1
REFLEKSI DARI JOURNAL
“The Case Analysis of the Scandal of Enron” By Yuhao Li
A. PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN
Pada kasus perusahaan ENRON yang tertera pada jurnal, pendekatan yang
digunakan adalah Pendekatan Budaya.
Ketika Organisasi mengalami perkembangan yang dinamis, terdapat sedikit
keraguan apakah budaya yang dimiliki adalah salah satu dari Kepercayaan diri atau
Agresifitas. Jika organisasi yang sudah memiliki kesuksesan tinggi, dan dapat menguasai
perkembangan pasar Manajer dan pegawai sering mengembangkan budaya yang kuat yang
disebut otonomi dan kewirausahaan. Bagaimanapun, analisis Enron dipahami bahwa
kebudayaan dari “kepercayaan diri dan Kesombongan” dari kebudayaan ini menjadi sebuah
“Kecongkakan dan kesombongan” yang melebur bersama isu keuangannya, akuntansi dan
perkembangan bisnis yang menjadi sebuah kecelakaan dramatis di sejarah korporasi di
Amerika yang pada awalnya kekuatan Budaya Organisasi di Perusahaan ENRON adalah
inovasi dan keberanian mendapatkan resiko yang akhirnya membawa perusahaan pada
permasalahan.
Menurut Decanowsky dan O’Donnel Trujillo (1983) “Setiap organisasi memiliki
cara sendiri untuk menentukan apa yang dilakukan dan cara sendiri berbicara tentang apa
yang harus dilakukan”, Enron Company memiliki budadya organisasi yang melebur dengan
konsep di “atas awan “, ketika perusahaan Enron memiliki posisi yang sangat baik atau
berada di atas dan menguasai pemasaran di Amerika, membuat mereka menanamkan
kepercayaan diri, salah satunya memberikan kesempatan kepada para karyawan untuk
2
Sedangkan menurut Edgar Schein (1992) “Budaya sebagai asumsi, nilai-nilai,
perilaku dan artefak yang diperlihatkan dalam organisasi sebagai upaya untuk beradaptasi
dengan lingkungan internal dan Eksternal”. Pada perusahaan Enron, pada pendapat hasell
(2001 pla) diawali dari “Houston Chronicle” Artikelnya, dengan melihat “jika keruntuhan
yang luar biasa dari perusahaan Houston telah dituliskan seperti cerita detektif, terdapat
kekurangan dari petunjuknya untuk mencari orang yang melakukan kejahatan di belakang itu
semua “Hal ini bisa diterapkan atau dipandang dari budaya organisasi seperti pada Enron.
Dimana perubahan organisasi menjadi baik atau buruk didasarkan dari pelurusan pesan,
pemahaman atau cerita, perilaku dan nilai-nilai untuk menemukan bagaimana petunjuk
pelaksanaan dari organisasi.
B. NILAI YANG DIGUNAKAN DAN ASUMSI YANG DI GARIS BAWAHI
1. Karyawan dengan keadaan yang naik dan turun atas hirarkinya seperti pada
perusahaan Enron ini diterapkan pada cara “kesombongan” atas perilakunya
setelah mereka terlena pada pendapat Hessell (2001,p.29a) menjelaskan bahwa
“Arogansi di Enron menjadi kekuatan yang jelas” perilaku seperti ini memberikan
perlakuan eksekutif terhadap karyawannya, dan para pekerja tersebut
mempercayai bahwa mereka dapat mengontrol segalanya, walaupun proyek yang
dipandang kepada pengamatan luarnya.
2. Sistem penghargaan di Enron, secara Inisial didasarkan oleh kinerja group dan
tim, yang semakin meningkat dan mengandalkan pada kinerja individual, ketika
Jefrey Skilling sebagai CEO salah satu kinerjanya mengadopsi dan menyimpulkan
proses menjadi sebutan atas “Rank dan Yank” atau “Pangkat dan Sentakan”
(Hassell, 2001) dalam Miller (2004). Pada sistem ini karyawan member pangkat
pada masing-masing/ saling member pangkat yang kemudian dikombinasi yang
3
pendapat bahwa pembentuk Enron karyawan pada sistem ini : “Dikarenakan
penilaian rangking secara masing-masing maka mereka dapat saling menikam
sesame karyawan”.Hal tersebut dapat dikatakan bahwa, penerapan budaya
organisasi dan perusahaan Enron ini dapat membuat tikaman sendiri untuk
menjerumuskan Enron pada masalah, yang dilihat dengan pemberian
kebebasankepada karyawannya, untuk menilai, memutuskan, bahkan memberikan
kesempatan kepada karyawan untuk membeli saham perusahaan itu sendiri
sehingga mempengaruhi sistem finansial dari perusahaan tersebut sehingga
bangkrut atau mendapatkan masalah.
3. Pada sistem pemberian hadiah kepada karyawan juga menyoroti bagaimana
karyawan menyelesaikan sendiri, dan mendapatkan bonus dan promosi bagi
mereka yang memiliki posisi penting dari setiap tahunnya, hal tersebut membuat
karyawan menutup matanya kepada focus/konsentrasi/tugas pokok dan fungsinya
atas posisi yang mereka duduki pada perusahaan tersebut. Hal ini dapat diartikan
bahwa penerapan hadiah/sistem reward yang dilakukan karyawan dapat membuat
karyawan dapat memberikan sedikit kesempatan untuk melepaskan
tanggungjawab dari pekerjaannya, karena dari kebebasan tersebut , dapat memebri
kesempatan memperkaya diri hingga sedikit menyimpang dari tujuan organisasi
karena pekerjaan yang dibebani sedikit terabaikan.
C. SUBKULTUR DI ENRON
Aspek – Aspek yang beraneka ragam diperusahaan Enron pada dasarnya saling
memiliki keterkaitan, penerapan budaya di perusahaan Enron tidaklah semua salah
atau buruk. Subkultur di perusahaan Enron dapat terdeferensiasi dan perlunya
pendalaman kembali bagaimana subkultur di Enron.
Bagi penulis, tidak semua penerapan sistem budaya organisasi di Enron dianggap
Buruk, atau salah satunya adalah penerapan sistem kompetisi, sistem modernisasi dan
4
terapkan dapa karyawan ini sedikit berlebih dan tidak seimbang dengan pengawasan
yang diberikan. Penerapan tersebut terstimultan menjadi budaya organisasi, sehingga
mempengaruhi karyawan menjadi sangat kritishingga berebihan dan bertujuan
memperkaya sendiri sehingga tujuan organisasi tidak tercapai, atai terkesampingkan.
Hal tersebut dapat dipahami saat karyawan diberikan kesempatan menanamkan
investasi saham diperusahaannya sendiri dan masing-masing member penilaian atas
dirinya sendiri.
Kasus yang terjadi pada perusahaan Enron sangatlah menarik dan dapat dijadikan
tinjauan bagi penerapan sistem budaya pada organisasi-organisasi yang lain. Hal
tersebut artinya pelajaran yang diberikan kasus ini dapat membuat referensi konflik
pada organisasi. Sehingga upaya menghindari konflik dapat menciptakan
alternative-alternatif dan solusi yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bovee, Courtland L. & Thill, John V. 2008. Business Communication
Today. Pearson International edition.
2. Miller, Katherine. 2012. Organizational Communication: Approaches
and Processes. 6th Ed. Boston: Wadsworth Cengage Learning