60% perusahaan biodiesel Eropa. Padahal kita ketahui bersama, berdasarkan data dari eurostat, minyak sawit menempati urutan pertama dalam barang ekspor ke eropa dengan nilai 2,055 dalam juta euro atau setidaknya menguasai 15% pangsa pasar di Eropa. Tentunya isu dumping ini dapat mengakibatkan perusahaan yang bermasalah mendapatkan sanksi dari pihak Uni Eropa, khususnya pengenaan tarif bea masuk anti-dumping. Selain itu, perusahaan yang terkena permasalahan dumping ini merupakan perusahaan besar yang menguasai 95% produksi biofuel sawit di Indonesia. Hal ini tentu saja berdampak negatif terhadap penurunan nilai ekspor biofuel sawit Indonesia ke pasar eropa.

Pemerintah harus segera melakukan beberapa kebijakan yang terkait dengan penanganan masalah ini. Pemerintah harus segera membentuk tim yang dapat menyelediki lebih lanjut perihal latar belakang isu dumping ini, apakah memang murni kesalahan dari pihak produsen biofuel Indonesia atau ini hanya menyangkut persaingan bisnis di pasar Eropa. Tim ini wajib untuk menyelidiki dan mengklarifikasi kepada pihak Eropa agar ekspor biofuel sawit Indonesia ke pasar Eropa tetap terjaga. Selain itu, pemerintah harus mampu mengalihkan biofuel ekspor menjadi konsumsi dalam negeri. Hal ini sangat memungkinkan dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah dapat menjadikan biofuel sawit ini sebagai barang substitusi bagi bahan bakar solar. Ketika konsumsi dalam negeri akan biofuel sawit ini meningkat, pemerintah dapat melakukan penghematan anggaran, khususnya yang berkaitan dengan impor Bahan Bakar Minyak yang hampir mencapai Rp 200 Trilliun (UU APBN-P 2013). Dengan memberikan dampak penghematan dalam anggaran belanja Bahan Bakar Minyak, pemerintah dapat mengoptimalkan anggaran yang telah dihemat untuk pengembangan dan pembenahan infrasturktur perkebunan sawit di Indonesia.

Kedua isu ini tentunya sangat memengaruhi persaingan sawit Indonesia di mata dunia. Di sisi lain, saat ini kita sedang mempersiapkan Asean Economic Community 2015. Tentunya persaingan akan semakin lebar, apalagi berkenaan dengan industry sawit yang notabennya masih menjadi primadona untuk memperbesar pendapatan suatu Negara. Pembenahan secara menyeluruh dalam permasalahan sawit nasional tentunya sangat diperlukan. Pemerintah harus concern melakukan penanganan terhadap berbagai permasalahan sawit, terutama terkait dua isu besar di atas. Tujuannya agar konsumen luar negeri kembali menaruh kepercayaannya terhadap produk sawit Indonesia. Ketika trust

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, asesmen alternatif dapat dijadikan alternatif penilaian bagi pengembangan peserta didik menjadi komunitas pembelajar , karena melalui asesmen ini peserta

Berdasarkan dapatan kajian ini maka kombur jenaka dianggap sebagai suatu jenis wacana cerita jenaka berbentuk dongeng, humor, dan anekdot yang berkesan

Hal ini dibuktikan keberadaan bimbingan dan konseling di sekolah kini semakin jelas dibanding tahun-tahun sebelumnya ini terbukti dengan adanya perhatian khusus

Hal ini senada dengan teorinya Imron dan Hidayat (2013: 118-119) mengatakan bahwa kearifan lokal dapat mewujudka kerukunan umat beragama ketika dalam suatu masyarakat

Menurut Slamet kelemahan-kelemahan tersebut antara lain: keputusan pusat sering kurang sesuai dengan kebutuhan sekolah; administrasi berlebihan yang dikarenakan

Sehingga kekurangan target sebesar 61.948 unit tersebut, direncanakan dapat dipenuhi pada tahun 2017.. SEBARAN RENCANA PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEWA TA.. LOKASI VERIFIKASI TEKNIS

(4) Terhadap berkas yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, Satuan Kerja pengusul harus melengkapi kelengkapan berkas yang diperlukan dengan cara

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perubahan Berat Badan Domba Ekor Tipis yang Diinfeksi Haemonchus contortus adalah