BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.1. Kabupaten Batu Bara
Pada pertengahan tahun 2007 berdasarkan UU No. 5 Tahun 2007 tanggal
25 Juni 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Batu Bara. Kabupaten Asahan
dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Asahan dan Kabupaten Batu
Bara. Wilayah Asahan terdiri dari atas 13 Kecamatan sedangkan Batu Bara 7
Kecamatan yaitu Kecamatan Sei Balai, Kecamatan Tanjung Tiram, Kecamatan
Talawi, Kecamatan Lima Puluh, Kecamatan Air Putih, Kecamatan Sei Suka,
Kecamatan Medan Deras. Berdasarkan Peraturan Bupati Batu Bara Nomor 3
Tahun 2007 ditetapkan bahwa hari jadi Kabupaten Batu Bara adalah tanggal 8
Desember 2006 sesuai dengan Persetujuan Bersama DPR RI yang memutuskan
undang-undang tentang pembentukan Kabupaten Batu Bara.
Kabupaten Batu Bara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi
Sumatera Utara yang baru terbentuk pada tahun 2007 berdasarkan pemekaran dari
Kabupaten Asahan. Kabupaten Batu Bara berada di kawasan Pantai Timur
Sumatera Utara yang berbatasan dengan Selat Malaka. Kabupaten Batu Bara
menempati area seluas 904,96 Km2 atan 90.496 Ha yang terdiri dari 7 kecamatan
serta 100 desa/kelurahan defenitif. Letak geografis kabupaten ini berada di
2003’00” Lintang Utara dan 99001-100’00” Bujur Timur. Adapun batas
1. Sebelah Utara : Kabupaten Serdang Berdagai
2. Sebelah Selatan : Kabupaten Asahan
3. Sebelah Barat : Kabupaten Simalungun
4. Sebelah Timur : Selat Malaka
Ibukota Kabupaten Batu Bara terletak di Kecamatan Lima Puluh.
Berdasarkan luas daerah menurut kecamatan, daerah Lima Puluh merupakan
kecamatan terluas dengan luas wilayah mencapai 239,55 Km² atau 26,47 % dari
luas total Kabupaten Batu Bara. Sedangkan Kecamatan Medan Deras merupakan
wilayah terkecil dengan luas 65,47 Km² atau 7,23 % dari luas total Kabupaten
Batu Bara. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Luas Wilayah di Kabupaten Batu Bara Tahun 2009
No. Kecamatan Ibu Kota
2.1.2. Kelerengan
Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan lahan adalah
kemiringan lahan (lereng). Wilayah Kabupaten Batu Bara mempunyai topografi
yang bervariasi, yakni kondisi landai, datar, bergelombang, curam dan terjal. Pada
sebagian wilayah utara (arah pesisir) memiliki kondisi kemiringan yang relative
tidak bervariasi yaitu landai dan datar.
2.1.3. Ketinggian lahan
Ketinggian Lahan dimaksud adalah ketinggian permukaan lahan rata-rata
di atas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Batu Bara berada pada ketinggian 0
sampai dengan 100 meter di atas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Batu Bara
didominasi dengan ketinggian 7 – 25 meter di atas permukaan laut dan untuk
ketinggian lahan yang terkecil yakni 0 – 7 meter di atas permukaan laut. Memiliki
kedalam efektif tanah yang dangkal (20-50) cm, sedang tanah lahan kering
umunya memiliki kedalaman tanah sangat dalam (> 90 cm).
Drainase tanah di lokasi pengamatan juga bervariasi dari berdrainase baik
hingga sangat terhambat. Drainase sangat terhambat umunya terdapat pada lahan
sawah dan tambak, sedangkan drainase baik hingga agak baik terdapat pada tanah
lahan kering. Namun demikaian, pada lahan kering di beberapa lokasi pengamatan
tergenang beberapa lama. Hal ini terutama terjadi pada lahan dekat pantai atau
sungai yang muka air tanahnya terpengaruh oleh pasang surut air laut.
2.1.4. Klimatologi
Kabupaten Batu Bara memiliki iklim tropis dimana kondisi iklimnya
hampir sama dengan Provinsi Sumatera Utara. Menurut catatan Pos Perkebunan
Sei Bejangkar, pada tahun 2007 terdapat 95 hari hujan dengan curah hujan sebesar
1.376 mm. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan Nopember yaitu sebesar 233
mm dengan hari hujan sebanyak 12 hari. Sedangkan Curah hujan terendah terjadi
pada bulan Februari sebesar 18 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 2 hari.
Rata-rata curah hujan tahun 2007 mencapai 144,67 mm/bulan.
2.1.5. Hidrologi
Satuan Wilayah Sungai yang tersebar yang terdapat di wilayah Kabupaten
Batu Bara adalah Satuan Wilayah Sungai Bah Bolon dan sungai-sungai kecil
lainnya yang mengalir ke pantai timur. Sungai-sungai di kabupaten ini merupakan
sumber untuk pengairan ke persawahan dan perkebunan baik yang dimanfaatkan
oleh masyarakat dan swasta. Aliran Hidrologi dari sungai yang ada kemudian
mengaliri irigasi semi teknis maupun irigasi sederhana di Kabupaten Batu Bara
sehingga sebagian besar sawah di kabupaten ini dapat ditanami 3 (tiga) kali
setahun. Sungai-sungai di Kabupaten Batu Bara sebagian besar berhulu di
pegunungan bukit barisan yang terdapat di Kabupaten Simalungun. Kondisi ini
mengakibatkan fluktuasi air sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi penggunaan
2.2. Penggunaan Tanah
Jenis penggunaan lahan dominan di Kabupaten Batu Bara adalah untuk
budidaya komoditi perkebunan, terutama perusahaan perkebunan negara (BUMN)
dan swasta nasional mencapai 49,61% dari total luas wilayahnya dan untuk
perkebunan rakyat mencapai 21,35%. Luas penggunaan lahan untuk perkebunan
ini belum termasuk luas lahan tegalan yang umumnya digunakan untuk kebun
campuran dengan komoditi utama tanaman perkebunan (kelapa sawit, kakao, dan
karet) mencapai 9,04% dari total luas wilayah Kabupaten Batu Bara. Jenis
penggunaan lahan selengkapnya di Kabupaten Batu Bara disajikan pada Tabel 2
sebagai berikut.
Tabel 2. Jenis dan Luas Penggunaan Lahan Di Kabupaten Batu Bara Tahun 2009
No. Jenis Penggunaan Lahan Luas
Hektar %
Sumber: Batu Bara dalam Angka Tahun 2010
Bila ditinjau per wilayah kecamatan, penggunaan lahan di Kabupaten Batu
Bara bervariasi bergantung kepada posisi wilayah kecamatan tersebut. Untuk
wilayah kecamatan yang berada di bagian tengah hingga ke barat lebih didominasi
bagian timur hingga pantai Sumatera, penggunaan lahannya didominasi oleh
persawahan dan perairan. Jenis dan distribusi penggunaan lahan untuk
masing-masing wilayah kecamatan di Kabupaten Batu Bara disajikan pada Tabel 2
sebelumnya.
Dari Tabel 2 tersebut diperoleh gambaran bahwa penggunaan lahan
dominan di Kabupaten Batu Bara didominasi untuk perkebunan, baik perkebunan
Negara maupun perkebunan rakyat. Penggunaan lahan yang berorientasi pada
usaha dan kebun campuran berbasis tanaman perkebunan (terutama kelapa sawit,
kelapa, karet dan kakao) juga tergambar dari hasil survei lapangan. Di areal
persawahan juga banyak ditanami tanaman kelapa pada jarak tertentu di pematang
sawahnya.
2.3. Kependudukan
Perkembangan Jumlah Penduduk di Kabupaten Batu Bara dilihat dari
tahun 2004 berjumlah 369.389 jiwa sampai pada tahun 2009 meningkat dengan
jumlah 375.449 jiwa. Jumlah penduduk Kabupaten Batu Bara pada tahun 2004
berjumlah 369.389 jiwa, pada tahun 2005 berjumlah 374.715 jiwa, tahun 2006
berjumlah 379.678 jiwa, tahun 2007 berjumlah 373.836 jiwa, sedangkan tahun
2009 berjumlah 375.449 jiwa. Dimana jumlah penduduk pada tahun 2009 terbesar
berada di Kecamatan Lima Puluh debgan jumlah penduduk 84.904 jiwa dan
jumlah penduduk terkecil berada di Kecamatan Sei Balai berjumlah 29.301 jiwa.
Hal ini disebabkan karena Kabupaten Batu Bara baru dimekarkan dari Kabupaten
Tabel 3. Perkembangan Jumlah Penduduk Di Kabupaten Batu Bara Tahun 2009
No. Kecamatan
Perkembangan Jumlah Penduduk (Jiwa)
2005 2006 2007 2008 2009
1. Sei Balai 58.132 34.111 34.820 28.699 29.301 2. Tanjung Tiram 33.627 59.004 59.713 59.790 59.350
3. Talawi 53.324 54.087 54.796 54.843 53.792
4. Lima Puluh 83.575 84.818 85.527 85.574 84.904 5. Air Putih 45.931 46.609 47.318 47.365 48.024
6. Sei Suka 50.474 51.116 51.825 51.872 53.232
7. Madang Deras 44.326 44.970 45.679 45.723 46.846 Jumlah 369.389 374.715 379.678 373.836 375.449 Sumber : Batu Bara dalam Angka ”2010” Biro Pusat Statistik Kab. Asahan (2010).
2.3.1. Laju pertumbuhan penduduk
Jumlah laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Batu Bara di Tahun
2009 sebesar 0,06 % per tahun di setiap kecamatan. Pertumbuhan penduduk
tersebut diambil berdasarkan pertumbuhan kabupaten bukan rata-rata laju
pertumbuhan kecamatan, dikarenakan ada perkembangan laju jumlah penduduk
kecamatan yang mengalami penurunan atau minus. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Laju Pertumbuhan Penduduk Di Kabupaten Batu Bara Tahun 2009
No. Kecamatan
Perkembangan Jumlah Penduduk (Jiwa) 2005-2006 2005-2007 2005-2008 2005-2009
1. Sei Balai -0,41 -0,23 -0,21 0,06
2. Tanjung Tiram 0,75 0,33 0,21 0,06
3. Talawi 0,01 0,01 0,01 0,06
4. Lima Puluh 0,01 0,01 0,01 0,06
5. Air Putih 0,01 0,01 0,01 0,06
6. Sei Suka 0,01 0,01 0,01 0,06
7. Madang Deras 0,01 0,01 0,01 0,06
Total 0,014 0,014 0,004 0,06
2.3.2. Distribusi Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data kepadatan penduduk di Kabupaten Batu Bara pada tahun
2009 sebesar 414,88 jiwa/km2. Kepadatan terbesar di Kecamatan Medang Deras
sebesar 715,53 jiwa/km2 dan kepadatan penduduk terkecil di Kecamatan Sei Suka
sebesar 310,44 jiwa/km2. Lihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kepadatan Penduduk di Kabupaten Batu Bara Tahun 2009
No. Kecamatan Luas (Km²)
Jumlah Penduduk
(Jiwa)
Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²)
1. Sei Balai 92,64 29.301 316,29
2. Tanjung Tiram 173,79 59.350 341,50
3. Talawi 89,80 53.792 599,02
4. Lima Puluh 239,55 84.904 354,43
5. Air Putih 72,24 48.024 664,78
6. Sei Suka 171,47 53.232 310,44
7. Madang Deras 65,47 46.846 715,53
Jumlah 904,96 375.449 414,88
Sumber : Batu Bara dalam Angka ”2010” Biro Pusat Statistik Kab. Asahan (2010).
2.3.3. Sex Ratio
Sex ratio penduduk memberi gambaran perbandingan antara jumlah
penduduk laki dengan jumlah penduduk perempuan. Rasio penduduk
laki-laki terhadap penduduk perempuan pada tahun 2007 sebesar 1:1, artinya
diibaratkan dalam setiap 100 jiwa penduduk perempuan. Bila dilihat sex ratio di
terkecil yaitu 186.340 jiwa penduduk dan yang memiliki ratio laki-laki terbesar
yaitu 189.109 jiwa penduduk. Lihat Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Batu Bara Tahun 2009
No. Kecamatan
Laki-laki (Jiwa)
Perempuan (Jiwa)
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Jumlah KK
1. Sei Balai 14.534 14.767 29.301 6.219
2. Tanjung Tiram 30.161 29.189 59.350 13.237
3. Talawi 27.119 26.673 53.792 11.960
4. Lima Puluh 42.369 42.535 84.904 18.341
5. Air Putih 24.063 23.961 48.024 11.417
6. Sei Suka 27.174 26.058 53.232 12.701
7. Madang Deras 23.689 23.157 46.846 11.274
Jumlah 189.109 186.340 375.449 85.149 Sumber : Batu Bara dalam Angka ”2010” Biro Pusat Statistik Kab. Asahan (2010).
2.4. Kelembagaan Pemerintahan
Perangkat pemerintah Kabupaten Batu Bara adalah Kepala Daerah
Kabupaten, Kepala Kecamatan, dan Kepala Desa/Kelurahan. Tugas Pemerintah
Kabupaten meliputi wewenang dan kebijaksanaan kegiatan pemerintah daerah,
pemerintah umum, pemerintah desa, tugas pembantu, dan lain-lain sesuai dengan
Undang-Undang No. 32 Tahun 2000 tentang Pemerintahan Daerah, dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi
Perangkat Daerah.
Selain Dinas Pemerintah, Kabupaten Batu Bara memiliki Kantor Daerah
Kabupaten Batu Bara yang merupakan unsur pelaksana Pemerintah Kabupaten
kewenagannya yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Daerah
Kabupaten yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa wilayah
Kecamatan. Untuk membantu pemerintahan daerah dalam melaksanakan
wewenang dan tugas daerah maka Pemerintahan Kabupaten Batu Bara di bantu
oleh unsur pelaksana Pemerintah Kabupaten.
2.5. Kegiatan Perekonomian Masyarakat
2.5.1. Pertanian Tanaman Pangan
Perkembangan subsektor pertanian tanaman pangan yang meliputi
komoditi tanaman padi sawah, kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau di
Kabupaten Batu Bara pada empat tahun teakhir ini mengalami peningkatan,
sementara komoditi jagung, ubi kayu dan ubi jalar mengalami penurunan
produksi. Sementara untuk komoditi tanaman hortikultura, terutama sayuran dan
buah-buahan umunya mengalami penurunan produksi yang dipengaruhi oleh
pengurangan luas panen.
Produksi padi sawah di Kabupaten Batu Bara mengalami peningkatkan
cukup signifikan. Produksi padi sawah pada tahun 2006 sebanyak 147.541 ton
menjadi 169.921 ton pada tahun 2007, yang berarti terjadi peningkatann sebesar
15,17 %. Peningkatan produksi padi sawah ini terjadi karena adanya peningkatan
luas panen dari 28.599 hektar pada tahun 2006 menjadi 32.677 hektar pada tahun
2007. Produksi padi sawah pada tahun 2009, hingga bulan September saja
sebesar 189.920 ton yang berarti terjadi peningkatan sebesar 11,77 %
Peningkatan produksi pada sawah ini juga terjadi akibat adanya
peningkatan luas panen menjadi 37.984 hektar (hingga September 2009).
Perkembangan luas panen dan produksi padi sawah di Kabupaten Batu Bara
terjadi di semua wilayah kecamatan dengan jumlah produksi tertinggi pada tahun
2006 dan 2007 terjadi di Kecamatan Air Putih, sedangakan pada tahun 2009
terjadi di Kecamatan Lima Puluh. Perkembangan luas panen dan produksi padi
sawah di setiap wilayah kecamatan di Kabupaten Batu Bara. Peningkatan
produksi padi sawah di Kabupaten Batu Bara dari tahun ke tahun sebenarnya
masih dapat ditingkatkan bukan hanya disebabkan oleh peningkatan luas
Produkstivitas lahan untuk tanaman padi sawah di Kabupaten Batu Bara
pada tahun 2006 rata-rata sebesar 4,9 ton/ha, meningkat menjadi rata-rata 5,2
ton/ha pada tahun 2007. Produktivitas lahan sawah di Kabupaten ini belum
mencapai standar nasional yang ditetapkan sebesar 6,0 ton/ha. Dengan
peningkatan produktivitas mencapai standar nasional saja, total produksi padi
sawah di Kabupaten Batu Bara dapat ditingkatkan, meskipun luas panen tidak
bertambah dan bahkan berkemungkinan berkurang akibat alih fungsi lahan
menjadi penggunaan lain seperti untuk perkebunan kelapa sawit dan atau
2.5.2. Tanaman Hortikultura
Komoditi tanaman hortikultura (sayuran dan buah-buahan) yang banyak
diusahakan di Kabupaten Batu Bara adalah mentimun, cabai, kacang panjang,
sawi/petsai, terung, bayam, tomat dan semangka. Produksi mentimun di
Kabupaten Batu Bara pada tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 620 ton atau
25% dari tahun sebelumnya. Produksi mentimun pada tahun 2007 sebanyak 3095
ton dari luas panen 206 hektar (Batu Bara dalam Angka, 2008) menjadi 2475 ton
dari luas panen 110 hektar pada tahun 2008 (Posko Bulanan Dinas Pertanian dan
Peternakan Kabupaten Batu Bara, 2009). Dari sumber (bahan) bacaan yang sama,
diketahui bahwa produksi cabai juga mengalami penurunan dari 3446 ton dari
luas panen 440 hektar pada tahun 2007 menjadi hanya 339 ton dari luas panen 29
hektar pada tahun 2008.
2.5.3. Daerah Penangkapan Ikan
Karena posisi letak geografis Kabupaten Batu Bara sebelah timur
bersebelahan dengan selat Malaka, maka daerah penangkapan ikan (fishing
ground) mengandalkan perairan laut selat Malaka. Perairan laut Kabupaten Batu
Bara seluas 7.280 hektar yang terdiri dari perairan laut Kecamatan Tanjung Tiram
seluas 3.471 hektar, Kecamatan Talawi seluas 286 hektar, Kecamatan Lima Puluh
seluas 1.105 hektar, Kecamatan Sei Suka seluas 663 hektar dan Kecamatan
Medang Deras seluas 1.755 hektar. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7
Tabel 7. Luas Daerah Penangkapan Ikan Menurut Kecamatan Kabupaten Batu Bara Tahun 2008
No. Kecamatan Luas (Ha)
1. Tanjung Tiram 3.471
2. Talawi 286
3. Lima Puluh 1.1.05
4. Sei suka 663
5. Medang Deras 1.755
Total 7. 280
Sumber : Batu Bara dalam Angka ”2010” Biro Pusat Statistik Kab. Asahan (2010).
Kecamatan Tanjung Tiram memiliki perairan laut yang luas 3.471 hektar
sebagai daerah penangkapan ikan bagi nelayan Kabupaten Batu Bara dan
memiliki 1 unit TPI, kemudian disusul oleh Kecamatan Medang Deras 1.755
hektar yang memiliki 2 unti TPI. Sedangkan yang memiliki perairan laut terkecil
sebagai daerah penangkapan ikan adalah di Kecamatan Talawi seluas 286 hektar.
2.5.4. Budidaya Laut
Kawasan budidaya laut Kabupaten Batu Bara tahun 2008 seluas 321
hektar yang tersebar di 5 Kecamatan Pesisir. Kecamatan Tanjung Tiram memiliki
kawasan budidaya air laut terluas dibanding dengan Kecamatan Medang Deras
seluas 85 hektar dan yang terkecil adalah di Kecamatan Talawi seluas 20 hektar.
Untuk jelasnya potensi kawasan budidaya laut Kabupaten Batu Bara dapat dilihat
pada Tabel 8. Berdasarkan data Tabel dibawah, bila kawasan budidaya laut
dimanfaatkan 40 % yaitu 128,4 hektar atau 1.284 meter kubik volume air sebagai
media kultur, maka keramba jaring apung dapat dioperasionalkan sebanyak 57
Tabel 8. Produksi Olahan Hasil Laut Kabupaten Batu Bara (Ton) Tahun 2009
No. Kecamatan Jumlah
1. Tanjung Tiram 381,25
2. Talawi 18
3. Lima Puluh 15
4. Sei suka 9
5. Medang Deras 85
Total 508,25
Sumber : Batu Bara dalam Angka ”2010” Biro Pusat Statistik Kab. Batubara (2010).
Dari hasil tabek 8 diatas terlihat produksi olahan hasil laut pada kabupaten
Batubara wilayah kecamatan Tanjung Tiram yang tertinggi yaitu sebesar 381,25
disusul dengan kecamtan Medang Deras, Talawi, Lima Puluh dan Sei Suka.
2.6. Persebaran Mata Pencaharian Sebagai Nelayan Pada Wilayah Kabupaten Batu Bara
Mata pencaharian masyarakat setempat selalu berhubungan erat dengan
kondisi lingkungan setempat jadi umumnya masyarakat disini mempunyai mata
pencaharian dari perikanan laut atau sering disebut nelayan perikanan laut.
Nelayan umumnya tinggal di desa/kelurahan dekat dengan pinggiran pantai (BPS
Tabel 9. Jumlah Penduduk di Sektor Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batu Bara Tahun 2008
No. Kecamatan Jumlah
Penduduk
Jumlah Nelayan
Keterangan Jumlah Desa Nelayan
Sumber : Dinas`Kelautan dan Perikanan Kabupaten Batu Bara, 2008
Dari Tabel 9 dapat dilihat pada tahun 2008 Kecamatan Tanjung Tiram
memiliki jumlah nelayan sebanyak 10.580 jiwa dan merupakan jumlah nelayan
terbanyak dan diikuti Medang Deras 5.055 jiwa, sedangkan jumlah nelayan
terkecil terdapat di kecamatan Sei Suka 970 jiwa dan diikuti Lima puluh 2000
jiwa. Kabupaten Batu Bara, nelayan tidak terdapat pada seluruh kecamatan hanya
ada di 5 (lima) kecamatan yang terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan yang ada di
Kabupaten Batu Bara.
Tabel 10. Jumlah Penduduk Nelayan dan Jenis Pekerjaan Sektor Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batu Bara Tahun 2008
No. Jumlah Nelayan
Jumlah Pekerjaan Sektor Perikanan Pemdudiaya
Dari Tabel 10 dapat dilihat jenis pekerjaan nelayan di sektor perikanan
semakin bertambah dimana jumlah penduduk nelayan Kecamatan Tanjung Tiram
adalah 10.580 dilihat dari segi pekerjaan pembudidaya ikan air payau, air tawar,
pengolahan hasil perikanan dan pedagang ikan. Pada Kecamatan Tanjung Tiram
pengolahan hasil perikanan dan pedagang ikan sangat tinggi dibandingkan dengan
Kecamatan lainnya. Pembudidaya ikan air laut tiap-tiap kecamatan tidak ada
karena sulit membuat sarana dan modal yang lebih besar.
Sebagian besar penduduk di wilayah pesisir bermata pencaharian di sektor
pemanfaatan sumberdaya kelautan (marine resources base), seperti nelayan, petani
ikan (budidaya tambak dan laut). Menurut BPS Sumatera Utara 2006, perikanan
laut, meliputi sektor penangkapan dan budidaya ikan, dengan kewenangan di
wilayah laut sejauh 4 mil. Sesuai dengan pelaksanaan UU. No. 22 Tahun 1999,
dan UU. No. 32 Tahun 2002, Perikanan darat terdiri dari budidaya ikan air payau
meliputi: udang dan ikan, budidaya air tawar meliputi : pemasaran ikan hias serta
kolam-kolam pemancingan, dan perairan umum meliputi : waduk, sungai, dan
rawa.
2.7 Kecamatan Tanjung Tiram
Kecamatan Tanjung Tiram merupakan salah satu Kecamatan yang terletak
di Kabupaten Batu Bara, dengan luas wilayah sekitar 173,79 km² yang terdiri dari
19 desa yaitu, Bogak, Pahlawan, Bandar Rahmat, Sukamaju, Kampung
Lalang, Bagan Dalam, Sukajaya, Guntung, Sentang, Lima Laras, Mekar
Mentaram, Pematang Rambai, Bagan Baru, Tali Air Permai, Kapal Merah dan 2
Kelurahan yaitu Tanjung Tiram dan Bagan Arya Kelurahan Labuhan Ruku
Keadaan alam Kecamatan Tanjung Tiram adalah daerah dataran rendah dengan
ketinggian 0-4,5 m dpl yang berbatasan dengan Selat Malaka. Daerah Kecamatan
Tanjung Tiram beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim hujan dan musim
kemarau dengan suhu berkisar antara 28 – 37 ºC. Kedua musim ini sangat
dipengaruhi oleh arah angin laut yang membawa hujan dan angin gunung yang
membawa panas dan lembab. Secara administratif,
a. Kecamatan Tanjung Tiram berbatasan langsung dengan selat malaka
disebelah timur
b. Disebelah selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Asahan
c. Disebelah barat berbatasan dengan kecamatan Talawi tepatnya dengan
Desa Masjid Lama.
2.8 Desa Bogak
Desa Bogak merupakan titik lokasi penelitian yang ditentukan oleh
peneliti. Desa Bogak yang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan
Talawi Kabupaten Batu Bara. Desa ini berbatasan langsung dengan beberapa desa
diantaranya Desa Masjid Lama, Desa Indrayaman dan Desa Tanjung Tiram dan
juga berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Tiram atau masyrakat setempat
menyabutkannya Pelabuhan Bom. Jarak yang dapat di tempuh untuk menuju Desa
Bogak sekitar 35 Km dari Kota Kisaran, Kabupaten Asahan dan dari Kota Medan
2.8.1 Mata pencaharian
Mata pencaharian masyarakat di Desa Bogak Umumnya sebagai nelayan
dan penambak ikan dan udang. Faktor yang membuat masyarakat yang
berprosfesi sebagai nelayan dikarenakan wilayah Desa Bogak langsung bertemu
dengan selat dan sejajar Pelabuhan Tanjung Tiram.
Mata pencaharian masyrakat di Desa Bogak sebagai penambak ikan dan
udang juga memilik faktor dengan wilayah desa itu sendiri. Banyak lahan kosong
yang di manfaatkan masyarakat setempat untuk membuka tambak ikan dan udang
dan sebagaian masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan juga memanfaatkan
sebagai sumber tambahan penghasilan.
2.8.2 Sarana dan Prasaran nelayan di Desa Bogak
Fasilitas merupakan hal penting dalam suatu wilayah terkait dengan
kepentingan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Fasilitas yang terdapat di
Desa Bogak yang mendukung langsung dengan kegiatan pengolahan sumber daya
laut yaitu Pelabuhan Tanjung Tiram atau Pelabuhan Bom, Tempat Pelelangan
Ikan dan Tempat Pengolaan Ikan Asin dan Ikan Teri.
a. Pelabuhan Tanjung Tiram
Pelabuhan Tanjung Tiram di Desa Bogak Kecamatan Tanjung Tiram
ini merupakan tempat kapal kapal nelayan berkumpul dari yang
Tradisional dan Nelayan Modern. Setiap harinya kapal–kapal nelayan
berlabuh dan melaut untuk menangkap ikan. Pelabuhan Tanjung tiram
digunakan sebagai akses untuk menuju tenpat wisata di daerah tersebut
yaitu, pulau sama nama dan pulau berhala.
b. Tempat Pelelangan Ikan
Tempat pelelangan ikan merupakan hal utama dalam melakukan
transaksi jual berli hasil tangkapan nelayan khususnya nelayan-
nelayan yang ada di Desa Bogak. Walau dengan keadaan TPI tersebut
keadaannya kurang terawat. Namun masyrakat dan nelayan tetap
menggunakannya untuk menjalankan transaksi. Letak tempat
pelelangan ikan di Desa Bogak ini tepatnya sebelum gerbang masuk
Pelabuhan Tanjung Tiram
c. Tempat Pengolahan Ikan Asin dan Teri
Selain Tempat Pelelangan Ikan di Desa Bogak juga terdapat
tempengolaan ikan–ikan hasil tangkapan nelayan yang di olah dengan
tujuan untuk meningkatkan harga jual ikan. Namun dalam hal ini
tenpat pengolaan ikan asin dan ikan teri ini merupakan milik pribadi
dengan kata lain merupakan tempat usaha perseorangan. Tempat
pengolahan ikan asin dan ikan teri ini terdapat 3 tempat dan saling
bersebelahan.
Dengan adanya fasilitas–fasilitas nelayan yang ada di Desa Bogak tersebut
tentu saja akan berpengaruh kepada pendapatan nelayan yang ada di daerah Desa