Mata Kuliah Eksperimen Fisika Sekolah MA

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah Eksperimen Fisika Sekolah

MAKALAH

Optimalisasi Percobaan-Percobaan Fisika

di Tingkat Sekolah

Dosen Pengampu :

Yeni Megalina

Oleh :

Maghfira Widyanti Nasution

415

Mega Furi Handayani

415

Mika Febriani Siahaan

4153121041

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA

(2)

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, maka kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Penoptimalan Percobaan-percobaan Fisika di Tingkat Sekolahl” dan dengan harapan semoga makalah ini bisa bermanfaat dan menjadikan referensi bagi kita sehingga lebih mengetahui tentang materi yang kami sampaikan.

Akhir kata semoga bisa bermanfaat bagi para mahasiswa, umum, khususnya pada kelompok kami dan semua yang membaca makalah ini semoga bisa dipergunakan dengan semestinya.

Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Medan,21 November 2017

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan Makalah...2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Proses Pembelajaran Fisika di Sekolah...3

2.2 Permasalahan Percobaan Fisika di Sekolah...4

2.3 Optimalisasi Percobaan Fisika di Sekolah...5

2.4 Materi Pelajaran Fisika di Sekolah ...6

BAB III PENUTUP...26

3.1 Kesimpulan ...26

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Fisika adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam dari segi materi dan energinya. Fisika adalah bangun pengetahuan yang menggambarkan usaha, temuan, wawasan dan kearifan yang bersifat kolektif dari umat manusia. Salah satu cara untuk mencetak dan meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa adalah dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan suatu bangsa. Lewat pendidikan yang berkualitas akan mampu menghasilkan menusia-manusia yang cerdas, kreatif, mandiri dan percaya diri serta siap untuk bertading dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Pendidikan di indonesia belum bisa dikatakan berkualitas. Hal ini dapat dilihat dari hasil survey The Political and Economy Risk Consultancy (PERC). Rendahnya kualitas pendidikan diakibatkan oleh beberapa permasalhan diantaranya adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghapal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untyuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

(5)

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Proses Pembelajaran Fisika di Sekolah? 2. Apa sajakah Permasalahan Percobaan Fisika di Sekolah? 3. Bagaimana cara Pengoptimalan Percobaan Fisika di Sekolah? 4. Apa sajakah Materi Pelajaran Fisika Di Sekolah?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui Proses Pembelajaran Fisika di Sekolah.

2. Mengetahui Permasalahan Percobaan Fisika di Sekolah.

3. Mengetahui cara Pengoptimalan Percobaan Fisika di Sekolah.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Proses Pembelajaran Fisika di Sekolah

Fisika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari benda-benda kecil di alam, gejala atau kejadian di alam serta interaksi dari benda-benda di alam tersebut yang berhubungan dengan materi dan energi berdasarkan hukum-hukum yang mengatur didalamnya yang didasarkan melalaui pengamatan atau observasi. Mata pelajaran fisika di sekolah menengah atas (SMA) merupakan mata pelajaran yang mempelajari sifat materi dan fenomena lain yang ada hubungan dengan energi.

Dalam pembelajaran fisika, kemampuan pemahaman konsep merupakan syarat mutlak dalam mencapai keberhasilan belajar fisika. Hanya dengan penguasaan konsep fisika seluruh permasalahan fisika dapat dipecahkan, baik permasalahan fisika yang ada dalam kehidupan sehari-hari maupun permasalahan fisika dalam bentuk soal-soal fisika.

(7)

2.2 Permasalahan Percobaan Fisika Tingkat Sekolah

Permasalahan yang dihadapi dalam melakukan percobaan fisika ditingkat sekolah dapat dilihat dari demografi, fasilitas laboratorium, penguasaan guru terhadap konsep fisika yang dapat dipraktikumkan dan pengelolaan laboratorium, sumber rancangan praktikum serta dukungan struktur organisasi laboratorium.

1. Demografi Guru Fisika

Gambar diatas menunjukkan bahwa hanya 37% guru fisika berasal dari pendidikan fisika dan 48% berasal dari pendidikan biologi. Angka ini tidak mengherankan karena rata-rata mata pelajaran (baik fisika maupun biologi) pada umumnya pada sebagian besar sekolah diajarkan oleh guru yang sama. Apabila responden ditanya, apakah bekal pengetahuan dan keterampilan tentang pelaksanaan praktikum mereka memadai atau belum39% mengatakan bahwa bekal pengetahuan mereka dalam hal praktikum masih kurang, sedangkan selebihnya mengatakan cukup dan baik. Dari Gambarjuga terlihat bahwa 34% guru tidak pernah mengikuti pelatihan mengenai penggunaan laboratorium. Padahal, pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi dan kabupaten/kota selalu melaksanakan pelatihan pengembangan keprofesionalan guru, termasuk pelatihan penggunaan laboratorium tersebut. Banyaknya guru fisika yang tidak pernah mengikuti pelatihan laboratorium ini menunjukkan bahwa distribusi pelatihan guru masih belum merata dan belum terpola sampai ke tingkat kecamatan atau gugus.

2. Fasilitas Laboratorium

(8)

Sebagian besar responden menjawab bahwa peralatan laboratorium mereka terbatas dan hanya 18% menyatakan bahwa peralatan mereka mencukupi. Disamping usaha oleh pihak sekolah dan instansi terkait dalam mencukupi peralatan praktikum tersebut, guru juga dapat menemukan solusi dengan cara membuat media pembelajaran alternatif menggunakan barang-barang sederhana.

3. Persepsi Guru Terhadap Kegiatan Praktikum Laboratorium

Praktikum di laboratorium membutuhkan persiapan sebaik mungkin, baik dari segi fasilitas maupun dari guru itu sendiri. Oleh sebab itu, pemahaman guru terhadap kegiatan praktikum di laboratorium menjadi faktor pendukung atau penghambat keterlaksanaan praktikum. Persepsi guru terhadap praktikum Fisika di Laboratorium diidentifikasi melalui dua grafik berikut :

(9)

4. Ketersediaan Waktu untuk Kegiatan Praktikum

Dalam kegiatan praktikum, guru seharusnya memiliki manajemen waktu yang baik. Hal ini ternyata sulit dilakukan oleh guru, terbukti dari dari jawaban terhadap pernyataan tentang ketersediaan waktu pelaksanaan praktikum fisika dalam jam pelajaran. Jawaban didominasi oleh jawaban kurang (48%). Waktu yang tersedia tidak mencukupi untuk menyelesaikan sebuah eksperimen, belum lagi guru harus mempersiapkan praktikum dan mengemas kembali berbagai peralatan setelah praktikum selesai dilaksanakan. Praktikum dilaboratorium membutuhkan ketepatan waktu, karena dilakukan pada saat jam pelajaran yang memiliki keterbatasan waktu tertentu. Oleh sebab itu, guru harus benar-benar mempersiapkannya sebelum jam pelajaran tersebut berlangsung.

5. Pengetahuan dan Keterampilan Mengoperasikan Peralatan Praktikum

Berkaitan dengan keterlaksanaan praktikum, maka kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh guru adalah mengoperasikan alat praktikum. Pada pernyataan tentang pengetahuan tentang fungsi berbagai peralatan laboratorium dan cara menggunakan alat laboratorium, masing-masing sebanyak 70% dan 83% responden menyatakan bahwa mereka menguasai hanya sebagian peralatan, baik fungsi maupun cara mengoperasikan peralatan laboratorium fisika tersebut. Disamping itu, pemahaman tentang konsep-konsep fisika yang dapat dipelajari melalui praktikum, 48% responden menyatakan hanya sebagian yang dapat dikuasai.

6. Sumber Rancangan Praktikum

(10)

melihat contoh LKS yang ada di website dan kemudian dimodifikasi sesuai dengan peralatan yang ada di sekolah.

7. Ketersediaan Laboran

Praktikum sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, diantaranya adalah kepala sekolah dan tenaga laboran yang bertugas membantu guru dalam pelaksanaan praktikum di laboratorium. Sebanyak 83% responden menyatakan bahwa laboratrium sekolahnya tidak memiliki laboran. Sangat minimnya jumlah laboran ini, menyebabkan praktikum relatif sulit untuk dilaksanakan.

2.3 Optimalisasi Percobaan Fisika

Optimalisasi adalah suatu proses untuk mencapai hasil yang ideal. Jika dihubungkan dengan aspek percobaan fisika maka pengertian dari optimalisasi percobaan fisika yaitu pengoptimalan atau peningkatan percobaan-percobaan maupun praktikum pelajaran fisika. Untuk dapat meningkatkan percobaan fisika, dibutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung sehingga tercapailah tujuan dalam meningkatkan percobaan fisika di tingkat sekolah. Untuk dapat mewujudkan pengoptimalan percobaan fisika hal-hal yang harus terpenuhi terlebih dahulu yaitu :

a. Guru Fisika

(11)

praktikum fisika. Jika seorang guru lihai dalam menggunakan alat-alat praktikum, maka siswa yang akan diajarkannya akan lebih mudah memahami hal yang diajarkan gurunya tersebut dikarenakan guru secara langsung mempraktekan penggunaan alat tersebut didepan para siswa.

b. Meningkatkan Kemampuan Guru Fisika

Dalam meningkatkan kemampuan guru fisika ada beberapa hal upaya yang dapat dilakukan guru tersebut, yaitu : pembelajaran berkaitan dengan cara dan kapasitas ilmu yang dimiliki seorang guru. Meningkatnya kemampuan guru dapat mencari solusi dalam permasalahan percobaan fisika, jika alat yang diperlukan dalam melakukan suatu percobaan tidak ada maka guru dapat membantu siswa membuat alat percobaan sederhana dari barang-barang yang ada disekitarnnya.

c. Laboratorium

(12)

d. Laboran

Laboran adalah petugas non guru yang membantu melaksanakan kegiatan praktikum/peragaan ( meliputi penyiapan bahan, membantu pelaksanaan praktikum serta mengemasi/membersihkan bahan dan alat setelah praktikum). Laboran juga dapat dikatakan sebagai tenaga kependidikan yang bekerja di laboratorium dan membantu proses belajar mengajar mahasiswa vokasi dan akademik strata 1,2,3 serta penelitian dosen. Keberadaan laboran disuatu laboratorium sangatlah penting dalam menentukan keberhasilan akademik dosen

maupun mahasiswa, untuk ini laboran seharusnya mempunyai Hard Skill dan

Soft Skills yang memadai. Inisiatif, ketekunan, kreatifitas, kecakapan dan keterampilan serta pengetahuan yang dikuasai oleh laboran sering kali membantu efisiensi dan efektivitas serta produktivitas dari laboratorium yang dikelola oleh perguruan tinngi. Seorang laboran bertanggung jawab dalam menyediakan

1. Pengaturan jadwal praktikum dan pendaftaran praktikum

2. Bertanggung jawab dalam penyusunan dan pengadaan bahan dan peralatan termasuk merawat dan memperbaiki alat.

3. Mempersiapkan bahan dan alat praktikum sebelum praktikum dijalankan. 4. Mengawasi jalannya praktikum dan memberi layanan keperluan

praktikum

5. Inventarisasi dan pengadministrasian alat-alat laboratorium. 6. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan laboratorium. 7. Mengontrol pemakaian laboratorium secara rutin.

(13)

9. Mendampingi guru selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran menggunakan cara-cara menyampaikan materi praktikum dengan berbagai variasi metode pembelajaran. Metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan yaitu kombinasi dari metode-metode pembelajaran sebagai berikut :

1. Metode Eksperimen

Metode eksperimen adalah penyampaian materi pelajaran melalui latihan menggunakan alat ukur, bahan percobaan, dan perangkat percobaan yang dilakukan oleh murid secara individual atau secara kelompok untuk membuktikan atau menemukan konsep, prinsip, teori, azas, aturan, atau hukum-hukum fisika. Eksperimen yang digunakan untuk membuktikan konsep, prinsip, teori, azas, atau hukum-hukum Fisika disebut eksperimen verivikasi. Sedangkan eksperimen yang digunakan untuk menemukan konsep, prinsip, teori, azas, atau hukum-hukum Fisika disebut sebagai eksperimen menemukan (discovery or inquiry experiment).

(14)

Setelah eksperimen atau percobaan selesai, sebaiknya murid disuruh untuk merumuskan temuan melalui diskusi kelas. Dengan cara ini murid sudah dilatih untuk mengemukakan pendapat dan merespon pendapat orang lain dengan santun. Dengan cara diskusi kelas murid dilatih untuk mengagumi sang pencipta yang telah menciptakan gejala alam yang lengkap dan indah, menyadari bahwa ada Tuhan yang mendisain semua kejadian di alam ini. Setelah diskusi kelas selesai, sebaiknya murid diberi tugas untuk menerapkan produk yang telah ditemukan ke dalam kehidupan sehari-hari, teknologi, dan industri. Setelah murid dapat memberikan contoh-contoh penerapannya, murid diberi tugas untuk membuat laporan praktikum, dengan format seperti berikut: judul percobaan, alat dan bahan percobaan, tujuan percobaan, rumusan masalah, merumuskan hubungan antar ubahan, merumuskan hipotesis, pengumpulan data (cara kerja), data dan tabulasi data, analisis data dan pembuatan grafik hubungan antar ubahan, perumusan temuan, pembahasan (klarifikasi temuan dengan teori yang ada atau klarifikasi temuan dengan fakta alam), penarikan kesimpulan, penerapan hasil, daftar pustaka, serta lampiran. Dengan demikian, metode eksperimen sebaiknya diikuti dengan metode diskusi, dan diakhiri dengan metode tugas.

2. Metode Demonstrasi

(15)

dalam kehidupan sehari-hari, ke dalam teknologi, dan industri. Setelah penerapan hasil, murid-murid juga diberi tugas untuk membuat laporan percobaan yang dikumpulkan minggu berikutnya. Dengan demikian, metode demonstrasi sebaiknya diikuti dengan metode diskusi dan metode tugas.

3. Metode Ceramah

Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan suatu informasi dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur/rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa. Metode ceramah berbentuk penjelasan pengajar kepada siswa dan biasanya diikuti dengan tanya-jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas. Yang perlu dipersiapkan hanyalah daftar topik yang akan diuraikan dalam media visual yang sederhana. Dengan menggunakan metode ini guru lebih mudah menguasai kelas.

4. Metode Diskusi

(16)

f. Model Pembelajaran

Untuk dapat mengoptimalkan percobaan fisika ditingkat sekolah, dalam melakukan proses pembelajaran guru harus memilih dan menerapkan model pembelajaran yang dapat mengasah domain berpikir kognitif, afektif dan psikomotorik siswa tersebut. Model-model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran yang mendorong siswa untuk dapat berpikir secara kritis dalam memecahkan permasalahan praktikum yang dilakukan. Model pembelajaran yang mendukung untuk mencapai ketiga domain ranah berpikir tersebut yaitu model pembelajaran :

1. Discovery Learning

Model discovery learning yaitu model belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajran yang terjadi dimana siswa diharapkan dapat mengorganisasi sendiri pelajaran tersebut. Dalam mengaplikasikan model pembelajaran ini guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara aktif, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar sesuai dengan tujuan. Model ini merubah kegiatan belajar yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa.

2. Pembelajaran berbasis Inquiri

Pembelajaran berbasis inkuiri adalah pembelajaran yang melibatkan siswa dalam merumuskan pertanyaan yang mengarahkan untuk melakukan investigasi dalam upaya membangun pengetahuan dan makna baru. Ciri-ciri pembelajaran inkuiri yaitu pembelajaran ini menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu permasalahan yang dipertanyakan secara mandiri sehingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Tujuan dari model pembelajaran ini yaitu mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis dalam mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.

3. Project Based Learning

(17)

awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Melalui PjBL,

proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a

guiding question) dan membimbing siswadalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.

4. Problem Based Learning

Istilah Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) diadopsi dari dari istilah

Bahasa Inggris Problem Based Instruction (PBI). Pengajaran berdasarkan

masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan tujuan untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berfikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Model pembelajaran ini mengacu kepada model pembelajaran lain, seperti “pembelajaran berdasarkan

proyek (project-based instruction), “ pembelajaran berdasarkan pengalaman

(experience-based instruction)”, dan belajar autentik (authentic learning)” dan

“pembelajaran bermakna atau pembelajaran berakar pada kehidupan (anchored

instruction)

g. Strategi Pembelajaran

Dalam pembelajaran fisika strategi yang digunakan yaitu dimana dalam

semua proses pembelajaran tersebut berpusat pada guru tersebut atau Teacher

Center Learning. Hal ini menyebabkan kebanyakan dari siswa menjadi siswa yang pasif dalam mengikuti proses pembelajaran, dikarenakan segala sesuatunya disediakan oleh guru, siawa hanya duduk dan menerima hal yang akan disampaikan oleh guru. Untuk mengoptimalkan percobaan fisika strategi pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu pembelajaran berpusat pada siswa atau

(18)

h. Pembuatan alat percobaan sederhana

Dalam memudahkan pembelajrn fisika di sekolah guru dituntut untuk dapat melakukan percobaan mengenai materi yang akan diajarkan, tetapi dalam dunia pendidikan tidak jarang ada sekolah yang tidak memiliki fasilitas laboratorium bahkan gedung laboratoriumnya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut guru dituntut untuk dapat berpikir secara kreatif dalam menanggulangi permasalahan tersebut dengan cara membuat alat percobaan sederhana. Alat percobaan yang dapat dikembangkan oleh guru dapat berupa :

a. Prototipe, yaitu alat yang sebelumnya tidak ada, atau dapat juga merupakan pengembangan dari alat yang sudah ada.

b. Tiruan, yaitu alat yang dibuat mirip dengan aslinya

c. Model, yaitu alat yang dibuat merupakan bentuk model misalnya model atom dengan menggunakan LED

d. KIT, yaitu alat yang dibuat merupkan komponenen-komponen yang harus dirakit dan alat ini dapat digunakan untuk beberapa percobaan.

(19)

2.4 Materi Pokok Pelajaran Fisika di Sekolah

Berikut ini tabel tentang materi poko bahasan mata pelajaran fisika di sekolah tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA.

No .

Kelas Materi Pokok

1. VII Perkembangan sains dan kerja ilmiah, besaran dan

pengukuran, zat dan wujudnya, gerak lurus, gaya dan percepatan, tekanan, energi dan usaha, serta tata surya

2. VIII Perkembangan sains dan kerja ilmiah, suhu, kalor, getaran

dan gelombang, bunyi, optika geometrik, serta alat-alat optic

3. IX Perkembangan sains dan kerja ilmiah, listrik statis, sumber

arus listrik, listrik dinamis, energi dan daya listrik, kemagnetan, serta induksi elektromagnetik

4. X Kerja ilmiah, besaran dan pengukuran, vector, karakteristik

gerak, penerapan hukum Newton. Tata surya, suhu dan kalor, cahaya, hakikat gelombang elektromagnetik, serta listrik dinamis

5. XI Kerja ilmiah, gerak dengan analisis vector, usaha, energi,

dan daya, impuls dan momentum, momentum sudut dan rotasi benda tegar, fluida, teori kinetic gas, serta termodinamika

6. XII Kerja ilmiah, gaya listrik dan medan listrik, medan magnet,

(20)

Berikut contoh percobaan fisika sederhana disekolah : Hari/tanggal :

Tempat :

Kegiatan : Praktikum Hukum Archimedes M.K :

Pembimbing :

---Alat Dan Bahan

Tabel 1. Peralatan Dan Bahan Yang Digunakan Pada Praktikum

No Alat Bahan Jumlah KET

1 Botol Bekas Air 3 250

ml 2 Sendok Makan Telur Ayam 2 2

3 Tisu/Kain Lap Garam Dapur 1 1 bks 4 Batang Pengaduk Gula Pasir 2 ½ kg 5 Backer Glass - 1 -

Metode Kerja

Percobaan Dengan Menggunakan Air Biasa

1. Menyiapkan wadah,di isi air 200 mL ke dalam wadah. 2. Masukkan telur ke dalam wadah yang di isi air.

3. Di aduk secara perlahan serta mengamati perubahan yang terjadi pada telur.

Percobaan Dengan Menggunakan Garam Dapur Dalam Air

(21)

3. Menambahkan garam dapur sedikit demi sedikit.

4. Di aduk secara perlahan sambil mengamati reaksi pada telur.

Percobaan Dengan Menggunakan Gula Pasir

1. Menyiapkan wadah,di isi air 200 mL ke dalam wadah. 2. Kemudian masukkan telur ke dalamnya.

3. Tambahkan gula pasir ke dalam air sedikit demi sedikit.

4. Di aduk secara perlahan dan mengamati perubahan yang terjadi.

Hasil

Tabel 2. Hasil Pengamatan Praktikum Yang di Lakukan No Bahan Jmlh/Sendok Hasil Keterangan

1. Air 200 mL Tenggelam

2. Garam 1 Tenggelam

- - 3 Melayang

- - 6 Mengapung

- - 8 Mengapung Terapung Tinggi 3. Gula 1 Tenggelam

- - 3 Tenggelam Tidak

Sepenuhnya

- - 6 Melayang

- - 8 Mengapung

Pembahasan

(22)

3.1 Kesimpulan

1. Pembelajaran fisika disekolah secara umum hanya menekankan pada pemahaman secara matematis saja, dan pembelajaran disampaikan dengan cara ceramah. Siswa jarang diajak untuk praktikum, serta tidak semua sekolah mempunyai peralatan yang lengkap. Padahal dengan praktikum siswa lebih terlibat sehingga hasilnya lebih mudah diingat daripada bahasa dalam buku atau penjelasan guru.

2. Permasalahan yang dihadapi dalam melakukan percobaan fisika ditingkat sekolah dapat dilihat dari demografi, fasilitas laboratorium, penguasaan guru terhadap konsep fisika yang dapat dipraktikumkan dan pengelolaan laboratorium, sumber rancangan praktikum serta dukungan struktur organisasi laboratorium.

3. Untuk dapat mewujudkan pengoptimalan percobaan fisika hal-hal yang harus terpenuhi terlebih dahulu yaitu adanya guru fisika, meningkatkan kemampuan guru fisika, adanya laboratorium dan laboran penyesuaian metode pembelajaran, model pembelajaran serta strategi pembelajaran dan pembuatan alat percobaan sederhana jika sekolah tidak memiliki laboratorium.

4. Materi pelajaran fisika di tingkat sekolah yaitu : Kerja ilmiah, besaran dan pengukuran, vector, karakteristik gerak, penerapan hukum Newton. Tata surya, suhu dan kalor, cahaya, hakikat gelombang elektromagnetik, serta listrik dinamis, gerak dengan analisis vector, usaha dan energi, daya, impuls dan momentum, rotasi benda tegar, fluida, teori kinetic gas, serta termodinamika, gaya listrik dan medan listrik, medan magnet, gaya lorentz dan induksi elektromagnetik, gelombang dan bunyi, radiasi benda hitam, teori atom, relativitas, zat padat dan semikonduktor, radio aktif.

(23)

Arends. R. I, 2008, Learning To Teach Edisi Ketujuh, Yogyakarta; Pustaka Pelajar

Purnawan, E.B. “Analisis Kualitas Pelayanan Pendidikan di SMA PORI

Jepara”. Tesis, UNNES, Semarang, 2009.

Rahayuningsih, E,et.al (2005). Pembelajaran di Laboratorium Pusat

Pengembangan Pendidikan UGM, Yogyakarta.

Sumintono,B., Mohd Ali Ibrahim, dan Fatin Aliah Phang. (2010).

Pengajaransainsdenganpraktikumlaboratorium :Perspektifdariguru-guru sains SMPN di kotaCimahi.Jurnal Pengajaran MIPA 15(2), 120-127

Kemdikbud. (2014). Materi pelatihan guru implementasi kurikulum 2013

tahun ajaran 2014/2015: Mata pelajaran IPA SMP/MTs. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudarmadi. 2012. Meningkatkan Kemampuan Guru-Guru Fisika SMA/SMK

Binaan dalam Membuat Alat PraktikumFisika Sederhana Melalui Pendampingan di Kabupaten Kulonprogo. Vol (1) No. 1. 0853-0823

Widowati. 2012. Evaluasi Proses Pembelajaran Fisika Di Kelas X RSBI SMA

N 3 Surakarta. Vol (3) No. 3.

Hamid, Abu Ahmad. 2011. Pembelajaran Fisika Di Sekolah. Yogyakarta :

Figur

Gambar diatas menunjukkan bahwa hanya 37% guru  fisika berasal dari
Gambar diatas menunjukkan bahwa hanya 37 guru fisika berasal dari. View in document p.7
Tabel 1.  Peralatan Dan Bahan Yang Digunakan Pada Praktikum
Tabel 1 Peralatan Dan Bahan Yang Digunakan Pada Praktikum. View in document p.20
Tabel 2. Hasil Pengamatan Praktikum Yang di Lakukan
Tabel 2 Hasil Pengamatan Praktikum Yang di Lakukan. View in document p.21

Referensi

Memperbarui...