466
Pengaruh Iklan Televisi Terhadap Keputusan Pembelian Televisi Merek Polytron di Kota Banda Aceh
Mujiburrahman, S.Pd.I, M.M
Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Indonesia Banda Aceh
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh iklan televisi terhadap keputusan pembelian televisi merek polytron di Kota Banda Aceh. Pengumpulan data dilakukan dengan mengedarkan daftar pertanyaan
kepada sebanyak 100 orang responden yang diambil secara purposive sampling dari lima kecamatan di Kota
Banda Aceh. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan peralatan statistik analisis regresi linier sederhana. Hasil pengolahan data menunjukkan persamaan Y = 1,603 + 1,083X. Hal ini berarti peningkatan frekuensi iklan/keyakinan responden terhadap iklan televisi berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Nilai koefesien korelasi (r) sebesar 0,973 yang dapat diartikan bahwa hubungan antara variabel independen (iklan televisi) dengan variabel dependen (keputusan pembelian televisi merek polytron) sangat kuat. Nilai koefesien determinasi (r2) sebesar 0,948 dapat diartikan sebesar 94,8% keputusan pembelian televisi merek polytron dipengaruhi oleh iklan televisi. Dari hasil pengolahan data diketahui nilai t hitung sebesar 42,097 sedangkan nilai t tabel pada tingkat keyakinan sebesar 95% yaitu 1,984. Karena nilai t hitung > t tabel (42,097 > 1,984) maka hipotesis yang menyatakan bahwa iklan televisi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk televisi merek polytron dapat diterima. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah iklan televisi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian televisi merek polytron itu sendiri.
Kata Kunci : Keputusan Pembelian dan Iklan Televisi
Latar Belakang Masalah
Periklanan memegang peranan yang sangat penting bagi kemajuan suatu perusahaan. Hal ini
disebabkan periklanan secara langsung
merupakan salah satu alat penghubung antara
produsen dengan konsumen yang akan
mengkonsumsi barang yang telah diproduksikan. Tanpa adanya iklan adalah suatu hal kurang mungkin bagi suatu perusahaan dapat eksis dalam memasarkan produk yang dihasilkannya. Apalagi dalam kondisi pasar yang sangat kompetitif seperti saat sekarang ini.
Mengingat betapa penting peranan iklan dalam proses pemasaran maka tidak salah kiranya setiap perusahaan yang ingin mendapatkan pangsa pasar yang luas mengiklankan produknya secara terus menerus, bahkan ada perusahaan yang telah mengiklankan produk yang sebenarnya belum atau masih dalam proses produksi. Jadi apapun bentuk iklan yang disampaikan oleh suatu perusahaan baik melalui media elektronik maupun media cetak tujuannya tidak lain adalah berupa usaha persuasif guna mempengaruhi calon
konsumen untuk membeli produk yang
ditawarkan.
Semakin baik penyampaian informasi
keberadaan suatu produk bagi seorang konsumen tentunya akan semakin baik persepsi yang akan terbentuk. Selanjutnya hal ini akan berpengaruh
pada keputusan pembelian suatu produk.
Sebaliknya apabila informasi yang ditayangkan melalui iklan tidak dapat membentuk persepsi yang baik bagi konsumen terhadap suatu produk, hal tersebut tentunya akan menimbulkan pengaruh negatif terhadap minat masyarakat dalam membeli produk.
Penelitian yang dilakukan oleh ahli
pemasaran menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara iklan dengan keputusan
pembelian produk tertentu oleh konsumen. Barangkali hal ini juga berlaku untuk semua produk. Apalagi produk tersebut merupakan barang subsitusi dari produk lainnya. Iklan yang disampaikan oleh perusahaan konsumen salah satu produk tentunya akan sangat berpengaruh pada perkembangan penjualan dalam pasar yang sangat kompetitif. Apalagi masyarakat juga punya banyak pilihan produk dengan manfaat yang ditawarkan hampir sama. Baik burukanya persepsi yang terbentuk dari iklan yang disampaikan oleh satu perusahaan akan dipengaruhi iklan produk yang sama dari perusahaan lain.
467
sebagai produk yang sangat sering diiklankan melalui media televisi. Begitu juga halnya dengan televisi merek lain seperti samsung, national, dan
lain sebagainya. Hasil pengamatan
memperlihatkan bahwa televisi polytron diiklan melalui televisi swasta yakni RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia).
Fenomena yang terlihat dalam hubungannya
dengan pembelian produk televisi oleh
masyarakat di Kota Banda Aceh, mereka tidak
hanya membeli produk tertentu. Banyak
masyarakat yang membeli produk televisi merek polytron, akan tetapi tidak sedikit pula diantara mereka yang membeli televisi merek lain. Bahkan dapat ditemukan dalam satu keluarga memiliki dua televisi dengan merek yang berbeda. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iklan televisi terhadap televisi merek polytron di Kota Banda Aceh.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Kedudukan Periklanan Dalam Sistem Pemasaran
Perikalanan adalah suatu alat kemunikasi
pemasaran yang utama. Seorang manajer
komunikasi pemasaran perlu mengetahui
bagaimana menyusun tim yang dapat menciptakan iklan yang berhasil, karena iklan diharapkan dapat memainkan peranan kunci dalam pemasaran strategis (Anderson dan Rubin, 2000:422).
Iklan (periklanan) adalah salah satu unsur
pokok dari bauran promosi (promotion mix)
disamping ketiga unsur lainnya; penjualan tatap
muka (personal selling), promosi penjualan (sales
promotion) dan publistas (publicity). Selanjutnya promosi eksplisit (explicit promotion) merupakan salah satu unsur pokok yang bersama ketiga unsur lainnya; produk (product), distribusi (place) dan
harga (price), membentuk bauran pemasaran
(marketing mix).
Produk, harga dan distribusi (tempat
penjualan) adalah aspek instrinsic yang sekaligus merupakan promosi implisit. Sedangkan promosi eksplisit biasanya mengkonsumsikan tentang penawaran produk tanpa kehadiran produk itu secara fisik. Promosi eksplisit dapat (1) membantu agar sesuatu produk dikenal luas dan mudah
dibeli, (2) “menekan” calon pembeli untuk
mencoba sesuatu produk sehingga produk itu
sendiri diharapkan dapat berbicara, (3)
mendorong pemberi pengaruh (influencer) untuk
merekomendasikan merek produk yang
dipromosikan, (4) mendramatisir manfaat produk sehingga pelanggan lebih yakin lagi dengan produk yang bersangkutan, (5) mengingatkan
pelanggan tentang keunggulan-keunggulan dan kegunaan produk untuk merangsang mereka membeli lagi produk yang sama, dan (6) memberikan gambaran yang kokoh bagaimana keunggulan produk itu dapat meningkatkan gaya hidup seseorang (Dommermuth, 2001:42).
Promosi eksplisit melibatkan teknik-teknik, masih dalam kontrol penjual, yang dapat mengkonsumsikan informasi secara persuasif tentang produknya kepada pembeli potensial (Dommermuth, 2001:2). Iklan (periklanan), yang merupakan kajian sentral, merupakan salah satu isu penting dari promosi eksplisit.
Iklan Televisi
Televisi merupakan sebuah media yang memiliki kekuatan karena ia mampu menunjukan tindakan dan imajinasi kebenaran yang tinggi. Televisi merupakan media visual; yang ia juga berperan sebagai media audio visual, artinya dengan kemampuan yang digunakan, anda mempunyai seluruh kekuatan audio, ditambah
dengan komunikasi visual yang sebenarnya”
(Moriaty, 2001:297).
Kutipan di atas menunjukan betapa
berdayanya iklan televisi bila dibandingkan dengan iklan media cetak. Di Inggeris televisi telah menjadi media iklan utama sejak dasawarsa 1950-an.l (Jefkins, 2006:106). Namun demikian, bukan berarti iklan televisi tidak mempunyai kelemahan sama sekali. Seperti halnya jenis iklan lain, iklan televisi juga mempunyai keunggulan-keunggulan dan kelemahan-kelemahan tersendiri, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Keunggulan.
1) Kesan realistik. Karena sifatnya yang
visual dan merupakan kombinasi warna-warna, suara dan gerakan, maka iklan televisi begitu hidup dan nya. Kelebihan ini tidak dimiliki oleh media lain, kecuali iklan bioskop yang juga pamornya sekarang jauh menurun (kedudukannya sebagai media iklan juga telah merosot sejak ada televisi). Dengan kelebihan ini, para pengiklan dapat menunjukan dan
memamerkan keunggulan produknya
secara rinci. Jika produk itu adalah shampo sunsilk, maka pengikalan dapat menunjukan kekhasannya secara jelas sehingga pada konsumen akan dengan
mudah mengenalinya di toko-toko.
Sekalipun ingatan konsumen terhadap apa yang telah diiklankan selalau timbul tenggelam, namun iklan visual akan
menancapkan kesan yang lebih
468
begitu melihat produknya, akan segera teringat iklan televisi. Pengaruh ini dapat diperkuat lagi, jika pembuatan iklannya
dilakukan dengan teknologi grafis
komputer.
2) Masyarakat lebih tanggap. Karena iklan di
televisi disiarkan di rumah-rumah dalam suasana serba santai atau kreatif, maka masyarakat lebih siap untuk memberikan perhatian (dibandingkan dengan iklan poster yang dipasang di tengah jalan, masyarakat sibuk memikirkan sesuatu, menuju suatu tempat atau tengah bergegas ke kantor tentunya tidak akan sempat memperhatikannya). Perhatian terhadap iklan televisi akan semakin besar, jika materinya dibuat dengan standar teknis yang tinggi dan atau menggunakan
tokoh-tokoh ternama sebagai pamerannya
(sekurang-kurangnya seorang aktor atau aktris yang dapat menyajikan produk secara otentik).
3) Pengulangan (repitis). Iklan televisi dapat
ditayangkan hingga beberapa kali dalam
sehari sempai dipandang cukup
bermanfaat yang memungkinkan
sejumlah masyarakat menyaksikannya.
Dan dalam frekuensi yang cukup
sehingga pengaruh iklan itu bangkit. Dewasa ini para pembuat iklan televisi tidak lagi berpanjang-panjang. Mereka justru membuat iklan televisi yang sesingkat mungkin namun semenarik
mungkin, agar ketika ditayangkan
berulang-ulang, para pemirsa tidak segera bosan.
4) Ideal bagi para pedagang enceran. Iklan
televisi dapat menjangkau kalangan pedagang enceran sebaik menjangkau para konsumen. Selain karena pedagang enceran yang juga menonton televisi seperti juga orang lain, mereka juga menyadari bahwa iklan televisi memang sangat membantu usaha mereka, bahkan seolah-olah iklan itu ditujukan semata-mata kepada mereka. Iklan televisi
merupakan sesuatu yang membuat
dagangan mereka laku. Pedangan enceran tahu jika sesuatu diiklankan di televisi, maka permintaan konsumen atas barang yang diiklankan itu akan meningkat sehingga stok dagangan mereka akan jauh lebih muda terjual. Perwakilan dagang dari suatu perusahaan kadang-kadang sulit untuk menjual atau menitipkan produk-produknya kepada para pedagang enceran
jika mereka tidak dapat memberi jaminan bahwa produk itu akan diiklankan di televisi. Pengiklanan di televisi bahkan menjadi keharusan jika si produsen
berhubungan dengan perusahaan
supermarket yang mempunyai ratusan toko. Peredaran barang harus berlangsung secara tepat, dan tidak ada yang lebih mampu mempercepat peredaran barang dagangan itu selain iklan televisi.
5) Erat kaitannya dengan media lain.
Tayangan iklan televisi mungkin saja terlupakan begitu saja, tetapi kelemahan ini dapat diatasi dengan memadukannya dengan wahana iklan lain. Jika konsumen memerlukan informasi lebih lanjut, atau mereka perlu sarana pengembalian atau keterangan tentang kupon, hal ini dapat dipadukan dengan iklan di majalah-majalah mingguan, tabloid atau suarat kabar, terutama yang mengulas acara-acara televisi. Iklan-iklan semacam ini dapat merujuk penjelasannya pada iklan-iklan yang ditayangkan di televisi. Iklan televisi juga dapat menawarkan layanan jasa telepon, seperti iklan TV Media.
6) Berbeda dari media cetak, televisi sudah
merupakan hiburan rumah tangga dan pusat berita serta sudah menjadi barang umum yang mudah dijumpai dimana-mana, baik di kota maupun di desa, sehingga kemungkinan dilihatnya iklan televisi lebih besar daripada iklan media cetak.
7) Jangkauan (reac) iklan televisi luas,
sehingga CPM (biaya satu kali
pemasangan/penayangan iklan x
1000)/(jumlah penonton yang melihat iklan tersebut) menjadi lebih murah, walaupun jumlah uang yang dikeluarkan lebih banyak.
8) Dampak iklan televisi lebih kuat karena
penonton dapat melihat sendiri sambil mendengar.
9) Lebih menarik bila dibandingkan dengan
iklan media lain, iklan televisi lebih menarik karena gambarnya bergerak, memiliki warna yang indah, suara yang merdu, modal yang cantik, bahkan jinggel yang enak didengar. Kesemuanya ini merupakan daya tarik tersendiri.
b. Kelemahan
469
iklan. Hal ini antara lain dikarenakan, selain memiliki kelebihan-kelebihan, iklan televisi juga mempunyai berbagai kelemahan dan keterbatasan antara lain sebagai berikut (Jefkins, 2006:113).
1) Televisi cenderung menjangkau pemirsa
secara massal, sehingga pemilahan untuk kepentingan penentuan pangsa pasar
tertentu sulit dilakukan. Pihak
pengiklanan dapat lebih selektif dalam
membidik pangsa pasar yang
dikehendakinya bila menggunakan media pers.
2) Jika yang diperlukan calon pembeli
adalah data yang lengkap mengenai suatu produk atau perusahaan pembuatnya,
maka televisi tidak akan dapat
menandingi media cetak dalam hal ini.
3) Hal-hal kecil bisa dan biasa dikerjakan
banyak orang sambil menonton televisi, sama seperti ketika sedang mendengarkan
siaran radio. Akibatnya konsentrasi
mereka seringkali terpecah dan tidak sepenuhnya mengikuti pesan yang sedang disampaikan oleh iklan televisi.
4) Kemungkinan “Zapping” menambah
peluang bagi pemirsa untuk menonton siaran iklan televisi. Seseorang pemirsa yang merasa terganggu dengan siaran iklan akan dapat menyingkir dari iklan
tersebut, setidak-tidaknya mematikan
suaranya, atau mengganti saluran hanya dengan menekan tombol mempercepat pada alat kontrol tersebut, sehingga iklan-iklan televisi itupun terlewati begitu saja.
5) Karena pemirsanya yang sulit
dipilah-pilah, maka iklan televisi justru terbilang mahal.
6) Karena pembuatan iklan televisi
membutuhkan waktu yang relatif lama, maka ia tidak cocok untuk iklan-iklan khusus atau yang bersifat darurat yang harus disiarkan sesegera mungkin.
7) Pemakaian orang/aktor/aktris yang sama
secara berlebihan akan menjadikan
pameran (model) yang bersangkutan terjebak sebagai figur yang membosankan
pemirsa, selain juga dapat
membingungkan pemirsa, siapa
mengiklankan apa. Di Indonesia, salah satu model yang dapat diambil sebagai contoh dalam hal ini adalah Rano Karno yang memerankan sedikitnya 17 buah iklan antara lain: pesawat televisi, lemari es, tekstil, kain sarung, pakaian dalam, sandal , obat pilek, obat sakit mag,
balsem, jamu, mie instan, es krim, fast food, kendaraan bermotor, oli, obat anti nyamuk dan iklan layanan masyarakat.
8) Iklan yang berulang-ulang di televisi juga
dapat membosankan pemirsa.
9) Resiko yang timbul akibat jatuhnya citra
modal yang digunakan untuk iklan televisi.
10)Teknik pengiklanan televisi lebih ruwet
dibandingkan dengan periklanan media lain.
11)Biaya produksi iklan televisi menjai lebih
tinggi apabila hanya diperuntukan bagi audiens atau target pasar tertentu.
12)Bagi orang-orang yang sibuk, seperti para
pengusaha, pejabat dan sebagainya,
biasanya hampir tidak ada waktu untuk
menonton televisi sehingga mereka
kurang terjangkau oleh iklan televisi.
Pengambilan keputusan dan perilaku konsumen
Keputusan membeli tidak terlepas dari masalah perilaku konsumen. Prilaku konsumen sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perilaku manusia secara umum, karena perilaku konsumen merupakan suatu manifestasi dari perilaku manusia dengan segala
macam kebutuhan, keinginan, dan
keterbatasannya. Mereka yang memiliki
pendapatan rendah harus membuat keputusan, barang atau jasa yang mana yang akan diprioritaskan untuk dibeli, mana yang dapat ditunda, dan mana pula yang dapat diganti dengan produk pengganti (subsitusi) serta mana yang tidak perlu dibeli sama sekali.
Mowen (2005:5) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai kajian tentang satuan pembeli (buying units) dan proses pertukaran (exchange
processes) yang terlibat dalam mencari
(acquaring), memakai (consuming) dan
menghentikan pemakaian (disposing) barang, jasa dan pengalaman dan ide.
Menurut Kotler (2004: 177), inti perilaku
konsumen adalah bagaimana konsumen
470
Hubungan antara proses pengambilan keputusan membeli dan periklanan
Selama tahun 1970-an sampai awal 1980-an, para peneliti cenderung memandang konsumen sebagai seorang pengambil keputusan. Dari perspektif ini, pembelian beawal dari konsumen merasa adanya masalah yang perlu dipecahkan dan kemudian bergerak maju melalui proses pemecahan masalah yang rasional. Apabila melakukan pembelian, konsumen akan menjalani serangkaian langkah, antara lain mencakup
penentuan masalah (problem recoganition),
pencarian (reach), penilaian alternatif (alternative evaluation), penentuan pilihan (choice) dan evaluasi pasca pembelian (post acquisition evaluation) (Mowen, 2005:13).
Tahapan proses pengambilan keputusan membeli meliputi: (1). pengenalan masalah, (2). Pencarian informasi, (3). Penilaian alternatif, (4). Keputusan membeli, dan (5) perilaku setelah membeli, (Kotler, 2007:212).
Adapun peranan iklan dalam proses
pengambilan keputusan membeli terletak pada tahap pertama, kedua dan ketiga, yaitu pengenalan masalah/kebutuhan, pencarian informasi dan evaluasi alternatif. Tidak jarang bahwa kebutuhan itu baru timbul setelah adanya ransangan dari
iklan. Demikian juga untuk mendapatkan
informasi yang dibutuhkan, seorang konsumen antara lain akan mencari iklan sebagai salah satu sumber informasi. Dari informasi yang terkumpul tersebut konsumen akan melakukan penilaian di antara beberapa alternatif, produk/merek mana yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhannya dalam upaya pemecahan masalah yang sedang dihadapinya.
Pengaruh periklanan terhadap pengambilan keputusan membeli
Anderson dan Rubin (2000:133,422)
menyebutkan bahwa iklan adalah suatu alat komunikasi pemasaran yang paling utama. Iklan diharapkan memainkan peranan kunci dalam pemasaran strategis. Lilien et al. (2002:263) mengungkapkan bahwa salah satu alat promosi yang paling penting dan sering dipakai dalam manajemen pemasaran modern adalah periklanan. Tidak ada keraguan bahwa iklan adalah efektif dalam penyampaian informasi kepada pembeli potensial. Juga diakui secara meluas bahwa iklan bersifat persuasif dan dapat meningkatkan kegemaran seseorang terhadap suatu produk.
Dalam pesawat udara, seseorang
menanyakan kepada pemilik perusahaan permen karet yang kebetulan duduk disampingnya mengapa ia tetap mengiklankan produknya begitu
gencar, padahal perusahaan itu sudah sangat sukses sebagai pembuat permen karet di dunia.
Pemilik perusahaan itu menjawab, “Sama saja
seperti pilot pesawat ini, ia tetap menghidupkan mesin pesawatnya sementara kita sudah berada di
udara”. (Lenehan, 2006:4).
Khasali (2006:4) menyebutkan bahwa sebuah riset di Amerika Serikat membuktikan bahwa dalam kondisi resesipun, biaya iklan tak perlu dikurangi. Riset tersebut dilakukan terhadap 95 perusahaan yang memotong anggaran iklannya
selama resesi. Kelompok pertama hanya
kehilangan penjualannya sebanyak 2%, sedangkan kelompok kedua kehilangan 10%. Pada tahun berikutnya kelompok kedua kehilangan lagi penjualannya sebesar 12%, padahal mereka sudah menaikan kembali anggaran iklannya. Lebih lanjut Khasali mengutip pendapat Rogers dan
Showmaker proses membuat keputusan
pembelian terdiri dari pengetahuan, bujukan, pembuatan keputusan dan akhirnya tindakan pembelian. Nah, dalam proses pembuatan keputusan pembelian tersebut, iklan memainkan peranan penting.
Dommermuth (2001:46) mengatakan bahwa sebagian besar periklanan berupaya untuk mengubah sikap orang dan untuk mendorong mereka agar membeli produknya pada masa yang akan datang.
Sementara itu Moriarty (2001:5),
mengemukakan ruang lingkup iklan sebagai sebuah percakapan biasa, namun seperti seni bahasa lainnya, iklan bisa juga berbentuk sastra atau barangkali berbentuk puisi. Umumnya, iklan menuturkan bahasa yang sama seperti yang kita pakai untuk mempengaruhi seseorang yang kita kenal tentang sesuatu-dengan memakai bahasa pasaran, kecerdasan dan keahlian menjual. Seorang legendaris David Oligy, pendiri biro
iklan yang memakai namanya sendiri,
menjelaskan pandangannya tentang perikalanan;
“Saya selalu mencari alasan untuk duduk
disamping seorang wanita pada pesta makan malam, dan di meminta nasehat saya tentang produk apa yang sebaiknya ia beli. Kemudian saya tulis apa yang ingin saya katakan kepadanya. Saya memberikan fakta, fakta dan fakta. Saya coba membuatnya, mempesona, jika mungkin, personal- saya tidak menulis kepada orang ramai. Saya berusaha menulis dari seorang manusia
kepada seorang manusia lain……… dan saya berusaha untuk tidak membosankan wanita itu dan membuatnya seril dan sepersonal mungkin.
Iklan merupakan salah satu unsur dalam menentukan sukses tidaknya suatu produk di
471
mempengaruhi keputusan seseorang untuk
membeli atau tidak membeli suatu produk termasuk juga produk televisi yang salah satunya adalah televisi merek polytron.
Sementara itu, Dalrymple dan Parsons (2005:769) mengungkapkan bahwa periklanan dapat meningkatkan permintaan terhadap merek tertentu dalam kelasnya atau dapat meningkatkan konsumsi per kapita, yakni para pelanggan terdorong untuk memilih atau memakai merek tersebut.
Hipotesis Penelitian
Dari latar belakang penelitian dan landasan teoritis yang telah dikemukakan maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah iklan televisi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian televisi merek polytron di Kota Banda Aceh.
METODE PENELITIAN
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada pengaruh iklan televisi yang disampaikan oleh perusahaan produsen produk televisi merek polytron terhadap keputusan pembelian produk tersebut oleh konsumen. Iklan yang disampaikan tersebut meliputi iklan yang disampaikan melalui televisi. Sedangkan keputusan pembelian meliputi keputusan mengenai pemakaian produk tersebut dalam hubungannya dengan keberadaan produk televisi merek lain selain polytron.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang memiliki televisi merek polytron yang ada di Kota Banda Aceh. Pengambilan
sampel dilakukan dengan purposive sampling. Hal
ini disebabkan jumlah populasi tidak dapat diketahui secara pasti sehingga teknik penarikan
sampel adalah non probability sampling, sehingga
pengambilan sampel dilakukan atas
pertimbangan-pertimbangan (1) Pembelian
dilakukan dalam 2 tahun terakhir dan (2) Memperhatikan dan mengevaluasi iklan televisi yang sebelum melakukan pembelian televisi merek polytron. Atas dasar pertimbangan di atas, banyaknya jumlah responden dalam penelitian ini adalah 100 orang.
Teknik Pengumpulan Data dan Skala Pengukuran
Untuk memperoleh data dalam rangka
mempersiapkan penulisan ini, teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah
penelitian lapangan (field research). Hal ini
dilakukan dengan mengedarkan kuesioner atau angket yang berisi pertanyaan/pernyataan yang berhubungan dengan iklan televisi dan keputusan pembelian. Responden diminta menentukan tingkat kesetujuannya terhadap masing-masing pernyataan terkait. Item-item pertanyaan pada setiap variabel independen dan dependen (iklan dan keputusan pembelian) seperti yang pada
daftar pertanyaan/kuesioner yang diedarkan
kepada resonden berisi alternatif jawaban
diurutkan/diukur berdasarkan Skala Likert (Likert Scale) dengan lima pilihan jawaban yang diberi skor antara satu sampai lima. Pemberian skor tersebut yaitu; 1 = tidak pernah/tidak setuju, 2 = pernah/kurang setuju, 3 = kadang-kadang/ biasasaja, 4 = sering/setuju, dan 5 = sangat sering/sangat setuju.
Operasional Variabel
Operasional variabel yang diukur terdiri dari dua kelompok, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen yaitu iklan televisi yang meliputi tingkat keseringan menerima informasi, tingkat pemahaman terhadap informasi tersebut dan tanggapan terhadap
tampilan iklan yang disampaikan dan
pertanyaan/pernyataan lainnya yang berhubungan dengan periklanan. Sedangkan variabel dependen adalah keputusan pembelian yang meliputi, alasan pembelian produk, lamanya rentang waktu melakukan pembelian sejak responden merima informasi/iklan, dan alasan pemilihan/pembelian produk.
Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data dalam mencari pengaruh variabel independen dengan variabel dependen, maka dapat dirumuskan bahwa keputusan pembelian dipengaruhi oleh iklan televisi. Berdasarkan uraian di atas maka model empiris yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier sederhana (Simple linier regession) (Gujarati, 1999).
Y = a + bX dimana:
Y = Keputusan pembelian
a = Konstanta
b = Koefesien regresi X
X = Iklan televisi (frekuensi melihat iklan/tingkat pemahaman terhadap iklan)
e = Error
472
besarnya pengaruh iklan televisi terhadap
keputusan pembelian televisi merek polytron
digunakan koefisien determinasi (r2). Selanjutnya
untuk menguji hipotesis yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, pengujian dilakukan dengan menggunakan uji t, dengan ketentuan sebagai berikut.
- Apabila nilai t hitung > t tabel pada tingkat
kepercayaan 95 persen maka hipotesis yang
mengatakan iklan televisi mempunyai
pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk televisi merek polytron di Kota Banda Aceh dapat diterima. - apabila t hitung < t tabel pada tingkat keyakinan
95 persen maka hipotesis yang mengatakan
iklan televisi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian produk televisi merek polytron di Kota Banda Aceh ditolak.
Untuk memudahkan dan mempercepat
perhitungan penulis menggunakan bantuan
komputer melalui software SPSS (Statistical
Package For Social Science) versi 11.0
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden
Masyarakat yang membeli televisi merek
polytron yang menjadi responden dalam
penelitian ini dapat ditinjau dari berbagai karakteristik, seperti jenis kelamin, tingkatan umur, status perkawinan, pendidikan terakhir, dan pekerjaan.
Dilihat dari tingkatan umur sebagian besar responden adalah laki-laki yakni sebanyak 62 orang, atau sebesar 62 persen dari jumlah
keseluruhan responden. Dengan demikian
responden dengan jenis kelamin perempuan hanya 38 orang. Selanjutnya bila dilihat dari tingkatan umur, pada umumnya responden dengan umur
berkisar antara 20 – 35 tahun. Responden dengan
umur dibawah 20 tahun sebanyak 2 orang, sedangkan responden dengan umur di atas 40 tahun yaitu sebanyak 9 orang. Selanjutnya bila dilihat dari tingkat pendidikan, secara umum responden mempunyai latar belakang pendidikan
SMA dan Diploma yakni masing-masing
sebanyak 58 dan 24 orang. Responden dengan tingkat pendidikan paling rendah yakni SMP sebanyak 5 orang. Sisanya sebanyak 13 orang lagi, atau sebesar 13 persen dari jumlah
keseluruhan responden, dengan tingkat
pendidikan sarjana.
Selanjutnya bila ditinjau dari segi pekerjaan, diketahui bahwa masyarakat yang membeli televisi merek polytron responden penelitian ini terdiri dari pegawai negeri sipil, pegawai swasta,
ABRI, wiraswasta, ibu rumah tangga dan mahasiswa/pelajar. Jumlah terbanyak didominasi oleh mereka dengan jenis pekerjaan wiraswasta yaitu sebanyak 29 orang.
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Pengujian validitas data dalam penelitian ini
dilakukan secara statistik, yaitu dengan
menggunakan uji Pearson Product-Moment
Coeffesient of Corelation dengan bantuan
software computer melalui program Statistic
Package for Social Science (SPSS). Berdasarkan
hasil pengolahan data (terlampir) seluruh
pernyataan dinyatakan valid karena memiliki tingkat signifikansi dibawah 5%.
Sedangkan jika dilakukan secara manual maka nilai korelasi yang diperoleh harus dibandingkan dengan nilai kritis korelasi product moment dimana hasilnya menunjukkan bahwa semua item pernyataan mempunyai korelasi di atas 5%, sehingga pernyataan tersebut signifikan dan memiliki validitas konstrak. Atau dalam bahasa statistik terdapat konsistensi internal (internal consistency) yang berarti item-item pernyataan tersebut dapat mengukur aspek yang sama. Ini berarti bahwa setiap data yang diperoleh valid, seperti ditunjukkan dalam Tabel 1.
Tabel 1 Sumber: Data Primer (Diolah), 2014.
Untuk kehandalan kuesioner yang
digunakan, maka dalam penelitian ini
473
di atas, 0,50, dan menurut Malhotra koefesien minimum yang dapat diterima di atas 0,60.
Uji reliabilitas Pengaruh Iklan Televisi Terhadap Keputusan Pembelian Televisi Merek Polytron di Kota Banda Aceh memperlihatkan bahwa dua variabel yang menjadi penilaian dalam penelitian secara keseluruhan diperoleh tingkat kehandalan telah memenuhi persyaratan baik menurut Nunally maupun Malhotra. Untuk lebih jelasnya besarnya nilai alpha pada masing-masing variabel diperlihatkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 2
Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner
No Variabel Jumlah Sumber: Data Primer (Diolah), 2014.
Tabel di atas memperlihatkan bahwa nilai alpha untuk masing-masing variabel telah memenuhi keandalan dimana variabel iklan televisi diperoleh nilai alpha sebesar 74,77 persen, dan untuk variabel keputusan pembelian diperoleh alpha sebesar 75,31 persen. Pengukuran reliabilitas terhadap variabel penelitian memenuhi syarat baik menurut Nunally maupun Malhotra. Artinya semua instrumen yang digunakan dalam penelitian dalam model penelitian ini telah memenuhi syarat keandalan dan layak dilakukan penelitian.
Pengaruh Iklan Televisi Terhadap Keputusan Pembelian Televisi Merek Polytron di Kota Banda Aceh
Iklan televisi mempunyai pengaruh positif terhadap keputusan pembelian televisi merek polytron di Kota Banda Aceh. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengolahan data dengan menggunakan peralatan statistik analisis regresi linier sederhana yang menunjukkan persamaan sebagai berikut.
Y = 1,603 + 1,083X r = 0,973
r2 = 0,948
Nilai koefisien regresi (b) sebesar 1,083 dapat diartikan peningkatan nilai rata-rata skor alternatif jawaban responden terhadap pernyataan yang berhubungan dengan iklan televisi akan dapat meningkatkan nilai rata-rata skor alternatif jawaban terhadap pernyataan yang berhubungan dengan keputusan pembelian. Dengan kata lain, responden yang memilih alternatif jawaban dengan skor yang lebih tinggi terhadap pernyataan yang berhubungan dengan iklan televisi juga akan memilih alternatif jawaban dengan skor yang
lebih tinggi pula terhadap pernyataan yang
berhubungan dengan keputusan pembelian.
Sehingga jelas bahwa iklan televisi berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian televisi merek polytron di Kota Banda Aceh.
Nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,973 (mendekati 1) dapat diartikan bahwa hubungan antara variabel independen (iklan televisi) dengan variabel dependen (keputusan pembelian) sangat erat. Selanjutnya nilai koefisien determinasi (r2) sebesar 0,948 dapat diartikan sebesar 94,8 persen keputusan pembelian televisi merek polytron dipengaruhi oleh iklan televisi. Sisanya sebesar 5,2 persen lagi dipengaruhi oleh faktor lain.
Pengujian Hipotesis
Hasil pengolahan data juga menunjukkan nilai t hitung sebesar 42,097. Sedangkan nilai t tabel pada tingkat keyakinan 95 persen sebesar 1,984. Dengan melihat perbandingan kedua nilai tersebut dimana nilai t hitung lebih besar bila dibandingkan dengan nilai t tabel (42,097 > 1,984), maka hipotesis yang menyatakan iklan
televisi mempunyai pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian produk televisi merek polytron dapat diterima.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
2. Iklan televisi mempunyai pengaruh positif
dan signifikan terhadap keputusan pembelian televisi merek polytron di kota banda aceh. Hal ini terlihat dari hasil pengolahan data yang menunjukkan persamaan Y = 1,603 + 1,083X. Peningkatan nilai rata-rata skor
alternatif jawaban responden terhadap
pernyataan yang berhubungan dengan iklan televisi sebesar 1, akan dapat meningkatkan
nilai rata-rata skor alternatif jawaban
responden terhadap pernyataan yang
berhubungan dengan keputusan pembelian sebesar 1,083.
3. Hubungan antara variabel independen (iklan
televisi) dengan variabel dependen (keputusan pembelian) sangat erat. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,973. Selanjutnya nilai koefisien determinasi (r2) sebesar 0,948 dapat diartikan sebesar 94,8 persen keputusan pembelian televisi merek polytron dipengaruhi oleh iklan televisi. Sisanya sebesar 5,2 persen lagi dipengaruhi oleh faktor lain.
4. Hasil pengolahan data juga menunjukkan
474
hipotesis yang menyatakan iklan televisi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk televisi merek polytron dapat diterima.
Saran-saran
Iklan televisi sangat besar manfaatnya untuk membentuk keputusan pembelian konsumen terhadap televisi merek polytron. Oleh karena itu, untuk mendukung program pemasaran televisi terutama oleh pihak produsen televisi merek polytron, agar dapat mempertahankan iklan televisi sebagai media promosi produknya kepada konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Patrica M. and L.G. Rubin. (2000)
Marketing Communication. Englewood Cliffs, N. J. : Prentice-Hall, Inc.
Corkindale, David R. and S.H. Kennedy. (2002)
Measuring the Effect of Advertising; A Comprehensive Approach. Hampshire, England.
Dalryple, Douglas J. and Parsons, Leonard J.
(2005). Marketing Management: Text and
Cases, 6th Ed. New York; John Wiley & Sons, Inc.
Dommermuth, William P. (2000) Promotion:
Analysis, Creativity and Strategi. 2th Ed. Boston: PWS-KENT Publishing Company. Evanita, Afnidarti AR dan Armida. S (2003)
Pengaruh Terpaan Iklan Televisi Terhadap Perilaku Konsumtif Ibu Rumah Tangga di Kota Padang Sumatera Barat, (Journal). www. google. com
Gujarati, Damodar. (1999). Ekonometrika Dasar,
Cet. Keempat, Alih Bahasa : Drs. AK. Sumarno Zein, MBA, Erlangga, Jakarta. Jefkins, Renal. (2006) Periklanan: Suatu Analisa
pada Bebarapa Perusahaan di Indonesia,
Erlangga Jakarta.
Kotler, Philip. (2007) Manajemen Pemasaran:
Analisis Perencanaan dan Pengendalian, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Lenehan, Arthur F. (2006) Leadership:
International Edition, Vol. F/No. 6INT. EP International, Singapore.
Lilien, Gary L. et. Al (2002) Marketing Models, Englewood-Cliffs, N.J. :Prentice-Hall Inc.
Moriarty, Leonard. (2001) Promotion: