• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Delik Mukah Menurut Hukum P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbandingan Delik Mukah Menurut Hukum P"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Naskah Publikasi

Tesis

Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S 2

Program Studi Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Pidana

Diajukan Oleh :

A H M A T 07/259401/PHK/4314

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS GAJAH MADA

(2)
(3)

 

secara positifistik tersebut ternyata memperjelas pemahaman, bahwa delik perzinahan

sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 284 KUHP tersebut memiliki banyak

kelemahan secara moril. Nilai dasar yang dipakai dalam membentuk Pasal 284

KUHP ini berbeda dengan konsepsi masyarakat Indonesia mengenai zina itu sendiri.

Kehidupan seksual yang merupakan inti perbuatan yang dilarang dalam pasal 284

KUHP belum luas pengaturannya, karena pasal tersebut ditujukan hanya pada

intergritas” ”badan dan jiwa” (bodily and psychological integrity). dalam pidana

perzinaan ternyata prinsip yang dipakai KUHP adalah hak untuk berhubungan

kelamin antara laki-laki dan perempuan, bukan kesucian hubungan seksual tersebut.

Konsekuensinya, dalam pasal 284 KUHP ini, yang bisa dikenakan sanksi pidana

adalah:

1. laki-laki yang berada dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan perempuan yang bukan istrinya;

2. perempuan yang berada dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan laki-laki yang bukan suaminya;

Pasal ini sama sekali tidak menjelaskan laki-laki dan perempuan yang tidak

dalam ikatan perkawinan yang bersetubuh. Karenanya mereka tidak dikenai sanksi

sejauh persetubuhan tersebut dilakukan atas dasar suka-sama-suka. Lebih celaka lagi,

delik zina ini tidak dapat dituntut kecuali berdasarkan pengaduan pihak-pihak (suami

(4)

yang berbau sekular sangat kental dalam pasal ini, sehingga persetubuhan juga

dipandang sebagai hak asasi yang harus dihormati. Hubungan seksual bukan lagi

merupakan hal yang sakral yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri yang terikat

dalam perkawinan yang sah. Jelas sekali bahwa, perbedaan pandangan demikian

berimbas pada perbedaan pengaturan zina dalam hukum pidana, hukum adat dan

hukum menurut agama. Zina merupakan kejahatan yang termasuk rangkaian delik

susila baik dalam hukum positif, hukum adat, dan Agama yang dijunjung tinggi oleh

masyarakat.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, keberadaan hukum Islam sebagai

hukum yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat perlu mendapat perhatian yang

cukup serius untuk menyelesaikan suatu perkara pidana. Berdasarkan Undang –

undang No.48 Tahun 2009 pada Bab II tentang Asas Penyelenggaraan Kekuasaan

Kehakiman Pasal 5 ayat 1, yang berbunyi bahwa “ Hakim dan hakim konstitusi wajib

menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup

dalam masyarakat.1.

Selain itu juga terdapat dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia

terutama adalah hukum pidana Indonesia, sebagaimana yang dikemukakan oleh

Harjono sebagai berikut: 2

Bahwa soal besar yang dihadapi dewasa ini adalah apakah hukum yang berlaku di negeri kita ini telah selaras dengan jiwa rakyatnya yang kebetulan 90% beragama Islam. Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh beliau bahwa

       1

Undang – undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009, Tentang Kekuasaan Kehakiman, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 157

2

(5)

mungkin telah selaras atau mungkin tidak selaras, dan jika telah selaras mungkin artinya telah selaras dengan jiwanya, akan tetapi belum selaras dengan jiwa Islam. Tetapi begitu kata beliau lebih lanjut, jawaban yang sebenarnya adalah telah pasti belum selaras dengan jiwa Islam.

Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, mendorong penulis untuk

meneliti perzinaan yang terjadi pada masyarakat. Selain itu yang mendorong penulis

untuk meneliti masalah ini adalah untuk membina dan mengembangkan hukum yang

berlaku di negara Republik Indonesia maupun hukum yang tumbuh dan hidup sejak

dahulu dalam masyarakat. Dalam tulisan ini, penulis berusaha memaparkan

perbandingan delik perzinahan yang ada dalam hukum positif Indonesia (KUHP)

dengan hukum pidana Islam yakni mengenai unsur-unsur perzinahan. Selain itu, akan

dipaparkan pula bagaimana usaha yang telah dilakukan untuk mengeliminir

kelemahan pengaturan delik perzinahan menurut KUHP dalam kerangka

pembaharuan hukum pidana Indonesia serta penyesuaiannya terhadap hukum pidana

Islam.

2. Rumusan Masalah

Berkenaan dengan uraian di atas, penulis mengemukakan rumusan masalah

sebagai berikut :

1. Apakah perbedaan antara Unsur – unsur Delik Mukah (overspel) menurut Pasal

284 Kitab Undang-undang Hukum Pidana ( KUHP ), dan Delik Zina menurut

hukum Pidana Islam ?

2. Bagaimanakah pandangan para ahli hukum pidana dan hukum Islam tentang

(6)

B. METODE PENELITIAN 1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian ditinjau dari sudut sifatnya debedakan dalam: penelitian

yang bersifat eksploratif (penjajakan atau penjelajahan), penelitian yang bersifat

deskriptif dan penelitian yang bersifat eksplanatif.3 Sedangkan dari sudut tujuan

penelitian hukum dibedakan dalam penelitian hukum normatif dan penelitian

hukum empiris.4 Penelitian ini termasuk penelitian normatif, yaitu penelitian

yang didasarkan pada penelitian kepustakaan guna memperoleh data sekunder di

bidang hukum.

a. Jenis Penelitian

Penelitian Normatif, Jenis penelitian ini akan digunakan dalam penyajian

penelitian penyusun adalah Penelitian Kepustakaan (Library Reseach).5 Yaitu

       3

Penelitian eksploratif bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai suatu gejala tertentu untuk mendapatkan ide-ide baru mengenai suatu gejala. Umumnya dilakukan terhadap pengetahuan yang masih baru, belum banyak informasi mengenai masalah yang diteliti atau bahkan belum ada sama sekali. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala atau menentukan ada atau tidaknya hubungan suatu gejala lain dalam masyarakat. Sedangkan penelitian eksplanatif, bertujuan menguji hipotesis-hipotesis tertentu ada tidaknya hubungan sebab akibat antara berbagai variabel yang diteliti. Dengan demikian penelitian ini baru dapat dilakukan, apabila informasi-informasi masalah yang diteliti sudah cukup banyak, artinya telah ada beberapa teori tertentu dan telah ada berbagai penelitian empiris yang menguji hipotesis tertentu. Lihat dalam Amiruddin dan Zaenal Asikin, 2004. Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 24-26.

4

Penelitian hukum normatif mencakup penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematika hukum, taraf sinkronisasi hukum, sejarah hukum dan penelitian perbandingan hukum. Sedangkan peneltian hukum sosiologi atau empiris terdiri dari penelitian identifikasi hukum (tidak tertulis) dan penelitian terhadap efektifitas hukum. Lihat dalam Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, hlm. 51.

5

(7)

penelitian yang mengarah tentang telaah serta pembahasan bahan-bahan pustaka

baik berupa buku-buku, jurnal ataupun kitab yang berkaitan dengan topik.

b. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dan komparatif, yaitu Penelitian

yang dilakukan untuk membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara

subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda. Menjelaskan dan menguraikan

data-data yang telah diperoleh yang berkaitan dengan Perbandingan Delik Mukah

( Zina ) Antara Kitab Undang – undang Hukum Pidana ( KUHP ) dan Hukum

Pidana Islam kemudian mengadakan komparasi untuk menemukan persaman

serta perbedaan.

2. Tehnik Pengumpulan Data

Penelitian dibedakan antara data yang diperoleh langsung dari masyarakat

dan dari bahan pustaka. Data yang diperoleh langsung dari masyarakat disebut

data primer (primary) yaitu bila dimungkinkan wawancara dengan beberapa

pakar hukum pidan dan pakar hukum Islam. sedangkan data dari bahan pustaka

dinamakan data sekunder (secondary data).6

a. Penelitian Pustaka, yakni dengan mepelajari bahan-bahan yang terdiri dari

bahan hukum primer,bahan hukum skunder dan bahan hukum tersier,7 sebgai

berikut:

       6

Ibid, hlm. 11-12. 7

(8)

1. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat dan merupaka

bahan pokok yang berupa peraturan perundang-undangan antara lain

meliputi :

1) Undang-undang No. I Tahun 1974 tentang Perkawinan,

2) Kitab Undang-undang Hukum Pidana ( KUHP ) Bab XIV Pasal 284

serta perundang-undangan dengan yang lainnya yang berkaitan dengan

materi pembahasan yaitu,

a. RUU KUHP dan,

b. buku Hukum Pidana Islam serta Hukum-hukum Islam lainnya yang

bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist serta Ijtihad para Mujtahid.

2. Bahan hukum skunder, bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan

hukum primer yang sudah berupa bentuk jadi atau dokumen dan publikasi

seperti jurnal dan putusan pengadilan.8

3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan penjelasan terhadap

bahan hukum primer dan bahan hukum skunder, yang berupa kamus hukum,

kamus Inggris-Indonesia, kamus Bahasa Belanda, dan kamus besar bahasa

Indonesia.

       mempelajari penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti, RUU, hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum. Sedangkan bahan hukum tersier, adalah bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan skunder seperti, kamus dan ensiklopedia. Lihat dalam buku Soerjono Soekanto dan Sri mamudji, 2007, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, edisi, Pertama, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 13.

8

(9)

C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Unsur-unsur Perzinahan Sebagai Delik Dalam KUHP

Apa yang dimaksud pezinaan tidak ditentukan dalam KUHP, maupun dalam KUH

Perdata juga dalam Undang-undang Perkawinan. Sedangkan menurut beliau persetubuhan

itu adalah jika kemaluan si pria itu masuk kedalam si wanita. Serapa dalam atau seberapa

persen yang harus masuk tidaklah terlalu menjadi persoalan, yang penting ialah dengan

masuknya kemaluan si pria itu dapat terjadi kenikmatan bagi keduanya atau salah seorang

dari mereka. Kejadian ini dapat disebut sebagai perzinaan jika yang mereka lakukan tanpa

ada paksaan atau mau sama mau.

Menurut Dading,9 unsur-unsur dari pada Pasal 284 (1) adalah :

Ke-1 sub a yaitu : Objektif : - Laki-laki yang beristri.

- Berzina.

Subjektif : - Diketahuinya, bahwa

- Bagi laki-laki itu berlaku pasal 27 B.W.

Pelaku perzinahan adalah seorang laki-laki yang sudah beristri, sedangkan

laki-laki yang belum beristri tidak dapat melakukan perbuatan zina tetapi hanya

turut serta melakukan perbuatan zina.

Berkaitan dengan hal tersebut, terjadi ketidakpuasan dari sebagian

masyarakat mengenai perilaku-perilaku menyimpang terutama dalam lingkup

       9

(10)

kesusilaan. Hal ini disebabkan karena perilaku-perilaku yang menyimpang dari

norma-norma masyarakat belum mendapatkan tempat semestinya dalam hukum

pidana. Sebagai misal perbuatan zina yang menurut pengertian masyarakat

berbeda dengan pengertian zina dalam hukum pidana Indonesia (KUHP) juga

hukum Islam.

Sedangkan permasalahan-permasalahan dari persetubuhan yang tidak

merupakan tindak pidana menurut KUHP, yaitu :

a. Dua orang yang belum kawin yang melakukan persetubuhan, walaupun:

1. Perbupatan itu dipandang bertentangan dengan atau mengganggu perasaan

moral masyarakat.

2. Wanita itu mau melakukan persetubuhan karena tipu muslihat atau janji

akan menikahi, tetapi diingkari.

3. Berakibat hamilnya wanita itu dan lai-laki yang menghamilinya tidak

bersedia menikahinya atau ada halangan untuk nikah menurut

undang-undang;

b. Seorang laki-laki telah bersuami menghamili seorang gadis (berarti telah melakukan

perzinahan) tetapi istrinya tidak membuat pengaduan untuk menuntut.

c. Seorang melakukan hidup bersama dengan orang lain sebagai suami isteri di

luar perkawinan padahal perbuatan itu tercela dan bertentangan atau

(11)

2. Jarimah Zina Dalam Hukum Pidana Islam

Zina termasuk perbuatan dosa besar. Hal ini dapat dapat dilihat dari urutan

penyebutannya setelah dosa musyrik dan membunuh tanpa alasan yang haq. Allah

berfirman :10

Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),

(QS. Al-Furqaan: 68).

Imam Al-Qurthubi11 mengomentari, “Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada dosa

yang lebih besar setelah kufur selain membunuh tanpa alasan yang dibenarkan dan zina.”

Dan menurut Imam Ahmad, perbuatan dosa besar setelah membunuh adalah zina. Islam

melarang dengan tegas perbuatan zina karena perbuatan tersebut adalah kotor dan keji.

Allah berfirman :12 Ÿωuρ(#θç/t)ø s?#’oΤÌh“9$#(…çμΡ¯ Î)tβ%x.Zπt±Ås≈ùs u™!$y™uρWξ‹Î6y™∩⊂⊄∪

Artinya :

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’: 32).

       10

Departemen Agama RI, 1978, Al Qur'an dan Terjemahannya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur'an.

11

Imam Abi Bakr Ahmad ar-razi al Jashshos, 1993, Ahkaamul Qur’an, Beirut. Dar- al Fikri, 3, hlm. 200.

12

(12)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di,13 seorang ulama besar Arab Saudi, berkomentar: “Allah Swt telah mengategorikan zina sebagai perbuatan keji

dan kotor. Artinya, zina dianggap keji menurut syara’, akal dan fitrah karena

merupakan pelanggaran terhadap hak Allah, hak istri, hak keluarganya atau

suaminya, merusak kesucian pernikahan, mengacaukan garis keturunan, dan

melanggar tatanan lainnya”.14

3. Hasil Penelitian dan pembahasan dalam Perbandingan Unsur-unsur Delik Zina menurut KUHP dan Hukum Islam

Dalam hal ini Penulis mengutip pendapat dari, Ahmad Bahiej,15 yang

Membandingkan Unsur-unsur delik zina dalam hukum pidana Islam dengan hukum

pidana positif Indonesia (KUHP) dan dapat dikemukakan perbedaan-perbedaan sebagai

berikut:

1. Menurut KUHP, zina hanya dapat terjadi bila ada persetubuhan antara kedua orang

pelaku (pria dan wanita) telah kawin, atau salah satu dari keduanya telah terikat

perkawinan dengan orang lain. Bukanlah perzinahan apabila perzinahan itu dilakukan

dengan paksaan (vide pasal 285 KUHP), persetubuhan dengan perempuan dalam

keadaan pingsan atau tidak berdaya (vide pasal 286 KUHP) dan persetubuhan dengan

perempuan yang belum cukup umur lima belas tahun (videpasal 287 KUHP).

Sedangkan menurut hokum pidana Islam, tidak mempersoalkan apakah pelaku-      

13

Ibid, Imam abi Bakr, hlm.202. 14

Imam Ibnu Al-mannan, 1943, tafsir Kalaam Al-Mannan, Beirut, Dar- al Fikri, Jilid 4, hlm. 275.

15

(13)

pelakunya telah diikat perkawinan dengan orang lain atau belum. Setiap

persetubuhan di luar perkawinan yang sah adalah zina. Adapun persetubuhan yang

dilakukan dengan paksaan atau persetubuhan dengan wanita dalam keadaan tidak

berdaya atau pingsan hanya merupakan alasan penghapus pidana bagi wanita yang

menjadi korban. Bagi pria yang melakukan perbuatan-perbuatan itu tetap

dikategorikan sebagai pelaku zina.

2. Menurut ketentuan yang diatur di dalam KUHP, perzinahan hanya dapat terjadi jika

ada persetubuhan yang dilakukan orang yang telah terikat dengan perkawinan.

Sedangkan orang yang belum menikah dalam perbuatan ini adalah termasuk orang

yang turut melakukan (medepleger). Sedangkan perzinahan dalam tinjauan hukum

pidana Islam adalah lebih luas dari pada pembatasan-pembatasan dalam KUHP

tersebut. Hukum pidana Islam tidak mempersoalkan dengan siapa persetubuhan itu

dilakukan. Apabila persetubuhan ini dilakukan oleh orang yang telah menikah maka

pelakunya disebut pelaku muhsân, dan apabila persetubuhan ini dilakukan oleh orang

yang belum menikah maka pelakunya disebut pelaku gâiru muhsân.

3. Ancaman pidana yang ditetapkan dalam pasal 284 ayat (1) KUHP adalah pidana

penjara sembilan bulan, baik bagi pelaku yang telah menikah maupun bagi orang

yang turut serta melakukan perbuatan zina itu. Sedangkan menurut hukum pidana

Islam, ancaman pidana disesuaikan dengan pelaku perzinahan. Jika pelaku zina itu

muhsân atau telah menikah maka ancaman pidananya adalah rajam (stoning to

death). Namun jika perzinahan itu dilakukan oleh orang yang belum menikah (gâiru

muhsân) maka ancaman pidananya adalah dicambuk atau didera sebanyak delapan

(14)

4. Ketentuan yang mengatur mengenai persaksian tidak diatur secara khusus dalam

delik perzinahan menurut KUHP. Maka system pembuktian delik perzinahan sama

dengan sistem pembuktian delik-delik yang lain. Artinya, alat bukti yang digunakan

dalam pembuktian adanya perbuatan zina ini seperti alat-alat bukti yang telah diatur

dalam pasal 184 KUHAP, yaitu :

a. keterangan saksi; b. keterangan ahli; c. surat;

d. petunjuk;

e. keterangan terdakwa.

Selanjutnya pasal 185 ayat (3) mengatur bahwa keterangan seorang saksi saja

cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan

kepadanya apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.

Ketentuan seperti ini berbeda dengan ketentuan mengenai delik perzinahan dalam

hukum pidana Islam. Hukuman (had) dapat dijatuhkan apabila ada pengakuan dari pelaku

bahwa dia telah melakukan zina atau dari keterangan saksi. Karena menyangkut hidup dan

matinya seseorang, keterangan saksi ini mempunyai persyaratan-persyaratan yang khusus,

yaitu:

1. jumlah saksi harus empat orang laki-laki atau apabila tidak ada orang laki-laki maka setiap orang laki-laki hanya dapat digantikan oleh dua orang wanita;

2. saksi-saksi itu haruslah sudah baligh, berakal sehat dan bersikap adil; 3. saksi-saksi itu harus beragama Islam;

4. keempat orang saksi itu mengetahui peristiwa perzinahan secara mendetail.16

Dapat diketahui, Pasal 284 ayat (2) KUHP mengatur bahwa delik perzinahan

adalah delik aduan absolut (absoluut klachdelicten) yang hanya dapat dituntut

       16

(15)

atas pengaduan suami atau isteri dengan adanya perzinahan itu (vide pasal 284

ayat (2) KUHP). Hal ini berbeda dengan dengan hukum pidana Islam yang tidak

membatasi pada aduan absolut. Hukum pidana Islam tidak memandang zina

sebagai delik aduan, tetapi dipandang sebagai dosa besar yang harus ditindak

tanpa menunggu pengaduan dari orang-orang yang bersangkutan. Jika persyaratan

saksi-saksi telah terpenuhi maka qodhi (hakim ) dapat memutuskan perkara

perzinaan itu. Saksi di sini tidak menutup kemungkinan dari suami/isteri pelaku

atau pun orang lain.

E.PENUTUP 1. Kesimpulan

Pebandingan dalam pengaturan delik zina antara KUHP dan Hukum Pidana

Islam, dapat diambil suatu kesimpulan :

a. Menurut KUHP, zina hanya dapat terjadi bila ada persetubuhan antara kedua

orang pelaku (pria dan wanita) telah kawin, atau salah satu dari keduanya telah

terikat perkawinan dengan orang lain. Sedangkan Hukum pidana Islam, tidak

mempersoalkan apakah pelaku-pelakunya telah diikat perkawinan dengan orang

lain atau belum. Setiap persetubuhan di luar perkawinan yang sah adalah zina.

Kemudian dalam pasal 284 KUHP, sanksi pidana bagi pembuat (Pelaku) hanya

diancam hukuman penjara paling lama 9 bulan. Sedangkan menurut hukum

pidana Islam, ancaman pidana disesuaikan dengan pelaku perzinaan. Jika

pelaku zina itu muhsân atau telah menikah maka ancaman pidananya adalah

(16)

belum menikah (gâiru muhsân) maka ancaman pidananya adalah dicambuk

atau didera sebanyak delapan puluh kali kemudian diasingkan (demi

menghapus hukuman diakhirat). Kemudian, didalam hukum pidana Islam diatur

mengenai keterangan saksi. ketentuan-ketentuan saksi mempunyai

persyaratan-persyaratan yang khusus. Sementara Ketentuan yang mengatur mengenai

persaksian tidak diatur secara khusus dalam delik perzinahan menurut

KUHP.Dalam RUU KUHP, ada beberapa pandangan pakar hukum tentang zina

yang masih merujuk pada KUHP (WvS) dan hukum islam. Dalam pasal 484

RUU KUHP, konsep zina secara substansi tidak ada perbedaan dengan pasal

284 KUHP.

b. Dalam RUU KUHP, ada beberapa pandangan pakar hukum tentang zina yang

masih merujuk pada KUHP (WvS) dan hukum islam. Dalam pasal 484 RUU

KUHP, konsep zina secara substansi tidak ada perbedaan dengan pasal 284

KUHP. Yang berubah hanya sanksi pidana penjara selama 5 tahun. Tindak

pidana perzinaan yang diatur dalam RUU KUHP, terdapat beberapa perluasan

pengaturan perbuatannya di bandingkan dengan KUHP yang sekarang ini yaitu,

Perzinaan dalam konteks RUU KUHP telah mencakup perbuatan ”laki-laki dan

perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah

melakukan persetubuhan. Akan tetapi tidak cukup sampai disini, pemerintah

serta para ahli hukum Perlu mencermati rancangan KUHP tersebut dan

memberi masukan yang dapat dipertimbangkan dalam memperbaiki rancangan

(17)

sekular dan warisan cara berpikir kolonial Belanda masih tetap sulit dihapuskan

dari pemikiran kita. Agama tidak menjadi bagian penting dalam perumusan

draft rancangan KUHP, karena masih banyak pasal-pasal tersebut yang tidak

sejalan dengan agama—dalam hal ini Islam—yang dianut oleh mayoritas

penduduk Indonesia. Islam masih dipandang belum menjiwai masyarakatnya

dan ajaran-ajaran hukum pidana Islam masih belum mewarnai draft rancangan

KUHP.

2. Saran

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penyelesaian draff tesis ini, penulis

hendak menyampaikan beberapa saran, sebagai berikut :.

a. Sebaiknya Rancangan Undang-undang KUHP, memuat secara detail tentang

ungkapan pengertian zina (mukah), dan juga harus menyebutkan kata ”telah

melakukan perbuatan zina (mukah)” . Begitu juga dengan sanksi pidana,

pembuatnya harus dihukum berat yang bertujuan memberikan efek jera bagi

masyarakat. Oleh sebab itu, penyesuaian pengaturan unsur-unsur delik zina

antara KUHP dan hukum Islam dalam sanksi pidana tersebut, harus dilakukan.

b. Cara berpikir sekular yang memisahkan agama (Islam) dari dalam sistem

kehidupan masyarakat ini yang harus segera dibuang jauh-jauh. Karena itu,

langkah strategis yang perlu ditempuh dalam mentransformasi pidana Islam ke

sistem hukum nasional adalah menghapus trikotomi hukum Adat, Barat dan

hukum Islam dalam masyarakat Indonesia. Selanjutnya, masyarakat Indonesia,

(18)

Islam. Barulah kemudian kita menumbuhkan kesadaran masyarakat (ummat

Islam) tentang pentingnya syariat Islam diterapkan dalam kehidupan bangsa

Indonesia. Selanjutnya, umat Islam sudah memiliki kesiapan untuk

memasukkan unsur-unsur pidana Islam ke dalam KUHP Indonesia. Ini

merupakan kerja besar yang membutuhkan persatuan dan kekompakan seluruh

(19)

Daftar Pustaka

Adi, Riyanto. Metodologi Penelitian Sosiologi dan Hukum, Granit, Jakarta, 2004.

Ahmad ar-razi al Jashshos, Imam Abi Bakr, Ahkaamul Qur’an, Beirut. Dar- al Fikri, 3, 1993.

Al-mannan , Imam Ibnu, tafsir Kalaam Al-Mannan, Beirut, Dar- al Fikri, Jilid 4, 1943.

Bahiej, Ahmad, Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009,

Tinjauan Delik Perzinahan dalam Berbagai Sistem Hukum dan Prospeknya dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia,

www.abook.co.id. 22-01-2010.

Dading, Hukum Pidana Bagian Khusus (BukuII). Alumni, Bandung, 1982.

Harjono, Hukum Islam Keluasan Dan Keadilannya, Bulan Bintang, Jakarta,1968 Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Petunjuk Penulisan Usulan

Penelitian dan Tesis, Yogyakarta. 2001

Sabiq, Sayyid, Fikih Sunnah 9. Al-Ma’arif, Bandung. 1990.

Sri mamudji, Soerjono Soekanto Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, edisi, Pertama, Raja Grafindo Persada, Jakarta.2007

Suharsimi, Arikunto,Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, cet. Ke-12, Jakarta: PT. Asdi Mahasatya,2002

Zaenal Asikin, Amiruddin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2004.

Lain – lain:

Al-Qur'an dan Terjemahannya, Penerbit Diponegoro, Bandung. 2005.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pertanggungjawaban pelaku yang termasuk pada Pasal 55 KUHP pada penyertaan sama saja dengan pelaku tunggal ( dader ).

Fenomena tersebut belum sesuai dengan ketentuan hukum positif yang selain mengharuskan terpenuhinya syarat sahnya perkawinan menurut agama sebagaimana yang diatur

Ketentuan dalam Pasal 284 KUHP yang membatasi bahwa tindakan pidana hanya … tindakan seksual yang dilakukan di luar perkawinan yang dilakukan oleh orang yang telah terikat

Di jelaskan bahwa, ketentuan Pasal 284 ayat (2) KUHP berisi bahwa undang-undang menetukan terhadap pelaku tindak pidana-tindak pidana perzinaan yang diatur dalam

Aturan KUHP lama khususnya yang berkaitan dengan perzinahan tidak sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia, sehingga seringkali perbuatan perzinahan yang sesungguhnya

perkosaan karena perkosaan terjadi disaat terjadi penetrasi dan dapat terjadi terhadap mereka yang tidak terikat dalam perkawinan. Dalam KUHP belum ada pasal

(menurut hukum adat) adalah suatu perbuatan persetubuhan yang dilakukan oleh laki- laki dan perempuan yang masing – masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah

Jika dikomparasikan dengan rumusan delik penyertaan dalam memberikan bantuan yang telah diatur dalam KUHP, terlihat rumusan tindak pidana di dalam Pasal 252 memang tidak tegas,