• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SENSITIVITAS ETIKA, UMUR GENDER TERHADAP PERSEPSI ETIKA ATAS TAX EVASION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH SENSITIVITAS ETIKA, UMUR GENDER TERHADAP PERSEPSI ETIKA ATAS TAX EVASION"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PENGARUH SENSITIVITAS ETIKA, UMUR & GENDER TERHADAP PERSEPSI ETIKA ATAS TAX EVASION

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk

Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret

Oleh:

ERY SUSANTI YUNIAR NIM. F 0306035

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Alhamdulillah...Alhamdulillah...Alhamdulillah,.. Puji syukur atas

segala nikmat, rahmat dan limpahan kasih sayang yang Engkau beri

Ya Allah. Kupersembahkan karya kecil ini teruntuk:

© Mama,..mama dan mama... Terima kasih atas segala yang engkau beri selama ini ma,.. engkaulah motivator ku untuk segera menyelesaikan karya kecil ini. Terima kasih atas segala pengorbananmu,cinta dan kasih sayang yang engkau beri selama ini.

© Papi,.Terima kasih untuk doa dan dukungan yang selalu engkau berikan untukku,.

(5)

commit to user

v

MOTTO

“ Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah dan jangan lupa akan rahmat Allah. Sebab pertolongan Allah akan turun sesuai dengan

tingkat kesulitannya” (La Tahzan)

“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan

sungguh-sungguh (urusan yang lain). (Al-Insyirah : 6-7)

“ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” ( Ar-rahman : 21)

” Yakinlah bahwa Skenario Allah itu lebih indah daripada skenario yang kita buat ”

(NN)

(6)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya ucapkan kepada Rabb Semesta Alam, Allah SWT atas

limpahan Rahmat, nikmat, dan karunia yang tealah diberikan. Sholawat serta

salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabiyullah Muhammad

SAW. Hanya karena dengan ridha Allah SWT, Skripsi dengan judul Pengaruh

Sensitivitas etika, Umur & Gender terhadap Persepsi Etika atas Tax Evasion

, dapat diselesaikan.

Skripsi ini berisi tentang pengaruh sensitivitas etika, umur, dan gender terhadap persepsi etika atas Tax evasion. Skripsi ini ditulis dalam upaya

melengkapi syarat untuk mencapai derajat Sarjana Strata-1. Penulis

menyadaribahwa sepenuhnya apa yang telah dicapai ini tidak terlepas dari

bantuan berbagai pihak baik csecara langsug maupun tidak. Untuk itudengan

ketulusan hati pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Ak. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret.

2. Drs. Jaka Winarna, M.Si., Ak. Selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas

Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

3. Dra. Evi Gantyowati, M.Si., Ak. Selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi Fakultas

Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

4. Lulus Kurniasih, S.E., M.Si., Ak. Selaku Dosen pembimbing Skripsi yang

telah memberikan saran, arahan, bimbingan, support dan perhatian sehingga

(7)

commit to user

vii

5. Dra. Falikhatun, M.Si., Ak. selaku Pembimbing Akademik yang telah banyak

memberikan masukan dan saran demi kelancaran kuliah penulis.

6. Bapak Drs. Yacob Suparno, Msi., Ak , Bapak Sri Suranta , S.E., M.Si., Ak &

Ibu Lulus Kurniasih, S.E., M.Si., Ak selaku Tim Penguji Skripsi dan Bapak

Drs. Eko Arief Sudaryono, Msi., Ak, Ibu Dra. Rahmawati., Msi, Ak, Ibu Dra.

Setianingtyas Honggowati., MM., Ak selaku Tim penguji kompre.

7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

8. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

9. Pak Timin,..terima kasih atas segala bantuannya,...

10.Mama,..Terima kasih atas segala pengorbananmu, doa, cinta dan kasih

sayangmu, maaf belum bisa membahagiakanmu ma,..semoga engkau bahagia

disana... U’R ALWAYS IN MY HEART... i love u mom... :-*

11.Papi,... yang selalu mendoakanku, memberikan dukungan, bekerja keras dan

selalu sabar mengasuh kami bertiga meskipun sendiri. Aku bangga padamu

pi..

12.Ana,.. thanx ya sering ngingetin mba biar cepet lulus hehe,.. semangat ya

sekolahnya,..harus rajin belajar biar masuk PTN. ^^

13.Salsa,.. belajar yang rajin ya,..jangan nangis kalo disuruh belajar,...^^ miss u

sist,..

14.Ferryan Ferly Faj Rullah, Thanx for ur support brother…. Ayo Smangat cari

kerja!!! Inget target :D

15.Pak de & Mide, Bapak Amo & Mina … Terimakasih atas doa dan

(8)

commit to user

viii

16.Buat keluarga besarku di rumah Uti’& Om Nono, Om Toto & Mba Sofa, Ang

Im & Mba Yuli, Ang Yang, Angato & Mba Tevi ( bawain oleh2 dari Belanda

yak… ^^), Anti-antiku tercinta,..Anti Yanti & Anti Iis (Merindukan

kebersamaan bersama kalian), Mang Samar & Bu Aan terima kasih banyak

atas dukungan dan doanya selama ini.

17.Adik2 kecilku di rumah,..Aam, Sultan, Syafik, Fida, Aula, Lela, Eha,

Sani…(tante kangen… ^^ kapan2 ke bogor lagi dah),..si kecil Rayhan..

welcome to the world :D

18.Mba Farida , Mba Ucix, Mba Ima, Mba Ulil, Mba lilis.... Terima kasih atas

ilmu, teladan, dan ukhuwah yang kalian beri kepadaku selama ini yangbelum

tentu aku dapatkan di tempat lain. Sykron Jazakillah Khoiron katsiiron. J

19.Temen2 angkatan 2006 Ayut, Pity, QQ, Maya, Fany (ayo segera lulus... cepet

nyusul ya) ^.^, Hesti, Efi, Nur, Mpok leha,..(akhirnya aku menyusul kalian ).

Buat Akh Awang, A’ Barjos, Akh Dian, Akh Fauzi, Akh Tony, Akh Ricky,

Akh Sugi ayo segera nyusul Akh Oka. Keep hamasah!!! ^_^

20.Temen-temen Akuntansi 2006 , Finik ( makasih fin blajar komprenya ^^), Latipe, Ratri, Fela, Melati, Hany, Ratih, Tryas, Tantri, Ayut, Pity, Kiki, Asri,

Puput, Irda, Desti, Mila, Fira, Aninda, Sekar, Rini, Rena, Dora, Deni, Iyah,

Tony, Kris, Barjos, dan teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu per

satu. Terima kasih banyak. Saya Bangga menjadi bagian dari Akuntansi 2006

^_^, Who is the best??Accounting Society!!

21.Temen- temen di kost bali,... MOE mike, enche, ocha (jangan pada konser

(9)

commit to user

ix

shely, mba ririn, kaul, mba tanti, ( makasih buat ilmu spss nya ^^) , suci, hayu,

riani, nurul, tika, septi ( welcome to kost Bali, semoga betah ya… selamat

berproses)

22.Mba-mba kost di Kost Ratna yang sampai dengan saat ini masih terus

mensupportku,..Mba Astri, Mba Nia, Mba Tya, Mba Puput, Mba Ika, Mba

Ana, Mba Rini, Mba Uni, Mba Novi, Mba Dwi, Mba Arum, Mba Rani, Mba

Widi, Mba Widya, Mba Tika. Sangat-sangat merindukan kebersamaan

bersama kalian.

23.My Best friend,…Unul, Mira, Echa, Nana, Mita, Shinta, Rani,..Thanx buat

persahabatan yang kalian berikan kepadaku selama ini. Miss u all… :-*

24.Partner Skripsi ku Murdiani Agustiati, ayo smangat selesein skripsinya ^_^

makasih de’ buat bantuannya selama ini.

25.Temen-temen di BEM FE UNS Kabinet Bercahaya& Kontribusi ( Budith,

Mba Astri, Mba Lina, Mba Cip, Ayut, Finik, Ratri, Asri, Dian, Zuli, Rini, Mas

Krisna, Bardjos, Mas prast, Ayum, Hera, dll) Terima kasih untuk

pembelajarannya selama ini. Temen-Temen KEI FE UNS ( Mas Taufiq, mas

Andy, Mba Shinta, Mba Dewi, Mba Tanti, Fitri, Fia, Lisa, Dewi lis, dewi

utari, Novi eka, Riesa, Retna, dan pejuang-pejuang ekonomi islam lainnya.

Terus perjuangkan ekonomi islam kita tercinta. Ekonomi islam!!!

Subhanallah!!) Temen-Temen BPPI FE UNS ( Mba Wulan, Mba Indah, Mba

isti, Mba wilis, kiki, Nur, Hesti, Efi, dll) Terima kasih atas ukhuwah yang

kalian berikan selama ini. Temen-Temen BIAS FE UNS 2010 (A’ Sugi, U’

(10)

commit to user

x

Sabil, Maya, Puspa, Puji, Ria, Vetie, Tika, Wulan, Dewi dll) keep

hamasah!!!^_^ Temen-temen DEMA FE UNS 2009 (Mas Bagus, Mas Ican,

Mas Udin, Ayum, Yuni,…) pengalaman 1 tahun bersama di Dema tidak akan

pernah terlupakan, kapan-kapan ngumpul yuuk!!! ^_^

26.Adik-adik 2007 Rini, Puspa, Fina, Melisa, Ria, Fia, Sugeng, Fitrah, Tri

Haryana, Hero, farid, Yoga… keep fight!!!

27.Adik-adik 2008 (Maya, Suryati, Sabil, Nono, Icha, Umi NK, Sartika, Asa)

Adik-adik 2009 (Laely, Veti, Tika, Rohmah, Wulan, Ami, Esti, Keke) Tetap

semangat!!! ^_^

28.Semua pihak yang membantu penulis dalam penyelesaian skripsi. Yang tidak

mampu penulis sebutkan satu persatu.

Semoga amal baik dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis

mendapatkan balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa dalam

skripsi ini pasti terdapat kekurangan dan masih jauh dari sempurna sehingga

masukan baik berupa kritik dan saran sangat diharapkan dari pembaca.

Surakarta, Agustus 2010

(11)

commit to user

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS A. Landasan Teori………...10

1. Tax Evasion………..10

2. Etika………...15

B. Penelitian Terdahulu & Pengembangan Hipotesis 1. Tax, evasion, gender & usia……….22

2. Tax evasion dan Etika………..24

3. Tax Evasion dan Gender………..26

(12)

commit to user

IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Pengumpulan data………..43

B. Data Demografi Responden………...45

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR TABEL

1. Rincian Kuesioner dan Pengembalian………44

2. Gambaran Daftar Responden Penelitian………45

3. Hasil Pengujian Validitas TE……….48

4. Hasil Pengujian Validitas SE...49

5. Hasil Pengujian Realibilitas TE... ...50

6. Hasil Pengujian Realibilitas SE………...51

7. Uji beda usia terhadap TE ...52

8. Uji beda usia terhadap persepsi etika atas tax evasion………..53

9. Uji beda gender terhadap TE……….55

10.Uji beda gender terhadap persepsi etika atas tax evasion……….56

11.Model Summary……….………...57

12.Anova (b)………..58

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1

(15)

commit to user

xv

ABSTRACT

ERY SUSANTI YUNIAR NIM. F 0306035

THE IMPACT Of ETHICAL SENSITIVITY, AGE & GENDER ON ETHICAL PERCEPTIONS Of TAX EVASION

This research aims to see the impact of ethical sensitivity, age and gender on ethical perceptions of tax evasion. Also to see the difeerences between men and woman in view of ethical perceptions of tax evasion, and to knows the differences in ethical perceptions of tax evasion from accountant age. Sample taken is that the accounting staff are in Surakarta, Sukoharjo and Karanganyar. This research is based on previous researches conducted by Mc. Gee (2007).

Examination conducted by using independent sample t-test and Regression analysis. From the result of this research concluded that there was no significant difference between men and women in view of ethical perceptions of tax evasion and there were no significant differences in perceptions of ethical view of tax evasion of age in terms. However for third and fifth hypotesisi acceptabele, it means that ethical sensitivity and gender jointly affect ethical perceptions of tax evasion.

(16)

commit to user

xvi

ABSTRAK

ERY SUSANTI YUNIAR NIM.F 0306035

PENGARUH SENSITIVITAS ETIKA, UMUR & GENDER

TERHADAP PERSEPSI ETIKA ATAS TAX EVASION

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh sensitivitas etika, usia, dan

gender terhadap persepsi etika atas tax evasion. Selain itu juga untuk melihat apakah terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam memandang persepsi etika atas tax evasion, dan melihat apakah terdapat perbedaan persepsi etika atas tax evasion dari segi usia akuntan. Sampel yang diambil adalah staf di bagian akuntansi perusahaan yang terdapat di Surakarta, Sukoharjo, dan Karanganyar. Penelitian ini mengacu pada penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mc.Gee (2007) .

Pengujian pada penelitian ini menggunakan Independent sampel t-test dan analisis regresi. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita dalam memandang persepsi etika atas tax evasion dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam memandang persepsi etika atas tax evasion jika dilihat dari segi usia. Namun untuk hipotesis ke3 & ke5 diterima artinya bahwa sensitivitas etika dan gender bersama-sama mempengaruhi persepsi etika atas tax evasion.

(17)

commit to user BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Meningkatnya perkembangan teknologi informasi dan semakin terbukanya

perekonomian suatu negara tentu akan memberikan peluang bagi perusahaan untuk

mengembangkan bisnis mereka dengan cara menciptakan berbagai inovasi produk

barang maupun jasa. Sebagai perusahaan yang berorientasi laba sudah tentu suatu

perusahaan akan berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya

melalui berbagai macam efisiensi biaya termasuk efisiensi beban (biaya) pajak

(Gilbert, 2005)

Terkait dengan hal-hal tersebut diatas, yaitu semakin canggihnya

skema-skema transaksi keuangan yang ada di dalam dunia bisnis tentu juga akan

menciptakan peluang bagi perusahaan untuk melakukan skema-skema transaksi

penghindaran pajak dalam rangka mengurangi beban pajak mereka, apalagi jika

terjadi kekosongan peraturan perundang-undangan terhadap skema – skema

penghindaran pajak tersebut.

Sebagai perusahaan yang berorientasi laba sudah tentu suatu perusahaan

domestik maupun internasional berusaha meminimalkan beban pajak dengan cara

memanfaatkan kelemahan perpajakan dari suatu negara. Penghindaran pajak

dibedakan menjadi dua yaitu tax avoidance dan tax evasion. Kedua jenis penghindaran pajak ini berbeda, namun sama-sama mengurangi jumlah penerimaan

pajak pemerintah. Darussalam (2009) mendefinisikan istilah tax avoidance sebagai suatu skema transaksi yang ditujukan untuk meminimalkan beban pajak dengan

(18)

commit to user

Tax avoidance dapat dikatakan legal (tidak melanggar hukum) karena

memanfaatkan celah dari suatu peraturan perundang-undangan (loopehole) dalam hal memenuhi kewajiban perpajakan.

Berbeda dengan tax avoidance, tax evasion dilakukan dengan melanggar

peraturan perundang-undangan perpajakan sehingga dikatan illegal. Tax evasion diartikan sebagai suatu skema memperkecil pajak yang terutang dengan cara

melanggar ketentuan perpajakan seperti dengan cara tidak melaporkan sebagian

penjualan atau memeprbesar biaya dengan cara fiktif (Darussalam, 2009).

Tax evasion merupakan pengelakan/penghindaran pajak dengan cara ilegal dan sengaja sehingga menjadi suatu perlawanan terhadap pajak.

Pengelakan/penghindaran pajak terjadi sebelum SKP (Surat Ketetapan Pajak)

dikeluarkan. Hal ini merupakan "pelanggaran terhadap undang-undang" dengan

maksud melepaskan diri dari pajak atau mengurangi dasar penetapan pajak dengan

cara "menyembunyikan" sebagian dari penghasilannya. Wajib pajak di setiap negara

terdiri dari wajib pajak besar (berasal dari multinational corporation yang terdiri dari perusahaan-perusahaan penting nasional) dan wajib pajak kecil (berasal dari

profesional bebas yang terdiri dari dokter yang membuka praktek sendiri, pengacara

yang bekerja sendiri, dll). Pajak yang dapat dielakkan/dihindarkan akan masuk ke

ranah "memperkaya diri sendiri dan orang lain dengan melanggar undang-undang"

(Attayaya, 2010). Susan dalam Suandi (2006) meyatakan :

“ Tax evasion is the reduction of tax by ilegal means. The distinction, however , is not always easy. Some example of tax avoidance schemes include locating assets in offshore jurisdictions, delaying repatriation of profit earn in low-tax foreign jurisdictions, ensuring that gains are capital rather than income so the gains are not subject to tax (or a subject at a lower rate), spreading of income to other tax payers with lower marginal tax rates and taking advantages of tax incentives ”

Penelitian tentang tax evasion sudah cukup banyak namun belum banyak yang

(19)

commit to user

pendekatan. Mc. Gee (2006) mengemukakan setidaknya ada tiga pendekatan.

Pertama, pendekatan yang menguji hubungan antara individu dan negara. Kedua,

pendekatan yang menguji hubungan antara individu dan komunitas pembayar pajak.

Ketiga, pendekatan yang terkait dengan hubungan individu dengan Tuhan.

Sebuah tinjauan dari literatur mengenai etika penghindaran pajak

menunjukkan bahwa tiga pandangan utama telah berevolusi selama 500 tahun

terakhir. Suatu pandangan menganggap bahwa penghindaran pajak selalu atau hampir

selalu tidak etis, baik karena sebagai kewajiban sebagai makhluk Tuhan, atau ada

kewajiban terhadap beberapa komunitas atau masyarakat. Pandangan lain menyatakan

bahwa tidak pernah ada atau hampir tidak pernah kewajiban untuk membayar pajak

karena pemerintah adalah pencuri, tidak lebih dari sekelompok penjahat yang

terorganisasi dan tidak ada kewajiban untuk memberikan apa pun untuk penjahat.

Pandangan ketiga adalah bahwa ada beberapa kewajiban etis untuk mendukung

pemerintah negara di mana Anda tinggal tapi kewajiban yang kurang dari mutlak (Mc.

Gee, 2006).

Berbagai artikel penelitian ditulis dalam perspektif berbagai agama. Pada

tahun 1997, Mc Gee et al., menyimpulkan dari perspektif islam bahwa tax evasion tidak selalu tidak etis dalam keadaan tertentu. Mc. Gee (1998) meneliti isu tax evasion

dari perspektif kristen. Cohn (1998) membahas isu tax evasion dari sudut pandang masyarakat yahudi (dikutip dari Mc. Gee at al., 2006).

Mc. Gee dan Barry (2005) juga melakukan penelitian mengenai etika dan tax evasion dengan membandingakan persepsi antara mahasiswa akuntansi dan studi bisnis di Utah. Dapat diketahui dari hasil penelitian diatas bahwa fakta dari responden

banyak yang lebih menentang penghindaran pajak yang sesuai dengan beberapa studi

(20)

commit to user

paling kuat dalam kasus dimana pada pemerintah melakukan korupsi atau dimana

sistem dirasakan tidak adil.

Riset di bidang akuntansi telah difokuskan pada kemampuan para akuntan

dalam membuat keputusan etika dan berperilaku etis. Bagaimanapun, faktor yang

penting dalam penilaian dan perilaku etis adalah kesadaran para individu bahwa

mereka adalah agen moral. Kemampuan untuk menyadari adanya nilai-nilai etika atau

moral dalam suatu keputusan inilah yang disebut sensitivitas etika.

Banyak penelitian terdahulu yang membahas tentang sensitivitas etika.

Sensitivitas etika dihubungkan dengan gender maupun umur, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Sidani et al., (2008) bahwa wanita dianggap lebih etis daripada

pria. Dalam pendekatan sosialisasi gender, pria dan wanita memiliki perbedaan nilai dan perlakuan pada pekerjaan mereka. Pria berusaha mencari kesuksesan yang

kompetitif dan agresif serta bila perlu akan melanggar aturan untuk mencapai

kesuksesan tersebut. Sedangkan wanita cenderung menekankan pada pelaksanaan

tugas dengan baik dan lebih mementingkan harmonisasi dalam relasi (hubungan)

kerja. Wanita lebih condong taat peraturan dalam menjaga hubungan tersebut

sehingga wanita cenderung lebih etis daripada pria (Bandura, 1997).

Pada penelitian Sidani et. Al., (2008) disimpulkan bahwa orang yang lebih tua

cenderung lebih etis. Hal ini sejalan dengan penelitian-penelitan terdahulu yang

menemukan bahwa orang cenderung lebih etis saat usia mereka bertambah (Weber

dan Green, 1991; Terpstra et al., 1993). Penjelasan lain adalah bahwa individu

cenderung menjadi lebih etis dari waktu ke waktu karena sistem penguat yang

ditemukan dalam organisasi yang terkait keputusan etis masa lalu (Stead et al., 1990).

Penulisan ini melanjutkan penulisan-penulisan sebelumnya. Hanya saja

(21)

commit to user

tax evasion. Dengan demikian penulis memberi judul “PENGARUH SENSITIVITAS ETIKA, UMUR & GENDER TERHADAP PERSEPSI ETIKA

ATAS TAX EVASION.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disampaikan di atas, maka

rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1) Apakah terdapat perbedaan persepsi dalam memandang etika atas tax evasion

dari segi usia pada karyawan yang bekerja di bagian akuntansi perusahaan?

2) Apakah terdapat perbedaan persepsi antara pria dan wanita pada karyawan

yang bekerja di bagian akuntansi perusahaan dalam memandang etika atas tax evasion?

3) Apakah sensitivitas etika berpengaruh terhadap persepsi etika atas tax

evasion?

4) Apakah gender berpengaruh terhadap persepsi etika atas tax evasion ? 5) Apakah usia berpengaruh terhadap persepsi etika atas tax evasion ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dengan dilakukannya penelitian ini adalah :

a. Mengetahui apakah terdapat perbedaan persepsi dalam memandang etika atas

tax evasion dari segi usia karyawan yang bekerja di bagian akuntansi perusahaan.

b. Mengetahui apakah terdapat perbedaan antara pria dan wanita pada

karyawan yang bekerja di bagian akuntansi perusahaan dalam memandang

(22)

commit to user

c. Mengetahui apakah sensitivitas etika berpengaruh terdapat persepsi etika atas

tax evasion.

d. Mengetahui apakah gender berpengaruh terdapat persepsi etika atas tax

evasion.

e. Mengetahui apakah usia berpengaruh terhadap persepsi etika atas tax evasion.

D. Manfaat penelitian

Bagi ilmu pengetahuan:

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis berupa tambahan

literatur mengenai penghindaran pajak, khususnya tax evasion. Bagi pembuat kebijakan perpajakan:

Bagi pembuat kebijakan, khususnya kebijakan perpajakan, penelitian ini

diharapkan daat memberikan kontribusi yang dapat digunakan sebagai dasar

membuat ketentuan perpajakan, sehingga dapat meminimalisir tax evasion yang mungkin dilakukan oleh wajib pajak.

Bagi pemerintah:

Bagi pemerintah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk

menggunakan pemasukan dari pajak dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan

masyarakat, tidak digunakan untuk kepentingan pribadi.

E. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan penelitian ini, sistematika penulisan yang dipergunakan

(23)

commit to user BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini berisi hal-hal yang akan dibahas dalam proposal. Bab ini berisi latar

belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: LANDASAN TEORI

Landasan teori pada penulisan ini merupakan landasan teori yang akan

mendasari pembentukan model, pembentukan hipotesis atau pertanyaan

penelitian, serta menjadi dasar pembahasan penelitian. Bab ini pada

dasarnya merupakan landasan teoritis dalam melakukan kegiatan penelitian.

BAB III: METODE PENELITIAN

Pada bab ini berisi identifikasi variabel, definisi operasional variabel, jenis

dan sumber data, prosedur pengumpulan data serta teknik analisis data.

BAB IV: ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi tentang gambaran umum, deskripsi variabel, hasil

penelitian dengan menggunakan model penelitian yang ada, uji data, uji

hipotesis, analisis hasil penelitian dan pembahasan

(24)

commit to user

Bab ini penulis memberikan kesimpulan dari seluruh bahasan

penulisan,keterbatasan dan juga saran yang dapat digunakan untuk penelitian

selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

A. LANDASAN TEORI

Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal yang diulas dalam penelitian ini,

akan dipaparkan sebagai berikut:

(25)

commit to user

Apabila kita melihat definisi pajak itu sendiri, menurut Prof. Dr.

Rochmat Soemitro, SH (dikutip dari Suandy, 2005), pajak merupakan iuran

rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat

dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa imbal (kontraprestasi) yang langsung

dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Sedangkan menurut R. Santoso Brotodiharjo (dikutip dari Mangonting, 1999),

pajak dianggap sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian harta

kekayaan ke kas negara disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan

yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman. Harta

kekayaan tersebut diberikan ke kas negara menurut peraturan yang ditetapkan

pemerintah serta dapat dipaksakan tetapi tidak ada jasa timbal balik dari

negara secara langsung kepada pembayar pajak.

Dari definisi di atas, kemungkinan yang membuat wajib pajak

melakukan usaha-usaha untuk menghindarkan diri dari pajak, bahwa dalam

pajak di atas tidak dapat ditunjukkan kontra prestasi bagi individu

secara langsung dari pemerintah. Ketika wajib pajak membayar tidak

mendapat imbalan langsung dari pengeluaran wajib pajak, melainkan semua

jenis pajak yang dibayarkan, dikumpulkan dan kemudian didistribusikan pada

pos-pos pengeluaran pemerintah (Mangoting, 1999).

a Tax Avoidance dan Tax Evasion

Penghindaran pajak dibedakan menjadi tax avoidance dan tax evasion. Dalam beberapa literatur, tax avoidance diartikan sebagai penghindaran pajak, sedangkan tax evasion diartikan sebagai pengelakan atau penyelundupan pajak. Tax avoidance dapat dibedakan lagi menjadi

(26)

commit to user

penghindaran pajak yang tidak diperkenankan (unacceptable tax avoidance). Penghindaran pajak yang diperkenankan dapat dilakukan melalui defensive tax planning. Sedangkan penghindaran pajak yang tidak diperkenankan dilakukan melalui aggressive tax planning (Darussalam,

2009).

Tax avoidance adalah upaya untuk meminimalkan jumlah pajak

yang dibayarkan dengan tujuan keuntungan pribadi dengan cara-cara yang

tidak melanggar undang-undang (Biron, 2010; Murray, 2010). Darussalam

(2009) mendefinisikan istilah tax avoidance sebagai suatu skema transaksi yang ditujukan untuk meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan

kelemahan- kelemahan (loophole) ketentuan perpajakan suatu negara. Dengan demikian, banyak ahli pajak berpendapat bahwa tax avoidance tidak melanggar ketentuan perpajakan. Tax avoidance tidak ditujukan untuk melanggar aturan perpajakan, namun berusaha untuk

mengelak dari aturan perpajakan (Deak, 2004).

Sedangkan Tax evasion diartikan sebagai suatu skema memperkecil

pajak yang terutang dengan cara melanggar ketentuan perpajakan seperti

dengan cara tidak melaporkan sebagian penjualan atau memperbesar biaya

dengan cara fiktif ( Darussalam, 2009).

Tax evasion memiliki beberapa elemen, yaitu (Biron, 2010):

a) Akhir yang ingin dicapai, yaitu pembayaran pajak yang lebih rendah

dari yang seharusnya atau tidak membayar pajak atas pendapatan yang

seharusnya dikenakan pajak

b) Berbagai tindakan yang melanggar undang-undang, misalnya dengan

(27)

commit to user

Tax evasion seharusnya dapat dikendalikan. Tingkatan tax evasion tergantung beberapa hal, yaitu :

a) Wajib pajak cenderung untuk mengelak dari pembayaran pajak jika

dirasakan imbal balik dari pemerintah atas pembayaran pajak yang

dilakukannya tidak jelas.

b) Pengelakan pajak juga tergantung dari korupsi yang dilakukan oleh

petugas pajak. Petugas pajak dan wajib pajak dapat bekerja sama

melakukan pengelakan pajak dengan memperkecil pembayaran pajak

dan memberikan suap kepada petugas pajak. Kasus ini seperti yang

terjadi Di Indonesia, kasus Gayus Tambunan yang saat ini marak

diperbincangkan.

c) Korupsi yang dilakukan pemerintah dari hasil pembayaran pajak.

Wajib pajak enggan melakukan pembayaran pajak yang seharusnya,

dapat dikarenakan wajib pajak menganggap pemerintah melakukan

korupsi melalui pos-pos anggaran yang dipenuhi dari penerimaan

pajak.

b. Sudut pandang etika mengenai tax evasion

Ada tiga sudut pandang mengenai etika atas tax evasion, yaitu (Mc Gee et al, 2006) :

Sudut pandang pertama:

Sudut pandang pertama memposisikan tax evasion selalu atau hampir selalu tidak etis. Terdapat tiga alasan yang mendasari sudut

pandang ini. Pertama adanya keyakinan bahwa setiap individu memiliki

(28)

commit to user

dikehendaki oleh negara. Hal ini merupkan pandangan yang umum dalam

negara demokrasi, yang mana setiap individu harus menyesuaikan dengan

peraturan yang berlaku secara umum.

Kedua, setiap individu memiliki kewajiban terhadap anggota lain

dalam komunitas, sehingga setiap individu diwajibkan membayar pajak.

Setiap individu tidak diperkenankan mengambil keuntungan dengan

memanfaatkan fasilitas yang disediakan pemerintah dari hasil pajak tanpa

ikut serta dalam membayar pajak.

Ketiga, setiap individu yang beragama memiliki kewajiban

terhadap Tuhan untuk membayar pajak atau dengan kata lain, Tuhan telah

memerintahkan setiap individu untuk membayar pajak.

Sudut pandang kedua:

Sudut pandang kedua dapat disebut sebagai sudut pandang anarkis.

Sudut pandang ini menilai bahwa tidak ada kewajiban untuk membayar

pajak karena negara tidak memiliki legitimasi. Negara dianggap sebagai

pencuri keji yang tidak memiliki moral dan menggunakan otoritasnya

untuk mengambil apapun yang dikehendaki dari setiap orang

Sudut pandang ketiga :

Sudut pandang ketiga menyatakan bahwa tax evasion dapat

menjadi tidak etis dan etis dalam kondisi tertentu. Sudut pandang inilah

(29)

commit to user 2. Etika

Dalam banyak hal, pembahasan mengenai etika tidak terlepas dari

pembahasan mengenai moral. Suseno (1987) mengungkapkan bahwa etika

merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran

dalam pandangan-pandangan moral. Sedangkan mengutip pendapat Karl

Barth, Madjid (1992) mengungkapkan bahwa etika (ethos) adalah sebanding

dengan moral (mos), dimana keduanya merupakan filsafat tentang adat kebiasaan (sitten). Sitte dalam perkataan Jerman menunjukkan arti moda

(mode) tingkah laku manusia, suatu konstansi (kelumintuan) tindakan manusia. Karenanya secara umum etika atau moral adalah filsafat, ilmu atau

disiplin tentang moda-moda tingkah laku manusia atau konstansi-konstansi

tindakan manusia.

Dengan mengkritik terlalu sederhananya persepsi umum atas

pengertian etika yang hanya dianggap sebagai pernyataan benar dan. salah

atau baik dan buruk, etika sebenarnya meliputi suatu proses penentuan yang

kompleks tentang apa yang harus dilakukan seseorang dalam situasi tertentu.

Proses itu sendiri meliputi penyeimbangan pertimbangan sisi dalam (inner) dan sisi luar (outer) yang disifati oleh kombinasi unik dari pengalaman dan

pembelajaran masing-masing individu. Chua et al., (1994) dalam konteks etika

profesi, mengungkapkan bahwa etika profesional juga berkaitan dengan

perilaku moral. Perilaku moral di sini lebih terbatas pada pengertian yang

meliputi kekhasan pola etis yang diharapkan untuk profesi tertentu.

(30)

commit to user

Riset di bidang akuntansi telah difokuskan pada kemampuan para

akuntan dalam membuat keputusan etika dan berperilaku etis.

Bagaimanapun, faktor yang penting dalam penilaian dan perilaku etis

adalah kesadaran para individu bahwa mereka adalah agen moral.

Kemampuan untuk menyadari adanya nilai-nilai etika atau moral dalam

suatu keputusan inilah yang disebut sensitivitas etika.

Keputusan atau tindakan yang berkaitan dengan masalah moral

harus mempunyai konsekuensi buat yang lain dan harus melibatkan pilihan

atau kerelaan memilih dari sang pembuat keputusan. Definisi tersebut

memiliki pengertian yang luas, karena keputusan seringkali memiliki

konsekuensi bagi pihak lain dan kerelaan untuk memilih hampir selalu

merupakan pemberian, walaupun pilihan-pilihan itu seringkali memiliki

resiko yang berat. Dalam beberapa hal, banyak keputusan dinilai sebagai

keputusan moral hanya karena memiliki kandungan moral, padahal tidak

demikian. Seperti yang dikatakan oleh Jones (1991:367), bahwa suatu

keputusan dapat dinilai dari segi moral jika pada saat keputusan itu dibuat

dengan memperhitungkan atau memasukkan nilai- nilai moral.

Sensitivitas etis mengacu pada kemampuan seseorang untuk

mengidentifikasi konten etika dari mengingat situasi (Sparks dan Hunt,

1998). Jelas bahwa beberapa individu terlibat dalam kegiatan yang tidak

etis meskipun pengetahuan mereka tentang sifat tidak etis dari perilaku

mereka. Namun, beberapa orang memilih untuk membuat keputusan etis,

bukan karena mereka memilih untuk berperilaku tidak etis, tetapi karena

mereka tidak memiliki kapasitas untuk mengakui bahwa situasi tertentu

(31)

commit to user

dalam pengambilan keputusan yang adil, dan dipengaruhi oleh lingkungan

di mana keputusan dibuat selain variabel pribadi (Hunt dan Vitell, 1993;

Patterson, 2001).

Sensitivitas etika adalah salah satu bagian dari

pembuatan-keputusan moral proses, yang terdiri dari:

a) Kesadaran moral. Mengidentifikasi sifat moral dari sebuah situasi

tertentu.

b) Moral pengadilan. Membuat keputusan yang secara moral benar dalam

konteks tersebut.

c) Moral niat. Memutuskan untuk menempatkan nilai yang lebih tinggi

pada norma-norma mora terhadap lain norma-norma.

d) Tindakan moral. Terlibat dalam perilaku moral (Rest, 1986; Butterfield

et al., 2000; Jones, 1991).

Sensitivitas etis merupakan kemampuan untuk menyadari

nilai-nilai etika atau moral dalam suatu keputusan etis (Rustiana, 2003).

Sensitivitas etis dalam penelitian ini dikaitkan dengan persepsi karyawan

yang bekerja di bagian akuntansi perusahaan mengenai tax evasion.

Ada tiga definisi dalam memahami model-model dalam pembuatan

keputusan-keputusan etis yaitu:

a) Isu moral (moral issue). Isu moral tersebut timbul pada saat ada

tindakan seseorang yang mungkin dapat merugikan atau

menguntungkan orang lain atau dengan kata lain suatu tindakan atau

keputusan pasti memiliki konsekuensi-konsekuensi terhadap orang lain

dan pasti melibatkan suatu pilihan atau kemauan dari si pembuat

(32)

commit to user

b) Agen moral (moral agent) adalah orang yang membuat keputusan moral walaupun mungkin orang tersebut tidak mengenali isu moral

tersebut. Pengertian agen moral ini sangat sangat penting karena

elemen pokok dari pengambilan keputusan moral terlibat disini yaitu

mengenai isu moral yang ada.

c) Keputusan etis (ethical decision), sebagai keputusan yang baik secara

legal maupun moral diterima dalam masyarakat luas. Sebaliknya

keputusan yang tidak etis (unethical decision) adalah keputusan yang

baik secara legal dan moral tidak diterima oleh masyarakat luas.

Ada 6 model dalam mengklarifikasikan model keputusan etis

(Jones, 1991), yaitu:

a) Rest’s Model. Ada empat komponen model ini untuk membuat

keputusan etis oleh individu, dimana seorang agen moral dalam

membuat keputusan harus mengenali isu moral yang ada, membuat

penilaian moral (moral judgment), memutuskan untuk menempatkan perhatiannya terhadap masalah-masalah moral di atas masalah yang

lain (membentuk pandangan moral atau moral intent), dan bertindak

terhadap masalah-masalah moral yang ada.

b) Trevino’s Model, sebagai person situation interactional model. Dalam hal ini diawali dengan adanya dilema etika yang kemudian berlanjut ke

tahap kesadaran (cognition stage). Penilaian moral dibuat ditahap kesadaran ini yang kemudian dikembangkan oleh faktor-faktor

individu dan situasi. Yang termasuk dalam faktor-faktor individu

meliputi kekuatan ego (ego strength), ketergantungan lapangan (field

(33)

commit to user

yang termasuk faktor-faktor situasi meliputi konteks tugas segera

(immediate job context), kultur organisasi dan karakteristik dari pekerjaan.

c) Ferrel & Gresham’s Model, dengan membuat sebuah kerangka kerja

kontingen (contigency framework) untuk membuat keputusan etis

dalam pemasaran. Dalam model ini isu etika atau dilema muncul dari

lingkungan sosial atau budaya. Faktor kontingensi yang mempengaruhi

si pembuat keputusan (decision-maker) adalah faktor-faktor dari dalam

individu itu sendiri yang meliputi pengetahuan, nilai-nilai, perilaku dan

tujuan maupun faktor-faktor dari organisasi yang meliputi kepentingan

orang lain dan kesempatan. Keputusan yang dihasilkan dari proses ini,

pertama menunjukkan pada perilaku (behavior) yang selanjutnya ke tahap evaluasi dari perilaku tersebut yang kemudian merupakan titik

awal dari umpan balik terhadap faktor- faktor individu dan organisasi.

d) Hunt’s & Vitel’s, Model dimana faktor-faktor lingkungan seperti

budaya, industri, organisasi dan pengalaman seseorang mempengaruhi

persepsi terhadap keberadaan etis problem, alternatif-alternatif

tindakan dan konsekuensi-konsekuensinya. Persepsi ini sejalan dengan

norma deontologis (deontological norm) dan evaluasi terhadap konsekuensinya. Konsekuensinya yang menujukkan pada penilaian

pada evaluasi deontologi dan teologi yang kemudian menunjukkan

(34)

commit to user

kekonsekuensi aktual dan kembali ke pengalaman seseorang (personal experience).

e) Dubinsky and Loken’s Model, yang mendasarkan pada teori tindakan

beralasan (theory of reasoned action) dari Fishbein & Ajzen. Model ini

diawali dengan perilaku umum (behavioral beliefs), hasil evaluasi

(outcome evaluations), norma yang berlaku (normative beliefs) dan

motivasi untuk menyetujui (motivation to comply). Dua variabel

pertama berpengaruh pada sikap etis dan perilaku tidak etis. Dua

variabel yang terakhir berpengaruh pada norma subjektif pada perilaku

etis dan tidak etis. Pada akhirnya sikap dan norma subjektif

menunjukkan pada tujuan untuk bertindak secara etis dan tidak etis

serta berpengaruh pada perilaku yang nyata. Tidak ada putaran umpan

balik dalam hal ini.

Dari kelima macam model pengambilan keputusan etis ini

menunjukkan bahwa tidak satupun dari model-model tersebut yang

memasukkan karakteristik dari hal moral itu sendiri, baik sebagai variabel

independen atau variabel moderat (yaitu variabel independen yang diduga

atau dapat merubah hubungan antara variabel independen dan variabel

dependen). Jika dari sintesa model tersebut dijadikan dasar untuk menilai

perilaku etis, maka perilaku dan pengambilan keputusan etis dalam

organisasi ini adalah sama atau identik satu dengan yang lain.

Model yang terakhir atau keenam adalah Issue Contingency Model.

Argumen utamanya ialah pembuatan etika merupakan hal yang

kondisional, yaitu tergantung atau sesuai dengan karakteristik-karakteristik

(35)

commit to user

Intensitas moral ini menjadi penentu yang utama dari model pembuatan

keputusan dan perilaku etis (Nuryatno & Synthia, 2001).

B. PENELITIAN TERDAHULU DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

1. Tax evasion, gender & usia

Suatu peristiwa moral tertentu, dalam hal ini adalah tax evasion, melalui proses penentuan yang kompleks berdasarkan pengalaman dan latar

belakang budaya yang berbeda-beda, maka akan menimbulkan persepsi yang

berbeda pula antar individu.

Penelitian Mc.Gee dan Tyler (2006) mengenai etika penggelapan pajak

di 33 negara menyimpulkan bahwa ada faktor-faktor demografis yang

mempengaruhi persepsi seseorang dalam melakukan penggelapan pajak

seperti usia, gender, tingkat pendidikan, dan besarnya pendapatan. Hal

serupa juga dilakuan Mc.Gee dengan melakukan komparasi antara China,

Jepang, dan Korea

Beberapa studi telah membandingkan pendapat antara pria dan wanita

mengenai isu atas etika. Beberapa studi menyatakan bahwa wanita lebih etis

dibandingkan pria (Akaah & Riordan 1989; Baird 1980; Brown & Choong

2005; Sims, Cheng & Teegen 1996), Sementara itu ada pula beberapa studi

yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan

wanita dalam hal etika (Roxas & Stoneback 2004; Sikula & Costa 1994;

Swaidan, Vitell, Rose & Gilbert 2006).

Beberapa studi membandingkan pandangan pria dan wanita mengenai

(36)

commit to user

studi bisnis internasional (Mc.Gee, 2005), study di Thailand (Mc.Gee,

2006), Orthodox Jews (Mc.Gee & Cohn, 2006) dan Taiwan (Mc.Gee &

Andres, 2007) yang menemukan bahwa wanita lebih menentang tax evasion. Sementara itu study di Polandia (Mc.Gee & Bernal, 2006), Hong Kong

(Mc.Gee & Ho, 2006), Hubei (Mc.Gee & Guo,2006), Macau (Mc.Gee,

Noronha & Tyler, 2006) dan Cina bagian selatan (Mc.Gee & Noronha,

2007) menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan berdasarkan gender.

Studi di Romania (Mc.Gee, 2005) menemukan bahwa pria lebih menentang

daripada wanita. Sedangkan penelitian di china sendiri yaitu wanita

cenderung lebih menentang tax evasion daripada pria (Mc. Gee, 2007)

Selain gender Tingkat usia juga dapat mempengaruhi etika atas tax evasion. Semakin bertambah usia, maka akan semakin menentang tax evasion. Dengan bertambahnya usia, maka seseorang akan semakin sadar untuk lebih menghormati negara. Hal ini didukung oleh penelitian Mc.Gee

(2005a) yang mencoba membandingkan antara staf pengajar dan mahasiswa

bisnis di Romanian. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa staf

pengajar lebih menentang penggelapan pajak dibanding dengan mahasiswa.

Selain itu penelitian Mc.Gee (2007) yang mencoba membandingkan

mahasiswa semester awal dan mahasiswa semester akhir di China , hasilnya

bahwa mahasiswa semester akhir lebih menentang tax evasion. Hal itu

membuktikan bahwa usia mempengaruhi seseorang dalam memandang etika

atas tax evasion. Dari penjelasan diatas, maka dapat disusun hipotesis

(37)

commit to user

H1: Terdapat perbedaan persepsi dalam memandang etika atas tax

evasion dari segi usia karyawan yang bekerja di bagian akuntansi

perusahaan.

H2: Terdapat perbedaan persepsi antara pria dan wanita pada

karyawan yang bekerja di bagian akuntansi perusahaan dalam

memandang etika atas tax evasion

2. Tax Evasion dan Etika

Sebagian besar artikel tax evasion melihat dari segi ekonomi keuangan atau dari segi hukum, belum banyak artikel yang penelitian membahas dari

segi etika. Penelitian komprehensif mengenai etika atas tax evasion dilakukan oleh Martin Crowe (1944) dalam disertasinya yang berjudul “The Moral Obligation of Paying Just Taxes “. Disertasi tersebut mengulas sisi teologi dan filosofi dari tax evasion melalui sudut pandang umat katolik

(dikutip dari Mc. Gee, 2006). Selanjutnya, beberapa artikel penelitian ditulis

dalam perspektif berbagai agama. Mc Gee et al., (1997) melakukan studi

literatur dari sudut pandang islam. Dari hasil penelitiannya disimpulkan

bahwa tax evasion tidak selalu tidak etis. Tax evasion dapat menjadi etis

dalam keadaan tertentu. Graonbacher (1988) meneliti isu tax evasion dari

pemikiran masyarakat katolik dan liberal klasik. Sedangkan Cohn (1988)

membahas tax evasion dari sudut pandang masyarakat yahudi.

Selain dari sudut pandang agama, penelitian dilakukan dari sisi

masyarakat umum dan praktisi. Nylen (1988) melakukan penelitian terhadap

(38)

commit to user

Mc. Gee et al., (2006) melakukan penelitian mengenai etika yang terkait

dengan tax evasion. Survey dilakukan terhadap mahasiswa tingkat atas dan lulusan departemen bisnis dan ekonomi di Universitas Macau. Mereka

menemukan bahwa tax evasion tidak selalu tidak etis, tax evasion dapat

dianggap etis dalam situasi tetentu. Tax evasion dianggap etis jika pemerintah dianggap korup, atau adanya kebijakan perpajakan yang

merugikan.

Sedangkan Sensitivitas etika merupakan kemampuan seseorang untuk

menyadari adanya nilai-nilai etika atau moral dalam suatu keputusan.

Sensitivitas etis mengacu pada kemampuan seseorang untuk

mengidentifikasi konten etika dari mengingat situasi (Sparks dan Hunt,

1998). Sensitivitas etika merupakan faktor penting dalam pengambilan

keputusan yang adil dan dipengaruhi oleh lingkungan di mana keputusan

dibuat selain variabel pribadi (Hunt dan Vitell, 1993; Patterson, 2001).

Dengan demikian orang yang mempunyai sensitivitas etika yang tinggi maka

ia akan lebih menentang tax evasion. Artinya bahwa sensitivitas etika

mempengaruhi seseorang dalam menentukan persepsi atas tax evasion.

Maka hipotesisnya adalah:

H3 : Sensitivitas etika berpengaruh terhadap persepsi etika atas tax

evasion

3. Tax Evasion dan Gender

Gender adalah penggolongan gramatikal terhadap kata benda yang secara garis besar berhubungan dengan dua jenis kelamin serta ketiadaan

(39)

commit to user

Perbedaan gender diantara pria dan wanita dibentuk oleh suatu proses yang sangat panjang pembentukan perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh

beberapa hal misalnya, melalui sosialisasi, budaya yang berlaku serta

kebiasaan-kebiasaan yang ada. Perbedaan gender ini sebenarnya tidak

menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Dalam kenyataannya, perbedaan gender telah menyebabkan berbagai ketidak adilan

baik bagi pria maupun wanita. Ketidakadilan gender tersebut dapat berwujud dalam berbagai bentuk ketidakadilan, misalnya marginalisasi, proses

pemiskinan ekonomi, subordinasi pengambilan keputusan, stereotyping dan

diskriminasi, pelabelan negatif, kekerasan, bekerja untuk waktu yang lebih

lama dan memikul beban ganda (Glover et al., 2002).

Mosse dalam Wijaya (2005) mendefinisikan gender sebagai seperangkat peran yang dimainkan untuk menunjukkan kepada orang lain

bahwa seseorang tersebut feminim atau maskulin. Penampilan, sikap,

kepribadian, tanggung jawab keluarga adalah perilaku yang akan

membentuk peran gender. Peran gender ini akan berubah seiring waktu dan

berbeda antara satu kultur dengan kultur yang lainnya. Peran ini juga

berpengaruh oleh kelas sosial, usia dan latar belakang etnis.

Meningkatnya jumlah wanita yang memasuki dunia kerja dalam

beberapa tahun terakhir mempengaruhi manajemen dalam pengelolaan

diversitas yang berkaitan dengan gender. Isu tentang perbedaan gender dalam judgment etis relevan dalam bisnis, apalagi semakin banyaknya wanita masuk dalam bisnis dan menempati posisi-posisi penting dalam

(40)

commit to user

ternyata perbedaan gender masih mempengaruhi kesempatan (opportunity) dan kekuasaan (power) dalam suatu organisasi (Ratdke, 2000).

Ameen & Millan (1996) menyatakan ada dua alternatif penjelasan

mengenai perbedaan gender tentang perilaku tidak etis dalam bisnis.

Pendekatan tersebut adalah pendekatan sosialisasi gender (gender sosializationapproach) dan pendekatan struktural (structural approach).

Pendekatan sosialisasi gender menyatakan bahwa pria dan wanita membawa perbedaan nilai dan perlakuan dalam pekerjaannya. Perbedaan ini

disebabkan karena pria dan wanita mengembangkan bidang peminatan,

keputusan dan praktik yang berbeda yang berhubungan dengan

pekerjaannya. Pria dan wanita merespon secara berbeda tentang reward dan cost. Pria akan mencari kesuksesan kompetitif dan bila perlu melanggar aturan untuk mencapainya. Sedangkan wanita lebih menekankan pada

melakukan tugasnya dengan baik dan lebih mementingkan harmonisasi

dalam relasi pekerjaan.

Wanita lebih condong taat pada peraturan dan kurang toleran dengan

individu yang melanggar aturan. Dalam pendekatan struktural, perbedaan

antara pria dan wanita lebih disebabkan karena sosialisasi awal dan

persyaratan peran. Sosialisasi awal diatasi dengan reward dan cost yang berhubungan dengan peran. Pada situas ini pria dan wanita merespon secara

sama. Pada pendekatan ini memprediksi bahwa pria dan wanita dalam

kesempatan atau pelatihan akan menunjukkan prioritas etika yang sama

(Rustiana, 2003).

Isu perbedaan gender dalam pertimbangan moral berosilasi antara dua

(41)

commit to user

perempuan memang berbeda dalam orientasi moral mereka, dan persamaan

posisi, yang kemajuan gagasan bahwa laki-laki dan perempuan pada

dasarnya sama dalam orientasi etika mereka. Persamaan/perbedaan ini telah

memicu perdebatan banyak sikap dan perspektif yang berbeda dan mungkin

salah satu yang paling berat topik penelitian dalam literatur etika bisnis

(Nguyen et al., 2008).

Sementara beberapa penelitian sebelumnya, seperti yang dijelaskan di

bawah ini, muncul gagasan bahwa perempuan lebih etis dari laki-laki, bukti

dalam hal ini masih dicampur. Investigasi perbedaan gender itu dibenarkan dengan semakin banyaknya perempuan yang masuk ke dunia kerja,

kesempatan mereka untuk menduduki posisi manajemen yang lebih tinggi

terbuka lebar. Wanita semakin mempopulasikan posisi manajemen di

banyak organisasi, dan penting untuk memahami apakah, dan bagaimana,

mereka berbeda dari orang-orang ketika menghadapi situasi dengan etika

implikasi. Selain itu, memahami dampak potensial dari gender pada sensitivitas etis akan membantu dalam pemahaman kita tentang beberapa

variabel yang bermain dalam penilaian etika dan pengambilan keputusan.

Beberapa penelitian membandingkan sudut pandang pria dan wanita

mengenai etika atas tax evasion. Penemuan atas penelitian dari sisi gender masih memiliki hasil yang tidak konsisten. Penelitian yang dilakukan Mc.

Gee et al (2006) terhadap mahasiswa dan lulusan departemen bisnis dan

ekonomi Universitas macau menemukan bahwa dalam beberapa item

pertanyaan, pria lebih menentang tax evasion dibandingkan wanita. Pada penelitian yang yang dipublikasikan tahun 2006, Mc.Gee dan Smith

(42)

commit to user

dibandingkan pria. Survey tersebut dilakukan pada 33 negara, termasuk Indonesia. Dari penelitian Mc.Gee yang disampaikan dalam AIB Southeast

Asia Regional Conference juga dikemukakan bahwa wanita cenderung lebih

menentang tax evasion dibandingkan pria. Selain itu, Mc.Gee dan Smith

(2007) menghasilkan kesimpulan bahwa wanita lebih menentang tax evasion dibandingkan pria. Penelitian mereka dilakukan pada beberapa universitas di

United States. Hasil tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan oleh

Mc.Gee dan An (2007) dengan sampel mahasiswa di University of Beijing.

Dengan demikian hipotesis yang disusun adalah :

H4 : Gender berpengaruh terhadap persepsi atas tax evasion

4. Tax Evasion dan Usia

Penelitian sebelumnya menghubungkan usia etika telah dicampur

meskipun kebanyakan studi telah menunjukkan peningkatan ethicality

dengan usia. Kohlberg (1984) menunjukkan bahwa umur positif

mempengaruhi perkembangan moral di mana orang dewasa terus

mengembangkan perbedaan tingkat terhadap perkembangan moral. Barnett

dan Karson (1989) menemukan bahwa responden yang berusia lebih muda

bertindak kurang etis dibandingkan dengan responden yang lebih tua.

Penelitian lain menemukan bahwa responden yang lebih muda diperoleh

skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lebih tua (Arlow, 1991).

Borkowski dan Ugras (1998) melakukan meta-analisis dari 35 studi

yang termasuk sebagai faktor usia dan menyimpulkan bahwa sikap dan

perilaku tampaknya menjadi lebih etis sebagai orang dewasa dalam usia.

(43)

commit to user

memiliki standar etika yang lebih rendah. Mereka juga mencatat signifikan

interaksi antara umur dan jenis kelamin mana terutama laki-laki muda

ditemukan untuk menjadi lebih rentan terhadap faktor eksternal. Wimalasari

(2001) ditemukan perbedaan yang signifikan antara peserta yang lebih muda

dan lebih tua. Chan et al. (2002) menunjukkan bahwa eksekutif muda di

china lebih cenderung untuk terlibat dalam tindakan yang tidak etis atau

bahkan mengikuti kegiatan yang terlarang hanya untuk mendapatkan

keuntungan daripada rekan-rekan mereka yang lebih tua. Ross dan

Robertson (2003) menemukan umur dan perbedaan gender dalam kaitannya

dengan pengambilan keputusan etis masalah.

Di sisi lain, Cortese (1989) menegaskan usia yang tampaknya tidak

menjadi variabel yang signifikan dalam menjelaskan penilaian moral. Stanga

dan Turpen (1991) tidak menemukan perbedaan dalam penilaian etis yang

dapat dihubungkan dengan usia dalam studi mereka. White (2000)

berpendapat bahwa perkembangan moral tidak hanya tergantung umur tetapi

lebih keluarga-sistem tergantung. Kohut dan Corriher (1994) tidak

menemukan perbedaan usia yang signifikan dalam kaitannya dengan

pengambilan keputusan etis.

Ekin dan Tezolmez (1999) menemukan bahwa umur tidak menjelaskan

perbedaan etika sejumlah manajer. Mereka juga memberikan catatan,

bagaimanapun, bahwa manajer yang adalah antara 26 - dan 29-tahun

tampaknya memiliki etika berarti skor terendah. Demikian juga, kemudian

penelitian tidak menemukan perbedaan usia atau tidak signifikan dalam

(44)

commit to user

dengan gender, penelitian masa lalu telah menawarkan hasil yang beragam

untuk interaksi antara usia dan etika.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Mc. Gee yang disampaikan dalam

2006 AIB Southeast Asia Regional Conference, dengan mengambil sampel

masyarakat Asia, Mc. Gee menemukan bahwa umur juga mempengaruhi

persepsi etika atas tax evasion. Dalam penelitiannya disimpulkan bahwa

semakin bertambah umur maka kecenderungan menentang tax evasion lebih tinggi.

H5 : Usia berpengaruh terhadap persepsi atas tax evasion

Maka dari hipotesis tersebut, kerangka pemikirannya adalah sebagai

berikut:

Variabel Independen : Variabel Dependen:

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Sensitivitas Etika

Usia

(45)

commit to user

Penelitian ini merupkakan penelitian dengan menggunakan metode survey dengan menyebarkan kuesioner baik secara langsung maupun melalui e-mail yang

ditujukan kepada akuntan perusahaan di Surakarta, Sukoharjo & Karanganyar..

Survey adalah metode pengumpulan data primer dengan memeberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu (Jogiyanto, 2005). Penelitian ini didesain

untuk mengetahui apakah sensitivitas etika, gender, dan usia mempengaruhi persepsi

etika atas tax evasion.

Dimensi waktu yang digunakan adalah cross sectional, yang artinya penelitian

ini dilakukan pada suatu waktu tertentu. Lokasi penelitian ini adalah wilayah

Surakarta, Sukoharjo & Karanganyar. Wilayah tersebut dipilih sebagai lokasi

penelitian karena keterjangkauan dalam perolehan data secara langsung.

B. Populasi dan Pemilihan sampel

1. Populasi

Populasi merupakan wilayah generaliasi yang terdiri atas subyek atau

obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

2002:43). Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan

perusahaan yang bekerja di bagian akuntansi perusahaan. Profesi ini dipilih

karena karyawan yang bekerja di bagian akuntansi perusahaan berkaitan

langsung dengan transaksi keuangan dan pelaporannya, mereka juga dapat

membuat skema transaksi yang dapat menghindarkan pembayaran pajak baik

melalui cara yang legal maupun ilegal.

(46)

commit to user

Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak

diselidiki (Djarwanto, 1990). Dalam penentuan sampel tersebut, sampel

diambil dengan metode purposive convenience sampling, yang mana sampel

diambil dengan tujuan tertentu atas dasar pertimbangan peneliti. Maka dalam

penelitian ini sampelnya adalah karyawan perusahaan yang bekerja di bagian

akuntansi perusahaan di Surakarta, Sukoharjo & Karanganyar.

C. Jenis Dan Sumber Data

Untuk mengetahui dan menganalisis masalah yang sedang diteliti, maka

diperlukan berbagai macam data yang berkaitan dengan masalah penelitian. Adapun

data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupkan

sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui

media perantara).

Data dikumpulkan dengan menggunakan metode kuesioner. Metode kuesioner

adalah dengan menyusun pertanyaan dalam bentuk tertutup yaitu responden hanya

memilih salah satu dari alternatif jawaban yang sudah disediakan.

D. Definisi Operasional Variabel

1. Variabel independen

a. Sensitivitas etika

Sensitivitas etika merupakan Kemampuan untuk menyadari adanya

nilai-nilai etika atau moral dalam suatu keputusan. Sensitivitas etis

mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi konten etika

dari mengingat situasi (Sparks dan Hunt, 1998). Etika sensitivitas

(47)

commit to user

dipengaruhi oleh lingkungan di mana keputusan dibuat selain variabel

pribadi (Hunt dan Vitell, 1993; Patterson, 2001). Sensitivitas etika

merupakan salah satu variabel independen dalam penelitian ini. Variabel

diukur menggunakan skala likert dari 1 sampai 7 dengan nilai 1 untuk

sangat setuju, 2 untuk setuju, 3 untuk agak setuju, 4 untuk netral, 5 untuk

agak tidak setuju, 6 untuk tidak setuju, dan 7 untuk sangat tidak setuju.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan

16 item pertanyaan mengenai sensitivitas etika. Instrumen ini diadopsi dari

penelitian Sidani et al., (2008).

b. Usia

Pada penelitian-penelitian terdahulu usia menjadi salah satu

variabel yang mempengaruhi persepsi atas tax evasion. seperti penelitian

yang dilakukan oleh Mc. Gee (2005) yang mencoba membandingkan

antara staf pengajar dan mahasiswa bisnis di Romanian. Dari penelitian

tersebut diperoleh hasil bahwa staf pengajar lebih menentang penggelapan

pajak dibanding dengan mahasiswa. Seperti diungkapkan Mc.Gee (2005)

bahwa semakin bertambah usia maka seseorang akan bersifat lebih etis.

Semakin bertambah usia, maka akan semakin menentang tax evasion.

Dengan bertambahnya usia, maka seseorang akan semakin sadar untuk

lebih menghormati negara.

Dalam penelitian ini pun penulis mengambil usia menjadi salah

satu variabel independen. Penulis menggolongkan kategori usia menjadi 2

(48)

commit to user

dengan memeberi kode (2). Pembagian usia ini guna memudahkan dalam

analisis pembahasan data.

c. Gender

Gender adalah penggolongan gramatikal terhadap kata benda yang secara garis besar berhubungan dengan dua jenis kelamin serta ketiadaan

jenis kelamin atau kenetralan. Mosse dalam Wijaya (2005) mendefinisikan

gender sebagai seperangkat peran yang dimainkan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa seseorang tersebut feminim atau maskulin.

Penampilan, sikap, kepribadian, tanggung jawab keluarga adalah perilaku

yang akan membentuk peran gender. Peran gender ini akan berubah

seiring waktu dan berbeda antara satu kultur dengan kultur yang lainnya.

Peran ini juga berpengaruh oleh kelas sosial, usia dan latar belakang etnis.

Isu mengenai gender dapat memepengaruhi persepsi atas etika atas tax

evasion sudah cukup banyak dilakukan. Dalam penelitian ini pun penulis

mengambil gender sebagai salah satu variabel independen. Dalam

penelitian ini penulis mengkode pria (1) dan wanita (2) untuk

memudahkan dalam pengujian.

2. Variabel dependen

Variabel penelitian yang diuji dalam penelitian ini adalah persepsi

etika atas tax evasion. Persepsi merupakan proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, memahami, mengorganisir,

menafsirkan situasi atau peristiwa yang dapat memberikan kesan perilaku

yang positif atau negatif (Stephen 1996, Hucynsky & Buchanan 1991 dalam

(49)

commit to user

penggelapan pajak merupakan pengurangan pajak yang dilakukan dengan

melanggar peraturan perpajakan seperti memberikan data-data palsu atau

menyembunyikan data. Dengan demikian penggelapan pajak merupakan

tindakan illegal, yang apabila dilakukan akan mendapatkan sanksi pidana.

Tax evasion juga diartikan sebagai upaya memperkecil atau bahkan tidak membayar pajak dengan cara-cara yang melanggar ketentuan perpajakan

(Darussalam, 2009; Birron, 2010; Murray, 2010).

Dalam penelitian ini, variabel diukur dengan menggunakan 7 poin

skala likert. Dengan nilai 1 untuk sangat setuju, 2 untuk setuju, 3 untuk agak setuju, 4 untuk netral, 5 untuk agak tidak setuju, 6 untuk tidak setuju, dan 7

untuk sangat tidak setuju. Jika hasil menunjukkan angka kurang dari atau sama

dengan 2 mengindikasikan bahwa penggelapan pajak selalu etis, angka 2<

skor <6 mengindikasikan bahwa penggelapan pajak kadang-kadang etis,

sedangkan angka lebih dari atau sama dengan 6 mengindikasikan bahwa

penggelapan pajak tidak pernah etis.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

dengan 17 item pertanyaan mengenai isu etika penggelapan pajak. Instrumen

ini diadopsi dari penelitian Mc.Gee (2007), dengan menghilangkan 1

pertanyaan ‘human rights’ yang tidak sesuai dengan keadaan di Indonesia yaitu pertanyaan apakah penggelapan pajak etis jika orang Yahudi dan hidup

di jaman Nazi Germany tahun 1935.

(50)

commit to user

Pada penelitian ini ada beberapa tahap dalam metode analisis data, antara lain

pengujian data (Uji validitas, uji reliabilitas) dan pengujian hipotesis. Berikut

penjelasannya:

1. Pengujian data

a. Uji Validitas

Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui kelayakan butir-butir dalam

suatu daftar konstruk pertanyaan dalam mendefinisikan suatu variabel.

Menurut Sekaran (2006) uji validitas dilakukan untuk memastikan

kemampuan sebuah skala untuk mengukur konsep yang dimaksudkan.

Dengan kata lain uji validitas dilakukan untuk mengetahui adanya ketepatan

antara alat ukur dengan konsep yang diukur.

Pengujian validitas menggunakan teknik korelasi Pearson’s Correlation

Product Moment. Pengujian menggunakan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut:

1. Apabila hasil pengujian menunjukkan tingkat signifikansi atau p value

kurang dari 0,05 maka disimpulkan bahwa pertanyaan adalah valid.

2. Apabila hasil pengujian menunjukkan tingkat signifikansi lebih dari 0,05

dapat disimpulkan bahwa pertanyaan tidak valid. (Nunnally dalam

Ghozali, 2006)

b. Uji Reliabilitas

Setelah dilakukan uji validitas, selanjutnya terhadap butir-butir pertanyaan

yang dinyatakan valid diuji keandalannya (Reliabilitas). Azwar (2000)

Gambar

  GAMBAR 1
Tabel IV.1
Tabel IV.2
Tabel IV.3 menunjukkan hasil pengujian validitas yang telah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Demikian pula, hasil pengukuran oleh aparat Pelabuhan Perikanan Pantai Karangantu pada bulan Agustus (2011) menunjukan arus di perairan Teluk Banten bergerak dari arah

Mahasiswa memiliki pengetahuan dan memahami landasan dan tujuan pendidikan Pancasila, memahami Pancasila sebagai karya besar bangsa Indonesia yang setingkat dengan

Perbedaan lama rawat inap itu sendiri dari tindakan mini laparotomi kolesistektomi disebabkan oleh rasa nyeri yang ditimbulkan pasca operasi sehingga mempengaruhi

Faktor yang dikenalpasti mempengaruhi prestasi pencapaian pendidikan anak-anak Orang Asli ialah sikap ibu bapa yang tidak mengambil berat tentang pelajaran anak-anak,

Oleh karena itu, melalui penelitiaan ini maka penulis mencoba untuk mengangkat sebuah judul yaitu “ Studi Pengembangan Desa Wisata Bone-Bone Sebagai Kawasan

Kesesuaian pelaksanaan pelayanan ini erat kaitannya dengan prosedur pelayanan yang merupakan suatu tatacara kerja atau kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan

Hasil dapatan kajian menunjukkan bahawa secara keseluruhannya tahap keberkesanan usaha-usaha yang dilakukan oleh anggotaanggota bengkel polis marin cawangan selatan

Ia akan mengurangkan respon masa, menyediakan keputusan segera dan data dapat diperoleh melalui masa nyata (real time) di samping memelihara keutuhan dan integriti data