• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Metode Reliability Engineering dan Maintenance Value Stream Mapping (MVSM) dalam Perencanaan dan Perhitungan Biaya Perawatan Mesin di PT. Multimas Nabati Asahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penerapan Metode Reliability Engineering dan Maintenance Value Stream Mapping (MVSM) dalam Perencanaan dan Perhitungan Biaya Perawatan Mesin di PT. Multimas Nabati Asahan"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Multimas Nabati Asahan adalah salah satu perusahaan swasta yang

termasuk dalam Wilmar Group. PT. Multimas Nabati Asahan terdiri dari unit

pengolahan minyak sawit kasar (Dept. Refinery), unit pengolahan inti sawit (Dept.

Palm kernel Plant), dan unit pengolahan kelapa sawit (Dept. PKS) dikelola secara terpisah.

PT. Multimas Nabati Asahan awalnya hanya mendirikan satu Plant

Refinery dengan kapasitas 1500 ton perhari dan mulai berproduksi pada 9 September 1996. Untuk mengantisipasi permintaan pasar yang terus meningkat

maka pada tahun 1999, PT. Multimas Nabati Asahan mendirikan plant kedua

dengan kapasitas 1000 ton perhari. Plant Refinery ini terdiri dari beberapa stasiun, yaitu, refined deodorized palm oil, refined bleached deodorized stearin, refined

bleached deodorized olein, dan palm fatty acid destilat.

Unit pengolahan kelapa sawit (Dept. PKS) pada PT. Multimas Nabati

Asahan didirikan tahun 2004. Pembangunan pabrik dimulai tahun 2004 dengan

kapasitas 60 mt. ffb/hr dan selesai pembangunan tahun 2005. Oktober 2005 pabrik

mulai beroperasi sebagai langkah awal, dilakukan trial run, pemanasan

perlahan-lahan, individual tes, dan pembersihan.

PT. Multimas Nabati Asahan terletak di Kuala Tanjung Kecamatan Sei

(2)

timur berbatasan dengan PT. Bakrie Plantation, sebelah utara berbatasan dengan

Selat Malaka, dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Alay.

Bahan baku yang berupa Crude Palm Oil (CPO) yang dipasok dari berbagai supplier untuk bahan baku produksi ternyata belum dapat memenuhi

kapasitas produksi perusahaan. Maka untuk memenuhi kapasitas produksi, PT.

Multimas Nabati Asahan mendirikan pabrik kelapa sawit (PKS) yang berlokasi di

areal perusahaan itu sendiri.

2.3. Organisasi dan Manajemen

2.3.1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi yang digunakan PKS PT. Multimas Nabati Asahan

adalah struktur organisasi campuran antara struktur organisasi lini dan fungsional.

Struktur organisasi lini adalah suatu struktur organisasi di mana wewenang dan

kebijakan pimpinan atau atasan dilimpahkan pada satuan-satuan organisasi di

bawahnya menurut garis vertikal. Sedangkan struktur organisasi fungsional adalah

struktur organisasi di mana organisasi diatur berdasarkan pengelompokan

aktivitas dan tugas yang sama untuk membentuk unit-unit kerja seperti produksi,

operasi, pemasaran, keuangan, personalia, dan sebagainya yang memiliki fungsi

yang terspesialisasi. Disebut juga fungsional karena suatu bagian dapat

berhubungan dengan anggota maupun kepala bagian secara langsung.

Struktur organisasi bagi suatu perusahaan mempunyai peranan yang

penting dalam menentukan dan memperlancar jalannya kinerja perusahaan.

(3)

bagian dengan bagian yang lain dapat digambarkan dalam suatu struktur

organisasi. Struktur organisasi PKS PT. Multimas Nabati Asahan dapat dilihat

pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Struktur Organisasi PKS PT. Multimas Nabati Asahan

Dari Gambar 2.1. dapat dilihat bahwa struktur organisasi perusahaan ini

mengharuskan kebijakan pimpinan atau atasan dilimpahkan pada satuan-satuan

organisasi di bawahnya menurut garis vertikal. Selain itu, dilakukan juga

pengelompokan secara terpisah yang didasarkan pada fungsi yang berbeda dari

masing-masing aktivitas. Sebagai contoh adalah bagain maintenance, dibuat

terpisah dengan bagian laboratorium atau bagian proses tidak disatukan dengan

bagian logistik. Hal ini menujukkan tiap-tiap bagian dibuat terpisah berdasarkan

fungsinya masing-masing, karena urusan proses dengan urusan logistik dan ruang

(4)

2.5. Proses Produksi

Proses pengolahan kelapa sawit menjadi minyak sawit kasar dan inti sawit

di PKS PT. Multimas Nabati Asahan secara garis besar dibagi atas 6 tahapan

produksi, yaitu: penerimaan buah, perebusan, pembantingan, pelumatan dan

pengepresan, pengolahan biji dan pemurnian minyak sawit.

2.5.1. Penerimaan Buah

Hasil pemanenan tandan buah sawit (TBS) dari perkebunan rakyat dan

supplier diangkut ke pabrik dengan menggunakan truk. Kemudian dilakukan penimbangan untuk mengetahui jumlah TBS yang diterima. Penimbangan

dilakukan dengan menggunakan jembatan timbang. Berat bersih TBS yang

diterima didapat dengan menghitung selisih antara berat truk beserta isinya

dengan berat truk dalam keadaan kosong. Kemudian TBS dibawa ke stasiun

sortasi. TBS disortir untuk mengetahui kematangan buah. Hal ini dilakukan

karena buah milik perkebunan rakyat memiliki varietas dan tingkat kematangan

yang berbeda-beda. Tingkat kematangan TBS yang diterima di pabrik seperti

yang ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Derajat kematangan Tandan Buah Sawit

Fraksi Derajat Kematangan Jumlah Berondolan

00 Sangat Mentah Tidak ada brondolan lepas 0 Mentah 12,5 % dari permukaan luar 1 Kurang Matang 12,5%-25% dari permukaan luar 2 Matang I 25%-50% dari permukaan luar 3 Matang II 50%-75% dari permukaan luar 4 Lewat Matang 75%-100% dari permukaan luar

(5)

Selesai disortir, TBS kemudian dimasukkan ke dalam loading ramp

dengan menggunakan loader untuk memudahkan pengisian ke dalam lori. Lantai

loading ramp dibuat dari plate baja dengan kemiringan 270 dan mempunyai 52 pintu. Pintu dari setiap ruangan dibuka secara mekanis dengan menggunakan

tenaga hidrolik. Adapun cara kerja pengisian lori adalah:

1. Pintu loading ramp dibuka satu persatu supaya TBS dapat masuk ke dalam lori. Satu unit lori berkapasitas sekitar 10,5 mt TBS.

2. Lori yang sudah penuh ditarik dan diposisikan dengan menggunakan capstan, sling belt, transfer carriage, canti lever dan loader ke dalam sterilizer.

2.5.2. Perebusan ( Sterilizing)

Perebusan dilakukan dengan menggunakan Sterilizer. Sterilizer adalah

bejana uap tekan untuk merebus TBS dengan menggunakan uap dari BPV (Back

Pressure Vessel). Kapasitas tiap Sterilizer adalah 6 lori dengan tekanan kerja 3,5 kg/cm2 dan temperatur 120 – 1400C. Proses perebusan berlangsung 76 menit.

Sistem perebusan yang digunakan sistem perebusan tiga puncak.

Tujuan dari proses perebusan adalah:

1. Merusak enzim lipase yang menstimulir pembentukan FFA.

2. Menguraikan kadar air dalam buah.

3. Mengkoagulasikan protein sehingga memudahkan pemisahan minyak.

4. Menghidrolisa zat-zat karbohidrat yang berada sebagai koloid di dalam

(6)

osmotis yang membantu memecahkan dinding sel sehingga minyaknya dapat

keluar.

5. Memperlunak daging buah sehingga memudahkan proses pelumatan

(digesting).

6. Mempermudah proses pembantingan (threshing).

2.5.3. Pembantingan (Threshing)

Pembantingan bertujuan untuk melepaskan buah dari tandan (bunch). Pembantingan dilakukan dengan menggunakan 3 unit thresher. Jenis thresher

yang digunakan adalah thresher with shaft yang memiliki striper. Cara kerja

thresher adalah berputar dengan kecepatan 23-25 rpm, kemudian TBS ikut berputar dan terangkat hingga jatuh terbanting. Dengan proses ini terjadi

berulang-ulang maka buah lepas dari tandan.

Pembantingan pertama dilakukan di thresher pertama dan kedua. Buah

yang terlepas jatuh ke under thresser conveyor melalui kisi-kisi thresher untuk diangkut ke proses pelumatan (digesting). Sedangkan tandan terdorong keluar dan

jatuh ke empty bunch scrapper untuk diangkut ke crusher. Crusher berfungsi mencabik janjangan untuk memperkecil losses buah sawit. Tandan yang telah tercabik kemudian masuk ke thresher ketiga untuk dibanting kembali. Tandan

kosong yang terdorong keluar jatuh empty bunch scrapper untuk diangkut ke

(7)

2.5.4. Pelumatan (Digesting) dan Pengepresan (Pressing)

Pelumatan (digesting) bertujuan untuk melumatkan buah hingga hancur dan

terpisah dari biji (nut). Sedangkan pengepresan (pressing) bertujuan untuk menekan daging buah yang hancur hingga keluar minyak. Pelumatan dilakukan

dengan menggunakan digester. Jenis digester yang digunakan vertical digester.

Digester adalah bejana silinder yang di dalamnya terdapat pisau-pisau pengaduk (stirring arms) sebanyak enam tingkat yang terikat pada poros dan digerakkan

oleh motor listrik. Cara kerja digester adalah buah yang masuk ke dalam digester

akan dilumatkan oleh pisau-pisau (long arm dan short arm) yang berputar. Setelah

dilumatkan kemudian didorong keluar oleh pisau pendorong (expeller arm) menuju proses pengepresan. Untuk memudahkan proses pelumatan digester

dialirkan uap dan air panas agar temperatur buah tetap 90-95 0C. Beberapa hal

yang perlu diperhatikan dalam digesting adalah : 1. Pengisian digester harus penuh atau ¾.

2. Kebocoran minyak dihindari.

3. Frekuensi pengadukan yang tidak terlalu tinggi sehingga minyak tidak banyak

tergenang.

4. Perawatan terhadap keran-keran dan pisau-pisau digester.

Proses pengepresan bertujuan untuk memisahkan minyak dari daging buah.

Pengepresan dilakukan secara kontinu dengan menggunakan twin screw press. Proses pemisahan terjadi akibat putaran dari worm screw yang memiliki perbedaan ruang antar screw untuk mendesak daging buah hancur ke arah

(8)

maka aliran itu akan tertahan di adjusting cone. Worm screw berada di dalam

press cage yang memiliki 32000 lubang (⊘ = 4 mm) di seluruh dinding agar

minyak dapat keluar dan melalui oil outlet akan dialirkan ke oil gutter. Dan celah yang terbentuk antara adjusting cone dan press cage adalah 6 mm. Ukuran ini didapat pada saat mesin tidak sedang beroperasi.

2.5.5. Pengolahan Biji (Kernel Plant)

Pengolahan biji bertujuan untuk memperoleh inti sawit yang sesuai dengan

standar mutu produk yang ditetapkan. Pengolahan biji terdiri dari beberapa proses

sebagai berikut:

1. Penguraian cake

Penguraian cake bertujuan untuk memudahkan pemisahan biji dari serat.

Penguraian cake dilakukan dengan menggunakan cake breaker conveyor. Cara kerja cake breaker conveyor adalah mengurai cake dengan cara berputar

sambil mendorong cake untuk dipisahkan antara biji dan serabut di

depericarper. Cake breaker conveyor terdiri dari talang yang berisi pedal-pedal yang melekat pada poros. Di dalam talang dilakukan pemanasan dengan

injeksi uap sehingga cake akan menjadi kering dan mudah terurai. 2. Pemisahan biji dari serat dan kotoran

Pemisahan biji dari serat dilakukan dengan menggunakan depericarper.

depericarper berfungsi untuk memisahkan biji dari serat. Depericarper terdiri kolom pemisah (separating coloumn) dan nut polishing drum. Cake yang telah

(9)

separating coloumn dikarenakan oleh daya hisapan blower. Biji yang berat jenisnya lebih besar jatuh ke dalam nut polishing drum, sedangkan serat

kering terhisap ke dalam fibre cyclone kemudian jatuh ke fuel conveyor

melalui air lock. Pemisahan biji dari gumpalan serat dan kotoran dilakukan

menggunakan nut polishing drum. Biji akan terpisah karena putaran polishing

drum dengan kecepatan 32 rpm yang memliki striper dan lubang diseluruh dinding. Sehingga selama biji melewati polishing drum, gumpalan serat dan

kotoran akan terpisah dan biji akan jatuh ke nut botom cross conveyor. Pemisahan biji kosong dari gumpalan serat dan kotoran seperti batu atau kayu

dilakukan dengan menggunakan destoner system. Destoner system terdiri dari kolom pemisah (separating coloumn) dan shell cyclone. Pemisahan yang terjadi di separating coloumn dikarenakan perbedaan berat jenis dan daya

hisapan blower. Batu akan jatuh ke tempat penampungan, gumpalan serat akan jatuh ke cake breaker conveyor dan biji kosong akan masuk ke shell

hopper melalui air lock. 3. Pengeraman biji

Biji dari nut botom cross conveyor diangkut ke top wet nut conveyor dengan menggunakan nut elevator. Proses penyebaran biji-biji yang masuk ke nut silo

dilakukan menggunakan top wet nut conveyor. Lalu dilakukan proese

pengeraman biji di nut silo. Pengeraman bertujuan untuk mengurangi kadar air agar inti sawit mudah terlepas dari cangkangnya. Prinsip kerja nut silo adalah

menggunakan udara panas dialirkan melalui elemen panas untuk mengurangi

(10)

dilengkapi dengan fibrating feeders, kegunaannya adalah untuk mengatur biji yang akan masuk ke pemecah biji (ripple mill).

4. Pemecahan biji

Pemecahan biji dilakukan dengan menggunakan ripple mill. Pemecahan biji

bertujuan untuk memisahkan inti sawit dari cangkang. Ripple mill terdiri dari

rotaring rotor dan stationary plate (ripple pad). Rotating rotor berfungsi sebagai alat pemecah, sedangkan stationary plate berfungsi sebagai landasan

biji. Rotating rotor terdiri dari 30 batang rotor (riplle bar) yang terbuat dari

high carbon steel. Dimana, 15 batang dipasang di bagian dalam dan 15 batang lagi di bagian luar. Stationary plate (ripple pad) merupakan plate bergerigi tajam dan terbuat dari high carbon steel.

5. Pemisahan inti sawit dari biji pecah, cangkang pecah dan kotoran

Pemisahan inti sawit dari cangkang dilakukan dengan menggunakan Light

Tenera Dust Separating (LTDS). Inti sawit dan cangkang dari ripple mill

diangkut dengan cracked mixture elevator ke LTDS. Di LTDS inti sawit, cangkang ringan dan kotoran seperti debu dipisahkan berdasarkan berat jenis

dengan menggunakan daya hembusan LTDS fan. Di mana pecahan cangkang

ringan dan kotoran ringan akan terdorong masuk ke dalam shell hopper dan inti sawit akan jatuh ke vibrating grade melalui air lock. Di vibrating grade

dilakukan pemisahan inti sawit dari biji pecah berdasarkan besar partikel

dengan menggunakan getaran. Dimana biji pecah akan tertahan dan jatuh ke

(11)

6. Pemisahan inti sawit dari cangkang pecah

Pemisahan inti sawit dari pecahan cangkang dilakukan dengan menggunakan

claybath. Prinsip kerja Claybath adalah menggunakan kalsium karbonat (CaCO3) dan pelarut air untuk memisahkan inti sawit dari pecahan cangkang

berdasarkan perbedaan berat jenis. Campuran kalsium karbonat memiliki berat

jenis 1,13-1,15. Karena berat jenis inti sawit lebih kecil dibandingkan

campuran kalsium karbonat dan berat jenis cangkang pecah lebih besar dari

campuran kalsium karbonat, maka inti sawit akan terapung dan masuk ke

vibrating screen kernel. Sedangkan cangkang pecah akan tenggelam dan masuk ke vibrating screen shell. Inti sawit akan dibawa ke kernel silo melalui

wet kernel conveyor lalu wet kernel elevator dan top wet kernel conveyor. menuju kernel silo. Sedangkan cangkang pecah akan dibawa ke shell hopper

menggunakan wet shell conveyor. 7. Pengeringan Kernel

Pengeringan inti sawit dilakukan di kernel silo. Prinsip kerja kernel silo adalah menghembuskan udara panas ke dalam silo dengan menggunakan fan.

Temperatur udara yang dihembuskan ke bagian atas, tengah dan bawah silo

berbeda-beda. Untuk masing-masing bagian secara berurutan yaitu: 60-700C,

50-600C, dan 40-500C. Pengeringan selama ±7 jam dengan pemberian panas

yang kontinu diharapkan akan mengurangi kadar air hingga 6-7%. Kemudian

inti sawit dihembuskan ke kernel bunker dengan menggunakan pneumatic

(12)

2.5.6. Pemurnian Minyak (Clarification)

Pemurnian minyak bertujuan untuk memperoleh minyak sawit kasar yang

sesuai dengan standar mutu produk yang ditetapkan. Pemurnian minyak terdiri

dari beberapa proses sebagai berikut:

1. Pemisahan minyak dari sludge dan pasir

Pemisahan minyak dari sludge dan pasir dilakukan dengan menggunakan modifikasi sandtrap tank. Prinsip kerja sandtrap tank adalah tangki berbentuk

silinder yang pada bagian dasarnya berbentuk kerucut. Fungsinya untuk

mengendapkan pasir dan sludge yang terkandung di dalam minyak kasar.

Sandtrap tank yang telah dimodifikasi ini terdiri dari tiga ruang yaitu: - Ruang pertama : untuk penampungan minyak kasar dari oil gutter.

- Ruang kedua : merupakan ruang pemisahan. Minyak yang mempunyai berat

jenis lebih kecil dari sludge dan pasir akan berada dibagian paling atas akan dialirkan ke vibrating screen, sedangkan sludge dan pasir yang mempunyai

berat jenis lebih besar dari pada minyak akan masuk ke ruang ketiga melalui

lubang bawah pemisah.

- Ruang ketiga : ruang penampungan sludge sebelum dialirkan ke reclaimed tank 2 lalu dialirkan ke oil tank untuk diendapkan dipanaskan kembali. Sludge

memiliki berat jenis lebih kecil dari pasir berada dibagian atas. Sedangkan

pasir berada pada dasar tangki yang akan keluar melalui lubang kecil didasar

(13)

2. Penyaringan minyak

Penyaringan minyak dilakukan dengan menggunakan vibrating screen.

Fungsinya adalah untuk menyaring kotoran-kotoran berupa serat-serat atau

kotoran lainnya dari minyak. Vibrating screen terdiri dari dua buah saringan

kawat dengan ukuran saringan atas 20 mesh dan saringan bawah 40 mesh. Benda-benda padat berupa cake yang disaring pada saringan ini dikembalikan ke fruit elevator untuk diproses kembali. Sedangkan minyak dari vibrating

screen ditampung dalam tangki minyak kasar (crude oil tank). 3. Pemanasan minyak

Pemanasan minyak bertujuan untuk memudahkan proses pemisahan di sand

cyclone dan mengendapkan kotoran. Pemanasan minyak dilakukan dengan menggunakan tangki minyak kasar (crude oil tank). Cara kerja Crude Oil

Tank adalah melakukan penambahan panas dengan injeksi uap. Temperatur yang diharapkan 90-950C.

4. Pemisahan minyak dari partikel padat

Minyak dari partikel padat dilakukan dengan menggunakan sand cyclone dan

decanter. Cara kerja sand cyclone adalah menggunakan prinsip gaya sentrifugal dan tekanan rendah karena adanya perputaran untuk memisahkan

materi berdasarkan perbedaan massa jenis, ukuran, dan bentuk. Aliran fluida

akan diinjeksikan melalui pipa input. Karena bentuk kerucut cyclone akan menginduksikan aliran fluida untuk berputar menciptakan vortex. Partikel

dengan ukuran atau kerapatan yang lebih besar akan didorong ke arah luar

(14)

menuju tempat pengeluaran menuju sludge pit. Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih kecil keluar melalui bagian atas cyclone melalui pusat

yang bertekanan rendah menuju sludge distribution 1. Input bagi decanter

adalah minyak yang ada di sludge distribustion 1 dengan tujuan untuk

memisahkan minyak dari slurry. Cara kerja decanter adalah memisahkan slurry menjadi tiga fasa seperti dua diantaranya cairan tak dapat tercampur dan

berbeda massa jenisnya serta fasa padat. Dua cairan yang tak dapat dicampur

akan dialirkan ke sludge drain tank lalu ke reclaimed tank 1 untuk diendapkan kembali. Sedangkan fasa padat dialirkan ke sludge pit.

5. Pemurnian minyak

Input dari pemurnian minyak ini adalah minyak yang dialirkan ke oil tank

yang merupakan hasil pengendapan di reclaimed tank 1 dan 2. Pemurnian

minyak dilakukan dengan menggunakan oil purifier dengan tujuan untuk mengurangi kadar air hingga 0,3 – 0,4 % , kadar kotoran hingga 0,01 – 0,15 %

dan temperatur 90-950C.

6. Pengeringan minyak

Pengeringan minyak dilakukan dengan menggunakan vacum dryer. Vacum dryer berfungsi untuk mengurangi kadar air hingga 0,1 – 0,15 % dan kadar kotoran hingga 0,013 - 0,015 %. Prinsip kerja vacum dryer adalah minyak dari

oil purifier di pompa ke dalam tangki umpan (float tank), dalam tangki umpan ini terdapat sebuah pelampung baja berbentuk kumparan tirus (taper spindle)

yang berfungsi sebagai katup/kran otomatis menjaga kestabilan hampa

(15)

hampa udara terdapat enam buah spray nozzle yang menyemprotkan minyak pada permukaan pelat deflektor yang berbentuk pilem tipis. Minyak yang

keluar dari spray nozzle berbentuk pancaran halus (spray) dan kabut, kemudian jatuh secara gravitasi dan membentur pelat deflektor sehingga

terjadi pengkabutan yang kedua kali. Selagi minyak berbentuk kabut

kandungan air akan mudah menguap dan dihisap keluar oleh pompa hampa

udara. Minyak yang telah dikeringkan selanjutnya jatuh ke dasar tabung

pengering dan langsung dihisap dengan pompa ke bulk storage tank (BST).

Vacum dryer juga dilengkapi dengan sebuah level kontrol yang dihubungkan ke dalam tabung hampa udara. Berfungsi untuk mengontrol ketinggian level

minyak. Minyak yang di umpan ke dalam tabung hampa udara jika kurang

dari minyak yang dihisap keluar, level kontrol ini otomatis membuka

katupnya sehingga minyak re-sirkulasi kembali ke tabung melalui pipa

by-pass.

7. Penampungan minyak sawit kasar (CPO)

Penampungan minyak sawit kasar (CPO) sebelum pengiriman ke Dept.

Refinery dilakukan di storage tank (ST). CPO harus selalu dipanaskan dengan cara dipasang pipa pemanas dengan uap dan temperatur di dalamnya diatur

50–550C agar minyak tidak membeku dan untuk menghindarkan kenaikan

kadar FFA.

8. Penampungan sludge

(16)

Air kondesat dari condensat pit juga dialirkan ke fat pit untuk diendapkan.

Sludge hasil endapan dialirkan ke collect tank dan endapan dialirkan ke

colling pond.

9. Pengambilan minyak kembali

Penampungan ini bertujuan untuk mengambil minyak kembali karena kadar

minyak yang masih terkandung 0,1-0,3 % didalam sludge. Minyak yang berada dibagian atas akan dipompakan ke sludge distribution 2 lalu

dipompakan kembali ke sludge separator untuk memperoleh minyak dan memperkecil oil losses. Minyak akan dipompakan ke reclaimed tank 1

sedangkan buangan dari hasil pemisahan akan dialirkan ke colling pond.

2.6. Mesin dan Peralatan

Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi yang ada di

PKS PT. Multimas Nabati Asahan adalah sebagai berikut.

a. Stasiun Penerimaan

1. Loading Ramp c.w Hydrolic System

Fungsi : Tempat penimbunan sementara dan pemindahan TBS ke

lori

Jumlah : 3 unit (24 pintu, 14 pintu, 14 pintu)

Ukuran : p = 10200 mm, l = 5300 mm, kemiringan = 270

Kapasitas : 146 ton TBS

Elektromotor : Daya (55 kw )

(17)

1. Capstan

Fungsi : Menarik lori dengan tali sling yang dililitkan di bollard

Jumlah : 4 unit

Model : Flender

Ukuran Head : d = 610 mm

Line Pull : 20 lbs

Bollard rate : 300.000 lbs

Elektromotor : Daya (5,5 hp ; 20 rpm)

2. Transfer Carriage

Fungsi : Memindahkan lori dari satu rail track ke rail track lainnya

Jumlah : 2 unit

Kapasitas : 2 lori/angkut

Elektromotor : Daya (11kw; 23 A; 1450 rpm; 380 v)

3. Condesate Pump

Fungsi : Memompakan air kondensat dari sterilizer ke fat fit

Jumlah : 2 unit

Model : 3 N6

Flow : 22 m3/jam

Elektromotor : Daya(11 kw ; 2950 rpm)

4. Sterilizer

(18)

menyebabkan naiknya asam lemak bebas, memudahkan

lepasnya buah dari tandannya, melunakkan daging buah

dan mengurangi kadar air

Tipe : 2100 OXP

Jumlah : 2 unit

Ukuran : p = 3300 mm, d = 1200 mm, tebal = 16mm

Tekanan Kerja : 3,0 kg/cm2

Tekanan Uji : 6,5 kg/cm2

Kapasitas : 6 lori/siklus

c. Stasiun Pembantingan

1. Cage Tippler

Fungsi : Menuangkan TBS masak dari lori ke hopper

Jumlah : 2 unit

Kapasitas : 1 lori/siklus

Elektromotor : Daya (3 hp ; 5 A ; 940 rpm ; 380 v)

2. Fruit Bunch Scrapper

Fungsi : Mengangkut TBS masak dari hopper ke auto feeder

Jumlah : 2 line

Kapasitas : 60 ton/ jam

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

3. Thresher

Fungsi : Melepaskan atau memisahkan buah dari janjangan

(19)

Jumlah : 3 unit

Ukuran : p = 4000 mm, d = 2000 mm

Kecepatan : 23-25 rpm

Kapasitas : 60 ton TBS/jam

Elektromotor : Daya (11kw; 23A; 1450 rpm; 380 v)

4. Under Thresher Conveyor

Fungsi : Mengangkut buah dari thresher ke bottom cross conveyor

Type : screw

Jumlah : 3 unit

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

5. Empty Bunch Conveyor To Crusher

Fungsi : Mengangkut janjangan dari thresher ke crusher.

Type : screpper

Jumlah : 1 line

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

6. Bunch Crusher

Fungsi : Mencabik-cabik janjangan

Jumlah : 1 unit

Ukuran Roda : 310 mm

(20)

Kapasitas : 6 ton/jam

Elektromotor : Daya (30 kw ; 35 rpm)

7. Horizontal Empty Bunch Scrapper

Fungsi : Mengangkut janjangan dari thresher ke F.B. Hopper.

Type : screpper

Jumlah : 1 line

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

8. Bottom Cross Conveyor

Fungsi : Mengangkut buah dari under thresher conveyor ke fruit

elevator

Type : screw

Jumlah : 1 line

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

d. Stasiun Pengepresan

1. Fruit Bunch Elevator

Fungsi : Mengangkut buah dari bottom cross conveyor ke top cross

conveyor

Jumlah : 2 line

Kapasitas : 30 ton/ jam

(21)

2. Top Cross Conveyor

Fungsi : Mendistribusikan buah dari fruit elevator ke digester

Type : screw

Jumlah : 2 line

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

3. Digester

Fungsi : Untuk melumatkan buah hingga hancur

Model : LD 3500

Jumlah : 7 unit

Ukuran : t = 3200 mm, d = 1200 mm

Berat : 5500 kg

Kecepatan : 10-15 rpm

Volume : 3500 l

Tekanan uap : 3,5 kg/cm2

Elektromotor : Daya (30 pk)

Buatan/ Tahun : Malaysia/ 2005

4. Screw Press

Fungsi : Untuk memisahkan minyak kasar (crude oil)

Jumlah : 7 unit

Ukuran : p = 5150 mm, l = 1560 mm

(22)

Elektromotor : Daya (30 kw; 45 A; 1460 rpm; 380 v)

Buatan/ Tahun : Malaysia/ 2005

e. Stasiun Pengolahan Biji

1. Cake Breaker Conveyor

Fungsi : Untuk mengeringkan dan mengurai cake

Type : screw

Jumlah : 2 unit

Ukuran : p = 17000 mm, d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw; 29 rpm)

2. Depericarper

- Separating Coloumn

Fungsi : Ruang pemisah antara serat dan biji

Jumlah : 1 unit

Ukuran : t = 17000 mm, d = 1270 mm

Electro blower: Daya (11kw; 23A; 1450 rpm; 380 v) Buatan/ Tahun: PT. Sumatera Raya Sari Indonesia/ 2000

- Nut Polyshing Drum

Fungsi : Untuk membersihkan serat yang melekat pada biji

Jumlah : 1 unit

Ukuran : p = 7480 mm, d = 1270 mm

Kecepatan : 32 rpm

(23)

Elektromotor : Daya (11kw; 23A; 1450 rpm; 380 v) Buatan/ Tahun: PT.

Sumatera Raya Sari Indonesia/ 2000

3. Wet Nut Conveyor

Fungsi : Mendistribusikan biji dari nut polyshing drum ke destoner system

Type : screw

Jumlah : 1 unit

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

4. Destoner System

Fungsi : Untuk memisahkan biji dari batu, dan biji kosong

Jumlah : 1 unit

Ukuran : t = 17000 mm, d = 700 mm

Electro blower: Daya (11kw; 23A; 1450 rpm; 380 v) 5. Nut Grading Drum

Fungsi : Untuk memisahkan biji menurut besar diameternya

Jumlah : 1 unit

Ukuran : p = 1570 mm, d = 700 mm

Kecepatan : 1420 rpm

Kapasitas : 16 ton/jam

Elektromotor : Daya (4 kw; 9,4 A; 940 rpm; 380 v) Buatan/ Tahun: PT.

Sumatera Raya Sari Indonesia/ 2000

(24)

Fungsi : Untuk memecahkan biji

Jumlah : 3 unit

Kecepatan : 1440 rpm

Kapasitas : 3 ton/jam

Elektromotor : Daya ( 15 hp; 22,6 A; 2935 rpm; 380 v)

Merk : Teco Elec dan Mech

7. Craked Mixture Conveyor

Fungsi : Mendistribusikan craked mixture dari ripple mill ke craked

mixture elevator

Type : screw

Jumlah : 1 line

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

8. Craked Mixture Elevator

Fungsi : Mengangkut biji dari craked mixture Conveyor ke LTDS 1

Jumlah : 1 line

Kapasitas : 6 ton/ jam

Elektromotor : Daya (5,5 kw; 29 rpm)

9. Light Tenera Dust Separating (LTDS)

Fungsi : Memisahkan inti sawit utuh dari pecahan cangkang

Jumlah : 1 unit

(25)

Kapasitas : 14300 m3/jam

Electro fan : Daya (11 kw; 23A; 1450 rpm; 380 v) 10.Claybath

Fungsi : Memisahkan inti sawit dari pecahan cangkang

Jumlah : 2 unit

Buatan/ Tahun: PT. Sumatera Raya Sari Indonesia/ 2000

- Pump

Elektromotor: Daya ( 10 kw; 15,33 A; 1440 rpm; 380 v)

- Screening

Ukuran : p = 1070 mm, d = 700 mm

11.Wet Kernel Conveyor

Fungsi : Mendistribusikan inti sawit dari hydrocyclone ke wet kernel

elevator

Type : screw

Jumlah : 1 line

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor: Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

12.Wet Kernel Elevator

Fungsi : Mengangkut inti sawit dari wet kernel conveyor ke kernel

distribution conveyor

Jumlah : 1 line

(26)

Elektromotor: Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

13.Top Wet Kernel Conveyor

Fungsi : Mendistribusikan inti sawit dari ke kernel silo

Type : screw

Jumlah : 1 line

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor: Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

14.Dry Wet Kernel Conveyor

Fungsi : Mendistribusikan inti sawit dari dry kernel ke kernel transport fan

Type : screw

Jumlah : 1 line

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor: Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

15.Kernel Transport Fan

Fungsi : Mendistribusikan inti sawit dari kernel silo ke kernel bunker

Jumlah : 1 unit

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

16.Fibre Shell Conveyor

(27)

Jumlah : 1 unit

Ukuran : d = 537 mm

Kapasitas : 26 mc/ h

Elektromotor : Daya (5,5 kw ; 29 rpm)

f. Stasiun Pemurnian Minyak

1. Vibrating Screen

Fungsi : Menyaring serat dan kotoran dari minyak kasar

Model : VS70

Jumlah : 2 unit

Ukuran : d = 1800 mm

Penggerak : 1500 rpm(2 seperasi)

Elektromotor : Daya (5,5 pk; 3 fasa; 50 Hz; 380 v)

Buatan/ Tahun: PT. Sumatera Raya Sari Indonesia/ 2000

2. Sentrifusi Minyak (Oil Purifier)

Fungsi : Memurnikan minyak yang berasal dari oil tank

Jumlah : 2 unit

Ukuran : t = 700 mm, d = 400 mm

Kecepatan : 1450 rpm

Kapasitas : 6 ton /jam

Buatan/ Tahun: PT. Sumatera Raya Sari Indonesia/ 2000

3. Purifier Feed Pump

Fungsi : Memompakan minyak dari oil purifier ke vacum drier

(28)

Model : 3 N6

Flow : 22 m3/jam

Elektromotor : Daya(11 kw ; 2950 rpm)

4. Pengeringan Minyak (Vacum Drier)

Fungsi : Mengurangi kadar air dalam minyak

Jumlah : 1 unit

Kapasitas : 9 ton /jam

Elektromotor : Daya (15 kw; 22,5 A; 1440 rpm; 380 v)

5. Dried Oil Pump

Fungsi : Memompakan minyak dari vacum drier ke storage tank. Jumlah : 1 unit

Model : SK

Speed : 2825 rpm

Flow : 27 m3/jam

Elektromotor : Daya(1,1 kw)

6. Sand Cyclone

Fungsi : Memisahkan partikel padat

Jumlah : 3 unit

Kapasitas : 30 ton /jam

Elektromotor : Daya (15 kw; 22,5 A; 1440 rpm; 380 v)

7. Precleaner Pump

Fungsi : Memompakan minyak dari COT ke sand cyclone

(29)

Model : SK

Speed : 2825 rpm

Flow : 27 m3/jam

Elektromotor : Daya(11 KW)

8. Decanter

Fungsi : Memisahkan fasa cair dan padat

Jumlah : 2 unit

Kapasitas : 20-30 ton TBS /jam

Kecepatan bowl

Max. : 3500 rpm

Elektromotor : Daya (60 kw)

Berat kotor : 6400 kg

Buatan/ Tahun: Malaysia/ 2007

9. Sludge Centrifuge Separator

Fungsi : Memisahkan minyak dari sludge

Jumlah : 2 unit

Kapasitas : 10 ton /jam

Elektromotor : Daya (15 kw; 22,5 A; 1400 rpm; 380 v)

Buatan/ Tahun: Malaysia/ 2007

10.Reclaimed Oil Pump

Fungsi : Memompakan minyak dari collect tank ke centrifugal separator

Jumlah : 2 unit

(30)

Speed : 2825 rpm

Flow : 27 m3/jam

Elektromotor : Daya(11 kw)

Penjelasan mengenai peralatan produksi yang ada di PKS PT. Multimas

Nabati Asahan untuk tiap stasiun adalah sebagai berikut.

a. Stasiun Penerimaan

1. Jembatan Timbang

Fungsi : Menimbang berat TBS yang diangkut dengan truk.

Kapasitas : 50 ton

2. Lori

Fungsi : Pengangkut TBS dari Loading Ramp ke sterilizer dan cage tippler

Kapasitas : 10,5 ton TBS

3. Rail Track

Fungsi : Landasan jalur lori dan canti lever

b. Stasiun Perebusan

1. Trolley/canti lever

Fungsi : Landasan jalur lori yang menghubungkan mesin sterilizer dengan rail track

2. Back Pressure Vessel (BPV)

Fungsi : Menampung steam yang akan didistribusikan ke seluruh proses c. Stasiun Pengepresan

1. Oil Gutter

(31)

2. Sand Trap Tank

Fungsi : Memisahakan minyak dengan pasir

e. Stasiun Pengolahan Biji

1. Nut Silo

Fungsi : Tempat pengeraman biji yang akan di pecah

2. Kernel Silo

Fungsi : Memanaskan kernel untuk mengurangi kadar airnya

3. Kernel Bunker

Fungsi : Tempat penyimpanan sementara kernel yang akan dikirim

4. Shell Hopper

Fungsi : Tempat penyimpanan cangkang

5. Fibre Hopper

Fungsi : Tempat penyimpanan serabut

f. Stasiun Pemurnian Minyak

1. Crude Oil Tank

Fungsi : Menampung minyak yang akan dialirkan ke CS tank

2. Sludge Distribution 1 dan 2

Fungsi : Memanaskan, mengencerkan dan mengendapkan sludge

3. Oil Tank

Fungsi : Menampung minyak dari reclaimed tank 1 dan 2 4. Sludge Drain Tank

Gambar

Gambar 2.1. Struktur Organisasi PKS PT. Multimas Nabati Asahan
Tabel 2.2. Derajat kematangan Tandan Buah Sawit

Referensi

Dokumen terkait

Penentuan kadar komposisi DCO dilakukan dengan cara sentrifugasi, dimana sampel minyak yang diambil dari COT ( Crude Oil Tank). dimasukkan kedalam alat sentrifugasi

Syukur dan terimakasih penulis ucapkan yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk merasakan dan mengikuti pendidikan

Oleh karena itu untuk menyelesaikan masalah tersebut perlu diterapkan perencanaan perawatan yang terjadwal secara preventivemaintenanceuntuk melakukan penggantian komponen

Universitas Sumatera Utara... Universitas

atau kadar dari minyak yang masi terdapat pada COT ( Crude Oil Tank ) yang. sesuai dengan standar dari pabrik

Nabati Asahan terdiri dari unit pengolahan minyak sawit kasar (Dept. Refinery ), unit pengolahan inti sawit (Dept. Palm kernel Plant ), dan unit pengolahan kelapa sawit (Dept.

56 Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa mesin kritis pada line produksi pipa PVC adalah mesin extruder

Hasil dari tindakan perawatan pada komponen kritis dapat menjadi masukan bagi perusahaan, sehingga perusahaan dapat mengurangi angka downtime dan mengetahui