• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keputusan DH tentang Jual beli Saham

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Keputusan DH tentang Jual beli Saham"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM JUAL BELI SAHAM DALAM RANGKA PROFIT-TAKING Pertanyaan dari pembaca Adz-Dzikro: 085711323XXX

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jual beli saham dalam rangka profit-taking?

Jawab: Berikut ini adalah hasil keputusan Dewan Hisbah Persatuan Islam mengenai hukum jual beli saham dalam rangka profit-taking:

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM Pada Sidang Dewan Hisbah Di Sumedang, 4 J. Tsaniyah 1421 H 3 September 2000 M

TENTANG

JUAL BELI SAHAM DALAM RANGKA PROFIT-TAKING

مسب

هللا

نمحرلا

ميحرلا

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS) dalam sidangnya pada hari Ahad tanggal 4 Jumadits- Tsaniyah 1421 H/3 September 2000 di Sumedang, Jawa Barat, setelah: Memperhatikan

1. Makalah dan uraian dari Dr. H. Adiwarman A. Karim, SE, MBA dan KH. Dr. M. Abdurrahman, MA tentang masalah tersebut.

2. Pembahasan yang disampaikan oleh seluruh anggota Dewan Hisbah.

Menimbang

1. Bahwa saham adalah bukti kepemilikan aset atau barang; 2. Jual beli dinilai sah dengan syarat “An Taradhin”;

3. Tukar menukar dinar dengan dirham dengan tunai sudah ada di zaman Nabi SAW. dan Nabi SAW. tidak melarangnya dan

4. Bahwa Islam mengharamkan: riba, gharar, ihtikar dan maisir.

Dewan Hisbah mengambil istinbath:

1. Jual beli saham dari aset atau produk yang tidak diharamkan, dan tidak mengandung unsur

riba, gharar, ihtikar, dan maisir hukumnya halal dan

2. Jual beli valas dengan cara tunai pada dasarnya boleh. Tapi jual beli valas sebagai komoditas atau dalam rangka profit-taking hukumnya haram.

Demikian Keputusan Dewan Hisbah tentang masalah tersebut dengan makalah terlampir.

Sumedang, 4 J. Tsaniyah 1421 H 3 September 2000 M

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Ketua Sekretaris

(2)
(3)

Makalah

Jual-Beli Saham Dalam Rangka Profit Taking 2000

Jual Beli Valas

Oleh : M. Abdurrahman

Muqaddimah

Manusia sebagai homo economicus niscaya tak akan dapat melepaskan dirinya dari

percaturan ekonomi, baik dalam skala nasional maupun internasional. Percaturan

ekonomi tersebut akan lancar bila digunakan sistem tukar menukar yang seimbang,

seperti dengan menggunakan uang atau barter, sehingga memudahkan setiap

transaksi yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi. Dalam tata hubungan

internasional, baik yang berkaitan dengan bisnis maupun perjalanan internasional

(al safar al daulity) biasa, tukar menukar uang merupakan kebutuhan dan karena itu

jual beli valas merupakan penomena yang tak dapat dihindari, sehingga menarik

untuk dikaji ketentuan hukumnya menurut Islam.

Namun demikian, jual beli valas saat ini bukan hanya keperluan bisnis dan

pembayaran transaksi internasional, akan tetapi sudah menjadi bisnis biasa,

walaupun orang-orang itu tak akan pergi ke luar negeri, baik karena diperlukan

untuk membayar mitra bisnisnya di luar negeri manapun untuk menyimpannya.

Sekarang seseorang dengan mudah membeli atau menjual mata uang asing yang

dianggapnya memiliki nilai tukar yang kuat dan mampu bertahan sampai orang

tersebut dapat menukarnya kembali ketika diperlukannya. Dengan cara seperti ini

akan menghilangkan investasi dalam ekonomi real, seperti investasi (istitsmar) pada

perusahaan-perusahaan yang bernilai ekonomi, baik dengan membeli saham secara

langsung atau melalui pasar modal atau pasar saham yang dilakukan oleh pialang

atau broker (simsar) di pasar bursa saham.

Dalam pada itu, mata uang asing ini lebih-lebih di negara-negara yang ekonominya

(4)

Penomena inilah yang melanda dunia Islam sekarang ini. Hal ini terjadi karena

dunia Islam sekarang ini mengandalkan keperluan hidupnya dari beban-beban

utang yang harus ditanggungnya melalui pembayaran yang jatuh tempo yang

adakalanya cukup lama yang diakibatkan oleh tak produktifnya dan tak proaktifnya

masyarakat Islam menghadapi tata ekonomi dunia yang demikian cepatnya.

Pada dasarnya keberadaan mata uang asing di dunia Islam adalah ibahah sebagai

alat tukar karena jaman Nabi mata uang asing, seperti dirham dan dinar digunakan

sebagai alat transaksi utama oleh masyarakat pada waktu itu. Dengan adanya alat

tukar ini, maka segala bentuk transaksi menggunakan uang akan lebih mudah dan

transfaran, sehingga prinsip-prinsip syariat Islam dapat diplementasikan dalam

kehidupan ekonomi. Dengan keberadaan alat tukar ini pola barter dalam ekonomi

dapat dihindari karena kurang transparan dan mengandung unsur riba. Untuk

itulah Rasul melarang riba fadla, sebagaimana beliau nyatakan dalam

sabda-sabdanya.

Atas dasar ini Dewan Hisbah amat relevan mendiskusikan perdagangan valas

dilihat dari syariat yang sudah lama ditinggalkan umat. Umat Islam sendiri makin

tak berdaya menghadapi kenyataan ini, sehingga amat sulit untuk menghindari

perdagangan valas ini. Problem umat saat ini adalah problem implementasi hukum,

baik hukum publik maupun hukum yang berkaitan dengan ekonomi, padahal

keduanya harus dijalankan dan tak terpisahkan dalam sistem hidup muslim.

Pertanyaan sekarang ialah apa asas-asas dan prinsip ekonomi Islam, dan bagaimana

pula kedudukan jual beli valas tersebut dilihat dari syariat kedua permasalahan ini,

walaupun tak dibahas secara tuntas, tetapi mudah-mudahan merupakan wacana

baru dalam telaah kita saat ini, dan pada waktu mendatang agar implementatif dan

menjadi agenda untuk lebih banyak di diskusikan di lingkungan Dewan Hisbah.

Sistem Ekonomi Islam

Tata ekonomi dunia (world economic order) sekarang ini dikuasai oleh ekonomi

kapitalis dan ekonomi sosialis dengan berbagai macam rona dan durinya yang

(5)

mampuan kita menampilkan sistem Islam di tengah-tengah hiruk pikuknya

persaingan ekonomi yang makin ganas. Di sisi lain sistem ekonomi kapitalis lebih

berkuasa daripada ekonomi sosialis ataupun komunis yang secara politik pernah

berjaya pada dekade yang lalu. Kedua sistem ekonomi tersebut sudah barang tentu

dilandasi oleh paradigma yang berbeda, yaitu yang satu individualisme ekstrim dan

yang lainnya sistem sosialisme ekstrim yang kedua-duanya tak menguntungkan

dunia Islam dan melanggar syariat walaupun ada kebaikannya (Afzalur Rahman,

1995, I : 3 – 8), tetapi keburukannya justru lebih dahsyat dari kebaikannya,

sementara ekonomi Islam, walaupun jatuh dari keburukan diilustrasikan ada pada

kedua sistem ekonomi tersebut merayap-rayap di belakang, sembari ditinggalkan

oleh penganutnya. Makanya seorang ekonom Inggris Anthony Giddens dengan

dalam karyanya The Third Way.

Tata ekonomi dunia sekarang yang semakin kompleks ternyata makin memojokkan

umat dan dunia Islam, ini terbukti dengan terbentuknya berbagai macam

kesepakatan-kesepakatan internasional, seperti WTO, AFTA, NAFTA, dll, yang

kesemuanya banyak memarginalkan ekonomi umat Islam. Di sisi lain kompleksitas

perdagangan internasional ini makin banyak memunculkan spekulan uang

internasional yang bernilai tukar relatif stabil dan tinggi yang dilakukan oleh sistem

ekonomi kapitalistik dan konglomerasi yang individualistik dengan dalih untuk

membayar utang luar negeri. Adanya perjalanan luar negeri yang tak bermakna

ekonomi dan moral pun merupakan sisi lain dari penghamburan devisa yang dicari

dengan susah payah.

Ekonomi Islam ialah ekonomi yang dibangun atas dasar tauhid, keseimbangan (adl

qisth) kehendak bebas, dan pertanggung jawaban. Pada keempat komponen dasar

inilah dibangun sistem ekonomi Islam, sehingga perjalanan ekonomi Islam bukan

atas dasar keserakahan individu atau ekstrimitas kepemilikan bersama karena hal

seperti itu tak sesuai dengan ftrah manusia yang memiliki hak-hak individu dan

(6)

akhirat kelak. Keempat komponen dasar ini meminjam istilah, Syed Nawab Haider

Naqwi, sebagai “Aksioma Etika Ekonomi Islam”.

Bila berbicara ekonomi, tentu saja bukan hanya masalah jual beli, pertanian, dan

sebangsanya yang berkaitan dengan kepentingan hidup manusia secara

langsung, akan tetapi meliputi peraturan serta sistem moneter dan perbankannya

yang berjalan di suatu negara karena ekonomi bukan hanya berfkir untuk sehari

atau dua hari, tetapi untuk bekal pada tahun-tahun mendatang yang tentu saja

memerlukan pendanaan dan perencanaan. Untuk itu, maka walaupun di sisi

sistem ekonomi Islam itu tak akan diterangkan, akan tetapi itu setidaknya sistem

pendanaan dan permodalan menjadi perhatian. Dalam Islam jelas yang

dinamakan batil itu bukan hanya dilihat dari sudut jenis yang barang, tetapi

meliputi proses yang berupa transaksi-transaksi dan investasinya.

Aksioma etika ekonomi Islam, sebagaimana diusulkan oleh Haidar al Naqwi (1985 :

74 – 78) kita pandang sebagai asas yang bila diringkaskan sebagai berikut:

Asas pertama dalam ekonomi Islam ialah asas tauhid. Tauhid harus menjadi titik

tolak ekonomi Islam. Maka dari asas tauhid inilah Islam memandang hal-hal sebagai

berikut:

1. Uang atau harta benda dan segala yang ada di alam ini adalah milik Allah

(Q.S.Al Baqarah: 107, Q.S.Ali Imron: 189, Q.S.Al Maidah: 17 dan Q.S.Al Furqan: 2)

ْمَلَأ

ْمَلْعَت

ّنَأ

َا

ُهَل

ُكْلُم

ِتاَواَمّسلا

ِض ْرَلاَو

اَمَو

ْمُكَل

ْنِم

ِنوُد

ِا

ْنِم

ّيِلَو

لَو

َ

ٍريِصَن

.

:

ةرقبلا

107

-Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. Q.s. Al-Baqarah : 107.

ِ ّ ِلَو

ُكْلُم

ِتاَواَمّسلا

ِض ْرَلاَو

ُاَو

ىَلَع

ّلُك

ٍء ْيَش

ٌريِدَق

.

نارمعللآ

:

189

(7)

ِ ّ ِلَو

menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Q.s. Al-Maidah : 17.

yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi…Q.s. Al-Furqan : 2.

2. Uang atau harta benda ialah nikmat yang harus disyukuri, dimanfaatkan

dengan benar, dan dipakai ibadah agar menjadi bekal di akhirat kelak (Q.S.As

Sajdah: 9, Q.S.Al Dzariyat: 56, dan Q.S.Ali Imron: 14)

...

dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. Q.s. As-Sajdah : 9.

اَمَو

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Q.s. Ad-Dzariyaat : 56.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Q.s. Ali Imran : 14.

Asas kedua adalah keadilan. Dari asas ini, maka uang atau harta harus berfungsi

sebagai berikut:

1. Uang atau harta benda harus berfungsi sosial dan alat perjuangan (Q.S.Al

Baqarah: 3, Q.S.An Nur: 33, Q.S. Al Bara’ah (At Taubah): 41, dan Q.S.Saba: 37)

(8)

Dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu…Q.s. An-Nuur : 33.

اوُرِفْنا

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Q.s. At-Taubah : 41.

اَمَو

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). Q.s. Saba’ : 37.

2. Uang atau harta benda harus memberi kesan baik dan indah bagi manusia

dalam mengendalikan hidupnya (Q.S.Al ‘Araf : 31, Q.S.Bani Israil : 29)

اَي

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Q.s. Al-Araaf : 31.

لَو

terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Q.s. Al-Isra : 28.

3. Uang atau harta benda harus menjadi alat penggerakan kerjasama, ukhuwah,

capital gain di dunia yang dapat dimanfaatkan oleh setiap pelaku ekonomi (Q.S.Al

Kahf: 46, Q.S.Al Baraah: 34 dan 41, Q.S.Al Ma’arij: 24 – 24)

(9)

اَي

Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. At-Taubah : 34. berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Q.s. At-Taubah : 41.

لَنيِذّلاَو

dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), Q.s. Al-Ma’aarij : 24-25.

Asas ketiga, yaitu kebebasan. Manusia relatif bebas menggunakan potensi dirinya

dalam memilih sesuatu. Dikatakan relatif karena manusia dibatasi oleh

aturan-aturan yang baku baik syar’iy maupun wad’iy. Dari kebebasan manusia ini Islam

memandang manusia sebagai berikut:

1. Manusia sebagai khalifah di bumi (Q.S.Al Baqarah : 30)

ْذِإَو

menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Q.s. Al-Baqarah : 30.

2. Manusia diberi jalan oleh Allah dan manusia diberi kebebasan memilihnya

(10)

اّنِإ

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh. Q.s. Al-Ahzab : 72.

اَهَمَهْلَأَف

sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. Q.s. Asy-Syams : 8-10

Asas keempat ialah pertanggung jawaban. Dari asas ini, maka yang dilakukan

manusia adalah sebagai berikut:

1. Segala perbuatan manusia ada perhitungannya (Q.S.An Nisa: 85, Q.S.Al

Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik,niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya. Dan barang siapa yang memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.. Q.s. An-Nisaa : 85.

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, Q.s. Al-Mudatsir : 38

2. Setiap jiwa bertanggung jawab atas dirinya sendiri (Q.S.Yunus: 10, Q.S.Al

(11)

ْلُق

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". Q.s. Al-An’aam : 164.

3. Manusia tak dapat meloloskan diri dari hukuman Allah swt. (Q.S.An Nisa :

97) sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, Q.s. An-Nisaa’ : 97.

4. Kesuraman masa lampau tak boleh diulang untuk legitimasi kejahatan

sekarang (Q.S.Lukman: 21, Q.S. Al Baqarah: 134, Q.S. Ar Ra’d: 11)

لاَذِإَو

menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?. Q.s. Luqman : 21.

(12)

ُهَل

ٌتاَبّقَعُم

ْنِم

ِنْيَب

ِهْيَدَي

ْنِمَو

ِهِفْلَخ

ُهَنوُظَف ْحَي

ْنِم

ِرْمَأ

ِا

ّنِإ

َا

لَ

ُرّيَغُي

اَم

ٍم ْوَقِب

ىّتَح

اوُرّيَغُي

اَم

ْمِهِسُفْنَأِب

لاَذِإَو

َداَرَأ

ُا

ٍم ْوَقِب

اًءوُس

لَف

َ

ّدَرَم

ُهَل

اَمَو

ْمُهَل

ْنِم

ِهِنوُد

ْنِم

ٍلاَو

.

:

دعرلا

11

-Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Q.s. Ar-Ra’d : 11.

Aksioma etika ekonomi Islam atau asas ini tak menjadi titik tolak secara holistik di

dunia Islam sekarang, lebih-lebih ketika konsep dan sistem ekonomi Islam tak

menjadi bagian dari sistem kehidupan muslim secara konprehensif dan holistik.

Jadi, sebenarnya yang tak ingin diplementasikan oleh masyarakat Islam, bukan

hanya hukum publik yang berkaitan dengan pidana, akan tetapi juga dalam hukum

khusus, seperti kegiatan muamalat ini

Dari sini kita ingat sabda Nabi Muhammad saw. yang diterima dari Abu Umamah

dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban sebagai berikut: “Sungguh akan lepas

ikatan-ikatan (sistem) Islam itu sedikit-sedikit. Setiap sub sistem itu lepas, maka akan

beriringan dengan sub sistem berikutnya. Yang pertama lepas adalah sistem hukum

dan yang terakhir adalah shalat”.

Prinsip Dasar Ekonomi Islam

Sebelum sampai kepada jual beli valas dilihat dari syariat Islam, maka disini akan

dibahas terlebih dahulu mengenai prinsip-prinsip ekonomi Islam, sehingga dapat

dilihat dari sisi mana boleh dan tidak bolehnya jual beli valas itu.

Prinsip-prinsip ekonomi Islam amat jelas sekali diterangkan oleh Allah dan

Rasul-Nya, antara lain:

1. Prinsip kebersihan harta

Yang dimaksud prinsip ini ialah bahwa ekonomi Islam harus halal, melalui proses

(13)

(‘an taradin) dan tidak ihtikar (penimbunan), tidak ada gharar (penipuan), dan

spekulasi (maisir).

2. Prinsip Kesederhanaan (tidak israf dan tabzir)

Prinsip ini berkaitan dengan kebabasan manusia dan tanggung jawab sosialnya.

Harta yang dimiliki seseorang tak serta merta dapat digunakan semuanya dengan

tidak memperhatikan lingkungan dan manfaatnya secara baik. Manusia dilarang

israf (melebihi batas) dan tabzir (menyia-nyiakan) yang sebenarnya tak perlu

dilakukan sama sekali. Secara sosial hal ini akan membangkitkan bughdl dan hasd

(iri dengki) di kalangan masyarakat atau yang sering disebut kecemburuan sosial.

3. Prinsip kemurahan hari dan moralitas

Manusia beriman memiliki tanggung jawab sosial yang amat besar. Tanggung jawab

harus didasarkan kasih sayang terhadap yang lain, sehingga apapun yang

diperbantukan kepada yang lain tidak semata-mata bernilai ekonomi, seperti

pinjaman dan gadaian, akan tetapi ta’awun (kemitraan dan saling membantu) antara

sesama. Karena itu, bukan hanya infaq wajib dan zakat yang harus dikeluarkan dari

seorang muslim, tetapi juga sadaqah, jariyah, dan lain-lain harus pula diperhatikan.

Dalam hal bantuan yang bernilai ekonomi pun harus disertai dengan kasih sayang

dan landasan moral yang tinggi karena tak setiap orang yang berutang mampu

membayar sekaligus atau seketika sesuai dengan pinjaman semula, sehingga

memerlukan penangguhan beberapa waktu.

Dengan demikian, maka ekonomi Islam sebenarnya amat manusiawi dan alami,

walaupun tak menolak sama sekali segala produk teknologi yang meningkatkan

produktivitas dan efsiensi. Dengan ini pula maka produktif, efektif, dan efsien

merupakan kekhasan dari ekonomi Islam. Sekarang ketiga hal tersebut sedang

digalakan di dunia. Untuk meningkatkan produksi diupayakan adanya

bio-teknologi agar kebutuhan hidup manusia, terutama makanan dan minuman

diperoleh dari daerah sempit dengan tingkat produktivitas tinggi. Dari sini juga

(14)

efsien, secara moral, akan mendapat kecaman dunia internasional, khususnya para

pemerhati lingkungan.

Jual beli Valas dari sudut pandang Islam

Di atas disebutkan bahwa pelaku ekonomi tak dapat memisahkan dirinya dari

pendanaan dan biaya investasi serta hubungan-hubungan internasional yang secara

logis harus menggunakan pula pranata internasional, yaitu berupa pertukaran uang

yang relatif nilainya diakui stabil secara internasional. Di Indonesia mata uang yang

dianggap relatif stabil tentu saja yang dimiliki oleh negara yang struktur

ekonominya juga stabil dan kuat, seperti Amerika dengan dolarnya, Inggris dengan

foundsterlingnya, dan belanda dengan guldennya, dll. Di Asia negara yang stabil

nilai tukarnya ialah Ringgit Malaysia dan Brunei, dan dolar Singapura.

Secara historis jual beli atau transaksi-transaksi internasional yang terjadi sejak

zaman silam dan sekarang menggambarkan bahwa socio-economi terus

berkembang sesuai dengan kondisi-kondisi politik dan ekonomi yang berkembang,

namun demikian di kalangan masyarakat Islam asas dan prinsipnya tidak boleh

lepas dari yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya, walaupun transaksi meluas.

Pada masa Nabi pun sudah berkembang mata uang yang digunakan, yaitu mata

uang asing, berupa dirhan dan dinar. Kedua mata uang tersebut bukan hanya

merupakan alat tukar secara internasional waktu itu, tetapi juga sebagai mata uang

yang sah di dalam negeri karena mata uang tersebut sebagai mata uang sah. Karena

itu, beliau menentukan ketentuan-ketentuan dalam transaksi dan juga ketentuan

zakat atau ukuran nilai suatu barang. Sebagaimana disunggung diatas beliau tidak

berkenan untuk melakukan barter korma yang mulus dan yang jelek. Beliau

memerintahkan supaya dijual saja korma yang jelek itu dan dibeli baik. Secara

ekonomi cara ini untuk menghidupkan pasar dan transaksi lebih transparan,

(15)

Pada zaman Nabi jual beli uang belum terjadi karena situasi ekonomi waktu itu

belum begitu komplek seperti sekarang. Persaingan mata uang pun agaknya belum

ada. Memang mungkin terjadi, eksportir dan importir waktu itu melakukan barter,

khususnya bagi barang-barang yang pada kedua negara itu dibutuhkan. Namun,

sabda Nabi yang berkaitan dengan tidak bolehnya barter korma, menunjukkan

bahwa sudah ada landasan hukum untuk larangan barter ini, sehingga shahabat tak

melakukannya. Karena itu, istilah riba fadlal, sebagaimana disebutkan dalam

hadits-hadits dilarang itu.

Riba fadlal menurut hemat saya adalah barter. Jual beli valas atau valuta asing

dengan mata uang yang diinginkan si pembeli yang bila dilihat, menurut hemat

saya, secara sepintas termasuk barter yang dilarang oleh Nabi karena sama-sama

uang, lebih-lebih jika diperhatikan sekarang jual beli valas lebih banyak mencari

keuntungan yang tingkat spekulasinya amat tinggi sekali karena mengandalkan

fluktuasi harga saham dan politik belaka, sementara sektor real, seperti untuk

pengembangan industri tak terbiayai. Spekulasi ini berbau maisir yang dilarang oleh

agama. Hal ini hampir sama dengan jual beli saham di pasar modal yang tingkat

spekulasinya amat tinggi, bahkan lebih tinggi spekulasinya dari jual beli valas yang

justru memandang unsur maisir. Hanya saja pada akhirnya terletak pada

pengelolaan pasar modal dan jual beli valas ini serta perundangan yang berlaku.

Bila demikian adanya, maka dilihat dari sisi syar’i jelas kecenderungan terlarangnya

jual beli vala. Lebih-lebih, jual beli valas saat ini sudah sedemikian jauh karena

sudah dijadikan komoditi perdagangan, sebagaimana barang dagangan lain. Akan

tetapi, pembatasan yang berlebihan pun tak menguntungkan ekonomi karena

beberapa al-suq al-aswad makin menyemarakan spekulasi yang lebih tak terkendali.

Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam memahami riba fadl

ini. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang bahwa riba ini termasuk makruh

dan larangan itu sebagai sabdud dari’ah saja karena bila dibiarkan akan merusak

(16)

kesimpulan A. Hasan (1995 : 412 – 422) ketika beliau memahamkan riba fadl dengan

cara takwil.

Dilihat dari segi perkembangan ekonomi riil, jual beli valas tak mampu membiayai

sektor riil dan mengganggu ekonomi nasional. Terjadinya situasi politik tertentu

atau karena tak diangkatnya pigur tertentu sebagai pejabat tertentu, maka nilai valas

pun akan berubah dan digunakan oleh orang yang bertanggug jawab untuk

memborong mata uang asing tertentu demi kepentingan politiknya, sehingga pasar

akan negatif dan transaksi-transaksi internasional akan terhambat.

Jadi, dilihat dari segi epistemologis dan aksiologisnya jual beli valas secara bebas

akan amat mengganggu terhadap pertumbuhan ekonomi riil, tetapi bukan sama

sekali tidak boleh. Orang lebih senang di belakang meja money changer, ketimbang

sibuk di pabrik mengembangkan usahanya dan membangun infra struktur ekonomi

pasar.

Oleh karena itu, agaknya dapat saja PERSIS mengusulkan Bayan agar jual beli valas

itu diatur dengan undang-undang yang lebih mampu mengamankan ekonomi

nasional dan tidak disalahgunakan oleh spekulan. Namun demikian kekuatan

ekonomi makro dan mikro akan amat mendukung terhadap kelancaran ekonomi

keseluruhan.

Khatimah

Jual beli valas secara yang merupakan struktur ekonomi masa kini tak sesuai dengan

tata cara ekonomi Islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Rasulullah saw. jual

beli semacam ini penuh dengan spekulasi yang akan amat merugikan kepada

ekonomi pasar yang riil. Jual beli valas perlu dilengkapi dengan undang-undang

yang lebih menguntungkan ekonomi nasional dan umat Islam.

Asas-asas dan prinsip-prinsip ekonomi Islam yang diajarkan Rasul, amat

manusiawi, alamiah, dan rasional serta sesuai dengan tuntunan masa kini yang

(17)

Ekonomi kapitalis yang individualistis hanya akan menguntungkan kelompok

orang kaya belaka, sebagaimana terlihat pada pasar bebas yang gilirannya

memarginalkan negara-negara miskin. Sementara ekonomi sosialis tak sukses dalam

membangun kemandirian untuk maju terhadap masyarakat.

Sekarang giliran umat Islam tampil dalam partisipasinya membangun paradigma

baru ekonomi yang bukan kapitalis, bukan sosialis dan bukan pula third ways, third

ways, tetapi Ekonomi Islam, yaitu model The Islamic Way

Wallahu ‘alam bisshawab

Bandung, 1 September 2000

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur`an al-Karim

Al-Asqalani, Ibn Hajar, Bulughul Maram

Giddens, Anthany, The Third Ways (terjemahan Ketut Arya Mahardika, Gramedia, Jakarta:

2000)

Naqwi, Nawab Haidar, Etika Ekonomi Islam

Referensi

Dokumen terkait

Akibat hukum yang kedua adalah bahwa kepada penjual dibebankan tanggungjawab untuk menyimpan uang sebagai hasil dari penjualan barang temuan dimaksud, dan tetap

Sebagaimana dalam QS At-Taubah : 34 yang disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang menimbun emas dan perak, baik dalam bentuk mata uang maupun dalam bentuk

Menurut fatwa DSN-MUI tersebut, Wahbah Az-Zuhaily membolehkan jual beli emas secara angsuran jika pembeliannya tidak dari pengrajin langsung, karena emas dan perak

Menurut terminologi, riba berarti menambahkan beban kepada pihak yang berhutang atau menambahkan takaran saat melakukan tukar menukar 6 golongan (emas, perak, gandum,

Akibat hukum yang kedua adalah bahwa kepada penjual dibebankan tanggungjawab untuk menyimpan uang sebagai hasil dari penjualan barang temuan dimaksud, dan tetap

Oleh karena itu, tidak wajib zakat atas perhiasan (yang terbuat dari emas atau perak) tersebut, dan tidak berlaku pula riba (dalam pertukaran atau jualbeli)

Sesungguhnya orang yang yang tidak mau mengikuti Rasulullah SAW, mereka di akhirat kelak akan mendapatkan siksa yang dari Allah, sehingga mereka memohon kepada

Kamu tidak berbuat zalim merugikan dan tidak dizalimi dirugikan.”46 Q.S Al-Baqarah: 278- 279 Tafsir: Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah den mengikuti Rasul-Nya, takutlah