• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS EVALUASI SEKTOR PUBLIK MANAJEMEN K (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS EVALUASI SEKTOR PUBLIK MANAJEMEN K (1)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS

EVALUASI SEKTOR PUBLIK

MANAJEMEN KEUANGAN

DAERAH

Dosen : Bunga Cintia Utami.Sip,ME

NAMA :FITRIADI KELAS :3D

NIM :

1663201087

(2)

UNIVERSITAS LANCANG KUNING

2018

Tata kelolah keuangan daerah untuk kemandirian daerah dan perbaikan pelayanan publik

Oleh:

Prof.Dr.Mardiasmo, M.B.A., Ak.

(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada)

Sebagai wujud nyata komitmen pemerintah terhadap otonomi daerah dan sentralisasi fiskal sekaligus kemauan politik untuk melakukan reformasi demokrasi. Pemerintah daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai penyempurnaan dari UU Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 tahun 1999. Pergantian UU tersebut tidak dapat dilepaskan dari lahirnya tiga paket UU di bidang keuangan Negara yaitu UU Nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara , UU Nomor 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara dan UU nomor 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.

Desentralisasi fiskal memberi keleluasaan kepada daerah untuk mengelolah keuangan Negara sesuai dengan aspirasi,prioritas, dan kebutuhan daerah. Pemberian otonomi daerah dan desentralisasi fiskal tidak berarti bahwa pemerintah daerah harus mengeksploitasi pendapat asli pendapatan asli daerah dan pemerintah pusat mengurangi dana transfer ke daerah karena esensi desentralisasi fiskal di Indonesia adalah lebih kepada expenditure assignment bukan revenue assignment. setiap tahun pemerintah pusat terus meningkatkan alokasi belanja transfer ke daerah dalam bentuk dana bagi hasil ( Pajak dan sumber daya alam),dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus, dana otonomi khusus dan dana penyesuaian. Pemberian dana transfer daerah di maksudkan untuk mengurangi ketimpangan keuangan (fiscal imbalance) baik ketimpangan vertikal antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah maupun ketimpangan horizontal antar daerah.

(3)

Perkembangan Reformasi Manajemen Keuangan Daerah

Reformasi manajemen keuangan daerah di Indonesia dapat dikatakan cukup terlambat hamper dua dasawarsa di bandingkan dengan reformasi yang telah dilakukan oleh Negara-negara maju di eropa dan amerika serikat.pemerintah Indonesia juga termasuk lambat jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga seperti Malaysia,Filipina,singapura, dan selandia baru yang sudah sejak tahun 1970an dan 1980an telah melakukan serangkaian reformasi dibidang manajemen keungan public. Singapura misalnya,telah menggunakan anggran berbasis kinerja (performance budget) sejak tahun 1980an, sedangkan pemerintahan Indonesia baru menerapkan tahun 2001. Pemerintah Ingris telah memulai mereformasi sector publiknya dengan konsep New Public Management sejak tahun 1980an. Amerika serikat menggunakan anggaran dengan pendendekatan Planning Programming Budgeting System (PPBS) secara luas 1965 dan Zero Base Budgeting (ZBB) tahun 1973. Selandia Baru secara radikal menggunakan akuntasi akurat sejak 1990an. Meskipun relatif, reformasi manajemen keungan sector public diIndonesia dapat dikatakan mengalami kemajuan yang cukup pesat.

(4)

Era Transisi otonimi adalah masa antara tahun 2000-2003 yang merupakan masa implemtasi otonomi daerah. Masa otonomi daerah ini ditandai dengan masih belum kuatnya perangkat hukum,kelembagaan,infrastruktur dan sumber daya manusia daerah dalam mewujudkan otonomi daerah. Peraturan perundangan yang menonjol dalam era ini adalah Kepmendagri N0.29 Tahun 20I2.

Era pascatransisi adalah masa setelah diberlakukannya paket peraturan perundangan yang merupakan suatu peraturan menyeluruh dan komprehensif mulai dari perencanaan, pelaksaan, pelaporan, pengauditan dan evaluasi kinerja atas pengelolahan keuangan daerah.

TABEL : Perkembangan Peraturan Perundangan Terkait Manajemen Keuangan Daerah

(5)

Aspek Utama Reformasi Mnajemen Keuangan Daerah

Aspek utama reformasi manajemen keangan daerah meliputi :

1. Perubahan sistem anggaran dari sistem anggaran tradisional menjadi sitem anggaran berbasis prestasi kerja.

2. Perubahan kelembagaan pengelolahan keuangan daerah dari sitem sentralisasi pada bagian keuangan sekretariat daerah menjadu desentralisasi ke masing-masing satuan kerja.

3. Perubahn sistem akuntasi dari sistem tata buku tunggal (single entery bookkeeping) menjadi sistem tat buku berpasangan (double entry bookkeeping)

4. Perubahan basis akuntasi dari basis kas (cas basis) menjadi bais akrual .

Peubahan Sistem Anggaran

Perubahan pertama yang dilakukan sebagai langkah reformasi keuangan daerah adalah mengubah sistem penganggaran. Perubahab pnganggaran tersebut melipui perubahan dalam proses penganggaran dan perubhan struktur anggaran. Peubahan proses penganggaran terkait dengan perubahan proses penyusunan anggran yang sebelumnya bersifat sentralistis dan top down diubah menjadi sitem anngaran partisioatif (bottom up/participative budget.

Perubahaan sistem anggaran tidak saja menyangkut proses penganggaran, tetapi juga perubahaan struktur anggaran. Struktur anggaran diubah dari struktur anggaran tradisional dengan pendekatan anggaran berimbang menjadi struktur anggaran baru dengan pendekatan penganggarn berbasis kinerja (perfoemance based budgetting). Penganggaran berbasis kinerja merupakan pendekatan penganggaran yang mendekatkan pencapaian hasil dari program dan kegiatan yang dibiayai dengan APBD dikaitkan dengan target kinerja terukur

(6)

Perubahaan Kelembagaan Pengelolahan Keuangan Daerah

Perubahan system berupa penggunaan anggaran berbasis kinerja berimplikasi pada perubahan kelembagaan pengelolahan keuangan daerah. Peraturan ulang kelembagaan pengelolahan keuangan daerah itu bukan saja untuk menyesuaikan istem anggran yang baru, tetapi juga dimaksudan untuk mendukung tercapainya tujuan desentralisasi fisikal.

Beberapa perubahan kelembagaan pengelolahan keuangan daerah tersebut antara lain:

a. Perubahaan pengelolahan keuangan dipemerintah daerah dari sitem sentralisasi pada bagian keuangan secretariat daerah menjadi sitem desentralisasi kemasing-masing satuan kerja. Konsekuasinya setiap satuan kerja perangkat daerah harus menyelenggarakan akuntasi dan menyusun laporan anggaran keuangan satuan kerja bersangkutan yaitu berupa laporan Realisasi Anggaran,Neraca dan Catatan Atas Laporan Keuangan.

b. Pejabat yang terkait dengan pengelolahan keungan daerah meliputi :

1. Kepala Daerah selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolahan Keuangan Daerah 2. Sekretariat Daerah Salaku Kuasa Pemegang Kekuasaan Keuangan Daerah

Sekaligus Merupakan Koordinator Pengelolahaan Keuangan Daerah.

3. Kepala Badan Pengelolahaan Keuangan Daerah (Biro/Bagian Keuangan) Selaku Pejabat Pengelolahan Keuangan Daerah (PPLD) Sekaligus Bendahara Umum Daerah (BUD)

4. Kepala Satuan Kerja Perangkat Saerah Selaku Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang

5. Kuasa Penggunaan Anggaran/Kuasa Pengguna Barang

6. Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK-SKPD) 7. Bendahara Penerimaan / Pengeluaran SKPD

8. Bendarara Penerimaan / Pengeluaran Pembantu 9. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)

(7)

Perubahan Sistem Akuntasi Keuangan Daerah

Untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas publik dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fisikal, maka diperlakukan reformasi sektor publik di Indonesia. Reformasi akutansi tersebut merupakan salah satu agenda penting dari reformasi manajemen keuangan daerha. Aspekyang diperlukan dalam reformasi akuntasi tersebut adalah perlunya dimiliki standar akutansi pemerintahan dan perlunya dilakukan perubahan sistem akutansi yaitu perubahan dari single entry menjadi double entry.

Single entry pada awalnya digunakan sebagai dasar pembukuan di pemerintahan karena single entry cukup mudah dan praktis. Seiring dengan meningkatnya tuntutan diciptakannya

good govermance yang mensyaratkan adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolahan keuangan publik. Perubahan dari sitem single entry menjadi double entry dipandang sebagai solusi yang mendesak untuk diterapkan. Hal ini disebabkan karna sistem single entry menjadi tidak dapat memberikan informasi yang komprehensif dan mencerminkan kinerja yang sesungguhnya, Sistem single entry juga telah ditingglkan oleh banyak negara maju.

Pengaplikasian pencatatan transaksi dengan system double entry ditunjukkan untuk menghasilkan laporan keuangan yang lebih mudah untuk dilakukan audit (auditable) dan pelacakan (traceable) antara bukti transaksi, catatan dan keberadaan kekayaan, utang dan ekuitas organisasi. Kedua hal ini merupakan factor utama untuk menghasilkan informasi keuangan yang data dipertanggungjawabkan kepada public.

Perubahaan dari Basic Kas Menuju Akrual (Cash Toward Accrual)

Basis merupakan dasar akuntasi yang menetapkan kapan transaksi yang berpengaruh terhadap keuangan organisasi harus diakui atau dibukukan untuk tujuan pelaporan keuangan. Pada dasarnya terdapat beberapa basis pencatatan akuntasi yang bias dipilih oleh pemerintah, antara lain :

1) Akutansi basis kas (cash basis)

(8)

Basis akrual mengakui transaksi keuangan pada saat terjadinya yaitu ketika sudah menjadi hak atau kewajibannya meskipun belum diterima atau dikeluarkan kasnya. Dengan basis akrual organisasi akan mengakui adanya utang, piutang, dan asset. Pengaplikasian basis akrual dalam akuntasi sector public bermanfaat untuk menentukan cost of service yaitu untuk mengetahui besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan pelayanan public serta menentukan harga pelayanan yang dibebankan kepada public

Tujuan pengaplikasian akutansi basis akrual dalam sector swasta digunakan untuk mengetahui dan membandingkan besarnya biaya terhadap pendapatan. Perbedaan ini disebabkan karena paada sector orientasi lebih difokuskan pada usaha memaksimumkan laba, sedangkan dalam sector public orientasi difokuskan pada optimalisasi pelayanan public.

Penerapan secara lagsung basis akrual membutuhkan daya dukung teknologi serta sumber saya manusia (SDM) yang memiliki latar belkang pendidikan akutansi yang memadai padahal beberapa daerah belum memiliki kesiapan untuk itu. Permasalahan penerapan basis akutansi bukan sekedar masalah teknis akutansi yaitu bagaimna mencatat transaksi dan menyajikan laporan keuangan namun lebih penting adalah bagaimna menentukan kebijakaan akutansi,pelakuan akutansi untuk suatu transaksi, pilhan akutansi dan mendesain atau menganalisis system akutansi yang ada. Masih terdapat permasalahaan yang akan dihadapi apabila menggunakan secara langsung akutansi basis akrual. Hal ini terkiat dengan defenisi, pengakuan, pengukuran serta kebijakan akutansi asset,modal,pendapatan dan belaja utukorganisasi pemerintah.Selain itu bentuk dan isi laporan keuangan serta cakupan pengungkapan juga berbeda dengan di sektr swasta sehingga perlu khusus bagi staf keuangan.

Gambar

TABEL : Perkembangan Peraturan Perundangan Terkait Manajemen Keuangan Daerah

Referensi

Dokumen terkait

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh

Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan: (1) Wawancara mendalam dengan membuat pedoman wawancara; (2) Observasi partisipasi. Dokumen yang dikaji antara lain data

Ditinjau dari parameter aroma, varian melinjo berbeda bermakna pada aras kepercayaan 5% terhadap daging sapi dan labu kuning, namun tidak berbeda bermakna

His PhD project is about the serialized novels and other types of literature which appeared in Malay-language newspapers in the late nineteenth and early twentieth century in

Angket analisis kebutuhan guru diberikan kepada guru IPA kelas VIII yang pernah mengajar materi fotosintesis, sedangkan angket analisis kebutuhan siswa disebarkan

92 bahwa nilai kappa tertinggi (Kappa = 0,77) ditunjukkan antara kelompok analisis B ( kelompok yang diwakili oleh kelompok umur anggota rumahtangga) dan kelompok D

Sepasang cermin datar sebagai resonator dengan diameter 50mm untuk cermin belakang dan diameter 40 mm untuk cermin depan dengan bahan coating Berilium Cupron sebagai anti

Skripsi dengan judul “ Korelasi Antara Tingkat Pendidikan Formal Orang Tua Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII pada Mata Pelajaran PAI di SMPN 1.. NGUNUT Tahun 2014/2015”