• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HUBUNGAN WARGA NEGARA DENGAN NE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS HUBUNGAN WARGA NEGARA DENGAN NE"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS HUBUNGAN WARGA NEGARA DENGAN NEGARA

dalam Kasus

“ Penangkapan AKBP IEP dalam Dugaan Kasus Sindikat Narkoba”

Disusun Guna Memenuhi Tugas Pendidikan Kewarganegaraan

Oleh :

Yanti Eka Sari Putri

F1I014041

HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

(2)

I. Latar Belakang

Maraknya kasus narkoba yang terjadi dewasa ini menjadikan Indonesia

sebagai salah satu negara paling konsumtif terhadap narkoba. Menurut data

dari BNN sekitar 4,2 juta orang Indonesia menggunakan narkoba dalam

usia produktif. Selain menjadi negara pengonsumsi narkoba, Indonesia

juga menjadi negara penghasil ganja kwalitas terbaik di dunia. Peredaran

Narkoba di Indonesia sudah merambah ke berbagai kalangan tanpa

memandang usia, jabatan, hingga status sosial. Dari perkampungan kumuh

hingga gedung DPR tidak luput dari eksistensinya. Keberadaan Narkoba

yang sedemikan rupa di fasilitasi dengan lemahnya hukum yang ada di

Indonesia. Peredarannya sudah mengakar dan menjadi sebuah sistem

dengan backing yang sangat kuat. Dari mulai petinggi pemerintahan hingga

pejabat kepolisian. Kasus terbaru yang terjadi di Lembaga Kepolisian kita

adalah tertangkapnya dua aparat Polri berpangkat AKBP dan Bripka yang

kedapatan membawa sabu-sabu seberat 6 Kg. Keduanya tertangkap di

Kuching, Serawak Malaysia pada hari Jumat, 29 Agustus 2014. AKBP IEP

dan Bripka H ditangkap sebagai pengembangan penangkapan tersangka

kasus Narkoba di Kuala Lumpur International Airport. Tersangka mengaku

akan mengirimkan Narkoba ke Kuching, Sarawak Malaysia. Setelah

diminta untuk menunjukan tempat transaksi, Polisi Narkotik Di-Raja

Malaysia menangkap 3 orang yang ada di tempat kejadian. Dua

diantaranya adalah AKBP IEP dan Brigadir Kepala H. Selang beberapa

(3)

Sulistyanto mendapat telepon dari Liaison Officer Polri di Kuching,

Kompol Taufik Nurisya. Beliau mengabarkan tentang penangkapan dua

anak buah Kapolda Kalbar terkait dugaan sindikat Narkoba. Kemudian

Kapolda meneruskan kabar tersebut kepada Kapolri Jendral Sutarman.

Keesokan harinya, Sabtu 30 Agustus 2014, Kapolda Kalbar Brigjen Arief

Sulistyanto menugaskan tim ke Kuching dipimpin Wakapolda Kalbar, Dir

Narktiotika, dan Kapolsek Entikong. Tim bertemu Deputi Komisioner Polis

Diraja Malaysia, Datuk Wira Muhammad Sabtu Bin Usman di Kuching,

Ketua Polis IPK Sarawak Malaysia, didampinggi Super Intenden Lukas,

Kepala Narkotik Ibu Pejabat Kontingen Sarawak Malyasia. Pertemuan

tersebut memastikan penangkapan AKPB IEP dan Bripka H. Keduanya

dalam proses pemeriksaan pihak Cawangan Narkotik Polis IPD Kuching,

Sarawak. Kasus tersebut sangat mencoreng nama kepolisian Indonesia di

mata Internasional, terlebih lagi citra polisi di masyarakat yang semakin

buruk. Sebagai anggota kepolisian setiap anggota terikat oleh aturan yang

berlaku di lembaga kepolisian tersebut selain itu, setiap aparat kepolisian

juga menjadi bagian dari masyarakat sehingga mereka juga terikat

perarturan yang berlaku di masyarakat. Selain terancam diberhentikan dari

jabatannya di Kepolisian AKBP IEP dan MP Harahap juga dikenakan

ancaman hukuman mati di Malaysia yang merujuk pada Akta Dadah

Berbahaya 1952 Pasal 39B. Semua warga negara terikat dengan aturan

(4)

II. Rumusan Makalah

1. Mengapa tindakan korupsi bisa terjadi?

2. Bagaimana cara mengatasi tindak korupsi tersebut?

III. Pembahasan

Korupsi adalah suatu tindak pidana yang merugikan banyak pihak.

Penyebab adanya tindakan korupsi sebenarnya bervariasi dan beraneka

ragam. Akan tetapi, secara umum dapatlah dirumuskan, sesuai dengan

pengertian korupsi diatas yaitu bertujuan untuk mendapatkan keuntungan

pribadi atau orang lain secara tidak sah.

Mengutip teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne atau sering disebut

GONE Theory, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi

meliputi :

 Greeds (keserakahan): berkaitan dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang.

 Opportunities (kesempatan): berkaitan dengan keadaan organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa, sehingga terbuka

kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan.

(5)

 Exposures (pengungkapan): berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan

melakukan kecurangan.

Faktor-faktor Greeds dan Needs berkaitan dengan individu pelaku (actor)

korupsi, yaitu individu atau kelompok baik dalam organisasi maupun di

luar organisasi yang melakukan korupsi yang merugikan pihak korban.

Sedangkan faktor-faktor Opportunities dan Exposures berkaitan dengan

korban perbuatan korupsi (victim) yaitu organisasi, instansi, masyarakat

yang kepentingannya dirugikan.

Menurut Arya Maheka, Faktor-Faktor yang menyebabkan terjadinya

Korupsi adalah :

1. Penegakan hukum tidak konsisten : penegakan huku hanya sebagai

meke-up politik, bersifat sementara dan sellalu berubah tiap pergantian

pemerintahan.

2. Penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang karena takut dianggap bodoh

bila tidak menggunakan kesempatan.

3. Langkanya lingkungan yang antikorup : sistem dan pedoman antikorupsi

hanya dilakukan sebatas formalitas.

4. Rendahnya pndapatan penyelenggaraan negara. Pedapatan yang diperoleh

(6)

mendorong penyelenggara negara untuk berprestasi dan memberikan

pelayanan terbaik bagi masyarakat.

5. Kemiskinan, keserakahan : masyarakat kurang mampu melakukan korupsi

karena kesulitan ekonomi. Sedangkan mereka yang berkecukupan

melakukan korupsi karena serakah, tidak pernah puas dan menghalalkan

segala cara untuk mendapatkan keuntungan.

6. Budaya member upeti, imbalan jasa dan hadiah.

7. Konsekuensi bila ditangkap lebih rendah daripada keuntungan korupsi :

saat tertangkap bisa menyuap penegak hukum sehingga dibebaskan atau

setidaknya diringankan hukumannya. Rumus: Keuntungan korupsi >

kerugian bila tertangkap.

8. Budaya permisif/serba membolehkan; tidakmau tahu : menganggap biasa

bila ada korupsi, karena sering terjadi. Tidak perduli orang lain, asal

kepentingannya sendiri terlindungi.

9. Gagalnya pendidikan agama dan etika : ada benarnya pendapat Franz

Magnis Suseno bahwa agama telah gagal menjadi pembendung moral

bangsa dalam mencegah korupsi karena perilaku masyarakat yang

memeluk agama itu sendiri. Pemeluk agama menganggap agama hanya

berkutat pada masalah bagaimana cara beribadah saja. Sehingga agama

(7)

sebenarnya agama bisa memainkan peran yang besar dibandingkan insttusi

lainnya. Karena adanya ikatan emosional antara agama dan pemeluk agama

tersebut jadi agama bisa menyadarkan umatnya bahwa korupsi dapat

memberikan dampak yang sangat buruk baik bagi dirinya maupun orang

lain.

Lalu bagaimana cara mengatasi munculnya tindak korupsi saat ini?

Pemberantasan korupsi sesungguhnya dapat berjalan makasimal apabila

ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Berikut adalah cara

mengatasi dan mencegah tindak pidana korupsi ditinjau dari dari segi

pemerintah :

Di dalam Perpres Nomor 55 Tahun 2012 menyatakan bahwa strategi

Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (PPK) memiliki visi jangka

panjang dan menengah. Visi periode jangka panjang (2012-2025) adalah:

“terwujudnya kehidupan bangsa yang bersih dari korupsi dengan didukung

nilai budaya yang berintegritas”. Adapun untuk jangka menengah

(2012-2014) bervisi “terwujudnya tata kepemerintahan yang bersih dari korupsi

dengan didukung kapasitas pencegahan dan penindakan serta nilai budaya

yang berintegritas”. Visi jangka panjang dan menengah itu akan

diwujudkan di segenap ranah, baik di pemerintahan dalam arti luas,

(8)

Untuk mencapai visi tersebut, maka dirancang 6 strategi yaitu:

1. Pencegahan.

Korupsi masih terjadi secara masif dan sistematis. Praktiknya bisa

berlangsung dimanapun, di lembaga negara, lembaga privat, hingga di

kehidupan sehari-hari. Melihat kondisi seperti itu, maka pencegahan

menjadi layak didudukkan sebagai strategi perdananya. Melalui strategi

pencegahan, diharapkan muncul langkah berkesinambungan yang

berkontribusi bagi perbaikan ke depan. Strategi ini merupakan jawaban atas

pendekatan yang lebih terfokus pada pendekatan represif. Paradigma

dengan pendekatan represif yang berkembang karena diyakini dapat

memberikan efek jera terhadap pelaku tindak pidana korupsi (tipikor).

Sayangnya, pendekatan represif ini masih belum mampu mengurangi

perilaku dan praktik koruptif secara sistematis-massif. Keberhasilan

strategi pencegahan diukur berdasarkan peningkatan nilai Indeks

Pencegahan Korupsi, yang hitungannya diperoleh dari dua sub indikator

yaitu Control of Corruption Index dan peringkat kemudahan berusaha (ease

of doing business) yang dikeluarkan oleh World Bank. Semakin tinggi

angka indeks yang diperoleh, maka diyakini strategi pencegahan korupsi

berjalan semakin baik.

(9)

Masih banyak kasus korupsi yang belum tuntas, padahal animo dan

ekspektasi masyarakat sudah tersedot sedemikian rupa hingga

menanti-nanti adanya penyelesaian secara adil dan transparan. Penegakan hukum

yang inkonsisten terhadap hukum positif dan prosesnya tidak transparan,

pada akhirnya, berpengaruh pada tingkat kepercayaan (trust) masyarakat

terhadap hukum dan aparaturnya. Dalam tingkat kepercayaan yang lemah,

masyarakat tergiring ke arah opini bahwa hukum tidak lagi dipercayai

sebagai wadah penyelesaian konflik. Masyarakat cenderung menyelesaikan

konflik dan permasalahan mereka melalui caranya sendiri yang, celakanya,

acap berseberangan dengan hukum. Belum lagi jika ada pihak-pihak lain

yang memanfaatkan inkonsistensi penegakan hukum demi kepentingannya

sendiri, keadaaan bisa makin runyam. Absennya kepercayaan di

tengah-tengah masyarakat, tak ayal, menumbuhkan rasa tidak puas dan tidak adil

terhadap lembaga hukum beserta aparaturnya. Pada suatu tempo, manakala

ada upaya-upaya perbaikan dalam rangka penegakan hukum di Indonesia,

maka hal seperti ini akan menjadi hambatan tersendiri. Untuk itu,

penyelesaian kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat

mutlak perlu dipercepat. Tingkat keberhasilan strategi penegakan hukum

ini diukur berdasarkan Indeks Penegakan Hukum Tipikor yang diperoleh

dari persentase penyelesaian setiap tahapan dalam proses penegakan

hukum terkait kasus Tipikor, mulai dari tahap penyelesaian pengaduan

Tipikor hingga penyelesaian eksekusi putusan Tipikor. Semakin tinggi

(10)

Hukum berjalan semakin baik.

3. Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan

Meratifikasi UNCAC, adalah bukti konsistensi dari komitmen Pemerintah

Indonesia untuk mempercepat pemberantasan korupsi. Sebagai

konsekuensinya, klausul-klausul di dalam UNCAC harus dapat diterapkan

dan mengikat sebagai ketentuan hukum di Indonesia. Beberapa klausul ada

yang merupakan hal baru, sehingga perlu diatur/diakomodasi lebih-lanjut

dalam regulasi terkait pemberantasan korupsi selain juga merevisi

ketentuan di dalam regulasi yang masih tumpang-tindih menjadi prioritas

dalam strategi ini. Tingkat keberhasilan strategi ini diukur berdasarkan

persentase kesesuaian regulasi anti korupsi Indonesia dengan klausul

UNCAC. Semakin mendekati seratus persen, maka peraturan

perundang-undangan terkait pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia

semakin lengkap dan sesuai dengan

common practice yang terdapat pada negara-negara lain.

4. Kerjasama Internasional dan Penyelamatan Aset Hasil Tipikor

Berkenaan dengan upaya pengembalian aset hasil tipikor, baik di dalam

maupun luar negeri, perlu diwujudkan suatu mekanisme pencegahan dan

pengembalian aset secara langsung sebagaimana ketentuan UNCAC.

(11)

dari putusan penyitaan (perampasan) dari negara lain, lebih-lebih terhadap

perampasan aset yang dilakukan tanpa adanya putusan pengadilan dari

suatu kasus korupsi (confiscation without a criminal conviction).

Penyelamatan aset perlu didukung oleh pengelolaan aset negara yang

dilembagakan secara profesional agar kekayaan negara dari aset hasil

tipikor dapat dikembalikan kepada negara secara optimal. Keberhasilan

strategi ini diukur dari persentase pengembalian aset hasil tipikor ke kas

negara berdasarkan putusan pengadilan dan persentase tingkat keberhasilan

(success rate) kerjasama internasional terkait pelaksanaan permintaan dan

penerimaan permintaan Mutual Legal Assistance (MLA) dan Ekstradisi.

Semakin tinggi pengembalian aset ke kas negara dan keberhasilan

kerjasama internasional, khususnya dibidang tipikor, maka strategi ini

diyakini berjalan dengan baik.

5. Pendidikan dan Budaya Antikorupsi

Praktik-praktik korupsi yang kian masif memerlukan itikad kolaboratif dari

Pemerintah beserta segenap pemangku kepentingan. Wujudnya, bisa

berupa upaya menanamkan nilai budaya integritas yang dilaksanakan

secara kolektif dan sistematis, baik melalui aktivitas pendidikan anti

korupsi dan internalisasi budaya anti korupsi di lingkungan publik maupun

swasta. Dengan kesamaan cara pandang pada setiap individu di seluruh

(12)

berperilaku aktif mendorong terwujudnya tata-kepemerintahan yang bersih

dari korupsi diharapkan menumbuhkan prakarsa-prakarsa positif bagi

upaya PPK pada khususnya, serta perbaikan tata-kepemerintahan pada

umumnya. Tingkat keberhasilan strategi ini diukur berdasarkan Indeks

Perilaku Antikorupsi yang ada dikalangan tata-kepemerintahan maupun

individu di seluruh Indonesia. Semakin tinggi angka indeks ini, maka

diyakini nilai budaya anti korupsi semakin terinternalisasi dan mewujud

dalam perilaku nyata setiap individu untuk memerangi tipikor.

6. Mekanisme Pelaporan Pelaksanaan Pemberantasan Korupsi

Strategi yang mengedepankan penguatan mekanisme di internal

Kementerian/Lembaga, swasta, dan masyarakat, tentu akan memperlancar

aliran data/informasi terkait progres pelaksanaan ketentuan UNCAC.

Konsolidasi dan publikasi Informasi di berbagai media, baik elektronik

maupun cetak, termasuk webportal PPK, akan mempermudah pengaksesan

dan pemanfaatannya dalam penyusunan kebijakan dan pengukuran kinerja

PPK. Keterbukaan dalam pelaporan kegiatan PPK akan memudahkan para

pemangku kepentingan berpartisipasi aktif mengawal segenap upaya yang

dilakukan oleh pemerintah, lembaga publik maupun sektor swasta.

Keberhasilannya diukur berdasarkan indeks tingkat kepuasan pemangku

kepentingan terhadap laporan PPK. Semakin tinggi tingkat kepuasan

(13)

pelaporan terkait proses penyusunan kebijakan dan penilaian progres PPK

dapat semakin terpenuhi sehingga upaya PPK dapat dikawal secara

berkesinambungan dan tepat sasaran.

Sedangkan usaha pemberatasan dan pencegahan tindak pidana korupsi

ditinjau dari sisi individu adalah sebagai berikut :

1. Mendekatkan Diri Kepada Tuhan

Dengan mendekatkan diri kita kepada Tuhan kita akan lebih berhati-hati

dalam bertindak karena percaya akan datangnya hari peradilan nanti.

Dimana perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan dan perbuatan buruk

akan dibalas pula dengan keburukan. Oleh karena itu setiap orang

berlomba-lomba untuk melakukan hal-hal baik. Dengan seperti ini,

mendekatkan diri kepada Tuhan dianggap kiat yang paling ampuh untuk

menghindari korupsi.

2. Niat dan Do'a

Sebelum melangkahkan kaki di depan pintu rumah, awali dengan do'a dan

niat yang baik bahwa kita akan bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa ada

niatan untuk mencuri hak milik orang lain. Dengan sesampainya di tempat

kerja karena sudah berniat untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji

(14)

3. Jujur

Kejujuran merupakan sayarat wajib yang harus ada pada setiap diri

manusia. Namun tidak semua orang bisa berkata jujur karena kejujuran

membutuhkan keberanian dan ketegasan. Jujur memang mudah diucapkan

tetapi sulit untuk dilaksanakan. Dengan melatih diri kita untuk berperilaku

jujur maka tindakan apapun yang akan kita lakukan akan dilandasi dengan

kejujuran.

4. Bertanggung Jawab

Selain kejujuran tanggung jawab merupakan hal yang penting, karena

tindakan korupsi adalah pelarian dari tanggung jawab. Pelaku korupsi

melalaikan tanggung jawabnya dengan berbuat seenaknya sendiri. Saat kita

membuat suatu kesalahan mungkin kita akan melarikan diri. Bertanggung

jawab adalah hal yang penting dan mau menanggung konsekuensinya dari

kesalahan yang kita perbuat. Kalau tidak mau dihukum jangan melakukan

perbuatan yang melanggar hukum.

5. Jangan Terhasut dan Mempunyai Keyakinan Sendiri

Korupsi mungkin saja datang dari rekan-rekan kerja agar kita melakukan

sesuatu yang mereka inginkan. Oleh karena itu jika kita memiliki

(15)

korupsi atau menerima suap. Karena kita merasa yakin bahwa perbuatan

tersebut salah dan merugikan orang lain.

IV. Kesimpulan dan Saran

Budaya baru ini yang bernama korupsi seakan menjadi kebiasaan yang

legal dan tidak dilarang dalam segi pandangan agama maupun hukum

negara ini. Seakan menjadi pembenaran dari kalangan paling bawah sampai

kalangan atas sudah sama-sama tidak keberatan jika melakukan korupsi,

atau menemukan orang lain melakukan korupsi. Entah siapa yang memulai

ini pertama kali, tapi sekarang fenomena korupsi menjadi sangat

memprihatinkan dan dilakukan hampir semua sektor dan melibatkan semua

kalangan. Jika ingin budaya korupsi ini benar – benar hilang dinegri kita,

maka mulailah dari diri kita sekarang ini. Mulailah mengintrospeksi diri

sendiri, apakah kita pernah melakukan hal seperti itu, jika memang kita

pernah kita harus merenungkan perbuatan kita itu, agar suatu hari nanti kita

tidak akan melakukan hal – hal seperti itu lagi dan sudah seharusnya juga

kita mengingatkan kepada teman kita atau saudara – saudara kita agar tidak

melakukan tindakan korupsi yang sangat merugikan tersebut.

Pemeberantasan korupsi dari program pemerintah tanpa kesadaran diri dari

individu adalah percuma karena tidak pernah puas ada sifat dasar manusia.

(16)

memperbaiki diri kita sehingga terjadi keseimbangan antara program

program yang di galang oleh pemerintah dengan individu atau masyarakat.

V. Kepustakaan

http://kentutjuple.blogspot.com/2014/09/siapa-sih-akbp-iep-dan-bagaimana.html 16:57 07/09/2014

http://anekainfounik.net/2014/09/01/inilah-catatan-hitam-polisi-akbp-idha-endri-prastiono/ 17:05 07/09/14

http://www.batammetronews.com/index.php/health-2 17:14 07/09/14

Siapa Sih AKBP IEP dan Bagaimana Kronologi

Penangkapannya ?

Nama AKBP Idha sebenarnya bukan nama asing bagi publik Kalbar. Sebelum ditangkap PDRM, namanya mencuat seiring dengan ulah sang isteri, Titi Yusnawati, melaporkan kehilangan perhiasan 5 kilogram di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, 3 Januari 2014.

Berikut daftar catatan hitam AKBP IEP seperti dilansir detik.com :

1. AKBP IEP sebelum dinas di Polda Kalbar, ia bertugas di Polda Sumatera Utara, dimutasikan dari Polda Sumatera Utara ke Polda Kalimantan Barat pada tanggal 19 Februari 2013.

2. Pernah menikah dengan seorang perempuan yang bernama Sandi Wahyu Arifani, namun pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian karena yang bersangkutan melakukan perselingkuhan. Atas perbuatan tersebut, AKBP IEP mendapat sanksi berupa penempatan pada tempat khusus selama 21 Hari.

(17)

4. Pada tahun 2010, AKBP IEP menjalin hubungan dengan Titi Yusniawati. Sempat terjadi permasalahan dalam hubungan tersebut hingga akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan dengan dilakukan pernikahan di Deli, Serdang, Sumatera Utara sesuai akta nikah nomor : 109/14/VII/2012 pada tanggal 22 Juli 2012.

5. AKBP IEP merupakan personel dari Polda Sumatera Utara yang mutasi ke Polda Kalbar pada tanggal 19 Februari 2013; Selanjutnya pada tanggal 07 Juni 2013, AKBP Idha menjabat sebagai Kasubdit III Dit Res Narkoba Polda Kalbar.

6. Bulan Desember 2013, AKBP IEP dimutasikan sebagai Analis Muda Kebijakan Bidbin Biro Rena Polda Kalbar sesuai Telegram nomor : STR/1089/XII/2013 pada tanggal 18 Desember 2013 (berkaitan dengan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri yang dilakukan oleh AKP Sunardi Cs yang telah diputus oleh Sidang Komisi Kode Etik Polda Kalbar “PEMBERHENTIAN DENGAN TIDAK HORMAT” atas perkara menyisihkan barang bukti sabu-sabu).

7. Tanggal 03 Januari 2014, AKBP IEP bersama sang istri berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan keluarga di Bekasi. Saat berada di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, IEP mengaku kehilangan beberapa perhiasan milik istrinya. Peristiwa tersebut dilaporkan di Polres Bandara Soekarno Hatta dengan kerugian yang cukup fantastis yakni senilai Rp 19 miliar. Perkara tersebut telah diproses oleh Dit Reskrimum Polda Kalbar dan berhasil mengungkap pelaku beserta barang bukti, namun dalam proses penyidikan dan menurut saksi ahli jumlah perhiasan milik istrinya tersebut hanya senilai kurang lebih Rp 180 Juta dan dari peristiwa tersebut terungkap juga bahwa keberadaannya di Jakarta tanpa dilengkapi surat izin yang sah dari Pimpinan.

Atas pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh AKBP Idha sebagaimana yang tersebut pada nomor 3 dan 4 diatas telah mendapat kepastian hukum melalui proses sidang disiplin anggota Polri yang dilaksanakan pada tanggal 19 Juni 2014 dengan putusan hukuman teguran tertulis dan pembebasan dari jabatan sesuai Surat Keputusan

Hukuman Disiplin nomor : Kep/02/VI/2014.

AKP Sunardi sebagai Terduga Pelanggar yang sudah diputus PTDH dalam sidang KKEP pada tangal 22 Juni 2014 mengajukan banding atas putusan sidang tersebut dengan membuat surat banding yang mana diantara isi suratnya menyebutkan bahwa AKBP IEP, SH, M.Hum saat menjabat sebagai Kasubdit III Dit Resnarkoba Polda Kalbar pernah melakukan penyimpangan dalam penanganan perkara narkoba.

(18)

Berikut kronologi penangkapan :

Jumat, 29 Agustus 2014

* Pukul 08.19 WIB

- Perwira menangah (Pamen) Polda Kalbar, AKBP IEP berangkat dari bandara Supadio Pontianak menuju Kuching, Sarawak dengan maskapai Maswings Pontianak. - AKBP Idha check in saat penumpang sudah boarding atau late check in dengan alasan terburu-buru.

* Pukul 15.15 Waktu Malaysia (Wita)

- Polis Narkotik Di-Raja Malaysia dari Bukit Amang mengamankan AKBP IEP dan

Bripka H di Kuching.

- AKBP IEP dan Brigadir Kepala H ditangkap sebagai penggembangan penangkapan seorang tersangka narkoba di Kuala Lumpur Internasional Airport. - Tersangka mengaku akan mengirimkan barang ke Khucing. - Tersangka dibawa ke Kuching untuk menunjukkan tempat dan siapa yang akan menerima barang tersebut.

- Tersangka menuju sebuah hotel yang di dalamnya terdapat tiga orang, dua di

antaranya AKBP IEP dan Brigadir Kepala H.

* Pukul 19.30 WIB

- Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto mendapat telepon dari Liaison Officer

Polri di Kuching, Kompol Taufik Nurisya.

- Kapolda Kalbar melapor ke Kapolri Jenderal Sutarman.

Sabtu, 30 Agustus 2014

- Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto menugaskan tim ke Kuching dipimpin Wakapolda Kalbar, Dir Narktiotika, dan Kapolsek Entikong. - Tim bertemu Deputi Komisioner Polis Diraja Malaysia, Datuk Wira Muhammad Sabtu Bin Usman di Kuching, Ketua Polis IPK Sarawak Malaysia, didampinggi Super Intenden Lukas, Kepala Narkotik Ibu Pejabat Kontingen Sarawak Malyasia. - Pertemuan memastikan penangkapan AKPB IEP dan Bripka H. Keduanya dalam proses pemeriksaan pihak Cawangan Narkotik Polis IPD Kuching, Sarawak.

Minggu, 31 Agustus 2014

* Pukul 15.00 WIB

(19)

Inilah Catatan Hitam Polisi AKBP Idha

Endri Prastiono

Posted by Kristian Ambarita ⋅ September 1, 2014 ⋅ Tinggalkan komentar

Filed Under kasus hukum

Inilah catatan hitam AKBP Idha Endri Prastiono, mulai dari kasus asusila,

perselingkuhan hingga narkoba yang ada di internal Kepolisian menurut Propam. Anggota Polda Kalimantan Barat ini serta Bripka MP Harahap ditangkap polisi Diraja Malaysia karena terlibat sindikat perdagangan narkoba internasional.(Baca:

Kronologi Penangkapan 2 Polisi Indonesia di Kuching Malaysia)

Kapolda Brigjen Pol Arief Sulistyanto, yang baru menjabat beberapa bulan di Mapolda Kalbar tak kalah berang melihat ulah anak buahnya. Ternyata, selama berkarir di kepolisian, AKPB Idha, pria kelahiran Banyuwangi 16 Februari 1970 ini tercatat memiliki rekam jejak yang buruk dan membuat dirinya beberapa kali di sanksi.

Berikut catatan hitam Idha yang disampaikan Brigjen Pol Arief Sulistyanto dalam keterangan tertulis yang diterima media nasional termasuk merdeka.com:

Yang ada di Propam Sumatera Utara

1. AKBP Idha Endri Prastiono, S.H, M.Hum sebelum dinas di Polda Kalbar bertugas di Polda Sumatera Utara, dimutasikan dari Polda Sumatera Utara ke Polda

Kalimantan Barat pada tanggal 19 Februari 2013.

2. Pernah menikah dengan seorang perempuan yang bernama Saudari Sandi Wahyu Arifani namun pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian karena yang

bersangkutan melakukan perselingkuhan dengan seorang perempuan bernama Saudari Farida Yamin hingga memiliki seorang anak perempuan yang bernama Amanda, dan atas perbuatan tersebut yang bersangkutan mendapat sanksi berupa ‘Penempatan pada tempat khusus selama 21 hari.

3. Tahun 2002 yang bersangkutan pernah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan pembantunya yang bernama saudari Suherni hingga memiliki seorang anak yang bernama Rafli, dan menurut catatan telah diselesaikan secara kekeluargaan.

(20)

Propam Polda Kalbar

1. AKBP Idha Endri Prastiono, SH, M.Hum merupakan personel dari Polda Sumatera Utara yang mutasi ke Polda Kalbar pada tanggal 19 Pebruari 2013, selanjutnya pada tanggal 07 Juni 2013 yang bersangkutan menjabat sebagai Kasubdit III Dit Res Narkoba Polda Kalbar.

2. Pada bulan Desember 2013, yang bersangkutan dimutasikan sebagai Analis Muda Kebijakan Bidbin Biro Rena Polda Kalbar sesuai Telegram nomor : STR / 1089 / XII / 2013 tanggal 18 Desember 2013 (berkaitan dengan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri yang dilakukan oleh AKP SUNARDI Cs yang telah diputus oleh Sidang Komisi Kode Etik Polda Kalbar ‘PEMBERHENTIAN DENGAN TIDAK HORMAT atas perkara menyisihkan barang bukti shabu )

3. Pada tanggal 3 Januari 2014 yang bersangkutan bersama istrinya Titi Yusnawati berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan keluarga di Bekasi, saat berada di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang bersangkutan mengaku kehilangan beberapa perhiasan milik istri yang bersangkutan. Peristiwa tersebut dilaporkan yang

bersangkutan di Polres Bandara Soekarno-Hatta dengan kerugian yang cukup fantastis yakni senilai Rp 19 miliar, perkara tersebut telah diproses oleh Dit Reskrimum Polda Kalbar dan berhasil mengungkap pelaku beserta barang bukti namun dalam proses penyidikan dan menurut saksi ahli jumlah perhiasan milik istri yang bersangkutan tersebut hanya senilai kurang lebih Rp 180 juta dan dari peristiwa tersebut terungkap juga bahwa keberadaan yang bersangkutan di Jakarta tanpa dilengkapi surat izin yang sah dari pimpinan.

4. Atas pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh yang bersangkutan sebagaimana yang tersebut pada nomor 3 dan 4 di atas telah mendapat kepastian hukum melalui proses sidang disiplin anggota Polri yang dilaksanakan pada tanggal 19 Juni 2014 dengan putusan hukuman teguran tertulis dan pembebasan dari jabatan sesuai Surat Keputusan Hukuman Disiplin nomor : Kep / 02 / VI / 2014.

5. Bahwa AKP SUNARDI sebagai Terduga Pelanggar yang sudah diputus PTDH dalam sidang KKEP pada tanggal 22 Juni 2014 mengajukan banding atas putusan sidang tersebut dengan membuat surat banding yang mana di antara isi suratnya menyebutkan bahwa AKBP Idha Endri Prastiono, SH, M.Hum saat menjabat sebagai Kasubdit III Dit Resnarkoba Polda Kalbar pernah melakukan penyimpangan dalam penanganan perkara narkoba.

6. Dengan adanya keterangan dari saudara AKP Sunardi setelah diputus PTDH maka saat ini Bid Propam dan Dit Reserse Narkoba Polda Kalbar sedang melakukan pendalaman terhadap dugaan keterlibatan yang bersangkutan (AKBP IEP).

(21)

Batammetronews - AKBP I.E.P, anggota Kepolisian Polisi Daerah Kalimantan Barat,

Berikut catatan hitam Idha yang disampaikan Brigjen Pol Arief Sulistyanto dalam keterangan tertulis yang diterima Yang ada diPropam Sumatera Utara:

1. AKBP I.EP, S.H, M.Hum sebelum dinas di Polda Kalbar bertugas di Polda Sumatera Utara, dimutasikan dari Polda Sumatera Utara ke Polda Kalimantan Barat pada tanggal 19Februari2013.

2. Pernah menikah dengan seorang perempuan yang bernama Saudari SSWA namun pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian karena yang bersangkutan di duga melakukan perselingkuhan dengan seorang perempuan bernama Saudari Sf hingga memiliki seorang anak perempuan yang bernama A, dan atas perbuatan tersebut yang bersangkutan mendapat sanksi berupa 'Penempatan pada tempat khusus selama 21 hari.

3. Pada 2010 yang bersangkutan menjalin hubungan dengan Saudari M yang berstatus janda dengan empat orang anak, terjadi permasalahan dalam hubungan tersebut hingga akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan dengan dilakukan pernikahan di Deli Serdang Sumatera Utara sesuai akta nikah nomor: 109 / 14 / VII / 2012 tgl22 Juli 2012,

Yang tercatat di Propam Polda Kalbar:

1. AKBP I.EP, SH, M.Hum merupakan personel dari Polda Sumatera Utara yang mutasi ke Polda Kalbar pada tanggal 19 Pebruari 2013, selanjutnya pada tanggal 07 Juni 2013 yang bersangkutan menjabat sebagai Kasubdit III Dit Res Narkoba Polda Kalbar.

(22)

3. Pada tanggal 3 Januari 2014 yang bersangkutan bersama istrinya Ty berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan keluarga di Bekasi, saat berada di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang bersangkutan mengaku kehilangan beberapa perhiasan milik istri yang bersangkutan. Peristiwa tersebut dilaporkan yang bersangkutan di Polres Bandara Soekarno-Hatta dengan kerugian yang cukup fantastis yakni senilai Rp 19 miliar, perkara tersebut telah diproses oleh Dit Reskrimum Polda Kalbar dan berhasil mengungkap pelaku beserta barang bukti namun dalam proses penyidikan dan menurut saksi ahli jumlah perhiasan milik istri yang bersangkutan tersebut hanya senilai kurang lebih Rp 180 juta dan dari peristiwa tersebut terungkap juga bahwa keberadaan yang bersangkutan di Jakarta tanpa dilengkapi surat izin yang sah dari pimpinan.

4. Atas pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh yang bersangkutan sebagaimana yang tersebut di atas telah mendapat kepastian hukum melalui proses sidang disiplin anggota Polri yang dilaksanakan pada tanggal 19 Juni 2014 dengan putusan hukuman teguran tertulis dan pembebasan dari jabatan sesuai Surat Keputusan Hukuman Disiplin nomor : Kep / 02 / VI / 2014.

5. Bahwa AKP SN sebagai Terduga Pelanggar yang sudah diputus PTDH dalam sidang KKEP pada tanggal 22 Juni 2014 mengajukan banding atas putusan sidang tersebut dengan membuat surat banding yang mana di antara isi suratnya menyebutkan bahwa AKBP I.EP, SH, M.Hum saat menjabat sebagai Kasubdit III Dit Resnarkoba Polda Kalbar pernah melakukan penyimpangan dalam penanganan perkara narkoba.

Referensi

Dokumen terkait

Sertifikasi pendidik untuk dosen diselenggarakan oleh perguruan tinggi terakreditasi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang ditetapkan oleh Pemerintah..

Menindaklanjuti hasil evaluasi terhadap penawaran yang telah saudara ajukan pada paket pekerjaan Pengadaan Bibit Lada Zona III (Lelang Ulang) , maka bersama ini Pokja

Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Kepuasan Pelanggan dan Dampaknya pada Loyalitas Pelanggan (Survei pada Pelanggan Tempat Wisata Jawa Timur Park 1 Kota Wisata

ANALISIS PERAN BANDUNG FOOD TRUCK COMMUNITY DALAM MENDUKUNG PERTUMBUHAN EVENT DI KOTA BANDUNG.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan otot terbanyak pada penderita paska stroke sebelum dilakukan ROM adalah skala 2 yang dapat diartikan otot lengan hanya

Perbedaannya terletak pada gaya pembangkit pasang surut yang disebabkan oleh matahari hanya separuh kekuatan yang disebabkan oleh bulan (Pariwono, 1989). Hal ini disebabkan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Ibu Tentang Menopause Di Desa Tambahrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu

Secara garis besarnya PLTU yang ada di Indonesia memnggunakan bahan bakar HSD dan a, dimana memilik kesamaan dari siklusnya tetapi perbedaannya terletak pada Produksi