• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANTANGAN DAN PELUANG PTAI PTAIN DI SERA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TANTANGAN DAN PELUANG PTAI PTAIN DI SERA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 TANTANGAN DAN PELUANG PTAI/PTAIN DI ERA GLOBALISASI

Muhammad Abdul Khakim (1520411004)

Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam

Program Magister Pendidikan Islam

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

e-mail :

[email protected]

ABSTRAK

Pendidikan merupakan kegiatan dimana membutuhkan komponen pendidikan yang berjalan

selaras, bervisi sama dan memiliki kualitas yang baik. Namun, tidak semua lembaga

pendidikan tinggi memiliki kulaitas yang baik, khususnya perguruan tinggi Islam. Banyak

yang beranggapan lembaga pendidikan tinggi Islam hanya berorientasi kepada kemampuan

mengaji dan berdakwah saja. Anggapan itu bisa benar, dikarenakan sampai saat ini memang

lembaga pendidikan tinggi Islam menjadi pilihan kedua bagi mahasiswa untuk memutuskan

tempat mereka kuliah. Hal itu disebabkan adanya permasalahan yang dialami lembaga

pendidikan Islam, mulai dari raw input, output, kegiatan belajar bahkan sampai kurikulum

yang kurang bisa difahami masyarakat, bahkan orang yang bergelut di civitas akademika

sendiri. Oleh karena itu, tantangan ke depan lembaga pendidikan tinggi Islam harusnya

dijadikan peluang untuk menjadi peluang dalam rangka mengepakkan sayapnya pada

khazanah keilmuan di negeri ini.

Kata Kunci:

PTAI, Tantangan, Peluang

ABSTRACT

Education is an activity that requires an educational component that goes in harmony, the

same vision and have good quality. However, not all higher education institutions have

kulaitas good, especially the Islamic colleges. Many people believe Islamic higher education

institutions is oriented to the ability of the Koran and preach it. The assumption could be true,

because until now it Islamic higher education institutions become a second option for

students to decide where their lectures. This is due to the problems experienced by Islamic

educational institutions, ranging from raw input, output, curriculum and lear ning activities

even less understandable that people, even those who are struggling in the academic

community itself. Therefore, the challenge ahead Islamic higher education institutions should

be used as an opportunity to be an opportunity in order flapping its wings in the treasures of

knowledge in this country.

(2)

2

PENDAHULUAN

Dewasa ini dalam dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi Islam dihadapkan pada

tuntutan masyarakat yang menghendaki agar pendidikan tinggi Islam mampu menghasilkan output

(lulusan) yang benar benar berkualitas tinggi. Lulusan yang mereka kehendaki adalah lulusan yang

selain menguasai ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai

suatu kehidupan yang layak dan sejahtera, juga memiliki bekal ilmu pengetahuan agama, moral

akhlak yang mulia, serta amal shalih. Keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan

teknologi (iptek) dengan penanaman keimanan dan ketaqwaan (imtaq) adalah suatu keniscayaan

yang tidak bisa ditawar lagi.1

Ali Ashrof menambahkan bahwa saat ini telah terjadi pergeseran orientasi dalam kehidupan

manusia. Hal tersebut telah membuat manusia begitu tergila-gila pada prestasi material, sukses,

duniawi, efisiensi dan kesenangan yang serba semu dengan mengizinkan pembaharuan teknologi

yang tidak terkontrol dan menyebabkan penyakit ekologi dan sosial mereka.2

Oleh karena itu, sudah saatnya perguruan tinggi Islam merekonfigurasi tujuan

institusionalnyadengan memperhatikan berbagai tuntutan masyarakat dan zaman yang terus berubah.

Jika tidak, maka perguruan tinggi islam tidak akan bisa bertahan dalam budaya dan umatnya sendiri

seiring dengan pergeseran budaya di era sekarang yang semakin deras. Untuk eksis dalam dunia

yang dinamis, perlunya penguasaan dimensi duniawi yang diwakili tingginya iptek dan ukhrawi

dengan tingginya ketaqwaan dan keimanan adalah suatu yang tidak bisa ditawar lagi.

Untuk dapat mencapai hal tersebut, lembaga pendidikan Islam khususnya perguruan tinggi

Islam dituntut memiliki tiga kekuatan secara seimbang, Pertama, kekuatan dalam sumber daya

manusia (SDM) mulai dari tenaga pendidik (guru/dosen) yang unggul, pengelolaan yang profesional

dan tenaga peneliti dan pengembangannya yang handal. Kedua, kekuatan dalam bidang manajemen

dan kinerja yang didukung oleh peralatan canggih sehingga dapat mendukung efisiensi dan

akselerasi. Ketiga kekuatan dalam bidang dana yang bersumber dari kekuatan lembaga itu sendiri.

Jika ketiga kekuatan tersebut dapat dimiliki oleh lambaga pendidikan Islam, maka masa depan dunia

pendidikan akan berada di tangan umat Islam dan akhirnya lembaga pendidikan Islam menjadi

pilihan utama masyarakat bahkan menjadi idolanya.3

Sementara itu, Muhadjir Effendi selaku rektor Universitas Muhammadiyah Malang

menyatakan bahwa untuk mencetak output benar-benar berkualitas, perguruan tinggi Islam perlu

melakukan brain washing (cuci otak) agar lembaga pendidikan Islam dapat dimasuki ide-ide yang

bergaya inovatif dan kreatif. Muhadjir melihat ada kegairahan yang luar biasa pada perguruan tinggi

Islam untuk tampil sebagai lembaga pendidikan yang tersdepan. Dengan kondisi seperti ini,

1

Asmaun Sahlan, Religiusitas Perguruan Tinggi (Malang: UIN Maliki Press, 2011), 1. 2

Ibid., 2.

3

(3)

3 perguruan tinggi Islam akan mampu menghasilkan output yang dimiliki daya saing tinggi di era

pasar bebas nanti.4

PEMBAHASAN

Landasan dan Tujuan Pendidikan Tinggi Islam

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus

mempunyai landasan atau dasar yang kuat dan kokoh. Untuk mengetahui landasan pendidikan tinggi

Islam, kiranya penulis mengawalinya dengan menelusuri sumber ajaran Islam itu sendiri, sebab dalam

hal ini Islam sebagai acuan utama dlam menggali khazanah keilmuan dalam pendidikan.

1. Landasan Religius

Menurut al-Qur’an, pendidikan berfungsi mempersiapkan manusia agar mampu mengemban tugas kekhalifahan di muka bumi dengan baik, sesuai dengan firman Allah dalam

kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka,

supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.

Tugas manusia di dunia adalah juga sebagai khalifah yang tidak lepad dari hablum

minannas dan minal alam. Dalam rangka mengembangkan segala potensi manusia tidak ada jalan

lain kecuali dengan pendidikan. Dari penjelasan di atas jelas sekali akan pentingnya pendidikan.

Oleh karena itu, pendidikan dalam hal ini pendidikan tinggi harus menggunakan sumber utama

dalam memformulasikan berbagai teori tentang pendidikan tinggi.

Dalam ajaran islam dijelaskan bahwa hadits adalah sumber ajaran di samping al-Qur’an,

kedudukan sunnah di sini adalah menetapkan dan memperkuat hukum dalam al-Qur’an. Sebagai

contoh hadits tentang keutamaan menuntut ilmu: barang siapa keluar rumah menuntut ilmu,

maka dia termasuk di jalan Allah sehingga ia kembali dari menuntut ilmu.

Di sinilah sunnah berisi petunjuk atau pedoman bagi kemaslahatan manusia dalam segala

aspeknya, untuk membina manusia sutuhnya dan menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa

kepada Allah. Sunnah selalu membuka pemahaman manusia terhadap al-Qur’an termasuk yang

berkaitan dengan pendidikan.

2. Landasan Konstitusional

Selain dasar ideal di atas, pendidikan tinggi islam secara konstitusional berdasarkan pada

UUD 1945 pada pasal 31 yang menyatakan tiap-tiap waargha negara berhak mendapatkan

4

(4)

4 pengajaran, dan pemerintah mengusahakan mmengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem

pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.

3. Landasan Operasional

Secara operasional, pendidikan tinggi Islam didasarkan pada PP. No. 30 Tahun 1990

tentang Pendidikan Tinggi dan PP. No. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi.

Dengan demikian, pendidikan tinggi Islam memiliki landasan yang kuat, baik landasan

Religius, Konstitusional maupun Operasional. Berdasarkan landasan tersebut, akan ditetntukan arah

gerak dari pendidikan tinggi yang mengemban tanggung jawab kehidupan generasi bangsa di masa

yang akan datang.5

Masalah dan Tantangan Pendidikan Tinggi Islam

1. Masalah Tenaga Pengajar

Masalah pada perguruan tinggi Islam di negeri ini adalah dimana orang jenius dan

berpengalaman luas tertarik masuk pada lembaga pendidikan umum. Akibatnya, lembaga

pendidikan tinggi Islam diisi oleh orang yang kurang kompeten dalam bidangnya, sehingga

keadaan pendidikan menunjukkan grafik yang semakin menurun dari persepektif mutu

pendidikannya. Hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari hedonisma pada era sekarang dimana

orang menilasi bahwa kedudukan, harta dan martabat seseorang bukanlah dari kualitas iman dan

ilmunya, melainkan banyaknya harta, fasilitas dan tahta yang dimilikinya.6

Secara umum jumlah ratio pengajar dan mahasiswa pada pendidikan tinggi Islam

sebenarnya belum mencukupi, kendati demikian belum sampai menghambat proses perkuliahan

di kampus. Dari segi kualitas, bila ditujukan pada kualitas dosen, memang masih terdapat

kesenjangan antara dosen berpendidikan S1, S2 dan S3.meskipun pemerintah menetapkan

standarisasi kualifikasi tenaga pendidik, namun faktanya banyak perguruan tinggi yang

mengedepenkan kulaitas daripada kualifikasi dosen, sehingga mempertahankan dosen dengan

gelan S1.7

2. Masalah Raw Input

Setelah diresmikannya SISDIKNAS dan PP NO. 27 (sekolah), NO. 28 (Pendidikan Dasar),

NO. 29 (Pendidikan Menengah) dan NO. 30 (Pendidikan Tinggi) menjelaskan bahwa madrasah

mulai dari tingkat MI, MTs dan MA desebut dengan sekolah berciri khas Islam. Konsekuensinya

adalah pendidikan dengan kurikulum sama dengan sekolah umum namun ditambahi ciri khas

Islam.

5

Ibid., 18.

6

Ibid., 6.

7

(5)

5 Disebabkan pembagian program yang seperti itu, maka dapat diambil kesimpulan siswa

tidak dipersiapkan secara akademik untuk memasuki PTAI/IAIN. Kesiapan mental siswa MA

juga bukan ditempa untuk memasuki PTAI. Hal ini terbukti banyak lulusan berprestasi di tingkat

MA yang tidak tertarik mendaftarkan diri di perguruan tinggi Islam. Begitu pula sebaliknya,

banyak siswa SMA atau SMK yang justru diterima di PTAI sehingga menimbulkan permasalahan

baru, dikarenakan mahasiswa belum memiliki basic keilmuan agama.8

3. Masalah Raw Output

Permaslaahan yang paling sering dari output PTAI adalah lapangan kerja, dan persoalan ini

tidak hanya di alami perguruan tinggi Islam saja, namun semua perguruan tinggi. Lantas, apa

yang dapat diperbuat untuk hal itu? Tentu, sikap mental dan menggantungkan harapan sebagai

pegawai negeri semata-mata harus dikikis.9

Pertanyaan lain adalah mengapa pengangguran juga dialami oleh banyak pemuda yang

notabene terdidik? Lalu apa yang salah dengan pendidikan di perguruan tinggi selama ini?

Apakah kurikulum perguruan tinggi bagaikan menara gading yang tidak sejalan dengan

perkembangan masyarakat dan salah arah?

Tak kurang dari direktorat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, depdiknas

menyatakan bahwa ada yang kurang dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia selama ini.

Menurutnya, keterpurukan negara saat tersebut menyadarkan masyarakat akan ketidak lengkapan

pendidikan yang telah dilaksanakan selama ini.10

Jawabannya adalah memberikan keterampilan berwiraswasta kepada mahasiswa adalah

suatu keharusan. Keterampilan itu dapat diberikan dalam bentuk intra kurikuler, ekstrakurikuler

ataupun pelatihan-pelatihan yang terjadwal. Selain itu, pengembangan keprofesian yang dimiliki

oleh alumni PTAI harus dapat dipertahankan dan ditingkatkan serta dapat dijual di masyarakat,

artinya masyarakat membutuhkannya.11

4. Masalah Kurikulum dan Materi

Sejauh ini, ada semacam kritikan lulusan PTAI belum memiliki keahlian yang benar-benar

dibutuhkan oleh masyarakat. Karena itu, peninjauan ulang terhadap pembidangan ilmu di

lembaga perguruan tinggi agama menjadi mutlak diperlukan. Paling tidak, peninjauan ini

memberikan arah dan tujuan dalam mencetak para sarjana Islam. Karena pembidangan pada

pendidikan Tinggi islam dinilai didesain untuk bergelut dengan tradisi normatif-klasik, kurang

8

Ibid., 122.

9

Ibid., 124.

10

Emzir and Sam Muchtar, Isu-Isu Kritis Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Pendidikan (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), 87–88.

11

(6)

6 bersentuhan dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora seperti berkembang di perguruan tinggi

barat.12

Sementara itu secara eksternal, pendidikan tinggi Islam dihadapkan pada dua problem

mendasar, yaitu: pertama, krisis etika dan moral anak bangsa yang berpuncak pada kerusuhan

yang telah memporak-porandakan nilai agama dan masyarakat. Etika dan tatakrama yang selama

ini terinternalisasi dalam budaya anak bangsa yang santun, berubah menjadi gugusan retorika

yang tidak bermakna. Kedua, tantangan masyarakat global, dimana era globalisasi yang mulai

kita masuki sekarang ini ditandai dengan berbagai kata kunci seperti kompetisi, transparansi,

efisiensi, kualitas dan profesionalitas serta kecenderungan baru masyarakat global pada wacana

dan praktek demokrasi.13

Kontroversi mengenai Pendidikan Agama khususnya di perguruan tinggi Islam beberapa

waktu yang lalu, misalnya apakah perlu pendidikan agama diajarkan di sekolah-sekolah umum

tidak lepas dari sterilitas ilmu agama dari ilmu-ilmu yang lain, sehingga tampil dengan wajah

yang normatif dan gerang tetapi loyo, tidak pernah mampu menjawab berbagai persolan yang ada.

Karena itu, banyan berpandangan tidak adanya guna belajar agama karena di negara kita terbukti

dengan belajar agama di semua jenjang pendidikan formal ternyata Korupsi masih saja terjadi dan

semakin parah, demikian juga dengan pelanggaran HAM dan penyalah gunaan kekuasaan.

Sementara bercermin dengan negara-negara tetangga yang tidak mengajarkan agama seperti

korea dan jepang kehidupan sosial justru lebih tertib. Saya kira, pendidikan agama akan terus

menuai gugatan kalau fakultas Tarbiyah khususnya tidak segera berbenah.14

5. Masalah Belajar Mengajar

Maslah belajar mengajar ini bergantung pada dua hal pokok. Pertama, sarana dan fasilitas.

Sampai sekarang masalah ini secara umum terpenuhi hal-hal yang bersifat primer. Kedua,

keterampilan tenaga mengajar. Masalah ini masih perlu ditingkatkan. Selain dari keterampilan

mengajar sikap mental adalah salah satu yang paling menentukan kesuksesan proses belajar

mengajar.15

Peluang Pengembangan Pendidikan Tinggi Islam

Terkait persoalan di atas, IAIN bertransformasi menjadi UIN karena dianggap perlunya

intergrasi keilmuan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Misalnya ilmu sosial, humaniora dan ilmu

alam harus dipadukan menjadi bangunan keilmuan yang saling mendukung, dan tidak terpisah-pisah

sebagaimana yang terjadi sekarang ini bukan sekedar interdisipliner yang dikembangkan sesuai

12

Akh Minhaji and Kamaruzzaman, Masa Depan Pembidangan Ilmu Di Perguruan Tinggi Agama Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2003), 48.

13

Sahlan, Religiusitas Perguruan Tinggi, 6.

14

Imam Machali and Musthofa, Pendidikan Islam Dan Tantangan Globalisasi (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media dan Presma Tarbiyah UIN, 2004), xii.

15

(7)

7 kehendak masing-masing pribadi, tetapi pola yang harus dikembangkan oleh semua pemegang disiplin

ilmu tertentu.

Dari pernyataan di atas, maka dengan sendirinya akan terjadi penyatuan antara ilmu dengan

wahyu. Hal ini dibuktikan dengan membuat hubungan aqidah-humaniora, muamalah-teknologi dan

akhlak-ilmu sosial. Adapun aqidah, muamalah dan akhlah didasarkan pada sumber utama yaiut al-Qur’an dan Hadits. Adapun humaniora, teknologi dan ilmu sosial adalah hasil kreasi manusia yang diperoleh melalui akal pikiran. Perpaduan ini pada gilirannya akan mengikis anggapan bahwa agama

dan ilmu harus dipisahkan.padahal pemisahan itu menimbulkan sikap sekuleritas yang memisahkan

urusan agama dan dunia.16

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan harus melanjutkan pola pengembangan keilmuan semacam

ini, karena di sinilah produsen tenaga guru PAI dan tenaga kependidikan Islam. Kalau tidak, fakultas

Tarbiyah justru menjadi problem maker bagi pengembangan pendidikan Islam, karena selalu

mereduksi tenaga-tenaga Pendidikan islam yang tidak kompeten.17

Berkaitan dengan hal tersebut, Imam Suprayogo berpendapat bahwa untuk menghadapi

berbagai persoalan berat tersebut yang diperlukan dari kita semua adalah

1. Menumbuhkan keinginan semua pihak untuk maju

2. Dibangun komunikasi atau silaturohmi akademik yang mantap sehingga melahirkan wacana

dan suasana keilmuan yang kondusif di kalangan warga kampus.

3. Tumbuhnya rasa tanggung jawab atau amanah yang tinggi pada semua pihak dalam

mengembangkan lembaga

4. Memiliki semangat beramal shalih dan berjuang di jalan Allah melalui pengembangan ilmu

pengetahuan.18

Dalam mengantisipasi berbagai tantangan modernitas dan mengatasi berbagai persoalan etika

peserta didik, pembelajaran pendidikan agama tidak mungkin dapat dengan baik sesuai dengan misi

dan tujuan bilamana hanya berkutat pada transfer ilmu atau pemberiani lmu pengetahuan agama

sebanyak-banyaknya kepada peserta didik, atau lebih menekankan aspek kognitif. Pembelajaran PAI

justru harus dikembangkan ke arah proses internalisasi nilai afektif yang tentunya diimbangi dengan

kognitif , sehingga timbul dorongan yang sangat kuat untuk mengamalkan dan mentaati ajaran dan

nilai-nilai dasar agama yang telah terinternalisasikan dalam diri peserta didik.19

Dinamika kehidupan masyarakat yang kian tak terelakkan menuntut instistusi pendidikan

tinggi untuk melakukan pemikiran ulang secara menyeluruh mengenai arah pengembangannya mulai

dari struktur epistemologis keilmuan keislaman, reformasi bidang-bidang ilmu keislaman hingga

16

Minhaji, Masa Depan Pembidangan Ilmu Di Perguruan Tinggi Agama Islam, 52.

17

Machali, Pendidikan Islam Dan Tantangan Globalisasi, xiii.

18

Sahlan, Religiusitas Perguruan Tinggi, 8.

19

(8)

8 reinstitusionalisasi khususnya dalam hal pembukaan jurusan dan prodi-prodi baru, dan penjabaran

kurikulumnya.

Peningkatan kualitas PTAI dapat dilakukan melalui beberapa strategi: Pertama, melakukan

pengembangan kurikulum agar eksistensinya mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat

dan mampu menghasilkan sarjana-sarjana qualified sesuasi spesifikasi keahliannya. Pengembangan

kurikulum setidaknya menggunakan pendekatan akademik, teknologi dan humanistik. Kurikulum

PTAI setidaknya menghindari dikotomi pendidikan, justru keilmuan harus dibangun secara

integratif-interkonektif dalam ragam bidang keilmuan. Kedua, melakukan pembenahan dalam manajemen

penyelenggara PTAI. Untuk mewujudkan perguruan tinggi yang qualified diperlukan manajemen yang

fungsional dan profesional. Manajemen dikatakan fungsional manakala mampu melaksanakan fungsi

manajemen secara efektif dan efisien. Dan profesional manakala dalam pelaksanaannya menggunakan

pertimbangan-pertimbangan profesional. Ketiga, penyediaan SDM yang handal. Penyeleggara di sini

meliputi pimpinan , tenaga pengajar dan karyawan serta unsur yang harus memiliki visi dan misi yang

sama terhadap pelasanaan proses pendidikan. Keempat, peningkatan kemampuan leadership. Pimpinan

perguruan tinggi agama harus dapat menerapkan pola kepemimopinan yang efektif dan memiliki visi

kelembagaan yang jelas. Kepemimpinan yang efektif memiliki kemampuan memberdayakan

sumber-sumber daya yang ada, mensinergikan berbagai kelompok kepentingan, memiliki terobosan dan

komitmen untuk kepentingan lembaga, selain itu mampu membuat program kegiatan maupun

kebijakan yang relevan.

Upaya peningkatan peran PTAI masih dihadapkan pada masalah klasik yang telah diketahui

oleh penyelenggara dan pembina instiusi, namun pemecahannya masih menggantung. Maslah tersebut

terkait dengan istilah nama fakultas, jurusan dan prodram studi yang tidak membumi. Fakultas Tarbiyah, Syari’ah, Adab, Dakwah; Jurusan atau Prodi Ahwalus-Syakhsiyyah, Muamalah, Jinayah, Aqidah Filsafat, dan sejenisnya merupakan contoh nama fakultas dan program studi yang tidak

dipahami oleh khalayak masyarakat, termasuk oleh sebagian civitas akademika dan pegawai PTAI

sendiri. Problem lain yang dihadapi perguruan tinggi ini, yakni proses pembukaan program studi yang

tidak mudah, padahal program studi tersebut sangat diperlukan oleh masyarakat.20

20

(9)

9

SIMPULAN

Pendidikan pada perguruan tinggi Islam memiliki landasan yang kuat. Yaitu landasan spiritual sebagaimana dalam al-Qur’an dan hadits, landasan Konstitusional dalam Pancasila dan Undang-Undang, serta landasan Operasional dalam PP No. 30 Tentang perguruan Tinggi.

Namun, adalam pelaksanaannya Perguruan Tinggi Islam mengalami berbagai masalah dan

tantangan. Diantara tantangan tersebut adalah masalah raw input, raw output, kegiatan belajar

mengajar, kurikulum dan tenaga pengajar harus profesional.

Namun, di era globalisasi saat ini, permasalahan klasik sikap dan etika peserta didik menjadikan

perguruan tinggi Islam menjadi ujung tombak dan memiliki tempat strategis dalam menunjukkan

peran di kancah pendidikan di Indonesia.

RUJUKAN

Arifi, Ahmad.

Politik Pendidikan Islam

. Yogyakarta: Teras, 2010.

Daulay, Putra.

Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional Di Indonesia

. Jakarta:

Kencana Prenada Media, 2007.

Emzir, and Sam Muchtar.

Isu-Isu Kritis Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Pendidikan

.

Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.

Machali, Imam, and Musthofa.

Pendidikan Islam Dan Tantangan Globalisasi

. Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media dan Presma Tarbiyah UIN, 2004.

Minhaji, Akh, and Kamaruzzaman.

Masa Depan Pembidangan Ilmu Di Perguruan Tinggi

Agama Islam

. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2003.

Sahlan, Asmaun.

Religiusitas Perguruan Tinggi

. Malang: UIN Maliki Press, 2011.

Zurqoni.

Meretas Peran Perguruan Tinggi: Refleksi Atas Idealitas Penyelenggaraan

Referensi

Dokumen terkait

Pada usia dan jenis kelamin yang disetarakan, risiko hipertensi lebih besar secara bermakna 1,3 kali pada responden dengan kepribadian tipe A dibandingkan dengan mereka

Perancangan dan pembuatan perangkap tikus elektronik terdiri dari perancangan hardware yang meliputi rangkaian sensor, mikrokontroler, relay driver motor DC dan

Manfaat praktis yang diharapkan dalam penelitian ini adalah dapat menjadi bahan masukkan bagi lembaga e-commerce maupun bagi owner situs jual beli online Shopee serta

Melalui kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada siswa SMPN 3 Kota Serang tentang bahaya yang diderita akibat penyalahgunaan narkoba,

Tidak terdapat hubungan antara penggunaan air bersih, penggunaan jamban, dan mencuci tangan dengan kejadian diare di desa Ranowangko kecamatan Tombariri

Pemberian edukasi pada penelitian ini mempengaruhi perbedaan berat badan yang signifikan antara pasien sebelum diberikan edukasi dan setelah diberikan edukasi

Tulungagung Bahasa Arab Lulus 86 13051602820189 ALMADUROTUN NAFISAH MI Swasta MIFTAHUL HUDA PULEREJO Kab.. Trenggalek GURU KELAS

Keterangan : Pada layar login pelanggan / client ini, pelanggan harus memasukkan username dan password sesuai voucher yang diberikan oleh kasir, setelah itu pelanggan bisa